Monday, October 7, 2019

Marta: Wanita Biasa Dengan Iman Yang Luar Biasa


by Glory Ekasari

Bagi saya, sangat disayangkan bahwa Marta hanya terkenal sebagai “saudarinya Maria, yang sibuk sekali melayani Tuhan sampai tidak sempat mendengarkan Tuhan”, karena sebenarnya wanita ini luar biasa. Dia tidak sering disebutkan dalam Injil, namun ketika muncul cerita tentang dia, selalu ada sesuatu yang bisa kita pelajari.

Cerita tentang Marta ada di dua tempat: Lukas 10 dan Yohanes 11. Dari dua kisah itu, kita bisa melihat, orang seperti apakah Marta ini.

Dalam kisah yang pertama, dikatakan bahwa Marta “menerima Yesus di dalam rumahnya” (Lukas 10:38). Marta membuka pintu rumahnya bagi Yesus dan murid-murid-Nya, yang sedang dalam perjalanan. Kalau Yesus membawa hanya rasul-rasul-Nya saja, maka ada tiga belas orang dewasa yang kelelahan setelah perjalanan, kemungkinan besar lapar, dan perlu ruang untuk istirahat.

(Marta) mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”
(Lukas 10:39-42)

Kita mungkin mencela Marta karena kerepotannya. Tapi mari pikirkan, bukankah Marta menjadi tuan rumah yang baik? Bukankah Marta melakukan apa yang semestinya? Mengapa Tuhan Yesus menegur dia, dan “membela” Maria?

Ini adalah penyakit banyak wanita: kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara. Sebenarnya wanita punya naluri untuk menata dan merawat, hanya saja kadang kita tidak tahu kapan harus merasa cukup. Marta, dengan pembawaannya yang dominan dan teliti, frustasi karena begitu banyak hal yang harus diurus dan hal-hal tidak berjalan sesuai keinginannya. Ketika dia melihat Maria tidak membantu dan malah ngobrol dengan tamu-tamu mereka, Marta menjadi jengkel. Bukankah kita juga sering menjadi marah atau jengkel saat melihat orang lain tidak terbeban untuk ikut mengerjakan apa yang sedang kita kerjakan (dengan repotnya)? Kejengkelan Marta sangat manusiawi. Tuhan Yesus, memahami bahwa niat Marta baik, dan Ia menegurnya dengan lembut.

Dua hal yang Tuhan katakan tentang Marta. Pertama, dia kuatir. Dia kuatir tamu-tamunya akan kekurangan ini itu: kurang nyaman, kurang makanan, dsb. Mirip dengan kita ketika kita menguatirkan apa kata orang, apa jadinya bila tidak ada kita, apa bisa anak kita melakukan segala sesuatu sendiri, dsb. Kekuatiran ini membawa kepada hal yang kedua: Marta menyusahkan diri dengan banyak perkara. Ia sibuk ke sana-sini, mengurus ini itu, hal-hal yang sebenarnya bahkan tidak diminta oleh para tamunya. Ah, ini sih ibu-ibu banget: merepotkan diri dengan banyak perkara, lalu akhirnya capek sendiri, dan jengkel pada semua orang.

“Hanya satu yang perlu,” kata Tuhan Yesus. Seringkali kita, seperti Marta, repot dengan banyak perkara sampai kita mengabaikan yang terpenting. Ketika kita hendak bertemu Tuhan, yang terpenting bukanlah pakaian kita, atau make up kita, atau AC gereja, atau volume speaker, atau kursi yang berderet rapi. Yang terpenting adalah hati yang siap berjumpa dengan Yesus. Ketika suami pulang ke rumah, dia tidak akan menginspeksi kebersihan tiap kamar, anak-anak sudah rapi atau belum, bahkan banyak suami tidak pusing ada makanan atau tidak (tinggal pesan online, say); yang dia inginkan adalah bertemu dan ngobrol dengan isterinya. Ketika saya masih kecil, saat saya pulang dari sekolah, saya tidak peduli apakah rumah berantakan atau tidak, ada makan siang atau tidak; saya hanya ingin bertemu mama.

Tanpa kita sadari, kita merepotkan diri dengan banyak perkara sampai kita lupa bahwa yang dicari oleh Tuhan, yang dibutuhkan oleh orang-orang di sekitar kita, bukan apa yang kita sediakan bagi mereka, tetapi diri kita sendiri. Saya yakin, ketika Tuhan Yesus mampir lagi ke rumah Marta, ia tahu bahwa Yesus ingin bertemu dengannya, bukan menikmati fasilitas di rumahnya.

Kisah kedua tentang Marta ada dalam Yohanes 11 tentang Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Waktu membaca kisah ini, dan apa yang Marta katakan kepada Yesus, saya sangat terkesan. Marta dan Maria sudah mengirim kabar kepada Yesus bahwa Lazarus sakit parah, tetapi Yesus tidak kunjung datang sampai akhirnya Lazarus meninggal. Padahal saya yakin Marta dan Maria memanggil Yesus karena mereka tahu Yesus bisa menyembuhkan Lazarus. Seandainya saya jadi mereka, mungkin saat Yesus datang, saya akan menolak menemui Dia karena jengkel dan sedih. Tapi apa yang dikatakan Marta ketika Yesus datang?

Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”
(Yohanes 11:21-22)

Marta tidak kecewa dan menolak Yesus. Dia dengan tegas menyatakan bahwa dia tetap percaya Yesus adalah Yang Datang Dari Allah. Yesus berkata kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit,” dan Marta menjawab, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Dari kalimat itu, kita mengetahui mengapa Marta tidak tenggelam dalam kesedihan: ia tahu bahwa ada kebangkitan orang mati di akhir zaman. Pengharapan ini membawa kekuatan baginya.

Yesus melanjutkan, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” Apa jawab kita seandainya kita yang ditanya hal ini? Mana mungkin seseorang tidak mati selama-lamanya hanya dengan percaya kepada Yesus, seorang rabi Israel? Sulit dipercaya, bukan? Tapi Marta menjawab tanpa ragu, “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

Jawaban yang luar biasa! Seorang wanita, orang biasa, tidak hanya mengerti tentang kebangkitan orang mati di akhir zaman, tetapi juga percaya bahwa Yesus sanggup membangkitkan orang mati - tanpa perlu melihat buktinya! Namun yang tidak disangka oleh Marta, dia akan segera melihat bahwa Yesus sungguh adalah yang berkuasa membangkitkan orang mati. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya: Yesus membangkitkan Lazarus, yang sudah mati selama empat hari. Marta tidak hanya berjumpa secara pribadi dan melihat kuasa Anak Allah, namun juga mendapatkan saudaranya kembali!

