Showing posts with label Marriage. Show all posts
Showing posts with label Marriage. Show all posts

Monday, March 1, 2021

Wanita Ideal versi Alkitab




by Yunie Sutanto

Ada seorang remaja bermimpi menjadi gadis sampul. Setelah mencari tahu syaratnya, ia urungkan niat itu. Ia cukup sadar diri untuk tak meneruskan mimpi tersebut. Mau tahu apa saja syaratnya? Daftar ini diambil dari majalah langganannya:

● Wanita, WNI, berusia 18-25 tahun
● Pendidikan minimal lulus SMA
● Fotogenik
● Memiliki kulit mulus, gigi rapi, dan rambut sehat
● Bertubuh bugar dan proporsional
● Tinggi minimum 165 cm
● Cerdas dan berkepribadian menarik

Sayangnya tidak semua persyaratan tersebut bisa terpenuhi. Hanya gadis dengan atribut fisik ideal yang bisa ikutan. Kepribadiannya pun harus menarik. Padahal si gadis itu bukanlah wanita yang mudah bergaya bebas untuk dipotret, wajahnya berjerawat di sana-sini, bahkan kecerdasannya mungkin tidak seideal yang diharapkan. Dengan kriteria-kriteria tersebut, si gadis merasa bahwa dirinya jelas tak masuk hitungan.

Singkat cerita, masa ababilnya telah berlalu. Ketika dirinya mulai menjalani peran sebagai istri dan ibu, si gadis yang menjadi dewasa itu merenungkan Amsal 31:10-31 yang merupakan sebuah puisi akrostik berisi puji- pujian untuk wanita yang saleh:

● Istri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. 
● Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. 
● Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. 
● Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya. 
● Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya. 
● Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan. 
● Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya. 
● Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. 
● Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam. 
● Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal. 
● Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin. 
● Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap. 
● Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya. 
● Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri. 
● Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang. 
● Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. 
● Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. 
● Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya. 
● Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: 
● Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua. 
● Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji. 
● Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang! 

Perikop mengenai wanita yang tertuang dalam Alkitab itu membuat serangkaian pertanyaan memberondong pikiran si gadis:

1. Apakah Amsal 31 merupakan serangkaian checklist untuk menjadi wanita saleh? 

Jika untuk menjadi wanita saleh harus melakoni semua checklist di atas, tidak semua orang sanggup, dong! Sangat langka—bahkan nihil—orang-orang yang bisa melakoninya dengan sempurna. Namun kabar baiknya, Tuhan Yesus tahu kesanggupan kita. Dia melihat kedalaman hati kita melebihi yang tampak di luaran. Well, terlihat saleh dan sungguh-sungguh saleh itu dua hal yang berbeda, kan?

Sebagai contoh, Marta yang sibuk bekerja dengan tangannya mungkin terlihat sebagai pribadi yang lebih bertanggung jawab daripada Maria yang duduk santai di kaki-Nya. Marta lebih mirip figur wanita saleh Amsal 31 yang produktif di dapur, bahkan bisa dikatakan si nyonya rumah serba bisa! Sebaliknya, Maria bisa dianggap wanita malas, tidak peka dan cuek. Bukannya membantu Marta menjamu para tamu dengan menghidangkan makanan dan sebagainya, Maria justru memilih duduk bersama Tuhan Yesus. Padahal Dia juga datang bersama dengan (setidaknya) para murid-Nya. Tentu menyediakan hidangan dan melayani mereka bukanlah perkara yang bisa dilakukan dengan cepat oleh satu orang saja. Mungkin itulah yang membuat Marta kesal dan meminta Tuhan Yesus “membela” dirinya yang sudah berusaha memberikan yang terbaik bagi-Nya dan tamu-tamu lainnya. Uniknya, respon-Nya dalam Lukas 10:40-42 (TB) ternyata tidak menyalahkan Maria: 

... sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Hati orang yang fokusnya berpusat pada Kristus tidak merasa pusing dengan citra dirinya. Apapun kata orang tentang dirinya, ia merasa aman dan memprioritaskan apa yang terutama. Satu-satunya yang dirindukan hatinya hanya kemelekatan dan keserupaan kepada Kristus saja; bukan seberapa hebat dirinya di mata dunia yang jadi fokus utamanya, tetapi seberapa dirinya bisa memuliakan Allah lewat segenap tindakannya. Setiap tindakan apapun yang hanya sebatas ritual demi memenuhi checklist semata tentu kehilangan esensi spiritualnya. Nah, mungkin Maria tidak terlihat sesaleh Marta dari tampak luar, tetapi Tuhan Yesus mengetahui kedalaman hatinya, motivasinya dalam menjamu diri-Nya dengan cara yang berbeda. Jika mengaitkannya dengan tindakan Maria, Amsal 31 adalah buah kehidupan yang nampak secara otomatis saat seorang wanita tenggelam dalam rencana Allah, sebuah gambaran wanita yang memiliki rasa takut akan Allah dan menyatakannya secara konkret. Saat hati kita tenggelam dalam rencana illahi, dengan sendirinya kualitas-kualitas di checklist Amsal 31 akan bermunculan dalam diri, bukan hasil kekuatan diri sendiri agar nampak saleh. Tentunya hal itu hanya bisa terjadi jika kita sungguh-sungguh menyadari ada buah pertobatan yang digerakkan oleh Roh Kudus, karena tanpa pertolongan-Nya kita yang berdosa ini tidak akan bisa menangkap kerinduan Tuhan dan taat pada-Nya.

Menjadi wanita yang takut akan Tuhan itu bukan soal tampilan luar semata, melainkan pada kerelaan untuk memiliki teachable heart terhadap diri-Nya dan mendasarinya dalam semua aspek kehidupan kita.


2. Apakah nasihat di dalam Amsal 31 ini masih relevan untuk generasi ini?

Pearlians, sebagai wanita yang terlahir dalam generasi X, generasi Y (generasi milenial) dan generasi Z, kita kian hari semakin akrab dengan dunia maya. Banyak hal yang bisa diraih wanita zaman now ini—yang pada era Perjanjian Lama itu mustahil dilakukan. Salah satunya adalah dengan adanya kesetaraan gender yang membuka banyak pintu kesempatan untuk wanita; kita hidup di “zaman anugerah” bagi kaum hawa!

Jika demikian, apakah pesan Tuhan dalam Amsal 31 masih relevan berbicara kepada wanita-wanita di generasi kita? Tentu! Pesan yang terkandung di dalamnya melintas zaman dan ruang!

Sebagai wanita yang takut akan Tuhan, kita senantiasa rindu memuliakan-Nya, seperti ungkapan hati Daud dalam Mazmur 145:3-4 (TB) ini:

Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu.

Angkatan demi angkatan akan memuliakan Tuhan, generasi demi generasi yang mengenal Allahnya memiliki kerinduan yang sama: memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya (Shorter Westminster Catechism). Lewat kehidupan kita sebagai wanita yang maksimal dalam Kristus, terang-Nya dinyatakan! See? Meskipun zaman telah berubah drastis, namun sebagai wanita generasi X (termasuk baby boomers), generasi Y, dan generasi Z, kita bisa tetap berkaca pada wanita Amsal 31 ini dan tetap memuliakan Allah melalui konteks apapun yang Dia percayakan bagi kita.


3. Sebetulnya apa sih, tujuan Allah menciptakan wanita?

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Kejadian 1:27 (TB)

Tahukah Pearlians alasan di balik penciptaan Hawa setelah Adam? Salah satu alasannya karena Allah ingin Adam memiliki kesadaran bahwa dia tidak bisa hidup seorang diri. Meskipun pemberian nama yang Adam lakukan menyimbolkan kekuasaannya, namun sebenarnya Allah ingin agar Adam menjadikan Hawa sebagai rekan sekerjanya dalam kasih karunia Allah. Itulah sebabnya kita sering mendengar pernyataan bahwa pria dan wanita (seharusnya) saling melengkapi satu sama lain. Sayangnya, kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat sistem yang telah dipandang Allah dengan sangat baik itu jadi rusak. Akibatnya, wanita diperlakukan semena-mena dan tidak dihargai sebagaimana mestinya. So ironic, but grace unites us again by Christ alone!

Nah, ketika wanita berfungsi sesuai rencana Allah, terang Tuhan dinyatakan lewat kehidupannya, dan itulah the great calling yang seharusnya juga kita responi—baik melalui studi, pekerjaan, pelayanan, pernikahan, maupun parenting yang kita terapkan. Oleh karena itu, biarlah kita bisa menjalani panggilan dengan maksimal dalam setiap fase kehidupan: sebagai wanita single, maupun sebagai istri dan ibu yang memuliakan Tuhan! Stop comparing our unique calling with others. Berlomba-lombalah berbuat baik di dalam Kristus dan selesaikanlah pertandingan iman kita sampai garis akhir! Who knows panggilan kita yang berbeda-beda ini bisa saling melengkapi dan menguatkan karena Allah menghendakinya demikian.

Kiranya kata-kata berikut menyambut kita saat menyelesaikan pertandingan iman ini:

“Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!”
Amsal 31:31

Monday, March 4, 2019

Janji Nikah Istri Ayub


by Sarah Eliana

Kalau kita baca kisah Ayub, sosok istri Ayub termasuk mungkin paling bikin kita kepikiran. Kenapa istri Ayub? Well, aku mikirin, si iblis kan dikasih ijin sama Tuhan untuk mencobai Ayub, semua boleh dihancurkan, kecuali nyawa si Ayub. Nah, si iblis betul-betul hancurin semua kepunyaan Ayub; dia bangkrut, anak-anak pun meninggal semua. Tapi, di pasal kedua ada sedikit perbincangan antara Ayub dan istrinya. Lho? Jadi, istri si Ayub gak dibunuh juga sama si iblis? Aku jadi mikir, kenapa gak? Nanggung toh? Pembantu-pembantu udah dibunuh, anak-anak dibunuh semua. Ngapain istrinya dibiarin hidup? Padahal, di pasal 2:6, Tuhan bilang begini,

Maka berkatalah TUHAN kepada Si Penggoda,
"Baiklah, lakukanlah apa saja dengan dia, asal jangan kaubunuh dia."
(Ayub 2:6)

Asal jangan kau bunuh dia… berarti sepanjang nyawa Ayub gak diotak-atik, si iblis punya ijin untuk melakukan apa saja yang dia mau, ya kan? Termasuk membunuh istri Ayub, ya kan? 

