Showing posts with label Sexual Abuse. Show all posts
Showing posts with label Sexual Abuse. Show all posts

Saturday, December 8, 2018

A New Day of Spring


by Sarah Eliana

Batsyeba. Siapa yang gak pernah dengar tentang Batsyeba? Batsyeba yg katanya begitu cantik sampai-sampai raja Daud pun tergoda. Batsyeba yg udah bersuami tapi tidak berani (atau tidak mau?) berkata tidak ketika raja Daud mengundangnya ke istana. Adulteress! Begitu kata banyak orang. Aku sendiri gak berani menghakimi, karena sebagai seorang istri sedikit banyak aku bisa mengerti juga kenapa dia tidak berani berkata tidak kepada Raja Daud. Mungkin dia diancam “Kalo gak datang, awas!!!” Mungkin juga dia berpikir, ”Raja Daud kan atasan suamiku, dan suamiku lagi di medan perang. Mungkin raja Daud mau kasih tau sesuatu yang penting tentang suamiku? Apakah suamiku terluka?” Mungkin! Mungkin aja dia menerima undangan raja Daud dengan pikiran suaminya terluka atau bahkan terbunuh di medan perang sehingga raja Daud merasa berita itu harus disampaikan secara pribadi oleh sang raja. Mungkin juga sama seperti kebanyakan kita, orang Asia, dia merasa, “Ah, gak enak kalo gak dateng… Udah diundang.” Perhaps pride got the better of her: “GILE!!! Diundang ama raja!! Siapa yg berani bilang tidak? Siapa orang yang begitu bodoh sampai menolak undangan sang raja?” Mungkin juga dia berpikir seperti itu. Maybe she was lonely, and an invitation from the handsome king sounds innocent enough. Only God and Bathseba herself know why she went to the palace, and later slept with the king.

Tapi yg pasti, kita semua tau lanjutan ceritanya. Batsyeba hamil, dan Daud membunuh Uria agar bisa menikahi Batsyeba. Setelah mereka menikah, datanglah Nabi Natan menegur Daud. JEDER!!! Daud, oh Daud, dirimu sudah melakukan apa yg salah! Dan saat itu juga Daud menyadari kalo kesalahan dan dosanya itu bukan hanya terhadap Uria, tapi juga terhadap Allah. Jadi, ia pun bertobat. Semuanya beres, kan? Ya kan? Ternyata tidak, karena anak Batsyeba dan raja Daud yang baru lahir akhirnya meninggal. 

Most of us stop right here. Kita sering dengar kotbah tentang Daud dan Batsyeba, dan biasanya kotbahnya diakhiri dengan “ada hukuman atas dosa,” Betul gak? Dan biasanya pula, kalo kotbahnya tentang pernikahan, kita akan diwanti-wanti untuk menghormati janji nikah kita, dan ayat yg biasa dikutip adalah Matius 1:6 yang berkata:

“Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria.”
(Matius 1:6)

Ayat ini menunjukkan bahwa biarpun Batsyeba sudah menikah dengan Daud, Tuhan tetap menganggapnya sebagai istri Uria. Betulkah? I must disagree. Why? Well, let’s read 2 Samuel 12:24,

Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba istrinya, lalu tidur bersamanya. Batsyeba melahirkan seorang putra yang dinamakan Salomo oleh Daud. TUHAN mengasihi anak itu.
(2 Samuel 12:24)

Daud menghibur Batsyeba, istrinya. Nah, di sini jelas ditulis kalo Batsyeba sudah dianggap sebagai istri Daud oleh Tuhan. Bahkan Tuhan memberikan mereka seorang anak yang kemudian menjadi raja yang luar biasa. Ya, gw setuju bahwa kita selalu harus menerima konsekuensi dari dosa kita. But it is equally important that we don’t just stop there karena di dalam Tuhan ada kasih karunia. Kalau kita mau dan siap mengakui dosa kita, meminta ampun, dan TIDAK mengulangi dosa itu, Tuhan pun siap mengampuni and He is more than ready to give us a fresh new start.

Banyak dari kita yang bergumul dengan masa lalu kita, yang punya hal-hal yang kita sembunyikan dari orang lain dan hanya Tuhan dan kita yang tau. Kalau memang kita orangnya, ketahuilah hal ini: Tuhan sangat bersedia mengampuni kita kalau kita mau datang kepada salib-Nya, mengaku dosa kita, dan berjalan menurut pimpinan Tuhan mulai saat ini. Lihat Daud dan Batsyeba! Raja Daud, saking takutnya kalo dosanya akan ketauan, bahkan sampe tega membunuh salah satu prajurit terbaiknya sendiri! Dan ya, dia menerima hukuman atas dosanya:

Setelah itu pulanglah Natan ke rumahnya. Putera Daud yang dilahirkan oleh Batsyeba janda Uria, jatuh sakit dengan kehendak TUHAN.
(2 Samuel 12:15)

Sakit atas kehendak Tuhan! Kalo bahasa Inggrisnya lebih serem lagi: The Lord struck the child, and he was very sick.” Kedengarannya ngeri banget ya. Tapi ternyata bukan hanya anak Daud yang “dihajar” oleh Tuhan; ada orang lain yang mengalami hal yang sama:

Yet it was the will of the Lord to bruise Him; He has put Him to grief and made Him sick.
(Isaiah 53:10)

Yup! Tuhan Yesus! He pressed Himself on that cross to die for us because He loves us so! Sekarang, lihatlah! Lihat ke salib Tuhan Yesus, lihat Dia yang mati disalib karena dosa kita. Anugerah Tuhan tersedia buat kita, dan karena itu kita bisa memulai lembaran yang baru dalam hidup. Gak peduli besar kecilnya dosamu, Tuhan bisa mengampuni kamu. Sebenernya, gak ada “dosa besar” atau “dosa kecil”! Dosa adalah dosa—pemberontakan terhadap Allah. Kalaupun dosamu remeh seperti berbohong pada orang tua, tetap saja itu dosa dan Yesus harus membayarnya dengan nyawa-Nya di salib. Kalau kamu membunuh orang lain, Yesus mati untuk dosa itu juga! Nothing is too small or too big for our God, and He is so ready to forgive you, and so soo soooo ready to lead you in a new path where there are abundance blessings for you! 

Back to Batsyeba. Dia seorang wanita yang berhubungan seks dengan orang yang bukan suaminya. Dia bahkan menikah dengan pembunuh suaminya. Sekarang lihat ke dalam diri kita sendiri: Kita sama seperti Batsyeba! Kita “berhubungan seks” dengan pria lain ketika kita memandang mereka dengan hawa nafsu. Kita membiarkan pria lain “membunuh” suami kita ketika kita membanding-bandingkan dia dengan mereka. Oh dear Lord, forgive us our sins! Tapi jangan berhenti di situ. Lihat Batsyeba: kehidupannya dengan raja Daud diberkati Tuhan; bahkan dia melahirkan seorang raja yang besar. Kok bisa? Semua itu karena mereka bertobat dan ikut pimpinan Tuhan setelah mereka bertobat. Dan bukan hanya itu! Dari keturunan Daud dan Batsyeba, lahir seorang Raja Sejati, Raja segala raja: Yesus Kristus! Lihatlah betapa besarnya pengharapan dan pengampunan yang Tuhan berikan, sehingga semua orang berdosa bisa membuka lembaran baru dalam hidup mereka bersama Dia!

Siapa yang sudah baca Amsal 31? Kalo belom, baca deh. Kalo baca ini, gileeee… Gw langsung ngerasa gimana gitu. I want to be a woman like that. Gw selalu pikir ini tulisan yg ditulis oleh raja Salomo. Haha... *gak membaca ayat 1 dengan benar* Baru-baru ini gw baca ayat 1 dengan benar, and gw betul-betul shock: 

"Inilah perkataan Lemuel, raja Masa, yang diajarkan ibunya kepadanya."
(Amsal 31:1)

Ajaran ibu Raja Lemuel! Doennggg… So this passage is truly “dari wanita untuk wanita”!!! HUEBAT! Gw sempet nyari-nyari, siapa sih Raja Lemuel. Nobody knows for sure, tapi ada beberapa ahli Alkitab yg bilang kalo Lemuel adalah nama lain Raja Salomo. Well, we don’t know if it’s true. Tapi bayangkan kalo ini betul, berarti Amsal 31 itu adalah ajaran dari Batsyeba untuk Salomo!!! HAH?!?!?! Hebat kan? Dari wanita yg tidur dengan pria yg bukan suaminya (selingkuhan yang bahkan akhirnya membunuh suaminya) menjadi wanita yg begitu hebatnya! Bangun pagi-pagi buta, sibuk sampe tengah malam, tapi masih bisa mempercantik diri untuk suaminya. WOW! Gw aja kalo cuman sibuk dikit udah lupa dah, buat dandan cakep-cakep untuk suami… -.-' Dan kalo emang bagian ini adalah bagian yg diajarkan oleh Batsyeba untuk Salomo, do you know what I see? I see a life changed by God! I see a heart shaped by the Lord. Batsyeba gak mungkin bisa berubah seperti itu kalo gak ada campur tangan Tuhan.

