Showing posts with label Christmas. Show all posts
Showing posts with label Christmas. Show all posts

Monday, December 28, 2020

Saat Mendengar Berita Tentang-Nya




by Yunie Sutanto

Jika suatu hari nanti kita berpapasan dengan artis idola, kira-kira bagaimana reaksi kita? Yang fangirling pasti berdebar-debar jantungnya nih. Ada yang nekad minta wefie bareng. Ada yang diam-diam membuntuti sang artis idola lalu sengaja makan di restoran yang sama. Ada juga yang langsung reportase ig live. Biasanya fangirl tuh selalu update kabar terbaru sang idola. Mulai dari event terbaru, album terbaru, atau lokasi syuting sang idola. Bahkan, jarak yang jauh pun rela ditempuh seorang fangirl demi menjumpai sang idolanya. Nominal besar yang dikeluarkan untuk tiket konser dan tiket pesawat rela dikeluarkan demi konser atau jumpa fans dengan sang idola.

Seperti layaknya fangirl (atau fanboy), banyak yang terus mengikuti berita dan berusaha update tentang kedatangan Sang Mesias sejak zaman Perjanjian Lama. Coba tengok apa yang tiap hari direnungkan para ahli Taurat dan imam Farisi? Bahkan, orang Yahudi masih terus meratap menantikan Mesias datang hingga saat ini. Umat Israel begitu merindukan dan menantikan kedatangan Sang Mesias, namun saat Kabar Baik diberitakan dengan kelahiran bayi Mesias 2020 tahun lalu, bagaimana respon mereka? Yuk, kita gali dan simak respon para tokoh di Alkitab!

Respon setiap kita memang bisa berbeda -beda dan unik.

Kita akan mempelajari respon Orang Majus dan Para Gembala. (Note: boleh membaca terlebih dahulu Matius 2:1-12 dan Lukas 2:8-20)


ORANG MAJUS

Orang-orang Majus melihat bintang-Nya di Timur dan mereka rela menempuh perjalanan jauh untuk menyembah Dia. Orang Majus inilah para truth seekers yang menempuh perjalanan berliku sebelum akhirnya berjumpa dengan Mesias. Saat akhirnya mereka menjumpai-Nya, Yesus Sang Mesias bukan lagi bayi mungil, tetapi seorang balita! Artinya apa? Cukup jauh dan cukup lama perjuangan orang Majus mengikuti petunjuk bintang untuk berjumpa Sang Mesias. Zaman itu belum ada GPS dan google map sih, itulah sebabnya mereka sempat nyasar ke istana Herodes. Orang Majus yang merupakan kaum bangsawan dan terpelajar ini menyangka pastilah Raja Yahudi terlahir di tempat yang mewah atau setidak-tidaknya Raja Herodes pastinya tahu tentang Mesias yang dinantikan ini. Ternyata Raja Herodes pun ketinggalan berita soal kelahiran-Nya! Bahkan para ahli Taurat yang diminta keterangan oleh Herodes pun ternyata kurang update mengenai lokasi persis kelahiran-Nya! Siapa yang sangka Sang Raja di atas segala raja memilih terlahir di sebuah kandang domba?

Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka perihal kelahiran Sang Mesias. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel." Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.
(Matius 2:3-7 / TB)

Perjalanan jauh rela ditempuh dengan gigih oleh orang-orang Majus ini, demi mempersembahkan hadiah untuk menyembah Sang Mesias. Mereka tidak datang dengan tangan hampa. Mas, mur dan kemenyan dipersembahkan mereka kepada-Nya. Respon yang luar biasa menyambut Sang Raja Agung!


GEMBALA

Para gembala sedang berada di padang menjaga kawanan ternak mereka di waktu malam. Gembala adalah orang-orang sederhana, bukan orang terpelajar. Mereka merasa takut saat didatangi malaikat yang nampak bersinar penuh kemuliaan Tuhan.

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."
(Lukas 2:10-12 / TB)

Gembala-gembala meresponi berita ini dengan gerak cepat ke Betlehem. Mereka hendak segera berjumpa dengan bayi Juru Selamat! Lalu ketika mereka melihat Maria, Yusuf beserta bayi Kristus di palungan, persis seperti apa kata malaikat, diberitahukanlah semua yang mereka dengar dari malaikat tadi. Semua orang yang mendengarnya merasa heran! Sungguh suatu Kabar Gembira!

Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
(Lukas 2:20 / TB)

Respon para gembala yang tidak menunda untuk berjumpa dengan Sang Mesias ini keren bangetlah! Mereka "segera" menjumpai-Nya! Mereka tidak abai atau meragukan kabar Baik tersebut. Mereka segera ke Betlehem. Justru orang-orang sederhana seperti para gembala ini malah mendapat share location dari para malaikat-Nya! Petunjuk lokasi yang mereka terima lebih tepat loh titik koordinatnya ketimbang orang Majus yang mengikuti panduan bintang Timur! Mereka pun berjumpa dan bisa memuliakan-Nya lewat kesaksian mereka.

Bagaimana dengan respon kita saat menerima Kabar Baik bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat dunia? Adakah antusiasme yang sama saat meresponi Kabar Gembira? Apakah kita seperti Orang Majus dan Gembala yang menerima Kabar Keselamatan dengan sukacita ?


RESPON HERODES & AHLI TAURAT

Ada pula yang merespon seperti raja Herodes. Ia merasa cemas dan terancam. Herodes merasa terusik karena merasa ada saingan kekuasaan baru yang hendak bertahta menggantikannya. Ia ingin melenyapkan Raja baru ini. Ia merasa tidak butuh Juru Selamat. Ia tidak ingin menyembah-Nya. Ia hanya ingin tahu keberadaan-Nya untuk melenyapkan-Nya! Perkataan bahwa ia juga ingin ikut menyembah-Nya hanya lip service. Kenyataannya, rasa tidak aman Herodes tinggi sekali. Ia tidak (baca: belum) siap berjumpa Kristus. Jika ke"aku"an masih mendominasi tahta hati, sulit untuk bisa totalitas menerima Kristus hadir dan menjadi Raja di hati dan hidup kita. Mungkin Kristus hadir di 30% saja area hidup kita, 70% nya mah masih dikuasai ke"aku"an. Mungkin ke"aku"an masih 50% berkuasa, atau masih 10% berkuasa? Bagaimana kita bisa dipulihkan total jika tidak 100% area hidup kita yang diserahkan pada Kristus?

