Showing posts with label Poppy Noviana. Show all posts
Showing posts with label Poppy Noviana. Show all posts

Monday, March 22, 2021

Tidak Bercela




by Poppy Noviana

…dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita
(Titus 2:7-8)

Saya teringat seorang teman yang bertanya kepada saya, bagaimana mungkin saya bisa menerima kenyataan bahwa saya difitnah di pengadilan dan menyaksikan lawan yang saya gugat bersumpah di atas Alkitab bahwa mereka tidak bersalah. Padahal, sudah jelas mereka melanggar kontrak kerja dengan pemecatan sepihak atas dasar pandemi. Apakah semua orang Kristen semunafik dan sejahat itu? 

Saat itu Roh Kudus mengingatkan saya, tidak semua hidup orang Kristen serupa dengan gambaran ideal di Alkitab. Status Kristen bisa saja adalah warisan dari orang tua, namun menjadi pengikut Yesus adalah keputusan pribadi berdasarkan kesadaran tentang penebusan karena kasih-Nya. Itulah mengapa, Yesus memanggil kita untuk menjadi pengikut-Nya, bukan menjadi orang yang beragama saja. Mengikut Yesus merupakan perintah yang lebih tinggi dari sekedar menjadi seorang yang beragama Kristen. Jika ada yang menyaksikan seorang Kristen hidup tidak benar, lalu menganggap ajaran Tuhan-nya seperti itu, sesungguhnya itu tidak tepat, karena perihal menjadi orang Kristen dan mengikut Tuhan dan adalah dua hal yang berbeda. 

Walaupun begitu, Firman Tuhan sendiri memerintahkan kita agar hidup tidak bercela. Titus secara khusus menyebutkan “agar tidak ada hal-hal buruk” yang dapat disebarkan orang-orang tentang kita. Tujuannya jelas, supaya terang kita bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa kita di sorga (Matius 5:16). 

Kadang ada yang bilang, ngga usah memikirkan apa yang orang pikirkan atau bicarakan tentang kita. Namun saat semua itu berhubungan dengan identitas kekristenan kita, hal itu menjadi penting. Tuhan ingin kita memiliki image yang baik karena kita membawa image Kristus. Ia juga tidak ingin perbuatan kita menjadi batu sandungan, khususnya bagi mereka yang belum mengenal Yesus.

Ini berarti, kehidupan sebagai menjadi pengikut Yesus seharusnya tidak berseberangan dengan perintah dan prinsip hidup-Nya. Padahal, kenyataannya selama kita masih hidup di dunia, kita akan selalu menjadi orang Kristen yang tidak sempurna. Bagaimana kalau kita gagal, lalu ada orang-orang yang membicarakan kita, karena label kita sebagai orang Kristen? 

Firman Tuhan menyediakan jawabannya,

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
(Ibrani 12:2)

Dalam versi Bahasa Inggris, bagian awal ayat ini berbunyi, “Let us fix our eyes on Jesus, the author and perfecter of our faith,”. Yesus adalah penulis iman kita dan yang menyempurnakannya. Allah memahami bahwa kita tidak bisa memiliki iman yang sempurna, hidup yang sempurna, namun kita punya Yesus yang sanggup menyempurnakannya. Dengan satu syarat, mata kita selalu tertuju kepada Yesus. 

Hidup mengikut Yesus adalah sebuah proses. Mengikut Yesus tidak berhenti saat kita menerima Dia sebagai Juru Selamat kita, namun terus berlanjut saat kita menjalani hidup setiap hari memikul salib-Nya. 

Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
(Lukas 9:23)

Yesus tahu memikul salib bukan hal yang mudah. Ia sendiri kepayahan dan pernah jatuh. Tapi Yesus tidak menyerah, Ia memandang Bapa-Nya, bangkit kembali, dan tetap berjalan sampai tujuan. Ibrani mengatakan Yesus “tekun memikulnya salibnya”.

Kesimpulannya, menjadi pengikut Yesus dan hidup dengan label tidak bercela membutuhkan dua langkah ini:

Langkah Pertama - Menerima dan mengakui Yesus sebagai Juru Selamat pribadimu.

Langkah Kedua - Mengikut Dia dengan melakukan perintah-Nya dengan setia.

Terdengar sederhana memang, tapi menjalaninya tentu tidak mudah. Tapi Tuhan berjanji bahwa Ia bekerja di dalam kita dan memberi kekuatan untuk melakukannya. Jadi jangan takut untuk mengikut Dia. Fokus pada Yesus. Fokus mengejar excellence bukan jadi perfection. Fokus untuk taat dan setia demi menyenangkan hati Tuhan, bukan untuk mendapatkan kekaguman dan pengakuan orang. Tuhan pun ngga selalu menyenangkan semua orang. 

Akhir kata, status tidak bercela sebenarnya sudah kita terima saat kita melakukan langkah pertama, karena Yesus sudah menebus dosa kita. Tugas kita menghidupi status tersebut, dengan melalukan langkah kedua, sampai akhirnya Dia memanggil kita kembali. 

Tetap semangat memelihara iman dan memikul salibnya di dunia ini. Mari kita saling mendoakan dan menguatkan dalam percaya dan berserah penuh kepadanya, tanpa ragu sedikitpun.

Monday, October 12, 2020

Menjadi Pengikut Yang Seperti Pohon Aras Bagi Kristus


by Poppy Noviana

Hai, Pearlians! Tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan Desember—bulan yang biasanya penuh salju saat musim dingin di belahan negara dunia yang lain. Hehe. Nah, ketika membayangkan salju yang memenuhi taman dan menutupi tumbuhan, kira-kira apa yang terlintas di pikiran Pearlians? Suram? Tidak ada kehidupan seperti di musim-musim lainnya? Atau ingatan terhadap ketidakberdayaan yang sedang dihadapi?

Tahukah Pearlians bahwa ternyata ada tumbuhan yang masih tetap dapat bertahan hidup walaupun musim dingin sedang berlangsung? Foto ini adalah salah satu buktinya:

Foto yang diambil oleh Adnan Mahmoud Al-Sabbagh itu menarik perhatian saya karena memunculkan sesuatu di benak saya. Seperti yang bisa Pearlians lihat, foto tersebut memuat beberapa pohon di permukaan bersalju; namun ada satu pohon yang berada pada posisi tertinggi bagaikan pemimpin pepohonan. Selain itu, suasana di sana pasti dingin sekali karena penuh salju dan (tampaknya) berangin. Tapi hal itu tidak membuat pohon tersebut mati kekeringan.

Setelah saya selidiki (dengan bantuan Wikipedia), ternyata pohon itu adalah pohon aras libanon yang memiliki banyak keunggulan. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan asli pegunungan Himalaya hingga Mediterania dan tumbuh dengan baik di ketinggian 1.500 meter - 3.200 meter. Tidak hanya itu, aras bahkan dapat tumbuh hingga ketinggian 60 m.


Hal menarik dari aras lainnya adalah kayunya yang memiliki aroma khas karena kaya akan resin dan keunikan pada motif kayunya. Resin tersebut berguna untuk menangkal serangan ngengat dan dapat menyerap kelembaban dan bau (makanya kayu aras sering jadi bahan baku untuk pembuatan lemari pakaian dan sepatu kayu). Daun aras pun unik; bentuknya meruncing menyerupai jarum dan tetap hijau sepanjang tahun, serta susunannya spiral di sekitar ranting. Setiap spesies aras juga memiliki lapisan lilin di daunnya dengan ketebalan yang bervariasi dan menentukan warna daun. aras tahan terhadap cuaca dingin dan hujan. Itu sebabnya aras dapat menjadi tanaman hias di kawasan beriklim dingin, karena tumbuhan ini tahan terhadap cuaca bertemperatur minus 25 derajat Celcius.

Mungkin karena melihat keunikan pohon aras tersebut membuat pemazmur menulis,

“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon.”
(Mazmur 92:13)


Adakah ulasan singkat pohon Aras mengingatkan engkau tentang sesuatu?

