Showing posts with label Care. Show all posts
Showing posts with label Care. Show all posts

Monday, February 22, 2021

Pemeliharaan Tuhan


by Inawaty Teddy

Artikel ini berfokus pada kitab Ester secara keseluruhan.

Kitab Ester mengisahkan tentang kehidupan umat Yahudi, dimana nenek moyang umat Yahudi ini merupakan umat yang dibuang di sekitar tahun 586 SM, dan yang tidak kembali ke Yerusalem ketika diberikan kesempatan oleh raja Koresh pada tahun 538 SM. Kisah dalam kitab Ester terjadi sekitar tahun 480 SM, berarti kitab ini mengisahkan tentang kehidupan umat Yahudi yang sudah ada di pembuangan Babel dan kemudian Persia selama sekitar 100 tahun. Apakah Allah tetap memelihara mereka ketika nenek moyang mereka tidak mau kembali ke Yerusalem? 

Nama Allah—dalam bentuk apapun—tidak muncul di dalam kitab Ester. Namun hal ini bukan berarti Allah telah melupakan umat-Nya yang ada di Persia pada saat itu. Mungkin nama Allah tidak disebutkan karena mau menekankan pemeliharaan Allah yang terselubung. Keseluruhan kitab Ester menekankan pemeliharaan Allah yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah apa yang akan kita lihat di Ester 7 ini.

Permasalahan besar terjadi ketika di pasal 3, Mordekhai tidak mau sujud kepada Haman seperti yang diperintahkan raja. Kemungkinan adalah karena Haman adalah orang Agag. Agag adalah sebutan untuk raja bagi orang Amalek. Ini bisa menjelaskan kenapa Haman begitu kaya. Sedangkan Tuhan telah menetapkan Israel dan Amalek akan menjadi musuh turun temurun (Kel. 17:16). Ternyata kebencian Haman terhadap orang Yahudi begitu besar sehingga ia mau menggunakan kesempatan ini untuk memusnahkan seluruh orang Yahudi yang berada dalam kerajaan Persia. Haman menawarkan 10.000 talenta perak (Ester 3:9 - jumlah yang sangat besar sehingga raja Ahasyweros yang sangat kaya tersebut juga tertarik) supaya ia boleh mengeluarkan surat titah untuk memusnahkan orang Yahudi. Haman dengan cerdik tidak mengatakan kepada Ahasyweros bangsa yang ingin dimusnahkan, ia hanya berkata “ada suatu bangsa” (Ester 3:8). Dengan menggunakan cincin materai raja yang diberikan kepadanya, ia mengirim surat titah bahwa semua orang boleh memusnahkan orang Yahudi pada tanggal 13 bulan Adar dan merampas harta mereka (Ester 3:13). Ini tentu adalah tindakan yang sangat cerdik karena berarti bukan hanya musuh Yahudi, tetapi semua orang yang menginginkan harta orang-orang Yahudi tersebut dapat membunuh mereka demi mendapatkan harta mereka pada hari yang telah ditentukan.

Mordekhai kemudian meminta Ester untuk datang menghadap raja untuk menolong bangsanya. Walaupun Ester awalnya takut untuk melakukannya, akhirnya bersedia setelah ditegur Mordekhai (Ester 4:10-16). Ester pergi menghadap raja, dan meminta raja dan Haman datang ke perjamuannya. Raja dan Haman kemudian datang. Tetapi anehnya Ester menunda memberitahukan raja dan meminta raja dan Haman datang kembali keesokan harinya (Ester 5:5-8). Begitu keluar dari perjamuan Ester, Haman melihat Mordekhai yang semakin meremehkannya, sekarang Mordekhai bahkan “tidak bangkit dan tidak bergerak menghormati dia,” Hamanpun menjadi sangat marah (Ester 5:9-10; mari kita bandingkan dengan Ester 3:2). Dengan hati yang sangat panas, dan atas nasihat isteri dan sahabat-sahabatnya, Haman langsung membuat tiang gantungan yang sangat tinggi, 50 hasta (22.5 m), untuk menyulakan Mordekhai esok paginya setelah mendapat izin dari raja. 

Namun atas pemeliharan Tuhan, raja Ahasyweros malam itu tidak dapat tidur. Raja yang tidak dapat tidur tersebut meminta dibacakan catatan sejarah, dan mendapatkan catatan tentang jasa Mordekhai yang pernah membongkar rencana pembunuhan atas dirinya (Ester 6:1-11, mari kita lihat Ester 2:21-23). Rajapun langsung memberi hadiah atas jasa Mordekhai, dengan diarak keliling kota pagi hari, sebelum perjamuan Ester yang kedua. Setelah itu, sorenya raja dan Haman pergi ke perjamuan Ester yang kedua, yang dikisahkan dalam Ester 7.

Dalam pasal 7 ini, Ester dengan cerdik tidak langsung menyebutkan nama Haman ketika berbicara tentang surat titah yang telah dikeluarkan untuk memusnahkan semua orang Yahudi. Sepertinya Ester tahu bahwa jika dia langsung menyebutkan nama Haman, raja yang tentu suka pada Haman, yang telah diangkat menjadi orang nomor dua di kerajaan Persia (Ester 3:1), akan menilai dengan subjektif. Setelah raja marah dengan objektif, barulah Ester menyebutkan bahwa orang yang akan memusnahkan bangsanya adalah Haman (Ester 7:5-6). Raja Ahasyweros kemudian marah dan keluar ke taman istana (Ester 7:7). Tetapi jika kita pikirkan secara seksama, sebenarnya Haman tidak melakukan kesalahan secara hukum Persia. Ia telah meminta izin raja untuk memusnahkan suatu bangsa. Jika raja tidak bertanya bangsa apa itu, itu bukan kesalahan Haman. Lagipula siapa yang tahu jika itu adalah bangsa ratu Ester. Ingat, Ester tidak memberitahukan orang lain tentang kebangsaannya atas perintah Mordekhai (Ester 2:10; 20). Jadi Haman tidak seharusnya dihukum berdasarkan surat titah tersebut.

Allah yang tentu tahu bahwa Haman tidak dapat dihukum berdasarkan surat titah yang dikeluarkannya, kemudian menggunakan cara yang lain yang tak terduga agar Haman dapat dihukum. Allah membuat Haman yang ketakutan berlutut di depan Ester, dan raja yang kembali dari taman melihat hal tersebut, lalu terjadi kesalahpahaman dimana raja berpikir bahwa Haman ingin menganiaya Ester dan menyuruh Haman ditangkap (Ester 7:8-9). Ironi yang Allah tunjukkan sangatlah menarik, Haman yang ingin memusnahkan semua orang Yahudi karena seorang Yahudi tidak mau bersujud padanya tetapi kini Allah membuat peristiwa dimana Haman bersujud di depan seorang perempuan Yahudi untuk membuat dia dipenjarakan.

Namun kita tahu bahwa ini adalah kesalahpahaman yang terjadi karena raja melihat situasi tidak menyenangkan tersebut. Sangatlah mungkin bila nanti Haman dapat menjelaskan, Haman dapat dikeluarkan dari penjara. Apalagi pastinya Haman banyak didukung oleh pejabat lainnya yang akan memohon raja mengampuni dia. Jadi agar Haman dapat langsung di hukum mati, Allah dengan sengaja memakai tiang gantungan yang telah didirikan oleh Haman malam sebelumnya (Ester 5:14). Saat itu Harbona, salah seorang sida-sida, melaporkan kepada raja bahwa Haman telah mendirikan tiang untuk Mordekhai, orang yang telah berjasa dan menyelamatkan raja dari rencana pembunuhan (Ester 7:9). Mungkin seluruh kota sudah tahu tentang tiang gantungan tersebut karena tingginya 22.5 meter. Mendengar bahwa Haman bermaksud menyulakan orang yang telah berjasa besar kepadanya—yang baru tadi pagi diarak keliling kota—raja tidak dapat menahan murkanya dan memerintahkan Haman langsung disulakan di tiang tersebut (Ester 7:9). 