Banyak juga sih yang beranggapan kalo istri Ayub ini dibiarkan hidup karena iblis tau imannya gak sekenceng iman Ayub. Ibilis tahu kalau pada akhirnya dia akan mempengaruhi Ayub agar menjauhi Tuhan. Memang benar, seperti bisa kita lihat di pasal 2:9,

Istrinya berkata kepadanya,
"Mana bisa engkau masih tetap setia kepada Tuhan? Ayo, kutukilah Dia, lalu matilah!"
(Ayub 2:9)

Deng... deng... deng... udah nyuruh suaminya kutuk Tuhan, disuruh mati pula. *parah*

Tapi... Kalo dipikir-pikir lagi, si istrinya ini hanya sekali lho ngomong begitu. Yang ujung-ujungnya membuat hidup Ayub menderita itu teman-temannya. Istrinya gak disebut-sebut lagi. Bahkan, Alkitab mencatat saat Tuhan marah sama tiga teman Ayub, tapi tidak ada cerita Tuhan marah pada istri Ayub. Padahal, waktu Sarah menyuruh Abraham tidur dengan Hagar, budaknya, agar mendapatkan anak, Tuhan menegur Sarah. 

Nah, balik lagi ke istri Ayub, mungkin ada sebabnya dia gak dibunuh juga oleh si iblis. Inget gak waktu penciptaan Hawa, Adam ngomong gini:

"Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.
Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."

Tulang dari tulangku, daging dari dagingku. One flesh! Suami istri itu one flesh! Apa hubungannya ama istri Ayub? Tentu saja dia jelas-jelas one flesh dengan Ayub, dan iblis mengerti itu! Iblis tau gimana Tuhan sangat menghargai, menghormati, bahkan menjunjung tinggi hal ini, sehingga dia gak berani mengutak-atik hidup istri Ayub, karena membunuh istri Ayub sama aja dengan membunuh Ayub. Simply because they are one flesh!

Waktu menemukan hal ini, duh, aku merasa ditampar. Iblis aja ngerti gimana Tuhan sangat menghargai dan menghormati pernikahan. What about me? Aku kadang justru lupa! Betapa seringnya aku berpikir bahwa keluarga iparku adalah keluarga suamiku saja. Buktinya, aku masih sering bilang "your mom" atau "your niece". Akhirnya lewat Firman Tuhan tentang Ayub & istrinya, Abraham & Sarah, Adam & Hawa, aku diingatkan lagi oleh Tuhan tentang menghormati dan menghargai kesatuan dengan suami. 

Lalu, selama ini kita sering denger khotbah kalo istri Ayub tuh gak beriman. Kasarnya, dia istri tak berguna! Tapi, setelah aku baca-baca lagi, aku jadi mikir. Aku coba menempatkan diri di posisi istrinya Ayub. 

Bayangkan, Ayub kehilangan hal-hal berharga yang dia miliki. Iya, memang Ayub menderita, tapi pernah gak sih kita sadar kalo gak cuman Ayub yg kehilangan semua itu? Istrinya juga kehilangan harta karena apa yang menjadi kepunyaan suami adalah juga kepunyaan sang istri, dan sebaliknya. Intinya, Ayub dan istrinya sama-sama kehilangan harta. Mereka sama-sama bangkrut! 

Bayangkan juga waktu anak-anak Ayub meninggal. Apakah anak-anak itu hanya punya satu orang tua, yaitu Ayub? Gak kan? Anak-anak itu ya anak-anak istri Ayub juga. Can you imagine being a mother having to bury ALL of your children? Semua anak meninggal pada waktu yang bersamaan! Pikirkan lagi, di jaman itu, masalah mengurus dan membesarkan anak adalah urusan istri. Jadi, bisa dibayangkan kalau anak-anak itu lebih dekat pada ibunya dibanding dengan Ayub. Lagipula, cewek cenderung lebih emosional. Aku rasa dalam hal ini, istri Ayub lebih heart-broken dibanding suaminya. 

Tidak hanya itu, bayangkan bagaimana rasanya punya suami yang kena penyakit gak jelas, sampai-sampai dia harus menggaruk tubuhnya pakai potongan kaca dan duduk di onggokan abu. Duhhhhh.... Istri-istri, can you imagine seeing your husband like that??? Aku ngebayanginnya aja langsung berasa ngilu di hati. Tau gak sih... waktu orang terdekat kita yg sakit, kadang kita merasa lebih putus asa. Istri Ayub ini harus ngelihat Ayub yang menderita, bahkan wajahnya hancur banget sampai gak dikenali oleh teman-teman deketnya sendiri. Ya ampunnnnn... Kebayang gak gimana perasaan istri Ayub? 

Tapi istri Ayub adalah perempuan hebat. Apa itu? SHE STAYED! Suami bangkrut? Anak-anak meninggal? Suami sakit gak jelas sampe wajahnya gak karuan? Siapa yang punya cukup kekuatan untuk tetap setia dan tetap ‘be there for her husband’? She did! She respected her wedding vows - for better or worse, for rich or poor, in health or sickness! 

Memang istri Ayub ini bilang ke Ayub "CURSE God and die!!!", tapi lucunya, di pasal 42, waktu Tuhan ngomelin teman-teman Ayub, si istrinya ini gak disebut-sebut lho. Lebih hebat lagi, si Ayub kan akhirnya kaya lagi, punya anak lagi dan kata Firman Tuhan, tiga anak cewek Ayub itu luar biasa cantiknya. Di pasal 42 ini gak dibilang tuh kalo si Ayub nikah lagi, yang berarti bisa diartikan kalau Ayub dapat anak-anak ini dari istrinya! 

Aku jadi inget omongan beberapa teman. Mereka bilang, Tuhan tuh sangat amat mengerti kalo kita marah atau kecewa. Dia Tuhan yang gak bisa dibohongin. Biarpun muka kita penuh senyum, tapi toh Tuhan tahu apa isi hati kita. Jadi percuma juga kalo kita berdoa ngomong "God, I'm fine!" padahal sebenernya tidak. Justru, Tuhan pengen kita mau jujur sama Dia, mau curhat sama Dia, tanpa takut Tuhan akan menghakimi kita. He is very understanding. Tuhan kita sangat "manusiawi" dan mengerti kemanusiaan kita. Aren't we lucky to have such a wonderfully loving and understanding God?? 

Kalo dalam kasus istri Ayub ini, aku rasa pada akhirnya dia diberkati Tuhan bukan hanya karena Ayub yg beriman sama Tuhan, tapi juga karena istrinya yang walaupun marah-marah waktu ada masalah, tapi tetap memilih untuk menghormati pernikahan mereka, dan bertahan di sisi Ayub meskipun di tengah penderitaan. Walaupun kata-katanya salah, pada akhirnya istri Ayub gak ninggalin Ayub. Siapa yang akan bilang dia bodoh kalo dia ninggalin Ayub? Bisa jadi orang-orang malah bilang dia bodoh karena bertahan sama Ayub kan? Pada masa sulit itu, dia juga masih melayani Ayub. Kalau budak-budaknya aja gak mau dekat-dekat Ayub lagi, siapa yang masak buat Ayub kalo bukan istrinya? Waktu teman-teman Ayub menghakimi Ayub, istri Ayub masih tetap bersama suaminya. Inilah yang Tuhan perhitungkan - a heart that chooses to serve, to suffer together, and to sacrifice. Tuhan sangat menjunjung tinggi janji & komitmen pernikahan, karena itu Ia juga menghargai dan menghormati orang2 yg berani berkorban dan menderita untuk menghormati janji nikah mereka.

Seandainya kita bisa lebih seperti istri Ayub, yang betul-betul menghargai dan menghormati janji nikah kita, yang menerima suami saat dia kaya atau miskin, saat dia ganteng ataupun tidak, waktu dia lagi romantis atau lagi super cuek, waktu dia sering bilang "honey, you are so pretty" atau waktu dia langsung nyari makanan di atas meja saat pulang kantor tanpa nengok ke arah kita sama sekali.

Give us strength, Lord, to be like Job's wife who chose to respect her wedding vows, and stayed by her husband's side even when he was sick, ugly, and bankrupt - all at the same time!

Monday, January 7, 2019

Abigail: When your marriage is HARD


by Lia Stoltzfus 

Apakah saat ini kita sedang merasa bahwa pernikahan yang dijalani tidak sebahagia yang diharapkan? Atau kita sempat berpikir telah “salah menikah”, atau menikah dengan “orang yang salah”? 

Jika dua pertanyaan tersebut menggambarkan pernikahan kita, mungkin pikiran kita sehari-hari adalah “difficult marriage”, “difficult relationship”, “difficult husband”. Dengan demikian, kita menjadi self-pity, merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia karena pernikahan yang carut-marut. 

Ladies, jika memang benar demikian, kita dapat belajar dari seorang wanita tangguh yang ada di Alkitab. Ketangguhannya bukan karena dia adalah wanita perkasa secara fisik, melainkan karena kesetiaannya pada “hard marriage”-nya. Yuk, kita belajar dari tokoh tersebut. 


--**-- 


Namanya adalah Abigail. Dia adalah wanita cantik yang namanya berarti “sukacita bagi ayahku”. Kebayang dong, kira-kira bagaimana kepribadian wanita ini? Alkitab mencatat bahwa Abigail tidak hanya cantik, tapi juga cerdas dan bijak. Wow… wanita yang menarik, kan? 

Eh, eh, tapi kok dia bisa menikah dengan Nabal—yang artinya “bodoh” (fool)? Alkitab mencatat bahwa pria kaya raya itu memiliki 3.000 domba dan 1.000 kambing, tapi dia terkenal sebagai orang jahat, bodoh, keras kepala dan tidak mau mendengar pendapat orang lain. Heee... Wanita bijak menikah dengan pria bodoh? Kedengarannya sangat timpang, bukan? Kok bisa sih? 

Ladies, kita perlu mengetahui bahwa perjodohan (alias pernikahan yang diatur) adalah sebuah hal yang wajar bagi orang zaman dulu. Hanya orangtua yang berhak memilihkan pasangan untuk anak-anak mereka; dan ironisnya, Abigail si cantik dan bijak itu dinikahkan dengan pria kasar, jahat, dan bodoh. Sungguh menyedihkan. 

