Showing posts with label Self Control. Show all posts
Showing posts with label Self Control. Show all posts

Monday, January 11, 2021

What Would Jesus Do?




by Alphaomega Pulcherima Rambang

“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
(1 Yohanes 2:6)

Slogan WWJD mungkin tidak terlalu sering terdengar sekarang seperti pada tahun 2000 awal. Kepanjangan dari WWJD adalah ‘What Would Jesus Do?’, sebuah pertanyaan singkat yang sebaiknya ditanyakan pada diri sendiri sebelum mengambil keputusan atau tindakan apa yang akan dilakukan. Sebuah pertanyaan yang seharusnya membuat kita berpikir antara melakukan sesuatu atau tidak, seperti apa yang akan Yesus lakukan jika dia berada di posisi kita. Jika kita tidak melakukan seperti yang akan Dia lakukan, jangan-jangan kita tidak mengenal Yesus dengan baik sehingga tidak meneladani Yesus dalam kehidupan kita. Well, pada akhirnya memang kita harus mengenal Dia secara pribadi untuk bisa melakukan seperti yang Yesus lakukan.

"Bayangkan suatu hari Yesus bangun dari tidurnya dan menjalani hidup kita yang sekarang, adakah yang berbeda dari hidup kita?"

Demikian pertanyaan seorang Kakak saat membawa kami dalam perenungan pada persekutuan doa yang aku ikuti di UKM Kristen bertahun-tahun lalu.

Aku ingat kami merenungkan pertanyaan tersebut dan sharing, kira-kira bagaimana Yesus akan menjalani hidup kami. Aku membayangkan jika Yesus akan bangun pagi-pagi sekali, saat teduh, bersih-bersih rumah (Yesus gak mungkin males saat teduh lah ya, hihihi), lalu Ia akan menyiapkan sarapan, duduk sarapan bersama eyangku-mengobrol tentang banyak hal-mendengarkan eyang menceritakan tentang apapun, lalu Ia berangkat kuliah naik motor dengan santai tanpa ngebut sambil ngobrol dengan BapaNya atau bernyanyi-nyanyi - tersenyum melihat mereka yang ngebut. Yesus tidak akan telat tiba di kampus, Ia membantu kawan yang belum mengerjakan tugas - bukan memberi contekan, sesekali Ia bercanda dengan kawan-kawannya-tentunya bukan lelucon kotor yang dikeluarkannya, tidak pula gosip, tapi tanpa begitupun Ia mampu membuat orang lain tertawa, sense of humour Nya terbaik, dst. Yesus menjadi diriku dalam versi terbaik.

Membayangkan Yesus menjalani kehidupanku sangatlah menarik, membayangkan Dia berbicara, kuliah, ikut ujian, pelayanan, dll. Aktivitasnya kurang lebih apa yang aku lakukan TAPI minus DOSA pastiiii... plus hubungan mesra dengan Bapa Surgawi. Saat kita memberikan Yesus tempat istimewa dalam hati dan hidup kita, Dia akan melakukan berbagai hal dengan caraNya, dan PASTI, hidup kita akan berbeda. Aku yang sekarang (memiliki Yesus) akan berbeda dengan aku yang sebelumnya. Tentu saja, yang memimpin adalah Yesus di dalamku, biar Yesus saja yang semakin bertambah dan aku yang semakin berkurang. Kira-kira demikianlah seharusnya hidup kita saat kita telah menerimaNya sebagai Juruselamat kita. KehadiranNya nyata nampak dalam hidup kita. ”Tapi ini sulit, aku gak bisa Tuhan, jeritku dalam hati, kenapa Tuhan tidak membiarkanku seperti ini saja?”

“Tuhan mengasihi kita apa adanya, tetapi Dia tidak akan membiarkan kita seadanya. Dia akan mengubah kita menjadi seperti Kristus.” 
- Max Lucado
Beberapa waktu kemudian aku mendapat kesempatan membaca sebuah buku yang di dalamnya bertuliskan seperti ini : Bagaimana, kalau Yesus menjadi anda untuk satu hari? Max Lucado dalam bukunya ini, Just Like Jesus, mengatakan bahwa untuk menjadi serupa dengan Kristus harus dimulai dari memiliki hati seperti hati-Nya dan hal itu dimulai dengan pembentukan hati oleh Roh Kudus. Kita perlu belajar memiliki hati seperti hatiNya. Ia menjabarkan ciri hati Kristus yang harus dimiliki oleh umat-Nya, yaitu hati yang mengampuni, penuh belas kasihan, mau mendengar, hati yang haus akan Tuhan, haus beribadah, terfokus pada Allah, jujur, murni, penuh pengharapan, bersukacita, dan tabah. Berikut ini beberapa ciri hati Yesus yang harus kita miliki:


HATI YANG MENGAMPUNI

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
(Kolose 3:13)

Mengampuni memang sulit tapi Yesus melakukannya, mari kita pandang Yesus yang telah memberikan teladan pengampunan terlebih dahulu terhadap kita. Ingat malam dimana Dia membasuh semua kaki murid-muridNya? Yesus bukannya tidak tahu kalau di antara murid-muridnya akan mengkhianati dan menyangkalNya tapi nyatanya Dia tetap membasuh kaki mereka. Dia memberikan anugerahNya kepada mereka yang tidak pantas diampuni TERLEBIH DAHULU. Dia menawarkan kasih dan pengampunanNya tanpa diminta dan memberikannya cuma-cuma. Kupikir, apa yang kita alami tidak lebih menyakitkan dari yang Dia alami, tapi Dia tetap mengampuni yang menyakitiNya. Inilah yang harus kita teladani


HATI YANG MENDENGAR

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.” 
(Yakobus 1:22-23)

Yesus dalam khotbahNya berkali-kali mengatakan : Siapa bertelinga hendaklah Ia mendengar. Seperti yang Yesus mendengar BapaNya dan taat, kita sangat perlu dengar-dengaran dengan Firman dan kehendak Allah di hidup kita. Bagaimana cara mendengarkan Tuhan? Dimulai dengan Alkitab yang terbuka dan membiarkan Dia berbicara melalui firmanNya yang berisi kehendak dan isi hatiNya, seperti yang Yesus lakukan. Lalu, lakukan! Semudah sekaligus sesulit itu. 


HATI YANG JUJUR

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” 
(Efesus 4:25)

Pernahkah mendapati Yesus berdusta? Sepanjang hidupnya selama 33 tahun kehidupan Yesus di muka bumi, tak ada cerita tentang kebohonganNya sekalipun keadaan Yesus sangat mendesak. Bagaimana dengan kita? Terkadang kita menambah atau mengurangi kebenaran, berbohong demi kebaikan, berdusta untuk melindungi diri kita, dll, apapun itu namanya, tetap saja kita tidak jujur. Bahkan kita menyampaikan hanya setengah kebenaran dan berkata kita telah jujur. Kita perlu meneladani hati Yesus yang jujur, yang tidak ada dusta 


HATI YANG MURNI

“sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” 
(Markus 7:21-22)

Hati manusia dipenuhi dengan segala kejahatan, hal-hal terburuk yang ingin dilakukan. Berbeda dengan hati Yesus yang murni. Setiap hari hatiNya dimurnikan oleh firman Tuhan dan Ia menjaga hatiNya sungguh-sungguh supaya tidak ditumbuhi benih yang jahat. Mudah bagi Yesus untuk merasa sombong karena kuasa yang dimilikiNya, tetapi nyataNya Ia mengakui dan menyadari karya Allah di dalamNya dan memuliakan Allah. Yesus memilih apa yang ingin Dia rasakan dengan selektif sehingga tindakanNya juga selektif. Perbuatan dan perkataan kita adalah cermin dari hati kita.


HATI YANG PENUH PENGHARAPAN

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”
(Roma 12:12)

Yesus berkata bahwa segala sengsara yang harus dialamiNya telah dinubuatkan. Dia melihat tujuan dalam penderitaanNya sebagai pemenuhan rencana besar Allah. Dia tidak membiarkan diriNya mengasihani diriNya atau mengutuki keadaan. Dia tetap berharap pada BapaNya dan meminta namun dengan rendah hati menginginkan kehendak BapaNya yang terjadi karena Ia tahu rancangan Allah adalah yang terbaik.

Kita perlu berlatih agar memiliki hati seperti hatiNya. Allah ingin agar kita menempatkan Kristus sebagai TELADAN atas seluruh hidup kita (Roma 8:28-29). Dia mau kita menjadi serupa dengan gambaran anakNya, lewat segala sesuatu yang kita alami. Melalui pilihan-pilihan yang kita ambil, Dia ingin membentuk hati kita menjadi serupa dengan Kristus.

Sebelum melakukan sesuatu, kita perlu menanyakan pertanyaan penting ini:

Apakah ini membuatku makin SERUPA dengan Kristus?

Sunday, April 1, 2018

Ketika Aku Bertemu Salib


by Nelly Hendrianto 

Ditulis di Majalah Pearl #09 “When I Met The Cross” 

Gue udah terlibat pornografi dan masturbasi sejak kelas 3 SD. Ga inget gimana mulainya tapi yg keinget cuma gue ngelakuinnya dengan sembunyi2 dan gue terus ngelakuinnya sampe gede. 

