Showing posts with label Truth. Show all posts
Showing posts with label Truth. Show all posts

Monday, February 8, 2021

Not Simply Tell the Truth




by Tabita Davinia Utomo

“B’rani nyatakan kebenaran.”

Itu adalah salah satu bagian lirik jingle dari PPSMB (Pelatihan Pembelajaran Sukses bagi Mahasiswa Baru) Fakultas ketika saya menjadi mahasiswa baru di sana. Walaupun sudah hampir dua tahun lulus dari kampus tersebut, lirik jingle itu kadang-kadang terngiang di benak saya. Nah, pikiran saya yang terbiasa random ini akhirnya membuat saya berpikir, “Bukannya susah ya kalau mau ngomong apa yang bener?”

Iya lho, coba aja lihat para martir. Mereka sampai kehilangan nyawa karena mempertahankan iman kepada satu-satunya Tuhan. Begitu juga dengan tokoh-tokoh reformasi gereja seperti Martin Luther dan John Calvin yang juga bergumul berat karena penolakan gereja atas gerakan back to the Bible yang mereka lakukan… Itu belum termasuk orang-orang yang “hilang” karena menentang pemerintah—entah yang ada di Indonesia maupun di luar negeri. Kalau cara halus (sampai harus ada sindiran elegan) saja tidak mempan, rasanya satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan membangkang. Eh, maksud saya membangkang terhadap peraturan atau hal-hal yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Secara teori, kita paham bahwa integritas kepada Tuhanlah yang seharusnya jadi pegangan. Ironisnya, kenyataan justru berbicara dengan keras adanya ketidaksinkronan apa yang Firman Tuhan katakan dengan respon orang lain (bahkan kita termasuk di dalamnya). Tidak perlu membayangkan terlalu jauh, kenyataan seperti ini mungkin juga sering kita alami dalam konteks-konteks berikut:

Sebagai anak:
“Kamu tuh, masih bocah! Nggak usah ikut campur.” – diomeli karena berkata pada orang tua agar tidak bertengkar terus-menerus.

Sebagai istri:
“Kamu tuh, perempuan! Nggak pantes ngatur-ngatur aku!” – perkataan ketus dari seorang suami pada istrinya yang berusaha memastikan bahwa suaminya menjalankan perannya dengan baik sebagai suami (dan ayah).

Sebagai ibu:
“Mama/Mami/Ibu/Bunda nggak usah sok tahulahh. Ini tu namanya trennn.” – sang anak berkata dengan sinis ketika ibunya menasihati agar tidak memboroskan uangnya untuk membeli barang-barang demi tren semata.

Sebagai orang yang bekerja/berkuliah/bersekolah:
Dikucilkan karena dianggap tidak memperlancar “kerja sama” di antara teman-temannya; saat ada tindakan buruk yang akan dilakukan, dia justru menegur—dan berujung pada dirinya yang mendapat label “orang naif” di tempat tersebut.

Lama-kelamaan, mulut ini lebih memilih untuk diam karena penolakan-penolakan yang bertubi-tubi. Pertanyaannya, ketika apa yang kita katakan terbukti benar dan orang yang sempat membantah justru overwhelmed karena membantah perkataan kita, apa yang menjadi respon kita? Mungkin dua meme dari @transletin ini menjadi jawabannya:


Saking gemasnya dengan orang-orang yang ngeyel kalau diberitahu apa yang benar, kita cenderung memilih untuk “membiarkan” mereka agar jatuh ke lubang yang telah mereka gali. Well, dosa memang sudah membuat seluruh tatanan kehidupan menjadi rusak, dan hanya karena kasih karunia Tuhanlah yang bisa memulihkannya—termasuk dalam hal memberitakan kebenaran dalam kasih. Kebenaran di sini bukan hanya tentang Tuhan Yesus sebagai satu-satunya jalan, keselamatan, dan hidup (Yohanes 14:6), tapi juga menjadi cermin dari-Nya yang adalah kebenaran itu. Salah satu bagian Firman Tuhan yang perlu kita pegang dalam menghadapi keadaan-keadaan seperti itu adalah 1 Petrus 3:15-16, namun di sini saya akan mengutip dari versi Alkitab Ayat Yang Terbuka (AYT):

“Akan tetapi, kuduskanlah Kristus sebagai Tuhan dalam hatimu! Siap sedialah untuk memberi jawaban kepada siapa pun yang menuntutmu mengenai pengharapan yang kamu miliki, tetapi lakukanlah itu dengan lemah lembut dan hormat, serta milikilah hati nurani yang jernih supaya ketika kamu difitnah, orang yang mencaci cara hidupmu yang baik di dalam Kristus akan menjadi malu.”

Konteks penulisan surat dari rasul Petrus ini bukan tanpa alasan. Pada masa itu, orang Kristen mula-mula (termasuk Gentiles, orang non-Yahudi yang menjadi Kristen) mengalami penganiayaan dan tersebar di berbagai wilayah (di antaranya Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia – 1 Petrus 1:1). Mengetahui pergumulan mereka mengenai iman kepada Kristus, Petrus menulis semacam encouragement di 1 Petrus 1:2 sebagai berikut:

“yang dipilih sejak semula oleh Allah Bapa melalui pengudusan oleh Roh untuk dapat hidup dalam ketaatan kepada Kristus Yesus dan memperoleh percikan darah-Nya. Kiranya anugerah dan damai sejahtera melimpah atasmu.” (AYT)

Mengacu pada AYT, “sejak semula oleh” dimaksudkan jemaat penerima surat Petrus ini telah ditentukan melalui rencana Allah sejak semula (literally foreknowledge—prapengetahuan); sementara “memperoleh percikan darah-Nya” mengingatkan mereka pada pengudusan oleh darah Kristus. Sebagai orang percaya yang teraniaya (bukan hanya fisik, tapi juga secara sosial), bukan hal yang mudah bagi mereka untuk tetap mempertahankan iman kepada Sang Juruselamat. Namun di sisi lain, saya membayangkan ada dorongan dalam diri mereka untuk memberitakan Injil melalui kehidupan mereka—sehingga semakin banyak orang percaya kepada Kristus. Itulah alasan Petrus mengingatkan agar orang-orang percaya ini tetap mempertahankan integritas hidup mereka di dalam Kristus, karena dari sanalah (siapa tahu) lingkungan yang mencerca dan menolak pemberitaan Injil justru menjadi malu. Well, ini seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus, “Jika Allah di pihak kita, siapakah dapat yang melawan kita?” (Roma 8:31)

Kalau ditarik ke zaman sekarang, kita harus mengakui bahwa ada ketidakberdayaan dan rasa putus asa setiap kali kebenaran yang disampaikan jadi mental (baca: semacam masuk telinga kiri, keluar dari telinga kiri pula). Lama-kelamaan kita jadi memilih untuk memakai jalan pintas: memaksakan apa yang kita yakini tanpa mendengarkan pendapat orang lain. I’m sorry to say, ini justru membuat citra kita sebagai orang Kristen jadi dicap buruk. :( Lalu apa yang harus kita lakukan?

1. Sabar adalah kunci

Menghadapi orang-orang bawel nan ngeyel membutuhkan kesabaran ekstra, Pearlians. Percayalah, kalau kita hanya bergantung pada diri sendiri, kita akan jadi cepat lelah untuk membuat orang lain jadi percaya pada kebenaran yang kita beritakan. Then come to Jesus Christ; He will encourage us to be more patient to tell the truth.

2. Allah yang memroses kita dan mereka

Seringkali kita lupa bahwa kebenaran yang disampaikan bukan hanya bertujuan memenangkan orang lain, tapi juga membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Tentunya ini hanya bisa terjadi karena intervensi Allah—yang bekerja secara misterius namun pelan-pelan buahnya bisa terlihat. Kalau Tuhan saja tidak memaksa sedemikian rupa hanya agar kebenaran-Nya mendarat di hati orang lain, siapa kita sehingga merasa berhak untuk mengindoktrinasi mereka? Tugas kita adalah menabur dan menyiram, namun Allah memberikan pertumbuhan.

3. Jangan lupa berdoa!

Usaha manusia ada batasnya, karena itulah kita dipanggil untuk berdoa dan menyerahkan pada Tuhan apa yang telah kita lakukan. Oh iya, bahkan sebelum menyatakan kebenaran, kita harus selalu bertanya, “Apa iya sih, yang mau aku sampein ini udah berakar, bertumbuh, dan berbuah dengan jelas?” Kan, sia-sia ya kalau kebenaran yang kita sampaikan hanya untuk melengkapi wawasan dan untuk jadi bahan penghakiman bagi orang lain. Melalui doa (yang tentunya bukan hanya satu-dua kali), kita bisa mendengarkan Tuhan berbicara ketika kita memberikan-Nya ruang untuk itu. Sometimes the best time of prayer is silent for a moment, and let Him speak gently.

4. Last but not least… jangan sok tahu

Kadang-kadang apa yang kita tahu lebih banyak daripada orang lain membuat kita jadi sombong haha (saya juga masih bergumul dengan hal ini, sih). Itulah kenapa kita juga harus belajar rendah hati dan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berpendapat. Kalau pada akhirnya mereka sadar dan mau menerima kebenaran (misalnya teguran penuh kasih), that’s a good thing. Kalaupun sampai maranatha mereka tetap bersikukuh pada hal yang salah, setidaknya kita tidak membuat mereka jadi semakin kesal dengan kesoktahuan kita—walaupun apa yang disampaikan memang benar.