So, ladies, you know who you are. Kalau kamu single dan berpikir, “Mungkinkah Tuhan mengampuni semua yang pernah saya lakukan? Mungkinkah saya punya keluarga yang memuliakan Tuhan?” Jawabannya: Tentu saja! Kalau kamu sudah menikah dan pernah berdosa terhadap Tuhan dan suamimu, dan kamu berpikir, mungkinkah semuanya bisa pulih kembali, jawabannya: Ya! Tapi kamu harus bersedia berjalan bersama Tuhan, menuruti pimpinan Tuhan dan memberikan kendali penuh atas hidupmu, pikiranmu, perbuatanmu, dan perkataanmu kepada Dia.

Baca lagi Matius 1:6, “Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria.” Dalam 2 Samuel 12 sudah jelas sekali bahwa Batsyeba sudah menjadi isteri sah Daud, tetapi kenapa di ayat ini masih disebut “isteri Uria”? Well, bahasa Inggrisnya mungkin lebih jelas: 

"King David the father of Solomon, whose mother had been the wife of Uriah."
(Matthew 1:6)

“Who had been the wife of Uriah.” Batsyeba dulunya istri Uria sebelum jadi istri Daud. Tapi, then, kita jadi bertanya-tanya, kenapa nama Uria harus disebut? Menurut gw, Tuhan mau tunjukin bahwa Yesus, Raja kita yang sempurna itu punya nenek moyang yang adalah manusia biasa, berbuat dosa, banyak kesalahan; dan Dia lahir untuk orang-orang seperti mereka, seperti kita, so that we all can have a new start, a new life in Him! And that, my friend, is grace! 

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
(Yohanes 3:16)

Thursday, April 26, 2018

Gereja, Dengarlah...


by Tabita Davinia Utomo

Gals, masih inget sama artikel yang ditulis Kak Dhieta bulan Maret lalu, kah? Waktu itu, dia nulis bahwa selalu ada pemulihan bagi mereka yang mengalami sexual abuse (kita akan perluas juga ke sexual harassment). Ternyata, sebagai orang percaya—yang juga adalah gereja—juga bisa menolong mereka untuk pulih dari trauma, lho! Wah, what a good news, ya =) Tentunya ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, Gals. Hehe. 

Untuk mendalami topik ini, Pearl berkesempatan untuk mewawancarai Ibu Cecilia Sagita, seorang psikolog dan konselor dari Lifespring Counseling and Care Center. Well, langsung cuss baca hasil wawancara kami di bawah ini, ya! :) 

1. Sebenarnya, sexual abuse maupun sexual harassment itu apa ya, Bu? 
Kalo sexual abuse itu tindakan kekerasan yang lebih diarahkan pada anak-anak, misalnya eksploitasi seksual, memperlihatkan kemaluan pada anak-anak, memaksa anak untuk memegang kemaluan, memaksa anak melihat atau melakukan kegiatan seksual, stimulasi seksual, dan sebagainya. 

Sementara sexual harassment itu lebih mengarah pada aktivitas atau tindakan seksual yang tidak dikehendaki oleh pihak satunya, tapi dipaksakan oleh pihak lainnya. Hal ini tidak terbatas pada hubungan atau kegiatan seksual, namun juga termasuk ungkapan verbal yang mengundang atau mengarah menuju kegiatan tersebut. 

2. Apa yang bisa orang awam (selain konselor) lakukan untuk membantu teman kita yang mengalami sexual abuse? Ditambah lagi dengan adanya stigma yang berlaku di masyarakat bahwa survivor juga berperan dalam terjadinya abusing itu. 
Justru persepsi negatif (stigma) pendengar, seperti karma, kutukan, atau pakaian si survivor yang mengundang itulah yang harusnya diruntuhkan dulu. Apalagi kalo kita kenal korban sama pelakunya. Besar kemungkinannya kita akan mempertanyakan, “Ah, kayaknya dia nggak mungkin gituin kamu, deh. Baik-baik lho, dia... Mungkin kamunya yang mancing, lha pake baju aja seksi gitu.” Padahal si survivor itu butuh didengarkan, karena dia aja butuh keberanian besar untuk bisa bercerita pada kita. Nah, yang bisa kita lakukan adalah menjadi pendengar (listener) yang baik 

Mendampingi seseorang yang jadi survivor dari sexual abuse maupun sexual harassment itu bukan hal yang mudah, lho. Kita perlu memperhatikan kata-kata yang akan kita sampaikan ke dia. Misalnya, kalo omongan kita udah mengarah, “Kok, bisa?”, atau mencurigai (intrusive) gitu, dia bakal nggak mau cerita. Soalnya dia merasa di-blaming. Padahal kejadian seperti itu bisa terjadi kapan dan di mana aja, jadi kita nggak bisa asal ngomong. 

Ini nih, contoh kata-kata yang nggak dibolehin diucapin ke survivor yang baru cerita ke kita: 
A | Oya aku ngerti. Aku paham prasaanmu. 
     walaupun maksud kita baik ngomong gini, tapi sama aja bohong kalo kita nggak mengalami secara langsung apa yang dia alami dan rasakan.
B | Wah kamu beruntung, ya. 
     Beruntung dari manaaa kalo dia aja masih dalam tahap kemarahan atas kejadian itu. 
C | Tenang aja. Ga bakal kejadian lagi kok. 
     Siapa yang tahu kalo itu bukan kejadian yang pertama? 
D | Eh, emang kejadiannya kayak gimana, sih? Kok, kamu bisa digituin sama that creepy person
     Kita tanya-tanya kejadiannya secara spesifik, padahal bukan psikolog atau konselor.
E | “Lhah, emang kamu pulang jam berapa? Sendirian? Pake rok? Wah, hati-hati, lho kamu, tuh!”
     Hindari judgement dan perkataan lainnya yang bikin mereka malu.

3. Bagaimana kita bisa berempati dan menjadi saluran Tuhan untuk memulihkan dia dari trauma? 
Be there and be a good listener. Hargai dia secara verbal dan nonverbal, baik melalui gerakan, gestur tubuh, dan kontak mata. Support and encourage dia, misalnya tanya, “Ada yang bisa aku bantu nggak untuk selanjutnya?” Soalnya, kadang-kadang ada yang pakai persepsi sendiri, terburu-buru lapor ke orangtua atau hamba Tuhan, atau malah labrak si pelaku. Nah, dampak parahnya ke survivor adalah... dia jadi merasa nggak dipercaya dan dampak-dampak negatif lainnya. 

Tuhan yang memulihkan dia lewat kehadiran kita, bukannya kita berhak khotbahin dia. Tuhan yang bekerja lewat kita ingin agar kasih-Nya diwujudkan dengan cara kitanya jadi pendengar yang suportif. 

4. Bagaimana pendapat Bu Cecilia mengenai awareness about sexual abuse in the church? 
Gereja itu terbentuk dari umat/jemaat. Nah, apakah semua umat itu sadar atau tidak bisa dilihat dari jumlah kasus dan laporan pengaduannya. Walaupun angka pengaduannya meningkat, tapi kasus sexual abuse pun begitu. Kalo di Amerika, 1 dari 5 perempuan dan 1 dari 6 laki-laki mengalami sexual abuse sebelum usia 18 tahun. Dengan kondisi kayak gini, yang berani melapor cuma sepersekian persen—menunjukkan bahwa masih ada banyak yang bungkam (baik anak maupun orangtua). 

Dalam beberapa adegan film yang terkait dengan sexual harrasment pun, kadang-kadang pihak korban merasa enggan untuk melaporkan apa yang menimpa pada dirinya. Dan hal ini menyebabkan banyak kasus yang belum terungkap. Kalo dilihat dari fenomena seperti ini, mungkin negara juga nggak terlalu paham sedetil itu—kalaupun sudah banyak yang berani speak up, masih lebih banyak lagi kasus yang belum terungkap. Regulasinya juga kurang jelas. Jadi yaa... semuanya tergantung ke pribadinya masing-masing. Menurut saya, kalau ada jemaat yang mengalami sexual abuse atau sexual harassment (dan mereka berani speak up), mungkin gereja bakal lebih aware. 

Walaupun konselor punya awareness yang baik terhadap isu ini, tapi kesadaran gereja akan sexual abuse maupun sexual harassment tergantung dari gereja dan pengalaman dari gereja itu sendiri. Mungkin belum sampai bikin program tentang itu. Di sekolah anak-anak gitu juga udah mulai ada sex education yang sebelumnya sempet dianggap tabu. Butuh kesadaran dari pribadi sampai pada akhirnya masyarakat sadar. Ingat, ketika survivor berani untuk berbicara atas apa yang terjadi dan masyarakat mendukung perlindungan terhadap survivor, bukannya meremehkan, maka peluang si pelaku untuk mengulangi perbuatannya akan semakin kecil. 

Apapun yang dipakai seseorang itu adalah haknya. Walaupun ada baiknya setiap orang berpakaian dengan sopan karena tubuh kita adalah milik Tuhan yang juga perlu kita jaga. Tapi, saat menghadapi teman atau saudara yang menjadi korban, kita juga tidak bisa langsung menuduh atau mempersalahkan mereka atas kejadian traumatis yang mereka alami. Gimana mereka mau bicara kalau yang tanya lawan jenis dan cara bertanya-nya aja bikin ilfeel (baca: dibumbui judgement)? 