Ada pula yang merespon seperti ahli Taurat, yang merasa lebih tahu karena sudah khatam Taurat Musa dan kitab para nabi. Mereka meragukan dan memandang rendah Mesias saat kedatangan-Nya tidak sesuai idealisme dan harapan mereka. Mana mungkin Raja kok lahir di kandang domba, anak Yusuf si tukang kayu miskin dari Nazareth? Ibunya si Maria pun digosipkan sudah hamil sebelum dinikahi resmi oleh Yusuf. Mana mungkin Mesias terlahir dari Yusuf dan Maria? Mana mungkin IA bisa menyelamatkan Israel? Raja macam apa yang demikian? Saat idealisme dan konsep logis kita malahan merintangi kita untuk bisa melihat keselamatan di dalam Kristus, ini menyedihkan sekali bukan? Kita mungkin tidak bisa melihat dengan jelas saat ngotot memakai pola pikir lama yang salah. Respon kita bisa saja meragukan keselamatan di dalam Kristus jika kita masih berpikir dalam koridor sempit agamawi.

Sedihnya mungkin seperti fanboy atau fangirl yang telat sadar kalau ternyata ada jumpa fans dengan idolanya di mall yang sama tempat dia berada. Ia telat mendapat beritanya, lalu saat ia tiba di lokasi, ternyata acaranya sudah selesai! Ia berpikir seharusnya jumpa fans itu ada notifikasi di akun fansclub. Pemikiran yang keliru karena ternyata hari itu bukan jumpa fans resmi. Sang idola spontan saja mentraktir makan fans yang kebetulan ia temui. Bisa jadi demikian juga rasa hati para ahli Taurat yang terlambat menyadari bahwa Mesias ternyata sudah datang 2020 tahun lalu. 

Menjelang tutup tahun 2020 ini, yuk, kita merenungkan sikap hati kita terhadap Kabar Baik Keselamatan! Apakah hati kita senantiasa update terus dengan Juru Selamat kita? Apakah kita sudah totalitas menjadikan Kristus Raja atas seluruh aspek kehidupan kita? Jika belum, marilah kita menggunakan momentum akhir tahun ini untuk berubah. Mari kita berdoa di penutup tahun 2020 ini:

Tuhan Yesus, terima kasih untuk karya penebusan-Mu di kayu salib 2020 tahun lalu. Engkau rela mati untukku. Engkau menebusku selagi aku masih berdosa. Menuju tahun 2021, di pergantian tahun ini aku mau Tuhan Yesus, supaya Engkau menjadi Raja di segenap aspek hidupku! Engkaulah saja yang menjadi Tuhan atas hidupku. Bertahtalah di hatiku. Baharuilah pola pikirku yang salah. Berikan aku lidah dan telinga seorang murid. Berikan aku hati yang lembut dan rendah hati. Saya mau makin dibentuk ke arah keserupaan Kristus. Saya mau punya sikap hidup yang siap menyongsong kedatangan-Mu. Biarlah aku hidup menggenapi rencana-Mu. Amin

Friday, December 25, 2020

Hadiah untuk Tuhan



by Benita Vida

Waktu kecil kita merindukan natal,
Hadiah yang indah dan menawan.
Namun, tak kusadari seorang bayi t’lah lahir,
Bawa keselamatan ‘tuk manusia…”
- Karena Kita -

Pasti tahu atau minimal pernah dengar lagu ini dong? Lagu wajib yang dinyanyikan waktu perayaan Natal. Sejujurnya saya sangat menyukai lagu ini, karena selain nadanya yang enak, kata-kata dalam lagu ini sangat bagus, mengingatkan saya bahwa ternyata saya sudah menerima hadiah terindah di waktu Natal. 

Natal dirayakan untuk mengingat kelahiran Yesus Kristus dalam dunia, kejadian yang sangat fenomenal yang tidak akan ada dan terulang di dunia ini. Bagaimana tidak? Bayangkan Sang Pemilik Sorga rela turun ke bumi untuk menjalankan misi menyelamatkan manusia, bukan karena sebuah keharusan untuk menyelamatkan kita tetapi karena kasih-Nya yang begitu besar. 

Kelahiran-Nya sudah dinubuatkan jauh sebelum itu terjadi, bahkan dinanti-nantikan oleh bangsa pilihan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa kelahiran-Nya sudah dirancang sejak lama, misi penyelamatan ini sudah direncanakan begitu sempurna, bahkan silsilah dan nenek moyang dari Yesus sudah ditentukan sampai ratusan tahun lamanya. Keren ya? Mana ada yang bisa merancang sedetail dan sesempurna itu? Itulah kehebatan Tuhan kita, jika untuk menyelamatkan kita saja rencana-Nya sesempurna itu, apalagi rencana-Nya bagi hidupmu dan hidupku, pasti sempurna dan akan terjadi di hidup kita. Kelahiran-Nya adalah sebuah hadiah yang paling indah dan tidak bisa digantikan oleh apapun di dunia ini. Tuhan telah memberikan hadiah terindah untuk kita, seorang Raja segala raja namun rela lahir dalam kandang domba dengan segala kerendahan hati-Nya. 

Setiap tahun kita merayakan kelahiran-Nya, namun pernahkah kita memberikan hadiah di hari “Ulang Tahun-Nya”? Kita sering menerima hadiah natal dari teman atau keluarga, bahkan kita buat acara yang heboh untuk merayakan Natal. Tapi, apakah kita sudah memberikan hadiah kepada-Nya yang berulang tahun? Kira-kira apa ya yang Tuhan inginkan sebagai hadiah? Tuhan sudah memiliki segala sesuatu, apa mungkin masih ada yang Tuhan inginkan? Eiitzzz, ternyata ada loh yang Tuhan inginkan. Apa tuh?? Hati kita. 

Tuhan tidak perlu yang lain, Tuhan cuma mau hati kita. Tapi kan hati kita kotor, kita sering berbuat dosa, kita kadang melakukan hal yang Ia tidak senangi, bahkan hati kita sering mendua dari Tuhan, kok Tuhan masih mau? Yes, Tuhan masih menginginkan hati kita, Tuhan mau dekat sama kita, dan Tuhan mau berjalan bersama kita dalam suka dan dukanya kita. Simple kan maunya Tuhan? Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu, susah banget loooh mau kasih hati dan hidup kita sama Tuhan, daging kita kadang terlalu egois dan akhirnya kita mengecewakan Tuhan. Terus gimana dong? Tuhan kita itu bukan Tuhan yang jahat loh, Tuhan kita penuh dengan kasih dan pengertian, Dia sangat tahu kalau ciptaan-Nya ini sangat jauh dari kata sempurna. 

Tuhan tidak butuh kita yang sempurna, karena kita tidak akan pernah menjadi sempurna tanpa-Nya. Apalagi jika kita berusaha menggunakan kekuatan kita sendiri, ujung-ujungnya kita hanya akan gagal. Dalam kasih-Nya kita disempurnakan, kita sempurna karena kita punya Dia yang sangat sempurna tinggal di dalam kita. Yang Tuhan inginkan adalah hati yang rindu, hati yang lembut, dan hati yang mau dibentuk, itu sudah cukup buat Tuhan. 