Kiranya Tuhan memampukan kita untuk berkata-kata dalam kasih dan kebenaran melalui berbagai konteks yang Dia izinkan terjadi. Cheers!

Monday, January 11, 2021

What Would Jesus Do?




by Alphaomega Pulcherima Rambang

“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
(1 Yohanes 2:6)

Slogan WWJD mungkin tidak terlalu sering terdengar sekarang seperti pada tahun 2000 awal. Kepanjangan dari WWJD adalah ‘What Would Jesus Do?’, sebuah pertanyaan singkat yang sebaiknya ditanyakan pada diri sendiri sebelum mengambil keputusan atau tindakan apa yang akan dilakukan. Sebuah pertanyaan yang seharusnya membuat kita berpikir antara melakukan sesuatu atau tidak, seperti apa yang akan Yesus lakukan jika dia berada di posisi kita. Jika kita tidak melakukan seperti yang akan Dia lakukan, jangan-jangan kita tidak mengenal Yesus dengan baik sehingga tidak meneladani Yesus dalam kehidupan kita. Well, pada akhirnya memang kita harus mengenal Dia secara pribadi untuk bisa melakukan seperti yang Yesus lakukan.

"Bayangkan suatu hari Yesus bangun dari tidurnya dan menjalani hidup kita yang sekarang, adakah yang berbeda dari hidup kita?"

Demikian pertanyaan seorang Kakak saat membawa kami dalam perenungan pada persekutuan doa yang aku ikuti di UKM Kristen bertahun-tahun lalu.

Aku ingat kami merenungkan pertanyaan tersebut dan sharing, kira-kira bagaimana Yesus akan menjalani hidup kami. Aku membayangkan jika Yesus akan bangun pagi-pagi sekali, saat teduh, bersih-bersih rumah (Yesus gak mungkin males saat teduh lah ya, hihihi), lalu Ia akan menyiapkan sarapan, duduk sarapan bersama eyangku-mengobrol tentang banyak hal-mendengarkan eyang menceritakan tentang apapun, lalu Ia berangkat kuliah naik motor dengan santai tanpa ngebut sambil ngobrol dengan BapaNya atau bernyanyi-nyanyi - tersenyum melihat mereka yang ngebut. Yesus tidak akan telat tiba di kampus, Ia membantu kawan yang belum mengerjakan tugas - bukan memberi contekan, sesekali Ia bercanda dengan kawan-kawannya-tentunya bukan lelucon kotor yang dikeluarkannya, tidak pula gosip, tapi tanpa begitupun Ia mampu membuat orang lain tertawa, sense of humour Nya terbaik, dst. Yesus menjadi diriku dalam versi terbaik.

Membayangkan Yesus menjalani kehidupanku sangatlah menarik, membayangkan Dia berbicara, kuliah, ikut ujian, pelayanan, dll. Aktivitasnya kurang lebih apa yang aku lakukan TAPI minus DOSA pastiiii... plus hubungan mesra dengan Bapa Surgawi. Saat kita memberikan Yesus tempat istimewa dalam hati dan hidup kita, Dia akan melakukan berbagai hal dengan caraNya, dan PASTI, hidup kita akan berbeda. Aku yang sekarang (memiliki Yesus) akan berbeda dengan aku yang sebelumnya. Tentu saja, yang memimpin adalah Yesus di dalamku, biar Yesus saja yang semakin bertambah dan aku yang semakin berkurang. Kira-kira demikianlah seharusnya hidup kita saat kita telah menerimaNya sebagai Juruselamat kita. KehadiranNya nyata nampak dalam hidup kita. ”Tapi ini sulit, aku gak bisa Tuhan, jeritku dalam hati, kenapa Tuhan tidak membiarkanku seperti ini saja?”

“Tuhan mengasihi kita apa adanya, tetapi Dia tidak akan membiarkan kita seadanya. Dia akan mengubah kita menjadi seperti Kristus.” 
- Max Lucado
Beberapa waktu kemudian aku mendapat kesempatan membaca sebuah buku yang di dalamnya bertuliskan seperti ini : Bagaimana, kalau Yesus menjadi anda untuk satu hari? Max Lucado dalam bukunya ini, Just Like Jesus, mengatakan bahwa untuk menjadi serupa dengan Kristus harus dimulai dari memiliki hati seperti hati-Nya dan hal itu dimulai dengan pembentukan hati oleh Roh Kudus. Kita perlu belajar memiliki hati seperti hatiNya. Ia menjabarkan ciri hati Kristus yang harus dimiliki oleh umat-Nya, yaitu hati yang mengampuni, penuh belas kasihan, mau mendengar, hati yang haus akan Tuhan, haus beribadah, terfokus pada Allah, jujur, murni, penuh pengharapan, bersukacita, dan tabah. Berikut ini beberapa ciri hati Yesus yang harus kita miliki:


HATI YANG MENGAMPUNI

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
(Kolose 3:13)

Mengampuni memang sulit tapi Yesus melakukannya, mari kita pandang Yesus yang telah memberikan teladan pengampunan terlebih dahulu terhadap kita. Ingat malam dimana Dia membasuh semua kaki murid-muridNya? Yesus bukannya tidak tahu kalau di antara murid-muridnya akan mengkhianati dan menyangkalNya tapi nyatanya Dia tetap membasuh kaki mereka. Dia memberikan anugerahNya kepada mereka yang tidak pantas diampuni TERLEBIH DAHULU. Dia menawarkan kasih dan pengampunanNya tanpa diminta dan memberikannya cuma-cuma. Kupikir, apa yang kita alami tidak lebih menyakitkan dari yang Dia alami, tapi Dia tetap mengampuni yang menyakitiNya. Inilah yang harus kita teladani


HATI YANG MENDENGAR

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.” 
(Yakobus 1:22-23)

Yesus dalam khotbahNya berkali-kali mengatakan : Siapa bertelinga hendaklah Ia mendengar. Seperti yang Yesus mendengar BapaNya dan taat, kita sangat perlu dengar-dengaran dengan Firman dan kehendak Allah di hidup kita. Bagaimana cara mendengarkan Tuhan? Dimulai dengan Alkitab yang terbuka dan membiarkan Dia berbicara melalui firmanNya yang berisi kehendak dan isi hatiNya, seperti yang Yesus lakukan. Lalu, lakukan! Semudah sekaligus sesulit itu. 


HATI YANG JUJUR

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” 
(Efesus 4:25)

Pernahkah mendapati Yesus berdusta? Sepanjang hidupnya selama 33 tahun kehidupan Yesus di muka bumi, tak ada cerita tentang kebohonganNya sekalipun keadaan Yesus sangat mendesak. Bagaimana dengan kita? Terkadang kita menambah atau mengurangi kebenaran, berbohong demi kebaikan, berdusta untuk melindungi diri kita, dll, apapun itu namanya, tetap saja kita tidak jujur. Bahkan kita menyampaikan hanya setengah kebenaran dan berkata kita telah jujur. Kita perlu meneladani hati Yesus yang jujur, yang tidak ada dusta 


HATI YANG MURNI

“sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” 
(Markus 7:21-22)

Hati manusia dipenuhi dengan segala kejahatan, hal-hal terburuk yang ingin dilakukan. Berbeda dengan hati Yesus yang murni. Setiap hari hatiNya dimurnikan oleh firman Tuhan dan Ia menjaga hatiNya sungguh-sungguh supaya tidak ditumbuhi benih yang jahat. Mudah bagi Yesus untuk merasa sombong karena kuasa yang dimilikiNya, tetapi nyataNya Ia mengakui dan menyadari karya Allah di dalamNya dan memuliakan Allah. Yesus memilih apa yang ingin Dia rasakan dengan selektif sehingga tindakanNya juga selektif. Perbuatan dan perkataan kita adalah cermin dari hati kita.


HATI YANG PENUH PENGHARAPAN

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”
(Roma 12:12)

Yesus berkata bahwa segala sengsara yang harus dialamiNya telah dinubuatkan. Dia melihat tujuan dalam penderitaanNya sebagai pemenuhan rencana besar Allah. Dia tidak membiarkan diriNya mengasihani diriNya atau mengutuki keadaan. Dia tetap berharap pada BapaNya dan meminta namun dengan rendah hati menginginkan kehendak BapaNya yang terjadi karena Ia tahu rancangan Allah adalah yang terbaik.

Kita perlu berlatih agar memiliki hati seperti hatiNya. Allah ingin agar kita menempatkan Kristus sebagai TELADAN atas seluruh hidup kita (Roma 8:28-29). Dia mau kita menjadi serupa dengan gambaran anakNya, lewat segala sesuatu yang kita alami. Melalui pilihan-pilihan yang kita ambil, Dia ingin membentuk hati kita menjadi serupa dengan Kristus.

Sebelum melakukan sesuatu, kita perlu menanyakan pertanyaan penting ini:

Apakah ini membuatku makin SERUPA dengan Kristus?

Friday, September 28, 2018

Speak The Truth In Love


by Grace Suryani Halim

Gals, kali ini kita akan belajar bagaimana berbicara tentang kebenaran dengan kasih. Tokoh yang akan kita pelajari adalah Yitro, mertua Musa.