Perhatikan, tiang gantungan itu sempat dibuat oleh Haman karena Ester menunda untuk memberitahukan raja tentang masalah tersebut selama satu hari. Dengan demikian, kita dapat melihat dengan jelas bahwa jika pada akhirnya Haman digantung pada tiang yang didirikannya sendiri, itu adalah semata-mata pemeliharaan Tuhan yang membuat Ester menunda satu hari untuk memberitahukan raja, yang menyebabkan Haman sempat membuat tiang gantungan tersebut. Perhatikan juga timing yang begitu tepat antara pembuatan tiang gantungan Haman (malam sebelum perjamuan Ester yang kedua), Mordekhai diberi upah oleh raja (pagi sebelum perjamuan Ester yang kedua), baru kemudian perjamuan Ester yang kedua ini.

Ester dan Mordekhai hanya dapat menggunakan surat titah untuk menuduh Haman. Tetapi karena Allah tahu bahwa itu tidak akan cukup membuat Haman dihukum, maka Tuhan menggunakan caraNya sendiri untuk membuat Haman dihukum mati.

Ketika usaha kita terasa tidak cukup untuk berhasil, Tuhanlah yang akan menyempurnakan usaha kita sehingga membuat kita menjadi berhasil. Karena itu jangan khawatir dan takut akan ketidaksempurnaan rencana dan usaha kita, yang terpenting adalah kita tetap melakukan apa yang menjadi bagian kita dan mari kita serahkan bagian yang berada di luar kuasa kita ke tangan Allah yang penuh kuasa. Percayalah, Allah yang sempurna yang kita sembah akan menyempurnakan hidup kita dengan cara dan waktuNya. 

Wednesday, September 19, 2018

Mengapa Tuhan Mengizinkan Penderitaan



by Grace Suryani Halim

Kenapa Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya mengalami penderitaan? Katanya anak Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, tapi kok menderita? Kenapa Tuhan ga kasih garansi bahwa semua orang yang percaya pada Tuhan Yesus tidak akan menderita lagi? Kan enak... 

The last 6 months are one of the hardest time in my life. Ever. Pergumulan datang silih berganti. I've seen death face to face few times. Dihimpit kanan kiri. Belum selesai, masalah baru sudah menanti. Dari gue yang tadinya selalu yakin dan tiap berdoa gue sering ngomong, "I know You, Lord. I know You are a good God," menjadi sampai di titik, "I don't know You anymore..." Semua masalah ini membuat gue jadi orang yang berbeda. Gue menghindari ketemu orang-orang, lebih pengen sendiri, ga terlalu pengen cerita-cerita (oh my, gue sendiri bingung kok gue ga kayak gue lagi). Yang biasanya ember, sekarang jadi keran. Rapet... Netes juga kagak. 


Di sisi lain, something amazing terjadi. Gue jadi peka—sangat peka dengan orang-orang lain yang sedang berduka. Di waktu yang hampir bersamaan, ada seorang rekan yang kehilangan anak dan papanya hanya dalam waktu 2 minggu. Ketika gue hubungin ybs dan bilang, "I'm so sorry for your loss. I'm praying for you," itu bukan kata-kata basa basi. I did pray like crazy for him. I can feel his pain. His loss. His suffering. 

Peristiwa itu membuat gue teringat kejadian sewaktu gue keguguran ampir 3 tahun lalu. Sebelum kejadian, ketika gue pergi check ke dokter kandungan, ada sepasang suami istri yang keluar dari ruang dokter sambil menangis. Respons pertama gue, "Waduh Tuhan, jangan sampeee gue kayak begituu..." 2-3 minggu kemudian, gue keluar flek-flek. Deg. I prayed like crazy, several sleepless nights. Ketika lagi nunggu dokter, ada seorang ibu lain yang begitu keluar lgsng didorong pake kursi roda dan dibawa ke ruang perawatan, she cried. Respons pertama gue, "Lord, please help her... Please take care of her baby. I hope she's okay. Please help her. Please..." 

3 minggu sebelumnya, gue ga peduli sama sekali dengan pasangan suami istri yg pertama. Gue cuman berdoa, jangaaann sampeee gue harus begitu. Did I care about them? Nope. I only cared about myself. Yang penting bayi gue ga kenapa-kenapa. Bayi orang laen, nasib dia lah. 3 minggu kemudian, gue bahkan ga sempet mikir semoga bayi gue ga kenapa-kenapa (waktu itu belon tau kalo keguguran, baru ada flek-flek). Gue bener-bener berharap she's okay dan bayinya juga baik-baik saja. Apa yang membuat gue yang tadinya yang punya mental, gue ga peduli bayi laen gimana yang penting bayi gue ga kenapa-kenapa, menjadi otomatis (sekali lagi OTOMATIS) mikirin bayi orang lain juga? Penderitaan. Suffering. 
Penderitaan itu mengubah engkau. Penderitaan menghancurkan ego. Meremukkan kesombongan. Menghilangkan self-righteous. Penderitaan itu membuat lubang di hatimu, sehingga ada tempat untuk orang lain di sana... Penderitaan membuat kita sadar, betapa rapuhnya hidup ini. Ya, jika boleh merumuskan apa itu penderitaan, buat gue penderitaan itu membuat lubang besar di hatimu, sehingga ada tempat untuk orang-orang lain di sana dan ada lebih banyak tempat untuk Yesus. Hatimu tak lagi penuh dengan SAYA, SAYA, dan SAYA.
Mungkin itu sebabnya Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya tetap mengalami penderitaan di dunia ini. Supaya mereka tetap in-touch with reality. Mereka bisa berempati dengan dunia yang terluka. Mereka bisa menangis dengan jiwa-jiwa yang menderita. Mereka bisa mengerti bahasa tetesan air mata. Orang-orang yang pernah mengalami luka yang sama, bisa berkomunikasi dengan kedalaman yang hanya bisa dimengerti oleh yang pernah terluka. 

Bayangkan jika semua anak Tuhan kebal terhadap penderitaan, bagaimana kita bisa mengerti raungan orang-orang yang terpinggirkan di ujung sana? Bagaimana kita bisa menjadi saksi Kristus yang efektif juga kita tidak benar-benar bisa peduli? Bagaimana kita bisa peduli jika kita tidak pernah mengalami? Bagaimana kita bisa mencerminkan Allah yang peduli kepada dunia, jika kita hidup di dalam rumah kaca yang steril terhadap penderitaan? Itu bukan cerminan Yesus. Yesus justru keluar dari 'rumah kaca' untuk masuk ke dalam penderitaan! Karena itu mensetrilkan anak-anak-Nya dari penderitaan justru mengingkari teladan Yesus Kristus, Tuhan kita. 

Beberapa teman-teman baik gue yang sangat gue kagumi karena mereka orang-orang yang sangat considerate, sangat bisa menguatkan org, pandai memilih kata-kata yang membangun, tulus, orang-orang yang sangat optimistik justru adalah orang-orang yang sudah banyak mengalami ups and downs dalam hidup mereka. Mereka orang-orang yang membuat banyak orang nyaman dengan mereka. Sekarang baru gue ngeh kenapa... Itu bukan karena they had a good upbringing, atau mereka pintar. Bukan. Mereka orang-orang yang sering digodok dalam kesukaran, tapi mereka tidak menjadi pahit. 

