Showing posts with label FAQ. Show all posts
Showing posts with label FAQ. Show all posts

Monday, November 19, 2018

Ada Mereka di Antara Kita


by Grace Suryani Halim

Widihhhh... Judulnya bow! Hahaha... Ada Mereka di Antara Kita. Well benernya gue mo nulis soal pentingnya komunitas sebelum dan saat pacaran. Karena itu kepikiran bikin judul "Ada Mereka (baca: Tuhan, ORTU, pemimpin KTB/Komsel/Cell Group, temen2) di Antara Kita." 

Pastor Jeffrey Rachmat sekitar tahun 2004 pernah bilang satu kalimat yang kira-kira bunyinya begini, "Apa sih yang salah dengan para artis kita yang suka kawin cerai? Yah, karena ketika mereka pacaran, mereka sembunyi-sembunyi. Ngga ngaku. Tapi begitu mereka married, ada masalah, panggil infotainment. Padahal seharusnya sewaktu mereka pacaran, buka lebar-lebar, dan setelah menikah, tutup rapat-rapat. " 

Menurut gue itu bener banget. Banyak orang pas pacaran, diem-diem, sembunyi-sembunyi, ngumpet2, pas udeh married, kalo ada masalah, telpon mami, curhat ama sahabat. KEBALIK!! Pas waktu masih pacaran, buka semuanya lebar-lebar, undang org2 utk kenal dan menilai pasangan kita. Tapi begitu menikah, TUTUP RAPAT-RAPAT. Sejak gue married sampe sekarang kalo gue berantem ama Tepen, NGGA PERNAH gue kasih tau nyokap gue. Never. Bukan karena gue ngga sayang lagi sama nyokap gue, tapi karena sekarang urusan Tepen dan gue itu urusan INTERNAL kami berdua. 

Tapi ketika masih pacaran, itu harus dibuka... Gue dulu kalo berantem ama Tepen, cerita ama bokap nyokap gue. En seringnya gue yang kena tegur -.- Hehehe... Oke sekarang coba kita bahas satu-satu yah...


// WHAT? 

Apa sih yang gue maksud dengan komunitas itu? Komunitas itu adalah tempat di mana kita mengizinkan orang-orang terdekat yang kita tahu sayang dan mengasihi kita untuk melihat the best, the good, the bad and the ugly di dalam diri kita. Tempat kita bisa saling bertumbuh. 

Allah Bapa di awal penciptaan sudah mengatakan, "Tidak baik jika manusia itu seorang diri saja." Artinya di dalam benak Allah ketika Ia membayangkan manusia, IA TIDAK membayangkan seorang lone ranger - seorang penyendiri, seorang yang asosial. Justru Ia membayangkan manusia itu akan hidup dengan manusia laen. Ia merancang manusia itu menjadi makhluk sosial. Jadi hidup di luar komunitas itu BUKAN rencana Bapa. 

Di dalam PB, ada 39 kata 'saling'. Saling membantu, saling mengasihi, saling menolong, saling mengaku dosa. En sebagian besar dari kata 'saling' itu digunakan dalam konteks gereja Tuhan, jemaat Tuhan yang ada interaksi satu sama lain. 

Menurut gue pribadi, sayangnya Gereja yang tadinya adalah kumpulan orang berdosa yang sudah diselamatkan, kini banyak berubah menjadi perkumpulan orang bae-bae. >.< Semua yang di gereja maunya hanya kelihatan yang baik saja. Kalo sedikit keliatan yang tidak baik, langsung digosipin, dikucilkan, diomongin, "Ih... Org kristen/majelis/pelayan/usher/WL/MC/pianis/pembina/ketua komsel, kok begituuu?!?!" Dan lupa bahwa gereja itu BUKAN kumpulan org BAE. Gereja itu kumpulan ORANG BERDOSA yang... DIBENARKAN hanya oleh darah Kristus, bukan yang udeh bener dari sononyee. Jadilah ketika ada orang-orang yang bermasalah deangan perzinahan, dengan pornografi, mereka ngga berani bilang... takut... >.< En komunitas ini gagal menjadi gereja yang Tuhan sebenernya rindukan. Yaitu di mana ada tempat bagi pengampunan dan PEMULIHAN. 

Tapi ngga papa, Tuhan selalu rindu ada anak-anak-Nya yang mau membawa perubahan, en kalo kalian baca note ini, en kalian manggut2 pada paragraf di atas itu artinya YOU ARE THE ONE that must offer a grace and forgiveness in your church. :)) You're the one that must pray for YOUR church so that your church can really be the Church of Christ. Bukannya trus malah ngomel2 en bilang, "Betullll banget cik Grace, kemaren tuh di gerejaa gueee..." en jadi gossip ngalor ngidulll... No... Tuhan rindu kalo kalian merasa ada sesuatu yang kurang, itu artinya ada sesuatu yang bisa kalian berikan untuk gereja kalian :)) 

Nah untuk masalah pacaran ini, tidak semua gereja memang menawarkan pembinaan yang khusus. But If your church don't have it, you can personally ask beberapa org2 di gerejamu yang menurutmu cukup dewasa secara rohani untuk membantu dan jadi mentor kalian selama kalian menjalin hubungan. Dulu gereja gue juga ngga ada begini2an, yah gue cari pembimbing sendiri loh di gereja gue hahaha... Gitu aja kok repot :p 


// WHO? 

Siapa sih orang-orang yang bisa kalian jadikan "mereka" untuk berada "di antara" kalian dan calon pasangan kalian?? 

1. ORTU -> ini hukumnya wajib. :p 
"Tapi cik... Ortu gue tuh belon percayaaa... Trus pikirannya kolot abiss!! Bener-bener bertentangan ama FT deh." 

Ini komentar paling sering yg gue dengerrr :p You know what guys, baca alkitab kalian en tidak pernah sekalipun ditulis, "Hormatilah ayahmu dan ibumu KALO MEREKA KRISTEN," atau "Hormatilah ayahmu dan ibumu, kalo mereka sudah dibaptis," atau "Hormatilah ayahmu dan ibumu kalo mereka rajin ke gereja." Ngga pernah guys. Kecuali Alkitab kalian beda sama Alkitab gue :p Di alkitab LAI punya gue sih itu cuman tertulis "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." 

Tidak ada prasyarat. Hormat kepada orang tua itu hukumnya WAJIB. TITIK. 

Papa mama mertua sampe detik ini masih belon percaya. Kita terus berdoa supaya Tuhan jamah hati mereka. But selama gue pacaran ama Tepen mereka belon percaya. Prinsipnya beda donk!? Oh ya pasti ada yang beda. Tapi TIDAK SEMUA prinsip mereka salah. Tidak semua sesuai FT, iya, tapi ngga sedikit juga prinsip Papa Mama yang bagus. 

So ortu HARUS dijadikan dan dimasukkan ke dalam orang yang kita mintai pendapat tentang pasangan hidup karena mereka punya 3 kriteria penting yang tidak dimiliki oleh hamba Tuhan yang paling penuh urapan sekalipun. 

A. THEY LOVE YOU. Orang tua itu orang yang BENAR-BENARRRRR sayang sama kalian. Hamba Tuhan belon tentu sayang en bener2 peduli sama kesejahteraan kalian tapi ortu kalian itu sangat peduli!! 

B. THEY KNOW YOU. Orang tua itu kenal sama anaknya. 

"Cik Grace salaahhh... Bonyok gue ngga tau apa-apa tentang gueee. They don't understand me..." 

Well, kadang keliahatannya mereka ngga tau kalian. Ngga ngertiii isi hati kalian. Tapi sebenernya secara naluri mereka itu tau kalian. Mereka tau titik-titik lemah kalian yang org laen ngga tau. Mereka tau kecenderungan2 kalian. 

C. Because God said so :) Karena itu perintah Tuhan. Tuhan yang menempatkan mereka untuk menghadirkan kalian ke dunia ini, merawat kalian, mendidik kalian dan Tuhan juga memberikan otoritas kepada mereka untuk mengarahkan kalian. 

-

Guys, percayalah ketika kalian menghormati ortu kalian, even ada hal2 tertentu yang tidak kalian setujui, berkat dari Tuhan akan mengalirrr di dalam hubungan kalian. 

2. KAKAK ROHANI YANG JENIS KELAMIN SAMA :p (bisa pemimpin komsel, KTB, cellgroup, atau seseorang yang kita liat cukup dewasa karakter dan imannya).
Kenapa ada penekanan harus sejenis? Well itu untuk mengurangi conflict of interest. Hehehe... Alias siapa tau kalo ternyata Kakak KTBnya co, en diem2 naksir sama anak KTBnya dan anak KTBnya itu naksir co laen, heem bisa2 pandangannya kurang obyektif. Hihihi... :p 

En kakak rohani ini haruslah seseorang yang kamu TEMUI dalam KEHIDUPAN NYATA. Bukan nemu di FB, atau di website.

Kenapa gue perlu nyatakan itu dengan jelas? Well, sejak gue nulis notes di FB, banyak email yg masuk. Banyak yang cerita, curhat, en gue menerima semua email. Tapi masalahnya, kadang gue bener2 ngga tau mesti jawab apa. Terutama kalo pertanyaan2nya model:

"Jadi, cik, gue perlu putusin pacarku nga ya?" 
"Menurut jie2 is he the one?" 
"Kapan kira-kira aku perlu cerita ttg masa laluku yang rada kelam sama dia?" 

Waduh, I CAN'T ANSWER!! Kenapa?? Karena semuaaa pertanyaan itu sangat erat kaitannya dengan karakter kamu dan pasanganmu, dengan kepribadian kalian, kematangan kalian, kerohanian kalian yang jelas-jelas TIDAK BISA KELIHATAN hanya dari beberapa kali email... Itu butuh org2 yang melihat kalian dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang tau dan kenal kalian!! 

