Showing posts with label Patience. Show all posts
Showing posts with label Patience. Show all posts

Monday, January 11, 2021

What Would Jesus Do?




by Alphaomega Pulcherima Rambang

“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
(1 Yohanes 2:6)

Slogan WWJD mungkin tidak terlalu sering terdengar sekarang seperti pada tahun 2000 awal. Kepanjangan dari WWJD adalah ‘What Would Jesus Do?’, sebuah pertanyaan singkat yang sebaiknya ditanyakan pada diri sendiri sebelum mengambil keputusan atau tindakan apa yang akan dilakukan. Sebuah pertanyaan yang seharusnya membuat kita berpikir antara melakukan sesuatu atau tidak, seperti apa yang akan Yesus lakukan jika dia berada di posisi kita. Jika kita tidak melakukan seperti yang akan Dia lakukan, jangan-jangan kita tidak mengenal Yesus dengan baik sehingga tidak meneladani Yesus dalam kehidupan kita. Well, pada akhirnya memang kita harus mengenal Dia secara pribadi untuk bisa melakukan seperti yang Yesus lakukan.

"Bayangkan suatu hari Yesus bangun dari tidurnya dan menjalani hidup kita yang sekarang, adakah yang berbeda dari hidup kita?"

Demikian pertanyaan seorang Kakak saat membawa kami dalam perenungan pada persekutuan doa yang aku ikuti di UKM Kristen bertahun-tahun lalu.

Aku ingat kami merenungkan pertanyaan tersebut dan sharing, kira-kira bagaimana Yesus akan menjalani hidup kami. Aku membayangkan jika Yesus akan bangun pagi-pagi sekali, saat teduh, bersih-bersih rumah (Yesus gak mungkin males saat teduh lah ya, hihihi), lalu Ia akan menyiapkan sarapan, duduk sarapan bersama eyangku-mengobrol tentang banyak hal-mendengarkan eyang menceritakan tentang apapun, lalu Ia berangkat kuliah naik motor dengan santai tanpa ngebut sambil ngobrol dengan BapaNya atau bernyanyi-nyanyi - tersenyum melihat mereka yang ngebut. Yesus tidak akan telat tiba di kampus, Ia membantu kawan yang belum mengerjakan tugas - bukan memberi contekan, sesekali Ia bercanda dengan kawan-kawannya-tentunya bukan lelucon kotor yang dikeluarkannya, tidak pula gosip, tapi tanpa begitupun Ia mampu membuat orang lain tertawa, sense of humour Nya terbaik, dst. Yesus menjadi diriku dalam versi terbaik.

Membayangkan Yesus menjalani kehidupanku sangatlah menarik, membayangkan Dia berbicara, kuliah, ikut ujian, pelayanan, dll. Aktivitasnya kurang lebih apa yang aku lakukan TAPI minus DOSA pastiiii... plus hubungan mesra dengan Bapa Surgawi. Saat kita memberikan Yesus tempat istimewa dalam hati dan hidup kita, Dia akan melakukan berbagai hal dengan caraNya, dan PASTI, hidup kita akan berbeda. Aku yang sekarang (memiliki Yesus) akan berbeda dengan aku yang sebelumnya. Tentu saja, yang memimpin adalah Yesus di dalamku, biar Yesus saja yang semakin bertambah dan aku yang semakin berkurang. Kira-kira demikianlah seharusnya hidup kita saat kita telah menerimaNya sebagai Juruselamat kita. KehadiranNya nyata nampak dalam hidup kita. ”Tapi ini sulit, aku gak bisa Tuhan, jeritku dalam hati, kenapa Tuhan tidak membiarkanku seperti ini saja?”

“Tuhan mengasihi kita apa adanya, tetapi Dia tidak akan membiarkan kita seadanya. Dia akan mengubah kita menjadi seperti Kristus.” 
- Max Lucado
Beberapa waktu kemudian aku mendapat kesempatan membaca sebuah buku yang di dalamnya bertuliskan seperti ini : Bagaimana, kalau Yesus menjadi anda untuk satu hari? Max Lucado dalam bukunya ini, Just Like Jesus, mengatakan bahwa untuk menjadi serupa dengan Kristus harus dimulai dari memiliki hati seperti hati-Nya dan hal itu dimulai dengan pembentukan hati oleh Roh Kudus. Kita perlu belajar memiliki hati seperti hatiNya. Ia menjabarkan ciri hati Kristus yang harus dimiliki oleh umat-Nya, yaitu hati yang mengampuni, penuh belas kasihan, mau mendengar, hati yang haus akan Tuhan, haus beribadah, terfokus pada Allah, jujur, murni, penuh pengharapan, bersukacita, dan tabah. Berikut ini beberapa ciri hati Yesus yang harus kita miliki:


HATI YANG MENGAMPUNI

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
(Kolose 3:13)

Mengampuni memang sulit tapi Yesus melakukannya, mari kita pandang Yesus yang telah memberikan teladan pengampunan terlebih dahulu terhadap kita. Ingat malam dimana Dia membasuh semua kaki murid-muridNya? Yesus bukannya tidak tahu kalau di antara murid-muridnya akan mengkhianati dan menyangkalNya tapi nyatanya Dia tetap membasuh kaki mereka. Dia memberikan anugerahNya kepada mereka yang tidak pantas diampuni TERLEBIH DAHULU. Dia menawarkan kasih dan pengampunanNya tanpa diminta dan memberikannya cuma-cuma. Kupikir, apa yang kita alami tidak lebih menyakitkan dari yang Dia alami, tapi Dia tetap mengampuni yang menyakitiNya. Inilah yang harus kita teladani


HATI YANG MENDENGAR

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.” 
(Yakobus 1:22-23)

Yesus dalam khotbahNya berkali-kali mengatakan : Siapa bertelinga hendaklah Ia mendengar. Seperti yang Yesus mendengar BapaNya dan taat, kita sangat perlu dengar-dengaran dengan Firman dan kehendak Allah di hidup kita. Bagaimana cara mendengarkan Tuhan? Dimulai dengan Alkitab yang terbuka dan membiarkan Dia berbicara melalui firmanNya yang berisi kehendak dan isi hatiNya, seperti yang Yesus lakukan. Lalu, lakukan! Semudah sekaligus sesulit itu. 


HATI YANG JUJUR

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” 
(Efesus 4:25)

Pernahkah mendapati Yesus berdusta? Sepanjang hidupnya selama 33 tahun kehidupan Yesus di muka bumi, tak ada cerita tentang kebohonganNya sekalipun keadaan Yesus sangat mendesak. Bagaimana dengan kita? Terkadang kita menambah atau mengurangi kebenaran, berbohong demi kebaikan, berdusta untuk melindungi diri kita, dll, apapun itu namanya, tetap saja kita tidak jujur. Bahkan kita menyampaikan hanya setengah kebenaran dan berkata kita telah jujur. Kita perlu meneladani hati Yesus yang jujur, yang tidak ada dusta 


HATI YANG MURNI

“sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” 
(Markus 7:21-22)

Hati manusia dipenuhi dengan segala kejahatan, hal-hal terburuk yang ingin dilakukan. Berbeda dengan hati Yesus yang murni. Setiap hari hatiNya dimurnikan oleh firman Tuhan dan Ia menjaga hatiNya sungguh-sungguh supaya tidak ditumbuhi benih yang jahat. Mudah bagi Yesus untuk merasa sombong karena kuasa yang dimilikiNya, tetapi nyataNya Ia mengakui dan menyadari karya Allah di dalamNya dan memuliakan Allah. Yesus memilih apa yang ingin Dia rasakan dengan selektif sehingga tindakanNya juga selektif. Perbuatan dan perkataan kita adalah cermin dari hati kita.