5. Sejauh apa kami dapat menjadi teman curhat bagi mereka yang terkena sexual abuse, lalu dalam kondisi apa kami perlu merekomendasikan mereka untuk dapat menghubungi konselor profesional? 
Nggak mudah ya, buat si survivor bisa cerita. Jadi gini, sih. Setiap orang punya kemampuan mendengar yang berbeda. Ada pendengar yang marah karena nggak bisa melindungi, atau bingung harus melakukan apa. Tapi ada juga yang bisa mendengarkan dengan baik dan mendampingi si survivor sekaligus menyarankan konselor atau psikolog kalau dibutuhkan. 

Nah, itu. Sebenarnya kita boleh share kalo tau ada konselor atau psikolog yang bisa bantuin dia. Tapi itu hak si survivor buat dateng ke sana. Kalo si pendengar udah overwhelming sama ceritanya si survivor, nggak perlu memaksakan diri. Si pendengar juga perlu tahu keterbatasan sendiri—dengan catatan tetap men-support survivor, ya. Apalagi kalo dia udah mulai nunjukkin tanda-tanda terganggunya keberlangsungan hidup. Misalnya jadi depresi, menarik diri, gonta-ganti pacar, nggak mau keluar rumah. Nah, kita bisa arahin dia buat ke psikolog atau konselor karena udah muncul gejala-gejala depresi seperti itu. Kalau tidak ditolong, bahkan bisa sampai bunuh diri. 

Temen-temen bisa kasih pemahaman tentang profesi konselor atau psikolog ke dia, biar dia bisa mempertimbangkan. Terus juga bisa temeni dia buat dateng ke sana. Itu udah jadi bentuk support yang baik banget buat dia, lho :)). Atau bisa juga nyaranin buat ke pastor, pendeta, ato hamba Tuhan lainnya yang bisa mereka percayai. Yaa di-encourage aja dan jangan dipaksakan. 

6. Pertanyaan terakhir, Bu. Hehe. Kalo si survivornya nggak mau buat konseling gimana? 
Keputusan tetep ada di tangan survivor, bukan kita. Dan selalu inget: jangan ada judgement. Tetep dengerin dia waktu cerita. Tanya ke dia, “Kamu pengen laporin ato nggak? Pengen share ke yang lebih profesional atau nggak?” Tanyain aja gitu. Dampingi dia dalam prosesnya dan cari tahu penyebab kenapa dia jadi tambah kacau. Yaaa memang harus sabaaaar kalo ngadepin temen yang trauma gitu. Perlu diinget juga buat setiap kita yang mendampinginya buat nggak kasih pressure dan terburu-buru dalam ngelakuin sesuatu. Atau kita juga bisa nemenin dia ngelakuin self-care buat relaksasi dan hiburan. Misalnya pergi makan bareng, nonton, olahraga. Nggak usah terlalu dalam menggali traumanya, tapi tetep jadi temen dia :) 

Kadang-kadang, yang takut malah kita sendiri. Dianya yang cerita, tapi reaksi emosi kita yang kaget. Padahal sebenernya, ada saat di mana kita nggak perlu ngomong lama-lama. Orang Indonesia paling bingung kalo si pencerita udah nangis histeris. Ya udah nggak apa-apa. Kasih momen buat dia mencurahkan perasaan. Kalo udah speechless, it’s okay buat ga ngomong apa-apa. Itu wajar. Normal. Reaksinya yang depressed bisa dipahami karena dia trauma. “Iya, nggak apa-apa kok, kalau kamu mau nangis...” 

--**-- 


Well, menarik kan, Gals? =) Aku pun waktu wawancara juga terbukakan oleh fakta-fakta baru; dan menurutku, cara seperti ini juga bisa kita terapkan pada orang lain yang butuh hati dan telinga kita. Bukan cuma yang abis kena sexual abuse maupun sexual harassment. Who knows, kalau waktu kita mendengarkan cerita orang lain, dia akan mengurungkan niatnya untuk bunuh diri karena dia nemuin Tuhan lewat kita? So, ayo kita belajar buat lebih peduli lagi pada orang-orang di sekitar kita, Pearlians! :) 

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, 
dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. 
(Amsal 17:17, TB)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bagi teman2 yang mungkin butuh konseling atau ingin bertanya lebih lanjut bisa menghubungi: 

- ALAMAT -
Komplek Ruko Gading Bukit Indah,
Jl. Raya Gading Kirana, RT.18/RW.8,
Klp. Gading Bar., Klp. Gading,
Kota Jkt Utara,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
14240

- JAM KERJA -
09.00--17.00

- TELEPON -
+622129574201

Sunday, April 1, 2018

Ketika Aku Bertemu Salib


by Nelly Hendrianto 

Ditulis di Majalah Pearl #09 “When I Met The Cross” 

Gue udah terlibat pornografi dan masturbasi sejak kelas 3 SD. Ga inget gimana mulainya tapi yg keinget cuma gue ngelakuinnya dengan sembunyi2 dan gue terus ngelakuinnya sampe gede. 

Saat gue berumur 21, gue pacaran ama cowo pertama gue. Pertama2, anaknya lembut dan baik. Tapi lama kelamaan, mulai keliatan sifat buruknya yg suka marah2. And memasuki beberapa minggu pacaran, dia minta2 terus keperawanan gue buat hadiah ultahnya. Gue nolak donk. Tapi dia terus mendesak, dengan pernyataan ‘klise’.

“kalo kamu cinta sama aku, kamu kasih donk keperawanan itu buat aku” 

So akhirnya gue luluh juga. Dikasih deh. From that day, dia suka minta2. Kalo ga dikasih, dia marah2. Beberapa kali dia marah sama gue karena beberapa hal sepele. Btw, dia orangnya posesif buanget. Mao ngapa2in harus disebelah dia, saat itu kita emang tinggal serumah sih. (We lived in Sydney, ceritanya sih gue sekolah dan cowo ini kerja. But truth is gue uda dikeluarin dari skolah, tanpa my parents tau.) And I served him for sex, hati gue sebenernya udah mati buat dia. Tapi karena takut aja, gue stayed. 

Dan kalo marah dia mulai maen fisik. Gue didorong2 ke tembok dll. Puppy dog gue yg baru umur 9 bulan, ama dia dipukul dan akhirnya mati di pangkuan gue just becoz he was jealous, karena gue sepertinya lebih sayang ama doggie gue itu. Klimaksnya, suatu hari, dia tampar gue sampe terlempar ke ranjang. Then pegang leher gue, kayak mo cekik, sambil teriak2 kayak orgil. At that very moment gue tau, gue ga mungkin bisa hidup sama orang ini lagi. So to cut the story short, gue lari dari rumah. Dan temen2 gue bantuin gue kabur dari dia. For first few months, gue masih diteror, ditelponin, diancem. Temen2 gue juga diancem. Tapi tong kosong berbunyi nyaring lah ya. Akhirnya dia berhenti neror gue saat dia udah dapet cewe baru. 

Since that moment, hidup gue went downhill. Gue suka bgt clubbing. Dan disana gue ketemu banyak temen2 ga jelas, dan kita idup bebas. Rokok, alcohol, ngobat dll. Hampir setiap minggu, diabisin di clubbing sampe subuh. Kadang2 mabok2an rame2 dirumah temen sampe gue pingsan. Banyak cowo2 ajak kenalan dll. Sampe akhirnya gue terlibat free sex, punya sexual partners/TTM. Dan during these times, gue mulai serius mikirin bunuh diri. Coz I didn’t see the point of living anymore. Gue ngerasa ga ada yg sayang sama gue. Cowo2 mau gue cuma buat sex aja, ga mau lebih. Parents gue juga ga jelas, gue came from a broken family. Punya mereka apa gak, sama aja buat gue. Jadi gue mulai siap2in hal2 yg perlu disiapin buat bunuh diri yg sukses. 

Sampai suatu saat, gue dikenalin sama satu cowo. Dan kita deket, gue jadi suka sama dia. Dia keliatan anak baik dan care sama gue. Kita jadi sering chatting, and ga tau knapa gue jadi cerita tentang rencana bunuh diri gue sama dia. Dia kaget donk, dan berusaha talk to me and stuff. So akhirnya gara2 dia, rencana bunuh diri gue tertunda. I felt dia bener2 care dan sayang sama gue. Kita jadi deket bgt dan lama kelamaan kita terlibat free sex. 

Tapi dia bilang sama gue, kalo dia ga bisa jalanin relationship ama gue karena dia baru putus sama cewenya. Dia masih trauma ama relationship katanya. Gue ok-ok aja, jadi kita jadi TTM with sexual relationship. 

Gue pikir gue ok2 aja dengan hubungan seperti itu. Tapi ternyata hati gue sakit juga. Kalau kita jalan diluar bareng temen2nya, dia ga pernah gandeng tangan gue. Ga pernah show that dia sayang gue. Padahal kalo kita berduaan, dia selalu sayang2 gue. So his friends only knew that I was his sex partner. Itu menyakitkan karena gue bener2 dah sayang bgt sama dia, but I couldn’t bring myself to end this. 

