Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Monday, February 15, 2021

Ingin Dicintai




by Yunie Sutanto

Kuatkanlah aku dengan penganan kismis, segarkanlah aku dengan buah apel, sebab sakit asmara aku.
(Kidung Agung 2:5 / TB)

Pernahkah terpikir oleh Pearlians, mengapa ada istilah "mabuk cinta" dan "sakit asmara"?

Kondisi orang yang sedang jatuh cinta memang mirip orang mabuk. Tak kurang ada sekitar tujuh hormon yang bergejolak di tubuh saat kita jatuh cinta. Saat sakit asmara melanda, kita bisa mengamati gejala-gejala tubuh seperti jantung berdebar-debar dan keringat dingin. Secara emosional pun ada perasaan bahagia, nyaman dan tenang saat berada dekat si pujaan hati. Seperti orang yang terobsesi, isi pikiran senantiasa dipenuhi tentang si doi. 

Lagi ngapain ya dia? 

Udah makan belum ya?

Entah sudah berapa kali stalking medsosnya hanya untuk mengintip si doi lagi ngapain. Mau makan ingat dia, mau tidur pun ingat dia. Galau dan gelisah memikirkan si pujaan hati. 

Eits... tunggu dulu... mungkin Anda merasa artikel ini bukan untuk Anda.

Lha wong ya sedang biasa-biasa saja, ndak naksir siapa-siapa. Tidak sedang mabuk cinta.

Mungkin Anda belum bertemu pasangan hidup anda, namun artikel ini mengajak Anda untuk mulai mempersiapkan diri jika hari itu tiba. Bagaimana kita akan bertindak saat sakit asmara melanda?

Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. 
(Kidung Agung 3:1)

Sang gadis di Kidung Agung pasal 3 ini sedang sakit asmara. Kasmaran! 

Ia begitu terobsesi memikirkan pujaan hatinya. Malam hari ia tak bisa tidur karena gelisah melanda. Hasrat hatinya menggebu ingin berjumpa sang pujaan hatinya. 

Wajarkah ini? Sangat wajar. 

Normalkah? Normal banget.

Ini tanda bahwa manusia memang diciptakan Allah untuk berpasangan. Tidak baik jika manusia itu sendiri saja. Hasrat ingin dicintai ini sangat normal. 

Setiap manusia memiliki a deep yearning to love and be loved. 

Kasih eros bukanlah kasih yang negatif, karena Tuhan sendiri yang menciptakannya dan manusia membutuhkannya. There's so much beauty in romantic love. 

Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. 

Aku ditemui peronda-peronda kota. "Apakah kamu melihat jantung hatiku?" 
(Kidung Agung 3:2-3)

Saat seharusnya si gadis beristirahat dan tidur, ia malah terjaga karena hatinya gelisah merindukan kekasihnya. Saat sedang "mabuk cinta", tindakan kita seringkali tidak rasional. Seperti sedang mengenakan ‘kacamata pink’, segala sesuatu seolah terlihat berwarna pink! Demikian pula si gadis ini, ia mencari kekasihnya tanpa memikirkan lagi martabatnya. Padahal: Apa yang dikerjakan seorang gadis sendirian malam hari di tengah jalanan kota? Bahkan saat berjumpa peronda-peronda kota, ia tidak takut bahaya menimpanya. Ia malah bertanya apakah para peronda melihat kekasihnya? 

Rupanya "mabuk cinta" ini bisa membuat kita menjadi impulsif.

Pernah seorang teman memutuskan pindah gereja hanya karena sedang naksir seseorang di gereja baru tersebut. Belum lagi kisah seorang teman lain yang memilih jurusan dan kampus yang sama dengan gebetannya. Tidak rasional, bukan? Tapi itulah hal-hal yang bisa dilakukan orang yang sedang mabuk cinta! Itulah perlunya kita punya mentor atau komunitas kecil yang "tahu" kondisi kita apa adanya. Akan lebih aman jika ada yang tahu kalau kita ini sedang di "mabuk cinta" dan berpotensi bertindak kurang rasional. 

Rasa ingin selalu dekat dengan si pujaan hati ini jika tak terkendali bisa berujung pada sifat posesif yang tidak sehat tentunya. Yuk... lanjut kita nyimak bagaimana respon si gadis di pasal 3 ini.

Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku. Kusumpahi kamu, puteri-puteri Yerusalem, demi kijang-kijang atau demi rusa-rusa betina di padang: jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya! 
(Kidung Agung 3:4-5 / TB)

Takkan lari gunung dikejar. 

Kalau sudah jodoh itu takkan lari kemana. Pepatah ini benar sekali. Bukankah jodoh kita ada di tangan Tuhan? Rasa aman menggantikan rasa posesif yang tak sehat, saat kita menyerahkan perasaan dan hubungan kita kepada Tuhan. Allah saja yang merajut tali kasih kita! Serahkan pada Tuhan dan yakinlah bahwa di tangan Tuhan Yesus jodoh kita sudah diatur.

Yang menarik adalah apa yang gadis di pasal 3 ini lakukan saat ia akhirnya berjumpa dengan pasangannya. Apa gerangan responnya? Ia tidak diam-diam menjalin hubungan atau backstreet. Ia juga tidak mengikuti tren TTM an atau HTS-an. Ia mengajak si pujaan hatinya kemana kira-kira ya? Ke rumah ibunya! 

Penting banget melapor ke figur otoritas dalam hidup kita, saat kita memasuki fase menjalin hubungan pranikah. Otoritas kita (orang tua kandung maupun orang tua rohani) bisa memberikan masukan dan ikut menjaga hubungan kita. 

Jangan membangkit-bangkit cinta sebelum waktunya. Jangan galau ingin segera punya pasangan karena tuntutan usia. Jangan pula menjalin hubungan karena tren, karena semua teman sudah punya pasangan, aku tidak mau kalah juga. Pacaran itu memiliki satu tujuan, yaitu pernikahan. Sehingga ketika memilih seorang pacar, kita sebenarnya sedang memilih calon suami juga. Oleh karena itu standard dalam memilih pacar, adalah standard yang sama untuk memilih suami kita kelak.

Marilah gunakan masa lajang dengan maksimal untuk Tuhan. Saat dipercaya memasuki pernikahan kelak, sebagai istri dan ibu, tentunya pelayanan kita yang terutama akan berubah prioritasnya. 

Nikmati masa single dan nikmati juga masa menjalin hubungan. Penyertaan Tuhan selalu ada di setiap masa hidup kita. 

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
(Pengkhotbah 3:1)

*) Referensi dari buku Jonathan A Trisna

Monday, January 11, 2021

What Would Jesus Do?




by Alphaomega Pulcherima Rambang

“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
(1 Yohanes 2:6)

Slogan WWJD mungkin tidak terlalu sering terdengar sekarang seperti pada tahun 2000 awal. Kepanjangan dari WWJD adalah ‘What Would Jesus Do?’, sebuah pertanyaan singkat yang sebaiknya ditanyakan pada diri sendiri sebelum mengambil keputusan atau tindakan apa yang akan dilakukan. Sebuah pertanyaan yang seharusnya membuat kita berpikir antara melakukan sesuatu atau tidak, seperti apa yang akan Yesus lakukan jika dia berada di posisi kita. Jika kita tidak melakukan seperti yang akan Dia lakukan, jangan-jangan kita tidak mengenal Yesus dengan baik sehingga tidak meneladani Yesus dalam kehidupan kita. Well, pada akhirnya memang kita harus mengenal Dia secara pribadi untuk bisa melakukan seperti yang Yesus lakukan.

"Bayangkan suatu hari Yesus bangun dari tidurnya dan menjalani hidup kita yang sekarang, adakah yang berbeda dari hidup kita?"

Demikian pertanyaan seorang Kakak saat membawa kami dalam perenungan pada persekutuan doa yang aku ikuti di UKM Kristen bertahun-tahun lalu.

Aku ingat kami merenungkan pertanyaan tersebut dan sharing, kira-kira bagaimana Yesus akan menjalani hidup kami. Aku membayangkan jika Yesus akan bangun pagi-pagi sekali, saat teduh, bersih-bersih rumah (Yesus gak mungkin males saat teduh lah ya, hihihi), lalu Ia akan menyiapkan sarapan, duduk sarapan bersama eyangku-mengobrol tentang banyak hal-mendengarkan eyang menceritakan tentang apapun, lalu Ia berangkat kuliah naik motor dengan santai tanpa ngebut sambil ngobrol dengan BapaNya atau bernyanyi-nyanyi - tersenyum melihat mereka yang ngebut. Yesus tidak akan telat tiba di kampus, Ia membantu kawan yang belum mengerjakan tugas - bukan memberi contekan, sesekali Ia bercanda dengan kawan-kawannya-tentunya bukan lelucon kotor yang dikeluarkannya, tidak pula gosip, tapi tanpa begitupun Ia mampu membuat orang lain tertawa, sense of humour Nya terbaik, dst. Yesus menjadi diriku dalam versi terbaik.

Membayangkan Yesus menjalani kehidupanku sangatlah menarik, membayangkan Dia berbicara, kuliah, ikut ujian, pelayanan, dll. Aktivitasnya kurang lebih apa yang aku lakukan TAPI minus DOSA pastiiii... plus hubungan mesra dengan Bapa Surgawi. Saat kita memberikan Yesus tempat istimewa dalam hati dan hidup kita, Dia akan melakukan berbagai hal dengan caraNya, dan PASTI, hidup kita akan berbeda. Aku yang sekarang (memiliki Yesus) akan berbeda dengan aku yang sebelumnya. Tentu saja, yang memimpin adalah Yesus di dalamku, biar Yesus saja yang semakin bertambah dan aku yang semakin berkurang. Kira-kira demikianlah seharusnya hidup kita saat kita telah menerimaNya sebagai Juruselamat kita. KehadiranNya nyata nampak dalam hidup kita. ”Tapi ini sulit, aku gak bisa Tuhan, jeritku dalam hati, kenapa Tuhan tidak membiarkanku seperti ini saja?”