Berbanding terbalik dengan zaman sekarang, kita punya kebebasan (free will), jadi tidak lagi harus mengikuti kemauan orangtua atau tradisi perjodohan itu. Tapi bukan berarti dengan memilih pasangan sendiri pernikahan jadi mudah dan tanpa ada tantangan. Selama hampir sembilan tahun saya menikah, saya tahu bahwa pernikahan itu adalah ‘kerja keras’. 


Marriage is a HARD WORK an HEART work. 


Membangun oneness (kesatuan dalam pernikahan) tidaklah mudah, Pearlians. Apalagi kalo pasangan tidak takut akan Tuhan atau termasuk kategori 'difficult people, a hard man'. Karena itu, pernikahan kita sangat membutuhkan kasih karunia Tuhan—agar kita sanggup menjalaninya bersama Dia. 

Beberapa teman saya mengalami hal yang serupa dengan Abigail. Ada yang menyerah (alias bercerai), tapi ada yang terus berjuang untuk pernikahan mereka, belajar untuk menghargai janji nikah (covenant) yang sudah dia buat bagi pasangannya di hadapan Tuhan dan keluarga. Dan saya percaya, Tuhan memberkati orang-orang yang mau berusaha menjadi ‘covenant keeper’. 

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ‘penderitaan’ yang dialami oleh Abigail: punya suami yang sering mengambil keputusan-keputusan bodoh, tidak mau menghargai orang lain, dan pria yang kasar. Pasti menderita harus tinggal bersama orang seperti itu, kan? Tapi Abigail tidak menyerah terhadap pernikahannya. Ada yang berbeda dalam diri wanita ini; sesuatu yang luar biasa dan mengundang perhatian serta campur tangan Allah dalam hidupnya. 

1 Samuel 25:23-31 mencatat peristiwa tentang Daud yang mengutus 10 orang untuk menghadap Nabal, dan memintanya bermurah hati menunjukkan kebaikan dengan memberikan sedikit persediaan makanan untuk Daud dan orang-orangnya. Daud “berani” meminta demikian karena mereka telah menjaga gembala-gembala pekerja Nabal dan kambing domba mereka supaya tidak diterkam binatang buas (1 Samuel 25:15-16). Padahal sebenarnya, Daud dan pasukannya bisa dengan mudah mencuri atau sesekali mengambil kambing domba milik Nabal. Tapi Daud tidak mau melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, jadi Daud meminta dengan baik-baik. 

Sayangnya, Nabal yang tidak tahu berterimakasih malah membentak, mendamprat, dan menjawab dengan kasar, “Emang siapa itu Daud? Siapa anak Isai? Kenapa gua harus kasih roti, air, dan daging ke orang yang gua gak kenal? “ (1 Sam 25:10-11). Hmm, rasanya gak mungkin banget orang Israel gak “tau” siapa Daud, yang beberapa tahun lalu menang mengalahkan Goliat dan bangsa Filistin. Dalam kesombongan dan kebodohannya, Nabal menolak mengakui bantuan Daud dan menolak dengan kasar permohonan dari orang yang diurapi Tuhan sebagai raja. Padahal Daud sudah berbuat baik dengan membantu menjaga kawanan kambing domba milik Nabal dari marabahaya. 

Air susu dibalas air tuba. Kebaikan dibalas dengan kejahatan. Bukannya menunjukkan ungkapan terima kasih, Nabal malah kasar dan berbuat jahat. Tanpa disadari, kebodohannya itu justru mengundang malapetaka atas dirinya sendiri. 

Nah, setelah mendengar laporan dari 10 orang utusannya itu, Daud marah dan segera pergi dengan 1/3 pasukannya (400 orang) untuk membantai Nabal dan seisi rumah pria itu. Tapi ketika Abigail mendengar hal ini, dia langsung mengambil tindakan. 

Apa tindakan yang diambil Abigail? 

Apa yang dilakukan a wise wife in difficult situation? 

1. She acted quickly (1 Sam 25:18) 
Abigail tidak menunda kesempatan untuk memohon pengampunan Daud. Dia segera mengambil persedian bahan makanan yang dimilikinya. 200 roti, 2 botol anggur, 5 domba yang sudah dimasak, 5 sukat gandum, 100 kue kismis, dan 200 kue ara. Hal ini menunjukkan bahwa Abigail menyediakan apa yang Daud minta, yaitu bahan makanan. 

2. She didn’t tell her husband (1 Sam 25:19)
Abigail tahu karakter suaminya. 1 Samuel 25:17 mencatat, “Nabal adalah seorang yang dursila, sehingga orang tidak dapat berbicara dengan dia.” Nabal tidak mau mendengarkan pendapat orang dan selalu merasa dirinya benar; padahal kebodohannya bisa dihindari kalau dia belajar mendengarkan orang lain. Abigail tahu suaminya seperti apa, makanya dia tidak memberitahukan rencananya dan diam-diam melakukan apa yang dia pikir benar dan bisa menyelamatkan mereka dari bencana. (tapi ini kasus khusus, ya. Selama suami bisa diajak berbicara, lebih baik kita melakukannya. Karena bagaimanapun, suami adalah kepala keluarga, bukan? (Efesus 5:22-24)) 

3. She quickly got off and bowed down with her face to the ground (1 Sam 25:23) 
Rendah hati adalah kunci untuk berdamai dengan orang lain! Abigail menggunakan senjata yang ada di Amsal 15:1a, 

“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman“.
(Amsal 15:1a)

Kemarahan besar yang Daud rasakan “dipadamkan” amarahnya dengan sikap (attitude) kerendahan hati dan perkataan yang lemah lembut. Abigail bukan hanya menyampaikan permohonan (intercession) untuk suaminya, tapi juga untuk dirinya dan seluruh isi rumahnya. Namun yang lebih penting lagi, Abigail berhasil mengingatkan Daud tentang siapa dirinya sebagai orang pilihan Tuhan, Raja yang diurapi oleh Tuhan—supaya jangan ada penyesalan atau track record yang buruk (1 Samuel 25:24-31). Akhirnya, kerendahatian dan kebijakan hati Abigail menyelamatkan nyawa suami (pada saat itu) dan seluruh isi rumah mereka. Bukan hanya itu, Abigail juga mencegah Daud melakukan hal yang tidak bijak karena kemarahan yang menggebu-gebu. 

4. She told him nothing at all until day break (1 Samuel 25:36-37) 
Kebijakan Abigail terlihat karena dia mampu membaca situasi. Abigail memilih waktu dan tempat yang tepat untuk berbicara pada Nabal (yaitu setelah Nabal selesai mabuk karena perjamuannya), memberitahunya apa yang terjadi, dan seberapa tindakan pria itu bisa berakibat fatal. Abigail terus berusaha untuk seek what is best. Dia berusaha untuk mengingatkan Nabal tentang pentingnya berlaku bijaksana. Tuhan mau pakai setiap kita, sebagai istri, untuk memberi pengaruh positif bagi pasangan. Let God work in you and through you by His power to redeem a bad relationship. 

Kisah Abigail berakhir dengan Tuhan yang membebaskan dia dari ‘difficult husband’-nya. Nabal mati 10 hari kemudian, setelah jantungnya berhenti bekerja dan dia membatu karena Tuhan memukulnya. Tapi hal yang sama tidak bisa jadi ending story yang sama buat semua orang yang punya difficult marriage. Setiap orang memiliki kisah pernikahan masing-masing, dan Tuhan bisa memakai apapun untuk menyatakan kemuliaan-Nya melalui pernikahan kita. 

Kita mungkin telah menikah dengan difficult man; tapi apakah tanggapan kita terhadapnya menjadikannya semakin sulit? Pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan menanggapinya dengan tujuan untuk membuat keadaannya jadi lebih baik, ATAU menyerah pada kemarahan kita dan membuat situasinya jadi lebih parah? Kalau kita tidak bisa memberikan hadiah kepada anak-anak berupa TWO godly parents, at least give them ONE! 

“Tapi kamu nggak tahu suami gue kayak apa... Kalo di luar rumah, di gereja, dia kelihatan baik, kelihatan penyayang… Tapi dia terikat pornografi. Dia suka ngelakuin kekerasan, pemarah…”  
“Suami gue lemah banget kepemimpinan rohaninya. Jangankan mimpin altar/renungan keluarga, saat teduh pribadi aja bolong-bolong…”  
“Susah menghargai suamiku. Dia terikat main games, lebih suka nonton daripada menghabiskan waktu sama anak-anak. Aku udah berusaha ingetin, tapi dia pasif banget, gak terlibat dalam pertumbuhan anak-anak.” 

Kita bisa saja menyebutkan sekian puluh hal yang tidak kita sukai dari pasangan maupun dalam kehidupan pernikahan. Tapi setidaknya, kita bisa memakai energi kita untuk membangun sesuatu. Work on your attitudes and marriage daripada tenggelam dalam kepahitan dan penyesalan. Sama seperti Abigail, dia tahu bahwa dia tidak bisa mengubah suaminya. Tapi Abigail terus punya sikap hati yang benar, tidak lari dari pernikahan yang sulit tersebut; bahkan dia terus seek for the best of Nabal, masih berusaha ‘menyelamatkan’ Nabal dari keputusannya yang bodoh, masih mau terus ngomong, dan mengingatkan Nabal tentang apapun. 

Buat teman-teman yang sedang bergumul dengan difficult marriage, teruslah mencari Tuhan. Baca Firman-Nya, temukan kepuasanmu dan keberhargaan dirimu lewat apa yang Dia katakan. Biarlah Firman-Nya menjadi sumber kekuatan dalam hidupmu. 

Sebagai penutup, saya mau membagikan satu janji Tuhan yang luar biasa indah: 

"Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kupada suamimu, supaya jika di atara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan   oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.” 

(1 Petrus 3:1-2)

The power of submission will win the heart of your husband! Percayakah kita bahwa Tuhan sanggup melakukan mujizat dalam pernikahan kita? Dia bekerja melalui iman kita kepada-Nya, dan dari situ pula kita akan semakin dibentuk menjadi semakin serupa dengan-Nya; menjadi lebih dimampukan untuk mengasihi suami dan tegar di dalam Tuhan. 

Di tahun baru ini, let’s work on our marriage, apply what we learn from Abigail… Semangat! 