Sekalipun hadiah yang kita terima tidak mahal dan keren, tapi jika diberikan oleh orang yang sangat berarti buat kita, pasti kita akan sangat bahagia kan? Begitu juga Tuhan akan sangat bahagia ketika kita MAU memberikan hati kita untuk-Nya, karena kita sangat berharga dan berarti bagi-Nya. 

Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.
(Yesaya 43:4)

Tanpa sadar kita selalu menerima kebaikan dan kemurahan-Nya, tanpa sadar kita selalu menerima hadiah dari Tuhan. Jarang sekali kita memberikan hadiah untuk Tuhan, kita hanya bisa meminta seolah-olah Tuhan bank hadiah kita. Kita minta perlindungan, minta berkat, dan banyak lagi sesuai dengan list keinginan kita.

Tahun ini penuh dengan duka dan masalah, tapi lihatlah perlindungan-Nya sempurna tanpa cela. Kalau sampai kita bisa merayakan Natal tahun ini, semua tak lepas dari kasih dan kemurahan-Nya. 

Yuk kita renungkan semua kebaikan-Nya bagi kita dan mari kita siapkan hadiah untuk Tuhan sebagai ucapan syukur kita. 

MERRY CHRISTMAS!

Monday, December 14, 2020

Dua Wanita, Dua Mujizat




by Glory Ekasari

Wanita pertama adalah seorang wanita yang sudah berumur, dikenal saleh dan merupakan istri dari seorang imam. Dia tipe wanita yang akan kita datangi kalau kita perlu nasehat. Tetapi sayangnya, orang yang begitu setia dalam imannya kepada Allah, malah tidak dikaruniai keturunan. Padahal di masa itu, kemandulan adalah aib besar yang hanya terjadi atas orang-orang yang dianggap berdosa. Mengapa orang yang begitu saleh malah mengalaminya? Di mana keadilan Allah?

Bagaimana dengan wanita kedua? Ternyata dia adalah seorang wanita yang masih muda. Tidak banyak yang kita ketahui tentang dia. Kemungkinan besar usianya masih remaja belasan tahun. Yang jelas, dia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah dengan seorang pria baik-baik. Tetapi mereka belum hidup sebagai suami istri, sehingga gadis ini masih perawan. Ironisnya, dia justru mengandung di luar nikah, bahkan bukan dengan calon suaminya! Bahkan dia mengandung dari sosok yang disebut Roh Kudus. How come!

Begitulah kisah yang tertera pada Lukas 1:1-38. Menariknya, apa yang dicatat setelah itu (tepatnya pada ayat 39-56 dari pasal yang sama) menjadi titik temu bagi kedua wanita yang berada dalam fase yang berbeda dalam kehidupan mereka ini. Di dalamnya memang tidak dikisahkan apakah mereka malah jadi curhat masalah masing-masing, atau untuk mengasihani diri sendiri. Sebaliknya, penulis Injil ini menceritakan bahwa ketika kedua wanita tersebut bertemu, yang jadi fokus mereka bukanlah diri mereka, namun pekerjaan Allah yang besar!


Wanita Pertama: ELISABET

Kita bisa membayangkan pedihnya hati Elisabet. Dia sudah berdoa selama bertahun-tahun, meminta keturunan kepada Tuhan, dan akhirnya dia pasrah serta menerima kenyataan bahwa Tuhan memang tidak mengaruniainya anak. Tetapi itu sudut pandang Elisabet sebagai manusia. Dia tidak tahu bahwa Allah memiliki rencana atasnya, rencana yang bahkan tidak terpikirkan olehnya. Bagi pasangan menikah, punya anak itu hal biasa. Tapi ketika Tuhan membuat mereka menunggu lama, lalu mengaruniakan anak bagi mereka, orang-orang di sekitar mereka segera menyadari bahwa anak itu istimewa; ditambah lagi kelahirannya dinubuatkan oleh malaikat Allah secara langsung.

Bangsa Israel menyadari bahwa pemimpin mereka yang sesungguhnya bukanlah imam, atau bangsa Romawi yang menjajah mereka, melainkan Allah sendiri. Pada saat itu, mereka merindukan masa-masa ketika banyak nabi datang dan berbicara atas nama Allah, ketika para nabi mendapat penglihatan dari Allah, dan ketika Allah berbicara kepada mereka. Bangsa Israel sudah menantikan itu selama empat ratus tahun, tanpa satu katapun keluar dari mulut Allah bagi mereka. Selain itu, mereka sedang menanti-nantikan penggenapan nubuat para nabi mengenai Raja Israel yang akan datang, keturunan Daud yang akan memimpin mereka, yaitu Sang Mesias.

Karena itu, ketika imam Zakharia mendapat penglihatan berupa malaikat Gabriel yang menyampaikan pesan bahwa ia akan punya anak, dan ketika Elisabet—istrinya—benar-benar mengandung di usia tuanya, sadarlah mereka bahwa Allah kembali berbicara kepada umat-Nya! Kelahiran Yohanes–yang namanya berarti “TUHAN telah bermurah hati"–merupakan tanda bahwa Allah tidak melupakan umat-Nya, dan bahwa sebentar lagi Mesias yang dijanjikan itu akan datang. Kita bisa bayangkan betapa sukacitanya keluarga Zakharia, bahkan tetangga-tetangganya, dan semua orang yang mengenal mereka, menantikan kelahiran Yohanes!

Apa yang terjadi atas Elisabet dan Zakharia menunjukkan bahwa Allah tidak meninggalkan orang-orang yang sungguh-sungguh menanti-nantikan Dia. Apa yang dikira manusia adalah aib, ternyata merupakan bagian dari rencana Allah. Hamilnya Elisabet di usia tua adalah tanda ajaib yang Allah gunakan untuk kemuliaan-Nya.


Wanita Kedua: MARIA

Hanya sedikit yang kita ketahui tentang Maria, namun dari informasi yang sedikit itu kita bisa menyimpulkan seperti apa karakternya.

Untuk ukuran anak belasan tahun, wawasan Maria tentang firman Tuhan sangat luas. Kalau kita baca Lukas 1:46-55, kita melihat nyanyian pujian Maria sarat dengan kutipan dari Perjanjian Lama, yang menunjukkan bahwa ia familiar dengan firman Tuhan (banyak kutipannya dari Mazmur). Ia juga memahami bahwa pekerjaan Allah (mendatangkan Juruselamat melalui dia) selaras dengan perjanjian Allah dengan Abraham dan keturunannya, yaitu Israel. Sebelum Allah memakainya untuk mengandung Sang Juruselamat, Maria sudah lebih dulu punya hubungan pribadi dengan Allah dan menyimpan firman-Nya di dalam hatinya. 

Respons Maria ketika ia menerima berita dari malaikat Gabriel juga menunjukkann kedewasaan rohaninya. Ia menerima semua pesan Allah dan menyatakan kesediaannya untuk menjalankan firman Allah. Elisabet memujinya atas respons tersebut, dan berkata, “Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Lukas 1:45). Karena imannya, nama Maria akan tertulis dalam sejarah sebagai satu-satunya wanita yang disebut sebagai ibu dari Juruselamat. Menanggapi anugerah ini, Maria berseru, “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus” (Lukas 1:48-49). Ia tidak meninggikan diri, namun membesarkan Tuhan!