Setelah Musa dan bangsa Israel berada di padang gurun, Yitro datang mencari Musa bersama dengan istri dan anak-anaknya. Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari Yitro ketika dia memberikan nasihat kepada Musa—yang masih relevan sampai hari ini. 

1. Yitro melihat, mengamati dan bertanya dahulu. 
Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?"
(Keluaran 18:14 / TB)

Sering kali, kesalahan utama kita adalah kita langsung menyampaikan tanpa mengamati dan bertanya. Namun tidak dengan Yitro. Dia mengamati apa yang Musa lakukan seharian bagi Israel, setelah itu barulah dia bertanya kepada Musa, "Apa yang kau lakukan?"

2. Yitro mengedepankan kepentingan Musa
Tetapi mertua Musa menjawabnya: "Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.
(Keluaran 18:17-18 / TB)

Sebelum kita menyatakan kebenaran pada orang lain, ada baiknya kita menilik isi hati kita dengan jujur. Untuk kepentingan siapa kita mengatakan ini? Apakah benar untuk kepentingan lawan bicara kita? Atau jangan-jangan ada kepentingan kita juga di situ? Sebelum Yitro menyampaikan sarannya, ia mengungkapkan isi hatinya bahwa saran ini semata-mata untuk kebaikan dan kepentingan Musa. 

3. Yitro memberikan solusi dan action plan
Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah.
(Keluaran 18:19 / TB)

Yitro tidak hanya mengkritik, “Ini bagus”, “Ini ga bener”, “Ini ga baik”, tapi dia juga memberikan solusi. Ketika kita ingin menyampaikan sesuatu, ada baiknya kita berdoa dan hikmat Tuhan untuk tau apakah ada solusi yang bisa kita berikan. Di dunia ini sudah terlalu banyak orang yang pintar mengkritik, mencari masalah, dan—sayangnya—tidak banyak yang bisa memberikan solusi. Tapi di dalam Tuhan, kita bisa jadi anak-anak Terang yang menyatakan kebenaran dan membawa perubahan.

Selain solusi, Yitro juga memberikan action plan. 

Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. Di samping itu kau carilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; … Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya.
(Keluaran 18:19b-23 / TB)

Ketika membaca ayat-ayat di atas, saya rasa Yitro tidak memberikan usulan itu dengan spontan, tapi dia sudah memikirkan dan menggumulkannya. Karena itu, action plan yang diberikannya adalah sesuatu yang benar-benar berguna, bukan hanya asal ngomong. 


--**--


Yang sangat perlu kita lakukan sebelum berbicara dengan seseorang, kita perlu berdoa minta hikmat Tuhan supaya Tuhan sendiri yang memimpin percakapan kita. Sama seperti Yitro, yang menyerahkan hasilnya kepada Allah setelah menyampaikan semuanya. 

"Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu…"
(Keluaran 18:23a / TB)

Ini adalah sebuah klausal penutup dari nasihat panjang-lebar Yitro. Jika Allah memerintahkan hal itu kepadamu. Yitro tidak mengancam, “Kalau kamu tidak menaati nasihatku, celakalah dan terkutuklah kamu.” Tidak. Sebaliknya, dia malah meminta Musa juga bertanya kepada Allah, apakah sarannya itu adalah sesuai dengan kehendak Allah atau tidak.

Mari kita meneladani Yitro di dalam percakapan kita sehari-hari. Tidak cepat bicara, melainkan mengamati terlebih dahulu. Bertanya dan tidak membuat asumsi sendiri. Menjadi pemberi solusi dan bukan hanya tukang kritik dan setelah semuanya, menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan sendiri :)

Tuhan memberkati.

Friday, August 24, 2018

Trustworthy



by Lia Stoltzfus 

Bulan ini kita membahas tentang karakter trustworthy yang artinya “dapat dipercaya”, honest, dan truthful. Pasal yang muncul dalam hati saya adalah Mazmur 15. Banyak sekali yang kita bisa pelajari tentang trustworthiness dalam pasal ini. 
Mazmur Daud.
TUHAN, siapa yang boleh menumpang  dalam kemah-Mu?
Siapa yang boleh diam di gunung-Mu  yang kudus?
Yaitu dia yang berlaku tidak bercela,
yang melakukan apa yang adil
dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,
yang tidak berbuat jahat terhadap temannya
dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
yang memandang hina orang yang tersingkir,
tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN;
yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba
dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.
Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya. 
Trustworthiness sangat berkaitan dengan integritas, yaitu keselarasan hati, pikiran dan perbuatan. Dengan menjaga integritas (menjaga kebersihan hati nurani) kita akan menjadi orang yang dapat dipercaya/diandalkan. Berintegritas berarti we are true to God, to ourselves and to others. 

Kalau kita baca ayat-ayat di Mazmur 15, timbul pertanyaan, “Apa ada orang yang seperti itu? Apa saya bisa seperti itu?” 
  • Tidak bercela, melakukan apa yang adil, dan mengatakan kebenaran. 
  • Tidak menyebarkan fitnah, tidak berbuat jahat, dan tidak menimpakan cela pada orang lain. 
  • Tidak memandang hina orang lain dan berpegang pada sumpah walaupun rugi. 
  • Tidak memanfaatkan orang lain untuk mendapat keuntungan (meminjamkan uang dengan bunga atau menerima suap). 
Saya percaya bahwa kalau Tuhan memberi perintah, itu bukanlah perintah yang impossible untuk dijalani. Saya pun sebagai orang tua gak bakal kasih perintah ke anak saya untuk melakukan sesuatu yang saya tau pasti anak-anak saya are not capable to do it. Saya juga percaya yang Tuhan mau dari kita adalah hati yang bersedia taat dengan segera, bukan taat dengan sempurna. Tuhan tau kita manusia, masih daging, kita bisa jatuh, kita bisa buat salah, kita bisa ambil keputusan yang gak benar atau gak sesuai dengan firman. Tapi ketika kita diingatkan oleh hati nurani, atau ditegur oleh saudara seiman atau otoritas, apakah kita punya kerinduan untuk berubah dan membersihkan hati nurani kita? 

Yuk kita lihat bagaimana cara praktis belajar mempraktekkan hidup dalam integritas supaya kita bisa jadi orang yang trustworthy. 

1. Tidak bercela, melakukan apa yang adil, dan mengatakan kebenaran. 
Apa itu adil? 

Adil itu kira-kira seperti ini: saya bekerja pada jam kerja, memberikan kepada perusahaan apa yang jadi hak mereka, mengurus urusan kantor, mengutamakan pekerjaan saya daripada kepentingan pribadi, menunda kesenangan saya (chatting, main game, browsing resep makanan bayi, balas e-mail teman, belanja online, main medsos, dsb) dan memprioritaskan pekerjaan saya. 

Adil itu kalau saya memberikan disiplin yang sama pada anak, tidak memberikan perlakuan berbeda karena saya mungkin lebih dekat dengan si A daripada si B. 

Adil itu kalau saya memberi perlakukan dan kesempatan yang sama pada semua murid saya tanpa membeda-bedakan mereka. 

Apa itu mengatakan kebenaran? 

Menurut Matius 5:37, mengatakan kebenaran berarti jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak. Bukan hanya itu, tapi juga tidak berusaha menyembunyikan fakta atau hanya mengatakan half-truth. 

Susah gak untuk selalu bersikap adil dan mengatakan kebenaran? “Perintah-Nya itu tidak berat (1 Yohanes 5:3),” alias tidak susah. Ada amin? Tidak berat, kalau itu sudah jadi habit. Nah gimana kalo sebaliknya? Kita punya habit berbohong. Kelihatannya ini ‘bohong kecil’ yang gak berbahaya. Kita harus ingat lagi: salah satu bentuk integritas adalah not only being true to God and others, but also being true to yourself. 

Kadang kita suka ngga enakan kalau ditawari makan, lalu biasanya kita menolak dengan bilang, “Engga usah, terima kasih. Saya sudah kenyang, sudah makan tadi di rumah.” Padahal mah perut kruyuk-kruyuk kelaperan. Nah jangan pikir bohong yang model begitu ‘biasa aja’, ‘gak ngerugiin’. Ingat, integrity means wholeness, kesatuan hati, pikiran, dan perbuatan. Kita harus belajar untuk berkata yang benar. Kalau emang merasa sungkan untuk makan di rumah orang, bilang aja, “Ga apa-apa tante, nanti saya makan di rumah aja.” Jangan bilang, “Gak laper,” atau, “Sudah kenyang.” 

Gimana kalo sudah terlanjur ngomong sesuatu yang gak benar... Atau ngomong fakta yang berlebihan? Contohnya, kamu cerita ke teman kamu, “Si A bilang ke aku klo dia blablabla, bliblibli, blublublu...” padahal si A hanya bilang “blablabla dan bliblibli.” Pas kamu lagi ngomong, alarm di hati berbunyi, “Ehhh, itu tidak benar loh...” Saat itu juga, kita harus ralat, “Eh sorry, tadi aku ngomong berlebihan... Sebenernya si A gak ngomong blublublu sih.” Malu gak? Malu pastinya, tapi dengan belajar ngakuin kesalahan, dengan cepat meralat dan berkata yang benar, kita sedang belajar memelihara hati nurani kita bersih. Tanpa kita bersedia meralat, kebiasaan buruk menambah-nambahkan sesuatu/ berkata berlebihan tidak akan hilang. Kita harus belajar memperkatakan kebenaran. 

