Showing posts with label Gospel. Show all posts
Showing posts with label Gospel. Show all posts

Monday, June 15, 2020

Serupa tapi Tak Sama


by Yunie Sutanto

"Awas uang palsu!" demikian tertera tulisan besar di etalase toko pulsa langganan saya. Persis di sebelah tulisan tersebut, dipajanglah uang kertas palsu yang mirip sekali dengan uang asli. Saya sulit membedakannya. Kasihan juga karena si penjual pulsa itu tertipu oleh uang palsu yang berhasil mengecohnya.

Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa ya kok, uang palsu itu bisa eksis? Tentu saja karena ada uang yang asli. Bukan hanya uang; barang tiruan itu bisa laku karena orang mendapat kesan bahwa barang tersebut mirip sekali dengan yang asli. Sebut sajalah tas tiruan (bahkan ada tiruan KW 1, KW 2, dan seterusnya) dan lukisan replika asli. Padahal kalau kita jeli mengamatinya, mana yang asli dan yang tiruan itu tidaklah sama—meskipun kedua tampak serupa.

Begitu pula yang ditekankan oleh Yesus mengenai orang-orang yang mengikut-Nya.

“Eh? Memangnya ada pengikut Kristus KW?”

Nah, untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita membaca Matius 13:24-30 terlebih dulu:

"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?

Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?

Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."


Dalam perumpamaan di atas, kita bisa mengetahui bahwa gandum asli dan “gandum palsu” (alias si lalang) memang serupa, tetapi tak sama! Jika gandum (Triticum aestivum) adalah sumber pangan penting (khususnya bagi orang Ibrani), maka lalang (Lolium temulentum) adalah sejenis gulma—yang justru menghalangi pertumbuhan tanaman yang tumbuh di tempat yang sama dengannya. Jika gandum—yang merupakan sumber asupan karbohidrat—bisa diolah menjadi roti dan minuman (melalui proses fermentasi), maka lalang justru dianggap sebagai tanaman liar—bahkan sering disebut “false wheat” (gandum palsu). Sayangnya, hanya waktu yang bisa menunjukkan mana yang adalah gandum dan lalang itu. Perbedaan keduanya baru kelihatan ketika bulir-bulirnya mulai muncul. Bulir gandum lebih bernas (penuh) dan ketika matang warnanya kecokelatan, sedangkan lalang tampak lebih kurus dan saat matang warnanya kehitaman.

Coba bayangkan jika kita menjadi petani gandum. Setelah menabur benih-benih gandum terbaik dan menggemburkan tanah agar cocok untuk media tanamnya, lantas apa yang kita harapkan? Tentunya sebagai petani, kita ingin menikmati hasil panen berupa gandum yang berkualitas terbaik! Plus, kita juga tidak ingin ada serangan hama maupun gulma, bukan? Tapi siapa sangka… Saat sedang tidur lelap, ternyata ada musuh yang menabur benih lalang! Karena itu, ketika benih-benih gandum mulai berbulir, tampak pula banyak lalang!

Nah, kembali ke bacaan kita di atas… Bagaimana tanggapan sang pemilik ladang saat hamba-hambanya hendak mencabuti lalang-lalang tersebut? Ternyata sang tuan yang bijak menyuruh membiarkan keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai! Sabar banget, ya? Tapi kenapa harus menunggu kalau memang sudah diketahui bahwa ada lalang di situ? Bukannya akan lebih baik kalau lalang tersebut segera dicabut sehingga tidak mengganggu pertumbuhan gandum? Nah, pemilik ladang ini menjelaskan bahwa ada kemungkinan akar gandum (yang benar-benar gandum) juga ikut tercabut bersama dengan lalangnya. Dengan demikian, dia memerintahkan agar para hambanya menunggu hingga musim menuai tiba untuk mencabut lalang terlebih dulu, lalu barulah mereka memanen gandum mereka.


Mungkin seperti itu pula yang kita alami di dalam menghadapi orang-orang tertentu.


Kita cenderung mudah untuk berprasangka buruk pada orang lain. Lagipula, geregetan rasanya kalau melihat ada “lalang” yang mengganggu kita. Saking geregetan-nya, kita ingin mengekspos orang—yang kita ketahui—sedang jatuh dalam dosa. Bahkan mungkin kita tidak segan untuk keluar dari komunitas yang sedang disorot karena ada skandal di dalamnya. Pokoknya, harus ada solusi instan untuk membereskan “si lalang”—karena kita tidak ingin terganggu olehnya!

Tapi tunggu… sebenarnya apa sih, makna yang ingin disampaikan Yesus dalam perumpamaan ini? Nah, Yesus menjelaskan makna ini kepada para murid-Nya—seperti yang bisa kita baca dari Matius 13:36-43:

Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu."

Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"


Di hari-hari terakhir inilah, bulir “gandum” mulai nampak dan bisa dibedakan dari bulir “lalang”.


"Awas, nabi palsu!" demikian seruan untuk waspada di antara jemaat-Nya, apalagi di masa sekarang. Well, pada akhirnya, kedok serigala berbulu domba akan terbongkar—meskipun tidak ada yang tahu kapan semuanya akan benar-benar tersingkap. Namun sebelum itupun, kita bisa melihatnya melalui buah kehidupannya. Tapi jangan lupa: bukan hanya menilai orang lain, kita juga harus berani mengevaluasi kualitas kehidupan kita (yang mengaku sebagai pengikut Kristus), “Apakah kualitas kehidupan rohaniku saat ini sudah menunjukkan karakter Kristus, sang pemilik ladang itu? Atau jangan-jangan ternyata aku nyaman dengan peranku sebagai “lalang” yang mengganggu pertumbuhan iman orang lain?”

Mengevaluasi diri sendiri bukanlah hal yang bisa dilakukan secara instan, Pearlians. Kita memerlukan waktu untuk benar-benar men-digest terhadap hal-hal yang—mungkin—selama ini kita abaikan saking terbiasanya. But at least, kita perlu bersyukur karena melalui pandemi Covid-19 (yang saat ini sedang melambatkan laju kehidupan), kita memiliki kesempatan untuk merenungkan sisi-sisi kehidupan yang selama ini kita tutupi—namun akhirnya mulai terlihat.

Apakah pandemi ini membuat kita lebih rajin membagikan (bahkan membuat) berita atau reshare feeds yang meresahkan hingga menyulut permasalahan?

Apakah pandemi ini membuat kita jadi lebih sering bertengkar dengan pasangan, padahal sebelumnya yang ada justru komunikasi yang minim di antara kita dengannya?

Apakah pandemi ini membuat kita semakin mudah marah pada anak yang sulit memahami pelajaran di sekolah?

Apakah pandemi ini membuat kita jadi malas untuk bersekutu dengan Tuhan—baik secara pribadi maupun komunal melalui ibadah (entah streaming atau media lainnya)?

Atau yang terjadi justru sebaliknya:

Kita semakin menyadari bahwa hidup ini adalah kesempatan yang harus digunakan untuk memuliakan dan menikmati Tuhan, baik melalui relasi pribadi dengan-Nya, orang lain, dan semua kegiatan yang kita lakukan—sekalipun itu adalah sesuatu yang kita anggap sederhana.


Time will show everything.


“Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”
(Wahyu 22:11)

Meski demikian, kita perlu mengingat bahwa yang bertugas memilah dan menilai siapa yang “gandum” dan “lalang” adalah para malaikat-Nya, bukan kita. Penghakiman adalah hak Tuhan semata. Bagian kita bukanlah untuk menunjuk dan menghakimi orang lain, “Oh, si ini ternyata nabi palsu, si ono rupanya serigala berbulu domba!”, tapi justru memastikan bahwa kita adalah “gandum” yang ditanam dan dikumpulkan untuk pekerjaan mulia-Nya.

Mari bersama-sama berjuang untuk memelihara kualitas “gandum” dalam diri kita, seperti yang Yesus katakan kepada para murid-Nya:

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
(Matius 5:38)

Monday, June 8, 2020

Perumpamaan Biji Sesawi


by Mekar Andaryani Pradipta

Setelah kita belajar tentang perumpamaan penabur di minggu lalu, kali ini kita akan membahas tentang perumpamaan biji sesawi.

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”
(Matius 13:31-32)

Kalau perumpamaan tentang penabur menitikberatkan pada tanah tempat benih ditanam, maka fokus perumpamaan biji sesawi adalah tentang benih yang ditanam. Apa yang bisa kita pelajari dari perumpamaan biji sesawi?
1. Benih menggambarkan tentang Kerajaan Sorga
sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
(Roma 14:17)

Dalam ayat pendek ini, Paulus sebenarnya menegaskan bahwa hidup yang dikendalikan oleh daging (dilambangkan oleh makanan dan minuman) berbeda dari hidup yang dikendalikan oleh Roh (hidup yang berdasarkan pada kebenaran, ditandai oleh damai sejahtera dan sukacita). Namun bukan berarti kebenaran itu berasal dari banyak “jalan”. Hal ini diungkapkan oleh Charles H. Spurgeon, “Alkitab tidak menulis kebenaran sebagai “truths” (kata benda jamak), melainkan “truth” (kata benda tunggal), karena memang hanya ada satu kebenaran yaitu kebenaran Allah.”

Jika demikian, dari mana kita bisa mengetahui kebenaran ini?

Pada mulanya adalah Firman; 
Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
(Yohanes 1:1)

Tidak ada tempat lain dimana kita bisa belajar mengenai kebenaran Allah—selain Firman-Nya—karena Firman Tuhan itu adalah Allah sendiri.

Menurut Spurgeon, kebenaran Allah seperti mata rantai, jika kita tidak percaya pada satu hal, maka itu berarti kita tidak percaya juga pada hal yang lain. Oleh karena itu, kita tidak bisa tebang pilih dalam mengimani Firman Tuhan, karena kebenaran di dalamnya adalah satu. Namun kita harus mengingat bahwa logika kita terbatas untuk memahami Firman-Nya. Itulah sebabnya kita tidak boleh asal menafsirkan dan memasukkannya sesuai dengan pengetahuan dan konteks diri sendiri (istilah kerennya, eisegesis). Padahal sering kali, apa yang tertulis di Alkitab justru memilki makna yang lebih dalam daripada yang hanya tampak melalui tulisannya secara harfiah. Dengan demikian, kita perlu menyadari keterbatasan untuk menyelami Firman Allah dan memohon hikmat-Nya untuk benar-benar memahami dan melakukan apa yang disampaikan-Nya.