Apa respon kita terhadap Tuhan ketika Dia tidak menolong kita pada waktu yang kita harapkan, ketika Dia tidak memenuhi keinginan kita, atau ketika Dia membiarkan kita mengalami sesuatu yang menyakitkan? Masihkah kita, seperti Marta, berkata dengan tegas, “Tuhan, sekarang pun aku percaya”? Apakah kita fokus pada hidup yang di dunia ini saja, atau apakah kita, seperti Marta, punya pengharapan akan pemulihan kekal di masa depan? Marta menjadi teladan bagi kita untuk tidak kecewa kepada Tuhan, karena pada akhirnya, Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu, hidup di dunia ini, dan hidup yang akan datang. Yesus sendiri menegaskan kepada Marta, “Jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah” (Yohanes 11:40).

Marta adalah wanita seperti kita. Sama-sama rempong, sama-sama banyak kuatir, sama-sama mau mengurus segala sesuatu, dan akhirnya capek sendiri. Dalam hal itu dia harus belajar untuk mengerti apa yang terpenting: memberikan dirinya bagi Tuhan. Tetapi Marta juga menjadi teladan bagi kita dalam imannya yang tidak tergoyahkan, karena ia menaruh pengharapannya di tempat yang benar. Biarlah iman Marta juga menjadi iman kita.

Monday, September 30, 2019

Tetap Percaya Hingga Tetes Terakhir



by Tabita Davinia Utomo

Apakah setelah membaca judul di atas, ada yang teringat dengan slogan iklan salah satu merek susu? Hehe… Tenang, di sini kita nggak akan bahas tentang susu, kok (saya tahu bahwa salah satu pergumulan the mommies adalah biaya susu yang melangit). Anyway, bicara soal susu, ada seorang wanita yang menggunakan sebuah cairan—susu juga termasuk cairan, kan—yang dimilikinya hingga tetes terakhir, sebagai bentuk ketaatan imannya pada Tuhan. Namanya memang tidak tercantum di Alkitab, namun tindakannya menunjukkan bahwa dirinya tetap beriman pada Jehova Jireh, Allah yang menyediakan, meskipun sebenarnya dia bisa saja menanggalkan imannya saat itu juga. Well, can you guess who is this woman? Jawabannya ada di dalam 2 Raja-raja 4:1-7.

Dia adalah seorang janda miskin yang kedua anaknya terancam dijadikan pelunas utang.

(1) Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.” (2) Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.” (3) Lalu berkatalah Elisa: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. (4) Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!” (5) Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. (6) Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir. (7) Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.”
(2 Raja-raja 4:1-7)

By the way, kisah tentang janda miskin ini memiliki overview-nya sebagai berikut: 
  1. Sang janda meminta tolong pada Elisa karena anak-anaknya akan dijadikan pelunas utang (ayat 1 | a) 
  2. Sang janda hanya memiliki satu buli-buli minyak (ayat 2 | b) 
  3. Elisa menyuruh sang janda untuk meminta banyak bejana pada tetangganya, menutup pintu setelah dia dan anak-anaknya masuk ke rumah, lalu mengisi semua bejana dengan minyak (ayat 3-4 | c) 
  4. Sang janda menaati Elisa (ayat 5 | c’) 
  5. Minyak berhenti mengalir setelah semua bejana terisi penuh (ayat 6 | b’) 
  6. Elisa menyuruh sang janda menjual minyak yang didapatnya untuk membayar utang sekaligus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya (ayat 7 | a’) 
Tidak diceritakan bagaimana wanita ini bisa menjadi janda, namun kita dapat mengetahui bahwa almarhum suaminya adalah salah satu dari rombongan nabi yang taat kepada Tuhan (ayat 1). Belum pulih dari dukacitanya, penagih utang suaminya datang dan ingin menjadikan anak-anak mereka sebagai budak—untuk melunasi utangnya. Tidak ada yang dimilikinya selain sebuah buli-buli (botol kecil) berisi minyak. Pada zaman itu, seorang janda hampir tidak mungkin menghidupi keluarganya, karena lingkungan yang sangat patriarki dan nyaris semua pekerjaan membutuhkan tenaga pria. Hm, bisa dibayangkan betapa bingung dan sedihnya sang janda, kan? Nggak ada barang di rumahnya selain sebotol minyak (bisa diperkirakan bahwa semua barang yang ada sudah terjual demi melunasi utang)!

Mengetahui keadaan tersebut, Elisa memerintahkan sang janda untuk meminta banyak bejana dari para tetangganya, menutup pintu setelah keluarganya masuk ke rumah, lalu mengisi bejana-bejana itu dengan minyak yang dimilikinya. Tidak dijelaskan juga berapa banyak bejana yang diperoleh sang janda, namun buli-buli yang ukurannya lebih kecil dari bejana itu mampu memenuhi seluruh bejana yang ada di rumahnya. Setelah tidak ada bejana lagi, barulah minyak itu berhenti mengalir (ayat 6). Kemudian saat ditanya apa yang harus dilakukan sang janda terhadap bejana-bejana yang penuh itu, Elisa menjawab, “Juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.” (ayat 7)

Kalau memerhatikan overview di atas, kita akan dibuat nggak habis pikir dengan cara Tuhan yang merangkaikan kisah kehidupan sang janda ini. Kisahnya hanya tercatat sebanyak tujuh ayat; dimulai dari kebingungannya membayar utang, ditutup dengan berlimpahnya minyak yang dimiliki sehingga dia dapat menjual semuanya untuk melunasi utang—bahkan sisanya bisa memenuhi kebutuhannya! Inilah uniknya Alkitab, Pearlians, yang menceritakan kepada kita bagaimana Tuhan berkarya dengan luar biasa melalui hal-hal yang sering kita anggap sederhana.

…dan cara-Nya yang tidak terduga juga bisa terjadi dalam hidup kita masing-masing.