Saat gue berumur 21, gue pacaran ama cowo pertama gue. Pertama2, anaknya lembut dan baik. Tapi lama kelamaan, mulai keliatan sifat buruknya yg suka marah2. And memasuki beberapa minggu pacaran, dia minta2 terus keperawanan gue buat hadiah ultahnya. Gue nolak donk. Tapi dia terus mendesak, dengan pernyataan ‘klise’.

“kalo kamu cinta sama aku, kamu kasih donk keperawanan itu buat aku” 

So akhirnya gue luluh juga. Dikasih deh. From that day, dia suka minta2. Kalo ga dikasih, dia marah2. Beberapa kali dia marah sama gue karena beberapa hal sepele. Btw, dia orangnya posesif buanget. Mao ngapa2in harus disebelah dia, saat itu kita emang tinggal serumah sih. (We lived in Sydney, ceritanya sih gue sekolah dan cowo ini kerja. But truth is gue uda dikeluarin dari skolah, tanpa my parents tau.) And I served him for sex, hati gue sebenernya udah mati buat dia. Tapi karena takut aja, gue stayed. 

Dan kalo marah dia mulai maen fisik. Gue didorong2 ke tembok dll. Puppy dog gue yg baru umur 9 bulan, ama dia dipukul dan akhirnya mati di pangkuan gue just becoz he was jealous, karena gue sepertinya lebih sayang ama doggie gue itu. Klimaksnya, suatu hari, dia tampar gue sampe terlempar ke ranjang. Then pegang leher gue, kayak mo cekik, sambil teriak2 kayak orgil. At that very moment gue tau, gue ga mungkin bisa hidup sama orang ini lagi. So to cut the story short, gue lari dari rumah. Dan temen2 gue bantuin gue kabur dari dia. For first few months, gue masih diteror, ditelponin, diancem. Temen2 gue juga diancem. Tapi tong kosong berbunyi nyaring lah ya. Akhirnya dia berhenti neror gue saat dia udah dapet cewe baru. 

Since that moment, hidup gue went downhill. Gue suka bgt clubbing. Dan disana gue ketemu banyak temen2 ga jelas, dan kita idup bebas. Rokok, alcohol, ngobat dll. Hampir setiap minggu, diabisin di clubbing sampe subuh. Kadang2 mabok2an rame2 dirumah temen sampe gue pingsan. Banyak cowo2 ajak kenalan dll. Sampe akhirnya gue terlibat free sex, punya sexual partners/TTM. Dan during these times, gue mulai serius mikirin bunuh diri. Coz I didn’t see the point of living anymore. Gue ngerasa ga ada yg sayang sama gue. Cowo2 mau gue cuma buat sex aja, ga mau lebih. Parents gue juga ga jelas, gue came from a broken family. Punya mereka apa gak, sama aja buat gue. Jadi gue mulai siap2in hal2 yg perlu disiapin buat bunuh diri yg sukses. 

Sampai suatu saat, gue dikenalin sama satu cowo. Dan kita deket, gue jadi suka sama dia. Dia keliatan anak baik dan care sama gue. Kita jadi sering chatting, and ga tau knapa gue jadi cerita tentang rencana bunuh diri gue sama dia. Dia kaget donk, dan berusaha talk to me and stuff. So akhirnya gara2 dia, rencana bunuh diri gue tertunda. I felt dia bener2 care dan sayang sama gue. Kita jadi deket bgt dan lama kelamaan kita terlibat free sex. 

Tapi dia bilang sama gue, kalo dia ga bisa jalanin relationship ama gue karena dia baru putus sama cewenya. Dia masih trauma ama relationship katanya. Gue ok-ok aja, jadi kita jadi TTM with sexual relationship. 

Gue pikir gue ok2 aja dengan hubungan seperti itu. Tapi ternyata hati gue sakit juga. Kalau kita jalan diluar bareng temen2nya, dia ga pernah gandeng tangan gue. Ga pernah show that dia sayang gue. Padahal kalo kita berduaan, dia selalu sayang2 gue. So his friends only knew that I was his sex partner. Itu menyakitkan karena gue bener2 dah sayang bgt sama dia, but I couldn’t bring myself to end this. 

Mulai saat itu, gue mulai cut myself with knife, bukan buat bunuh diri. Tapi buat pelepasan rasa sakit di dada. Menurut gue, rasa sakit di tangan gue ga sesakit apa yg gue rasain di dada. There was one day, gue cut my both hands badly, trus gue kerumahnya dan kasih liat dia. Dia ketakutan, and I think that was the time dia mulai sadar bahwa dia in a bad situation, being involved with me. Gue pernah diem2 baca2 chat history dia sama temennya. Dia bilang dia nyesel terlibat sama gue, he had no idea that he would be in this kind of mess. 

Yah hati gue smakin hancur. The one I thought really cared for me, actually didn’t care at all. 

Gue akhirnya ke dokter, minta obat penenang, supaya gue ga depresi lagi. I thought it was hormonal imbalance. Tapi it didn’t help. Ada satu hari, gue kalap, dan gores2 tangan gue lagi. And karena gue ga tahan, gue nangis2 dan telpon bokap gue. Selama 5 taon gue di Sydney, gue ga pernah telpon bokap skalipun. Apalagi nangis2. Bokap gue kaget banget donk. Dia nanya2 terus knapa, and gue ga bisa jawab, gue cuma minta dia dateng ke Sydney secepetnya. And before kita tutup telpon, bokap bilang gini, 

“Please don’t do anything silly, tunggu papa kesana ya.” 

Nah after that, gue cerita ama ‘cowo gue’. And he was glad that I finally talked with my dad. Tapi lama2 gue ngerasa hubungan gue ama cowo itu smakin jauh. Hubungan smakin ga jelas. Sampe satu hari, gue muak ama semuanya. Gue kurung diri gue dikamar, gue minum2 sampe mabok and gores2 tangan gue pake pisau. Dan gue panggil ini cowo di chatting. Dia jawab, and I told him that I was drunk and almost jumped from the balcony. Before chatting ama dia, gue emang ke balkoni kamar gue yg ada dilantai 8. Sambil mabok dan gue liat2 bawah. Pas liat bawah, kok kayaknya kalo gue loncat, smuanya akan berakhir dan seperti ada suara, gue akan lepas bebas setelah ini. Jadi, gue angkat kaki gue satu, udah over the railing, kaki satunya udah di udara and tinggal loncat aja sih. But just a split second before I jump, tiba2 gue keinget janji gue ama bokap gue. Yg dia bilang “don’t do anything silly”. Gara2 keinget itu, gue ga jadi loncat. Dan setelah gue kenal Tuhan, gue yakin banget itu campur tangan Tuhan. Kok bisa pas2nya pikiran itu lewat at that very second disaat gue udah mo loncat! 

So I went inside my room dan sambil mabok, gue chat ama itu cowo. After gue bilang gue ampir loncat dari balcony, eh dianya offline. Bete donk gue. Gue smakin sakit ati, gue smakin nangis2 kayak orgil. Trus gue akhirnya ketiduran coz gue teler. Ga gitu lama tiba2 temen gue gedor kamar gue. Padahal ga ada orang dirumah, dan rumah gue kunci. Somehow temen gue berhasil dapet kunci rumah gue dari temen lain. So temen gue ini masuk and nanya, knapa gue. And she actually heard me crying padahal jarak pintu rumah dan kamar gue itu juaauhhh. Tapi kok bisa dia denger gue nangis. And kok bisa dia pas banget mo ke rumah gue, padahal ga ada janji. Karena dia denger tangisan gue and gue ga bisa ditelpon2, dia berusaha cari kunci rumah gue supaya bisa masuk. And akhirnya temen2 gue pada tau apa yg terjadi dan mereka jagain balkoni and sembunyiin pisau2 gue. I’m really thankful for them at that time. I believe Tuhan used them, meskipun gue masih ga kenal ama Tuhan saat itu. And ‘cowo gue’ itu juga dateng. Dia langsung lari ke rumah gue pas gue bilang di chat gue ampir loncat dari balkoni itu. Dan salah satu temen gue, sebut aja D. She was the only Christian friend yg gue allowed to be close to me. Soalnya gue benci bgt ama yg namanya orang kristen. Bagi gue, mereka munafik. Jadi cuma si D aja yg deket ama gue. Becoz dia accept me for whoever I was, ga pernah nge-judge gue, ga pernah berusaha nginjilin gue, but she just accepted me without trying to change me. On that night, gue cuma inget dia bilang begini sama gue, 

“gue punya Tuhan, gue punya cowo, tapi my life is not perfect. Gue juga struggle with life...” 

Which is to me sangat2 mengejutkan, karena gue liat dia itu strong person. Ternyata dia juga ada struggle. Jadi mulai malam itu, gue bangkit. Gue bilang ke diri gue sendiri,”if she can do it, why can’t I?” 

So for the next few months, gue bangkit dan mulai menata hidup gue kembali. Hubungan ama cowo itu smakin jauh. Dan gue kembali sekolah. Tapi kehidupan clubbing gue masih on. Masih hura2 sama temen2 kehidupan malem. Tapi hati gue masih terasa kosong. There was one night at my place, gue ama temen2 nyimeng/ganja. Gue kagak tau kalo ganja yg gue isep itu pure, ga pake campuran apa2. Abis isep, badan gue gemeteran. Gue ga bisa jalan ke kamar gue, jadi gue ngerangkak pelan2. Pas diranjang, bibir gue ga bisa berhenti gemeteran. Gue takut, gue kirain gue mao mati. And gue ga mao mati. Funny, isn’t it? For the past few years gue udah rencanain gue mo bunuh diri, pingin mati dll. But disaat gue diujung kematian, gue malah takut and ga pingin mati. 