2. Kebenaran Firman Tuhan adalah benih yang berharga
Sama seperti perumpamaan tentang penabur, perumpamaan biji sesawi juga menggambarkan tentang benih—alias kebenaran Firman Tuhan—yang ditaburkan. Pada perumpamaan ini, Yesus mengajar kita bahwa kebenaran Firman Tuhan seperti biji sesawi: kecil tapi tidak seharusnya dipandang remeh atau disia-siakan. Disadari atau tidak, sesederhana apapun itu, Firman-Nya sangat berharga untuk dilupakan begitu saja.

Di sisi lain, kadang-kadang ada keraguan untuk memenuhi hati dengan Firman (misalnya dengan membaca Firman Tuhan, menghafal ayat, atau menonton penjelasan tentang Alkitab). Bukannya langsung paham, kita justru semakin bingung dan merasa tampaknya sia-sia untuk mempelajari Firman-Nya. Apalagi jika orang-orang di sekitar kita berkata, “Untuk apa? Kamu mau jadi pendeta? Jangan sok suci, lah!” Tapi Yesus menguatkan kita, karena—seperti benih—Firman Tuhan yang kita tanam saat ini punya nilai untuk masa yang akan datang. Dia menginginkan hati kita yang teachable, hati yang mau diajar dan diasah agar menjadi semakin serupa dengan Kristus—meskipun prosesnya berbeda antara satu orang dengan yang lain. Siapa tahu, pengalaman dalam melalui masa pandemi ini (misalnya) membuat iman kita berakar lebih kuat di dalam-Nya, bahkan menjadi berkat bagi orang lain.

3. Apabila sudah tumbuh…
Kuncinya adalah pertumbuhan, dan pertumbuhan membutuhkan ketekunan.

Biji sesawi yang dimaksud dalam perumpamaan ini adalah mustard seed. Walaupun sangat kecil, namun biji ini bisa tumbuh menjadi pohon—yang kemudian menghasilkan biji-biji lain dalam jumlah yang berlipat kali ganda.

Yesus juga memakai biji sesawi untuk menggambarkan tentang iman,

“Jika kamu memiliki iman sebesar biji sesawi, kamu dapat memindahkan gunung”
(Matius 17:20)

Menarik sekali, karena dalam Roma 10:17 dikatakan bahwa “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Seperti apa yang disampaikan oleh Paulus dalam ayat tersebut, Tuhan juga menghendaki benih firman yang ditabur di hati kita tumbuh menjadi iman. Namun menariknya, Dia adalah Allah yang menghargai setiap kemajuan pertumbuhan kita. Pertumbuhan iman sekecil apapun, Ia apresiasi—bahkan Ia katakan sanggup memindahkan gunung. Well, tentu ini merupakan hiperbola, tapi yang dimaksudkan Yesus adalah apa yang kelihatannya tidak mungkin, bisa saja terjadi jika Tuhan menghendakinya.

Ketika membaca tentang raksasa-raksasa iman dalam dunia Kekristenan, mungkin kita bertanya-tanya, “Apakah kita bisa seperti mereka?” Tidak jarang, kita justru merasa iman kita tidak ada apa-apanya dibanding mereka sehingga kita berkata, “Ah, sepertinya tidak.” Setelah itu, kita merasa apa yang kita lakukan selama ini sia-sia. Padahal di mata Tuhan, tidak ada sekecil apapun upaya kita menumbuhkan benih sia-sia. Lagipula, serajin-rajinnya kita berinteraksi dengan Firman Tuhan, hanya Dialah yang memberikan pertumbuhan itu (1 Korintus 3:7-8). Bahkan, di perumpamaan tentang biji sesawi, Yesus belum membahas tentang multiplikasi; Dia baru berbicara tentang pohon yang membuat “burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” Sesederhana apapun dampak yang kita hasilkan dari pertumbuhan iman kita, Tuhan memperhitungkan itu semua.

Pearlians, di dalam Tuhan, tidak ada yang sia-sia. Di sepanjang Alkitab, Tuhan sering sekali memilih apa yang dianggap kecil dan tidak berharga bagi manusia, namun dipakai untuk kemuliaannya. Sebut saja: kota Betlehem yang kecil Ia pilih sebagai tempat kelahiran Yesus, atau bekal anak kecil Ia pakai untuk membuat mujizat. Oleh karena itu, dalam hari-hari yang sedang dan akan kita jalani (dengan berbagai adaptasi yang harus dilakukan), mari kita juga belajar untuk setia dan tekun dalam kebenaran. Meskipun pertumbuhan iman yang dialami seakan tidak ada artinya, namun Tuhan menghargainya dan ingin agar kita terus memeliharanya… hingga akhirnya iman kita berdampak sesuai dengan yang Tuhan kehendaki.

Monday, May 25, 2020

Nyata Tapi Tak Terlihat


by Benita Vida

Bulan ini kita merayakan kenaikan Yesus ke Sorga, suatu peristiwa dalam sejarah Kekristenan yang menyatakan bahwa Yesus berasal dari Sorga dan bahwa Dia sendiri adalah Allah. Tapi, bukan hanya peristiwa itu yang kita rayakan bulan Mei ini. Peristiwa lain yang tidak kalah luar biasa adalah turunnya Pribadi lain yang menggantikan posisi Yesus, sepuluh hari setelah kenaikan Yesus. Pribadi itu hadir dan bekerja bahkan hingga saat ini. Siapakah Dia? Ya, ROH KUDUS. Pribadi ini tak terlihat. Alkitab hanya mencatat wujud Roh Kudus terlihat sekali dalam bentuk lidah api yang turun ke atas kepala murid-murid saat sedang berkumpul dan berdoa. 

“Hanya karena sesuatu tak terlihat, tidak berarti sesuatu itu tidak nyata”, kalimat ini pernah muncul dalam salah satu film yang saya tonton. Saat mendengar kalimat ini, Tuhan menegur saya karena kadang saya sering melupakan Pribadi yang tidak terlihat itu. Kita adalah makhluk visual, kita cenderung mempercayai dan mengingat semua yang bisa kita lihat dan dengar, karena ini lah terkadang kita mudah menyerah dan putus asa dengan keadaan sekeliling kita karena kita tidak bisa melihat apa yang kita harapkan.

Kabar baiknya, setelah Yesus meninggalkan kita secara “fisik”, Dia mengerti kita tak pernah bisa sendiri. Dia mengutus Pribadi yang akan selalu ada bersama kita sesuai dengan janji-Nya di Matius 28:20 sebelum Ia naik ke Sorga. 

“… dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Siapa sih yang tidak pernah sedih? Siapa sih yang bisa melakukan segalanya tanpa ada bantuan orang lain? Siapa sih yang tidak butuh disemangati? Sekuat-kuatnya seorang manusia, pasti ada saat dimana dia butuh bersandar dan dikuatkan, butuh dihibur dan diberikan kata-kata penyemangat. Setelah kenaikan Yesus ke Sorga, mungkin murid-murid dalam keadaan galau bahkan kalut dan sedih karena seseorang yang selalu bersama mereka selama 3,5 tahun ini tidak lagi bersama mereka. Yesus sangat paham perasaan itu, perasaan kehilangan seseorang yang dekat. Karena itu, sejak awal Yesus menjanjikan Pribadi lain yang menggantikan-Nya menemani orang-orang terdekat-Nya. Pribadi yang akan menjadi seorang Penghibur. 

“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”
(Yohanes 16:7)

Datangnya Roh Kudus menjadi penghiburan bagi murid-murid yang ditinggalkan. Roh Kudus memang tidak terlihat secara fisik, tapi jauh dalam hati mereka, ada sukacita dan damai sejahtera karena Roh Kudus tinggal dan diam dalam hidup mereka. 

Ada banyak sekali cara menghibur. Penghiburan bisa datang dari diri sendiri dan orang lain. Ada orang yang terhibur hanya dengan makan makanan enak, ada yang terhibur dengan belanja di mall, ada juga yang terhibur dengan tidur seharian, dan lain-lain. Tapi terkadang dalam suatu keadaan tertentu, dimana seseorang sedang mengalami tekanan yang hebat, mereka butuh orang lain sebagai tempat bercerita dan berkeluh kesah. 

Tahukah kita kalau kita punya “Penghibur pribadi”? Kita punya satu Pribadi yang selalu bersama kita. Berbeda dengan orang lain yang tidak selalu punya waktu untuk kita, Roh Kudus selalu ada untuk kita dan selalu siap memberikan penghiburan. Penghiburan-Nya selalu tepat waktu dan kadang tidak pernah terlintas di pikiran kita. Saya ingat di tahun 2014, saat saya dalam proses pencarian kerja dan sudah 1 bulan belum dapat kerja, jujur saat itu sangat amat stres dan malu jika ada orang yang bertanya tentang pekerjaan saya. Di tengah kesedihan dan perasaan tertekan yang saya alami, Roh Kudus menghibur saya dengan memberikan saya seekor anjing yang sudah lama saya inginkan. Sederhana dan nampak seperti tidak ada hubungannya, tapi hal kecil ini mengingatkan saya ada Tuhan yang peduli dengan kerinduan hati saya.

Tahukah kamu, terkadang rasa stres, sedih, dan tertekan membuat kita tidak tenang? Ketika kita tidak tenang, kita menjadi sulit berdoa. Roh Kudus sangat paham akan hal itu, terkadang bisikan lembut membuat kita menjadi lebih tenang dan bisa berdoa. Ia terkadang mengingatkan kita tentang kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan membuat kita menyadari bahwa kita tidak perlu panik menghadapi hidup ini. Karena bukankah kita punya Allah yang hebat? Penghiburan tidak selalu harus membuat kita senang dan masalah kita selesai, kadang penghiburan cukup membuat kita menjadi lebih tenang sehingga kita bisa berpikir lebih jernih dan bertindak dengan hikmat. 