Kalo udeh dapet pertanyaan begitu, biasanya gue cuman bisa berdoa, "Oh Tuhan... Mesti jawab gimanaa?!?!" :p 

Paling banter gue cuman bisa kasih kalian few insights, and pray for you, but I will strongly recommended you to go back to your church and find someone that you can trust and ask for his/her guidance. :)) 

Why? Karena guys... Semua tulisan yang gue tulis ini sebenernya gue tulis untuk mendukung Tubuh Kristus alias Gereja. Kalo kalian diberkati, go back to your church and bless your church! I want to partner with the Body Of Christ... karena untuk itulah sebenernya semua pelayanan kita. untuk membangun tubuh Kristus. Dan bagian2 yang tidak bisa gue lakukan, itu pasti bisa dilakukan oleh org laen dalam tubuh Kristus. :) Dalam hal percurhatan dan per-kakak rohanian ini gue yakin bisa dilakukan dengan lebih bae oleh pembina2 di gereja kalian. :)) 

But gimana oh gimana kalo saat ini di sekitar kalian sepertinya tidak orang yang cocok buat jadi kakak rohani? 

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan."
(Matius 7:7-8)

Kalau kalian bener-bener rindu punya komunitas punya kakak rohani tapi saat ini kalian belon punya, maka don't worry. Pray and Ask God!! 

Awal tahun kemaren ketika gue pindah ke Sg, gue juga sempet merasa sedih dan kering. Waktu itu gue baru ikut lomba Weddingku en di situ ketemu dengan banyak amazing woman (Ershinta, Lia, Farida, Deanna, dll). Buat gue yang baru married berteman secara maya dengan mereka2 ini sangat menguatkan. Gue bolak balik kembali diingatkan untuk put my husband first, buat jadi istri yang bae, dll. Dari sharing2 dengan mereka gue tuh sangat diberkati. But... sometimes gue begitu kangen, begitu rindu punya kakak rohani yang NYATA, yang bisa gue ajak hang out. Yang bisa gue denger suaranya di telpon... So I prayed... and God gave me ONE. :D Dia ternyata kakak kelas gue di SMA dulu yang sekarang lagi lanjut kuliah teologi di Sg. and we're in the same church!! We share a lot of common things, have the same value, en dia juga yg nemenin gue nangis2 ketika sebuah impian retak. 

So guys, jangan patah semangat. Ask God... 

3. SAHABAT-SAHABAT YANG PUNYA NILAI YANG SAMA
Penting juga untuk kalian share dengan sahabat-sahabat kalian yang punya nilai-nilai yang sama. Contohnya: NO SEX before married, no backstreet, jaga kekudusan, pacaran bukan utk maen2. 

Alkitab bilang,

"Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."
(1 Kor 15:33)

Untuk sahabat itu hukumnya wajib mencari yg punya nilai-nilai yang sama. Selera cowok bisa beda but at least kalian punya kesamaan nilai-nilai. Apa yang baik, apa yang benar, mana yang tidak benar. Karena kalo ngga, bukannya kalian dikuatkan, didukung yg ada malah bisa-bisa mereka ngeledekkin kalian, CAPEE DEEHHH... :p 

So menurut gue, untuk sahabat kalian harus cari yg punya nilai-nilai kristiani yang sama. Bukan hanya sekedar Kristen dan pelayanan tapi bener2 punya prinsip hidup yang jelas. 


// WHY? 

Kenapa sih penting ada komunitas di antara kalian?

Yang pertama, krn itu perintah Tuhan. Udeh ada ayatnya di atas. 

Yang kedua, org2 itu penting untuk membantu menjaga batasan-batasan fisik dan emosi yang kalian sudah buat. Kita perlu ada org2 yang bisa mengingatkan, menegur kalo kita sudah melanggar batasan. Orang-orang ini juga penting krn biasanya org laen lebih bisa melihat dengan jelas dibanding dengan kita yang sedang dimabuk cinta... Oh la la laaaa :p 

Terutama utk ortu yang belon percaya, sekalipun mereka itu kadang kritis en kadang menurut kita ngga nyambung but somehow mereka itu punya kemampuan untuk melihat kemunafikan lebih jelas. en kalo ada yang ngga bener, biasanya cepet banget mereka sadar. Hehehe. 


// WHEN? 

Idealnya, kalian sudah terlibat dalam komunitas SEBELUM kalian pacaran :p Jadi pas masih naksir lirak-lirik kalian sudah dibantu dengan berbagai macam pihak (ortu, kakak rohani, sahabat2) untuk menseleksi para kandidat hehehe. En juga untuk membuat kalian tetap MENJEJAKKAN KAKI KE BUMIII!! 

Karena guys pas kita lagi oh jatuh cintaaaa... Kapan saja selalu berjuta-juta rasanyaaaa... En kadang kalo kita jalan jadi ngga menjejakkan kaki ke tanah!! Krn itu org2 di sekitar kita inilah yang bisa jadi pagar buat kita. 

Tapi kalo ternyata kalian sudah pacaran, don't worry... kalian tetep bisa mulai kok. Ajak pacar kalian ke rumah. Kenalkan dengan ortu. Ajak pacar kalian pergi dengan komunitas kalian, dgn temen2 cellgroup/komsel. Selalu ada kesempatan kalo ada kemauan :)) 


// HOW?

Nah di bagian sini gue bakal bahas HOW nya dengan lebih detail. 

Gimana sih caranya melibatkan 'mereka' untuk ada di antara kita dan pasangan kita? 

1. UNDANG MEREKA
Itu kunci pertama. Kita harus mengundang mereka. Kita harus bilang dulu sama mereka kerinduan kita untuk membawa mereka terlibat ke dalam pergumulan kita mengenai masalah CPH alias calon pasangan hidup. 

Terutama dengan ortu, kita harus nyatakan dengan jelas bahwa kita pengen mereka bantu kita, kasih kita input, dan nyatakan kalo kita akan menghargai semua masukan mereka. Kenapa gue bilang kita harus NYATAKAN? Coz ortu zaman sekarang itu beda guys. Mereka rata-rata menghargai anak2 mereka en mereka juga tau bahwa urusan pacar tuh urusan 'anak-anak muda'. Pernah denger kata-kata, "Yah, kita jadi ortu mah ngikut aja, kalo anaknya udeh suka yah udeh." 

Keliatannya oke yah guys? :p But benernya that's NOT what God wants! Tuhan pengen para ortu itu berperan aktif, dan sebenernya para ortu juga pengen berperan aktif. But mereka takut kalo terlalu bawel, ntar anaknya malah marah trus ngga mau ngomong lagi. >.< So sad huh... Karena itu sebagai anak kita yang harus bilang sama mereka bahwa we know that they care about us, they want the best for us so we invite them utk ikut membantu kita. 

Gue ama dd cewek gue dulu bikin perjanjian ama bokap gue. Ada beberapa point tapi intinya, kalo ada co yang mo deketin gue (ngajak gue jalan bareng BERDUA SAJA) maka gue akan suruh dia kenalan ama bokap gue, en gue ngga akan membicarakan masalah pernikahan dengan seorang cowok sampe dia bicara sama bokap gue. 

Sehabis gue bikin perjanjian itu, gue balik ke China en bokap gue di Jakarta.

"Emank bisa jaaalaaaannn?! Kan loe jauh dari bokap loe?" 

Guys, sekarang itu zaman udeh majuuuu!!! Jarak itu bukan lagi masalah. :p Waktu Tepen mo ngajak gue jalan, dia di Singapore, gue di Jakarta. Ketika dia mau ngajakkin gue jalan pas dia balik, gue bilang, "Gue ada perjanjian ama bokap gue utk kagak bakal jalan berdua sama cowok sebelon cowok itu minta izin ama bokap gue. Loe kalo mo ajak gue jalan, sana gih minta izin ama bokap gue. Loe mo email kek, mo telpon kek, mo kirim surat kek, terserah elu." 

Co laen gue gituin senyam senyum en keder lalu kaburrr :p Tepen, gue gituin, minta email bokap gue. En dia email bokap gue. Minta izin mo ngajakkin gue jalan. En my father was impressed. :p 

Gals, melibatkan ortu dalam hubungan itu MELINDUNGI KITA TAU. Melindungi dari banyak co-co ngga serius. Coz yakin deh kalo itu co ngga serius, cuman mau maen2, cuman mau isenk-isenk, cuman mau seneng-sneng, loe suruh kenalan ama bokap loe or engko loe or abang loe pasti KABUR! :P Tapi kalo dia serius or paling ngga bener2 mau coba kenal elu, dia pasti berani maju. En that will PROTECT YOUR HEART dari co-co ngga bertanggung jawab yang cuman mau seneng2 tapi ngga mau komitmen!! 

Pas Tepen mo ngelamar, he also know the rule. Grace ngga akan mau bicara soal marriage kalo cowok itu belon bicara sama bokapnya. So dia... kirim surat. :p En itu kejadian di tahun 2008 bukan di tahun 1908!!! Kirim surat masih zaman kok sekarang hehehe. (cerita lengkapnya bisa dibaca di Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta).

2. TERBUKA 
Setelah kita mengundang mereka, en mereka mulai 'masuk' siap-siaplah merasakan ketidak nyamanan. :p Akan ada saran-saran yang ugghhhhh membuat kuping gatel, akan ada pertanyaan-pertanyaan yang bikin hati gerah. That's natural and that's healthy! Kalau org-org yang kamu ajak untuk terlibat itu benar-benar orang-orang yang sayang dan peduli denganmu, mereka akan BUKA MATA mereka lebar-lebar en menyelidiki pasanganmu dari atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang. En itulah tujuan utama mengundang mereka :p Untuk membuat kita bisa melihat pasangan kita dari sudut-sudut yang berbeda. Di mata kita, pasangan kita pasti yang bae. Pasti bener. Kita pasti SELALU bisa mengerti pasangan kitaaa *maklum lagi jatuh cintaaaa*, tapi di mata org laen yang tidak punya ikatan emosi, mereka akan bisa melihat dengan lebih jernih. 

