Showing posts with label Natalia Setiadi. Show all posts
Showing posts with label Natalia Setiadi. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Beauty in Weakness


by Natalia Setiadi

Rasul Paulus berkata dalam 2 Korintus 12:7 bahwa dia diberi duri dalam dagingnya supaya dia jangan meninggikan diri. Ada penafsir yang berpendapat duri dalam dagingnya itu adalah penyakit, ada juga yang bilang sifat Paulus yang pemarah, tidak ada yang tahu pasti.

Kalo boleh disama-samain, kayaknya keadaan atau situasi hidup juga bisa jadi duri dalam daging ya. Dalam perjalanan saya ikut Tuhan, salah satu tantangan terbesar adalah kecaman terhadap kinerja saya sebagai ibu. Maksudnya, di-judge dalam hal motherhood. Motherhood memang dunia yang keras. Sejak proses melahirkan kita udah kenyang di-judge soal lahiran normal atau caesar, kasih ASI atau susu formula, pakein pampers atau cloth diapers, dan seterusnya. Seiring berjalannya waktu, kritik, kecaman, dan judgement itu bukannya mereda, tapi makin bertambah terus.

Dulu, dengan segunung idealism, saya berusaha sekuat tenaga untuk menjadi the best mother. Bukan cuma buat anak saya, tapi juga buat ego saya pribadi. Saya diam-diam menikmati pujian “supermom” dan merasa diri lebih baik daripada beberapa mama lain. Buat menghibur diri karena “pengorbanan” saya melepaskan atribut dokter dan turun ke dapur jadi ibu RT, saya berusaha sedemikian rupa supaya jadi mama yang maksimal. Apa itu ngga baik? Tentu saja baik. Ngga baiknya adalah, saya merasa sudah berhasil dan tanpa sadar berhenti mengandalkan Tuhan.

Tahun ketiga jadi mama, anak saya didiagnosis ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau gangguan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas). Seiring bertambahnya umurnya, sebagian kesulitannya berkurang, tapi muncul juga kesulitan-kesulitan lain yang justru makin jelas. Salah satunya masalah perilaku.

Ngomong memang selalu lebih gampang daripada menjalani. Menghakimi selalu lebih gampang daripada mengalami sendiri. Karena anak saya tidak bisa duduk tenang, mudah emosi dan frustrasi, “nakal”, papa-mamanya dibilang kurang perhatian. Kalo orang dengar pantangan makan anak saya yang segambreng, mereka bilang saya overprotective. Kalo saya mendisiplin, saya dibilang terlalu keras. Kalo saya biarkan anak saya eksplorasi, manjat dan lari-lari, saya dibilang terlalu membiarkan. Bahkan pernah juga mentah-mentah saya disebut mama yang ngga bener.

Untuk menepis omongan-omongan itu, saya berusaha lebih keras jadi mama yang lebih baik lagi. Kadang-kadang berhasil, tapi lebih sering gagalnya. Gagal dengan sukses. Ternyata jadi mama yang paling baik yang saya bisa pun tidak bisa meredakan judgement.

Saya membiasakan diri untuk ngga ambil pusing dengan komentar orang, tapi selain itu juga ada macem-macem kesulitan silih berganti. Dari masalah sosialisasi, tuntutan akademis dari sekolah, guru yang ngga paham dan ngga ingin paham, rutinitas ketat, pola pikir yang kaku, masalah emosi, sampe urusan insomnia parah yang meliputi episode nangis-tantrum hampir setiap malam selama berminggu-minggu.

Berulang kali saya jatuh bangun dan terpuruk. Saya merasa kurang sabar, pernah sampe histeris, sering kali sikap saya juga ketus dan mudah marah. Ternyata saya bukan supermom. Pingin banget kayak mama-mama di TV nan cantik rupawan dan lemah lembut. Tapi saya kok jauhnya kebangetan deh dari mama-mama itu, saya lebih mirip tokoh ibu tiri jadul yang suka ngomel teriak-teriak sambil nyirih dan makan jengkol. Wkwkwkw...

Kadang saya merasa tak berdaya ngeliat begitu banyak pergumulan anak saya di sekolah, juga di rumah, tak berdaya mengubah diri sendiri supaya jadi mama yang lemah lembut dan panjang sabar, tak berdaya menangkis tuduhan-tuduhan si jahat yang hobi me-replay komentar miring yang sering saya terima. Ternyata saya lemah. Image supermom juga dipakai iblis buat memojokkan saya: “Keliatannya aja baik di luar, kalo ngga ada yang lihat kok pake teriak-teriak... Nggak malu tuh, sama tetangga?”

Waktu saya lemah terpuruk berurai air mata, saya berseru minta pertolongan Tuhan. Tapi kok Tuhan diem aja ya? Nggak ada tuh suara yang menenangkan saya. Nggak ada damai sejahtera supranatural yang mendadak melingkupi saya. Saya gak mendadak bangkit dan jadi kuat kayak Hulk. Padahal kalo saya baca atau denger kesaksian orang, kok mereka ditolong Tuhan luar biasa?

Kok mereka dapat damai sejahtera yang melampaui segala akal? Kok saya enggak? Kok Tuhan tega ya liat saya nangis-nangis putus asa tapi Tuhan diem aja? How could You, Lord? :(

Tanpa saya sadari, Tuhan TIDAK DIAM SAJA! Dia sedang bekerja, walaupun tangan-Nya ngga terlihat oleh saya.

Saya berusaha berserah seperti kata orang-orang. Gimana sih sebenernya berserah itu? Apa yang harus saya lakukan kalo mau menyerahkan masalah saya sama Tuhan? Gimana caranya?

Maka dengan sabar Tuhan pun mengajari saya lagi, seperti mengajari anak kecil sesuatu yang udah diketahui oleh semua orang.

Saya belajar lagi bahwa berserah itu adalah tidak mencari jalan keluar sendiri. Menyerahkan suatu masalah ke Tuhan itu adalah berhenti memikir-mikirkan masalah itu dan menunggu.

Kadang-kadang menunggu itu sambil diam saja, kalo memang Tuhan memerintahkan demikian. Kadang-kadang menunggu sambil melakukan bagian kita, artinya melakukan yang baik yang bisa kita lakukan, dan selebihnya biarkan Tuhan melakukan bagian-Nya.

Maka saya tidak lagi berusaha mengubah kepribadian saya. Wong aslinya memang renyah (alih-alih lembut) ya mau dikata apa wkwkwk... Dan saya berhenti brainstorming untuk setiap kesulitan baru yang dialami anak saya.

SAYA BERDOA LEBIH BANYAK, LALU MENUNGGU.

Menunggu Tuhan menuntun saya, untuk melakukan sesuatu yang Dia tunjukkan, atau untuk diam saja menantikan pertolongan-Nya.

Ternyata ini yang mau Tuhan ajarkan dalam “diam”-Nya. Dia “membiarkan” saya merasakan kelemahan.

“Karena kuasa-Ku menjadi sangat nyata ketika kamu lemah.”
(2 Korintus 12:9 / Terjemahan Sederhana Indonesia)

Jadi lemah itu bukan sesuatu yang buruk. Hebat dan kuat itu tidak selalu baik.

Kalau lemah membuat saya melihat kuasa Tuhan dinyatakan, maka lemah itu indah. Kalau hebat dan kuat membuat saya berhenti mengandalkan Tuhan dan menyombongkan diri, maka hebat dan kuat itu sama sekali tidak baik.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
(2 Korintus 12:9-10)

Kalo saya lihat ke belakang, ke waktu-waktu yang paling sulit, di mana saya udah desperado abis, beneran loh justru masa-masa itu yang Tuhan pakai luar biasa buat membentuk saya. Waktu di tengah badai persoalan memang mata saya seperti rabun, ngga bisa lihat tangan Tuhan bekerja, hati saya ndablek, susah buat ngerasain kebaikan Tuhan. Tapi setelah badai berlalu, setelah mata saya cukup terang buat memandang karya tangan-Nya, hati saya sudah cukup tenang buat ngerasain kasih setia-Nya, kuasa-Nya, begitu nyata saya lihat dan rasakan.

Jadi, next time kalo lagi ngerasa lemah, it’s OK, there’s beauty in weakness.

Ingat bahwa kasih karunia Tuhan selalu cukup. Senang dan relalah dalam kelemahan, karena di situlah kuasa Tuhan nyata.

Wednesday, October 24, 2018

On Submission (Part 2)


by Natalia Setiadi 

Suatu hari, mobil kami mogok. Suami dan saya sama2 gak ngerti mesin. Tapi karena suami saya orang yang sangat bertanggung jawab, dia belajar untuk bisa ngatasin urusan mobil yang simpel2 di saat darurat. So, setelah diutak-atik ga berhasil, dia bawa accu mobil buat disetrum. Setelah kembali, ternyata mobil masih ga mau hidup.

Ga lama kemudian, suami panggil seorang montir ke rumah. Montir ini belum pernah saya liat sebelumnya. Ternyata suami saya dapet "nemu" di bengkel tempat setrum accu. Maka sebagai istri yang selalu punya pendapat sendiri (dan pendapatnya adalah yang paling bagus dan paling bener), dahi saya langsung berkerut dan saya langsung meringkik dalam hati, "WHATTT???!"

(Idih, gimana kalo ini bukan montir tapi penipu? Gimana kalo mobil bukannya bener malah tambah ancur? Gimana kalo gini gimana kalo gitu... -.-‘)

Untung beribu untung, beberapa hari sebelumnya saya baru ditabok Tuhan, ditegur dengan lumayan pedih dalam hal submission, sampe hati saya yang keras akhirnya bertobat. Dan bertekad untuk berubah. Untung juga tekadnya rada kuat, jadi keinget buat mempraktekkan usaha berubah ini begitu ada kesempatan.

