Monday, February 24, 2020

Untukmu yang Sedang Kuatir


by Alphaomega Pulcherima Rambang

Sedang kuatir? Yuk, baca Matius 6:25-34. Perikop berjudul Hal Kekuatiran tidak hanyak berisi kalimat-kalimat puitis, namun juga penuh makna. Membaca perikop itu berkali-kali akan mengajar dan menguatkan kita di saat kekuatiran menyerang.

1. Banyak di antara kita yang sering menguatirkan hal-hal kurang penting.
Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
(Matius 6:25)

Hidup kita lebih penting dari apa yang kita kuatirkan. Dengan kata lain, ada banyak hal lain yang lebih penting, dan Yesus mengajak kita untuk FOKUS pada hal-hal penting itu. Saat fokus, kita dilatih melihat apa yang sudah kita miliki saat ini, apa yang perlu mendapatkan prioritas perhatian kita, sehingga kita tidak lagi mengkuatirkan hal-hal yang tidak seharusnya dikuatirkan. 

2. Kekuatiran menganggu fokus pada masa kini.
Hal-hal yang kita kuatirkan biasanya adalah hal-hal yang belum terjadi, perkiraan tentang sesuatu yang buruk, apa yang kita tidak tahu, dan masalah yang kita anggap tidak bisa kita tangani. 

Apa yang kita kuatirkan saat ini biasanya bukan hal yang perlu kita kuatirkan saat ini. Contohnya, saat SMP, gambar diriku belum pulih. Aku tidak percaya diri sampai aku kuatir jika tidak ada yang mau menikahiku. Menurutmu, layakkah anak SMP berpikir demikian? Sekarang memang rasanya menggelikan, tapi waktu itu, itulah kekuatiran terbesarku. Bayangkan, di saat teman seusiaku mengkuatirkan PR atau pacarnya, aku memikirkan siapa yang mau menjadi suamiku? Konyol? Ya. Seringkali kekuatiran sekonyol itu yang membuat kita seperti kursi goyang – sibuk bergerak tapi tidak bergerak maju kemanapun.

Mengkuatirkan masa depan (termasuk keesokan hari) sangat manusiawi. Tapi, Firman Tuhan menghendaki kita untuk fokus pada pergumulan saat ini, dan tidak kuatir pada apa yang terjadi nanti. 

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.
(Matius 6:34)

Firman Tuhan mengajar kita untuk berjalan one day at a time, melakukan one thing at a time. 

Berikanlah kami hari ini makanan kami yang secukupnya.
(Matius 6:11)

Perhatikan bagaimana Tuhan ingin kita hidup ‘saat ini’ dan berhenti mengambil apa yang menjadi bagian hari esok. Kenapa? Karena memang akan sangat berat memikirkannya bila belum tiba saatnya. Bayangkan bila seorang wanita yang belum menikah mengkuatirkan bagaimana seandainya ia harus menghidupi dua anak balita tanpa suami. Berat? Pasti. Karena masalah itu tidak dimaksudkan untuk dipikirkannya ‘saat ini’. Pada saatnya nanti dia akan dapat menanggungnya jikalau itu harus terjadi. Tapi sekarang? 

3. Kekuatiran tidak mengerjakan apa-apa. 
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
(Matius 6:27)

Seakan-akan Yesus ingin berkata: “Ngapain sih kuatir? Gak ada gunanya!” Apakah kekuatiran bisa mengubah keadaan? Tidak, jika kita tidak melakukan apa-apa. Kekuatiran saja tidak akan membuat penyakit kita sembuh. Kekuatiran saja tidak akan mendatangkan makanan ke atas meja, atau uang ke dompet kita. Kekuatiran justru bisa menghilangkan semangat dan pengharapan kita. 

