Showing posts with label Prayer. Show all posts
Showing posts with label Prayer. Show all posts

Monday, January 11, 2021

What Would Jesus Do?




by Alphaomega Pulcherima Rambang

“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
(1 Yohanes 2:6)

Slogan WWJD mungkin tidak terlalu sering terdengar sekarang seperti pada tahun 2000 awal. Kepanjangan dari WWJD adalah ‘What Would Jesus Do?’, sebuah pertanyaan singkat yang sebaiknya ditanyakan pada diri sendiri sebelum mengambil keputusan atau tindakan apa yang akan dilakukan. Sebuah pertanyaan yang seharusnya membuat kita berpikir antara melakukan sesuatu atau tidak, seperti apa yang akan Yesus lakukan jika dia berada di posisi kita. Jika kita tidak melakukan seperti yang akan Dia lakukan, jangan-jangan kita tidak mengenal Yesus dengan baik sehingga tidak meneladani Yesus dalam kehidupan kita. Well, pada akhirnya memang kita harus mengenal Dia secara pribadi untuk bisa melakukan seperti yang Yesus lakukan.

"Bayangkan suatu hari Yesus bangun dari tidurnya dan menjalani hidup kita yang sekarang, adakah yang berbeda dari hidup kita?"

Demikian pertanyaan seorang Kakak saat membawa kami dalam perenungan pada persekutuan doa yang aku ikuti di UKM Kristen bertahun-tahun lalu.

Aku ingat kami merenungkan pertanyaan tersebut dan sharing, kira-kira bagaimana Yesus akan menjalani hidup kami. Aku membayangkan jika Yesus akan bangun pagi-pagi sekali, saat teduh, bersih-bersih rumah (Yesus gak mungkin males saat teduh lah ya, hihihi), lalu Ia akan menyiapkan sarapan, duduk sarapan bersama eyangku-mengobrol tentang banyak hal-mendengarkan eyang menceritakan tentang apapun, lalu Ia berangkat kuliah naik motor dengan santai tanpa ngebut sambil ngobrol dengan BapaNya atau bernyanyi-nyanyi - tersenyum melihat mereka yang ngebut. Yesus tidak akan telat tiba di kampus, Ia membantu kawan yang belum mengerjakan tugas - bukan memberi contekan, sesekali Ia bercanda dengan kawan-kawannya-tentunya bukan lelucon kotor yang dikeluarkannya, tidak pula gosip, tapi tanpa begitupun Ia mampu membuat orang lain tertawa, sense of humour Nya terbaik, dst. Yesus menjadi diriku dalam versi terbaik.

Membayangkan Yesus menjalani kehidupanku sangatlah menarik, membayangkan Dia berbicara, kuliah, ikut ujian, pelayanan, dll. Aktivitasnya kurang lebih apa yang aku lakukan TAPI minus DOSA pastiiii... plus hubungan mesra dengan Bapa Surgawi. Saat kita memberikan Yesus tempat istimewa dalam hati dan hidup kita, Dia akan melakukan berbagai hal dengan caraNya, dan PASTI, hidup kita akan berbeda. Aku yang sekarang (memiliki Yesus) akan berbeda dengan aku yang sebelumnya. Tentu saja, yang memimpin adalah Yesus di dalamku, biar Yesus saja yang semakin bertambah dan aku yang semakin berkurang. Kira-kira demikianlah seharusnya hidup kita saat kita telah menerimaNya sebagai Juruselamat kita. KehadiranNya nyata nampak dalam hidup kita. ”Tapi ini sulit, aku gak bisa Tuhan, jeritku dalam hati, kenapa Tuhan tidak membiarkanku seperti ini saja?”

“Tuhan mengasihi kita apa adanya, tetapi Dia tidak akan membiarkan kita seadanya. Dia akan mengubah kita menjadi seperti Kristus.” 
- Max Lucado
Beberapa waktu kemudian aku mendapat kesempatan membaca sebuah buku yang di dalamnya bertuliskan seperti ini : Bagaimana, kalau Yesus menjadi anda untuk satu hari? Max Lucado dalam bukunya ini, Just Like Jesus, mengatakan bahwa untuk menjadi serupa dengan Kristus harus dimulai dari memiliki hati seperti hati-Nya dan hal itu dimulai dengan pembentukan hati oleh Roh Kudus. Kita perlu belajar memiliki hati seperti hatiNya. Ia menjabarkan ciri hati Kristus yang harus dimiliki oleh umat-Nya, yaitu hati yang mengampuni, penuh belas kasihan, mau mendengar, hati yang haus akan Tuhan, haus beribadah, terfokus pada Allah, jujur, murni, penuh pengharapan, bersukacita, dan tabah. Berikut ini beberapa ciri hati Yesus yang harus kita miliki:


HATI YANG MENGAMPUNI

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
(Kolose 3:13)

Mengampuni memang sulit tapi Yesus melakukannya, mari kita pandang Yesus yang telah memberikan teladan pengampunan terlebih dahulu terhadap kita. Ingat malam dimana Dia membasuh semua kaki murid-muridNya? Yesus bukannya tidak tahu kalau di antara murid-muridnya akan mengkhianati dan menyangkalNya tapi nyatanya Dia tetap membasuh kaki mereka. Dia memberikan anugerahNya kepada mereka yang tidak pantas diampuni TERLEBIH DAHULU. Dia menawarkan kasih dan pengampunanNya tanpa diminta dan memberikannya cuma-cuma. Kupikir, apa yang kita alami tidak lebih menyakitkan dari yang Dia alami, tapi Dia tetap mengampuni yang menyakitiNya. Inilah yang harus kita teladani


HATI YANG MENDENGAR

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.” 
(Yakobus 1:22-23)

Yesus dalam khotbahNya berkali-kali mengatakan : Siapa bertelinga hendaklah Ia mendengar. Seperti yang Yesus mendengar BapaNya dan taat, kita sangat perlu dengar-dengaran dengan Firman dan kehendak Allah di hidup kita. Bagaimana cara mendengarkan Tuhan? Dimulai dengan Alkitab yang terbuka dan membiarkan Dia berbicara melalui firmanNya yang berisi kehendak dan isi hatiNya, seperti yang Yesus lakukan. Lalu, lakukan! Semudah sekaligus sesulit itu. 


HATI YANG JUJUR

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” 
(Efesus 4:25)

Pernahkah mendapati Yesus berdusta? Sepanjang hidupnya selama 33 tahun kehidupan Yesus di muka bumi, tak ada cerita tentang kebohonganNya sekalipun keadaan Yesus sangat mendesak. Bagaimana dengan kita? Terkadang kita menambah atau mengurangi kebenaran, berbohong demi kebaikan, berdusta untuk melindungi diri kita, dll, apapun itu namanya, tetap saja kita tidak jujur. Bahkan kita menyampaikan hanya setengah kebenaran dan berkata kita telah jujur. Kita perlu meneladani hati Yesus yang jujur, yang tidak ada dusta 


HATI YANG MURNI

“sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” 
(Markus 7:21-22)

Hati manusia dipenuhi dengan segala kejahatan, hal-hal terburuk yang ingin dilakukan. Berbeda dengan hati Yesus yang murni. Setiap hari hatiNya dimurnikan oleh firman Tuhan dan Ia menjaga hatiNya sungguh-sungguh supaya tidak ditumbuhi benih yang jahat. Mudah bagi Yesus untuk merasa sombong karena kuasa yang dimilikiNya, tetapi nyataNya Ia mengakui dan menyadari karya Allah di dalamNya dan memuliakan Allah. Yesus memilih apa yang ingin Dia rasakan dengan selektif sehingga tindakanNya juga selektif. Perbuatan dan perkataan kita adalah cermin dari hati kita.


HATI YANG PENUH PENGHARAPAN

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”
(Roma 12:12)

Yesus berkata bahwa segala sengsara yang harus dialamiNya telah dinubuatkan. Dia melihat tujuan dalam penderitaanNya sebagai pemenuhan rencana besar Allah. Dia tidak membiarkan diriNya mengasihani diriNya atau mengutuki keadaan. Dia tetap berharap pada BapaNya dan meminta namun dengan rendah hati menginginkan kehendak BapaNya yang terjadi karena Ia tahu rancangan Allah adalah yang terbaik.

Kita perlu berlatih agar memiliki hati seperti hatiNya. Allah ingin agar kita menempatkan Kristus sebagai TELADAN atas seluruh hidup kita (Roma 8:28-29). Dia mau kita menjadi serupa dengan gambaran anakNya, lewat segala sesuatu yang kita alami. Melalui pilihan-pilihan yang kita ambil, Dia ingin membentuk hati kita menjadi serupa dengan Kristus.

Sebelum melakukan sesuatu, kita perlu menanyakan pertanyaan penting ini:

Apakah ini membuatku makin SERUPA dengan Kristus?

Monday, April 6, 2020

Getsemani: Saksi Peperangan Sunyi


by Glory Ekasari

Peperangan yang dialami Tuhan Yesus tidak terjadi di ruang sidang majelis imam saat Dia diadili. Tidak juga di istana Herodes. Tidak juga di ruang gubernur Pilatus. Tidak juga di hadapan orang banyak yang berseru, “Salibkan Dia!” atau bahkan di Golgota saat Ia dipaku ke kayu salib. Peperangan yang dialami Tuhan kita terjadi di Taman Getsemani. Ketika Ia melangkah keluar dari taman itu, Ia sudah berjalan sebagai pemenang.

Tiga dari empat Injil menceritakan apa yang terjadi di Taman Getsemani. Rasul Yohanes tidak menulis tentang peristiwa ini, kemungkinan karena orang-orang Kristen saat itu sudah tahu tentang peristiwa Getsemani saat Yohanes menulis Injilnya (Injil Yohanes adalah Injil yang terakhir ditulis). Pada dasarnya, kisah ini memalukan; terutama bagi ketiga murid Yesus yang terdekat: Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Namun penulis Injil jujur menuliskannya bagi kita untuk menunjukkan bahwa, tidak seperti kita yang lemah, Yesus mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi pencobaan terberat dalam hidup-Nya.