Daud berkata dalam Mazmur 94:19 

“Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.”

Dalam keadaan yang tidak menyenangkan dan dibandingkan dengan segala usaha yang bisa kita lakukan untuk menghibur diri sendiri atau orang lain, sesungguhnya penghiburan-Nya lah yang paling kita butuhkan. Tapi kadang kita lupa. Kita justru mencoba mencari segala cara supaya hati kita lebih tenang dan terhibur, padahal sesungguhnya yang perlu kita lakukan adalah meminta langsung dari Sang Sumber. 

Dalam keadaan pandemik seperti sekarang ini, semua media yang menyediakan penghiburan seperti hilang. Mall tutup, restoran tutup, taman bermain tutup. Kumpul-kumpul bersama teman-teman pun sulit. Kita hanya bisa diam di rumah. Siapa yang tidak pusing? Siapa yang sudah mulai bosan? Siapa yang sudah tertekan? Rasanya pasti sudah kehabisan cara untuk menyenangkan diri sendiri, tapi yuk ingat, Daud yang dalam keadaan tidak mengenakkan mencari Sumber Penghiburan itu sendiri. Percayakah kita akan keberadaan-Nya? Pekerjaan-Nya nyata sekalipun fisik-Nya tak terlihat, Penghibur yang Tuhan sediakan untuk kita, bahkan bukan hanya sebagai penghibur, Roh Kudus juga penolong dan pemimpin hidup kita. Mari kita buka hati dan terima Roh Kudus dalam hati kita, biarkan Dia bekerja bebas dalam hidup kita dan biar penghiburan-Nya nyata dalam setiap keadaan kita. 

Monday, May 18, 2020

Kenaikan-Nya Adalah Pengharapan


by Glory Ekasari

Selama saya jadi orang Kristen, peringatan kenaikan Tuhan Yesus ke surga biasanya kalah pamor dengan kematian dan kebangkitan-Nya, apalagi dibanding kelahiran-Nya. Padahal peristiwa ini sangat penting – saya tidak melebih-lebihkan.

Rencana Allah tidak selesai dengan kebangkitan Yesus. Rencana-Nya berlanjut dengan kenaikan Yesus, lalu kedatangan-Nya kembali ke dunia, dan seterusnya sampai pemerintahan kekal oleh Tuhan Yesus di seluruh dunia. Perjanjian Baru tidak berhenti di empat kitab pertama, tetapi sampai kitab Wahyu.

Ratusan tahun sebelum Yesus lahir, Daniel mendapat penglihatan yang dahsyat. Penglihatan ini dicatat dalam Daniel 7, dan highlight dari penglihatan Daniel adalah ayat 13-14, tentang Anak Manusia.

Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.
(Daniel 7:13-14)

Dua ayat ini sangat sarat makna, orang bisa bikin skripsi dari situ (serius lho). Dari sinilah asalnya gelar Anak Manusia yang dikenakan Yesus pada diri-Nya sendiri.

Ketika Yesus menyebut diri-Nya Anak Manusia di hadapan Mahkamah Yahudi, imam besar sangat marah dan Mahkamah langsung menjatuhi-Nya hukuman mati (Markus 1:62-64). Mengapa? Karena mereka tahu bahwa dengan menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia, Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Allah. Bagi orang Yahudi, ini berarti Yesus menghujat Allah.

Kapan Yesus, sebagai Anak Manusia, menerima segala kekuasaan dan kemuliaan di surga? Petrus memberikan jawaban:

“Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah.”
(Kisah Para Rasul 2:33)

Ayatnya kelihatannya simpel banget ya, sampai kita menyadari bahwa “di mana” memegang peranan penting untuk memecahkan misteri ini.

Posisi “kanan” dalam budaya Timur Tengah (termasuk dalam Alkitab) memiliki makna penting. Ketika kita membaca kalimat seperti, “Si A duduk di sebelah kanan raja Nebukadnezar,” misalnya, ini berarti A ikut memerintah sebagai raja bersama Nebukadnezar. Biasanya posisi “duduk di sebelah kanan raja” ini adalah untuk putera mahkota yang kelak akan menggantikan raja itu.

Demikian pula Yesus! Ketika dikatakan, “Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah,” itu berarti Dia diangkat menjadi Raja oleh Allah, didudukkan di sebelah kanan Allah, memerintah bersama Allah. Inilah yang terjadi dalam Daniel 7:13-14 tadi: Yesus menerima kemuliaan dari Bapa, dan kuasa untuk memerintah atas bangsa-bangsa. Di mana ini terjadi? Di surga. Kapan ini terjadi? Ketika Yesus naik ke surga!

Sekarang kita mengerti, mengapa kenaikan Yesus ke surga sangat penting. Dia harus naik ke surga, untuk menerima kemuliaan dan kuasa sebagai Raja atas segala raja, dan memerintah atas dunia ini bersama Bapa-Nya.

Apa yang menjadi dasar sehingga Yesus layak menerima kemuliaan dan kuasa? Tentu saja Dia memang adalah Allah. Tapi ‘kan Dia juga manusia, seperti kita? Untuk mendapat jawaban, kita beralih ke tulisan Paulus.

“Kristus Yesus . . . telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”
(Filipi 2:6-11)

Yesus layak menerima kemuliaan dan kuasa, karena itu semua memang milik-Nya sebelum Dia datang ke dunia sebagai manusia. Tetapi lebih dari itu, Dia membuat diri-Nya layak karena “dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati.” Alkitab berkali-kali menulis bahwa Allah mengasihani orang yang rendah hati dan akan mengangkat dia. Yang Yesus lakukan ini adalah kerendahan hati yang ultimate. Dia “mengosongkan diri”. Tidak ada manusia yang mau melakukan hal seperti itu, tapi itulah yang dilakukan Yesus.

Jadi, karena Dia telah merendahkan diri-Nya sampai mati, bahkan mati secara hina di kayu salib, maka Allah sangat meninggikan Dia. Bahkan Nama-Nya menjadi Nama di atas segala nama; seperti nama kaisar Romawi yang dicetak di uang, dipatri di cap surat-surat resmi, dsb. Asal ada nama kaisar, semua orang tunduk. Kehormatan dan kuasa yang diberikan kepada Nama Yesus jauh melebihi kaisar.

Pertanyaan terakhir adalah mengapa Yesus harus mengambil rupa sebagai manusia, begitu merendahkan diri, untuk menerima kemuliaan yang memang milik-Nya? Ada satu lagu yang sangat bagus dan menyentuh, yang liriknya berbunyi demikian:

Mengapa Yesus turun dari sorga,
masuk dunia gelap penuh cela?
Berdoa dan bergumul dalam taman,
cawan pahit pun diterima-Nya.
Mengapa Yesus menderita didera,
dan mahkota duri pun dipakai-Nya?
Mengapa Yesus mati bagi saya?
Kasih-Nya, ya, karena kasih-Nya.

Yang Yesus lakukan adalah menebus manusia. Menebus ini bukan hanya membayar hutang dosa kita dengan darah-Nya. Yesus, atas nama semua manusia yang percaya kepada-Nya, menerima kemuliaan dan kuasa sebagai Anak Manusia. Dia mengangkat kita, dari budak dosa, menjadi anak-anak Allah yang menjadi ahli waris bersama Dia. Semua ini bolak-balik dijelaskan oleh rasul Paulus, karena dia mengerti betapa berharganya apa yang Yesus lakukan bagi kita.

Tahukah teman-teman bahwa ketika Yesus menjadi manusia, tubuh-Nya itu Ia bawa selama-lamanya bersama-Nya? Dia tidak akan pernah melepaskan tubuh itu lagi. Sebesar itulah kasih-Nya bagi kita, sampai Dia bersedia berbagi keadaan sebagai manusia dengan kita, sampai selama-lamanya. Karena Yesus adalah manusia, Dia bisa mengerti keadaan kita ketika di dunia. Dan karena Yesus adalah manusia, kita yang manusia akan mengalami juga semua yang Dia alami: kebangkitan, kenaikan, dan kemuliaan kekal.

Sementara itu, dalam hidup ini, kita mengalami banyak masalah. Orang-orang percaya mengalami pergumulan seperti orang lain: penyakit, masalah ekonomi, masalah keluarga, dll. Sepertinya Yesus entah di mana, dan kehadiran-Nya tidak terasa. Apa yang harus kita lakukan dalam keadaan seperti itu?

Orang Kristen, by definition, adalah orang-orang yang hidup oleh iman. Kita percaya pada kebenaran, walaupun seringkali kebenaran itu nampaknya bertentangan dengan fakta. Bukan berarti kita percaya buta, tapi kita percaya bahwa ada tangan Tuhan yang tidak terlihat, yang sedang bekerja. Kita percaya bahwa Tuhan Yesus bertakhta di surga, bahwa Dia memegang kendali, dan bahwa Dia menjamin hidup kita.

Pengharapan yang seperti itulah yang membuat Stefanus berani menghadapi kematian:

Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”
(Kisah Para Rasul 7:55-56)

Dia melihat Yesus yang telah naik ke surga, yang memegang pemerintahan atas segala sesuatu. Batu-batu besar yang dipegang orang-orang Yahudi di depan matanya tidak lagi menakutkan waktu dia melihat Yesus bertakhta dalam kemuliaan.

Begitu juga dengan Paulus. Menghadapi kematiannya yang sudah di depan mata, Paulus menulis kepada Timotius:

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.
(2 Timotius 4:8)

Mengapa Paulus begitu berani dan kuat? Karena dia mengharapkan kedatangan Tuhan Yesus, yang akan memberinya upah atas kesetiaannya. Paulus tahu bahwa Yesus berkuasa, Dia memerintah, dan hari kedatangan Sang Raja akan segera tiba.