Gue bener2 ga bisa stopped shaking. And this was the first time gue cried out inside and called God. I shouted in my heart, “God!! Help!!” And gue pingsan deh hehe. Dan pas bangun, ternyata gue masih hidup! Haleluyah! Hehe. Tapi ya abis gitu lupa lagi ama yg namanya Tuhan. 

But I believe saat itu He heard my cry and He knew that I was almost ready to open up my heart for Him. So He pursued me more and more. 

So, gue moved on. Skolah, kerja, clubbing for another two years. I didn’t let any guy get close to me karena gue udah males dengan urusan2 gituan. I faced life with my own strength. Sampe akhirnya di dalem hati sebenernya gue kerasa cape. 

Temen gue tadi, si D, dia selalu ajakin gue komsel dirumahnya, or ikut acara2 gerejanya. Tapi acara2 yg fun gitu. Kayak Valentine Cruise or Costume Party. Karena ada dance partynya, ya gue ikut. Kalo komsel, gue cuma ikut pas makan2nya, then abis gitu gue pulang hehe. Tapi karena sering diajakin ke acara2 fun mereka, gue jadi kenal ama temen2 gereja D. And mereka anaknya fun2 smua. Ga pernah menghakimi atau berusaha merubah gue. 

Satu hari, gue maen ke rumah salah satu leader mereka. Iseng2 gue liat rak buku, karena gue suka bgt baca buku. Eh ternyata disono isinya buku Kristen semua. Males juga ngeliatnya, tapi ada satu buku yg menarik. Judulnya, “I Kissed Dating Goodbye”. Wah kok pas bgt nih, gue kan penasaran. Ya gue pinjem. 

Saat baca bukunya, ada satu chapter dimana Joshua Harris (the author) dapet mimpi atau penglihatan. Dia masuk ke sebuah ruangan besar penuh dengan filing cabinets. Dia buka salah satunya, dia keluarin files2 yg ada didalem. And dia kaget, ternyata files2 itu isinya dosa2 dia semua. Joshua ini kristen, udah pelayanan dll, tapi punya double life. He was involved in pornography etc. Pas dia baca files itu, dia malu banget, apalagi di setiap lembar kertasnya ditanda tangani with his name. 

So he said to himself, jgn sampe ada orang yang liat files ini, so he tried to burn it, but ga bisa. Tiba2 ada seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata orang itu Yesus. He took one of the files and read it. Joshua rebut and tried to prevent Him from reading, tapi Jesus tetep baca without saying a word. Then u know what He did?!?!? He crossed all Joshua’s names from the papers and signed every paper with His own name! Using His Blood! 

Wah gue pas baca itu langsung banjirrrrr nangisss ngejerrrr. Siapa nih orang yg mao ambil my sins as His own??? Padahal Dia kan ga kenal gue and gue ga kenal Dia!! And mao2nya take my own sins as His!! Wah pokoknya gue nangis sejadi2nya saat itu. Becoz of a man called Jesus. I never knew a man who can do all that for me! At that moment I felt, I finally found someone that understand me, understand my heart. 

Wah pokoke indiscribableeeee! 

Dan mulai hari itu, gue jadi tertarik sama yg namanya Jesus. 

Who is He? 

What is He like? 

Why He did that for me? 

So gue mau ikut D ke gerejanya to find out more about Him. Gue teratur ke gereja setiap minggu dan sering baca2 buku Kristen. Dan smakin gue found out more about Jesus, smakin gue amazed with Him and akhirnya gue jatuh cinta sama Dia deh.

He was everything that I was looking for in a man. I felt loved, treasured, pursued, cherised. No man had done that for me. 

Slowly He healed me. Dari kepaitan sama cowo, pornografi, masturbasi. Gue stopped clubbing, rokok, minum2 dll. Gue udah ga merasa tertarik or excited dengan hal2 itu. When I tasted the goodness of Him, other tastes are pale in comparison. Saat gue merasakan betapa cintanya Dia ama gue, betapa sayangnya Dia ama gue, betapa berharganya gue di mata Dia, kepuasan2 dunia jadi ga sebanding and ga menarik sama skali. Karena gue udah dipuasin with Him alone. In His Presence, gue ga ngerasa empty or lonely anymore. 

And He makes me feel so SPECIAL!! 

Tuhan bener2 memulihkan gue sampe gue udah ga ada issue lagi with my past. Gue udah dapet strong conviction/keyakinan yg kuat kalo Dia udah bersihin all my sins. Gue udah diputihkan lagi seperti salju. It took years for me to come to that point. Tapi gue ga boleh give up. Dulu, there were times when gue masuk ke self pity lagi. But God again and again reminded me that I am a new creation in Him. Bahkan Tuhan taruh desire in my heart to testify, to let the world knows, that God’s restoration is so real. Sampe gue come to the point that YES, I’M NEW CREATION! Let no doubt or whatsoever entered my mind again! 

Dan slama ini gue tanya hidup gue ini buat apa sih. Apa purpose of me living in this world? Buat apa gue diciptain? Tuhan pelan2 bukain and pimpin gue to my calling. Gue skarang smakin tau calling gue apa. Dan saat gue fokus dan mengejar calling itu, tiba2 Tuhan mempertemukan gue dengan The One from Him. Alias cowo lah hehe. Yup, proses pertemuannya dan sampe merit pun luar biasa Tuhan yg orchestrate. 

Saat itu gue udah ga kepikiran untuk relationship. I’m so content with just me and God. I enjoy my singleness, gue bener2 concentrate in finding about Him more. Pelayanan dll. (Oh ya, gue udah pindah ke Singapore saat ini) Tiba2 mentor gue bilang ke gue, 

“wah Tuhan lagi mempercantik kamu luar dalam ya??? Bentar lagi pangeranmu pasti dateng. Dan dia akan lebih dari apa yg kamu pikirkan dan bayangkan!” 

Whoah, gue digituin ya mesem2 aja lah. Biasa2 aja sebenernya karena gue ga pikirin soal relationship. Tapi ternyata bener! Kira2 sebulan kemudian, my future husband beneran dateng ke gereja kita, fulltimer pelayanan lagi hauEHuAHEAE. And he is indeed more than I can imagine. Yah intinya gue pertama kali jatuh cinta ama hatinya dia buat Tuhan hehe. 

Dia sempet ke pergi ke Malaysia for mission work buat beberapa tahun, dan saat gue chase my calling in mission. Tiba2 Tuhan pertemukan lagi sama dia. And setelah melalui banyak proses doa, air mata dan darah *lebay* selama 3 taon, akhirnya kita menikah 2 taon lalu dan skarang dah punya a little boy. A handsome and macho little boy. 

I know there are a lot of you yg punya masa lalu yg jelek seperti gue. Cewe2 yg involved with free sex, or even udah ga virgin karena beberapa alasan. Don’t lose heart. Tuhan itu adalah Tuhan yg penuh grace and restoration. Gue adalah salah satu bukti dari His full restoration. Saat gue bertobat dan berbalik dari dosa2 gue, Tuhan ampuni dan Dia ga pernah ungkit2 masa lalu gue lagi. Kecuali kalo buat kesaksian aja hehe. Karena Dia udah taruh in my heart, my life testimony is to open up so many secrets out there. Yg Iblis tutup2in. Yg Iblis bilang, kamu ga bakalan bisa punya pernikahan yg kudus nantinya, godly husband, godly marriage. He can only lie, ladies!!! The truth is kemurahan Tuhan itu cukup untuk smua dosa-dosamu. Emang kita bayar harga of our past sins. Emang menyakitkan melewati proses pembersihan Tuhan. You know a story of a pearl kan ya? (cocok nih ama judul majalahnya wkwk). Pearl kan aslinya kotor, penuh kotoran2 ga jelas. Harus dipoles, dikikis, sampe bener2 keliatan sinarnya. 

Sama kayak kita. Kita yg aslinya kotor, Tuhan terima apa adanya. Tapi Dia ga akan biarin kamu kayak gitu aja. Dia akan poles, akan kikis smua kotoran yang ada di dalammu. Sakit emang, but it is NECESSARY. Karena Dia udah liat hargamu yg sebenernya. Dia tau your true value. Tapi karena sudah ditutupin kotoran, kamu atau orang lain ga bisa liat itu. Only He can. So you have to let Him work kikis2 sana sini hehe. Emang kadang2 kita complain kalo diproses Tuhan. Believe me, gue diproses luar biasa sakitnya ama Tuhan karena Dia tau gue banyak kotoran di dalam, tapi at the end, it is all worth it! 

Gimana gue bisa come to this point? Lepas dari masa lalu, being restored, sampe merit ama godly man yg dari Tuhan and dikaruniai Aiden, our macho little man.

Bener2 jatuh cinta ama Jesus. Ngerasain betapa Dia sayaaaaanggg bgt ama gue. Sampe gue bener2 content and satisfied in Him alone. Gue ga perlu cari2 kasih sayang or approval from other people, especially man. Karena ga ada cowo yg bisa segagah and semacho my Jesus yg love me sampe segitunyaaaaa gitu loooohh. He is my Knight in shining armour. Rescued me again and again. Pursued me sampe gue klepek2 hehe. 