// BERPERANG DENGAN BERDOA
Sebagai manusia, Yesus tidak bersikap sok berani menghadapi penderitaan dan salib. Dengan jujur Ia mengatakan apa yang Ia rasakan, sesuatu yang belum pernah kita baca tentang Yesus, yang selalu kelihatan tenang dan penuh kuasa:

Lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.”
(Markus 14:34)

Lukas menulis bahwa Yesus begitu ketakutan sampai “peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44). Tentunya Dia gemetar, bahkan menggigil, dan pakaian-Nya basah kuyup oleh keringat karena intensitas ketakutan yang luar biasa. Mengapa? Karena Yesus tahu apa yang sedang menanti-Nya.

Hukuman salib adalah hukuman yang kejam. Tujuan dari hukuman itu adalah menimbulkan teror dengan cara menyiksa seseorang selama mungkin agar orang lain bisa melihat penderitaannya yang mengerikan sampai akhirnya ia mati. Pemerintah Romawi memakai hukuman ini agar jajahan mereka tidak berani membangkang karena takut akan kekejaman tersebut.

Orang yang akan disalib terlebih dahulu disiksa. Penyiksaan ini kadang bisa begitu brutal sehingga korban sudah mati sebelum disalib. Bila korban bertahan melewati penyiksaan ini, ia kemudian disalib: dipaku tangan dan kakinya pada kayu dan dibiarkan tergantung sampai mati. Setelah kehabisan banyak darah dan tenaga dari penyiksaan, serta didera rasa sakit yang luar biasa dari syaraf yang dipaku, korban harus berjuang hanya untuk sekedar mengambil nafas. Kematian akhirnya terjadi karena tercekik: ia sudah tidak kuat lagi bergerak untuk bernafas. Karena itu tidak ada orang yang disalib dalam keadaan tenang seperti di film-film; orang yang disalib harus bergerak untuk menarik nafas dan membuang nafas, dengan punggungnya yang sudah robek menggesek-gesek kayu salib terus-menerus. Orang yang disalib berharap agar kematian cepat datang dan penderitaan mereka segera berakhir.

Yesus tahu bahwa Ia akan segera menghadapi penderitaan ini. Dan Dia ketakutan. Ini sangat manusiawi. Tapi yang lebih menakutkan dari itu ialah Ia akan menghadapi semuanya itu sendirian.

Saat terjadi banjir di kota saya, ada wawancara dengan seorang warga yang kebanjiran. Dengan wajah yang biasa saja, tidak seperti orang kebanjiran, dia berkata, “Nggak apa-apa… Wong kebanjirannya rame-rame, semua kebanjiran.” Dia merasa tenang karena banyak yang sepenanggungan dengannya.

Berbeda dengan Yesus. Dia harus menghadapi salib sendirian tanpa murid-murid-Nya yang akan segera lari meninggalkan Dia. Tetapi yang lebih penting, tanpa Bapa-Nya, yang sejatinya tidak mungkin terpisahkan dengan Dia. Kematian-Nya bukan karena kesalahan-Nya, tetapi dosa kita. Namun, tidak ada yang mendukung-Nya ketika Ia berkorban bagi kita (termasuk mereka yang menyalibkan Dia). Di atas kayu salib itu Yesus benar-benar sendirian: ditolak oleh dunia, dan dihukum oleh Allah. Sungguh kesepian dan kekosongan yang menakutkan.

Lalu bagaimana Yesus menghadapi semua ketakutannya itu? Lukas menulis:

Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa.
(Lukas 22:44)

Makin bersungguh-sungguh berdoa, itulah cara Yesus menghadapi ketakutan. Yesus memang berharap murid-murid-Nya akan mendukung Dia dalam doa, namun mereka malah tidur (sesuatu yang pasti sangat mereka sesali ketika mereka tahu apa yang kemudian menimpa Yesus). Namun itu tidak melemahkan Yesus. Ia kembali lagi pada doa-Nya. Seorang malaikat dari surga datang untuk menghibur-Nya. Yesus sekali lagi menilik murid-murid-Nya yang tertidur nyenyak, dan kemudian Ia kembali berdoa. Ia berdoa, berdoa, berdoa, sampai Ia menang.

Mengapa saya katakan bahwa Yesus menang? Karena setelah Yesus selesai berdoa dan Ia ditangkap, tidak ada sedikitpun bukti bahwa Yesus ketakutan di hadapan majelis imam, atau di istana Herodes, atau di hadapan Pilatus, atau di hadapan massa, atau di hadapan tentara yang menyalibkan Dia. Perkataan-Nya bukan perkataan orang yang ketakutan; sikap-Nya tidak seperti orang yang ketakutan; bahkan tentara Romawi yang menyaksikan penyaliban-Nya bersaksi, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah!” (Matius 27:54). Mereka tidak akan berkata demikian seandainya Yesus kelihatan takut, marah, atau mengasihani diri sendiri saat disalib. Mereka bersaksi demikian melihat ketegaran-Nya dan fenomena alam yang menyertai kematian-Nya.

Jadi Yesus berjalan menuju salib sebagai orang yang menang. Pergumulan yang hebat terjadi justru di Taman Getsemani, saat Ia berdoa dengan sungguh-sungguh dan mencurahkan semua ketakutan-Nya di hadapan Allah.

// CAWAN YANG DIMINUM YESUS
Sebelum Yesus berdoa di Taman Getsemani, Ia telah makan malam bersama murid-murid-Nya, dan dalam perjamuan itu Ia mengambil roti dan cawan berisi anggur. Tentang cawan itu Ia katakan,

“Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku.”
(I Korintus 11:25)

Yesus tahu bahwa agar perjanjian baru—yang dinubuatkan oleh para nabi dan direncanakan oleh Allah sendiri—dapat disahkan, darah-Nya harus tertumpah. Kematian-Nya di salib, curahan darah-Nya, akan mengisi cawan perjanjian baru, dan semua orang yang minum dari cawan itu mengambil bagian dalam perjanjian baru dengan Allah.

Tetapi ketika di Taman Getsemani, Yesus berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Bapa-Nya:

“Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”
(Markus 14:36)

Doa ini bukanlah penolakan terhadap apa yang harus Yesus alami, tetapi merupakan sebuah pergumulan. Sama seperti Yakub yang bergumul dengan Allah dan tidak mau melepaskan-Nya sampai ia diberkati, demikian pula Yesus bergumul dengan Bapa di dalam doa. Perhatikan bahwa Yesus tidak hanya berkata, “Saya tidak mau,” tapi Ia menutup permohonan-Nya dengan penyerahan diri, “Janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”

Ini bukan berarti kehendak Yesus dengan kehendak Bapa berbeda. Fakta bahwa Yesus datang ke dunia, menjadi manusia, melayani selama tiga tahun lebih, bahkan berlutut di Taman Getsemani pada hari itu, menunjukkan bahwa kehendak-Nya selaras dengan kehendak Bapa. Yang Yesus katakan ialah: Ia tidak menginginkan penderitaan (siapa yang mau menderita?), tetapi Ia lebih ingin kehendak Allah diwujudkan, sekalipun itu berarti Ia harus menderita. Perhatikan perkataan Yesus dalam bagian lain:

“Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.”
(Yohanes 12:27)

Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus: ‘Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”
(Yohanes 18:37)

“Untuk itulah Aku datang.” Yesus tahu pasti mengapa Ia harus datang ke dunia: agar Allah dimuliakan dan manusia diselamatkan. Salib adalah satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan itu. Yesus tidak ingin menderita—sebagaimana kita tidak ingin menderita, tapi Dia lebih menginginkan tujuan Allah digenapi, sekalipun itu melalui penderitaan-Nya.

// MENGHADAPI PENCOBAAN
Kontras dengan tindakan Yesus yang begitu serius di Taman Getsemani, murid-murid Yesus melakukan sesuatu yang sungguh memalukan: mereka tidur.

Mereka lelah setelah beraktivitas seharian, mendengarkan Yesus mengajar, dan makan malam. Mereka mengantuk, mata mereka berat. Kita mengerti apa yang mereka rasakan. Namun sayangnya mereka tidak menuruti apa yang dikatakan oleh Guru mereka, perintah-Nya yang terakhir sebelum Ia mati, agar mereka berjaga-jaga dalam doa bersama Dia.

“Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”
(Matius 26:40-41)

Yesus berkata demikian karena dua alasan: pertama, Ia ingin dibantu dalam doa menjelang penderitaan yang berat yang menanti-Nya; kedua, Ia tahu bahwa sebentar lagi murid-murid-Nya juga akan mengalami pencobaan. Yesus akan diambil dari mereka; dan mereka, seperti domba tanpa gembala, akan tercerai-berai.

Mereka tidak menuruti Yesus, dan karena itu mereka kalah dalam pencobaan dengan memalukan. Saat Yesus ditangkap, mereka bingung dan melarikan diri. Petrus, murid Yesus yang paling vokal, bahkan akhirnya menyangkal Yesus. Murid-murid yang lain entah di mana keberadaannya. Mereka bahkan tidak percaya ketika mendengar kabar bahwa Yesus bangkit. Keadaan mereka menyedihkan dan penuh ketakutan, tidak seperti Yesus yang berjalan menuju salib dengan penuh keberanian.

Kita tidak tahu kapan pencobaan akan datang. Tetapi apapun pencobaan yang datang dalam hidup kita, itu tidak akan lebih serius dari salib yang dihadapi oleh Tuhan Yesus. Karena itu mari kita mengikuti Yesus, yang lebih dahulu menang, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan (Ibrani 12:2). Dua hal yang harus kita pelajari dari Tuhan kita:

1. Ketika Roh Kudus mengingatkan kita untuk berdoa dan berjaga-jaga, lakukanlah. Jangan tidur seperti murid-murid Yesus. Dalam kesesakan, bergumullah dengan Allah dalam doa. Semakin berat masalahnya, semakin sungguh-sungguh berdoa. Bila Yesus yang harus menghadapi salib saja mencari kekuatan dalam doa, betapa lebih lagi kita yang menghadapi “pencobaan biasa” (I Korintus 10:13).

