Showing posts with label Felisia Devi. Show all posts
Showing posts with label Felisia Devi. Show all posts

Wednesday, November 14, 2018

Diproses untuk Menjadi Pewaris Tahta


by Felisia Devi

Berita tentang kelahiran Royal Baby (Pangeran George), anaknya pangeran William and putri Catherine, menjadi berita yang banyak menyedot perhatian dunia, termasuk gue... Hehehehe... Berita kelahiran ini mengingatkan gue tentang kelahiran Yesus. Nih ya, anak kerajaan dunia aja bisa heboh gini, kebayang deh pas Yesus lahir gegap gempitanya surga kaya apa. Yesus pasti lebih dari Royal Baby ini kan. Yesus adalah anak Allah, yang sangat dinantikan karena Ia telah dinubuatkan berabad-abad lalu akan menjadi Juru selamat dunia. Pantes ya orang majus sampe bela-belain dateng pas melihat tanda bintang dilangit. Karena kelahiran Mesias itu pasti sesuatu banget

Gue baca juga, ternyata cara penyampaian berita kelahiran ini Royal Baby kerajaan Inggris ini masih pake cara tradisional, padahal zaman udah canggih. Menyampaikan lewat juru siar istana yang diutus. Jadi keinget cerita dikitab Lukas 2 bagaimana malaikat menyampaikan kepada para gembala ttg kelahiran Yesus... Hihihi... Pangeran George juga disebutkan bahwa dia adalah Pewaris Tahta Kerajaan Inggris Keturunan ke-4. Manteb dan keren banget gak tuh statement. Masa depannya sebelum dia lahir pun udah pasti dan jelas, Pewaris Tahta. Status dan masa depan memang udah jelas, pewaris tahta yang akan jadi raja. Tapi dipikir-pikir, bayi ya tetap bayi, Royal Baby itu tidak otomatis lahir dengan karakter, sifat seorang pewaris tahta. Berarti keluarga-nya dan istana harus mempersiapkan Royal Baby ini untuk punya mental, karakter, sifat layaknya seorang yang akan jadi raja. Dengan didikan, proses, latihan yang gak tau bagaimana dan berapa lama. Dan hal ini mengingatkan gue tentang hidup kita didalam Tuhan. 

Begitu kita lahir baru, secara status memang kita anak Allah (putra-putri Allah). Tapi karena tubuh manusia daging kita yang naturnya adalah dosa dan masih hidup di dunia yang sudah tercemar. Karakter, sifat kita belum otomatis langsung sinkron dengan status sebagai anak Allah (belum ideal).

Tapi ada kasih karunia Tuhan. Begitu kita lahir baru sebagai bayi rohani, Tuhan mau mendidik kita supaya kita bukan hanya secara status anak Allah. Ia mau kita memiliki karakter yang benar-benar seperti anak Allah, mencerminkan Dia sebagai Bapa kita (serupa dengan Kristus)

"Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara."
(Roma 8:29)

Seperti Baby Royal itu sebelum dia lahir, masa depannya udah pasti dan jelas. Begitu juga hidup kita jika dalam Tuhan, sebenarnya masa depan kita pasti dan jelas, pewaris Tahta kerajaan terbesar di jagad raya: Kerajaan Surga.

"Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang."
(Ams 23:17-18)

Tuhan mempersiapkan dan mau mendidik kita sampe Tuhan bisa percaya, mengandalkan kita bener2 siap menjalankan kerajaanNya (pekerjaan2Nya). Yang cowo jadi para kstaria kerajaan, yang cewe jadi putri, tapi bukan sampai disitu aja, Tuhan mau kita menjadi raja memerintah bersama Dia.

"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."
(Efesus 2:10)

"Jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia..."
(2 Timotius 2:12)

"... Tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya."
(Wahyu 20:6)

Sekarang pertanyaannya bersediakan kah kita dilatih, di-didik oleh Tuhan (diproses) Tuhan untuk menjadi pewaris (semakin serupa dengan Yesus)?

Gue pribadi juga belum sempurna, tapi gue masih mau terus belajar ada dalam proses Tuhan. Gue gak bisa bilang proses itu enak, sakit yang namanya mati in diri. Tapi Bersyukur ada kasih karunia Tuhan yang masih mau mendidik gue dan gue tau tujuan Tuhan mendidik adalah sesuai rencanaNya dan untuk kebaikan gue juga sehubungan dengan kehidupan gue selanjutnya.

"Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini."
(Titus 2:12)

"... Tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya."
(Ibrani 12:10)

Buat teman2 yang mungkin sedang putus asa atau malah menyerah sama proses Tuhan, jangan menyerah ya biar rasanya sakit. Mending sakit sekarang daripada sakit ga abis2nya di api kekal nanti. Hehehe... *bukan nakut2in loh.

Gue juga suka gagal, suka gak taat klo lagi di disiplin Tuhan. Tapi gue mengingatkan, menyemangatkan diri gue untuk terus ada dalam didikan Tuhan biarpun sakit. Mari-rimar kita sama2 semangat, bersukacita dalam menjalani proses didikan Tuhan sampai Tuhan Yesus ke dua kalinya!