Mulai saat itu, gue mulai cut myself with knife, bukan buat bunuh diri. Tapi buat pelepasan rasa sakit di dada. Menurut gue, rasa sakit di tangan gue ga sesakit apa yg gue rasain di dada. There was one day, gue cut my both hands badly, trus gue kerumahnya dan kasih liat dia. Dia ketakutan, and I think that was the time dia mulai sadar bahwa dia in a bad situation, being involved with me. Gue pernah diem2 baca2 chat history dia sama temennya. Dia bilang dia nyesel terlibat sama gue, he had no idea that he would be in this kind of mess. 

Yah hati gue smakin hancur. The one I thought really cared for me, actually didn’t care at all. 

Gue akhirnya ke dokter, minta obat penenang, supaya gue ga depresi lagi. I thought it was hormonal imbalance. Tapi it didn’t help. Ada satu hari, gue kalap, dan gores2 tangan gue lagi. And karena gue ga tahan, gue nangis2 dan telpon bokap gue. Selama 5 taon gue di Sydney, gue ga pernah telpon bokap skalipun. Apalagi nangis2. Bokap gue kaget banget donk. Dia nanya2 terus knapa, and gue ga bisa jawab, gue cuma minta dia dateng ke Sydney secepetnya. And before kita tutup telpon, bokap bilang gini, 

“Please don’t do anything silly, tunggu papa kesana ya.” 

Nah after that, gue cerita ama ‘cowo gue’. And he was glad that I finally talked with my dad. Tapi lama2 gue ngerasa hubungan gue ama cowo itu smakin jauh. Hubungan smakin ga jelas. Sampe satu hari, gue muak ama semuanya. Gue kurung diri gue dikamar, gue minum2 sampe mabok and gores2 tangan gue pake pisau. Dan gue panggil ini cowo di chatting. Dia jawab, and I told him that I was drunk and almost jumped from the balcony. Before chatting ama dia, gue emang ke balkoni kamar gue yg ada dilantai 8. Sambil mabok dan gue liat2 bawah. Pas liat bawah, kok kayaknya kalo gue loncat, smuanya akan berakhir dan seperti ada suara, gue akan lepas bebas setelah ini. Jadi, gue angkat kaki gue satu, udah over the railing, kaki satunya udah di udara and tinggal loncat aja sih. But just a split second before I jump, tiba2 gue keinget janji gue ama bokap gue. Yg dia bilang “don’t do anything silly”. Gara2 keinget itu, gue ga jadi loncat. Dan setelah gue kenal Tuhan, gue yakin banget itu campur tangan Tuhan. Kok bisa pas2nya pikiran itu lewat at that very second disaat gue udah mo loncat! 

So I went inside my room dan sambil mabok, gue chat ama itu cowo. After gue bilang gue ampir loncat dari balcony, eh dianya offline. Bete donk gue. Gue smakin sakit ati, gue smakin nangis2 kayak orgil. Trus gue akhirnya ketiduran coz gue teler. Ga gitu lama tiba2 temen gue gedor kamar gue. Padahal ga ada orang dirumah, dan rumah gue kunci. Somehow temen gue berhasil dapet kunci rumah gue dari temen lain. So temen gue ini masuk and nanya, knapa gue. And she actually heard me crying padahal jarak pintu rumah dan kamar gue itu juaauhhh. Tapi kok bisa dia denger gue nangis. And kok bisa dia pas banget mo ke rumah gue, padahal ga ada janji. Karena dia denger tangisan gue and gue ga bisa ditelpon2, dia berusaha cari kunci rumah gue supaya bisa masuk. And akhirnya temen2 gue pada tau apa yg terjadi dan mereka jagain balkoni and sembunyiin pisau2 gue. I’m really thankful for them at that time. I believe Tuhan used them, meskipun gue masih ga kenal ama Tuhan saat itu. And ‘cowo gue’ itu juga dateng. Dia langsung lari ke rumah gue pas gue bilang di chat gue ampir loncat dari balkoni itu. Dan salah satu temen gue, sebut aja D. She was the only Christian friend yg gue allowed to be close to me. Soalnya gue benci bgt ama yg namanya orang kristen. Bagi gue, mereka munafik. Jadi cuma si D aja yg deket ama gue. Becoz dia accept me for whoever I was, ga pernah nge-judge gue, ga pernah berusaha nginjilin gue, but she just accepted me without trying to change me. On that night, gue cuma inget dia bilang begini sama gue, 

“gue punya Tuhan, gue punya cowo, tapi my life is not perfect. Gue juga struggle with life...” 

Which is to me sangat2 mengejutkan, karena gue liat dia itu strong person. Ternyata dia juga ada struggle. Jadi mulai malam itu, gue bangkit. Gue bilang ke diri gue sendiri,”if she can do it, why can’t I?” 

So for the next few months, gue bangkit dan mulai menata hidup gue kembali. Hubungan ama cowo itu smakin jauh. Dan gue kembali sekolah. Tapi kehidupan clubbing gue masih on. Masih hura2 sama temen2 kehidupan malem. Tapi hati gue masih terasa kosong. There was one night at my place, gue ama temen2 nyimeng/ganja. Gue kagak tau kalo ganja yg gue isep itu pure, ga pake campuran apa2. Abis isep, badan gue gemeteran. Gue ga bisa jalan ke kamar gue, jadi gue ngerangkak pelan2. Pas diranjang, bibir gue ga bisa berhenti gemeteran. Gue takut, gue kirain gue mao mati. And gue ga mao mati. Funny, isn’t it? For the past few years gue udah rencanain gue mo bunuh diri, pingin mati dll. But disaat gue diujung kematian, gue malah takut and ga pingin mati. 

Gue bener2 ga bisa stopped shaking. And this was the first time gue cried out inside and called God. I shouted in my heart, “God!! Help!!” And gue pingsan deh hehe. Dan pas bangun, ternyata gue masih hidup! Haleluyah! Hehe. Tapi ya abis gitu lupa lagi ama yg namanya Tuhan. 

But I believe saat itu He heard my cry and He knew that I was almost ready to open up my heart for Him. So He pursued me more and more. 

So, gue moved on. Skolah, kerja, clubbing for another two years. I didn’t let any guy get close to me karena gue udah males dengan urusan2 gituan. I faced life with my own strength. Sampe akhirnya di dalem hati sebenernya gue kerasa cape. 

Temen gue tadi, si D, dia selalu ajakin gue komsel dirumahnya, or ikut acara2 gerejanya. Tapi acara2 yg fun gitu. Kayak Valentine Cruise or Costume Party. Karena ada dance partynya, ya gue ikut. Kalo komsel, gue cuma ikut pas makan2nya, then abis gitu gue pulang hehe. Tapi karena sering diajakin ke acara2 fun mereka, gue jadi kenal ama temen2 gereja D. And mereka anaknya fun2 smua. Ga pernah menghakimi atau berusaha merubah gue. 

Satu hari, gue maen ke rumah salah satu leader mereka. Iseng2 gue liat rak buku, karena gue suka bgt baca buku. Eh ternyata disono isinya buku Kristen semua. Males juga ngeliatnya, tapi ada satu buku yg menarik. Judulnya, “I Kissed Dating Goodbye”. Wah kok pas bgt nih, gue kan penasaran. Ya gue pinjem. 

Saat baca bukunya, ada satu chapter dimana Joshua Harris (the author) dapet mimpi atau penglihatan. Dia masuk ke sebuah ruangan besar penuh dengan filing cabinets. Dia buka salah satunya, dia keluarin files2 yg ada didalem. And dia kaget, ternyata files2 itu isinya dosa2 dia semua. Joshua ini kristen, udah pelayanan dll, tapi punya double life. He was involved in pornography etc. Pas dia baca files itu, dia malu banget, apalagi di setiap lembar kertasnya ditanda tangani with his name. 

So he said to himself, jgn sampe ada orang yang liat files ini, so he tried to burn it, but ga bisa. Tiba2 ada seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata orang itu Yesus. He took one of the files and read it. Joshua rebut and tried to prevent Him from reading, tapi Jesus tetep baca without saying a word. Then u know what He did?!?!? He crossed all Joshua’s names from the papers and signed every paper with His own name! Using His Blood! 

Wah gue pas baca itu langsung banjirrrrr nangisss ngejerrrr. Siapa nih orang yg mao ambil my sins as His own??? Padahal Dia kan ga kenal gue and gue ga kenal Dia!! And mao2nya take my own sins as His!! Wah pokoknya gue nangis sejadi2nya saat itu. Becoz of a man called Jesus. I never knew a man who can do all that for me! At that moment I felt, I finally found someone that understand me, understand my heart. 

Wah pokoke indiscribableeeee! 

Dan mulai hari itu, gue jadi tertarik sama yg namanya Jesus. 

Who is He? 

What is He like? 

Why He did that for me? 