Seandainya Yesus tidak naik ke surga, berarti Dia tidak bertakhta, dan kita tidak bisa berharap pada Tuhan yang memegang kendali atas segala situasi, sepanjang segala masa. Injil yang dipercaya Stefanus dan Paulus bukan Injil yang membuat orang merasa nyaman dengan diri sendiri, atau Injil yang melulu tentang berkat, atau sekedar penghiburan emosional. Yang mereka percayai adalah Injil Yesus Kristus, yang telah menerima pemerintahan atas seluruh ciptaan dan yang akan datang kembali untuk membela umat-Nya dan menghukum musuh-Nya, yang begitu mengasihi kita sampai Dia memperhatikan rambut kita yang jatuh ke tanah dan bersedia menjadi manusia demi kita. Itulah Injil yang mereka percaya; itulah kebenaran, yang layak diperjuangkan sekalipun dengan tetesan darah.

Bersama dengan kenaikan Yesus ke surga, kita memiliki jaminan dan pengharapan. Jaminan, karena Yesus berkuasa atas segala sesuatu; tidak peduli seburuk apapun situasinya di mata kita. Pengharapan, karena Yesus akan datang kembali untuk menyempurnakan keselamatan kita di dalam Dia. Karena Dia telah naik ke surga, Dia bisa berkata kepada kita, “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku.” (Yohanes 14:3)

Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.
(Filipi 3:20)

Monday, April 20, 2020

Tuhan di Atas Kemustahilan


by Benita Vida

Banyak hal ajaib yang Yesus perbuat saat menjadi manusia di bumi. Dari semua hal itu, menurutmu, mana yang paling ajaib? Mukjizat air menjadi anggur saat perkawinan di Kana? Atau mengutuk pohon ara sehingga tidak berbuah lagi? Semua itu memang luar biasa, tetapi ada satu hal paling ajaib yang dampaknya oleh semua manusia di bumi, bahkan sampai saat ini, yaitu saat Yesus bangkit dari kematian. 

Saat harapan dari para murid mulai hilang, saat kepercayaan para pengikut dan saksi dari perbuatan Yesus mulai hancur, Yesus membuat mukjizat yang tidak pernah mereka pikirkan yaitu bangkit dari kematian-Nya. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Yesus ditangkap, diadili, dicambuk, berdarah, dan mati di atas kayu salib. Mereka juga melihat Yesus sudah dikuburkan di tempat yang ditutup dengan batu besar dan dijaga oleh dua orang pengawal. Tidak sekalipun terlintas di benak mereka bahwa yang terjadi kemudian adalah Yesus bangkit. 

Dalam duka yang besar karena melihat orang yang mereka kasihi telah mati dan dikubur, para wanita datang mengunjungi kubur Yesus dan terkejut melihat bahwa kubur itu telah kosong. Duka mereka semakin besar, mengira bahwa Tuhan mereka diambil oleh orang, bahkan sampai detik itu pun tak terlintas di benak mereka bahwa Yesus telah bangkit. Inilah manusia, terkadang kita terlalu mengandalkan penglihatan dan pemikiran kita. Kita menganggap masalah kita sudah tidak mungkin diubah – tidak mungkin air menjadi anggur, tidak mungkin saya menang tender melawan perusahaan sebesar itu, tidak mungkin saya diterima kerja di perusahaan besar karena saya lulusan universitas yang tidak popular, dan lain-lain. Di sisi lain, kita juga kerap lebih percaya pada apa yang orang lain katakan, bahwa tidak ada harapan lagi, lebih baik menyerah, penyakit kita sudah tidak bisa sembuh, anakmu tidak bisa jadi orang berhasil, dan banyak lagi hal lain. 

Sadarkah kita bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan di atas segala kemustahilan? Bangkit dari kematian adalah hal yang sangat mustahil terjadi, apalagi bangkit dan hidup selama-lamanya. Kebangkitan Yesus menjadi kabar baik bagi kita, menjadi pengharapan saat kita putus asa, dan keteguhan bagi yang percaya, bahwa kita mampu menang dari semua situasi dan keadaan yang tampak mustahil bagi manusia. Ya, sebab Tuhan kita telah melampaui akal sehat dan berdiri di atas segala kemustahilan. 

Sang Pencipta sangat memahami ciptaan-Nya. Ia paham bagaimana cara kerja manusia, bagaimana cara pikir manusia, dan apa yang dirasakan manusia – karena Yesus pun adalah seorang manusia sampai saat Dia harus mati untuk kita. Dia sangat mengerti bahwa tanpa melihat, merasakan, dan mendengar, sangat sulit bagi kita untuk percaya walaupun sudah sering mengalami dan melihat perbuatan ajaib-Nya. Alkitab mencatat malaikat Tuhan yang diutus untuk memberitahukan berita kebangkitan-Nya.

Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: "Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu.” Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.
(Matius 28:5-8)

Tapi, tidak semua percaya pada berita yang dibawa murid-murid perempuan. Sampai akhirnya, mereka menjadi percaya ketika Yesus menampakkan diri-Nya. Mereka melihat dengan mata mereka, mendengar salam Yesus dengan telinga mereka, dan memeluk kaki Yesus, sehingga mereka percaya bahwa Yesus telah BANGKIT. 

Berapa banyak dari kita yang harus melihat bukti dulu baru percaya? Kurang cukupkah Firman yang menceritakan perbuatan ajaib Yesus sehingga kita selalu merasa tak berdaya menghadapi badai? Bukankah Dia Tuhan yang sudah bangkit dan hidup untuk selama-lamanya? Ya, memang sangat sulit untuk percaya dan mempunyai iman saat belum melihat dan belum mengerti tentang rencana besar-Nya. Itu kelemahan kita sebagai manusia, kita terbiasa hidup dalam keterbatasan logika, sehingga sulit memahami ketidakterbatasan Tuhan. 

Namun, dalam segala keterbatasan manusia, firman-Nya berkata: 

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
(2 Korintus 12 : 9)

Kita butuh kasih karunia dan kekuatan-Nya, tanpa Dia kita tidak akan bisa apa-apa bahkan mungkin sulit untuk percaya. Tuhan mau kita mengandalkan-Nya agar kuasa-Nya selalu terlihat paling nyata dalam kelemahan kita. 

Kebangkitan Yesus membawa pengharapan baru bagi kita, memberikan bukti bahwa kita tidak sedang menyembah Allah yang sia-sia. Kebangkitan Yesus memampukan kita untuk terus percaya bahwa ada kuasa Allah yang besar dan tidak terbatas. Ada hal-hal mustahil yang bisa kita lakukan dengan dan hanya bersama Yesus saja. Ia Allah yang sudah menang, dan kemenangannya adalah jaminan kemenangan kita juga, "Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya." (1 Korintus 15:27a).

Keadaan yang semakin tidak menentu akhir-akhir ini bisa membuat iman kita goyah. Pandemik di seluruh dunia menimbulkan banyak ketidakpastian. Pekerjaan kita saat ini mungkin tidak menentu dan harapan kita semakin redup, tapi percayalah dan tetap teguh dalam imanmu, jadilah kuat sebab Yesus sudah menang dari semua kemustahilan. Dia sudah bangkit dari kematian dan lihatlah tangan-Nya terulur untukmu, maukah kau melakukan hal yang mustahil bersama-Nya?

Monday, March 2, 2020

Dia Mengajar Sebagai Orang Yang Berkuasa


by Glory Ekasari

Selama puluhan tahun jadi orang Kristen, saya sudah mendengarkan entah berapa banyak khotbah, dari banyak pengkhotbah, dengan gaya khotbah yang berbeda-beda. Ada yang lucu, ada yang garing (maaf ya pak/bu...), ada yang serius seperti baca naskah, ada yang santai sambil jalan-jalan keliling mimbar. Tuhan Yesus seperti apa ya khotbah-Nya? Ternyata, kalau kita tanya pada orang-orang yang mendengarkan Dia secara langsung, jawabannya adalah: Dia mengajar dengan penuh kuasa. Wow.

Sebagai pengkhotbah, saya juga belajar bagaimana teknik public speaking yang baik, untuk mendukung isi khotbah yang disampaikan. Tapi saat ini kita tidak bisa mendengar intonasi Yesus saat mengajar dan tidak bisa melihat ekspresi wajah-Nya. Yang kita punya adalah kata-kata-Nya, yang dicatat dan sudah kita pelajari beberapa lama ini. Tapi dari situ saja kita bisa melihat apakah benar Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa. 

Matius mengelompokkan Injilnya secara teratur (bisa dimengerti, berhubung sebelum mengikut Yesus dia bekerja sebagai tukang pajak). Pasal 5-7 berisi ajaran Yesus, pasal 13 berisi perumpamaan, pasal 24-25 adalah tentang akhir zaman, dsb. Dia menutup bagian pertama, yaitu pasal 5-7, dengan kesimpulan dan peringatan. Kita akan memperhatikan apa saja yang Yesus katakan.

// THE GOLDEN RULE
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” 
(Matius 7:12)

Saya sempat bingung saat Yesus berkata bahwa ini adalah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Bukankah hukum Taurat mencakup banyak hal lain selain memperlakukan sesama sebagaimana kita ingin diperlakukan? Kemudian saya menyadari satu hal penting.

Dalam Kejadian 1:26 dikatakan bahwa manusia diciptakan istimewa, berbeda dengan ciptaan lain. Ayat 27 menegaskan lebih jauh:

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
(Kejadian 1:27 / TB)

Tiga kali ditekankan bahwa manusia, laki-laki dan perempuan, diciptakan menurut gambar Allah. Manusia diciptakan sebagai gambar Allah. Inilah kodrat manusia yang sebenarnya: nilai dirinya tidak berasal dari dirinya sendiri, tapi dari Allah, yang ia wakili di dunia ini. Tetapi dosa membuat manusia tidak lagi menghargai sesamanya sebagaimana mestinya. Kain menganggap rendah Habel, adik kandungnya sendiri, dan membunuhnya hanya karena marah. Dan seterusnya, manusia memandang sesamanya rendah dan tidak lagi mengasihi mereka. Yang dikasihi manusia adalah, you guess it, dirinya sendiri.

Dalam hukum Taurat, bangsa Israel diwajibkan menghargai sesama mereka sebagaimana seharusnya: sebagai pewaris otoritas Allah di dunia, sebagai orang pilihan Allah. Tetapi bangsa Israel juga akhirnya memberontak dari firman Allah dan mereka saling menyakiti dan merendahkan satu sama lain. Sampai datang Yesus, yang menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya mengasihi sesama kita.

