Showing posts with label Give Thanks. Show all posts
Showing posts with label Give Thanks. Show all posts

Friday, July 13, 2018

Yang Rukun, Masbro, Mbaksis


by Glory Ekasari

Beberapa hari ini aku terus-terusan diingetin tentang kasih dalam tubuh Kristus, dan tiap kali, ada aja hal baru yang Tuhan ajarin ke aku. Kemaren bacaan Alkitabnya dari Kolose 3:8-17, tapi aku kecantol di ayat 15, jadi aku ublek-ublek ayat itu. Gimana sih, ublek-ublek ayat? Silakan baca post sebelumnya. Ini ayatnya:

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.”
(Kolose 3:8-17)

Awalnya aku sempat bingung karena merasa ga dapet logika kalimatnya. Tapi setelah direnungkan, liat ayat yang sama dalam versi lain, mikir lebih ekstensif, inilah hasil perenungan dan pembelajaran semalam.


// KITA DIPANGGIL UNTUK HIDUP RUKUN

Adalah rahasia umum bahwa dalam gereja sendiri ada masalah dengan kerukunan. Padahal, “Untuk itulah,” kata Paulus, “kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh.” Untuk apa? Untuk hidup berdamai satu dengan yang lain! Aku kemaren baca quote-nya Mark Driscoll: “Saying, 'I love Jesus, but not the church” is like saying, “I love my adoptive father, but I don’t care about the rest of the family.'” Ga bisa dong.

Kita dipanggil untuk menjadi satu tubuh. Kita harus terima kenyataan bahwa orang lain beda dengan kita, ada sifat mereka yang ‘sulit’, tapi kita dan mereka adalah satu tubuh. Kalo dipisah, bakal koyak! Paulus pake metafor yang bagus: tubuh. Anggota tubuh ga bisa saling bermusuhan; mereka harus saling mendukung. Waktu mereka ga saling mendukung, tubuh jadi disfungsional, dan kita mengeluh, “Aku sakit.” Sakit artinya ga sehat; tubuh ga berada dalam kondisi normal. Demikian juga anak-anak Tuhan yang ga saling mendukung, mereka ga berada dalam kondisi normal.

Istilah “dipanggil menjadi satu tubuh” juga perlu diperhatikan. Mungkin selama ini kita pikir panggilan = profesi. Tapi ini lebih dari sekedar kegiatan: panggilan kita adalah untuk menjadi satu, satu tubuh yaitu tubuh Kristus. Kerjasama. Saling mendukung. Rukun. Kita dipisahkan dari dunia untuk masuk dalam persatuan anak-anak Allah. Jadi, seperti ada orang yang dipanggil jadi misionaris, businessman, dll, kita semua dipanggil untuk jadi satu tubuh yang saling mendukung, harmonis dan rukun, damai satu dengan yang lain.


// DAMAI SEJAHTERA KRISTUS

Tapi kenyataannya, orang-orang kristen berselisih satu dengan yang lain. Mengapa begitu? Dan gimana biar ga begitu? Paulus bilang, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu.”

Ga ada cara lain, kita harus memiliki damai itu. Kalo orang dari dalemnya ga ada damai, gimana dia mau damai sama orang lain? Aku jadi inget analogi kapal yang dipake C. S. Lewis. Sekarang pertanyaannya, sudahkah damai ada dalam hati kita? Ada dua hal penting yang aku perhatikan di dalam bagian ini.
  • Damai sejahtera yang dari Kristus 
  • Damai itu memerintah dalam hati kita. 

1. Kita ga bisa berdamai kalo damai itu dibuat-buat atau damai dari diri kita sendiri. 
Istilah “damai” buat manusia itu maksudnya biasanya begini: “Gue ga ganggu elu, lu juga jangan ganggu gue.” Itu bukan damai, cuy, itu mah individualisme. Berdamai sama orang lain versi Alkitab itu berbuat baik pada dia, memperhatikan keadaannya, tolongin waktu dia susah, doain dia, dan semua yang baik-baik itu – lepas dari perlakuan orang itu terhadap kita. Nah, yang seperti itu datangnya bukan dari dunia atau diri kita sendiri, tapi dari Kristus. Tanpa Dia, orang ga bisa berdamai dengan Allah. Dan kalo ga bisa berdamai dengan Allah, mana ada damai sejati di hatinya? Kalo ga ada damai sejati, gimana bisa mengasihi dan hidup berdamai dengan orang lain?

2. Damai itu memerintah.
Aku sadar ini adalah hal yang ga biasa buat pemikiran orang dalam generasiku. Seperti apa itu damai yang memerintah? Ini, saudara sekalian, adalah pekerjaan Roh Kudus. Inget dong, apa yang Paulus bilang tentang buah Roh? Paulus mengkontraskan buah Roh dengan perbuatan daging – yaitu natur kita, manusia, yang berdosa. Lalu dia bilang begini, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Galatia 5:25). Roh Kudus sanggup menguasai seseorang yang telah menyerahkan hidupnya kepada Kristus, menguasai hati dan perasaannya, memberikannya kasih dan damai sejahtera yang “melebihi segala akal.” Terpujilah Tuhan!


// “HENDAKLAH!”

Kalo itu semua pekerjaan Tuhan, kenapa kita yang diperintah? Kok jadi “mengalihkan tanggung jawab”?

Sama sekali bukan. Masalahnya, seringkali kita ribut sama orang lain bukan karena kita tidak bisa menahan diri, tapi karena kita pengen ribut aja, alias egonya terganggu. Kita perlu menginginkan perdamaian. Bahasa Alkitabnya malah lebih keras lagi: Kejarlah, Usahakanlah! (2 Timotius 2:22, Roma 12:18).

Penting sekali buat kita untuk sadar bahwa kalo kita ga mengejar perdamaian, ga mengampuni orang yang salah sama kita, ga mau mengalah, apalagi cari ribut (?!), kita sedang menyebabkan disfungsi dalam tubuh Kristus! Paulus bicara dengan keras kepada orang-orang yang menyebabkan perpecahan di Korintus: “Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan (menghancurkan) Bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia; sebab Bait Allah adalah kudus, dan Bait Allah itu ialah kamu.” Ini keras! Setiap kita, yang tidak mengusahakan perdamaian dalam tubuh Kristus, bersalah untuk hati yang keras itu. Karena itu Paulus menulis pesan ini dalam bentuk imperatif; ini bukan tentatif, bukan kalo kita lagi pengen aja, bukan kalo mood kita lagi bagus; tapi HARUS, apapun yang terjadi.


// BERSYUKURLAH

Yang uda bertahun-tahun jadi Kristen, aku mau tanya, kapan terakhir bersyukur karena kalian adalah anggota keluarga Allah? Kapan terakhir bersyukur buat gerejamu, buat komunitasmu, buat saudara-saudari seimanmu?

Begitu kenal saudara-saudara se-Bapak, jadi susah ya, mengucap syukur? Liat kekurangan mereka – yang kadang-kadang kebangeten, liat kelemahan dan kebodohan yang dilakukan anak-anak Tuhan, rasanya ga bisa deh bersyukur. Rasanya terlalu banyak yang harus diperbaiki, sampe-sampe ga kliatan lagi apa yang bagus.

Tapi mari kita belajar dari Paulus. Paulus hampir selalu mengawali suratnya dengan pernyataan bahwa dia bersyukur atas keadaan jemaat yang ia kirimi surat (kecuali kalo dia lagi buru-buru mau ngomong sesuatu yang penting). Jemaat Korintus, salah satu jemaat yang paling amburadul, menerima salam ini dari Paulus:

“Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segalah hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus yang telah diteguhkan di antara kamu.”

Dalam jemaat yang kacau seperti itupun Paulus masih menemukan alasan untuk bersyukur. Gimana dengan kita? Apa kita ga bersyukur bahwa orang di kanan kiri kita di gereja sudah diselamatkan? Bersyukurkah kita karena ada saudara kita yang mau melayani Tuhan di gereja? Bersyukurkah kita bahwa kita punya komunitas yang terus mengingatkan kita tentang Tuhan (lewat kebaikan maupun keburukan mereka)?

“Bersyukur” pun ditulis dalam bentuk kalimat perintah. “Dan, bersyukurlah.” Buka mata untuk lihat apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita, lihat apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup saudara-saudari kita. Bersyukurlah.

***

Tentu melakukannya lebih susah dari menulisnya. Tapi kalo kita ga melakukan ini, kita melukai tubuh Kristus, tubuh Dia, yang katanya kita cintai. Kristus adalah kepala, kita adalah tubuhNya. Kalo kita sayang Tuhan Yesus, kita akan mau belajar mengasihi tubuhNya juga: saudara-saudara seiman kita. Akhir kata...