2. Selalu bersedia mengutamakan kehendak Allah dibanding keinginan kita. Yesus bersedia menderita dan mati demi melakukan kehendak Allah; kita tidak dituntut seberat itu. Bila kita mengasihi Allah, tidak ada yang boleh menghalangi kehendak Allah dalam hidup kita, bahkan (atau terutama) kehendak kita sendiri. Taklukkan kehendak kita itu di Taman Getsemani pribadi kita dengan Allah, dan berjalanlah keluar dari taman itu, menghadapi salib yang harus kita pikul, dengan penuh kemenangan.


Marilah kita berlomba dengan tekun, dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan; yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
(Ibrani 12:2)

Monday, January 27, 2020

Ajarlah Kami Berdoa


by Glory Ekasari

Saat bersekolah di sebuah SD Katolik, saya diajarkan untuk berdoa seperti yang Yesus ajarkan—Doa Bapa Kami. Semua murid wajib menghafalkan doa itu, dan setiap pagi kami berdoa sebelum mulai kelas. Selama bertahun-tahun saya tidak pernah memikirkan makna doa ini, sel1ain memandangnya sebagai doa hafalan. Namun setelah membaca buku tulisan Warren Wiersbe yang berjudul On Earth As It Is In Heaven, saya mulai merenungkan makna di balik Doa Bapa Kami.

Pada masa kehidupan Yesus di dunia, para rabi (“guru” dalam bahasa Ibrani) Yudaisme mengajar murid-murid mereka untuk berdoa. Satu rabi memimpin satu “perguruan”, dan memiliki pengikut yang tekun belajar dari dirinya. Tidak heran jika murid-murid Yesus mengajukan permintaan kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” (Lukas 11:1). Mendengar permintaan ini, Yesuspun mengajarkan Doa Bapa Kami pada mereka. Berbeda dari doa-doa yang diajarkan para rabi (yang “hanya” menekankan kekudusan Tuhan dan ketidaklayakan manusia untuk menghampiri tahta-Nya karena dosa), Doa Bapa Kami justru adalah doa yang menggambarkan kedekatan antara anak-anak Allah dengan Sang Bapa—tanpa menghilangkan unsur kekudusan-Nya.

Mungkin sebagian kita merasa mudah untuk berdoa. Iyalah, lha tinggal ngomong aja sama Tuhan. Gitu aja repot. Tapi ternyata, banyak orang justru menolak ketika diminta berdoa, “Jangan, deh. Aku ga bisa berdoa. Malu kalo diketawain.”

Well… ternyata berdoa itu gampang-gampang susah, Pearlians. Tapi pernah nggak kita berpikir alasan di balik jawaban tersebut?

Sebenarnya sederhana saja: kita tidak tahu bagaimana harus bicara dengan Tuhan, sehingga mereka menghafalkan doa tertentu, mengulang-ulang kalimat, mematenkan ritual, dan sebagainya. Lah, kalo gitu, gimana kalo Tuhan sendiri yang mengajari kita untuk berbicara kepada-Nya? Nah, ini baru bener. Dengan demikian, kita jadi tahu apa yang Tuhan inginkan dalam doa kita. Tapi bukan berarti kita bisa bicara seenaknya ya, Pearlians. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam pengajaran Tuhan Yesus kepada para murid-Nya tentang bagaimana harus berdoa:

// Berdoa Kepada Siapa?
Kesalahan pertama yang sering dilakukan orang dalam berdoa adalah berdoa untuk dilihat orang. Ini terdengar aneh, karena seharusnya kan, orang berdoa kepada Tuhan. Tapi inilah yang terjadi. Tuhan memberikan contoh dari kalangan “rohaniwan” Yahudi sendiri:

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.”
(Matius 6:5)

Orang Yahudi punya jam-jam doa yang telah ditentukan. Ketika jam doa tiba, maka para alim ulama Yahudi, di manapun mereka berada, akan langsung berhenti beraktivitas dan mulai berdoa—kadang-kadang dengan suara lantang. Oleh karenanya, semua orang akan melihat betapa “salehnya” mereka karena menaati jam doa, tidak seperti orang lain yang sibuk bekerja.

Tidak disangka, Tuhan tidak berkenan kepada doa seperti ini. Doa yang demikian justru salah alamat karena tidak ditujukan untuk Tuhan, melainkan untuk show off diri mereka sendiri. Yesus menegaskan, “Kamu cari penghormatan dari orang? Kamu sudah mendapatkannya. Tidak ada lagi yang Tuhan berikan sebagai respon dari “doa”-mu.”

Kesalahan lain adalah berdoa dengan bertele-tele. Yang biasanya berdoa seperti ini—dengan kata-kata yang diulang-ulang atau dirangkai indah tapi tanpa makna—adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. What an irony!

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata, doanya akan dikabulkan.”
(Matius 6:7)

See? Yesus menekankan bahwa doa dikabulkan bukan karena banyaknya kata yang digunakan. Lalu kenapa doa orang-orang ini tidak dikabulkan oleh Allah? Karena mereka tidak mengenal Dia. Dari sinilah Yesus mengambil titik tolak untuk menjelaskan kepada kita tentang doa yang dikehendaki Allah. Secara tersirat, Dia juga menunjukkan bahwa yang terpenting bukan pendapat orang tentang kita (bahwa kita orang yang rohani, saleh, tekun berdoa, dan sebagainya), tetapi apa pandangan Allah tentang kita.

Yesus memulai doa-Nya dengan frase yang luar biasa, “Bapa kami yang di sorga.” Secara teori, kita tahu bahwa kita tidak berdoa kepada “semesta”, bukan pada dewa yang menakutkan, bukan juga kepada mahkluk yang mahakuasa—namun bodoh dan bisa dirayu dengan kata-kata indah. Tidak. Kita berdoa kepada Bapa di sorga. Satu kata ini saja menunjukkan superioritas Allah dibanding kita, sekaligus hubungan yang manis antara Dia dengan kita. Dia bukanlah Pribadi yang jauh, Dia tidak memusuhi kita, dan kita bisa mengenal Dia. Pengenalan inilah yang menjadi kunci doa-yang-didengar-oleh-Allah.

Tidak ada anak yang berbicara kepada bapaknya dengan kalimat yang bertele-tele atau berseru keras-keras di depan orang banyak. Betapa anehnya bila ada anak berkata kepada papanya, “Pa, saya tahu Papa adalah orang tua yang bertanggung jawab sebagai penyedia dalam keluarga kita. Papa senantiasa menjadi teladan istimewa bagi saya dalam segala hal. Pada saat ini, Pa, sehubungan dengan kuliah saya yang semakin intens, biaya yang saya butuhkan pun makin banyak…” Tidak ada anak bicara seperti itu pada orang tuanya. Yang ada justru anak akan bercerita masalahnya dan kebutuhannya to the point, ketika dia bersama orang tuanya saja. Ini juga yang Tuhan tekankan:

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
(Matius 6:6)

Kehidupan doa kita tidak perlu dilihat dan diketahui orang lain, kecuali mungkin mereka yang hidup bersama dengan kita. Namun dampaknya harus dirasakan oleh semua orang di sekitar kita.

// Permintaan Yang Terpenting
Kabar baiknya, rata-rata orang Kristen (termasuk kita) bisa berdoa—walaupun “hanya” menggunakan kata-kata sederhana. Tapi tidak masalah. Yang jadi pertanyaan, ketika kita mulai berdoa, apa yang kita katakan kepada Tuhan? Apa yang kita minta dari Dia? Yang terpenting, top of our mind, pasti disebutkan pertama kali. Nah, perhatikanlah doa yang diajarkan Tuhan Yesus, dan permintaan apa yang pertama kali disebutkan-Nya.

Ada dua kategori permintaan, yaitu permintaan bagi Allah dan permintaan bagi diri kita sendiri. Tentu saja meminta sesuatu bagi Allah bukan berarti Allah membutuhkan apapun. Kita harus ingat bahwa Tuhan Yesus sedang mengajari murid-murid-Nya untuk berdoa. Artinya, Dia mengajari mereka untuk mengetahui apa yang harus jadi prioritas dalam hidup mereka.

“Bapa kami yang di sorga,
dikuduskanlah Nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
(Matius 6:9-10)

Melalui Alkitab, kita melihat bahwa Allah adalah tokoh utama dan Yesus adalah Tuhan yang ditinggikan—Nama-Nya adalah Nama di atas segala nama. Pearlians masih ingat pada perintah pertama dalam 10 Hukum, kan?

“Jangan ada Allah lain di hadapanmu…”

Dengan kata lain, Allah harus menjadi satu-satunya Pribadi yang kita sembah. Tidak hanya itu, dalam Ulangan 6:5 (yang dikutip Yesus dalam “Hukum yang Terutama” (Matius 22:37-40)) dituliskan, “Kasihilah TUHAN, Allahmu.” Bila Tuhan adalah yang terutama bagi kita, maka sepantasnya hal ini tercermin dalam doa kita.

Melalui kata-kata dalam doa ini, Yesus menunjukkan bahwa Allah adalah Pribadi yang kudus; Dia adalah Raja atas segalanya, dan kehendak-Nya tidak bisa dibatalkan oleh manusia. Dengan mengucapkan kata-kata ini dalam doa kita, kita sedang mengingatkan diri sendiri untuk menghormati Tuhan dan berserah kepada kehendak-Nya.

// Menyadari Siapa Kita dan Siapa Dia
Bagian kedua dari permintaan dalam doa Bapa Kami berkaitan langsung dengan hidup kita:

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.”
(Matius 6:11-13)

Biasanya saat berdoa, kita akan langsung ke permintaan kita, dan—umumnya—kita minta diberkati. Sebenarnya doa-doa kita biasanya hanya berisi satu bagian ini, satu potongan dari doa yang jauh lebih luas yang diajarkan Tuhan Yesus. Itu pun kita bukan minta makanan “yang secukupnya”, tapi hal-hal yang (sebenarnya) bukan kebutuhan; sementara dua permintaan lainnya—pengampunan dan kelepasan dari pencobaan—bukan hal yang biasa kita minta dalam doa. Namun melalui tiga permintaan ini, Tuhan menunjukkan bahwa kita harus bergantung penuh kepada-Nya. Sekeras apapun kita bekerja, bila Tuhan tidak memberkati kita, kita tidak akan berhasil. Karena itulah kita merendahkan diri di hadapan Tuhan dan meminta berkat dari-Nya. Kita percaya bahwa Dia yang menciptakan kita, pasti juga sanggup memelihara hidup kita.