So ketika mulai ada masukan-masukan, kritikan, tegoran, BUKA kuping dan MATA mu lebar-lebar. Jangan keburu cembetut. Jangan keburu ngambek. Inget itu konsekuensi mengundang orang laen masuk ke dalam hubungan kalian :)) But tiap kali kalian merasa bete, pikirkan hal ini, "They love me en mereka bilang begitu untuk supaya gue hati-hati dan berpikir bae-bae." 

Don't worry, kalo pasanganmu itu bener-bener bae en bener-bener serius, mereka juga akan bisa melihat hal-hal yang bae dan hal-hal yang bagus di dalam dirinya. :)) Bahkan mungkin mereka bisa melihat hal-hal bae dari pasanganmu yang kamu sendiri NGGA BISA lihat. :p 

Jadi guys, pentingggg bgt utk juga spend time dengan mereka bersama dengan pasangan kalian. jadi mereka tuh bisa melihat pasangan kalian apa adanya. :) 

*** 

Membawa 'mereka' ke dalam hubungan pacaran itu bener-bener banyak manfaatnya. You'll never walk on in this relationship, en kalo ada masalah, kalian tau ada MEREKA yang siap dan ada buat kalian. :)

Friday, November 16, 2018

Single and Satisfied



by Stephanie Gunawan

Hey girls! Siapa yang lagi baca blog ini, statusnya lagi jomblo?? Hayoo angkat tangan!! :) Gimana rasanya jomblo, girls? Are you happy? Apakah perasaan kalian kaya di lagunya Oppie Andarista – Single Happy? ‘Aku baik baik saja menikmati hidup yang aku punya, hidupku sangat sempurna, I’m single and very happy… Mengejar mimpi-mimpi indah, bebas lakukan yang aku suka; berteman dengan siapa saja, I’m single and very happy...’ Bener gak kaya gitu? Hehe..

Well, I hope so. Tapi saya harap kalian senangnya bukan karena terpaksa yah. Beberapa orang yang sebenarnya terpanggil untuk punya pasangan, namun sekarang BELUM ada pasangan, bisa aja pura-pura bahagia. Bisa aja dia bilang I’m single and very happy, tapi sebenernya dalam hati, ia merasa sedih. Dia berpikir bahwa ia akan bahagia kalau udah punya pasangan. Sekarang pertanyaannya, apakah kalau kita nanti sudah punya pasangan, kita akan selalu senang, gak pernah sedih lagi? Gak mungkin donk yah … Pasti kita tetep bisa merasa sedih. Mungkin sedihnya karena si dia membuat keputusan-keputusan yang kita gak ngerti, sms-nya udah gak seromantis dulu lagi, lupa tanggal jadian, bilang kita lelet, lama banget dandannya, dan sebagainya. Pasti sedih ato kesel-kesel gitu kan? Nah, dari sini saya mau menggaris bawahi bahwa kesenangan kita tidak mutlak ditentukan dari hal kita punya pasangan atau ngga. Ada hal lain yang menentukan kesenangan abadi kita. Apakah itu? Keep on reading... ;)

Pertama-tama, kita perluas arti kata ‘single’ dulu ya. Single sebenernya bukan berarti jomblo atau gak punya pacar. Single itu adalah suatu keadaan di mana kita merasa utuh. Sekali lagi yah, single adalah SUATU KEADAAN DI MANA KITA MERASA UTUH. Orang seringkali berpikir bahwa ia akan merasa utuh kalo dia dapet cinta dari seorang pacar. It’s a big NO! NO NO NO! Itu bener-bener pemikiran yang salah!! Kita gak akan pernah bisa utuh karena kita punya pacar. Tapiii, kita akan utuh ketika kita punya hubungan yang erat dengan Tuhan Yesus.

Allah menciptakan manusia dengan satu kebutuhan yang sangat spesifik, yaitu kebutuhan akan cinta. Jauh di dalam hati kita, kita amat sangat ingin, pengen banget, rindu berat untuk merasakan yang namanya dicintai. Tul kan? Betuuulll… Sayang sekali, seringkali kita nyari cinta itu dari sumber yang salah, yaitu pacar kita. Padahal, pacar juga manusia berdosa lho… Sama aja ama kita. Pacar kita pasti punya kelemahan. Kita gak bisa selalu ngarepin pacar bakal maniiiisss terus sama kita. Dia pasti juga bisa bikin salah dan bikin kita merasa tidak dicintai. Bisa juga sebaliknya, kita yang bikin salah dan membuat pacar merasa tidak dicintai. Buntut-buntutnya kita ribut. Sekali, dua kali, sepuluh kali, lima puluh kali, gak keitung… Dan akhirnya kita merasa sudah tidak ada cinta di dalam hubungan ini. Cinta kita habis. 

But don’t worry! ^^ Ada satu sumber cinta yang stock cintanya gak bakal habis-habis. Makin kita lengket ma sumber cinta itu, pasti kita bener-bener terbuai dengan cintanya. Makin kita deket-deket, pasti kita makin berasa dicintai. Makin kita berhubungan erat, kita pasti berasa disayang, diinginkan, dihargai, dihormati, didukung, dimanja, dan diterima. So sweet yah?! :) Hehe... Mau mau mau??? Kalo mau, yuks nempel kaya perangko ma sumber cinta itu.

Siapa sih ni yang dari tadi disebut-sebut sebagai sumber cinta? I bet you already know the answer. Bener kan? Pasti kalian udah tau deh... Siapaaa?? Yup! Betoooll!! TUHAN YESUS!!! Dialah sumber cinta itu. GOD is LOVE. Tuhan Yesus, Allah itu sendirilah yang punya stock cinta penuuuhh mulu. Dia mau bagi-bagiin cinta-Nya ke semua manusia. Dia mau membuat kisah fairy tale yang manis dan pernah kita dengar itu menjadi benar-benar nyata dalam hidup kita.

Satu-satunya hal yang akan membuat kita merasa utuh adalah: Tuhan Yesus. Pribadi Yesus mampu mengisi hati kita dengan cinta yang banyaaakk sekali, gak bakal ada habisnya.

Seperti dalam fairy tale, di mana kehidupan sang putri terasa begitu indah, kita pun bisa mempunyai kisah hidup yang sama indahnya seperti itu. Kalo di fairy tale, seringkali putrinya dijahatin oleh tokoh antagonis kan yah. Entah oleh ratu yang iri dengan kecantikan putri, atau penyihir jahat yang menculik putri, atau oleh peri jahat yang mengutuk putri. Pokoknya si putrinya dijahatin mulu dah, dibuat menderita. Gak bisa si putri hidupnya tenang.

Well, it’s the same in our lives. Kita, sebagai putri-putri Allah, mengalami hal serupa. Kita menderita oleh karena dosa. Ada tokoh antagonis-nya: si iblis. Udah dari lahir kita naturnya berdosa, ditambah lagi godaan-godaan iblis yang memanggil-manggil kita terus. Kita ditawarin bohong lah, nyuri lah, judi lah, narkoba lah, bunuh diri lah, ngelawan orang tua lah, maki-maki atasan kita lah, masturbasi lah, free sex lah, dan banyak lagi godaan lainnya yang gak terhitung. Kita tertawan dalam menara dosa yang membuat kita merasa bahwa kita bukan orang benar. Kesalahan kita banyak dan kita gak pantas dicintai. Kita tidak berharga. Kehidupan kita penuh dengan kegelapan, benar-benar berbeda dengan the sweet fairy tale we’ve ever heard. It’s totally dark. Kita menderita.

Uh oh!! Help help!! Kita pengen bisa hidup dengan bebas. Kita pengen punya kisah kehidupan yang manis, gak penuh dengan dosa. Kita pengen merasa bahwa kita adalah orang benar dan pantas dicintai. Kita selalu bermimpi punya kehidupan yang indah kaya di dongeng-dongeng itu! Help!!

Girls, Tuhan tau bahwa kita ingin punya hidup yang indah, as sweet as the fairy tale. Tuhan tau kita tertawan dalam menara dosa dan kita gak bisa melepaskan diri kita sendiri. Kita butuh pertolongan. Ketika Ia menyadari bahwa kita tertawan dan tak berdaya, Ia pun merasa sedih. Ia gak tahan ngeliat manusia ciptaan-Nya yang dikasihi-Nya terus-terusan menangis karena terikat jerat dosa. Hati-Nya pun pedih melihat kita terpenjara dalam kungkungan dosa. Ia rindu menyelamatkan kita.

So, He came!! He came to save us!! He is our Knight in shining armor! Dia mau bebasin kita dari menara dosa. Dia pahlawan kita. Dia tau bahwa HANYA DIALAH SATU-SATUNYA yang bisa memberi kebebasan pada kita. Hanya Dia satu-satunya yang bisa menggantikan semua kegelapan dalam hidup kita dengan terang. Hanya Dia satu-satunya yang sanggup memberikan cinta yang gak akan pernah habis untuk kita. Hanya Dia satu-satunya yang akan membuat kita merasa utuh, lengkap. Hanya Dia satu-satunya yang akan menjawab kebutuhan dasar kita, yaitu untuk dicintai. Dia bener-bener tau semua hal itu. Mengapa? Simply because He is the One who creates us with such longing in our hearts.