Monday, November 12, 2018

Menikmati Proses


by Felisia Devi

Apa yang terlintas dipikiran kalian ketika mendengar kata proses? Ngejelimet? Apa jadi inget proses itu berhubungan sama hal ga enak?

Pernah ada yang nanya sama gue tentang bagaimana kalau mau dapetin sesuatu dari bank. Gue jelasin donk langkah-langkahnya. Yang gue jelasin sebenarnya gak panjang2 banget, ga rinci2 amat, tapi satu kata jawabannya dari dia "Ribettt". Dalam hati gue, duh ileh nyebelin banget nih orang, gitu doank ribet padahal dicoba aja belum, baru gue kasih penjelasannya yang ga detail. Memangnya hanya dengan dia bilang "mau itu, mau ini", bisa langsung bisa dan sudah ada depan mata. *jin atau sulap kali* Apalagi kalau berhubungan sama sistem keamanan bank tabungan kita, klo gampang dapetin, gampang dibobol orang donk berarti.

Kata "ribet", tanda orang males ikutin langkah / proses yang harus dilewati. Dewasa ini, banyak manusia (*ga smua) sudah jarang sekali terbiasa sama yang namanya proses. Mau-nya serba cepet, instant, karena katanya zaman kita sudah bisa menyediakan fasilitas untuk mempermudah kita karena pengaruh kemajuan teknologi. Fasilitas serba cepet, terbiasa dengan yang instant (mie instan, fast food) sampe mendapat gelar pendidikan (ijazah) juga bisa di di beli.

Arti proses sendiri menurut kamus besar Bahasa Indonesia
1) Runtunan perubahan (peristiwa) dl perkembangan sesuatu:
2) Rangkaian tindakan, pembuatan, atau pengolahan yg menghasilkan produk; 

Intinya: suatu sistem/rangkaian yang harus terlewati sebelum kita mendapatkan sesuatu hasil.

Memasuki proses, itu seperti kita masuk dalam suatu "wadah", "lingkup" beserta ketentuan2 yang berlaku dan kita bersedia mengikuti ketentuan2 urutan / rangkaian yg harus dilewati, untuk dapetin sesuatu hasil.

Kalau mau hasil doank, tanpa lewatin proses ? Yuk kita gali.
Coba dipikir, makanan yg cepet saji (instant) itu sehat gak? Gak kan, justru banyak penyakit timbul. Karena kita gak tau bahan apa yang dipake untuk bisa mengawetkan atau membuat itu jadi bisa instant. Lagian se-instant2nya tuh makanan, tetep ada proses yang harus dilewatin untuk jadi makanan instant, bedanya proses itu dilakukan oleh pihal lain , kita tinggal masak cepet atau dapetin hasil aja. Akibatnya kita ga tau cara nya gimana proses langkahnya, tau nya jadi aja. 

Banyak yang gak menyadari, ga ngerti atau sering ga sadar (termasuk gue) kalau proses itu penting. Penting pake banget! Malah banyak yang menganggap proses itu bisa diakali. Hingga cara hidup yang biasa mau cepet itu mempengaruhi sikap kita ke Tuhan, alhasil ke-kristenan juga di anggep instant. Mau langsung cinta Tuhan, mau langsung berubah, mau langsung jadi pemimpin, semuanya mau cepet dan langsung, tapi gak mau ikutin proses terlebih dahulu.

Perlu diperhatikan, cara yang cepet/instant itu juga bukan cara Tuhan. Tapi cara Tuhan kepada umatNya, gak bisa lepas dari yang namanya proses Coba kita tengok cerita-cerita di Alkitab. Tuhan ciptain langit & bumi tidak hanya dalam 1 hari. Ditulis hari pertama sampai hari ke-6 lalu istirahat di hari ke-7. Bukan karena Tuhan gak sanggup buat dalam sekejap, tapi Tuhan mau mengajarkan yang nama proses.

Proses Abraham menunggu bertahun-tahun janji keturunan yang banyak seperti bintang dilangit, pasir dipantai oleh Tuhan tergenapi. Bukan karena Tuhan tidak sanggup kasih anak saat Dia memberikan janji, tapi karena Tuhan mau Abraham lewatin proses untuk membentuknya, siap dan sesuai dengan rencana Tuhan. Dan hasilnya dari proses2 nunggu janji itu, Abraham semakin kenal Allah yang dia sembah dan menghasilkan Abraham sebagai Bapak orang Beriman

Bangsa Israel tentang tanah perjanjian. Sebelum dikasih tanah kanaan, di proses banget sama Tuhan, sengaja Tuhan puterin padang gurun 40 tahun, dikasih roti manna cukup sehari. Hasilnya orang2 yang setengah hati ga dikasih Tuhan merasakan tanah perjanjian. 