Puji-Pujian Bagi Allah

Ketika dua wanita yang mengalami pekerjaan Allah yang besar dalam hidup mereka ini bertemu, Roh Kudus memenuhi mereka dengan roh nubuat, dan mereka menyerukan puji-pujian bagi Tuhan. Persis seperti yang terjadi dengan murid-murid Yesus ketika mereka dipenuhi Roh Kudus pada hari Pentakosta. Mereka memberitakan pekerjaan Allah yang besar dan mulia.

Elisabet, yang penuh dengan Roh Kudus, berseru, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan” (Lukas 1:43-44). Roh Kudus membuka pengertiannya bahwa Anak yang dikandung Maria bukanlah anak biasa, melainkan Tuhan—yang berinkarnasi menjadi manusia—sendiri! Sungguh sukacita yang besar, bisa menyaksikan bagaimana Juruselamat dunia dikandung, dilahirkan, dan menjadi besar!

Maria meresponi hal itu dengan pujian pula. Ia berseru:

Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.
(Lukas 1:46-48)

Bagi dunia, Maria adalah gadis remaja biasa yang tidak kaya, tidak berkesan, bahkan mungkin dari kasta sosial rendah dan kurang dihargai. Namun dia mengenal Tuhan, dia mengharapkan keselamatan dari Tuhan, dan dia merendahkan diri di hadapan Tuhan… dan Tuhan memperhatikan semua itu. Maria bersukacita, karena, “... apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” (1 Korintus 1:28-29)

Mengapa Lukas memberi ruang yang lebar bagi kisah tentang dua orang wanita ini? Bagi orang Yahudi pada masa itu, wanita kastanya dianggap di bawah laki-laki. Tapi Lukas menunjukkan bahwa Allah memperhatikan semua hamba-Nya, pria dan wanita, dan Ia bisa memakai siapapun yang Ia karuniakan anugerah, baik pria maupun wanita. Tidak berhenti di situ, Allah juga memenuhi orang-orang pilihan-Nya dengan Roh Kudus tanpa terkecuali—dimana pria dan wanita dilayakkan-Nya untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya.

Siapapun kita, di manapun kita, apapun keadaan kita, Allah bisa memakai kita. Namun satu hal yang harus kita pegang, seperti Elisabet dan Maria, adalah menghidupi kehidupan ini dalam kesetiaan kepada Allah dan menyediakan diri ketika panggilan Allah datang. Kiranya Natal tahun ini menjadi titik balik bagi kita agar kita berkata seperti Maria:

Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.
(Lukas 1:38a)

Monday, December 24, 2018

Refleksi Natal: Berjalan Dengan Layak



by Mekar A. Pradipta

Beberapa jam lagi kita akan merayakan Natal. Untuk sebagian besar dari kita, Natal tahun ini pasti bukan yang pertama. Meskipun demikian, rutinitas peringatan Natal tidak seharusnya membuat kesiapan hati kita menyambut pesan Natal hanya setengah-setengah. Makna Natal yang sudah berusia lebih dari dua ribu tahun ini tetap dan lebih dari relevan untuk hidup kita saat ini.

Natal adalah tangan Bapa yang terulur, melalui kelahiran Anak Tunggal-Nya, untuk menjangkau manusia yang terhilang. Natal adalah panggilan untuk menapaki jalan yang Ia tawarkan dan menjadi pengikutnya. Yesus adalah jalan itu (Yohanes 14:6) dan Ia memanggil kita untuk mengikuti Dia menuju Allah Bapa. Panggilan Yesus kepada Matius di Matius 9:9 atau kepada Simon dan Andreas di Yohanes 4:19 adalah panggilan untuk setiap kita.

“Ikutlah aku,” kata Yesus.

Mungkin kita yang sudah bertahun-tahun menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat akan merespon seperti ini, “Tapi aku sudah mengikut Yesus. Aku orang Kristen. Aku ke gereja setiap Minggu.”

Really? Apakah itu membuatmu menjadi pengikut Kristus yang layak?

Karena Tuhan Yesus berkata begini, 

“Dan orang yang tidak mau memikul salibnya dan mengikuti Aku tidak patut menjadi pengikut-Ku.” (Matius 10:38 / BIS)

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
(Matius 16:24)

Menjadi pengikut Kristus bukan tentang berjalan di belakangnya saja, tapi berjalan seperti Dia: menyangkal diri dan mengikut salib. Dalam Alkitab versi terjemahan yang lain, “menyangkal diri” diartikan sebagai “melupakan kepentingan sendiri” (BIS) atau “mengesampingkan rencana dan keinginannya sendiri.” Banyak orang mengaku mengikut Kristus, tapi tidak mau melepas rencana-rencana dan keinginannya sendiri. Bukankah kita sering seperti ini? Mengaku berjalan mengikut Yesus, tapi sebenarnya yang kita ikuti masih mengikuti “keakuan” kita, “daging” kita dan bukan Roh Tuhan.

Mari kita jadikan Natal ini sebagai momen refleksi. Apakah kita sudah meresponi uluran tangan Tuhan dengan benar? Sudahkah kita menjadi umat yang layak? Umat yang mengikut Kristus dengan benar, ataukah kita masih berjalan di belakangnya dengan sembarangan? Jangan-jangan perjalanan kita masih mengikuti rencana dan keinginan kita sendiri: kadang belok kiri, kadang belok kanan, kadang malah mundur ke belakang. Jangan-jangan, berulang kali, kita pura-pura tidak mendengar arahan Yesus, sang Gembala, dan berkeras hati mengambil rute kita sendiri.

Tentu selama kita masih hidup di dunia, kedagingan kita tidak akan hilang dengan sempurna. Namun Tuhan ingin kita punya kesediaan untuk berproses. Dalam Firman-Nya, Yesus tidak bicara tentang hasil akhir. Ia bicara tentang proses – menyangkal diri dan memikul salib. Tuhan akan sangat mengerti jika kita beberapa kali terjatuh saat mengikut Dia. Yesus sendiri juga terjatuh saat Ia membawa salibnya menuju bukit Golgota. Sebagai manusia ia juga mengalami kelelahan dan kesakitan. Namun Yesus bangkit dan terus berjalan sampai Ia menyelesaikan tugas-Nya: menjadi domba yang dikorbankan untuk menebus dosa manusia.

Yesus sendiri juga mengalami saat ketika Dia harus memilih untuk mengikuti rencana dan keinginannya, atau taat pada kehendak Tuhan. Ia bergumul dan berdoa di Getsemani sampai meneteskan keringat darah. Yesus pun berjuang mengikuti Bapa-Nya. Ia juga mengalami proses menyangkal diri dan memikul salib. Ia sudah memberikan teladan untuk kita ikuti.