Kemudian kita meminta pengampunan, yang dalam bahasa aslinya berarti “pembebasan utang”. Mengapa? Karena kita perlu menyadari bahwa kita adalah orang-orang yang selamanya berutang kepada Allah. Dia telah mengampuni semua dosa kita dengan kemurahan hati-Nya melalui Kristus, sehingga kita juga harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Perumpamaan tentang pengampunan dalam Matius 18 adalah a blowing mind parable tentang betapa besarnya utang kita di hadapan Tuhan—bila dibandingkan utang sesama terhadap kita. Artinya, orang yang tidak merasa diampuni oleh Allah, akan sulit mengampuni orang lain.

Last but not least, kita meminta kelepasan dari pencobaan. Sepanjang hari, kita menghadapi pencobaan. Well, karena dunia ini adalah medan pertempuran rohani, Pearlians, sehingga kita tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri untuk menghadapinya. Dengan berdoa, kita mengakui kelemahan diri kita, dan meminta pertolongan kepada Tuhan agar kita mampu hidup sesuai kehendak-Nya—serta melawan pencobaan dengan kekuatan dari-Nya. Ini adalah kabar baik, bukan? Dia bukan Tuhan yang leha-leha saat melihat kita bergumul sendirian, tapi justru melepaskan kita dari apa yang jahat.

--*--

Doa yang diajarkan Tuhan Yesus menunjukkan siapa Allah dan siapa kita. Yaps, kita bukanlah mahkluk yang independen, yang tidak membutuhkan Tuhan, yang hanya datang kepada-Nya saat kita perlu sesuatu, dan bisa melupakan-Nya setelah itu. Tidak. Setiap tarikan nafas kita adalah bukti bahwa kita adalah ciptaan yang harus bergantung penuh kepada-Nya, Sang Pencipta yang mengasihi kita. Melalui Doa Bapa Kami, kita diingatkan untuk menjadi orang-orang yang rendah hati, sekaligus memberi kelegaan besar karena kita tahu bahwa hidup kita dijamin oleh Allah.

Mari kita datang kepada Yesus, dan dengan kerendahan hati meminta Dia untuk membuka pikiran kita, serta berkata bersama para murid-Nya di masa itu, “Tuhan, ajarlah kami berdoa.”

Wednesday, December 19, 2018

Firman yang Memberi Jawaban (Part 1)


by Mekar Andaryani Pradipta

Kita pasti udah sering banget denger soal prinsip "Tanya Tuhan" sebelum kita mengambil keputusan buat melakukan sesuatu. I'm so grateful soalnya Mba Tatik, kakak rohaniku yang pertama dulu melatihku buat selalu tanya Tuhan dan dengar-dengaran akan suaraNya. Ngga peduli hal besar hal kecil, pokoknya tanya Tuhan dulu. Misalnya, kakak rohaniku ini ngga akan beli barang sebelum dia doakan dulu. It means kalo dia lagi jalan-jalan trus tiba-tiba nemu sale, trus eeehhh ada baju lucuuu, ga peduli seberapa pengennya dia, ato ga peduli dia lagi banyak duit, dia ga akan beli tuh baju sebelum dia doakan dulu. Even buat hal potong rambut pun, dia ga akan lakukan sebelum dia doakan. Dia belajar buat ngga impulsif dengan keinginannya, tapi take time buat selalu tanya Tuhan, at least buat laporan dulu ke Tuhan soal apa yang dia inginkan ^^

Kalo aku sendiri sih masih belum segitunya, hehe, kadang kalo liat bazaar buku masih suka kalap. Even kalo lagi ga punya duit pun, gimana caranya lah :p *Jangan ditiru ya teman-teman, saya masih belajar dan jatuh bangun di bagian ini.* :p Kakak rohaniku itu juga selalu encourage aku buat cari jawaban lewat Firman Tuhan. Emang sih, Tuhan bisa ngomong lewat segala macam cara, tapi Mba Tatik selalu bilang kalo Firman harus selalu dijadikan yang no. 1 bahkan di atas hal-hal yang paling supra natural sekalipun. Dalam segala hal, you have to get back to the Word. Bingung soal ini, lihat apa kata Firman. Bingung soal itu, lihat apa kata Firman. Si ini bilang A tapi si itu bilang B, ya tinggal lihat apa kata Firman. Trus kalo dapet mimpi atau nubuatan soal ABC, uji dengan Firman. Pokoknya kalo butuh pemahaman atau penjelasan tentang sesuatu, ask God to give us His Word.

Waktu baca bukunya Joyce Meyer yang How to Hear From God, aku diingatkan lagi soal hal ini. Cuman mungkin ada yang bingung ya... Alkitab itu kan kaya kumpulan cerita jaman dulu, apa iya bisa jawab pertanyaan jaman sekarang, misalnya, "Tuhan, abis lulus kuliah aku enaknya kerja di Jakarta atau tetap di Bandung ya? *colek Echa*, atau "Tuhan, ini lowongan CPNS banyak banget, aku masuk Kemlu atau Kemkeu ya?", or even pertanyaan kaya, "Haruskah aku keluar dari pelayanan multimedia supaya bisa fokus ke pelayanan anak?" Nah loh, kan ngga ada tuh di Alkitab dibilang, "Barang siapa harus memilih antara Kemlu atau Kemkeu, lebih baik pilih Kemlu" :p atau ngga juga tuh di Alkitab ditulis, "Barang siapa sudah masuk pelayanan multimedia tidak boleh dobel dengan pelayanan lain." Huaaaaaa, kan kagak ada tuh, wkwkwk. So, gimana caranya Firman bisa menjawab pertanyaan kita? :D

That's the wonder of the Word of God. Dia adalah Allah yang hidup yang juga memberikan Firman yang hidup. Alkitab memang adalah Logos (Firman yang tertulis) tapi kuasa Allah membuat Firman menjadi sebuah Rhema (Firman yang Hidup). KuasaNya memberikan sebuah divine inspiration yang memposisikan Firman itu menjadi jawaban atas pertanyaan kita. Joyce Meyer menggambarkannya seperti ini, "Sometimes a Scripture will seem illuminated or made alive in a particular way, and that is when the portion of the logos becomes a specific rhema to us. The answer are found in God's Word and are revealed to us by His Spirit" 

Memang pada akhirnya rhema ini sifatnya sangat personal. Bisa saja muncul pertanyaan, kok kamu bisa bilang ayat A adalah peneguhan kami harus tetep tinggal di Kota X? Atau kok kamu bisa bilang ayat ini peneguhan kami harus ambil beasiswa ke New Zealand? Well, balik lagi ke post sebelumnya The Peace Deep Inside, somehow you just know in your spirit and you have peace about it. Kalo ada yang pernah baca bukunya Maqdelene Kawotjo yang judulnya berhasil karena iman, dia memutuskan untuk ambil beasiswa ke Amerika karena Tuhan bicara kepadanya lewat perikop bangsa Israel menyerang kota Ai. Aneh kan, apa hubungannya Ai sama Amerika coba? Emang kalo bangsa Israel menyerang kota Ai, itu berarti Ms. Maqdalene harus 'menyerang' Amerika? Apa itu ngga terlalu dihubung-hubungin banget? Yaaah, sekali lagi itu sifatnya personal, somehow through that verses Ms. Maqdalene just sensed in her spirit, kalo Tuhan lagi nerangin bahwa Amerika itu adalah Ai bagi dia, jadi ya berangkat aja sekolah ke sama. Other people might not understand dan itu wajar karena revelation semacam itu sifatnya personal. Tuhan ngomong secara pribadi ke kita, bukan ke orang lain.

Kalo buat aku, jawaban Tuhan lewat Firman macam ini justru adalah hal yang dapat kita andalkan. Dalam kemanusiaan kita, memang tetap terbuka kemungkinan untuk salah mengartikan kehendak Tuhan lewat firmanNya. Salah satu cara buat menguji adalah di cross check dengan bagian Firman Tuhan yang lain, dan tentu saja test damai sejahtera. Misalnya: kamu sedang tanya Tuhan, haruskah kamu putus dengan orang tidak percaya ini karena orang tua tidak merestui? Padahal kamu udah berjuang bertahun-tahun buat mendapatkan restu, termasuk menginjili pacarmu. Well, you might get the verse about the victory God promise to give, somehow you feel that this verse is God's promise to give you victory, means marriage with that unbeliever. Nah loh, kalo ngga diuji dengan ayat lain, bisa salah kaprah tuh, soalnya di ayat lain dibilang janganlah menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang tidak percaya dan of course, hormatilah ayahmu dan ibumu. Sudah jelas, walopun kita merasa firman soal kemenangan itu adalah jawaban, karena hal itu berkontradiksi dengan firman Tuhan yang lain, sudah pasti itu bukan dari Tuhan. It's just our feeling anyway.

Terus gimana dong kalo ada kemungkinan salah gitu? Hehe, ya jangan jadi takut melangkah juga sih. Seperti halnya hubungan, semakin intim kita dengan Tuhan, roh kita akan semakin peka sama suara-Nya. Yang penting, kalo kita merasa Tuhan bicara secara spesifik dengan kita lewat Fimannya, as long as itu ngga bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan yang lain, imani dan taat aja. Awalnya memang seperti trial and error, tapi lama-lama kita akan tahu apakah ini benar suara Tuhan atau tidak. Kalaupun memang kita salah, Tuhan pasti akan kasih tahu kalo kita sedang berjalan ke arah yang tidak sesuai dengan rencana-Nya.