Sebagai manusia, entah berapa kali kita memiliki harapan bahwa Tuhan akan menyelesaikan semua permasalahan kita dengan cara yang kita mau; tanpa peduli bahwa Dia punya rencana tersendiri—yang membawa kita ke level iman yang lebih tinggi. Ini juga yang dialami sang janda miskin yang meminta pertolongan pada Elisa. Kalau menurut logika, mana mungkin minyak yang hanya satu botol kecil itu memenuhi banyak bejana? Iya, memang nggak akan bisa kalau bukan karena Tuhan yang turut campur dalam kehidupan wanita itu, kan?

Mungkin saat ini ada banyak pergumulan yang kita hadapi, bahkan rasanya semua pintu telah tertutup dan terkunci. Mau didobrak sekeras apapun, pintu-pintu itu tetap tidak akan terbuka…

…tapi apakah kita telah bertanya pada Tuhan, pintu mana yang seharusnya kita lewati?

Kalau dibandingkan dengan semua bejana permasalahan kita, rasanya kita hanya sekecil buli-buli minyak itu, Pearlians. Tapi seperti sang janda yang berserah kepada Tuhan hingga tetes terakhir minyaknya, iman kita kepada-Nyalah yang mendorong kita untuk melalui pergumulan-pergumulan itu bersama-Nya. Hari ini kita akan menganggap kalimat ini klise, namun “suatu hari nanti, ketika kita menoleh ke belakang, kita akan terkagum dengan cara Tuhan yang tetap mengasihi dan menopang kita hingga tetes terakhir iman kita kepada-Nya.”

Apakah Pearlians mendengar suara Tuhan yang memanggil kita?
Dia memanggil kita dan bertanya,
“Anak-anak-Ku, mana imanmu?
Masihkah kamu tetap ingin percaya kepada-Ku,
dan menyerahkan seluruh kehidupanmu kepada-Ku?
Maukah pengharapanmu yang hancur itu Aku pulihkan lagi,
hingga kelak kamu memuliakan Aku melalui kisah hidupmu yang Kuperbarui?”

Monday, September 23, 2019

Damaris: Menemukan Kebenaran di Kota Para Dewa


by Eunike Santosa

Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.
(Kisah Para Rasul 17:34)

Nama Damaris ini cuma muncul sekali aja di Alkitab, tapi sepertinya seperti bawang bombay, ada banyak lapisan yang bisa kita kupas dan pelajari. Siapalah Damaris ini? Kita tahu sekarang kalau dia itu perempuan. Lah, terus? Kenapa namanya muncul ketika nama wanita biasanya gak terlalu dipeduliin? kok dia bisa ada di tempat dimana isinya orang-orang yang suka diskusi tingkat tinggi? How??

Teman-teman tau Yunani? lebih tepatnya kota Atena? Apa yang terlintas di pikiran teman-teman kalo lagi bayangin kota Atena itu? Hmmm, mungkin kalian akan berpikir tentang kuil-kuil kuno dengan pilar-pilar putih ya? Atau mungkin dewa-dewa yang mereka sembah? Hal ini pula yang dilihat Paulus ketika dia tiba di Atena. Dalam Kisah Para Rasul 17:16 ditulis bahwa Paulus sangat sedih hati karena ia melihat kota itu penuh dengan patung-patung berhala. 

Saat itu Paulus sedang dalam mission trip dia yang kedua. (Coba buka peta di bagian belakang Alkitab kalian deh, seru liatnya. Hehe…) Jadi dari Israel, Paulus lanjut ke Turki, sebelum akhirnya dia pergi ke Yunani. Perjalanan Paulus di daerah Yunani dimulai dari Makedonia, lalu Filipi, pindah ke Tesalonika, lalu ke Berea, sebelum akhirnya ke Atena. Berhubung di Berea banyak orang yang percaya kepada Kristus dan mereka perlu dimuridkan, Silas dan Timotius (teman seperjalanan Paulus) tinggal di sana sebentar, sementara Paulus harus pindah ke Atena karena ada masalah. Temen-temen bisa baca kisahnya dalam Kisah Para Rasul 16-17. 

Jadi, sambil nungguin Silas dan Timotius menyusul ke Atena, Paulus solo travelling deh, di kota bersejarah ini. Di situ, Paulus bertemu dengan banyak orang-orang yang punya hobi unik: berpikir! Atena adalah rumah para filsuf. Diskusi tentang ide-ide dan ajaran-ajaran terbaru adalah hobinya orang Atena. Buktinya, di kota ini Paulus kudu diskusi dengan setidaknya empat golongan orang. Yang pertama, orang Yahudi (yang masih menunggu kedatangan Mesias), lalu orang-orang yang takut akan Allah (mereka yang mencari Tuhan, tapi bukan orang Kristen), orang Epikuros (kaum eksistensial: mereka berpikir Tuhan dan semua hal yang tidak bisa dilihat dan dirasa itu tidak ada), dan orang Stoa (kelompok yang percaya bahwa emosi dan perasaan manusia harus dikendalikan sepenuhnya). 

Oke, jadi kota ini isinya orang-orang cerdas lah, sangat intelektual! Dan orang-orang ini hobi banget mendiskusikan pertanyaan klasik: “Apa itu kebenaran?”

Paulus, sebagai pendatang baru, melobi banyak orang di berbagai tempat, bahkan di pasar. Jadi orang-orang mendengar tentang dia dan mereka bertanya-tanya. Kira-kira begini, “Siapa sih orang ini? Kayaknya dia bawa ide baru ya? Coba ah, kita dengerin lebih lagi!” Paulus pun diminta menjelaskan tentang ajarannya di Areopagus, tempat pertemuan para pemimpin di kota itu. Salah satu pembicara favorit gue adalah Ravi Zacharias (cek deh, dia keren lho). Beliau adalah seorang ahli apologetika, seorang filsuf. Nah, ketika gue liat Ravi berkotbah di sebuah universitas dan menantang cara berpikir orang, gue jadi ingat cerita Paulus yang kotbah di Atena ini.

Di tempat istimewa itu, di hadapan orang-orang terkemuka di Atena, Paulus memulai khotbahnya dengan berkata, “Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu” (Kisah Para Rasul 17:22-23).