HATI YANG PENUH PENGHARAPAN

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”
(Roma 12:12)

Yesus berkata bahwa segala sengsara yang harus dialamiNya telah dinubuatkan. Dia melihat tujuan dalam penderitaanNya sebagai pemenuhan rencana besar Allah. Dia tidak membiarkan diriNya mengasihani diriNya atau mengutuki keadaan. Dia tetap berharap pada BapaNya dan meminta namun dengan rendah hati menginginkan kehendak BapaNya yang terjadi karena Ia tahu rancangan Allah adalah yang terbaik.

Kita perlu berlatih agar memiliki hati seperti hatiNya. Allah ingin agar kita menempatkan Kristus sebagai TELADAN atas seluruh hidup kita (Roma 8:28-29). Dia mau kita menjadi serupa dengan gambaran anakNya, lewat segala sesuatu yang kita alami. Melalui pilihan-pilihan yang kita ambil, Dia ingin membentuk hati kita menjadi serupa dengan Kristus.

Sebelum melakukan sesuatu, kita perlu menanyakan pertanyaan penting ini:

Apakah ini membuatku makin SERUPA dengan Kristus?

Monday, January 21, 2019

Hana: Dari Masalah, Pada Pengenalan Akan Allah


by Eunike Santosa

Pernah nonton sinetron Indonesia? Atau, kalo kamu anak 90-an, ingat gak zaman ketika telenovela Amerika Latin lagi heboh-hebohnya di Indonesia (Esmeralda, Esperanza, dkk)? Atau, buat yang masih ga konek lagi, drama Korea or Cina or Jepang, your choice dehhhhh… Hehe. Nah, di Alkitab ada loh, cerita ala sinetron yang penuh drama, penyiksaan batin dan derai tangis air mata... (ini bahasanya harus diberikan ekstra bumbu-bumbu biar lebih mantap! :P) Penyiksaan jiwa oleh istri lain dari sang suami telah membuat seorang wanita jatuh dalam depresi. Alkitab mencatat bahwa sang istri pertama ini menangis tersedu-sedu setiap tahunnya, sampai tidak mau makan. Akankah… dia terbebas dari belenggu penderitaan batin ini? Kita kupas setajam SILET… (Nih acara masih ada ga sih? Hahaha…) 

Oke, setelah intro yang (mohon maaf) agak lebay, mari kita tengok Alkitab kita di 1 Samuel 1:1—2:26 Disini kita mendapatkan kisah tentang seorang perempuan bernama Hana (dalam bahasa Ibrani: Channah yang artinya: favor, grace). Di pasal 1 kita bisa melihat background Hana: 
  1. Dia adalah isteri dari pria bernama Elkana (ayat 2). 
  2. Dia isteri pertama dari dua orang isteri; artinya, si mbak Hana dipoligami. 
  3. Hana ga punya anak so far (ayat 2), sementara si isteri satunya (Penina) dah punya beberapa anak. 
  4. Suaminya cinta ama dia; isteri favorit kayaknya, dibanding si istri kedua (ayat 5 dan 8). 
  5. Tuhan menutup kandungannya. (Kenapa ditutup yah?) 
  6. Tiap tahun mereka sekeluarga pergi ke Silo buat mempersembahkan korban bagi Tuhan (ayat 3), berarti mereka cukup religious. 
  7. Tiap tahun ketika mereka pergi ke Silo sekeluarga, Hana di-bully ama isteri kedua suaminya karena dia ga punya anak (ayat 6). 
  8. Hana sakit hati, menangis dan ga mau makan (ayat 7). Kedengarannya seperti gejala depresi kan yah? 
Bisa melihat pattern sinetronnya? Hehe… Tapi, jokes aside, apa yang diderita Hana saya rasa bisa dirasakan oleh banyak perempuan di dunia ini yang sedang berdoa untuk mempunyai anak. Atau mungkin untuk kamu-kamu yang sedang bergumul dengan sebuah masalah dimana kamu merasa Tuhan menutup jalanmu seperti Tuhan menutup kandungan Hana. Dan mungkin seperti Hana, kamu sudah menunggu bertahun-tahun untuk keluar dari pergumulanmu ini. Apapun itu, kamu ingin berteriak ke Tuhan, kamu sudah tidak tahan, kamu menangis dan menangis dan menangis dan tidak ada jawaban. Kamu mungkin bertanya, kenapa kok Tuhan menutup jalan? Atau dalam kasus Hana, kenapa Tuhan menutup kandungan Hana? kenapa Tuhan mengizinkan Hana untuk dibully oleh isteri yg lain, menangis bertahun-tahun, hilang nafsu makan, or even depresi? Kok Allah yang baik ini… tega…? 

Membaca cerita Hana lebih lanjut, kita kemudian melihat bahwa Hana berdoa kepada Tuhan. Pastinya ini doa yang kesekian kalinya. Alkitab mencatat bahwa Hana berdoa dengan hati pedih, sambil menangis tersedu-sedu (ayat 10) dan kemudian dibilang lagi di ayat 16 oleh Hana sendiri kalo dia berdoa dengan cemas dan sakit hati. Bisa kita lihat betapa dalam, dan pedihnya hati Hana ini, desperate ama Tuhan, sampai-sampai dia bikin janji nazar ke Tuhan. Di ayat 11, Hana berdoa untuk Tuhan melihat dia, mengingat dia—kadang kita juga berdoa seperti ini kan? Tuhan dimana? Apakah Tuhan lupa terhadapku? Hana berdoa dan berdoa, dan saking lamanya dia berdoa sampai dikira mabuk dan perempuan ga bener oleh imam Eli (ayat 12). Dan mungkin di sini, ketika kamu menghadapi pergumulanmu masing-masing, banyak orang yang bukannya bersimpati dan berempati, eh malah nge-judge kamu yang nggak-nggak… *sigh. Banyak yang tidak akan mengerti pergumulanmu tentunya, tapi justru karena itu, kita melihat bahwa dalam kasus Hana, dia melepaskan semua pergumulan jiwanya kepada Tuhan, lewat doa-doanya. 

Lalu tiba di ayat 18 dimana Hana mau makan dan ga sedih lagi. Hmmmmm, what happened? Apakah karena si imam Eli sudah bercakap-cakap dengan Hana? Apakah karena Eli bilang Tuhan akan kasih apa yang kamu minta? Apakah karena Hana sudah puas nangis-nangis dan berdoa? Kita lihat di ayat 20, Hana akhirnya dikasih Tuhan anak, trus dinamain Samuel yang artinya “Heard from God” —didengar oleh Tuhan. Jadi apakah karena doa Hana didengar oleh Tuhan, maka penderitaan Hana lenyap? I don’t think so. Hana sudah hepi duluan sebelum dia dapat anak oleh Tuhan. Kok bisa? Aye naon hepen? 

Jawabannya mari kita lihat di doa syukur Hana di pasal 2. 

Nah di ayat pertama aja si mbak Hana langsung bilang: “Hatiku bersukaria karena TUHAN!” Noh Jawabannya! Hahahhaha… Kenapa Hana bisa bersukacita lagi? Karena Tuhan sudah membuat dia kuat; Tuhan adalah pertolongannya! Ketika saya meneliti Doa Hana lebih lanjut, saya menggaris bawahi begitu banyak deklarasi karakter-karakter Allah. 
  1. Allah itu Kudus (ayat 2) 
  2. Allah itu gunung batu (ayat 2, 3) 
  3. Allah itu Mahatahu (ayat 3) 
  4. Dia lah Hakim yang menguji (ayat 3) 
  5. Dia meninggikan yang lemah (ayat 4 dan 5) 
  6. Allah itu Berkuasa! 
  • Berkuasa atas hidup dan mati (ayat 6) 
  • Berkuasa atas materi (kaya dan miskin) (ayat 7) 
  • Berkuasa atas bumi/dunia (ayat 8) 
  • Berkuasa atas manusia (ayat 9) 
Selain dari deklarasi itu, lagi dan lagi, si mbak Hana mereferensikan bahwa kekuatan manusia itu dari Allah saja, jadi kita ga berhak untuk sombong. Allah yang meninggikan, dan memberi kekuatan kepada yang lemah. So dari sini, jawabannya jelas: Hana memandang kepada Tuhan, dia mengenal Tuhan, dia fokus kepada Tuhan. Dia berpaling kepada Allah dan mencari kekuatan dari Allah saja. And therefore she praises God, bahwa kekuatannya dari Allah saja. Bukan hanya itu, lewat pergumulannya ini, Hana mengenal Allah, dia mengenal karakter-karakter Allah. Hana mengakui kedaulatan Tuhan atas hidupnya. 