Allah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus. Dia menjadi salah satu dari kita dan sepenanggungan dalam segala kesusahan kita. Dia menerima orang-orang yang dianggap outcast atau buangan oleh orang Yahudi seperti perempuan yang sakit pendarahan, orang yang buta sejak lahir, orang kusta, orang yang kerasukan roh jahat, orang non-Yahudi—intinya, semua orang yang datang kepada-Nya diterima-Nya dan dilepaskan dari apapun yang mengikat mereka, karena Dia tahu bahwa mereka semua adalah gambar Allah. Akhirnya, Yesus mati disalib bagi semua orang agar mereka diselamatkan: tentara Romawi, orang Farisi, ahli Taurat, para imam, orang Arab, orang Eropa, orang Indonesia - karena kita semua adalah imago Dei, gambar Allah. Dia melihat kita sebagaimana mestinya.

Perintah Yesus dalam The Golden Rule yang kita lihat dalam Matius 7:12 ini tidak lain adalah perintah untuk memperlakukan orang lain dan mengasihi mereka sebagaimana mestinya. Semua mereka berharga di mata Allah sebagai gambar-Nya, dan harus juga berharga di mata kita, apabila kita mau melihat sebagaimana Allah melihat. Merendahkan orang lain berarti merendahkan Pencipta mereka. Mengasihi orang lain berarti menghargai Pencipta mereka.

// PARA PEMALSU
“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”
(Matius 7:15-16)

Yesus memperingatkan kita akan sebuah bahaya laten, yaitu akan datangnya nabi-nabi palsu. Orang-orang ini kelihatannya meyakinkan, tapi sebenarnya sangat berbahaya karena mereka berniat jahat. Segera sesudah Kekristenan mulai meluas pada zaman para rasul, mulai muncul nabi-nabi palsu ini - sesuai nubuat Yesus. Para penulis Perjanjian Baru seperti Paulus, Yohanes, Petrus, dan Yudas, memperingatkan jemaat akan bahaya ini dalam surat-surat mereka. Ketika kitab Wahyu ditulis, beberapa gereja bahkan sudah mulai dicemari nabi-nabi palsu, sehingga mereka ditegur keras oleh Tuhan Yesus sendiri.

Untungnya ada satu indikator yang fail-proof untuk mengetahui apakah seorang yang mengaku sebagai nabi/mesias/rasul berkata jujur atau berbohong: “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Ya, kesaksian hidup tidak bisa bohong. Pohon yang baik pasti menghasilkan buah yang baik; demikian pula sebaliknya. Orang yang hatinya jahat tidak mungkin terus menutupi kejahatannya.

Ketika seseorang mengaku sebagai nabi atau sosok apapun yang istimewa yang diutus Allah (atau bahkan mengaku sebagai Allah sendiri), tiliklah kesaksian hidupnya. Allah itu kudus; apakah orang ini hidup dalam kekudusan? Allah itu panjang sabar dan berlimpah kasih setia; bagaimana kalau orang ini pemarah dan kasar? Allah itu adil dan benar; bagaimana kalau orang ini memanipulasi orang lain untuk kepentingannya? Allah adalah Terang; bagaimana kalau orang ini menutupi banyak hal dalam kehidupannya? Itu semua dapat kita jadikan indikator untuk tahu apakah seseorang benar-benar datang dari Allah atau tidak. Dan jangan lupa, Yesus juga mengenakan ukuran ini kepada diri-Nya. Waktu Ia ditangkap dan dibawa ke hadapan para imam, mereka mencari-cari kesalahan-Nya, cacat-Nya dalam hal apapun agar Ia dapat dihukum mati—tapi mereka tidak mendapatkannya (Markus 14:55).

Ada yang berkata, “Tapi orang ini bisa menyembuhkan orang lho! Dia bisa mengusir setan, bahkan mengadakan mujizat!” Yesus berkata bahwa memang banyak orang-orang seperti itu yang akan berseru-seru kepada Dia pada hari terakhir, yaitu hari penghakiman. Dan pada saat itu Dia akan menyangkal mereka, karena mereka tidak hidup dalam kebenaran. Mereka tidak berasal dari Dia. Mari kita berhati-hati dan tidak gampang percaya, sekalipun kepada orang-orang yang mampu melakukan hal-hal yang mencengangkan. Ingat, dari buahnyalah kita akan tahu apakah dia asli atau palsu.

// MEMBANGUN RUMAH
“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”
(Matius 7:24-25)

Tidak ada orang yang membangun rumahnya di atas pasir, kecuali orang yang tidak tahu bahwa rumah membutuhkan fondasi. “Membangun rumah” adalah metafora yang dikenal oleh orang Yahudi, yang berarti membangun seluruh kehidupan mereka. Pertanyaannya, apa yang menjadi dasar dari seluruh kehidupan kita?

Ada yang membangun hidupnya di atas pengakuan orang lain. Ketika dia tidak diakui orang, seolah-olah hidupnya runtuh dan dia kehilangan arti hidup. Ada yang membangun hidupnya di atas kesuksesan. Sekali gagal, ia merasa sangat kalah dan terpukul. Ada yang membangun hidupnya di atas kesenangan. Tidak diragukan, penderitaan ringan pun bisa membuat dia stres berat. Bahkan ada yang membangun hidupnya di atas kata-kata bijak dari orang lain. Mengapa pula kita percaya pada sembarang orang, padahal mereka manusia biasa seperti kita? Semua itu seperti pasir yang gampang bergeser sehingga tidak bisa dipijak. Hanya menunggu waktu saja sebelum semuanya runtuh.

Yesus berkata bahwa orang bijak membangun hidupnya di atas firman-Nya. Mendengar dan melakukan perkataan Yesus, itulah yang membuat hidup kita kuat dan kokoh, sekalipun diterpa hujan, banjir, dan angin. Penderitaan dan kesusahan datang, tetapi kita tidak roboh. Orang lain tidak menerima kita, usaha kita gagal, keluarga menghadapi masalah, tapi kita bisa berkata, “It is well with my soul.” Mengapa? Karena firman Allah adalah kekuatan kita.

Kok bisa firman Allah menolong kita untuk berdiri tegak dan menang dalam hidup ini? Kita perlu ingat bahwa Allah menjadikan segala sesuatu dengan berfirman (Kejadian 1:3), dan dengan firman itu pula Ia menopang segalanya (Ibrani 1:3). Firman Allah begitu berkuasa! Apalah artinya masalah yang kita hadapi dalam hidup ini, kalau dibandingkan dengan kuasa firman Allah? Karena itu Yesus berkata, yang bijaksana adalah orang yang membangun hidupnya dengan firman Allah sebagai pegangannya. Sebagaimana tidak ada yang bisa membatalkan firman Allah, demikian pula tidak ada yang bisa menggoncangkan orang yang berpegang pada firman Allah.

// DIA YANG BERKUASA
“Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.”
(Matius 7:28-29)

Kita bisa yakin bahwa pada masa itu di Israel ada guru-guru agama yang handal. Pada zaman yang sama dengan Yesus, hidup salah satu rabi paling terkenal dalam sejarah agama Yahudi, yaitu Gamaliel. Lalu apa yang membedakan Yesus dari mereka? Apa yang membuat Yesus istimewa?

Yesus memang bukan murid rabi manapun atau dari sekolah teologi manapun. Dia juga tidak mulai mengajar di Yerusalem, pusat peribadatan, tapi di daerah Galilea. Penafsiran-Nya tentang Perjanjian Lama juga tidak seperti para rabi pada umumnya. Tapi yang lebih penting dari itu semua, Yesus menyetarakan pengajarannya dengan Perjanjian Lama, yaitu firman Allah sendiri. Dia berbicara seolah-olah Dialah yang memberi firman dalam Perjanjian Lama itu. Yesus berkata bahwa Dia menggenapi Perjanjian Lama (Matius 5:17). Dia tidak mengajar dengan berkata, “Demikianlah firman TUHAN,” seperti para nabi, namun Dia berkata, “Aku berkata kepadamu,” seolah-olah Dia sendirilah Allah yang sedang berfirman!

Menjelang akhir dari penutupan kompilasi pengajaran-Nya dalam Matius 7, Yesus makin menegaskan identitas-Nya. Ia berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,” lalu, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku... Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu!” Bagaimana mungkin orang-orang berseru kepada Yesus pada hari terakhir, yaitu hari penghakiman? Orang Yahudi percaya bahwa Allahlah Hakim atas seluruh bumi. Satu-satunya makna yang bisa ditarik dari kata-kata Yesus ini adalah bahwa Dia sedang menyamakan diri-Nya dengan Allah. Bukan hanya Yesus menyetarakan perkataan-Nya dengan firman Allah, Dia juga menyatakan bahwa Dia adalah Allah yang akan menghakimi manusia.

Terakhir, Yesus berkata, “Setiap orang yang mendengarkan perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana.” Dia tidak berkata “setiap orang yang mendengarkan hukum Taurat dan kitab para nabi,” tetapi orang yang mendengarkan perkataan Yesus. Mengapa? Kesimpulannya jelas: perkataan yang keluar dari mulut Yesus adalah perkataan Allah sendiri, karena Yesus, yang berkata-kata itu, adalah Allah.

Jangan percaya kalau ada yang berkata bahwa, “Yesus adalah guru moral yang luar biasa, tapi Dia tidak pernah menyatakan bahwa Dia adalah Allah.” Kita sudah melihat bahwa Yesus jelas-jelas menyamakan diri-Nya dengan Allah. Lagipula kalau Dia hanya manusia biasa, perkataan-Nya pun hanya nasehat atau kata-kata bijak, tidak lebih. Bagaimana orang bisa membangun hidup yang terjamin dan tidak tergoyahkan di atas dasar omongan sembarang orang? Kata-kata Yesus, semua yang kita baca dalam Matius 5-7, hanya memiliki arti dan kuasa, bila Dia sungguh adalah Allah sendiri. Dan itulah yang akan Ia buktikan dalam seluruh kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga.