4. Ada pemeliharaan Bapa yang sempurna. 
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
(Matius 6:26, 28-30)

Ada solusi atas kekuatiran kita: pemeliharaan Bapa yang sempurna. Dia adalah Allah pemelihara yang tidak pernah lalai. Aku mengalaminya sendiri. Tiga belas tahun lalu saat papaku meninggal, dunia seperti runtuh. Mama gak bekerja, aku baru lulus kuliah dan belum bekerja, adikku masih kuliah, dan adik bungsu masih SMP. Papa gak meninggalkan warisan harta apapun, hanya pensiun yang tidak seberapa. Kami mengkuatirkan bagaimana nasib kami. Tapi kami berusaha menjalani hidup sehari demi sehari bersama Tuhan. Sekarang? Tuhan buktikan pemeliharaan-Nya sempurna. Aku dan adikku yang kedua sudah menikah. Kami bertiga sudah bekerja. Tuhan sanggup kok memelihara kita, melakukan banyak hal untuk memastikan kita tumbuh indah di hadapannya. 

5. Kekuatiran sebagai perbedaan antara mereka yang mengenal Allah dan yang tidak mengenalNya.
Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
(Matius 6:31-32)

Craig Groeschel pernah menulis buku yang berjudul The Christian Atheist. Buku itu membahas tentang orang-orang yang percaya kepada Tuhan tetapi hidup seakan Dia tidak ada. Ada beberapa hal yang dikatakannya sebagai tanda seorang Kristen yang ateis. Salah satu jenis Kristen ateis adalah orang Kristen yang suka kuatir. Sebenarnya, kalau kita mengenal Allah kita dengan baik, kita gak perlu mengkuatirkan banyak hal. Buat apa? Toh kita tahu pribadi-Nya, kita tahu Allah kita adalah Bapa yang senantiasa memberikan yang terbaik. Dia adalah Allah yang turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Memiliki Tuhan yang seperti ini, pantaskah kita kuatir?

Lalu harus bagaimana saat kuatir?

“Bagaimana jika?” Pertanyaan itu sering menjadi pintu gerbang di pikiran kita untuk kekuatiran. Pikiran adalah medan peperangan kita. Apa yang kita pikirkan akan menentukan tindakan kita. Tuhan tidak ingin kita mengisi pikiran dengan pertanyaan-pertanyaan “Bagaimana jika?”. Ia ingin kita memikirkan "...semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji," (Filipi 4:8) Pagari pikiran, kendalikan kekuatiran. 

Saat kuatir, berdoalah dan mengucap syukur. Firman Tuhan dengan jelas berkata :

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
(Filipi 4:6)

Karena kuatir adalah sesuatu yang manusiawi, gunakan kekuatiran sebagai alarm yang mengingatkan kita bahwa hal yang kita kuatirkan harus kita serahkan pada Tuhan. Kekuatiran ada, supaya kita berjaga-jaga dan berdoa, menggunakan hikmat dan kekuatan yang Allah berikan untuk bersiap-siap mengatasi segala yang mungkin terjadi, melakukan semua yang bisa dilakukan, mengerjakan apa yang bisa dikerjakan sebaik mungkin dan membiarkan kehendak Allah yang terjadi kemudian.

Jadi, saat alarm ini berbunyi, matikan. Jangan biarkan alarm itu berbunyi terus dan membuat keributan. Segeralah nyatakan kekuatiran kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. 

Doa dan permohonan yang disertai ucapan syukur akan mendatangkan damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Artinya, saat kita berpikir dengan pikiran manusia atas segala permasalahan hidup, terkadang kita tidak selalu menemukan jawaban atas pertanyaan kita. Tapi, di tengah badai tersebut Tuhan berikan damai sejahtera-Nya. Dia peluk kita dan berikan ketenangan. Doa memang tidak selalu mengubah keadaan tetapi doa dapat mengubah kita. Doa yang disertai ucapan syukur memampukan kita melihat kebaikan dan kemurahan Tuhan di tengah masalah. 

Kekuatiran dapat dipakai untuk melatih iman kita pada Tuhan dan pemeliharaan-Nya yang sempurna. Pada akhirnya, kita akan menyadari kalau dari sekian banyak hal yang kita kuatirkan, kebanyakan tidak terjadi – karena Allah sudah berada di depan kita dan mengatasinya. Ia menunjukkan kasih-Nya dengan memelihara hidup kita.