Bagaimana denganmu? Cerita Hana diakhiri dengan happy ending, karena setelah Hana punya Samuel dan serahkan dia ke Tuhan, Tuhan memberi Hana lima orang anak lagi. Samuel in the end menjadi hakim Israel yang terakhir sebelum Israel beralih ke masa raja-raja. Samuel dari kecil dicatat di Alkitab sebagai anak yang saleh, dengar-dengaran sama si imam Eli, dan ketika Tuhan memanggil Samuel… Dia menjawab. :) Ini mengingatkan saya lagi kepada ayat ini: 

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. 
(Roma 8:28)

Kemandulan Hana adalah tindakan langsung dari Allah. Komentator di Sabda mencatat bahwa Tuhan tidak langsung memberikan anak kepada Hana dengan tujuan mempersiapkan Hana untuk kelahiran Samuel. Tuhan kadang mengizinkan kita mengalami hal-hal yang tidak enak atau tidak mampu supaya kita jadi jadi rendah hati, agar kita tahu bahwa pada akhirnya semua ini bukan karena kekuatan kita sendiri, tetapi karena Tuhan. He knows best. :) Apapun yang baik yang kita dapatkan, seperti arti dari nama Hana, it’s a favor, it’s only by God’s grace.

Friday, November 30, 2018

Beauty in Weakness


by Natalia Setiadi

Rasul Paulus berkata dalam 2 Korintus 12:7 bahwa dia diberi duri dalam dagingnya supaya dia jangan meninggikan diri. Ada penafsir yang berpendapat duri dalam dagingnya itu adalah penyakit, ada juga yang bilang sifat Paulus yang pemarah, tidak ada yang tahu pasti.

Kalo boleh disama-samain, kayaknya keadaan atau situasi hidup juga bisa jadi duri dalam daging ya. Dalam perjalanan saya ikut Tuhan, salah satu tantangan terbesar adalah kecaman terhadap kinerja saya sebagai ibu. Maksudnya, di-judge dalam hal motherhood. Motherhood memang dunia yang keras. Sejak proses melahirkan kita udah kenyang di-judge soal lahiran normal atau caesar, kasih ASI atau susu formula, pakein pampers atau cloth diapers, dan seterusnya. Seiring berjalannya waktu, kritik, kecaman, dan judgement itu bukannya mereda, tapi makin bertambah terus.

Dulu, dengan segunung idealism, saya berusaha sekuat tenaga untuk menjadi the best mother. Bukan cuma buat anak saya, tapi juga buat ego saya pribadi. Saya diam-diam menikmati pujian “supermom” dan merasa diri lebih baik daripada beberapa mama lain. Buat menghibur diri karena “pengorbanan” saya melepaskan atribut dokter dan turun ke dapur jadi ibu RT, saya berusaha sedemikian rupa supaya jadi mama yang maksimal. Apa itu ngga baik? Tentu saja baik. Ngga baiknya adalah, saya merasa sudah berhasil dan tanpa sadar berhenti mengandalkan Tuhan.

Tahun ketiga jadi mama, anak saya didiagnosis ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau gangguan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas). Seiring bertambahnya umurnya, sebagian kesulitannya berkurang, tapi muncul juga kesulitan-kesulitan lain yang justru makin jelas. Salah satunya masalah perilaku.

Ngomong memang selalu lebih gampang daripada menjalani. Menghakimi selalu lebih gampang daripada mengalami sendiri. Karena anak saya tidak bisa duduk tenang, mudah emosi dan frustrasi, “nakal”, papa-mamanya dibilang kurang perhatian. Kalo orang dengar pantangan makan anak saya yang segambreng, mereka bilang saya overprotective. Kalo saya mendisiplin, saya dibilang terlalu keras. Kalo saya biarkan anak saya eksplorasi, manjat dan lari-lari, saya dibilang terlalu membiarkan. Bahkan pernah juga mentah-mentah saya disebut mama yang ngga bener.

Untuk menepis omongan-omongan itu, saya berusaha lebih keras jadi mama yang lebih baik lagi. Kadang-kadang berhasil, tapi lebih sering gagalnya. Gagal dengan sukses. Ternyata jadi mama yang paling baik yang saya bisa pun tidak bisa meredakan judgement.

Saya membiasakan diri untuk ngga ambil pusing dengan komentar orang, tapi selain itu juga ada macem-macem kesulitan silih berganti. Dari masalah sosialisasi, tuntutan akademis dari sekolah, guru yang ngga paham dan ngga ingin paham, rutinitas ketat, pola pikir yang kaku, masalah emosi, sampe urusan insomnia parah yang meliputi episode nangis-tantrum hampir setiap malam selama berminggu-minggu.

Berulang kali saya jatuh bangun dan terpuruk. Saya merasa kurang sabar, pernah sampe histeris, sering kali sikap saya juga ketus dan mudah marah. Ternyata saya bukan supermom. Pingin banget kayak mama-mama di TV nan cantik rupawan dan lemah lembut. Tapi saya kok jauhnya kebangetan deh dari mama-mama itu, saya lebih mirip tokoh ibu tiri jadul yang suka ngomel teriak-teriak sambil nyirih dan makan jengkol. Wkwkwkw...

Kadang saya merasa tak berdaya ngeliat begitu banyak pergumulan anak saya di sekolah, juga di rumah, tak berdaya mengubah diri sendiri supaya jadi mama yang lemah lembut dan panjang sabar, tak berdaya menangkis tuduhan-tuduhan si jahat yang hobi me-replay komentar miring yang sering saya terima. Ternyata saya lemah. Image supermom juga dipakai iblis buat memojokkan saya: “Keliatannya aja baik di luar, kalo ngga ada yang lihat kok pake teriak-teriak... Nggak malu tuh, sama tetangga?”

Waktu saya lemah terpuruk berurai air mata, saya berseru minta pertolongan Tuhan. Tapi kok Tuhan diem aja ya? Nggak ada tuh suara yang menenangkan saya. Nggak ada damai sejahtera supranatural yang mendadak melingkupi saya. Saya gak mendadak bangkit dan jadi kuat kayak Hulk. Padahal kalo saya baca atau denger kesaksian orang, kok mereka ditolong Tuhan luar biasa?

Kok mereka dapat damai sejahtera yang melampaui segala akal? Kok saya enggak? Kok Tuhan tega ya liat saya nangis-nangis putus asa tapi Tuhan diem aja? How could You, Lord? :(

Tanpa saya sadari, Tuhan TIDAK DIAM SAJA! Dia sedang bekerja, walaupun tangan-Nya ngga terlihat oleh saya.

Saya berusaha berserah seperti kata orang-orang. Gimana sih sebenernya berserah itu? Apa yang harus saya lakukan kalo mau menyerahkan masalah saya sama Tuhan? Gimana caranya?

Maka dengan sabar Tuhan pun mengajari saya lagi, seperti mengajari anak kecil sesuatu yang udah diketahui oleh semua orang.

Saya belajar lagi bahwa berserah itu adalah tidak mencari jalan keluar sendiri. Menyerahkan suatu masalah ke Tuhan itu adalah berhenti memikir-mikirkan masalah itu dan menunggu.

Kadang-kadang menunggu itu sambil diam saja, kalo memang Tuhan memerintahkan demikian. Kadang-kadang menunggu sambil melakukan bagian kita, artinya melakukan yang baik yang bisa kita lakukan, dan selebihnya biarkan Tuhan melakukan bagian-Nya.