(PS: Saya merekomendasikan buku “Sacred Marriage“ dan “Sacred Influence“ dari Gary Thomas buat teman-teman yang sudah menikah supaya bisa work on your marriage, build a heaven on earth! Buku tersebut sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan dapat dibeli di toko buku online)

Saturday, December 8, 2018

A New Day of Spring


by Sarah Eliana

Batsyeba. Siapa yang gak pernah dengar tentang Batsyeba? Batsyeba yg katanya begitu cantik sampai-sampai raja Daud pun tergoda. Batsyeba yg udah bersuami tapi tidak berani (atau tidak mau?) berkata tidak ketika raja Daud mengundangnya ke istana. Adulteress! Begitu kata banyak orang. Aku sendiri gak berani menghakimi, karena sebagai seorang istri sedikit banyak aku bisa mengerti juga kenapa dia tidak berani berkata tidak kepada Raja Daud. Mungkin dia diancam “Kalo gak datang, awas!!!” Mungkin juga dia berpikir, ”Raja Daud kan atasan suamiku, dan suamiku lagi di medan perang. Mungkin raja Daud mau kasih tau sesuatu yang penting tentang suamiku? Apakah suamiku terluka?” Mungkin! Mungkin aja dia menerima undangan raja Daud dengan pikiran suaminya terluka atau bahkan terbunuh di medan perang sehingga raja Daud merasa berita itu harus disampaikan secara pribadi oleh sang raja. Mungkin juga sama seperti kebanyakan kita, orang Asia, dia merasa, “Ah, gak enak kalo gak dateng… Udah diundang.” Perhaps pride got the better of her: “GILE!!! Diundang ama raja!! Siapa yg berani bilang tidak? Siapa orang yang begitu bodoh sampai menolak undangan sang raja?” Mungkin juga dia berpikir seperti itu. Maybe she was lonely, and an invitation from the handsome king sounds innocent enough. Only God and Bathseba herself know why she went to the palace, and later slept with the king.

Tapi yg pasti, kita semua tau lanjutan ceritanya. Batsyeba hamil, dan Daud membunuh Uria agar bisa menikahi Batsyeba. Setelah mereka menikah, datanglah Nabi Natan menegur Daud. JEDER!!! Daud, oh Daud, dirimu sudah melakukan apa yg salah! Dan saat itu juga Daud menyadari kalo kesalahan dan dosanya itu bukan hanya terhadap Uria, tapi juga terhadap Allah. Jadi, ia pun bertobat. Semuanya beres, kan? Ya kan? Ternyata tidak, karena anak Batsyeba dan raja Daud yang baru lahir akhirnya meninggal. 

Most of us stop right here. Kita sering dengar kotbah tentang Daud dan Batsyeba, dan biasanya kotbahnya diakhiri dengan “ada hukuman atas dosa,” Betul gak? Dan biasanya pula, kalo kotbahnya tentang pernikahan, kita akan diwanti-wanti untuk menghormati janji nikah kita, dan ayat yg biasa dikutip adalah Matius 1:6 yang berkata:

“Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria.”
(Matius 1:6)

Ayat ini menunjukkan bahwa biarpun Batsyeba sudah menikah dengan Daud, Tuhan tetap menganggapnya sebagai istri Uria. Betulkah? I must disagree. Why? Well, let’s read 2 Samuel 12:24,

Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba istrinya, lalu tidur bersamanya. Batsyeba melahirkan seorang putra yang dinamakan Salomo oleh Daud. TUHAN mengasihi anak itu.
(2 Samuel 12:24)

Daud menghibur Batsyeba, istrinya. Nah, di sini jelas ditulis kalo Batsyeba sudah dianggap sebagai istri Daud oleh Tuhan. Bahkan Tuhan memberikan mereka seorang anak yang kemudian menjadi raja yang luar biasa. Ya, gw setuju bahwa kita selalu harus menerima konsekuensi dari dosa kita. But it is equally important that we don’t just stop there karena di dalam Tuhan ada kasih karunia. Kalau kita mau dan siap mengakui dosa kita, meminta ampun, dan TIDAK mengulangi dosa itu, Tuhan pun siap mengampuni and He is more than ready to give us a fresh new start.

Banyak dari kita yang bergumul dengan masa lalu kita, yang punya hal-hal yang kita sembunyikan dari orang lain dan hanya Tuhan dan kita yang tau. Kalau memang kita orangnya, ketahuilah hal ini: Tuhan sangat bersedia mengampuni kita kalau kita mau datang kepada salib-Nya, mengaku dosa kita, dan berjalan menurut pimpinan Tuhan mulai saat ini. Lihat Daud dan Batsyeba! Raja Daud, saking takutnya kalo dosanya akan ketauan, bahkan sampe tega membunuh salah satu prajurit terbaiknya sendiri! Dan ya, dia menerima hukuman atas dosanya:

Setelah itu pulanglah Natan ke rumahnya. Putera Daud yang dilahirkan oleh Batsyeba janda Uria, jatuh sakit dengan kehendak TUHAN.
(2 Samuel 12:15)

Sakit atas kehendak Tuhan! Kalo bahasa Inggrisnya lebih serem lagi: “The Lord struck the child, and he was very sick.” Kedengarannya ngeri banget ya. Tapi ternyata bukan hanya anak Daud yang “dihajar” oleh Tuhan; ada orang lain yang mengalami hal yang sama:

Yet it was the will of the Lord to bruise Him; He has put Him to grief and made Him sick.
(Isaiah 53:10)

Yup! Tuhan Yesus! He pressed Himself on that cross to die for us because He loves us so! Sekarang, lihatlah! Lihat ke salib Tuhan Yesus, lihat Dia yang mati disalib karena dosa kita. Anugerah Tuhan tersedia buat kita, dan karena itu kita bisa memulai lembaran yang baru dalam hidup. Gak peduli besar kecilnya dosamu, Tuhan bisa mengampuni kamu. Sebenernya, gak ada “dosa besar” atau “dosa kecil”! Dosa adalah dosa—pemberontakan terhadap Allah. Kalaupun dosamu remeh seperti berbohong pada orang tua, tetap saja itu dosa dan Yesus harus membayarnya dengan nyawa-Nya di salib. Kalau kamu membunuh orang lain, Yesus mati untuk dosa itu juga! Nothing is too small or too big for our God, and He is so ready to forgive you, and so soo soooo ready to lead you in a new path where there are abundance blessings for you! 

Back to Batsyeba. Dia seorang wanita yang berhubungan seks dengan orang yang bukan suaminya. Dia bahkan menikah dengan pembunuh suaminya. Sekarang lihat ke dalam diri kita sendiri: Kita sama seperti Batsyeba! Kita “berhubungan seks” dengan pria lain ketika kita memandang mereka dengan hawa nafsu. Kita membiarkan pria lain “membunuh” suami kita ketika kita membanding-bandingkan dia dengan mereka. Oh dear Lord, forgive us our sins! Tapi jangan berhenti di situ. Lihat Batsyeba: kehidupannya dengan raja Daud diberkati Tuhan; bahkan dia melahirkan seorang raja yang besar. Kok bisa? Semua itu karena mereka bertobat dan ikut pimpinan Tuhan setelah mereka bertobat. Dan bukan hanya itu! Dari keturunan Daud dan Batsyeba, lahir seorang Raja Sejati, Raja segala raja: Yesus Kristus! Lihatlah betapa besarnya pengharapan dan pengampunan yang Tuhan berikan, sehingga semua orang berdosa bisa membuka lembaran baru dalam hidup mereka bersama Dia!

Siapa yang sudah baca Amsal 31? Kalo belom, baca deh. Kalo baca ini, gileeee… Gw langsung ngerasa gimana gitu. I want to be a woman like that. Gw selalu pikir ini tulisan yg ditulis oleh raja Salomo. Haha... *gak membaca ayat 1 dengan benar* Baru-baru ini gw baca ayat 1 dengan benar, and gw betul-betul shock: 

"Inilah perkataan Lemuel, raja Masa, yang diajarkan ibunya kepadanya."
(Amsal 31:1)

Ajaran ibu Raja Lemuel! Doennggg… So this passage is truly “dari wanita untuk wanita”!!! HUEBAT! Gw sempet nyari-nyari, siapa sih Raja Lemuel. Nobody knows for sure, tapi ada beberapa ahli Alkitab yg bilang kalo Lemuel adalah nama lain Raja Salomo. Well, we don’t know if it’s true. Tapi bayangkan kalo ini betul, berarti Amsal 31 itu adalah ajaran dari Batsyeba untuk Salomo!!! HAH?!?!?! Hebat kan? Dari wanita yg tidur dengan pria yg bukan suaminya (selingkuhan yang bahkan akhirnya membunuh suaminya) menjadi wanita yg begitu hebatnya! Bangun pagi-pagi buta, sibuk sampe tengah malam, tapi masih bisa mempercantik diri untuk suaminya. WOW! Gw aja kalo cuman sibuk dikit udah lupa dah, buat dandan cakep-cakep untuk suami… -.-' Dan kalo emang bagian ini adalah bagian yg diajarkan oleh Batsyeba untuk Salomo, do you know what I see? I see a life changed by God! I see a heart shaped by the Lord. Batsyeba gak mungkin bisa berubah seperti itu kalo gak ada campur tangan Tuhan.

So, ladies, you know who you are. Kalau kamu single dan berpikir, “Mungkinkah Tuhan mengampuni semua yang pernah saya lakukan? Mungkinkah saya punya keluarga yang memuliakan Tuhan?” Jawabannya: Tentu saja! Kalau kamu sudah menikah dan pernah berdosa terhadap Tuhan dan suamimu, dan kamu berpikir, mungkinkah semuanya bisa pulih kembali, jawabannya: Ya! Tapi kamu harus bersedia berjalan bersama Tuhan, menuruti pimpinan Tuhan dan memberikan kendali penuh atas hidupmu, pikiranmu, perbuatanmu, dan perkataanmu kepada Dia.

Baca lagi Matius 1:6, “Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria.” Dalam 2 Samuel 12 sudah jelas sekali bahwa Batsyeba sudah menjadi isteri sah Daud, tetapi kenapa di ayat ini masih disebut “isteri Uria”? Well, bahasa Inggrisnya mungkin lebih jelas: 

"King David the father of Solomon, whose mother had been the wife of Uriah."
(Matthew 1:6)

“Who had been the wife of Uriah.” Batsyeba dulunya istri Uria sebelum jadi istri Daud. Tapi, then, kita jadi bertanya-tanya, kenapa nama Uria harus disebut? Menurut gw, Tuhan mau tunjukin bahwa Yesus, Raja kita yang sempurna itu punya nenek moyang yang adalah manusia biasa, berbuat dosa, banyak kesalahan; dan Dia lahir untuk orang-orang seperti mereka, seperti kita, so that we all can have a new start, a new life in Him! And that, my friend, is grace! 