“Tuhan mengasihi kita apa adanya, tetapi Dia tidak akan membiarkan kita seadanya. Dia akan mengubah kita menjadi seperti Kristus.” 
- Max Lucado
Beberapa waktu kemudian aku mendapat kesempatan membaca sebuah buku yang di dalamnya bertuliskan seperti ini : Bagaimana, kalau Yesus menjadi anda untuk satu hari? Max Lucado dalam bukunya ini, Just Like Jesus, mengatakan bahwa untuk menjadi serupa dengan Kristus harus dimulai dari memiliki hati seperti hati-Nya dan hal itu dimulai dengan pembentukan hati oleh Roh Kudus. Kita perlu belajar memiliki hati seperti hatiNya. Ia menjabarkan ciri hati Kristus yang harus dimiliki oleh umat-Nya, yaitu hati yang mengampuni, penuh belas kasihan, mau mendengar, hati yang haus akan Tuhan, haus beribadah, terfokus pada Allah, jujur, murni, penuh pengharapan, bersukacita, dan tabah. Berikut ini beberapa ciri hati Yesus yang harus kita miliki:


HATI YANG MENGAMPUNI

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
(Kolose 3:13)

Mengampuni memang sulit tapi Yesus melakukannya, mari kita pandang Yesus yang telah memberikan teladan pengampunan terlebih dahulu terhadap kita. Ingat malam dimana Dia membasuh semua kaki murid-muridNya? Yesus bukannya tidak tahu kalau di antara murid-muridnya akan mengkhianati dan menyangkalNya tapi nyatanya Dia tetap membasuh kaki mereka. Dia memberikan anugerahNya kepada mereka yang tidak pantas diampuni TERLEBIH DAHULU. Dia menawarkan kasih dan pengampunanNya tanpa diminta dan memberikannya cuma-cuma. Kupikir, apa yang kita alami tidak lebih menyakitkan dari yang Dia alami, tapi Dia tetap mengampuni yang menyakitiNya. Inilah yang harus kita teladani


HATI YANG MENDENGAR

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.” 
(Yakobus 1:22-23)

Yesus dalam khotbahNya berkali-kali mengatakan : Siapa bertelinga hendaklah Ia mendengar. Seperti yang Yesus mendengar BapaNya dan taat, kita sangat perlu dengar-dengaran dengan Firman dan kehendak Allah di hidup kita. Bagaimana cara mendengarkan Tuhan? Dimulai dengan Alkitab yang terbuka dan membiarkan Dia berbicara melalui firmanNya yang berisi kehendak dan isi hatiNya, seperti yang Yesus lakukan. Lalu, lakukan! Semudah sekaligus sesulit itu. 


HATI YANG JUJUR

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” 
(Efesus 4:25)

Pernahkah mendapati Yesus berdusta? Sepanjang hidupnya selama 33 tahun kehidupan Yesus di muka bumi, tak ada cerita tentang kebohonganNya sekalipun keadaan Yesus sangat mendesak. Bagaimana dengan kita? Terkadang kita menambah atau mengurangi kebenaran, berbohong demi kebaikan, berdusta untuk melindungi diri kita, dll, apapun itu namanya, tetap saja kita tidak jujur. Bahkan kita menyampaikan hanya setengah kebenaran dan berkata kita telah jujur. Kita perlu meneladani hati Yesus yang jujur, yang tidak ada dusta 


HATI YANG MURNI

“sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” 
(Markus 7:21-22)

Hati manusia dipenuhi dengan segala kejahatan, hal-hal terburuk yang ingin dilakukan. Berbeda dengan hati Yesus yang murni. Setiap hari hatiNya dimurnikan oleh firman Tuhan dan Ia menjaga hatiNya sungguh-sungguh supaya tidak ditumbuhi benih yang jahat. Mudah bagi Yesus untuk merasa sombong karena kuasa yang dimilikiNya, tetapi nyataNya Ia mengakui dan menyadari karya Allah di dalamNya dan memuliakan Allah. Yesus memilih apa yang ingin Dia rasakan dengan selektif sehingga tindakanNya juga selektif. Perbuatan dan perkataan kita adalah cermin dari hati kita.


HATI YANG PENUH PENGHARAPAN

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”
(Roma 12:12)

Yesus berkata bahwa segala sengsara yang harus dialamiNya telah dinubuatkan. Dia melihat tujuan dalam penderitaanNya sebagai pemenuhan rencana besar Allah. Dia tidak membiarkan diriNya mengasihani diriNya atau mengutuki keadaan. Dia tetap berharap pada BapaNya dan meminta namun dengan rendah hati menginginkan kehendak BapaNya yang terjadi karena Ia tahu rancangan Allah adalah yang terbaik.

Kita perlu berlatih agar memiliki hati seperti hatiNya. Allah ingin agar kita menempatkan Kristus sebagai TELADAN atas seluruh hidup kita (Roma 8:28-29). Dia mau kita menjadi serupa dengan gambaran anakNya, lewat segala sesuatu yang kita alami. Melalui pilihan-pilihan yang kita ambil, Dia ingin membentuk hati kita menjadi serupa dengan Kristus.

Sebelum melakukan sesuatu, kita perlu menanyakan pertanyaan penting ini:

Apakah ini membuatku makin SERUPA dengan Kristus?

Monday, November 23, 2020

God’s Love Language




by Leticia Seviraneta

Gary Chapman, penulis buku “The 5 Love Languages”, menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki bahasa kasih—cara yang menunjukkan bagaimana seseorang merasakan bahwa dia dikasihi. Bahasa kasih dari buku Gary Chapman ini digolongkan menjadi lima jenis: kata-kata yang membangun, menghabiskan waktu berkualitas bersama, memberikan hadiah, melayani, dan sentuhan fisik. Pada umumnya, setiap orang memiliki satu atau dua bahasa kasih yang menonjol dari antara lima jenis bahasa kasih ini, dimana orang tersebut akan merasa paling dikasihi. Misalnya, seorang yang memiliki bahasa kasih kata-kata yang membangun, orang tersebut akan sangat bahagia dan merasa bahwa dia disayang/dikasihi ketika dia mendengar kata-kata-kata yang membangun yang ditujukan pada dirinya atau jika bahasa kasih seseorang adalah sentuhan fisik, maka orang tersebut akan sangat bahagia dan merasa dikasihi saat orang-orang yang dikasihinya memberikan sentuhan fisik. Tetapi, apabila sentuhan fisik bukan merupakan bahasa kasih seseorang, maka sentuhan tidak akan membuatnya bahagia, mungkin akan membuat orang tersebut tidak nyaman dengan sebuah sentuhan. Manfaat memahami bahasa kasih seseorang adalah agar kita dapat mengasihi orang lain dengan lebih efektif dengan mempraktikkan bahasa kasih utama yang dimiliki orang tersebut.

Seperti dengan manusia, Tuhan kita juga memiliki bahasa kasih, loh!

Ah, masa’ sih?

Kira-kira apa yang membuat Tuhan merasa dikasihi oleh kita sebagai ciptaan-Nya?

Tapi dengan membahas bahasa kasih Tuhan, bukan berarti kita menganggap Tuhan “butuh” kasih atau seolah-olah kekurangan kasih. Tuhan tidak pernah kekurangan kasih karena Tuhan adalah kasih dan sumber kasih itu sendiri.

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
(1 Yohanes 4:7-10)

Sebagai subyek penerima kasih Tuhan yang begitu besar, maka respon kita seharusnya adalah mengucap syukur dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati karena sesungguhnya kita tidak layak untuk dikasihi tetapi dilayakkan untuk menerimanya. Bahasa kasih Tuhan bukanlah kata-kata yang membangun, menghabiskan waktu berkualitas bersama, memberikan hadiah, melayani, ataupun sentuhan fisik seperti yang dibahas oleh Gary Chapman. Lah? Terus apa ya yang membuat Tuhan merasa dikasihi?

Ada beberapa bagian Alkitab dimana Yesus memberitahukan bagaimana cara kita mengasihi Tuhan dan menyenangkan hati-Nya:

1. KETAATAN (OBEDIENCE)

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”
(Yohanes 14:15)

Yesus langsung memberitahukan bagaimana cara mengasihi Tuhan dan menyenangkan hati-Nya yaitu bila kita menaati segala perintah-Nya. Eh, tunggu dulu! Semua perintah-Nya? Bukan beberapa perintah-Nya saja? Dengan kata lain, jika kita tidak menaati semua perintah-Nya, kita tidak sedang mengasihi Tuhan! Oh no!! Tapi jangan takut! Tuhan tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna, termasuk kita. Hah? Terus bagaimana, dong? Apakah kita tidak bisa mengasihi Tuhan? Tentu bisa, jika kita mengandalkan Tuhan karena kita tidak sempurna dan tidak layak tetapi disempurnakan dan dilayakkan. Ketaatan pada semua perintahNya dapat terwujud ketika kita terhubung dengan Tuhan sebagai sumber kasih. Ketika kita fokus pada kasih-Nya yang begitu besar bagi kita, mengucap syukur atasnya, maka ketaatan bukanlah sebuah beban berat atau kewajiban yang dipaksakan melainkan kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan. Kuncinya di sini bukanlah perbuatan (doing) yang bisa kita lakukan, melainkan menjadi (being) subyek yang menerima kasih Tuhan. 