“Berbahagialah orang yang membawa damai,
karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
– Yesus

Wednesday, May 31, 2017

When Prayers Don’t Make You Feel Better



by Wellney Yarra

Seringkali kita berdoa untuk meminta berkat, damai sejahtera, perlindungan Tuhan, kesembuhan dan hal-hal baik lainnya. Namun, seringkali kita tidak mendapatkan hal-hal yang kita inginkan sehingga doa kita serasa percuma...

Kenapa? Kenapa doa kita seringkali seperti tidak terjawab, atau malah dijawab dengan kebalikan dari apa yang kita minta?

Lagu ini menggambarkan perasaan itu.

We pray for blessings, we pray for peace
Comfort for family, protection while we sleep
We pray for healing, for prosperity
We pray for Your mighty hand to ease our suffering
And all the while, You hear each spoken need
Yet love us way too much to give us lesser things

'Cause what if your blessings come through raindrops
What if Your healing comes through tears
What if a thousand sleepless nights are what it takes to know You're near
What if trials of this life are Your mercies in disguise

We pray for wisdom, Your voice to hear
We cry in anger when we cannot feel You near
We doubt your goodness, we doubt your love
As if every promise from Your word is not enough
And all the while, You hear each desperate plea
And long that we'd have faith to believe

'Cause what if your blessings come through raindrops
What if Your healing comes through tears
What if a thousand sleepless nights are what it takes to know You're near
What if trials of this life are Your mercies in disguise

When friends betray us
When darkness seems to win
We know that pain reminds this heart
That this is not,
This is not our home
It's not our home

'Cause what if your blessings come through raindrops
What if Your healing comes through tears
What if a thousand sleepless nights are what it takes to know You're near

What if my greatest disappointments or the aching of this life
Is the revealing of a greater thirst this world can't satisfy
What if trials of this life
The rain, the storms, the hardest nights
Are your mercies in disguise

Kita mungkin sudah mendengar lagu ini berkali-kali... Namun bagaimana kalau masalah-masalah yang kita hadapi adalah berkat Tuhan yang belum dapat kita mengerti? Tidak sulit bagi Tuhan memberikan apa yang kita mau, namun Dia lebih tahu apa yang kita butuhkan. Jawaban dari apa yang kita butuhkan terkadang datang dalam bentuk masalah, bukan berkat.

Ketika kita meminta kesabaran, Tuhan tidak secara ajaib membuat kita menjadi semakin sabar ketika kita tertidur. Namun, Dia memberikan masalah-masalah yang menguji kesabaran kita. Ketika kita berdoa meminta damai, terkadang bukannya keadaan membaik sehingga mempermudah kita untuk merasakan damai. Namun, keadaan malah semakin runyam dan membuat kita sulit untuk mempunyai damai di dalam hati. Tanpa kita sadari, ketika kita dapat merasakan damai Kristus walaupun berada dalam keadaan seperti itu... itulah damai yang sesungguhnya, yaitu “damai yang melampaui segala akal” (Filipi 4:7). Jawaban doa tidak selalu datang dalam bungkusan yang cantik.

Oleh karena itu, ketika berdoa tidak membuat kita merasa lebih baik, atau ketika doa membuat keadaan seperti menjadi lebih buruk dari semula, ketika kita tidak lagi ingin atau mempunyai kekuatan untuk berdoa, ingatlah tiga hal dari lagu ini:
1. Jawaban doa tidak selalu straightforward 
Seperti contoh yang kita bahas tadi. Ketika kita meminta kesabaran, kita tidak diberi kesabaran ekstra saat tidur, namun malah diberi masalah yang kemudian secara perlahan akan membentuk kita untuk menjadi lebih sabar. 
2. Hanya Tuhan yang dapat mengisi hati kita 
Manusia dapat menyakiti kita, dan hal-hal duniawi seperti harta kekayaan maupun status dapat hilang. Ketika hal itu terjadi, kita mempunyai damai karena kita tahu bahwa bukan hal-hal inilah yang memuaskan hati kita, karena hanya Dia yang dapat melakukannya. 
3. Dunia ini bukanlah rumah kita yang sesungguhnya 
Kita tidak hanya diciptakan untuk hidup di dunia ini dan mati. Kita diciptakan untuk menikmati kekekalan bersama-Nya. Apapun masalah yang kita hadapi hari-hari ini, this too shall pass. Even “the world and its desires pass away, but whoever does the will of God lives forever.” (1 John 2:17)

Monday, May 29, 2017

Peace When You Are Pissed




by Wellney Yarra

Hello, Ladies!

Mungkin kalian udah bisa nebak juga dari judul artikelnya apa yang akan kita bahas kali ini. Yuup! Kali ini, kita akan membahas tentang “peace” alias damai sejahtera. Apa sih sebenernya arti damai itu? Nah, sebelum kita bahas lebih lanjut, aku pengen share Mazmur 27:4 yang berbunyi demikian, “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN, dan menikmati bait-Nya.” Ayat yang sungguh menenangkan bukan? Kalau membaca ayat ini, aku pun langsung berpikir tentang mengasingkan diri ke tempat yang tenang dan menikmati hadirat Tuhan. Mirip-mirip kalau retret ke Puncak gitu deh... 

Seringkali ketika kita mendengar kata ‘damai’, kita langsung berpikir tentang suasana yang tenang, aman, dan tentram. KBBI juga mengartikan kata ‘damai’ sebagai ‘tidak ada perang; tidak ada kerusuhan, aman.’ Namun, sebenernya apa sih arti damai menurut Alkitab? 

Kata ‘damai’ diambil dari bahasa Ibrani, ‘shalom,’ yang artinya... ‘Tidak ada yang hilang.’ Apakah kalian melihat perbedaannya? KBBI mengartikannya sebagai ‘tidak ada perang,’ namun Alkitab mempunyai pengertian damai yang berbeda, yaitu ‘tidak ada yang hilang.’ Untuk mengerti lebih lanjut, mari kita baca kembali Mazmur 27, namun kali ini kita baca dari ayat yang pertama. 

Dari Daud. Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya. Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN, dan menikmati bait-Nya. 
(Mazmur 27:1-4) 

Jeng jeng! Ayat yang selama ini membuat kita berpikir tentang suasana yang diam dan tenang ternyata Daud tulis ketika ia sedang melarikan diri dari Saul. Itu sebabnya kita juga dapat melihat di ayat kedua dan ketiga, di mana ia menuliskan bahwa ia diserang, dikepung dan peperangan pun timbul melawan dia. Namun Daud tidak berhenti sampai disana. Dia pun melanjutkan dan menuliskan di ayat ke-4, bahwa terlepas dari semua hal yang terjadi di dalam kehidupannya, dia ingin diam di rumah Tuhan seumur hidupnya, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait Tuhan. 

Kembali ke definisi “shalom,” yaitu ‘tidak ada yang hilang.’ Apa yang dapat kita pelajari dari cerita Daud? Kita belajar, bahwa ‘damai’ tidak tergantung kepada keadaan. Definisi damai bukan seperti yang diartikan KBBI, yaitu keadaan dimana tidak ada peperangan. Damai yang sesungguhnya yaitu ketika kita, seperti Daud, tidak merasakan kehilangan walaupun hidup kita saat ini seperti zona perang, karena kita tahu Tuhan beserta kita. Damai bukan perasaaan yang kita rasakan ketika semua hal berjalan dengan aman, tentram dan baik-baik saja. 

Damai adalah...

Ketika kita diserang, dikepung dari segala arah, ketika masalah-masalah menghadang, ketika kita menghadapi peperangan, dan terlepas dari semuanya itu, kita tidak merasa kehilangan. 

Hidup kita tidak harus sempurna terlebih dahulu agar kita dapat merasakan damai. Masalah-masalah dalam hidup kita tidak harus menghilang dulu agar kita dapat merasakan damai. Peperangan dalam hidup kita tidak harus usai dulu agar kita dapat merasakan damai. Sebab, damai dari Kristus tidak tergantung keadaan: Ia “melampaui segala akal” dan “memelihara hati & pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:7) 

Aku tidak tahu bagaimana hidup kalian saat ini dan masalah-masalah apa yang sedang merenggut damai sejahtera dari hidup kalian. Namun, kalian tidak perlu membiarkan damai kalian hilang karena keadaan lagi. From now on, you know you can have peace, even when you’re pissed.

Saturday, April 22, 2017

Woman, Why Are You Weeping?


by: Poppy Noviana

Malam itu adalah malam yang sangat hangat. Sehari sebelumnya kami berdoa dan tertawa bersama. Saat itu kami hanya berada di sebuah bangsal sederhana, melewati hari demi hari disana. Keesokan harinya adalah saat akhirnya Dokter memberikan ijin operasi pemasangan pen pada bonggol kaki Papa setelah ia dirawat selama tiga minggu.