2. Tidak menyebarkan fitnah, tidak berbuat jahat, dan tidak menimpakan cela pada orang lain. 
Ini artinya kita tidak melakukan sesuatu yang jahat terhadap orang lain. Amsal berkata, “Memikirkan kebodohan (Amsal 24:9) dan merencanakan kejahatan (Amsal 24:8) mendatangkan dosa.” Ayo siapa yang sering kayak gini? “Awas yah kamu, WA ku gak dibalas, nanti giliran kamu nyari aku, aku juga diem aja no respond!” “Oh, jadi kamu begitu. Oke, saya juga bisa lebih sadis dari itu!” Hal seperti ini harus dibuang, meski baru timbul dalam pikiran. Berdoalah, berseru kepada Tuhan, “Tuhan, ampuni saya. Saya terluka dengan perkataannya dan saya jadi banyak mikir yang jelek dan mikir gimana caranya balas dendam. Tuhan, tolong saya... Pulihkan hati saya supaya saya gak berbuat jahat dengan merencanakan sesuatu yang Tuhan tidak berkenan.” Ini namanya orang benar. Bisa aja sepersekian detik dia salah; bisa aja dia ambil keputusan gak benar; tapi pas sadar atau ditegur, dia mau rendah hati dan bertobat. 

3. Tidak memandang hina orang lain dan berpegang pada sumpah walaupun rugi. 
Memandang hina artinya meremehkan dan menganggap orang lain tidak/kurang berharga. Akarnya adalah kesombongan, menganggap diri lebih baik dari orang lain, sehingga orang lain harus ikut keinginan saya, dengerin pendapat saya, dan hormati saya. Orang seperti ini tidak bisa tinggal dan diam di gunung kudus Tuhan karena sikap hatinya yang angkuh. Yuk sama-sama bertobat kalau keangkuhan ini masih ada dalam hati kita. 

Memegang janji walaupun rugi maksudnya menjadi orang yang bisa dipercaya: sekali berjanji pasti akan menepati sekalipun untuk menepatinya orang tersebut harus kehilangan banyak hal/menderita kerugian. Komitmen untuk setia pada janji sangat besar dampaknya. Orang akan kenal kamu sebagai seorang yang setia, yang dapat diandalkan, yang dapat dipercaya. Sekali kamu ngomong, “Ya, saya akan lakukan,” kamu berkomitmen untk mengerahkan segala daya melakukan apa yang telah kamu janjikan. Misalnya dalam dunia usaha. Setelah deal harga, ternyata ada salah hitung biaya produksi; sehingga ketika dihitung ulang, ternyata tidak membawa keuntungan. Kesalahan ada di pihak penjual; tapi waktu itu kita sudah deal dengan pembeli, termasuk masalah harga. Orang yang trustworthy akan berpegang pada janji, dia akan mengerjakan hal tersebut sesuai dengan kesepakatan, bukan dengan sungut-sungut dan terpaksa tapi karena menyadari bahwa ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia sepakati. 

4. Tidak memanfaatkan orang lain untuk mendapat keuntungan pribadi. 
Tidak berusaha ambil untung dari orang lain ini bukan masalah jualan/dagang ya. Tentunya kalau kita berdagang, kita mau mendapat keuntungan sewajarnya. Mengambil untung dari orang lain yang dibicarakan di sini artinya terus berpikir, “Apa nih, yang saya bisa dapat dari kamu?” Bisa juga mengambil untung dari kesusahan/penderitaan orang lain. Misalnya ada orang yang sangat butuh uang, dan kamu bersedia meminjamkan dengan bunga yang tinggi. Nah, ini tidak boleh. Demikian pula dengan menerima suap. Mulai dari hal yang kecil, misal orang minta tolong kepada kita, “Tolong dibantu [sesuatu yang tidak jujur] deh, nanti gue traktir lu makanan.” 

Ini semua dekat dengan hidup kita sehari-hari, dan kita perlu sungguh-sungguh menjaga diri supaya menjadi orang yang trustworthy. Trust takes years to earn, but only a few seconds to lose. Mari kita belajar membangun karakter ini dengan terus menjaga integritas hidup kita. Apa yang kita katakan, itu pula yang kita lakukan. Apa yang kita ajarkan, itu pula yang kita perbuat. Menghidupi apa yang kita kotbahkan, dan mengkotbahkan apa yang kita hidupi. Your faithfulness in small things matters to God; those very things are the ones that make a difference. 

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. 
Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."
(Lukas 6:10)

Monday, August 13, 2018

Selingkuh, Saya?!? Ga Mungkin Lah Ya...


by Grace Suryani Halim

Dulu sebelum saya married, kalau denger kata selingkuh pikiran pertama saya adalah, "Ah gue mah ga mungkin... Ga bakal lah suka sama cowok lain kalau sudah menikah! Janji suci!" Setelah menikah, heemmm ternyata tidak segampang yang saya pikirkan. 

Menikah ternyata tidak membuat cowok-cowok ganteng di luar sana berubah menjadi buruk rupa. Menikah juga tidak otomatis membuat cowok-cowok di luar sana jadi tidak menarik lagi. Cilakanya, kadang yang terjadi justru sebaliknya. Karena setiap hari bertemu dengan suami kita di rumah yang 4L (Loe Lagi Loe Lagi), bisa membuat kita menjadi kebal terhadap kelebihan suami kita. Suami sayang istri, sudah seharusnya loh. Suami bekerja keras, yah memang sudah kodratnya! Kelebihan suami kita anggap sudah sewajarnya/seharusnya/semestinya, kekurangan suami kita highlight, bold, italic dan diperbesar! Alhasil, suami kita jadi keliatan tidak semenarik cowok-cowok di luar sana. 

Lalu bagaimana? Bagaimana kita sebagai para istri yang takut akan Tuhan menyikapi hal ini? 
1. Pencobaan-Pencobaan Biasa 
Ketika kita mendapati diri kita tertarik/kagum pada orang lain yang bukan pasangan kita, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah tetap tenang. Itu pencobaan BIASA. Maksudnya?!?!!?! Tertarik sama cowok lain kok bisa pencobaan biasa?!?!!? 

Well, ketika ada istri-istri yang curhat kepada saya soal ini, biasanya banyak yang shock, kaget dan berpikir, "Kok bisa-bisanya gue begini!??!!?" Sekalipun rasa shock itu wajar tapi terus menerus terkaget-kaget/menyalahkan diri itu sama sekali tidak bermanfaat. 

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
(1 Kor 10:13)

Rasul Paulus mengatakan, kunci pertama untuk menang dari pencobaan adalah sadar, bahwa pencobaan yang kita alami itu pencobaan yang biasa! Artinya biasa di sini adalah, tidak melebihi kekuatan manusia, kamu bukan satu-satunya orang yang pernah mengalami ini dan Tuhan akan memberikan jalan keluar kepadamu! 

Dalam pencobaan ini, percayalah gals, you're not alone. Ada banyak istri-istri yang takut akan Tuhan, aktif pelayanan, cinta Tuhan yang juga pernah mengalami tertarik dengan pria lain. Awalnya saya ga percaya. Tapi ternyata... Ga sedikit memang. Bener banget yang Tuhan Yesus katakan bahwa kita harus berdoa dan berjaga-jaga karena daging kita itu lemah. 

Ketika kita terus-menerus berkubang dalam perasaan shock, kaget, tak percaya, kok bisa-bisanya gue begini!??! Kita justru memberi peluang kepada iblis untuk terus menerus 'mengipasi' kita. 

2. Jangan sombong 
Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!
(1 Korintus 10:12)

Kesombongan adalah langkah pertama menuju kebinasaan. Pikiran yang sombong akan menuju kekalahan.
(Amsal 16:18)

Ketika kita merasa ada perasaan-perasaan yang tidak sewajarnya terhadap orang lain, maka lebih baik kita mengakuinya. Jangan sekali-sekali berpikir, "Ah gue mah ga mungkin selingkuh!!! Kita ga ada apa-apa kok!!" Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa kita harus berhati-hati dengan kesombongan. Jangan mengira bahwa kita teguh berdiri, pasti selalu setia, tidak mungkin bisa digoda, tidak bakal jatuh ke dalam perzinahan. Hati-hati... Iblis itu ga cuman duduk nongkrong tunggu bola. TIDAK! Iblis itu BERJALAN BERKELILING seperti singa yang mengaum mencari orang yang dapat ditelannya (1 Pet 5:8).

Lalu apa yang harus kita lakukan? 

Martin Luther pernah mengatakan, "Kita tidak bisa mencegah burung terbang di atas kepala kita, tapi kita bisa mencegah burung membuat sarang di atas kepala kita." 

Rasa kagum mungkin bisa datang dengan tiba-tiba, sama seperti burung yang terbang di atas kepala kita. Susah ditebak. Tapi sebenarnya tidak penting untuk tahu burung itu asalnya dari mana. Yang lebih penting adalah mencegah burung itu (rasa kagum) membuat sarang di atas kepala dan hati kita. Artinya, kita bisa dan harus mencegah perasaan kagum/tertarik itu untuk membuat 'sarang' dan berkuasa di atas hati kita. 