Memahami identitas diri sendiri di dalam Kristus adalah esensi untuk kehidupan orang percaya, karena—pada dasarnya—kita hidup tidak lebih dari apa yang kita percayai. Buktinya, kita tidak dapat mengubah diri ini berdasarkan persepsi yang kita miliki; kita mengubah persepsi tentang diri sendiri dengan kebenaran yang dipercayai. Artinya, kalau persepsi kita tentang diri sendiri sudah salah sejak awal, kita akan hidup dengan persepsi yang salah selamanya—karena apa yang kita percayai bukanlah kebenaran. Lalu, kebenaran apa yang harus kita pegang?

Alkitab menuliskan, orang percaya dideskripsikan sebagai “saints” (orang-orang kudus) yang artinya holy ones (Roma 1:7, 1 Korintus 1:2, 2 Korintus 1:1 Filipi 1:1) dan ditulis lebih dari 240 kali. Hal ini menjelaskan adanya pemisahan dan pembeda antara orang percaya dan orang belum percaya. Orang percaya sudah dilahirkan baru dan hidup dalam kebenaran. Identitas mereka ditentukan oleh Allah, bukan apa kata orang atau situasi yang dialaminya atau latar belakangnya. Hidup sebagai orang percaya adalah satu hal, namun hidup benar sebagai orang percaya yang sudah dibenarkan adalah hal lain yang perlu dikerjakan dengan tekun. 

Pendeta Chris Manusama pernah berkata, “Ketika kamu berada di garasi, bukan berarti kamu menjadi mobil. Demikianlah orang Kristen: menerima Tuhan Yesus dan berada di gereja, tidak berarti menjadi pengikut-Nya—kalau hanya berdiam diri dan hidup tanpa pertumbuhan.”

Seperti yang dikatakan oleh Pemazmur di atas, kehidupan orang benar yang menghidupi kebenaran akan selalu mengarah kepada kesuburan. Artinya, mereka akan memiliki ketahanan dalam suasana tidak ideal seperti pohon aras pada musim dingin—dimana tidak semua pohon mampu bertahan di sana. Pohon itu juga memiliki aroma dari dalam karena mengandung resin yang berguna untuk dimanfaatkan sebagai perabotan oleh manusia dan batangnya kokoh besar. Ditambah lagi, akarnya yang sekuat itu menahan beban yang sangat berat di atasnya. Tapi ingat: proses dan tekanan yang dilalui si pohon aras pasti nggak kaleng-kaleng. Hal itulah yang dimaksud juga sebagai mental pengikut Yesus, yang perlu menyadari perannya untuk mengakui-Nya di depan manusia. Dengan demikian “Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Yesus di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah.” (Lukas 12:8-9)

Perkataan Yesus di atas benar-benar bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Bayangkan: saat itu, mereka hidup di bawah penjajahan bangsa Romawi, bangsa yang menjadikan Kaisar sebagai dewa dan menuntut mereka untuk menyembahnya (plus dewa-dewi Romawi). Artinya, kalau ada orang yang dengan berani mengaku percaya kepada Yesus, maka nyawa yang jadi taruhan. Kita bisa melihat buktinya dari sejarah gereja mula-mula (khususnya di Kisah Para Rasul), dimana mereka mengalami penganiayaan (baik oleh sesama orang Yahudi (khususnya para petinggi agama) maupun orang non-Yahudi), dan tidak sedikit yang menjadi martir. Walaupun demikian, hal itu tidak mengubur semangat orang percaya di abad pertama untuk bersaksi karena mereka memegang janji penyertaan Allah:

“Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Allah sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Nya. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”
(Lukas 21:14-19)

Menjadi pengikut Yesus memang tidak mudah, namun sebenarnya sederhana… sesederhana kamu bisa percaya dan melakukan segala perintah-Nya. Oke, teorinya mah gampang, tapi pelaksanaannya yang bikin hemhamhem. Di saat dunia mengajarkan untuk mengejar popularitas, Yesus justru mengajar kita agar tidak menjadikan hal lain lebih tinggi dari-Nya, dan menempatkan Allah serta kehendak-Nya sebagai alasan dan pusat pengambilan keputusan hidupmu. Jadi ngga popular sih pasti. Kadang terkesan kaku alias ngga fleksibel… tapi itu kata dunia yang tidak bisa dipertanggungjawabkan keberlangsungannya. Kenapa? Karena sejak awal, hanya Fiman Allah yang sanggup menopang kita dari ketidakpastian. Firman-Nya tetap dan tidak ada yang bertentangan dan ini yang perlu kita ingat bersama: semua konteks yang diberikan Allah adalah untuk kebaikan kita, agar kita semakin dibentuk dan bertumbuh ke arah Kristus.

“Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”
(Matius 10:42)

Pandemi ini adalah saat terbaik bagi kita untuk mengekspresikan identitas kita—secara nyata—sebagai orang percaya kepada orang-orang yang berada di sekitar kita. Beberapa contoh yang pernah saya lakukan di bawah ini mungkin bisa menginspirasi Pearlians untuk melakukan hal serupa:
  1. Membagikan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan kepada teman kost-an saat ngobrol santai.
  2. Memfasilitasi pertemuan live group secara virtual untuk tetap terkoneksi dan peduli pada orang-orang percaya lainnya.
  3. Menginisiasi bagi-bagi makanan kepada orang kurang mampu yang saya temui di pinggiran jalan.
  4. dan lain-lain (bisa juga lho, kalau ada yang mau nambahin list-nya di kolom komentar).
Bentuk konkret akan membuat kita menjadi lebih relevan dengan kebutuhan dunia saat ini, karena dunia tidak peduli dengan siapa kita sampai mereka melihat apa yang kita lakukan bagi mereka. Kepedulian, ketulusan, kesederhanaan dalam menjalani kehidupan, dan lainnya—yang menginspirasi dan menegaskan bahwa apa yang kita percayai dan anut—adalah nilai-nilai kekal dari Alkitab karena kita pengikut Kristus. Yes, menjadi seorang pelaku Firman dan melayani orang lain, dengan motivasi mengikut Yesus, bisa dilakukan hanya jika kita memilih untuk berelasi dekat dengan Tuhan. Caranya dengan mengenal-Nya, memahami hal-hal yang berkenan kepada-Nya, dan melakukan segala sesuatu untuk Dia dan mengandalkan-Nya (khususnya) saat menghadapi tekanan.

Salah satu pengalaman yang saya alami selama pandemi ini adalah ketika melayani ibadah tutup peti dalam kedukaan keluarga anggota jemaat yang kehilangan ayah yang dikasihinya. Perasaan saya berbenturan dengan keyakinan saya; saya yakin bahwa Allah menyukai jika saya melayani, namun di sisi lain saya ragu-ragu dapat tetap sehat tanpa tertular virus berbahaya yang sedang merajalela (apalagi physical distancing masih harus tetap dilakukan). Well, pada akhirnya saya belajar bahwa perasaan tidak selalu berkata benar, tapi keyakinan saya terhadap perlindungan Tuhan dan berhikmat dengan menerapkan protokol keselamatan membuat saya untuk memenuhi tanggung jawab saya dalam melayani jemaat yang berduka.

Pearlians, ketakutan kita yang berlebihan bisa bergeser menjadi keegoisan dalam memproteksi diri dan apapun yang ada pada kita. Parahnya, hal itu tidak membuat kita terlindungi sama sekali—malah menambah masalah pada tatanan pikiran dan jiwa yang tidak sehat. Namun ketika kita dapat menanggapi panggilan Allah dan menghidupi, kita akan melihat secara nyata bahwa Dia melindungi kita dengan cara-Nya yang ajaib. Yes, hidup yang kita jalani bukan hanya berbicara tentang hari ini dan besok, tapi juga soal apa yang kita persiapkan untuk menyambut hari penghakiman kelak.


Pertanyaannya (sebagai refleksi pribadi juga)…

di mana imanmu?

Apa yang sudah kamu lakukan bagi Tuhan?

Bagaimana kamu mengembangkan talentamu?

Sudahkah kamu menguasai bumi dan bermultiplikasi?

Adakah kasih dan buah roh dalam dirimu?