Dipenuhi Roh Kudus setiap hari. Lama2 gue ngerasa jijik ama dosa, and Roh Kudus beri kemampuan untuk lepasin dosa-dosa pornografi dan masturbasi. 

Ambil keputusan untuk tidak jatuh dalam self pity. Never entertain!!! Skali pikiran self pity keluar, langsung teking jauh2. Encounter/perangi dengan Firman Tuhan. Saat self pity bilang, “ah kamu mah udah rusak, ga virgin, emang ada gitu cowo yg mao sama kamu?” Tendang tuh Iblis jauh2 dengan Firman Tuhan yg bilang, “Tuhan sudah membersihkan aku seperti salju, tidak bercela. Urusan cowo mao ga ama gue, Tuhan pasti mempunyai a great wonderful plan for me. Until that day comes, I will pursue my God, my lover and I will pursue Him until I know that He is enough for me. Ga peduli mao ada cowo or not in my life.” Wkwkw. Emang harus begitu. I will ask you a question. Gimana kalo ternyata Tuhan emang mau kamu single slama2nya, just being with Him alone? Apakah itu menyakitkan? Until you say YES LORD, it doesn’t matter anymore if there is a guy for me or not! And you said that bukan karena kepaitan sama cowo, tapi you are truly satisfied with His love. Maksud gue, your heart will have to be truly fulfilled by Him, otherwise nanti kalo kamu jalan lagi sama cowo, bisa jatuh ke dosa yg sama karena kalian bisa compromise since you love each other. Tapi kalo cintamu ke Tuhan lebih kuat, you can stand firm, dan ga mau deket2 dosa because you don’t want to hurt His feeling. 

Say enough is ENOUGH! No more compromise, no more ‘ya udah lah ga papa, skali ini aja’. 

Do whatever it takes to take you away from that sin. Misalnya, kamu sama cowo mu jatuh dalam sex. Mbok ya jangan berduaan dikamar. Udah tau pasti ada godaan2 dan listrik2 yg mematikan. Jgn ada kesempatan untuk berduaan ditempet sepi dll. 

Hiduplah di komunitas iman yang kuat. Yang bisa membangun dan menguatkan kamu untuk terus maju. But you can’t always depend on people. Jangan sebentar2 cari orang buat dicurhatin. Abis terima advice, jadi lega. Tapi biasanya itu ga tahan lama karena kamu jadi terbiasa cari orang2 buat dicurhatin. Larilah ke Tuhan terlebih dahulu. Let Him deal with you alone. Tuhan saat itu bawa gue ke dalam moment2 sendiri yg sangat sepi. Ga punya temen etc etc karena gue pindah ke Singapore kan. But at that moment, gue tau gue deal sama Tuhan alone. Gue ga bisa cari sapa2 buat curhat, only He was there for me. Disitulah gue dipenuhi ama Dia, sampe gue dapet that He is enough for me. But selain itu, a mentor is also important. Someone to guide you and correct u. Harus sesama jenis ya. :) Ampuni diri sendiri, your past, your ex, your bf, or siapa aja yg sudah pernah merusak dirimu. When you forgive, ada kuasa restorasi dari Tuhan turun ke hatimu. Confess your sins to your spiritual leaders. Healing starts when you confess. 

Terus menerus pegang Firman Tuhan ttg siapa dirimu di dalam Dia. 

Must understand that love itu bukan sex. Maksud gue, banyak cewe yg salah mengira love = sex. Saat kita berhubungan seks dengan cowo kita, kita merasa being loved, being wanted, being special. Di hug, di cium dll. Waktu gue punya sexual relationship ama ‘cowo gue’ tadi, I thought I was expressing my love to him by giving him my body. And I thought, karena kita punya sexual relationship, gue kira dia sayang/love gue makanya mau tidur sama gue. The painful truth is when someone has sex with you, doesn’t mean he loves u. 

Focus on finding out your calling. Disitu you will find what His great plan for u. Jadi kamu akan fokus building yourself up, daripada mikir2 masa lalu yg ga jelas dan ga ada gunanya. 

Yah setelah melalui semua itu, gue akhirnya lepas. Now, gue ga bisa ngebayangin dulu itu gue kayak begitu. Bener2 bedaaaaa bgt ya sekarang. Apalagi kalo mikir2, wah bisa merit with such a godly man, punya baby boy yg luar biasa, yg kalo nangis jadi diem kalo didoain or dibacain Firman wwkwkwk. Ini semua bener2 beyond my imagination and thoughts! Waktu kita menikah, ayat yg Tuhan kasih ke kita adalah: 

Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."
(1 Korintus 2:9)

So true!!! 

And the past is the past. Tuhan sanggup menjadikan segala sesuatunya menjadi indah. Memutarbalikkan kutuk menjadi berkat. Iblis bermaksud untuk merusak dan menghancurkan, tapi Tuhan, with His power of restoration (tanpa syarat. It’s already yours.), mengubah my shame menjadi my victory. Gue ga ada problem dengan ceritain ini semua karena itulah yg Tuhan mao dari gue dan my past udah ga ada efeknya sama gue. Sexual sins banyak yg ditutupi karena memalukan. Tuhan mao kita bongkar semua itu, karena smakin dosa ditutup2in, smakin berkuasa Iblis atas dosa kita. I don’t ask you to bongkar2 your secret kemana-mana hehe. But saat kamu sudah bisa lepas dari smua ini, maybe u can testify too, in your own way. Karena Iblis dikalahkan dengan kesaksian hidup kita. 

Kalo gue bisa lepas, kalian juga pasti bisa! With the power of God, of coz!

Wednesday, March 14, 2018

How Then Should We Dress?


by Sarah Eliana

Bulan ini Majalah Pearl menyajikan tema godliness dari 1 Petrus 3:3-6 yang isinya seperti berikut: 

Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman.

Penulis-penulis lain akan membahas beberapa hal yang ditunjukkan oleh perikop ini, sementara aku hendak membahas tentang bagaimana kita berpakaian. Pakaian seperti apa yang dianggap melewati batas “normal”? Apakah salah mau tampil cantik? Seperti apa seorang anak Tuhan harus berpakaian? 

Tapi sebelum kita bahas lebih lanjut, aku cuman mau kasi tau aja bahwa apa yang kubahas di sini bukanlah legalisme. Dalam Alkitab, terutama Perjanjian Baru, gak ada ayat yang menyatakan, “Sebagai orang Kristen, kamu harus berpakaian seperti ini,” dan juga gak ada ayat yang bilang, “Pake rok mini = dosa,” Tapi, memang ada beberapa guidelines dari Firman Tuhan yang bisa kita pakai .

Guideline no. 1: What does it make others think of me? 
Banyak nih orang yang berpikir kalo orang Kristen harus pake rok panjang, kemeja tertutup yang longgar. aku ingat dulu suamiku pernah bilang “Sebelum aku pergi pelayanan misi full time, aku pikir semua cewek-ceweknya akan pake baju ala cewek jaman nabi Musa yang longgar-longar itu lho.” Ternyata, gak tuh. Cewek-ceweknya masih pada trendy and fashionable, tapi masih dalam batas sopan. Ya, dalam berpakaian pun kita harus memuliakan Tuhan, tapi itu tidak berarti kita harus tampil kayak wanita/pria dari jaman nabi Musa. Firman Tuhan katakan bahwa tubuh kita adalah Bait Allah (1 Korintus 6:19-20). Kalo gedung gereja kudu selalu bersih, rapi, dan cantik, tubuh kita juga! Tapi, kita gak mau kan kalo gereja kita terlihat kayak rumah dukun voodoo? Begitu juga tubuh kita. Kita harus tampil bersih, rapi dan cantik, tapi kita gak mau over fashionable sehingga orang lain hanya mengaitkan identitas kita sebagai “si cewek trendy”, bukannya “si pengikut Kristus”. 

Maka datanglah menyongsong dia seorang perempuan, berpakaian sundal dengan hati licik.
(Amsal 7:10)

Berpakaian sundal. Hiiii!! Harus berhati-hati waktu berpakaian. Jangan sampai orang yang melihat kita berkata, “Ih, tuh orang koq kayak cewek gak bener sih, bajunya buka-bukaan.” Kembali lagi ke ayat, “Tubuhmu adalah Bait Allah.” Kita selalu berusaha supaya gedung gereja kita terlihat bersih dan rapi, tapi kita gak mungkin kan membiarkan gereja itu terbuka, kantor bendahara terbuka lebar sehingga semua orang bisa melihat kas gereja? Begitu juga tubuh kita. Kita mau tampil cantik, tapi juga jangan buka-bukaan sehingga kita membiarkan semua orang melihat “harta” kita. Jadi, saat kita berpakaian selalulah ingat pertanyaan ini: What does it make others think of me? Will they think of me as a respectable woman or a harlot?

Guideline no. 2: What kind of people dress this way? 
Seandainya aku sedang berada di Indonesia dan aku memakai anting di hidung, trus ada 4 anting-anting di tiap telinga, ada satu di alis, satu di mulut, bajuku gambarnya tengkorak, make up-ku hitam. Apa yang ada di pikiran orang waktu liat aku? “Serem amat! Pemuja setan kali ya. Gothic amat.” So, cara berpakaian itu gak hanya terletak di ketat atau enggaknya baju/rok/celana kita. Biarpun longgar, tapi masih bisa mengirim pesan yang salah ke orang lain. Waktu kita berpakain, bercerminlah, kelompok masyarakat apa yang berpakaian seperti ini? If it’s the wrong kind of group/people, then change!