3. Allah Setia 
Ingatlah selalu bahwa Allah itu setia! Dia menunjukkan kasih setia-Nya dengan memberikan jalan keluar sehingga kita bisa menanggungnya. Artinya dalam setiap pencobaan, Tuhan sudah dan pasti menyediakan jalan keluar. Namun masalahnya kadang, kita ga mau ambil jalan keluar yang Tuhan sediakan. Ketika Roh Kudus memberikan hint-hint dengan perasaan ga enak, ga sreg, ga nyaman, kita berusaha membenarkan perbuatan kita dengan alasan, "Ah, cuman begini doank", "Ah ga bakal ada apa-apa", "Kita kan harus menolong orang yang lagi dalam kesusahan", "Kasian dia, ga ada yang dengerin. Kalau sehabis curhat, gue suka doain dia kok." 

Gals, jika Roh Kudus memberi hint-hint, taatlah. Itu jalan keluar yang Allah sediakan. 

Beberapa tips yang mungkin bisa dilakukan:
1. Cerita dengan Pasangan
Ketika saya mendapati diri saya merasa kagum dengan laki-laki lain selain suami saya, maka hal pertama yang saya lakukan setelah berdoa adalah cerita dengan suami saya. Cerita apa? Yah jujur terus terang mengatakan kalau saya kok merasa kagum dengan si blablabla. Kebiasaan saya memang setelah menikah jika ada laki-laki yang curhat soal pribadi, pasti saya cerita ke suami. Nah kalau saya merasa kagum dengan seseorang, maka ketika saya ketemu dengan orang itu, pulangnya saya pasti cerita dengan detail. Ketemu di mana, ngobrol apa saja. Suami saya sih ketawa-ketawa saja. Tapi bagi saya, itu menjadi semacem pagar. Jadi saya memperhatikan betul apa yang saya obrolkan dengan orang itu, karena saya tau sehabis ini saya akan cerita semua sama suami saya. Satu hal yang biasanya selalu saya katakan kepada suami saya adalah, "Saya bisa ga cerita ini sama kamu. Tapi saya memilih untuk cerita karena saya tidak ingin buka celah dalam pernikahan kita." 

Sebelum bercerita kepada suami, ada baiknya kita berdoa terlebih dahulu. Minta hikmat dari Tuhan dan tanya kepada Tuhan kapan harus cerita. Minta juga supaya Tuhan yang menyiapkan hati suami kita dan menjaga emosinya. 

2. Evaluasi dan Doakan Hubungan Pernikahan Anda 
Biasanya, perasaan kagum terhadap orang lain muncul ketika kualitas pernikahan kita sedang kurang baik. Entah karena sama-sama sibuk, atau suami sering tugas keluar kota, atau mungkin ada masalah yang belum terselesaikan. Karena itu, penting juga untuk berhenti sejenak dan berbicara dengan pasangan kita mengenai pernikahan kita. 

Selain itu haruslah kita mendoakan pernikahan kita. Doakan supaya hubungan kita dan suami semakin mesra, semakin saling mengerti, saling percaya, dapat bekerja sama dengan baik. 

3. Ingat Kelebihan-Kelebihan Suami
Tulis dan sengaja ingat-ingat kelebihan suami kita. Lalu puji suami kita atas kelebihan-kelebihannya. Ketika tiba-tiba teringat akan kebaikkan/kelebihan laki-laki lain, langsung ingat bahkan ucapkan kelebihan suami kita. 

4. Lakukan Hal yang Tuhan Perintahkan untuk Dilakukan
Dan yang terakhir, jika kita merasa Tuhan meminta kita untuk melakukan sesuatu, sekalipun itu mungkin keliatan drastis (tidak membalas sms/message, block orang tersebut dari FB/Whatsapp, bahkan ada seorang teman saya yang sampai memutuskan untuk pindah tempat kerja). Ketika kita mengambil langkah drastis, mungkin akan ada suara-suara sumbang yang berkata, "Ih ga perlu lah sampe segitunya," tapi jika memang itu yang Tuhan minta anda lakukan, TAATLAH. Karena di mata Tuhan, pernikahan adalah gambaran hubungan Yesus dengan gereja-Nya. Ketika Yesus berjuang untuk mempelai-Nya, Gereja, Ia juga mengambil langkah yang drastis, turun ke dunia sebagai bayi dan mati di kayu salib.

Hubungan suami istri, selalu layak untuk diperjuangkan. Selamat berjuang.

Sunday, April 1, 2018

Ketika Aku Bertemu Salib


by Nelly Hendrianto 

Ditulis di Majalah Pearl #09 “When I Met The Cross” 

Gue udah terlibat pornografi dan masturbasi sejak kelas 3 SD. Ga inget gimana mulainya tapi yg keinget cuma gue ngelakuinnya dengan sembunyi2 dan gue terus ngelakuinnya sampe gede. 

Saat gue berumur 21, gue pacaran ama cowo pertama gue. Pertama2, anaknya lembut dan baik. Tapi lama kelamaan, mulai keliatan sifat buruknya yg suka marah2. And memasuki beberapa minggu pacaran, dia minta2 terus keperawanan gue buat hadiah ultahnya. Gue nolak donk. Tapi dia terus mendesak, dengan pernyataan ‘klise’.

“kalo kamu cinta sama aku, kamu kasih donk keperawanan itu buat aku” 

So akhirnya gue luluh juga. Dikasih deh. From that day, dia suka minta2. Kalo ga dikasih, dia marah2. Beberapa kali dia marah sama gue karena beberapa hal sepele. Btw, dia orangnya posesif buanget. Mao ngapa2in harus disebelah dia, saat itu kita emang tinggal serumah sih. (We lived in Sydney, ceritanya sih gue sekolah dan cowo ini kerja. But truth is gue uda dikeluarin dari skolah, tanpa my parents tau.) And I served him for sex, hati gue sebenernya udah mati buat dia. Tapi karena takut aja, gue stayed. 

Dan kalo marah dia mulai maen fisik. Gue didorong2 ke tembok dll. Puppy dog gue yg baru umur 9 bulan, ama dia dipukul dan akhirnya mati di pangkuan gue just becoz he was jealous, karena gue sepertinya lebih sayang ama doggie gue itu. Klimaksnya, suatu hari, dia tampar gue sampe terlempar ke ranjang. Then pegang leher gue, kayak mo cekik, sambil teriak2 kayak orgil. At that very moment gue tau, gue ga mungkin bisa hidup sama orang ini lagi. So to cut the story short, gue lari dari rumah. Dan temen2 gue bantuin gue kabur dari dia. For first few months, gue masih diteror, ditelponin, diancem. Temen2 gue juga diancem. Tapi tong kosong berbunyi nyaring lah ya. Akhirnya dia berhenti neror gue saat dia udah dapet cewe baru. 

Since that moment, hidup gue went downhill. Gue suka bgt clubbing. Dan disana gue ketemu banyak temen2 ga jelas, dan kita idup bebas. Rokok, alcohol, ngobat dll. Hampir setiap minggu, diabisin di clubbing sampe subuh. Kadang2 mabok2an rame2 dirumah temen sampe gue pingsan. Banyak cowo2 ajak kenalan dll. Sampe akhirnya gue terlibat free sex, punya sexual partners/TTM. Dan during these times, gue mulai serius mikirin bunuh diri. Coz I didn’t see the point of living anymore. Gue ngerasa ga ada yg sayang sama gue. Cowo2 mau gue cuma buat sex aja, ga mau lebih. Parents gue juga ga jelas, gue came from a broken family. Punya mereka apa gak, sama aja buat gue. Jadi gue mulai siap2in hal2 yg perlu disiapin buat bunuh diri yg sukses. 

Sampai suatu saat, gue dikenalin sama satu cowo. Dan kita deket, gue jadi suka sama dia. Dia keliatan anak baik dan care sama gue. Kita jadi sering chatting, and ga tau knapa gue jadi cerita tentang rencana bunuh diri gue sama dia. Dia kaget donk, dan berusaha talk to me and stuff. So akhirnya gara2 dia, rencana bunuh diri gue tertunda. I felt dia bener2 care dan sayang sama gue. Kita jadi deket bgt dan lama kelamaan kita terlibat free sex. 

Tapi dia bilang sama gue, kalo dia ga bisa jalanin relationship ama gue karena dia baru putus sama cewenya. Dia masih trauma ama relationship katanya. Gue ok-ok aja, jadi kita jadi TTM with sexual relationship. 

Gue pikir gue ok2 aja dengan hubungan seperti itu. Tapi ternyata hati gue sakit juga. Kalau kita jalan diluar bareng temen2nya, dia ga pernah gandeng tangan gue. Ga pernah show that dia sayang gue. Padahal kalo kita berduaan, dia selalu sayang2 gue. So his friends only knew that I was his sex partner. Itu menyakitkan karena gue bener2 dah sayang bgt sama dia, but I couldn’t bring myself to end this. 

Mulai saat itu, gue mulai cut myself with knife, bukan buat bunuh diri. Tapi buat pelepasan rasa sakit di dada. Menurut gue, rasa sakit di tangan gue ga sesakit apa yg gue rasain di dada. There was one day, gue cut my both hands badly, trus gue kerumahnya dan kasih liat dia. Dia ketakutan, and I think that was the time dia mulai sadar bahwa dia in a bad situation, being involved with me. Gue pernah diem2 baca2 chat history dia sama temennya. Dia bilang dia nyesel terlibat sama gue, he had no idea that he would be in this kind of mess. 