Monday, February 17, 2020

Tentang Menghakimi


by Yunie Sutanto

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”
(Matius 7:1)

Yesus memberikan larangan tegas pada perilaku yang satu ini: menghakimi. Kata menghakimi berasal dari kata Yunani krino yang berarti menilai, mengritik, atau menentukan benar dan salah. 

Orang yang melakukan penghakiman, memosisikan dirinya ke dalam kelas yang lebih tinggi dibanding orang yang dihakimi. Saat kita menghakimi orang lain, kita menempatkan diri kita lebih superior dari orang tersebut. Kita menjadi pihak berwenang yang memutuskan dan menilai, seperti hakim yang memang bertugas memutuskan perkara dan menyatakan vonis kepada terdakwa, berdasarkan hukum dan peraturan perundangan. Sikap meninggikan diri seperti inilah yang tidak dikenan Tuhan Yesus.

Firman Tuhan berkali-kali memberikan peringatan tentang penghakiman. Ada beberapa alasan yang bisa kita simpulkan mengapa Tuhan melarang kita menghakimi. Yuk, kita gali lagi apa kata-Nya.

Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?
(Yakobus 4:11-12)


1. MENGHAKIMI = MEMFITNAH
Dalam suratnya, Rasul Yakobus menyamakan menghakimi dengan memfitnah. Sering sekali kita menilai seseorang hanya dengan dugaan, atau fakta-fakta yang tidak menyeluruh. Akibatnya, penilaian kita yang belum tentu benar justru menjadi kebohongan yang menyebar. Inilah fitnah. Betapa berdosanya sikap menghakimi.

2. MENGHAKIMI BERARTI MEREBUT PEKERJAAN TUHAN
Rasul Yakobus juga menjelaskan bahwa Allah melarang kita menghakimi, karena itu bukan tugas kita. Ketika kita menghakimi, kita sedang merebut pekerjaan Allah sebagai satu-satunya Pembuat hukum dan Hakim. Dengan kata lain, kita sedang bertindak sebagai Tuhan. Padahal, siapakah kita? Hanya sesama umat manusia. 

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
(Matius 7:1)

3. MENGHAKIMI ORANG LAIN MEMBAWA PENGHAKIMAN BAGI DIRI SENDIRI
Versi IBIS dari Matius 7:1 mengatakan ”Janganlah menghakimi orang lain, supaya kalian sendiri juga jangan dihakimi oleh Allah.” Ini sangat mengerikan bukan? Saat kita menghakimi orang lain, saat itu pulalah diri kita terbuka untuk dihakimi oleh Allah. Saat tangan kita melempar batu untuk menghukum orang lain, saat itulah Roh Kudus ingatkan tentang banyaknya batu- batu yang juga layak untuk dilemparkan terhadap kita. Ukuran yang kita pakai untuk mengukur hidup orang lain akan diukurkan kepada kita oleh Allah. Tuhan Yesus pun mengajarkan dalam doa Bapa Kami bahwa kesalahan kita akan diampuni oleh Tuhan seperti kita mengampuni kesalahan orang lain terhadap kita.

4. KITA TIDAK BISA MENGHAKIMI DENGAN ADIL
Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.
(Yohanes 7:24)

Penghakiman yang adil hanya mungkin ketika kita tahu semua fakta. Hanya Tuhan Yesus yang bisa melihat yang tidak nampak, yakni isi hati dan motivasi seseorang. Dengan keterbatasan manusia, kita seringkali subjektif dalam menilai orang lain hanya berdasarkan apa yang tampak saja. Kita tidak bisa melihat “the big picture and the whole story”.

Misalnya, saat saya menganggap orang lain sombong dan tak sopan hanya karena yang bersangkutan tidak membalas sapaan saya berpapasan, saya sudah menghakiminya. Kenapa? Karena saya tidak pernah bertanya apa alasannya. Padahal, di kemudian hari baru saya tahu bahwa penglihatan orang itu sangat buruk dan pendengarannya pun kurang pada telinga kiri. Itulah yang membuatnya sering tidak melihat jika ada yang melambai dari kejauhan, juga tidak mendengar jika tidak disapa dari arah kanan. Betapa malunya saya sudah salah sangka dan justru bergosip tentang dia yang pada akhirnya menjadi fitnah. 