2. PERCAYA (TRUST)

“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Tuhan. Sebab barangsiapa berpaling kepada Tuhan , ia harus percaya bahwa Tuhan ada, dan bahwa Tuhan memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
(Ibrani 11:6)

Dalam terjemahan bahasa Inggris, ayat ini berbunyi, “And without faith it is impossible to please God…” Tidak mungkin menyenangkan Tuhan tanpa iman. Seperti seorang ayah akan disenangkan ketika anaknya memiliki kepercayaan penuh kepadanya, begitu juga dengan Bapa kita di Sorga. Ketika kita percaya sepenuhnya kepada Tuhan, kita tidak akan meragukan setiap rencana dan keputusan-Nya untuk kita.

Yesus melakukan banyak mujizat dan mengajarkan orang banyak dengan satu tujuan yaitu agar setiap orang yang melihat dan mendengar-Nya menjadi percaya kepada-Nya dan menerima keselamatan yang kekal. Di masa-masa akhir ini, banyak unbelieving believers. Hm, siapakah mereka? Mereka adalah orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi, beribadah di gereja secara rutin, namun dalam kesehariannya tidak percaya bahwa Tuhan berkuasa dan berdaulat di hidupnya. Mereka lebih percaya kepada uang, kekuatan sendiri, koneksi, dukungan orang tertentu, dsb. Nah, apakah kita termasuk orang-orang yang disebut unbelieving believers ini? Apakah kita termasuk pribadi yang memiliki banyak kekhawatiran akan hidup dan masa depan kita? Mari kita koreksi diri kita dan mulai belajar untuk menyerahkan segala kekhawatiran tersebut dan mempercayakan kekhawatiran kita kepada Tuhan. Jangan ragu! Memang kadang-kadang tidak mudah dan terkesan klise, tapi percayalah dan lihatlah bagaimana Tuhan akan bekerja untuk mendatangkan kebaikan untukmu.

Ada hal menarik yang ditemukan di dalam Injil Yohanes: kata “percaya” tercatat sebanyak 90 kali dimana, semua dalam bentuk kata kerja, bukan kata benda (dalam bentuk kata iman (faith)). Kata percaya (believe) berada dalam tata bahasa (tense) Yunani yang memiliki arti literal “percaya secara berkelanjutan” atau believe and keep on believing. Karena itu, dapat dimengerti bahwa percaya kepada Tuhan bukanlah bersifat eventual atau satu waktu saja, melainkan proses percaya secara terus-menerus kepada-Nya sepanjang hidup kita.

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
(Amsal 3:5-6)


3. PEDULI TERHADAP GEREJA-NYA (TAKE CARE OF HIS SHEEP)

“Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
(Yohanes 21:15-17)

Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali apakah ia mengasihi Yesus, dan Petrus menjawab tiga kali juga bahwa ia mengasihi-Nya. Lalu Yesus menjawab kembali: gembalakanlah domba-domba-Ku sebanyak tiga kali. Dalam terjemahan bahasa Inggris, Yesus menjawabnya, “Feed my lambs, take care of my sheep, feed my sheep.”

Dari perkataan ini, kita bisa mengerti bahwa hati Tuhan disenangkan ketika kita mengasihi gereja-Nya—yang merupakan tubuh Kristus. Sadarkah kita bahwa Tuhan mengasihi gereja-Nya? Gereja yang bukan dalam arti sebuah gedung melainkan sekumpulan orang-orang percaya yang telah ditebus oleh darah-Nya. Tuhan dan gereja-Nya merupakan satu tubuh yang tidak terpisahkan. Kita tidak dapat mengasihi Tuhan, tanpa mengasihi gereja-Nya (1 Kor 12:12-27). Yesus dengan tegas berkata, “Love Me, love My church.” Itulah mengapa ketika kita peduli terhadap kesusahan teman seiman kita, ketika kita melayani di gereja karena rindu untuk saling menguatkan dan membangun satu sama lain, kita telah mengasihi Tuhan dan menyenangkan hati-Nya. 

Terkadang kita salah dalam menyampaikan kasih kita kepada Tuhan. Kadang kita memperlakukan hubungan kita dengan Tuhan seperti daftar “do’s and don’ts.” Atau kita mencoba mengasihi Tuhan dengan kekuatan kita sendiri dengan menjadi orang yang sibuk melayani di gereja tanpa dilandasi sikap hati yang tepat. Mengasihi Tuhan sebenarnya tidak serumit yang kita bayangkan. Dengan senantiasa taat, percaya, dan peduli kepada gereja-Nya, kita sudah meresponi kasih Tuhan dengan bahasa kasih-Nya. Selamat mencoba!

Monday, September 28, 2020

The Forgotten Ingredient for a Tasteless World


by Tabita Davinia Utomo

Artikel ini mengacu pada Yohanes 13:31-35, 15:12-17

Apa kabar, Pearlians? Apa kabar? Fyuhhh… pandemi Covid-19 ini sudah berlangsung lebih dari setengah tahun, tapi tampaknya dunia berubah dengan sangat drastis, ya? Semua orang sibuk untuk bertahan hidup, tetap sehat roh, jiwa dan tubuhnya. Kalau kita mau peka, di saat semua orang sibuk dengan hidup mereka, ada sesuatu yang bisa dipertanyakan:

Masihkah ada kasih di dunia yang hambar ini?

Di masa sulit seperti sekarang, ternyata tidak sedikit orang-orang yang berusaha melakukan kebaikan untuk meringankan beban orang lain. Tapi apakah mereka (mungkin termasuk kita) mendasarinya dengan kasih seperti yang Tuhan Yesus kehendaki? Apakah sebagai orang (yang mengaku) percaya kepada-Nya, kita mengedepankan motif untuk unjuk diri daripada menjadikan perbuatan diri kita sebagai bentuk syukur atas berkat Allah? Pertanyaan tersebut merupakan salah satu perenungan terbesar saya akhir-akhir ini. Ketika saya sudah merasa melakukan perbuatan baik bagi orang lain, apakah itu karena saya ingin mereka juga mengapresiasi apa yang saya lakukan, atau memang saya tulus melakukannya karena saya mengasihi mereka? Apakah saya mengharapkan mereka membuat story atau post di media sosial tentang encouragement words atau hadiah yang saya berikan, atau saya melakukannya sebagai perpanjangan tangan Allah dalam mengasihi mereka?

Mungkin hal tersebut terjawab melalui perkataan Yesus dalam “pesan terakhir” kepada para murid-Nya—sebelum Dia menjalani Via Dolorosa.

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
(Yohanes 13:34-35)

Tidak dijelaskan alasan kenapa Yesus baru menyampaikan perintah tentang “saling mengasihi” justru setelah Yudas meninggalkan perjamuan terakhir Sang Guru bersama sesama murid (Yohanes 13:31). Namun yang jelas, Yesus mengulang perintah-Nya ini di Yohanes 15:12-17:

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Saat itu, sebuah perkataan yang diulang (bahkan sampai berkali-kali) berarti bersifat sangat penting dan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Hal yang sama juga dilakukan Yesus kepada para murid-Nya, agar mereka tidak melupakan perintah penting ini. Apalagi sebelumnya, Yesus menekankan pentingnya saling melayani—sama seperti diri-Nya yang telah memberikan teladan kepada mereka. Tindakan tersebut menegaskan bahwa pelayanan tanpa kasih Allah (agaphe—bahasa Yunani) adalah sia-sia. Sebaliknya, ketika kita mengasihi, kita juga akan terdorong untuk melayani dengan “modal” yang Tuhan percayakan. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mengasihi kalau tidak benar-benar menyadari bahwa kita dikasihi oleh Allah? Mungkin ada beberapa ayat di atas yang kita hapalkan sampai di luar kepala, tapi seberapa besar dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain?

Pearlians, ketika kita mengabaikan ke-“tidak baik-baik saja”-an yang dimiliki, tidak jarang imbasnya pada letihnya jiwa kita untuk mengasihi orang lain. Walaupun secara penampilan (kalau kata dosen saya, “fenomena”) kita bisa sangat mengasihi orang lain, ada kemungkinan semangat yang melandasinya adalah insecurity. Ya, bisa saja kita “mengasihi” karena takut mereka meninggalkan kita. Kita berbuat baik agar mereka juga melakukan hal yang sama. Seperti transaksi dagang, ya? Mungkin itu juga yang dialami oleh dunia saat ini: rasa hambar karena kasih terasa tawar. Padahal bukankah seharusnya kasih membuat hidup ini menjadi lebih manis untuk dijalani, meskipun kadang-kadang berseling dengan rasa getir dan pahit?

Jadi sebenarnya, kasih seperti apa yang harus kita miliki? Paulus menjawabnya dengan indah di 1 Korintus 13:4-7:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

“Love is patient, love is kind, it is not envious. Love does not brag, it is not puffed up. It is not rude, it is not self-serving, it is not easily angered or resentful. It is not glad about injustice, but rejoices in the truth. It bears all things, believes all things, hopes all things, endures all things.”
(New English Translation version)

Keempat ayat di atas seringkali digunakan sebagai landasan dari pembahasan mengenai relationship; tapi disadari atau tidak, sebenarnya Paulus justru menuliskan tentang kasih ini setelah dia menyebutkan berbagai karunia rohani di pasal sebelumnya (1 Korintus 12). Artinya, kasih ini adalah karunia rohani terbesar di atas segalanya—yang pasti dimiliki oleh semua orang percaya. Namun di sisi lain, kasih di dalam diri kita tidak akan berkembang kalau kita hanya menyimpannya untuk diri sendiri—atau justru menolaknya karena tidak sesuai dengan keinginan kita.

Mengasihi memang penuh tantangan, tapi bukankah lebih melelahkan lagi ketika kita mengasihi dengan kasih yang egois dan penuh tuntutan tak berbalas?