Maka saya tidak lagi berusaha mengubah kepribadian saya. Wong aslinya memang renyah (alih-alih lembut) ya mau dikata apa wkwkwk... Dan saya berhenti brainstorming untuk setiap kesulitan baru yang dialami anak saya.

SAYA BERDOA LEBIH BANYAK, LALU MENUNGGU.

Menunggu Tuhan menuntun saya, untuk melakukan sesuatu yang Dia tunjukkan, atau untuk diam saja menantikan pertolongan-Nya.

Ternyata ini yang mau Tuhan ajarkan dalam “diam”-Nya. Dia “membiarkan” saya merasakan kelemahan.

“Karena kuasa-Ku menjadi sangat nyata ketika kamu lemah.”
(2 Korintus 12:9 / Terjemahan Sederhana Indonesia)

Jadi lemah itu bukan sesuatu yang buruk. Hebat dan kuat itu tidak selalu baik.

Kalau lemah membuat saya melihat kuasa Tuhan dinyatakan, maka lemah itu indah. Kalau hebat dan kuat membuat saya berhenti mengandalkan Tuhan dan menyombongkan diri, maka hebat dan kuat itu sama sekali tidak baik.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
(2 Korintus 12:9-10)

Kalo saya lihat ke belakang, ke waktu-waktu yang paling sulit, di mana saya udah desperado abis, beneran loh justru masa-masa itu yang Tuhan pakai luar biasa buat membentuk saya. Waktu di tengah badai persoalan memang mata saya seperti rabun, ngga bisa lihat tangan Tuhan bekerja, hati saya ndablek, susah buat ngerasain kebaikan Tuhan. Tapi setelah badai berlalu, setelah mata saya cukup terang buat memandang karya tangan-Nya, hati saya sudah cukup tenang buat ngerasain kasih setia-Nya, kuasa-Nya, begitu nyata saya lihat dan rasakan.

Jadi, next time kalo lagi ngerasa lemah, it’s OK, there’s beauty in weakness.

Ingat bahwa kasih karunia Tuhan selalu cukup. Senang dan relalah dalam kelemahan, karena di situlah kuasa Tuhan nyata.

Monday, October 9, 2017

The Power of Gentle Tongue



by Leticia Seviraneta

“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” –Amsal 15:1 

Kata kelemahlembutan terdengar kurang menarik bagi sebagian dari kita. Dalam bahasa kita, kata ini sering diasosiasikan dengan sikap yang terlihat lemah dan lembut. Namun di dalam bahasa Inggris, kata yang dipakai adalah gentleness atau meekness. Dalam bahasa Yunani, digunakan kata praotes yang artinya strength in gentleness; keseimbangan antara power dengan pengendalian diri; strength under reserve; kemampuan untuk tidak bersikap kasar yang tidak membangun namun juga dapat bersikap tegas bila diperlukan. 

Kelemahlembutan dapat digambarkan sebagai kekuatan batin di dalam (inner strength), tidak terlihat namun memberi kestabilan dan ketenangan bagi yang memilikinya meski situasi di luar sedang tidak kondusif. Kita menunjukkan kualitas kelemahlembutan ketika kita sebenarnya mampu membalas, baik perkataan maupun perbuatan, namun kita mampu untuk menahan diri dan tidak melakukan pembalasan. Hal inilah yang memberikan gambaran bahwa kelemahlembutan sama sekali bukanlah atribut yang dimiliki oleh orang yang lemah, melainkan orang yang kuat, karena dibutuhkan kekuatan jauh lebih besar untuk tidak menggunakan power kita meski kita sangat mampu menggunakannya. 

Di artikel ini saya ingin mengupas lebih dalam lagi mengenai kelemahlembutan secara khusus di area perkataan. Kita sebagai wanita pada umumnya senang sekali berbicara. Namun kita seringkali melupakan bahwa di dalam perkataan kita baik dari pilihan kata, nada, dan waktu pengucapannya sangat penting karena memiliki dampak besar. 

“Kita semua sering membuat kesalahan. Tetapi orang yang tidak pernah membuat kesalahan dengan kata-katanya, ia orang yang sempurna, yang dapat menguasai seluruh dirinya.

Kalau kita memasang kekang pada mulut kuda supaya ia menuruti kemauan kita, maka kita dapat mengendalikan seluruh badan kuda itu. Ambillah juga kapal sebagai contoh. Meskipun kapal adalah sesuatu yang begitu besar dan dibawa oleh angin yang keras, namun ia dikendalikan oleh kemudi yang sangat kecil, menurut keinginan jurumudi. Begitu juga dengan lidah kita; meskipun lidah kita itu kecil, namun ia dapat menyombongkan diri tentang hal-hal yang besar-besar. Bayangkan betapa besarnya hutan dapat dibakar oleh api yang sangat kecil!” –Yak 3:2-5 

Yakobus memberikan gambaran betapa besarnya peranan lidah atau perkataan di dalam kehidupan kita. Terlebih lagi betapa besarnya berkat yang dapat kita berikan bagi orang lain, bila perkataan kita merupakan perkataan yang lemah lembut! Seberapa besarkah kekuatan sebuah perkataan yang lemah lembut? Dalam Amsal 15:1 Salomo menuliskan, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Dari ayat tersebut, jelas bahwa bila kita mampu berkata dengan lemah lembut, kita bagaikan air di tengah api yang membara. Kita dapat meredakan situasi yang memanas di saat orang lain mungkin sedang marah-marah. Kelemahlembutan memberikan seseorang kekuatan meski sedang diperlakukan tidak adil sekalipun. Orang yang lemah lembut tidak terpancing untuk membalas tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Apabila muncul saat yang tepat ketika ia perlu berbicara maka ia akan memikirkan kata-kata yang tepat terlebih dahulu disertai dengan nada yang baik agar tidak membuat lawan bicara menjadi semakin marah. 

“Kesabaran disertai kata-kata yang ramah dapat meyakinkan orang yang berkuasa, dan menghancurkan semua perlawanan.” – Ams 25:15 [BIS] 

Di dalam terjemahan bahasa Inggris dikatakan bahwa a gentle tongue breaks a bone. Hal ini mengandung makna bahwa perkataaan lemah lembut dapat mematahkan perlawanan sekeras apa pun. Ini merupakan sebuah kekuatan yang luar biasa! 

Apakah semua ini terdengar sulit untuk dilakukan bagi teman-teman? Lalu bagaimana cara agar tutur kata yang lemah lembut menjadi gaya hidup kita? 

1. Hidup di dalam pimpinan Roh Kudus 
Karena kelemahlembutan merupakan aspek dari buah Roh (Gal 5:23), maka kita tidak dapat menghasilkan kualitas tersebut di luar pimpinan Roh Kudus. 

“Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” – Gal 5:16 

Hidup dipimpin oleh Roh membutuhkan penundukan dan penyerahan segenap hidup kita untuk mau taat terhadap arahan Roh Kudus. Kita juga memerlukan kepekaan untuk mendengarkan suara-Nya dengan rajin berdiam diri dan bersekutu dengan Tuhan. Saya secara pribadi adalah orang yang lebih cepat berbicara dibandingkan berpikir. Jadi kemungkinan saya untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak tepat, di nada yang salah, serta di waktu yang salah sangat tinggi. Namun seiring dengan pertumbuhan saya, serta setelah mengalami beberapa konsekuensi dari kurangnya kelemahlembutan dalam bertutur kata, saya akhirnya belajar untuk berkata-kata sesuai dengan arahan Roh Kudus. Roh Kudus akan menuntun apa saja yang perlu dikatakan dan apa saja yang tidak perlu. Yang perlu kita lakukan adalah taat terhadap arahan-Nya. Bila Roh Kudus memberikan impresi untuk kita berhenti berbicara atau berkata dengan nada yang lembut, maka lakukanlah. Bila kita tidak mampu berbicara dengan lembut saat itu lebih baik kita diam dan mundur dari perbincangan tersebut. 

“Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.” – Amsal 17:14 

2. Latihan, latihan, latihan 
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah.” –Yak 1:19 

Latihlah untuk lebih berpikir sebelum bertutur kata. Apakah perkataanku ini membangun? Apakah perkataanku ini dapat kusampaikan dengan nada lembut? Apakah waktunya tepat untuk menyampaikannya? Bila salah satu dari pertanyaan tersebut jawabannya adalah tidak, maka perkataan tersebut tidak perlu diucapkan sama sekali. Tantangan berikutnya adalah ketika lawan bicara kita memancing amarah yang membuat kita sangat ingin membalas atau berbuat sesuatu untuk menunjukkan ia salah. Dalam situasi ini penting bagi kita untuk memiliki sudut pandang yang benar. Kita hendaknya berpikir bahwa kalah dalam argumentasi bukanlah berarti kita lemah ataupun payah. Kita harus berada di atas argumentasi tersebut, bukan terbawa arus olehnya. Justru hal ini menunjukkan benar-benar bahwa kita kuat. Untuk apa memenangkan perdebatan, namun pada akhirnya merusak hubungan itu sendiri? Di dalam hubungan dengan sesama tidak ada unsur kompetisi di mana ada menang maupun kalah. Di dalam Tuhan, hubungan harus bersumber dari satu hal saja: kasih. Tidak ada menang atau pun kalah di dalam kasih. Yang ada hanyalah hubungan ini penuh kasih atau tidak ada kasih di dalamnya. 

“Perintah baru Kuberikan kepadamu: Kasihilah satu sama lain. Sama seperti Aku mengasihi kalian, begitu juga kalian harus saling mengasihi. Kalau kalian saling mengasihi, semua orang akan tahu bahwa kalian pengikut-pengikut-Ku.” –Yoh 13:34-35 [BIS] 

Biarlah tutur kata yang lemah lembut menjadi gaya hidup kita agar orang-orang mengenali kasih yang ada di dalam setiap hubungan yang kita bina dan pada akhirnya membawa mereka ke dalam pengenalan akan Yesus Kristus. 

Wednesday, July 19, 2017

Masa Depan Yang Penuh Harapan (Part 1)


by Grace Suryani

"Percaya deh, Tuhan PASTI memberi masa depan yang penuh harapan!!" 
Itu firman Tuhan yang sering banget digembar-gemborkan, khususnya kepada generasi muda.

God wants you to do SOMETHING BIG FOR HIS KINGDOM!!!
God will use YOUR LIFE TO CHANGE THE WORLD!! 

dan semua kalimat keren lainnya. 

Well, itu ga salah. tapi kadang PERSEPSI kita ttg 'something big', 'change the world', masa depan penuh harapan yang SALAH. Ketika kita mendengar kalimat itu, kadang yang terpikir langsung, "WOW, gue mungkin akan dapet kerjaan di MNC yang bakal bikin gue bisa traveling around the world!!" Atau "WOW, mungkin Tuhan akan kasih gue beasiswa ke luar negeri!" Atau, “WOW, gue yakin gue akan bisa jadi orang paling hebat di bidang gue. Orang-orang akan datang berguru kepada gue.” Atau, “WOW, buku yang gue tulis akan jadi buku best seller mengalahkan Harry Potter!” Or all other glorious dreams... 

Mungkin BANGET. Bisakah Tuhan lakukan itu buat kita? BISA. I have no doubt. Alkitab penuh dengan orang-orang yang melakukan hal-hal besar, melakukan mujizat, membuat orang-orang terkagum-kagum. Tapi Alkitab juga penuh dengan orang-orang biasa, yang melakukan hal-hal biasa untuk Tuhan yang luar biasa. 

Ayat yang paling sering dikutip itu ayat ini, 

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." 
—Yeremia 29:10

Tapi mari kita liat untuk siapa dan dalam kondisi apa ayat ini ditulis.

Beginilah bunyi surat yang dikirim oleh nabi Yeremia dari Yerusalem kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada imam-imam, kepada nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel. 
—Yeremia 29:1

Surat ini ditulis untuk orang-orang buangan di Babel. Surat ini ditujukan oleh bangsa Israel yang BARU SAJA dibuang ke Babel.

Lalu apa perintah Tuhan buat orang-orang buangan itu? Tabahkan hatimu, Aku akan membawa kamu keluar secepatnya?? Tabahkan hatimu, kamu akan melihat tangan Tuhan membalas dendam dan menghukum orang-orang kafir itu? Tabahkan hatimu, kamu akan melihat mujizat Tuhan yang luar biasa? Kamu akan kembali segera ke tanah Israel. Kamu akan menjadi kepala dan bukan ekor!!

Ini perintah Tuhan buat mereka,

“Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan! Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN. 
—Yeremia 29:5-9

Dengan kata lainnya Tuhan tuh bilang begini, “Nak… Kamu itu bakal LUAMAAA banget di Babel. 70 tahun. Aku ga akan bawa keluar sebelum 70 tahun itu. So, daripada dengerin ocehan atau nubuat-nubuat palsu dari orang-orang yang bilang bahwa Tuhan akan menolongmu sebentar lagi, bahwa kamu ga akan lama di Babel, bahwa kamu akan kembali melihat kemuliaan Yerusalem, bahwa Israel akan berjaya lagiii, mendingan loe bangun rumah dah. Bikin kebun buat anak cucu loe, dan kawin lalu bikin anak sebanyak-banyaknya! Kerja yang bener, dan berdoalah buat entu orang-orang kapir. Oke? Jangan loe dengerin dah itu org-org yg pada ngomong yg bagus-bagus ttg loe ga bakal lama di Babel, loe akan liat mujizat, Tuhan akan membangun kembali Yerusalem. Iye, bakal Gue bangun tapi ntar ye, pokoknya loe 70 taon dulu di sini. Oke?” 

Barulah ayat 9 disambung dengan ayat yang suka dikutip karena bunyinya bagus banget.

To be continued.

Monday, June 26, 2017

Beauty of Waiting


by Felisia Devi

Menunggu adalah sesuatu hal yang tidak mengenakan, betul apa betul? Makanya saya selalu berusaha tepat waktu ketika berjanji dengan siapa pun. Saat saya merenungkan lagi tentang hal menunggu ini, saya pikir saya sekarang juga sedang menunggu loh...

Menunggu waktunya Tuhan yang telah mengatur semua hal yang harus saya lewati. 

Menunggu pembelajaran dari setiap hal yang terjadi, karena setiap masa yang saya lalui pasti memiliki keindahannya sendiri. (Peng 3:11) 

Menunggu hikmat dan jawaban dari Tuhan untuk setiap pertanyaan/pergumulan saya.

Tuhan mengajar saya untuk ‘suka’ menunggu. Dia mengajar saya bahwa masa menunggu bukan berarti masa untuk tidak melakukan apapun. Kita bisa menunggu tapi tetap melakukan hal-hal yang bermanfaat. Seringkali, hal-hal lain yang kita lakukan justru membuat waktu menunggu ga berasa lama. 

Pada praktek keseharian untuk soal "menunggu", saya belajar untuk melakukan hal-hal yang berguna (bukan sekedar menghabiskan waktu): saya dialog sama Tuhan, renungin firman Tuhan, (apalagi sudah ada aplikasi Alkitab di HP), saya selalu bawa buku di tas supaya kapanpun bisa membaca. Kadang, saya melihat keadaan sekitar, untuk melihat apa yang bisa saya pelajari, lakukan, mengamati hal-hal yang suatu hari nanti bisa memperkaya tulisan saya. Pokoknya jangan sampe saya tidak melakukan apapun apalagi sampe damai sejahtera hilang/direbut.

Banyak orang fokus pada masa menunggu, tapi melupakan hal-hal yang bisa dia lakukan ketika menunggu. 


I'm a lady in waiting. Every one of us is a lady/man in waiting. 


Yang paling utama, kita menanti untuk dijemput sang pengantin Tuhan Yesus sendiri, di pesta pernikahan. Kita sedang menantikan Anak Domba Allah datang untuk yang kedua kali.

"Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteriKu dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang"
(Hos 2:18)

"Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia"
(Wahyu 19: 7)

Dalam masa penantian itu, mari melatih diri kita untuk terus mengejar keserupaan dengan Kristus.



Happy waiting ☺

Friday, June 23, 2017

Kenapa Harus Menunggu?


by Azaria Amelia Adam

Banyak dari kita pasti sudah punya rencana hidup. Misalnya, kalau sudah selesai pendidikan sarjana, kita punya target kapan harus sudah mulai bekerja, kapan melanjutkan studi lagi, kapan menikah, kapan punya anak dan seterusnya.

Semuanya seperti sudah tertata dengan baik dalam pikiran dan kita berjuang untuk mewujudkannya. 

Saat kita masih jadi mahasiswa tingkat akhir, harapan kita adalah lulus tepat waktu dan cepat mendapat pekerjaan. Kalau bisa dapat pekerjaan yang kita suka, sesuai bidang ilmu dan keahlian, dan gaji besar. Atau buat yang sudah menikah, maunya cepat punya anak. Ah, indahnya hidup jika seperti itu.

Tetapi, kadang semua terjadi tidak seperti rencana kita. 

Bukannya lulus tepat waktu, penelitian kita untuk tugas akhir bermasalah dan akhirnya harus mengulang. Segera setelah lulus, kita langsung mengirim lamaran ke banyak tempat, tetapi masih belum dipanggil untuk bekerja. Atau, sudah menikah lebih dari 5 (lima) tahun, tetapi belum memiliki anak.

Dalam menghadapi masa penantian itu, kita seperti disuruh Tuhan untuk bersabar. Tetapi saat kita menunggu, lama-kelamaan kita menjadi bosan, kecewa dan putus asa.

Sangat penting buat kita untuk tidak menunggu hanya untuk berkat seperti wisuda atau pekerjaan yang bagus. Kita perlu berharap pada Tuhan. Akan ada sukacita bagi orang-orang yang bersabar dalam Tuhan dan tetap percaya pada Tuhan. 

Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, Nantikanlah TUHAN.
(Mazmur 27:14)

Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu. 
(Mazmur 25:3a)

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.
(Mazmur 62:5)

TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
(Ratapan 3:25)

Pernahkah kita berpikir, masa penantian justru membuat berkat Tuhan terasa lebih indah. Apa bedanya, semangat kerja seorang yang sudah pernah menganggur setahun dan fresh-graduate? Atau, apa bedanya, perasaan bahagia suami istri yang memiliki anak pertama di usia pernikahan 10 tahun dengan yang baru 10 bulan menikah?

Jika kita benar-benar bersabar dalam penantian, kita bisa lebih menikmati berkat itu, bukan menyia-nyiakannya. 

Kita perlu percaya bahwa jika kita meletakkan harapan kita pada Tuhan, jiwa kita tidak akan kecewa malah menjadi semakin kuat. Kita mampu untuk bersukacita dalam penantian kita bersama Tuhan. 

Memang tidak salah jika kita punya target waktu dalam kehidupan ini. Tetapi perlu kita sadari bahwa menunggu dan berserah adalah hal yang harus kita lakukan untuk memiliki hati yang kuat dan jiwa yang tenang. Tuhan tidak memanggil kita hanya berdiam dalam penantian. Tuhan mengijinkan kita mengunggu agar kita bisa belajar menyerahkan semua keinginan dan harapan kita pada-Nya. Ini yang harus kita lakukan dalam penantian, bukan lagi mempertahankan rencana, waktu, keinginan dan harapan kita, tetapi menggantinya dengan rencana Tuhan, waktu Tuhan, keinginan dan harapan Tuhan atas kita.

Monday, June 19, 2017

Patients Need Our Patience



by Azaria Amelia Adam

Pendidikan profesi tenaga kesehatan seperti dokter atau perawat memang sangat menguras tenaga. Profesi ini menuntut kami bekerja melebihi jam kerja pada umumnya. Bukan cuma 40 jam per minggu, tapi bisa 80-96 jam per minggu. Kami juga cenderung tidak bisa tidur cukup saat harus menjalani 24 hours shift. Pendidikan profesi berbeda jauh dengan pendidikan akademik di kampus. Di kampus kami belajar teori, cuma berhadapan sama buku dan dosen. Sedangkan di Rumah Sakit, kami berhadapan dengan pasien. Di kampus kami diajari tentang komunikasi dengan pasien, bagaimana seorang dokter harus memiliki empati. Di rumah sakit, kami belajar untuk mempraktekkannya.

Pendidikan profesi diisi dengan jadwal jaga, pelayanan pasien di poliklinik, IGD dan rawat inap. Selain itu, namanya juga pendidikan, pasti ada laporan jaga dan tugas ilmiah. Kalau bisa pulang rumah, ga bisa langsung naik tempat tidur, tapi buka laptop lagi buat ngerjain tugas. Disini kesabaran kita dilatih.

Kesabaran bukan masalah hanya menunggu dengan tenang, di tempat duduk yang nyaman, ruangan ber-ac, sambil mendengarkan musik atau nonton film. Kita dituntut untuk sabar meskipun kita tidak berada di tempat yang memudahkan kita untuk bersabar. 

Ada dua terjemahan bahasa Yunani untuk kata “kesabaran” di Perjanjian Baru. 
  1. HupomonÄ“, yang artinya “bertahan dibawah,” bertahan menahan beban. Hupomone berarti tetap berdiri kokoh dalam kondisi lingkungan yang berat. 
  2. Makrothumia, yang disebutkan dalam Galatia 5:22, berasal dari kata makros (“lama”) dan thumos (“passion” or “temper”)
Kesabaran dalam Galatia 5:22 artinya memiliki kemampuan untuk menahan atau mengontrol emosi dalam waktu yang lama. Kesabaran seperti ini dalam terjemahan KJV disebut “long suffering.” Ini adalah tentang bagaimana kita tetap bisa bertahan dalam proses yang berat itu tanpa mengeluh, bagaimana kita bukan hanya bisa menikmati proses, tetapi tetap bertahan sekalipun proses itu tidak bisa dinikmati.

Hari-hari pendidikan profesi adalah hari-hari penuh perjuangan berat. Pelayanan pasien gawat di IGD butuh konsentrasi tinggi, pasien rawat jalan yang menunggu di poliklinik, kurang waktu istirahat, deadline tugas ilmiah. Semua itu membuat kami sering kesulitan mengontrol emosi. Hal yang menjadi fokus dalam pikiran hanyalah menangani kondisi medis pasien secara fisik. Kami sudah terlalu lelah untuk memperhatikan perasaan pasien dan mempraktekkan empati. 

Pokoknya pasien diperiksa, dikasi obat, selesai. Rasanya sulit sekali mengumpulkan niat untuk bertanya, “apa yang Ibu/Bapak rasakan?” Pernyataan yang bisa disampaikan hanya, “Iya, saya mengerti apa yang Ibu/Bapak rasakan. Obatnya diminum ya, supaya cepat sembuh.” And, it’s done...

Satu hal yang berpotensi membuat kita kehilangan kesabaran adalah saat menghadapi pasien rewel dan merepotan. Jujur, susah sekali untuk tersenyum dan dengan tenang melayani pasien seperti itu. Perlu kesabaran yang lebih dari sekedar teori empati untuk melayani. Bagaimana kami bisa tersenyum tulus jika diperhadapkan dengan kondisi seperti itu, belum lagi kalau mengingat, ada laporan kasus yang belum selesai dan harus dipresentasikan 2 jam lagi. 

Beban kerja yang tinggi dalam waktu yang lama membuat kita menganggap pelayanan pasien bukan sebagai pekerjaan yang digerakkan dengan passion, tetapi sebuah rutinitas biasa kita, bukan lagi menganggap kesempatan melayani pasien sebagai suatu privilage, tapi malah membosankan.