So gue mau ikut D ke gerejanya to find out more about Him. Gue teratur ke gereja setiap minggu dan sering baca2 buku Kristen. Dan smakin gue found out more about Jesus, smakin gue amazed with Him and akhirnya gue jatuh cinta sama Dia deh.

He was everything that I was looking for in a man. I felt loved, treasured, pursued, cherised. No man had done that for me. 

Slowly He healed me. Dari kepaitan sama cowo, pornografi, masturbasi. Gue stopped clubbing, rokok, minum2 dll. Gue udah ga merasa tertarik or excited dengan hal2 itu. When I tasted the goodness of Him, other tastes are pale in comparison. Saat gue merasakan betapa cintanya Dia ama gue, betapa sayangnya Dia ama gue, betapa berharganya gue di mata Dia, kepuasan2 dunia jadi ga sebanding and ga menarik sama skali. Karena gue udah dipuasin with Him alone. In His Presence, gue ga ngerasa empty or lonely anymore. 

And He makes me feel so SPECIAL!! 

Tuhan bener2 memulihkan gue sampe gue udah ga ada issue lagi with my past. Gue udah dapet strong conviction/keyakinan yg kuat kalo Dia udah bersihin all my sins. Gue udah diputihkan lagi seperti salju. It took years for me to come to that point. Tapi gue ga boleh give up. Dulu, there were times when gue masuk ke self pity lagi. But God again and again reminded me that I am a new creation in Him. Bahkan Tuhan taruh desire in my heart to testify, to let the world knows, that God’s restoration is so real. Sampe gue come to the point that YES, I’M NEW CREATION! Let no doubt or whatsoever entered my mind again! 

Dan slama ini gue tanya hidup gue ini buat apa sih. Apa purpose of me living in this world? Buat apa gue diciptain? Tuhan pelan2 bukain and pimpin gue to my calling. Gue skarang smakin tau calling gue apa. Dan saat gue fokus dan mengejar calling itu, tiba2 Tuhan mempertemukan gue dengan The One from Him. Alias cowo lah hehe. Yup, proses pertemuannya dan sampe merit pun luar biasa Tuhan yg orchestrate. 

Saat itu gue udah ga kepikiran untuk relationship. I’m so content with just me and God. I enjoy my singleness, gue bener2 concentrate in finding about Him more. Pelayanan dll. (Oh ya, gue udah pindah ke Singapore saat ini) Tiba2 mentor gue bilang ke gue, 

“wah Tuhan lagi mempercantik kamu luar dalam ya??? Bentar lagi pangeranmu pasti dateng. Dan dia akan lebih dari apa yg kamu pikirkan dan bayangkan!” 

Whoah, gue digituin ya mesem2 aja lah. Biasa2 aja sebenernya karena gue ga pikirin soal relationship. Tapi ternyata bener! Kira2 sebulan kemudian, my future husband beneran dateng ke gereja kita, fulltimer pelayanan lagi hauEHuAHEAE. And he is indeed more than I can imagine. Yah intinya gue pertama kali jatuh cinta ama hatinya dia buat Tuhan hehe. 

Dia sempet ke pergi ke Malaysia for mission work buat beberapa tahun, dan saat gue chase my calling in mission. Tiba2 Tuhan pertemukan lagi sama dia. And setelah melalui banyak proses doa, air mata dan darah *lebay* selama 3 taon, akhirnya kita menikah 2 taon lalu dan skarang dah punya a little boy. A handsome and macho little boy. 

I know there are a lot of you yg punya masa lalu yg jelek seperti gue. Cewe2 yg involved with free sex, or even udah ga virgin karena beberapa alasan. Don’t lose heart. Tuhan itu adalah Tuhan yg penuh grace and restoration. Gue adalah salah satu bukti dari His full restoration. Saat gue bertobat dan berbalik dari dosa2 gue, Tuhan ampuni dan Dia ga pernah ungkit2 masa lalu gue lagi. Kecuali kalo buat kesaksian aja hehe. Karena Dia udah taruh in my heart, my life testimony is to open up so many secrets out there. Yg Iblis tutup2in. Yg Iblis bilang, kamu ga bakalan bisa punya pernikahan yg kudus nantinya, godly husband, godly marriage. He can only lie, ladies!!! The truth is kemurahan Tuhan itu cukup untuk smua dosa-dosamu. Emang kita bayar harga of our past sins. Emang menyakitkan melewati proses pembersihan Tuhan. You know a story of a pearl kan ya? (cocok nih ama judul majalahnya wkwk). Pearl kan aslinya kotor, penuh kotoran2 ga jelas. Harus dipoles, dikikis, sampe bener2 keliatan sinarnya. 

Sama kayak kita. Kita yg aslinya kotor, Tuhan terima apa adanya. Tapi Dia ga akan biarin kamu kayak gitu aja. Dia akan poles, akan kikis smua kotoran yang ada di dalammu. Sakit emang, but it is NECESSARY. Karena Dia udah liat hargamu yg sebenernya. Dia tau your true value. Tapi karena sudah ditutupin kotoran, kamu atau orang lain ga bisa liat itu. Only He can. So you have to let Him work kikis2 sana sini hehe. Emang kadang2 kita complain kalo diproses Tuhan. Believe me, gue diproses luar biasa sakitnya ama Tuhan karena Dia tau gue banyak kotoran di dalam, tapi at the end, it is all worth it! 

Gimana gue bisa come to this point? Lepas dari masa lalu, being restored, sampe merit ama godly man yg dari Tuhan and dikaruniai Aiden, our macho little man.

Bener2 jatuh cinta ama Jesus. Ngerasain betapa Dia sayaaaaanggg bgt ama gue. Sampe gue bener2 content and satisfied in Him alone. Gue ga perlu cari2 kasih sayang or approval from other people, especially man. Karena ga ada cowo yg bisa segagah and semacho my Jesus yg love me sampe segitunyaaaaa gitu loooohh. He is my Knight in shining armour. Rescued me again and again. Pursued me sampe gue klepek2 hehe. 

Dipenuhi Roh Kudus setiap hari. Lama2 gue ngerasa jijik ama dosa, and Roh Kudus beri kemampuan untuk lepasin dosa-dosa pornografi dan masturbasi. 

Ambil keputusan untuk tidak jatuh dalam self pity. Never entertain!!! Skali pikiran self pity keluar, langsung teking jauh2. Encounter/perangi dengan Firman Tuhan. Saat self pity bilang, “ah kamu mah udah rusak, ga virgin, emang ada gitu cowo yg mao sama kamu?” Tendang tuh Iblis jauh2 dengan Firman Tuhan yg bilang, “Tuhan sudah membersihkan aku seperti salju, tidak bercela. Urusan cowo mao ga ama gue, Tuhan pasti mempunyai a great wonderful plan for me. Until that day comes, I will pursue my God, my lover and I will pursue Him until I know that He is enough for me. Ga peduli mao ada cowo or not in my life.” Wkwkw. Emang harus begitu. I will ask you a question. Gimana kalo ternyata Tuhan emang mau kamu single slama2nya, just being with Him alone? Apakah itu menyakitkan? Until you say YES LORD, it doesn’t matter anymore if there is a guy for me or not! And you said that bukan karena kepaitan sama cowo, tapi you are truly satisfied with His love. Maksud gue, your heart will have to be truly fulfilled by Him, otherwise nanti kalo kamu jalan lagi sama cowo, bisa jatuh ke dosa yg sama karena kalian bisa compromise since you love each other. Tapi kalo cintamu ke Tuhan lebih kuat, you can stand firm, dan ga mau deket2 dosa because you don’t want to hurt His feeling. 

Say enough is ENOUGH! No more compromise, no more ‘ya udah lah ga papa, skali ini aja’. 

Do whatever it takes to take you away from that sin. Misalnya, kamu sama cowo mu jatuh dalam sex. Mbok ya jangan berduaan dikamar. Udah tau pasti ada godaan2 dan listrik2 yg mematikan. Jgn ada kesempatan untuk berduaan ditempet sepi dll. 

Hiduplah di komunitas iman yang kuat. Yang bisa membangun dan menguatkan kamu untuk terus maju. But you can’t always depend on people. Jangan sebentar2 cari orang buat dicurhatin. Abis terima advice, jadi lega. Tapi biasanya itu ga tahan lama karena kamu jadi terbiasa cari orang2 buat dicurhatin. Larilah ke Tuhan terlebih dahulu. Let Him deal with you alone. Tuhan saat itu bawa gue ke dalam moment2 sendiri yg sangat sepi. Ga punya temen etc etc karena gue pindah ke Singapore kan. But at that moment, gue tau gue deal sama Tuhan alone. Gue ga bisa cari sapa2 buat curhat, only He was there for me. Disitulah gue dipenuhi ama Dia, sampe gue dapet that He is enough for me. But selain itu, a mentor is also important. Someone to guide you and correct u. Harus sesama jenis ya. :) Ampuni diri sendiri, your past, your ex, your bf, or siapa aja yg sudah pernah merusak dirimu. When you forgive, ada kuasa restorasi dari Tuhan turun ke hatimu. Confess your sins to your spiritual leaders. Healing starts when you confess. 

Terus menerus pegang Firman Tuhan ttg siapa dirimu di dalam Dia. 