“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”
(2 Korintus 4:18)

Monday, August 31, 2020

Karena hanya Satu yang baik


by Poppy Noviana

Seorang muda yang berstatus pengusaha sukses dan kaya tidak juga merasa cukup dengan semua pencapaiannya. Suatu hari dia bertemu dengan Sang Maha Guru dan bertanya, “Guru, perbuatan baik apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Sang Maha Guru: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Karena hanya Satu yang baik.”

Dari tanya jawab ini, apakah Sang Maha Guru bertanya karena Ia tidak tahu? Atau bertanya dengan pengetahuan-Nya? Ya… segala sesuatu yang Sang Maha Guru, yaitu Yesus, tanyakan kepada manusia adalah pertanyaan yang sudah Ia ketahui jawaban-Nya. Ia bertanya justru untuk memberitahu sang penanya hikmat yang tersembunyi di balik pertanyaan. 

Menarik sekali ketika Yesus menjawab, “Hanya Satu yang baik.” Apa yang dimaksud “Satu yang baik” dalam konteks ini? Apakah itu sejenis pola pikir, suatu hal, atau suatu perbuatan? Mengapa menggunakan huruf kapital ya? Penasaran? Jawabannya ada dari ayat Alkitab itu sendiri.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
(Yohanes 3:16)

Di ayat ini kita menemukan sesuatu yang dicari oleh si pemuda di awal pembukaan percakapan: hidup yang kekal.

Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan (yang dijelaskan pada ayat Yoh 3:16 yaitu mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal) Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2 Korintus 8:9)

Dari ayat ini, kita mengerti, karunia Allah adalah Yesus yang memiskinkan diri-Nya supaya manusia menjadi kaya oleh karena Kasih Allah itulah yang memberi hidup yang kekal kepada manusia.

Jadi apakah arti “Hanya Satu yang baik?” pada jawaban Yesus di awal artikel ini? Ya, yang Baik itu adalah Satu pribadi yaitu Yesus sendiri, yang telah datang ke dunia sebagai orang miskin dan mati untuk membuat kita menjadi kaya dan bahkan memberikan hidup yang kekal.

Perhatikan pada diskusi selanjutnya dikatakan, “Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Memang pemuda ini sudah cukup patuh dan melakukan sebagian besar perintah Allah, namun ada kata “segala” dalam konteks ini, yang maksudnya tidak terkecuali, alias tidak ada perintah yang boleh dikesampingkan. Wah… memang mungkin ada manusia yang mampu memenuhinya? Tentu tidak. Jika begitu, lalu bagaimana semestinya? Yesus mengatakan apa yang tidak mungkin menurut manusia, mungkin bagi Allah. Manusia tidak mungkin dapat memenuhi segala perintah Allah itu dengan sempurna, sehingga Allah sendirilah yang membenarkan manusia dengan pengorbanan Kristus.

Melanjutkan diskusi, anak muda itu pun bertanya kepada Yesus “Perintah yang mana?” Yesus menjawab dengan menjabarkan perintah-Nya yang menekankan pada hubungan manusia, seperti jangan mencuri, kasihilah sesamamu manusia, dan hormatilah ayahmu dan ibumu. Setelah itu, Ia menjawab: “Jikalah engkau hendak sempurna, pergilah, juallah, segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang yang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku”.

Jawaban Yesus ternyata membuat anak muda ini bersedih dan kecewa. Ternyata kesedihan itu muncul karena ia merasa berat hati untuk melakukannya, rasa aman dan status sosialnya dipertaruhkan. Benar apa kata Firman Tuhan, dimana hartamu berada disitu hatimu berada. Artinya jika hartamu lebih penting dan lebih prioritas dari pada keinginan hatimu akan Satu hal yang baik, maka seperti respon pemuda tersebut, hatinya akan terseret-seret dan kalah. Ia memilih memegang erat hartanya, karena keinginan hatinya untuk memperoleh hidup kekal tidak lebih kuat daripada mempertahankan hartanya.

Padahal, jika ia mengikuti instruksi Yesus yang sangat jelas dan praktikal itu, ia telah mendapatkan rahasia besar untuk memperluas kapasitas hatinya dan memperoleh Satu yang baik. Ia bisa mulai dari menjual, membagikan hartanya yang banyak (berganti dari mengumpulkan harta di bumi menjadi mengumpulkan harta di surga), lalu kembali (memutuskan secara sadar percaya kepada Yesus) dan mengikuti Yesus (hidup berelasi dengan Yesus).

Kisah Alkitab di atas merupakan sebuah gambaran tentang sikap hati yang Yesus kehendaki dari setiap pribadi yang mau mengikut Dia: menjadikan Yesus yang pertama dan terutama. Hal mengikut Yesus tidak selalu menyenangkan. Dia bahkan memberi peringatan bahwa siapapun yang mau mengikutinya harus mau menyangkal diri dan memikul salib. Hal ini berarti bahwa kekayaan, hal-hal apapun yang kita anggap berharga, harus mau kita lepaskan, untuk Yesus, karena memiliki Yesus adalah kekayaan yang sejati.

Mendefinisikan kekayaan sebagai jabatan di pekerjaan, status sosial, atau justru pada hal-hal yang bersifat kekal adalah sebuah pilihan hidup. Menjadi orang kaya bukanlah dosa, tapi kekayaan dapat menjadi penghalang bagi hati yang tidak waspada.

“Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaanNya memberikan segala sesuatu untuk dinikmati”.
(1 Timotius 6:18)

Monday, August 10, 2020

Mengasihi Walau Pedih


by Poppy Noviana

Suatu pagi, adik saya berinisiatif untuk pergi mengunjungi saudara yang sudah lama sekali tidak kami kunjungi—karena ada perselisihan di antara kami. Memang kondisinya semakin diperburuk karena saya merasa berada di posisi yang lebih benar dalam perkara tersebut. Mereka menyakiti saya dan tidak peduli pada hidup saya, bahkan saat ada di titik terendahpun, mereka tidak hadir untuk menolong saya. Mereka sangat arogan dan cenderung egois. Tidak hanya itu, sampai detik ini, saya belum pernah mendengar kata maaf dari mereka. Itulah sebabnya saya lebih suka untuk tidak berhubungan lagi dengan mereka setelah perselisihan yang terjadi. Wajar dong, ya? Kalau kata netizen, itu manusiawi banget!

Pagi itu pun saya cukup kaget, karena saya tidak menyangka bahwa adik saya dan pacarnya akan berkunjung ke sana untuk silaturahmi. Saya sadar ini bukan gerakan pembalasan namun awal suatu pemulihan, sebab saudara kami ini memang baru saja kehilangan seorang anggota keluarganya. Saya tidak melarang adik saya dan justru mendukungnya, namun untuk ikut ke sana? Hm, rasanya saya masih perlu waktu untuk memulihkan diri. Yah… saya bukan memaksudkan cerita ini sebagai sesuatu yang bisa diteladani, sih. Bahkan melalui tulisan ini, saya juga sedang berjuang dalam menyelesaikan masa lalu saya—khususnya melepaskan pengampunan kepada orang-orang yang merasa lebih benar, sementara saya merasa layak untuk marah kepada mereka.

Saya tahu kalau tidak mengampuni akan merugikan diri sendiri; dan menyadari bahwa tanpa kasih, semua yang saya lakukan untuk Tuhan adalah sia-sia. Namun di sisi lain, saya tetap berdoa untuk para saudara saya dan untuk hati ini, agar saya bisa benar-benar mengampuni mereka dengan sepenuh hati dan itu terlihat dari perbuatan saya kepada mereka. Hal ini bukan perkara mudah, namun saya mau melakukannya karena ini perintah Tuhan. Toh Dia juga sudah mengampuni saya—yang sebenarnya tidak layak untuk diampuni atas dosa-dosa saya.

"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan
apa yang Aku katakan?”
(Lukas 6:46)

Masih ingat dengan peristiwa Yudas yang mengkhianati Yesus? Saat itu, Yudas menjual Yesus sebesar 30 keping perak untuk kepentingan dirinya sendiri. Yesus tahu akan hal itu: Dia tahu bahwa Yudaslah yang akan mengkhianati-Nya, tapi Dia tetap memperlakukan Yudas dengan baik.

Lah? Kok, bisa?