Yah hati gue smakin hancur. The one I thought really cared for me, actually didn’t care at all. 

Gue akhirnya ke dokter, minta obat penenang, supaya gue ga depresi lagi. I thought it was hormonal imbalance. Tapi it didn’t help. Ada satu hari, gue kalap, dan gores2 tangan gue lagi. And karena gue ga tahan, gue nangis2 dan telpon bokap gue. Selama 5 taon gue di Sydney, gue ga pernah telpon bokap skalipun. Apalagi nangis2. Bokap gue kaget banget donk. Dia nanya2 terus knapa, and gue ga bisa jawab, gue cuma minta dia dateng ke Sydney secepetnya. And before kita tutup telpon, bokap bilang gini, 

“Please don’t do anything silly, tunggu papa kesana ya.” 

Nah after that, gue cerita ama ‘cowo gue’. And he was glad that I finally talked with my dad. Tapi lama2 gue ngerasa hubungan gue ama cowo itu smakin jauh. Hubungan smakin ga jelas. Sampe satu hari, gue muak ama semuanya. Gue kurung diri gue dikamar, gue minum2 sampe mabok and gores2 tangan gue pake pisau. Dan gue panggil ini cowo di chatting. Dia jawab, and I told him that I was drunk and almost jumped from the balcony. Before chatting ama dia, gue emang ke balkoni kamar gue yg ada dilantai 8. Sambil mabok dan gue liat2 bawah. Pas liat bawah, kok kayaknya kalo gue loncat, smuanya akan berakhir dan seperti ada suara, gue akan lepas bebas setelah ini. Jadi, gue angkat kaki gue satu, udah over the railing, kaki satunya udah di udara and tinggal loncat aja sih. But just a split second before I jump, tiba2 gue keinget janji gue ama bokap gue. Yg dia bilang “don’t do anything silly”. Gara2 keinget itu, gue ga jadi loncat. Dan setelah gue kenal Tuhan, gue yakin banget itu campur tangan Tuhan. Kok bisa pas2nya pikiran itu lewat at that very second disaat gue udah mo loncat! 

So I went inside my room dan sambil mabok, gue chat ama itu cowo. After gue bilang gue ampir loncat dari balcony, eh dianya offline. Bete donk gue. Gue smakin sakit ati, gue smakin nangis2 kayak orgil. Trus gue akhirnya ketiduran coz gue teler. Ga gitu lama tiba2 temen gue gedor kamar gue. Padahal ga ada orang dirumah, dan rumah gue kunci. Somehow temen gue berhasil dapet kunci rumah gue dari temen lain. So temen gue ini masuk and nanya, knapa gue. And she actually heard me crying padahal jarak pintu rumah dan kamar gue itu juaauhhh. Tapi kok bisa dia denger gue nangis. And kok bisa dia pas banget mo ke rumah gue, padahal ga ada janji. Karena dia denger tangisan gue and gue ga bisa ditelpon2, dia berusaha cari kunci rumah gue supaya bisa masuk. And akhirnya temen2 gue pada tau apa yg terjadi dan mereka jagain balkoni and sembunyiin pisau2 gue. I’m really thankful for them at that time. I believe Tuhan used them, meskipun gue masih ga kenal ama Tuhan saat itu. And ‘cowo gue’ itu juga dateng. Dia langsung lari ke rumah gue pas gue bilang di chat gue ampir loncat dari balkoni itu. Dan salah satu temen gue, sebut aja D. She was the only Christian friend yg gue allowed to be close to me. Soalnya gue benci bgt ama yg namanya orang kristen. Bagi gue, mereka munafik. Jadi cuma si D aja yg deket ama gue. Becoz dia accept me for whoever I was, ga pernah nge-judge gue, ga pernah berusaha nginjilin gue, but she just accepted me without trying to change me. On that night, gue cuma inget dia bilang begini sama gue, 

“gue punya Tuhan, gue punya cowo, tapi my life is not perfect. Gue juga struggle with life...” 

Which is to me sangat2 mengejutkan, karena gue liat dia itu strong person. Ternyata dia juga ada struggle. Jadi mulai malam itu, gue bangkit. Gue bilang ke diri gue sendiri,”if she can do it, why can’t I?” 

So for the next few months, gue bangkit dan mulai menata hidup gue kembali. Hubungan ama cowo itu smakin jauh. Dan gue kembali sekolah. Tapi kehidupan clubbing gue masih on. Masih hura2 sama temen2 kehidupan malem. Tapi hati gue masih terasa kosong. There was one night at my place, gue ama temen2 nyimeng/ganja. Gue kagak tau kalo ganja yg gue isep itu pure, ga pake campuran apa2. Abis isep, badan gue gemeteran. Gue ga bisa jalan ke kamar gue, jadi gue ngerangkak pelan2. Pas diranjang, bibir gue ga bisa berhenti gemeteran. Gue takut, gue kirain gue mao mati. And gue ga mao mati. Funny, isn’t it? For the past few years gue udah rencanain gue mo bunuh diri, pingin mati dll. But disaat gue diujung kematian, gue malah takut and ga pingin mati. 

Gue bener2 ga bisa stopped shaking. And this was the first time gue cried out inside and called God. I shouted in my heart, “God!! Help!!” And gue pingsan deh hehe. Dan pas bangun, ternyata gue masih hidup! Haleluyah! Hehe. Tapi ya abis gitu lupa lagi ama yg namanya Tuhan. 

But I believe saat itu He heard my cry and He knew that I was almost ready to open up my heart for Him. So He pursued me more and more. 

So, gue moved on. Skolah, kerja, clubbing for another two years. I didn’t let any guy get close to me karena gue udah males dengan urusan2 gituan. I faced life with my own strength. Sampe akhirnya di dalem hati sebenernya gue kerasa cape. 

Temen gue tadi, si D, dia selalu ajakin gue komsel dirumahnya, or ikut acara2 gerejanya. Tapi acara2 yg fun gitu. Kayak Valentine Cruise or Costume Party. Karena ada dance partynya, ya gue ikut. Kalo komsel, gue cuma ikut pas makan2nya, then abis gitu gue pulang hehe. Tapi karena sering diajakin ke acara2 fun mereka, gue jadi kenal ama temen2 gereja D. And mereka anaknya fun2 smua. Ga pernah menghakimi atau berusaha merubah gue. 

Satu hari, gue maen ke rumah salah satu leader mereka. Iseng2 gue liat rak buku, karena gue suka bgt baca buku. Eh ternyata disono isinya buku Kristen semua. Males juga ngeliatnya, tapi ada satu buku yg menarik. Judulnya, “I Kissed Dating Goodbye”. Wah kok pas bgt nih, gue kan penasaran. Ya gue pinjem. 

Saat baca bukunya, ada satu chapter dimana Joshua Harris (the author) dapet mimpi atau penglihatan. Dia masuk ke sebuah ruangan besar penuh dengan filing cabinets. Dia buka salah satunya, dia keluarin files2 yg ada didalem. And dia kaget, ternyata files2 itu isinya dosa2 dia semua. Joshua ini kristen, udah pelayanan dll, tapi punya double life. He was involved in pornography etc. Pas dia baca files itu, dia malu banget, apalagi di setiap lembar kertasnya ditanda tangani with his name. 

So he said to himself, jgn sampe ada orang yang liat files ini, so he tried to burn it, but ga bisa. Tiba2 ada seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata orang itu Yesus. He took one of the files and read it. Joshua rebut and tried to prevent Him from reading, tapi Jesus tetep baca without saying a word. Then u know what He did?!?!? He crossed all Joshua’s names from the papers and signed every paper with His own name! Using His Blood! 

Wah gue pas baca itu langsung banjirrrrr nangisss ngejerrrr. Siapa nih orang yg mao ambil my sins as His own??? Padahal Dia kan ga kenal gue and gue ga kenal Dia!! And mao2nya take my own sins as His!! Wah pokoknya gue nangis sejadi2nya saat itu. Becoz of a man called Jesus. I never knew a man who can do all that for me! At that moment I felt, I finally found someone that understand me, understand my heart. 

Wah pokoke indiscribableeeee! 

Dan mulai hari itu, gue jadi tertarik sama yg namanya Jesus. 

Who is He? 

What is He like? 

Why He did that for me? 

So gue mau ikut D ke gerejanya to find out more about Him. Gue teratur ke gereja setiap minggu dan sering baca2 buku Kristen. Dan smakin gue found out more about Jesus, smakin gue amazed with Him and akhirnya gue jatuh cinta sama Dia deh.

He was everything that I was looking for in a man. I felt loved, treasured, pursued, cherised. No man had done that for me. 

Slowly He healed me. Dari kepaitan sama cowo, pornografi, masturbasi. Gue stopped clubbing, rokok, minum2 dll. Gue udah ga merasa tertarik or excited dengan hal2 itu. When I tasted the goodness of Him, other tastes are pale in comparison. Saat gue merasakan betapa cintanya Dia ama gue, betapa sayangnya Dia ama gue, betapa berharganya gue di mata Dia, kepuasan2 dunia jadi ga sebanding and ga menarik sama skali. Karena gue udah dipuasin with Him alone. In His Presence, gue ga ngerasa empty or lonely anymore. 