Yusuf, untuk melihat mimpi yang Tuhan kasih terjadi dalam hidupnya, harus melewati proses yang Tuhan ijinin terjadi. Dari mulai dijual jadi budak, jadi kepala rumah Potifar, masuk penjara, dan akhirnya menjadi penguasa di mesir yang menyelamatkan bangsa-nya sesuai mimpi yang Tuhan kasih. Lewat proses itu Yusuf gak ngeluh, tapi dia belajar bahwa Tuhan mereka-reka untuk kebaikan.

Daud setelah diurapi jadi raja, dia gak langsung jadi raja, tapi lewatin proses yang Tuhan ijinin terjadi, bertarung dengan goliat, dikejar2 oleh Saul. Tapi lewat proses itu, Daud bukan semakin sebel sama Allah, tapi malah semakin membentuk pribadi Daud yang semakin intim dengan Allah. 

Bahkan Tuhan Yesus sendiri yang adalah Allah, turun ke dunia melewati proses dari ditaruh rahim Maria, lahir menjadi jadi anak manusia, dewasa mengikuti sistem pendidikan sesuai budaya yahudi, puasa 40 hari, melayani sampe Dia akhirnya memenuhi apa yang ditugaskan Allah pada Dia.

So, proses itu bagian dari kehidupan, klo tidak ada proses kayanya bukan hidup deh.

Coba sekarang kita liat contoh sehari2 kita, biar ga ngawang2. Kita bisa bernafas itu ada proses dalam tubuh, dari hidung menghirup dibawa ke paru2 dan seterusnya. Proses kita bisa melihat, aliran darah, kita bisa menggerakkan anggota tubuh, dll. Semuanya ada proses yang semuanya bisa dijelasin secara ilmiah. Intinya tubuh kita setiap saat, setiap detik ,mengalami proses, kalau gak ngalamin proses, namanya tubuh kita "mati."

Tumbuh-tumbuhan menghasilkan makanan yang bisa kita makan, buah2 yg kita sukain, jeruk, mangga, nanas ga dalem semalem bo! Butuh proses! Ditanam/dicangkok, disiram, bertahun2 sampe menghasilkan buah. Hujan pun ada proses terjadinya. Tata surya kita juga punya sistem proses. Dari hal yang terkecil (sel) sampai hal terbesar (jagad raya ini) Tuhan ciptain dengan sistem proses.

Semakin lama proses yg dilewati, semakin rumit, susah, semakin mahal "harga"nya, contohnya emas, mutiara.

Seorang murid dikatakan lulus sekolah, bukan karena dia udah umur sekian, tapi karena dia ada dalam lingkup sekolah, mengikuti ketentuan dari skolah, pembelajaran materi dari kelas taman kanak2 sampai sekolah menengah atas. Itu namanya ikutin proses.

Kemanakah budaya yang mau menikmati proses ?

Kaya kemarin itu gue baru pertama kali urus paspor sendiri, gue akuin ribet, rempong, lama, nyebelin deh, gue musti mondar mandir beberapa kali karena ada kurang ini, kurang itu, bikin emosi sebenarnya. Karena kan biasa bukan gue yang urus, suruh calo, karena ga mau repot. Dalam sikap yg lagi kesel itu, gue disadarin Tuhan, ya ini proses sebenarnya yang harus dilewati buat dapetin paspor. Tapi kenapa gue merasa ribet dan ga demen? Karena gue terbiasa sama yang mau cepet and gak repot, yaitu pake calo.

Ya itu dia deh, terbiasa dengan yang instant, mental ga sabar, mau cepet, gak mau ikutin aturan yang sudah dibuat. Dan setelah sadar klo gue ada dalam proses, baru deh gue bisa menikmati proses bikin paspor itu, dan akhirnya malah jadi belajar. Dari tau sendiri tentang prosedurnya dan merasa bersyukur di negara kita, proses imigrasi tanpa calo pun kita masih dihargai, dilayani.

Ngomong2 soal calo yg salah satu bentuk korupsi, gimana korupsi di negara kita bisa diberantas, kalau masyarakat gak mau repot ikutin peraturan pemerintahan / layanan masyarakat yang ada. Penghalang kita gak bisa menikmati proses "gak mau ribet, gak mau menyangkal diri" mau nya suka2.

Ok, nyambung ke contoh sekolah yang tadi disebutkan. Kita bersekolah di sekolah tertentu, berarti kita ikutin ketentuan yang berlaku di skul dari mulai taman kanak-kanak. Dan dalam proses itu, untuk dapetin hasil (rapor), kita harus belajar. Tapi kenyataannya, banyak yang tidak mau belajar. Lebih nge tren nyontek daripada belajar. Mencontek itu sama seperti tidak mau mengikuti proses. Maunya dapet nilai bagus, tapi gak mau belajar. Ya memang lulus, tapi itu cuma nilai, sebenarnya belum tentu dia mengerti. Punya paradigma yang salah, merasa diri sudah benar & gak mau berubah.

Melewati suatu proses memang ga enak, namanya di proses itu ada sesuatu yang di ubah "bentuk"nya, Merasa konsep berpikir yang dimiliki sudah benar sesuai standard diri sendiri, tapi apakah sudah benar menurut kebenaran firman Tuhan?