Hindari hidup dengan asumsi dan penghakiman karena “keadilan versi kita” sangatlah terbatas. Ibarat kamera hitam putih yang tidak bisa merekam seluruh pigmen warna, sudut pandang kita sangatlah terbatas.

5. KITA JUGA MELAKUKAN DOSA, SEPERTI MANUSIA LAIN
Kita adalah juga manusia yang tidak sempurna. Kita punya sederetan kesalahan yang hanya oleh anugerah-Nya semata tertutupi dan diampuni. Ingat ketika orang Israel ingin melempar batu, Tuhan Yesus mengingatkan mereka bahwa mereka juga orang berdosa. Batu hanya boleh dilempar oleh orang-orang yang tidak punya dosa.

Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian.
(Roma 2:1-3)

Kita semua berdosa, hanya dosanya saja yang berbeda. Satu orang mungkin bergumul dengan dosa karena mulutnya, yang lain dosa karena uang, lainnya lagi karena emosi. Saat satu jari menunjuk kepada orang lain, ingatlah selalu masih ada tiga jari yang menunjuk kepada diri sendiri. 

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.
(Matius 7:2-5)

Ketika kita menghakimi orang lain tanpa mawas diri tentang kesalahan sendiri, Firman Tuhan menyebut kita sebagai orang munafik. 

Lalu bagaimana agar kita tidak semudah itu menghakimi orang lain?

Kalau memang kita mendapati sesama kita melakukan kesalahan, Yesus ingin kita tidak kehilangan kasih, dengan cara menegurnya secara pribadi. 

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatnya kembali.”
(Matius 18:15)

Dengan memberikan teguran secara langsung, kita akan bisa melihat permasalahan langsung dari tangan pertama. Kita terhindar dari asumsi dan dugaan. Kita tidak sedang memfitnah. Tuhan juga ingin teguran kita diakhiri dengan nasihat agar sesama kita bertumbuh dan berubah, bukan sekedar menyalahkan orang lain.

Semua itu tidak akan mungkin jika kita tidak memiliki kerendahan hati dan kasih Allah. Kasih Allah menutupi pelanggaran, mengampuni tanpa batas dan memberi kesempatan untuk pertobatan. Sikap hati yang mengasihi sesungguhnya adalah lawan dari sikap hati menghakimi. Saat kita menghakimi orang lain, kita tidak punya ruang untuk mengasihi orang tersebut. 

Semakin kita mengalami kasih Tuhan, kita akan semakin dimampukan melihat orang lain dari kacamata Tuhan. Let us choose love, not judgement!

Monday, February 10, 2020

Mengasihi Tuhan Melalui Hartaku


by Alphaomega Pulcherima Rambang

(Biar lebih afdol, Pearlians bisa baca Matius 6:1-4; Matius 6:19-24; Matius 7:6 terlebih dulu sebelum membaca artikel ini)

Sebagai istri, aku otomatis menjadi menteri keuangan (uhuk… uhuk… maksudku, bertanggung jawab mengatur penggunaan uang) keluarga. Ehem. Tapi melalui “amanat” ini, aku menyadari bahwa aku dan suamiku hanyalah pengelola dari apa yang Tuhan percayakan kepada keluarga kami. Yaps, termasuk dalam hal keuangan. Kesadaran ini mengubah caraku mengelola harta yang kami miliki. Nah, di bawah ini ada tiga hal yang menyadarkanku mengenai hal itu:

1. MENGUMPULKAN HARTA
KELIRU: Kita berpikir bahwa Tuhan memberikan semua harta kepada mereka yang berusaha.

BENAR: Tuhan ingin kita menerima berkatNya dalam apa yang kita kerjakan, tapi Ia tidak ingin kita terikat pada harta dunia.

Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.
(Matius 6:19)

Kita semua masih membutuhkan uang selama hidup di bumi, seperti yang dikatakan banyak orang, ‘Uang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang‘. Namun Tuhan ingin agar kita tidak berharap pada harta yang kita miliki, bahkan mengusahakan apapun (hingga lupa waktu) hanya untuk mendapatkan harta (termasuk uang). Pertanyaannya adalah:

Dapatkah kita memiliki harta tapi tetap mengandalkan Tuhan?

Bisakah kita kaya akan harta, baik di bumi dan di sorga?

Ingat, akar segala kejahatan adalah cinta uang.
(1 Timotius 6:10a)

Saat baru belajar berinvestasi, aku berpikir untuk mendapatkan uang lebih banyak melalui berbagai produk yang ditawarkan. Akibatnya, aku merasa selalu kekurangan uang untuk diinvestasikan dan mencari bagaimana caranya mendapatkan uang lebih banyak. Lalu aku diingatkan bahwa tujuan investasi yang benar bukanlah untuk memperkaya diri sendiri. Hmmm… iya, ya. Satu-satunya harta yang dapat aku bawa ke dalam kekekalan adalah karakterku, dan karakterku hanya dapat diubahkan saat aku mengasihi Tuhan melebihi hartaku. Kenyataan ini membuatku sadar akan Kristuslah yang seharusnya menjadi satu-satunya hartaku yang abadi, melebihi harta yang aku miliki. Yaps, hubungan pribadi dengan Tuhan lebih penting dari segala yang kita punya; jika ada hal yang membuat kita kurang mengasihi Allah, maka hal itu telah menjadi jerat bagi kita (termasuk dalam hal harta).

By the way, saat menulis artikel ini, aku teringat dengan kisah Tuhan Yesus yang memberi perintah kepada orang muda yang kaya untuk menjual seluruh hartanya (Matius 19:16-26). Alasannya karena dia lebih terikat kepada hartanya daripada kepada Allah. Tidak heran kalau setelah mendengar perintah itu, “pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” (ayat 22). Berkaca dari kisah ini, bagaimana dengan kita?

2. MENGGUNAKAN HARTA
KELIRU: Kita berpikir bahwa Tuhan memberikan semua harta yang kita miliki untuk memenuhi kebutuhan kita saja.

BENAR: Tuhan mengharapkan kita menggunakan semua kemampuan, kepunyaan, dan kesempatan yang telah diberikan pada kita—dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya bagi kerajaan-Nya.

Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
(Matius 6:20)

Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
(Matius 6:2)

Berkat pemberian Tuhan tidak pernah dimaksudkan untuk memuaskan diri sendiri, tetapi agar melaluinya kita memuliakan Tuhan dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Seperti yang sudah kita simak di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa harta yang diberikan Tuhan bersifat sementara. Apapun jenisnya (mulai dari tabungan di celengan, deposito di bank, cicilan ini itu, bahkan emas segepokpun), tidak ada satu pun yang mempunyai nilai kekekalan, kecuali jika kita menggunakan sumber daya yang kita miliki untuk kerajaan Allah. Tapi bukan berarti artikel ini bertujuan untuk mendorong Pearlians jadi menghambur-hamburkan uang dengan alasan, “Ya kan, Tuhan yang menyediakan kebutuhanku!” Mohon maaf, nih, tapi kita tetap perlu menabung, yah. Ketika kita menabung, tabungan kita itu menjadi pengingat agar kita mempertanggungjawabkan penatalayanan kita di hadapan Tuhan—Sang Jehova Jireh—yang telah mencukupkan segala sesuatu.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana mengggunakan harta yang kita miliki untuk memuliakan Tuhan dan memberkati orang lain?