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
(Yohanes 3:16)

Thursday, November 22, 2018

Strong Woman



by Benita Vida

Apa yang ada di pikiranmu saat mendengar frase "strong woman"? Apakah mengingatkanmu pada wanita dengan fisik besar? Atau wanita yang bisa melakukan apapun, termasuk pekerjaan yang dikategorikan sebagai pekerjaan pria? Kali ini, mari kita melihat definisi strong woman dari perspektif Firman Tuhan, seperti yang ditulis dalam Amsal 31:17.

Amsal 31:10-31 membahas tentang "istri yang cakap", yaitu apa dan bagaimana tindakan yang harus dilakukan oleh wanita Allah untuk menjadi penolong dan pendamping seorang pria. Setiap ayat dalam Amsal 31:10-31 ini memiliki fokus yang berbeda, kekuatan wanita menjadi fokus pada ayat 17, 

"Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya."
(Amsal 31:17 / TB)

Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari dari ayat ini mengatakan, 

“Ia menyiapkan dirinya untuk bekerja sekuat tenaga.”
(Amsal 31:17 / BIS)

"Mengikat pinggang" berbicara tentang kesiapan seseorang untuk melakukan sesuatu. Seorang wanita Allah, baik yang belum menikah atau yang sudah menikah, diminta mempersiapkan dirinya untuk bekerja sekuat tenaga. Bekerja yang kita bicarakan ini bukan cuma bekerja untuk mendapatkan upah/nafkah tetapi juga bekerja wholeheartedly melayani keluarga.

Saat ini, untuk bisa bekerja, baik memulai bisnis sendiri ataupun bekerja kepada orang lain, umumnya kita menghabiskan waktu sekitar 18 tahun menempuh pendidikan, mulai TK hingga lulus sarjana (S1). Belum lagi jika kita ingin melanjutkan pendidikan sampai S2 atau mengambil jurusan lain, tentu saja akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Masa kita menempuh pendidikan sampai kita memasuki dunia kerja bisa kita sebut dengan masa “persiapan”. Masa “persiapan” ini tidaklah mudah, kita semua merasakannya, bukan? Ada kesulitan dan ujian yang belum pernah kita hadapi, namun harus kita lalui. Tantangan-tantangan itu, mencakup fisik dan mental. Ada kalanya kita harus tetap sekolah atau menghadiri ujian saat kita sakit parah, ada saatnya kita harus berkompromi dalam tugas-tugas kelompok yang diberikan. You name it, pasti banyak hal, formal maupun non-formal, yang menjadi pelajaran bagi kita. Masa “persiapan” ini adalah masa yang membentuk kita menjadi pribadi yang siap bekerja. Jika kita bisa melalui masa “persiapan” ini dengan baik serta mengambil pelajaran-pelajaran berharga dari setiap tantangan, tentu kita akan menjadi pribadi yang siap saat memasuki jenjang kehidupan berikutnya.

Untuk melalui masa “persiapan” ini, ada beberapa karakter yang penting untuk menjalankan “pekerjaan” yang Tuhan percayakan untuk kita nanti, terutama untuk mendukung peran kita sebagai sebagai seorang istri: 


// PERSEVERANCE 

Ketekunan atau perseverance merupakan kemampuan untuk tetap melakukan bagiannya dengan baik, sekalipun ada rintangan dan kesulitan yang harus dihadapi untuk mencapai tujuan. Karakter ini penting untuk memastikan kita tidak lekas menyerah. Misalnya, mereka yang ingin mengembangkan bisnis dari bawah membutuhkan ketekunan untuk tetap melakukan yang terbaik sekalipun tampaknya semua jalan tertutup. Mereka yang bekerja sebagai karyawan di suatu perusahaan juga memerlukan ketekunan dalam mempelajari sistem perusahaan atau metode pekerjaan agar menguasai pekerjaan tersebut. The first is always the hardest, tapi tetaplah tekun sampai bisa mencapai tujuan. 

Sebagai contoh, kita bisa meneladani Yusuf yang tekun bekerja di rumah Potifar hingga akhirnya Yusuf mendapat kepercayaan dari tuannya. 

Ketekunan kita sebagai seorang istri nanti sangat penting. Kita perlu ketekunan menghadapi urusan rumah tangga yang tidak ada habisnya, seperti anak-anak yang rewel, suami yang tidak peka, atau tamu yang sering datang.


// DON'T GIVE UP EASILY 

Jika kita mudah menyerah dalam segala hal, bisa-bisa kita tidak bisa melewati masa “persiapan” kita. Bayangkan, hanya karena ujian susah lalu, kita mau berhenti sekolah. Atau, jika nilai ujian kita jelek, lalu kita menyerah untuk belajar. Kegagalan atau kejatuhan bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan, Alkitab berkata di Amsal 24:16a,

“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali...”
(Amsal 24:16a)

Jika kita menyerah, percayalah, kita masih akan mengalami ujian yang sama sampai kita “lulus” dalam pembentukan karakter yang Tuhan mau. Allah tidak menginginkan anak-anak-Nya mudah menyerah dalam hidup ini. Bayangkan, jika Musa menyerah bicara dengan Firaun apakah bangsa Israel bisa keluar dari Mesir? Atau, bayangkan juga jika bangsa Israel dan Yosua menyerah mengelilingi tembok Yerikho karena jarak yang jauh dan udara yang panas, bisa-bisa tembok Yerikho tidak runtuh. 


// LOYALTY

Dalam masa “persiapan” ini, kita juga diharapkan untuk menjadi pribadi yang setia. Setia terhadap apa? Terhadap apapun yang Tuhan percayakan kepada kita untuk kita kerjakan saat ini. Apapun yang sedang dipercayakan kepada kita, sekecil apapun itu, kita perlu kesetiaan dalam mengerjakannya. Apa yang diharapkan? Harapannya adalah kita jadi tidak “asal-asalan” jika nanti Tuhan mempercayakan hal-hal besar untuk kita kerjakan. Misalnya, jika kamu seorang pelajar, setialah dalam tugas-tugasmu, dalam imanmu ketika sedang menghadapi ujian, setialah menjadi teladan bagi teman-temanmu. Jika kamu seorang karyawan, setialah dalam kejujuranmu, dalam pekerjaan-pekerjaan yang dipercayakan kepadamu, sekalipun mungkin kamu memiliki kesempatan untuk meninggalkan kesetiaanmu. Jika nanti kamu menjadi seorang istri, kamu akan setia dalam peranmu, tanggung jawabmu, tingkah lakumu sebagai seorang istri yang takut akan Allah.

Dalam terjemahan bahasa Inggris versi NIV, dikatakan “She sets about her work vigorously; her arms are strong for her tasks.” Sang wanita Allah selalu memulai pekerjaannya dengan semangat. Teman-teman sekalian, berapa banyak di antara kita yang terkadang memulai pagi atau aktivitas kita dengan keluhan? Dengan rasa malas? Berapa banyak di antara kita yang setiap minggu malam berpikir “Yaahh, besok udah Senin lagi”? Well, I did that too sometimes... Hehehe... Tanpa semangat, semua pekerjaan yang kita lakukan terasa berat dan tidak menyenangkan. Bahkan Alkitab berkata di Amsal 17: 22,

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”
(Amsal 17: 22)

Tuhan mau kita mengerjakan segala sesuatu dengan hati yang gembira dan penuh semangat, dengan begitu semua pekerjaan yang dipercayakan pada kita saat ini akan terasa menyenangkan. Kita perlu belajar untuk menikmati proses yang Tuhan sediakan untuk kita lalui saat ini. Sebaliknya, tanpa semangat (semangat yang patah) membuat kita mudah mengeluh, bersungut-sungut, mudah menyerah, yang bahkan akan berdampak bukan hanya ke kesehatan rohani tetapi juga jasmani kita. 

Contohnya, tanpa semangat, seorang istri tidak akan mau melakukan pekerjaannya. Bayangkan jika ibu kita “mogok” mengerjakan tugasnya memelihara rumah tangga. Rumah pasti berantakan, tidak ada makanan untuk kita makan, tidak ada pakaian bearish, menyeramkan bukan?! Lalu bagaimana kita bisa memunculkan semangat itu? Bagaimana kita bisa memulai pekerjaan kita, baik sebagai pelajar/karyawan/istri/ibu rumah tangga, dengan semangat? Ingatlah mengapa kita memulainya, dan pegang harapan-harapan yang mau kita capai. Jika kita seorang karyawan, mungkin ada promosi jabatan yang kita harapkan. Jika kita seorang ibu, ada anak-anak yang membutuhkan kita, yang perlu kita didik sampai mereka berhasil. Percayalah, jika Tuhan mempercayakan sesuatu kepada kita artinya Dia percaya kita mampu melakukannya. Dia tidak pernah membiarkan kita melakukan sesuatu tanpa membekali kita dengan apa yang kita perlukan. 

Strong woman tidak bicara tentang kekuatan fisik saja. Memang kita butuh kekuatan fisik untuk bisa melakukan banyak hal, tetapi wanita yang kuat juga adalah wanita yang mampu mengendalikan pikiran dan emosinya. Dia harus kuat saat keadaan seolah-olah membuatnya harus menyerah dan meninggalkan kesetiaannya. Dia harus kuat untuk menentukan pilihan-pilihan yang sulit dalam hidupnya. Dia harus kuat menjalani apa yang Tuhan letakkan untuk menjadi kerinduan di hatinya. Di atas semuanya, dia harus kuat dalam imannya, sebab nantinya sebagai seorang istri, wanita adalah tiang doa bagi keluarganya. Hai, para putri kerajaan Allah, jadilah kuat, kuat dalam kasihmu, kuat dalam imanmu, dan kuat dalam teladanmu.

Bagi para lajang, kuat dan setialah dalam masa “persiapan”mu. Tetaplah semangat dalam melakukan hal yang Tuhan percayakan untukmu saat ini. Kuatlah dalam proses-proses hidupmu dan belajarlah menikmati semua prosesnya, karena dalam prosesmu Tuhan sedang membentuk dan mempersiapkanmu menjadi seorang wanita Allah dengan karakter yang berkenan di hadapan-Nya. Proses itu akan membuatmu siap jika pada saat-Nya nanti kamu menjadi seorang penolong dan pendamping suamimu.