Girls, serius deh, cari Tuhan Yesus kalau mau bener-bener utuh dan bahagia. Memang kebahagiaan yang dirasakan tuh gak model hepi euphoria terus-terusan. Tetep ada masa-masa di mana kita merasa hidup ini penuh tantangan, bikin kita jengkel, kesel, sedih, marah, dan sebagainya. Tapi, satu hal yang kalian gak akan pernah sangka. Kalian akan merasakan kedamaian sejati dalam hati kalian. Apa lagi sih yang kita cari kalo bukan perasaan damai? Kita akan puas saat kita bisa tenang karena tau kita dicintai dan dianggap berharga. Kita pun bisa merasa bahwa kita adalah orang benar karena Yesus menjadikan kita benar. Dan gak cuman itu, bahkan Ia juga memberikan bonus! Hidup kekal! Kita gak akan binasa, tapi akan memerintah selama-lamanya bareng Dia. Keren banget kan?! Mantap lah! Gak percaya? Check all of these Bible verses!

1. Kita tenang karena tau kita dicintai, dikasihi.

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
(1 Yohanes 4: 10)

2. Yesus juga bilang bahwa kita berharga di mata-Nya.

Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.
(Matius 10: 31)

3. Kita juga bisa lega karena tau kita ini dibenarkan oleh Yesus. Kita tidak lagi dirundung perasaan bersalah seumur hidup, kita telah dibenarkan oleh darah Yesus.

Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.
(Roma 3: 24)

4. Gak tanggung-tanggung, kita juga dipastikan akan menerima jaminan hidup kekal.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
(Yohanes 3:16)

5. Plus, kita akan memerintah bersama-sama dengan-Nya nanti. :)

… dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya.
(Wahyu 20:6)

Luar biasa kan kalo kita ikut Tuhan Yesus?? Ia memberikan sedemikian banyak sukacita yang pasti dan membawa damai abadi untuk kita. Tunggu apa lagi? Ayo nempel yang erat ma Tuhan Yesus!

Girls, jadilah singles yang utuh di dalam Yesus, yang nyari cinta sejati hanya dari Yesus, bukan dari sumber-sumber lain. Saya percaya kehidupan kalian yang tadinya suram akan pelan-pelan berubah menjadi manis kayak di dongeng-dongeng. Pada akhirnya, kalian akan puas menjalani hidup ini karena kalian tau bahwa kisah fairy tale itu gak cuman khayalan, tapi bener-bener kenyataan. Jesus is the One who brings the sweet fairy tale into our reality. Live with HIM!

Wednesday, October 10, 2018

Help! I Married the Wrong Person!


by Natalia Setiadi

Hah serem amat ya judulnya?

Komentar para responden (ciehh...) ttg judul ini:

Single: “Idih, amit2 ya jangan sampe kejadian...” (sambil ngetok kayu dgn giat)
Istri/suami baru: “Puji syukur, gue married the RIGHT person...”
Istri/suami rada lama yang jujur: “Kadang rasanya gue married the wrong person, kadang rasanya the right person. Mana yang bener ya?”
Istri/suami rada lama yang terlalu jujur: “Huh, gue yakin gue married the wrong person. Gue dulu merit cuman demi... Bla bla... Sekarang bertahan juga cuman demi... bla bla...”

Posting-an ini menyambung karangan saya terdahulu yang berjudul Galau Pranikah. Buat yang belom baca tapi pengen baca, cekidot dulu deh link-nya, biar nyambung ceritanya. Kalo ga pengen baca, mendingan dipengen2in, trus baca aja, biar itu postingan bisa naek rating-nya (jiaaahh... Apaan sih @.@)


// Tahun pertama pernikahan

Selain excitement, biasanya taun pertama diwarnai “ribut-ribut” menyangkut perbedaan-perbedaan, miskomunikasi, dan penyatuan visi & misi secara lebih real dan detail. Misalnya: tidur mau pake AC atau engga? Natalan mau ke keluarga suami atau keluarga istri? Dst. 

Kalo ada perbedaan mendasar yang belom terselesaikan selama masa pacaran, ribut yang ada biasanya lebih besar daripada “ribut yang normal” (ada ya, ribut normal? Hihi...)


// Tahun kedua pernikahan

Komunikasi lebih mantep, lebih saling memahami dan memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan spiritual pasangan. Kalo udah ada anak, mulai ribet ngurus anak dengan segala tetek bengeknya. Dan kalo perbedaan prinsip yang ada belom juga terselesaikan, masalahnya akan semakin runyam. Excitement di awal merit dulu mulai memudar . Sad but true, kan secara ilmiah katanya hormon cinta alias endorphin mulai memudar efeknya setelah 6 bulan, “setruman ser-ser-an” di masa pedekate and awal merit mulai “low voltage” :)


// Sekitar tahun kelima sampe kesepuluh

Many things can go wrong dalam fase ini, mungkin lebih dari fase-fase lain. Kalo hubungan suami istri ga terus dipelihara, excitement bisa semakin ngilang. Pergumulan hidup nambah, sama keluarga asal semakin terpisah, jadi suami dan istri lebih saling bergantung satu sama lain. Hampir SEMUA kejelekan suami/istri keliatan JELAS. Mulai keliatan juga pernikahan yang fulfilling dan sehat, sama pernikahan yang goyah. Makanya orang bilang, taon ke-1 sampe taon ke-7 dalam pernikahan itu masa kritis. Mayoritas perceraian/perpisahan terjadi dalam 7 taon pertama pernikahan. Bukan berarti seudah 7 taon berarti aman. Zaman sekarang ada juga yang udah nikah sampe 20 taonan lebih eh ujung-ujungnya divorce. How sad...


// Sekitar tahun ke 25 - 30 (periode perak)

Pernikahan yang bertahan, akan mulai masuk ke fase baru: fase empty nest. Bahasa Indonesianya “rumah kosong” kali ya (kok kayak film horor hehehe...), yaitu fase di mana anak-anak udah dewasa, meninggalkan rumah en memulai rumah tangga baru. Saya pernah denger ada pasutri yang jadi lebih banyak ngritik suami/istrinya karena ga ada lagi anak-anak yang diurusin, alias udah lebih nganggur gituh, wkwkwkw... Ada juga yang justru lebih hepi krn mapan secara finansial, sebagian besar “impian masa muda” udah tercapai, bisa pelayanan, traveling ke berbagai tempat, wooohoooo! 


// Tahun ke-40 dan seterusnya (periode emas dan seterusnya)

Seorang misionaris yang sangat saya hormati menyebut periode ini sebagai periode AMAZING GRACE. Bagi beliau, yang udah menikah hampir 50 taun, bisa melihat cicitnya itu SESUATU banget dah :) Masih dikasih umur, kesehatan dan kesempatan melihat buah-buah (yang sangat lebat!) dari pelayanannya selama puluhan tahun bersama suami tercintanya yang juga sangat inspirasional itu, masih bisa travel mengarungi separoh bola dunia dan terus mengerjakan ladang pelayanannya sambil menjadi grandparents yang supportive buat cucu-cucunya, masih memenangkan jiwa-jiwa, is truly an amazing grace. 


Eum... Kalo ada pernikahan yang bertahan sekian lama tapi ngga harmonis, atau bahasa Sundanya awet rajet, apa itu masih amazing grace? Kata saya sih itu juga amazing grace ya. Sebab untuk BERTEKUN dalam pernikahan yang sulit dan bertahan dengan orang yang sama sampe sebegitu lama jelas butuh amazing grace. 

Nah, buat pembaca yang ngerasa kalimat “HELP!! I married the wrong person...” mencerminkan isi hatinya, saya pengen bilang bahwa kemungkinan besar itu adalah TIPUAN IBLIS. Karena iblis giat benerrrr usahanya ngancurin pernikahan dan keluarga. Dan justru keluarga-keluarga yang paling berpotensi memuliakan Tuhanlah yang paling diincer sama iblis.

Sebuah pernikahan semestinya ONCE YOU’RE IN, THERE’S NO WAY OUT. Kalo udah berani nikah, ya kudu berani ngejalanin sampe garis finish (salah satu atau keduanya dipanggil Tuhan, atau Tuhan Yesus datang ke-2 kali). Ga ada lagi istilah salah pilih, lha dulu kan udah dapet milih...

Suami/istri kamu itu God’s beloved son/daughter loh. Kamu udah meminta dia dari Bapa Sorgawi untuk kamu nikahi dan kawini. Tuhan udah kasih, plus kasih berkat pula, masa sekarang bilang salah pilih?

PERNIKAHAN ADALAH SEKOLAH KEHIDUPAN. Murid-murid (yaitu suami dan istri) harus mau belajar. Harus taat sama Pak Guru (yaitu Tuhan sendiri). Harus BERTEKUN. Ada ujiannya. Kita bisa naik kelas, atau tinggal kelas dan harus ngulang pelajaran yang sama, atau bisa juga drop out (DO), tapi tentu saja sebaiknya jangan DO yang dipilih ya... 

Kadang pelajarannya kita rasa kelewat susah, ga sanggup dijalani lagi. Too much pain, too much tears. Daripada saling menyakiti apa ngga lebih baik disudahi saja?

Tapi Tuhan bilang,

“... Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.”
(Yakobus 1:2b-4)


Saya suka banget versi The Message buat Yakobus 1:4-5: 

“So don’t try to get out of anything prematurely. Let it do its work so you become mature and well-developed, not deficient in any way. If you don’t know what you’re doing, pray to the Father. He loves to help. You’ll get His help, and won’t be condescended to (=tidak akan dipermalukan) when you ask for it.”
(James 1:4-5)


“Tapi kami sering bertengkar...”

Well, so what? Ga banyak orang yang mau ngaku kalo lagi bertengkar sama pasangannya. Jadi jangan dikira yang adem ayem itu ga pernah berselisih atau ga punya masalah. Setiap pernikahan punya pergumulan masing-masing.