Contoh dalam masyarakat punya konsep salah, tentang yang berduit yg dihormati, didulukan, alias memandang bulu. Jadi karena hal ini, ketentuan yg berlaku bisa tuh diabaikan, yang UUD (ujung2nya duit) bisa lancar. Padahal peraturan ada, untuk menjadikan kita masyarakat yang disiplin, tertib. Begitu juga dengan Tuhan kasih Taurat2Nya untuk kebaikan kita, karena Ia mau menjadikan kita manusia seperti rancangan-Nya semula.

Di tempat gue melayani sering diingetkan statement "Proses-Belajar-berubah". Berarti tanpa proses, kita ga pernah belajar. Dan kita ga pernah berubah. Proses itu akan selalu ada dalam hidup kita, untuk kita lewatin. Proses itu menghasilkan suatu "perubahan" buat kita, tapi balik lagi tergantung kita mau belajar apa gak, klo kita gak belajar, ya tidak ada perubahan. 

Seperti seorang yang murid yang terbiasa mencontek, kalau tidak melewati proses, yang ada menjadikan kita manusia "bodoh" yang hanya terima jadi, tapi gak bs "jelasin" prosesnya. Kita ga pernah tau alasan, rincian detail sesuatu, tanpa melewati suatu proses. Berubah luarnya doank, tp ga berubah paradigmanya.

Unutk belajar mengenal Tuhan, menumbuhkan iman, butuh proses, Apalagi dengan manusia kita yg sudah tercemar dosa. Mengenal Tuhan lewat pembelajaran firman Tuhan, proses memikul salib, menyangkal diri (Mat 16:24), melakukan kebenaran firman Tuhan. Klo cuma baca firman Tuhan, gak bener2 mempelajari, merenungkan and mempraktekkan, yang ada cuma jadi ahli taurat / orang farisi. Tau sih, tp ga ngerti. Firman itu cuma jadi pengetahuan, tapi tidak mengubah paradigma yang salah.

Tau sendiri kan, orang taurat farisi ini dikecam sangat oleh Yesus. Mat 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Klo kita sudah tau kebenaran Firman mengenai "A" misalnya, mau punya keinginan untuk mencapai itu. Kan gak hanya dengan "ingin" , trus langsung seketika itu juga kita berubah seperti yang kita inginkan. *ini kan bukan sulap, bukan sihir, bukan magic*, harus ada proses. Beri diri kita untuk ikutin proses yang harus kita lewati, belajar dan alami perubahan. Ga da yang instant.

Tuhan pasti akan memproses kita senantiasa, sasarannya sampe kita serupa dengan kristus. karena Tuhan mau kita menjadi manusia unggul,serupa dengan gambaranNya (Kej 1:26); manusia yang sebelum jatuh dalam dosa (Roma 8:29), itu sasaran Tuhan memproses, mendidik and melatih kita.

Mengerti kehendak Tuhan, ada proses yg harus kita lewati, pelajari, renungkan.

Klo kalian sedang bergumul, sedang menuju suatu tujuan yang sesuai kebenaran, misalnya mau semakin peka dgr suara Tuhan, ya ayo ikutin proses dan belajar. Terus melatih kepekaan kita dengan mencari Tuhan dengan segenap hati, hati yang haus & lapar, banyak baca firman Tuhan. 

Karena, hanya sekedar "ingin" tidak akan menghasilkan perubahan, tapi harus ikutin proses & belajar. Atau ada janji2 Tuhan yang pernah Tuhan kasih tau dan belum tergenapi? Jangan menyerah. ikutin proses yang Tuhan kasih sebelum lihat janji itu tergenapi.

Yang lebih penting buat Tuhan itu pribadi anak2-Nya, bukan janji itu tergenapi, tapi pribadi kita. Kalau Tuhan mau, sebenarnya gampang banget membuat impian/janji2 itu nyata, karena Dia Tuhan. Tapi Tuhan gak mau kita jadi manusia yg ga tau apa2 dan ga bertanggung jawab, cara Tuhan itu ga gitu. Tuhan mau membuat kita cerdas, bertanggung jawab. Dia mau saat kita melihat janji Tuhan tergenapi dlm hidup kita, kita memang siap menerima itu. Jangan sampe Tuhan kasih itu, tapi kita ga siap, dan hal itu jadi menghancurkan kita.

Misalnya, ada org yg mau nya hidup berkelimpahan (kaya materi) untuk membuktikkan hidup dalam Tuhan itu terberkati. Tuhan sih bukannya gak mau anak2nya kaya materi, tapi Tuhan gak mau kekayaan materi itu nanti menghancurkan dia jatuh dalam dosa, karena mental dan pengetahuan tentang Tuhannya minim. Gak bisa ngatur keuangan, prioritas yang benar.