Bagi yang sudah menjadi seorang istri, tetap lakukan bagianmu dengan taat dan setia, kuatlah dalam menjalankan peranmu sebagai seorang pendamping dan penolong bagi suamimu, kuat dan setialah dalam mendidik anak-anakmu. Keep your fighting spirit!!

Wednesday, October 24, 2018

On Submission (Part 2)


by Natalia Setiadi 

Suatu hari, mobil kami mogok. Suami dan saya sama2 gak ngerti mesin. Tapi karena suami saya orang yang sangat bertanggung jawab, dia belajar untuk bisa ngatasin urusan mobil yang simpel2 di saat darurat. So, setelah diutak-atik ga berhasil, dia bawa accu mobil buat disetrum. Setelah kembali, ternyata mobil masih ga mau hidup.

Ga lama kemudian, suami panggil seorang montir ke rumah. Montir ini belum pernah saya liat sebelumnya. Ternyata suami saya dapet "nemu" di bengkel tempat setrum accu. Maka sebagai istri yang selalu punya pendapat sendiri (dan pendapatnya adalah yang paling bagus dan paling bener), dahi saya langsung berkerut dan saya langsung meringkik dalam hati, "WHATTT???!"

(Idih, gimana kalo ini bukan montir tapi penipu? Gimana kalo mobil bukannya bener malah tambah ancur? Gimana kalo gini gimana kalo gitu... -.-‘)

Untung beribu untung, beberapa hari sebelumnya saya baru ditabok Tuhan, ditegur dengan lumayan pedih dalam hal submission, sampe hati saya yang keras akhirnya bertobat. Dan bertekad untuk berubah. Untung juga tekadnya rada kuat, jadi keinget buat mempraktekkan usaha berubah ini begitu ada kesempatan.

So, saat hati saya meringkikkan protes tadi, mulut saya tetap MINGKEM. Dahi saya mungkin masih tetep mengerut tanpa bisa direm, tapi segitu udah lumayan lah ya... :P

Betapa susahnya untuk SUBMIT. Di dalam submission ada hal yang mendasar yang sering kali gak saya sadari juga, yaitu TRUST. If you can't submit to your husband or your other authorities, chances are you don't trust him/them. Keengganan kamu untuk tunduk mungkin berakar dari kurangnya kepercayaan kamu terhadap figur otoritas itu.

So, dengan merendah dan dengan malu saya ngaku nih, saya sering kurang percaya sama pertimbangan, penilaian, dan keputusan suami. Tentu aja saya punya banyak alasan buat membenarkan diri sendiri: "suami gak pengalaman soal ini", "suami sibuk, gak terbiasa untuk A, B, C" atau "urusan ini saya yang lebih ngerti kok" atau "boleh dong saya kasih masukan/saran buat suami?"

Ngasih masukan/saran kedengarannya bagus, iya gak sih? Masalahnya kita para perempuan seringnya KEBANYAKAN ngasih saran. Bahkan saran yang gak perlu, gak diminta, bahkan yang gak diinginkan. Satu-satunya kesempatan di mana kita sebagai istri WAJIB kudu harus kasih masukan dan saran adalah pada saat kita tahu dengan pasti dan jelas bahwa suami memutuskan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan firman Tuhan.

Hm... kayanya justru di saat beginian kita enggan kasih saran dan memilih mingkem ya -.-‘

Kenapa sih gak boleh kasih saran? Eh saya gak bilang ga boleh kasih saran loh ya. Yang saya bilang adalah, sebaiknya saran/masukan/ide/pendapat kita disimpan dulu, kecuali kalo diminta sama suami, atau kalo emang sikonnya kita lagi berdiskusi atau brainstorming tentang sesuatu. Tapi kalo “saran” atau kalimat yang udah di ujung lidah kita dan sangat gatallll buat dikeluarin itu berbentuk kritik atau protes atau komentar apalagi pernyataan yang ketus, alangkah baiknya kalo disimpan aja untuk seterusnya.

Dalam hal ini ini, beneran berlaku SILENCE IS GOLDEN alias DIAM ITU EMAS.

“Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.”
(Amsal 12:18)


Saya seriiiinngggg jatuh di sini. *tertunduk malu* Ada temen yang pernah bilang, saya ini tipe orang yang mikirnya kecepetan. Terutama kalo ngobrol atau ngomong, nah itu respon saya menjawab bisa cepet banget (katanya sih gitu, entah bener apa enggak). Makanya, baik disadari atau gak disadari, respon saya terhadap suami tuh keluarnya sering gak enak didengar. Kadang ketus, kadang mempertanyakan atau gak percaya, orang Jawa bilang maido. Kadang downright disrespectful alias gak sopan >_<

Daaaan yang lebih parahnya, anak saya juga mulai ikut-ikutan ngomong ke papanya kayak gaya saya ngomong. Huhuhu... :"(

Perlu saya sebutkan di sini, buat yang kenal sama my hubby, mungkin tau ya, orangnya heboh dan kadang mengutarakan hal-hal yang enggak lazim wkwkkwwk... Saya ngomong apa sih hehehe... Susah dideskripsiin nih, pokoknya jalan pikirannya tuh kadang anti mainstream gitu. Out of the box lah istilahnya. Dan kadang dia juga susah mengungkapkan yang ada di pikirannya supaya bisa ditangkep dengan baik sama pendengarnya. Makanya gampang muncul salah paham, atau menimbulkan respon yang “enggak lazim” (alias gak bener) juga dari saya. Hihihi...

Terlepas dari gimana watak, sifat serta kecenderungan kita dan pasangan, sebagai istri kita diminta untuk tunduk, termasuk malah terutama dalam ucapan. Karena ucapan kita bisa membangun, atau meruntuhkan suami. Membangun kepercayaan diri suami atau meruntuhkannya. Membangun atau bikin melempem hubby’s sense of leadership. Membangun kepercayaan kita sendiri terhadap suami, atau mengikisnya sampe habis.

“Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.”
(Amsal 14:1)

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”
(Efesus 4:29)

Jadi, jangan buru-buru ngeluh kalo suami dirasa kurang tegas, atau kok leadership-nya lemah, atau susah mengambil keputusan. Mungkinkah suami jadi takut salah karena komentar kita yang terlalu pedas? Bukan takut istri, cuma MALEESSSS denger omelan, males salah paham, males berdebat. Ujung-ujungnya suami males bikin keputusan, males mimpin, “Gimana kamu aja dah...” 

Jangan langsung ngiri kalo denger suaminya si A bisa minta pertimbangan istrinya, lalu dengan tegas penuh percaya diri mengambil keputusan yang baik. Jangan banding-bandingin suami kita sama suami si B yang leadership-nya bagus banget.

Coba deh mulai perhatiin sikap para istri dari pria-pria yang sukses mimpin keluarganya ini. Mungkin sikap dan omongan para istri ini bikin suami mereka mekar merekah cetar membahana?

“Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.”
(Amsal 31:11-12)

“Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.”
(Amsal 12:4)

“Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.”
(Amsal 31:23)

Sikap tunduk dan omongan positif para istri terpuji ini yang semestinya bikin kita ngiri, lalu kita teladani. Satu lagi PR yang gak kalah penting. Kalau udah berhasil menyortir omongan dan hanya mengeluarkan kalimat-kalimat yang tepat di saat yang tepat kepada suami, bolehlah kita berbangga, tapi perjuangan belum selesai.

Seandainya kemudian things go wrong, as they most certainly WILL one time or another, jangan bilang, “Tuh... kan... nyesel deh kemaren gue gak kasih saran... Gak bener noh blogger yang sok iye nyuruh2 saya mingkem!” :P atau “Duhhh, gimana sih kamu, Say... Makanya pake cara saya aja...” dan sejenisnya. Nyalahin saya sih boleh (soale saya gak bakal kerasa juga, xixixi...), tapi jangan nyalahin suami ya.

GIVE HIM ROOM TO ERR. Kasih ruang buat suami bikin salah. Suami manusia biasa kan? Makanya pasti ga luput dari kesalahan. (Yang suaminya bukan manusia boleh protes, heheheh...) Kasih kesempatan untuk suami belajar dari kesalahannya. Percaya deh, suami akan sangat menghargai kalo kita bisa dengan tulus bilang, “Gak papa, Hunny... Pemimpin juga manusia... I still TRUST you and want you to lead.”

So, kalo kita berdoa buat suami dan mendoakan leadership-nya, perlu juga doa supaya kita diberi hikmat buat membangun dan mendukung suami melalui sikap dan omongan kita.

Yup, segitu aja deh sharing saya tentang (h)ajaran terbaru Tuhan buat saya tentang submission. Saya nulis postingan begini bukan mau sok-sok-an ngajarin. Justru ini lesson yang saya dapet dari kedodolan harian saya, saya tulis sebagai pengingat di kemudian hari (soale biasanya kedodolan saya ga bisa ilang dalam waktu singkat atau dengan 1 hajaran doang huekekek...), sekalian buat menghibur yang baca (siapa tau ada yang kelemahannya sama kayak saya :P), sukur-sukur kalo yang baca bisa dapet berkat...

Monday, October 22, 2018

On Submission (Part 1)


by Natalia Setiadi 

Salah satu perintah paling populer tapi paling SUSYEH buat para istri, terutama istri yang agak bedegong (= semau gue) seperti saya, adalah:

“Hai isteri-isteri, TUNDUKLAH kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.”
(Kolose 3:18)


Tunduk itu apa sih? Kata Kamus Bahasa Indonesia (http://kamusbahasaindonesia.org), kata kerja TUNDUK bermakna:
1) Takluk; menyerah kalah
2) Patuh; menurut (perintah, aturan, dsb)

Kalo kata Encarta Dictionary, kata SUBMIT yang diterjemahkan jadi kata kerja TUNDUK dalam bahasa Indonesia punya makna:
1) Yield: to accept somebody else's authority or will, especially reluctantly or under pressure
2) Agree: to agree to undergo something
3) Defer: to defer to another's knowledge, judgment, or experience

Seorang wanita misionaris yang sangat saya hormati dan sudah menginspirasi buanyaakkk sekali orang pernah bilang, “Kalo kamu tidak pernah bergumul untuk tunduk kepada suamimu, mungkinkah itu artinya kamu belum benar-benar berusaha tunduk?”