Mari kira pegang janji Tuhan di Mazmur 32:8, "Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu." Tuhan itu seneng banget loh kalo kita tanya Dia dalam segala sesuatu, sebelum ambil keputusan. Soalnya itu berarti kita sedang meletakkan kehendak kita di bawah kehendak-Nya, kita ngga hidup suka-suka kita sendiri tapi hidup di bawah pimpinan Allah. And definitely God is more than willing to lead us :)

Kayanya udah kepanjangan ini post yak, hehe. Padahal aku masih mau cerita soal keputusan-keputusan yang aku buat based on the rhema I got. Soal kuliah, soal kerjaan, soal banyak hal. Mungkin ntar additional reading kali yak, wkwkw. Anyway, cuma mau ngomong gini, guys, ngga ada yang namanya short cut buat dapet keintiman sama Tuhan. Keintiman sama Tuhan ngga akan bisa di dapat kalo kita ngga hidup di dalam firman-Nya. Hidup di dalam Firman ini extremely important pake banget, cos disitulah ada semua isi hati Tuhan yang harus kita tahu. Jadi kalau ada yang masih males-malesan baca Firman, hayooooo, mari bangun disiplin rohani buat saat teduh, bible reading, dan hafal ayat. Mungkin awalnya emang susah, tapi yang penting tekun dan setia, sampai akhirnya hal itu jadi kebiasaan dan kita ngga bisa hidup tanpa semua hal itu :) Even sampai sekarang, sometimes aku juga masih jatuh bangun soal ini, bergumul sama hobi tidur dan bangun siang yang parah, bergumul sama kebiasaan suka menunda baca jatah bacaan hari ini, bergumul juga dengan rasa sok "udah pernah baca" :p Tapi yang namanya Firman Tuhan itu wow! Sekali kamu ngalamin kuasa FirmanNya, you'll be eager to get more and more and more of it.

Sippo! Sampai disini dulu... Buat proyek (kalo ada yang mau sih :p), coba baca Mazmur 119 dan temukanlah the wonder of the Word of God. Misal Firman Tuhan itu berguna buat a b c d e, ato melalui Firman kita bisa melakukan a b c d e. Huehehe... Kalo ada yang mau sharing, I'm all ears to hear :)

***

Read Part 2

Saturday, November 3, 2018

Menghitung Hari-hari


by Tabita Davinia Utomo

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
(Mazmur 90:12)


Entah kenapa, ayat itu selalu membuat saya teringat dengan resolusi yang saya tulis di tahun 2013. Hmmmm... Ada apa yaaaa? Yuk, silahkan baca di bawah iniii :p 

Di akhir tahun 2013, saya mengikuti sebuah camp di salah satu seminari Alkitab di Malang. Pada tanggal 31 Desember malamnya, saya dan para peserta camp itu diminta untuk menuliskan kesan di tahun 2013 dan resolusi untuk tahun 2014 di sebuah kertas. Kertas itu kemudian digulung dan dimasukkan ke dalam sebuah botol. By the way, salah satu bagian yang membuat saya speechless dari resolusi yang saya buat itu adalah, 

“Ya Bapa, aku berdoa agar di tahun 2014 nanti aku dapat belajar lebih banyak tentang-Mu. Bantu aku, Roh Kudus, agar aku dapat lebih peka terhadap kehendak Tuhan bagi keluarga, sekolah, gereja, dan masa depanku. Dan tuntun aku, agar di (akhir) tahun 2014 nanti, aku juga dapat bersyukur atas tahun itu, sama seperti saat aku bersyukur untuk tahun 2013.”

Kesannya tulisan saya itu seperti tulisan anak kecil yang masih polos ya (mungkin memang benar kalo saya masih polos, sama kaya’ kata temenku :p lol). But that’s what I prayed for. And... God did it! :)

Selama tahun 2014, ada banyak hal yang Tuhan kerjakan dalam hidup saya, bahkan melebih dari apa yang saya bayangkan. Nggak cuma itu, Tuhan juga mengajarkan banyak hal kepada saya, entah itu lewat saat teduh (SaTe), persekutuan/kebaktian di gereja dan di komunitas saya, bahkan lewat obrolan sehari-hari dengan orang-orang di sekitar saya. Nggak jarang juga sih, Tuhan pakai orang-orang di sekitar saya (yang mungkin nggak saya kenal) untuk mendidik saya selama tahun ini (dan juga di tahun-tahun sebelumnya). Wah, He is so creative! He always makes everything more than I can imagine :) Dan itu sebabnya, saya benar-benar bersyukur dan speechless untuk kehadiran-Nya di dalam hidup saya (ciehh, sok romantis nih ceritanya :p).

Oke, sekarang coba kita baca lagi Mazmur 90. Dan kali ini, kita akan coba baca secara keseluruhan, nggak cuma dari ayat 12 doang. Guys, Mazmur 90 adalah doa yang dinaikkan Musa kepada Tuhan. Kita bisa tahu itu dari Mazmur 90:1. Bagi saya, Mazmur ini secara keseluruhan berbicara tentang tempat perlindungan yang kekal di dalam Allah. Kenapa kok, saya bisa bilang begitu?

Di dalam ayatnya yang ke-1 dan 2, Musa berkata,

“Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya Engkaulah Allah.”
(Mazmur 90:1-2)

Nggak cuma itu, di dalam Wahyu 1:8, Yohanes menuliskan:

“’I am the Alpha and the Omega,’ says the Lord God, ‘who is, and who was, and who is to come, the Almighty.’”
(Revelation 1:8 / NIV)

Itu artinya, Dia udah ada sebelum dunia dan seisinya ini diciptakan. Bahkan Dialah yang menciptakan mereka, termasuk kita. Guys, nggak ada yang tahu tentang apa yang akan terjadi di hari-hari ke depan. Apa yang kita impikan dan cita-citakan bisa aja meleset dari perkiraan kita. Tapi Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Karena Dia yang menciptakan kita, dan Dialah satu-satunya tempat di mana kita bisa menaruh pengharapan di masa depan.

Guys, pernah lihat rumput kering kan? Coba perhatiin, waktu rumput itu kena angin, whusshhhh... Rumput itu bakal langsung terbang entah ke mana .__. Begitu pula dengan hidup kita. Nobody knows where the future will bring us. Karena itulah, kita membutuhkan Allah yang kekal itu sebagai perlindungan kita. Kita membutuhkan Dia untuk menuntun hidup kita untuk jadi semakin serupa dengan diri-Nya :)

Tahun 2015 telah tiba. Mungkin kita berharap permasalahan dan pergumulan yang sedang kita hadapi sejak dulu akan berakhir di tahun ini. Tapi... Siapa yang bisa memastikan bahwa semuanya akan berakhir di tahun ini? Nobody knows, except The Writer of our lives. Itu sebabnya, kita perlu benar-benar bergantung kepada Tuhan. Kita nggak bisa berjalan sendirian menghadapi masa depan, karena kita bukan manusia yang maha tahu (kalo maha tahu, berarti kita nggak butuh Tuhan lho :s). We must walk with God, no matter what our problem is. He will lead us through the problems and struggles, and you’ll see that everything will be beautiful in His hands.

“Lah, Tabita mah gampang ngomong gitu! Dia nggak tahu sih, seberapa berat pergumulanku!”

Guys, saya juga punya ketakutan tersendiri di tahun 2015. Di tahun ini, saya akan mengikuti ujian nasional tingkat SMA. Saya juga akan mulai kuliah di tahun ini. Dan... Tahun 2015 adalah tahun di mana sebuah pergumulan saya (yang berbeda dengan di atas) akan berakhir *masalahnya saya nggak tahu apakah pergumulan itu bakal berlanjut apa nggak -.- di situ deh ketakutan saya hehe*. Jelas saya nggak tahu apa yang akan terjadi terhadap pergumulan-pergumulan tersebut di tahun ini. Yang bisa saya lakukan adalah tetap percaya dan mempercayakan seluruh hidup saya kepada Tuhan, dan membiarkan Dia bertindak di dalamnya :)

Mungkin awalnya nggak gampang, ya, untuk membiarkan Tuhan menuntun hidup kita. Pasti ada banyak clash yang terjadi antara kita dengan Dia (aduh, kaya’ orang pacaran aja nih :p). Bisa aja ada yang bilang, “Tuhan kok nggak adil sih?? Aku maunya gini, tapi kok yang terjadi malah gitu!”. Guys, seindah-indahnya impian kita, masih jauhhhhh lebih indah apa yang udah Tuhan rancangkan untuk kita. Di situlah kita dilatih untuk percaya sama Tuhan, mempercayakan apa yang kita punya untuk Dia pakai menjadi alat kemuliaan-Nya.

Percaya kepada Tuhan bukan berarti kita pasrah sama semua yang Dia kehendaki. No! Kita memang harus bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, tapi jangan sampe kita nggak ngelakuin apa yang jadi bagian kita! Bayangin Tuhan kita suruh-suruh ngelakuin A-Z, tapi kita nggak ngelakuin apa-apa, malah leha-leha -__- haduhhh, saya berdoa agar para pembaca nggak ada yang kaya’ gitu ya hehe.

Kita pun juga harus ngegunain waktu yang ada dengan sebaik mungkin. Nggak males-malesan, mulai belajar ngerjain pekerjaan rumah tangga (latihan jadi a housewife :B), belajar mengasuh anak (ato adik, ponakan, sepupu yang masih kecil...), cari passion hidup (entah itu jadi guru, dokter, arsitek, penulis, psikolog, or something else...), belajar semaksimal mungkin, kerja sungguh-sungguh, etc. Intinya, lakuin apa yang udah Tuhan percayain ke kita dengan sebaik-baiknya. Karena apa? Karena waktu nggak bisa kembali lagi. Adalah lebih baik menyesal untuk apa yang telah kita perbuat, daripada menyesali untuk apa yang tidak kita perbuat :)

So... Selamat berjalan bersama dengan Tuhan, ya :) Trust me, segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11), walopun kadang kita nggak ngerti apa yang Tuhan kehendaki lewat pergumulan kita, dan kapan ‘waktu yang indah’ itu akan tiba :)

Wednesday, July 25, 2018

God, My Family, and Me



Compiled by Grace Suryani Halim

Alo moms and moms-to-be! Adalah hal yang sangat wajar setelah punya anak, beberapa atau bahkan banyak dari kita mengalami kesulitan untuk mengatur waktu saat teduh dengan mengurus anak dan keluarga. Kalau dulu, bisa dengan anteng saat teduh pagi-pagi, sekarang sebelum kita bangun sudah ada suara oek-oek bayi yang minta susu. Begitu selesai memberi susu, eh sudah harus menyiapkan sarapan untuk suami, dan seterusnya. 

