Showing posts with label Tabita Davinia Utomo. Show all posts
Showing posts with label Tabita Davinia Utomo. Show all posts

Monday, February 8, 2021

Not Simply Tell the Truth




by Tabita Davinia Utomo

“B’rani nyatakan kebenaran.”

Itu adalah salah satu bagian lirik jingle dari PPSMB (Pelatihan Pembelajaran Sukses bagi Mahasiswa Baru) Fakultas ketika saya menjadi mahasiswa baru di sana. Walaupun sudah hampir dua tahun lulus dari kampus tersebut, lirik jingle itu kadang-kadang terngiang di benak saya. Nah, pikiran saya yang terbiasa random ini akhirnya membuat saya berpikir, “Bukannya susah ya kalau mau ngomong apa yang bener?”

Iya lho, coba aja lihat para martir. Mereka sampai kehilangan nyawa karena mempertahankan iman kepada satu-satunya Tuhan. Begitu juga dengan tokoh-tokoh reformasi gereja seperti Martin Luther dan John Calvin yang juga bergumul berat karena penolakan gereja atas gerakan back to the Bible yang mereka lakukan… Itu belum termasuk orang-orang yang “hilang” karena menentang pemerintah—entah yang ada di Indonesia maupun di luar negeri. Kalau cara halus (sampai harus ada sindiran elegan) saja tidak mempan, rasanya satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan membangkang. Eh, maksud saya membangkang terhadap peraturan atau hal-hal yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Secara teori, kita paham bahwa integritas kepada Tuhanlah yang seharusnya jadi pegangan. Ironisnya, kenyataan justru berbicara dengan keras adanya ketidaksinkronan apa yang Firman Tuhan katakan dengan respon orang lain (bahkan kita termasuk di dalamnya). Tidak perlu membayangkan terlalu jauh, kenyataan seperti ini mungkin juga sering kita alami dalam konteks-konteks berikut:

Sebagai anak:
“Kamu tuh, masih bocah! Nggak usah ikut campur.” – diomeli karena berkata pada orang tua agar tidak bertengkar terus-menerus.

Sebagai istri:
“Kamu tuh, perempuan! Nggak pantes ngatur-ngatur aku!” – perkataan ketus dari seorang suami pada istrinya yang berusaha memastikan bahwa suaminya menjalankan perannya dengan baik sebagai suami (dan ayah).

Sebagai ibu:
“Mama/Mami/Ibu/Bunda nggak usah sok tahulahh. Ini tu namanya trennn.” – sang anak berkata dengan sinis ketika ibunya menasihati agar tidak memboroskan uangnya untuk membeli barang-barang demi tren semata.

Sebagai orang yang bekerja/berkuliah/bersekolah:
Dikucilkan karena dianggap tidak memperlancar “kerja sama” di antara teman-temannya; saat ada tindakan buruk yang akan dilakukan, dia justru menegur—dan berujung pada dirinya yang mendapat label “orang naif” di tempat tersebut.

Lama-kelamaan, mulut ini lebih memilih untuk diam karena penolakan-penolakan yang bertubi-tubi. Pertanyaannya, ketika apa yang kita katakan terbukti benar dan orang yang sempat membantah justru overwhelmed karena membantah perkataan kita, apa yang menjadi respon kita? Mungkin dua meme dari @transletin ini menjadi jawabannya:


Saking gemasnya dengan orang-orang yang ngeyel kalau diberitahu apa yang benar, kita cenderung memilih untuk “membiarkan” mereka agar jatuh ke lubang yang telah mereka gali. Well, dosa memang sudah membuat seluruh tatanan kehidupan menjadi rusak, dan hanya karena kasih karunia Tuhanlah yang bisa memulihkannya—termasuk dalam hal memberitakan kebenaran dalam kasih. Kebenaran di sini bukan hanya tentang Tuhan Yesus sebagai satu-satunya jalan, keselamatan, dan hidup (Yohanes 14:6), tapi juga menjadi cermin dari-Nya yang adalah kebenaran itu. Salah satu bagian Firman Tuhan yang perlu kita pegang dalam menghadapi keadaan-keadaan seperti itu adalah 1 Petrus 3:15-16, namun di sini saya akan mengutip dari versi Alkitab Ayat Yang Terbuka (AYT):

“Akan tetapi, kuduskanlah Kristus sebagai Tuhan dalam hatimu! Siap sedialah untuk memberi jawaban kepada siapa pun yang menuntutmu mengenai pengharapan yang kamu miliki, tetapi lakukanlah itu dengan lemah lembut dan hormat, serta milikilah hati nurani yang jernih supaya ketika kamu difitnah, orang yang mencaci cara hidupmu yang baik di dalam Kristus akan menjadi malu.”

Konteks penulisan surat dari rasul Petrus ini bukan tanpa alasan. Pada masa itu, orang Kristen mula-mula (termasuk Gentiles, orang non-Yahudi yang menjadi Kristen) mengalami penganiayaan dan tersebar di berbagai wilayah (di antaranya Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia – 1 Petrus 1:1). Mengetahui pergumulan mereka mengenai iman kepada Kristus, Petrus menulis semacam encouragement di 1 Petrus 1:2 sebagai berikut:

“yang dipilih sejak semula oleh Allah Bapa melalui pengudusan oleh Roh untuk dapat hidup dalam ketaatan kepada Kristus Yesus dan memperoleh percikan darah-Nya. Kiranya anugerah dan damai sejahtera melimpah atasmu.” (AYT)

Mengacu pada AYT, “sejak semula oleh” dimaksudkan jemaat penerima surat Petrus ini telah ditentukan melalui rencana Allah sejak semula (literally foreknowledge—prapengetahuan); sementara “memperoleh percikan darah-Nya” mengingatkan mereka pada pengudusan oleh darah Kristus. Sebagai orang percaya yang teraniaya (bukan hanya fisik, tapi juga secara sosial), bukan hal yang mudah bagi mereka untuk tetap mempertahankan iman kepada Sang Juruselamat. Namun di sisi lain, saya membayangkan ada dorongan dalam diri mereka untuk memberitakan Injil melalui kehidupan mereka—sehingga semakin banyak orang percaya kepada Kristus. Itulah alasan Petrus mengingatkan agar orang-orang percaya ini tetap mempertahankan integritas hidup mereka di dalam Kristus, karena dari sanalah (siapa tahu) lingkungan yang mencerca dan menolak pemberitaan Injil justru menjadi malu. Well, ini seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus, “Jika Allah di pihak kita, siapakah dapat yang melawan kita?” (Roma 8:31)

Kalau ditarik ke zaman sekarang, kita harus mengakui bahwa ada ketidakberdayaan dan rasa putus asa setiap kali kebenaran yang disampaikan jadi mental (baca: semacam masuk telinga kiri, keluar dari telinga kiri pula). Lama-kelamaan kita jadi memilih untuk memakai jalan pintas: memaksakan apa yang kita yakini tanpa mendengarkan pendapat orang lain. I’m sorry to say, ini justru membuat citra kita sebagai orang Kristen jadi dicap buruk. :( Lalu apa yang harus kita lakukan?