Saturday, November 10, 2018

The Secret of Jo


by Poppy Noviana

Hi Ladies, pernah dengar kisah seorang pria muda yang ngga hanya takut akan Tuhan tapi juga sukses? Ternyata yang kaya begini udah ada sejak zaman sebelum Masehi loh, bukan cuma eksis di telenovela aja.

Pria ini bernama King Jotham. Sedikit kisah hidupnya yang ditulis dalam kitab II Tawarikh 27 kaya dengan pelajaran yang cukup penting untuk kita ketahui lebih dalam. 

Jotham sudah jadi raja sejak usia dua puluh lima tahun. Wah, semacam eksekutif muda dong ya. Yang luar biasanya, Jotham ini memang seorang yang capable dalam pekerjaannya. Ini adalah realisasi daftar kerja nyata selama dia menjabat sekitar enam belas tahun lamanya: 
  • Jotham rebuilt the upper gate of the Temple of the Lord - Punya ide baru untuk bait Allah dan menjadi bagian dari sejarah pekerjaan Allah di zaman itu. 
  • He also did extensive rebuilding on the wall at the hill of Ophel - Punya inovasi sehingga bisa membangun ulang dan menjadikannya lebih bernilai. 
  • He built towns in the hill country of Judah and constructed fortresses and towers in the wooded areas - Pengaruhnya digunakan untuk membawa perubahan dan dampak pada kondisi infrastruktur di kotanya. 
  • Jotham went to war against the Ammonites and conquered them - Terbukti punya kemampuan dan kepemimpinan untuk membawa bangsanya menuju kemenangan. 
  • Over the next three years he received from them an annual tribute of 7,500 pounds of silver, 50,000 bushels of wheat, and 50,000 bushels of barley - Terbukti mampu meningkatkan nilai ekonomi suatu negara dengan kenaikan yang cukup signifikan alias kuantitatif, revenue-nya selama mejabat cukup memukau. 
  • The rest of the events of Jotham’s reign, including all his wars and other activities, are recorded in The Book of the Kings of Israel and Judah - Kisahnya dituliskan dalam beberapa kitab. Biografinya membuktikan bahwa dia orang berpengaruh dan berdampak besar yang layak untuk dikenang. 
  • And his son Ahaz became the next king – Nilai-nilai hidupnya diteruskan kepada anaknya yang kemudian melanjutkan kesuksesan ayahnya. 

Nah, penasaran ngga sih kenapa King Jo bisa secakap ini? Jawabannya ada di II Tawarikh 27:6.

“King Jotham became powerful because he was careful to live in obedience to the Lord his God.”
(II Tawarikh 27:6)

Ayat ini sungguh luar biasa. Selama ini kita berpikir kalau kekuatan, kekuasaan, kesuksesan dan hal-hal sejenisnya datang dari exercise dan talent/gift, yang berarti setiap hal dapat dilakukan asal ada kemauan. Namun, semua itu tidak cukup. Banyak sekali hal-hal yang berada diluar kemampuan kita, dan itulah kenapa kita perlu Tuhan.

Menjadi powerful bukan soal urusan banyak tenaga, tidak mudah patah, rusak, putus, alias strong (KBBI). Powerful adalah suatu proses ketahanan untuk taat dan setia kepada Tuhan, meskipun belum melihat jawaban doa, tetap bersyukur untuk setiap resiko ketaatan, dan tetap berharap meskipun tidak ada titik terang. Tentu saja ini tidak mudah, apalagi ketika banyak orang justru membuat kita lemah. 

Tapi, belajar dari kisah King Jo, yang paling penting adalah hidup dalam ketaatan kepada Allah. Saat waktunya tiba, Tuhan akan mengambil alih hal-hal di luar kemampuan kita dan memampukan kita menyelesaikan deretan tugas-tugas dalam hidup kita. Seorang wanita Allah yang menaruh imannya dalam ketaatan akan menerima buah dari setiap komitmennya. 

Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.
(Efesus 6:10)

Friday, October 26, 2018

Tuhan & Samuel Kecil


by Grace Suryani Halim

Sate tadi pagi tentang Samuel yang dipanggil Tuhan 3 kali. Gue dah denger cerita itu dari sejak sekolah minggu kaliii... Tentang Samuel yang baru tidur malem-malem trus tiba-tiba dipanggil Tuhan. Nah tadi pagi pas gue baca bagian itu lagi, gue mendapat sesuatu yang baru.

"Samuel telah tidur di dalam bait suci TUHAN, tempat tabut Allah. Lalu TUHAN memanggil: "Samuel! Samuel!", dan ia menjawab: "Ya, bapa." Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil; tidurlah kembali." Lalu pergilah ia tidur."
(1 Samuel 3:3-4)

Nah guys, siapa di antara kalian di sini yang punya anak, lalu kalau kalian panggil di siang bolong, dia langsung menjawab, "Ya ma" laluuuu berlari kepada kita sambil bilang, "Ma, tadi mama panggil aku?"

Errhhh... Rasanya anak zaman sekarang ngga begitu yak. :p Jangankan dipanggil malem-malem pas lagi bobo dengan pulas, dipanggil siang bolong aja, suka kagak nyahut. Kalopun nyahut mungkin bukan bilang, "Ma, tadi mama panggil aku?" tapi "BENTAAARRRRR MAAA!" >.< Diteriakin 10 kali mungkin baru dia nurut.

Nah samuel ini, dia dibangunkan Tuhan pas lagi TIDUR... Hayooohhh kita kalo baru tidur dibangunin aja susahnya setengah mati. Samuel ngga begitu. begitu dipanggil Tuhan langsung menjawab, "Ya Bapa" dan ia berlariiii kepada Eli. Luar biasa yak.

“Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi. Samuelpun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali.
(1 Samuel 3:6)

Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Iapun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Lalu mengertilah Eli, bahwa Tuhanlah yang memanggil anak itu.”
(1 Samuel 3:8)

Tiga kali Tuhan memanggil Samuel, dan Samuel TETAP BANGUN dan TETAP DATANG kepada Eli dan TETAP bertanya "Ya bapa, bukankah bapa memanggil aku?"

Guys, kita bisa lihat bahwa Samuel ini, dia bener-bener taat. Ketaaatannya tidak dilihat setelah dia besar tapi dari sejak ia kecil. Ia tidak keberatan tidur malamnya diganggu. Dan ia tetap mau bangun ketika namanya dipanggil.

Gimana dengan anak-anak kita?
"Wah Grace. Anak zaman sekarang mah susaaaahhh. Boro-boro langsung dateng pas dipanggil. Kadang kudu harus tarik urat dulu!!"

Itu memang tantangan para ibu zaman sekarang guys. Bagaimana kita mendidik anak dari sedini mungkin untuk dia punya hati yang mau taat 100%. Heart that obeys, right away!, all the way, 100%. Gimana caranyaaa?? Nah ini gue belon bisa jawab. :p Krn gue belon punya pengalaman mendidik anak, but abis baca bagian itu, gue langsung punya beban untuk berdoa bagi anak-anak gue.

"Tuhan, tolong bantu aku untuk bisa mendidik anak-anakku dengan kepekaan yang luar biasa dan ketaatan total. Sehingga kalau Kau memanggil mereka seperti memanggil Samuel di malam hari, mereka bisa langsung bangun dan berkata, "Ya Bapa, apakah Bapa memanggilku?" I know this won't be easy, but this' NOT IMPOSSIBLE for You. Tuhan sudah buktikan ada HAMBAMU yang bisa seperti itu, en aku yakin Kau juga ingin anak-anakku seperti itu."

Tapi sehabis menyadari betapa luar biasanya ketaatan Samuel. Ternyata itu belon cukup. "Alamak Grace... gue kalo anak gue dipanggil SEKALI en langsung dateng ke gue aja gue udeh xie xie kamsia, menurut loe itu masih belon cukup?!?!"

Hehe. Coba baca ayat-ayat ini guys.

"Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan Eli."
(1 Samuel 3:1)

Samuel dari kecil udeh jadi pelayan Tuhan. Bagus donks!! Apanya yang aneh?? Nah sekarang coba kalian liat ayat ini:

"Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya."
(1 Samuel 3:7)

ENG ING EEENNGGGG... Samuel yang dari kecil sudah menjadi Pelayan Tuhan, sudah melayani di bait suci bahkan ada kemungkinan TIDUR di ruang maha kudus (liat ayat ini Samuel telah tidur di dalam bait suci TUHAN, tempat tabut Allah." Gue ngga berani bilang pasti, secara kalo melihat peraturan Israel sebenernya yang boleh masuk ke Ruang Maha Kudus itu cuman imam besar en cuman boleh setaon sekali. Tapi kok ini ada ditulis dia tidur di dalam bait suci Tuhan, tempat tabut Allah. So gue bilang ada kemungkinan...) Entah bener Samuel tidur di dalam Ruang Maha kudus atau tidak, yang pasti dia tidur di bait Allah. Tiap hari bergaul dengan imam-imam. Tapi ternyata dia... BELUM MENGENAL Tuhan.

Ckckckck. Dari sini gue belajar guys, yang paling penting buat anak-anak itu bukan sekedar dibawa ke sekolah minggu. Bukan sekedar biasa maen di gereja, bukan sekedar bergaul dengan anak-anak gereja. Bahkan bukan pelayanan dari kecil. Karena bisa aja org pelayanan di gereja tapi tidak mengenal Tuhan.

En kenapa dia belum mengenal Tuhan karena firman Tuhan belum pernah dinyatakan kepadanya. Versi NKJV nya:

"nor was the word of the LORD yet revealed to him"
(1 Samuel 3:7 / NKJV)

Firman Allah belum pernah dibukakan kepadanya. Ada penafsir yang bilang maksud dari ayat ini adalah Tuhan belum pernah bicara secara pribadi dengan Samuel. Ada lagi yang bilang bahwa Samuel belum pernah diajar tentang pribadi Tuhan. 