Secara teori, kita sadar dan paham betul bahwa waktu teduh dengan Tuhan itu luar biasa super duper penting. Tapi kadang dalam prakteknya, kita ga tau harus gimana... Nah, di edisi kali ini, akan ada sharing dari para ibu-ibu single fighter yang mengurus anak sendiri tanpa bantuan babysitter maupun ortu. Gimana sih caranya mereka mengatur waktu untuk saat teduh di tengah kesibukan? Yup, it’s hard, but this is not impossible :) 

***


Sesudah punya anak, waktu teduh saya ga bisa kayak dulu lagi mau kapan dan berapa lama. Sekarang harus pinter-pinter membagi waktu, karena selain spend time with God, saya percaya Tuhan juga mau saya melayani keluarga (suami+anak). Jadi saya cari waktu yang saya bisa duduk diam di hadapan Tuhan. Dan itu biasanya siang atau malam setelah Chloe tidur (karena pas suami ada di rumah dan Chloe sedang bangun, saya ga bisa duduk diam :p).Terus kalau lagi devotion sama Chloe, saya juga kayak devotion lagi, karena ketika saya ceritain dia Alkitab, saya diingatkan lagi tentang kasih Tuhan. Selain itu, saya juga biasain untuk ngobrol sama Tuhan setiap saat - saat masak, cuci piring, main sama Chloe, dan lain-lain. Cuma satu dua kalimat pendek saja (kadang sharing, kadang pujian, kadang keluh kesah, hehe...), tapi saya bisa merasakan Tuhan itu dekat dan mendengarkan saya. 

Well, jadi ibu rumah tangga itu kerjaannya ga pernah habis, tapi saya diingatkan terus sama cerita Maria-Martha. Jangan sampai saya terlalu sibuk sampai ga ada waktu untuk mendengarkan Tuhan. Jangan-jangan sebenarnya saya malah sibuk melayani diri sendiri, bukan Tuhan. Meski saya masih jatuh bangun, saya yakin kasih karunia Tuhan itu selalu cukup dan akan memampukan saya untuk bisa lebih baik lagi dalam mengasihi dan melayani Tuhan dan keluarga :) 

Minda {Mama Chloe - 2.5 tahun}


***


Enam tahun jadi mama, saya udah cobain macem-macem formula buat saat teduh yang efektif, efisien, tapi belum nemu yang pas. Tiap fase umur anak beda waktu luang yang tersedia buat saya. Jadi kudu fleksibel dan siap berubah. Dulu pas anak saya batita rasanya super susah selipin waktu, eh sekarang setelah anak kelas 1 SD kok masih tetep susah juga. Tekad n kemauannya mungkin yang masih kurang. 

Dulu saya suka berlama-lama saat teduh, sambil santai, melamun (baca: meresapi firman :p), mikir ini itu, nyanyi, doa syafaat, dll. Sejak ada anak mah ngga bisa lagi lah yauw, waktu luang udah jadi barang mewah. Jadi saya akalin dengan cara membagi waktu saat teduh jadi beberapa bagian, gak sekaligus. Misal pagi doa dulu, nanti siangan kalo ada kesempatan baca firman barang 5-10 menit, sore kalo anak tidur siang, saya nyanyi beberapa lagu sama doa syafaat, yah begitu deh diselip-selipin aja 'potongan2' waktu saat teduhnya di sela-sela aktivitas. Puas? Engga tuh, karena jadi makin banyak halangan dan bolongnya. Pernah mencanangkan mau bangun pagian, tapi sampe stres sendiri krn ga kunjung berhasil, I'm not a morning person. 

So, buat fase saya sekarang, waktu paling enak adalah setelah saya nge-drop anak di skul. Keluar dari kompleks skul, saya cari tempat di mana saya bisa parkir, terus saya ambil waktu doa bentar, kadang sama baca firman, abis itu baru lanjut aktivitas ke pasar dan sebagainya. Kadang saya buru-buru dan ngerasa ga sempet saat teduh, tapi herannya kok sempet BBM-an ama suami atau temen yang ultah. Balik lagi ke niat ya, niatnya dulu yang hrs diperkuat, baru halangan bisa dilawan. 

Natalia {Mami Darren - 6 tahun}


***


Cara saya untuk tetap saat teduh dan menjaga hubungan pribadi dengan Tuhan di tengah segala kesibukan adalah dengan berusaha bangun paling tidak 30 menit lebih awal dari Jane. Pernah ada satu masa begitu saya keluar dari kamar, Jane pasti bangun -,- Karena itu beberapa bulan saya saat teduh di toilet kamar pake handphone.

En setelah punya anak, saya jadi sangat sadar bahwa saya bener-bener butuh Tuhan selalu. Terutama kalo Jane lagi cranky dan sangat susah diatur. Karena itu saya berusaha untuk berdoa singkat sesering mungkin. Kalo pas lagi frustasi sama Jane, doa saya, “God, please help meee...” Kalo lagi frustasi en ga tau mesti ngapain ya doa, “Tuhan, I don’t know what to do. Please help me.” Kalo Jane lagi kalem dan baik, “Thanks for your blessing, Lord.” Pokoknya sebisa mungkin selalu melibatkan Tuhan dalam setiap kejadian yang saya alami dengan Jane. Selain itu saya juga menjaga hubungan pribadi dengan Tuhan lewat nyanyian. Baik itu lewat lagu yang dipasang di computer maupun ketika mengajarkan lagu-lagu rohani kepada Jane. 

Grace {Mami Jane - 2 tahun}


***


Saat teduh saya dalam satu hari bisa 'berseri'. Perlu beberapa 'episode' untuk bisa selesai baca dan doa. Contoh: biasanya saya mulai saat teduh waktu Jeremiah morning nap. Mulai dengan membaca dan merenungkan perikop Alkitab, trus terkadang terpotong karena anak bangun perlu diurus. Trus kadang perlu siapin makan siang, jadi disambung lagi waktu Jere independent play time. Jere main-main, saya duduk di sampingnya dan meneruskan saat teduh. 

Saya merasa bahwa saat teduh harus dilihat sebagai kebutuhan bukan rutinitas. Sehingga kalau itu dilihat sebagai kebutuhan, seperti makan atau mandi maka kita pasti pasti berjuang untuk meluangkan waktu. Tapi jika kita melihatnya hanya sebagai rutinitas, mudah untuk melepas waktu teduh karena ada banyak rutinitas yang lebih keliatan, misalnya menyiapkan makanan, bersih-bersih rumah dan lain-lain. Akhir-akhir ini saya juga banyak merenungkan kebaikkan Tuhan melalui lagu-lagu pujian seperti hymn. Mendengarkan lagu-lagu itu seperti nourishing my soul. 

Ipei {Mama Jeremiah - 1 tahun}


***


Karena gue kerja full-time dan juga aktif pelayanan, waktu di rumah atau alone-time itu sangat sedikit. Pertama-tama habis punya anak, merasa bersalah sekali ga bisa pacaran ama Tuhan sampe berjam-jam kayak waktu single. Tapi after a while, I got sick of feeling guilty if I couldn't spend a lot of time with the Lord alone. Lama kelamaan gue sadar, bahwa meskipun gue ga berjam-jam ngabisin waktu alone with Him, kok gue masih bisa denger Dia ngomong ke gue ya. Maksudnya selalu ada aja yang gue dapetin dari Tuhan. Mau itu pas lagi gantiin diaper anak kek, atau lagi masak kek. 

Someone told me the following statements yang membuka pandangan gue. Selama ini kita biasanya bilang begini: in our life, God is number 1, family number 2, pelayanan number 3. Sebenernya ada yang salah dengan perkataan ini. Instead of putting God number 1, and the rest are secondary, why not we put God in everything. Jadi misalnya family number 1 (God is in there), pelayanan number 2 (God is also there), kerja number 3 (God is there too). So God is everywhere in every aspect of our lives. Bagi gue, itu lebih make sense. And it works for me. 

Gue bukan morning person. Sampe skarang gue berulang kali berusaha bisa bangun jam 5 buat saat teduh, tapi ga kesampean melulu. Kan banyak yang bilang, put God first in your life by waking up early and saat teduh. Aduh, sampe sekarang gue kagak bisa-bisa lakuin itu. Sampe akhirnya bete sendiri dan merasa bersalah kok sepertinya gue ga put Him first before I start my day. Makanya gue agak surprised when I am still able to hear His voice and received fresh revelations eventhough gue ga dwell berjam-jam in His Word. But of course I still need to eat my bread (the Word), jadi gue sedikit-sedikit ambil waktu saat teduh disana-sini. Biasanya sih kalau lagi di bus mau pergi kerja. Perjalanan sekitar 45 menit. Pasang earphone, denger lagu rohani and baca renungan yang gue taruh di HP. Kadang suami gue mengantar gue ke tempat kerja dengan mobil gereja (dia bawa kalo buat pelayanan), gue bacain satu atau dua pasal dari Alkitab buat suami gue dan gue. Lalu kita diskusi apa yang kita dapet dari pasal itu. So, lets make God be in every aspect of our lives. Meskipun ga teratur saat teduh, Tuhan pasti masih bisa ngomong ke kita, karena Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan kita. Yang penting jangan merasa bersalah dan tertuduh. Perasaan-perasaan itu tidak datang dari Tuhan. 