Soal bertengkar mah menurut saya banyak tergantung temperamen pasangan itu. Ada orang yang cenderung emosional dan meledak-ledak, ada yang cenderung adem dan kalem. Yang meledak-ledak otomatis lebih gampang berselisih. Yang penting ada penyelesaian, dan perbaikan. Ada kompromi, dan pertumbuhan dalam hubungan suami-istri. Pak James Dobson bilang, pernikahan yang kuat dan bertahan justru adalah a marriage that breathes, yaitu pernikahan yang ada pasang surutnya. 

Memang ada beberapa pernikahan yang sangat bermasalah sehingga perlu pertolongan, misalnya konseling, terapi, rehabilitasi, dll. Dan kalau memang ini yang terjadi, jangan ragu2 utk CARI BANTUAN. Hubungi orang-orang yang kompeten (misalnya konselor pernikahan, gembala gereja, mentor rohani, dll), JANGAN CURHAT KE SEMBARANG ORANG. Ini cuman bikin masalah tambah ruwet, sebab urusan rumah tangga itu bukan urusan orang lain. Be wise, cari Tuhan dulu supaya Dia sendiri yang sediain bantuan yang tepat.

“Tapi gue enggak bahagia dalam pernikahan gue, gimanaaa?”

Kalo menurut saya sih, yang terpenting dalam pernikahan bukan kudu bahagia. Tapi pernikahan itu harus FULFILLING atau MEMENUHI. Tentu ajah SEMUA orang pengen bahagia menikah, gak ada yang engga mau lah yauw, termasuk saya. Tapi bukan itu yang kudu dikejar.

Yang harus dikejar adalah memenuhi rancangan Tuhan buat pernikahan ini. 

Dan juga memenuhi kebutuhan anggota-anggota keluarga, seperti kasih sayang, rasa aman, companionship, dan lain-lain. Ga semuanya bakal bisa terpenuhi 100% lah ya, biar gimana pun kita hidup di dunia yang udah jatuh dalam dosa, ga ada lagi yang sempurna. 

Kalo rancangan Tuhan udah berhasil terpenuhi dan kebutuhan-kebutuhan terpenuhi, apa masih gak bahagia?

Zaman sekarang sejak balita anak-anak (terutama cewek2) udh tergila-gila dongeng princess. Inilah salah satu tipuan iblis yang DAHSYAT efeknya. Rasanya kalo punya anak cewe saya gak mau ngenalin dia ke princess2an deh... Kenapa?

Karena propaganda princess bikin anak-anak tumbuh dgn pola pikir yang salah: bahwa pangeran tampan akan membuat princess yang cantik bahagia. (Cantik – nah ini satu lagi serangan dahsyat iblis: propaganda bahwa cuman orang yang cantik yang bisa bahagia/berharga. Ini beda lagi topiknya ya...) 

Jadinya banyak istri yang ngerasa gak bahagia krn suaminya kurang begini dan begitu. Banyak suami yang merasa istrinya gak menghargai padahal dia udah begini dan begitu. Jadi lingkaran setan. Suami istri sama-sama makin ga bahagia.

Padahal kebahagiaan kita seharusnya ga tergantung pada orang lain. We choose to be happy. Bahagia itu pilihan.

Teorinya begitu. Tapi saya sendiri kejeblos di sini, hihihi... Saya cenderung harapin suami utk memenuhi SEMUA kebutuhan saya. Tau banget bahwa suami sibuk sekolah, dan bahwa dia juga udah POL mendahulukan kepentingan saya & anak saya di atas kepentingannya sendiri. Tapi otak dan hati emang sering ciong >_<

Saya suka ngerasa gak bahagia kalo ‘love tank’ saya kosong (baca buku Lima Bahasa Kasih, atau Five Love Languages, karangan Gary Chapman). Memang tugas suami buat bikin istri merasa disayang, ngisiin love tank-nya, tapi sebagai wanita dewasa, saya seharusnya bisa cari kebahagiaan sendiri (LOH?!). Maksudnya bukan kelayapan di luar sana krn haus kasih sayang, tapi punya kehidupan sendiri supaya saya gak jadi istri perongrong, atau penodong :) Ga perlu sampe punya identitas rahasia lah (emangnya Catwoman), tapi sebaiknya punya komunitas, kesibukan yang memenuhi kebutuhan saya buat aktualisasi diri misalnya nge-blog :p, kerja part time, ngelakuin hobi yang bikin hepi, dan masih banyak lagi. Karena NGGA ADIL kalo saya menuntut suami utk bisa jadi sumber kebahagiaan saya. Tidak ada manusia yang bisa memenuhi ekspektasi setinggi itu.

Saya pernah share artikel berjudul Angry Women and Passive Men di FB. Buat yang belom liat, HIGHLY RECOMMENDED utk dibaca ya (it’s in English sih). Lebih bagus lagi kalo baca bukunya: Love Must Be Tough atau Cinta Harus Tangguh (terjemahan Indonya), karangan dr. James Dobson (buku ini udah saya rekomend juga di postingan Galau Pranikah). Baca deh, kalo postingan saya aja dibaca, masa ga mau baca tulisan pakar yang bagus buanget ini?? :) *maksa ih*

“Kalo pernikahan saya ENGGAK fulfilling gimana?”

Bukan ‘enggak’, tapi “BELUM” :)

Sama kayak nonton film, kapan kita bisa menilai itu film bagus apa engga? Ya seudah ditonton sampe muncul tulisan THE END. Demikian juga pernikahan, baru bisa dinilai di akhirnya, jadi jangan buru2 menyimpulkan bahwa pernikahan ini enggak fulfilling.

Pernikahan kita juga adalah medan perangnya Tuhan, melawan serangan2 iblis dan roh-roh jahat di udara. 

God’s is the battle, God’s shall be the praise (minjem kata-katanya ibu Elisabeth Elliot di buku Through the Gates of Splendor). 

"Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya."
(Mazmur 126:5-6)

Wednesday, July 4, 2018

Penolong yang Sepadan


by Grace Suryani Halim

Udeh lama ngga nulis apa-apa guys. :p Papa Mama lagi dateng ke Sg. Kemaren gue sempet lunch sekalian ngobrol bareng sama seorang temen gue, Karmel *fiuuhhh seneng dapet nemu sesama young wife yg punya hati yang sama :p di Sg pulaaa!! horraaayy thx God* Setelah ngobrol ngalor ngidul tiba-tiba tercetus soal "penolong yang sepadan".

Selama ini kalo kita denger kata penolong yang sepadan muncul deh serangkaian list berisi daftar kriteria penolong sepadan. Sama-sama anak Tuhan, bobot bibit bebet seimbang, pendidikan setara (kalo gue ama Tepen mah mestinya beda jauh yee :p Gue S1 aje lama bener lulusnya, sedangkan Tepen PhD :p), etc.

Tapi sadarkah kita bahwa selain syarat penolong itu harus sama-sama anak Tuhan, sebenernya tidak ada standard atau definisi khusus untuk penolong yang sepadan!

Kenapa begitu?

Karena setiap pria itu berbeda. Tuhan menciptakan setiap pria itu berbeda. Mereka semua punya tujuan masing-masing, punya visi masing-masing, punya impian masing-masing, punya kelebihan masing-masing dan punya kekurangan masing-masing. Karena mereka berbeda maka ngga heran juga kalo mereka membutuhkan penolong dengan standard yang berbeda.

Contohnya, suami temen gue, dia seorang theolog yang suka berdiskusi. Istrinya menjadi penolong yang sepadan buat dia ketika istrinya berdiskusi dan memberi pendapat kepada suaminya. Tepen lain lagi, dia butuh penolong yang membiarkan dia bekerja dengan konsentrasi, so kalo gue malah mengajak dia berdiskusi soal kerjaannya, Tepen pusinkkkk :p Ada juga typical suami yang membutuhkan penolong untuk menjaga rumah bersih rapi kinclong. Kalo Tepen, dia lebih milih rumah ngga kinclong-kinclong amat en gue nulis 3-4 tulisan :p Tepen lebih seneng kalo gue produktif menulis, latihan piano atau ngajar daripada gue produktif bikin aneka masakan. Hehehe...

Nah di awal pernikahan, kadang terjadi bentrok karena itu. Istri-istri muda masuk ke dalam pernikahan dengan sebuah definisi Istri yang baik adalah istri yang... (titik-titik silahkan diisi sendiri sesuai dengan isi hati masing-masing). Sedangkan belon tentu itu adalah yang dibutuhkan oleh suaminya. That's why penting sekali yang namanya ada brainstorming, keterbukaan, diskusi mengenai impian dan harapan masing-masing.

En satu hal yang kita harus ingat... People learn and grow along the way. Manusia bisa bertumbuh dan berubah tiap waktu. Apa yang jadi impian dan ketakutan pasangan kita tahun lalu, belon tentu tetap menjadi ketakutannya tahun ini.Apa yang jadi harapannya 2 tahun yang lalu belon tentu tetap sama. People change. Demikian juga dalam pernikahan. Karena pernikahan itu terdiri dari 2 orang jadi sangat salah kalo kita beranggapan sekali menikah dengan kondisi A maka selamanya akan A. A bisa berubah menjadi Z bisa juga berubah menjadi AA atau bahkan triple A, atau ABCDEFG :p

Ketika gue merenungkan itu semua gue jadi makin sadar akan salah satu panggilan yang Tuhan kasih kepada para istri. Bagian para istri bukan lagi mengenal dan dekat dengan sebanyak mungkin orang (bandingkan dengan tulisan Bersahabat dengan Lawan Jenis) tapi mengenal suaminya sedalam mungkin. Panggilan istri dalam hal hubungan bukan lagi melebar tapi berubah menjadi mendalam.