Lalu Tuhan jadi mengingatkan gue lewat ayat-ayat di atas. Ketaatan total itu penting. Tapi yang lebih penting dari itu adalah pengenalan pribadi akan Tuhan. Jadi gue menambah doa gue:

"Tuhan, tolong aku juga untuk bisa menyatakan firman-Mu kepada mereka sejak mereka kecil. dan siapkan mereka supaya pada waktu-Mu mereka boleh menerima dan mendengar suara Tuhan berbicara langsung kepada mereka. Sehingga mereka tidak hanya melayani-Mu tapi mereka juga mengenal-Mu."
Amen.

Wednesday, September 5, 2018

Lebih Dari Sekedar Baik


by Leticia Seviraneta

Bila kita ditanya, “Kriteria orang seperti apa yang kamu inginkan menjadi pasangan kamu?” Kita biasa dengan spontan menjawab, “Orang yang BAIK.” Bagi yang sudah percaya Yesus maupun yang belum, jawaban tersebut cukup sering dilontarkan. Kita sebagai manusia secara natural tertarik dengan kebaikan. Tidak akan ada yang menjawab ingin berteman atau memiliki pasangan hidup yang jahat, bukan? Nah, namun pengertian baik yang disebutkan itu seperti apa? Apakah baik itu saja cukup? Jawabannya adalah ya dan tidak, tergantung dari definisi kebaikan yang kita pahami. Banyak yang mengartikan kebaikan sebagai keinginan berbuat baik atau sudah menjadi tindakan baik kepada orang lain. Definisi ini tentu tidak salah. Namun kebaikan belum menjadi kebaikan sampai itu menjadi sebuah tindakan nyata. Demikian juga halnya dengan pihak yang menerima kebaikan itu sendiri. Bila seseorang hanya baik kepada yang baik kepadanya, maka kebaikan belumlah menjadi kebaikan yang sesungguhnya. 

Kebaikan merupakan salah satu aspek dalam Buah Roh (Galatia 5:22) yang dalam bahasa Yunani menggunakan kata ‘chrestotes’ yang bermakna ‘an act of kindness or tolerance toward others; selfless act; doing good things on behalf of others without expecting anything in return.’ Jadi kebaikan memiliki unsur tindakan nyata mementingkan orang lain meskipun kita tidak mendapat balasan apa-apa serta seringkali membuat kita harus berkorban. Wew… Ini merupakan level kebaikan yang benar-benar berbeda dengan konsep kebaikan yang selama ini kita bayangkan, bukan? 

Tuhan kita adalah Tuhan yang baik. Ia adalah contoh pertama dan utama dari kebaikan itu sendiri. Seluruh Alkitab menceritakan dan memberikan kesaksian betapa baiknya Tuhan. 

“Dan jikalah kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalah kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalah kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”
(Lukas 6:32-36 / TB)

Tuhan baik kepada semua orang, termasuk yang tidak layak menerima kebaikan-Nya. Disini kita dapat melihat bahwa kebaikan itu sesungguhnya tidak memandang bulu. Layak maupun tidak layak, orangnya baik kepada kita maupun tidak baik kepada kita, orangnya tahu berterima kasih maupun tidak tahu berterima kasih, semuanya tidak memberikan kita alasan untuk tidak berbuat baik kepada mereka. Tentu hal ini tidak mudah. Berhubung kebaikan adalah buah Roh, maka sumber kebaikan selevel ini tidak dapat dihasilkan dari kekuatan manusia semata, melainkan dari hubungan intim dengan Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah memandang kebaikan Tuhan sedemikian rupa sehingga pundi emosi kita begitu penuh untuk menyalurkannya kepada orang lain, disertai dengan kemauan untuk taat melakukan kebaikan itu. 

Kebaikan adalah kasih dalam bentuk tindakan nyata. Kita dapat sekedar baik tanpa mengasihi, namun kita tidak dapat mengasihi tanpa berbuat baik. Kita dapat saja memberikan uang receh kepada pengemis tanpa mengasihi pengemis tersebut. Namun kita tidak bisa mengklaim bahwa kita mengasihi pasangan kita tanpa berbuat baik kepadanya. Apakah teman-teman dapat melihat kaitan erat antara kasih dan kebaikan itu? Kasih menjadi landasan di mana seluruh karakteristik buah Roh lain berpijak. 

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”
(Kolose 3:12-14 / TB)

Tuhan menginginkan kita untuk mengasihi sesama; Dia menginginkan kita untuk berbuat baik kepada mereka. Ini merupakan kehendak Tuhan yang dinyatakan berulang-ulang di Alkitab. Tuhan tidak hanya sekedar berkata Ia mengasihi kita, ia juga melakukan tindakan nyata berdasarkan kasih-Nya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Sebagai bentuk nyata dari kasih-Nya, Tuhan mengorbankan sesuatu yang sangat berharga bagi kita, yakni Yesus Kristus, untuk mati di atas kayu salib. Disini kita melihat sisi lebih mendalam lagi dari kebaikan: Kebaikan mengandung unsur pengorbanan. 

Kebaikan selalu merupakan tindakan baik untuk orang lain yang mengorbankan kepentingan sendiri (selfless act). Hal ini bukan berarti kita menjadi berjiwa martir dan hidup dengan tidak pernah memikirkan kebutuhan sendiri. Keseimbangan adalah kuncinya. Tuhan memberikan perintah, “Kasihilah sesamamu manusia, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri” (Mat 22:39b). Kita tidak dapat memberi apa yang tidak kita punyai. Bila kita tidak memperhatikan kebutuhan pokok kita sebelum memberi kepada orang lain, tentulah hal ini tidak sehat. Penting untuk dicatat, kasihi diri sendiri dalam hal kebutuhan-kebutuhan yang esensial, bukan sekedar keinginan mata kita. Contoh kebaikan nyata yang membuat kita berkorban adalah dengan memberikan waktu untuk mendengarkan sesama dalam masalah ketika kita sedang sibuk, memberikan uang bagi yang sangat memiliki keperluan mendesak sementara kita hanya ingin menggunakan uang tersebut untuk keinginan sekunder atau tersier, memberikan pengampunan meski kita masih merasa sakit hati, memberikan pujian di saat teman berhasil meski kita agak merasa iri, dsb. Ada begitu banyak kesempatan di dalam kehidupan kita sehari-hari untuk berbuat baik. Janganlah membayangkan berbuat baik harus berbentuk sesuatu yang besar seperti mendonasikan uang dalam jumlah yang banyak hingga kita menunggu waktu yang tepat di mana nominal banyak tersebut terkumpul. Hal ini tentu tidak salah, namun jangan sampai kita terlewatkan banyak kesempatan berbuat baik yang nampaknya kecil hanya karena konsep berbuat baik di benak kita terbatas. 

Saya secara pribadi sangat mengagumi karakter Ribka (Kej. 24:1-67). Dalam Kejadian 24 diceritakan bagaimana hamba Abraham berdoa meminta tanda dari Tuhan agar ia dapat menemukan wanita yang tepat untuk menjadi isteri Ishak. Ia berdoa agar ketika ia meminta air untuk minum dari anak gadis yang hendak menimba air, ia diberi minum, serta unta-untanya pun akan diberi minum, dan ia akan tahu bahwa gadis itulah isteri pilihan Tuhan bagi Ishak. Patut dicatat bahwa hamba ini tidak berdoa akan hal-hal yang terlihat di permukaan seperti paras yang super cantik, tubuh yang tinggi semampai, mata yang indah, dsb. Hamba ini mendoakan sebuah kualitas yang jauh lebih berharga daripada itu semua, sebuah karakter yang dimanifestasikan dalam tindakan nyata, yaitu kebaikan. Memberikan air minum kepada seorang hamba yang haus saja sudah dapat dikatakan baik karena hal itu berarti anak gadis ini tidak memandang rendah si hamba dan tidak sombong. Tetapi memberi minum juga unta-unta? Tunggu dulu. Bila kita berhenti dan membayangkan sejenak, coba kita cari tahu, berapa banyak kah seekor unta minum air? Fakta membuktikan bahwa seekor unta yang sedang haus dapat minum 30-40 galon air sekali waktu. Lalu ada berapa ekor unta yang dibawa si hamba Abraham tersebut? Dicatat di Kej. 24:10 bahwa ia membawa sepuluh ekor unta. Hal ini berarti Ribka menimba 300-400 galon air untuk memberi minum unta-untanya. Lalu coba bayangkan apakah sekali menimba air, Ribka dapat memperoleh 1 galon? Tentu tidak. Karena pada zaman tersebut wadah menampung air untuk menimba mungkin hanya sebesar ember kita untuk mengepel saat ini. Dan perkataan Ribka ketika menawarkan bantuannya begitu murah hati: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum” (Kej. 24:19). Kebaikan yang diberikan oleh Ribka bukanlah kebaikan yang ngepas-ngepas seadanya saja, melainkan kebaikan yang maksimal. Kita memiliki Tuhan yang tidak tanggung-tanggung dalam menunjukkan kebaikan kepada kita, jadi berilah yang maksimal kepada sesama kita. Tuhan disenangkan dengan orang-orang yang baik hati sedemikian rupa karena manusia menjadi melihat diri-Nya melalui kita. 

Ingatlah, setiap hari merupakan kesempatan baru untuk menunjukkan kebaikan Tuhan melalui tindakan kita. Kebaikan Tuhan adalah sumber yang memudahkan kita menghasilkan buah kebaikan di kehidupan kita. Kecaplah dan lihatlah kebaikan Tuhan, hitunglah berkat-Nya, penuhi hati kita dengan rasa syukur, maka tindakan kebaikan akan menjadi bagian dalam keseharian kita secara alami. Sebuah standard kebaikan yang tidak pandang buluh siapa penerimanya, yang membuat kita berkorban, dan yang merefleksikan kasih Tuhan kepada setiap jiwa yang kita temui. Mari kita menjadi pribadi yang lebih dari sekedar baik, yang juga menjadi saluran kebaikan Tuhan yang sesungguhnya.