Mungkin kita perlu belajar bersama untuk memperbaiki mindset bahwa kasih yang sejati hanya bisa disalurkan kepada orang lain ketika kita sudah benar-benar menyadari Allah mengasihi kita dengan kasih tersebut. Setelah menyadarinya, kita juga perlu untuk mengasihi diri kita terlebih dulu—iya, lho. Bagaimana kita bisa mengasihi orang lain kalau kita tidak bisa mengasihi diri sendiri? Bukan berarti kita jadi egois, ya… tapi seperti yang dikatakan Yesus, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39). Kita tidak bisa memberi apa yang kita sendiri tidak miliki.

Selamat tenggelam dalam cintanya Tuhan, Pearlians, jangan lupa untuk mengasihi diri sendiri dan orang lain… seperti yang telah dilakukan-Nya bagi kita.

Wednesday, September 19, 2018

Mengapa Tuhan Mengizinkan Penderitaan



by Grace Suryani Halim

Kenapa Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya mengalami penderitaan? Katanya anak Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, tapi kok menderita? Kenapa Tuhan ga kasih garansi bahwa semua orang yang percaya pada Tuhan Yesus tidak akan menderita lagi? Kan enak... 

The last 6 months are one of the hardest time in my life. Ever. Pergumulan datang silih berganti. I've seen death face to face few times. Dihimpit kanan kiri. Belum selesai, masalah baru sudah menanti. Dari gue yang tadinya selalu yakin dan tiap berdoa gue sering ngomong, "I know You, Lord. I know You are a good God," menjadi sampai di titik, "I don't know You anymore..." Semua masalah ini membuat gue jadi orang yang berbeda. Gue menghindari ketemu orang-orang, lebih pengen sendiri, ga terlalu pengen cerita-cerita (oh my, gue sendiri bingung kok gue ga kayak gue lagi). Yang biasanya ember, sekarang jadi keran. Rapet... Netes juga kagak. 


Di sisi lain, something amazing terjadi. Gue jadi peka—sangat peka dengan orang-orang lain yang sedang berduka. Di waktu yang hampir bersamaan, ada seorang rekan yang kehilangan anak dan papanya hanya dalam waktu 2 minggu. Ketika gue hubungin ybs dan bilang, "I'm so sorry for your loss. I'm praying for you," itu bukan kata-kata basa basi. I did pray like crazy for him. I can feel his pain. His loss. His suffering. 

Peristiwa itu membuat gue teringat kejadian sewaktu gue keguguran ampir 3 tahun lalu. Sebelum kejadian, ketika gue pergi check ke dokter kandungan, ada sepasang suami istri yang keluar dari ruang dokter sambil menangis. Respons pertama gue, "Waduh Tuhan, jangan sampeee gue kayak begituu..." 2-3 minggu kemudian, gue keluar flek-flek. Deg. I prayed like crazy, several sleepless nights. Ketika lagi nunggu dokter, ada seorang ibu lain yang begitu keluar lgsng didorong pake kursi roda dan dibawa ke ruang perawatan, she cried. Respons pertama gue, "Lord, please help her... Please take care of her baby. I hope she's okay. Please help her. Please..." 

3 minggu sebelumnya, gue ga peduli sama sekali dengan pasangan suami istri yg pertama. Gue cuman berdoa, jangaaann sampeee gue harus begitu. Did I care about them? Nope. I only cared about myself. Yang penting bayi gue ga kenapa-kenapa. Bayi orang laen, nasib dia lah. 3 minggu kemudian, gue bahkan ga sempet mikir semoga bayi gue ga kenapa-kenapa (waktu itu belon tau kalo keguguran, baru ada flek-flek). Gue bener-bener berharap she's okay dan bayinya juga baik-baik saja. Apa yang membuat gue yang tadinya yang punya mental, gue ga peduli bayi laen gimana yang penting bayi gue ga kenapa-kenapa, menjadi otomatis (sekali lagi OTOMATIS) mikirin bayi orang lain juga? Penderitaan. Suffering. 
Penderitaan itu mengubah engkau. Penderitaan menghancurkan ego. Meremukkan kesombongan. Menghilangkan self-righteous. Penderitaan itu membuat lubang di hatimu, sehingga ada tempat untuk orang lain di sana... Penderitaan membuat kita sadar, betapa rapuhnya hidup ini. Ya, jika boleh merumuskan apa itu penderitaan, buat gue penderitaan itu membuat lubang besar di hatimu, sehingga ada tempat untuk orang-orang lain di sana dan ada lebih banyak tempat untuk Yesus. Hatimu tak lagi penuh dengan SAYA, SAYA, dan SAYA.
Mungkin itu sebabnya Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya tetap mengalami penderitaan di dunia ini. Supaya mereka tetap in-touch with reality. Mereka bisa berempati dengan dunia yang terluka. Mereka bisa menangis dengan jiwa-jiwa yang menderita. Mereka bisa mengerti bahasa tetesan air mata. Orang-orang yang pernah mengalami luka yang sama, bisa berkomunikasi dengan kedalaman yang hanya bisa dimengerti oleh yang pernah terluka. 

Bayangkan jika semua anak Tuhan kebal terhadap penderitaan, bagaimana kita bisa mengerti raungan orang-orang yang terpinggirkan di ujung sana? Bagaimana kita bisa menjadi saksi Kristus yang efektif juga kita tidak benar-benar bisa peduli? Bagaimana kita bisa peduli jika kita tidak pernah mengalami? Bagaimana kita bisa mencerminkan Allah yang peduli kepada dunia, jika kita hidup di dalam rumah kaca yang steril terhadap penderitaan? Itu bukan cerminan Yesus. Yesus justru keluar dari 'rumah kaca' untuk masuk ke dalam penderitaan! Karena itu mensetrilkan anak-anak-Nya dari penderitaan justru mengingkari teladan Yesus Kristus, Tuhan kita. 

Beberapa teman-teman baik gue yang sangat gue kagumi karena mereka orang-orang yang sangat considerate, sangat bisa menguatkan org, pandai memilih kata-kata yang membangun, tulus, orang-orang yang sangat optimistik justru adalah orang-orang yang sudah banyak mengalami ups and downs dalam hidup mereka. Mereka orang-orang yang membuat banyak orang nyaman dengan mereka. Sekarang baru gue ngeh kenapa... Itu bukan karena they had a good upbringing, atau mereka pintar. Bukan. Mereka orang-orang yang sering digodok dalam kesukaran, tapi mereka tidak menjadi pahit. 

Buat teman-teman yang juga sedang dirundung masalah, yang merasa tertekan, izinkan gue share ayat favorit gue di masa-masa ini, 

"Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka."
(Mazmur 90:15)

Ayat barusan gue ketik di luar kepala. Karena ini ayat yang jadi pegangan gue di hari-hari ini. Ini ayat yang gue dapet sewaktu gue masih kuliah di China. Pertama kali baca ayat itu gue ngerasa lega. AKHIRNYA... Ada ayat yang mengakui bahwa terkadang Tuhan menindas umat-Nya. Instead of saying, "Everything will be okay, just trust Him," penulis Mazmur ini berani berkata dengan lantang, “Tuhan, Kau menindasku!” Oh Tuhan, tolong jangan cuman tindas gue, buatlah juga gue bersuka cita seimbang dengan hari-hari gue mengalami sengsara. Ayat ini nancep, karena ini ayat yang jujur. Ga muna. Ga sok beriman. Dan ini ayat yang ditulis oleh orang yang dirundung duka. Orang yang mengalami celaka. Tapi ia tahu, ia berani meminta Tuhan, buatlah gue bersukacita seimbang dengan hari-hari gue mengalami celaka. Ini ayat yang mengandung pengharapan. Pengharapan bahwa di depan akan ada 'payback time from God'. Akan ada hari-hari dimana Tuhan membuat kita bersukacita. Dan tidak hanya sekedar bersukacita, tapi Ia akan membuat gue bersukacita SEIMBANG bahkan lebih dari bulan-bulan gue mengalami celaka.

Dan ayat kedua,

"I will see the goodness of the Lord in the land of the living."
(Psalm 27:13)

Kalo lagi menderita emank paling enak baca Mazmur. Ini ayat sebenernya juga agak 'kurang ajar' sih. Pede banget si Daud, berani bilang dia bakal liat the goodness of the Lord selama dia masih hidup. Kok dia yakin? Siapa tahu Tuhan mau kasih berkatnya setelah dia mati? Ga ada yang tau kan? Ini yang dipelajarin dari para pemazmur. Mereka orang-orang yang jujur. Ga ada basa-basi. Jujur dengan kesedihan mereka, dengan ketakutan mereka, dengan rasa frustasi mereka, dengan kemarahan mereka. But they're also very bold. Mereka berani meminta. Bukan sekedar doa, "Terserah Tuhan... Tuhan tau yang terbaik. Keliatan beriman, tapi kadang itu lahir dari ketakutan. Iya kalo dikasih... Kalo Tuhan ga kasih gimana? Terserah Tuhan aja dah. Main aman. Pemazmur tidak seperti itu. Ia meminta apa yang ia percaya. Ia percaya hal-hal yang besar. Dan mereka percaya, Tuhan itu Tuhan yang baik. Tuhan yang tidak marah ketika anak-anak-Nya meminta. Dan gue bersyukur gue punya Tuhan yang sama dengan mereka. :) 

*** 

God, I know You’re too wise to be mistaken.

Sunday, April 1, 2018

Ketika Aku Bertemu Salib


by Nelly Hendrianto 

Ditulis di Majalah Pearl #09 “When I Met The Cross” 

Gue udah terlibat pornografi dan masturbasi sejak kelas 3 SD. Ga inget gimana mulainya tapi yg keinget cuma gue ngelakuinnya dengan sembunyi2 dan gue terus ngelakuinnya sampe gede. 

Saat gue berumur 21, gue pacaran ama cowo pertama gue. Pertama2, anaknya lembut dan baik. Tapi lama kelamaan, mulai keliatan sifat buruknya yg suka marah2. And memasuki beberapa minggu pacaran, dia minta2 terus keperawanan gue buat hadiah ultahnya. Gue nolak donk. Tapi dia terus mendesak, dengan pernyataan ‘klise’.