So buat para cewe yang masih single,
Don't waste your time dgn bermellow-mellow kenapa gue belon juga punya pacar... Use your time to serve God, to build a strong relationship with Him, and bertemen sebanyak-banyaknyaaaaa...

Khusus buat para cowo yang masih single,
Selaen pakailah waktu kalian untuk bertumbuh di dalam Tuhan, bertemen sebanyak-banyaknya, kalian juga punya 1 tugas penting. Tanya Tuhan apa tujuan idup kalian! Apa visi yang Tuhan mau kalian selesaikan selama kalian di dunia ini! Ini penting bgt... karena kalo kalian tau tujuan idup kalian, kalian akan lebih bisa peka cewek macam apa yang cocok buat jadi penolong yang sepadan buat kalian. Cewe baik, anak Tuhan saja kagak cukup! Cewe itu harus punya kemampuan dan karakter untuk bisa menolong kalian mencapai visi dari Tuhan. Masalahnya kalo kalian aja kagak tau Tuhan mo kalian jadi apa, gmana kalian bisa tau istri macam apa yang kalian mau? Kalo belon tau istri macam apa yang kalian mau, gimana kalian berani macarin seorang cewe?? :))

Buat para istri senasib seperjuangan,
God has gave us a privilege to be a helper for our husband. Ngga semua wanita dapet kehormatan itu so kite semestinya menginvestasikan waktu khusus untuk mengenal suami kita dengan lebih baik, dengan lebih dalam.

Monday, April 23, 2018

Proverb 31 Woman: A Possible Journey


by Glory Ekasari


Siapa yang masih single dan punya "checklist" kualitas-kualitas yang kalian harapkan dari calon suami kalian kelak? Atau, siapa yang sudah menikah dengan seorang pria yang, sekalipun ganteng, pandai, rajin, lucu, dan sebagainya, tetap tidak sanggup memenuhi semua kriteria dalam checklist kalian dulu? Hayo ngakuu...

Kita, kaum wanita, pada umumnya punya sejumlah kriteria yang kita inginkan dari calon suami. Tapi, seberapapun rempongnya kita membuat checklist seperti itu, kita justru akan menemukan bahwa dalam Alkitab tidak ada daftar sistematis dalam 1 pasal khusus untuk pria. Yang ada justru checklist bagi kaum wanita, yaitu dalam Amsal 31:10-31, dan list-nya super high profile pula!


Mari kita perhatikan hal-hal penting yang sering luput dari perhatian pembaca teks ini. Jangan buru-buru ngeri karena tingginya tuntutan yang dipaparkan di dalamnya. Bila perintah tertentu ditulis dalam firman Tuhan, itu berarti Dia sanggup memberi kita kemampuan untuk melakukannya.

Pertama, kriteria untuk seorang istri yang cakap ini diberikan oleh seorang wanita. Memang Lemuel yang mengucapkan Amsal ini, tapi ibunyalah yang mengajar dia (31:1). Wanita tersebut telah mendidik dan membesarkan seorang raja; tapi di balik suksesnya itu dia tetaplah wanita, yang mengetahui kesulitan dan tantangan seorang wanita. Yang ia sampaikan adalah hikmat yang berasal dari pengalaman dan perenungan selama bertahun-tahun. Dia juga tahu bahwa perlu bertahun-tahun bagi seorang wanita untuk akhirnya disebut "cakap". Kualitas karakter tidak didapatkan dalam 1-2 tahun, atau "dari sono-nya", melainkan selama bertahun-tahun pembentukan diri. Pendek kata, don't be discouraged; all things are possible.

Selanjutnya, tersirat dari teks ini, adalah tentang kodrat seorang wanita. Dia tidak memiliki natur maupun tugas untuk mencari dan memilih pria idaman; sebaliknya, seorang wanita dicari dan dipilih oleh pria yang tertarik oleh kualitas kepribadiannya. Banyak wanita tidak memahami hal ini. Mereka mencari pria yang memenuhi kriteria mereka, lalu mempersiapkan resepsi pernikahan, gaun pengantin, rumah tinggal, dan sebagainya. Tapi, setelah itu mereka kecewa karena suami mereka tidak sesuai harapan. Mereka kecewa, karena mereka mempersiapkan segalanya untuk pernikahan; segalanya, kecuali diri mereka sendiri. Mereka tidak sadar bahwa firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa pria memang jauh dari sempurna, maka ia perlu ditolong. Sang istrilah yang seharusnya menolong dia dan bukannya menuntut. Tugas kita, para wanita, adalah mempersiapkan diri agar memiliki kualitas yang layak untuk melayani Allah dan suami kita kelak, sementara para pangeran Allah di luar sana mencari seorang istri yang cakap.

Jadi, seperti apa gerangan wanita yang cakap dalam Amsal 31:10-31 ini? Ada tiga kualitas mencolok yang harus kita perhatikan.

1. Wanita yang cakap itu rajin
Suatu kali, seorang teman saya memasang display picture di messenger-nya. Gambarnya adalah seorang pria yang pening, memegang kepalanya, dan terdapat tulisan: "Bangun pagi aja susah - gimana bangun rumah tangga?" Saya tertawa, sekaligus merasa miris memikirkan kenyataan ini. Bagaimana bisa jadi istri yang cakap, kalau selama masih lajang saja hidup dalam kemalasan?

Rajin adalah sifat yang mencolok sepanjang Amsal 31:10-31. "Ia bangun kalau masih malam," demikian ayat 15, "lalu menyediakan makanan bagi seisi rumahnya." "Ia senang bekerja dengan tangannya," kata ayat 13. "Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal." Ini bukan berarti sang istri yang cakap itu hobi memasak atau menjahit, tapi ia memperhatikan kebutuhan rumah tangganya. Pada masa di mana pakaian dan makanan dalam keluarga harus disediakan sendiri oleh sang ibu, ia tidak membiarkan keluarganya tidak terurus; ia memastikan mereka makan dan berpakaian dengan baik.

"Wanita" dan "malas" adalah dua kata yang tidak cocok disandingkan bersama. Seorang wanita diciptakan Tuhan untuk menjadi orang yang rajin, suka bekerja, dan memperhatikan kebutuhan orang lain, terutama keluarganya. Kita bisa - dan harus - melatih diri menjadi wanita yang rajin dan produktif mulai dari sekarang.

2. Wanita yang cakap itu cerdas

Dalam keluarga Kristen hanya ada satu istri, yaitu satu ibu dari anak-anak. Kita mungkin tidak pintar-pintar amat dalam hal akademis, tapi kita bisa jadi yang terbaik dalam peran kita dalam keluarga.

Dalam keluarga, suami berperan sebagai breadwinner atau pencari nafkah. Tapi, bila pendapatan tersebut tidak dikelola dengan baik, keluarga itu bisa bangkrut! Siapa yang berperan besar dalam mengatur ekonomi rumah tangga? Tentu saja sang istri. Sebuah penghargaan besar disampaikan bagi istri yang cakap dalam ayat 11: "Hati suaminya percaya kepadanya; suaminya tidak akan kekurangan keuntungan." Berapa banyak suami yang pergi bekerja dengan hati tenang karena ia percaya istrinya sanggup mengatur rumah tangga dan mengurus anak-anak mereka? Semoga suami kita kelak salah satunya.

Menarik sekali bahwa dalam teks ini juga disebutkan tentang usaha rumah tangga dan investasi properti yang dilakukan sang istri untuk keuntungan rumah tangganya. Bagaimana dia punya waktu dan dana lebih untuk usaha dan investasi?? Jawabannya jelas: ia cerdas dalam mengatur sumber daya dan kebutuhan rumah tangganya.

3. Wanita yang cakap itu takut akan Tuhan

Kita tentu hafal ayat 30: "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji." Siapa yang mengucapkan kalimat ini? Sang suami, demikian kita ketahui dari ayat 28. Laki-laki cenderung mementingkan karakteristik fisik; namun setelah bertahun-tahun pernikahan, sang suami menyadari bahwa istrinya istimewa - karena sang istri takut akan Tuhan.

Salomo tanpa ragu berkata, "Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan" (Ams 1:7). Apakah tujuan hidup kita adalah untuk menyenangkan Tuhan dan melakukan kehendak-Nya? Jika ya, pelan tapi pasti, karakter kita akan diperbaharui, makin serupa dengan Yesus. Dan suatu hari kelak, sang suami akan memuji: "Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi engkau melebihi mereka semua."

Masih banyak yang bisa dibahas tentang Amsal 31:10-31. Saya berharap kita mau membaca dan merenungkan ayat-ayat dalam teks ini, berdoa meminta Tuhan mengubah karakter kita, dan mulai mendisiplin diri kita untuk menjadi wanita yang rajin, cerdas, dan takut akan Tuhan. Bagi yang single, jangan lupa bahwa hidup kita ini adalah untuk Tuhan, bukan untuk menikah atau untuk suami. Hiduplah untuk Tuhan. Biarlah kualitas karakter kita mengkilap begitu rupa, lebih cemerlang dari permata, sehingga baik orang-orang di sekitar kita maupun suami kita kelak diberkati dengan kehadiran kita dalam kehidupan mereka.

Tuesday, February 27, 2018

Menjadi Single yang Maksimal




by Lasma Frida

Topik tentang menjadi seorang single yang utuh sepertinya sudah sering dibahas. Kita sudah banyak mendengarnya dari berbagai macam kotbah dan membacanya dari buku atau artikel. Setiap kali kita membaca bagian-bagian tersebut kita akan berkata pada Tuhan, “Ya, hanya Tuhan yang memenuhi kehidupanku dan menjadi sumber kebahagiaanku.”