Dalam ayat 24-31 Paulus menjelaskan bahwa Tuhan yang ilahi itu tidak terbatas oleh manusia, ciptaan-Nya. Allah, sebagai Pencipta, tentu gak punya kebutuhan, karena Dia yang menciptakan. Selanjutnya Paulus menegaskan bahwa sudah datang waktunya buat manusia untuk bertobat, karena Allah sudah memberi tanda dengan cara membangkitkan Yesus dari kematian.

Sampai di sini, apa yang Paulus sampaikan asing banget buat telinga orang Atena, dan mereka langsung hilang interest. Ada yang menertawakan dia, ada yang menganggap dia aneh. Tapi, gak semuanya. Alkitab mencatat bahwa ada yang mau mendengar lebih lanjut. Dalam ayat 34 ditulis bahwa ada orang-orang yang bahkan menjadi percaya. Salah satunya Dionisius, anggota majelis yang ikut sidang di Areopagus itu. Ada juga Damaris, dan orang-orang lain.

Jadi, Damaris adalah…

Seorang wanita. Ini penting—kenapa? Karena di zaman tersebut, wanita dewasa yang sudah menikah adalah homemaker, perannya sebagian besar di rumah mengurus keluarga. Jadi kalo ada cewek di zaman itu muncul di sidang penatua kota, ini cewek pasti something dong? Sesuatunya apa tuh tapi? Ada anggapan bahwa Damaris ini adalah seorang hetaera yaitu seorang escort, atau wanita pendamping pria-pria kelas atas; dengan kata lain, dia bukan perempuan baik-baik. Mungkin dia adalah pasangan dari salah satu anggota majelis yang berkumpul di Areopagus itu.

Tapi bukan cuma itu aja. Keberadaan Damaris di situ juga adalah tanda bahwa dia seorang pemikir, orang yang intelektual dan paham tentang filosofi. Tentunya dia sudah banyak dengar tentang berbagai macam filosofi dan jalan kebenaran dari berbagai macam agama. Kali ini dia mendengar apa yang disampaikan Paulus, dan akhirnya dia percaya kepada Yesus.

Lukas menulis Kisah Para Rasul dalam bentuk surat kepada Teofilus (yang pastinya dibacain ke banyak orang lain juga pada saat itu). Nama Damaris ini dicantumkan di dalamnya, tandanya dia dikenal. Gereja di Atena tidak berkembang pesat, tapi ada gereja di sana, buah dari pelayanan Paulus. Pada zaman para rasul, Damaris tentunya adalah orang yang terkenal di gereja di Atena, orang yang berpengaruh besar di keluarga Allah dalam jemaat Atena semenjak dia menjadi orang Kristen.

Seru yah? Damaris pasti gak menyangka, dirinya yang suka denger-denger dan diskusi soal filosofi, akhirnya malah bertemu dengan kebenaran. Dan bukan cuma mendengar, tetapi dia menjadi percaya. Dalam Yohanes 14:16-17 Tuhan Yesus berkata, seorang Penolong, yaitu Roh Kebenaran, akan diberikan. Saya percaya Roh Kebenaran ini telah menuntun hati Damaris yang sudah banyak dengerin ide-ide manusia dan akhirnya menemukan kebenaran itu sendiri:

Allah yang hidup, Allah Pencipta, Allah yang ingin manusia mencari dan menemukan diri-Nya—walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing.
(Kisah Para Rasul 17:27) 

Damaris mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Keputusan yang mengubah hidupnya, hingga namanya tercatat dalam sejarah kekristenan. Dia melangkah dengan dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak terlihat, yakni dengan iman. 

Bagaimana denganmu? Apakah kamu pernah juga bergumul dengan kebenaran yang sejati? Mungkin kamu dari kecil telah tumbuh di keluarga Kristen; pernahkah kamu mempertanyakan kekristenanmu? Gue pernah! And God found me! Sama seperti Damaris, gue melangkah dengan iman masuk ke suatu perjalanan dan hubungan yang indah bersama Bapa di surga, and I’m never going back! :)

Monday, September 16, 2019

Yoseba: Melakukan Apa Yang Benar


by Glory Ekasari

Nama Yoseba hanya disebutkan satu kali saja sepanjang sejarah Israel dan Yehuda, namun perannya besar dalam sejarah bangsa itu. Dalam keadaan krisis, Yoseba muncul sebagai pahlawan yang pemberani. Kisahnya dituliskan sebagai berikut:

Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, maka bangkitlah ia membinasakan semua keturunan raja. Tetapi Yoseba, anak perempuan raja Yoram, saudara perempuan Ahazia, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu, memasukkan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur, dan menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga dia tidak dibunuh.
(2 Raja-raja 11:1-2)

Ketika Ahazia—raja Yehuda—meninggal dunia, ibunya yang bernama Atalya berambisi menjadi penguasa atas kerajaan tersebut. Ia melakukannya dengan cara membunuh semua ahli waris Ahazia, sehingga tidak ada orang dari garis keturunan kerajaan yang bisa naik takhta selain dirinya. Yoseba adalah anak (atau anak tiri) dari Atalya; tapi dia tidak tinggal diam melihat perbuatan ibunya. Ia mengambil Yoas bin Ahazia, keponakannya, dan menyembunyikan anak itu selama enam tahun.

Sekilas begitu saja yang dilakukan Yoseba. Apa yang istimewa?

Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa apa yang dilakukan Yoseba sangat berbahaya bagi nyawanya sendiri. Atalya adalah wanita yang haus kekuasaan dan tega membunuh anak cucunya sendiri demi menjadi raja. Kalau dia sampai tahu apa yang dilakukan Yoseba, pasti Yoseba pun ikut dibunuhnya. Tetapi Yoseba tetap mengambil resiko dituduh sebagai pemberontak dan ikut dibunuh, demi menyelamatkan ahli waris takhta yang sah. Mengapa? Karena hal itu adalah tindakan yang benar.

Kedua, sebenarnya bila Yoseba memihak kepada Atalya dalam pemberontakan itu dan membiarkan Atalya membunuh semua ahli waris raja Ahazia, dia akan menikmati hidup sebagai anggota kerajaan yang bergelimang kenyamanan dan kemewahan. Posisinya aman sebagai seorang putri, yang tidak dianggap mengancam kedudukan Atalya. Tetapi Yoseba tidak tergiur dengan tawaran tersebut, dan malah menyelamatkan Yoas yang masih bayi. Mengapa? Karena hal itu adalah tindakan yang benar.