Natal penuh dengan pesan tentang menyangkal diri dan memikul salib. Dua orang penting yang menjadi alat Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya tentang kelahiran Yesus – Maria dan Yusuf adalah orang-orang juga mengalami proses itu. Maria – ia dengan lembut hati memilih rencana Allah yang beresiko dan mengatakan, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Sementara itu, Yusuf harus membatalkan rencananya untuk membatalkan pertunangan dengan Maria dan menaati kehendak Allah untuk menikahi Maria. Mereka pasti sebelumnya sudah punya bayangan tentang masa depan yang mereka inginkan, ketika kehendak Allah tiba-tiba dinyatakan dan menuntut mereka untuk mengikutinya.

Pertanyaan lain untuk kita renungkan di Natal kali ini: dalam hal apa Allah masih ingin kita menyangkal diri dan memikul salib? Mungkin saat ini Tuhan mengingatkan kita tentang karakter tertentu, kebiasaan tertentu, atau dosa tertentu. Yes, itulah diri yang harus kita sangkal dan salib yang harus kita pikul. Mari perbaharui komitmen kita untuk memperjuangkannya, sebelum perjalanan kita dengan Yesus semakin berjarak karena ketidaktaatan.

Lalu bagaimana kalau kita merasa jarak kita dengan Yesus sudah terlalu jauh? Remember, He is never too far. He is still and is always closed to us, but sometimes our flesh and our sins make us incapable to clearly see His signs or hear His calls. Kita harus membuat keputusan untuk berbalik meninggalkan jalan yang salah dan kembali ke rute Tuhan, seperti anak bungsu yang memutuskan pulang ke bapanya. Hal apapun yang pernah anak bungsu itu lakukan, bapanya menerima dia dengan sukacita.

Yesus tidak memanggil kita untuk mengikuti Dia dengan asal-asalan. Mengikuti Yesus bukan hanya tentang berjalan di belakang-Nya, tapi juga menjadi seperti Dia. Jika Yesus penuh kasih, maka kita ikut penuh kasih. Jika Yesus panjang sabar, maka kita ikut panjang sabar. Jika Yesus mau mengampuni, maka kita ikut mengampuni. Begitu seterusnya, dalam segala hal kita mengikuti Yesus – pengajaran dan teladan-Nya. 

Semoga Natal kali ini membawa kesegaran baru dalam perjalanan kita dengan Yesus, membawa kita terus mendekat kepada-Nya dan serupa dengan Dia, menjadikan kita pengikut-Nya yang layak.

“dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya, dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang yang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”
(Lukas 1:17)


***

Selamat Natal. Tuhan Yesus memberkati.

Friday, December 22, 2017

A Time to Remember



By: Leticia Seviraneta

“When you remember the why, you will eventually do with purpose”

Memasuki bulan Desember, sebagian dari kita mungkin mulai tenggelam di dalam kesibukan untuk mempersiapkan Natal dan liburan akhir tahun. Latihan pelayanan di gereja, terlibat dalam kepanitiaan, terlibat dalam kegiatan charity ke panti-panti, menghadiri berbagai Christmas dinner dengan lingkungan pertemanan yang berbeda-beda, menghadiri kebaktian Natal beruntun, lalu pergi liburan bersama keluarga dan seterusnya. Daftar ini bisa bertambah panjang sekali... menjadikan bulan Desember sebagai bulan paling hectic sepanjang tahun kita. Namun sebagian dari kita ada juga yang merasakan excitement di bulan ini. Kita menyukai dekorasi yang mulai bertebaran di mal-mal, mulai mendekor rumah juga dengan pohon natal dan ornamennya, mulai memikirkan hadiah untuk orang-orang yang kita kasihi dan sebagainya. Satu moment Natal dapat memberikan kesan yang berbeda-beda bagi setiap orang. Namun sebelum kita terbawa arus “hectic” ini mari kita mengingat sejenak makna Natal sehingga Natal kita menjadi berarti dan tidak membuat kita kelelahan. 

Kita tidak terbiasa untuk mengenang sesuatu. Keseharian kita mendorong kita untuk terfokus kepada hal-hal yang harus dikerjakan saat ini dan di masa depan. Hari-hari kita dimulai dengan to-do-list dan bukan diisi dengan things-to-be-remembered. Kita bergerak dengan tempo yang sangat cepat di era sekarang ini. Sayangnya, hal yang serupa juga terjadi di moment Natal. Bahkan pada saat kelahiran Yesus, yang merupakan Natal pertama, orang-orang terlalu sibuk dan tidak memberi ruang bagi-Nya.

“Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”
(Lukas 2:6-7)

Di kitab Lukas 2, diceritakan latar belakang yang mewarnai kelahiran Yesus. Kaisar Agustus mengeluarkan perintah untuk menghitung jumlah seluruh rakyatnya (sensus penduduk). Semua orang diwajibkan mendaftarkan diri di kota asal mereka. Yusuf, yang tinggal di Nazaret di Galilea, kemudian menempuh perjalanan menuju kota Betlehem di Yudea. Maria yang ikut dengannya untuk mendaftarkan diri sedang mengandung tua dan sudah hampir genap waktunya untuk melahirkan. Jarak Nazaret menuju Betlehem sekitar 11 km, namun bila rute yang diambil tanpa melewati daerah Samaria, maka jaraknya menjadi 150 km. Lalu daerah Yudea merupakan dataran tinggi dibandingkan dengan Galilea. Untuk mencapai kota Betlehem, harus dilakukan pendakian setinggi 760 meter, sebuah pendakian yang berat bagi perjalanan keluarga Yusuf ini. Jadi, dapat dibayangkan betapa lelahnya Yusuf dan Maria saat itu. Mereka menempuh perjalanan tersebut beberapa hari dan ketika sampai di kota Betlehem, Maria sudah akan melahirkan. Betlehem bukanlah kota besar. Pada masa itu kemungkinan hanya ada satu tempat penginapan di kota. Karena orang-orang dari berbagai penjuru negara datang untuk keperluan sensus, tempat penginapan pun penuh. Pemilik tempat penginapan pasti sangat sibuk melayani tamu-tamunya. Ketika melihat Yusuf dan Maria datang, ia menolak mereka karena tidak ada kamar tersisa lagi. Namun ia menawarkan kandang hewan ternak sebagai tempat mereka untuk bermalam. Singkat cerita, demikianlah Yesus lahir dalam kondisi sederhana, dibaringkan di atas palungan yang merupakan tempat makan hewan ternak. Natal pertama diresponi manusia dengan tidak memberi ruang bagi-Nya karena terlalu banyak hal-hal lain yang lebih diprioritaskan dan memenuhi jadwal kita. No room for Jesus. Will you make a room for Him?
Natal sesungguhnya bukanlah tentang barang-barang ataupun kegiatan, melainkan tentang Seseorang, yaitu Yesus Kristus. Natal adalah moment untuk mengingat kelahiran Yesus Kristus dan berdampak secara signifikan sampai saat ini. Natal adalah moment untuk meresponi kasih Allah yang diwujudkan dalam pemberian terbesar-Nya kepada manusia. Natal merupakan bagian dari rencana keselamatan Allah yang mencapai klimaksnya pada pengorbanan Yesus di atas Kayu Salib dan kebangkitan-Nya (Masa Paskah). Natal tidak dapat terpisahkan dari Paskah. 
Yesus merupakan penggenapan ratusan nubuatan di Perjanjian Lama mengenai kedatangan Mesias yang akan mematahkan kutuk dosa yang datang dari zaman Adam dan Hawa. Yesus merupakan kulminasi dari rencana keselamatan Allah yang sudah direncanakan-Nya sejak dahulu kala. 