Must understand that love itu bukan sex. Maksud gue, banyak cewe yg salah mengira love = sex. Saat kita berhubungan seks dengan cowo kita, kita merasa being loved, being wanted, being special. Di hug, di cium dll. Waktu gue punya sexual relationship ama ‘cowo gue’ tadi, I thought I was expressing my love to him by giving him my body. And I thought, karena kita punya sexual relationship, gue kira dia sayang/love gue makanya mau tidur sama gue. The painful truth is when someone has sex with you, doesn’t mean he loves u. 

Focus on finding out your calling. Disitu you will find what His great plan for u. Jadi kamu akan fokus building yourself up, daripada mikir2 masa lalu yg ga jelas dan ga ada gunanya. 

Yah setelah melalui semua itu, gue akhirnya lepas. Now, gue ga bisa ngebayangin dulu itu gue kayak begitu. Bener2 bedaaaaa bgt ya sekarang. Apalagi kalo mikir2, wah bisa merit with such a godly man, punya baby boy yg luar biasa, yg kalo nangis jadi diem kalo didoain or dibacain Firman wwkwkwk. Ini semua bener2 beyond my imagination and thoughts! Waktu kita menikah, ayat yg Tuhan kasih ke kita adalah: 

Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."
(1 Korintus 2:9)

So true!!! 

And the past is the past. Tuhan sanggup menjadikan segala sesuatunya menjadi indah. Memutarbalikkan kutuk menjadi berkat. Iblis bermaksud untuk merusak dan menghancurkan, tapi Tuhan, with His power of restoration (tanpa syarat. It’s already yours.), mengubah my shame menjadi my victory. Gue ga ada problem dengan ceritain ini semua karena itulah yg Tuhan mao dari gue dan my past udah ga ada efeknya sama gue. Sexual sins banyak yg ditutupi karena memalukan. Tuhan mao kita bongkar semua itu, karena smakin dosa ditutup2in, smakin berkuasa Iblis atas dosa kita. I don’t ask you to bongkar2 your secret kemana-mana hehe. But saat kamu sudah bisa lepas dari smua ini, maybe u can testify too, in your own way. Karena Iblis dikalahkan dengan kesaksian hidup kita. 

Kalo gue bisa lepas, kalian juga pasti bisa! With the power of God, of coz!

Monday, March 12, 2018

Blood Covenant and Virginity



by Nelly

Bagaimana kalo kamu sudah kehilangan keperawananmu sebelum menikah?

Tulisan ini terdapat di majalah pearl edisi no.10 :)


Nah setelah gue ketemu Jesus dan bertobat di taon 2002, gue beberapa kali kesaksian tentang masa lalu gue yang seks bebas. Jadi sebenernya udah ada beberapa orang yang tahu. Semakin gue mendalami Tuhan, semakin gue menggebu-gebu kesaksian soal itu. Jadi smakin banyak orang yang tau hehe. Dan salah satunya adalah calon suami gue (call him G). Saat itu kita masih baru aja kenal di taon 2006, dan bisa dibilang di pertemuan kita ke empat kalinya, gue udah bersaksi di depan dia dan satu anak youth cewe hehe. Saat itu gue tau gue sedang direstorasi sama Tuhan dan mengalami pemulihan, jadi untuk bersaksi bahwa gue dulu terlibat free sex (berarti udah ga perawan) itu sepertinya ga ada masalah sama gue.

Namun ternyata luka lama bisa terkuak kembali. Tahun 2007, gue pegi misi ke salah satu desa di Indonesia. Saat itu pelayanan gue adalah Love, Sex and Dating seminar. Dan gue bersaksi di depan anak-anak muda. Dan waktu salah satu dari kita bertanya pada mereka, “Maunya punya cewe perawan apa ga perawan?”, Ada salah satu cowo yang dateng, bilang, “Tentu aja mao yang perawan. Yang udah ga perawan kan berarti udah bekas.” Perkataan itu ternyata menyakitkan sekali buat gue. I thought I had already passed that, udah recovered etc. Tapi to my surprise, hati gue masih terluka denger itu. Seharian gue nangis dan nangis. But slowly God mengobati hati gue and menguatkan gue lagi.

Selama beberapa bulan kemudian, Tuhan terus membawa dan membukakan panggilan gue. Smakin kelihat kalo Tuhan mao gunain gue terus menekuni panggilan gue di anak-anak muda, terutama tentang Love, Sex and Dating. Gue hanya focus mengejar panggilan di bidang misi saat itu. Dan bagian tentang keperawanan gue, gue sudah kubur dalam-dalam. Yang gue tau dan gue pegang, Tuhan udah restorasi total. Jadi gue udah ga pernah pikirin sama skali tentang keperawanan.

Nah pada suatu hari, selama tiga hari berturut- turut, gue diingetin tentang my sexual past. Gue hanya bisa nangis dan nangis dan meminta maaf, padahal dulu udah pernah minta maaf ama Tuhan, tapi ga tau kenapa saat itu dibuka lebih dalam lagi sama Tuhan, the weight of my sin. Tapi Tuhan berjanji saat itu sama gue, that He would restore everything as new. Pas gue lagi mandi, gue liat my blood (maaf), darah menstruasi gue ngalir. And tiba-tiba terbersit kata-kata ‘blood covenant’ (ikatan perjanjian darah). Gue langsung terasa ‘jleb’ karena gue udah ga ada. In marriage, persatuan tubuh suami istri dilambangkan dengan tumpahnya darah keperawanan. Di Alkitab, the strongest covenant between human and God, always involved blood. Through animal sacrifice. Saat Tuhan membuat covenant dengan manusia to save mankind from eternal sin, He used Jesus’ blood. God uses Blood to symbolize covenant in many examples. Even in marriage. 

Ever wonder why kok Tuhan kasih yang namanya keperawanan? Dan kita cewe-cewe bisa berdarah di malam perkawinan? Tuhan mao symbolize persatuan kita sebagai husband and wife dengan pertumpahan darah. Maka itu seks adalah hubungan sangat-sangat kudus yang diberi Tuhan. Ikatan perjanjian antara suami istri di depan Tuhan. Bersatu menjadi satu tubuh, jiwa dan roh. It is called Blood Covenant. Itu adalah perjanjian seumur idup. 

Thats why when we had sex before marriage, kita berdosa karena menodai sesuatu yang kudus, perjanjian antara laki-laki dan wanita untuk seumur hidup (belon tentu kan dikau bakal merit ama cowo itu) dan membuatnya menjadi kutuk. Bisa Aids lah, penyakit kelamin lah, dan meskipun ga sampe kena penyakit kelamin, itu bisa berdampak ke perkawinan kita nanti.

Nah waktu kata ’Blood Covenant’ itu tiba-tiba terbersit di pikiran gue pas liat my menstrual blood, gue jadi sedihhhhhhh bgt. Karena gue udah ga ada. I won’t have any blood covenant with my future husband. Pas gue sadar itu, gue nangis. Tapi Tuhan bilang sangat lembut... “My grace is enough for you...“ and Tuhan bukain tentang pengorbanan Jesus for me. Karena itulah DARAH YESUS DITUMPAHKAN. 

For me.

Gue ga bisa menumpahkan darah keperawanan lagi, but thats why Jesus shed His blood for me. To cover my sins. And His blood is enough to cover EVERYTHING. Karena gue udah kehilangan blood covenant in marriage, Jesus udah tebus itu dengan darah-Nya. Darah Yesus itu cukup untuk my covenant nanti ama calon suami. Waktu gue dapat revelation itu, gue udah dikuduskan, disucikan dan diperbarui, darah Yesus itu cukup, bahwa darah ditebus dengan Darah, hati gue jadi tenangggggg banget. 

Nah saat ini adalah saat dimana gue lagi bener-bener doain pasangan idup, alias G. Ga kebetulan Tuhan buka lagi tentang my keperawanan, He wanted me to deal with it sebelum gue masuk perkawinan. Karena yes, this is a major issue. Harus deal with it way before marriage. Karena kalo ditutup-tutupin akan ada masalah yang timbul nantinya. 

Setelah melalui masa-masa itu dan pergumulan mendoakan G selama 3 taon, skarang gue udah menikah sama G selama dua taon. Gue kmaren ngobrol sama dia about this article. Dan tim redaksi pingin tau sisi cowo itu gimana kalo tau cewenya ga perawan lagi. Ini adalah hasil dari our discussion... 

1. Cowo yang di dalam Tuhan akan lebih mudah menerima cewenya yang udah ga perawan. Tapi dia harus benar-benar di dalam Tuhan, bukan cuma Kristen KTP. Kalo dia ngerti yang namanya kasih karunia Tuhan, dan bahwa kita semua adalah orang yang berdosa, termasuk dia, but yet Tuhan masih mengampuni. Cowonya akan menerima si cewe dan mengampuni masa lalu cewenya. Cowo itu akan meneruskan kasih karunia dari Tuhan buat sang cewe. (Red: Bisa baca buku Joshua Harris Boy Meets Girl, di situ ada pergumulan Joshua untuk menerima calon istrinya yang sudah ga perawan lagi. Yah that’s hard but God helped him through it)

2. Nah cowo yang ga di dalem Tuhan ini yang repot. Akan susah menerima. Mungkin juga dia Ok-ok aja, but ini akan jadi masalah nanti di perkawinan. Bisa membanding-bandingkan hubungan intim saat kalian udah menikah, dengan pasanganmu yang dulu. Meskipun ga ngomong, hal itu bisa dipendem di hatinya. Dia bisa aja menjadi menuntut banyak hal dalam perkawinan, karena dia merasa dia ‘lebih’. Bisa juga mengungkit-ungkit masa lalu. Selingkuh karena ga puas dll.