Well, banyak sekali yang dapat kita lakukan, Pearlians. Tapi aku ada dua contoh konkritnya (yang mungkin bisa teman-teman kembangkan sendiri sesuai kemampuan kalian):

a. Pekabaran Injil

Ada kenalanku yang berkomitmen melayani beberapa kali setahun ke berbagai tempat di Indonesia dengan biaya sendiri. Ada juga yang berkontribusi dengan memberikan persembahan kasih bagi mereka yang bekerja di ladang misi. Ada yang memberikan dana ke lembaga penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa, agar banyak suku bisa dijangkau oleh Injil. Apapun bentuknya, Pearlians juga bisa melakukan hal yang sama dengan menyalurkan dana bagi lembaga-lembaga Kekristenan (misalnya ke Lembaga Alkitab Indonesia atau Wahana Visi Indonesia).

b. Memperhatikan dan mengasihi sesama

Saat kita nggak hanya berfokus pada apa yang kita butuhkan, maka Tuhan akan membuka mata kita untuk melihat kebutuhan orang-orang di sekeliling kita. Bisa jadi Tuhan ingin kita menjadi jawaban bagi doa mereka atas permasalahan yang dihadapinya. Di lain waktu, Tuhan mungkin ingin kita memberikan hadiah atau mengunjungi seorang teman yang lama tidak kita temui. Kuncinya dua: peka terhadap suara Tuhan dan taat pada-Nya.

3. MEMBERIKAN HARTA
KELIRU: Kita berpikir bahwa Tuhan ingin kita memberikan semua yang kita miliki pada semua orang yang membutuhkan.

BENAR: Tuhan mengharapkan kita memberi dengan bijaksana, tulus, dan taat.

Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
(Matius 6:3-4)

Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.
(Matius 7:6)

Harta memang tidak dibawa mati, tetapi harta yang digunakan dengan bijaksana bisa berdampak positif. Karena itu, kita harus memberi dengan bijaksana dan hati-hati. Iya sih, secara teori kita tahu hal ini benar adanya. Tapi tanpa kita sadari, saat kita lengah, pemberian yang sembarangan tidak akan bermanfaat apa-apa selain hanya membuat hati senang pemberinya. Bahaya kan, kalau maksud pemberian kita itu baik, tapi ternyata tidak menolong seseorang dari masalahnya—malahan membuatnya semakin terjerumus?

Just sharing, kami pernah menolong sesorang dengan memberikan sejumlah uang padanya. Padahal ada orang lain yang sudah memperingatkan kami untuk tidak melakukannya. Akhirnya kami mengetahui bahwa orang tersebut punya banyak utang dan hanya gali-lubang-tutup-lubang setiap bulannya. Sedih sekali melihat bagaimana pemberian kami menjadi jerat bagi orang lain, bukannya menyelesaikan masalahnya. Well, jangan sampai kita memberi kepada mereka yang tidak bisamenghargai sebuah pemberian—bahkan hanya menginjak-injaknya.

Belajar dari pengalaman di atas, aku diingatkan untuk mempertimbangkan beberapa hal sebelum memberi (kepada siapa, untuk tujuan apa, kapan waktunya dan bagaimana “metode” pemberiannya). Melalui pemberian kita, sebenarnya kita juga sedang melayani Tuhan—yang bertujuan utama menyatakan kemurahan dan kebaikan-Nya. Dalam anggapan dunia, harta yang mereka punya adalah milik yang dapat digunakan sesuka mereka. Ungkapan favorit mereka adalah, “Terserah dong, mau ngasih atau nggak; seberapa banyak mau ngasih pun terserah kami! Ini kan, harta kami sendiri! Carinya udah susah-susah, ehh disuruh ngasih ke orang lain!?” Tapi dari artikel ini, kita udah sama-sama belajar kalau harta itu adalah kepunyaan Allah yang dipercayakan kepada kita untuk digunakan bagi kemuliaan-Nya, jadi kita harus mengelolanya dengan bijaksana dan taat. Plus, Allah juga ingin agar kita memberi dengan murah hati— sebagaimana Ia telah mempercayakan harta untuk kita kelola dan sudah seharusnya kita tidak mengharapkan balasan. Tapi jangan lupa kalau kita juga bertanggung jawab atas pemberian kita! Ingatlah, wahai Pearlians, pemberian dan persembahan diperlukan untuk membangun, memelihara dan menjalankan jemaat, juga untuk menunjukkan makna praktis Injil: menunjukkan kasih Allah bagi orang lain.

Bagaimana kita menggunakan harta kita menunjukkan sejauh mana kita mengasihi Tuhan.