Buat teman-teman yang juga sedang dirundung masalah, yang merasa tertekan, izinkan gue share ayat favorit gue di masa-masa ini, 

"Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka."
(Mazmur 90:15)

Ayat barusan gue ketik di luar kepala. Karena ini ayat yang jadi pegangan gue di hari-hari ini. Ini ayat yang gue dapet sewaktu gue masih kuliah di China. Pertama kali baca ayat itu gue ngerasa lega. AKHIRNYA... Ada ayat yang mengakui bahwa terkadang Tuhan menindas umat-Nya. Instead of saying, "Everything will be okay, just trust Him," penulis Mazmur ini berani berkata dengan lantang, “Tuhan, Kau menindasku!” Oh Tuhan, tolong jangan cuman tindas gue, buatlah juga gue bersuka cita seimbang dengan hari-hari gue mengalami sengsara. Ayat ini nancep, karena ini ayat yang jujur. Ga muna. Ga sok beriman. Dan ini ayat yang ditulis oleh orang yang dirundung duka. Orang yang mengalami celaka. Tapi ia tahu, ia berani meminta Tuhan, buatlah gue bersukacita seimbang dengan hari-hari gue mengalami celaka. Ini ayat yang mengandung pengharapan. Pengharapan bahwa di depan akan ada 'payback time from God'. Akan ada hari-hari dimana Tuhan membuat kita bersukacita. Dan tidak hanya sekedar bersukacita, tapi Ia akan membuat gue bersukacita SEIMBANG bahkan lebih dari bulan-bulan gue mengalami celaka.

Dan ayat kedua,

"I will see the goodness of the Lord in the land of the living."
(Psalm 27:13)

Kalo lagi menderita emank paling enak baca Mazmur. Ini ayat sebenernya juga agak 'kurang ajar' sih. Pede banget si Daud, berani bilang dia bakal liat the goodness of the Lord selama dia masih hidup. Kok dia yakin? Siapa tahu Tuhan mau kasih berkatnya setelah dia mati? Ga ada yang tau kan? Ini yang dipelajarin dari para pemazmur. Mereka orang-orang yang jujur. Ga ada basa-basi. Jujur dengan kesedihan mereka, dengan ketakutan mereka, dengan rasa frustasi mereka, dengan kemarahan mereka. But they're also very bold. Mereka berani meminta. Bukan sekedar doa, "Terserah Tuhan... Tuhan tau yang terbaik. Keliatan beriman, tapi kadang itu lahir dari ketakutan. Iya kalo dikasih... Kalo Tuhan ga kasih gimana? Terserah Tuhan aja dah. Main aman. Pemazmur tidak seperti itu. Ia meminta apa yang ia percaya. Ia percaya hal-hal yang besar. Dan mereka percaya, Tuhan itu Tuhan yang baik. Tuhan yang tidak marah ketika anak-anak-Nya meminta. Dan gue bersyukur gue punya Tuhan yang sama dengan mereka. :) 

*** 

God, I know You’re too wise to be mistaken.

Wednesday, June 28, 2017

Percaya Pemeliharaan Tuhan


by Felisia Devi

Selama enam tahun kamu harus menanami ladang-ladangmu, memangkas kebun-kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanahmu. Tetapi setiap tahun yang ketujuh dikhususkan untuk TUHAN. Jadi sepanjang tahun itu tanah harus dibiarkan dan tak boleh dikerjakan. Jangan menanami ladang-ladang dan jangan memangkas pohon-pohon anggurmu. (BIS)
(Imamat 25:3-4)

Seandainya Tuhan memberikan instruksi diatas buat saya, saya pasti akan langsung punya banyak pemikiran pertanyaan tentang kelangsungan hidup saya ke depan.

Hellowww!!! Mau makan apa saya nanti, berkebun yang jadi penopang buat makan sehari-hari, trus sekarang selama setahun gak boleh diapa-apain tanahnya. 

Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, Tuhan pasti tahu akan ada orang yang bingung sama perintah kaya gini, makanya Tuhan kasih tau lanjutannya... 

Tetapi barangkali ada yang bertanya apa yang akan dimakan selama tahun ketujuh pada waktu tanah tidak ditanami dan hasilnya tidak dipungut. Dalam tahun keenam TUHAN akan memberkati tanah sehingga hasilnya cukup untuk tiga tahun. (BIS)
(Imamat 25:20-21)

Cukup 3 tahun?!!! Wow, Tuhan mikirin ternyata. Tuhan yang minta untuk melakukan itu, Tuhan yang pikirin juga jalan keluarnya. 

Buat saya sih ini mujizat, lebih dari manna di padang gurun. Lewat manna Tuhan minta umat-Nya ngga melakukan apa-apa buat hari Sabat. Tuhan cukupin manna yang turun pada hari ke-6 cukup buat dua hari. Sekarang Tuhan minta bangsa Israel lakukan hal 'lebih besar'! Karena Tuhan mau lakukan mujizat yang lebih besar, hasilnya lading yang biasanya menghasilkan panen untuk setahun, kini cukup untuk tiga tahun... 

Saya bayangin kalo saya jadi orang Israel, biarpun bener, tetapi hal 'luar biasa' ini diluar logika. Pasti akan terbesit dalam pikiran saya “bener ga ya?”. Biasa hasil setiap setahun sekali cukup untuk setahun, ini 3 tahun. Yakin cukup tuh Tuhan? 

Tahun ke-6, terakhir panen.
Tahun ke-7, gak boleh ngapa-ngapain, gak ada kegiatan menanam.
tahun ke-8, gak ada hasil karena taun ke-7 gak boleh ditanam apa-apa. Baru boleh mulai tanam hasil nya taun ke 9.
Tapi, persediaan cukup sampe taun ke-9. 

Dalam tahun yang kedelapan kamu akan menabur, tetapi kamu akan makan dari hasil yang lama sampai kepada tahun yang kesembilan, sampai masuk hasilnya, kamu akan memakan yang lama. 
(Imamat 25:22)

Mungkin sangking suburnya Kanaan, tanah yang bisa menghasilkan panen buat setaun ini bisa buat tiga tahun. Tapi, tetep aja kalo bukan tangan Tuhan, hal itu ngga mungkin. 

Dari kisah ini, kita bisa belajar klo Tuhan minta lakuin apa, udahlah, tunduk dan taat aja, belajar semakin percaya, gak usah pusing hal lain. 

Tapi, kita memang sering mempertanyakan Tuhan atau malah meragukan Tuhan, karena kita memperhitungkan sendiri bahwa secara logika kita, di depan itu berasa ada yang kurang/tidak sesuai perencanaan kita 

"Yang bener aja Tuhan mau saya pilih kerjaan disini, yang klo di lihat dari kacamata saya nih, tidak ada jenjang karir, gajinya kecil, lingkupannya kecil, kapan saya banyak duitnya, dapet jodohnya, kapan saya berkembang nya?" 

"Serius Tuhan aku diutus ke sini, lakuin ini itu, ntar gimana masa depan saya. Salah kali Tuhan." 

"Tuhan yakin klo memutuskan hub dengan dia yang jelas udah mau ngawinin saya, menjamin saya akan dapat yang lebih baik dari dia dan menikah?"

Sebenarnya sebelum Tuhan meminta, gak usah ditanyakan, Tuhan udah pikirin kelangsungan/kecukupan hidup kita.

Adam saja sebelum Tuhan ciptakan, Tuhan udah siapkan rencana dan fasilitas untuk Adam menjalankan rencana Nya di bumi.