1. Sabar adalah kunci

Menghadapi orang-orang bawel nan ngeyel membutuhkan kesabaran ekstra, Pearlians. Percayalah, kalau kita hanya bergantung pada diri sendiri, kita akan jadi cepat lelah untuk membuat orang lain jadi percaya pada kebenaran yang kita beritakan. Then come to Jesus Christ; He will encourage us to be more patient to tell the truth.

2. Allah yang memroses kita dan mereka

Seringkali kita lupa bahwa kebenaran yang disampaikan bukan hanya bertujuan memenangkan orang lain, tapi juga membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Tentunya ini hanya bisa terjadi karena intervensi Allah—yang bekerja secara misterius namun pelan-pelan buahnya bisa terlihat. Kalau Tuhan saja tidak memaksa sedemikian rupa hanya agar kebenaran-Nya mendarat di hati orang lain, siapa kita sehingga merasa berhak untuk mengindoktrinasi mereka? Tugas kita adalah menabur dan menyiram, namun Allah memberikan pertumbuhan.

3. Jangan lupa berdoa!

Usaha manusia ada batasnya, karena itulah kita dipanggil untuk berdoa dan menyerahkan pada Tuhan apa yang telah kita lakukan. Oh iya, bahkan sebelum menyatakan kebenaran, kita harus selalu bertanya, “Apa iya sih, yang mau aku sampein ini udah berakar, bertumbuh, dan berbuah dengan jelas?” Kan, sia-sia ya kalau kebenaran yang kita sampaikan hanya untuk melengkapi wawasan dan untuk jadi bahan penghakiman bagi orang lain. Melalui doa (yang tentunya bukan hanya satu-dua kali), kita bisa mendengarkan Tuhan berbicara ketika kita memberikan-Nya ruang untuk itu. Sometimes the best time of prayer is silent for a moment, and let Him speak gently.

4. Last but not least… jangan sok tahu

Kadang-kadang apa yang kita tahu lebih banyak daripada orang lain membuat kita jadi sombong haha (saya juga masih bergumul dengan hal ini, sih). Itulah kenapa kita juga harus belajar rendah hati dan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berpendapat. Kalau pada akhirnya mereka sadar dan mau menerima kebenaran (misalnya teguran penuh kasih), that’s a good thing. Kalaupun sampai maranatha mereka tetap bersikukuh pada hal yang salah, setidaknya kita tidak membuat mereka jadi semakin kesal dengan kesoktahuan kita—walaupun apa yang disampaikan memang benar.

Kiranya Tuhan memampukan kita untuk berkata-kata dalam kasih dan kebenaran melalui berbagai konteks yang Dia izinkan terjadi. Cheers!

Monday, January 18, 2021

Starting a New Day Without Fishing



by Tabita Davinia Utomo

“Kalau udah mengampuni, no more fishing.

Ketika mendengarkan kalimat tersebut dari seorang dosen konseling, saya jadi bertanya pada diri sendiri. “Loh, bukannya kita punya memori? Tujuan Tuhan kasih memori kan, biar kita belajar. Lah ini gimana kalo nggak sengaja inget kenangan buruk di masa lalu?”

Beberapa waktu kemudian, dalam sebuah obrolan singkat, seorang teman membagikan ungkapan dari Pdt. Julianto Simanjuntak yang menegaskan perkataan dosen itu, “Mengampuni adalah ketika kita mampu mengingat tanpa merasa sakit lagi.”

Pearlians sering nggak habis pikir kan, kalau ada peristiwa-peristiwa yang berjalan beriringan dan menekankan satu poin yang sama? Seolah-olah Tuhan mengizinkannya terjadi lalu kita jadi cocoklogi. Hahaha. Itulah yang saya rasakan ketika di minggu-minggu terakhir perkuliahan semester tiga lalu, saat sebagian topiknya membahas tentang pengampunan—dan memang pada saat itu saya sedang bergumul dengan hal itu. Bagaimana bisa saya bersikap baik-baik saja, jika realita yang sedang dijalani membuat hidup ini semakin terlihat suram dan terpuruk? Bagaimana saya tetap bisa “tertawa tentang hari depan”, jika saya sering tergoda untuk “memancing” masa lalu saya dan ingin memproyeksikan kesalahan yang ada di sana pada siapa pun (termasuk diri sendiri)?

--**--

Tema mengenai pemulihan dan pengampunan sudah sangat sering (bahkan hampir selalu) dibahas di gereja maupun di komunitas-komunitas lainnya. Di Pearl sendiri ada banyak artikel tentang pengampunan. Jangankan dari sisi teologi, banyak orang yang juga membahasnya dari sisi psikologi. Bahkan mungkin ada Pearlians yang pernah mendengar istilah self-healing. Tapi, tapi... kenapa kita masih aja susah buat mengampuni? “Mau sih, buat mengampuni. Kan, pengampunan adalah awal dari pemulihan. Cuma kok, berat banget yaa buat dilakuin. Sedih aku tu...” *sigh

Tenang, Pearlians! Kalau ada yang berpikir demikian, kamu tidak sendirian—karena saya juga begitu hehe... Yuk, kita kulik sedikit kenapa pengampunan itu sulit untuk dilakukan—walaupun secara teori kita sudah paham betul bahwa Tuhan pun ingin agar kita saling mengampuni.

1. Kita kan, manusia berdosa
Dosa membuat kita tidak bisa menilai dengan objektif kebenaran, dan gagal dalam memahami kasih Allah yang tercurah bagi kita, orang-orang berdosa. Akibatnya, tidak ada setitik pun keinginan untuk mengampuni orang lain—atau justru membuat kita self-pity karena merasa terikat untuk selamanya dalam masa lalu yang kelam. Walaupun natur dosa ini sudah ditaklukkan melalui Yesus Kristus, tapi kita kan, masih hidup di dunia yang tercemar ini, Pearlians. Iya, Dia menguduskan umat pilihan-Nya, tapi ingat: pengudusan itu—seringkali—menyakitkan. Salah satu proses tersebut diwujudkan melalui “training” pengampunan.

Seorang teman yang kembali ke asrama setelah berkuliah dari rumah (dan mengalami ups-and-downs selama tinggal bersama keluarganya) pernah berkata, “Di rumah itu kayak di purgatory (api penyucian).” Yes, sebagai manusia berdosa, kita—secara tidak sadar—sudah terlena dengan “kenyamanan” yang semu di dunia fana ini. Kita membenci perubahan yang menguduskan itu, sehingga kita memilih untuk merasionalisasi (atau memproyeksikan) luka maupun trauma yang ada.

Rasionalisasi itu contohnya seperti ini:

“Nggak apa-apa. Kan, abis putus, aku jadi lebih deket sama Tuhan.”
(padahal di balik ungkapan ini, ada hati yang masih mendendam pada mantannya yang sudah menikah dengan orang lain, yang dipacarinya satu minggu setelah mereka putus.)

“Kan, aku juga orang berdosa. Ya udahlah nggak apa-apa, toh suamiku juga lahir dalam keluarga yang disfungsional. Emang ini salib yang harus aku pikul...”
(sebuah ungkapan yang tercetus dari seorang istri yang mengalami KDRT, namun sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya untuk mengampuni suaminya dengan sungguh-sungguh.)