Namun ternyata hari yang ku nantikan itu adalah saat-saat terakhir kami bisa bersama. Bahkan ketika aku menuliskan artikel ini, aku belum bisa menahan air mataku sendiri meskipun kepergian Papa sudah berlalu enam tahun lamanya. Cukup berat kehilangan seseorang yang begitu dekat dan memiliki ikatan emosional. Mungkin kira-kira seperti inilah kesedihan hati Maria yang kehilangan Yesus sebagai Tuhan sekaligus anak yang pernah dikandungnya. Melihatnya begitu tertekan dalam jiwa dan pikirannya, tentu sulit sekali menahan tetesan air mata untuk tidak jatuh membasahi pipinya.

Malaikat bertanya, "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Kekalutan itu semakin memuncak ketika jasad Yesus tidak dapat disentuh dan dilihat dalam kuburan yang selama tiga hari ini digunakan untuk meletakan mayat-Nya. Namun sesudah berkata demikian, ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ—tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

Hati seorang wanita sekaligus ibu dan hamba yang begitu mengasihi Yesus ini hancur saat itu. Ia tidak berdaya, bahkan kalut karena kehilangan untuk kesekian kalinya. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Bagaimana mungkin seorang yang baru saja kehilangan nyawa seseorang yang dikasihinya dan kehilangan jasadnya ini bisa tertawa? Sebagai manusia hal ini sangat wajar dan alami.

Syukurlah Tuhan Maha Tahu. Saat itu Maria menyangka orang yang berbicara kepadanya adalah penunggu taman, dan berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”

Kata Yesus kepadanya: "Maria!"

Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni.” Refleksi dari kisah seorang wanita yang hancur hati dan berakhir sukacita ini seringkali dibawakan pada saat perayaan hari Paskah.

Paskah merupakan perayaan yang sudah ada sejak zaman bangsa Israel dipimpin oleh Musa keluar dari tanah Mesir. Namun pada zaman Perjanjian Baru, Paskah adalah perayaan kebangkitan Yesus dari kematian setelah penyaliban-Nya. Kebangkitan itu adalah tanda bahwa Ia telah mengalahkan maut dan membebaskan kita semua dari hukuman dosa. Ya, kita sudah memperoleh anugerah-Nya, keselamatan dan hidup kekal.

Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."

Maria pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan memberitahu apa yang Yesus katakan kepadanya. Wanita yang baru saja menangisi kehilangannya ini pergi kemudian bersaksi kepada murid-murid Tuhan Yesus, sebab tidak ada perkara yang perlu ditangisi lagi. Semua tangisan berganti menjadi sukacita dan pengaharapan baru saat Yesus bangkit dari kematian-Nya. Ia berhasil menundukan maut dan tidak seorangpun yang seperti Dia.

God sent His son, they called Him Jesus
He came to love, heal and forgive
He lived and died to buy my pardon
An empty grave is there to prove my savior lives
Because He lives, I can face tomorrow
Because He lives, all fear is gone
Because I know He holds the future
And life is worth the living, just because He lives

Tuesday, April 18, 2017

Siapakah Aku?



by: Poppy Noviana

Pernahkah kita bertanya ke diri sendiri, “Sebenarnya siapakah aku?” Saat aku berkaca setiap pagi sebelum beraktivitas, apakah aku melihat seseorang yang biasa-biasa saja? Apakah aku mengetahui kelemahan dan kekuranganku? Apakah aku melihat semua kapasitas yang sudah Allah anugerahkan? Sudahkah kita bertanya, untuk apa Tuhan menciptakan aku?

Belum lagi, dunia juga punya pendapat sendiri tentang siapa kita. Teman-teman mengomentari penampilan kita. Apa yang kita tampilkan di media sosial juga mempengaruhi pandangan mereka.

Lalu, seberapa sering kita membandingkan diri dengan orang lain? Melakukan sesuatu karena suatu keharusan, supaya kita dapat menjadi seperti orang lain? Padahal, Firman Tuhan mengajak kita untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain.
Memang kami tidak berani menggolongkan diri atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka! (2 Kor 10:12)
Ayat ini juga mengajar kita agar tidak memakai ukuran kita sendiri. Tentu saja, ukuran kita adalah apa yang dikatakan Firman. Oleh karena itu, kita perlu bertanya, “Apa kata Tuhan tentang saya?”

Hidupmu Sangat Berharga.
Bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. (Lukas 12:7)
Keberadaanmu berarti dan memiliki tujuan.
Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang di uji kemurniannya dengan api sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. (1 Petrus 1:5)
Tuhan mengetahui rancangan-Nya untuk kamu.
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. (Mazmur 139:13)
Pencipta kita sudah tahu dari awal siapa kita. Bagi dia, kita bukan sebuah kebetulan yang tidak diharapkan. Kelahiran kita direncanakan oleh Tuhan.

Lalu apa yang harus aku lakukan?

Program ulang cara berpikir dengan Firman Tuhan.
  • Belajarlah jujur dengan diri diri kita sendiri tentang bagaimana kita memandang diri kita. Lalu, bandingkan dengan apa kata Firman Tuhan. Segambar dengan Allah, itulah dirimu yang sebenarnya. Seperti Kristus, itulah yang Tuhan inginkan. 
  • Mengenal Tuhan dan intim dengan-Nya akan menolong kita mengembangkan diri. Dengan mengenal pribadi Allah, kita tahu bagian mana dari karakter kita yang perlu diubah.

Saturday, April 15, 2017

Dosa Adam & Hawa (Part 1)



by: Grace Suryani Halim

"Gimana bisa Yesus mati buat menebus dosa gue? Waktu Yesus disalib kan engkong buyut kita bahkan belum lahir saat itu. Gimana dosa-dosa kita yang belum ada pun membuat Dia disalibkan??"

“Bukannya yang udah buat dosa Adam dan Hawa ya? Skrg kita jadi pendosa, Adam dan Hawa juga penyebabnya?"

Pertanyaan bagus, gals!! Abis baca pertanyaan-pertanyaan itu gue berulang kali doa, tanya Babe, ini gimana ya Tuhan jawabnya?? :p That's why, gue suka kalo dapet pertanyaan yang gue sendiri ngga tahu jawabannya. Pertanyaan kaya tadi mendorong gue berpikir dan semangat buat Tanya-tanya ke Babe.

"Gimana bisa Yesus mati buat menebus dosa gue? Lahir aja belon, artinya kan dosa gue belom eksis."

Guys, untuk menjawab ini kita perlu sadar satu hal. Bapa kita, Tuhan kita itu adalah Alpha dan Omega. Dalam pembukaan kitab Wahyu ada sebuah kalimat

"Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang" (Wahyu 1: 4)

Versi inggrisnya "Grace to you and peace from Him who is and who was and who is to come."

Allah kita itu adalah Allah yang sekarang ADA, dulu ADA, dan yang AKAN ADA. God who is and who was and who is to come. Dia Allah atas waktu. Dia ada di masa lalu, masa kini dan masa datang. Allah sudah tahu semua yang akan terjadi sebelum semuanya terjadi, karena DIA MENGATASI WAKTU.

Jadi ketika Yesus mati di kayu salib, Yesus tidak hanya mati untuk dosa-dosa yang sudah ada (dosa Adam Hawa - sampai dosa Petrus), tapi juga untuk dosa-dosa kita yang BELUM DILAKUKAN. Dalam pengetahuan Tuhan akan masa depan, Dia tau kita akan melakukan dosa-dosa itu

"Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Roma 5 : 8

Sederhananya mungkin seperti ini. Pikirkan Bapa itu seperti orang tua yang sayang sama anak-anak-Nya. Nah, ortu zaman sekarang kan rata-rata pada punya yang namanya asuransi pendidikan buat anaknya. Anak masih bayi, bicara aja belon bisa, ortunya udah nyiapin duit buat nanti dia kuliah. Atau kayak gue dan Tepen yang begitu tau gue hamil, langsung bikin kamar bayi, beli box bayi dan sebagainya. Bahkan sebelum gue hamil aja, Tepen udah siapin duit buat nanti biaya gue melahirkan dan biaya bikin kamar bayi. Gue belum hamil loh waktu itu, tapi Tepen udah bilang berapa tabungan yang dia punya kalau sewaktu-waktu kami punya bayi. All is prepared bahkan sebelum bayinya lahir.

Kenapa kita siapin ini itu? Kan bisa aja cari box bayi sesudah bayinya lahir. Bisa aja kan? Ya bisa, tapi kita siapin jauh-jauh hari karena sebagai ortu, kita tahu bayi ini akan BUTUH ITU SEMUA. Dia butuh box bayi, dia butuh kamar, dia butuh baju, dia butuh popok, dia butuh kain bedongan. Nanti gedean dikit dia akan butuh stroller, butuh piring dan sendok sendiri, butuh kursi makan, dan segala macem perlengkapan bayi lainnya.