So, saat hati saya meringkikkan protes tadi, mulut saya tetap MINGKEM. Dahi saya mungkin masih tetep mengerut tanpa bisa direm, tapi segitu udah lumayan lah ya... :P

Betapa susahnya untuk SUBMIT. Di dalam submission ada hal yang mendasar yang sering kali gak saya sadari juga, yaitu TRUST. If you can't submit to your husband or your other authorities, chances are you don't trust him/them. Keengganan kamu untuk tunduk mungkin berakar dari kurangnya kepercayaan kamu terhadap figur otoritas itu.

So, dengan merendah dan dengan malu saya ngaku nih, saya sering kurang percaya sama pertimbangan, penilaian, dan keputusan suami. Tentu aja saya punya banyak alasan buat membenarkan diri sendiri: "suami gak pengalaman soal ini", "suami sibuk, gak terbiasa untuk A, B, C" atau "urusan ini saya yang lebih ngerti kok" atau "boleh dong saya kasih masukan/saran buat suami?"

Ngasih masukan/saran kedengarannya bagus, iya gak sih? Masalahnya kita para perempuan seringnya KEBANYAKAN ngasih saran. Bahkan saran yang gak perlu, gak diminta, bahkan yang gak diinginkan. Satu-satunya kesempatan di mana kita sebagai istri WAJIB kudu harus kasih masukan dan saran adalah pada saat kita tahu dengan pasti dan jelas bahwa suami memutuskan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan firman Tuhan.

Hm... kayanya justru di saat beginian kita enggan kasih saran dan memilih mingkem ya -.-‘

Kenapa sih gak boleh kasih saran? Eh saya gak bilang ga boleh kasih saran loh ya. Yang saya bilang adalah, sebaiknya saran/masukan/ide/pendapat kita disimpan dulu, kecuali kalo diminta sama suami, atau kalo emang sikonnya kita lagi berdiskusi atau brainstorming tentang sesuatu. Tapi kalo “saran” atau kalimat yang udah di ujung lidah kita dan sangat gatallll buat dikeluarin itu berbentuk kritik atau protes atau komentar apalagi pernyataan yang ketus, alangkah baiknya kalo disimpan aja untuk seterusnya.

Dalam hal ini ini, beneran berlaku SILENCE IS GOLDEN alias DIAM ITU EMAS.

“Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.”
(Amsal 12:18)


Saya seriiiinngggg jatuh di sini. *tertunduk malu* Ada temen yang pernah bilang, saya ini tipe orang yang mikirnya kecepetan. Terutama kalo ngobrol atau ngomong, nah itu respon saya menjawab bisa cepet banget (katanya sih gitu, entah bener apa enggak). Makanya, baik disadari atau gak disadari, respon saya terhadap suami tuh keluarnya sering gak enak didengar. Kadang ketus, kadang mempertanyakan atau gak percaya, orang Jawa bilang maido. Kadang downright disrespectful alias gak sopan >_<

Daaaan yang lebih parahnya, anak saya juga mulai ikut-ikutan ngomong ke papanya kayak gaya saya ngomong. Huhuhu... :"(

Perlu saya sebutkan di sini, buat yang kenal sama my hubby, mungkin tau ya, orangnya heboh dan kadang mengutarakan hal-hal yang enggak lazim wkwkkwwk... Saya ngomong apa sih hehehe... Susah dideskripsiin nih, pokoknya jalan pikirannya tuh kadang anti mainstream gitu. Out of the box lah istilahnya. Dan kadang dia juga susah mengungkapkan yang ada di pikirannya supaya bisa ditangkep dengan baik sama pendengarnya. Makanya gampang muncul salah paham, atau menimbulkan respon yang “enggak lazim” (alias gak bener) juga dari saya. Hihihi...

Terlepas dari gimana watak, sifat serta kecenderungan kita dan pasangan, sebagai istri kita diminta untuk tunduk, termasuk malah terutama dalam ucapan. Karena ucapan kita bisa membangun, atau meruntuhkan suami. Membangun kepercayaan diri suami atau meruntuhkannya. Membangun atau bikin melempem hubby’s sense of leadership. Membangun kepercayaan kita sendiri terhadap suami, atau mengikisnya sampe habis.

“Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.”
(Amsal 14:1)

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”
(Efesus 4:29)

Jadi, jangan buru-buru ngeluh kalo suami dirasa kurang tegas, atau kok leadership-nya lemah, atau susah mengambil keputusan. Mungkinkah suami jadi takut salah karena komentar kita yang terlalu pedas? Bukan takut istri, cuma MALEESSSS denger omelan, males salah paham, males berdebat. Ujung-ujungnya suami males bikin keputusan, males mimpin, “Gimana kamu aja dah...” 

Jangan langsung ngiri kalo denger suaminya si A bisa minta pertimbangan istrinya, lalu dengan tegas penuh percaya diri mengambil keputusan yang baik. Jangan banding-bandingin suami kita sama suami si B yang leadership-nya bagus banget.

Coba deh mulai perhatiin sikap para istri dari pria-pria yang sukses mimpin keluarganya ini. Mungkin sikap dan omongan para istri ini bikin suami mereka mekar merekah cetar membahana?

“Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.”
(Amsal 31:11-12)

“Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.”
(Amsal 12:4)

“Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.”
(Amsal 31:23)

Sikap tunduk dan omongan positif para istri terpuji ini yang semestinya bikin kita ngiri, lalu kita teladani. Satu lagi PR yang gak kalah penting. Kalau udah berhasil menyortir omongan dan hanya mengeluarkan kalimat-kalimat yang tepat di saat yang tepat kepada suami, bolehlah kita berbangga, tapi perjuangan belum selesai.

Seandainya kemudian things go wrong, as they most certainly WILL one time or another, jangan bilang, “Tuh... kan... nyesel deh kemaren gue gak kasih saran... Gak bener noh blogger yang sok iye nyuruh2 saya mingkem!” :P atau “Duhhh, gimana sih kamu, Say... Makanya pake cara saya aja...” dan sejenisnya. Nyalahin saya sih boleh (soale saya gak bakal kerasa juga, xixixi...), tapi jangan nyalahin suami ya.

GIVE HIM ROOM TO ERR. Kasih ruang buat suami bikin salah. Suami manusia biasa kan? Makanya pasti ga luput dari kesalahan. (Yang suaminya bukan manusia boleh protes, heheheh...) Kasih kesempatan untuk suami belajar dari kesalahannya. Percaya deh, suami akan sangat menghargai kalo kita bisa dengan tulus bilang, “Gak papa, Hunny... Pemimpin juga manusia... I still TRUST you and want you to lead.”

So, kalo kita berdoa buat suami dan mendoakan leadership-nya, perlu juga doa supaya kita diberi hikmat buat membangun dan mendukung suami melalui sikap dan omongan kita.

Yup, segitu aja deh sharing saya tentang (h)ajaran terbaru Tuhan buat saya tentang submission. Saya nulis postingan begini bukan mau sok-sok-an ngajarin. Justru ini lesson yang saya dapet dari kedodolan harian saya, saya tulis sebagai pengingat di kemudian hari (soale biasanya kedodolan saya ga bisa ilang dalam waktu singkat atau dengan 1 hajaran doang huekekek...), sekalian buat menghibur yang baca (siapa tau ada yang kelemahannya sama kayak saya :P), sukur-sukur kalo yang baca bisa dapet berkat...

Monday, October 22, 2018

On Submission (Part 1)


by Natalia Setiadi 

Salah satu perintah paling populer tapi paling SUSYEH buat para istri, terutama istri yang agak bedegong (= semau gue) seperti saya, adalah:

“Hai isteri-isteri, TUNDUKLAH kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.”
(Kolose 3:18)


Tunduk itu apa sih? Kata Kamus Bahasa Indonesia (http://kamusbahasaindonesia.org), kata kerja TUNDUK bermakna:
1) Takluk; menyerah kalah
2) Patuh; menurut (perintah, aturan, dsb)

Kalo kata Encarta Dictionary, kata SUBMIT yang diterjemahkan jadi kata kerja TUNDUK dalam bahasa Indonesia punya makna:
1) Yield: to accept somebody else's authority or will, especially reluctantly or under pressure
2) Agree: to agree to undergo something
3) Defer: to defer to another's knowledge, judgment, or experience

Seorang wanita misionaris yang sangat saya hormati dan sudah menginspirasi buanyaakkk sekali orang pernah bilang, “Kalo kamu tidak pernah bergumul untuk tunduk kepada suamimu, mungkinkah itu artinya kamu belum benar-benar berusaha tunduk?”

JLEB. Daleeemmm…

Jujur, sebelom itu emang saya ga pernah mikirin soal tunduk sih huekekeke… setelah baca banyak tulisan soal submission, dan setelah saya mulai belajar untuk benar-benar tunduk kepada suami saya, barulah CELIK MATAKU… *.*

Kadang-kadang kalo abis gagal tunduk, dalam hati saya bersungut-sungut, “Kalo aja suamiku bisa lebih bae dalam memimpin, mungkin saya bisa lebih mudah tunduk…“

Atau “Hmmm… rasanya dalam hal X, Y, Z saya masih lebih ‘godly’ deh daripada suami, seandainya aja dia bisa lebih worth submitting under dalam hal-hal itu!”

Padahal sih walopun suami udah jadi pemimpin yang baik, udah godly dan bae dalam hal X, Y, Z, percaya deh pasti adaaaa aja hal-hal laen yang bisa saya jadiin alasan. Karena suami saya manusia biasa yang tidak sempurna. Dan karena dalam keengganan saya untuk tunduk, saya berusaha cari pembenaran diri (yang tidak benar ini).

Bukankah Alkitab ga pernah bilang, “Tunduklah kalau suamimu pemimpin yang baik, kalau dia kurang baik, tunduk saja sama tetangga…” dan bahkan ga ada tulisan “Tunduklah kalau suamimu orang percaya, kalo dia belum percaya ga usah lah yauw…”

Jadi? Seandainya pun suami belum percaya, kita TETAP DIPERINTAHKAN untuk tunduk!