Kalau proyeksi kemarahan? Hmm… contohnya banyak banget. Ada yang karena tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya sejak kecil, dia jadi orang yang agresif-destruktif agar diperhatikan orang lain. Ada juga orang yang karena pernah dilecehkan/diperkosa sebelumnya (baik secara fisik, verbal, maupun seksual), dia jadi tidak mau berelasi dengan lawan jenis. Ada juga orang yang terlihat sangat aktif dalam pekerjaan dan pelayanan, tapi sebenarnya dia sedang melampiaskan kemarahannya terhadap pasangan yang berselingkuh. Oke deh, mungkin contoh pertama itu “buah” dari kemarahan yang terpendam dan tidak tersalurkan sebagaimana mestinya.

2. Firman Tuhan dianggap klise
Rasanya orang-orang yang ada di Alkitab itu terlalu suci untuk dijadikan panutan, ya? Padahal mereka juga orang-orang berdosa. Salah satu contohnya adalah Daud, yang menulis Mazmur 23 dan Mazmur 103. Konteks pergumulan kita dengan Daud mungkin tidak 100% sama, tapi setidaknya dua mazmur itu menggambarkan betapa bahagianya orang yang hidupnya bersandar penuh kepada Allah, dan dengan sadar menerima pengampunan-Nya serta tidak take it for granted. Masalahnya adalah... proses yang kita jalani tidak akan bisa berbuah secara instan, tapi kita justru menginginkannya demikian. Padahal Daud juga melalui proses pengudusan itu—dan dia melaluinya dengan jatuh-bangun. Lha wong dia manusia berdosa kayak kitaaa...

3. Kita aja belum mengampuni dan berdamai dengan diri sendiri
Matius 22:39 berkata, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Tindakan kasih yang dimaksud ini bukan hanya tentang memberikan hadiah atau melayani satu sama lain. It talks deeper, termasuk tentang pengampunan dan penerimaan. Pertanyaannya, kalau kita belum menginternalisasi dua hal dari Allah tersebut secara sadar, bagaimana kita bisa meneruskannya pada orang lain? Ibarat wadah yang bocor, lama-kelamaan kita akan jadi cepat lelah untuk menerapkannya pada mereka—apalagi kalau yang kita lakukan tidak bergayung sambut.

4. Memori itu melekat
Kalau boleh jujur, rasanya mengingat memori buruk jauh lebih cepat connect-nya daripada memori yang manis. Kenapa? Karena natur kita sebagai orang berdosa memang seperti itu: literally tidak ada satupun hal baik yang berkenan bagi Allah. Memori kita—meskipun sudah mencoba untuk dihapus—tapi tetap saja ada satu atau dua stimulus yang bisa membuat kita teringat pada luka-luka di masa lalu. Jadi kalau ada orang yang bilang agar kita melupakan trauma maupun hal-hal yang melukai kita, sorry to say: kita nggak akan pernah bisa melupakannya. Kalaupun “berhasil”, sebenarnya kita sedang menekan kenangan-kenangan itu ke unconsciousness kita (lihat gambar). Jika tidak segera dibereskan, hal-hal terpendam itu akan dimanifestasikan melalui pikiran, perkataan, dan tindakan kita. It will get worse if we ignore that pain.



Lalu bagaimana kita harus menyikapi luka-luka itu?

1. Berikan waktu bagi diri (dan orang lain) untuk berduka

Salah satu alasan kenapa kita cenderung memendam luka adalah karena tidak ada ruang yang tersedia untuk berduka. Apalagi bagi orang-orang yang dianggap teladan (misalnya hamba Tuhan), ada stigma yang menekankan bahwa mereka tidak boleh menangis jika ada
anggota keluarganya yang meninggal (sekalipun itu pasangan hidupnya!)

Seorang dosen saya pernah bercerita ada pendeta yang kehilangan pasangannya, dan saat upacara berlangsung, dia mendengar ada orang yang berkata, “Loh kan, situ pendeta. Kok, nangis!? Harus kuat, dong!” Saya lupa seperti apa (dan kapan) persisnya kejadiannya, tapi yang jelas beliau tidak diizinkan untuk menunjukkan kerapuhannya “hanya” karena statusnya sebagai hamba Tuhan. Barulah setelah konseling dengan dosen tersebut, pendeta itu bisa mengeluarkan tangisan dan semua unek-unek terpendamnya.

Tuhan tidak melarang kita untuk berduka. Malahan, dalam Mazmur 34:19 dikatakan, “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” It’s okay to not be okay. Tuhan menghargai kejujuran ungkapan kesedihan, kekecewaan, kemarahan, dan segala bentuk emosi lainnya yang kita sedang alami. 

Well, jika tidak ada seorangpun yang bersedia menyediakan hati dan telinga bagi Pearlians untuk berduka, saya sangat suggest untuk konseling (sebagian counseling center bisa dilihat di sini). Melalui empati dan reflective listening yang dilakukan konselor, we will be helped to realize what we feel and think. Tapi selalu ingat yaa, apapun kondisi kita, Tuhan selalu bisa menghadirkan diri-Nya melalui berbagai cara yang unik—asalkan kita siap menerima intervensi dari-Nya dan taat pada setiap proses yang Dia berikan. Jangan lupa untuk siap-siap bangkit dari keterpurukan dan menyongsong masa depan yang penuh pengharapan bersama Tuhan :)


2. No more fishing

Sebagai manusia, kita sering ingin menyalahkan orang lain atas semua pengalaman buruk di masa lalu (apalagi kalau memang terbukti mereka berandil besar di situ). Tapi tidak jarang juga kita justru menyalahkan diri sendiri yang salah mengambil keputusan, bahkan mengasihani diri sendiri. Oke, berduka itu boleh, tapi mengasihani diri menunjukkan bahwa kita masih suka “memancing” masa lalu dan mengikatkan diri padanya. Pertanyaannya, bagaimana pemulihan bisa terjadi kalau kita masih mengingat DENGAN SENGAJA hal-hal buruk di sana dan blaming others (and ourselves)?


3. Let go and let God

Tidak ada seorang pun yang bisa mengampuni dengan kekuatannya sendiri. Kalaupun ada, fondasi pengampunannya belum tentu kasih Tuhan (agape love). Padahal, kekuatan pengampunan sesungguhnya hanya bersumber dari kasih agape Allah. Paulus menulis, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang tergadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:31-32) Aneh kan, kalau orang-orang yang (katanya) percaya kepada Yesus Kristus justru lebih sulit mengampuni dibandingkan mereka yang bukan orang percaya? Tapi memang di situ poinnya: semakin sulit sebuah pengampunan diberikan, semakin besar kesadaran kita (seharusnya) untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, dan membiarkan-Nya bertindak. Proses melepaskan masa lalu memang sulit, karena itu kita perlu secara bertahap untuk mengampuni. Then how? Berikut salah satu penerapan praktis yang bisa dilatih oleh Pearlians:

a. Uncover your anger

Alasan kenapa kita marah dan belum bisa mengampuni ini harus ditulis satu per satu secara spesifik dan sangat terperinci. Dari situ, kita bisa memahami betapa sulitnya pengampunan karena ada sangat banyak sudut dan segi dari hal-hal yang tidak bisa kita pahami. Pertama, seleksi dulu lalu tuliskan poin-poinnya secara umum. Setelah itu, pilihlah poin apa yang akan “dikerjakan” terlebih dulu dan tuliskan secara rinci. Kenapa harus diseleksi seperti ini? Karena pasti akan ada poin-poin yang overlap. Capek kan, kalau cuma muter-muter di situ doang? Lukanya sembuh nggak, bosen iya.