Di dunia ini, orang-orang cenderung mencari apa yang aman, nyaman, dan menguntungkan diri mereka sendiri. Jika demikian, lalu mengapa harus ambil resiko membahayakan atau merugikan diri sendiri? Mengapa harus jujur di tengah-tengah dunia kerja yang corrupt? Mengapa harus berbuat baik kepada orang yang menyakiti kita? Mengapa harus tulus kepada orang yang gak pernah membalas kebaikan kita? Mengapa?

Sederhana saja: Karena itu semua adalah tindakan yang benar untuk dilakukan.

Setiap harinya, kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan. Masa depan kita adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita buat hari ini. Kita punya 1.001 alasan untuk tidak melakukan apa yang benar, dan hanya satu alasan untuk melakukan apa yang benar: because that's the right thing to do. Oleh karena itu, hidup kita akan bermakna—atau sekedar berlalu—tergantung dari keputusan kita.

Kita diingat karena tindakan kita.

Apa yang membuat Yoseba melakukan apa yang benar, dan apa yang harus jadi motivasi kita untuk juga melakukannya? Karena Tuhan itu ada, dan Dia membalas orang sesuai perbuatannya. Tuhan memperhatikan hidup kita, dan kita mau didapati benar di mata Tuhan, sekalipun itu berarti kita salah di mata orang lain. Kita mau didapati benar di mata Tuhan, meski diri sendiri yang kita korbankan. Pada akhirnya, kita toh harus menghadap Tuhan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita; kita tidak menghadap orang tua kita, rekan kerja kita, pasangan kita, atau orang lain. We can't afford to be wrong in the eyes of the Lord.

Yoseba menjadi teladan bagi kita untuk melakukan apa yang benar, seberapapun risiko dan terganggunya kenyamanan kita. Karena tindakan Yoseba, seorang raja diselamatkan dari pembunuhan, dan sebuah kerajaan diselamatkan dari ratu yang keji. Namanya dikenang selalu karena satu tindakan yang dilakukannya adalah benar di mata Allah. So, biarlah kita melakukan apa yang benar dalam segala aktivitas kita hari ini. Cheers!

Monday, September 9, 2019

Safira: Pengaruh Seorang Istri


by Alphaomega Pulcherima Rambang


Kisah Safira bisa kita baca di Kisah Para Rasul 5:1-11. Ada tiga ayat yang menjadi perhatian kita kali ini.

Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
(Kisah Para Rasul 5:2)

Kata Petrus kepadanya: "Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?" Jawab perempuan itu: "Betul sekian." Kata Petrus: "Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga keluar."
(Kisah Para Rasul 5:8-9)

Melalui kisah Safira, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari. 
1. Tidak bersepakat dalam hal dosa dengan suami.
Suami isteri diharapkan sehati sepikir tapi TIDAK DALAM DOSA. Kalau ada yang menyimpang, suami/istri tetap harus mengingatkan pasangannya lalu melakukan hal yang benar! 
2. Pentingnya memberikan pengaruh positif untuk suami dan mau mengingatkan. 
Tidak seperti Safira yang tahu perbuatan Ananias suaminya lalu mendiamkannya, sebagai isteri, kita harus mau dan mampu memengaruhi suami untuk melakukan yang benar. 

***

Jauh lebih dari yang disadari, setiap istri memiliki pengaruh terhadap suami. Pertanyaannya, pengaruh macam apa yang diberikan kepada suami? Jangan-jangan kita telah menjadi Safira zaman now. Ananias berbohong dengan sepengetahuan Safira, bahkan dikatakan kalau mereka berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan. Alkitab tidak mencatat siapa yang memunculkan ide ini pertama kali, entah Ananias atau Safira. TAPIIII…. akibat dosa ini ditanggung oleh mereka bersama. Seandainya Safira memengaruhi suaminya untuk membohongi Petrus dan para rasul yang lain, berarti dia telah berhasil memengaruhi suaminya secara negatif. Tapi, kalau ide ini berasal dari Ananias berarti Safira gagal memengaruhi suaminya untuk melakukan yang benar. Seorang wanita punya kekuatan memengaruhi orang-orang di sekelilingnya, disadari atau tidak. Sayang sekali kalau sebagai seorang wanita kita gagal menggunakan pengaruh yang dimilikinya secara optimal. 

Mengubah seorang suami dan memengaruhi seorang suami adalah dua hal yang berbeda. Sewaktu kita ingin mengubah seorang pria, berarti kita ingin suami berubah, tidak peduli apakah perubahan itu sebenarnya bukan hal yang diinginkan suami. Istri lah yang mengambil inisiatif dan sibuk melakukan segala sesuatu dan menuntut suaminya berubah, entah dengan kata-kata, intimidasi, tindakan, dll. Sementara memengaruhi berarti istri sibuk mengubah dirinya sendiri sambil berdoa dan berharap perubahannya juga memotivasi suaminya untuk berubah. Kalau begini, fokusnya bukan perubahan suami, tapi diri sendiri. Perubahan itu dirasakan suami sehingga suami berinisiatif mengubah dirinya. 

Sebagai seorang istri, Tuhan ingin membentuk para wanita menjadi lebih mengasihi, lebih bermurah hati, dan penuh kasih karunia melalui kekurangan yang dimiliki suami. Setiap wanita punya suami dengan tipe yang berbeda, kesamaan para suami tersebut adalah sama-sama tidak sempurna. Bagian seorang istri adalah memengaruhi suami dengan menumbuhkan atmosfer yang mendukung suami untuk mengubah kebiasaan dan karakternya tanpa memaksa dan menuntut suami berubah. 

Dalam sebuah grup pembinaan para istri yang saya ikuti, pernah dibahas mengenai 2 (dua) kubu ekstrim mengenai tipe para istri: 
  1. Takut konflik, banyak diam, tidak mau menegur, tidak mau mengingatkan dosa dan kesalahan suami. 
  2. Berani bicara, frontal, tapi kurang respek dan penghormatan pada suami. 
Kedua tipe ini sama-sama tidak akan bisa membuat perubahan yang mereka harapkan. 