“And I will put enmity between you and the woman, and between your seed and her Seed; He will bruise your head, and you shall bruise his heel.” 
(Gen 3:15, NKJV)

“After he has suffered, he will see the light of life and be satisfied; by his knowledge my righteous servant will justify many, and he will bear their iniquities. Therefore I will give him a portion among the great, and he will divide the spoils with the strong, because he poured out his life unto death, and was numbered with the transgressors. For he bore the sin of many, and made intercession for the transgressors.”
(Isa 53:11-12, NIV)

Kita yang seharusnya hidup tanpa harapan karena kita mengalami kutuk dosa dan tidak dapat kembali kepada Tuhan dengan kekuatan sendiri menjadi berpengharapan yang pasti karena Yesus telah mendamaikan kita dengan Allah. Ia telah menanggung dosa kita dan membuat kita dibenarkan hidupnya di hadapan Allah. Kita telah dibebaskan dari kuasa dosa dan memperoleh kebebasan untuk melakukan kehendak Allah. Betapa berharganya pemberian Tuhan bagi kita! 

Kristus telah menjadi hadiah yang terbesar dari Allah. Tidak ada hadiah Natal yang mampu melampaui kasih Allah melalui Yesus. Karena Yesus merupakan esensi dari Natal dan hadiah Natal itu sendiri, apakah ini mengubah mindset teman-teman mengenai apa yang harus kita lakukan saat Natal? Hadiah terbesar yang dapat kita berikan bagi orang lain adalah memperkenalkan mereka kepada Yesus. Dan bagaimana kita dapat memperkenalkan Yesus kepada orang lain bila kita sendiri belum terlebih dahulu mengenal-Nya secara pribadi? Bagaimana kita dapat menolong orang lain untuk melihat sosok Yesus yang hidup dalam kita? Jadi untuk dapat merasakan Natal yang sesungguhnya dan mampu memberikan hadiah Natal yang sesungguhnya semua kembali kepada hubungan pribadi kita dengan Yesus. 

Kita tidak menjadi dekat dengan seseorang bila kita hanya menjalin hubungan dengannya setahun sekali. Kita menjadi dekat dengan seseorang bila ada komunikasi regular. Kemudian hubungan menjadi semakin bertumbuh dan berbuah ketika kita saling mengerti, saling ingin menyenangkan satu sama lain, dan sama-sama menikmati kebersamaan satu sama lain. Hubungan yang intim akan menghasilkan keserupaan. Hal ini karena keintiman itu akan mempengaruhi cara kita berpikir, berkata-kata, dan berperilaku. Inilah mengapa ada sebuah quote terkenal, “Show me your friends, I will show you your future.” Kita menjadi semakin serupa dengan siapa kita paling banyak bergaul. Keserupaan dengan karakter Kristus ini yang akan menjadi surat terbuka atau Injil yang hidup bagi orang-orang lain di sekitar kita. Banyak orang tidak mengenal siapa Yesus dan tidak tertarik kepadanya karena ia tidak melihat Yesus hadir dan hidup di dalam diri kita. 

Untuk moment Natal ini, yuk kita melihatnya tidak sebagai to-do-list lagi, melainkan sebagai moment untuk mengingat dan merayakan Seorang pribadi yang begitu luar biasa, Yesus Kristus, Tuhan kita. Natal dapat menjadi moment untuk membangkitkan semangat kita untuk membina hubungan intim dengan Tuhan Yesus lebih lagi dan menjadi serupa dengan-Nya supaya dapat memberikan hadiah Natal terindah bagi orang di sekitar kita. Bila kita terlalu banyak terlibat dalam berbagai kegiatan di masa Natal hingga mengganggu waktu kita untuk dapat berhubungan pribadi dengan Yesus, marilah kita bijak memilih kegiatan dan belajar berkata tidak terhadap tawaran yang tidak sesuai waktunya. Semua pelayanan itu baik, namun yang terbaik tetaplah hubungan pribadi dengan Yesus (ingat kisah Martha dan Maria, Luk 10:38-42). 


Having a Christmas spirit is having Christ lived out through you.
-Leticia Seviraneta-

Wednesday, December 20, 2017

Membangun Tradisi Natal Keluarga: Ngedapur Bareng


by Yunie Sutanto

Menyambut Natal, tidak ada salahnya kita memiliki tradisi Natal bersama keluarga, apalagi jika tradisi itu sebagai upaya menyatakan dan mengingat kasih Kristus. Tradisi bisa menjadi upaya merajut tali silaturahmi dan menunjukkan wujud kasih Kristus dalam hidup keluarga kita. Contoh-contoh tradisi keluarga Kristen umumnya: Tradisi ibadah Natal keluarga, ngumpul makan malam bersama, tukar kado dan sebagainya.

Kalau keluarga anda merupakan Kristen generasi pertama, mungkin belum memliki tradisi Natal keluarga. Mulailah membangun tradisi yang bisa merefleksikan Kristus. Tradisi yang tak merefleksikan Kristus dan tidak esensi, seperti berciuman di bawah mistletoe, menggantung kaus kaki, dan sebagainya bukan sebuah keharusan. Kalau keluarga saya, kami memilih ngedapur bareng, memasak sajian Natal! 

Menurut saya ngedapur bareng merupakan tradisi yang layak dibangun. Sembari menyiapkan hidangan, dapur bisa menjadi ajang bagi para wanita lebih muda untuk berguru dari wanita yang lebih tua. Berguru berbagai hal, tak semata ilmu memasak, sebab ngedapur itu berpotensi menimbulkan curhat antar generasi: antara nenek dan cucu, antara ibu dan anak, curhatan yang bisa menjadi memori yang berharga untuk dikenang. Kesaksian hidup mengikut Kristus bisa dibagikan sembari tangan-tangan penuh tepung, keringat bercucuran, dan aroma masakan mengepul. 