b. Make a decision with God

Ambil salah satu poin yang paling berat, agar beban di hati kita bisa terangkat cukup banyak. Entah sepertiga, seperempat, bahkan setengahnya. Walaupun prosesnya penuh air mata, tapi tahap ini—jika terlalui—akan sangat melegakan. Itulah sebabnya kenapa kita tidak bisa melakukannya seorang diri; once again, I suggest you to ask a help from a counselor! Kenapa kok saya menekankannya berulang kali; atau kenapa nggak cukup hanya dengan minta tolong ke teman? Karena tanpa tenaga profesional, semangat kita bisa hilang kapan saja—bahkan jadi kolaps. Iya, support system is a must—tapi ada kalanya mereka juga jenuh kalau luka kita tidak kunjung pulih (belum lagi kalau kitanya memang pada dasarnya tidak mau mengampuni, tapi hanya cari pembelaan). Apalagi decision with God ini tidak bisa hanya dilakukan satu kali untuk selamanya; it takes time and needs to be done again and again.

c. Working stage

Misalnya kita sudah memiliki 10 poin yang terdaftar pada tahap pertama. Nah, kalau sudah ada poin yang dikerjakan dan cukup tuntas, ambil poin yang lain. Demikian seterusnya sampai poin-poin itu semakin berkurang. Anehnya, kecenderungan reborn love untuk muncul itu sangat bisa terjadi.

d. Reborn love

Reborn love yang dimaksud berasal dari kita ke orang yang sedang kita perjuangkan untuk diampuni, bukan dari dianya ke kita. Kadang-kadang yang bersangkutan bisa saja sudah meninggal terlebih dulu. Namun jika dia masih hidup, reborn love ini akan mulai bisa tumbuh. Tetap ingat untuk selalu berserah kepada Tuhan dan mengizinkan-Nya bekerja sesuai kehendak-Nya, ya. Siapa tahu proses pengampunan ini bukan hanya memulihkan satu orang saja (yaitu kita), tapi bahkan seluruh keluarga maupun sistem relasi yang rusak antara kita dengan orang lain.


Tahun-tahun sebelumnya mungkin adalah the worst year(s) ever karena ada banyak luka yang belum terselesaikan. But it’s okay, adalah lebih baik kita menyadari bahwa luka-luka ini harus dibereskan dan mensyukuri kehadiran Tuhan di masa-masa sulit ini. Jika seandainya ada masa-masa yang membuat kita sulit untuk bersabar pada proses yang terbentang, kiranya ungkapan dari Adel Bestavros ini menguatkan kita:

“Patience with others is love. Patience with self is hope. Patience with God is faith.” 
— Adel Bestavros 

“Pengampunan itu harus terjadi dulu, baru lukanya disembuhkan. Itu bedanya orang percaya dari yang bukan orang percaya. Kalau kamu udah mengampuni, Tuhanlah yang memampukanmu untuk melihat orang itu dari perspektif yang baru.”
— Ibu Esther Susabda


Catatan penulis:
Sebagai pelengkap artikel ini, Pearlians bisa menyimak sebagian kisah di atas di sini dan di sini :)
By the way, saya juga merekomendasikan surat Filemon untuk bacaan tambahan hehe...

Monday, September 28, 2020

The Forgotten Ingredient for a Tasteless World


by Tabita Davinia Utomo

Artikel ini mengacu pada Yohanes 13:31-35, 15:12-17

Apa kabar, Pearlians? Apa kabar? Fyuhhh… pandemi Covid-19 ini sudah berlangsung lebih dari setengah tahun, tapi tampaknya dunia berubah dengan sangat drastis, ya? Semua orang sibuk untuk bertahan hidup, tetap sehat roh, jiwa dan tubuhnya. Kalau kita mau peka, di saat semua orang sibuk dengan hidup mereka, ada sesuatu yang bisa dipertanyakan:

Masihkah ada kasih di dunia yang hambar ini?

Di masa sulit seperti sekarang, ternyata tidak sedikit orang-orang yang berusaha melakukan kebaikan untuk meringankan beban orang lain. Tapi apakah mereka (mungkin termasuk kita) mendasarinya dengan kasih seperti yang Tuhan Yesus kehendaki? Apakah sebagai orang (yang mengaku) percaya kepada-Nya, kita mengedepankan motif untuk unjuk diri daripada menjadikan perbuatan diri kita sebagai bentuk syukur atas berkat Allah? Pertanyaan tersebut merupakan salah satu perenungan terbesar saya akhir-akhir ini. Ketika saya sudah merasa melakukan perbuatan baik bagi orang lain, apakah itu karena saya ingin mereka juga mengapresiasi apa yang saya lakukan, atau memang saya tulus melakukannya karena saya mengasihi mereka? Apakah saya mengharapkan mereka membuat story atau post di media sosial tentang encouragement words atau hadiah yang saya berikan, atau saya melakukannya sebagai perpanjangan tangan Allah dalam mengasihi mereka?

Mungkin hal tersebut terjawab melalui perkataan Yesus dalam “pesan terakhir” kepada para murid-Nya—sebelum Dia menjalani Via Dolorosa.

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
(Yohanes 13:34-35)

Tidak dijelaskan alasan kenapa Yesus baru menyampaikan perintah tentang “saling mengasihi” justru setelah Yudas meninggalkan perjamuan terakhir Sang Guru bersama sesama murid (Yohanes 13:31). Namun yang jelas, Yesus mengulang perintah-Nya ini di Yohanes 15:12-17:

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Saat itu, sebuah perkataan yang diulang (bahkan sampai berkali-kali) berarti bersifat sangat penting dan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Hal yang sama juga dilakukan Yesus kepada para murid-Nya, agar mereka tidak melupakan perintah penting ini. Apalagi sebelumnya, Yesus menekankan pentingnya saling melayani—sama seperti diri-Nya yang telah memberikan teladan kepada mereka. Tindakan tersebut menegaskan bahwa pelayanan tanpa kasih Allah (agaphe—bahasa Yunani) adalah sia-sia. Sebaliknya, ketika kita mengasihi, kita juga akan terdorong untuk melayani dengan “modal” yang Tuhan percayakan. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mengasihi kalau tidak benar-benar menyadari bahwa kita dikasihi oleh Allah? Mungkin ada beberapa ayat di atas yang kita hapalkan sampai di luar kepala, tapi seberapa besar dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain?