Guideline no. 3: Must I use the arguments of the world to justify the way I dress?
Biasanya nih kalo kita berpakaian yang sedikit keluar dari batas normal, kita berkata, “Ah, orang lain juga pake baju kayak gini.” 1 Korintus 2:5 katakan:

Jangan iman kamu tergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Tuhan.

Alkitab katakan kita hidup di dunia, tapi kita bukanlah dari dunia. Kita yang sudah dibeli oleh darah Kristus bukan lagi milik dunia ini. So, pakailah hikmat Tuhan saat berpakaian, jangan menjadi bagian dari dunia ini.

Guideline no. 4: Will I make others stumble? 
Zaman sekarang banyak banget orang berpakaian utk menarik perhatian. Intinya, saat berpakaian, look again in the mirror, and ask yourself, “Am I sending sexual temptations to other people who see me? Will I make others stumble and weak?” Matius 8:7 katakan:

Alangkah celakanya dunia ini karena hal-hal yang menyebabkan orang berdosa. Memang hal-hal seperti itu akan selalu ada, tetapi celakalah orang yang menyebabkannya!

Waduh! Pokoknya jangan mau deh jadi orang yang menyebabkan orang lain berdosa! 


So, those are 4 guidelines. Sebenernya ada satu lagi yaitu, “Apakah baju yang aku pake ini dipakai oleh the opposite gender?” Apakah baju yang aku pake ini dipake juga oleh cowok? Kayak celana panjang, misalnya. aku sendiri sampai saat ini masih pake celana panjang karena alasan kenyamanan. Ada ayat nih di Ulangan 22:5:

Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.

Nah, utk yang satu ini, terus terang sangat tergantung budaya dimana kita berada. Di tempat-tempat tertentu, celana panjang itu pakaian cewek, sementara di tempat-tempat lain rok itu pakaian cowok. Skotlandia adalah salah satunya, tempat di mana cowok-cowok pake rok bernama kilt. Firman Tuhan gak pernah bilang bahwa rok itu baju cewek, celana itu baju cowok. Jadi, kalau ayat yang satu ini, menurutku kita harus bijak terhadap budaya di mana kita berada. Salah satu alasannya adalah supaya kita gak jadi batu sandungan untuk orang-orang di sekitar kita. 

Ok... those are all the guidelines. Now what? Menurut aku, penting sekali kita memakai hikmat. Tidak ada yang bisa mutlak mendikte kita: pakaian ini salah, pakaian itu betul. It’s important to see:
Where we are. Misalnya nih di negara-negara Arab, terutama Saudi Arabia, cewek-cewek kudu berpakaian tertutup. Jadi kalau sedang berada di tempat seperti ini, aku rasa kita semestinya menyesuaikan dengan orang lokal. Waktu kami pelayanan misi di Mesir, cewek-cewek dikasih tau untuk pake baju panjang, rok panjang, dan rambut diikat. Ada beberapa teman aku yang lupa. Eh, ternyata cowok-cowok di situ betul-betul ngiler kalo liat rambut cewek yang berkibar-kibar! Sampe ada cowok yang datengin teman aku dan pegang-pegang rambutnya dengan pandangan gak jelas gitu. -.- Nah, waktu kami di Papua Nugini, kami diberitahu bahwa kami HARUS pake rok panjang. Atasannya boleh tangan buntung, tapi yang pasti rok kudu panjang atau setidaknya nutupin dengkul. Waktu aku nyampe di situ, aku sempat ngobrol dengan salah satu wanita lokal dan dia bilang, “Yup..karena di Papua Nugini, dengkul cewek itu adalah sesuatu yang dianggap sangat seksi.” Yang unik, bagian dadanya malah gak dianggap seksi! Jadi kalo ke daerah yang agak pedalaman di sana, banyak cewek-cewek yang bertelanjang dada, tapi pake rok panjang. So, menurut aku cara berpakaian kita itu harus sesuai dengan budaya setempat. Di Indonesia mungkin kalo pake baju serba hitam keliatan kayak pemuja setan, tapi mungkin di negara lain pake baju serba hitam itu part of the culture. So be wise. :) 

Acara apa yang sedang kita hadiri. Misalnya kita ke pemakaman orang Tionghoa, dengan berpakaian serba merah—bisa-bisa kita langsung ditendang keluar ama keluarganya. Why? Karena warna merah itu berarti sukacita dalam budaya Tionghoa, sangat tidak sopan untuk dipakai ke pemakaman. Jadi ya intinya kita harus bijak dan minta hikmat Tuhan, termasuk dalam hal berpakaian. :) 

Wednesday, November 29, 2017

Not as Harmless as It Seems (Part 3 - end)


by Yarra

(Baca artikel sebelumnya: part 1 dan part 2)

3. Nafsu makan
Banyak orang Kristen percaya bahwa nge-drugs, minum alkohol (dalam jumlah berlebihan), dan merokok adalah dosa. Kenapa? Salah satu alasan yang paling sering dikutip adalah karena hal tersebut “merusak bait Allah”.

Tapi yang ini mungkin terdengar konyol: makan berlebihan (glutonny—bahasa Inggris) pun termasuk dosa. 

Hah? Kok, bisa, sih!? :O

Nah, ada beberapa ayat yang dapat kita simak di bawah ini:

“Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!” 
– Amsal 23:2

“Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging. Karena si peminum dan si pelahap menjadi miskin, dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping.” 
– Amsal 23:20-21

“Orang yang memelihara hukum adalah anak yang berpengertian, tetapi orang yang bergaul dengan pelahap mempermalukan ayahnya.” 
– Amsal 28:7


Seperti uang, makanan juga adalah bagian penting dari kehidupan kita. Tetapi banyak orang tidak menyadari ini: Kadang-kadang, mereka terlalu sibuk/asyik mengerjakan sesuatu hingga lupa untuk berhenti sejenak dan makan. Asupan makan memang memegang peranan penting dalam kesehatan dan pertumbuhan kita.

Di sisi lain, ada juga orang yang hobinya makan. Mungkin kita termasuk dalam kategori ini: sekalinya udah mulai ngemil, bakalan susah deh, buat berhenti (termasuk aku!). Atau ketika ada buffet, kita makan saking banyaknya sampai rasanya ingin muntah.

Yuk, kita mau sama-sama liat apa yang Firman Tuhan katakan tentang hobi satu ini.

Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata, “’Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.” (1 Korintus 10:23) Salah satu kebaikan Tuhan yang bisa kita rasakan adalah betapa banyaknya makanan enak yang bisa kita nikmati. Akan tetapi, ketika kita makan lebih dari seharusnya, apakah itu masih “berguna” dan “membangun”?

Paulus kemudian melanjutkan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1 Korintus 10:31). Semua aktivitas yang kita lakukan, bahkan aktivitas “kecil” seperti makan, sudah seharusnya dilakukan untuk memuliakan Tuhan.

Salah satu yang bisa kita gunakan untuk memuliakan Tuhan adalah tubuh kita. Dalam 1 Korintus 6:19-20 tertulis, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Karena jumlah dan jenis makanan yang masuk ke dalam tubuh menentukan kesehatan tubuh juga, sudah selayaknya kita lebih bertanggung jawab dalam merawat bait Roh Kudus ini.

Nafsu makan pun adalah bentuk nyata dari kemampuan kita untuk mengendalikan diri. Jika kita tidak mampu mengendalikan kebiasaan kita dalam hal makanan, apakah kita yakin bahwa mengendalikan diri dalam hal-hal lain yang tidak terlihat secara kasat mata—emosi, bergosip, keuangan, dll.—akan menjadi lebih mudah? Kita tidak boleh membiarkan nafsu makan kita mengendalikan kita, sebaliknya kita harus mengendalikan nafsu makan kita. Ketika kita kesulitan untuk mengendalikan nafsu makan kita, teladanilah Tuhan Yesus. Setelah 40 hari berpuasa dan sedang dirudung kelaparan (Dia mengambil tubuh manusia, afterall), Tuhan Yesus sanggup mengendalikan dirinya untuk tidak jatuh ke dalam pencobaan si jahat (Matius 4:2-4).

Makanan adalah anugerah dari Tuhan yang tidak seharusnya disalahgunakan. Mengingat dampak pola makan yang benar dan sehat dalam memuliakan Tuhan lewat tubuh kita, sudah saatnya kita memastikan bahwa suap makanan selanjutnya akan memuliakan-Nya, dan bukan merusak bait Roh Kudus. 

Mempraktekkan gaya hidup yang sehat bukan hanya agar badan kita menjadi bagus untuk kepuasan kita. Gaya hidup tersebut adalah salah satu bentuk ibadah dan appreciation terhadap bait Allah yang Tuhan berikan kepada kita!