Kebenarannya, buat Tuhan yang penting itu bukan harta duniawi, tapi mengumpulkan harta disurga (Mat 6:19). Tuhan juga mau ajar kita dahulu untuk bisa mengatur keuangan, mengatur prioritas & keberhargaan yang bener, supaya kekayaan materi itu bukan jadi fokus melebihi Tuhan. Yang ada bukan untuk kemuliaan Tuhan, tapi ga sadar jadi kesombongan orang itu.

Mau minta dikasih Tuhan barang dengan berat 100kg untuk dibawa, sedangkan yang 10kg aja dia ga sanggup bawa. Gimana Tuhan mau kasih yg 100kg, yang ada pas dikasih 100kg, malah "membunuh" orang itu karena ga sanggup bawa.

Contoh lain soal proses, contohnya agak ekstrem sih. Seorang anak sangat ingin jadi dokter, dan akhirnya saat kuliah berhasil mendapatkan bangku jurusan kedokteran. Tapi karena si anak gak mau bayar harga untuk belajar dengan sungguh2 materinya, ga selese tuh kuliah Dan sangking depresinya,dia mau langsung beli sertifikat dokter. Oh no!! (mudah2an gak da yg seperti ini ) Ok, gelar sih boleh aja dokter dengan sertifikat yang dibeli, tapi isi kepalanya gak ngerti tentang kedokteran, bisa lebih dr malpraktek itu. Dia ga bisa praktek menjadi dokter sebenarnya, buat apa sekedar gelar tapi sesungguhnya dia bukan dokter. Mending orang yang bisa punya keahlian seperti dokter, tapi ga punya gelar dokter. Karena yang lebih penting keahliannya itu , bukan sekedar gelar.
Sama dengan ke kristenan kita, bukan hanya sekedar label agama Kristen, tapi Kristen itu jadi gaya hidup kita yang mencerminkan Kristus. 

Semakin tinggi pohon, semakin besar kemungkinan terpaan angin yang akan menerpa pohon itu, klo pohon itu tidak punya akar yang kuat, batang nya kecil dan kurus, maka ketika angin dateng, ya roboh bisa2 langsung dlm sekejap. Tuhan mau kita punya dasar yang kuat, bisa menjalani apa yg menjadi bagian kita dimulai dr perkara kecil, sampe Tuhan percayaakan perkara2 besar. Lewat apa? Ya lewat proses.

Jangan lari dari proses yg Tuhan mau kasih and selamat menikmati proses!

Monday, May 14, 2018

Berani Karena Allah Dipihak Kita



by Felisia Devi

Melihat berita-berita di media tentang kejadian pengakuan para anak muda yang masih duduk di bangku sekolah sudah melakukan seks pranikah. Anak bunuh orang tua cuma karena ga dikasih uang jajan, Tawuran sampe membunuh. Pertanyaan dibenak ku "Kok bisa ya mereka berani melakukan hal itu ?"

Keberanian memang hal penting dan harus ada dalam hidup kita, tapi kalau berani untuk hal-hal diatas atau hal lain seperti menyontek, bolos sekolah, berkendaraan tanpa pake helm, tanpa punya SIM plus ngebut2an pula, melawan orang tua, nyautin klo lagi dinasehatin,  menggunakan narkoba, judi. Butuh keberanian juga bukan untuk melakukan hal itu, tapi apakah hal-hal tersebut merupakan keberanian yang tepat ?


Definisi dari berani: mempunyai hati yg mantap dan rasa percaya diri yg besar dl menghadapi bahaya, kesulitan, dsb; tidak takut (gentar, kecut):

singkat-nya, percaya diri menghadapi apa yang ada di depannya.

Dewasa ini banyak orang muda yang berani banget, tapi berani yang bikin para orang tua geleng-geleng, sakit kepala, pusing mikirin para anaknya yang berani melakukan hal-hal yang 'aneh’ cenderung tidak baik.
Hal yang sudah tau ujungnya tidak baik atau buruk tapi tetep aja kekeh melakukan hal-hal itu.

Klo melihat berita-berita di media, tentang kejahatan-kejahatan yang dilakukan, bukti bahwa banyak hal berani yang dilakukan jaman sekarang. Tapi keberanian seperti apa yang mereka lakukan ?

Sebagai anak-anak Tuhan, standard kita dalam melakukan segala sesuatu adalah kebenaran Firman Tuhan. Orang bisa berpendapat berbeda-beda dalam menilai ‘salah’ atau ‘benar’ dalam suatu tindakan, tapi apa kata firman Tuhan tentang keberanian yang tepat.

Yuk kita belajar dari kisah alkitab. Bandingkan kisah Adam dan Hawa yang berani memakan buah yang yang jelas-jelas dilarang oleh Allah,  dengan kisah Daud yang berani menghadap goliat.
Sama-sama berani tapi apakah perbedaan nya ?

Adam dan Hawa jelas sudah dilarang oleh Allah untuk memakan buah itu, tetapi mereka berani melanggar karena punya pemikiran yang salah , bahwa mereka akan menjadi seperti Allah dengan memakan buah itu. Padahal kebenaran mengatakan bahwa manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej 1:26-27).