Pearlians, ketika kita mengabaikan ke-“tidak baik-baik saja”-an yang dimiliki, tidak jarang imbasnya pada letihnya jiwa kita untuk mengasihi orang lain. Walaupun secara penampilan (kalau kata dosen saya, “fenomena”) kita bisa sangat mengasihi orang lain, ada kemungkinan semangat yang melandasinya adalah insecurity. Ya, bisa saja kita “mengasihi” karena takut mereka meninggalkan kita. Kita berbuat baik agar mereka juga melakukan hal yang sama. Seperti transaksi dagang, ya? Mungkin itu juga yang dialami oleh dunia saat ini: rasa hambar karena kasih terasa tawar. Padahal bukankah seharusnya kasih membuat hidup ini menjadi lebih manis untuk dijalani, meskipun kadang-kadang berseling dengan rasa getir dan pahit?

Jadi sebenarnya, kasih seperti apa yang harus kita miliki? Paulus menjawabnya dengan indah di 1 Korintus 13:4-7:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

“Love is patient, love is kind, it is not envious. Love does not brag, it is not puffed up. It is not rude, it is not self-serving, it is not easily angered or resentful. It is not glad about injustice, but rejoices in the truth. It bears all things, believes all things, hopes all things, endures all things.”
(New English Translation version)

Keempat ayat di atas seringkali digunakan sebagai landasan dari pembahasan mengenai relationship; tapi disadari atau tidak, sebenarnya Paulus justru menuliskan tentang kasih ini setelah dia menyebutkan berbagai karunia rohani di pasal sebelumnya (1 Korintus 12). Artinya, kasih ini adalah karunia rohani terbesar di atas segalanya—yang pasti dimiliki oleh semua orang percaya. Namun di sisi lain, kasih di dalam diri kita tidak akan berkembang kalau kita hanya menyimpannya untuk diri sendiri—atau justru menolaknya karena tidak sesuai dengan keinginan kita.

Mengasihi memang penuh tantangan, tapi bukankah lebih melelahkan lagi ketika kita mengasihi dengan kasih yang egois dan penuh tuntutan tak berbalas?

Mungkin kita perlu belajar bersama untuk memperbaiki mindset bahwa kasih yang sejati hanya bisa disalurkan kepada orang lain ketika kita sudah benar-benar menyadari Allah mengasihi kita dengan kasih tersebut. Setelah menyadarinya, kita juga perlu untuk mengasihi diri kita terlebih dulu—iya, lho. Bagaimana kita bisa mengasihi orang lain kalau kita tidak bisa mengasihi diri sendiri? Bukan berarti kita jadi egois, ya… tapi seperti yang dikatakan Yesus, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39). Kita tidak bisa memberi apa yang kita sendiri tidak miliki.

Selamat tenggelam dalam cintanya Tuhan, Pearlians, jangan lupa untuk mengasihi diri sendiri dan orang lain… seperti yang telah dilakukan-Nya bagi kita.

Monday, September 7, 2020

Ironi dari sebuah Pengajaran Agung


by Tabita Davinia Utomo


Artikel ini mengacu pada Matius 20:17-34 dan Markus 10:32-52.

Pernahkah Pearlians merasa kesal saat melihat ada orang lain yang tidak memahami perintah yang baru saja diberikan? Misalnya saja ada anak, murid, atau karyawan kita yang justru melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang kita suruh. Hmmmm… rasanya gemas dan tidak habis pikir, ya? Bahkan mungkin kita jadi berpikir, “Aku salah apaaaa? Kok, mereka nggak ngerti-ngertiii. Hufttt… “

Mungkin itu juga yang dirasakan Yesus saat mendengar permintaan Yakobus dan Yohanes—yang kisah selengkapnya ada di kedua bagian Injil di atas. Menariknya, ada perbedaan pada perikop yang akan menjadi fokus kita di artikel ini. Di Matius, kita mengetahui bahwa permintaan dua anak Zebedeus itu disampaikan oleh ibu mereka; sementara Markus justru mencatat mereka sendirilah yang meminta kepada Yesus.

Wait, permintaan apa yang dimaksud di sini?

“Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”
(Ibu Yakobus dan Yohanes, dalam Matius 20:21b)

“Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami! Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.”
(Yakobus dan Yohanes, dalam Markus 10:35, 37)

Mungkin bagi sebagian orang, permintaan tersebut menunjukkan bahwa mereka sedang “menjilat” Yesus agar bisa memperoleh kekuasaan yang tinggi di kerajaan-Nya kelak. Tidak heran kalau para murid yang lain jadi marah, tapi bisa juga itu karena mereka merasa “kalah cepat” dari kedua murid yang berada dalam inner circle Yesus ini. Tapi sebelum membahas lebih lanjut mengenai “jilat-menjilat” ini, kita perlu melihat konteks yang sedang terjadi pada saat itu.

Beberapa saat sebelumnya, Yesus berkata kepada mereka saat menuju ke Yerusalem:

’”Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”
(Matius 20:18-19)

Tampaknya setelah mendengar pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus, Yakobus dan Yohanes berpikir bahwa di Yerusalem lah Sang Guru akan berkuasa. Padahal tidak. Kekuasaan yang dimaksud Yesus bukanlah tentang pembebasan dari penjajahan Romawi, tapi tentang diri-Nya yang mengalahkan maut bagi semua orang yang percaya kepada-Nya—meskipun harus melalui salib. Karena itulah, Yesus berkata kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta.” Yesus tidak ingin para murid-Nya hanya berfokus kepada kekuasaan duniawi yang mereka dambakan, tapi melihat bahwa ada satu hal yang lebih penting dari itu: bersikap dan bertindak seperti yang dilakukan-Nya. Dia juga ingin agar mereka memberikan “warna” yang baru dalam berelasi dengan orang lain.

Yesus ingin agar para murid-Nya melayani, bukannya dilayani.

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
(Matius 20:26b-28)

Ironisnya, sepertinya para murid tidak langsung memahami maksud Yesus ini. Mungkin saat memasuki Yerusalem dan melihat Sang Guru dielu-elukan seperti raja, ada juga yang justru bertanya-tanya, “Kapan Guru akan disalib? Lha wong orang-orang nyambut Dia kek gini! Bohong, ah!” Saya menduga alasan inilah yang membuat kisah mengenai penyembuhan dua orang buta dicatat oleh Matius setelah pengajaran melayani-bukan-dilayani itu (Matius 20:29-34). Matius ingin menunjukkan Yakobus dan Yohanes—yang adalah dua murid terdekat Yesus—ternyata tidak memahami kehadiran Sang Guru. Di sisi lain, dua orang buta itu justru tahu status-Nya sebagai Tuhan, Sang Anak Daud yang dijanjikan itu—sehingga mereka tidak asal bersikap. Bahkan mereka memohon belas kasihan Yesus agar Dia menyembuhkan kebutaan mereka. Well, mungkin dua orang itu buta secara fisik, tapi setidaknya mereka menyambut Yesus untuk mengubah hidup mereka sebelum Dia menyelesaikan misi-Nya di dunia. Ingat kan, dengan apa yang Yesus katakan saat Dia dan para murid-Nya menuju ke Yerusalem?