Wednesday, May 23, 2018

The Gift of His Word and Body



by Alphaomega Pulcherima Rambang 

Dapatkah Kristus berbicara kepada kita jika kita tidak pernah bergereja atau bersekutu dengan orang percaya lain? Tentu saja dapat! Dia adalah Tuhan Allah. Dia dapat menggunakan berbagai cara untuk berbicara kepada kita. Berbeda dengan di zaman Israel yang untuk menghadap Tuhan harus melalui perantaraan imam-imam dari suku Lewi, sejak kita menerimaNya sebagai Juruselamat, kita dapat datang ke hadapan tahta karuniaNya tanpa perantara. Kini, kita berdoa dan berbicara pada Allah secara pribadi, kemudian Ia menanggapi melalui Roh Kudus yang diam di dalam kita maupun melalui firmanNya. Kita dapat langsung berkomunikasi dan mengetahui keinginan hatiNya melalui firmanNya. Mungkin kita bisa salah mengenali suara Roh Kudus dan suara hati kita, tapi anugerah firmanNya memampukan kita menndengar Allah. Allah tidak membiarkan kita meraba-raba dalam gelap dan menebak-nebak bagaimana kita menjalani hidup ini, Ia memberikan manual book yang kita perlukan. Bagi setiap pribadi yang ingin mencari hikmat dariNya, perhatikanlah firmanNya karena firmanNya memperlengkapi kita untuk setiap perbuatan baik yang dikhususkannya bagi kita. FirmanNya sungguh mengajar kita, firmanNya menyatakan kesalahan kita, firmanNya memperbaiki kelakuan kita dan mendidik kita supaya hidup dalam kebenaran.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. 2 Timotius 3:16-17 

Betapa pentingnya firman Allah, sehingga tertulis demikian: 


Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. 
(Matius 4:4)


Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.
(Efesus 6:16-17)


Waktu diserang iblis di padang gurun, Yesus menangkisnya dengan PERISAI IMAN, Yesus SELALU LEBIH PERCAYA kepada ALLAH BAPANYA dibandingkan si iblis. Saat iblis berkata apa, eh Yesus selalu bilang:


Ada tertulis......
Ada tertulis....
Ada pula tertulis....

(dan Dia mengatakan apa yang dituliskan dan dikatakan BAPANYA-alias FIRMAN ALLAH)

Seolah-olah, Yesus mau bilang: ”Apapun yang kamu bilang ,apapun yang terjadi, aku CUMA PERCAYA apa yang dikatakan BAPAKU di sorga.”

TRUS... iblis akhirnya pergi kan? Dia gak tahan waktu Yesus balas menyerangnya dengan PEDANG ROH alias Firman Tuhan. Sekali, dua kali dia Cuma luka-luka, tapi kalo terus-menerus, bah....gak tahan juga dia :p Ingat iman timbul dari pendenngaran kan? Dan gak sembarang dengar, tapi dengar FirTu. Saat kita mengucapkan FirTu, kita sedang menyerang iblis dengan Firman Tuhan (Pedang Roh) dan sedang membangun perisai iman kita. Kita memiliki senjata hebat dari ALLAH kita.

Sering memperkatakan FirTu waktu mengalami pencobaan/masalah seperti yang dialami Kristus, membawa dampak yang luar biasa: 
  1. Membangun perisai iman kita sendiri (AGAIN! Iman timbul dari pendengaran akan FirTu). Menguatkan kepercayaan kita kepada Allah. 
  2. Mengusir masalah/pencobaan 

Anugerah Firman Allah adalah hadiah bagi setiap pribadi. Ia menyatakan kasihNya, Ia menguatkan kita, Ia meneguhkan, Ia menegur kita, Ia berbicara, Ia menghibur kita melalui firmanNya. Jangan heran jika firman yang sama bagi orang yang berbeda menghasilkan efek yang berbeda antara pribadi yang satu dengan yang lain, karena firmanNya sungguh hidup dan bekerja di dalam kita. Persoalannya, hanyalah apakah kita mau menerima firmanNya yang telah tersedia di dalam ALKITAB kita, atau kita menolak firmanNya dan membiarkan ALKITAB kita berdebu karena tak dibaca? Hadiah firmanNya tersedia, tapi menerimanya adalah tergantung kita, Allah tidak pernah memaksakan pemberianNya ^^

Anugerah lain yang tak kalah indahnya saat kita menerima Kristus sebagai Juruselamat adalah kita memiliki keluarga baru, keluarga Allah. Sebagai sesama anak Allah, kita menjadi anggota keluarga Allah bersama-sama dengan mereka yang juga menerima Kristus sebagai Juruselamat.

Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Efesus 2:19-21

Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Roma 8:29

Sebagaimana keluarga jasmani kita yang tidak sempurna, di dalam keluarga Allah pun kita akan menemui banyak ketidaksempurnaan. Tentu saja, wong kita semua masih belum selesai diproses menjadi sempurna seperti Kristus ^^ Bagaimanapun, kita sesama anak Allah adalah bagian dari tubuh Kristus. Ada banyak hal yang kita bagi bersama dalam hidup bersama keluarga Allah, sukacita, dukacita, pergumulan dan masih banyak lagi. Paulus dalam 1 Korintus 12:12-27 memberikan gambaran yang indah mengenai tubuh Kristus, kita semua anak-anak Allah adalah satu tubuh Kristus yang walaupun berbeda satu sama lainnya namun mempunyai peranan penting dalam hidup bersama. Kita semua saling membutuhkan, mempunyai kelebihan dan kekurangan yang akan saling melengkapi sehingga kita tetap satu dan tidak ada perpecahan. Ada bagian yang tidak dapat saya kerjakan namun orang lain mampu mengerjakannya, begitu pula sebaliknya. Sebagai satu tubuh Allah ingin kita saling memperhatikan.

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
(Ibrani 10:24-25)

Allah memberikan petunjuk dengan jelas, bagaimana Ia ingin anak-anakNya sebagai keluarga bersikap, Ia ingin kita:
1. Saling memperhatikan supaya saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik
Menarik bukan, di sini dikatakan supaya kita saling memperhatikan SUPAYA SALING MENDORONG DALAM KASIH DAN DALAM PEKERJAAN BAIK. Saat ini, 2 fenomena yang terjadi kaitannya dengan memperhatikan orang lain:
  • Tidak memperhatikan alias cuek sama sekali
Sering kali seseorang dalam hidup bersama dengan anggota tubuh Kristus yang lain bersikap cuek dan tidak peduli dengan keadaan orang lain. Ia hanya datang ke gereja setiap hari Minggu, namun menolak terlibat dalam kegiatan dan pelayanan di gereja, ia tidak mau bergaul dan memperhatikan orang lain. Padahal, ciri pengikut Kristus adalah KASIH. Jika anggota tubuh Kristus tidak mengasihi, bagaimana orang lain mengerti bahwa ALLAH yang kita sembah adalah kasih? Bersama sebagai tubuh Kristus seharusnya kita saling memperhatikan.
  • Memperhatikan hanya untuk membanding-bandingkan 
Ini pun terjadi dalam kehidupan Kristiani saat ini, padahal Allah ingin kita saling memperhatikan dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Saat kita memperhatikan saudara kita seiman, Allah ingin kita saling menolong, agar kasih Allah dinyatakan. Jika ada yang melakukan hal yang tidak benar, tugas kita menegur dengan kasih. Jika ada yang membutuhkan pertolongan, bagian kita adalah menolong. Jika ada yang bersukacita, kita turut bersukacita bersamanya. Kita adalah keluarga Allah!

2. Tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita
Kita bukan Lone Ranger yang berjuang sendiri untuk membasmi kejahatan di kotanya, setiap anak Allah berjuang bersama untuk hidup benar di tengah dunia yang tidak benar ini. Saat kita hanya berjuang sendiri, kita akan frustasi dan kelelahan karena merasa hanya sendiri menanggung suatu pergumulan, padahal setiap anak Allah menanggung pergumulan yang berbeda dan dapat saling menguatkan. Sebuah ilustrasi yang indah menggambarkan bagaimana bersama maka anak-anak Allah menjadi kuat dan tidak gampang padam rohnya, perhatikan kayu-kayu api yang dibakar bersama, apinya sangat terang dan membakar, kemudian pisahkan salah satu kayu tersebut, lambat laun kayu yang sendiri itu akan padam. Kita butuh orang lain, orang lain membutuhkan kita, kita semua saling membutuhkan, jangan pernah merasa bisa hidup sendiri. Bersama kita bisa saling menguatkan, menghibur, menolong, membagi kesaksian, mendoakan, dan masih banyak lagi.

3. Saling menasihati
Tidak mudah untuk menasihati apalagi memberikan teguran bagi orang lain, karena kita tahu tidak semua orang berespon dengan baik saat ditegur. Tapi, menasihati dan menegur merupakan tanda kasih. Memberikan teguran memang beresiko kita dibenci dan disalah arti. Memberikan teguran membuat orang lain memandang kita dengan cara yang berbeda denagn sebelumnya. Memberikan teguran memerlukan keberanian besar . Memberikan teguran harus dengan motivasi yang benar. Memberikan teguran harus pada waktu yang tepat, pada orang yang tepat dan dengan cara yang tepat. Memberikan teguran memerlukan kasih. Teguran dapat mengubah hidup seseorang. Entah hidup yang menegur, atau yang ditegur. Teguran adalah kasih yang menampakkan dirinya secara nyata, ia tidak bersembunyi (bdk Amsal 27:5). Sebagai anggota tubuh Kristus, sudah selayaknya kita memberikan teguran dan saling menasihati.

4. Terus-menerus melakukannya (saling memperhatikan supaya saling mendolong dalam kasih dan pekerjaan baik, tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita dan saling menasihati)
Konsisten menerapkan kasih dalam hidup kita bersama sebagai anak Allah tidak mudah, tapi kita perlu mengingat bahwa kita adalah satu tubuh Kristus. Kita tidak dapat memisahkan diri karena kita telah satu dalam kasihNya. Kasih Kristus telah mempersatukan anak-anakNya, dan sudah selayaknya kita bertolong-tolongan menanggung beban kita untuk memenuhi hukum Kristus (Galatia 6:2).

Akhir kata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” Filipi 2:5. Sebagaimana Kristus yang hidup dalam Roh dan KASIH, marilah kita juga melakukan sesuai dengan teladanNya yang adalah Sulung di antara banyak saudara.