Berbeda dari kita, fokus Yesus adalah pada kekekalan—bukan peristiwa yang terlihat saat itu. Bahkan pada momen klimaks pengkhianatan Yudas yang berupa ciuman (Lukas 22:47-48), emosi-Nya juga stabil. Mungkin saja hal itu terjadi karena di dalam natur kemanusiaan-Nya, Yesus juga sering berhadapan dengan Iblis dan orang fasik yang “suka” menguji kesabaranNya. Bayangkan saja, ketika orang fasik merasa dirinya lebih benar dari Yesus—padahal Dia adalah Tuhan, Sang Sumber Kebenaran!—menurut saya, Dia sangat berhak untuk marah. Duh… Walaupun demikian, Yesus tetap bisa mengendalikan diri dan—nantinya—berdoa agar Allah mengampuni mereka yang menyalibkan-Nya (Lukas 23:34).

Kisah ini membuktikan bahwa dalam natur kemanusiaan-Nya, Yesus juga pernah disakiti dan dikhianati oleh orang terdekat-Nya. Yesus tidak hanya asal mengajar tentang pentingnya pengampunan melalui perkataan, namun juga memberikan teladan sempurna dalam penyaliban-Nya—sesuatu yang tidak akan dilakukan oleh manusia berdosa! Mana ada orang yang bisa dengan mudahnya benar-benar mengampuni, apalagi jika dia dilukai oleh orang yang selama ini dipercayainya!?

Semakin dekat relasinya, maka semakin besar pula kesempatan kita untuk melukai orang lain. Kesadaran akan hal ini mendorong saya untuk melatih diri agar hanya mengandalkan Allah sebagai satu-satunya sumber kepuasan dan pertolongan—bukan dari manusia. Ya, sebagai Pencipta, hanya Allah yang paling memahami dan mengasihi saya. Bahkan Dia merelakan Yesus Kristus, Putra Tunggal-Nya, untuk menebus saya di kayu salib—sebuah pengorbanan yang sangat berarti bagi saya secara pribadi.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
(Matius 5: 39-45)

Ketujuh ayat di atas memang mudah untuk hanya dibaca, namun melakukannya? Duh… rasanya harga diri ini jadi tercabik-cabik, kan? Bukannya ingin kembali menjalin relasi yang telah berubah, kita justru memilih menghindar dengan alasan “masih memulihkan hati”. Hmm… healing takes time, sih. Tapi mungkin luka yang sedang “dipelihara” ini membuat kita menyadari “the unknown me” yang selama ini tidak kita kenali. Ternyata kita adalah manusia yang rapuh dan tidak berdaya untuk memulihkan luka ini sendirian, sehingga untuk mengampuni orang lain pun tidak sanggup. Meski demikian, Yesus menguatkan kita: ketika kita mengasihi dan mengampuni seseorang melebihi dari yang bisa dilakukan oleh yang bukan-orang-percaya, sebenarnya kita sedang menghadirkan citra Bapa bagi orang lain—khususnya yang telah melukai kita.

Lalu bagaimana agar kita bisa mengampuni musuh dan berdamai dengan mereka, seperti yang diperintahkan dan dilakukan Yesus?

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
(Matius 5:46-48)

Menjadi serupa Kristus berarti memiliki prinsip hidup, cara hidup, dan pengambilan keputusan seperti Kristus. Yah, itulah panggilan hidup bagi setiap kita yang sudah mengakui Yesus sebagai Juruselamat secara pribadi. Artinya, saat kita berani memaafkan orang-orang yang selama ini membenci maupun melukai kita, sebenarnya kita juga sedang mengerjakan panggilan kita dan bertumbuh dewasa menjadi pribadi yang berkarakter seperti Kristus. Walaupun prosesnya membutuhkan waktu yang tidak sebentar (bahkan bergalon-galon air mata), Roh Kudus juga menolong kita untuk memiliki kehidupan yang lebih sehat secara jiwa dan emosi.

Sebuah pengampunan hanya bisa diberikan ketika kita benar-benar mengenal identitas kita sebenarnya di hadapan Allah. Yaps, kita adalah anak-anak Allah yang diterima-Nya dengan penuh anugerah melalui penebusan Kristus, dan dibebaskan dari penghakiman yang seharusnya kita terima. Kita juga adalah umat pilihan yang sudah dipersiapkan juga untuk suatu pekerjaan baik oleh Allah, dan kita tidak bisa dipisahkan dari kasih Allah. Sebagai orang percaya, kita juga dijadikan-Nya warga kerajaan Allah! Karena itu, kita harus menerima kebenaran ini sebagai suatu yang membebaskan dan mengingatkan kita untuk tidak menempatkan diri pada posisi yang “lebih benar”, “lebih baik”, ataupun “lebih berhak marah kepada mereka yang menyakiti” kita. Ini artinya kita juga harus mengikis ego diri sendiri; toh Bapa telah mengampuni kita—bahkan ketika kita masih berdosa!

Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya. Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.
(Lukas 6:47-49)

Salah satu buah dari pertobatan adalah pemberian pengampunan kepada orang lain. Jika demikian, pertanyaannya adalah… haruskah kita mengampuni semua orang—literally? Hmm… tentu kita memerlukan hikmat agar tidak salah dalam menyikapi hal ini. Walaupun rasanya pedih, kita harus mengimani dan mengamini bahwa kita tidak sendirian: ada Allah yang juga merasakan kepedihan itu! Dia juga memahami betapa sulitnya untuk tetap mengasihi orang-orang yang sudah melukai kita. Karena itu, kita perlu jujur kepada Allah tentang hal ini. Kerapuhan kita yang disebabkan oleh dosa membuat kita tidak berdaya untuk memberikan pengampunan dengan tulus kepada orang lain. Kiranya melalui keterbukaan dan penyerahan hati yang hancur ini, kita dimampukan-Nya untuk berkata, “Let my life reflect Your heart”[1], karena kita juga dipanggil untuk memancarkan hati Allah kepada orang-orang yang bahkan telah melukai kita sebagai sebuah bentuk ibadah yang sejati.


[1] Make My Life a Sacrifice, oleh Joseph Martin dan Jan McGuire

Monday, July 6, 2020

Undangan Pesta dari Sang Raja


by Poppy Noviana

Pada suatu hari berjalanlah seorang pemuda lalu masuklah Ia ke suatu tempat untuk mengajarkan kebenaran. Banyak orang berkumpul untuk mendengarkannya. Ada orang yang ingin belajar, ada orang yang hanya ingin menguji Sang Pengajar. Ada pula orang-orang tua berpengalaman yang ikut hadir disana. Pengajaran pemuda itu menarik sekali. Ia bahkan sering menggunakan perumpamaan, dan semua orang diperbolehkan untuk bertanya langsung kepada Sang Pengajar. 

Seperti itulah biasanya situasi apabila Yesus sedang mengajar. 

Perumpamaan seringkali diberikan untuk mempermudah pendengarnya dalam memahami pengajaran Yesus. Terutama bagi mereka yang belum benar-benar mengenal Dia dan Kerajaan-Nya. Seperti yang dikatakan di Alkitab, "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (Mat 13:11-12)

Pada artikel kali ini, kita akan membahas secara sederhana mengenai perumpamaan Kerajaan Allah seperti perumpamaan perjamuan kawin. Hal ini tentu bukan hal yang sederhana. Saya berdoa, semoga Tuhan memberi hikmat agar kita bisa mengenal kehendak-Nya. 

Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.” 
(Matius 22:1-2)

Seperti perumpamaan Yesus, Kerajaan Sorga layaknya sebuah pesta raja dimana orang-orang yang mendapat undangan saja yang bisa masuk kesana. Tapi apakah hanya butuh sekedar undangan? Karena kenyataannya, “Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.”

Bayangkan, seorang raja begitu baik mau mengundang orang-orang agar datang ke pestanya. Tapi, bukan undangan itu saja yang menentukan. Syarat pertama agar seseorang bisa masuk ke Kerajaan Sorga, adalah respon. Sia-sia undangan dari kerajaan, apabila respon dari orang yang diundang justru menolaknya. Hal ini seperti perumpamaan Kristus yang berdiri di muka pintu dan mengetuk, menunggu kita membukakan pintu bagi Dia, supaya Dia bisa masuk dan makan bersama-sama dengan kita (Wahyu 3:20). Yang penting adalah respon, menerima atau menolak. Dalam konteks pesta raja ini, orang-orang yang diundang justru menolaknya. 