Monday, November 27, 2017

Not as Harmless as It Seems (Part 2)


by Yarra

(Baca artikel sebelumnya di sini)

2. Keuangan
Hal selanjutnya yang sering menjadi tantangan untuk banyak wanita adalah keuangan. Kesulitan untuk mengendalikan diri dalam aspek finansial pun bermacam-macam bentuknya. Mungkin itu dalam hal belanja pakaian, sepatu, makanan, pernak-pernik, de el el. Banyak dari kita, terutama yang sudah berpenghasilan sendiri, seringkali berpikir, “Yaaa~ toh, ini kan, juga uangku yang aku dapatkan dari hasil kerja kerasku sendiri”—tetapi itu tidak sepenuhnya benar. Pada akhirnya kita harus mengingat bahwa segala apa yang kita punya berasal dari Tuhan, dan itu semua hanyalah titipan, bukan kepemilikan. Karenanya, baik itu uang diri sendiri, uang suami, uang orang tua, atau uang siapapun juga, semua itu milik-Nya.

Ketika kita melihat uang dari perspektif demikian, maka kita pun seharusnya menjadi lebih bijak dalam mengelola keuangan dan mengendalikan diri dalam aspek finansial. Ini tidak berarti bahwa saat ini juga kita harus menjual segala kepunyaan kita dan meminta-minta di jalanan. Namun kita harus bisa mengendalikan diri dalam pengeluaran finansial dan sadar terhadap panggilan Tuhan untuk mengelola titipan-Nya dengan bijak.

Mengendalikan diri dalam hal keuangan dimulai dari hal yang cukup sederhana: persembahan dan perpuluhan. Apakah masih sulit bagi kita untuk mengembalikan apa yang memang seharusnya kepunyaan Tuhan? Apakah kita sadar bahwa kita tidak memberi, melainkan hanya mengembalikan? Ya, aku sadar bahwa banyak orang yang masih berargumentasi bahwa perpuluhan adalah suatu keharusan di Perjanjian Lama, namun bukan sesuatu yang diharuskan di Perjanjian Baru. Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah… mengapa begitu sulit bagi kita untuk berpisah dengan 10% dari penghasilan kita? Aku pun tidak dapat menghakimi bahwa semua orang yang tidak memberikan perpuluhan itu salah, kurang rohani, atau lebih mencintai uangnya daripada Tuhan. Tapi justru sebagai seseorang yang juga terkadang kurang disiplin dalam mengembalikan apa yang menjadi milik Tuhan, aku menyadari bahwa terkadang mudah sekali bagi kita untuk kehilangan kendali atas keuangan. Menggunakan uang untuk hal-hal lain jauh lebih menggiurkan daripada untuk dikembalikan kepada Tuhan. Maybe it’s that pretty little bag, atau hangout bersama teman-teman, dst. Namun Firman Tuhan ini sungguh benar: ”Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21). Ketika kita memprioritaskan keinginan kita terlebih dahulu dalam hal keuangan dan hanya memberikan sisanya pada Tuhan, what does it say about our heart?

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.
(Matius 6:24)

Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
(1 Timotius 6:9-10)


Masih ada satu bagian lagi nih, Ladies. Stay tuned on Pearl’s blog, ya! :)

Friday, November 24, 2017

Not as Harmless as It Seems (Part 1)


by Yarra

Hello, Ladies!

Seperti yang bisa kita lihat, tema tahun ini membahas tentang buah roh. Nah, buah roh yang akan kita bahas pada bulan ini adalah pengendalian diri, alias self control. Seringkali ketika kita berpikir tentang pengendalian diri, mungkin kita berpikir tentang momen-momen “besar”, misalnya ketika Yusuf menolak ajakan Tante Poti untuk bobo bareng, kegagalan Daud dalam mengendalikan dirinya yang berakhir dengan membunuh Uria untuk mendapatkan Batsyeba, dst. Namun sebenarnya, pengendalian diri itu dimulai dari hal-hal “kecil” yang kelihatannya tidak merugikan orang lain—hal-hal kecil yang terlihat “harmless”. Nah, apa saja sih, hal-hal ini?

Sebenarnya banyak sekali~ tapi aku ingin membahas dan membagikan tiga poin yang menurutku cukup menantang untuk kita, kaum hawa ini :p Aku ingin membagikan poin-poin ini bukan karena terasa mudah untukku, namun justru karena aku secara pribadi merasakan betapa sulitnya untuk mengendalikan diri dan betapa pentingnya kita mulai mengakui bahwa Tuhan pun ingin agar kita setia dalam hal-hal yang terlihat harmless ini.

1. Waktu 
Ladies, coba kita pikirkan kembali bagaimana kita menghabiskan kemarin, seminggu terakhir, sebulan terakhir, dst… As far as you can remember, bagaimanakah waktu itu dihabiskan? Apakah waktumu lebih banyak dipakai dengan sia-sia? Karena aku pun begitu. Terkadang, bersaat teduh 30 menit sampai satu jam terasa luamaaaa sekali. Tapi kalau waktu itu dipakai untuk Facebook-an, nonton drama korea, atau TV series… cepatnya minta ampun. Lalu, tanpa disadari, tiba-tiba aku sudah menghabiskan beberapa episode Suits dalam satu hari dan lupa mengerjakan sesuatu yang seharusnya selesai malam itu. Mungkin cara kita memakai waktu dengan sia-sia pun berbeda-beda bentuk dan rupanya; namun deep inside, kita seharusnya tahu apa itu untuk setiap kita. Mungkin itu medsos, drama, browsing, bermalas-malasan, menunda-nunda pekerjaan yang harus kita kerjakan, dll. Dan itu adalah sesuatu yang harus kita perbaiki.

Loh, kalau gitu, berarti kita harus kerja non-stop dan produktif 24/7 dong? Masa kita ngga boleh santai?

Tentu saja boleh. Tuhan pun bukan tuhan yang kejam yang ingin melihat kita bekerja tanpa henti seperti budak. Bahkan Tuhan sendiri memberikan kita teladan dengan beristirahat. Kejadian 2:2-3 berbunyi, “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu”. 

Namun, perlu diingat bahwa pengelolaan waktu juga menjadi salah satu bentuk ibadah kita kepada Tuhan. Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menuliskan bahwa “apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (Kolose 3:23-24). Jika kita menggunakan mindset bahwa semua yang kita lakukan adalah untuk Tuhan, apakah benar kita akan menggunakan waktu kita dengan sia-sia dan tanpa pengendalian diri seperti yang (mungkin) masih kita lakukan saat ini? Ketika muncul kesadaran bahwa kita hanyalah hamba-Nya dan bahwa segala sesuatu yang ada pada kita—termasuk waktu—adalah milik-Nya, maka kita juga akan lebih bijak dalam menggunakan waktu.

Lastly, kita juga harus ingat bahwa hidup kita singkat dan unpredictable. Kalau kita dipanggil menghadap Tuhan sekarang, dapatkah kita mempertanggungjawabkan hidup kita dengan baik di hadapan-Nya? Jika Tuhan memutarkan rekaman hidup setiap ciptaan-Nya, apakah yang akan kita lihat dari rekaman itu? Apakah kita akan melihat hidup tanpa pengendalian diri dalam memakai waktu, atau hidup yang dipakai untuk memuliakan Tuhan?

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”
(Efesus 5:15—17)

Wednesday, November 22, 2017

Dewasa dan Menguasai Diri



by Eunike Santosa

Apa yang membedakan anak kecil umur 3 tahun dengan orang dewasa? Jawabannya adalah penguasaan diri. Yang satu, yaitu orang dewasa, bisa mengontrol dirinya, sementara anak kecil belum. Menurut Psychology Today, penguasaan diri adalah hal yang membuat kita berbeda dari kingdom Animalia dikarenakan oleh perbedaan dalam prefontal cortex (bagian dari otak) kita. Bagian otak ini adalah yang mengontrol kemampuan untuk menunda dorongan, impuls atau hasrat demi tujuan jangka panjang. Daripada merespon dengan dorongan sekejap, kita bisa membuat rencana, mengevaluasi opsi alternatif, dan tentunya, menghindari hal-hal yang bisa kita sesali. (1)

Dalam konteks kekristenan, John Piper menuliskan bahwa istilah ‘penguasaan diri’ mempunyai implikasi ‘diri’ sendiri yang perlu ‘dikuasai’. Hal ini berarti bahwa kita mempunyai kencenderungan, hasrat diri yang tidak seharusnya dipuaskan tapi justru harus diperangi, ditundukkan. Yesus sendiri pun mengatakan bahwa untuk mengikuti Dia, kita harus menyangkali diri; dengan kata lain, kita menyatakan bahwa bukan lagi hasratku, namun hasrat-Mu yang harus dipenuhi. 

Kabar gembiranya adalah, sebagai orang Kristen yang sudah dimenangkan, Paulus dalam suratnya ke jemaat Galatia mengatakan bahwa:

Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (5:24). 

Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. (5:5). 

...hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. (5:16). 


Dengan kata lain, sebagai orang merdeka yang hidup oleh Roh, kita dimampukan oleh Roh Allah lewat iman, sehingga kita BISA menguasai diri dan menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging. Jadi... logikanya, ga bisa tuh ada alasan untuk mengatakan bahwa kita gak bisa kontrol diri sendiri; secara, kalau seseorang benar-benar sudah hidup dalam Kristus, maka Roh yang ada dalam dirinya akan memampukan dia untuk menolak hasrat diri, termasuk emosi-emosi ga jelas. :)

Hal lain yang bisa kita simpulkan juga adalah, fakta bahwa semua itu adalah karya Roh Kudus harus membuat kita rendah hati. Secara, kemampuan untuk mengendalikan diri datang bukan dari kekuatan kita, tapi karena Roh. Jadi kita tidak boleh sombong oleh karenanya. Allah lah yang perlu dimuliakan, bukan diri sendiri seperti yang ditulis oleh Paulus kepada jemaat Korintus (1:29-31). (2)

Supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."