Suatu kali saya membaca catatan tentang keluhan seorang pasien.
This may be a normal day at work for you, but it’s a big day in my life.
The look on your face and the tone of your voice can change my entire view of the world.
Remember, I’m not usually this needy or scared.
I am here because I trust you; help me stay confident.
I may look like I’m out of it, but I can hear your conversations.
I’m not used to being naked around strangers.
Keep that in mind.
I’m impatient because I want to get the heck out of here. Nothing personal.
I don’t speak your language well.
You’re going to do what to my what?
I may only be here for four days, but I’ll remember you the rest of my life.
Dia benar. memang buat kita itu hanyalah hari-hari biasa. Tetapi buat pasien, itulah hari yang akan diingatnya seumur hidupnya.

Kalau dia seorang anak penderita leukemia, saat ini dia terbaring lemah melihat tetesan infus cairan obat kemoterapi. Dia bukan anak ceria yang bisa bermain bebas. Kalau dia seorang bapak yang menderita serangan jantung, dia tidak bisa bekerja. Menarik napas bisa sangat menyakitkan baginya. Kita merasa hidup kita sangat berat. Ketika orang butuh bantuan datang kepada kita, kita ga sadar kalau sebenarnya, pasien-pasien itu punya masalah hidup yang lebih berat dari kita.

Sebanyak apa pun pasien di bangsal, laporan jaga atau tugas ilmiah. Sekalipun waktu istirahat ga ada. Setidaknya, kita masih diberikan berkat kesehatan. Mata yang sehat, sistem imun tubuh yang berfungsi optimal, tangan dan kaki yang kuat untuk bekerja. Kadang kita lupa bersyukur, sehingga kehilangan kemampuan bersabar dan bertahan dalam kondisi sulit.

Artikel ini saya buat bukan hanya karena latar belakang saya seorang dokter, tetapi karena saya ingin menguatkan teman-teman yang bekerja di bidang sosial, seperti pelayanan rumah singgah, panti asuhan, pekerja di panti jompo dan sebagainya.

Mau kita punya passion sekuat apapun, suatu hari kita pasti lelah dengan tantangan yang ada. Kadang kita lelah, ga sabar, dan akhirnya mengerjakan semua itu hanya sebagai rutinitas. Tetapi, kalau kita punya buah roh kesabaran, kita pasti bisa bertahan. Kesabaran merupakan buah roh, artinya, kita hanya bisa memiliki kesabaran melalui kuasa dan pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita. Orang yang sabar bisa lambat untuk marah karena punya Tuhan yang memberikan ketenangan. Tuhan yang akan memberikan hukuman pada setiap kesalahan. Pembalasan bukan tujuan kita. Pembalasan hanya menunjukkan kalau kita lemah. Tuhan mau kita tetap memiliki kasih. (Roma 12:19; Imamat 19:18). 

Lawan dari kesabaran adalah kegelisahan, kekesalan, putus asa dan keinginan untuk membalas (Mazmur 42:5). Tuhan tidak mau anak-anaknya hidup dalam kegelisahan tapi dalam damai (Yohanes 14:27). Tuhan ingin mengganti keputus-asaan dengan harapan dan pujian. Kita bisa menjadi sabar dan bertahan dalam kesukaran karena memiliki harapan yang berasal dari Tuhan.

Friday, June 16, 2017

Bersabar Terhadap Proses



by Eunike Santosa

Perkembangan teknologi sekarang ini memang seperti dua sisi mata uang. Bisa menguntungkan, bisa pula merugikan. Menguntungkan karena perkembangan tekhnologi membuat segala sesuatu jadi lebih cepat. Informasi juga bisa kita dapatkan dengan gampang. Bingung mau makan dimana? Tanya google, langsung deh dapat rekomendasi lengkap dengan rating dan review. Butuh apa-apa, tinggal swipe ponsel, everything is easy peasy. Namun, tentu saja dampak buruknya juga ada. Dengan kecepatan informasi, kita ingin segala sesuatu berlangsung instan. Masih ingat kah kalian ketika internet masih pake Dial-up? Mau online aja kudu nunggu beberapa menit hahha.. Atau, ketika kita masih pakai disket floppy disc 3½? *nostalgia zaman jadul*

Menurut New York Post, masyarakat pada hari ini mengejar banyak hal dengan kecepatan luar biasa, termasuk hal-hal seperti karir, cinta, dan bisnis. Karena kecepatan ini, mau tidak mau kita mengikuti sebuah pola. Ketika pola tersebut terganggu, alias lebih slow, kita jengkel, bingung dan jadi frustasi sendiri. Terkadang saya berpikir, ini bukan karena segala sesuatu itu lambat, tapi karena kecepatan hidup sudah terlalu cepat, banyak orang lupa untuk menikmati ‘perlambatan.’ Kita lupa apa itu proses. Kita lupa bahwa proses membutuhkan waktu.

Dalam kehidupan kekristenan kita, proses adalah hal yang tidak asing lagi. Selagi kita hidup di dunia ini, hari-hari kita adalah proses perubahan, pengudusan, penempaan untuk menjadi serupa dengan Kristus. Allah mengizinkan proses ini terjadi untuk membentuk karakter kita. Seperti pohon anggur yang ranting-ranting keringnya dipotong, supaya proses pertumbuhan pohon itu lebih baik dan efisien, demikian pula hidup kita. Bapa kita di Sorga sedang memotong ranting-ranting jelek kita supaya kita bisa bertumbuh menjadi lebih baik sesuai dengan kehendak-Nya.

Terkadang kalau kita mendengar kisah-kisah tokoh Alkitab dengan langkah-langkah iman yang mereka ambil, kita lupa bahwa kisah tersebut hanya satu lembaran dari hidup mereka. Contohnya saja om Abraham yang dibilang Bapa orang beriman. Kebanyakan orang kalo mendengar kisah Abraham, betapa dia sangat mencintai Tuhan sampai ketika dites oleh Tuhan untuk mengorbankan Ishak, dia nurut aja. Namun, lupakah kalian? Rentang waktu dari Abraham (masih Abram namanya pas itu) dipanggil untuk meninggalkan Haran hingga pengorbanan Ishak sama sekali tidak sebentar. Kira-kira 30-an tahun euy... Dan itu dilewati Abraham dengan dua kali (dua kali bookkk) menyuruh istrinya untuk bilang kalo dia saudaranya karena Abraham takut mati. Iman macam apa ini? Ini namanya bapa orang beriman?

Begitu pula dengan Daud, sejak dia diurapi menjadi seorang raja oleh Samuel, hingga dia beneran jadi raja, berapa lama kah rentang waktu yang ada? Si Abang Daud sampai harus lari ke padang gurun buat sembunyi dari Saul karena ingin dibunuh, istrinya dikasih ke orang lain, sahabatnya mati, Daud sampai meragukan panggilan Allah akan dirinya sehingga ingin bunuh orang (baca kisah Nabal, thankfully ada Mba Abigail yang mengingatkan Daud akan jati dirinya hehehe).

Semuanya butuh proses, pertumbuhan iman dan pembentukan karakter bukanlah hal yang instan. Butuh waktu dan waktunya tidak singkat. Tentunya ini membuat banyak orang frustasi, bahkan tak jarang hingga meninggalkan iman kekristenannya, kecewa terhadap Tuhan. Hidup kita sekarang adalah sebuah proses. Pertanyaannya sekarang adalah: bagaimana respon kita dalam menghadapi proses ini? Apakah kita ngambek sama Tuhan? Marah kepada Tuhan? Jengkel dengan Tuhan? Saya rasa ini normal. Namun kalau kita melihat sifat dasar sebuah proses, yakni berbanding lurus dan pararel dengan waktu. Mari kita mengambil nafas sejenak, menengok akan hidup kita sejauh ini, dan mari kita lihat sudah berapa jauh Tuhan membimbing kita dan membentuk kita. Daripada kita melawan proses, mari kita bersabar dengan proses ini. Sesekali mengalami internet Dial-up dibandingkan kecepatan fiber-optic boleh laaahhh... hitung-hitung nostalgia kan? :P *silver lining*

Monday, June 12, 2017

Yang Waras Ngalah…


by Eunike Santosa

“Yang Waras... Ngalah...” bagi teman-teman yang familiar kalimat ini, saya mengajak kita semua untuk menghela nafas bersama-sama... *hahhhhhhhh......* (hembus keluar)

Pernah berurusan dengan orang yang pengen buat kalian jambak rambut sendiri? (agak lebai sih yah contohnya, tapi kalian pasti mengerti maksud saya hehe..) Untuk saya, kalimat tersebut sering saya dengar ketika saya masuk dunia kerja. Berhadapan dengan orang-orang yang mempunyai kepribadian yang berbeda-beda, kepribadian ganda, hingga kepribadian tidak jelas, membuat saya setiap hari memijat-mijat kepala sendiri di kantor. Bos saya pun sering berkata, “Kerjaan sih gampang, yang susah tuh kerja sama orang!” Perkataan tersebut ada benarnya memang, mengingat setiap kita adalah manusia dengan kehendak, kepribadian, dan pikiran masing-masing. 