And He makes me feel so SPECIAL!! 

Tuhan bener2 memulihkan gue sampe gue udah ga ada issue lagi with my past. Gue udah dapet strong conviction/keyakinan yg kuat kalo Dia udah bersihin all my sins. Gue udah diputihkan lagi seperti salju. It took years for me to come to that point. Tapi gue ga boleh give up. Dulu, there were times when gue masuk ke self pity lagi. But God again and again reminded me that I am a new creation in Him. Bahkan Tuhan taruh desire in my heart to testify, to let the world knows, that God’s restoration is so real. Sampe gue come to the point that YES, I’M NEW CREATION! Let no doubt or whatsoever entered my mind again! 

Dan slama ini gue tanya hidup gue ini buat apa sih. Apa purpose of me living in this world? Buat apa gue diciptain? Tuhan pelan2 bukain and pimpin gue to my calling. Gue skarang smakin tau calling gue apa. Dan saat gue fokus dan mengejar calling itu, tiba2 Tuhan mempertemukan gue dengan The One from Him. Alias cowo lah hehe. Yup, proses pertemuannya dan sampe merit pun luar biasa Tuhan yg orchestrate. 

Saat itu gue udah ga kepikiran untuk relationship. I’m so content with just me and God. I enjoy my singleness, gue bener2 concentrate in finding about Him more. Pelayanan dll. (Oh ya, gue udah pindah ke Singapore saat ini) Tiba2 mentor gue bilang ke gue, 

“wah Tuhan lagi mempercantik kamu luar dalam ya??? Bentar lagi pangeranmu pasti dateng. Dan dia akan lebih dari apa yg kamu pikirkan dan bayangkan!” 

Whoah, gue digituin ya mesem2 aja lah. Biasa2 aja sebenernya karena gue ga pikirin soal relationship. Tapi ternyata bener! Kira2 sebulan kemudian, my future husband beneran dateng ke gereja kita, fulltimer pelayanan lagi hauEHuAHEAE. And he is indeed more than I can imagine. Yah intinya gue pertama kali jatuh cinta ama hatinya dia buat Tuhan hehe. 

Dia sempet ke pergi ke Malaysia for mission work buat beberapa tahun, dan saat gue chase my calling in mission. Tiba2 Tuhan pertemukan lagi sama dia. And setelah melalui banyak proses doa, air mata dan darah *lebay* selama 3 taon, akhirnya kita menikah 2 taon lalu dan skarang dah punya a little boy. A handsome and macho little boy. 

I know there are a lot of you yg punya masa lalu yg jelek seperti gue. Cewe2 yg involved with free sex, or even udah ga virgin karena beberapa alasan. Don’t lose heart. Tuhan itu adalah Tuhan yg penuh grace and restoration. Gue adalah salah satu bukti dari His full restoration. Saat gue bertobat dan berbalik dari dosa2 gue, Tuhan ampuni dan Dia ga pernah ungkit2 masa lalu gue lagi. Kecuali kalo buat kesaksian aja hehe. Karena Dia udah taruh in my heart, my life testimony is to open up so many secrets out there. Yg Iblis tutup2in. Yg Iblis bilang, kamu ga bakalan bisa punya pernikahan yg kudus nantinya, godly husband, godly marriage. He can only lie, ladies!!! The truth is kemurahan Tuhan itu cukup untuk smua dosa-dosamu. Emang kita bayar harga of our past sins. Emang menyakitkan melewati proses pembersihan Tuhan. You know a story of a pearl kan ya? (cocok nih ama judul majalahnya wkwk). Pearl kan aslinya kotor, penuh kotoran2 ga jelas. Harus dipoles, dikikis, sampe bener2 keliatan sinarnya. 

Sama kayak kita. Kita yg aslinya kotor, Tuhan terima apa adanya. Tapi Dia ga akan biarin kamu kayak gitu aja. Dia akan poles, akan kikis smua kotoran yang ada di dalammu. Sakit emang, but it is NECESSARY. Karena Dia udah liat hargamu yg sebenernya. Dia tau your true value. Tapi karena sudah ditutupin kotoran, kamu atau orang lain ga bisa liat itu. Only He can. So you have to let Him work kikis2 sana sini hehe. Emang kadang2 kita complain kalo diproses Tuhan. Believe me, gue diproses luar biasa sakitnya ama Tuhan karena Dia tau gue banyak kotoran di dalam, tapi at the end, it is all worth it! 

Gimana gue bisa come to this point? Lepas dari masa lalu, being restored, sampe merit ama godly man yg dari Tuhan and dikaruniai Aiden, our macho little man.

Bener2 jatuh cinta ama Jesus. Ngerasain betapa Dia sayaaaaanggg bgt ama gue. Sampe gue bener2 content and satisfied in Him alone. Gue ga perlu cari2 kasih sayang or approval from other people, especially man. Karena ga ada cowo yg bisa segagah and semacho my Jesus yg love me sampe segitunyaaaaa gitu loooohh. He is my Knight in shining armour. Rescued me again and again. Pursued me sampe gue klepek2 hehe. 

Dipenuhi Roh Kudus setiap hari. Lama2 gue ngerasa jijik ama dosa, and Roh Kudus beri kemampuan untuk lepasin dosa-dosa pornografi dan masturbasi. 

Ambil keputusan untuk tidak jatuh dalam self pity. Never entertain!!! Skali pikiran self pity keluar, langsung teking jauh2. Encounter/perangi dengan Firman Tuhan. Saat self pity bilang, “ah kamu mah udah rusak, ga virgin, emang ada gitu cowo yg mao sama kamu?” Tendang tuh Iblis jauh2 dengan Firman Tuhan yg bilang, “Tuhan sudah membersihkan aku seperti salju, tidak bercela. Urusan cowo mao ga ama gue, Tuhan pasti mempunyai a great wonderful plan for me. Until that day comes, I will pursue my God, my lover and I will pursue Him until I know that He is enough for me. Ga peduli mao ada cowo or not in my life.” Wkwkw. Emang harus begitu. I will ask you a question. Gimana kalo ternyata Tuhan emang mau kamu single slama2nya, just being with Him alone? Apakah itu menyakitkan? Until you say YES LORD, it doesn’t matter anymore if there is a guy for me or not! And you said that bukan karena kepaitan sama cowo, tapi you are truly satisfied with His love. Maksud gue, your heart will have to be truly fulfilled by Him, otherwise nanti kalo kamu jalan lagi sama cowo, bisa jatuh ke dosa yg sama karena kalian bisa compromise since you love each other. Tapi kalo cintamu ke Tuhan lebih kuat, you can stand firm, dan ga mau deket2 dosa because you don’t want to hurt His feeling. 

Say enough is ENOUGH! No more compromise, no more ‘ya udah lah ga papa, skali ini aja’. 

Do whatever it takes to take you away from that sin. Misalnya, kamu sama cowo mu jatuh dalam sex. Mbok ya jangan berduaan dikamar. Udah tau pasti ada godaan2 dan listrik2 yg mematikan. Jgn ada kesempatan untuk berduaan ditempet sepi dll. 

Hiduplah di komunitas iman yang kuat. Yang bisa membangun dan menguatkan kamu untuk terus maju. But you can’t always depend on people. Jangan sebentar2 cari orang buat dicurhatin. Abis terima advice, jadi lega. Tapi biasanya itu ga tahan lama karena kamu jadi terbiasa cari orang2 buat dicurhatin. Larilah ke Tuhan terlebih dahulu. Let Him deal with you alone. Tuhan saat itu bawa gue ke dalam moment2 sendiri yg sangat sepi. Ga punya temen etc etc karena gue pindah ke Singapore kan. But at that moment, gue tau gue deal sama Tuhan alone. Gue ga bisa cari sapa2 buat curhat, only He was there for me. Disitulah gue dipenuhi ama Dia, sampe gue dapet that He is enough for me. But selain itu, a mentor is also important. Someone to guide you and correct u. Harus sesama jenis ya. :) Ampuni diri sendiri, your past, your ex, your bf, or siapa aja yg sudah pernah merusak dirimu. When you forgive, ada kuasa restorasi dari Tuhan turun ke hatimu. Confess your sins to your spiritual leaders. Healing starts when you confess. 

Terus menerus pegang Firman Tuhan ttg siapa dirimu di dalam Dia. 

Must understand that love itu bukan sex. Maksud gue, banyak cewe yg salah mengira love = sex. Saat kita berhubungan seks dengan cowo kita, kita merasa being loved, being wanted, being special. Di hug, di cium dll. Waktu gue punya sexual relationship ama ‘cowo gue’ tadi, I thought I was expressing my love to him by giving him my body. And I thought, karena kita punya sexual relationship, gue kira dia sayang/love gue makanya mau tidur sama gue. The painful truth is when someone has sex with you, doesn’t mean he loves u. 

Focus on finding out your calling. Disitu you will find what His great plan for u. Jadi kamu akan fokus building yourself up, daripada mikir2 masa lalu yg ga jelas dan ga ada gunanya. 