Perintah yang sama ini diulangi di

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan”
(Efesus 5:22)

dipertegas di

“karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat”
(Efesus 5:23)

dan diulangi lagi dalam

“Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya.”
(1 Petrus 3:1)



Ada apa dengan TUNDUK? Kenapa sampe ditulis berulang-ulang? Biasanya apa yang pengen kita tekankan ke anak kita pasti sering kita ulang-ulang kan? Begitu juga soal submission ini. Diulangi berkali-kali karena memang penting, dan supaya yang baca bener-bener ngeh dan menyadari pentingnya. Saya sama sekali bukan expert soal Firman Tuhan, so ga berkompeten (banget) untuk mengulas panjang lebar dan dalam soal ayat-ayat tentang ketundukan ini, tapi di sini saya share aja berkat & pencerahan yang saya dapet secara pribadi ya…

Soal tunduk menurut saya berhubungan erat dengan tipe kepribadian masing-masing orang. Ada orang-orang yang emang senang dipimpin, jadi bisa tunduk dengan lebih mudah. Ada orang-orang yang emang “dari sononya” dominan, suka memimpin dan selalu punya pendapat sendiri, susah banget nerima pendapat orang lain atau nurut apa kata orang lain.

Tapi saya rasa semua ibu rumah tangga tuh udah ditempa oleh situasi dan kondisi, harus bisa mengatur rumah tangga, jadi udah terbiasa bikin banyak keputusan sehari-hari. “Hari ini masak apa ya? Hm... Ikan aja deh...” atau “Kayanya mau hujan, mendingan nyuci baju hari ini apa besok ya? Besok aja deh...” dst. Belom lagi kalo udah punya anak. Yang udah biasa ngurus baby pasti manggut-manggut tuh :) Soale dengan punya baby itu kita kudu bikin SEMUA keputusan buat si baby; kapan nyusu, kapan mandi, kapan mulai MPASI, mau kasih imunisasi apa aja, dst.

So, sejak bergelar “nyonya” apalagi “mama”, kita udah terkondisi untuk selalu punya pendapat atau keputusan tentang berbagai macam hal. Nah karena suami-suami tuh relatif lebih banyak di luar rumah, otomatis kita semakin “merajai” urusan rumah tangga, dan sampai titik tertentu memang begitulah seharusnya, kan kita ini helpmeet-nya suami, ya gak, ibu-ibu? :)

Tapi susahnya, dengan terbiasa jadi tukang ngatur gitu, makin lama kita makin tau dan makin mahir, dan makin MERASA LEBIH TAU dan MERASA LEBIH MAHIR, terutama soal anak. Karena kita seharian bareng anak, otomatis kita memang lebih tau jadwal rutinnya anak, apa yang boleh dimakan atau dilakukan sama anak, dan kapan waktunya. Sedangkan suami yang seharian di kantor mana tau anaknya setengah jam yang lalu makan apa?

So, yang sering kejadian adalah: begitu suami pulang dan nongolin muka di pintu depan, anak udah nodong dengan pertanyaan, “Papa, boleh ngga saya makan es krim sekarang?”

Karena papanya kangen dan ngga tega nolak atau udah cape ga berminat dibikin pusing lagi sama anak yang ngambek, bilang boleh.

Trus mulai deh istrinya ngomel, “Papa ini gimana sih, dia baru aja ngabisin es duren semangkok, masa sekarang boleh makan es krim lagi?”

Papa jawab dengan agak kesel, ”Yah, meneketehe atuh…”

Kalo istrinya jawab lagi jadi ribut deh… -.-‘

[Disclaimer: ini bukan peristiwa yang sebenarnya dan bukan pengalaman pribadi. Saya cuma ngarang. Beneran! :P]

Poinnya adalah bahwa perkara tunduk ini bener-bener nyerep banget deh di kehidupan sehari-hari, masuk di segala aspek kehidupan! Karena itu, sebenernya ada banyak kesempatan di mana kita bisa praktik atau minimal belajar seni tunduk kepada suami.

Kalo saya mah jangan dicontoh ya. Tunduk bagi saya SUSYEHNYA ajubileh deh… Saya mendingan markirin mobil di tempat sempit sambil diklaksonin orang daripada tunduk! -.-‘ Saya masih buaanyaaak banget gagalnya. 

Karena situasi mengharuskan saya mandiri, saya terbiasa untuk bikin keputusan sendiri tanpa konsultasi sama suami (yang memang ga setiap saat bisa jawab telepon semaunya). Untuk hal-hal besar atau ngga mendesak sih udah otomatis berunding dulu, tapi untuk hal-hal kecil yang kurang penting atau yang mendesak, saya cenderung ga sabar and buru-buru jalan tanpa minta pertimbangan suami. 

Saya sadar ini salah, dan saya berjanji sama diri sendiri untuk bertekun dalam usaha saya tunduk, tidak mengutuk diri sendiri kalau saya gagal atau jatuh, dan menjadikan pengalaman kegagalan yang buanyak itu sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Hasil brainstorming saya sama suami, dalam situasi-situasi yang mirip dengan kasus es krim di atas, kami sepakat untuk tidak langsung kasih jawaban kepada anak. Saya & suami harus komunikasi dulu, dan pada akhirnya harus suami yang kasih keputusan final kepada anak, boleh atau tidaknya. Suami DILARANG KERAS bilang, “Tanya aja sama mama…” karena itu bisa bikin anak berpikir bahwa mama-lah yang jadi pembuat keputusan akhir.

Tanya: Kalo saya orangnya dominan atau emang berwatak koleris gimana dong?

Jawab: Ya berubah lah! Gak ada cara lain :) Maksud saya bukan berubah watak kudu jadi lemah gemulai ya... Kalo begono mah ampe taon kuya juga gak bakal bisa kali, yang ada setreessss! 

Maksud saya berubah adalah minta Tuhan ubahkan sikap hati kita dan kuatkan tekad kita dan memampukan kita untuk tunduk. Karena perintah ini bukan cuma buat orang-orang yang berwatak flegmatis, tapi buat SEMUA istri. Minta Tuhan beri kita a gentle and quiet spirit, alias roh yang lemah lembut dan tenteram. Walopun koleris bukan berarti kita harus gahar en gak bisa lebih kaleman dikit kan?

Tanya: Kalo suaminya bener-bener ga OK (contoh ekstrim: masih berkubang dalam dosa seperti pemabuk, penjudi, pemarah, dll) gimana? 

Jawab: Yang kayak gini memang ujian buesarrr dalam hal ketundukan, dan saya sendiri ga punya wawasan tentang hal ini. Tapi saya percaya bahwa tugas kita para isteri adalah tetap MENGASIHI, TUNDUK, dan BERDOA buat suami, sedangkan MENGUBAH suami adalah bagiannya Tuhan. Just submit, love, and pray, and let God do His thing with your hubby. 

Dalam hal ini, 1 Petrus 3:1b bisa jadi janji yang menguatkan kita, “… Supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya.” Bisa share Firman Tuhan secara verbal itu baik, tapi seandainya hal ini ga mungkin dilakukan, kelakuan juga BISA BERBICARA banyak. 

Tunduk itu dahsyat!

Submission is powerful!

Wednesday, October 17, 2018

Galau Pranikah


by Natalia Setiadi

Berkaca dari pengalaman, biasanya ini nih yang ada di pikiran para calon penganten:

Galau.
Bimbang.
Takut salah melangkah.
Masih belum sreg, belum ‘yakin 100%’.
Senang dan excited sih, tapi... - banyaaaak banget tapinya, bener apa betul? ;) 
Apa sebaiknya ditunda aja ya?


Di film2, kita dicekokin drama yang serem2: ‘salah pilih suami/istri’, krn menikah pas dimabuk cinta, padahal cinta sejatinya ternyata sahabatnya sendiri (inget film Ayat-ayat Cinta? Atau Kuch Kuch Hota Hai?); atau ditinggal di altar karena pasangan mendadak batalin menikah (inget film Runaway Bride?); atau setelah menikah suami dan mertua baru keliatan belangnya, meneror dan menyiksa sambil morotin hartanya si istri (ini mah sinetron banget, maap saya ga ada referensi judulnya heheheh...)

Trus kalo denger cerita, tingkat perceraian meningkat, baik di kalangan orang biasa, public figure, tua atau muda, udah lama nikah atau baru nikah, bahkan di antara para pemuka agama sekalipun. Duh hati jadi miris dan ciut ga sih dengernya? 

Sebagai orang yang udah been there, done that alias udah pernah ngalamin bergumul dalam membuat keputusan menikah, saya bisa bilang bahwa: GA YAKIN 100% ITU WAJAR. Sangat wajar. Coz keputusan menikah adalah salah satu keputusan terbesarrr dalam hidup. So ga boleh salah dong… Saya malah ragu-ragu, apa bener ada orang yang 100% yakin bahwa keputusan menikah dgn calonnya adalah keputusan yang benar. 

Kenapa saya bilang ga yakin 100% itu wajar? Karena kita manusia ga tau masa depan. Dan kita manusia takut sama apa yang kita ngga tau. Itu udah sifat dasar. Kita takut & nervous pas hari pertama kerja, atau kalo harus masuk ke komunitas baru, sebagian besar karena kita ga tau bakal ngadepin apa. 

Meskipun ragu-ragu itu wajar, bukan berarti bisa diabaikan begitu aja, hayok maju terus pantang mundur, HAJAR BLEH! Sama sekali bukan. 

Kalo hubungan kalian dirasa belum mantep, atau belum ada restu dari keempat ortu, atau masih ada ganjelan /masalah besar (misalnya masalah agama, belum ada penghasilan tetap, beda visi misi, masih ada masalah keluarga atau hal-hal lain yang prinsip), adalah bijaksana utk bener2 mempertimbangkan kembali keputusan buat menikah. Bukan berarti kalo ada masalah2 di atas ga mungkin bisa menikah, tapi dengan masalah2 prinsip yang belom teratasi, bakal jauh lebih sulit ngejalanin pernikahan. 