Daud berani mengalahkan goliat, karena yakin Allah menyertai Daud (1 Sam 17:46-47). Karena Daud telah mengalami pertolongan Tuhan dalam hidupnya (1 Sam 17:37)

Adam dan Hawa berani melakukan hal itu bukan karena menuruti Allah, tapi melakukan yang bertentangan dengan 'kehendak' Allah.
Daud berani melawan goliat karena yakin Allah yang menyertai.

Jadi keberanian yang benar adalah keberanian dipimpin oleh apa kata Tuhan, bukan karena kepentingan kita, bukan karena mau-mau nya kita.

Apa Tuhan suka sama keberanian yang kita lakukan ? Sesuai dengan mau nya Tuhan ?

Seseorang berani bertindak,  karena ada yang 'mendorong' dia untuk bisa melakukan hal itu .

Adam & Hawa di dasari rasa penasaran dan ketidakpercayaannya pada apa kata Allah.
Daud berani bertindak karena yakin Allah dipihaknya.
Yang kita percayai mendasari apa yang kita lakukan. Apa yang kita percayai, nilai-nilai dunia atau nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan ? Sebelum berani melakukan sesuatu, coba di cek and ricek apa yang mendasari atau membuat kita berani melakukan hal itu ? karena Tuhan atau karena hal lain?

Terkadang prinsip nilai yang kita pegang atau hal yang kita lakukan itu berbeda dengan dunia sekitar atau ada orang yang mengganggap ‘aneh’ jika kita melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain. Jadi kita ragu karena merasa beda sendiri atau aneh. Ga usah heran atau merasa aneh sendiri, memang pasti ada perbedaan, karena kita dipanggil untuk menjadi terang di tengah dunia.
(Mat 5:16 ; Ef 5: 8; 1 Tes 5:5)


"... Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu."
(Efesus 5: 8- 11)

Belajar dari pergumulan yang saya alami, diantara pilihan untuk memilih mengikuti perasaan sendiri dan standard pada umunya soal pasangan atau memilih melakukan apa yang Allah mau tapi berbeda pendapat dan dianggap aneh oleh 'sekitar'.

Lingkungan yang banyak saya temui sehari-hari mendukung saya untuk memilih pasangan yang pasti ada didepan mata aja. Padahal standard kebenaran, apa yang Tuhan ngomong beda banget sama pendapat mereka. Sempet terpengaruh juga untuk kompromi dengan standard Allah. Yang akhirnya bikin repot sendiri. Dua-duanya butuh keberanian untuk dipilih, tapi saya memilih berani melakukan sesuai mau nya Tuhan yang punya hidup saya sekalipun dianggap ‘bodoh’ .’aneh’


Dia yang tahu apa yang harus saya lakukan, makanya Dia berikan kebenaran sebagai tuntunan dalam setiap langkah ku. Yang berkenan buat Tuhan bukan sekedar saya tau kebenaran, tetapi mengikuti teladan Yesus melakukan kebenaran. Dan dalam Allah ada jaminan yang lebih pasti didepan sana. Apa yang keliatan pasti buat dunia, belum tentu atau bahkan beda banget apa yang Tuhan mau sediakan.

Buat ku berdiri diatas dasar iman kebenaran dan melakukan nya itu memang gak gampang, butuh bayar harga, pengorbanan , rasanya ga enak bener, tapi yang ku percayai ujungnya jelas, ada Tuhan, Damai sejahtera, sukacita , sedangkan memilih ikutin arus apa kata dunia pada umumnya , ya yang asik-asik dulu awal nya, sementara ujungnya ga jelas.

Dikeseharian lingkungan kita, tidak bisa mengelak ada banyak hal yang mungkin yang akan menguji apakah kita berani hidup dalam kebenaran . Hal itu akhirnya menjadikan diri kita sama dengan dunia pada umumnya atau menjadi terang buat mereka tergantung keputusan kita.

Menjadi terang atau saksi-Nya memang dibutuhkan orang yang berani melakukan sesuatu yang beda dengan yang 'dunia' lakukan. Melakukan dengan tegas tidak kompromi dengan standard Allah.

Jangan takut dianggap aneh, ga gaul kalau kita memegang kebenaran. Yang lebih penting adalah perkenan dihadapan Tuhan, bukan perkenanan dunia. Lakukan dengan berani kebenaran yang kita tau dengan kasih karunia dari Dia yang memampukan.

Hiduplah buat Tuhan dengan menuruti perintahNya sebagai bukti bahwa kita mengasihi Dia dan bertanggung jawab atas anugerah keselamatan yang Tuhan berikan.
Pilihan ada ditangan kita, menjadi terang bagi sekitar dengan berani melakukan sesuai kebenaran atau hanya mengikuti arus dunia karena takut dinilai aneh.