Bagian selanjutnya perumpamaan Yesus, menjelaskan kenapa orang-orang itu menolak undangan dari Raja. 

Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.
(Mat 22:3-8)

Dari bagian ini, kita mengerti bahwa ada orang-orang yang memang secara asli diundang oleh raja untuk memperoleh hidangan dan tempat dalam perjamuan, yaitu bangsa pilihan Allah. Mereka adalah orang-orang yang dirancang sejak awal untuk menikmati bagian dari kerajaan-Nya, namun sayangnya mereka yang tidak mengindahkannya. Alih-alih datang ke pesta raja, orang-orang itu justru sibuk mengerjakan hal lain. Ibaratnya, sudah diberi kesempatan dan kemurahan, namun tidak dihargai dan dianggap tidak penting. Prioritas mereka bukan kekekalan. Mereka menempatkan keamanan dan prioritas hidupnya pada hal-hal yang bersifat sementara, seperti pekerjaan, bisnis, dan bahkan menghakimi kebenaran yang sudah mereka dengar dan lihat melalui anak-anak Allah yang diutus serta Roh Kudus sendiri yang sebenarnya sudah berbicara dalam kehidupan mereka. Dari sini, bisa disimpulkan bahwa syarat kedua masuk ke kerajaan surga adalah hidup yang fokus pada hal-hal kekal. 

Wajar memang jika kemudian raja menjadi murka karena pesta yang sudah dipersiapkan dengan baik, malah disia-siakan begitu saja. Apalagi, sebagai raja, selama ini ia bertanggung jawab pada hidup rakyatnya, sebagaimana Tuhan sebagai pencipta, memelihara kehidupan umat ciptaan-Nya. Seberapa banyak dari kita, sebagai makhluk ciptaan, justru berhenti mengutamakan Pencipta kita, karena seluruh energi dihabiskan untuk mengasihi ciptaan-Nya yang lain. 

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
(Mat 22:9-13)

Pada akhirnya, undangan kedua diberikan kepada siapapun tanpa terkecuali, tidak peduli apapun latar belakang seseorang, tidak peduli apakah dia baik atau jahat. Mereka boleh turut masuk dalam kerajaan-Nya, diberi kesempatan dan kemurahan untuk menikmatinya sesuai perkenanan Raja, karena kerinduan Raja adalah banyak orang datang ke pestanya, bersukacita bersama dia. Seperti kerinduan Tuhan adalah semua orang diselamatkan.
(I Timotius 2:4)

Tapi, raja menghendaki semua orang yang datang ke pestanya mengenakan pakaian pesta yang layak. Ia memang raja yang penuh kasih, namun ia juga raja yang adil, sehingga hanya yang layak yang pantas yang akan bertahan memperoleh tempat dalam kerajaannya. Mengatakan ‘ya’ pada undangan Raja, bukanlah akhir cerita. Sama halnya seperti menerima Tuhan dan Juru Selamat juga bukan akhir dari perjalanan iman kita, tapi justru sebuah awal. Lalu apa yang harus kita lakukan? Coba pikirkan apa yang Yesus inginkan semasa hidup, apa yang Ia percaya, apa yang Ia larang, lalu lakukan semuanya dalam kehidupan sehari-sehari. 

Seringkali diantara kita mungkin ada yang sudah mengenal Allah dari lahir, atau mungkin mengenal Dia sejak masa remaja, namun apakah kita benar-benar mengenal artinya percaya dan melakukan kehendak-Nya? Saya rasa belum tentu. Contohnya, orang Saduki dan orang Farisi, mereka tahu namun mereka tidak melakukannya. Jadi, kapan kita mengenal Tuhan bukanlah masalah, selama kita bisa setia sampai pada akhirnya.

Bagian ini menjelaskan bahwa kehidupan di dunia merupakan waktu yang cukup untuk kita mempersiapkan diri bagi Kerajaan Sorga. Percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, hidup melakukan Firman dan kebenaran, adalah bentuk mengindahkan undangan raja dan menjahit pakaian pesta agar layak mengambil bagian dalam kerajaan Allah. Percaya dan taat adalah prinsip yang perlu terus menerus dikerjakan sampai hari perjamuan itu tiba. 

Undangan masuk ke Kerajaan Sorga diberikan kepada siapa saja. Ada yang menolaknya mentah-mentah, ada pula yang datang tanpa memperhatikan apa yang harus dipersiapkan. Sama halnya seperti Kristus yang mati dan bangkit untuk semua orang, tapi tidak semuanya mau percaya pada kuasa-Nya. Beberapa yang meresponi panggilan-Nya pun, tidak semua mempersiapkan hidupnya sungguh-sungguh untuk kedatangan Kristus yang kedua. 

Inilah syarat yang ketiga, melakukan kebenaran, mengerjakan keselamatan. Hal inilah yang membedakan kita dengan iblis, iblis juga percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah namun dia tidak taat, berdosa dan hamartia (menyesatkan). Apa yang kita perbuat adalah pertanggungjawaban atas iman kepada Allah. Bukankah Firman Tuhan mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan itu mati? 

Panduannya sudah disediakan, hikmatnya sudah diberitahukan di mana-mana, namun perihal menggunakan panduan dan pengetahuan tersebut lain hal, sebab dibutuhkan kedewasaan rohani dan keseriusan untuk sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Hidup dalam iman namun tidak melakukan kehendak-Nya, sama seperti masuk dalam perjamuan kawin tanpa memakai baju pesta.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.
(Mat 22:14)

Monday, June 1, 2020

Perumpamaan Seorang Penabur


by Poppy Noviana

Menikmati waktu bersama keluarga dan #dirumahaja dulu merupakan normal baru yang hari-hari ini kita lakukan sejak pandemi Covid-19 terjadi. Pembatasan fisik dan sosial pun menjadi bentuk kedisiplinan yang dituntut dari kita sebagai pribadi yang mengasihi Allah melalui cara hidup yang patuh kepada pemerintah atau otoritas yang saat ini memimpin. Namun, jujur saja, kekhawatiran itu tetap hadir dan dirasakan, bukan hanya oleh anak Tuhan, namun hampir semua orang di seluruh dunia yang sadar dengan lingkungannya. Berangkat dari situasi tersebut, saya ingin mengajak para pembaca untuk melakukan tes kondisi hati, dan semoga artikel ini menolong kita tetap merawat tanah hati kita, menjaganya tetap subur dan tidak kehilangan tujuan untuk berbuah.

Pertama adalah menyadari kondisi tanah hatimu. Hal ini sangat membantu kita menyadari posisi kita saat ini, apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana caranya menggeser posisi menuju tanah hati yang subur. 



Nah... Warna ini menurutku mewakili kondisi hati yang terjadi pada kebanyakan orang percaya saat ini. Bukan saja karena masalah COVID-19, tapi ditambah kondisi sekeliling yang terdampak, sehingga tanah hatiku penuh kekhawatiran, kehilangan harapan, dan mengandung emosi negatif yang menguras energi. 

Siapa yang setuju dengan kondisi ini? Jika sepakat dengan saya, bersyukurlah kamu ngga sendirian, mari sama-sama kita kenali lebih jauh, how to deal with this situation?



// BLUE (benih di pinggir jalan):

Sadarilah bahwa perspektifmu saat ini belum tentu yang terbaik bagimu, namun perspektif Tuhan soal kehidupan tentu saja yang terbaik bagimu. Kenapa? Karena Ia yang menciptakanmu dan Ia selalu memulai segala sesuatu dari akhir untuk mengawali sebuah perjalanan, itu sebabnya mengapa Ia sudah memiliki rencana bagimu sejak engkau dikandung ibumu (Yeremia 1:5). 