JLEB. Daleeemmm…

Jujur, sebelom itu emang saya ga pernah mikirin soal tunduk sih huekekeke… setelah baca banyak tulisan soal submission, dan setelah saya mulai belajar untuk benar-benar tunduk kepada suami saya, barulah CELIK MATAKU… *.*

Kadang-kadang kalo abis gagal tunduk, dalam hati saya bersungut-sungut, “Kalo aja suamiku bisa lebih bae dalam memimpin, mungkin saya bisa lebih mudah tunduk…“

Atau “Hmmm… rasanya dalam hal X, Y, Z saya masih lebih ‘godly’ deh daripada suami, seandainya aja dia bisa lebih worth submitting under dalam hal-hal itu!”

Padahal sih walopun suami udah jadi pemimpin yang baik, udah godly dan bae dalam hal X, Y, Z, percaya deh pasti adaaaa aja hal-hal laen yang bisa saya jadiin alasan. Karena suami saya manusia biasa yang tidak sempurna. Dan karena dalam keengganan saya untuk tunduk, saya berusaha cari pembenaran diri (yang tidak benar ini).

Bukankah Alkitab ga pernah bilang, “Tunduklah kalau suamimu pemimpin yang baik, kalau dia kurang baik, tunduk saja sama tetangga…” dan bahkan ga ada tulisan “Tunduklah kalau suamimu orang percaya, kalo dia belum percaya ga usah lah yauw…”

Jadi? Seandainya pun suami belum percaya, kita TETAP DIPERINTAHKAN untuk tunduk!

Perintah yang sama ini diulangi di

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan”
(Efesus 5:22)

dipertegas di

“karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat”
(Efesus 5:23)

dan diulangi lagi dalam

“Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya.”
(1 Petrus 3:1)



Ada apa dengan TUNDUK? Kenapa sampe ditulis berulang-ulang? Biasanya apa yang pengen kita tekankan ke anak kita pasti sering kita ulang-ulang kan? Begitu juga soal submission ini. Diulangi berkali-kali karena memang penting, dan supaya yang baca bener-bener ngeh dan menyadari pentingnya. Saya sama sekali bukan expert soal Firman Tuhan, so ga berkompeten (banget) untuk mengulas panjang lebar dan dalam soal ayat-ayat tentang ketundukan ini, tapi di sini saya share aja berkat & pencerahan yang saya dapet secara pribadi ya…

Soal tunduk menurut saya berhubungan erat dengan tipe kepribadian masing-masing orang. Ada orang-orang yang emang senang dipimpin, jadi bisa tunduk dengan lebih mudah. Ada orang-orang yang emang “dari sononya” dominan, suka memimpin dan selalu punya pendapat sendiri, susah banget nerima pendapat orang lain atau nurut apa kata orang lain.

Tapi saya rasa semua ibu rumah tangga tuh udah ditempa oleh situasi dan kondisi, harus bisa mengatur rumah tangga, jadi udah terbiasa bikin banyak keputusan sehari-hari. “Hari ini masak apa ya? Hm... Ikan aja deh...” atau “Kayanya mau hujan, mendingan nyuci baju hari ini apa besok ya? Besok aja deh...” dst. Belom lagi kalo udah punya anak. Yang udah biasa ngurus baby pasti manggut-manggut tuh :) Soale dengan punya baby itu kita kudu bikin SEMUA keputusan buat si baby; kapan nyusu, kapan mandi, kapan mulai MPASI, mau kasih imunisasi apa aja, dst.

So, sejak bergelar “nyonya” apalagi “mama”, kita udah terkondisi untuk selalu punya pendapat atau keputusan tentang berbagai macam hal. Nah karena suami-suami tuh relatif lebih banyak di luar rumah, otomatis kita semakin “merajai” urusan rumah tangga, dan sampai titik tertentu memang begitulah seharusnya, kan kita ini helpmeet-nya suami, ya gak, ibu-ibu? :)

Tapi susahnya, dengan terbiasa jadi tukang ngatur gitu, makin lama kita makin tau dan makin mahir, dan makin MERASA LEBIH TAU dan MERASA LEBIH MAHIR, terutama soal anak. Karena kita seharian bareng anak, otomatis kita memang lebih tau jadwal rutinnya anak, apa yang boleh dimakan atau dilakukan sama anak, dan kapan waktunya. Sedangkan suami yang seharian di kantor mana tau anaknya setengah jam yang lalu makan apa?

So, yang sering kejadian adalah: begitu suami pulang dan nongolin muka di pintu depan, anak udah nodong dengan pertanyaan, “Papa, boleh ngga saya makan es krim sekarang?”

Karena papanya kangen dan ngga tega nolak atau udah cape ga berminat dibikin pusing lagi sama anak yang ngambek, bilang boleh.

Trus mulai deh istrinya ngomel, “Papa ini gimana sih, dia baru aja ngabisin es duren semangkok, masa sekarang boleh makan es krim lagi?”

Papa jawab dengan agak kesel, ”Yah, meneketehe atuh…”

Kalo istrinya jawab lagi jadi ribut deh… -.-‘

[Disclaimer: ini bukan peristiwa yang sebenarnya dan bukan pengalaman pribadi. Saya cuma ngarang. Beneran! :P]

Poinnya adalah bahwa perkara tunduk ini bener-bener nyerep banget deh di kehidupan sehari-hari, masuk di segala aspek kehidupan! Karena itu, sebenernya ada banyak kesempatan di mana kita bisa praktik atau minimal belajar seni tunduk kepada suami.

Kalo saya mah jangan dicontoh ya. Tunduk bagi saya SUSYEHNYA ajubileh deh… Saya mendingan markirin mobil di tempat sempit sambil diklaksonin orang daripada tunduk! -.-‘ Saya masih buaanyaaak banget gagalnya. 

Karena situasi mengharuskan saya mandiri, saya terbiasa untuk bikin keputusan sendiri tanpa konsultasi sama suami (yang memang ga setiap saat bisa jawab telepon semaunya). Untuk hal-hal besar atau ngga mendesak sih udah otomatis berunding dulu, tapi untuk hal-hal kecil yang kurang penting atau yang mendesak, saya cenderung ga sabar and buru-buru jalan tanpa minta pertimbangan suami. 

Saya sadar ini salah, dan saya berjanji sama diri sendiri untuk bertekun dalam usaha saya tunduk, tidak mengutuk diri sendiri kalau saya gagal atau jatuh, dan menjadikan pengalaman kegagalan yang buanyak itu sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Hasil brainstorming saya sama suami, dalam situasi-situasi yang mirip dengan kasus es krim di atas, kami sepakat untuk tidak langsung kasih jawaban kepada anak. Saya & suami harus komunikasi dulu, dan pada akhirnya harus suami yang kasih keputusan final kepada anak, boleh atau tidaknya. Suami DILARANG KERAS bilang, “Tanya aja sama mama…” karena itu bisa bikin anak berpikir bahwa mama-lah yang jadi pembuat keputusan akhir.

Tanya: Kalo saya orangnya dominan atau emang berwatak koleris gimana dong?

Jawab: Ya berubah lah! Gak ada cara lain :) Maksud saya bukan berubah watak kudu jadi lemah gemulai ya... Kalo begono mah ampe taon kuya juga gak bakal bisa kali, yang ada setreessss! 

Maksud saya berubah adalah minta Tuhan ubahkan sikap hati kita dan kuatkan tekad kita dan memampukan kita untuk tunduk. Karena perintah ini bukan cuma buat orang-orang yang berwatak flegmatis, tapi buat SEMUA istri. Minta Tuhan beri kita a gentle and quiet spirit, alias roh yang lemah lembut dan tenteram. Walopun koleris bukan berarti kita harus gahar en gak bisa lebih kaleman dikit kan?

Tanya: Kalo suaminya bener-bener ga OK (contoh ekstrim: masih berkubang dalam dosa seperti pemabuk, penjudi, pemarah, dll) gimana? 

Jawab: Yang kayak gini memang ujian buesarrr dalam hal ketundukan, dan saya sendiri ga punya wawasan tentang hal ini. Tapi saya percaya bahwa tugas kita para isteri adalah tetap MENGASIHI, TUNDUK, dan BERDOA buat suami, sedangkan MENGUBAH suami adalah bagiannya Tuhan. Just submit, love, and pray, and let God do His thing with your hubby. 

Dalam hal ini, 1 Petrus 3:1b bisa jadi janji yang menguatkan kita, “… Supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya.” Bisa share Firman Tuhan secara verbal itu baik, tapi seandainya hal ini ga mungkin dilakukan, kelakuan juga BISA BERBICARA banyak. 

Tunduk itu dahsyat!

Submission is powerful!

Friday, October 12, 2018

(Bukan) Memanipulasi Pasangan


by Alphaomega Pulcherima Rambang

“Si Dina sama lho, kayak Adek”, kata suamiku beberapa waktu yang lalu. FYI, Dina tuh, sepupuku yang umurnya baru 4 tahun. Dia lucu dan cerewet banget. Dia suka nempel sama suamiku dan minta ditemani bermain.

“Sama kenapa, Bang?”

“Iyaaaa... Masak dia minta Abang pilih-pilih baju di game-nya, terus akhirnya, eh… dia malah milih pilihannya sendiri. Wanita di mana-mana sama ya, Dek. Gak besar atau kecil, sama aja.”

Aw. Aw. Aw. Aku tertawa, tapi juga merasa tersindir.