Monday, February 3, 2020

Tentang Berpuasa


by Glory Ekasari

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan orang Kristen adalah tentang puasa. Apa gunanya puasa? Bagaimana aturan berpuasa? Berapa lama berpuasa? Kita seringkali memandang puasa sebagai ritual agama yang memerlukan tata cara, karena puasa terasa asing bagi kita yang percaya kepada Kristus. Kita melihat umat Muslim berpuasa selama sebulan, setahun sekali. Tapi puasa mereka berhubungan dengan penghapusan dosa, sementara orang Kristen tidak berpuasa untuk menghapus dosa. Lalu apa yang firman Tuhan katakan tentang berpuasa?

Salah satu kegiatan keagamaan yang dibahas Tuhan Yesus dalam Matius 6 adalah berpuasa (yang lainnya adalah memberi sedekah dan berdoa). Kegiatan berpuasa ini sudah berlangsung sejak zaman kuno dan menjadi tradisi orang Yahudi turun-temurun. Orang berpuasa dengan tujuan:

1. Menyatakan penyesalan yang mendalam terhadap sebuah kesalahan. Contohnya Daniel yang berdoa puasa atas nama seluruh bangsa Israel yang dibuang ke Babel karena dosa mereka.

2. Memohonkan sesuatu kepada Tuhan, seperti raja Daud yang berdoa dan berpuasa agar anaknya yang dilahirkan Batsyeba jangan mati.

3. Persiapan rohani menjelang peristiwa yang penting. Satu-satunya puasa wajib bagi orang Israel adalah sebelum Hari Raya Pendamaian, satu tahun sekali.

Apakah puasa masih relevan dengan kehidupan Kekristenan sekarang? Tentu saja. Kita berpuasa ketika kita bertekad untuk fokus kepada Tuhan dan mencari kehendak-Nya. Setiap kali kita merasa lapar, kita bukannya makan, tetapi memakai waktu untuk berdoa dan bertekun dalam permohonan kita. Saya pernah berpuasa untuk seorang saudara saya, agar dia mengenal Tuhan. Setiap kali saya merasa lapar selama masa puasa itu, saya teringat untuk berdoa bagi dia. Kita juga berpuasa untuk mempersiapkan diri melayani Tuhan, sehingga kita lebih banyak berdoa dan mempersiapkan hati kita. Ada juga orang Kristen yang berpuasa secara teratur, sebagai bagian dari disiplin rohani mereka. Semua hal ini baik.

Puasa bisa menjadi sesuatu yang diajarkan, bahkan diwajibkan, asal disertai pengertian. Kita tidak berpuasa untuk jadi lebih rohani (seolah-olah seperti orang yang berpuasa dan bersemedi agar menjadi sakti). Kita berpuasa agar kita lebih fokus kepada Tuhan dan lebih banyak berdoa. Puasa, seperti doa dan memberi sedekah, juga adalah urusan pribadi kita dengan Tuhan. Karena itu tidak elok bagi kita untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa kita sedang berpuasa.

Dari penjelasan di atas tentunya Pearlians bisa menarik kesimpulan bahwa di dalam Kekristenan, kita percaya puasa tidak bisa menghapus dosa. Puasa hanya menunjukkan kesungguhan kita dalam mencari Tuhan, bahkan penyesalan atas dosa kita, tetapi tidak menghapus dosa. Satu-satunya yang bisa menghapus dosa adalah Tuhan Yesus, dan itu sudah Dia lakukan ketika Dia mati disalib. Bahkan kita bisa menarik kesimpulan lebih jauh lagi, bahwa puasa hanya berguna ketika seseorang punya hubungan yang nyata dengan Allah.

Pada masa Yesus, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat terbiasa berpuasa, setidaknya dua kali seminggu dan menjelang acara-acara khusus. Perhatikan bahwa Yesus tidak mempermasalahkan rutinitas mereka dalam berpuasa. Yang Ia tegur adalah mengenai cara mereka berpuasa.