Tuhan gak ciptain Adam dulu, terus baru Tuhan bilang, "Dam, Aku sudah menciptakanmu. Sekarang Adam mau jadi apa? Mau ngapain di dunia? Adam mau makan apa?"

Lalu Adam bilang, "Apa ya Tuhan, mau jadi ini aja deh... Terus nanti aku juga mau makan ini itu Tuhan."

"Ow gitu kamu mau nya...” jawab Tuhan. “Bentar-bentar ya, Adam. Aku rancangkan dulu hidupmu klo gitu, terus Aku ciptakan dulu yang kamu mau." 

Loh? Tuhan nya siapa, yang ngatur siapa... Tuhan ciptain Adam dengan tujuan yang sudah di persiapkan dan untuk kelangsungan hidup Adam Tuhan udah siapin juga. Dia sudah siapkan bijian-bijian dan tumbuhan buat jadi makanannya. Dia tahu apa yang harus kita lakukan, cocok, pas, terbaik buat kita. 

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. 
(Ef 2:10)

Tuhan suruh umat Israel keluar dari Mesir bukan tanpa tujuan. Tuhan udah siapin tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madu. Dipadang gurun aja Tuhan setia memelihara, bahkan sampe kasut mereka aja kaga rusak sedikit pun.

Jadi, hiduplah dalam rencana-Nya. Percayalah pada yang Tuhan minta untuk kita lakukan dan percayalah pada pemeliharaan-Nya selama kita taat kepada-Nya.

Monday, June 26, 2017

Beauty of Waiting


by Felisia Devi

Menunggu adalah sesuatu hal yang tidak mengenakan, betul apa betul? Makanya saya selalu berusaha tepat waktu ketika berjanji dengan siapa pun. Saat saya merenungkan lagi tentang hal menunggu ini, saya pikir saya sekarang juga sedang menunggu loh...

Menunggu waktunya Tuhan yang telah mengatur semua hal yang harus saya lewati. 

Menunggu pembelajaran dari setiap hal yang terjadi, karena setiap masa yang saya lalui pasti memiliki keindahannya sendiri. (Peng 3:11) 

Menunggu hikmat dan jawaban dari Tuhan untuk setiap pertanyaan/pergumulan saya.

Tuhan mengajar saya untuk ‘suka’ menunggu. Dia mengajar saya bahwa masa menunggu bukan berarti masa untuk tidak melakukan apapun. Kita bisa menunggu tapi tetap melakukan hal-hal yang bermanfaat. Seringkali, hal-hal lain yang kita lakukan justru membuat waktu menunggu ga berasa lama. 

Pada praktek keseharian untuk soal "menunggu", saya belajar untuk melakukan hal-hal yang berguna (bukan sekedar menghabiskan waktu): saya dialog sama Tuhan, renungin firman Tuhan, (apalagi sudah ada aplikasi Alkitab di HP), saya selalu bawa buku di tas supaya kapanpun bisa membaca. Kadang, saya melihat keadaan sekitar, untuk melihat apa yang bisa saya pelajari, lakukan, mengamati hal-hal yang suatu hari nanti bisa memperkaya tulisan saya. Pokoknya jangan sampe saya tidak melakukan apapun apalagi sampe damai sejahtera hilang/direbut.

Banyak orang fokus pada masa menunggu, tapi melupakan hal-hal yang bisa dia lakukan ketika menunggu. 


I'm a lady in waiting. Every one of us is a lady/man in waiting. 


Yang paling utama, kita menanti untuk dijemput sang pengantin Tuhan Yesus sendiri, di pesta pernikahan. Kita sedang menantikan Anak Domba Allah datang untuk yang kedua kali.

"Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteriKu dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang"
(Hos 2:18)

"Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia"
(Wahyu 19: 7)

Dalam masa penantian itu, mari melatih diri kita untuk terus mengejar keserupaan dengan Kristus.



Happy waiting

Monday, June 12, 2017

Yang Waras Ngalah…


by Eunike Santosa

“Yang Waras... Ngalah...” bagi teman-teman yang familiar kalimat ini, saya mengajak kita semua untuk menghela nafas bersama-sama... *hahhhhhhhh......* (hembus keluar)

Pernah berurusan dengan orang yang pengen buat kalian jambak rambut sendiri? (agak lebai sih yah contohnya, tapi kalian pasti mengerti maksud saya hehe..) Untuk saya, kalimat tersebut sering saya dengar ketika saya masuk dunia kerja. Berhadapan dengan orang-orang yang mempunyai kepribadian yang berbeda-beda, kepribadian ganda, hingga kepribadian tidak jelas, membuat saya setiap hari memijat-mijat kepala sendiri di kantor. Bos saya pun sering berkata, “Kerjaan sih gampang, yang susah tuh kerja sama orang!” Perkataan tersebut ada benarnya memang, mengingat setiap kita adalah manusia dengan kehendak, kepribadian, dan pikiran masing-masing. 

Seiring waktu, saya melihat kebanyakan orang yang saya temui tidak bisa menahan sabar. Semakin sering tentunya kalimat di judul artikel ini terdengar. Banyak orang yang sangat ahli dalam bidangnya namun mengalami banyak kesulitan ketika berada di arena sosial. Mereka kesulitan untuk mengkontrol emosi mereka. Justru, orang-orang yang bisa bertahan adalah mereka yang bisa dengan baik menguasai emosi mereka padahal skill yang dimiliki tidak terlalu hebat. Orang seperti ini mempunyai kesabaran dan empati yang tinggi dalam berurusan dengan orang lain. Dunia pun mengakui kemampuan mengendalikan emosi ini dan banyak dikaitkan dengan emosi intelektual Begitu banyak buku, jurnal dan tulisan psikologi yang terbit, ditulis untuk membantu perkembangan diri manusia. 

Nahhh, tapiiiiiii, sifat ini sebenarnya sudah banyak ditulis di Alkitab! Dalam membuat tulisan ini, saya mencari dan meriset kata ‘sabar’ di Alkitab. Ketemunya lumayan banyak ayat yang mereferensikan bagaimana seseorang bisa menjaga perilakunya. Apa saja yang Alkitab katakan mengenai kesabaran? 


1. Kesabaran Bisa Mengubah Takdir. 

Sadis juga yah sub judulnya. Hahha... mengubah takdir... Tapi itulah yang Alkitab katakan di: Amsal 25:15. “Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang.” Nah, hal ini terasa banget ketika berhadapan dengan orang yang sedang tidak stabil (baca: emosian, sensitif, labil, or bahasa kerennya “baper” kali yah?) Papa saya kalau sedang marah, agak susah diajak berbicara dengan logis (padahal pria loh, saya perempuan.. kok kebalik yah? Haha). Ketika saya remaja, saya bersikeras dengan ego saya bahwa saya benar ketika berargumen dengan papa (wong saya benar kok). Nah, tapiii, apakah saya memenangkan argumentasi? No no no, adanya malah makin panas... Beberapa tahun kemudian, saya tambah tua tentunya, dan dengan pertolongan Roh Kudus yang menegur hati ego saya, saya mengubah cara saya berbicara dengan Papa. Jadi ketika Papa hendak naik darah dan menjadi irasional, daripada berkata: “Tindakan Papa salah dan tidak masuk akal, tidak Alkitabiah ini!” yang saya katakan adalah: “Papa kan baik dan cinta Tuhan, jangan marah donk, nanti daku and Tuhan sedih!” *kedip mata!* (nah loh, bingung deh si papa... hahaha) Tapi badai langsung reda, ego turun, hati senang, hubungan membaik. Haleluya! 