Nah kalo dari sisi G, gimana reaksi dia saat dia tau kalo pasangannya dah ga perawan? Sebenernya G sendiri masa lalunya berantakan juga. Hampir juga jadi gigolo wkwkkwwk. Akhirnya dia bertobat dan fokus melayani Tuhan. 

G pernah pacaran sama satu cewe, sama-sama pelayanan di gereja. Dan cewe ini cantik bgt, idola para cowo-cowo dan juga rohaninya bagus, sempat masuk Miss Indonesia lagi wkwkw. Si G sempet nanya sama Tuhan, kenapa kok dia bisa sama si cewe cantik ini padahal masa lalu G jelek abis. Dia heran aja kenapa bisa dapet sesuatu yang bagus. Nah Tuhan bilang sama dia , karena dulunya G itu rusak banget, dia ga bisa appreciate woman’s beauty. Dia bisa ngerusak wanita dengan gitu gampang, and bisa nelanjangin wanita dengan matanya. Nah waktu G jadian ama cewe cantik ini, Tuhan bilang that G now could learn how to appreciate God’s beauty for woman. Mereka pacaran selama 2 taon. Dan karena beberapa hal, mereka akhirnya putus baik-baik. 

Kira-kira 2 taon kemudian, Tuhan bilang sama dia kalo gue itu buat dia dari Tuhan. G sempet protes dan ga mao sama gue, karena kok sekarang dikasih yang sama-sama rusak backgroundnya? Bukannya dulu, waktu pacaran sama cewe cantik itu, Tuhan mao ajarin dia tentang appreciate woman’s beauty. But Tuhan terus meneguhkan bahwa gue emang buat dia. And after so much struggle, confirmation and dihancurin Tuhan selama 2 tahun itu, akhirnya G mao tunduk hehe. Dan Tuhan pelan- pelan menumbuhkan rasa cinta G buat gue, no matter what my past was. Tuhan juga ingetin G tentang kasih karunia. Tuhan udah memulihkan G dan membuatnya jadi baru, dan Tuhan juga lakukan hal yang sama buat gue. So akhirnya G udah ga ada masalah lagi dengan masa lalu gue karena Tuhan sudah berbicara.

So girls, kalau pacarmu itu bener-bener sudah di dalam Tuhan dan sudah menerima kasih karunia Tuhan (sekali lagi bukan cuman sekedar Kristen dan pelayanan), Tuhan bisa bicara sendiri padanya dan mengubah hatinya. And it’s much much much MUCH better to confess to our boyfriend lonngggg wayyy before merit. Jangan confess pas waktu kalian udah mao merit besoknya gitu. Itu mah terlalu nyerempet wkwkwk. Emang GA GAMPANG untuk ngaku. That’s why u really need to know and dig deeper about who u are in God. Saat kamu secure and aman dalam Tuhan, kamu akan mendapatkan kekuatan extra untuk mengaku.

Waktu gue kesaksian gue udah ga perawan dll ke depan anak-anak muda dan sekolah-sekolah, yang jumlahnya bisa sampe 800 students dalam satu aula, of coz gue gemeteran. Di desa and kota-kota kecil di Indo lagi. Yang tentunya hal begini masih tabu. Apalagi gue belon merit and masih single. But what made me keep going on ya karena the big burden in my heart to share how God rescued me and healed me, gave me second chance. Itu yang bikin gue maju dan meskipun jatuh bangun, gue bisa bangkit lagi karena Tuhan kasih extra kekuatan. And He gave me a purpose. And hasilnya adalah ga sedikit anak-anak cewe (students2) itu dateng ke kita2 para missionaris dan minta didoakan, ada yang slama ini memendam rahasia kalo dia waktu kecil udah diperkosa dan ga ada satu pun yang tau, ada yang dilecehkan sama cowonya dll. Dan saat mereka mengaku, mereka mengalami pelepasan.

What I’m saying is, rahasia dosa yang kamu simpan, lama- lama akan menjadi busuk. If u don’t confess that kamu udah ga perawan sama ur pasangan, rahasia ini akan menyerang balik kamu. Dalam perkawinanmu nanti, atau dalam hubunganmu yang sekarang. Kamu ngerasa takut kalo ketahuan, so ur relationship now ada sesuatu yang disembunyikan, ga tulus, ga bebas dalam Tuhan. Nanti ini bisa dibawa sampai ke perkawinan. Akan terus menggegorotimu dari dalam.

Kalo kamu mengaku, akan terjadi kelepasan yang luar biasa di hati. But u have to be ready with the consequences. Apakah kamu siap bayar harga? Bagaimana kalo cowomu bakal ninggalin kamu? To be able to do all these, u have to be really secure in God and mendapatkan kekuatan dari Dia. Kuatkan dirimu dulu dalam Tuhan, He will never fail u. He will give you strength. And misalnya cowo mu meninggalkan kamu, kamu masih bisa berdiri karena kamu tahu Tuhan masih sayang kamu no matter what. Dan Tuhan will give you the best. Dia rindu memberi kamu yang terbaik. Apakah Tuhan adalah segala- galanya bagimu? Or cowo mu adalah segala-galanya bagimu? Or maybe cowo ini bukan dari Tuhan? Kasarnya... praise God, kamu dibukain sekarang, daripada nanti sudah menikah, malah banyak masalah :) Kalo sudah menikah, u can’t go back. Jangan sesali nanti waktu sudah menikah.

Yang gue yakin banget, kalo dari Tuhan, cowo mu ga bakalan pegi jauh-jauh. Tuhan pasti bisa ngomong sama dia. (Red: Ingat cerita Maria dan Yusuf orang tua Yesus? Yusuf sudah hampir menceraikan Maria, tapi Tuhan sendiri campur tangan dan menyakinkan Yusuf) Tuhan juga pasti bisa memulihkan hatinya. 

Nah gimana kalo cowonya ga didalam Tuhan? Alias belon lahir baru dll. Yah tetep aja kamu harus confess. Kalo dia meninggalkan kamu, don’t be sad. Jesus has redeemed u and make you HIS LOVER. He is the greatest lover a woman can ever have. Cowo bisa ninggalin kamu, Jesus will not. Belajarlah to put Him above everything else. Kehilangan cowomu akan terasa lebih ringan waktu kamu tahu kamu lakuin semua ini for Him. And He honors that. 

Before confessing, u just need to strengthen your heart and said to God, ‘”Please help me to be ready“. Jangan ngomong terus ke hati kamu ‘aduh, gue ga mao deh ngaku. Ga bakal ngaku. Gue pendem terussss’. Kalo kamu ngomong gitu terus ya susah. Harus belajar buka hati untuk mengaku. Nanti juga Tuhan akan menguatkan.

When u are really secured in His love and know that He is with you no matter what, you will be ready to let your boyfriend go. No matter he will leave you or not, God is still good and you can still praise Him. You put Him above your guy. :) 

The most important thing is, are you willing to surrender to His will? When u said u trust Him, do you really trust Him? 

Don’t be sad kalo kamu udah kehilangan keperawanan kamu. Tuhan sudah restorasi total. You are a brand new woman, full of His grace and mercy. Saat kamu dalam Tuhan, Dia sedang mempercantik kamu luar dalam... and trust me, one day a godly man will come and notice you :) Kalo dia ga notice pun, Tuhan bakal templak and bikin dia notice... HAHAHA seperti kisah gue and my husband :) 


———-

For those who are still perawan, be proud in saving your virginity for your wedding night. Biarin aja kalo dunia bilang bego kenapa nyimpen perawan sampe merit. Forgive them Lord as they don’t know what they are doing...

Saturday, March 10, 2018

Pelecehan Seksual dalam Alkitab




Oleh Mekar Andaryani Pradipta

Baru-baru ini, lebih dari 300 aktris, penulis skenario dan sutradara di Hollywood ikut serta dalam gerakan Time’s Up. Kampanye ini adalah usaha untuk memerangi pelecehan seksual yang kerap terjadi di dunia kerja, terutama di dunia hiburan. Kemunculan Time’s Up dipicu oleh dari beberapa aktris mengenai pelecehan seksual yang dilakukan oleh produser film Harvey Weinstein.

Pelecehan seksual memang bukan topik yang kerap dibahas secara terbuka. Para korban Harvey Weinstein pun butuh waktu bertahun-tahun sampai mereka punya keberanian untuk bicara. Pada akhir 2017 yang lalu, hashtag #MeToo muncul di Twitter untuk mendorong korban pelecehan seksual membagikan apa yang mereka alami. Tidak hanya itu, majalah Time edisi Desember 2017 memuat profil tokoh-tokoh yang berbicara melawan pelecehan seksual, menjuluki mereka sebagai “the Silence Breakers” dan mengangkatnya sebagai Person of the Year 2017.