“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
(Matius 6:16-18)

Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk tidak berpuasa seperti orang munafik. Mereka ini adalah orang-orang yang ingin dilihat orang lain saat menjalankan ritual agamanya. Mereka sengaja murung dan kelihatan pucat supaya orang tahu bahwa mereka sedang berpuasa (dan merasa lapar). Dengan tajam Yesus menyatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” Mereka ingin dilihat orang? Oke, orang-orang sudah melihat mereka dan tahu bahwa mereka sedang berpuasa, dan memuji mereka karena “kesalehan” mereka. Lalu apa? Adakah pujian dari Tuhan atas ketekunan mereka berpuasa? Tidak! ‘Kan yang mereka cari pujian dari manusia, dan mereka telah mendapatkannya. Betapa ironisnya: puasa yang seharusnya menjadi urusan pribadi seseorang dengan Tuhan, menjadi urusan publik, dan sama sekali tidak berkenan kepada Tuhan!

Prinsip yang sama berlaku untuk seluruh kehidupan Kekristenan kita. Kita beribadah, berdoa, memberi sedekah, dan melakukan semua hal lain, bukan untuk manusia, melainkan untuk Tuhan. Begitu kita melakukannya agar dilihat dan dipuji orang, hal itu bukan lagi menjadi persembahan kita bagi Tuhan, dan Tuhan tidak punya urusan lagi. Seolah-olah Tuhan berkata, “Bukankah yang kamu cari adalah pujian orang? Monggo. Tapi jangan harap dapat pujian dari-Ku.”

Ketidakmengertian kaum religius di Israel tentang makna puasa makin kelihatan dari metafora yang Tuhan Yesus sampaikan untuk menegur mereka.

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”
(Markus 2:18-20)

Yesus tidak menyuruh murid-murid-Nya berpuasa selama Ia ada di tengah mereka. Alasannya sangat jelas: Yesus ada di tengah mereka; Yesus yang adalah pusat dari Kerajaan Allah dan Kabar Baik yang mereka sampaikan! Mengapa mereka harus berpuasa bila Ia ada di tengah mereka? Tetapi karena para pemimpin agama Israel tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, Sang Mesias, mereka tetap berpuasa untuk sekedar menjalankan ritual agama. Mereka tidak menyadari bahwa Tuhan sendiri ada di tengah-tengah mereka. Penolakan mereka terhadap Injil dijabarkan oleh Yesus:

Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”
(Markus 2:21-22)

Kerajaan Allah dan kebenarannya yang dibawa oleh Yesus seperti kain yang baru, yang akan merobek baju yang tua; dan seperti anggur yang baru, yang akan mengoyakkan kantong kulit yang tua. Pemikiran dan konsep yang tua dari para pemimpin agama membuat mereka tidak bisa menerima kebenaran yang Yesus sampaikan.

Karena itulah puasa bagi mereka dan bagi kita sangat berbeda. Kita berpuasa dalam pengharapan, bahwa Allah yang kita sembah mendengar doa kita karena Kristus telah membuka jalan bagi kita. Puasa bukan lagi cara “menyiksa diri”, tetapi sebuah disiplin rohani yang membawa kita untuk lebih peka dan sungguh-sungguh dalam doa dan ibadah kita. Puasa yang sejati menunjukkan iman kita, bahwa kita percaya akan kuasa Allah untuk mengubah hidup kita dan menjawab doa-doa kita.

Saya sudah beberapa kali mendorong teman-teman saya untuk berpuasa. Ada yang mengalami pengalaman pribadi dengan Tuhan dan dia tidak tahu apa artinya; saya menyarankan dia berpuasa dan bertanya kepada Tuhan. Ada yang sedang bergumul masalah yang berat; saya menyarankan dia berpuasa dan minta pertolongan Tuhan. Ada yang bingung saat harus mengambil keputusan penting; saya juga sarankan untuk berpuasa dan minta hikmat dari Tuhan. Puasa selalu relevan, apabila dalam hidup kita ini kita sungguh-sungguh memperhatikan pimpinan Tuhan. Namun ingat, jangan lakukan itu untuk dilihat orang, dan tidak perlu menceritakannya kepada orang lain. Biarlah Bapa kita yang ada di tempat yang tersembunyi yang melihat kesungguhan kita dan membalas ketekunan kita.