Eh, tapi bagaimana caranya supaya bisa menjadi single yang utuh dan menjadi Pengantin Kristus yang siap menyambut Mempelai Prianya? Selama ini mungkin kita hanya mendapat penjelasan bahwa kita harus menerima kasih Kristus dan memandang diri kita seperti bagaimana Kristus memandang diri kita. Tapi, apakah ada cara-cara praktis? Di bawah ini beberapa hal yang dapat membantu kita menjadi wanita single yang maksimal di dalam Tuhan.

Tuesday, September 29, 2015

Haruskah PH seiman?

By Felisia Devi

*PH = pasangan hidup = jodoh

Dalam masa single gue (alias saat blm punya calon PH) kalau lagi galau, sering banget mikir,
apa gue kompromi aja ya. Gue rasa standard gue ketinggian kali ya, nyari yang sesuai standard Tuhan itu susah bener (anak Tuhan, dewasa rohani), malah kayanya udah ga da, klo ada juga belum tentu buat gue.

Apalagi klo lagi bandingin dan diomongin sama kanan kiri depan belakang, "masa sih ga da pacar?"
Gue cuma bisa senyum klo ditanya tuh kalimat, padahal dalam hati kesel juga, siapa sih yg kaga mau, cuma calon sesuai yang gue tau (cinta Tuhan) belum ada.


Misal, gue sempet di deketin orang yang perawakan OK lah (ganteng), kerjaan OK, anak baek2 juga, katanya juga cuocok banget sama eke, tapi sayang bukan anak Tuhan, jadi mau jalanin juga udah gak damai sejahtera duluan. Pas klo lagi moment2 gini suka tawar2an sama Tuhan, "... ini orang buaekkk banget Dad, kalah orang kristen baeknya, masih tetep bukan dia ya orangnya?"
Pernah juga ada yang udah sama2 percaya Tuhan juga kok, entah satu agama atau beda agama 'dikit', tapi tetep Tuhan bilang bukan. Apa yang kurang Dad, doi percaya juga kok sama Daddy?

Setelah gue pernah coba jalanin, ternyata memang BENER2 GAK BISA dijalanin. Temenan aja butuh yg nyambung, apalagi ini buat teman sisa hidup, kudu yang nyambung! Jadi gue belajar untuk tidak memulai sesuatu yang sudah tau tidak akan bisa gue akhiri. Misal, beda keyakinan (agama), ujungnya kan salah satu harus ngalah, sedangkan gue sampe taun jebot gak mau ngalah karena sebagai pertanggung jawaban dari kebenarang yang udah gue tau. Dan gue juga gak bisa ngarep dia berubah menjadi pemeluk agama sama kaya gue, apalagi berubah cuma karena cinta sama gue.

Karena case ini, membuat gue jadi penasaran dan ingin mencari tau juga, apa sih dasar pemikiran dan logika dari kebenaran ttg PH itu kudu seiman? Ayat doank buat gue kadang kaga cukup, perlu  penalaranya juga. Ini dia penjelasannya yang sempet gue dapetin, mudah2an bisa gue uraikan dengan cukup jelas ya.

Setiap manusia hidup dan bisa ada sampai dengan kondisi dia sekarang karena mengalami peristiwa2 yang berhubungan sama setiap keputusan2 penting yang diambilnya, baik secara sadar atau tidak, semua itu keputusan pribadi masing2. Sewaktu kita belum dewasa, keputusan2 itu mungkin akan lebih banyak dipengaruhi oleh orang tua. Tapi setelah dewasa kita harus bisa mengambil keputusan2, karena hal ini akan terus kita lakukan sampai maut menjemput.

Keputusan itu bisa diambil seseorang berdasarkan apa yang ada dalam pikirannya, yang seseorang percayai, atau diyakini dan bersumber dari informasi2 yang selama ini di dapat dan tersimpan dalam pikirannya.

Saat ini, apa yang kita yakini, atau percayai kita sebut agama.
Seperti gue memilih menjadi agama kristen, bukan karena orang tua gue Kristen, gue juga otomatis Kristen. Mungkin ya pada awalnya, tapi ketika dewasa gue sendiri harus yakin dan percaya tentang iman seorang Kristen. Jadi bukan sekedar Kristen KTP, atau Kristen dari kecil / lahir.

Karena gue yakin tentang yang Yesus ajarkan dan kebenaran yang disampaikan lewat Alkitab, jadi setiap keputusan2 gue sangat dipengaruhi oleh kebenaran2 di Alkitab, karena gue yakin itu kebenaran.
Gue percaya Alkitab adalah seperti peta buat hidup gue, yang dari kebenaran itu gue mengenal Tuhan itu nyata, sekaligus menjadi petunjuk, arah untuk gue menjalani hidup.

Nah, karena PH itu adalah partner yang akan ada disamping gue untuk menjalani sisa hidup gue, yang otomatis bersama setiap hari, terlibat dengan SEGALA urusan hidup gue di dunia ini (begitu juga sebaliknya), dan akan bersama-sama gue untuk menjalankan kehidupan. Makanya dinamakan pasangan hidup, artinya pasangan untuk berjalan bersama mengarungi hidup di dunia ini.

Kita tau namanya hidup di dunia ini bukan hal mudah, pasti akan ada masalah, urusan dan seperti yang tadi gue bilang, pasti akan sering kita diperhadapkan dengan mengambil keputusan2.
Dan dua orang/lebih yang bisa berjalan bersama itu , berarti harus mempunyai satu tujuan yang sama, terutama dalam hidup ini & satu keyakinan untuk bisa lebih 'enak' dalam mengarungi hidup bersama. Yang pasti banget sering perlu memutuskan bareng2. Klo apa yang kita yakini beda, bisa gak keputusan itu akan sama? Bisa aja sih, cuma harus mengalah dan gak tau berdasar apa. Kalau sama2 anak Tuhan, basednya sama, bible untuk setiap langkah keputusan yang kita ambil.

Rumah tangga pernikahan itu adalah sesuatu yang dibangun, membangun itu butuh kerjasama. Lalu PH itu bukan sekedar dari segi penenuhan kebutuhan sex, punya anak, emosi, tapi PH itu adalah pasangan yang bisa diajak kerjasama, jalan bersama, bareng2 membangun dengan dasar yang sama.

 2Kor 6:14  
Janganlah mau menjadi sekutu orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus; itu tidak cocok. Mana mungkin kebaikan berpadu dengan kejahatan! Tidak mungkin terang bergabung dengan gelap. (BIS)

 Be ye not unequally yoked together with unbelievers: for what fellowship hath righteousness with unrighteousness? and what communion hath light with darkness? 
 
Ayat ini sebenarny bukan hanya sekedar untuk mencari PH, tapi juga untuk persahabatan, alias memang untuk hubungan yang dekat. Karena dari hub yang dekat itu yg akan memperngaruhi pribadi kita. Lagian PH itu kan memang bukan berdasar cinta aja yang bisa pudar karena unsur hormon, tapi harus bisa jadi sahabat kita.

Di ayat ini GAK dibilang jangan sama orang2 yang bukan satu agama, tapi lebih dalam! Dibilang jangan sama orang yang tidak sama2 percaya dengan Kristus, gak cocok! Soalnya ada kan keliatannya memang sama agama, tapi dalam hatinya ternyata beda.

Terjemahan dari bahasa aslinya, lu sama doi ga akan punya kerinduan atau beban yang sama, yang satu mau hidup Tuhan, satu buat menikmati dunia, ya ga nyambung, ga seirama jalan hidupnya!
Bisa aja sih bersatu, salah satu harus ngalah, dan klo udah begini biasa sih tarikan dunia lebih kuat boo. Apalagi kita wanita, yang katanya harus ikut laki, bisa jadi ayat serangan sendiri itu klo kita yang narik pria sekalipun untuk kenal Tuhan. Jadi carilah pasangan yang memang udah kenal Tuhan sebelum sama kita.

Waktu gue pernah mengalami jatuh cinta pada orang yang salah, setelah beres gue baru bisa menamai kegalauan itu, karena gue tau kita tidak sama peta hidupnya, tujuan juga beda. Mungkin hal yang nyatuin juga beda. Tapi perasaan emosi jauh lebih kuat, ya jadi gitu deh, galau tingkat dewa. Hahahaha
Jangan gitu ya, biarlah hidup kita dipimpin oleh roh yang lebih menguasai dan menuntun hidup kita, bukan keinginan daging atau perasaan kita.
Jadi jika FT bilang harus seiman itu, emang harus, MUTLAK! Gak bisa ditawar2.
Klo gak, gak bisa sampe tujuan,alias tujuan Tuhan menciptakan kita (tujuan hidup) gak tergenapi.

*Sekali lagi ini apa yang gue dapet karena tipe gue butuh beginian, mgkn aja Tuhan bisa menyampaikan dengan cara dah uraian dan sisi yg beda ya.*

Friday, September 25, 2015

Pacaran Vs Pra Nikah

by Felisia Devi




"...dalam firman Tuhan, tidak ada kata pacaran, adanya tunangan (pra nikah)"
First time mendengar statement ini di kelas pembinaan pas awal2 bertobat, bikin gue rada mikir, bingung tapi lebih ke arah ga setuju... "Lah, gimana gue mau kenal doi klo gue gak pacaran sama dia?"

Tapi setelah melewati beberapa masa (kesannya gue udah tuir bener,hahaha), maksudnya bukan masa gimana sih - tapi beberapa kejadian dalam beberapa tahun soal hubungan pria dan wanita, gue baru ngerti maksud tuh statement dan sekarang setuju dengan statement itu. 

Hampir kita semua tau lah ya, gaya pacaran itu identik dengan apa biasanya, 
"Kita bisa kapan aja putus ... klo memang sudah tidak cocok, ya bubar", bener gak?