Bagi generasi yang lebih tua, inilah kesempatan menularkan nilai-nilai lewat berbagi kisah pengalaman hidup, berbagi pengalaman iman, sembari mengolah bumbu. Komplit deh! Nasehat praktis memasak plus petuah kehidupan! Saya termasuk salah satu yang sedang membangun tradisi ini bersama anak-anak. Ngedapur bareng sambil curhat ngalor ngidul tentang masa kecil dan bagaimana berjumpa Yesus. 

The problem is... Tak semua keluarga memasak full course Christmas dinner, ada yang memilih pesan antar saja atau makan di resto. Masih bisakah ngedapur bareng? 

Tetap bisa dong, upaya ngedapur bisa terwujud dengan membuat bersama hidangan penutup khas Natal. Bagi Pearlians, andaikata ada yang mulai tergoda untuk memulai tradisi ngedapur bareng, ayo dipilih menu-menunya! Resepnya bisa dicari di Google atau buku aneka masakan Natal yang banyak dijual.

Hayo, yang lagi bingung memilih menu apa yang mau disajikan untuk makan malam Natal bersama keluarga, bisa mencoba resep hidangan penutup ini: 

Klappertart: Tradisi Kuliner Natal di Manado

Klappertart, hidangan yang banyak disangka khas Manado ini, ternyata merupakan salah satu kuliner warisan dari Belanda. Klappertart yang berarti kue kelapa ini dibawa resepnya oleh orang Belanda. Cara memansaknya pun ragam variasinya, ada versi panggang dan versi tidak dipanggang. Menu hidangan penutup ini merupakan salah satu hidangan Natal dalam tradisi Natal Manado. 


Bahan A:
500 ml air kelapa
150 ml susu kental manis 
1000 ml susu cair
500 ml air
100 gr gula aren bubuk
150 gr terigu
3 sdm maizena

Bahan B:
2 kuning telur
200 gr mentega cair suhu ruangan
1/2 sdt garam
1/2 sdt vanili essence

Bahan C:
2 kelapa muda, kerok isinya, pilih yang dagingnya agak keras agar tidak terlalu hancur saat dipanggang
75 gr kismis
75 gr almond cincang
2 sdm rum

Taburan:
2 sdt bubuk kayu manis


Cara Membuat:
  1. Campur bahan A dalam wadah, ayak dulu tepung terigu, maizena dan gula aren bubuk. Baru bertahap tambahkan yang lain. 
  2. Dalam wadah terpisah,campur bahan B 
  3. Campur Bahan A dan B 
  4. Masak di atas api sedang, sambil diaduk terus hingga adonan agak oekat mengental, matikan api 
  5. Tambahkan Bahan C , aduk merata 
  6. Siapkan adonan ke dua buah loyang brownies* , beri taburan kayu manis bubuk 
  7. Panaskan oven api sedang, Panggang 25 menit 
  8. Sajikan setelah didinginkan di lemari es 

*) Bisa juga ditaruh di wadah aluminium foil atau wadah panggang kecil-kecil, diameter 5 cm 


Kata Yesus kepada mereka:
“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.
(Yohanes 6:35)

Monday, December 18, 2017

My 21st Century Christmas: Tradition or Devotion?



by Yunie Sutanto

Perayaan Natal identik dengan umat Kristiani. Tentulah sebagai umat Kristen, kita menghadiri ibadah Natal dan merayakan 25 Desember sebagai hari lahir Tuhan Yesus Kristus. “Christ” dan “mass” yang artinya massa para pengikut Kristus menjadi asal muasal kata Christmas. “Christmas” berarti sekelompok massa pengikut Kristus yang beribadah bersama secara massal. Uniknya, jemaat mula-mula justru tidak merayakan Natal seperti merayakan Paskah! Tanggal tepat kelahiran Kristus pun senantiasa menjadi perdebatan! Lantas sejak kapan Natal dirayakan setiap Desember tanggal 25?

Sekitar akhir abad ke 4, Kekristenan menjadi agama resmi kekaisaran Romawi. Natal mulai dirayakan secara resmi dan dipilihlah tanggal 25 Desember, untuk menggantikan hari raya kaum pagan Romawi: Saturnalia. Pada prakteknya, perayaan Natal ala Romawi menjadi tak beda dengan perayaan Saturnalia kaum pagan! Hanya judul perayaannya semata yang berubah! Aksi liar pagan terus berlanjut!

Tradisi merayakan kelahiran Krisus terus dibawa lintas generasi dan lintas budaya ke pelbagai negara. Akulturasi dengan budaya setempat memunculkan tradisi-tradisi unik dan khas seperti tradisi memasang pohon natal, menyanyi keliling, tukar kado, menggantung kaos kaki di perapian, dan sebagainya. Di Indonesia pun tradisi unik bermunculan seperti rabo-rabo di Jakarta dan pementasan wayang kulit di Yogjakarta.

Setiap keluarga Kristen pun punya tradisi perayaan hari Natal versi mereka! Ingat lagu I’ll be Home for Christmas? Sudah jadi tradisi untuk berkumpul bersama keluarga di malam Natal, menguatkan kembali tali silahturahmi dan juga mengirim pesan selamat Natal lewat kartu ucapan maupun kado Natal. 

Semua tradisi seolah menggeser fokus dari Natal itu sendiri. Apa gerangan esensi Natal? Mungkin tak semua menghayatinya! Kita dibuat sibuk dengan kehebohan tradisi merayakan Natal, hingga lalai pada esensinya: yakni peringatan kelahiran Kristus. Tidaklah salah memiliki tradisi keluarga saat Natal, bahkan itu sesuatu yang baik. Create your own memorable traditions, but never run from the essence of Christmas.

Natal adalah saat kita merenungkan kembali, merefleksikan kembali, kelahiran Sang Juru Selamat dunia. Bayi Kristus di palungan yang terlahir untuk taat sampai mati di kayu salib! Ungkapan syukur untuk kerelaan Allah turun ke dunia, itulah yang menjadi perayaan Natal di hati setiap umat-Nya. Jesus is the perfect gift from heaven this sinful world received! 

Back to the First Christmas: Natal pertama tidaklah heboh, begitu sederhana! Bayi Kristus dilahirkan di kandang domba, terlelap di palungan. Raja segala raja memilih untuk turun ke dunia dan terlahir dalam kesederhanaan. Bagaimana perayaan Natal kita tahun 2017 ini? Biarlah Natal di abad 21 bukanlah semata tradisi yang dicanangkan seperti di abad ke-4, namun menjadi kesempatan merayakan iman kepada Kristus.

Let our Christmas reflects the glory, joy and gratefulness of a Savior born to Earth! Let it not be distracted by all the fancy traditions! Let it be simple yet meaningful devotion as a Christ follower! A time to pause and rethink the faith that we have in Jesus. 

What if...
He was never born? 

What if...
He refused to save us?

What if...
He never go to the cross?