Karena PERNIKAHAN TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH. Pernikahan justru membawa masalah. 

LHO? Serem amat sih… 

Saya bukan nyumpahin, cuma mau meluruskan, karena banyak orang memutuskan menikah utk ‘menyelesaikan masalah’. Misalnya masalah ga direstui, terus nekad kawin dan nikah, jadi para ortu mau ga mau KUDU MAU merestui. Terpaksa. 

Ada juga yang memutuskan utk menikah supaya bebas dari keluarga asal yang terlalu mengekang.
Ada juga yang menikah utk dapetin bantuan finansial (kawin ama rentenir kaleeee…). 
Ada juga yang menikah utk menaikkan status atau menyembunyikan aib. 
Macem-macem dah.

Pernikahan memang bisa mengubah keadaan. Tapi biasanya tidak bisa menyelesaikan masalah. 

Yang udah merit mungkin tau ya, betapa susahnya menyatukan 2 hati, 2 pikiran, dan 2 kepala yang semuanya beda. Plus menyatukan 2 keluarga besar, keluarga asal suami & keluarga asal istri. Menyatukan kebiasaan2 yang beda. Pola pikir, nilai-nilai, dan segunduk beda-beda lainnya. Tahun-tahun pertama pernikahan biasanya menjadi masa2 adaptasi yang ‘seru’ :P Belom lagi kalo udah ada anak. Tambah ribet, dijamin! 

Lantas apa mendingan ngga usah nikah aja? Ya bukan gitu.

Yang saya mau bilang adalah, kalo udah ngelewatin PERSIAPAN YANG MATANG, you should brace yourself and go for it. Kuatkan hati dan jangan takut buat melangkah maju. 

// Persiapan yang matang kek gimana sih?

Wah bisa-bisa saya rempong kalo kudu me-review semua teori tentang persiapan pernikahan. 
So, saya bakal sebut intinya aja di tulisan ini, secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (Proklamasi kali…):

1. Sudah sama2 berdoa dan dapetin jawaban doa bahwa Tuhan memang menghendaki kalian menikah.
Mungkin ini yang paling susah ya. Tau dari mana bahwa ini kehendak Tuhan? Feeling doang apa beneran Tuhan udah jawab? Ini akan butuh penjelasan di satu posting-an blog tersendiri :P

2. Udah melalui masa perkenalan yang cukup.
Cukup = 1-3 taon, idealnya, tapi ini menurut saya doang hehehe… Saya pernah denger and setuju banget sama perkataan yang bilang bahwa setelah 2 taon pacaran/courtship, saatnya membuat keputusan, apakah akan menikah atau putus. Karena kalo seudah 2 taon you still don’t have a clue if you two should tie the knot, this probably isn’t a healthy relationship, atau hubungan ini belum berhasil dibina dengan mantap, (atau mungkin juga kalian mulai pacaran terlalu dini, belom cukup umur utk mikirin nikah :P). Dan kalo udah lewat 2-3 taon, apalagi 5 taon dst, hubungan pacaran masih jalan tapi ganjelan prinsipil yang ada belom juga terselesaikan, akan semakin susah utk membuat keputusan berpisah. Karena keburu males utk start over with someone new (kudu mulai dari awal lagi: naksir2an, usaha pedekate, abisin waktu utk penjajakan, dst), atau udah males banget mikir ‘tanggung jawab kekeluargaan’ alias sungkan ama keluarga besar dan handai taulan yang udah telanjur kenal baik dgn pasangan kita. Nantinya setelah kamu start over dengan pasangan & relationship yang baru, biasanya akan lebih susah buat pasangan barumu ini utk ngerasa secure, karena ‘riwayatmu doeloe’ dengan mantan yang kelewat lama & udah dalem. Again, ini ga ada dasar yang kuat, cuman hasil pengamatan dan renungan pribadi doang ;)

3. Udah menyepakati prinsip-prinsip dasar untuk hidup bersama setelah menikah
(contoh: udah sepakat bahwa setelah merit/punya anak istri akan tetep kerja atau jadi ibu RT; akan tinggal terpisah atau gabung dengan keluarga asal; visi & misi 5-10 tahun ke depan; dan sejenisnya).

4. Kedua pasangan udah dewasa.
Artinya udah siap menjalani hidup dengan tanggung jawab sebagai orang dewasa: mampu menyelesaikan masalah secara dewasa (ga sedikit2 minta tolong ortu);

“Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.”
(Matius 19:5)

dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, istri/suaminya, dan kelak anak-anaknya.

5. Sadar bahwa hidup ini dinamis, tidak statis.
Segala sesuatu berubah (keadaan akan berubah, dan yup, suami/istri pun PASTI AKAN BERUBAH, baik fisik/mental/spiritual). Perubahan itu bisa ke arah yang lebih baik, bisa juga ke arah yang lebih buruk. Bersiaplah menyesuaikan diri dengan perubahan dan terus maju dengan optimis meskipun ada perubahan.

6. Komit untuk menjalani peran sebagai suami/istri sesuai “kodrat”nya 
“Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”
(Efesus 5:25)

“Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.”
(Kolose 3:18)

7. Ingatlah bahwa marriage is for a lifetime.
Once you enter it, there’s no way out, sampai maut memisahkan. Divorce might seem to be a choice, but seperti halnya menikah tidak menyelesaikan masalah, demikian juga bercerai tidak menyelesaikan masalah. Sesaat tampaknya seolah-olah perceraian akan menyelesaikan masalah/menghilangkan beban-beban tertentu. Tapi perceraian juga menabur banyak benih-benih dosa & masalah di kemudian hari.

“Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel”
(Maleakhi 2:16a)

Kalo entar mentok karena ada masalah mega dahsyat yang tak tertanggungkan lagi begimane dong?? Terus terang saya ga tau jawabannya, kudu nanya ke konselor or hamba Tuhan kali :P 

But satu hal yang pasti, we have a mighty God who will carry us and our marriage all the way through. Yang penting banget dari awal mindset kudu di-setting dulu, to NEVER CONSIDER DIVORCE AS A WAY OUT. Pikiran yang berbunyi “merit aja dululah, entar kalo ada masalah tinggal cerai” kudu DIHAPUS bersih2 dari pikiran kita. BIG NO NO. PAMALI. TABU. HARAM! 

8. Em… apa lagi ya? Belom kepikir, to be continued aja ya di tulisan selanjutnya tentang MARRIAGE :P

Biar mantep, saya anjurkan supaya para calon penganten baca sendiri buku-buku YANG WAJIB DIBACA selama membina hubungan dan sebelum menikah. Contohnya:

1. Lima Bahasa Kasih – Gary Chapman
2. Love for A Lifetime (saya lupa judul Indonya, kalo ga salah Cinta Kasih Seumur Hidup) – Dr. James Dobson

Banyak temen saya yang juga merekomendasikan buku-buku ini, tapi baru sebagian yang saya baca, so ga berani bilang wajib deh. But sebaiknya sih dibaca juga, buat “bekal”, siapa tau ada beberapa buku yang bisa ngejawab pertanyaan yang mengganjal di pikiran :)

1. Sacred Marriage – Gary Thomas
2. This Momentary Marriage – John Piper
3. Love Must Be Tough – Dr. James Dobson

Hidup penuh liku-liku (jadi lagu dangdut deh halaaah…), ga tau kapan nanjak, kapan turun, kapan belok kiri or belok kanan. Kaya naik roller coaster. Dalam kegelapan total :) Tapi selama kita naik roller coaster-nya bersama Tuhan, hidup berjalan bersama Tuhan, menikah di dalam Tuhan dan menjadikan Dia sebagai yang terutama dalam hidup pernikahan kita, we can trust Him. He will be there along the way. Pasang baik-baik sabuk pengamannya, merem kalo takut, and ENJOY THE RIDE! 

Ga ada jaminan bahwa di depan sana semua bakal indah terus. Bakal penuh pelangi dan bintang, ga ada hujan atau panas matahari. Bunga-bunga di mana-mana, ga ada ulatnya. Malah sebaliknya, yakinlah bahwa di depan sana pasti ada banyak tantangan. But we know He holds the future. Buang aja segala kuatir, taroh di bawah salib. Have faith that with Him, you & hubby/wife will make it through. Just walk together, by faith, not by sight.

Saya berdoa buat kalian semua yang akan memasuki pernikahan, semoga baca tulisan ini jadi dapet pencerahan (bukan tambahan kebimbangan wkwkwk… or kalo pun ada kebimbangan, semoga itu kebimbangan yang membangun ya). Kalo ngga dapet apa2 mah kasian deh lu, udah panjang2 baca sampe sakit mata :P

"Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam* terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demikian. Di atas semuanya itu, kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil dalam satu tubuh. Dan bersyukurlah."
(Kolose 3:13-15)


(* kata dendam ini dalam versi bahasa Inggrisnya adalah grievance, yang artinya a cause or reason for complaint, atau bahasa prokemnya GANJELAN alias UNEG-UNEG).

Wednesday, October 10, 2018

Help! I Married the Wrong Person!


by Natalia Setiadi

Hah serem amat ya judulnya?

Komentar para responden (ciehh...) ttg judul ini:

Single: “Idih, amit2 ya jangan sampe kejadian...” (sambil ngetok kayu dgn giat)
Istri/suami baru: “Puji syukur, gue married the RIGHT person...”
Istri/suami rada lama yang jujur: “Kadang rasanya gue married the wrong person, kadang rasanya the right person. Mana yang bener ya?”
Istri/suami rada lama yang terlalu jujur: “Huh, gue yakin gue married the wrong person. Gue dulu merit cuman demi... Bla bla... Sekarang bertahan juga cuman demi... bla bla...”