Pengajaran mengenai “bukan memerintah, namun melayani” ini perlu kita renungkan bersama. Kita tidak bisa melayani tanpa kasih; tapi saat kita mengasihi, di situlah kita digerakkan untuk melayani. Sayangnya, pelayanan yang Yesus inginkan bukan hanya soal aktif paduan suara di gereja, atau ikut kegiatan pemuridan di sana-sini, bahkan pergi mission trip ke daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Oke, ketiganya memang bukan sesuatu yang salah, Pearlians. Tapi dalam banyak kondisi, pelayanan kepada orang-orang terdekatlah yang kita abaikan. Mungkin mereka adalah keluarga kita sendiri, atau teman sekolah/kuliah maupun rekan kerja. Bahkan bisa saja ada juga orang-orang yang menyebalkan yang masuk ke dalam kriteria ini (sampai membuat kita ingin menundukkan mereka, mungkin?). Ironis, ya :(

Tidak seorangpun yang tahu persis seberapa dekat hubungan kita dengan Tuhan selain Dia dan diri kita sendiri. Tapi setidaknya, kita bisa menyimpulkan bahwa pengenalan pribadi dengan Tuhan akan membuat kita memandang pelayanan dengan lebih luas dan mendalam. Melayani orang lain bukanlah bentuk ketidakberdayaan, tapi justru bentuk kasih kita kepada orang lain, sekaligus ketaatan kepada Tuhan yang sudah memberikan teladan pelayanan itu kepada kita. Pertanyaannya, sudahkah kita memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh? Atau jangan-jangan… selama ini “pelayanan” kita hanya sebatas di permukaan saja tapi rasanya hambar karena tidak ada kasih di dalamnya?

Monday, July 20, 2020

“TERHILANG? AKU? AH, YANG BENER AJA!”


by Tabita Davinia Utomo

Ketika masih kecil, setiap kali pergi ke sebuah tempat, saya suka sekali mencari tahu apa saja yang ada di sana. Ketika keluarga kami bepergian, Nenek bahkan pernah menyarankan agar Mama mengikat saya dengan semacam tali laso. Tentu saja agar saya tidak pergi sesukanya sendiri, meskipun waktu itu saya masih berusia 2,5 tahun.

Bagi saya, banyak hal yang ingin saya eksplor di tempat baru, tapi belum tentu orang tua saya mengijinkan atau mau menemani ke sana. Kalau begitu, bukankah pilihannya pergi diam-diam sendirian? 

Sebagai anak-anak Tuhan, kita juga sering melakukan hal yang sama. Kita merasa ingin melihat “dunia luar”, meskipun resikonya adalah jauh dari Allah, Bapa kita. Kita menganggap “berpetualang” itu baik untuk kita, tapi ternyata belum tentu demikian. Setelah itu, kita ragu untuk bertobat karena kita menganggap diri kita sudah terlalu kotor. Bisa dibilang, “Karena udah rusak, jadi bablasin aja sekalian.” Benar atau tidaknya pemikiran tersebut akan terjawab melalui perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Sebelum membaca artikel ini lebih lanjut, Pearlians dapat membaca artikel Ci Benita mengenai domba yang hilang untuk memperoleh gambaran tentang siapa saja yang mendengarkan pengajaran Yesus ini. 

Pada jaman Yesus, ada dua kelompok besar di masyarakat yang sangat bertolak belakang. Siapa lagi kalau bukan orang Farisi dan ahli Taurat vs. pemungut cukai dan orang berdosa. Lewat perumpamaan anak yang hilang, Yesus menunjukkan bahwa sebenarnya mereka sama-sama berdosa di hadapan Allah. Kenapa bisa begitu?

1. Anak bungsu menggambarkan mereka yang memang berniat meninggalkan ayahnya.
Apa tandanya? Pertama, anak bungsu meminta hak waris sementara ayahnya belum meninggal. Ini sesuatu yang bisa dibilang sangat kurang ajar. Bagaimana bisa ada seorang anak yang tega meminta haknya, bahkan sebelum orang tuanya meninggal? Tapi inilah yang dilakukan sang anak bungsu itu.

Setelah mendapat warisannya, Anak Bungsu menjual harta warisan itu. Mungkin harta yang dia dapat adalah investasi keluarga seperti ternak, emas, atau tanah. Supaya dia punya fresh money, harta itu harus dijual. Mungkin pula Anak Bungsu benar-benar ingin putus hubungan dengan ayahnya. Jika warisannya tidak dijual, bisa jadi Anak Bungsu masih perlu menitipkan ternak atau tanah yang dia terima pada ayahnya. Jika tidak dijual, “koneksi” dengan ayahnya masih diperlukan. 

Setelah mendapatkan uangnya, Anak Bungsu itu bahkan pergi “ke negeri yang jauh”. Tidak dijelaskan kemana persisnya, tapi Yesus menggunakan frase ini untuk menegaskan bahwa Anak Bungsu tidak lagi ingin bertemu dengan ayahnya. Bahkan setelah bencana kelaparan melanda di sana (dan membuatnya melarat), anak itu justru memilih jadi penjaga babi—pekerjaan yang sangat najis karena orang Yahudi mengharamkan babi.

Tapi walaupun sudah pergi sejauh mungkin, Anak Bungsu tetap mengingat ayahnya. Ia ingat bagaimana ayahnya memperlakukan hamba-hambanya dengan layak, tidak seperti bagaimana dia diperlakukan saat menjadi penjaga babi. Merindukan kasih ayahnya Anak Bungsu memutuskan pulang. Ia mendapat sambutan hangat dan penerimaan dari ayahnya.

2. Anak Sulung tidak sepenuhnya mengenal ayahnya—yang ternyata sangat berhati lembut dan penuh kasih— juga tidak mengasihi adiknya sendiri.
Setelah melihat adiknya disambut dengan meriah, Anak Sulung protes kepada ayahnya. Dia merasa tidak dikasihi seperti adiknya. Padahal, ayahnya juga mengasihi Anak Sulung dengan kasih yang sama. Anak Sulung beranggapan bahwa dia harus bekerja keras untuk membuat ayahnya senang dan menghargainya, sementara adiknya—yang mempermalukan mereka—memperoleh sambutan yang seharusnya ia terima. “Ini tidak adil!” demikian kira-kira ungkapan yang menggambarkan kekesalannya.

Dari perumpamaan di atas, kita bisa melihat bahwa pada dasarnya, tidak ada seorangpun yang benar di hadapan Allah (Roma 3:10), literally. Hanya karena anugerah-Nya kita digerakkan untuk bertobat dan melakukan apa yang Allah kehendaki. Ketika kita memahami hal ini, mungkin ada beberapa pertanyaan yang bisa kita renungkan bersama:
“Apa aku merasa kehilangan arah hidupku?”

“Apakah aku memang sudah mengenal Allah dengan sungguh-sungguh?”

“Apakah aku masih sering menganggap diriku lebih layak memperoleh berkat Tuhan dibandingkan orang lain—yang (mungkin) hidupnya tidak lebih baik dariku?”

“Apakah aku merasa bahwa Tuhan mengekangku, meskipun Alkitab menunjukkan apa yang dilakukan dan diberikan-Nya adalah untuk kebaikanku?”
Kiranya masa pandemi ini menolong kita untuk berefleksi seberapa jauh kita mengenal Allah sebagai satu-satunya Pribadi yang setia menunggu kita pulang ke dalam pelukan-Nya.

NB: Pearlians dapat berefleksi juga melalui artikel ini.