***

Kamu tipe yang mana? Terkadang aku jadi tipe yang pertama, kadang jadi tipe yang kedua. Karena malas konflik, aku malas menegur suami, mending diam aja deh. Terkadang aku ngomong, tapi kasar atau nyinyir. Akibatnya sama, suami tidak mau berubah karena merasa pride-nya sebagai suami disinggung. Aku harus belajar untuk berani ngomong, dengan respek dan dengan sikap hati yang benar. Suami bisa merasakan lho kalau kita tidak menaruh respek. Suami tidak akan berubah karena sindiran. Kalau tidak percaya, coba saja. Suami bisa merasakan kalau spirit istri tidak benar. Ini tidak akan memotivasi suami untuk berubah.

Kalau rindu suami baca Firman Tuhan tiap hari, jangan ngomong, “Bang, bacalah Alkitab tu, malas kali kau baca Alkitab sekarang! Kerjaan kok cuma lihatin HP!”. Dijamin, suami sulit berubah. Kalau mau suami berubah maka kita harus doakan hal ini setiap hari dan mulai bertindak selaras dengan Firman Tuhan yang kita baca. Bukan sekedar saat kita baca Firman Tuhan yang perlu dilihat suami, tetapi hidup kita yang terus diubahkan firman pun harus terlihat suami. Mulai ceritakan firman Tuhan yang kita baca. Walaupun suami belum tertarik membaca Alkitab secara rutin, paling tidak dia ikut tahu kebenaran firman Tuhan yang dibaca istri. Cara ini tentu tidak akan membuat suami merasa dirongrong untuk baca Alkitab. Kalau dipaksa, suami kesal, istri pun kesal, kan? Mau? :D

Kalau minta tolong suami mengerjakan sesuatu dan tidak langsung dia kerjakan, para istri tentu tidak suka. Yang aku lakukan kalau terjadi seperti ini dulunya adalah mengerjakan sendiri sambil mengomel. Akibatnya suami pun ikut tidak nyaman. Padahal, suami sedang mengerjakan hal lain, yang membuatnya menunda melakukan yang aku minta. Saat membicarakan hal ini dengan suamiku, ketahuan kalau dia kesal dengan caraku meminta dia melakukan sesuatu. Menurut dia, caraku terkesan bossy, harus sekarang juga, tidak peduli suami lagi ngapain. Karena caraku, suamiku tidak termotivasi dan justru malas-malasan. Sekarang? Aku belajar meminta tolong dengan manis. Walaupun tidak langsung dikerjakan, aku belajar bersabar. Kalau suami lupa? Ya sudah, aku ingatkan. Kalau masih belum juga dikerjakan? No ngambek pokoknya! Aku berusaha kerjakan sendiri sebisaku tanpa ngomel. Berat sih. Mulut ini pengen ngomel sebenarnya, tapi aku belajar mengendalikan mulut mungilku ini. Dan yang terpenting juga, perlu banget belajar menghargai apa yang dilakukan suami, perubahan sekecil apapun perlu diapresiasi. Kiss suami, buatkan makanan yang disukainya, pijat, dan jangan lupa ucapkan terima kasih untuk yang dilakukannya.

Gary Thomas dalam bukunya Sacred Influence berkata, ”Banyak pernikahan hancur secara perlahan-lahan karena adanya sikap apatis selama bertahun-tahun.” Gak boleh lagi mikir, "Ya sudahlah, daripada ribut, mending diam aja, suami emang gitu orangnya". Diam seringkali bukan jalan keluar. Bicara lebih baik. Tapi tentu saja bicara bukan dengan emosi. Harus sadar diri dan koreksi diri, jangan-jangan sikapku yang memancing reaksi suami seperti itu. Stop sok mengampuni dan menganggap masalah tidak ada. Segala sesuatu harus dibicarakan. Saat dibicarakan, belajarlah untuk tidak mengabaikan teguran atau kekecewaan suami, kita pun harus berusaha berubah.

Setiap istri dianugerahi suami yang berbeda tapi sama: sama-sama tidak sempurna. Sebagai istri tentunya kita memahami kekurangan suami dan tahu apa yang paling akan dibutuhkannya untuk bertumbuh. Yuk, kita ciptakan atmosfer yang memotivasi suami terkasih kita menjadi dirinya yang terbaik, pria sejati yang dirancang Allah.

Monday, September 2, 2019

Ratu Syeba: Kesaksian Hikmat


by Poppy Noviana

Berawal dari kabar tentang seorang raja yang hikmat dan kemasyhurannya luar biasa, seorang ratu dari negeri selatan rela jauh-jauh datang untuk melihatnya secara langsung. Ratu ini adalah ratu dari Syeba, pemimpin sebuah negara yang kaya raya, dan merupakan orang yang berpengaruh dalam hubungan dagang di jalur darat dan laut. Menurut Alkitab Edisi Studi, kerajaannya diperkirakan berada di selatan jazirah Arab, sangat jauh dari Israel. Kisah pertemuan ratu Syeba dengan raja Salomo ini dilatarbelakangi kondisi politik zaman itu, dimana pertukaran kekayaan antar raja merupakan tanda hubungan diplomatik dan perdamaian untuk kelancaran kerjasama bilateral ke depannya. Itulah mengapa ratu Syeba datang dengan membawa banyak hadiah yang berharga. Kisah ini dicatat dalam 2 Tawarikh 9:1-12 dan teks paralelnya, 1 Raja-Raja 10:1-29.

// RATU YANG MENGEJAR HIKMAT
Nama ratu Syeba juga dikutip oleh Tuhan Yesus saat Ia menjawab pertanyaan ahli Taurat dan orang Farisi tentang tanda kedatangan Mesias.

“Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!”
(Matius 12:42)

Negeri Syeba bukanlah negeri yang kecil. Ia adalah salah satu kekuatan ekonomi terbesar pada masa itu. Seorang pemimpin bangsa sebesar itu pastilah sangat rendah hati dan haus belajar bila ia masih mau menempuh perjalanan demikian jauh dan sulit hanya untuk bertemu raja Salomo. Ia tidak berpikir, “Ah, mestinya raja-raja lain yang datang menghadap saya!” Ratu ini menghargai hikmat dan mencarinya dengan segenap hati, sebuah kualitas dan sikap hati yang tidak dimiliki oleh banyak orang. Ini kontras sekali dengan sikap bangsa Israel pada zaman Yesus, yang dengan bangga menyatakan, “Kami adalah anak-anak Abraham,” seolah-olah garis keturunan itu saja sudah cukup untuk membuat mereka lebih dari bangsa-bangsa lain.