Posting-an ini menyambung karangan saya terdahulu yang berjudul Galau Pranikah. Buat yang belom baca tapi pengen baca, cekidot dulu deh link-nya, biar nyambung ceritanya. Kalo ga pengen baca, mendingan dipengen2in, trus baca aja, biar itu postingan bisa naek rating-nya (jiaaahh... Apaan sih @.@)


// Tahun pertama pernikahan

Selain excitement, biasanya taun pertama diwarnai “ribut-ribut” menyangkut perbedaan-perbedaan, miskomunikasi, dan penyatuan visi & misi secara lebih real dan detail. Misalnya: tidur mau pake AC atau engga? Natalan mau ke keluarga suami atau keluarga istri? Dst. 

Kalo ada perbedaan mendasar yang belom terselesaikan selama masa pacaran, ribut yang ada biasanya lebih besar daripada “ribut yang normal” (ada ya, ribut normal? Hihi...)


// Tahun kedua pernikahan

Komunikasi lebih mantep, lebih saling memahami dan memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan spiritual pasangan. Kalo udah ada anak, mulai ribet ngurus anak dengan segala tetek bengeknya. Dan kalo perbedaan prinsip yang ada belom juga terselesaikan, masalahnya akan semakin runyam. Excitement di awal merit dulu mulai memudar . Sad but true, kan secara ilmiah katanya hormon cinta alias endorphin mulai memudar efeknya setelah 6 bulan, “setruman ser-ser-an” di masa pedekate and awal merit mulai “low voltage” :)


// Sekitar tahun kelima sampe kesepuluh

Many things can go wrong dalam fase ini, mungkin lebih dari fase-fase lain. Kalo hubungan suami istri ga terus dipelihara, excitement bisa semakin ngilang. Pergumulan hidup nambah, sama keluarga asal semakin terpisah, jadi suami dan istri lebih saling bergantung satu sama lain. Hampir SEMUA kejelekan suami/istri keliatan JELAS. Mulai keliatan juga pernikahan yang fulfilling dan sehat, sama pernikahan yang goyah. Makanya orang bilang, taon ke-1 sampe taon ke-7 dalam pernikahan itu masa kritis. Mayoritas perceraian/perpisahan terjadi dalam 7 taon pertama pernikahan. Bukan berarti seudah 7 taon berarti aman. Zaman sekarang ada juga yang udah nikah sampe 20 taonan lebih eh ujung-ujungnya divorce. How sad...


// Sekitar tahun ke 25 - 30 (periode perak)

Pernikahan yang bertahan, akan mulai masuk ke fase baru: fase empty nest. Bahasa Indonesianya “rumah kosong” kali ya (kok kayak film horor hehehe...), yaitu fase di mana anak-anak udah dewasa, meninggalkan rumah en memulai rumah tangga baru. Saya pernah denger ada pasutri yang jadi lebih banyak ngritik suami/istrinya karena ga ada lagi anak-anak yang diurusin, alias udah lebih nganggur gituh, wkwkwkw... Ada juga yang justru lebih hepi krn mapan secara finansial, sebagian besar “impian masa muda” udah tercapai, bisa pelayanan, traveling ke berbagai tempat, wooohoooo! 


// Tahun ke-40 dan seterusnya (periode emas dan seterusnya)

Seorang misionaris yang sangat saya hormati menyebut periode ini sebagai periode AMAZING GRACE. Bagi beliau, yang udah menikah hampir 50 taun, bisa melihat cicitnya itu SESUATU banget dah :) Masih dikasih umur, kesehatan dan kesempatan melihat buah-buah (yang sangat lebat!) dari pelayanannya selama puluhan tahun bersama suami tercintanya yang juga sangat inspirasional itu, masih bisa travel mengarungi separoh bola dunia dan terus mengerjakan ladang pelayanannya sambil menjadi grandparents yang supportive buat cucu-cucunya, masih memenangkan jiwa-jiwa, is truly an amazing grace. 


Eum... Kalo ada pernikahan yang bertahan sekian lama tapi ngga harmonis, atau bahasa Sundanya awet rajet, apa itu masih amazing grace? Kata saya sih itu juga amazing grace ya. Sebab untuk BERTEKUN dalam pernikahan yang sulit dan bertahan dengan orang yang sama sampe sebegitu lama jelas butuh amazing grace. 

Nah, buat pembaca yang ngerasa kalimat “HELP!! I married the wrong person...” mencerminkan isi hatinya, saya pengen bilang bahwa kemungkinan besar itu adalah TIPUAN IBLIS. Karena iblis giat benerrrr usahanya ngancurin pernikahan dan keluarga. Dan justru keluarga-keluarga yang paling berpotensi memuliakan Tuhanlah yang paling diincer sama iblis.

Sebuah pernikahan semestinya ONCE YOU’RE IN, THERE’S NO WAY OUT. Kalo udah berani nikah, ya kudu berani ngejalanin sampe garis finish (salah satu atau keduanya dipanggil Tuhan, atau Tuhan Yesus datang ke-2 kali). Ga ada lagi istilah salah pilih, lha dulu kan udah dapet milih...

Suami/istri kamu itu God’s beloved son/daughter loh. Kamu udah meminta dia dari Bapa Sorgawi untuk kamu nikahi dan kawini. Tuhan udah kasih, plus kasih berkat pula, masa sekarang bilang salah pilih?

PERNIKAHAN ADALAH SEKOLAH KEHIDUPAN. Murid-murid (yaitu suami dan istri) harus mau belajar. Harus taat sama Pak Guru (yaitu Tuhan sendiri). Harus BERTEKUN. Ada ujiannya. Kita bisa naik kelas, atau tinggal kelas dan harus ngulang pelajaran yang sama, atau bisa juga drop out (DO), tapi tentu saja sebaiknya jangan DO yang dipilih ya... 

Kadang pelajarannya kita rasa kelewat susah, ga sanggup dijalani lagi. Too much pain, too much tears. Daripada saling menyakiti apa ngga lebih baik disudahi saja?

Tapi Tuhan bilang,

“... Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.”
(Yakobus 1:2b-4)


Saya suka banget versi The Message buat Yakobus 1:4-5: 

“So don’t try to get out of anything prematurely. Let it do its work so you become mature and well-developed, not deficient in any way. If you don’t know what you’re doing, pray to the Father. He loves to help. You’ll get His help, and won’t be condescended to (=tidak akan dipermalukan) when you ask for it.”
(James 1:4-5)


“Tapi kami sering bertengkar...”

Well, so what? Ga banyak orang yang mau ngaku kalo lagi bertengkar sama pasangannya. Jadi jangan dikira yang adem ayem itu ga pernah berselisih atau ga punya masalah. Setiap pernikahan punya pergumulan masing-masing.

Soal bertengkar mah menurut saya banyak tergantung temperamen pasangan itu. Ada orang yang cenderung emosional dan meledak-ledak, ada yang cenderung adem dan kalem. Yang meledak-ledak otomatis lebih gampang berselisih. Yang penting ada penyelesaian, dan perbaikan. Ada kompromi, dan pertumbuhan dalam hubungan suami-istri. Pak James Dobson bilang, pernikahan yang kuat dan bertahan justru adalah a marriage that breathes, yaitu pernikahan yang ada pasang surutnya. 

Memang ada beberapa pernikahan yang sangat bermasalah sehingga perlu pertolongan, misalnya konseling, terapi, rehabilitasi, dll. Dan kalau memang ini yang terjadi, jangan ragu2 utk CARI BANTUAN. Hubungi orang-orang yang kompeten (misalnya konselor pernikahan, gembala gereja, mentor rohani, dll), JANGAN CURHAT KE SEMBARANG ORANG. Ini cuman bikin masalah tambah ruwet, sebab urusan rumah tangga itu bukan urusan orang lain. Be wise, cari Tuhan dulu supaya Dia sendiri yang sediain bantuan yang tepat.

“Tapi gue enggak bahagia dalam pernikahan gue, gimanaaa?”

Kalo menurut saya sih, yang terpenting dalam pernikahan bukan kudu bahagia. Tapi pernikahan itu harus FULFILLING atau MEMENUHI. Tentu ajah SEMUA orang pengen bahagia menikah, gak ada yang engga mau lah yauw, termasuk saya. Tapi bukan itu yang kudu dikejar.

Yang harus dikejar adalah memenuhi rancangan Tuhan buat pernikahan ini. 

Dan juga memenuhi kebutuhan anggota-anggota keluarga, seperti kasih sayang, rasa aman, companionship, dan lain-lain. Ga semuanya bakal bisa terpenuhi 100% lah ya, biar gimana pun kita hidup di dunia yang udah jatuh dalam dosa, ga ada lagi yang sempurna. 

Kalo rancangan Tuhan udah berhasil terpenuhi dan kebutuhan-kebutuhan terpenuhi, apa masih gak bahagia?

Zaman sekarang sejak balita anak-anak (terutama cewek2) udh tergila-gila dongeng princess. Inilah salah satu tipuan iblis yang DAHSYAT efeknya. Rasanya kalo punya anak cewe saya gak mau ngenalin dia ke princess2an deh... Kenapa?

Karena propaganda princess bikin anak-anak tumbuh dgn pola pikir yang salah: bahwa pangeran tampan akan membuat princess yang cantik bahagia. (Cantik – nah ini satu lagi serangan dahsyat iblis: propaganda bahwa cuman orang yang cantik yang bisa bahagia/berharga. Ini beda lagi topiknya ya...) 

Jadinya banyak istri yang ngerasa gak bahagia krn suaminya kurang begini dan begitu. Banyak suami yang merasa istrinya gak menghargai padahal dia udah begini dan begitu. Jadi lingkaran setan. Suami istri sama-sama makin ga bahagia.

Padahal kebahagiaan kita seharusnya ga tergantung pada orang lain. We choose to be happy. Bahagia itu pilihan.