Dalam Pengkotbah 10:4 mengatakan: “Jika amarah penguasa menimpa engkau, janganlah meninggalkan tempatmu, karena kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar.” Dengan sabar, kita bisa menghentikan hal-hal yang tidak diinginkan sebelum terlambat terjadi. Bapak Thomas Jefferson, mantan presiden Amerika, berkata bahwa ketika marah, hitung hingga 10 kemudian baru berbicara, kalau sangat marah, hitunglah hingga 100. Saya setuju sekali! Ketika sedang berada dalam kondisi labil (‘emosian’), gampang sekali kita melakukan hal-hal yang bisa menyakiti orang lain. Sulit bagi kita untuk mengendalikan otak kita untuk berpikir jernih, terlebih ketika berada di puncak emosi yang membara. Oleh karena itu, buah roh yang satu ini tentunya adalah buah dari kemenangan oleh percobaan-percobaan emosi. :)

Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.
(Amsal 15:18)


2. Sabar Pangkal Bijak, Ga Sabar (lawan kata sabar apa yah?) Pangkal Bodoh. 


Saya suka dengan peribahasa-peribahasa Indonesia. Tinggal di negara lain membuat saya lebih mengenal keunikan bahasa Indonesia dengan budayanya sendiri. Salah satu peribahasa yang sering diajarkan ketika saya berada di sekolah dasar adalah ‘rajin pangkal pandai’ atau ‘hemat pangkal kaya’, saya rasa untuk konteks kesabaran, subjudul diatas adalah representasi dari ayat-ayat Alkitab berikut hehe.. 

Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.
(Amsal 14:17)

Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.
(Amsal 14:29)

Tentunya tidak bisa dipungkiri bahwa dengan melatih diri bersabar, kita bisa mendapatkan banyak faedah. Dengan menunda emosi, kita menekankan diri untuk tidak egois, tidak mengutamakan kehendak emosi pribadi tetapi kepentingan orang lain. Saya melihat bahwa semakin sering saya bersabar ketika berurusan dengan orang, semakin saya bisa melatih diri untuk menjadi pengertian. Bukan hanya bersimpati, namun berempati terhadap orang lain. Daripada menghakimi lawan bicara, melompat kepada kesimpulan yang tidak-tidak, kesabaran mengajarkan saya untuk melihat orang lain dari perspektif Kristus, yaitu dengan kasih. Setiap orang mempunyai peperangan masing-masing. Mengapa seseorang bisa hingga menjadi “tidak waras” pasti ada alasan dibaliknya yang tidak kita ketahui. Bisa saja ternyata bosmu yang melampiaskan kemarahan kepadamu ternyata baru saja mengetahui kalau suaminya selingkuh. Atau ketika sahabatmu tidak bisa mengangkat teleponmu karena kamu baru putus dari pacarmu, itu karena orangtuanya tiba-tiba masuk rumah sakit. You never know right? Poin pentingnya adalah, dengan bersabar, kamu bisa menjadi semakin bijaksana melihat situasi. Tidak sabar bisa berujung kepada konflik yang bisa menghasilkan luka-luka yang tidak perlu. Orang apa yang suka terluka dengan tidak perlu? Orang bodoh pastinya. 


3. Orang Sabar Dipuji. 


Last but not the least, orang mana yang tidak suka dipuji? Hehehe... Pernahkah kalian melihat orang sabar dihina? Dalam Amsal 16:32 berkata bahwa “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Alkitab menyatakan bahwa ‘sabar’ itu lebih dari ‘hero’. Pujian lebih lanjut pun dikonfirmasi di Amsal 19:11, “Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.” Bersabarlah teman, mungkin ketika kamu sedang mengalami masalah, tidak ada orang yang bisa memahamimu, malah kamu ditantang oleh Allah untuk mengerti akan orang lain. Saya tidak menyangkal bahwa hal ini tentunya susah, dan kalau pun bisa terlewati, tidak menjamin bahwa orang-orang disekitarmu akan memujimu. Namun, Bapa di surga melihat semuanya, pujian dari Dia lah saja yang penting dan itu cukup :)

Jadi, ketika membuka media sosial dan membaca status atau komen-komen aneh yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu merajalela, apa yang harus dilakukan? 

“Yang waras ngalah...” :P

Wednesday, May 10, 2017

Messy Life , Peaceful Heart (2)



by Poppy Noviana

Ini adalah Kisah Rahab.

Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal yang bernama Rahab lalu tidur di situ. 
Suruhan raja: Bawalah ke luar orang-orang yang datang kepadamu itu, yang telah masuk ke dalam rumahmu, sebab mereka datang untuk menyelidik seluruh negeri ini.
Rahab: Memang, orang-orang itu telah datang kepadaku, tetapi aku tidak tahu dari mana mereka, dan ketika pintu gerbang hendak ditutup menjelang malam, maka keluarlah orang-orang itu; aku tidak tahu, ke mana orang-orang itu pergi. Segeralah kejar mereka, tentulah kamu dapat menyusul mereka. 
Tetapi perempuan itu telah menyuruh keduanya naik ke sotoh rumah dan menyembunyikan mereka di bawah timbunan batang rami, yang ditebarkan di atas sotoh itu. Maka pergilah orang-orang itu, mengejar mereka ke arah sungai Yordan, ke tempat-tempat penyeberangan, dan ditutuplah pintu gerbang, segera sesudah pengejar-pengejar itu keluar. Tetapi sebelum kedua orang itu tidur, naiklah perempuan itu mendapatkan mereka di atas sotoh dan berkata kepada orang-orang itu: 
Rahab: Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.
Maka sekarang, bersumpahlah kiranya demi TUHAN, bahwa karena aku telah berlaku ramah terhadapmu, kamu juga akan berlaku ramah terhadap kaum keluargaku; dan berikanlah kepadaku suatu tanda yang dapat dipercaya, bahwa kamu akan membiarkan hidup ayah dan ibuku, saudara-saudaraku yang laki-laki dan yang perempuan dan semua orang-orang mereka dan bahwa kamu akan menyelamatkan nyawa kami dari maut.  
Pengintai: Nyawa kamilah jaminan bagi kamu, asal jangan kaukabarkan perkara kami ini; apabila TUHAN nanti memberikan negeri ini kepada kami, maka kami akan menunjukkan terima kasih dan setia kami kepadamu.
Cuplikan kisah Rahab diatas menggambarkan betapa kacaunya hidup seseorang yang selama ini bersundal. Apa yang ia lakukan tidak mampu memuaskannya dan membuat dirinya hidup berkecukupan. Rahab tetap memerlukan damai didalam hidupnya, Ia perlu keamanan dan jaminan kelangsungan hidup atas keberadaan dirinya dan keluarganya. Namun pada akhirnya, dia mengambil keputusan dengan untuk menerima kesempatan memperoleh keamanan yang ditawarkan Tuhan. Lihat saja isi permohonannya pada pengintai.

Rahab adalah seorang wanita berdosa dari latar belakang kafir yang mengakui Allah Israel sebagai Allah yang sejati atas langit dan bumi (Yosua 2:10-11). Ia meninggalkan dewa-dewa Kanaan dan dengan iman bergabung dengan Israel dan Allah mereka (Ibrani 11:31; Yakobus 2:25). Wanita ini akhirnya menjadi nenek moyang Mesias (Matius 1:5-6). 