Nah, kemudian, kira-kira dalam hal apa saja kah kita bisa melatih penguasaan diri? Bapak Rick Warren menuliskan bahwa, orang-orang yang bisa menguasai diri, bisa menguasai emosi mereka (baca: ga moody). Sebagai perempuan, sering kita mendengar para pria mengomel kalau kita ini moody, ga jelas, emosian, dsb. Jengkel? Yah, ada benarnya di satu sisi. Namun, jangan jadikan alasan bahwa karena kamu adalah wanita yang adalah makhluk emosional, sebagai pembenaran untuk mengikuti mood atau emosi spontan saja. Ikuti hikmat surgawi: follow your head, control your heart. Kitab Amsal bilang, orang yang tidak bisa menguasai diri adalah seperti kota tanpa tembok, yang artinya tanpa pertahanan. Kalo diserang yah ambruk, kalah, mati. Dan ini bodoh. (3)

A person without self-control is like a city with broken-down walls.

He will die for lack of self-control; he will be lost because of his great foolishness.


Setelah menguasai emosi, penguasaan diri dapat dilanjutkan dengan menguasai kata-kata. Kontrol lidahmu, kemudian kontrol juga tindakanmu. Jangan kehilangan keanggunanmu! Seorang wanita yang bisa mengontrol diri dan kata-kata pastinya bisa memenangkan hati banyak pria bukan? *kedip mata* Kemudian, untuk langkah lebih lanjut, aplikasikanlah penguasaan diri dalam hal menggunakan waktu, uang, dan kesehatan—jangan buang-buang waktu, uang, dan tubuh sehatmu! Sebab hari-hari ini adalah jahat bukan? :)

So prepare your minds for action and exercise self-control. Put all your hope in the gracious salvation that will come to you when Jesus Christ is revealed to the world.





Monday, November 20, 2017

How to Manage Your Busy Day (2)


by Tabita

Post ini merupakan kelanjutan dari post sebelumnya yang bisa kamu baca di sini. Mari kita lanjutkan, setelah poin pertama kemarin: start your day with devotional time.

2. Atur jadwal dan prioritas 
Salah satu kebingungan yang dihadapi semua orang adalah gimana caranya buat bikin jadwal dan set a priority list. Ya apa ya, hayoo? :p

Nah, aku menyarankan temen-temen buat beli buku agenda dan catet setiap jadwal maupun deadline yang harus dikerjain. Buat yang nggak biasa nyatet jadwal, bisa set alarm di gadget. Kalo nggak bisa ngelakuin dua-duanya, hmm... berdoalah biar inget sama jadwal dan tugas yang ada :”) hehe.

FYI, aku juga bukan tipe orang yang suka nyatet jadwal dan deadline, sih. Tapi karena belakangan ini ada banyak hal yang harus kukerjain, jadi mau nggak mau harus nyatet deh (tetep aja sih... buku agendaku nggak kubuka—kecuali kalo baru iseng *lah). Terus waktu aku buka Instagram, ada banyaaaakkkk banget akun-akun yang upload catetan maupun agenda mereka di buku. Unyu-unyu dan rapi pula! Suka lihatnya huahahaha!! Jadilah aku semangat buat nyatet :p Hehe

Gimana dengan prioritas? Hm, kita tahu kan ya, kalo Tuhan harus jadi prioritas terutama kita. Sesibuk dan secapek apapun, hubungan kita dengan-Nya nggak bisa digantiin sama apapun juga. Dengerin lagu rohani sih, boleh (banget); tapi itu nggak cukup buat gantiin SaTe dan BR kita. Persekutuan maupun kebaktian itu harus (sebagai bentuk disiplin rohani kita bareng sodara seiman); tapi itu nggak bisa gantiin esensi (ciehh hahaha) persekutuan pribadi kita setiap hari sama Tuhan.

Buat yang udah berkeluarga (maupun yang masih stay di rumah bareng ortu), keluarga jadi prioritas kedua. Inget: rumah bukanlah kos di mana kita bisa makan, mandi, dan tidur tanpa harus berinteraksi rutin dengan pemilik rumah (ato minimal yang jadi kepala keluarga di situ). Sesibuk dan secapek apapun, jangan lupa buat sapa keluarga kita. Kalo ada waktu luang, sesekali adain kegiatan bareng mereka :)

By the way, aku masih jatuh bangun soal ini. Mana sering dimarahin sama Mama pula haha. Tapi aku mau terus berjuang buat bisa sisihin waktu buat keluarga -- walopun itu artinya deadline dan berbagai tugas di dunia ini numpuk lol!

Studi, pelayanan, dan pekerjaan ini relatif. Tergantung mana yang urgent dan harus masuk list ketiga prioritas. Tetep doain dan minta Tuhan buat tunjukkin ke mana Dia pengen kita pergi. Percuma kita pelayanan mantep jiwa, tapi dalam studi ato pekerjaan kita jadi batu sandungan. Sebaliknya, percuma kita bisa dapet nilai bagus ato dipuji atasan tapi hubungan pribadi kita sama Tuhan nol.

“Kalo pacar masuk mana?”

Pacar masuk ke... nggak tahu, sih :p Yang penting tetep prioritaskan hubungan kita sama Tuhan, tugas dan tanggungjawab lainnya bisa kita kerjain dengan baik, dan hubungan kita sama pacar memuliakan Tuhan (serta jadi berkat buat orang lain, tentunya).

3. Cope With Your Stress! 
Ga salah lho, buat sesekali refreshing and taking a break for a while from our business and routine. Kalo cuma terkurung dalam kesibukan mulu, pasti capek. Ujung-ujungnya jadi stres dan malah ngomel. Waduh, nanti hari-hari kita isinya cuma ngedumel doang kan, repot -.-“ Sebelum ubun-ubun kita meledak saking keselnya, yuk, refreshing sejenak! :)

Setiap orang punya cara coping with stress-nya masing-masing. Ada yang nyuci piring sambil dengerin musik, makan ato minum coklat (katanya sih, bisa ningkatin mood. Dan emang bener :p), istirahat buat “bayar utang” (ini perlu), dan jalan-jalan. Selama itu nggak bikin kita tambah stres ke depannya, coba aja dilakuin! :) Oiya, mungkin kita bisa juga ubah susunan perabot rumah biar jadi semangat lagi (aku udah pernah, dan lumayan ngefek hehe. Tapi jangan lupa: beres-beres rumah kalo ada niat buat memulai dan mengakhiri lol).

So, semangat buat mengatur rutinitas dan kesibukan kita, ya. Jangan sampe apa yang udah Tuhan percayain ke kita malah disia-siakan karena omelan dan stres yang nggak diperlukan :) Have a blessed day! Cheers! 

Friday, November 17, 2017

How to Manage Your Busy Day (1)


by Tabita

Siapapun kita pasti punya kesibukan masing-masing. Baik sebagai mahasiswa, karyawan kantoran, freelancer, guru, maupun pekerjaan lainnya (apalagi ibu rumah tangga (alias IRT) yang kerjanya 24 jam tiap hari). Dan dalam setiap pekerjaan kita tentu dipenuhi dengan tugas maupun tuntutan. Ya, nggak? :p

Yang mahasiswa harus rela begadang (bahkan berhari-hari) buat nyelesaiin tugas di sela-sela ujiannya. Yang kerja juga harus rela lembur biar pekerjaannya nggak tambah numpuk. Yang IRT sibuk terus dari sebelum subuh sampai larut malam buat mastiin suami dan anak-anaknya baik-baik aja. Haduduu~ terus kapan dong, waktu refreshing-nya!? Serasa hidup isinya cuma buat tugas dan nuntasin kewajiban aja. #sigh

Tenang, di sini ada beberapa tips buat mengatasi masalah di atas. But remember: nggak semua cara di sini bisa diterapkan, karena ini adalah cara yang biasa aku lakuin. Caraku belum tentu sama dengan caramu, tapi semoga artikel ini dapat menolong kalian, ya ☺

1. Start a day with a devotional time 
Boleh percaya boleh nggak, tapi aku merasa hari-hariku akan terasa lebih baik setelah aku saat teduh (SaTe) dan Bible reading (BR). :) Well, nggak tahu kok bisa kaya’ gitu, sih... Tapi nggak cuma aku yang ngerasa gitu. Banyak temenku juga ngerasain hal yang sama. Rasanya kalo nggak SaTe gitu, bad mood mulu sepanjang hari.

“Aku nggak pernah SaTe, tuh. Apalagi BR. Buat buka Alkitab aja mager berat. Tapi hidupku baik-baik aja. Aku tetep hepi sepanjang hari hehe.”

Pearlians, SaTe dan BR bukanlah sarana agar hari-hari kita jadi lebih baik. Nggak ada jaminan gitu. Tapi dua hal tersebut adalah disiplin rohani yang kita butuhin buat tahu apa kehendak Tuhan dalam hidup kita. Gimana kita mau tahu kehendak-Nya kalo kitanya aja nggak mau baca Alkitab?

Dulu aku pernah hampir dua minggu nggak SaTe gara-gara banyak tugas yang harus kukerjain. Apalagi BR—ha baca Imamat aja udah ngantuk duluan lol. Awalnya sih, ngerasa bersalah. Lha biasanya SaTe terus tiap hari, kok abis itu nggak? Lama kelamaan jadi keterusan buat nggak SaTe, deh :p Nggak ada perubahan signifikan (wahahaha maaf bahasanya terlalu tinggi karena banyak makalah :p) yang terjadi saat itu.