--**--


Astagaaaa… Jadi selama ini aku berbuat demikian dong, sama suamiku, sampai-sampai dia menyamakan Dina denganku—yang ternyata sering sok-sokan nanya pendapat suamiku lalu ujung-ujungnya pendapat sendiri yang dipake. Ngapain nanya kalau begitu, yah? Wanita ya, ada-ada aja. Mending dari awal buat pilihan sendiri aja, daripada nanya tapi gak mempertimbangkan jawaban suami dan membuat pilihan sendiri hehehe. Aku merasa bersalah. Harus bertobat dan berbalik dari jalan yang jahat nih :p Kalau hal ini terjadi sewaktu pacaran gak apa-apa kali ya. Kolose 3:18 kan, bilang gini:

Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
(Kolose 3:18)


Sebagai seorang istri, kalau kita gak nurut sama suami, ternyata itu bisa menyakiti hati suami lho, seolah-olah kita meragukan pemikiran dan keputusannya. Contohnya ini:

Ada suami istri jalan bareng ke pusat perbelanjaan. Istri mau beli keranjang sampah, lalu terjadilah percakapan begini:
Istri: Pap, keranjang sampahnya bagusan yang warna apa nih?
Suami: Yang biru aja Mam.
Istri: Kenapa?
Suami: Kenapa ya? Gak kenapa-napa sih, tapi papi suka yang biru.
Istri: Okeee... *ujung-ujungnya beli yang warna pink*
Suami: *pingsan*

Hahahaha, ini bukan percakapanku dan suamiku yaaaa :p Mana pernah kami manggil 'mami papi' gitu (LOL). Tapi kira-kira begitulah gambarannya. Kan bikin kesel ya? ^^' Kalau cuma sekali dua kali gak apa-apa. Kalau keseringan? Jangan salahkan suami kalau jawabannya TERSERAH :p

Sebaliknya, saat kita menaati suami—dalam segala hal—itu bisa membuat dia sangat senang. Di sinilah pentingnya bagi kita untuk BELAJAR TUNDUK PADA SUAMI, sekalipun untuk sesuatu yang sederhana. Alasannya karena firman Tuhan berkata demikian :) Dari ‘sindiran’ suamiku di awal tulisan ini, aku merasa dicubit dan diingatkan, “Noh Meg... dari hal kecil pun kamu harus belajar menghargai pendapat suamimu. Memang menyakiti kamu kah kalau memilih warna keranjang sesuai pilihan suami?” *eh, yang di atas tadi bukan aku kok, bukaaaannn... bukaannnn...^^’


Saat kita setia dalam perkara kecil maka kita akan setia dalam perkara yang lebih besar.

Yes. Amen. Aku masih percaya itu. Kalau perkara kecil saja aku tidak menghargai pendapat suami, bagaimana aku bisa menghargainya dalam perkara lain yang lebih besar? Gak bakal! Semakin banyak aku melatih diriku dalam penundukan-penundukan kecil, maka aku akan mudah tunduk dalam perkara lain yang lebih besar.

Aku mulai mencari ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang penundukan istri terhadap suami dan menemukan beberapa hal:

1. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. – Efesus 5:22 
Hai para istri (cieeee...), aku menulis ini juga untuk mengingatkan diri sendiri: 

Ketaatan pada suami merupakan ketaatan pada Tuhan, karena Tuhan memerintahkan kita melakukan itu!

Kalau kita gak bisa menemukan alasan untuk taat pada suami, lakukanlah itu untuk Tuhan. Karena Tuhan telah mengasihi kita dengan kasih yang sempurna, yuk kita meresponi kasih-Nya dengan tunduk pada suami.

2. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. – Efesus 5:24 
SEGALA SESUATU?

Gak salah ini ayat? Masak sih, SEGALA SESUATU?

Maksudnya, ketaatan gak hanya dipraktikkan saat kita ingin melakukannya, atau saat kita sepenuh hati setuju dengan suami kita, atau saat dia memperlakukan kita dengan kasih Kristus. Tapi dalam segala sesuatu! Alkitab gak bilang: taatlah KALAU… Taat ya taat. Titik. Kita bertanggung jawab pada Tuhan atas tindakan kita masing-masing, dan gak ada alasan untuk ketidaktaatan atas Firman-Nya. Tuhan membuat suami untuk memimpin; jadi istri harus membiarkan dia memimpin dan memperlakukannya seperti seharusnya seorang pemimpin diperlakukan. Suami memerlukan seseorang untuk menguatkan dia, menghargai dia, percaya padanya, dan menghormatinya. Dan itulah alasan Tuhan memberikannya istri! Dengan demikian, suami akan mampu menanggung lebih banyak kesulitan karena dia tahu ada seorang istri di rumah yang mengagumi dia, percaya, dan mendukungnya, apapun yang terjadi.

Bagaimana kalau suami kita bukan seorang Kristen yang taat?

Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya.
(1 Petrus 3:1)

Tuhan bilang kalau ketaatan istri merupakan kunci memenangkan suami yang belum taat kepada Kristus. Bukan omelan istri. Bukan rongrongan istri. Istri gak perlu berkhotbah. Istri hanya diminta untuk tunduk pada suaminya dengan sukarela, sukacita, dan penuh kasih. Tuhan akan memakai penundukan seorang istri untuk memenangkan suaminya bagi Kristus.

Tapi bagaimana kalau suami meminta saya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan?

Ini satu-satunya pengecualian yang bisa kita temukan terhadap kata “dalam segala sesuatu” di Efesus 5:24. Petrus berkata agar istri untuk tunduk pada suami yang belum percaya. Tapi Petrus saat ditegur karena memberitakan Kristus, dia juga pernah menjawab, "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” (1 Petrus 5:29)

Istri gak boleh asal taat sama suami. Saat suami berbuat salah, istri wajib mendoakan dan mengingatkan suaminya untuk hidup benar sesuai dengan kehendak Tuhan. 

Jadi pertama-tama, taat sama Tuhan, baru taat sama suami. Kalau suami meminta kita melakukan sesuatu yang bertentangan sama apa kata Tuhan, baru jangan diturutin, deh. Tapi baek-baek ya, ngomongnya. Jangan sampe ada piring terbang segala (emang UFO :p). Kalo kagak mah, nurut aja deh. Pasti sulit untuk tunduk, apalagi kalau istri selalu merasa paling benar. Karena itulah, kita perlu berlatih untuk berserah—dimulai dari hal kecil, dibiasakan dari hal yang sederhana. Belajar percaya bahwa Tuhan yang akan menuntun keputusan suami. 


Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
(Efesus 4:22-23)

Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya bagiNya.
(Efesus 4:25)

Dulu kalo baca tiga ayat di atas, aku mikir, “Kenapa sih isteri disuruh tunduk sama suami, sedangkan suami disuruh mengasihi isteri. Sedemikian sulitnya kah buat istri menundukkan diri pada suaminya sampai harus ada ayat khusus gitu?” Tapi setelah sharing dengan seorang teman, akhirnya aku memperoleh pencerahan ^^’

- Kenapa suami diminta mengasihi istri?
- Kenapa istri diminta tunduk sama suami?

Sebenarnya, Allah menginginkan hubungan suami-istri yang ada di dunia ini menggambarkan hubungan Kristus dan jemaat. Saat orang lain melihat suami-istri Kristen, Allah rindu hubungan mereka mencerminkan hubungan antara Kristus sebagai Kepala dan jemaat sebagai mempelai-Nya. Suami yang mengasihi istrinya hingga rela berkorban merupakan gambaran bagaimana Allah telah menyerahkan semua yang dimiliki-Nya bagi jemaat; sementara istri yang tunduk kepada suaminya adalah gambaran jemaat yang mau menundukkan diri dan percaya pada pimpinan Sang Kepala (alias Kristus).

Adalah mudah bagi wanita untuk tunduk pada pria, waktu dia merasa dikasihi olehnya. Adalah mudah bagi pria untuk mengasihi hingga mengorbankan dirinya sewaktu istrinya tunduk dan percaya padanya.

Rumus yang gampang (secara teori) sebenarnya, ya...

Wahai para suami (yaa, Pearl juga boleh dibaca para pria, kok. Hahaha), jika engkau mau istrimu tunduk, kasihilah dia dengan cara yang dipahaminya. Buat dirinya merasa dikasihi dan voilaaaa... Engkau akan mendapatkan sikap hormat dan tunduk dari istri.

Wahai para istri, tunduklah pada suamimu. Dengarkan kata-katanya, hargai pendapatnya, hormati keputusannya, jangan suka berbantahan. Dan... Tiba-tiba suamimu akan bersikap manis.

So simple, isn’t it?

Tapi bukan cuma itu yang Tuhan mau. Logikanya udah bener, sih. Hati suami mana sih yang gak semakin mengasihi istrinya saat dia lihat istrinya mau tunduk padanya, menghargai pendapatnya, menghormati setiap keputusannya dan tidak suka berbantahan dengannya. Disadari gak disadari, sikap tunduk seorang wanita menunjukkan seberapa besar dia memercayai suaminya. Demikian pula sebaliknya: bagaimana istri gak tunduk dan menghormati suaminya, berkata manis dan taat waktu dia tahu suaminya begitu mengasihinya? Tentunya sang istri tunduk karena dia percaya suaminya sedemikian mengasihi dia sehingga keputusannya adalah yang terbaik dan didasari kasihnya kepada istri.

Tapi bagi Allah, hubungan suami-istri bukan hanya hubungan timbal balik (alias simbiosis mutualisme), di mana kalo sang suami mengasihi lalu istri tunduk, lalu bila sang suami gak mengasihi, sah-sah saja buat sang istri melawan. NOOOOO...!!!

Kita harus ingat: hubungan suami isteri adalah gambaran hubungan KRISTUS dan jemaat.

KRISTUS mengasihi jemaat-Nya tanpa syarat. Itu pula yang Tuhan mau dari para suami dan istri, Dia tidak ingin suami maupun istri MEMANIPULASI pasangannya dengan melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, karena kalau itu yang terjadi… Pernikahan seperti ini bukanlah gambaran hubungan Kristus dan jemaat lagi.

Allah mau suami menjalankan perannya untuk mengasihi dan istri untuk tunduk dalam keadaan apapun juga, sepanjang gak bertentangan dengan Firman Tuhan. Gak bisa dipungkiri, pasti ada kalanya suami maupun istri gagal dalam menjalankan peran masing-masing. Iya lah, manusia bisa gagal. Memang bukan karena disengaja, tapi ada kalanya kita gagal.

Contoh:
Suami udah capek banget waktu pulang dari kantor, lalu ingin segera beristirahat dan gak bisa memberikan telinganya untuk sang istri, padahal istrinya merasa dikasihi waktu dirinya didengarkan. Istri yang kesal karena hubungannya dengan rekan kerjanya terganggu lalu pulang ke rumah dan menjadi ketus saat diminta suaminya melakukan sesuatu.


Pasti akan ditemui kegagalan-kegagalan seperti itu.

Tapi... ketika suami-istri tetap berkomitmen menjadikan hubungan mereka sebagai cerminan hubungan Kristus dan jemaat, mereka akan dimampukan untuk tetap bertahan dan tetap menjalankan peran mereka—seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Sekali lagi, bukan karena ingin memanipulasi pasangannya, tapi karena mereka menyadari hubungan mereka seharusnya mencerminkan kemuliaan Kristus. Kristus yang mengasihi jemaat tanpa syarat, dan jemaat yang tunduk kepada Sang Kepala Jemaat dan merasa aman dalam naungan kasih-Nya.