Dari kedua kisah di atas, aku hanya ingin membagikan bahwa memperoleh ketenangan dalam kekacauan bukan sesuatu yang mustahil. Hal seperti ini juga pernah kualami, meskipun aku dan Rahab memiliki kisah yang berbeda. Pada intinya, sumber ketenangan hati kami tetap sama sampai hari ini yaitu Tuhan Allah yang menolong kehidupan kami di tengah kacaunya hidup dan sulitnya keberadaan kami saat itu.

Bagai Rajawali

Hanya kepadaNya ku kan berlari
Di saat ku bimbang dalam hidupku
Yang aku percaya dalam hadiratNya
Ada kekuatan yang baru.

Walau ku melangkah dalam tekanan
Badai pencobaan datang menghadang
Yang aku percaya dalam hadiratNya
Ada kekuatan yang baru.

Ku kan terbang tinggi bagai rajawali
Di atas segala persoalan hidupku
Dan aku percaya saat ku bersama Dia
Tiada yang mustahil bagi Dia.

Monday, May 8, 2017

Messy Life, Peaceful Heart (1)



by Poppy Noviana

Ini kisahku.

Dokter  : Hasil pemeriksaan menunjukkan kamu harus dioperasi, tidak ada opsi lain untuk sembuh.
Me        : Fisioterapi, melalui pengobatan, atau apapun?
Dokter. : Tidak bisa mba.
Me        : Huffft...

Kehidupan yang tadinya baik-baik saja mulai berubah karena sebuah vonis dokter yang cukup mengagetkanku sore itu. Semuanya berantakan dan menakutkan karena aku diharuskan melakukan operasi ACL. Operasi ACL adalah sebuah operasi rekonstruksi lutut yang harus dilakukan pada seorang yang menderita kerusakan pada ligamennya (otot kaki). Biaya yang diperlukan pun tak tanggung-tanggung, mencapai ratusan juta; dan proses recovery-nya memakan waktu panjang sampai sekitar dua bulan.

Aku merasa kacau.

Kekacauan pertama terjadi di pikiranku saat mengetahui aku harus dioperasi. Tuhaaaaaan... apa yang harus aku hadapi ini?

Kekacauan kedua terjadi pada aktivitasku sehari-hari yang tadinya bisa mandiri. Sepertinya setelah operasi nanti aku belum tentu bisa lagi mengurus kebutuhanku sendiri. Yang paling aku pikirkan adalah persoalan kantorku yang letaknya cukup jauh dari rumah. Tiap hari, aku memerlukan 1-1,5 jam untuk dapat sampai ke kantor. Lalu bagaimana setelah aku operasi nanti?

Kekacauan ketiga adalah keuangan yang sudah cukup banyak dihabiskan untuk melakukan beberapa proses pemeriksaan seperti MRI dan kunjungan ke dokter.

Sungguh, energiku sangat terkuras untuk melalui persoalan ini.

Namun aku belajar untuk berserah kepada Tuhan agar aku bisa melalui semuanya. Bukan berarti aku mampu dan tidak takut, tapi ketika aku berserah, ada satu kedamaian yang Tuhan letakan di dalam hatiku untuk tetap percaya pada jalan yang harus kutempuh ini.

Bahkan ketika aku menuliskan ini, Tuhan mengajarkan suatu rhema tersendiri dalam hatiku: kekacauan hidup yang aku hadapi hari-hari ini bukanlah sebuah kekacauan yang sesungguhnya. Kekacauan yang sebenarnya adalah ketika aku mulai meninggalkan jam doaku dengan kesibukanku, ketika aku mulai mengganti aktivitas dan pikiranku hanya untuk memenuhi kepuasan dunia dan kesibukan pekerjaan yang tidak pernah berakhir. Hidupku kacau ketika dan karena aku semakin jauh dan menjauh dari-Nya.

Semua kejadian dan vonis dokter ini membuatku kembali dan bergantung lagi sepenuhnya ke dalam tangan-Nya. Aku seperti seorang anak yang perlu ditanggung, perlu digendong dan dipeluk, aku perlu diberikan rasa aman dan diperhatikan, aku perlu Tuhan.

Ia menjawabku dan menanggung segalanya. Sampai hari ini ketika aku masih belajar berjalan setelah operasi, Ia tetap menuntunku dan memberikan ketenangan di dalam hatiku yang terdalam.

Saturday, April 15, 2017

Dosa Adam & Hawa (Part 1)



by: Grace Suryani Halim

"Gimana bisa Yesus mati buat menebus dosa gue? Waktu Yesus disalib kan engkong buyut kita bahkan belum lahir saat itu. Gimana dosa-dosa kita yang belum ada pun membuat Dia disalibkan??"

“Bukannya yang udah buat dosa Adam dan Hawa ya? Skrg kita jadi pendosa, Adam dan Hawa juga penyebabnya?"

Pertanyaan bagus, gals!! Abis baca pertanyaan-pertanyaan itu gue berulang kali doa, tanya Babe, ini gimana ya Tuhan jawabnya?? :p That's why, gue suka kalo dapet pertanyaan yang gue sendiri ngga tahu jawabannya. Pertanyaan kaya tadi mendorong gue berpikir dan semangat buat Tanya-tanya ke Babe.

"Gimana bisa Yesus mati buat menebus dosa gue? Lahir aja belon, artinya kan dosa gue belom eksis."

Guys, untuk menjawab ini kita perlu sadar satu hal. Bapa kita, Tuhan kita itu adalah Alpha dan Omega. Dalam pembukaan kitab Wahyu ada sebuah kalimat

"Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang" (Wahyu 1: 4)

Versi inggrisnya "Grace to you and peace from Him who is and who was and who is to come."

Allah kita itu adalah Allah yang sekarang ADA, dulu ADA, dan yang AKAN ADA. God who is and who was and who is to come. Dia Allah atas waktu. Dia ada di masa lalu, masa kini dan masa datang. Allah sudah tahu semua yang akan terjadi sebelum semuanya terjadi, karena DIA MENGATASI WAKTU.

Jadi ketika Yesus mati di kayu salib, Yesus tidak hanya mati untuk dosa-dosa yang sudah ada (dosa Adam Hawa - sampai dosa Petrus), tapi juga untuk dosa-dosa kita yang BELUM DILAKUKAN. Dalam pengetahuan Tuhan akan masa depan, Dia tau kita akan melakukan dosa-dosa itu

"Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Roma 5 : 8

Sederhananya mungkin seperti ini. Pikirkan Bapa itu seperti orang tua yang sayang sama anak-anak-Nya. Nah, ortu zaman sekarang kan rata-rata pada punya yang namanya asuransi pendidikan buat anaknya. Anak masih bayi, bicara aja belon bisa, ortunya udah nyiapin duit buat nanti dia kuliah. Atau kayak gue dan Tepen yang begitu tau gue hamil, langsung bikin kamar bayi, beli box bayi dan sebagainya. Bahkan sebelum gue hamil aja, Tepen udah siapin duit buat nanti biaya gue melahirkan dan biaya bikin kamar bayi. Gue belum hamil loh waktu itu, tapi Tepen udah bilang berapa tabungan yang dia punya kalau sewaktu-waktu kami punya bayi. All is prepared bahkan sebelum bayinya lahir.

Kenapa kita siapin ini itu? Kan bisa aja cari box bayi sesudah bayinya lahir. Bisa aja kan? Ya bisa, tapi kita siapin jauh-jauh hari karena sebagai ortu, kita tahu bayi ini akan BUTUH ITU SEMUA. Dia butuh box bayi, dia butuh kamar, dia butuh baju, dia butuh popok, dia butuh kain bedongan. Nanti gedean dikit dia akan butuh stroller, butuh piring dan sendok sendiri, butuh kursi makan, dan segala macem perlengkapan bayi lainnya.