Seringkali kita pun merasa sudah cukup dengan apa yang kita miliki, dan tidak mau mengembangkan diri lebih lagi. Kita perlu belajar dari ratu Syeba yang bijaksana, yang menyadari bahwa masih ada yang bisa dikembangkan dari dirinya, yang rela bersusah-payah menempuh perjalanan dan membawa banyak hadiah untuk mendengar hikmat Salomo. Adakah kerinduan kita untuk mengerti firman Tuhan lebih lagi, belajar dari orang lain lebih lagi, mengembangkan diri kita lebih lagi? Relakah kita untuk bayar harga demi mengasah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik, atau apakah kita merasa cukup dan tidak perlu berkembang? Apabila kita ingin dipuji juga oleh Tuhan Yesus, kita harus ingat, Tuhan menghargai orang-orang yang rindu mendalami hikmat-Nya lebih lagi.

// RAJA YANG MENJADI KESAKSIAN
Ketika bertemu dengan raja Salomo, ratu Syeba mengujinya dengan teka-teki dan berbagai pertanyaan. Semua pertanyaan itu dijawab dengan baik oleh raja Salomo, sebagai bukti hikmatnya yang luar biasa. Ratu itu juga melihat bagaimana Salomo mengatur kerajaannya, kecerdasannya dalam arsitektur dan teknik, ketaatannya dalam beribadah kepada Allah, bahkan tata krama para pegawai istananya. Itu semua membuat sang ratu tercengang dan memuji Allah.

“Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta-Nya sebagai raja untuk TUHAN, Allahmu! Karena Allahmu mengasihi orang Israel, maka Ia menetapkan mereka untuk selama-lamanya, dan menjadikan engkau raja atas mereka untuk melakukan keadilan dan kebenaran.”
(2 Tawarikh 9:8)

Ketika sang ratu melihat sendiri raja yang dipilih Allah bagi Israel, ia memuji kebesaran Allah. Bila Salomo dipuji oleh rakyatnya, itu bukan hal yang istimewa, karena ia jauh di atas mereka. Tapi bila seorang ratu dari kerajaan yang tidak kalah luar biasanya yang memuji dia, pujian itu tentu sangat bernilai. Kita mungkin bukan Salomo, dan hikmat kita tidak seperti Salomo. Namun dari kisah ini kita patut introspeksi diri: ketika orang lain memperhatikan hidup kita, apa yang mereka lihat? Apa yang mereka dengar tentang kita? Manusia tidak bisa melihat hati, seperti Tuhan melihat hati; mereka hanya bisa menceritakan apa yang mereka lihat dan alami sendiri. Apakah orang mendengar bahwa hidup kita begitu baik, begitu terpuji? Apakah ketika mereka melihat sendiri kehidupan kita, mereka akan berkata tentang kita, seperti yang dikatakan ratu Syeba: “Sungguh, setengah dari hikmatmu yang besar itu belum diberitahukan kepadaku; engkau melebihi kabar yang kudengar” (2 Tawarikh 9:6) dan memuji Allah kita?

Semua yang disaksikan ratu Syeba di kerajaan Salomo bukan merupakan sebuah penampilan yang dibuat-buat; itu semua adalah kehidupan mereka sehari-hari. Raja Salomo tidak mungkin punya waktu untuk berpura-pura di hadapan tamunya. Kualitas yang dilihat oleh ratu Syeba merupakan hasil dari kebiasaan yang dibangun dalam jangka waktu lama, dengan konsistensi dan komitmen yang kuat. Sebagai seorang ratu, tentu ratu Syeba melihat hal itu. Sehingga ia tidak segan menghujani raja Salomo dengan berbagai-bagai hadiah yang mewah.

Lalu diberikan kepada raja seratus dua puluh talenta emas (cttn. ed.: lebih dari empat ton), dan sangat banyak rempah-rempah dan batu permata yang mahal-mahal; tidak pernah lagi ada rempah-rempah seperti yang diberikan ratu negeri Syeba kepada raja Salomo itu.
(2 Tawarikh 9:9)

Bila Tuhan memakai Salomo untuk menunjukkan kebesaran-Nya kepada bangsa-bangsa lain, Tuhan juga memakai kita menjadi saksi-Nya bagi dunia di sekeliling kita, di manapun kita ditempatkan. Kita hidup di masa yang berbeda dengan Salomo, tetapi kita tetap memegang prinsip-prinsip firman Tuhan yang sama dalam gaya hidup kita sekarang ini. Apabila sikap kita baik, hidup kita menjadi kesaksian yang positif, dan kualitas hidup kita terpuji, tentunya orang lain ingin melihat lebih dekat, siapa Tuhan yang menjadi sandaran hidup kita. Biarlah hidup kita menjadi kesaksian yang baik, sehingga Tuhan bekerja ketika orang lain melihat hidup kita.

Monday, August 26, 2019

Memberi dari Kekurangan Tanpa Takut Kekurangan


by Alphaomega Pulcherima Rambang

Kali ini, kita akan belajar dari seorang perempuan anonim—tidak diketahui siapa namanya—yang ada di Perjanjian Baru. Sebelumnya, yuk kita baca Markus 21:41-44 dan Lukas 12:1-4. Secara khusus, ada dua ayat yang akan kita soroti; yaitu: 

“Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."
(Lukas 21:4)

Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."
(Markus 12:44)

***

Baik Markus maupun Lukas memberikan kesaksian yang sama tentang janda miskin ini. Ya, dia memberi dari kekurangannya, dan semua yang ada padanya—yaitu seluruh nafkahnya. Artinya, kalau janda ini memberikan persembahan, maka hari itu dia tidak bisa makan. Lah, gimana bisa makan, wong semua yang ada padanya habis.

Ta… tapi… kalau dikurskan ke rupiah, sebenarnya satu peser itu berapa, sih? Kok, kayaknya dikit banget nilainya.