Kondisi dan gerakan sosial seperti ini seharusnya juga masuk dalam radar gereja, jika memang gereja ingin menjadi jawaban yang dibutuhkan dunia. Di Indonesia sendiri misalnya, survey yang dilakukan oleh Komnas Perempuan menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Pada tahun 2014, tercatat 4.475 kasus, di tahun 2015 tercatat 6.499 kasus dan tahun 2016 telah terjadi 5.785 kasus. Tentu saja jumlah ini hanyalah puncak dari gunung es, karena tidak semua kasus pelecehan seksual dilaporkan ataupun diketahui.

Kondisi ini mungkin membuat kita bertanya, dimana peran gereja? seberapa sering topik ini dibahas di dalam gereja? Seberapa kuat gereja memperlengkapi diri untuk menjadi pelayan para korban pelecehan seksual? Tentu hal ini menjadi bahan renungan yang relevan saat ini.

***

Jika kita amati, Alkitab setidaknya pernah menceritakan tiga peristiwa pelecehan seksual, semuanya adalah pemerkosaan. Kita mungkin pernah membaca tiga peristiwa ini: pemerkosaan Dina anak perempuan Yakub (Kejadian 34:1-31); pemerkosaan Tamar oleh Abnon (II Sam 13:1-39); dan pemerkosaan gundik seorang Lewi oleh penduduk kota (Hakim-Hakim 40:1-30). Kejadian yang disebut terakhir bahkan membuat korbannya meninggal. Seram? Banget. 

Tapi sebelum kita membahas tiga peristiwa itu, ada baiknya kita bahas dulu mengenai seks dan pelecehan seksual dalam perspektif Alkitab. 

Allah menciptakan seks sebagai suatu hal yang baik, untuk tujuan yang baik. Untuk itu, Allah memberikan rambu-rambu yang jelas, yaitu pernikahan. Tidak berhenti sampai disitu, Allah juga mengatur kehidupan seks di dalam pernikahan. Dalam  Efesus 5:25 dan 28, Ia menginginkan agar para suami mengasihi istrinya dan tidak berlaku kasar, tentu saja termasuk dalam hal melakukan hubungan seks. Sementara, bagi para istri, Allah menginginkan hubungan seks dilakukan dalam penundukan diri dan penghormatan kepada suami (Efesus 5:22). Selain itu, prinsip lain yang Tuhan perintahkan adalah agar seks di dalam pernikahan dilakukan atas dasar kerelaan, karena tubuh para istri bukan lagi miliknya sendiri, melainkan milik suaminya, dan demikian pula sebaliknya.

Unsur kerelaan inilah yang menjadi faktor penting untuk mengidentifikasi pelecehan seksual. Kegiatan bersifat seksual, yang dilakukan tanpa persetujuan adalah sebuah bentuk pelecehan. 

Nah, kembali kepada tiga cerita pelecehan seksual di Alkitab, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari:

1. Setiap kasus pelecehan seksual berbeda.
Pelecehan seksual tidak bisa disamaratakan. Masing-masing memiliki sebab dan kondisi yang berbeda. Akibat yang ditimbulkan kepada korban maupun reaksi pelaku juga berbeda. Dalam kasus Dina, misalnya, Sikhem sebagai pemerkosa justru menenangkan Dina dan bersedia mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara, Amnon benci kepada Tamar setelah melakukan pemerkosaan kepada Tamar. 

Prinsip ini menolong kita memiliki pendekatan personal saat dihadapkan dengan orang-orang yang terlibat dalam pelecehan seksual, baik itu korban, pelaku, atau orang-orang yang dekat dengan mereka. Jalan keluar yang nampak lumrah, seperti menikahkan pelaku dan korban pemerkosaan, tidak bisa semudah itu diterapkan. Tidak semua korban seperti Tamar yang bersedia, bahkan meminta, untuk dinikahi oleh pemerkosanya. Tidak semua pemerkosa seperti Sikhem yang mau bertanggung jawab menikahi korbannya.

2. Hindari menyalahkan korban.
Korban pelecehan seksual sering kali tidak mengungkapkan apa yang dia alami, karena takut menjadi pihak yang disalahkan. Misalnya saja, pelecehan dianggap terjadi karena korban dianggap memakai baju yang terlalu minim. Atau, dalam kasus Dina, Dina bisa disalahkan karena keluyuran atau bergaul terlalu bebas. Dalam beberapa kasus, korban memang membuka celah, namun bagaimanapun, tindakan menyalahkan tidak akan  membantu korban.

Selain itu, tindakan menyalahkan ini akan semakin menyakiti korban, jika ia menjadi korban pelecehan seksual karena perbuatan orang lain. Misalnya seperti kasus gundik orang Lewi. Ia mengalami pelecehan seksual karena diserahkan oleh suaminya kepada orang-orang kota. Kita pasti pernah membaca tentang perempuan yang dijebak menjadi pekerja seks, atau dengan kata lain diperdagangkan untuk keuntungan orang lain. 

3. Korban perlu didorong berani berbicara.
Salah satu prinsip pemulihan yang penting adalah keterbukaan. Jika kebetulan kita seorang awam, namun menemui korban pelecehan seksual, maka hal pertama yang bisa kita lakukan adalah mendorong dia untuk terbuka pada orang lain yang bisa membantunya. Pelecehan seksual tentu saja merupakan hal yang serius karena memiliki daya rusak luar biasa, khususnya secara emosional. Beberapa kasus membutuhkan terapi atau konseling khusus, baik secara gerejawi maupun medis. Beberapa kasus juga perlu tindak lanjut secara hukum, seperti membuat laporan ke kepolisian atau mengajukan tuntutan ke pengadilan.

4. Fokus pada pemulihan, bukan balas dendam.
Pemerkosaan Dina dan Tamar berujung sama, yaitu balas dendam. Kakak-kakak Dina membunuh Sikhem dan semua laki-laki di tempat dia tinggal. Balas dendam membuat anak-anak Yakub jatuh dalam dosa pembunuhan. Yakub sendiri mengatakan bahwa perbuatan balas dendam itu telah mencelakakannya dan membusukkan namanya. Padahal sebenarnya, ayah Sikhem telah melamar Dina sebagai bentuk tanggung jawabnya. 

Pemulihan memang  tidak mudah, dan balas dendam tidak punya kontribusi apapun pada pemulihan di dalam Tuhan. Firman Tuhan mengatakan bahwa balas dendam adalah hak-Nya (Roma 12:19). Hukuman kepada pelaku seharusnya dilakukan dalam koridor hukum, oleh otoritas yang berwenang.



Keempat prinsip tadi setidaknya bisa menjadi pegangan dasar kita memahami perspektif Firman Tuhan tentang pelecehan seksual. Pearl mendorong teman-teman untuk membaca sendiri tiga kisah pelecehan seksual di Alkitab tadi. Kalau ada prinsip lain yang teman-teman dapatkan, please share ya di kolom komen, supaya teman-teman yang lain juga semakin diperlengkapi

Nah, kembali ke pertanyaan di awal artikel ini: dimana peran gereja? seberapa sering topik ini dibahas di dalam gereja? Seberapa kuat gereja memperlengkapi diri untuk menjadi pelayan para korban pelecehan seksual? Butuh pendalaman untuk menjawabnya, karena jika gereja ingin menjadi jawaban bagi pemulihan korban-korban pelecehan seksual, maka gereja tidak bisa lagi mengambil jarak. Semua bermula dari masing-masing orang percaya, untuk mulai belajar dan memperlengkapi diri. 

Lalu, pesan apa yang akan gereja bawa saat bicara tentang pelecehan seksual? Jawabannya jelas: pemulihan tersedia di dalam Kristus Yesus, baik bagi korban dan pelaku.  

“Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu.” (Yoel 2:25)

Ayat ini biasanya dipakai dalam konteks keuangan, tapi Firman Tuhan jelas: Yesus sanggup mengubah kondisi yang buruk menjadi baik. Dia sanggup menyembuhkan luka hati arena pelecehan. Dia sanggup membuang perasaan bersalah dan tidak berharga, menggantikannya dengan perasaan dicintai yang melimpah. Dia sanggup memampukan korban pelecehan mengampuni pelaku dengan kasih dari Allah. Dari perspektif pelaku, pelaku memiliki jaminan pengampunan dosa di dalam Yesus, karena bagaimanapun dosanya telah ditanggung di kayu salib. Yesus juga sanggup mencabut akar dosa yang membuat dia melakukan kejahatan, termasuk tidak memiliki pandangan yang benar terhadap lawan jenis

Beberapa orang memang butuh waktu untuk memberikan respon benar dan mengalami kesembuhan, tapi pesannya jelas: di dalam Yesus, selalu ada harapan*. 

Sudah saatnya gereja membuka mata.

God bless. 




* Pembahasan mengenai pemulihan ini akan dibahas dalam wawancara dengan Psikolog Kristen di artikel selanjutnya.