Nelly {Mama Aiden - 1 tahun}


***

Bagaimana moms, membaca sharing-sharing di atas? Semoga kiranya Tuhan sendiri yang menolong dan memampukan kita untuk terus bertumbuh dan makin dekat dengan-Nya. Tanpa pertolongan Tuhan sia-sialah semua usaha kita untuk menjadi orang tua maupun menjadi istri. 

Wednesday, July 11, 2018

When Two Pray



by Stephanie Gunawan

Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.
(Matius 18: 19-20)

Di hari Minggu yang cerah, seusai ibadah, Jessica dan Vina sedang sama-sama menikmati mie ayam yang ada di seberang gereja. Keduanya memang dekat sejak masih di bangku SMA. Mereka sering berbagi cerita dan saling memberi nasihat. Kali ini, tampaknya Jessica sedang galau dan ingin bercerita pada Vina.

Jessica: Vin, gue mau cerita nih... *wajah galau*

Vina: Mau cerita apa Jes? Tentang si doi yaaa?

Jessica: Iya, Vin. Gue bingung...

Vina: Bingung kenapa?

Jessica: Selama ini kan gue udah pacaran sama si Dhanu, dan Dhanu udah mulai ngomongin soal pernikahan. Gue rasanya... bimbang gitu... Dhanu sih oke. Kita sering sharing firman Tuhan, cerita soal pelayanan kita masing-masing, kerjaan kita, teman-teman kita, keluarga kita, yah sudah hampir semuanya kita ceritakan. So far, gue melihat dia kandidat yang oke.

Vina: Lalu?

Jessica: Tapi, apa pernikahan adalah langkah yang tepat untuk kami sekarang? Ini kan keputusan sekali seumur hidup, Vin. Gue gak mau salah bikin keputusan. Tapi gue juga gak berani memutuskan, karena gue tau gue gak sempurna. Gue orang yang berdosa. Pasti bisa aja gue membuat keputusan yang salah. Rasanya gak mantep, Vin. Padahal gue udah berdoa lho sama Tuhan Yesus... Gue tanya dalam doa gue, apakah menikah dengan Dhanu adalah keputusan yang tepat, apakah itu yang Tuhan Yesus inginkan bagi gue... Tapi, kayanya gue kok clueless yah kali ini. Gue gak merasa dengar jawaban Tuhan. Gue gak tau Tuhan maunya apa.

Vina: Hm... Apakah lu udah pernah berdoa berdua sama Dhanu, mendoakan hal ini?

Jessica: Berdoa berdua? Yang bener, Vin? Memangnya perlu yah berdoa berdua?

Vina: Ya iyalah Jes. Kalian perlu banget berdoa bersama, berdoa berdua. Keputusan ini bukan cuma penting untuk lu doank, tapi juga penting untuk Dhanu. Saat kalian berdoa bersama, kalian bisa saling memberkati, saling menguatkan, saling menjaga dan saling menambahkan iman kepada Yesus Kristus.

Jessica: Maksudnya? Gue belum pernah lho berdoa berdua sama seorang cowo, apalagi kalau cowo itu pacar gue.

Vina: Maksudnya gini... Kalian bisa saling memberkati. Lu bisa doakan Dhanu agar dia diberi hati yang bersukacita di dalam Yesus, sukacitanya penuh di dalam Yesus. Lalu, supaya Dhanu selalu mengutamakan cinta akan Yesus daripada cinta akan yang lain, bahkan cintanya ke elu, Jes. Inget Galatia 1:10

"Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus."

Doakan juga supaya Dhanu sehat, aman dalam perlindungan Tuhan. Bukankah itu memberkati Dhanu? Kemudian, kuatkan dia juga saat imannya melemah. Kalau dia sedang cape, gak sempet baca Alkitab, lu doakan agar Tuhan Yesus yang menyegarkan roh Dhanu. Minta agar Dhanu semangatnya menyala-nyala dalam mencari Yesus, kerinduannya akan Yesus terus bertambah. Doakan agar Dhanu bisa menyelesaikan semua tugas pelayanannya dengan baik. Yang ini inget Roma 12:11

"Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah Rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan." 

Kuatkan dia, Jes. Berdoa bersama juga bisa membantu kalian saling menjaga. Jes, gue tahu gak mudah pacaran zaman sekarang. Kita selalu punya kesempatan untuk berduaan sama pacar kita. Buntut-buntutnya, pacaran kita bisa gak kudus. Bahaya kan? Makanya, saling mendoakan agar Tuhan Yesus jagain pikiran kita. Jangan mikirnya yang ngga-ngga, maunya deket secara fisik terus. Tuhan Yesus aja bilang di Matius 26:41.

"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."

Jadi, mendingan pas berduaan itu, kalian gunakan waktunya untuk berdoa bersama. Lebih baik kan? Nah, kalau sudah berdoa demikian, pasti deh kalian semakin beriman pada Yesus. Kalian tahu, bahwa satu-satunya sumber kekuatan dan penghiburan kalian ada pada Yesus, bukan pada pasangan masing-masing. Ibrani 12:2

"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah."

Jessica: Oh, gitu yah Vin.. Terus, lu sendiri selama ini berdoa bareng Kenny?

Vina: Iya Jes. Sejak pacaran, gue udah berdoa bareng Kenny. Gak dari awal-awal sih. Tapi sejak kami lebih serius berpikir tentang pernikahan, gue ajak Kenny berdoa. 

Jessica: Lho? Bukannya mestinya Kenny yang ngajak yah? Setau gue, cowo yang harus lebih memimpin.

Vina: Ya betul, memang sebaiknya cowo yang memimpin. Saat itu, gue diberi tahu oleh kakak rohani gue. Terus gue cerita sama Kenny. Gue bilang, “Ken, tadi aku telponan sama kakak rohani. Dia ingatkan kita untuk berdoa bersama, agar kita saling menjaga satu sama lain, supaya kudus hubungannya. Dia bilang sangat penting untuk berdoa bersama.” Kenny setuju tuh, Jes. Setelah dia setuju, baru deh gue tanya, “Kenny, maukah kamu yang memimpin doa bersama kita?” Kenny pun mau. Jadi, dia punya kesempatan melatih dirinya menjadi imam di keluarga kami nantinya. Hati juga tenang kan kalau tahu calon suami kita mau berdoa dan mengandalkan kekuatan Tuhan Yesus dan bukan kekuatannya sendiri?

Jessica: Oh begitu yah... Iya betul, Vina. Gue juga ingin punya calon suami yang menjadi pemimpin rohani di keluarga gue nantinya. 

Vina: Nah, lu yang berikan kesempatannya, Jes. Izinkan Dhanu latihan memimpin doa kalian.

Jessica: Oke, Vin! Terus, sekarang setelah married sama Kenny, apakah kalian masih berdoa bersama?

Vina: Ya tentu donk, Jes. Sangat mudah bagi kami meneruskan kebiasaan berdoa bersama ini. Sebelum tidur, pasti kami berdoa bersama. Sebelum Kenny berangkat kerja, kami juga berdoa bersama. Kami selalu ingat ayat yang kami pasang di undangan pernikahan kami. Lu inget donk Jes, ayatnya? Kan gue bagi lu satu. Hehe...

Jessica: Iya, iya gue inget! Ayatnya dari... Mazmur 127:1. Bunyinya "Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya." Betul kan?

Vina: Betul! Ternyata ada orang yang membaca undangan pernikahan gue dengan seksama. Haha. Gitu Jes, gak mungkin rumah tangga gue bisa berjalan dengan lancar tanpa Tuhan Yesus. Ada banyak hal baru yang harus kami sesuaikan, ada miskomunikasi yang terjadi, ada perubahan rencana yang kami tidak duga. Semua hal itu bisa bikin kesal dan akhirnya bisa bikin kami berantem. Tapi, saat kami ingat ayat itu, kami ingat kami harus berdoa. Kami bawa semua pergumulan kami ke dalam doa pada Tuhan Yesus. Setelah doa, perasaan jadi lebih lega. Kami tahu kepada siapa kami mempercayakan masalah dan pergumulan kami. Kepada Yesus, Jes!

Kami juga selalu bilang dalam doa kami bahwa kami mengundang Yesus untuk hadir di tengah-tengah keluarga kami. Pokoknya our house is HIS house. Tuhan Yesus boleh ikut campur sepenuhnya, Tuhan Yesus selalu diterima pendapat-Nya. Yesus adalah bagian dari keluarga kami. Kehadiran-Nya sangat kami harapkan. Kami ingin terus berkomunikasi dengan-Nya melalui doa dan baca Alkitab bersama. Tenang deh kalau mengandalkan Tuhan Yesus sebagai pemimpin hidup kami.

Jessica: Enak yah kaya gitu.

Vina: Iya Jes. Memang damai kalau begitu. Nah, sekarang kebayang gak kalau lu married nanti,  suami lu gak mau diajak doa bareng ke Tuhan Yesus?

Jessica: Wah... pasti gue sedih banget, Vina. Gue mau punya pernikahan yang mengandalkan Tuhan Yesus. Tapi, kalau suami gue gak mau berdoa bareng, berarti gue berdoa sendiri donk?

Vina: Yah sepertinya begitu... That’s why... sekarang coba deh ngobrol sama Dhanu. Ajakin dia doa bersama. Siapa tahu saat kalian doa bersama, Tuhan Yesus juga semakin menunjukkan kehendak-Nya bagi kalian berdua. Lu bisa tahu apakah memang menikah dengan Dhanu merupakan hal yang diinginkan Yesus buat lu. Yeremia 33:3

"Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui."

Jessica: Iya, nanti gue ajakin Dhanu doa bareng ya. Jadi semangat, nih!

Vina: Sip deh Jessica. Nanti, kalau persekutuan doa kalian berdua semakin kuat, kalian juga akan siap berdoa bagi orang lain. Kalian bisa berdoa untuk keluarga besar kalian, untuk teman-teman yang sedang mengalami pergumulan, dan juga untuk negara tercinta kita, Indonesia.

Jessica: Wuih, gak kepikiran ya. Tadinya gue pikir berdoa berdua cuma untuk hubungan kita ini aja. Tapi bisa menjadi doa syafaat bersama, ya?