Benih yang jatuh di pinggir jalan seperti Firman Tuhan yang diberikan kepada orang-orang yang menerimanya sambil lalu. Pada kondisi ini, dibutuhkan kerendahan hati untuk mencari dia. Perspektif Tuhan tersedia di dalam Kitab-Nya, perlu ada komitmen untuk mau membaca dan merenungkan Firman-Nya, agar perkatan-Nya itu tidak hanya sekedar lewat di kehidupan kita.


// GREY (benih di tanah berbatu):

You get a heart for God by developing convictions. And you develop convictions by getting to know God’s word. 

Mengetahui dan menghidupi adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa saya mengetahui dirinya dicintai oleh orang lain, namun Ia tidak menghidupi rasa kelimpahan atas cinta itu dalam dirinya. Akibatnya, ia memiliki kebutuhan yang tidak terpenuhi dan menjadi perasaan tidak aman, seperti berpijak pada pasir yang rapuh, bukan batu karang yang teguh yaitu janji Tuhan yang pasti.

Sebentar saja Firman itu datang meneguhkannya namun kemudian ia melupakannya sehingga Firman itu berlalu dan tidak tumbuh dalam kehidupannya. Sayang sekali membuang waktu hanya untuk menyukai dan melupakan, bagaimana kalau kita mulai menyukai dan melakukan? Bukan ide yang buruk bukan? Sebab, percaya pada Tuhan dan menghidupi kepercayaan itu adalah pilihan terbaik yang pernah saya lakukan dalam hidup ini sampai hari ini. So why don’t we be doers of His words, instead of just knowing His Words?


// PINK (Benih di tengah semak duri):

You shall have no other gods before me.
(Exodus 20:3)

Apapun yang mendominasi hidupmu akhirnya akan menjadi allahmu. Semua waktu dan energimu akan berfokus padanya, apapun itu. Bisa saja kekhawatiran akan Covid-19, masa depan karena pemutusan hubungan kerja di kala pandemi ini, kehilangan harapan karena bisnismu tidak beroperasional lagi, atau apapun itu yang menjadi kendalamu hari-hari ini. Kalau memang kondisi hatimu seperti ini, at least terima dulu saja kondisinya dan mulai melihat ke atas. Layaknya sedang berada di dalam sumur yang gelap dan dalam, kamu hanya perlu melihat ke atas, meminta pertolongan kepada Allah yang memelihara kehidupanmu. No need to focus on the things you cannot control, Jesus' presence is a comfort for our soul – lirik dari lagu With You yang dinyanyikan oleh Elevation merupakan penguatan bagi saya secara pribadi dalam melalui masa pandemi ini.


Verse 1:
Beneath the surface
Of my anxious imagination
Beckons a calmness
That is found in You alone

It washes over
Every doubt, every imperfection
Jesus, Your presence
Is the comfort of my soul

Chorus:
There's nowhere I'd rather be
When You're singing over me
I just wanna be here with You

I'm lost in Your mystery
I'm found in Your love for me
I just wanna be here with You

Verse 2:
Here in the waiting
I won't worry about tomorrow
No need to focus
On the things I can't control

All my attention
On the wonder of this moment
Jesus, Your presence
Is the comfort of my soul

Bridge:
So let all that I am
Be consumed with who You are
All the glory of Your presence
What more could I ask for?


I hope we would be recharged again by this song!


// GREEN (Benih di tanah yang baik):

But solid food is for the mature, who by constant use have trained themselves to distinguish good from evil. Therefore let us move beyond the elementary teachings about Christ and be taken forward to maturity.
(Hebrews 5:14 - 6:1)

Tujuan percaya kepada Allah adalah menjadi semakin dewasa dan serupa dengan Dia. Orang yang hatinya sudah menjadi tanah yang baik adalah orang-orang yang sudah melatih dirinya. Firman yang selama ini mereka baca dan renungkan, telah menjadi panduan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Mereka telah kuat di dalam iman, sehingga si jahat, maupun kekhawatiran duniawi, tidak bisa lagi mencuri benih Firman dalam hati mereka. Pada level ini, yang diperlukan adalah konsistensi agar buah yang dihasilkan tetap. Penulis Kitab Ibrani mendorong kita agar kita tidak cepat puas dengan kondisi hati kita namun selalu punya kerinduan untuk selalu meningkatkan kapasitas diri. 

Dear Pearlians, di tahap manapun kondisi hatimu ada saat ini, Tuhan ada di sana, siap menolong kita naik tingkat. Ia mengijinkan tekanan, ujian, dan kadang air mata, supaya hati kita teruji dan kita semakin tekun dan bersungguh-sungguh mengikut Dia. Firman-Nya ada untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Firman itulah benih yang Ia tabur agar hidup kita berbuah, tugas kita adalah menyiapkan tanah untuk Firman itu tumbuh.

Saya berdoa agar dalam kondisi apapun, hati kita adalah tanah yang baik untuk menyambut benih-benih surgawi.

Monday, May 4, 2020

Yesus Menampakkan Diri di Jalan ke Emaus


by Poppy Noviana

(Lukas 24:13-35)

Mendapati diri tidak memperoleh apa yang diharapkan seringkali menjadi pukulan berat dan menyakitkan. Hal ini bukan sesuatu yang baru dalam kehidupan, sebab manusia jaman dulu juga sudah mengalami hal tersebut. Sampai hari ini pun banyak anak Tuhan yang mengalaminya. Banyak orang yang berharap lalu kecewa dan memutuskan berhenti berharap. 

Melalui kisah penampakan Yesus kepada dua murid yang sedang berjalan menuju Emaus, kita bisa belajar tentang meletakkan pengharapan kita dalam kebenaran. Kisah ini mengajar kita untuk mengenal Yesus dengan lebih baik, sehingga kita punya respon yang tepat pada masalah.

“Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.”

Kalimat di atas adalah kutipan percakapan dua orang murid Yesus yang sedang berjalan menuju Emaus, desa yang terletak sekitar tujuh mil dari Yerusalem. Kutipan ini merupakan harapan mereka tentang Yesus. Harapan yang tidak terjadi sesuai dengan cara mereka, tetapi dengan cara Allah melalui kematian Yesus. Kedua murid itu merasa harapan mereka hancur karena Yesus mati di kayu salib. 

Sebelumnya, pernahkah diantara kita mengungkapkan suatu pemikiran kepada ahlinya? Bagaimana perasaanmu? Kurang lebih mirip seperti menghadapi dosen penguji pada saat sidang kelulusan di Universitas. Ada rasa takut salah, minder dan enggan. Sikap inilah yang tidak terlihat pada kedua murid Yesus ini. Padahal, mereka bicara tentang Yesus kepada Yesus sendiri! Tentu saja karena, mereka bersama Yesus tapi mereka tidak mengenal-Nya. 

Mengenal dan mengetahui adalah dua hal yang berbeda. Contohnya, saya tahu Presiden saya, namun saya tidak mengenalnya. Saya tidak tahu kelemahan dan hobinya secara pribadi, karena saya tidak memiliki hubungan yang dekat dengannya. Lain halnya jika seseorang menanyakan kepada saya tentang teman dekat saya. Saya tahu hobi dan kelemahannya, bahkan rahasianya sekalipun, sebab saya sungguh-sungguh mengenalnya. 

“Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!”

Mendengar kekecewaan kedua murid ini, Yesus berkomentar cukup keras. Ia mengatakan kedua murid itu bodoh karena mereka tidak percaya pada apa yang telah dinubuatkan para nabi. Bahkan selama ini Yesus sebenarnya sudah sering menjelaskan bahwa Ia datang menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia yang berdosa, termasuk mereka yang sedang berjalan bersama-Nya. Ia juga telah mengabarkan bahwa Ia akan mati dan bangkit pada hari yang ketiga, sebagaimana dinubuatkan oleh para nabi. Namun perkara mulia ini menjadi terlupakan karena kedua murid itu mempunyai harapannya sendiri tentang Yesus. Mereka berharap Yesus tidak mati dan membebaskan bangsa Israel dengan cara yang mereka inginkan dan pahami. Ketika itu tidak terjadi, kekecewaan dan kesedihan mereka membuat mereka terguncang, sampai mereka tidak bisa mengenali Yesus yang berjalan bersama mereka. 

“Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"

Pada akhirnya Yesus memberikan sebuah pertanyaan retorik, lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Hal ini menggambarkan bahwa Yesus suka sekali untuk dikenali, Ia suka menceritakan kebenaran, meluruskan ekspektasi yang salah, dan mengajar mereka yang kurang hikmat. Inilah sebabnya Yesus merasa penting untuk berjalan, bercakap-cakap, dan bahkan makan bersama kedua murid ini, supaya Yesus bisa mengarahkan pengharapan kedua murid pada dasar yang benar.

“Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti”

Kedua murid akhirnya mengenal Yesus. Seringkali manusia mengenali seseorang memang bukan karena siapa dia tapi karena ingatan akan perbuatannya. Selama ini kekecewaan mereka pada kematian Yesus menghalangi pengenalan mereka. Bagi pikiran manusia mereka, Yesus sudah mati, dan tidak akan pernah bangkit kembali. Mereka sudah tidak mengharapkan Yesus ada bersama-sama mereka. Jalan pikiran mereka membuat mereka melupakan Firman yang selama ini Yesus ajarkan. Sehingga bahkan ketika Yesus menemani perjalanan mereka, mereka tidak mengenal-Nya. 

Firman Tuhan menjelaskan, “ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal dia.” Kalau ayat ini dikembalikan ke kehidupan kita, apa yang selama ini mungkin menghalangi pengenalan kita akan Tuhan?

Pada saat kehidupan baik-baik saja, memang mudah untuk kita mengenali Tuhan dan perbuatannya. “Ah, gajiku naik seperti yang aku doakan, ini pasti perbuatan Tuhan, Tuhan sungguh baik!”, begitu misalnya. Atau, “Ini pasti Yesus!”, kata orang lain yang penyakitnya disembuhkan. 

Tapi ketika kondisi sebaliknya, saat keuangan kita dalam masa sulit, saat penyakit tidak juga sembuh, saat orang yang kita kasihi meninggalkan kita, saat apa yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan, apakah kita tetap bisa dan mau mengenali pribadi Tuhan? Apakah kita masih bisa merasakan Tuhan berjalan bersama kita? Apakah kita tetap berjalan bersama Dia di tengah kebingungan kita? Atau justru kita pergi menjauhi Dia dan perkataan-Nya?

Jadi, apa rencanamu? Di saat pengharapanmu seperti sudah berakhir, seperti kedua murid di jalan menuju Emaus itu, Tuhan ingin kita berjalan bersama-Nya dan mendengarkan Dia. Yesus rindu membangkitkan harapanmu. Dia ingin memberikan harapan yang benar di hatimu. Badai kehidupan mungkin membuat fokus kita kepada Allah terguncang, tapi Yesus menunggu kita duduk bersekutu kembali bersama-Nya, mendengarkan Dia, sampai kita kembali memiliki pengenalan yang benar tentang Dia dan segala perbuatan-Nya.

Monday, December 16, 2019

Dorkas: Meneladan Sang “Rusa Kecil”


by Poppy Noviana

Dalam sebuah kesempatan melayani keluarga yang sedang berduka, saya bertemu dengan seorang pria dewasa yang sedang kehilangan ayah dari hidupnya. Maut telah memisahkan mereka dan yang tersisa hanyalah kenangan. Malam itu saya mendengarkan kesaksiannya, yang (ternyata) adalah seorang manajer marketing—dimana beberapa anak buahnya juga datang melayat. Beliau berkata bahwa dirinya yang ada saat ini adalah dampak dari ajaran ayahnya yang selalu mendidiknya untuk hidup disiplin. Hal yang paling membekas dalam memorinya adalah saat sang ayah mengembalikan sepatu yang selalu dilemparkannya—saat tiba di rumah—ke rak sepatu seperti semula. Bentuk kedisiplinan inilah yang menjadi warisan terindah sang ayah, karena benihnya telah berbuah dalam kehidupan pria ini di kantornya—sehingga beliau bisa menjadi seorang manajer di sana.

Mungkin Pearlians pernah mendengar peribahasa, “Gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnnya, manusia mati meninggalkan namanya.” Ya, kematian seseorang selalu membawa dampak bagi yang ditinggalkan. Dampak tersebut bisa berupa jasa-jasa maupun perbuatan baik yang akan dikenang, atau justru perasaan kesal dan kesedihan yang belum terselesaikan atas perbuatan buruk yang dilakukan orang tersebut. Tapi bagaimana jika kematiannya menimbulkan ketidakberdayaan orang yang ditinggalkan?

Well… kira-kira itulah yang dirasakan oleh beberapa wanita yang berduka atas kematian seseorang yang baru saja meninggal. Kisahnya dicatat di Alkitab (Kisah Para Rasul 9:36-43), menandakan bahwa ada peran besar dari orang ini bagi lingkungannya—khususnya di sebuah kota yang bernama Yope—waktu itu.

Namanya Dorkas (alias Tabita). Dalam bahasa Yunani, Dorkas berarti “rusa kecil”. Dia disebut sebagai murid perempuan, seorang wanita yang “selalu berbuat baik” dan pemberi/donatur kepada janda-janda di Yope. Yang menarik adalah, Alkitab menuliskan tiga karakter Dorkas justru setelah kematiannya, dan hal itu menunjukkan bagaimana ia dikenang semasa hidupnya oleh orang-orang yang ditolongnya. Mari kita simak bersama karakter-karakter yang dimaksud:

1. MENJADI MURID
Menjadi seorang murid memerlukan kerendahan hati untuk dikoreksi dan dibentuk—yang bertujuan demi kebaikannya. Artinya, murid yang baik adalah seseorang yang menerima didikan, memperbaharui pemikirannya seturut kebenaran yang diberikan, dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai murid, tentu ada hal-hal yang membuat kita harus melepaskan ego dan menaati Tuhan. Ini bukan perkara mudah—apalagi kalau kita masih ingin hidup sesuka hati sendiri! Oleh karena itu, coba kita pikirkan baik-baik; apakah selama ini kita sudah menjadi seorang murid Kristus yang rela “terbentur dan terbentuk”, atau kita cenderung mementingkan keinginan diri sendiri di atas kehendak Tuhan?

Begitu pula dengan Dorkas. Tidak diceritakan apakah dia pernah merasa lelah untuk membantu para janda di Yope. Mungkin dia merasa mereka hanya menghambat finansialnya (ingat, Dorkas juga memberi sedekah (ayat 36)). Namun satu hal yang pasti, kematiannya membuat para murid di Yope (termasuk para janda di sana) merasa sangat kehilangan. Oleh karenanya, mereka memanggil Petrus untuk membangkitkan Dorkas—sehingga Tuhan menggunakan momen itu untuk menyatakan kemuliaan-Nya di Yope dan banyak orang di sana menjadi percaya kepada Tuhan. Ya, buah dari seorang murid memang belum tentu menghasilkan sesuatu semasa hidupnya; tapi mari kita terus berjuang menjadi murid yang menunjukkan citra Kristus—termasuk dalam hal mengasihi. Karena “semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35).

2. MENJADI SALURAN BERKAT
“Now in Joppa there was a disciple named Tabitha, (which translated into Greek means Dorcas). She was rich in acts of kindness and charity which she continually did.”
(Acts 9:36)

Tentu ini adalah salah satu hal yang paling diinginkan semua orang. Ironisnya, tidak jarang kebaikan kita justru disalahpahami oleh orang lain. Ada yang menilai kita hanya ingin panjat sosial (pansos), menduga bahwa kita ingin memamerkan apa yang kita miliki, atau kita sendiri merasa terpaksa melakukannya demi “status Kekristenan” kita.

Tapi bagaimana dengan Dorkas?

Meskipun tidak diceritakan secara gamblang, namun kita bisa melihat bagaimana Dorkas terus menabur kebaikan dan berbagi hidup kepada para janda yang berkekurangan—termasuk membutuhkan kasih sayang sejak ditinggal oleh para suami mereka. Melalui harta yang dimilikinya, Dorkas menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk memberkati orang lain (misalnya melalui pakaian yang dijahitnya bagi para janda). Kedukaan mereka atas kematian Dorkas menunjukkan bagaimana dia memperhatikan kebutuhan mereka dengan penuh kasih, bukan untuk panjat sosial.