Dari pengalaman gue sih pacaran itu biasanya:
Ga jadi diri sendiri, alias jaim. Takut klo dia tau aslinya gue, doi bisa putusin gue.
Gue boleh sentuh lo, lo boleh sentuh gue, krn lo pacar (milik) gue.
Tapi itu semua ujungnya GAK JELAS/GAK PASTI!
Bikin ada perasaan gak 'aman', karena bisa aja dia menemukan yang lebih baik dari gue, dan gue ditinggal.

Bayangin aja, terutama kita sebagai cewe, udah ijinin lo gandeng2 gue bahkan lebih, terutama gue udah kasih hati gue, tapi ujungnya KITA BISA PUTUS.. Gimana hati cewe gak banyak yg terluka coba...???
Apa lagi sekarang ada yang namanya TTMan, HTSan atau apalah namanya..

Apa ini yang dinamakan masa saling mengenal apakah kita cocok atau tidak?
Apakah cara gini bisa bikin kita benar2 saling mengenal dan menjamin membawa kita ke pernikahan?
Apakah ini sesuai kebenaran?

Pacaran itu kan sebutan dari dunia, jadi memang sebenarnya tidak alkitabiah artinya sebenarnya. Tapi gue akan lebih membahas dari segi 'gaya' bangun hubungan  pada umumnya ya dan mengambil kesimpulan, pacaran itu artinya: COBA-COBA.

"Dicoba aja dulu, klo gak dijalanin kan ga akan tau.." 
Tapi cewe sadar ga sadar udah pake hati...

"Gpp dia begitu sama gue, nanti gue percaya dia bisa berubah.." 
Jaminan apa doi pasti bisa berubah? Siapa kita bisa berubah doi?

"Ya udah deh, daripada ga da gandengan, gue terima aja si doi..."
Harus punya pacar? Apakah sudah waktunya bangun hubungan?

Kadang kita cewe, apalagi dengan background keluarga yang tidak ideal, takut yang namanya kesepian, ditambah lagi banyak nilai-nilai salah yang kita percaya, bahwa keberhargaan kita itu klo ada yang mau sama kita. Jadi takut gak laku, atau kehilangan harga diri klo gak punya pasangan. Merasa dengan dia memberikan banyak hal, dia bisa mendapat hati tuh cowo sepenuhnya, kenyataannya??

Perlu kita ketahui dan dari, kalau pemikiran cowo, tidak seperti yang kita pikirkan ladies! Karena cewe diciptakan berbeda sama cowo.
Pernah denger gak pendapat ini, "senakal apapun cowo, dia mau dapat istri yang baek2..." Itu karena kebanyakan cowo, menganggap pacaran dan mau serius beda. Gue sendiri pernah denger pernyataan seorang cowo yang menilai salah satu wanita dengan, "...buat pacar OK, tapi buat jadi istri nanti dulu". Lah apa maksud ny ini..?? 
Klo memang orang 'lempeng' kan, udah tau gak cocok/gak bisa jadi istri, ya jangan dimulai hubungannya.. Klo udah tau gak bakal dikawinin, tapi tetep di pacarin ya namanya cuma buat seneng2 have fun aja toh berarti, sedangkan pasangannnya tau nya serius klo udah mau..
Bisa dilihat kan perbedaan dasar pemikiran pacaran dengan yang serius (pra nikah)?

Pacaran arti sebenarnya tidak membuat kita bisa benar2 mengenal pribadi pasangan kita yang sebenarnya ,atau dengan cara yg benar. Kenapa gue bisa bilang gitu, karena:
Buat cewe, butuh hati dulu sreg baru mau deket apalagi untuk di 'sentuh'... Jadi bikin udah gak murni lagi caranya. Yang ada malah akibatnya, kebanyakan cewe mempertahankan hubungan yang misalnya udah tau 'gak beres', tapi karena hatinya udah keburu diberikan (nyantol) kepada tuh cowo, tetep mempertahankan hubungan - merasa tuh cowo bertanggung jawab akan hal ini dan suka pake alasan 'gue udah cinta mati'..
Karena dulu gue sempet melakukan hal ini, udah tau tuh cowo nyakitin, bukan sesuai kehendak Tuhan, tapi masih mau... Gak heran ya memang kita cewe lebih susah move on klo patah hati, karena hati nya sebanarnya sudah diberikan sama yang bersangkutan. Klo cepet move on, mungkin hati nya udah tawar sangking sudah lama terluka tanpa diobati.
 
Disela kesibukan persiapan menjelang hari H, sesekali gue dan calong bilang, "Kita 'dating' atau pacaran dulu hari ini". Yang artinya, keluar sebentar dari kesibukan dan menikmati hiburan ngapain  kek, tanpa mikirin hal2 yg kudu diurus karena lagi mumet, butuh refreshing.  Jadi inget statement yang prnh dikeluarkan Joshua Harris, dating/pacaran itu bikin kita melupakan realita. 
Klo begini, gimana kita bener-benar mau kenal klo kita melupakan realita, klo dua2nya jaim, ya toh? 

Sedangkan masa pra nikah, sbnrnya mempersiapkan kalian bertemu dengan realita.
"..trus gimana gue bisa kenal dan tau cocok pa ga dia klo gak pacaran, masa tiba2 langsung mau diajak nikah?"
Ya gak gitu juga, masa gak tau kaya apa orangnya mau aja diajak nikah...
Nah, saran dari gue, kita bangun hubungan lewat (gaya) persahabatan. Karena gaya persahabatan ini yang bikin dua-duanya 'murni', bisa melihat sesuatu dengan benar, karena ga da maksud tertentu dan terselubung ... dan kita bisa mengenal pribadi dia yang sebanrnya.

Biasa kita suka bilang ttg temen/sahabat kita, "..temanan sama dia mah gue udah tau kaya apa busuk2nya" Ini nih yang sebenarnya kita butuh, yang bisa mengenal sbnrnya. Ga da kan temanan baik tapi pegang-pegangan tangan? Namany TTM-an klo ada..wkwkw

Selama masa pra nikah, gue dan calon selain sibuk ngurusin acara hari H, kita memilih cara membangun hubungan (kesatuan) secara rohani jiwa saja, tanpa melibatkan kesatuan tubuh dulu. Memang kita sudah pasti akan menikah, tapi bukan berarti dia sudah punya hak buat 'tubuh' gue. Dia blm resmi jadi suami gue. Kita mau pake cara persahabatan supaya tetep bisa melihat dengan 'sadar' klo memang ada yang tidak beres dan menjaga hubungan kita dgn Tuhan.

Karena kita sadar sentuhan fisik itu, bikin mancing hormon2 yang bisa bikin kita ada 'getaran cinta' jadi 'lupa daratan' alias bisa melakukan hal2 yg tidak semestinya tidak dilakukan dahulu... Dan kenyataannya menurut penelitian hormon ini cuma bertahan dua tahun!!! Bayangin aja, mana bisa getaran cinta yang cuma 2 tahun dijadikan dasar menikah selama sisa umur (paling tidak selama 30tahun).

Dan taukah kalian, bahwa tidak ada manusia yg bisa cocok 100% di dunia ini, karena kita manusia berdosa. Pasti ada hal yang bisa bikin kita sebel dari setiap pribadi, termasuk pribadi kita bisa bikin nyebelin buat orang lain, bahkan buat pasangan kita. Ya, contohnya di tengah kelurga  kita, yang sudah tinggal bareng seumur hidup kita, ade kakak juga bisa ribut, sama ortu juga bisa beda pendapat dan kesel kan?
Seperti itu calon pasangan yang sbnrnya, tidak ada yg bisa 100% cocok, hanya saja kita PERLU TAHU hal-hal mana yang bisa kita tolerir pa ga, khusus hal-hal yang sesuai kebenaran yang KUDU DIPERTAHANIN. Misal ttg hal seiman, udah tau kebenaranNya Tuhan larang, mbo ya jgn coba maju main api aja dengan alasan apapun, apalagi sampe mencari pembenaran, klo udah 'kebakaran' repot sendiri..hehehe

Pacaran bisa dilakukan siapapun, bahkan anak2 kecil pun bisa, dari jaman SMP aja gue dulu udah bisa pacaran, krn memang 'mudah' dilakukan... tidak ada komitmen, tanpa tanggung jawab atas segala resiko...
Apalagi yang TTMan atau HTS, sudah jelas terlihat seperti apa orang yang mau melakukan ini, mau tapi tidak mau bayar harga and ambil tanggung jawab. Jangan mau kita sebagai cewe dibeginiin. Kita harus tau dan sadar, betapa berharganya hidup kita karen sudah ditebus oleh darah yg mahal. Klo ada yang mau sama kita, harus bayar harga dan urusan ny itu sama Babe.

Masa pra nikah hanya dilakukan oleh orang dewasa, karena menikah bukan 'happily ever after' tanpa masalah, tapi akan ada tantangan dan sejenisnya ... untuk itu dibutuhkan orang yang memang bersedia (dan sudah terbukti mau) bayar harga, bertanggung jawab dan berkomitmen.
Orang seperti inilah yang sebenarnya bisa kita percaya (krn Tuhan percaya jg) untuk masuk dalam pernikahan yang akan melewati berbagai macam musim dalam hidup.
Oleh karena itu masa pra nikah hanya cocok untuk orang yang selain sudah cukup umurm, tapi juga sudah dewasa, karena untuk mempersiapkan kita siap masuk dalam pernikahan dengan segala resiko.

Mudah menjalankan kebenaran ini? Memang tidak, tapi percayalah apa yg Tuhan firmankan itu untuk kebaikan kita, dan ada kasih karunia dari Dia untuk kita bisa menghidupinya, apalagi ditengah dunia yg makin merosot, kasih karunia makin ditambahkan.

 Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; 
Yoh 1:16

 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
Ibrani 4:16

Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus - 2 Tim 2:1

Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.
1 Kor 15:10