Yah setelah melalui semua itu, gue akhirnya lepas. Now, gue ga bisa ngebayangin dulu itu gue kayak begitu. Bener2 bedaaaaa bgt ya sekarang. Apalagi kalo mikir2, wah bisa merit with such a godly man, punya baby boy yg luar biasa, yg kalo nangis jadi diem kalo didoain or dibacain Firman wwkwkwk. Ini semua bener2 beyond my imagination and thoughts! Waktu kita menikah, ayat yg Tuhan kasih ke kita adalah: 

Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."
(1 Korintus 2:9)

So true!!! 

And the past is the past. Tuhan sanggup menjadikan segala sesuatunya menjadi indah. Memutarbalikkan kutuk menjadi berkat. Iblis bermaksud untuk merusak dan menghancurkan, tapi Tuhan, with His power of restoration (tanpa syarat. It’s already yours.), mengubah my shame menjadi my victory. Gue ga ada problem dengan ceritain ini semua karena itulah yg Tuhan mao dari gue dan my past udah ga ada efeknya sama gue. Sexual sins banyak yg ditutupi karena memalukan. Tuhan mao kita bongkar semua itu, karena smakin dosa ditutup2in, smakin berkuasa Iblis atas dosa kita. I don’t ask you to bongkar2 your secret kemana-mana hehe. But saat kamu sudah bisa lepas dari smua ini, maybe u can testify too, in your own way. Karena Iblis dikalahkan dengan kesaksian hidup kita. 

Kalo gue bisa lepas, kalian juga pasti bisa! With the power of God, of coz!

Monday, March 26, 2018

Katanya sudah lahir baru, koq masih jatuh?



by Grace Suryani Halim

 Ini untuk menjawab pertanyaan temen-temen kemaren.
“ci,kalo uda lahir baru,tp iman'a terkadang masih jatuh bangun gmn?”klo jatuh bangun masih belum lahir baru-kah?Sudah sangat mengerti kalo kita (saya) ini mahluk yg berdosa. Tapi masih langganan jatuh dalam dosa, baik disengaja maupun tidak disengaja; sadar maupun tidak sadar. Itu gimana ya?
Pertama, thx berat buat pertanyaan-pertanyaannya. Tanpa ada pertanyaan2 begini, gue bakal mikir, ow semua udeh ngerti. DONE. :P But kalo ada pertanyaan jadi sadar, ow iya bagian sini belon dijelasin. Makanye guys, di sekolah di kampus kalo kagak ngarti TANYA ama gurunye!! :p Pengalaman jadi guru paling sebel kalo ada anak kagak ngarti bukannya tanya gue, malah tanya sesama temennya yang sama ngga ngertinya sama die trus jadi tersesat deh mereka berdua. Ckckckck.

Oke balik lagi.  Dulu itu juga pertanyaan gue. Lah kalo gue dah doa nih, dah terima Tuhan Yesus, dah ngga pengen jatuh lagi, tapi eeehhh jatuh lagi dan lagi dan lagi dan lagi... Gimana donks? Gue tetep masuk surga kagak? Kalo suatu kali gue habis berbuat dosa, trus belon sempet bertobat, belon sempet berdoa minta ampun eh tiba-tiba gue mati ditabrak busway, nah loh, gue masuk surga ngga ye?!

Buat jawab pertanyaan ini, izinkan gue kasih pertanyaan dulu. :p

Kalo manusia pertama kali lahir ke dunia, dia terlahir dalam bentuk apa?
Remaja? Orang dewasa? Kakek Nenek? Kagak lah, dia terlahir dalam bentuk... BAYI!!

Nah seperti itu juga orang-orang yang lahir baru. Mereka lahir menjadi bayi rohani! Lahir baru itu bukan akhir dari perjalanan kita mengikut Babe. Lahir baru itu AWAL! So dalam perjalanannya, sama kayak bayi yang belajar tengkurap, belajar jalan, belajar berdiri, belajar makan. Tertatih-tatih bow. Kagak bisa langsung jago.

Jadi menjawab pertanyaan mungkin ngga kalo sudah lahir baru tetep berdosa? SANGAT MUNGKIN.

Kalo gitu apakah artinya itu lahir barunya belon sah? Well, moment kelahiran baru kita tidak ditentukan dari apakah kita masih berdosa atau ngga tapi dari apakah kita sudah mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati.

Tuhan Yesus tuh sangat tau kalau setelah lahir baru pun, sekalipun kita bener-bener pengen kagak jatuh, kita bisa tetep jatuh. Tuhan tau banget tentang itu. Ia tahu bahwa kita ini debu.  Malah kadang, Tuhan itu lebih ‘manusiawi’ daripada kita. Tuhan tuh lebih ngerti pergumulan kita daripada kita sendiri. Tuhan lebih ‘realistis’ menghadapi kita daripada kita menghadapi diri kita sendiri.

Gue belajar tentang hati Tuhan di bagian ini ketika gue jadi guru.
Suatu hari, ada seorang murid gue, cowok, nilainya jeleeekkk terus. Langganan remedial. Suatu kali, dia mesti remedial lagi, trus tiba-tiba dia deketin gue en tanya, “Laoshi, laoshi... nilai saya jelek. Saya masih tetep murid Laoshi ngga?”

Gue bengong en ngeliat dia dengan tatapan aneh bin ajaib. Spontan gue bilang, “Ya IYALAH!! Kenapa kamu bisa mikir kalo karena nilai kamu jelek trus kamu bukan murid saya lagi?!”, dia manggut-manggut trus bilang, “Makasih laoshi.” Dan meninggalkan saya bengong di meja guru.

Sehabis itu saya mikir, “Dia emank ulangannya jelek. En karena nilai dia jelek, gue sedihlah. Tapi gue tetep anggep dia murid gue lah. Gile kok die bisa mikir begitu sih! Justru karena dia kagak bisa dia butuh gue buat jadi gurunya” habis ngomong gitu, tiba-tiba gue sadar begitu juga hati Tuhan terhadap kita.

Ketika kita sudah jadi anak-Nya en kita jatuh dalam dosa, Tuhan sedihhhhh bgt. Tapi Dia tetap mengakui kita sebagai anak-Nya. Justru Dia sangat ngerti bahwa kita bener-bener butuh Dia utk jalanin hidup ini.

Malah Alkitab bilang, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 8-9.

So yang Tuhan inginkan ketika kita jatuh dalam dosa adalah... MENGAKU dosa kita.

Trus kalo gitu masih tetep bisa jatuh apa bedanya dengan orang yang belon lahir baru?

Bedanya ada beberapa guys:

1. Kita bisa jatuh dalam dosa tapi kita tidak akan tahan TERUS-TERUSAN BERDOSA

Kita bisa salah, kita bisa jatuh lagi, tapi begitu kita lahir baru, Tuhan akan kasih kepekaan di dalam hati kita. Sehingga kita TIDAK BETAH terus-terusan berdosa. Kalo orang belon lahir baru, dia mo dosa, jalaannn terusss.

“Tapi, ada juga kok, temen gue, bukan Kristen malah die sadar banget tuh dia berdosa en kalo dosa cepet-cepet bertobat. Apa bedanya donks?”

Perbedaannya ada di poin yang kedua.


2. Tuhan ngga hanya bikin kita ngga betah utk hidup dalam dosa, Tuhan kasih kita KEMAMPUAN utk SAY NO terhadap dosa


“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;”
(Yohanes 1:12)

Kalo ada Kristus di dalam hati kita, kita menerima Yesus, Allah akan kasih kuasa supaya kita bisa menjadi anak Allah. Kuasa untuk berkata TIDAK terhadap dosa.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
(1 Korintus 10:13)

Ketika ada godaan untuk berbuat dosa, godaan untuk jatuh, Tuhan bilang bahwa Tuhan kasih jalan keluar, Tuhan akan kasih kemampuan untuk menanggung dan MENANG dari pencobaan itu.

Buat bacaan lebih lanjut bisa diliat di http://www.glorianet.org/index.php/grace/209-ya-atau-tidak

3. Orang yang sudah Lahir Baru, biasanya punya minat terhadap hal-hal rohani

Kalo dulu ngga minat baca Alkitab, sekarang sekalipun belon ngerti tetep semangat baca. Kalo dulu kuping gerah denger lagu rohani, sekarang suka denger lagu rohani. Kalo dulu ngantuk di gereja, sekarang mulai seneng denger khotbah.

Seleranya berubah Guys. Dari selera terhadap dosa menjadi selera terhadap Allah. Nah ini ngga bisa dipungkiri deh. Tiba-tiba ada kerinduan besar buat berdoa, tiba-tiba pengeeeennnn banget menyembah Tuhan.


Ringkasannya:
  1. Orang yang Lahir Baru masih bisa berdosa tapi tidak lagi betah hidup dalam dosa.
  2. Lahir Baru itu hanya AWAL dari kehidupan Kristen yang sesungguhnya.
  3. Perbedaan antara orang yg belum lahir baru dan yang sudah :
    1. Orang yg sudah Lahir Baru, diberi kuasa menjadi anak Allah (bisa menang dari godaan)
    2. Punya minat terhadap hal2 rohani

***
Btw guys, sampe selesai baca ini, mungkin masih ada di antara temen-temen yang bingung. Ngga papa. :p Sehabis ini gue bakal cerita soal perjalanan gue jatuh bangun mengikut Babe semoga sehabis baca itu, temen-temen bisa sedikit lebih dapet gambaran.