Dalam artikel di sini, dikatakan bahwa 1 dinar (upah kerja sehari) senilai dengan 128 peser. Kalau upah kerja sehari (dalam kurs rupiah) diumpamakan sebesar 30 ribu, maka 30 ribu itu dibagi 128—hasilnya 234 peser. Di atas dinyatakan bahwa janda miskin itu memberi 2 peser; jadi nilai pemberiannya itu setara ±460 rupiah. Itu kalau upah sehari tiga puluh ribu rupiah, lhooo… Kalau nominalnya berbeda, silakan hitung sendiri.

Yang jelas, nilainya kecil sekali, bahkan untuk makan pun sebenarnya gak cukup. Ckckckck… Bayangin, deh. Apa sih, yang dipikirkan janda miskin itu waktu memberikan uangnya!? Kalau aku, yang aku pikirkan adalah: Dia pasti sudah gila! 

Tapi Yesus memujinya.

Iya, janda yang memberi dari kekurangannya ini dipuji Yesus. Well sebenarnya, adalah hal yang mudah kalau kita memberi dari harta yang berlimpah. Tapi kalau buat hidup sehari-hari aja kita kekurangan, apa lagi yang bisa diberikan? Nah, pemberian janda miskin ini menunjukkan kalau dia: 
1) Mempercayai Tuhan sepenuhnya yang akan mencukupkan segala keperluannya
Saat janda miskin ini memberikan segala yang dimilikinya, sepertinya dia tidak mengkuatirkan apa yang akan dia makan nantinya. Seakan-akan dia tahu, dia hidup bukan dari uang yang dimilikinya tapi karena dia tahu Allah lah yang memelihara kehidupannya. Dia telah menyerahkan kekuatirannya kepada Tuhan sepenuhnya. 

2) Mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati
Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
(Matius 6:21)

Seseorang pernah berkata kepada saya: Tunjukkanlah di mana pengeluaran terbesarmu, di situlah hatimu berada. Itulah yang kamu anggap paling penting. Hm, sekarang kita tahu dengan jelas di mana hati janda miskin ini berada, vice versa. Kalau kita mengakui bahwa Tuhan yang bertahta dalam hati kita, maka seharusnya kita juga bersedia memberikan harta yang dimiliki kepada-Nya. Salah satu contoh yang bisa dilakukan adalah memberi bantuan dana ke ladang misi.

***

Oke, sekarang kita tahu bukti iman sang janda miskin kepada Tuhan. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengikuti apa yang dilakukannya itu?

// YOU ARE WHAT YOU ARE THINKING. Pikiranmu akan menentukan tindakanmu
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci , semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.
(Filipi 4:8)

Kalau kita merasa dan berpikir selalu kekurangan, sampai kapan pun kita tidak akan pernah memberi. Kapan kita merasa lebih? Atau merasa cukup? Wong kebutuhan manusia tidak terbatas kok. Setelah punya A, ingin B. Setelah punya B, ingin C. Dan seterusnya. Kita harus mulai berhenti mengasihani diri sendiri! Jangan cuma fokus memikirkan diri sendiri. Kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri. 

// BERSYUKUR
Saat bersyukur terasa sulit, mulailah menghitung berkat yang sudah kita terima dan bersyukurlah. Menghitung berkat yang kita terima melimpahkan rasa syukur di hati kita. Kalau kita nggak bersyukur, seberapa banyak pun yang kita miliki, kita nggak akan pernah merasa cukup. Contohnya, kita bisa menuliskan gratitude journal di penghujung hari. Percaya deh, saat kita membaca hari-hari yang kita lalui, kita akan kembali disadarkan bahwa ada banyaaaakkk hal yang Tuhan berikan bagi kita. Kalau sudah begitu, apakah kita masih ingin ngomel-ngomel pada-Nya?

// PERCAYALAH SEPENUHNYA KEPADA TUHAN YANG AKAN MEMENUHI SEGALA KEPERLUANMU
Ada banyak ayat yang membahas hal ini, di antaranya: 

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. 
Mazmur 23:1 
Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah. 
Mazmur 55:23

Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
Matius 6:26-27 

Ketakutan mengalami kekurangan adalah tanda ketidakpercayaan kita kepada Tuhan. Tapi kalau dipikirkan baik-baik, pernahkah kita kekurangan?

Satu hal yang harus kita yakini: Tuhan selalu memberi apa yang kita butuhkan, bukan yang kita perlukan. Seperti yang dikatakan Yesus di poin ketiga, Tuhan berjanji bahwa Dia senantiasa memelihara kita. Burung dan bunga saja dipelihara, apalagi kita! Don’t be afraid! Anyway, aku nggak tahu nasib janda miskin itu setelah memberikan persembahannya; tapi aku percaya Tuhan memberkati dia.

“Tapi ini masa susah, bagaimana mungkin aku memberi?”

Masa ini boleh susah, tapi belum tentu kita akan hidup susah. Yuk, kita berjuang bersama untuk belajar memercayai Tuhan, dan beriman bahwa Dia akan menggenapi janji-Nya pada waktunya.

// MEMBERILAH DENGAN TAAT DAN TULUS
“Hah? Emangnya bisa!?”

Kita bisa memberi dalam ketaatan dan ketulusan kok, Pearlians. Tiga ayat berikut menegaskan hal itu: 

“Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” 
(Amsal 11:24-25)

“sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”
(Kisah Para Rasul 20:35b)

Tuhan berjanji memberikan kebahagiaan bagi mereka yang memberi. Bukan karena mengharapkan balasan yang berlipat dari Tuhan, tapi karena mereka tahu bahwa ketaatan dan ketulusan akan mendatangkan sukacita. Yups, sukacita memberi berasal dari Tuhan. Bahkan Dia memberikan janji yang indah ini:

“Ada limpahan kasih karunia dari Allah supaya kita senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.”
(2 Korintus 9:8)


--**--


Setelah kita membaca artikel ini, siapkah kita memberi?

“Hmmm… Kalau kamu gimana, Meg?”

Aku? Aku harus mengakui kalau aku bukan orang yang suka memberi. Ada ketakutan kalau banyak memberi, nanti aku akan kekurangan. Apalagi belakangan ini aku merasa nggak cukup dengan apa yang aku miliki. Tapi janda miskin ini mengajariku untuk memercayai Tuhan sepenuhnya, seberapa besar aku percaya Tuhan sanggup memenuhi segala keperluanku…

Kalau janda miskin ini bisa, kenapa kita nggak?