Monday, March 30, 2020

Tidak Dibiarkan-Nya Kehilangan Iman



by Tabita Davinia Utomo

Bulan lalu, kelas saya membahas tentang providencia ilahi (divine providence, atau pemeliharaan dan penyertaan Allah). Sebelum kelas selesai, saya sempat bertanya pada sang dosen, “Bagaimana jika ada orang percaya yang murtad? Apakah orang itu akan auto kehilangan providencia Allah?”

Kemudian beliau menjawab, “Yah… kita tidak tahu. Mungkin saja suatu saat nanti dia bertobat—bahkan di detik-detik akhir hidupnya. Tapi satu hal yang jelas, kalau dia benar-benar anak Tuhan, maka Tuhan tidak akan membiarkan dirinya kehilangan iman. Artinya, providencia ilahi itu tetap ada bersamanya karena Tuhan tetap mengintervensi hidupnya. Bukankah Petrus pun mengalami hal yang sama?”

Iya, ya. Mungkin kalau kita berada dalam posisi terdesak seperti Petrus, rasanya menyangkali Yesus, Guru yang fenomenal saat itu, adalah pilihan satu-satunya agar tetap bertahan hidup. Kalau tidak, kita bisa ditangkap—bahkan ikut dihukum mati bersama-Nya sebagai pemberontak!

Padahal sebelumnya, dengan berani dia berkata pada Yesus (mungkin sambil menunjuk ke arah para murid yang lain),

"Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak."
(Matius 26:33)

Pada kenyataannya, Petrus membuktikan perkataannya. Well, setidaknya hanya dia dan Yohanes yang berani mengikuti kepergian Yesus ke rumah Imam Besar Kayafas setelah Dia ditangkap (Yohanes 18:15-16). Tapi tiba-tiba, ada seorang hamba perempuan yang berujar,

“Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu."
(Markus 14:67)

Menyadari identitasnya yang ketahuan, Petruspun menyangkalnya,

“Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud."
(Markus 14:68)

Namun ada orang lain yang juga mulai mencurigainya sebagai murid Yesus,

“Engkau juga seorang dari mereka!”
(Lukas 22:58a)

Lagi-lagi Petrus menjawab (mungkin sambil berusaha mengenyahkan semua memorinya bersama Sang Guru),

“Bukan, aku tidak!”
(Lukas 22:58b)

Kecurigaan orang-orang di sekitarnya semakin terbukti melalui gaya bahasa Petrus—mungkin logatnya yang khas sebagai orang Galilea. Merekapun berkata,

“Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.”
(Matius 26:73)

Kali ini, Petrus tidak bisa berkutik lagi. Posisinya sudah terpojok. Akhirnya dia mengutuk dan bersumpah,

“Aku tidak kenal orang itu.”
(Matius 26:74a)

… dan ayampun berkokok pada saat itu juga.
(Matius 26:74b)

Berkokoknya ayam setelah tiga penyangkalan terhadap Yesus membuat Petrus teringat pada apa yang Sang Guru katakan kepadanya, tepatnya setelah Petrus berkata ingin menjadi “pahlawan” dengan menyerahkan nyawanya bagi-Nya,

“Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”
(Yohanes 13:38)

Tidak heran jika setelah itu, saat Yesus memandang Petrus (Lukas 22:61a), “ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.” (Lukas 22:62)

Jika saat ini kita mengatakan bahwa Petrus adalah salah satu rasul terbesar sepanjang sejarah Kekristenan, kita juga harus mengingat titik terendah kehidupannya saat menyangkal Yesus. Ya, salah satu murid pentolan di “STT Tuhan Yesus” selama tiga tahun siang dan malam (demikian penggambaran yang digunakan dosen saya yang lain) ini ternyata jugalah manusia yang rapuh… sama seperti kita.

“Tapi kenapa Tuhan masih mau memakai murid durhaka ini untuk melayani-Nya, bahkan mengadakan “percakapan khusus” seperti di Yohanes 21:15-19!?”

Sederhana saja: karena Tuhan memang ingin memakai Petrus untuk melayani-Nya, maka Dia tidak membiarkan murid-Nya ini kehilangan iman kepada-Nya.

Tuhan tahu persis dinamika iman Petrus, begitu pula Dia terhadap kita. Tuhan tahu bahwa sebagai manusia, kita mengalami naik-turunnya hidup—termasuk dalam pergumulan iman. Well, itu salah satu bukti kasih-Nya kepada kita, bukan? Jika demikian, kenapa kita masih gengsi untuk mengakui kerapuhan kita di hadapan-Nya?

“Kalo Dia memang mahatahu, kenapa kita harus repot-repot berdoa? Toh, Dia berdaulat untuk mengeksekusi kehendak-Nya tanpa kita harus bersusah payah bertanya!”

Apakah fungsi doa hanya sebatas bertanya kepada Tuhan dan memberitahu-Nya apa yang kita butuhkan? Tidak. Doa adalah sarana kita berelasi dengan Tuhan, sehingga apapun bisa kita curahkan kepada-Nya—sebagai bentuk ungkapan syukur atas keselamatan yang diberikan-Nya kepada kita. Artinya, meskipun Dia adalah Tuhan yang mahatahu, Dia tetap ingin kita membangun relasi dengan-Nya… termasuk saat iman kita justru sedang mempertanyakan kedaulatan-Nya. Plus, mungkin perkataan Ibu Inawaty Teddy ini bisa menjadi refleksi kita:

“Kedaulatan dan anugerah Allah tidak menghilangkan tanggung jawab manusia.”

Tidak apa-apa jika saat ini kita sedang merasa kehilangan arah.

Tidak apa-apa jika saat ini kita meragukan kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

Mungkin keduanya Tuhan izinkan terjadi untuk menyadarkan kita bahwa rencana manusia tidak bisa menyamai rencana-Nya—yang tingginya tidak tergapai itu.

Mungkin ketika kita tidak sanggup lagi untuk melangkah,

Tuhan sedang menggunakan momen pause ini untuk membuat kita mengenal diri-Nya—yang selama ini tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.

... karena providencia Allah tidak pernah membiarkan umat pilihan-Nya kehilangan iman.

Apakah kita termasuk di dalamnya?

I touch the sky when my knees hit the ground
– Hillsong

Monday, March 23, 2020

Yudas Iskariot: Ketika Ekspektasi Berujung Kecewa


by Tabita Davinia Utomo

Catatan penulis: Akan lebih baik jika Pearlians membaca Matius 26:14-16, 47-56, 27:3-10, dan Yohanes 13:21-30 terlebih dulu sebelum membaca artikel ini. Pearlians juga bisa membaca bagian-bagian Injil lain yang berkaitan dengan bacaan di atas.