TAPI, di satu titik aku ngerasa ada something wrong. Hidupku rasanya kosong. Aku mikir, “O, paling gara-gara sibuk nugas sama pelayanan.” (Lah, malah nyalahin pelayanan #huft). Ternyata nggak. Walopun aku jajan coklat dan tidur buat “bayar utang”, tetep aja rasanya ada yang kosong. Sampe akhirnya Tuhan ingatkan lewat kotbah dan teman-teman yang juga punya pergumulan yang sama. And I find the answer: I felt empty because I didn’t let God fill my life totally. Mulai sejak itu, aku jadi semakin taat buat SaTe dan nyatetin rhema apa yang Tuhan kasih :) Dan puji Tuhan, aku juga udah mulai BR Maret lalu (thanks to Ci Lia and Ci Fiona! :D). Iya sih, sampe detik ini aku masih bergumul tentang waktu buat menjaga hubungan pribadi sama Tuhan. Tapi bersyukur banget karena Tuhan kasih sodara-sodara seiman yang menguatkan dan terus ingetin pentingnya having a devotional time with Him :)

Oh iya. Yohanes pun mencatat sebuah peristiwa di mana Yesus meminta air kepada perempuan Samaria—yang dicap buruk oleh banyak orang (silakan baca artikel Ci Sarah tentang peristiwa itu di sini). Di sini Yesus, secara nggak langsung, mau bilang ke kita bahwa Dialah Air Hidup yang selama ini dicari banyak orang yang merasa kosong dan haus secara rohani:

”Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.” Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)

Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: “Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

(Yohanes 4:7-10, TB)

So, ketika kita ngerasa kosong dan berusaha cari minuman buat hati kita yang haus, inget kata-kata Blaise Pascal ini, “Satu-satunya yang dapat mengisi kekosongan hati kita adalah Tuhan Yesus Kristus.”

Okee, itu bagian rohaninya yaaa :p Bagian keseharian akan aku bahas di post berikutnya :) See ya! 

Wednesday, November 15, 2017

It is Well with My Soul



by Tabita

Pearlians tentu nggak asing dengan judul hymne di atas. Ya, kan? Hehehe.

Lagu tersebut adalah salah satu lagu favoritku, terutama setelah aku mengetahui peristiwa yang melatarbelakangi terciptanya lagu yang penuh dengan makna itu (kisah tentang It is Well with My Soul dapat dibaca di salah satu artikel Majalah Pearl edisi ke-16, yang berjudul Top 10 Church Hymns yang ditulis oleh Ci Kezia Margaret. Ato bisa juga tanya ke Om Gugel hehe :p). Apa yang dialami si pencipta lagu, H. G. Spafford, bukanlah hal yang mudah. Namun dia tetap dapat menguasai diri untuk tidak menyalahkan Tuhan, bahkan membuat sebuah hymne yang masih dinyanyikan sampai sekarang :)

Ngomongin soal kehilangan orang yang dicintai dan usaha yang merugi, aku jadi inget satu tokoh Alkitab yang juga mengalami hal yang (kurang lebih) sama. Guess who he is? Yapp, he is Job! Kita mengenalnya sebagai Ayub, pria yang saleh dan diberkati Tuhan dengan luar biasa. Tapi ups! Ternyata dia pun mengalami berbagai cobaan dari Iblis (atas seizin Tuhan). Mulai dari Ayub pasal 1 dan 2, di mana Ayub kehilangan harta benda dan anak-anaknya seketika, ditambah borok di sekujur tubuhnya. Belum lagi sang istri yang menyuruhnya untuk mengutuki Tuhan. Bahkan di sepanjang pasal 3 hingga 25 pada kitab Ayub, kita akan menemukan bahwa para sahabat Ayub juga “berlagak” membela Tuhan; bukannya menguatkan teman mereka yang sedang terpuruk. What a tragedy!

Well, sebenernya pada saat Ayub mengalami kemalangan seperti itu, Tuhan sedang mengujinya: apakah Ayub tetap akan setia dan percaya pada Tuhan, atau tidak? And we know the answer: he did. :) TAPI (ada tapinya, nih wkwkwk), dia juga mengandalkan kekuatannya sendiri! Sama seperti empat sahabatnya (Elifas, Bildad, Zofar, dan Elihu), Ayub “berusaha” membela Tuhan, agar dia juga dibela-Nya. Nah, yang gini ini yang nggak boleh kita lakuin -.-“ Siapakah kita, sehingga kita merasa lebih kuat daripada Tuhan? Aku pernah denger temenku bilang gini, “Tuhan nggak perlu dibela, karena justru Dialah yang akan membela kita ketika hidup kita seturut kehendak-Nya”. Dan yaaa itu bener :)

Dear Pearlians, nggak ada yang mengalami kisah hidup yang lebih mengenaskan daripada Ayub. Trust me. Itu artinya, sebenernya kita bisa untuk melalui setiap pergumulan dan cobaan yang kita hadapi bersama Tuhan :) Bahkan Paulus pun mengatakan ini,

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
(1 Korintus 10:13, TB)

Mungkin kalimat ini terdengar klise, tapi percayalah: tangan-Nya akan selalu terulur kepada mereka yang berseru dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada-Nya :)

Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. – Ayub 42:2 (TB)

Monday, November 13, 2017

Money Talks


by Poppy Noviana

Siapa diantara kita yang ngga pernah mengalami masalah keuangan? Ada kalanya segala sesuatu mengalami kelesuan, banyak persoalan yang tidak kunjung selesai lalu datang lagi persoalan lainnya. Sebuah kondisi yang membuat banyak pengeluaran harus dilakukan. Tapi, Pdt. Myles Munroe pernah mengajar bahwa Allah tidak memberikan apa yang kita butuhkan saja tetapi apa yang mampu kita kelola. Jadi jangan salahkan siapa-siapa jika suatu ketika mengalami masalah keuangan, mungkin bukan income-nya yang terlalu sedikit tetapi spending-nya yang tidak bisa dikelola dengan benar. Mungkin kita yang belum cukup bijak mengelola pos pengeluaran. Di tengah budaya konsumtif, perlu disiplin dan keteguhan hati agar uang kita digunakan secara benar.

Apa hubungannya dengan tema penguasaan diri yang bulan ini sedang kita tekankan? Oke, ingatkah kita tentang kisah seorang bendahara yang tidak jujur? Ini yang dikatakan Allah kepada murid-murid-Nya dalam Lukas 16. Yes, kisah ini menggambarkan hubungan antara penguasaan diri dan pengelolaan keuangan.

Kita mulai dari sebuah pertanyaan yah, menurutmu apa sih yang penting dalam hidup ini? Mungkin kamu punya banyak aset seperti mobil, rumah atau lainnya. Semuanya adalah harta yang kalian miliki dan ada nilai yang terkandung didalamnya. Hal-hal itu begitu penting sehingga menuntut kita memeliharanya dan mendapat porsi yang terdepan alias prioritas. Demikian juga dengan kisah bendahara yang tidak jujur ini!

"Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu”.

Dari statement diatas kita tahu bahwa bendahara ini dituduh dan ia bingung harus ngapain setelah dipecat. Padahal, belum tentu sih dia benar-benar menghamburkan milik tuannya. Tapi uniknya dia langsung berpikir untuk mencangkul dan mengemis. Hal yang menurutku merupakan sebuah kegiatan yang kompetensinya pake otot aja, tidak perlu berpikir terlalu keras untuk dapat melakukannya (low skill). Pernah terpikir ngga sih kalau dia bisa aja kasih laporan pertanggungjawaban keuangan ke tuannya? Atau mungkin print out bukti transaksi kalo bendahara jaman now wkwkwkw... Jadi, dugaan sementara, besar kemungkinan kalo sebenarnya ia memang tidak bisa mengelola keuangan tuannya dengan benar. Hal ini membuat dia tidak berusaha bertahan untuk menjadi bendahara saat itu, tapi cerdiknya ia melihat peluang yang lain.

“Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan”.

“Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul”.

“Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang”.

Haaah? Ga jujur tapi dipuji! Well, indikasinya memang tuduhan tuannya di awal belum bisa dibuktikan benar. Tapi di sisi lain, tuannya menyaksikan bahwa orang yang dipecat ini tetap berupaya. Bendahara yang dituduh ga jujur itupun bergegas, mengandalkan hubungan baiknya, dia membuat orang-orang yang berhutang, yang tadinya punya utang minyak dan gandum, sekarang jadi nambah punya utang budi juga. Hal ini bisa menjadi keuntungan baginya untuk jaminan karirnya kedepan.

So anak-anak Tuhan, mengelola keuangan bukan hal sepele. Tuhan lihat keterampilanmu mengelola berkat-Nya. Jadi kuasai dirimu. Keuangan bukan hanya tentang kemana uangmu harus kau keluarkan. Pelajarilah ilmu pengaturan keuangan, gunakan uangmu untuk meningkatkan hubungan dengan orang lain. Tuhan ingin kita lebih cerdik dari seorang bendahara tertuduh yang lemah dalam mengelola keuangan agar pada akhirnya, uang yang Ia berikan bisa kita pakai untuk memuliakan Dia.