Bayi gue sadar ngga dia butuh itu semua? Belon lah ... :p Dia mah masih asik berenang, maen-maen di perut gue hehe… But as a parents we've prepared all this because WE KNOW our baby will need that!

Kalo gue yang orang berdosa aja tahu mempersiapkan yang baik untuk anak gue, apalagi BAPA! Dia tahu kebutuhan terbesar kita itu bukan pakaian, bukan rumah, tapi KESELAMATAN. Karena itu sebagai Bapa yang baik, sebelum kita lahir, sebelum engkong buyut kita lahir, sebelum kita SADAR kita akan butuh itu, Tuhan sudah siapkan semuanya ...

Lewat pengorbanan Kristus, Tuhan Yesus sudah mati untuk menebus dosa gue. Dosa gue waktu gue bayi sampe dosa gue nanti waktu umur gue 70 thn, sampe dosa anak cucu gue, semua sudah ditebus, sudah dibayar. LUNAS. Karena Bapa tahu, gue butuh itu, anak cucu gue butuh itu...

Kalo kita mau mengakui dan menerima hadiah Keselamatan itu, dosa kita LUNAS. Tapi kalo ngga mau terima, ya ngga lunas lah, lo bayar sendiri lah ... :p

Sewaktu gue hamil, gue makin sadar betapa Bapa itu luar biasa baik. Dia ngga seperti ortu yang menebak-nebak kira-kira nanti anaknya butuh apa. Sebagai Allah IA TAU PERSIS apa yang kita butuhkan, dan Dia SUDAH sediakan itu!

Lalu pertanyaan selanjutnya,

"Bukannya yang buat dosa tuh Adam dan Hawa ya? Sekarang kita jadi orang berdosa kan juga gara-gara mereka?"

Nah, ini kita bahas 2 hari lagi ya :)

Klik disini untuk part 2

Wednesday, April 12, 2017

Ketika Doa Tidak Terjawab



by Leticia Seviraneta
“Dengarkanlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku! Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.”– Mzm 27:7-8 (ITB)
Kita mungkin memiliki saat-saat kita memiliki banyak masalah, lalu kita berdoa meminta pertolongan Tuhan, dan tidak ada respon yang berarti saat itu juga. Ada yang berdoa bagi keselamatan bayinya yang lahir dengan komplikasi, namun akhirnya bayi itu meninggal dunia. Ada yang berdoa untuk kesembuhan dari penyakit kronis, namun tidak kunjung sembuh penyakitnya. Ada yang berdoa untuk pasangan hidup, namun belum bertemu juga setelah sekian lama. Ya, kita menghadapi saat-saat di mana secara natural kita akan mempertanyakan di mana Tuhan? Apa yang seharusnya kita lakukan ketika doa tidak terjawab?

Sebelum kita bahas lebih jauh lagi, kita perlu kembali ke sebuah hal dasar: apa itu doa? Doa bukanlah komunikasi satu arah. Doa bukanlah juga seperti meminta kepada “genie in a bottle” dengan ekspektasi pasti dikabulkan. Doa adalah komunikasi dua arah dengan sikap mengakui bahwa Tuhan adalah sumber dari segalanya dan apa pun jawaban-Nya, baik sesuai harapan kita atau tidak, akan bekerja untuk sesuatu yang jauh lebih baik dari yang dapat kita pikirkan. Tuhan kita adalah Alpha dan Omega, awal dan akhir. Ia ada sebelum kita ada, dan ada jauh di masa depan setelah kita sudah tidak ada lagi di bumi. Oleh karena itu, jelas bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Rasa percaya kita kepada-Nya akan hal itu yang akan menjadikan kehidupan doa kita tidak monoton dan kita tidak mudah patah semangat ketika mendapat jawaban yang tidak kita inginkan.

Daud, seorang yang berkenan di mata Tuhan, mengalami banyak sekali saat dimana doanya tidak terjawab. Mayoritas isi kitab Mazmur banyak menyingkapkan pergumulan dan keluhan Daud dalam bentuk doa kepada Tuhan. Bagian yang menarik adalah terlepas dari belum dijawab Tuhan, Daud seringkali menutup doanya dengan ungkapan percaya kepada-Nya. “Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mzm 27:13-14, ITB) Jadi, sesungguhnya doa tidak selalu mengubah keadaan secara instan, namun doa mengubahkan hati kita.

Tuhan kita adalah Tuhan yang lebih peduli kepada proses daripada hasil akhir. Tujuan Tuhan bukanlah pada kebahagiaan yang bergantung pada situasi di sekeliling kita, melainkan sukacita. Sukacita adalah buah Roh yang dihasilkan di situasi yang sebenarnya memberikan kita alasan untuk tidak bahagia, namun karena rasa percaya kepada Tuhan tahu terbaik kita memutuskan untuk bersukacita. Tuhan lebih ingin kita bertumbuh dan berbuah, lebih dari sekedar mengabulkan setiap kemauan kita.

Kalau begitu, untuk apakah kita berdoa? Kembali pada definisi awal, doa sesungguhnya bukanlah komunikasi satu arah, melainkan dua arah. Kita berdoa bukan hanya untuk meminta atau berbicara satu arah, melainkan juga untuk mendengarkan Tuhan. Sederhananya, doa adalah komunikasi dengan Tuhan kita. Kita tidak dapat membina hubungan intim dengan sesama kita tanpa adanya komunikasi yang regular dengannya. Demikian juga dengan hubungan kita dengan Tuhan. Kita membutuhkan doa untuk membina hubungan dengan-Nya.

Kita juga harus biasakan diri kita untuk mendengarkan-Nya sehingga doa kita tidak hanya satu arah saja. Mendengarkan Tuhan bisa melalui membaca firman-Nya dan merenungkan-Nya. Tuhan juga dapat berbicara melalui lagu-lagu pujian, perkataan orang yang lebih dewasa dalam hidup kita, dan melalui suara hati kita yang mengingatkan akan kehendak-Nya dan bersifat membangun. Ini merupakan sebuah skill yang harus dilatih, apalagi kalau kita sudah sangat terbiasa dengan doa satu arah yang hanya untuk meminta. Namun doa merupakan akses kepada Bapa yang terbuka untuk semua anak Tuhan dan tidak hanya terbatas bagi para hamba Tuhan. Kita semua dapat berhubungan pribadi dan mendengarkan suara-Nya! Bukankah itu luar biasa?

Selain karena Tuhan punya kehendak lain dari yang kita doakan, terkadang Tuhan tidak menjawab karena masih ada dosa yang merintangi hubungan kita dengan Tuhan. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar, tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2, ITB) Doa kita juga dapat tidak terjawab karena kita berdoa dengan motivasi yang salah. “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habisakn untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Ibrani 4:3, ITB) Jadi, tentu penting untuk kita senantiasa mengecek hati kita, apakah benar doa kita ini memuliakan Tuhan atau hanya untuk kepentingan pribadi? Lalu bagaimana kah hubungan kita dengan Tuhan? Masih ada dosa kah yang belum kita akui dan bertobat darinya?

Ketika doa kita tidak terjawab, bukan berarti Tuhan tidak mendengar ataupun tidak peduli kepada kita. Ia memiliki rencana yang jauh lebih baik daripada mengabulkan keinginan kita saat itu. Percayalah akan rencana dan waktu Tuhan selalu yang terbaik. Alkitab banyak mencatat orang-orang saleh yang doanya pun tidak terjawab sesuai ekspektasi mereka. Selain Daud, ada Ayub, lalu tidak lain ada pula Yesus Kristus sendiri, sang Anak Allah. Yesus berdoa sebelum disalibkan, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26:39, ITB) Namun, pada akhirnya doa Yesus pun tidak terjawab, Yesus bahkan harus mati di kayu salib karenanya. Kita dapat merasakan sekarang dampak kematian Yesus menyelamatkan jutaan jiwa bagi kemuliaan Tuhan pada akhirnya. Tanpa kematian Yesus sebagai hasil doa-Nya yang tidak terjawab, rencana Allah tidak akan digenapi. Yesus telah menjadi jembatan antara manusia dan Bapa yang terputus akibat dosa. Dahulu kita tidak dapat berkomunikasi secara pribadi dengan Tuhan, sekarang ini Tuhan hanyalah sejauh sebuah doa. Satu doa tidak terjawab memberikan implikasi begitu kekal bagi kita semua! Karena itu, janganlah marah atau kecil hati ketika doa kita tidak terjawab, tapi cobalah lihat dengan perspektif Tuhan dan percayalah Tuhan kita tahu yang terbaik bagi kita.
“Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!”– Mzm 31:25 (ITB)