Saturday, March 24, 2018

Belajar Menjadi Wanita Allah




By Felisia Devi

Pertama kali menggali Alkitab tentang wanita di Amsal 31, saya berpikir wanita tersebut adalah gambaran wanita yang hidupnya almost perfect. Wanita tersebut sepertinya hampir bisa melakukan segala sesuatu dan mendapatkan banyak hal juga dalam hidupnya. Ia berbuat baik, disenangi orang, aman, terkendali, perencanaannya smart, dan produktif banget. Timbul juga pertanyaan di benak saya, “Apa ada ya wanita se-wow itu di dunia? Klo ada, bisa ngga ya saya menjadi seperti wanita ini dan kapan hal itu terjadi dalam hidup saya?” Masalahnya, saya merasa pribadi saya jauh banget dari gambaran wanita Amsal 31 ini.
Saya rasa bukan hanya saya sendiri yang pernah merasa seperti itu. Wanita dalam Amsal 31 sepertinya cuma ada dalam cerita Alkitab, bukan tokoh nyata. Tetapi, seiring perjalanan saya bersama Tuhan, saya semakin mengerti bahwa wanita Amsal 31 ditulis bukan hanya sebagai tambahan cerita Alkitab, impian atau angan-angan belaka. Tuhan menuliskan kebenaran itu karena memang itulah kebenaran dan Tuhan tahu bahwa setiap wanita-wanita-Nya bisa menjadi seperti apa yang tertulis dalam Firman-Nya.
Bagaimana cara untuk menjadi wanita seperti yang Allah mau? Saya sendiri juga belum 100% seperti wanita yang Allah mau, tapi saya mau belajar menjadi wanita yang Ia kehendaki. Yang namanya belajar pasti tidak lepas dari proses dan proses itu tidak langsung jadi. Proses menjadi wanita Amsal 31 tidak instan.
Menjadi wanita yang Allah inginkan berarti Allah yang punya gambaran atau hasil akhir seperti apa. Itu juga berarti Allah yang punya cara bagaimana kita bisa menjadi wanita seperti yang Allah mau. Bagaimanapun, Allah tidak akan membiarkan kita menjalani proses tersebut sendirian. Dia akan menuntun dan mengajar kita lewat kehidupan kita sehari-hari.
“Semua yg tertulis dalam Alkitab, diilhami oleh Allah dan berguna untuk mengajarkan yang benar, untuk menegur dan membetulkan yang salah dan untuk menjaga manusia supaya hidup menurut kemauan Allah (BIS)”
(2 Timotius 3:16)
Setiap proses biasanya diwarnai dengan tantangan atau kesulitan. Tantangan terbesar dalam proses ini biasanya karena fokus kita saat menjalaninya bukanlah Tuhan, tapi justru hal lain, misalnya: pencapaian kriteria-kriteria-Nya untuk menuai pujian bagi diri sendiri. Tuhan mau kita memiliki fokus hanya kepada Dia, bukan kepada hal lain. Dengan berjalan dalam kebenaran-kebenaran-Nya day by day, otomatis hal itu akan berbuah dalam hidup kita.
“Jadi, usahakanlah dahulu supaya Allah memerintah atas hidupmu dan lakukanlah kehendak-Nya. Maka semua yang lain akan diberikan juga kepadamu” (BIS)
(Matius 6:33)
Saya sendiri mengalami, saat saya hanya fokus pada pencapaian kriteria, maka saya merasa hal itu sulit banget bahkan seperti tidak mungkin dilakukan. Tapi, setelah saya mengalihkan fokus saya dari kriteria kepada Tuhan, membangun hubungan dengan Dia, taat melakukan kebenaran-kebenaran-Nya, otomatis hubungan saya dengan Tuhan menghasilkan perubahan dalam hidup saya. Setelah saya flashback beberapa tahun lalu, apa yang awalnya menurut saya ngga mungkin ternyata mungkin loh, saya mulai menjadi pribadi yang menghidupi kriteria dalam Amsal 31.
Perubahan merupakan hal yang sangat mungkin sekali terjadi dalam Tuhan. Bukan hal yang mustahil bagi Tuhan untuk mengubah kita menjadi gambaran wanita Amsal 31. Asal kita fokus kepada Tuhan dan melakukan kebenaranNya, Tuhan sendiri yang perlahan-lahan membawa kita menjadi wanita dalam Amsal 31.
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku”
(Yohanes 15:4)
Teman-teman, coba bayangkan, gimana kalau seorang wanita sanggup melakukan banyak hal seperti Amsal 31 tapi tanpa dasar yang benar? Apa mungkin seorang wanita yang tidak pulih bisa menjadi maksimal dalam Tuhan? Kita sesama wanita ngerti dong, bagaimana emosi pribadi kita, misalnya kalau PMS kita bisa cepat emosi atau labil. Bayangkan bagaimana bisa melakukan banyak hal besar, kalau hal kecil aja bisa membuat hari kita rusak atau berantakan? Bagaimana wanita bisa menjadi penolong buat orang lain, kalau kita sendiri tidak pernah mengalami pertolongan? Untuk bisa menjadi wanita yang ‘kuat’, maksimal, sanggup jadi penolong yang benar, kita butuh dasar atau pribadi yang ‘kuat’ juga untuk bisa jadi sandaran, pegangan dan penolong kita. Siapa lagi kalau bukan pribadi Tuhan, ya kan?
Intinya, wanita Amsal 31 bukanlah wanita yang sempurna, tapi wanita yang takut akan Tuhan, yang berjalan dalam kebenaran dan melakukan apa yang Tuhan mau lewat proses pembelajaran tiap hari.
“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri (wanita) yang takut akan Tuhan dipuji-puji”
(Amsal 31: 30)

