Friday, May 29, 2015

Alasan Mengucap Syukur

by Felisia Devi

Bersyukur artinya berterima kasih kepada Tuhan atas kondisi kita, menerima keadaan ini apa adanya, what else? Mengakui , menyadari bahwa itu semua karena kedaulatan, kebaikan dan kemurahanNya.

Apakah bersyukur itu mudah? Mudah diucapkan, tapi tidak mudah diucapkan dengan hati dan tidak mudah dilakukan. Saya sendiri tidak selalu biasa langsung mengucap syukur, ego dan logika saya bisa main. Kenapa ya saya bisa seperti itu? Itu karena saya merasa keadaan tidak seperti yang saya harapkan, impikan, dibawah standard keinginan saya. Tapi satu sisi saya bisa sangat mengucap syukur banget-banget pada Tuhan, klo semua berjalan sesuai rencana, apalagi mendapatkan lebih dari apa yang saya mau.
Jadi motivasi saya bersyukur bukan 100% karena Tuhan.
 

Wednesday, May 27, 2015

Menyelidiki Hati

by Glory Ekasari

Kui adalah untuk melebur perak
dan perapian untuk melebur emas,
tetapi Tuhanlah yang menguji hati.
—Amsal 17:3

“Don’t say ‘I love you’ to a woman,” demikian aku baca di sebuah artikel dengan asumsi pembacanya adalah pria, “unless you mean it.”

But, we might as well ask, how do we know we mean it?

Tentunya kita pikir kitalah yang paling kenal diri kita sendiri, apa yang kita suka dan tidak suka, apa yang kita inginkan, apa yang kita harapkan. Tapi kita bisa terkaget-kaget sendiri ketika orang yang menguasai psikologi dan turunannya (grafologi, dll) “membaca” apa yang sebenarnya ada dalam pikiran kita melalui gestur, ekspresi wajah, tulisan tangan—hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan akan mengungkapkan siapa diri kita sebenarnya.

Beberapa tahun lalu ada seorang teman yang bisa “baca” tanda tangan, dan aku iseng minta tanda tanganku ditelaah. Hal pertama yang dia bilang adalah, “Kamu… kalau mengerjakan sesuatu, sering ga selesai ya?”

Friday, May 22, 2015

Menerima Untuk Memberi


by Lasma Frida

Ya, Tuhan!! Aku seorang istri sekarang!!

Mungkin itu yang akan kita katakan setiap kali terbangun dan melihat ada seorang pria di tempat tidur dan cincin melingkar di jari manis kita. Suatu masa baru yang akan kita sambut dengan penuh semangat.
Tidak jarang kita mulai membuat daftar hal-hal yang ingin kita lakukan untuk pernikahan kita. Apa pun itu, asalkan bisa membawa kebahagiaan di dalam keluarga baru kita, rasanya pasti akan kita lakukan. Mengorbankan diri sekali pun.

Sayangnya, ternyata tidak semudah itu. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa kita bangun sendirian. Tidak cukup hanya kita yang berkomitmen. Butuh partner kita dan seorang lagi yang menjadi bagian penting juga dalam pernikahan kita, siapa lagi kalau bukan Allah Bapa??!! *lampu sorot untuk Babe.

Wednesday, May 20, 2015

Flawless Bride


By Poppy Noviana

Menjadi seorang pengantin yang sempurna adalah impian setiap wanita, momen yang diharapkan terjadi tanpa masalah atau gangguan. Tapi, apa sih pendapat orang mengenai cara untuk menjadi a flawless bride ?

Mewakili beberapa pendapat, dikutip dari sinopsis buku Perfect Bride, “dibutuhkan kesiapan secara fisik dan kebugaran penampilan ditambah program yang harus dijalankan untuk memperoleh penampilan sempurna di hari bahagia seperti program olahraga, diet, dan program kecantikan. Pada program olahraga, tujuan utamanya adalah memperoleh tubuh yang bugar, fit, lebih bertenaga, dan ukuran badan yang ideal dengan olahraga pembakaran lemak, jalan kaki, dan beberapa aktivitas lain. Pada program diet, tujuan utama yang ingin dicapai adalah tubuh dengan berat yang ideal agar tampil prima dalam busana pengantin idaman. Pada program kecantikan, tujuan utama yang ingin dicapai adalah penampilan yang segar, fresh, muda, serta peremajaan kondisi rambut dan kulit” (W, Janeth, 2007).