Monday, April 10, 2017

Die to Live



by Leticia Seviraneta
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” – Yohanes 12:24
Masa Paskah adalah masa di mana kita mengenang kematian dan kebangkitan Kristus. Ya, kekristenan sangat unik karena hanya di dalam kekristenan lah diajarkan bahwa Tuhan mati bagi manusia dan bangkit kembali demi menyelamatkan mereka. Tema kematian dan kebangkitan Kristus senantiasa mewarnai seluruh Alkitab kita, baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Namun sayangnya, sedikit dari kita mengetahui kekuatan dari kematian dan kebangkitan Kristus untuk kita alami di kehidupan kita sehari-hari. Yesus tidak hanya mati dan bangkit supaya kita mengenangnya di saat Paskah saja. Ia mati dan bangkit untuk memberikan kepada kita kekuatan menjalani hidup yang sepenuhnya baru setiap hari.
“Tahukah Saudara-saudara bahwa pada waktu kita dibaptis, kita dipersatukan dengan Kristus Yesus? Ini berarti kita dipersatukan dengan kematian-Nya. Dengan baptisan itu, kita dikubur dengan Kristus dan turut mati bersama-sama dengan Dia, supaya sebagaimana Kristus dihidupkan dari kematian oleh kuasa Bapa yang mulia begitu pun kita dapat menjalani suatu hidup yang baru.” – Roma 6:3-4, BIS
Saya pribadi menyukai kata “dipersatukan” pada ayat diatas. Ketika kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita, kita sesungguhnya telah dipersatukan dengan-Nya. Kita telah menjadi satu tubuh dengan Kristus. Roh Kudus tinggal di dalam diri kita. Pernikahan manusia di bumi merupakan cerminan kesatuan Kristus dengan jemaat. Sama halnya seperti dua telah menjadi satu di dalam pernikahan, demikian juga kita dengan Kristus telah menjadi satu. Kematian Yesus membawa kematian atas kuasa dosa di dalam diri kita. Kebangkitan Yesus memberi kita kuasa untuk menjalani kehidupan yang baru, yakni hidup yang bebas atas kuasa dosa dan segala ikatan.

Tetapi kalau begitu, mengapa kita masih aja sering jatuh ke dalam dosa yang sama? Mengapa seringkali kita merasa sulit untuk berubah? Hal ini dikarenakan kehidupan kita yang baru di dalam Kristus juga membutuhkan partisipasi aktif dari pihak kita. Kita perlu secara konstan memutuskan tidak lagi menuruti keinginan daging kita, melainkan mengejar keinginan Tuhan. Istilah jargonnya kita memasuki proses yang dinamakan “sanctification.” Sanctification berasal dari kata Yunani “hagiasmos” yang artinya kekudusan dan keterpisahan. Sederhananya, ini adalah sebuah perjalanan bertumbuh untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Ini berarti kita mengejar kedewasaan rohani, yang ditandai dengan buah-buah karakter Kristus dalam hidup kita. Proses ini akan semakin progresif seiring dengan tingkat ketaatan kita terhadap kehendak Tuhan sebagaimana telah diungkapkan dalam Firman-Nya. Jadi, sesungguhnya kita telah dibebaskan dari kuasa dosa, namun kita tetap harus membuat keputusan untuk tidak hidup seperti kita masih di bawah kuasanya. Jangan lupakan bahwa kita telah menikah dengan Kristus, kita telah bersatu dengan-Nya, dan kita memiliki tubuh serta hidup baru yang berbeda dengan sebelumnya.
“Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” – Roma 6:11-14, ITB
Kita ditebus Kristus untuk menjalani hidup yang tidak lagi berbau kematian, melainkan hidup yang benar-benar hidup. Berita baiknya, kita tidak ditinggalkan di dunia ini untuk berusaha mencapai kekudusan dengan kekuatan sendiri. Kita diperlengkapi dengan Roh Kudus yang akan menjadi sumber kekuatan kita untuk hidup berkemenangan. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh 14:25-26, ITB) Yang perlu kita lakukan adalah terus menerus terhubung dengan Yesus dan menimba kekuatan dari Roh Kudus di kala kita lemah dan tergoda untuk berdosa. Kita pun harus senantiasa sadar betapa besar kuasa yang Tuhan sudah berikan dalam hidup kita, bahwa kita telah bersatu dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Dengan demikian, kita akan dapat menjalani hidup yang benar-benar baru.

Saya tahu betul tidak mudah untuk mengubah kebiasaan lama. Apalagi kalau kita sangat menyukai kebiasaan lama kita tersebut. Seorang yang terbiasa memendam kesalahan yang orang lain perbuat kepadanya harus belajar mengampuni dan melepaskan segala rasa sakit hati. Seorang yang suka bergosip, harus belajar untuk hanya mengeluarkan kata-kata yang membangun. Seorang yang egois, harus belajar mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Seorang yang terikat dosa seksual, harus belajar untuk menjaga kekudusan tubuhnya dan tidak menggunakan untuk memuaskan nafsu sesaat. Semuanya tidak mudah, namun akan lebih mudah bila kita mau membuat keputusan secara berkelanjutan untuk berkata tidak dan melakukan hal lain yang berkenan bagi Tuhan. Kita tidak bisa hanya berkata tidak namun tetap tidak produktif melakukan hal lain. Karena bila energi kita kurang tersalurkan, besar kemungkinan kita dapat kembali ke dosa lama. Kita perlu mengalihkan energi kita ke sebuah aktivitas lain yang kita tahu betul lebih berguna, lebih produktif, dan tentunya memuliakan Tuhan. Temukan bagi dirimu kegiatan yang akan mengalihkan pikiran serta energimu untuk mematahkan siklus dosa lama. Bagi yang sulit mengampuni, dapat mengambil langkah kecil untuk berdoa rutin untuk yang menyakiti dia. Bagi yang terikat dosa seksual, dapat mengambil langkah untuk menghindari setiap situasi yang membuatnya tergoda, mengalihkan energi baik dengan berkumpul dengan teman-teman yang membangun, berolahraga, pelayanan di gereja, dsb. Roh Kudus akan senantiasa memberikan kita kekuatan, namun dari pihak kita pun harus taat terhadap tuntunan-Nya. Yuk, mulai menggunakan kekuatan yang Tuhan sediakan supaya kita benar-benar hidup seperti yang Tuhan kehendaki. Semoga Paskah hadir di keseharian kita, dan bukan hanya menjadi event melainkan sebuah lifestyle :)

Yesus mati supaya kita bisa hidup. Hidup yang penuh kemenangan atas kuasa dosa.
Kita mati supaya Yesus bisa hidup. Hidup yang akan memancarkan Yesus ada dalam diri kita.

Friday, March 17, 2017

Sukacita oleh Kasih Karunia



by Glory Ekasari


Saya sedang tidur-tiduran di kasur sambil memikirkan bahan untuk blog post ini. “Sukacita,” pikir saya. Apa yang akan saya bahas tentang sukacita? Saya “browsing folder” dalam ingatan saya, mencari sesuatu untuk ditelaah. Sukacita, bahasa Yunaninya chara. Saya kok merasa ada kata lain yang terkenal yang mirip dengan kata itu. Lalu saya ingat! Kata yang bertetangga dengan chara itu adalah charis, yang artinya... Kasih karunia.

Charis bisa juga berarti syukur, namun makna mendasarnya adalah kasih karunia. Pikirkan hal-hal itu: kasih karunia, ucapan syukur, sukacita... Saya tiba-tiba melihat benang merah di antara mereka. Pemakaian awal kata chara dalam Perjanjian Baru adalah dalam kisah kelahiran Yesus. Ketika para gembala sedang menjaga domba di padang, seorang malaikat menjumpai mereka dan berkata:
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.”

Jauh sebelum peristiwa itu, nabi Yesaya telah bernubuat kepada bangsa Israel:
“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan.” —Yes. 9:2-3

Dari mana kesukaan besar itu berasal? Bukan dari banyak harta, bukan juga dari berbagai kesenangan yang ditawarkan dunia. Kesukaan itu berasal dari Sang Juruselamat yang dijanjikan Allah: Kristus Yesus, Tuhan. Mengapa kehadiran-Nya memberikan sukacita? Karena di dalam Yesus, kasih karunia Allah dinyatakan bagi kita.
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. —Yohanes 1:14

Saya ini termasuk tidak begitu ekspresif untuk ukuran cewek. Saya jarang sekali tertawa terbahak-bahak dan tidak pernah menangis histeris. Jangankan histeris, nangis aja jarang. Tapi ada satu hal yang, setelah saya perhatikan, tidak bisa saya bicarakan tanpa memunculkan haru dalam hati saya, bahkan kadang sampai harus menahan nangis. Itu adalah ketika saya menceritakan kasih Tuhan yang saya terima dalam Yesus. Saya tidak bisa berkata, “Saya orang berdosa, tapi Yesus mengasihi saya dan mati buat saya,” tanpa merasakan getaran dalam hati saya. Bicara saya jadi terbata-bata dan air mata siap meluncur. Sukacita terdalam yang saya rasakan mengalir keluar bersama dengan air mata, karena hati saya dipenuhi ucapan syukur, karena saya telah menerima kasih karunia yang begitu besar.