“kalo kamu cinta sama aku, kamu kasih donk keperawanan itu buat aku” 

So akhirnya gue luluh juga. Dikasih deh. From that day, dia suka minta2. Kalo ga dikasih, dia marah2. Beberapa kali dia marah sama gue karena beberapa hal sepele. Btw, dia orangnya posesif buanget. Mao ngapa2in harus disebelah dia, saat itu kita emang tinggal serumah sih. (We lived in Sydney, ceritanya sih gue sekolah dan cowo ini kerja. But truth is gue uda dikeluarin dari skolah, tanpa my parents tau.) And I served him for sex, hati gue sebenernya udah mati buat dia. Tapi karena takut aja, gue stayed. 

Dan kalo marah dia mulai maen fisik. Gue didorong2 ke tembok dll. Puppy dog gue yg baru umur 9 bulan, ama dia dipukul dan akhirnya mati di pangkuan gue just becoz he was jealous, karena gue sepertinya lebih sayang ama doggie gue itu. Klimaksnya, suatu hari, dia tampar gue sampe terlempar ke ranjang. Then pegang leher gue, kayak mo cekik, sambil teriak2 kayak orgil. At that very moment gue tau, gue ga mungkin bisa hidup sama orang ini lagi. So to cut the story short, gue lari dari rumah. Dan temen2 gue bantuin gue kabur dari dia. For first few months, gue masih diteror, ditelponin, diancem. Temen2 gue juga diancem. Tapi tong kosong berbunyi nyaring lah ya. Akhirnya dia berhenti neror gue saat dia udah dapet cewe baru. 

Since that moment, hidup gue went downhill. Gue suka bgt clubbing. Dan disana gue ketemu banyak temen2 ga jelas, dan kita idup bebas. Rokok, alcohol, ngobat dll. Hampir setiap minggu, diabisin di clubbing sampe subuh. Kadang2 mabok2an rame2 dirumah temen sampe gue pingsan. Banyak cowo2 ajak kenalan dll. Sampe akhirnya gue terlibat free sex, punya sexual partners/TTM. Dan during these times, gue mulai serius mikirin bunuh diri. Coz I didn’t see the point of living anymore. Gue ngerasa ga ada yg sayang sama gue. Cowo2 mau gue cuma buat sex aja, ga mau lebih. Parents gue juga ga jelas, gue came from a broken family. Punya mereka apa gak, sama aja buat gue. Jadi gue mulai siap2in hal2 yg perlu disiapin buat bunuh diri yg sukses. 

Sampai suatu saat, gue dikenalin sama satu cowo. Dan kita deket, gue jadi suka sama dia. Dia keliatan anak baik dan care sama gue. Kita jadi sering chatting, and ga tau knapa gue jadi cerita tentang rencana bunuh diri gue sama dia. Dia kaget donk, dan berusaha talk to me and stuff. So akhirnya gara2 dia, rencana bunuh diri gue tertunda. I felt dia bener2 care dan sayang sama gue. Kita jadi deket bgt dan lama kelamaan kita terlibat free sex. 

Tapi dia bilang sama gue, kalo dia ga bisa jalanin relationship ama gue karena dia baru putus sama cewenya. Dia masih trauma ama relationship katanya. Gue ok-ok aja, jadi kita jadi TTM with sexual relationship. 

Gue pikir gue ok2 aja dengan hubungan seperti itu. Tapi ternyata hati gue sakit juga. Kalau kita jalan diluar bareng temen2nya, dia ga pernah gandeng tangan gue. Ga pernah show that dia sayang gue. Padahal kalo kita berduaan, dia selalu sayang2 gue. So his friends only knew that I was his sex partner. Itu menyakitkan karena gue bener2 dah sayang bgt sama dia, but I couldn’t bring myself to end this. 

Mulai saat itu, gue mulai cut myself with knife, bukan buat bunuh diri. Tapi buat pelepasan rasa sakit di dada. Menurut gue, rasa sakit di tangan gue ga sesakit apa yg gue rasain di dada. There was one day, gue cut my both hands badly, trus gue kerumahnya dan kasih liat dia. Dia ketakutan, and I think that was the time dia mulai sadar bahwa dia in a bad situation, being involved with me. Gue pernah diem2 baca2 chat history dia sama temennya. Dia bilang dia nyesel terlibat sama gue, he had no idea that he would be in this kind of mess. 

Yah hati gue smakin hancur. The one I thought really cared for me, actually didn’t care at all. 

Gue akhirnya ke dokter, minta obat penenang, supaya gue ga depresi lagi. I thought it was hormonal imbalance. Tapi it didn’t help. Ada satu hari, gue kalap, dan gores2 tangan gue lagi. And karena gue ga tahan, gue nangis2 dan telpon bokap gue. Selama 5 taon gue di Sydney, gue ga pernah telpon bokap skalipun. Apalagi nangis2. Bokap gue kaget banget donk. Dia nanya2 terus knapa, and gue ga bisa jawab, gue cuma minta dia dateng ke Sydney secepetnya. And before kita tutup telpon, bokap bilang gini, 

“Please don’t do anything silly, tunggu papa kesana ya.” 

Nah after that, gue cerita ama ‘cowo gue’. And he was glad that I finally talked with my dad. Tapi lama2 gue ngerasa hubungan gue ama cowo itu smakin jauh. Hubungan smakin ga jelas. Sampe satu hari, gue muak ama semuanya. Gue kurung diri gue dikamar, gue minum2 sampe mabok and gores2 tangan gue pake pisau. Dan gue panggil ini cowo di chatting. Dia jawab, and I told him that I was drunk and almost jumped from the balcony. Before chatting ama dia, gue emang ke balkoni kamar gue yg ada dilantai 8. Sambil mabok dan gue liat2 bawah. Pas liat bawah, kok kayaknya kalo gue loncat, smuanya akan berakhir dan seperti ada suara, gue akan lepas bebas setelah ini. Jadi, gue angkat kaki gue satu, udah over the railing, kaki satunya udah di udara and tinggal loncat aja sih. But just a split second before I jump, tiba2 gue keinget janji gue ama bokap gue. Yg dia bilang “don’t do anything silly”. Gara2 keinget itu, gue ga jadi loncat. Dan setelah gue kenal Tuhan, gue yakin banget itu campur tangan Tuhan. Kok bisa pas2nya pikiran itu lewat at that very second disaat gue udah mo loncat! 

So I went inside my room dan sambil mabok, gue chat ama itu cowo. After gue bilang gue ampir loncat dari balcony, eh dianya offline. Bete donk gue. Gue smakin sakit ati, gue smakin nangis2 kayak orgil. Trus gue akhirnya ketiduran coz gue teler. Ga gitu lama tiba2 temen gue gedor kamar gue. Padahal ga ada orang dirumah, dan rumah gue kunci. Somehow temen gue berhasil dapet kunci rumah gue dari temen lain. So temen gue ini masuk and nanya, knapa gue. And she actually heard me crying padahal jarak pintu rumah dan kamar gue itu juaauhhh. Tapi kok bisa dia denger gue nangis. And kok bisa dia pas banget mo ke rumah gue, padahal ga ada janji. Karena dia denger tangisan gue and gue ga bisa ditelpon2, dia berusaha cari kunci rumah gue supaya bisa masuk. And akhirnya temen2 gue pada tau apa yg terjadi dan mereka jagain balkoni and sembunyiin pisau2 gue. I’m really thankful for them at that time. I believe Tuhan used them, meskipun gue masih ga kenal ama Tuhan saat itu. And ‘cowo gue’ itu juga dateng. Dia langsung lari ke rumah gue pas gue bilang di chat gue ampir loncat dari balkoni itu. Dan salah satu temen gue, sebut aja D. She was the only Christian friend yg gue allowed to be close to me. Soalnya gue benci bgt ama yg namanya orang kristen. Bagi gue, mereka munafik. Jadi cuma si D aja yg deket ama gue. Becoz dia accept me for whoever I was, ga pernah nge-judge gue, ga pernah berusaha nginjilin gue, but she just accepted me without trying to change me. On that night, gue cuma inget dia bilang begini sama gue, 

“gue punya Tuhan, gue punya cowo, tapi my life is not perfect. Gue juga struggle with life...” 

Which is to me sangat2 mengejutkan, karena gue liat dia itu strong person. Ternyata dia juga ada struggle. Jadi mulai malam itu, gue bangkit. Gue bilang ke diri gue sendiri,”if she can do it, why can’t I?” 

So for the next few months, gue bangkit dan mulai menata hidup gue kembali. Hubungan ama cowo itu smakin jauh. Dan gue kembali sekolah. Tapi kehidupan clubbing gue masih on. Masih hura2 sama temen2 kehidupan malem. Tapi hati gue masih terasa kosong. There was one night at my place, gue ama temen2 nyimeng/ganja. Gue kagak tau kalo ganja yg gue isep itu pure, ga pake campuran apa2. Abis isep, badan gue gemeteran. Gue ga bisa jalan ke kamar gue, jadi gue ngerangkak pelan2. Pas diranjang, bibir gue ga bisa berhenti gemeteran. Gue takut, gue kirain gue mao mati. And gue ga mao mati. Funny, isn’t it? For the past few years gue udah rencanain gue mo bunuh diri, pingin mati dll. But disaat gue diujung kematian, gue malah takut and ga pingin mati. 

Gue bener2 ga bisa stopped shaking. And this was the first time gue cried out inside and called God. I shouted in my heart, “God!! Help!!” And gue pingsan deh hehe. Dan pas bangun, ternyata gue masih hidup! Haleluyah! Hehe. Tapi ya abis gitu lupa lagi ama yg namanya Tuhan. 