Apa yang terlintas di benak Pearlians saat mendengar nama Yudas Iskariot?
a. Pengkhianat Sang Guru? (Matius 26:14-16, Markus 14:10-11, Lukas 22:3-6)
b. Bendahara-sekaligus-“koruptor” di “STT Tuhan Yesus” setiap hari selama (kira-kira) tiga setengah tahun? (Yohanes 12:6, 13:9)
c. Orang yang menegur Maria saat dia mengurapi Yesus dengan minyak narwastu? (Yohanes 12:4-5)

Ketiga poin di atas nggak salah, sih. Para penulis Injil cenderung menekankan karakter Yudas seperti itu. Tapi pernahkah Pearlians berpikir alasan yang melatarbelakangi pengkhianatan Yudas terhadap Yesus? Nah, sebelum membahasnya lebih lanjut, kita perlu berkenalan dengan tokoh utama artikel kita kali ini. Tanpa sebuah perkenalan, tentu kita tidak boleh asal menghakimi seseorang. Ya, nggak?

--**--

Nama Yudas Iskariot perlu dilihat dari dua sisi, “Yudas” dan “Iskariot”. Pada masa itu, nama Yudas sendiri cukup umum digunakan dalam kebudayaan Yahudi. Sebagai contoh, ada yang namanya Yudas Makabe (yang pernah disangka sebagai Mesias oleh orang Yahudi), Yudas murid Yesus, dan Yudas saudara Yesus (penulis surat Yudas). Beralih ke “Iskariot”, kata ini mungkin berasal dari kata “sicarii” (assassins, atau pembunuh), sebutan bagi sekelompok orang Yahudi garis keras yang menusuk para korbannya dalam keramaian. Hm, nama yang cukup mengerikan, ya? Namun hal tersebut dilakukan para penulis Injil untuk membedakan dua murid Yesus yang memiliki nama Yudas; yang satu juga bernama Tadeus, dan yang satu lagi adalah Yudas yang sedang kita bahas.

Meskipun Alkitab tidak menjelaskan secara rinci alasan di balik pengkhianatan Yudas, namun bukan berarti kita bisa membuat dugaan asal-asalan. Sebagai contoh, ada yang mengatakan bahwa Yudas termasuk orang yang “mata duitan”. Buktinya adalah pencurian uang kas yang dipegangnya. Well… bisa jadi itu benar, tapi bisa juga tidak. Kalau dia memang “mata duitan”, kenapa pada akhirnya dia membuang uang itu lalu bunuh diri—terlepas dari kesalahan yang dilakukannya (yaitu menyerahkan Yesus, yang sebenarnya tidak bersalah)?

Satu hal yang bisa kita simpulkan dari tiga poin di awal artikel ini adalah Yudas cenderung memiliki jiwa pemberontak. Walaupun sudah mengikut Yesus selama tiga setengah tahun, Yudas belum benar-benar memahami bahwa kehadiran Gurunya itu bukan untuk membebaskan orang Yahudi dari penjajahan Romawi. Sebagai sicarii, mungkin awalnya Yudas tertarik dengan Yesus yang sanggup membuat perkumpulan baru dalam waktu pendek. Apalagi dengan nubuat para nabi yang mengatakan Sang Mesias akan hadir ke dunia, dan gelar itu terasa cocok untuk disematkan pada Yesus—Rabi sekaligus Pembuat Mujizat itu. Wajar kalau akhirnya Yudas berharap bahwa Yesus inilah yang akan mengusir para penjajah agar orang Yahudi bisa berdiri di atas tanah sendiri. Rasanya masuk akal kalau mereka juga mengharapkan hal yang sama seperti Yudas, bukan?

Tapi kita tahu:
Bukan itu yang Yesus lakukan, dan merekapun kecewa.

Menyadari keadaan yang (besar kemungkinan) tidak sesuai dengan harapannya, Yudas memutuskan untuk “menjual” Yesus kepada orang-orang yang membenci-Nya. Setelah memperoleh 30 keping perak (senilai harga seorang budak), dia mulai mencari kesempatan yang tepat untuk melancarkan aksinya. Wah! Sebuah perencanaan yang jeli, namun (disadari atau tidak) Tuhan memakai Yudas yang licik ini untuk menggenapi karya keselamatan-Nya. Pada akhirnya, kita tahu bagaimana kondisi Yudas setelah pengkhianatannya: Yudas menyesali keputusannya lalu gantung diri setelah melemparkan “uang darahnya” di Bait Suci.

--**--

Dear Pearlians (sambil ngomong sama diri sendiri juga),
wajar kok kalau kita memiliki ekspektasi sebelum memilih sesuatu. Kalau tidak, kita bisa asal cap-cip-cup tanpa memikirkan risiko dari pilihan yang kita buat.

Biasanya pilihan itu berujung pada dua hal:
a. kita bahagia atas pilihan yang diambil; atau
b. kita menyesali pilihan tersebut.

Masih “mending” kalau pilihan itu bisa segera dibatalkan sebelum semuanya terlambat, atau ada kesempatan kedua yang Tuhan berikan pada kita. Tapi bagaimana kalau pilihan itu menyangkut hal-hal yang tidak bisa diulang kembali; let’s say marriage life, or decision to choose to Whom we shall put our faith. Jangan-jangan kita akan menyesal karena sudah berharap terlalu banyak tapi realitas berkata lain. 

Kalau berbicara tentang mengikut Yesus, pertanyaannya bukan hanya tentang seberapa tinggi ekspektasi kita terhadap-Nya; tapi seberapa jauh kita mengenal-Nya. Kenapa? Karena melalui pengenalan akan Yesus, Roh Kudus memampukan kita untuk menundukkan ego, hingga kita bisa taat kepada Sang Guru. Tentu ini bukan hal yang mudah, ya. Siapa bilang kalau ikut Yesus lalu semua masalah auto selesai dan semua hidup bahagia? Bahkan Yesus berkata bahwa orang yang ingin menjadi murid-Nya harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia!

Masihkah kita ingin memberontak saat Dia telah berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”?

Ajakan ini bahkan juga ditujukan untuk mereka yang telah membuat pilihan yang salah. Pengampunan Tuhan sesungguhnya disediakan pula bagi Yudas Iskariot, sebagaimana pengampunan-Nya juga diberikan kepada Petrus yang menyangkalnya sampai tiga kali. Apa bedanya antara Yudas dengan Saulus? Yudas menyerahkan Yesus pada orang-orang yang kemudian membunuh-Nya, sementara Saulus membunuh orang-orang percaya – yang bagi Yesus sama artinya dengan menganiaya Yesus sendiri (Kisah Para Rasul 9:4). Yudas mengkhianati Yesus, Petrus menyangkal Yesus, dan Paulus menganiaya Yesus. Yudas menangis ketika menyesali dosanya, Petrus pun demikian. Perbedaannya hanya satu, Petrus – [dan juga Paulus] menyesal dan bertobat lalu hidup untuk Yesus, namun Yudas tidak. Yudas justru, sekali lagi, memilih pilihan yang mendukakan Tuhan. 

Jadi, ketika kita dihadapkan pada pilihan-pilihan kehidupan, masihkah kita ingin tetap mengikuti keegoisan diri sendiri, padahal Yesus justru telah rela merendahkan diri-Nya hingga mati di kayu salib demi menebus dan menyelamatkan kita? Atau, ketika Tuhan memberi kita kesempatan kedua atau ketiga, masihkah kita menyia-nyiakan kebaikan dan anugerah Tuhan?


***


Bacaan lebih lanjut:
Judas: A Biography, oleh Susan Gubar (W. W. Norton & Company, 2009)