Selain itu, menjadi seorang flawless bride bisa diwujudkan melalui beberapa jasa pelayanan penyedia fasilitas yang membantu sang pengantin untuk mendapatkan pengalaman menakjubkan. Misalnya melalui make up yang disesuaikan dengan skin tone pengantin agar terlihat cantik saat foto dan hair do yang dirancang sesuai dengan hair type sehingga everything is gorgeous just for this special moment!

Apa kriteria Flawless Bride menurut Alkitab?

Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.) (Wahyu 19 :7-8).

Lain hal jika kita mengikuti apa yang Alkitab katakan untuk menjadi a flawless bride, karena Tuhan Yesuslah yang menjadi pendampingnya. Bentuk perbuatan yang benar menjadi kriteria yang baik dipandangan Tuhan, diibaratkan seperti kain lenan halus yang sangat berharga sehingga hanya orang kudus yang layak untuk mengenakannya.

Melakukan perbuatan yang baik dan berkenan dimata Tuhan memang tidak mudah, contohnya Daniel yang sulit untuk menyembah Tuhan. Karena kebebasannya dibatasi peraturan raja, Daniel harus dimasukan kedalam kandang singa karena ia memilih untuk tetap menyembah Tuhan. Sungguh suatu perkara yang serius dan memiliki konsekuensi besar. Bagian ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa pengikut-Nya akan selalu bahagia. Firman Tuhan justru menekankan hal yang berbeda: Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya (2 Tim 3:12).

Wowsemoga kita tidak goyah ya, karena Tuhan Yesus tidak akan pernah meninggalkan kita, buktinya adalah firman Allah itu sendiri yang berjanji “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya (1 Petrus 5 : 10“.

Kriteria selanjutnya untuk menjadi seorang pendamping yang sempurna bagi Tuhan adalah keharusan hidup dalam kekudusan. Jangan minder dulu jika mendengar kata yang satu ini. Selama kita hidup di dunia, kekudusan memang seperti hal yang mustahil untuk dilakukan menurut sudut padang manusia. Tetapi hal ini tidak berarti berhenti untuk diperjuangkan bukan? Sikap berani menyangkal diri dan mau menderita untuk kemuliaan Tuhan sangat dibutuhkan agar kita tidak mengikuti arus dunia yang seringkali membawa kita jatuh dalam dosa.

Jadi, berjuanglah untuk melakukan kebenaran firman Tuhan dan mempunyai gaya hidup kudus di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu sama artinya kita sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang mempelai yang berkenan bagi Tuhan.

Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar (1 Petrus 3:14).

~ Menghidupi Firman dan menjaga kekudusan adalah kriteria seorang pendamping Kristus yang sempurna ~

Bagaimana Memulainya?

Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu (2 Kor 9:10).

Maka mulailah segala sesuatunya dengan doa dan ucapan syukur atas segala keberadaan kita saat ini, mungkin saat ini kita lemah dan penuh dengan dosa. Akuilah semua dihadapan Tuhan dan mulai untuk berani membangun komitmen untuk menerapkan kebiasaan yang benar. Memang hal ini tidak dibatasi dengan waktu yang konkrit, namun ingatlah bahwa waktu-Nya tidak pernah ditunda. Jadi bersiap-siaplah seperti layaknya mempelai wanita yang siap membawa minyak untuk pelitanya agar pelita itu tidak padam saat menyongsong mempelai laki-laki datang menjemputnya. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya (Matius 25:13).

Sebelumnya kita sudah membahas bahwa Allah menghendaki anak-anak-Nya menghasilkan perbuatan-perbuatan kebenaran. Tentu saja bukan sekali dua kali, namun mengembangkan karakter yang benar. Apa saja karakter benar itu? Ya, benar sekali, karakter buah roh! Karena tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Karena barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Dan berilah dirimu untuk hidup oleh Roh, sehingga baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh untuk dapat melakukan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.

Nah, menariknya, Alkitab menuliskan karakter-karakter di atas sebagai buah roh, bukan buah-buahan roh. Bayangkanlah sebuah apel yang terdiri dari rasa manis di dalam dagingnya dan sedikit pahit pada bagian kulitnya, disertai vitamin-vitamin yang terkadung didalamnya. Bayangkan jika kita hanya makan kulitnya saja atau hanya dagingnya saja. Tentu kurang komplit ya vitaminnya, karena bukan merupakan buah yang seutuhnya. Jadi semua itu adalah satu-kesatuan yang membuat apel bermanfaat untuk dimakan! Demikian halnya dengan buah roh, hendaknya buah roh ini tidak dilakukan sepotong-sepotong agar bermanfaat. Buah roh adalah suatu kesatuan yang diharapkan Tuhan untuk dihasilkan dalam kehidupan anak-anak-Nya selama mereka hidup.