Bayi gue sadar ngga dia butuh itu semua? Belon lah ... :p Dia mah masih asik berenang, maen-maen di perut gue hehe… But as a parents we've prepared all this because WE KNOW our baby will need that!

Kalo gue yang orang berdosa aja tahu mempersiapkan yang baik untuk anak gue, apalagi BAPA! Dia tahu kebutuhan terbesar kita itu bukan pakaian, bukan rumah, tapi KESELAMATAN. Karena itu sebagai Bapa yang baik, sebelum kita lahir, sebelum engkong buyut kita lahir, sebelum kita SADAR kita akan butuh itu, Tuhan sudah siapkan semuanya ...

Lewat pengorbanan Kristus, Tuhan Yesus sudah mati untuk menebus dosa gue. Dosa gue waktu gue bayi sampe dosa gue nanti waktu umur gue 70 thn, sampe dosa anak cucu gue, semua sudah ditebus, sudah dibayar. LUNAS. Karena Bapa tahu, gue butuh itu, anak cucu gue butuh itu...

Kalo kita mau mengakui dan menerima hadiah Keselamatan itu, dosa kita LUNAS. Tapi kalo ngga mau terima, ya ngga lunas lah, lo bayar sendiri lah ... :p

Sewaktu gue hamil, gue makin sadar betapa Bapa itu luar biasa baik. Dia ngga seperti ortu yang menebak-nebak kira-kira nanti anaknya butuh apa. Sebagai Allah IA TAU PERSIS apa yang kita butuhkan, dan Dia SUDAH sediakan itu!

Lalu pertanyaan selanjutnya,

"Bukannya yang buat dosa tuh Adam dan Hawa ya? Sekarang kita jadi orang berdosa kan juga gara-gara mereka?"

Nah, ini kita bahas 2 hari lagi ya :)

Klik disini untuk part 2

Monday, February 20, 2017

Loving the Least of Them

by Azaria Amelia Adam

Selama setahun kemarin, Majalah Pearl sudah membahas dengan cukup dalam tentang Kasih. Masing-masing pengertian kasih di 1 Korintus 13: 4-7, sudah komplit dijelaskan di setiap edisi. Kita sudah mengerti seperti apa kasih itu, apa saja ciri kasih,   bagaimana caranya kita mengasihi dan seperti apa standar kasih di mata Tuhan. Lalu sekarang pertanyaannya adalah: kepada siapa kita harus menunjukkan kasih itu?
Salah satu hukum yang terutama berkata, Kasihilah sesamamu manusia  seperti dirimu sendiri (Matius 22:39). Itulah hukum yang terutama dan tidak ada hukum lain yang melebihinya (Markus 12:31). Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan (Markus 12:33). Ibadah kita bisa menjadi sia-sia jika tidak ada kasih di dalam diri kita.
Ahli Taurat pada zaman itu pun mempertanyakan, kira-kira siapa yang pantas untuk kita kasihi? Siapakah sesama kita? Apakah itu keluarga kita? Sahabat, teman di tempat kerja atau semua orang yang baik sama kita? Lalu siapa yang dimaksud Yesus sebagai sesama kita?
Sekarang, coba kita lihat perumpamaan yang diajarkan Yesus tentang siapa sesama yang wajib kita kasihi. Perumpamaan tentang Orang Samaria yang murah hati. Seorang turun dari Yerikho dan menjadi korban penyamun. Setelah dirampok dan dipukuli, dia ditinggal begitu saja di jalan. Dari tiga orang yang lewat di jalan itu, bukan imam atau orang Lewi yang menolongnya, tetapi seorang Samaria. Imam dan orang Lewi sudah jelas adalah orang yang paham betul tentang hukum Taurat. Tetapi bukan mereka yang berhasil menjalankan hukum terutama, melainkan seorang Samaria. Orang Samaria mungkin tidak menghapal semua hukum Taurat, tetapi dia mengerti kasih melebihi segala hukum. Hatinya tergerak oleh belas kasihan sehingga bukan hanya membalut luka dan pergi, dia bahkan menaikkan orang itu ke atas keledai tumpangannya, diantar ke penginapan dan menanggung biaya perawatannya.
Jika kita bandingkan, tentu kasih yang dimiliki orang Samaria ini melebihi kasih yang dimiliki orang lewi dan imam. Sehingga ketika Yesus bertanya, siapakah sesama orang yang menjadi korban penyamun, jawabannya adalah orang Samaria. Kasih akan sesama harusnya tidak membeda-bedakan.
 Kalau kita hanya mengasihi orang yang baik kepada kita, apa jasa kita? Semua orang pasti sayang dengan orang yang baik pada mereka. Ekstrimnya, pembunuh bayaran pun bisa mengasihi orang yang baik padanya. Orang yang tidak mengenal Kristus pun bisa melakukan itu.
Kristus pun mau mati buat semua orang. Semua orang sekalipun mereka belum menerima-Nya sebagai juru selamat. Kalau kita hanya bisa mengasihi orang yang seiman dengan kita, apa bedanya kita dengan orang lain yang tidak mengenal Kristus?
Memang ada ayat yang berkata kita perlu mengutamakan saudara seiman kita dibanding orang lain. Tetapi Firman Tuhan berulang kali menekankan, tambahkanlah kasih akan semua orang (2 Petrus 1:7). Semua orang tanpa membeda-bedakan.
Yesus juga memberikan perumpamaan tentang standar perbuatan kasih yang dituntut-Nya pada penghakiman terakhir. Dua kali Yesus berkata pada Matius 25 tentang penghakiman terakhir; sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan kepada salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (ayat 40 dan 45).
Artinya, jika kita melakukan sesuatu hal yang baik untuk seorang yang paling hina ini, artinya kita melakukannya untuk Tuhan. Saat itu saya mencoba mempelajari apa yang Yesus maksud dalam kata “yang paling hina”. Dalam terjemahan New King James Version (NKJV) kata “hina” disebut sebagai “the least”. Bahasa Yunani dari “The Least” adalah elachistos, yang artinya yang terkecil dalam urutan status sosial, prioritas atau penilaian di mata manusia. Artinya, The Least adalah orang-orang yang tidak diperhitungkan, yang dianggap sebelah mata, yang terabaikan.
Coba bayangkan kondisi seorang korban penyamun dalam perumpamaan tadi. Sudah kehabisan uang karena dirampok, dipukuli sampai setengah mati, kemudian ditinggal tergeletak di jalan entah sampai berapa lama. Bayangkan luka-luka memar, robek dan lecet di wajahnya, serta darah yang menetes lambat kemudian mengental. Orang lewi dan imam pun mengabaikannya, seolah tidak ada untungnya mereka menolong orang itu. Bukankah dia termasuk golongan “the least”. 
Jadi, apakah sekarang kita wajib pergi ke seluruh pelosok kota mencari orang yang sekarat untuk ditolong?
Mungkin “the least” masa kini tidak lagi orang miskin kesakitan yang ngetok-ngetok pintu praktek dokter, mohon belas kasihan untuk diobati. Kadang kita juga bertemu orang “the least” masa kini yang dalam penilainan manusia adalah orang yang tidak layak ditolong. Mereka bukan orang miskin yang hidup sangat susah. mereka bukan orang yang datang dengan penampilan baju lusuh dan kotor. Mereka bukan orang yang meminta-minta. Mereka bisa beli baju bagus, bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Tetapi mereka pernah melakukan perbuatan yang tidak baik kepada kita. Pernahkah kita berpikir, kalau tidak ada untungnya menolong mereka?
Orang Samaria juga mendapat perlakuan yang tidak baik dari orang Yahudi. Orang Samaria dianggap sebagai orang yang murtad karena pernikahan campur dengan bangsa yang bukan Yahudi. Tetapi, orang Samaria tidak membalas perbuatan jahat itu, menunjukkan belas kasihannya dan sukses melakukan tindakan penuh kasih kepada golongan “the least
Dunia mengajar kita untuk membalas setiap perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang lain terhadap kita. Siapa pun yang menyakiti dan melukai kita harus dibalas dengan setimpal. Kalau bisa, pembalasan itu lebih kejam dari pada perbuatan. 
Tetapi sebagai orang percaya kita diajar untuk mengasihi musuh kita. Tuhan mengajar kita untuk berbuat baik dan mendoakan orang-orang yang menganiaya dan membenci kita.  Dikatakan,  "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.  Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu."  (Matius 5:39-40).
Tapi tetaplah berbuatlah baik untuk mereka. Karena sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang dimaksud Yesus dalam golongan “the least”. Dan, karena untuk itulah, kita dipanggil. Yaitu, untuk menyatakan kasih Kristus kepada semua orang.