Sebagai orang Kristen sekalipun, saya tidak lantas senang terus. Hidup kita tentu ada senangnya, ada sedihnya, ada manis, dan ada pahitnya. Bersukacita bukan berarti nyengir terus. Sukacita yang sejati adalah keadaan dimana duka tidak dapat menguasai kita, dan kekecewaan tidak mengalahkan kita, karena kasih karunia Allah memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus. Dalam sukacita ini, kita dapat mengucap syukur, karena mata kita tidak tertuju pada masalah, melainkan kepada Dia, the Author and Finisher of our faith.

Di gereja tempat saya beribadah, ada satu lagu yang dikenal baik oleh jemaat. Liriknya berkata:
Bersuka! Bersuka dalam Tuhan
Mari bersuka! Bersukacitalah!

Bersukacita dalam Tuhan. Kesukaan besar datang ketika Juruselamat, yang penuh kasih karunia dan kebenaran, tinggal dalam hati kita. Di luar Yesus, kita bisa mendapatkan kesenangan dan kepuasan yang sifatnya sementara. Di dalam Yesus, sukacita yang kita miliki tidak terbatas, karena seperti Paulus, kita dapat berkata,
“..aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, ...tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

Friday, March 10, 2017

Adalah SUKACITA di Hatiku



by Poppy Noviana


Ada sebuah lagu sekolah minggu yang liriknya cukup mudah diingat, namun tidak mudah untuk diterapkan.
Adalah sukacita di hatiku, di hatiku, di hatiku
Adalah sukacita di hatiku, dib’rikan Tuhanku
I’ve got the joy, joy, joy, joy down in my heart
Down in my heart, down in my heart
I’ve got the joy, joy, joy, joy down in my heart
Down in my heart to stay
* And I’m so happy, so very happy
I’ve got the love of Jesus in my heart
.

Tema kita bulan ini adalah sukacita. Disadari atau tidak, rasa-rasanya sukacita sulit sekali ditemukan hari-hari ini. Mengapa demikian? Lihat saja, banyak intimidasi perihal ras dan ujaran kebencian yang saat ini terjadi. Mudah sekali ditemukan cibiran dan keluh kesah yang diucapkan dalam hati dan pikiran setiap orang. Bisa diperkirakan, iblis lah yang bersenang-senang dengan apa yang sedang terjadi di masyarakat kita.

Namun, sebagai pengikut Kristus, kita sering diajar demikian, “Sukacitaku tidak datang dari apa yang di luar. Sukacita adalah keputusan hati yang aku pilih. Ketika aku meresponi sebuah penghinaan, sebuah penganiayaan, bahkan intimidasi yang merenggut sukacitaku. Allah telah memberikan sukacita itu kepadaku, melalui Kasih-Nya yang sempurna, nafas hidupku, melalui pemeliharaan jasmani dan rohani, dan melalui semua yang ada padaku saat ini. Ampuni aku, ya Tuhan, jika selama ini aku melihat rumput tetangga lebih hijau, seolah tidak ada hal yang baik dan aku lupa bersyukur. Bolehlah hari yang lalu dukacita dan merana itu memenuhiku, tapi mulai hari ini dan besok... tidak ada lagi alasan bagiku untuk merasakannya. Bukan karena kondisiku atau keterbatasanku, tapi karena aku ingin lebih dewasa dengan meresponi seluruh kejadian dalam hidupku dengan bersukacita dan bersyukur senantiasa.”

Pikirkanlah bahwa kamu adalah pribadi yang dicintai, akankah kamu merasa punya alasan untuk tidak bersukacita?

Pikirkanlah bahwa kamu adalah satu-satunya yang diciptakan unik seperti saat ini. Tidak ada yang mirip denganmu selain daripada Allah sendiri yang menciptakanmu serupa dan segambar dengan-Nya. Akankah kamu bersukacita mendengar hal ini?

Pikirkanlah pula ini: seberapa banyak berkat Tuhan dan anugerah-Nya yang terjadi dalam hidupmu selama ini?

Mungkin beberapa petanyaan-pertanyaan ini dapat membantumu merenung kembali. Mungkin selama ini kamu terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri dan lelah untuk menjalani hidup. Segala sesuatu seolah berjalan seperti sebuah rutinitas yang terus begitu saja, tanpa makna dan membosankan. Sekali lagi, kembali ke pertanyaan utamanya: adakah sukacita itu hilang daripadamu?

Nah, berikut beberapa tips sederhana yang dapat membantumu merasakan sukacita itu lagi:
a. Pikirkanlah bahwa apapun yang yang akan kamu temui hari ini adalah sebuah perkara yang sanggup kita lalui. Bukan berarti kita bisa melaluinya tanpa persiapan. Justru sebaliknya, kita harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, dengan setia melakukan perkara kecil dengan baik untuk menghasilkan sesuatu.
b. Jangan andalkan kekuatanmu sendiri. Mulailah mengandalkan Tuhan dalam dirimu.
c. Latih dirimu untuk mengucap syukur dalam segala hal dan berani bersikap untuk bersukacita meskipun apa yang kita alami terasa buruk.

Lakukan tips ini dengan doa dan tuntunan hikmat dari Allah, hal ini nampak sederhana namun tidak mudah. Semoga api sukacita itu tersulut kembali dalam hatimu dan berdampak bagi lingkungan di sekitarmu.

Friday, February 17, 2017

Mengenal Tuhan dari Pengalaman Tidak Mengerti

By Azaria Amelia Adam


“... Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2 Korintus 12:9)

Ada salah satu pengalaman teman yang mengalami sakit sepulang dari masa kuliah selama 4 (empat) tahun di negara sub tropis. Setelah beberapa bulan di Indonesia, dia masuk rumah sakit karena demam tifoid.

Dan, komentar syukurnya pada Tuhan:

"Memang Tuhan itu luar biasa ya. Waktu aku hidup 3 (tiga) tahun di negeri orang, sudah jelas sering makan makanan yang gak terjamin kebersihannya, aku gak pernah sakit. Tapi, waktu pulang ke Indonesia, makan makanan rumah, eh, malah masuk rumah sakit gara-gara demam tifoid."

Hmmm... Awal aku membaca tulisan ini, aku tersenyum dan bersyukur juga. Aku punya pengalaman yang sama dengan dia. Meskipun tidak sedang belajar di luar negeri, setidaknya aku pernah punya kuliah di tempat perantauan, jauh dari orang tua, dan jauh dari fasilitas rumah yang nyaman. Setiap hari beli makanan di luar, jarang, bahkan bisa dibilang gak pernah masak sendiri, tapi gak pernah sakit.

Sampai aku mendapat kuliah tentang bakteri Salmonella Thypi, penyebab penyakit demam tifoid. Jadi, Indonesia adalah salah satu negara endemik penyakit demam tifoid. Banyak tempat yang menjual makanan yang sudah terkontaminasi. Hanya saja, orang-orang di Indonesia cenderung sudah punya sistem imun (antibodi) yang melindungi, sehingga meskipun kuman itu masuk ke saluran pencernaan, kita tidak terjangkit penyakit ini. Dengan sistem imun yang dimiliki kebanyakan orang Indonesia, dibutuhkan infeksi bakteri Salmonella Thypi dalam jumlah lebih banyak untuk bisa menimbulkan manifestasi penyakit.

Berbeda dengan orang dari luar negeri. Turis-turis yang mencoba makanan Indonesia, seperti rujak di pinggir jalan, bisa pulang dengan keluhan-keluhan penyakit demam tifoid karena mereka tidak punya antibodi yang menetralisir kuman yang masuk.

Nah, mungkin ini penjelasan yang cukup logis untuk pengalaman orang yang baru pulang dari negara sub tropis. Antibodi terhadap bakteri Salmonella Thypi ini bisa bertahan selama berbulan-bulan. Tetapi, setelah tinggal lama di negara yang bukan endemik demam tifoid, kadar antibodi dalam tubuh jadi turun. Akibatnya, waktu dia pulang dan makan makanan di Indonesia, sistem imun tubuhnya tidak mampu lagi menetralisir kuman yang masuk.