Simaklah tauladan yang dilakukan oleh rasul Paulus sebagai motivasi untuk memulainya. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. (Filipi 1:24).

~Berani memulai berkomitmen melakukan buah roh adalah keputusan penting yang tidak bisa ditunda lagi ~

Apa Faedahnya Bagiku?

Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu ( Yes 62:5).

Lalu, apa faedah yang diperoleh dengan saat kita semakin diproses menjadi a flawless bride? Yesaya mengatakan Allah akan bergirang atas kita. Perkenan-Nya ada atas kita. Tuhan sebagai mempelai telah menyatakan janji-Nya untuk setia, menjaga, menopang, mengasihi, dan mengampuni. Janji-janji itu akan kita tuai dalam kehidupan kita dan hidup akan menjadi bermakna karena tidak ada kesia-siaan dan kita dilayakkan untuk memenuhi kehendak-Nya. Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anak-Ku hidup dalam kebenaran (3 Yohanes 1:4).

Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu (2 Tes 1:11)

~ Siap menjadi pendamping yang sempurna bagi Tuhan bukan angan-angan namun merupakan tujuan hidup ~
****

Friday, May 8, 2015

Being Single, Being Loved!


by : Yans Penina

Hari, minggu, bulan dan tahun rasanya cepet banget berlalu. Saya sendiri belakangan ini suka mikir, “Heh, uda umur segini toh?”. Rasanya baru kemarin jadi anak-anak, sekarang hampir menginjak usia 30. Rasanya bener-bener ngga nyangka kalau saya sudah sematang ini.

Dulu saya pernah berpikir, usia yang ideal untuk berumah tangga adalah di angka 28. Mungkin kamu juga punya usia ideal menikah. Tapi rupanya apa yang ideal buat kita belum tentu ideal buat Tuhan. Yang pasti sih, saya percaya kalau waktunya Tuhan adalah yang terbaik. Kalau sampai sekarang kamu dan saya masih single, tentu Ia punya tujuan. Dalam hal ini, tugas kita adalah menjalani bagian kita supaya tujuan itu bisa tercapai. Apa bagian kita? Receiving and enjoying God’s love every day adalah salah satunya.

Kenapa? Kalau seorang perempuan single gak punya pengalaman ini, hari-harinya pasti akan terasa hampa. Selain itu, dia juga akan merasa kekurangan cinta, tidak merasa utuh dan puas. Dia akan berkutat dengan menyesali masa singlenya. Ia tidak bisa menangkap apa yang jadi maunya Tuhan. Bisa aja dia berhasil mencapai ini itu, tapi belum tentu dia maksimal di mata Tuhan.

Kalau kita menikmati Tuhan sebagai Kekasih Jiwa kita, maka hidup kita akan maksimal. Hari-hari kita akan indah, karena memang kita sudah punya apa yang paling kita butuhkan, kasih Tuhan. Bayangin aja, setiap hari kita punya pengalaman seru bersama Kekasih Jiwa kita ini; perhatian-Nya dalam hal-hal kecil, pertolongan yang ngga terduga, kejutan-kejutan manis dari-Nya, tangan-Nya yang menuntun kita, dan bentuk-bentuk ekspresi kasih lainnya. Bagaimana mungkin kita masih akan merasa “kurang”? Kita akan dipuaskan oleh kasih-Nya.

Tuhan sendiri ingin mencurahkan kasih-Nya pada kita. Ia rindu setiap kita para single menikmati kasih ini. Untuk memperolehnya, ada hal-hal yang perlu kita lakukan. Yuk, kita lihat apa saja...

Start your day with Him.
Hal apa yang kamu lakukan pertama kali di pagi hari? Seperti apa kamu memulai hari akan menentukan bagaimana hari itu akan berjalan. Sebelum bertemu dengan orang lain dan mengalami banyak hal, putuskan untuk bertemu dengan Tuhan lebih dulu. “Oh, saya tiap hari memang sudah melakukan ini!”, kalau ini respon kamu, coba pastikan lagi bahwa apa yang kita lakukan bukan karena didorong kedisiplinan, tapi karena kerinduan kita kepadaTuhan. Disinilah momen untuk Tuhan mengisi cawan hati kita. Pastikan di waktu spesial ini kita ketemu Tuhan lewat penyembahan, doa, dan firman.

"Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami besorak sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami" (Mazmur 90:14)

Walking with God throughout the day.
Ajak Tuhan untuk terlibat dalam setiap hal yang kita lakukan. Bangun komunikasi sama Tuhan. Kita bisa ajak ngobrol Tuhan dalam hati, dengar musik rohani, atau waktu lagi di jalan kita bisa menikmati keindahan Tuhan lewat langit yang cerah, angin sepoi-sepoi, pohon yang hijau – daripada bengong atau ngedumel karena macet. Belajar untuk melihat Tuhan lewat setiap hal kecil di hidup kita. Waktu lagi sibuk, kadang kita perlu berhenti sejenak, tutup mata dan berbisik ke Tuhan. Katakan sesuatu dari hatimu ke Tuhan. Dari sini kita akan bisa merasakan kasih itu, bahwa Ia Tuhan kita, menyertai kita, dan kita dikasihi!

"Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu". (Mazmur 63:3-5)

Get rid of all the lies.
Iblis adalah bapa segala pendusta. Ada banyak dusta yang ingin ia tanam supaya kita gak bisa menerima dan menikmati kasih Tuhan. Salah satu dusta Iblis adalah ada banyak hal selain Tuhan yang kita bisa kita andalkan untuk memberi rasa aman, penghiburan, kekuatan. Bentuknya bisa lewat pekerjaan, pasangan, uang, makanan, kekuasaan dan sebagainya. Keinginan-keinginan yang ada di hati kita bisa jadi indikasinya. Contohnya, obsesi berlebihan dalam hal pekerjaan karena ingin mendongkrak status, keinginan yang berlebihan untuk bersama seseorang. Pokoknya waktu kita merindukan sesuatu lebih daripada Tuhan, lalu ngga pernah merasa cukup, harus hati-hati loh! Ini adalah hal yang bisa membuat indera rohani kita menjadi tumpul.

"Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi" (Mazmur 73:25)

Have a heart of satisfaction.
Apapun proses kehidupan yang kita hadapi, ada satu hal yang perlu kita kembangkan, “hati yang puas”. Banyak perempuan single yang ngga menikmati masa single-nya. Padahal waktu kita punya hati yang puas, kita akan lebih peka untuk menerima dan menikmati kasih Tuhan. Nikmati setiap momen yang ada, dan hidup ini akan jadi petualangan yang penuh damai. Waktu lagi berlibur dengan keluarga, nikmati betul momen tersebut, karena ada masanya saat tersebut akan jadi kenangan. Waktu merasa capek dengan segudang aktifitas, syukuri!, karena ngga selamanya kita punya waktu atau kesempatan seluas saat ini. Dalam segala situasi dan kondisi apapun, putuskan untuk merasa puas dengan Yesus dan miliki damai sejahtera-Nya. Sampaikan terima kasih-mu ke Tuhan untuk semua hal yang Ia beri, dan katakan “Aku puas!”.

"Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali" (Mazmur 103:5).

Sekarang, coba kita tanya ke diri kita masing-masing. Bersediakah aku menerima kasih-Nya? Pikiran kita mungkin mengakui, ya, Allah mengasihi aku. Kita tahu Ia mengasihi kita, tapi kita tidak menerimanya; kita tidak sungguh-sungguh mengijinkan Tuhan mengasihi kita. Kita tidak mengusahakannya. Padahal, setiap detik, menit, dan jam adalah kesempatan untuk kita mengalami Tuhan. Ia ingin mencurahkan kasih-Nya karena Ia tahu kebahagian kita bukan terletak pada status, materi, situasi tertentu, tapi pada saat kita mengalami Tuhan, puas menerima dan menikmati kasih-Nya. Ia menawarkan kepada kita rasa aman, keyakinan,dan identitas sejati. Ia ingin mengasihi dan melindungi kita. Maukah kita menerima dan menikmatinya?

Wednesday, May 6, 2015

From the Inside Out

by Wellney Yarra


“Ah gue ga cocok ikut Tuhan, liat aja kehidupan gue begini”
“Gue ga bisa masuk Kristen, terlalu banyak peraturannya”
“Ya gue kan ga sereligius elo…”
“Susah ya jadi orang Kristen”

At some point in our lives, aku yakin kita semua pernah mengucapkan atau mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Mungkin itu pernah kita ucapkan dulu sebelum kita bertobat, atau mungkin kalimat-kalimat seperti itu kita dengar dari teman-teman yang kita ajak untuk bertobat. Kekristenan memang seringkali diidentikkan dengan list peraturan-peraturan hal-hal yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Tetapi apakah benar, bahwa the Christian life hanya sedangkal itu?