But I believe saat itu He heard my cry and He knew that I was almost ready to open up my heart for Him. So He pursued me more and more. 

So, gue moved on. Skolah, kerja, clubbing for another two years. I didn’t let any guy get close to me karena gue udah males dengan urusan2 gituan. I faced life with my own strength. Sampe akhirnya di dalem hati sebenernya gue kerasa cape. 

Temen gue tadi, si D, dia selalu ajakin gue komsel dirumahnya, or ikut acara2 gerejanya. Tapi acara2 yg fun gitu. Kayak Valentine Cruise or Costume Party. Karena ada dance partynya, ya gue ikut. Kalo komsel, gue cuma ikut pas makan2nya, then abis gitu gue pulang hehe. Tapi karena sering diajakin ke acara2 fun mereka, gue jadi kenal ama temen2 gereja D. And mereka anaknya fun2 smua. Ga pernah menghakimi atau berusaha merubah gue. 

Satu hari, gue maen ke rumah salah satu leader mereka. Iseng2 gue liat rak buku, karena gue suka bgt baca buku. Eh ternyata disono isinya buku Kristen semua. Males juga ngeliatnya, tapi ada satu buku yg menarik. Judulnya, “I Kissed Dating Goodbye”. Wah kok pas bgt nih, gue kan penasaran. Ya gue pinjem. 

Saat baca bukunya, ada satu chapter dimana Joshua Harris (the author) dapet mimpi atau penglihatan. Dia masuk ke sebuah ruangan besar penuh dengan filing cabinets. Dia buka salah satunya, dia keluarin files2 yg ada didalem. And dia kaget, ternyata files2 itu isinya dosa2 dia semua. Joshua ini kristen, udah pelayanan dll, tapi punya double life. He was involved in pornography etc. Pas dia baca files itu, dia malu banget, apalagi di setiap lembar kertasnya ditanda tangani with his name. 

So he said to himself, jgn sampe ada orang yang liat files ini, so he tried to burn it, but ga bisa. Tiba2 ada seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata orang itu Yesus. He took one of the files and read it. Joshua rebut and tried to prevent Him from reading, tapi Jesus tetep baca without saying a word. Then u know what He did?!?!? He crossed all Joshua’s names from the papers and signed every paper with His own name! Using His Blood! 

Wah gue pas baca itu langsung banjirrrrr nangisss ngejerrrr. Siapa nih orang yg mao ambil my sins as His own??? Padahal Dia kan ga kenal gue and gue ga kenal Dia!! And mao2nya take my own sins as His!! Wah pokoknya gue nangis sejadi2nya saat itu. Becoz of a man called Jesus. I never knew a man who can do all that for me! At that moment I felt, I finally found someone that understand me, understand my heart. 

Wah pokoke indiscribableeeee! 

Dan mulai hari itu, gue jadi tertarik sama yg namanya Jesus. 

Who is He? 

What is He like? 

Why He did that for me? 

So gue mau ikut D ke gerejanya to find out more about Him. Gue teratur ke gereja setiap minggu dan sering baca2 buku Kristen. Dan smakin gue found out more about Jesus, smakin gue amazed with Him and akhirnya gue jatuh cinta sama Dia deh.

He was everything that I was looking for in a man. I felt loved, treasured, pursued, cherised. No man had done that for me. 

Slowly He healed me. Dari kepaitan sama cowo, pornografi, masturbasi. Gue stopped clubbing, rokok, minum2 dll. Gue udah ga merasa tertarik or excited dengan hal2 itu. When I tasted the goodness of Him, other tastes are pale in comparison. Saat gue merasakan betapa cintanya Dia ama gue, betapa sayangnya Dia ama gue, betapa berharganya gue di mata Dia, kepuasan2 dunia jadi ga sebanding and ga menarik sama skali. Karena gue udah dipuasin with Him alone. In His Presence, gue ga ngerasa empty or lonely anymore. 

And He makes me feel so SPECIAL!! 

Tuhan bener2 memulihkan gue sampe gue udah ga ada issue lagi with my past. Gue udah dapet strong conviction/keyakinan yg kuat kalo Dia udah bersihin all my sins. Gue udah diputihkan lagi seperti salju. It took years for me to come to that point. Tapi gue ga boleh give up. Dulu, there were times when gue masuk ke self pity lagi. But God again and again reminded me that I am a new creation in Him. Bahkan Tuhan taruh desire in my heart to testify, to let the world knows, that God’s restoration is so real. Sampe gue come to the point that YES, I’M NEW CREATION! Let no doubt or whatsoever entered my mind again! 

Dan slama ini gue tanya hidup gue ini buat apa sih. Apa purpose of me living in this world? Buat apa gue diciptain? Tuhan pelan2 bukain and pimpin gue to my calling. Gue skarang smakin tau calling gue apa. Dan saat gue fokus dan mengejar calling itu, tiba2 Tuhan mempertemukan gue dengan The One from Him. Alias cowo lah hehe. Yup, proses pertemuannya dan sampe merit pun luar biasa Tuhan yg orchestrate. 

Saat itu gue udah ga kepikiran untuk relationship. I’m so content with just me and God. I enjoy my singleness, gue bener2 concentrate in finding about Him more. Pelayanan dll. (Oh ya, gue udah pindah ke Singapore saat ini) Tiba2 mentor gue bilang ke gue, 

“wah Tuhan lagi mempercantik kamu luar dalam ya??? Bentar lagi pangeranmu pasti dateng. Dan dia akan lebih dari apa yg kamu pikirkan dan bayangkan!” 

Whoah, gue digituin ya mesem2 aja lah. Biasa2 aja sebenernya karena gue ga pikirin soal relationship. Tapi ternyata bener! Kira2 sebulan kemudian, my future husband beneran dateng ke gereja kita, fulltimer pelayanan lagi hauEHuAHEAE. And he is indeed more than I can imagine. Yah intinya gue pertama kali jatuh cinta ama hatinya dia buat Tuhan hehe. 

Dia sempet ke pergi ke Malaysia for mission work buat beberapa tahun, dan saat gue chase my calling in mission. Tiba2 Tuhan pertemukan lagi sama dia. And setelah melalui banyak proses doa, air mata dan darah *lebay* selama 3 taon, akhirnya kita menikah 2 taon lalu dan skarang dah punya a little boy. A handsome and macho little boy. 

I know there are a lot of you yg punya masa lalu yg jelek seperti gue. Cewe2 yg involved with free sex, or even udah ga virgin karena beberapa alasan. Don’t lose heart. Tuhan itu adalah Tuhan yg penuh grace and restoration. Gue adalah salah satu bukti dari His full restoration. Saat gue bertobat dan berbalik dari dosa2 gue, Tuhan ampuni dan Dia ga pernah ungkit2 masa lalu gue lagi. Kecuali kalo buat kesaksian aja hehe. Karena Dia udah taruh in my heart, my life testimony is to open up so many secrets out there. Yg Iblis tutup2in. Yg Iblis bilang, kamu ga bakalan bisa punya pernikahan yg kudus nantinya, godly husband, godly marriage. He can only lie, ladies!!! The truth is kemurahan Tuhan itu cukup untuk smua dosa-dosamu. Emang kita bayar harga of our past sins. Emang menyakitkan melewati proses pembersihan Tuhan. You know a story of a pearl kan ya? (cocok nih ama judul majalahnya wkwk). Pearl kan aslinya kotor, penuh kotoran2 ga jelas. Harus dipoles, dikikis, sampe bener2 keliatan sinarnya. 

Sama kayak kita. Kita yg aslinya kotor, Tuhan terima apa adanya. Tapi Dia ga akan biarin kamu kayak gitu aja. Dia akan poles, akan kikis smua kotoran yang ada di dalammu. Sakit emang, but it is NECESSARY. Karena Dia udah liat hargamu yg sebenernya. Dia tau your true value. Tapi karena sudah ditutupin kotoran, kamu atau orang lain ga bisa liat itu. Only He can. So you have to let Him work kikis2 sana sini hehe. Emang kadang2 kita complain kalo diproses Tuhan. Believe me, gue diproses luar biasa sakitnya ama Tuhan karena Dia tau gue banyak kotoran di dalam, tapi at the end, it is all worth it! 

Gimana gue bisa come to this point? Lepas dari masa lalu, being restored, sampe merit ama godly man yg dari Tuhan and dikaruniai Aiden, our macho little man.

Bener2 jatuh cinta ama Jesus. Ngerasain betapa Dia sayaaaaanggg bgt ama gue. Sampe gue bener2 content and satisfied in Him alone. Gue ga perlu cari2 kasih sayang or approval from other people, especially man. Karena ga ada cowo yg bisa segagah and semacho my Jesus yg love me sampe segitunyaaaaa gitu loooohh. He is my Knight in shining armour. Rescued me again and again. Pursued me sampe gue klepek2 hehe. 

Dipenuhi Roh Kudus setiap hari. Lama2 gue ngerasa jijik ama dosa, and Roh Kudus beri kemampuan untuk lepasin dosa-dosa pornografi dan masturbasi. 

Ambil keputusan untuk tidak jatuh dalam self pity. Never entertain!!! Skali pikiran self pity keluar, langsung teking jauh2. Encounter/perangi dengan Firman Tuhan. Saat self pity bilang, “ah kamu mah udah rusak, ga virgin, emang ada gitu cowo yg mao sama kamu?” Tendang tuh Iblis jauh2 dengan Firman Tuhan yg bilang, “Tuhan sudah membersihkan aku seperti salju, tidak bercela. Urusan cowo mao ga ama gue, Tuhan pasti mempunyai a great wonderful plan for me. Until that day comes, I will pursue my God, my lover and I will pursue Him until I know that He is enough for me. Ga peduli mao ada cowo or not in my life.” Wkwkw. Emang harus begitu. I will ask you a question. Gimana kalo ternyata Tuhan emang mau kamu single slama2nya, just being with Him alone? Apakah itu menyakitkan? Until you say YES LORD, it doesn’t matter anymore if there is a guy for me or not! And you said that bukan karena kepaitan sama cowo, tapi you are truly satisfied with His love. Maksud gue, your heart will have to be truly fulfilled by Him, otherwise nanti kalo kamu jalan lagi sama cowo, bisa jatuh ke dosa yg sama karena kalian bisa compromise since you love each other. Tapi kalo cintamu ke Tuhan lebih kuat, you can stand firm, dan ga mau deket2 dosa because you don’t want to hurt His feeling. 