3. MENJADI ORANG YANG SUKA MEMBERI
Melanjutkan poin kedua, menjadi saluran berkat tentu memerlukan kerelaan hati untuk memberi apapun yang bisa kita berikan pada orang lain. Dalam hal ini saya belajar dari Dorkas yang berempati kepada para janda yang menginginkan kehidupan yang lebih baik. Salah satu bukti nyatanya adalah melalui pakaian yang dijahitkan Dorkas. Kalau Pearlians pernah melihat Spongebob Squarepants, ada salah satu episode dimana Spongebob menginginkan sweater dengan cinta dari sang nenek di setiap rajutannya. Mungkin itu pula yang dilakukan Dorkas: dia menjahit dengan sepenuh hati bagi para janda itu.

Proses menjahit itu tidak mudah. Biaya materialnya juga tidak murah. Belum lagi ketelitian dan kesabaran selama prosesnya. Plus, pakaian-pakaian itu ditujukan bagi para janda (bukan satu janda saja!). Well, ketika kita memberi, pemberian itu membawa pesan: extending the grace of God to others brings Him glory.

Seperti Dorkas yang memberikan hidupnya untuk melayani para janda di Yope, mari kita juga mulai belajar memberi dengan penuh kerelaan bagi orang lain yang membutuhkan. Pemberian itu tidak selalu harus berupa sumbangan dana dalam jumlah besar, tapi kita bisa memberi melalui apa yang kita miliki (baca: tanpa berutang demi pujian mereka). Lagipula, tujuan pemberian kita seharusnya bertujuan untuk memuliakan Tuhan. Yaps, bukan hal yang mudah untuk meneladan Dorkas di dalam dunia yang menggaungkan kehidupan serba instan, busy, fast, dan selfish ini. Namun apakah Tuhan menghendaki kita mengikuti ajaran duniawi tersebut? Jika ya, lalu apa gunanya Dia mengurbankan diri-Nya untuk menebus dosa-dosa kita?

Tuhan tahu bahwa kita tidak sanggup berjuang sendirian dalam menjalani peran kita sebagai saluran berkat. Karena itu, dia berkata:

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”
(Yohanes 15:3)

Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk terus memiliki kerinduan hidup di dalam Pokok Anggur yang benar, sehingga kita dapat menjadi “rusa kecil” yang menarik perhatian orang lain untuk memandang kepada Sang Pencipta yang mengasihinya.

“True humility and fear of the Lord lead to riches, honor, and long life.”
(Proverbs 22:4 NLT)

Monday, November 25, 2019

Elisabet: Mengasihi dan Mengenal Allah dalam Penantian dan Mukjizat


by Poppy Noviana

Pernahkah kamu mengalami mukjizat yang sebelumnya tidak terbayangkan? Sudah? Atau belum? Alkitab dipenuhi kisah-kisah tentang mukjizat. Kali ini kita akan membahas tentang Elisabet, seorang wanita yang menerima mukjizat dari Allah. Elisabet istri Zakharia, dikenal sebagai wanita mandul. Ia tidak memiliki keturunan sampai usia tuanya. Pada masa itu, kemandulan adalah aib bagi seorang wanita. Bayangkan bagaimana perasaan Elisabet. Pasti ada masa-masa dia merasa gagal sebagai wanita. Pasti ada masa-masa dia harus menghadapi penghakiman dari masyarakat. Yuk, kita belajar dari kehidupan Elisabet.

1. MUKJIZAT BERAWAL DARI KEMUSTAHILAN
Setiap mukjizat yang diceritakan di Alkitab, pasti berawal dari sebuah kemustahilan. Kemustahilan adalah ruang untuk Tuhan bekerja, if you let go and let God in yours. Mukjizat Elisabet dan Zakharia juga berawal dari kemustahilan, yaitu kemandulan.

Tapi sebenarnya, kemustahilan hanya ada dalam kamus manusia. Di kamus Tuhan, kemustahilan tidak pernah ada.

Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.
(Lukas 1:37)

Tuhan mampu memutarbalikkan keadaan dengan cara apapun yang Ia berkenan. Pertanyaannya adakah Ia menemukan iman yang menggerakkan mukjizat? Atau pilih meragu saja, seperti kisah Zakharia, suami Elisabet, yang abai terhadap pribadi Allah yang Maha Kuasa dan memilih untuk meragukan-Nya? Begini respon Zakharia terhadap malaikat yang memberitahu janji mukjizat dari Allah,

Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya. Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.
(Lukas 1:18-20)

Namun, bahkan ketika Zakharia tidak sepenuhnya percaya, kehendak Tuhan untuk memberinya keturunan tidak kemudian batal, meski tetap ada harga yang harus dibayar Zakharia sampai mukjizat Tuhan menjadi nyata. Ia ‘dibisukan’ oleh Allah sampai anak mukjizatnya lahir dari rahim Elisabet.

Kemustahilan tidak menjadi penghalang bagi Tuhan melakukan perbuatan besar dalam hidup kita.

2. MUKJIZAT MEMBANGUN KEHIDUPAN
Tuhan membuat mukjizat sesuai hikmat-Nya. Dia tahu waktu yang tepat dan cara yang tepat untuk memproses anaknya hingga menghasilkan buah. Mukjizat dilakukan untuk menggenapi tujuan Allah dalam hidup orang percaya, bukan sekedar membuat kita bahagia. Itulah kenapa, mukjizat bukan satu-satunya hal yang penting, juga bukan tujuan akhir. 

Apakah dalam perjalanan menuju mukjizat karaktermu diubah? Apakah setelah menerima mukjizat, pengenalanmu akan Tuhan makin bertambah? Elisabet mengimani dengan pasti, bahwa kehamilannya adalah anugerah Tuhan, dan Ia berani menyaksikannya.

"Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang."
(Lukas 1:24)

Iman Elisabeth ini muncul pada kesempatan lain ketika Ia dikunjungi oleh Maria. 

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
(Lukas 1:39-44)

Lihat bagaimana sekarang Elisabeth bisa mempercayai Allah dengan lebih mudah. Hanya dengan lonjakan bayi yang ia rasakan di rahimnya karena salam Maria, ia percaya di rahim Maria adalah Tuhan-Nya.

Mujizat yang dilakukan Tuhan dalam hidup Elisabet memberinya pengertian baru tentang iman kepada Allah,

“Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”
(Lukas 1:45)

3. MUKJIZAT BUKAN SEGALANYA
Mukjizat Elisabet dan Zakharia juga harus melalui proses yang tidak sebentar. 

"Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.”

Pasangan ini berdoa sekian lama, sampai pada satu titik mereka tidak lagi terlalu berharap. Tapi apakah dengan berkurangnya keinginan mereka akan mukjizat, cinta mereka pada Allah ikut berkurang? Alkitab mencatat dengan jelas,

Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.
(Lukas 1:6-7)

Diberi mukjizat atau tidak, Elisabet dan suaminya tetap hidup benar. Mereka tetap melayani Tuhan. Mereka tidak menjauh dari Tuhan disaat mukjizat belum terlihat mata. Pasangan ini menyadari bahwa mengasihi Allah tidak terbatas pada melihat perbuatan tangan-Nya, tapi juga pengenalan akan pribadi Tuhan dan tetap setia melayani-Nya. 


***

Jadi, jika orang-orang yang ada di sekitar kita sudah menerima mukjizat sedangkan kita belum, atau bahkan tidak sama sekali, jangan berkecil hati. Tuhan tetap baik dan rencana-Nya tetap sempurna. Dalam masa penantian seperti ini, penting untuk tetap punya sikap hati yang percaya dan berserah penuh, sebab disitulah terdapat kekuatan besar yang memampukan kita menghadapi situasi yang sama dengan cara pandang yang berbeda. Berdoalah untuk hikmat dari Tuhan agar kita dapat memahami situasi dengan baik, dan mengerti tujuan Tuhan sampai kita berhasil melaluinya. Jadilah seperti Elisabet, yang tetap setia mengasihi Allah, bahkan ketika mukjizat belum terjadi dalam hidupnya.