Monday, August 5, 2019

Wanita Seutuhnya


by Glory Ekasari 

“Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! 
Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur; 
Harum bau minyakmu, 
bagaikan minyak yang tercurah namamu, 
oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu!” 
(Kidung Agung 1:2-3) 

Kidung Agung adalah salah satu kitab yang misterius dalam Alkitab. Apa sebenarnya yang dibicarakan dalam kitab itu? Kita mungkin membacanya dengan rasa malu karena penggambaran tubuh wanita yang terasa terlalu eksplisit untuk dimuat dalam Kitab Suci, atau kita bingung karena merasa kitab ini out of place dan sama sekali tidak membicarakan Tuhan. Dia berbeda dengan kitab-kitab lain seperti Roma atau Ulangan yang secara gamblang membicarakan hubungan Allah dengan manusia. Dia juga tidak menceritakan sejarah seperti Injil atau Kejadian. Yang dibicarakan dalam kitab ini adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara—kenapa kitab seperti ini ada dalam Alkitab?? 

Selain pertanyaan tersebut, satu hal lagi yang menarik dari Kidung Agung adalah fakta bahwa tokoh utama di dalamnya adalah seorang wanita. Tidak hanya itu, wanita ini tidak malu untuk menceritakan tentang gairahnya kepada kekasihnya. Bisa jadi ini membuat para wanita Kristen semakin tidak nyaman, “Bukankah wanita seharusnya kalem, lembut, gak macem-macem, dan pikirannya selalu pure—bahkan, kalau saya bisa bilang, sama sekali tidak memikirkan seks?” Mengapa wanita dalam Kidung Agung ini sepertinya bertentangan sekali dengan gambaran seorang wanita Kristen? Dalam versi New English Translation, Kidung Agung 1:2 berbunyi, 

“Let him kiss me with the kisses of his mouth, 
For your lovemaking is sweeter than wine.” 

There it is, ladies. No shame in it. Lovemaking is the word. 

Bahasa asli “lovemaking” berasal dari loves (jamak). Berbagai macam cara mencintai seseorang terangkum dalam satu kata: seks. Wow. Ini masih dalam ayat kedua (setelah informasi tentang siapa penulisnya) dan tiba-tiba seorang wanita sudah berkata dia ingin dicumbu dan bercinta dengan kekasihnya (menulis kalimat ini saja terasa aneh. Hahaha). 

Kita perlu memperhatikan dengan saksama latar belakang dari kitab ini. Seperti kitab-kitab lain dalam Perjanjian Lama, Kidung Agung juga ditulis dalam lingkungan dunia yang sangat patriarkal. Wanita dianggap sebagai warga kelas dua dibanding pria. Kalau dalam kehidupan sosial saja seperti itu, bisa dibayangkan bagaimana dengan kehidupan seksual dalam rumah tangga. Saya tidak heran bila wanita dianggap hanya sebagai pemuas hasrat suami. Tetapi dalam Kidung Agung (dan Amsal, dari penulis yang sama), wanita adalah tokoh utama. Dia berbicara dengan bebas, dan suaranya didengar. Wanita ini bisa mengekspresikan dirinya seabgai wanita seutuhnya, dan tidak malu akan adanya gairah seksual di dalam dirinya. 

Dalam pengalaman saya pribadi, saya belajar banyak sekali selama mendalami kitab Kidung Agung. Yang saya pelajari, terutama, adalah it’s okay to be a woman, with sexual desires and passion for a certain man. Kitab ini menunjukkan kepada saya bagaimana adanya seorang wanita, yang dapat berkata tentang pasangannya, “Kepunyaan kekasihku aku; kepadaku gairahnya tertuju” (Kid. 7:10) sekaligus menolak rayuan kekasihnya untuk intim secara seksual sebelum pernikahan, sekalipun dia sendiri menginginkannya (Kid. 2:8-17). Tidak berhenti di situ, hubungan seksual yang diceritakan dalam kitab ini dibahasakan secara begitu indah, bukan hanya sekedar dorongan nafsu belaka (Kid. 4:16-5:1)

Kitab ini ada dalam Alkitab karena Tuhan menciptakan kita, para wanita, sebagaimana adanya kita: dengan seksualitas (segala sesuatu yang berhubungan dengan kewanitaan; seperti perasaan kita yang sensitif, kemampuan kita untuk multitasking, dan semua yang membedakan wanita dengan pria) serta hasrat seksual kita, dan karena Dia mengasihi kita. Ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia melihat ciptaannya itu sungguh sangat baik (Kej. 1:31). Tuhan suka melihat kita sebagai wanita; Dia menghargai perasaan dan pemikiran kita, bahkan Dia memerintahkan para suami untuk mengasihi istri mereka (karena Dia tahu wanita perlu dikasihi), serta menempatkan sebuah kitab yang menjelaskan seperti apa hasrat seorang wanita dalam Buku-Nya. 

Lebih lagi, Tuhan suka melihat seorang wanita mengasihi seorang pria. Kalau kita melihat orang pacaran, kita bisa cekikikan melihat mereka sayang-sayangan, terlebih lagi Tuhan yang bersukacita melihat sepasang suami istri saling mengasihi, mesra, dan membangun keintiman bersama! Dalam kitab Kidung Agung, gairah sang wanita untuk kekasihnya akhirnya terpenuhi pada malam pernikahan mereka. Pernikahan adalah sesuatu yang sangat indah, di mana kasih yang rela berkorban, hasrat seksual yang diikat kesetiaan, dan kekudusan hidup berjalan beriringan. 

Kita perlu bersyukur kepada Tuhan karena Dia menciptakan kita dengan begitu indah. Kita tidak perlu malu menerima diri kita seutuhnya, karena Tuhan telah menerima kita. Laki-laki memang diciptakan dengan ambisi untuk mendapatkan wanita yang dicintainya; tapi dia juga tentu ingin merasa diinginkan oleh wanita tersebut. Hal ini bisa terjadi karena Allah menempatkan dalam diri kita hasrat seksual yang sehat—yang menyenangkan pasangan kita dan Allah, tentunya.

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^