Tidak banyak yang tahu kalau sebenarnya tinggal di Indonesia membuat kita rentan terjangkit demam tifoid. Tidak banyak pula yang tahu kalau tubuh kita mengembangkan sistem imun yang melindungi kita. Pengalaman kecil, kadang kita gak mengerti secara lengkap kenapa itu bisa terjadi.Tapi, justru dengan ketidaktahuan itu, kita bisa mengakui ada campur tangan Tuhan. Kita juga bisa mensyukuri penyertaan Tuhan di bagian dimana kita tidak bisa mengerti atau mengintervensi.

Bagiku, setelah menduga-duga dan mencoba mengerti kenapa bisa begitu, tidak membuatku menganggap semua itu cuma kebetulan. Aku senang membaca kesaksian tentang ucapan syukur seperti itu. Hanya saja, aku dapat kesempatan untuk mengerti bagaimana cara kerja Tuhan.

Mengerti dengan penjelasan ilmiah mengapa hal itu terjadi tidak membuat rasa kagumku berkurang pada Tuhan. Aku justru jadi mengerti, “Oh, begini toh, cara Tuhan bekerja menyatakan diri bagi anak yang Dia sayang”

Kalau ada kesempatan mendengar kesaksian seperti itu, aku akan tetap tersenyum dan ikut bersyukur bersama pemberi kesaksian. Dan, kalau ada hikmat Tuhan seperti ini lagi, aku akan membagikannya, supaya kita sama-sama mengerti bagaimana cara kerja Tuhan.

Kadang kita gak bisa mengerti bagaimana Tuhan bekerja. Tetapi sadarkah kita, justru dari pengalaman tidak mengerti ini, kita jadi mengenal Tuhan lebih dalam. Lewat pengalaman kecil sehari-hari, selalu ada berkat yang bisa kami hitung dan alasan untuk selalu bersyukur.

Untuk apa kita bisa memahami semua ilmu di dunia ini, jika kita tidak memiliki pengalaman dan pengenalan yang benar akan Tuhan. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah  kuasa-Ku  menjadi sempurna." (2 Korintus 12:9)


Tuesday, June 28, 2016

Terima (lalu) Kasih

by Ladhriska Ilhamudin

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap kali kita menerima sebuah pemberian maka kita akan terbiasa mengucapkan terima kasih. Itu hal yang normal, bukan? Rasanya, tidak ada yang istimewa saat kita mengatakan kata terima kasih, meski kita semua tahu bahwa kata terima kasih adalah sebuah respon yang positif dan penuh makna saat kita menerima sesuatu. Suatu hari, saya memikirkan sedikit lebih dalam tentang makna dari mengucapkan kata terima kasih. Di tengah perenungan saya, saya pun berpikir, mengapa setiap saya menerima sebuah pemberian dalam bentuk barang, saya akan langsung mengatakan dua kata itu. Dan saat diingat-ingat lagi, ternyata kata terima kasih itu tidak hanya meluncur saat saya menerima sebuah barang. Kata terima kasih pun kerap terdengar di telinga, saat saya menerima perlakuan yang baik dari orang-orang di sekitar saya.

Ungkapan kata terima kasih memang telah menjadi sebuah bentuk sopan santun. Lihat saja, sejak masih kecil kita pasti sudah dibiasakan oleh orang tua untuk mengatakan terima kasih saat menerima sesuatu.Namun lebih dari sebuah tutur kata yang sopan, terima kasih seolah menyimpan pesan sederhana yang mengingatkan saya untuk memberikan apa yang sudah saya terima. Kata terima kasih ini terdiri dari dua kata, yaitu terima dan kasih. Kata ‘terima’ diartikan sebagai menerima atau mendapat, sedangkan kata ‘kasih’ dapat diartikan dengan memberi atau berbagi. Dengan kata lain, mengucapkan ‘terima kasih’ telah memposisikan diri kita sebagai seorang penerima dan setelah itu sebagai seorang pemberi. Dari sanalah, saya belajar bahwa menerima dan memberi adalah dua hal yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Tidak seperti tebak-tebakan duluan mana antara ayam atau telur, dalam hal menerima dan memberi, saya menemukan sebuah pola yang pasti dimana kita tidak akan pernah bisa memberi kalau kita tidak menerima terlebih dahulu. Dalam 1 Yohanes 4:19 dikatakan, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” Dengan kata lain, kita akan mulai bisa mengasihi saat kita membiarkan Allah mengasihi kita terlebih dahulu. Saat kita menerima  kasihNya secara penuh, maka kita akan dengan mudah mengasihi. Mengasihi atau kasih adalah dasar dari kehidupan orang percaya dan mengasihi adalah sebuah hal yang dianggap penting oleh Allah, bahkan disebut sebagai yang terutama.  Di dalam Matius 22: 33-40, Yesus mengatakan, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum, yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Mengenai keterkaitan antara mengasihi dan memberi, sebuah pepatah bijak mengatakan,you can give without loving, but you can’t love without giving.Bicara mengenai kasih, kita memang tidak bisa memisahkannya dari memberi. Saat seseorang mengatakan kalau ia mengasihi namun tidak memberi, maka apa yang ia katakan tidak akan terasa nyata. Di dalam mengasihi seseorang, kita pasti akan memberi. 1 Yohanes 3:17, “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan, tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimana kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”

Dari prinsip dua hukum kasih tadi, tak jarang kita pun menjumpai orang-orang yang mengatakan “love God, love people”. Tidak ada yang salah memang dengan mengasihi Tuhan dan sesama. Keduanya adalah hal yang benar. Namun sadar atau tidak, banyak orang yang ingin berlomba-lomba untuk memberi kasihnya kepada Allah dan juga sesama, tanpa tahu bahwa mereka seharusnya menerima dari Allah terlebih dahulu. Mengapa kita perlu menerima sebelum memberi? Karena saat kita menerima dari Sumbernya, yaitu Allah sendiri maka kita akan selalu dalam keadaaan “penuh” untuk siap berbagi. Jangan sampai kita terjebak dalam situasi sibuk berbagi, tanpa punya waktu untuk menerima. Cepat atau lambat, kita pasti akan merasa exhausted (kehabisan tenaga). Dan tahukah Anda siapa yang senang saat kita merasa exhausted? Sudah pasti pihak musuh alias Iblis. Bapa di Surga tidak menginginkan kita exhausted atau kehabisan tenaga, karena Ia tahu saat kita kehabisan, kita tidak akan bisa berbagi. Ia ingin kita, anak-anakNya, selalu dalam keadaan penuh, karena saat kita penuh, itu artinya kita dalam keadaan yang maksimal untuk bisa berbagi dan juga memberi.

Memberi adalah sebuah bukti dari tindakan kita mengasihi. Tapi ingatlah bahwa  kemampuan untuk kita berbagi, peduli, atau memberi kepada orang lain ditentukan dari seberapa “banyak” yang kita terima dari Bapa. Semakin banyak kita menerima dan mengecap kebaikanNya, maka kita pun tak akan tahan menyimpan kebaikan yang kita telah terima seorang diri. Saat kita menerima dari Dia, secara otomatis, keinginan untuk berbagi dan peduli kepada orang lain akan datang dengan sendirinya. 1 Yohanes 3:14, “Kita tahu sekarang bahwa kita sudah berpindah dari maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita.”

Kita tidak akan pernah bisa maksimal dalam hal memberi jika kita hanya mengandalkan kekuatan atau kemampuan kita sendiri.  Sebagai orang percaya, Yesus telah menjadi teladan kita dalam hal memberi. Mengapa saya bilang begitu? karena saat kita membaca kisah-kisah di Alkitab, kita akan dengan mudah menjumpai sosok Yesus yang adalah seorang Pemberi. Ia tidaklah tercatat sebagai sosok yang gemar mengambil, tetapi Ia sosok yang senang untuk memberi. Oh yes! Our God loves to give. He is a Good Giver.Yohanes 10:10, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya di dalam segala kelimpahan.”

Kemana Yesus pergi, ia selalu memberi. Ia memberi dirinya untuk mengajar orang banyak. Ia memberi dirinya menyembuhkan orang. Ia memberi dirinya untuk mengusir orang yang kerasukan setan. Ia memberi dirinya untuk membangkitkan orang mati. Bahkan yang paling luar biasa, ia memberikan nyawanya. Tahukah Anda kalau nyawa Yesus tidak pernah diambil, tapi Ia sendiri yang menyerahkannya? Dalam sebuah penyerahan diri total kepada Bapa, Yesus sendirilah yang memberikan nyawanya. Yohanes 10:17,“Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. Dari pernyataanNya tersebut, saya belajar bahwa Yesus tak pernah ketakutan untuk memberi, karena Ia tahu betul bahwa dengan memberi Ia justru akan menerima dan bukannya malah kehilangan. Ia yakin bahwa saat Ia memberi, Ia akan kembali mendapatkannya. Matius 10:39, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”

Kita perlu tahu bahwa dasar saat kita mengasihi dan peduli kepada orang lain adalah karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi dan peduli kepada kita. Dari sinilah, setiap bentuk kepedulian dalam bentuk kasih yang nyata akan mengalir dari diri kita dan dengan sendirinya kehadiran kita akan menjadi berkat untuk orang-orang yang ada di sekitar kita. We are blessed to be a blessings!