Teorinya begitu. Tapi saya sendiri kejeblos di sini, hihihi... Saya cenderung harapin suami utk memenuhi SEMUA kebutuhan saya. Tau banget bahwa suami sibuk sekolah, dan bahwa dia juga udah POL mendahulukan kepentingan saya & anak saya di atas kepentingannya sendiri. Tapi otak dan hati emang sering ciong >_<

Saya suka ngerasa gak bahagia kalo ‘love tank’ saya kosong (baca buku Lima Bahasa Kasih, atau Five Love Languages, karangan Gary Chapman). Memang tugas suami buat bikin istri merasa disayang, ngisiin love tank-nya, tapi sebagai wanita dewasa, saya seharusnya bisa cari kebahagiaan sendiri (LOH?!). Maksudnya bukan kelayapan di luar sana krn haus kasih sayang, tapi punya kehidupan sendiri supaya saya gak jadi istri perongrong, atau penodong :) Ga perlu sampe punya identitas rahasia lah (emangnya Catwoman), tapi sebaiknya punya komunitas, kesibukan yang memenuhi kebutuhan saya buat aktualisasi diri misalnya nge-blog :p, kerja part time, ngelakuin hobi yang bikin hepi, dan masih banyak lagi. Karena NGGA ADIL kalo saya menuntut suami utk bisa jadi sumber kebahagiaan saya. Tidak ada manusia yang bisa memenuhi ekspektasi setinggi itu.

Saya pernah share artikel berjudul Angry Women and Passive Men di FB. Buat yang belom liat, HIGHLY RECOMMENDED utk dibaca ya (it’s in English sih). Lebih bagus lagi kalo baca bukunya: Love Must Be Tough atau Cinta Harus Tangguh (terjemahan Indonya), karangan dr. James Dobson (buku ini udah saya rekomend juga di postingan Galau Pranikah). Baca deh, kalo postingan saya aja dibaca, masa ga mau baca tulisan pakar yang bagus buanget ini?? :) *maksa ih*

“Kalo pernikahan saya ENGGAK fulfilling gimana?”

Bukan ‘enggak’, tapi “BELUM” :)

Sama kayak nonton film, kapan kita bisa menilai itu film bagus apa engga? Ya seudah ditonton sampe muncul tulisan THE END. Demikian juga pernikahan, baru bisa dinilai di akhirnya, jadi jangan buru2 menyimpulkan bahwa pernikahan ini enggak fulfilling.

Pernikahan kita juga adalah medan perangnya Tuhan, melawan serangan2 iblis dan roh-roh jahat di udara. 

God’s is the battle, God’s shall be the praise (minjem kata-katanya ibu Elisabeth Elliot di buku Through the Gates of Splendor). 

"Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya."
(Mazmur 126:5-6)

Friday, September 21, 2018

Pembawa Damai



by Natalia Setiadi

Berbahagialah orang-orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
(Matius 5:9)

Pernah ga sih nyoba jadi pembawa damai?
Sering yah?
Susah ga?
Susaaaahhhhh yah?

-.-‘ Nenek-nenek juga tau...

Enak ga sih jadi pembawa damai?
Menurut saya, ga enak.
Ga enak banget malah.

Karena jadi pembawa damai itu bukan kaya di film Hollywood, di mana sang tokoh pembawa damai nan cantik rupawan dan wangi menebar senyum sambil ngomong hal-hal yg menyentuh hati dan mengena tepat ke sasaran, terus 2 pihak yang bertengkar/bertikai langsung “TING!” kayak ada lampu nyala di benaknya, sadar salahnya di mana, saling minta maaf, trus berpelukan dlm persahabatan/percintaan yang kembali akur dan penuh kasih.

Kalo gitu sih wuenaaak tenan, eke juga mao dong…! Langsung disebut anak Allah pula… *ngiler*

Tapi coba liat pemenang Nobel Perdamaian, Nelson Mandela. (Terpaksa pake contoh doi, gak tau lagi yang laen soalnya hihihi… *ketawa malu*) 

Berapa taon noh dia ngedekem di penjara? Puluhan taoonnn, sampe udah ubanan! Demi perdamaian antar kelompok etnis di Afrika Selatan. Orang-orang yang hidup di negeri yang sama, cari makan dari bagian bumi yang sama, yang herannya gak bisa akur. Yah sebenernya ga heran juga sih ya, wong zaman sekarang di mana-mana ada perang saudara. Yang lagi hot sekarang, Papua. Sekeluarga bisa musuhan gagara yang satu pengen merdeka, yang lain pengen ikut NKRI.

*Menghela napas*

Yang ada, dunia yang udah bobrok ini dipenuhi situasi sulit, jauh di luar zona nyaman. Kondisi yang sangat tidak mengenakkan. Tekanan hidup. Amarah. Rasa tidak puas. And so on and so forth… 

Boro-boro pengen membawa damai, seringnya pengen memuntahkan angkara murka, semburin api dari mulut, asep dari telinga dan dari every possible lubang di kepala! HAR HAR!! 

(Eh jangan-jangan yang begini gue doang ya… Hadoh… menyebar aib sendiri di dunia maya… Wekekek… Yo wis lah, barangkali emang terpanggil utk ‘ngaku dosa’ secara terbuka, siapa tau ada orang yang bisa belajar dari kesalahanku).

Tapi justru dalam ketidak-idealan inilah Tuhan menyuruh kita jadi pembawa damai. (Kalo ideal mah gampang atuh…)

Emangnya Yesus ga tau, bahwa 2000 taon lebih setelah Dia naik ke surga, dunia bakal jadi kayak gini? Dengan segala intrik kebusukan dan manusia-manusia yang makin hari makin tambah ‘ajaib’ (in a REALLY bad way)? Tau lah yauw… 

Gimana ya caranya jadi pembawa damai?

Hm… terus terang saya juga kagak begitu tau… *gubrak*

Yang saya tau, saya sering jadi pemicu “ketidak-damaian” (nah ngaku dosa lagi, makin lama yang baca tambah seneng, soalnya makin banyak “dirty laundry” yang keluar wakakak…). Alias jadi pemicu yang bikin orang laen marah. Or bikin situasi jadi ga enak karena ngambek2 sendiri. 

So maybe salah satu cara yang gampang disadari (tapi sulit ditindaklanjuti) adalah:

// MENCOBA UNTUK TIDAK MENJADI PEMICU PERSELISIHAN

Belakangan ini saya ceritanya lagi nyoba untuk jadi orang yang lebih sabar nih. Bertaon-taon-taon berdoa, naga-naganya kagak ada kemajuan -.-‘ But of course itu tipuan iblis, sodara2 pembaca! Waktu saya bener-beneerrr perhatiin, ada juga loh, saat-saat di mana saya berhasil mengalahkan pitam yang mulai naik (hampir naik pitam maksudnya). 

Caranya?

Dengan buru-buru berdoa (singkat aja, ngomong ama Tuhan dlm ati doang, gak perlu pake posisi berlutut dan tangan dilipat menutup mata dll, weleh keburu pitamnya meledak kalo gitu mah…), and memaksa diri utk cari hal-hal yang bisa disyukuri dan membesar-besarkan hal itu. Kesannya jelek ya, membesar-besarkan. But it’s actually good, and sehat buat jiwa loh. Daripada membesar-besarkan masalah (yang sebenernya kecil, iblis noh yang ngomporin, gak kerasa ya? Kasian deh lu hehehe… becanda!), lebih baik membesar-besarkan berkat kan? 

Lah berkat itu emang besar-besar kok, wong kita ini pada dasarnya gak layak diberkatin. Kita sering MERASA BERHAK menerima segala yang baik dari Tuhan, padahal siapa sih kita ini? Cuma seonggok debu yang amat sangat dikasihi-Nya. Berkat dan segala yang baik dan mudah dan lancar yang kita terima dari Tuhan itu KARUNIA, bukan HAK.

Sebelom saya mulai ngalor ngidul, balik lagi yuk ke bagian pitam :)

Ternyata cara gitu berhasil loh, surprise surprise! 

Entah apa yang terjadi, yang jelas hati saya jadi adem gitu. Kagak damai sejahtera eforia, tapi calon angkara murka menguap menghilang. Sampe terkaget-kaget sendiri. Soalnya usaha bertaon-taon tuh bisa diitung jari deh buah kesabaran yang bisa saya liat. I rejoiced in that small victory. Sangat kecil, tapi tentu aja saya besar-besarkan (sampe jadi satu postingan blog huahahah). Buat reminder pribadi, sekalian nyemangatin utk terus berusaha. Saya rindu banget bisa punya “roh yang lemah lembut dan tenteram” (1 Petrus 3:4), meskipun temperamen saya sama sekali kagak lemah lembut, tapi rohnya bisa kok lemah lembut (semoga!).

So, semangat ya para pembaca sekalian!

Mari kita jadi pembawa-pembawa damainya Tuhan. Karena kita memang anak-anak-Nya.

Saya nulis begini bukan berarti saya udah jadi wanita penyabar, putri yang mulia, harum namanya (Kartini kali…). Simply saying that buat yang segahar saya pun masih ada harapan :) Tuhan sanggup!

Yang punya kiat laen utk jadi pembawa damai, saya pengeeenn banget dikasih tau, share ya… Siapa tau yang lagi pada galau bergumul bisa dapet pencerahan :)

Monday, July 9, 2018

Tuhan, Tolong Ubahkan Suamiku!


by Natalia Setiadi 

Pernahkah berdoa begitu?

Saat ini saya lagi naikkan doa itu, sampe nungging2. Bukan buat saya sendiri, tapi dalam rangka mendukung seorang teman yang lagi memperjuangkan pernikahannya yang gonjang-ganjing.

Ini memang zaman edan ya. Ada yang setengah gila mengejar harta. Ada yang merana haus kasih sayang. Ada yang setengah mati mencari pengakuan. Ada trend menggaet berondong di kalangan ibu2 rumah tangga, ada juga trend selingkuh ria di kalangan bapak2 pekerja. Ada lagi yang berkutat sama kecanduan (narkoba lah, alkohol lah, seks lah, judi lah, game lah, dll lah). Ada macem-macem lah...