Blessed are we...
Coz He was born

Blessed are we...
Coz He had chosen to save us

Blessed are we...
Coz he paid the penalty of our sins at the cross


Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.
(Yohanes 11:25)

Monday, December 11, 2017

The Real Christmas Tradition



by Poppy Noviana

Hi Pearlians, bulan Desember ini biasanya identik dengan perayaan Natal dan tahun baru. Bulan ini penuh dengan rencana liburan, kumpul bersama keluarga dan tukar kado dengan orang-orang yang kita kasihi. Ngga salah sih, tapi sayangnya masih ada diantara kita yang salah fokus untuk menghidupi makna Natal itu sendiri, misalnya kita lupa bahwa Natal adalah Kasih yang berkorban, karena Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk memperbaiki hubungan Allah dan manusia yang terpisah karena dosa. Banyak diantara kita yang saat ini merayakan Natal dengan fokus pada hal-hal yang tidak esensial, contohnya: mengharapkan baju baru/kado/liburan/makanan spesial. Bagaimana menurut kalian? faktanya mengasihi diri sendiri saat Natal itu nyata loh.

Tahun ini adalah musim yang cukup berbeda bagiku secara pribadi. Masalah keluarga yang tidak kunjung selesai membuat kumpul bersama keluarga besar tidak dilakukan. Tidak ada pula pesta anak-anak sekolah minggu yang meriah dan menarik untuk disaksikan karena pilihanku melepaskan pelayanan sekolah minggu sejak semester dua ini. Juga tidak ada lagi tukar kado dikalangan sesama pekerja dalam pelayanan, tidak ada lagi makanan spesial yang kuharapkan muncul saat Natal karena sekarang aku memilih untuk hidup mandiri dan berpisah dengan orangtua. Sebuah keadaan yang berbeda, namun di sisi lain hal ini membuatku lebih dalam lagi merenungkan bahwa Christ is enough for me. Bagiku Tradisi Natal adalah sebuah kebiasaan yang mungkin menyenangkan tapi tidak bersifat wajib dan kekal. Tradisi hanya alat yang membantuku lebih mudah memaknai arti kehadiran Yesus di dunia. Jadi, ada atau tidak ada tradisi perayaan Natal seharusnya tidak menjadi persoalan.

Lantas Natal macam apa yang saat ini kuinginkan? Harapanku Natal tahun ini, Allah Bapa memenuhi hatiku dengan Roh Kudus yang dapat menghibur, menguatkan dan memberi kemampuan mengasihi, mengampuni, berbagi, dan berkontribusi positif dalam lingkungan dimana aku dibuang Tuhan. 

Meskipun tidak sama seperti apa yang Allah sanggup lakukan bagiku, namun aku menghargai perbuatan-Nya sampai hari ini dalam hidupku secara pribadi. Natal yang sejati adalah ketika hidupku menghidupi arti kehadiran-Nya, bukan menghidupi keinginanku sendiri. So Pearlians yang terkasih, berbahagialah sebab perayaan Natal tidak dibatasi oleh kondisi ekonomi, kondisi keluarga, kondisi keberadaanmu dan statusmu di masyarakat. Jadi ciptakan tradisi Natal dari sudut pandangmu memaknai Natal itu sendiri. Hargai kehadiran-Nya dan keputusan-Nya untuk datang ke dunia, sebagai sebuah Kasih termulia yang menginspirasimu untuk melakukan hal yang sama, kepada barangsiapa yang lupa atau bahkan belum pernah mengenal-Nya. 


Ini tradisi Natalku, mana tradisi Natalmu?

Silahkan bagikan dan lakukan tradisi Natalmu tanpa kehilangan fokus atas esensi natal itu.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
(Yohanes 3:16-17)

Wednesday, December 6, 2017

Rumput dan Uap Air (Part 3)


by Tabita

Buat yang belum baca bagian 1 dan bagian 2, bisa baca dulu, yaa.

Okee. Setelah nulis tentang Who am I? dan poin 1 kemaren, sekarang aku mau share poin 2-nya :)) Selain bicara tentang kesetiaan Allah, Natal itu juga adalah...

Natal berbicara tentang kembali hidupnya harapan dan semangat yang padam.

Bangsa Israel udah nunggu lama banget buat diselamatkan Sang Juruselamat. Bahkan waktu Yesus lahir, mereka baru dijajah bangsa Romawi. Otomatis, harapan dan semangat bangsa Israel semakin nggak menentu. Mungkin mereka mikir, “Ini beneran Tuhan mau nyelametin kita nggak, sih!? Lama amat datengnya! Keburu mati semua gara-gara dijajah, nihhh!!”. Pemikiran itu pula yang jadi salah satu penyebab para murid bertanya pada Yesus, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kisah Para Rasul 1:6, TB). Mereka pengen Yesus segera mengakhiri penjajahan Romawi dan menjadi The Hero buat bangsa itu.

Nope. Yesus nggak lahir dalam keluarga kerajaan maupun jadi pahlawan bagi bangsa Israel. Sebaliknya, Yesus lahir dalam keluarga tukang kayu yang sederhana dan justru meninggalkan Amanat Agung bagi para murid-Nya (Matius 28:16—20, Kisah Para Rasul 1:8). Tapi apakah itu artinya nggak ada harapan bagi bangsa Israel buat diselamatkan dari penjajahan?

Jawabannya... ada :) Yesus nggak cuma lahir dan memberikan teladan hidup; tapi juga membebaskan dunia dari cengkraman maut! Penjajahan secara fisik nggak ada apa-apanya dibanding penjajahan rohani (baca: maut). Yesus tahu ini; karena itu Dia rela untuk mengorbankan nyawa-Nya bagi kita :) His sacrifice lit up our hope and encourage us to keep living in Him. Ini yang Dia tanamkan pada para murid-Nya, sehingga akhirnya... mereka pun mengabarkan kabar sukacita ini pada dunia—walopun nyawa yang jadi taruhannya. Tapi mereka tetep taat, dan buahnya pun ada pada kita sekarang :D

And now, how about us? Apakah kita tetap percaya bahwa Tuhan adalah Pribadi yang setia? Apakah kita benar-benar telah bergantung secara total pada-Nya?

Hari ini, Tuhan menyatakan bahwa Dialah satu-satunya sumber kekuatan dan alasan kita hidup. Sama seperti yang pernah dikatakan seorang teman dari temanku, “Ketika hidup ini terasa berat, justru di saat itulah kita harus bergantung erat pada Tuhan." Tetap bertekun membaca, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan serta berdoa akan menolong kita untuk tetap kuat di dalam Tuhan. Di sanalah kita memperoleh kesegaran jiwa bagi hati yang kering dan rapuh.

Yuk, terus mengandalkan Tuhan; karena kerapuhan hidup bukanlah akhir harapan, namun kehadiran Tuhan di dalamnya memulihkan kita.

Selamat menyongsong Natal dan Tahun Baru dengan penuh harapan di dalam Tuhan, Pearlians! :) Percayalah, sekalipun ini terdengar klise, Tuhan sedang dan akan terus menenun kehidupan kita untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya. Cheers! ^^