Say enough is ENOUGH! No more compromise, no more ‘ya udah lah ga papa, skali ini aja’. 

Do whatever it takes to take you away from that sin. Misalnya, kamu sama cowo mu jatuh dalam sex. Mbok ya jangan berduaan dikamar. Udah tau pasti ada godaan2 dan listrik2 yg mematikan. Jgn ada kesempatan untuk berduaan ditempet sepi dll. 

Hiduplah di komunitas iman yang kuat. Yang bisa membangun dan menguatkan kamu untuk terus maju. But you can’t always depend on people. Jangan sebentar2 cari orang buat dicurhatin. Abis terima advice, jadi lega. Tapi biasanya itu ga tahan lama karena kamu jadi terbiasa cari orang2 buat dicurhatin. Larilah ke Tuhan terlebih dahulu. Let Him deal with you alone. Tuhan saat itu bawa gue ke dalam moment2 sendiri yg sangat sepi. Ga punya temen etc etc karena gue pindah ke Singapore kan. But at that moment, gue tau gue deal sama Tuhan alone. Gue ga bisa cari sapa2 buat curhat, only He was there for me. Disitulah gue dipenuhi ama Dia, sampe gue dapet that He is enough for me. But selain itu, a mentor is also important. Someone to guide you and correct u. Harus sesama jenis ya. :) Ampuni diri sendiri, your past, your ex, your bf, or siapa aja yg sudah pernah merusak dirimu. When you forgive, ada kuasa restorasi dari Tuhan turun ke hatimu. Confess your sins to your spiritual leaders. Healing starts when you confess. 

Terus menerus pegang Firman Tuhan ttg siapa dirimu di dalam Dia. 

Must understand that love itu bukan sex. Maksud gue, banyak cewe yg salah mengira love = sex. Saat kita berhubungan seks dengan cowo kita, kita merasa being loved, being wanted, being special. Di hug, di cium dll. Waktu gue punya sexual relationship ama ‘cowo gue’ tadi, I thought I was expressing my love to him by giving him my body. And I thought, karena kita punya sexual relationship, gue kira dia sayang/love gue makanya mau tidur sama gue. The painful truth is when someone has sex with you, doesn’t mean he loves u. 

Focus on finding out your calling. Disitu you will find what His great plan for u. Jadi kamu akan fokus building yourself up, daripada mikir2 masa lalu yg ga jelas dan ga ada gunanya. 

Yah setelah melalui semua itu, gue akhirnya lepas. Now, gue ga bisa ngebayangin dulu itu gue kayak begitu. Bener2 bedaaaaa bgt ya sekarang. Apalagi kalo mikir2, wah bisa merit with such a godly man, punya baby boy yg luar biasa, yg kalo nangis jadi diem kalo didoain or dibacain Firman wwkwkwk. Ini semua bener2 beyond my imagination and thoughts! Waktu kita menikah, ayat yg Tuhan kasih ke kita adalah: 

Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."
(1 Korintus 2:9)

So true!!! 

And the past is the past. Tuhan sanggup menjadikan segala sesuatunya menjadi indah. Memutarbalikkan kutuk menjadi berkat. Iblis bermaksud untuk merusak dan menghancurkan, tapi Tuhan, with His power of restoration (tanpa syarat. It’s already yours.), mengubah my shame menjadi my victory. Gue ga ada problem dengan ceritain ini semua karena itulah yg Tuhan mao dari gue dan my past udah ga ada efeknya sama gue. Sexual sins banyak yg ditutupi karena memalukan. Tuhan mao kita bongkar semua itu, karena smakin dosa ditutup2in, smakin berkuasa Iblis atas dosa kita. I don’t ask you to bongkar2 your secret kemana-mana hehe. But saat kamu sudah bisa lepas dari smua ini, maybe u can testify too, in your own way. Karena Iblis dikalahkan dengan kesaksian hidup kita. 

Kalo gue bisa lepas, kalian juga pasti bisa! With the power of God, of coz!

Monday, March 12, 2018

Blood Covenant and Virginity



by Nelly

Bagaimana kalo kamu sudah kehilangan keperawananmu sebelum menikah?

Tulisan ini terdapat di majalah pearl edisi no.10 :)


Nah setelah gue ketemu Jesus dan bertobat di taon 2002, gue beberapa kali kesaksian tentang masa lalu gue yang seks bebas. Jadi sebenernya udah ada beberapa orang yang tahu. Semakin gue mendalami Tuhan, semakin gue menggebu-gebu kesaksian soal itu. Jadi smakin banyak orang yang tau hehe. Dan salah satunya adalah calon suami gue (call him G). Saat itu kita masih baru aja kenal di taon 2006, dan bisa dibilang di pertemuan kita ke empat kalinya, gue udah bersaksi di depan dia dan satu anak youth cewe hehe. Saat itu gue tau gue sedang direstorasi sama Tuhan dan mengalami pemulihan, jadi untuk bersaksi bahwa gue dulu terlibat free sex (berarti udah ga perawan) itu sepertinya ga ada masalah sama gue.

Namun ternyata luka lama bisa terkuak kembali. Tahun 2007, gue pegi misi ke salah satu desa di Indonesia. Saat itu pelayanan gue adalah Love, Sex and Dating seminar. Dan gue bersaksi di depan anak-anak muda. Dan waktu salah satu dari kita bertanya pada mereka, “Maunya punya cewe perawan apa ga perawan?”, Ada salah satu cowo yang dateng, bilang, “Tentu aja mao yang perawan. Yang udah ga perawan kan berarti udah bekas.” Perkataan itu ternyata menyakitkan sekali buat gue. I thought I had already passed that, udah recovered etc. Tapi to my surprise, hati gue masih terluka denger itu. Seharian gue nangis dan nangis. But slowly God mengobati hati gue and menguatkan gue lagi.

Selama beberapa bulan kemudian, Tuhan terus membawa dan membukakan panggilan gue. Smakin kelihat kalo Tuhan mao gunain gue terus menekuni panggilan gue di anak-anak muda, terutama tentang Love, Sex and Dating. Gue hanya focus mengejar panggilan di bidang misi saat itu. Dan bagian tentang keperawanan gue, gue sudah kubur dalam-dalam. Yang gue tau dan gue pegang, Tuhan udah restorasi total. Jadi gue udah ga pernah pikirin sama skali tentang keperawanan.

Nah pada suatu hari, selama tiga hari berturut- turut, gue diingetin tentang my sexual past. Gue hanya bisa nangis dan nangis dan meminta maaf, padahal dulu udah pernah minta maaf ama Tuhan, tapi ga tau kenapa saat itu dibuka lebih dalam lagi sama Tuhan, the weight of my sin. Tapi Tuhan berjanji saat itu sama gue, that He would restore everything as new. Pas gue lagi mandi, gue liat my blood (maaf), darah menstruasi gue ngalir. And tiba-tiba terbersit kata-kata ‘blood covenant’ (ikatan perjanjian darah). Gue langsung terasa ‘jleb’ karena gue udah ga ada. In marriage, persatuan tubuh suami istri dilambangkan dengan tumpahnya darah keperawanan. Di Alkitab, the strongest covenant between human and God, always involved blood. Through animal sacrifice. Saat Tuhan membuat covenant dengan manusia to save mankind from eternal sin, He used Jesus’ blood. God uses Blood to symbolize covenant in many examples. Even in marriage. 

Ever wonder why kok Tuhan kasih yang namanya keperawanan? Dan kita cewe-cewe bisa berdarah di malam perkawinan? Tuhan mao symbolize persatuan kita sebagai husband and wife dengan pertumpahan darah. Maka itu seks adalah hubungan sangat-sangat kudus yang diberi Tuhan. Ikatan perjanjian antara suami istri di depan Tuhan. Bersatu menjadi satu tubuh, jiwa dan roh. It is called Blood Covenant. Itu adalah perjanjian seumur idup. 

Thats why when we had sex before marriage, kita berdosa karena menodai sesuatu yang kudus, perjanjian antara laki-laki dan wanita untuk seumur hidup (belon tentu kan dikau bakal merit ama cowo itu) dan membuatnya menjadi kutuk. Bisa Aids lah, penyakit kelamin lah, dan meskipun ga sampe kena penyakit kelamin, itu bisa berdampak ke perkawinan kita nanti.

Nah waktu kata ’Blood Covenant’ itu tiba-tiba terbersit di pikiran gue pas liat my menstrual blood, gue jadi sedihhhhhhh bgt. Karena gue udah ga ada. I won’t have any blood covenant with my future husband. Pas gue sadar itu, gue nangis. Tapi Tuhan bilang sangat lembut... “My grace is enough for you...“ and Tuhan bukain tentang pengorbanan Jesus for me. Karena itulah DARAH YESUS DITUMPAHKAN. 

For me.

Gue ga bisa menumpahkan darah keperawanan lagi, but thats why Jesus shed His blood for me. To cover my sins. And His blood is enough to cover EVERYTHING. Karena gue udah kehilangan blood covenant in marriage, Jesus udah tebus itu dengan darah-Nya. Darah Yesus itu cukup untuk my covenant nanti ama calon suami. Waktu gue dapat revelation itu, gue udah dikuduskan, disucikan dan diperbarui, darah Yesus itu cukup, bahwa darah ditebus dengan Darah, hati gue jadi tenangggggg banget. 