Friday, June 24, 2016

Pelajaran dari Penampungan Pengungsi

by Wellney Yara Hello, Ladies! Sebelum aku menulis lebih lanjut, kita kenalan singkat dulu ya, biar konteks artikelnya juga lebih jelas. Namaku Yarra, sekarang lagi studi di Jerman. Mungkin sekarang kalian mikir, apa hubungannya sama artikelnya? Nah, jadi begini… Sesuai yang bisa kalian lihat dari judul artikelnya, kali ini aku mau membahas tentang isu yang sedang cukup hot dibicarakan di Jerman, da juga seluruh dunia: pengungsi. Isu ini tidak hanya sekedar menarik banyak perhatian dari media dan masyarakat, namun isu ini juga cukup menimbulkan kontroversi, terutama di Jerman, yang menjadi negara tujuan kebanyakan dari para pengungsi tersebut. Banyak yang pro, namun tidak kalah banyak juga yang kontra. Aku tidak akan menulis panjang lebar tentang sisi mana yang lebih baik dan sebagainya, tapi izinkan aku membagikan hal-hal yang aku pelajari saat menjadi sukarelawan di tempat penampungan pengungsi di Berlin. 1 Oktober 2015 merupakan hari yang cukup mengesankan buatku. Setelah mengalami serentetan hal-hal yang sangat “kebetulan” (salah satunya ditegur oleh khotbah dari Pdt. Steven Furtick tentang bagaimana kita juga harus membagikan kasih yang telah terlebih dahulu kita terima dari Tuhan kepada sesama kita), aku pun akhirnya membulatkan keputusan untuk mendaftarkan diri sebagai sukarelawan bagian anak-anak di salah satu penampungan pengungsi darurat di Berlin. Aku pun menghitung hari, menunggu hari dimana aku akan pergi kesana tiba. Terus terang aku cukup deg-degan, karena ada banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku. “Disana entar gimana ya?”, “Anak-anaknya pada bandel-bandel ga ya? Mereka bakal denger-dengeran ga ya?”, “Lah boro-boro dengerin, mereka ngerti ga ya gue ngomong apaan?”, dan seterusnya. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku dan beberapa teman-teman gereja lain berangkat kesana bersama-sama. Pertama-tama kita check-in dulu di pos keamanannnya, untuk memastikan bahwa kita benar-benar sudah terdaftar di jadwal untuk membantu pada hari itu. Selanjutnya kita ke kantor admin-nya untuk mengisi beberapa formulir, dan kemudian petugasnya pun menunjukkan ruangan kita masing-masing, dan aku pun dibawa ke ruangan anak-anak. Sesampainya di ruangan itu, aku cuma melihat dua atau tiga anak. Kemudian aku pun berbicara ke petugas yang kelihatannya sudah cukup berpengalaman. Dia bilang anak-anak yang lain sedang bermain di luar bersama sukarelawan-sukarelawan yang bertugas di jam sebelumnya, dan mereka sebentar lagi bakal masuk ke ruangan. Dia juga menambahkan, “Kadang-kadang kalau anak-anaknya kebanyakan bisa kalang-kabut. Sekarang sih mereka masih dalam proses belajar bahasa Jerman. Tapi untuk saat ini, mereka nggak bisa bahasa Jerman. Inggris juga nggak, jadi kalau mereka nggak ngerti bahasa tubuh kamu, kamu harus coba ngomong sama mereka pake bahasa Arab atau Persia.” Habis ngomong begitu, dia ketawa. Nggak lama kemudian, giliran dia udah selesai, jadi dia beres-beres dan pulang. Lalu, aku menghampiri satu anak kecil yang duduk sendirian. Awalnya dia sangat pemalu, tapi nggak lama kemudian, kita udah bermain telfon-telfonan, padahal bahasanya aja beda. Setelah itu, anak-anak lain kembali ke ruangan, dan tiba-tiba ruangan itu dipenuhi suara anak-anak dan mainan dimana-mana. Beberapa anak ngantri minta digendong. Begitu udah bosen main gendong-gendongan, mereka minta main puter-puteran. Daaaan begitu terus sampai akhirnya aku menolak anak yang minta putaran kedua, saking pusingnya. Kemudian ada anak laki-laki bernama Jode yang berhasil mencuri hatiku. Dia begitu dewasa dibanding anak-anak yang lain. Bukan berarti aku tidak suka anak-anak yang bertingkah laku seperti anak-anak, tetapi Jode benar-benar berbeda. Saat anak-anak yang lain lari kesana-sini dan rebutan mainan, dia duduk dan melukis. Aku menghampiri dia dan berusaha mengajaknya berbicara, dan anak itu manis sekali. Dia pun bercerita tentang negara asalnya dan bagaimana dia dan ibunya berhasil melarikan diri ke Jerman, namun sayangnya ayahnya dan kakaknya tidak. Hatiku hancur mendengarnya. Tanpa disadari, waktu cepat sekali berlalu. Setelah bermain-main lagi dengan anak-anak yang lain, waktunya pun tiba untuk pulang. Kita pun membersihkan ruangan tersebut, mengunci pintu, dan pulang. Dan mungkin kalian sekarang bingung, “loh di judul tapi katanya hal-hal yang ga disukai dari pengungsi? Mana?”. Dan ini jawabannya (setidaknya sesuai pengalamanku melayani anak-anak pengungsi): Aku mengasihi pengungsi-pengungsi itu, tetapi ada beberapa hal yang tidak kusukai dari mereka: Aku tidak suka bagaimana mereka melalui begitu banyak kesusahan, tetapi tidak terlihat sama sekali. Aku tidak suka bagaimana mereka tertawa begitu lepas, padahal hidup mereka sama sekali tidak mudah. Aku tidak suka bagaimana mereka memelukku dan meminta dipeluk dengan begitu manis. Aku tidak suka bagaimana mereka begitu tangguh. Mengapa? Karena semua hal tersebut membuatku merasa malu terhadap diriku sendiri. Kalian tahu? Aku pergi ke penampungan tersebut dengan pemikiran aku yang membantu mereka, tetapi aku salah besar. Mereka yang lebih banyak membantuku pada akhirnya. Membantuku menyadari betapa banyak berkat yang telah Tuhan percayakan. Membantuku menyadari betapa hal-hal yang aku alami tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Membantuku belajar bersyukur kepada Tuhan. Mungkin kita terlalu sering diingatkan betapa diberkati dan beruntungnya kita, sampai-sampai sudah menjadi klise. Kita mendengarnya setiap saat - melalui khotbah yang kita dengar, lagu yang kita nyanyikan, renungan yang kita baca, dll - bahwa ada orang-orang di luar sana, yang bersedia melakukan apa saja untuk berada di posisi kita; padahal kita sendiri bersungut-sungut tentang posisi dimana kita berada. Posisi yang menurut kita kurang - kurang kaya, kurang sukses, kurang ini dan kurang itu. Tapi coba pikirkan sejenak. Pengungsi-pengungsi ini, sebagai contohnya, harus melalui begitu banyak hal untuk tiba dimana mereka berada sekarang, dimana mereka mungkin bahkan tidak mendapatkan setengah dari apa yang kita anggap biasa. Jatah makanan yang diporsi dan terbatas, tidur sempit-sempitan dengan sesama pengungsi yang tidak mereka kenal, dan menunggu tanpa kepastian. Belum lagi perbatasan-perbatasan negara dan perjalanan panjang yang harus mereka lalui untuk bahkan tiba di negara tujuan mereka. Belum lagi ancaman-ancaman dan bahaya-bahaya yang mereka hadapi di negara asal mereka sebelum mereka melarikan diri. Sedangkan kita berada disini, menatap sebuah layar, membaca artikel ini, dengan sesuatu untuk dipakai, perut yang kenyang, dan atap di atas kepala. Apakah kita sungguh mempunyai hak untuk bersungut-sungut kepada Tuhan? Bila kalian belum bisa banyak membantu para pengungsi ini (walaupun aku sungguh berdoa kalian bisa), setidaknya bantulah diri kalian sendiri. Berhenti bersungut-sungut. Hitunglah berkat kalian... walaupun aku yakin sebenarnya berkat-Nya tidak dapat dihitung! “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” -Efesus 5:20