Tentu tidak. Kita perlu mengingat, bahwa agama hanyalah upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun Tuhan Yesus, Ia turun ke Bumi dan mati bagi kita. Ia merelakan dirinya mati, agar kita dapat hidup. Ia datang dan mendekatkan diri-Nya kepada kita. Ia menawarkan not a religion, but a relationship. Ia menyelamatkan kita dan melayakkan kita untuk bersatu dengan Bapa. Yang Ia inginkan hanyalah agar kita mengasihi-Nya dan menghanyutkan diri kita dalam keintiman dengan-Nya.

Kalau begitu…kita bisa melakukan apa saja yang kita mau dong, asalkan kita mengasihi Dia? Nah, disinilah banyak orang Kristen seringkali meyalahgunakan keselamatan yang telah diberikan oleh Tuhan. Kita merasa bahwa karena Tuhan sangat menyayangi kita walaupun kita berdosa, kita merasa bahwa sah-sah saja bila kita berbuat dosa lagi. Karena Tuhan selalu mengampuni dosa kita, kita terus mengulangi dosa yang sama, karena kita merasa toh Tuhan akan mengampuni. Namun that’s not the way it works. Sebab di Alkitab juga dikatakan bahwa:

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku”
Yohanes 14:15


Memasuki tahun yang baru ini, sudah saatnya kita menanggalkan manusia kita yang lama. Dan menanggalkan manusia lama juga berarti meninggalkan semua dosa-dosa kita yang lama. Namun bagaimana caranya? Bagaimana caranya kita menjauhkan diri dari dosa? Bukankah manusia memang tidak terlepas dari dosa?

Kita tidak diciptakan untuk mengupayakan keselamatan sendiri. Kita tidak pernah dan tidak akan mampu menyelamatkan diri sendiri dengan usaha kita yang bahkan mendekati standar kebenaran dan kekudusan Tuhan saja tidak. Karena apabila keselamatan tergantung dari usaha kita sendiri dan bagaimana kita memenuhi hukum-hukum, maka bisa dipastikan tidak ada dari kita yang akan selamat, karena kita semua manusia berdosa.

Namun Ia tidak mengasihi kita hanya apabila kita menuruti perintah-perintahNya terlebih dahulu, karena kasih-Nya adalah kasih agape, kasih yang tidak bersyarat. Ia mengasihi kita karena Ia adalah kasih. Ia mengasihi kita, sehingga kita pun dapat mengasihi (1 Yoh 4:19). Dan karena kasih-Nya yang kita rasakanlah, maka kita dapat hidup benar di hadapan-Nya. Dan apabila kita mengasihi-Nya, maka kita pun akan menjauhi hal-hal yang tidak berkenan di hadapan-Nya.

So, what if, instead of obeying His commands more, we should start by loving Him more? Bagaimana jika hal yang lebih penting bagi kita adalah untuk mencintai-Nya lebih lagi dibandingkan berusaha menaati perintah-perintahnya dengan upaya kita sendiri? Sebab Tuhan berkata “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menaati segala perintah-Ku.” Secara struktur, kalimat tersebut menunjukkan sebuah sebab-akibat. Artinya, hidup yang benar, hidup yang menaati segala perintah Tuhan, datang dari hati yang mengasihi-Nya.

Ketaatan terhadap perintah-perintah Allah berasal dari suatu hati yang haus akan Dia, hati yang bersyukur kepada sang Juruselamat, yang telah terlebih dahulu menyelamatkan kita ketika kita berdosa. To put it simply, ketika kita mencintai seseorang, tentu saja kita akan mengupayakan segala sesuatu untuk membuat orang tersebut bahagia. Tentu saja kita akan berusaha sekuat yang kita mampu untuk tidak melakukan hal-hal yang menyakiti perasaan mereka. Sama halnya dengan mencintai Tuhan. Bagaimana mungkin kita berkata bahwa kita mencintai Tuhan, sedangkan cara kita hidup setiap harinya mendukakan hati-Nya?

Jadi, sebelum kita menyibukkan diri untuk hidup benar dan menaati semua perintah Tuhan dengan usaha kita sendiri, ingatlah terlebih dahulu pada hal yang lebih penting: mengasihi-Nya. Hidup yang benar adalah buah dari hati yang mengasihi Tuhan, hati yang ingin menyukakan hati sang Bapa yang telah begitu mengasihi kita. Kedua hal tersebut adalah sebuah sebab-akibat yang tidak dapat dipisahkan.

So my dear sisters in Christ, mari kita miliki hati yang lebih membara lagi untuk Tuhan. Melekatlah pada-Nya. Karena ketika kita mengasihi-Nya, hidup yang benar akan menjadi buahnya!