Seiring waktu, saya melihat kebanyakan orang yang saya temui tidak bisa menahan sabar. Semakin sering tentunya kalimat di judul artikel ini terdengar. Banyak orang yang sangat ahli dalam bidangnya namun mengalami banyak kesulitan ketika berada di arena sosial. Mereka kesulitan untuk mengkontrol emosi mereka. Justru, orang-orang yang bisa bertahan adalah mereka yang bisa dengan baik menguasai emosi mereka padahal skill yang dimiliki tidak terlalu hebat. Orang seperti ini mempunyai kesabaran dan empati yang tinggi dalam berurusan dengan orang lain. Dunia pun mengakui kemampuan mengendalikan emosi ini dan banyak dikaitkan dengan emosi intelektual Begitu banyak buku, jurnal dan tulisan psikologi yang terbit, ditulis untuk membantu perkembangan diri manusia. 

Nahhh, tapiiiiiii, sifat ini sebenarnya sudah banyak ditulis di Alkitab! Dalam membuat tulisan ini, saya mencari dan meriset kata ‘sabar’ di Alkitab. Ketemunya lumayan banyak ayat yang mereferensikan bagaimana seseorang bisa menjaga perilakunya. Apa saja yang Alkitab katakan mengenai kesabaran? 


1. Kesabaran Bisa Mengubah Takdir. 

Sadis juga yah sub judulnya. Hahha... mengubah takdir... Tapi itulah yang Alkitab katakan di: Amsal 25:15. “Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang.” Nah, hal ini terasa banget ketika berhadapan dengan orang yang sedang tidak stabil (baca: emosian, sensitif, labil, or bahasa kerennya “baper” kali yah?) Papa saya kalau sedang marah, agak susah diajak berbicara dengan logis (padahal pria loh, saya perempuan.. kok kebalik yah? Haha). Ketika saya remaja, saya bersikeras dengan ego saya bahwa saya benar ketika berargumen dengan papa (wong saya benar kok). Nah, tapiii, apakah saya memenangkan argumentasi? No no no, adanya malah makin panas... Beberapa tahun kemudian, saya tambah tua tentunya, dan dengan pertolongan Roh Kudus yang menegur hati ego saya, saya mengubah cara saya berbicara dengan Papa. Jadi ketika Papa hendak naik darah dan menjadi irasional, daripada berkata: “Tindakan Papa salah dan tidak masuk akal, tidak Alkitabiah ini!” yang saya katakan adalah: “Papa kan baik dan cinta Tuhan, jangan marah donk, nanti daku and Tuhan sedih!” *kedip mata!* (nah loh, bingung deh si papa... hahaha) Tapi badai langsung reda, ego turun, hati senang, hubungan membaik. Haleluya! 

Dalam Pengkotbah 10:4 mengatakan: “Jika amarah penguasa menimpa engkau, janganlah meninggalkan tempatmu, karena kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar.” Dengan sabar, kita bisa menghentikan hal-hal yang tidak diinginkan sebelum terlambat terjadi. Bapak Thomas Jefferson, mantan presiden Amerika, berkata bahwa ketika marah, hitung hingga 10 kemudian baru berbicara, kalau sangat marah, hitunglah hingga 100. Saya setuju sekali! Ketika sedang berada dalam kondisi labil (‘emosian’), gampang sekali kita melakukan hal-hal yang bisa menyakiti orang lain. Sulit bagi kita untuk mengendalikan otak kita untuk berpikir jernih, terlebih ketika berada di puncak emosi yang membara. Oleh karena itu, buah roh yang satu ini tentunya adalah buah dari kemenangan oleh percobaan-percobaan emosi. :)

Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.
(Amsal 15:18)


2. Sabar Pangkal Bijak, Ga Sabar (lawan kata sabar apa yah?) Pangkal Bodoh. 


Saya suka dengan peribahasa-peribahasa Indonesia. Tinggal di negara lain membuat saya lebih mengenal keunikan bahasa Indonesia dengan budayanya sendiri. Salah satu peribahasa yang sering diajarkan ketika saya berada di sekolah dasar adalah ‘rajin pangkal pandai’ atau ‘hemat pangkal kaya’, saya rasa untuk konteks kesabaran, subjudul diatas adalah representasi dari ayat-ayat Alkitab berikut hehe.. 

Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.
(Amsal 14:17)

Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.
(Amsal 14:29)

Tentunya tidak bisa dipungkiri bahwa dengan melatih diri bersabar, kita bisa mendapatkan banyak faedah. Dengan menunda emosi, kita menekankan diri untuk tidak egois, tidak mengutamakan kehendak emosi pribadi tetapi kepentingan orang lain. Saya melihat bahwa semakin sering saya bersabar ketika berurusan dengan orang, semakin saya bisa melatih diri untuk menjadi pengertian. Bukan hanya bersimpati, namun berempati terhadap orang lain. Daripada menghakimi lawan bicara, melompat kepada kesimpulan yang tidak-tidak, kesabaran mengajarkan saya untuk melihat orang lain dari perspektif Kristus, yaitu dengan kasih. Setiap orang mempunyai peperangan masing-masing. Mengapa seseorang bisa hingga menjadi “tidak waras” pasti ada alasan dibaliknya yang tidak kita ketahui. Bisa saja ternyata bosmu yang melampiaskan kemarahan kepadamu ternyata baru saja mengetahui kalau suaminya selingkuh. Atau ketika sahabatmu tidak bisa mengangkat teleponmu karena kamu baru putus dari pacarmu, itu karena orangtuanya tiba-tiba masuk rumah sakit. You never know right? Poin pentingnya adalah, dengan bersabar, kamu bisa menjadi semakin bijaksana melihat situasi. Tidak sabar bisa berujung kepada konflik yang bisa menghasilkan luka-luka yang tidak perlu. Orang apa yang suka terluka dengan tidak perlu? Orang bodoh pastinya. 


3. Orang Sabar Dipuji. 


Last but not the least, orang mana yang tidak suka dipuji? Hehehe... Pernahkah kalian melihat orang sabar dihina? Dalam Amsal 16:32 berkata bahwa “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Alkitab menyatakan bahwa ‘sabar’ itu lebih dari ‘hero’. Pujian lebih lanjut pun dikonfirmasi di Amsal 19:11, “Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.” Bersabarlah teman, mungkin ketika kamu sedang mengalami masalah, tidak ada orang yang bisa memahamimu, malah kamu ditantang oleh Allah untuk mengerti akan orang lain. Saya tidak menyangkal bahwa hal ini tentunya susah, dan kalau pun bisa terlewati, tidak menjamin bahwa orang-orang disekitarmu akan memujimu. Namun, Bapa di surga melihat semuanya, pujian dari Dia lah saja yang penting dan itu cukup :)

Jadi, ketika membuka media sosial dan membaca status atau komen-komen aneh yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu merajalela, apa yang harus dilakukan? 

“Yang waras ngalah...” :P