Vina: Yup! Betul, Jes. Gue percaya Tuhan Yesus mendengar doa anak-anakNya yang sungguh – sungguh memanggil nama Dia. Met mencoba yah, my sista! God bless you!

Monday, July 9, 2018

Tuhan, Tolong Ubahkan Suamiku!


by Natalia Setiadi 

Pernahkah berdoa begitu?

Saat ini saya lagi naikkan doa itu, sampe nungging2. Bukan buat saya sendiri, tapi dalam rangka mendukung seorang teman yang lagi memperjuangkan pernikahannya yang gonjang-ganjing.

Ini memang zaman edan ya. Ada yang setengah gila mengejar harta. Ada yang merana haus kasih sayang. Ada yang setengah mati mencari pengakuan. Ada trend menggaet berondong di kalangan ibu2 rumah tangga, ada juga trend selingkuh ria di kalangan bapak2 pekerja. Ada lagi yang berkutat sama kecanduan (narkoba lah, alkohol lah, seks lah, judi lah, game lah, dll lah). Ada macem-macem lah...

Benerkah suami harus berubah?

“Ya JELAS lah...! Mau sampe kapan adem ayem di kerjaan sekarang yang gajinya pas-pas-an, sedangkan ini anak-anak makin gede, inflasi selangit, biaya hidup makin naik!”

“Harus berubah dong, udah umur segitu masa masih juga hobi main game, kumpul-kumpul sama temen2, asik menikmati idup sendiri... Woiiii, inget anaaakkk istriiiii, sadar woi! Sadaarr!!”

“Pengennya suami bisa berubah, soalnya selama ini saya udah bersabar sampe kering, udah gak kuat lagi... Gimana masa depan rumah tangga, anak2, kalo suami masih mabuk dan judi...” 

“Heh, elo nanya yang bener ya! Orang lagi galau gini, gua parang juga lo entar!” >:-{

Maap... maap... 

Ya, saya SETUJU sekali bahwa para suami yang punya masalah2 seperti di atas KUDU HARUS MUSTI berubah. Apalagi yang masalahnya “sangat serius” seperti KDRT, kecanduan narkoba, dan sejenisnya. Bukannya masalah lain ga serius, tapi untuk KDRT, kecanduan, rumit dan absolutely SANGAT PERLU intervensi dari pihak-pihak yang berkompeten.

By God’s grace, saya juga belom pernah ngalamin hal-hal yang saya sebut di atas. 

Yang saya pernah alamin adalah (naaaah, mulai buka-bukaan, yihaa... seru nih... silakan pada lanjut baca untuk memuaskan hasrat ke-kepo-an :P): 

Saya pernah menggantungkan kebahagiaan saya pada suami. Saya menuntut suami untuk memenuhi seluruh kebutuhan saya, baik fisik, mental, sosial, intelektual, bahkan spiritual.

Hasilnya? Saya terjun bebas dengan suksesnya ke jurang self-pity alias mengasihani diri sendiri dan mendarat di lembah sengsara tiada akhir (kayak tulisan di bak belakang truk ya wkwkwk...)

Saya menyalahkan suami krn saya mikirnya, “Semasa single dulu rasanya saya hepi deh, kenapa abis nikah kok jadi ga hepi ya?!” Dan saya merasa gak disayang karena suami gak punya banyak waktu buat saya, gak ngertiin saya, kurang berusaha menyenangkan hati saya seperti si A, B, C, dst. 

Penyakit kronis para perempuan ya, suka membanding2kan “rumput sendiri” sama “rumput tetangga” dan biasanya sih rumput tetangga yang lebih ijo. Atau berkhayal pingin yang serba romantis dan cihuy seperti “Bella and Edward Cullen” -> FYI saya gak demen pasangan ini, saya ngerasa mereka bad influence, ngasih ilusi yang gak realistis buat anak2 muda khususnya gadis2 yang merindukan cinta dan pasangan... (feel free to disagree :P)

Anyway, karena suami saya adalah suami yang (sangat) baik, awalnya dia berusaha memenuhi semua tuntutan saya. Horeee....!

Udah gitu selesai kah masalahnya?

ENGGAK sama sekali! Karena segera setelah tuntutan awal saya terpenuhi, senengnya cuman sebentar lalu saya segera nemu tuntutan2 baru, yang lebih tinggi dan lebih susah lagi. 

Akhirnya suami end up babak belur TANPA dapet penghargaan buat usaha kerasnya untuk memenuhi kebutuhan saya dan bikin saya hepi. Sementara saya masih berkutat dengan tuntutan-tuntutan saya yang ga mungkin bisa dipenuhi sama suami. Mentok.

Jadi harusnya gimana ya...?

Believe it or not, jawabannya adalah: 

DIRI SENDIRI DULU YANG HARUS BERUBAH. 

Ih. Nyebelin.

“Wong dia yang salah kok saya yang harus berubah? Hello??“ 

(Ini bicara pada umumnya ya, dalam kasus saya mah JELAS kok saya yang salah huehehehe... *tau diri :P*)

Tapi perubahan selalu harus dimulai dari diri sendiri. Ga bisa menuntut orang lain untuk berubah tanpa diri sendiri berubah duluan!

Seiring dengan perubahan diri sendiri, percaya deh, keadaan akan berubah (atau reaksi kita terhadap keadaan itu yang berubah), dan orang yang kita harapkan berubah juga akan ikut berubah. Prosesnya bisa PANJANG dan LAMA dan SUAKIITTTT.

Saya nyampe di kesimpulan ini juga adalah hasil dari proses yang panjang dan menyakitkan. Bukan cuma soal rumah tangga, tapi juga soal lain-lain secara umum (baca deh ratapan saya di My Desert Journey).

Seperti saya udah pernah bilang, beberapa taun belakangan saya suka banget dengerin program radionya Nancy Leigh DeMoss (www.reviveourhearts.com). Saya diberkati banget, dikuatkan, diubahkan, dan banyak terinspirasi ajaran, sharing, dan kotbahnya. Di beberapa seri tentang pernikahan (klik juga di sini kalo mau liat seri2 yg laen), saya banyak denger kesaksian dari orang-orang yang pernikahannya luluh lantak karena suaminya selingkuh, terlibat pornografi, dlsb, yang berhasil dipulihkan. Semuanya dengan seiya sekata bilang bahwa perubahan DIMULAI dari diri mereka sendiri.

Padahal kalo diliat2 mah jelas suaminya yang salah ya. 

Tapi MEREKA SEMUA MEMULAI PERUBAHAN DARI DIRI SENDIRI (bisa dengan cara memperbaiki diri atau memperbaiki cara mereka bereaksi dan berinteraksi dengan suaminya), baru kemudian suaminya berproses dan lambat laun berubah, dan akhirnya pernikahannya pulih kembali.

Mungkin ga semua masalah bisa selesai dengan perubahan ya. Saya juga ga tau deh, nikah baru mau 7 taun, jadi saya masih sangat hijau dan miskin pengalaman.

Tapi yah saya rasa ini salah satu pilihan yang bagus buat mengatasi masalah dalam rumah tangga. Kalo udah bertaun-taun dilanda masalah, berdoa udah sampe nungging tapi belom ada titik terang, daripada mentok dan putus asa, saya rasa cara ini patut dicoba :)

Heh jadi gimana lanjutan ceritanyaaaa? (:P Biarin aja ah, biar penasaran wkwkwk...)

Setelah dapet pencerahan, saya sadar bahwa suami ngga bisa bikin saya bahagia. LOH? 

Maksud saya, bukan suami yang menentukan kebahagiaan saya. Suami memang wajib memenuhi kebutuhan saya akan cinta kasih, perhatian, duit, dst, atau istilahnya berusaha menuhin “love tank” alias “rekening cinta” saya. Tapi mau bahagia atau enggak, itu pilihan saya. Mau mensyukuri apa yang ada atau mau terus menuntut yang enggak ada, itu pilihan saya.

Hidup punya banyak fase dan musim, kadang di musim tertentu ada keadaan yang ga bisa diubah. Yang saya bisa lakukan adalah mengubah SIKAP HATI dan CARA PANDANG saya, supaya meskipun keadaan lagi ngga menyenangkan, saya bisa tetep positif, penuh sukacita, damai sejahtera, and keep the right attitude. 

Setelah hati dan sikap saya berubah, surprise... surprise... saya bisa melayani keluarga saya dengan lebih baik, saya gak banyak bersungut2 atau banyak tuntutan lagi. Saya lebih hepi, saya lebih bisa nemu kegiatan positif/hobi buat buang stres dan “melakukan sesuatu”. Grup temen2 cewek/persekutuan buat berbagi suka duka, saling menguatkan dan mendoakan juga bikin kita hepi loh. 

Bukan artinya melarikan diri dari masalah ya, tapi saya nyoba utk be happy tanpa menggantungkan diri secara tidak sehat ke suami, membebani suami dengan segala “kerumitan” saya. Jadi misalnya kalo suami lagi suntuk/cape, ya jangan diajak diskusi yang berat2, diskusinya sama temen dulu, ntar kalo suami udah OK baru diskusi yang berat2. 

Dan setelah liat saya berubah, suami jadi hepi, dan lebih pingin spend time bareng saya, karena ga lagi ngerasa dirongrong, ga takut salah atau takut dijutekin lagi :P 

Tuh kan, ikutan berubah loh dia... :)

So, sebelom berdoa “Tuhan, ubahkan suamiku”, yuk kita doa dulu “Tuhan, ubahkan aku...”


Change My Heart O God - Hillsong

Change my heart, oh God, Make it ever true
Change my heart, oh God, May I be like You
You are the potter, I am the clay,
Mold me and make me, This is what I pray.

Jesus oh Jesus, Come and fill your lamb


You let the distress bring you to God, not drive you from him. The result was all gain, no loss.

Distress that drives us to God does that. It turns us around. It gets us back in the way of salvation. We never regret that kind of pain. But those who let distress drive them away from God are full of regrets, end up on a deathbed of regrets.
2 Corinthians 7:9b-10 (MSG) 

Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan karena kami. Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.
(2 Korintus 7:9b-10)