Benerkah suami harus berubah?

“Ya JELAS lah...! Mau sampe kapan adem ayem di kerjaan sekarang yang gajinya pas-pas-an, sedangkan ini anak-anak makin gede, inflasi selangit, biaya hidup makin naik!”

“Harus berubah dong, udah umur segitu masa masih juga hobi main game, kumpul-kumpul sama temen2, asik menikmati idup sendiri... Woiiii, inget anaaakkk istriiiii, sadar woi! Sadaarr!!”

“Pengennya suami bisa berubah, soalnya selama ini saya udah bersabar sampe kering, udah gak kuat lagi... Gimana masa depan rumah tangga, anak2, kalo suami masih mabuk dan judi...” 

“Heh, elo nanya yang bener ya! Orang lagi galau gini, gua parang juga lo entar!” >:-{

Maap... maap... 

Ya, saya SETUJU sekali bahwa para suami yang punya masalah2 seperti di atas KUDU HARUS MUSTI berubah. Apalagi yang masalahnya “sangat serius” seperti KDRT, kecanduan narkoba, dan sejenisnya. Bukannya masalah lain ga serius, tapi untuk KDRT, kecanduan, rumit dan absolutely SANGAT PERLU intervensi dari pihak-pihak yang berkompeten.

By God’s grace, saya juga belom pernah ngalamin hal-hal yang saya sebut di atas. 

Yang saya pernah alamin adalah (naaaah, mulai buka-bukaan, yihaa... seru nih... silakan pada lanjut baca untuk memuaskan hasrat ke-kepo-an :P): 

Saya pernah menggantungkan kebahagiaan saya pada suami. Saya menuntut suami untuk memenuhi seluruh kebutuhan saya, baik fisik, mental, sosial, intelektual, bahkan spiritual.

Hasilnya? Saya terjun bebas dengan suksesnya ke jurang self-pity alias mengasihani diri sendiri dan mendarat di lembah sengsara tiada akhir (kayak tulisan di bak belakang truk ya wkwkwk...)

Saya menyalahkan suami krn saya mikirnya, “Semasa single dulu rasanya saya hepi deh, kenapa abis nikah kok jadi ga hepi ya?!” Dan saya merasa gak disayang karena suami gak punya banyak waktu buat saya, gak ngertiin saya, kurang berusaha menyenangkan hati saya seperti si A, B, C, dst. 

Penyakit kronis para perempuan ya, suka membanding2kan “rumput sendiri” sama “rumput tetangga” dan biasanya sih rumput tetangga yang lebih ijo. Atau berkhayal pingin yang serba romantis dan cihuy seperti “Bella and Edward Cullen” -> FYI saya gak demen pasangan ini, saya ngerasa mereka bad influence, ngasih ilusi yang gak realistis buat anak2 muda khususnya gadis2 yang merindukan cinta dan pasangan... (feel free to disagree :P)

Anyway, karena suami saya adalah suami yang (sangat) baik, awalnya dia berusaha memenuhi semua tuntutan saya. Horeee....!

Udah gitu selesai kah masalahnya?

ENGGAK sama sekali! Karena segera setelah tuntutan awal saya terpenuhi, senengnya cuman sebentar lalu saya segera nemu tuntutan2 baru, yang lebih tinggi dan lebih susah lagi. 

Akhirnya suami end up babak belur TANPA dapet penghargaan buat usaha kerasnya untuk memenuhi kebutuhan saya dan bikin saya hepi. Sementara saya masih berkutat dengan tuntutan-tuntutan saya yang ga mungkin bisa dipenuhi sama suami. Mentok.

Jadi harusnya gimana ya...?

Believe it or not, jawabannya adalah: 

DIRI SENDIRI DULU YANG HARUS BERUBAH. 

Ih. Nyebelin.

“Wong dia yang salah kok saya yang harus berubah? Hello??“ 

(Ini bicara pada umumnya ya, dalam kasus saya mah JELAS kok saya yang salah huehehehe... *tau diri :P*)

Tapi perubahan selalu harus dimulai dari diri sendiri. Ga bisa menuntut orang lain untuk berubah tanpa diri sendiri berubah duluan!

Seiring dengan perubahan diri sendiri, percaya deh, keadaan akan berubah (atau reaksi kita terhadap keadaan itu yang berubah), dan orang yang kita harapkan berubah juga akan ikut berubah. Prosesnya bisa PANJANG dan LAMA dan SUAKIITTTT.

Saya nyampe di kesimpulan ini juga adalah hasil dari proses yang panjang dan menyakitkan. Bukan cuma soal rumah tangga, tapi juga soal lain-lain secara umum (baca deh ratapan saya di My Desert Journey).

Seperti saya udah pernah bilang, beberapa taun belakangan saya suka banget dengerin program radionya Nancy Leigh DeMoss (www.reviveourhearts.com). Saya diberkati banget, dikuatkan, diubahkan, dan banyak terinspirasi ajaran, sharing, dan kotbahnya. Di beberapa seri tentang pernikahan (klik juga di sini kalo mau liat seri2 yg laen), saya banyak denger kesaksian dari orang-orang yang pernikahannya luluh lantak karena suaminya selingkuh, terlibat pornografi, dlsb, yang berhasil dipulihkan. Semuanya dengan seiya sekata bilang bahwa perubahan DIMULAI dari diri mereka sendiri.

Padahal kalo diliat2 mah jelas suaminya yang salah ya. 

Tapi MEREKA SEMUA MEMULAI PERUBAHAN DARI DIRI SENDIRI (bisa dengan cara memperbaiki diri atau memperbaiki cara mereka bereaksi dan berinteraksi dengan suaminya), baru kemudian suaminya berproses dan lambat laun berubah, dan akhirnya pernikahannya pulih kembali.

Mungkin ga semua masalah bisa selesai dengan perubahan ya. Saya juga ga tau deh, nikah baru mau 7 taun, jadi saya masih sangat hijau dan miskin pengalaman.

Tapi yah saya rasa ini salah satu pilihan yang bagus buat mengatasi masalah dalam rumah tangga. Kalo udah bertaun-taun dilanda masalah, berdoa udah sampe nungging tapi belom ada titik terang, daripada mentok dan putus asa, saya rasa cara ini patut dicoba :)

Heh jadi gimana lanjutan ceritanyaaaa? (:P Biarin aja ah, biar penasaran wkwkwk...)

Setelah dapet pencerahan, saya sadar bahwa suami ngga bisa bikin saya bahagia. LOH? 

Maksud saya, bukan suami yang menentukan kebahagiaan saya. Suami memang wajib memenuhi kebutuhan saya akan cinta kasih, perhatian, duit, dst, atau istilahnya berusaha menuhin “love tank” alias “rekening cinta” saya. Tapi mau bahagia atau enggak, itu pilihan saya. Mau mensyukuri apa yang ada atau mau terus menuntut yang enggak ada, itu pilihan saya.

Hidup punya banyak fase dan musim, kadang di musim tertentu ada keadaan yang ga bisa diubah. Yang saya bisa lakukan adalah mengubah SIKAP HATI dan CARA PANDANG saya, supaya meskipun keadaan lagi ngga menyenangkan, saya bisa tetep positif, penuh sukacita, damai sejahtera, and keep the right attitude. 

Setelah hati dan sikap saya berubah, surprise... surprise... saya bisa melayani keluarga saya dengan lebih baik, saya gak banyak bersungut2 atau banyak tuntutan lagi. Saya lebih hepi, saya lebih bisa nemu kegiatan positif/hobi buat buang stres dan “melakukan sesuatu”. Grup temen2 cewek/persekutuan buat berbagi suka duka, saling menguatkan dan mendoakan juga bikin kita hepi loh. 

Bukan artinya melarikan diri dari masalah ya, tapi saya nyoba utk be happy tanpa menggantungkan diri secara tidak sehat ke suami, membebani suami dengan segala “kerumitan” saya. Jadi misalnya kalo suami lagi suntuk/cape, ya jangan diajak diskusi yang berat2, diskusinya sama temen dulu, ntar kalo suami udah OK baru diskusi yang berat2. 

Dan setelah liat saya berubah, suami jadi hepi, dan lebih pingin spend time bareng saya, karena ga lagi ngerasa dirongrong, ga takut salah atau takut dijutekin lagi :P 

Tuh kan, ikutan berubah loh dia... :)

So, sebelom berdoa “Tuhan, ubahkan suamiku”, yuk kita doa dulu “Tuhan, ubahkan aku...”


Change My Heart O God - Hillsong

Change my heart, oh God, Make it ever true
Change my heart, oh God, May I be like You
You are the potter, I am the clay,
Mold me and make me, This is what I pray.

Jesus oh Jesus, Come and fill your lamb


You let the distress bring you to God, not drive you from him. The result was all gain, no loss.

Distress that drives us to God does that. It turns us around. It gets us back in the way of salvation. We never regret that kind of pain. But those who let distress drive them away from God are full of regrets, end up on a deathbed of regrets.
2 Corinthians 7:9b-10 (MSG) 

Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan karena kami. Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.
(2 Korintus 7:9b-10)

Friday, April 6, 2018

Ibu RT... Oh... Ibu RT


by Natalia Setiadi

Dulu, waktu kecil kalo anak-anak perempuan ditanya, “Nanti kalo udah gede mau jadi apa?” 
Pasti jawabnya kalo ngga “dokter” ya “pramugari”, iya apa iya?

Kayanya ga pernah denger anak kecil jawab “mau jadi kayak mama di rumah” alias jadi ibu RT. Padahal jadi ibu RT itu enak loh...

Kalo jadi dokter mah seringnya kudu jaga malem, dimarah2in pasien or temen kerja (dokter laen or perawat yg merasa dirinya lebih senior), risiko ketularan penyakit2. 

Jadi pramugari juga emangnya enak? Penampilan sih keren, kerjaan juga terbang2 mulu, tapi tau ngga sih pramugari juga kudu mungutin sampah di pesawat, belom lagi risiko pesawat jatuh! (amit2...)