Nah saat ini adalah saat dimana gue lagi bener-bener doain pasangan idup, alias G. Ga kebetulan Tuhan buka lagi tentang my keperawanan, He wanted me to deal with it sebelum gue masuk perkawinan. Karena yes, this is a major issue. Harus deal with it way before marriage. Karena kalo ditutup-tutupin akan ada masalah yang timbul nantinya. 

Setelah melalui masa-masa itu dan pergumulan mendoakan G selama 3 taon, skarang gue udah menikah sama G selama dua taon. Gue kmaren ngobrol sama dia about this article. Dan tim redaksi pingin tau sisi cowo itu gimana kalo tau cewenya ga perawan lagi. Ini adalah hasil dari our discussion... 

1. Cowo yang di dalam Tuhan akan lebih mudah menerima cewenya yang udah ga perawan. Tapi dia harus benar-benar di dalam Tuhan, bukan cuma Kristen KTP. Kalo dia ngerti yang namanya kasih karunia Tuhan, dan bahwa kita semua adalah orang yang berdosa, termasuk dia, but yet Tuhan masih mengampuni. Cowonya akan menerima si cewe dan mengampuni masa lalu cewenya. Cowo itu akan meneruskan kasih karunia dari Tuhan buat sang cewe. (Red: Bisa baca buku Joshua Harris Boy Meets Girl, di situ ada pergumulan Joshua untuk menerima calon istrinya yang sudah ga perawan lagi. Yah that’s hard but God helped him through it)

2. Nah cowo yang ga di dalem Tuhan ini yang repot. Akan susah menerima. Mungkin juga dia Ok-ok aja, but ini akan jadi masalah nanti di perkawinan. Bisa membanding-bandingkan hubungan intim saat kalian udah menikah, dengan pasanganmu yang dulu. Meskipun ga ngomong, hal itu bisa dipendem di hatinya. Dia bisa aja menjadi menuntut banyak hal dalam perkawinan, karena dia merasa dia ‘lebih’. Bisa juga mengungkit-ungkit masa lalu. Selingkuh karena ga puas dll.

Nah kalo dari sisi G, gimana reaksi dia saat dia tau kalo pasangannya dah ga perawan? Sebenernya G sendiri masa lalunya berantakan juga. Hampir juga jadi gigolo wkwkkwwk. Akhirnya dia bertobat dan fokus melayani Tuhan. 

G pernah pacaran sama satu cewe, sama-sama pelayanan di gereja. Dan cewe ini cantik bgt, idola para cowo-cowo dan juga rohaninya bagus, sempat masuk Miss Indonesia lagi wkwkw. Si G sempet nanya sama Tuhan, kenapa kok dia bisa sama si cewe cantik ini padahal masa lalu G jelek abis. Dia heran aja kenapa bisa dapet sesuatu yang bagus. Nah Tuhan bilang sama dia , karena dulunya G itu rusak banget, dia ga bisa appreciate woman’s beauty. Dia bisa ngerusak wanita dengan gitu gampang, and bisa nelanjangin wanita dengan matanya. Nah waktu G jadian ama cewe cantik ini, Tuhan bilang that G now could learn how to appreciate God’s beauty for woman. Mereka pacaran selama 2 taon. Dan karena beberapa hal, mereka akhirnya putus baik-baik. 

Kira-kira 2 taon kemudian, Tuhan bilang sama dia kalo gue itu buat dia dari Tuhan. G sempet protes dan ga mao sama gue, karena kok sekarang dikasih yang sama-sama rusak backgroundnya? Bukannya dulu, waktu pacaran sama cewe cantik itu, Tuhan mao ajarin dia tentang appreciate woman’s beauty. But Tuhan terus meneguhkan bahwa gue emang buat dia. And after so much struggle, confirmation and dihancurin Tuhan selama 2 tahun itu, akhirnya G mao tunduk hehe. Dan Tuhan pelan- pelan menumbuhkan rasa cinta G buat gue, no matter what my past was. Tuhan juga ingetin G tentang kasih karunia. Tuhan udah memulihkan G dan membuatnya jadi baru, dan Tuhan juga lakukan hal yang sama buat gue. So akhirnya G udah ga ada masalah lagi dengan masa lalu gue karena Tuhan sudah berbicara.

So girls, kalau pacarmu itu bener-bener sudah di dalam Tuhan dan sudah menerima kasih karunia Tuhan (sekali lagi bukan cuman sekedar Kristen dan pelayanan), Tuhan bisa bicara sendiri padanya dan mengubah hatinya. And it’s much much much MUCH better to confess to our boyfriend lonngggg wayyy before merit. Jangan confess pas waktu kalian udah mao merit besoknya gitu. Itu mah terlalu nyerempet wkwkwk. Emang GA GAMPANG untuk ngaku. That’s why u really need to know and dig deeper about who u are in God. Saat kamu secure and aman dalam Tuhan, kamu akan mendapatkan kekuatan extra untuk mengaku.

Waktu gue kesaksian gue udah ga perawan dll ke depan anak-anak muda dan sekolah-sekolah, yang jumlahnya bisa sampe 800 students dalam satu aula, of coz gue gemeteran. Di desa and kota-kota kecil di Indo lagi. Yang tentunya hal begini masih tabu. Apalagi gue belon merit and masih single. But what made me keep going on ya karena the big burden in my heart to share how God rescued me and healed me, gave me second chance. Itu yang bikin gue maju dan meskipun jatuh bangun, gue bisa bangkit lagi karena Tuhan kasih extra kekuatan. And He gave me a purpose. And hasilnya adalah ga sedikit anak-anak cewe (students2) itu dateng ke kita2 para missionaris dan minta didoakan, ada yang slama ini memendam rahasia kalo dia waktu kecil udah diperkosa dan ga ada satu pun yang tau, ada yang dilecehkan sama cowonya dll. Dan saat mereka mengaku, mereka mengalami pelepasan.

What I’m saying is, rahasia dosa yang kamu simpan, lama- lama akan menjadi busuk. If u don’t confess that kamu udah ga perawan sama ur pasangan, rahasia ini akan menyerang balik kamu. Dalam perkawinanmu nanti, atau dalam hubunganmu yang sekarang. Kamu ngerasa takut kalo ketahuan, so ur relationship now ada sesuatu yang disembunyikan, ga tulus, ga bebas dalam Tuhan. Nanti ini bisa dibawa sampai ke perkawinan. Akan terus menggegorotimu dari dalam.

Kalo kamu mengaku, akan terjadi kelepasan yang luar biasa di hati. But u have to be ready with the consequences. Apakah kamu siap bayar harga? Bagaimana kalo cowomu bakal ninggalin kamu? To be able to do all these, u have to be really secure in God and mendapatkan kekuatan dari Dia. Kuatkan dirimu dulu dalam Tuhan, He will never fail u. He will give you strength. And misalnya cowo mu meninggalkan kamu, kamu masih bisa berdiri karena kamu tahu Tuhan masih sayang kamu no matter what. Dan Tuhan will give you the best. Dia rindu memberi kamu yang terbaik. Apakah Tuhan adalah segala- galanya bagimu? Or cowo mu adalah segala-galanya bagimu? Or maybe cowo ini bukan dari Tuhan? Kasarnya... praise God, kamu dibukain sekarang, daripada nanti sudah menikah, malah banyak masalah :) Kalo sudah menikah, u can’t go back. Jangan sesali nanti waktu sudah menikah.

Yang gue yakin banget, kalo dari Tuhan, cowo mu ga bakalan pegi jauh-jauh. Tuhan pasti bisa ngomong sama dia. (Red: Ingat cerita Maria dan Yusuf orang tua Yesus? Yusuf sudah hampir menceraikan Maria, tapi Tuhan sendiri campur tangan dan menyakinkan Yusuf) Tuhan juga pasti bisa memulihkan hatinya. 

Nah gimana kalo cowonya ga didalam Tuhan? Alias belon lahir baru dll. Yah tetep aja kamu harus confess. Kalo dia meninggalkan kamu, don’t be sad. Jesus has redeemed u and make you HIS LOVER. He is the greatest lover a woman can ever have. Cowo bisa ninggalin kamu, Jesus will not. Belajarlah to put Him above everything else. Kehilangan cowomu akan terasa lebih ringan waktu kamu tahu kamu lakuin semua ini for Him. And He honors that. 

Before confessing, u just need to strengthen your heart and said to God, ‘”Please help me to be ready“. Jangan ngomong terus ke hati kamu ‘aduh, gue ga mao deh ngaku. Ga bakal ngaku. Gue pendem terussss’. Kalo kamu ngomong gitu terus ya susah. Harus belajar buka hati untuk mengaku. Nanti juga Tuhan akan menguatkan.

When u are really secured in His love and know that He is with you no matter what, you will be ready to let your boyfriend go. No matter he will leave you or not, God is still good and you can still praise Him. You put Him above your guy. :) 

The most important thing is, are you willing to surrender to His will? When u said u trust Him, do you really trust Him? 

Don’t be sad kalo kamu udah kehilangan keperawanan kamu. Tuhan sudah restorasi total. You are a brand new woman, full of His grace and mercy. Saat kamu dalam Tuhan, Dia sedang mempercantik kamu luar dalam... and trust me, one day a godly man will come and notice you :) Kalo dia ga notice pun, Tuhan bakal templak and bikin dia notice... HAHAHA seperti kisah gue and my husband :) 


———-

For those who are still perawan, be proud in saving your virginity for your wedding night. Biarin aja kalo dunia bilang bego kenapa nyimpen perawan sampe merit. Forgive them Lord as they don’t know what they are doing...