Monday, March 19, 2018

Pengaruh Wanita Terhadap Pria


by Felisia Devi

Denger rekaman khotbah pak Jeffrey Rachmat (pastor JPCC) yang menyinggung tentang kejadian di awal penciptaan, dimana Iblis mencobai manusia.

Pastor Jeffrey memberikan ilustrasi dari pemikiran dia, "Bisa aja si Iblis terlebih dahulu mencobai pria tapi ga berhasil, makanya iblis mencobai Hawa" (*mungkin sih, tapi ga tau bener pa ga) 

Artinya mungkin saat awal penciptaan, saat Iblis memang merencanakan mau menggagalkan rencana Tuhan dengan mencoba menjatuhkan manusia, bisa saja iblis mencobai adam terlebih dahulu, tetapi ga berhasil, karena Adam taat sama Tuhan. Bener2 memegang apa yang Tuhan perintahkan. 

Tapi iblis berusaha lagi dengan coba menjatuhkan manusia lewat memanipulasi Hawa.

Pastor Jeffrey bilang, karena mereka belum jatuh dalam dosa, natur mereka, keinginan mereka belum berdosa, tapi iblis memanipulasi Hawa, mungkin maksud Hawa mulia, demi kebaikan Adam, tapi tidak sesuai perintah Allah yang melarang mereka makan buah pohon itu, jadi jatuhlah mereka berdua. 

Yang gue belajar dari statement disini bahwa begitu besar pengaruh wanita terhadap pria, saat iblis mencobai pria secara langsung mungkin gak berhasil, karena pria tau bahwa FT bilang jangan makan buah, ya gak dimakan. Tetapi iblis menggunakan wanita untuk menggoda, menjatuhkan pria dari yang taat menjadi tidak taat. Begitu pria yang adalah kepala, otoritas, jatuh dalam dosa, "hancurlah" apa yang dikepalainya. 

For man: yg belum menikah, harus bener2 berdoa, mengandalkan Tuhan untuk memilih PH mereka yang bener2 takut akan Tuhan, punya hubungan sama Tuhan, hidup dalam firman, pulih, tau fungsi nya sebagai wanita, Godly. 

Contoh lain dlm hidup hari2 wanita lebih berpengaruh : 

Dalam keluarga2 yang gue temui, sebagian besar kita lebih deket ke keluarga nyokap. Klo sang istri gak mau deket sama keluarga pria, ya udah keluarganya jauh dari keluarga besar suami. 

Wanita secara sadar ga sadar, ekpresi muka, tata mata kita berbicara banget, ya kan? Hahaha...

Gue sendiri mau semakin belajar untuk jadi wanita yang taat firman,karena hanya lewat kebenaran Firman Tuhan yang membuat mengerti fungsi gue sebagai penolong seperti apa, terutama buat para pria, dalam hal kecil: perkataan, pakaian, tingkah laku, bukan membuat menjatuhkan mereka, membuat mereka tersandung jatuh dalam dosa. Tetapi mau memberkati mereka, membangun mereka...

Dalam kata2, gue belajar untuk bener2 mikir sebelum mengeluarkan kata2, berbicara, marah, and comment apalagi klo udah kesel, karena suka banyak yg sakit hati sama kata2 gw. 

Dalam pakaian juga, perlu bener2 belajar banget, apalagi setelah baca buku Every Young Man's Battle, betapa kasihannya para pria, bener2 butuh anugrah untuk hidup dalam kekudusan ditengah dunia yang banyak memakai pakaian "miskin", teknologi canggih tinggal enter muncul2 situs2 porno. 

Liat tayangan TV khususnya tayangan di barat, dengan kebudayaan freestyle mereka. majalah semi porno legal dijual, film2 porno yang mudah didapat and murah.

Ketika gue tanya Tuhan kenapa wanita begitu mempengaruhi pria dari ujung rambut sampe ujung kaki. Mulai dari penampilan, mulut, perkaataan, hati, pakaian, mood, or apa yang blm gw temuin. 

Dapet jawaban, Karena Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam, rusuk. Klo rusuknya "sakit", otomatis tubuh jadi "sakit", makanya begitu pengaruh.

And sekarang pilihan ditangan kalian, mau hidup sebagai penolong atau sebaliknya?

Mau membangun ato menjatuhkan pria? Mulai lah dari hal kecil dan berdoa minta Tuhan hikmat untuk jadi penolong dalam hidup hari2 mu. 

Karena apapun status anda, sebagai wanita punya pengaruh terhadap para pria.