Nah jadi ibu RT mah enak. Kerja di rumah, ga usah ribet dandan, ga usah buru2 mandi pagi, saban malem bisa tidur cukup (asal bisa bagi waktu), kadang malah bisa plus tidur siang, ga stres kejebak macet jalanan (at least sebelom anak2 mulai masuk sekolah), gak ada boss galak or klien reseh yang kudu “dijilat”, dll. Hati senang dan tenang krn bisa ngawasin anak2 dg mata kepala sendiri, ga kuatir anak dibawa kabur suster or diapa2in ama pembantu. 

Lantas kenapa ya, profesi ibu RT ini kok gak populer2 amat?

Mungkin krn di zaman milenium ini sejak orok SEMUA anak udah dicekokin pola pikir bahwa sukses diukur dari pencapaian seseorang dalam hal karir, status, pasangan, banyaknya harta, atau nama besar&kemasyuran. 

“Liat tuh, si A, hebat! Umur baru 20an udah keliling dunia jadi pembicara di mana2, suaminya tuh brand ambassador kolor terkenal, wuih duitnya pasti segunung…” 

atau

“Ih si B itu aneh ya, prestasi segudang, karir cemerlang, tapi udah punya anak kok malah resign, padahal pasti duitnya lebih dari cukup buat ngegaji suster & pembokat?” 

atau 

“Yah, ngapain sekolah tinggi2 sampe ke luar negri segala, kalo ujung2nya cuman jadi ibu rumah tangga? Pembokat gue noh lebih pinter, ga pake susah2 sekolah, toh sama2 mendarat di dapur juga…”

So, jadi ibu RT identik dengan TIDAK MENCAPAI APA2 dalam hidup alias tidak sukses.

Padahal KESUKSESAN MENURUT TUHAN ADALAH KALO SESEORANG MENGGENAPI MAKSUD&TUJUAN DIA DICIPTAKAN. Karena saat kita dipanggil Tuhan, harta, status dan pasangan hidup tidak bisa dibawa ke akhirat!

Alasan kedua, mungkin akibat emansipasi yang keblinger. 

Dengan segala hormat dan rasa terima kasih yang mendalam kepada ibu Kartini yang udah buka jalan buat perempuan2 Indonesia sehingga bisa maju&menikmati berbagai kesempatan yang dulu ga pernah bisa disentuh oleh perempuan, sepertinya perempuan2 zaman sekarang TERLENA. 

Alih-alih menikmati kesetaraan dengan pria dalam hal kesempatan sekolah, kerja dan aspek2 lain dalam hidup, perempuan2 sekarang kok pada pengen MENYAMAI, malah ada yang begitu bernafsu mau membuktikan bahwa dirinya bisa MELEBIHI laki-laki. Memang bener, dalam hal prestasi, pencapaian, kemampuan, de el-el memang BANYAK perempuan yang bisa lebih dari laki-laki; ini sih tentu aja ga salah, tapi rasanya tujuan mula-mula emansipasi itu bukan supaya perempuan2 berbondong-bondong melupakan kodratnya sebagai perempuan. Kesetaraan jender dan persamaan derajat TIDAK SAMA dengan menyamai laki-laki dalam segala bidang.

Karena sejak awal Tuhan emang menciptakan laki-laki dan perempuan BERBEDA. SEPADAN, tapi berbeda. Sepadan dalam arti yang satu tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Berbeda secara fisik, mental, dan beda juga “job description”-nya. Perbedaan itu tujuannya supaya keduanya saling melengkapi, saling mengisi, saling menolong, en sama-sama berusaha mewujudkan tujuan penciptaannya.

Dan para ibu RT terkadang dianggap mengkhianati cita-cita emansipasi atau menyebabkan kemunduran dalam perjuangan kaum wanita di dunia.

Padahal, waktu menciptakan perempuan, Tuhan bilang begini nih: 

“Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. 
Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” 
(Kejadian 2:18)

Jadi perempuan itu diciptakan UNTUK laki-laki dan KARENA laki-laki. Untuk setiap perempuan dengan panggilan untuk hidup melajang, Tuhan punya rencana dan rancangan tersendiri yang unik, so kalo timbul pertanyaan tentang the gift of singleness, tanya Tuhan aja ya, jangan tanya saya ;)

Tapi secara umum, pakemnya adalah perempuan diciptakan untuk menolong laki-laki dalam mencapai tujuan penciptaan mereka, yaitu mempermuliakan Tuhan Penciptanya dalam menggenapi rancangan Ilahi-Nya buat umat manusia. 

Bukan berarti ibu-ibu bekerja itu salah, SAMA SEKALI BUKAN itu maksud saya loh ya! Saya percaya setiap orang, perempuan maupun laki-laki, punya PANGGILAN masing-masing dalam hidupnya. Panggilan yang khusus yang beda dengan panggilan hidup orang lain. 

Beberapa teman saya adalah ibu-ibu bekerja full time yang SANGAT BERDEDIKASI, anak-anaknya terurus dengan baik, suaminya berbahagia dan dicintai, rumah tangganya diberkati. My utmost salutation goes out to them, krn menyeimbangkan kerjaan full time dengan keluarga sama sekali tidak gampang dan ada pergumulannya sendiri. Tapi ini cerita yang berbeda ya. Sekarang tulisan ini ngebahas serba-serbi ibu RT dulu :P

Yang saya mau bilang adalah: 
JADI IBU RT PUN ADALAH SATU PANGGILAN HIDUP, YANG TIDAK KURANG KEREN, TIDAK KURANG MULIA, TIDAK KURANG BERMAKNA DIBANDING PANGGILAN-PANGGILAN HIDUP YANG LAIN. 
Curhat nih, jadi ibu RT tuh buanyaaak banget loh pergumulannya, di antaranya: 
  • Miskin penghargaan, baik dari orang lain maupun dari diri sendiri. Gak dapet gaji, gak dapet nama besar, gak dapet cuti, gak dapet tatapan penuh rasa terima kasih selain dari suami (itu pun kalo suaminya cukup peka!) dan anak-anak. Yang ada bete krn seharian ngurusin anak, jenuh karena kerjaan RT yang NEVERENDING, gak ada abisnya, ga ada “me time”, de el el, de es te termasuk menanggung occupational hazard alias luka-luka akibat kerja RT (luka bakar, kesayat pisau, kesetrum, or memar2), aish... T.T
  • Adanya stigma yang melekat erat pada profesi ini: Ibu RT identik dengan perempuan yang kayanya gak cukup pintar untuk kerja or lanjutin sekolah atau gak cukup berprestasi. 
--> Well untuk yang satu ini, saya bisa bilang, saya pinter kok! Hahahahah... At least saya pinter berkelit kalo anak udah mulai cari celah untuk memanipulasi ibunya ;)
  • 3Bergumul dengan kurangnya aktualisasi diri. Pergumulan ini terutama dirasakan oleh para ibu RT yang (DULUNYA) berprestasi, atau sangat diharapkan oleh keluarganya.
  • Adanya kekecewaan orangtua atau keluarga yang lain dengan pilihan para ibu RT untuk tidak bekerja dan berkarya.
  • Para ibu RT yang pernah bekerja atau menjalankan profesinya, merindukan “the glory of the moments” ketika menjalankan profesi, pekerjaan atau panggilannya dan kepuasan batin yang didapat dulu. 
  • GERAH (BANGET) dengan komentar2 miring dari orang-orang yang menyayangkan keputusan mereka untuk jadi ibu RT.
--> Sekedar catatan: kalo saya dapet 1 ember setiap kali orang berkomentar “Kenapa ga kerja? Sayang udah sekolah tinggi2..” atau sejenisnya, ember2 saya kayanya cukup buat nampung luapan lumpur Lapindo... # lebay #
  • Perlu KOMITMEN yang kuat, KETEGUHAN HATI dan dukungan penuh dari suami dan anak2 untuk menjalani panggilan sebagai ibu RT dengan PENUH SUKACITA dan KEPUASAN BATIN. 

Tapi, meskipun banyak onak duri (cie ileh... bahasa pujangga nih), you know what, wahai ibu2 RT? 

What you do MATTERS and makes a HUGE DIFFERENCE!

Apa yang kamu lakukan itu SANGAT BERARTI dan membuat PERBEDAAN BESAR!

Bukan cuman buat suami, anak dan keluarga, tapi juga bagi kerajaan Surga, krn kita ini punya tugas berat: mencetak generasi penerus yang Ilahi bagi Tuhan, yang kelak pada gilirannya bakal meneruskan ajaran Tuhan kepada keturunan mereka. 

Ini kata firman Tuhan tentang panggilan sebagai istri dan ibu:


Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? 
Ia lebih berharga daripada permata…
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, 
pula suaminya memuji dia: 
Banyak wanita telah berbuat baik, 
tetapi kau melebihi mereka semua.
Kemolekan adalah bohong 
dan kecantikan adalah sia-sia, 
tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji. 
Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, 
biarlah perbuatannya memuji dia 
di pintu-pintu gerbang!
(Amsal 31:10, 28-31)

So, jadi ibu RT (baca: istri) yang saleh tuh ADA PENGHARGAANnya loh, dari Tuhan sendiri! Nantikan saja...

Akhir kata, izinkan saya mengutip kalimat dari khotbahnya Nancy Leigh de Moss, seorang penulis buku laris dan pengajar Firman Tuhan yang juga punya program radio untuk para wanita kristen:

what I am doing in writing books and teaching, having a daily radio program for women—I consider those things a great privilege and a calling from the Lord as He has given me the gift of singleness at least for this season of my life. This is my calling and mission and purpose. But I will say that what you are doing, those of you who are married and have children, in being wives and mothers is NO LESS SIGNIFICANT a calling and ministry than the calling God has put into my life. 

I want to be your cheerleader. I want to say, “Go for it! Thank you for what you’re doing to serve the Lord and consider that a high calling and ministry.