Friday, June 17, 2016

Love for the Forgotten Ones

by Tabita Davinia


Ketika kasih berarti ‘mengasihi orang-orang yang terlupakan’, kita dapat merayakan hari kasih sayang dengan penuh makna :)

Guys, pernahkah kalian berpikir bahwa suatu saat nanti kalian akan menjadi tua (jadi opa-oma)? Pernahkah kalian berpikir bahwa suatu saat nanti kalian akan mempunyai anak dan cucu?

Well... aku yakin kalo sebagian besar (ato jangan-jangan malah semuanya?) pernah berpikir seperti itu. Tapiiiii, pernahkah kalian berpikir juga, bahwa suatu hari nanti orang-orang yang kamu kasihi akan meninggalkanmu sendirian *konteksnya keluarga nih*? Kamu bakal tinggal di sebuah panti wreda (panti jompo) tanpa anak dan cucumu?

Perlu kalian tahu, itulah yang ada di pikiran para opa-oma di zaman sekarang (walaupun ada di antara mereka yang masih tinggal bersama dengan anak-cucu mereka). Para opa-oma ini kangen sama keluarga mereka, kebersamaan bersama dengan anak-cucu, tawa dari orang-orang yang mereka kasihi...yang (sayangnya) nggak bisa mereka dapatkan sekarang.

Nah, karena itulah... pada salah satu momen Valentine, komunitas remaja gerejaku mengadakan kunjungan ke Panti Wreda Asih, yang letaknya sekitar 20 menit dari gereja hehe.



Persekutuan bersama mereka dimulai dengan puji-pujian, dilanjutkan dengan ucapan terima kasih dari koordinator Panti Wreda Asih. Di situ beliau juga menyampaikan tentang salah satu program yang diadakan panti tersebut, yaitu ‘Compassion for Grandparents’.

“Apaan tuh, ‘Compassion for Grandparents’?”

Guys, program ini adalah program di mana kita bisa menjadikan opa ato oma yang ada di sana sebagai opa ato oma angkat kita :) misalnya, aku mau oma A jadi oma angkatku. Lewat program ini, kita bisa mengunjungi mereka, memberikan hadiah, ato cuma sekadar mengobrol dengan mereka. Kita juga bisa kok, menabung untuk kebutuhan mereka di panti itu.



Setelah itu, ada renungan singkat hehe. Inti renungan waktu itu adalahhhhhhh kita harus mengasihi orang-orang di sekitar kita (termasuk orang tua dan opa-oma kita), sebelum semuanya terlambat. Oya, renungan tersebut didasari dari Amsal 17:17 :)

Selanjutnyaaaaaa, ada sesi ngobrol sama oma-opa di sana :D Setiap anak mengobrol dengan setiap opa ato oma yang ada di sana. Ada juga opa-oma yang ngobrol dengan 2 anak :)
Aku ngobrol sama seorang oma, yang (maaf) pendengarannya udah jauh berkurang. Jadi aku harus ngomong dalam jarak yang sangat dekat dengan telinganya .__. Bukan cuma itu, aku juga harus sabar waktu ngobrol sama oma ini *saking seringnya beliau mengulang perkataannya -.- but it’s okay lah for me :)*



Dua hal yang paling nggak bisa aku lupain dari beliau adalah senyumannya dan rasa terima kasihnya kepada Tuhan.
Jadi, ceritanya beliau agak kesusahan buat menyuapkan muffin dan puding, terus aku tolong deh hehe. Dan setelah aku menyuapinya, beliau langsung tersenyum :’) duhhh senyumannya mengalihkan perhatiankuuuu *jiah malah nggombal gini :v#justkidding. lol*
Dan yang kedua, beliau juga bilang kalo beliau bener-bener bersyukur sama Tuhan buat keluarganya yang baik. Walopun suaminya udah nggak ada lagi, anak-anaknya juga cuma kadang-kadang telepon beliau *dan juaraaangggg banget buat ketemu secara langsung. Bahkan ada anaknya yang tinggal di Belanda (/ ._.)/*, beliau tetep bilang kalo semuanya itu udah lebih dari cukup. “Terima kasih Tuhan, terima kasih...

FYI, walaupun cuma ada sekitar 25 orang yang ikut acara itu *dan ada majelis penghubung juga*, I really proud on them :D bahkan ada 1 anak yang sempet bikin aku sama yang lain speechless waktu dia meluk oma yang dia ajak ngobrol :$ ehehehe.

Thanks God, for this Valentine day. Let it be our encouragement to keep loving the forgotten ones :)

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi
(Yohanes 13:34-35)

Tuesday, June 14, 2016

Child Sponsorship Program

by Marcella Florenzia

Sejak tahun 2006, saya mulai menjadi salah satu sponsor di Wahana Visi Indonesia. Saat itu saya masih kuliah dan entah mengapa, timbul kerinduan di dalam hati saya untuk memiliki anak asuh. Saya belum pernah mendengar tentang Wahana Visi Indonesia sebelumnya. Sampai suatu saat, saya berdoa kepada Tuhan tentang kerinduan saya ini dan akhirnya Ia menjawab. Ketika saya mampir ke sebuah toko buku Kristen, tiba-tiba saya sangat terkejut melihat sebuah brosur mengenai Child Sponsorship Program yang dimiliki oleh Wahana Visi Indonesia. Saya mulai mencari informasi tentang program tersebut dan akhirnya memutuskan untuk menjadi salah satu sponsor. Anak pertama yang saya sponsori berasal dari Pantai Kasuari, Papua. Dan kemudian sekitar tahun 2009, karena anak tersebut pindah ke wilayah lain, akhirnya digantikan dengan seorang anak dari wilayah Maro, Papua.


Tidak lama kemudian, karena faktor biaya dan juga saya harus tinggal di luar negeri selama satu tahun, saya berhenti untuk menjadi sponsor untuk sementara. Tetapi kemudian di tahun 2011 ini saya memutuskan untuk mulai mensponsori anak lagi, kali ini dari wilayah Sikka, NTT. Dan saya berdoa dan memiliki kerinduan untuk bisa menambah minimal 1 anak lagi di tahun 2012 serta bisa mengunjungi mereka suatu hari nanti… (Amin!)


Child Sponsorship Program ini sangat menarik. Meskipun Wahana Visi Indonesia (yang bekerja sama dengan World Vision) ini sendiri merupakan organisasi yang berbasis Kristen, tetapi mereka tidak membedakan pelayanan mereka berdasarkan suku, ras maupun agama. Selain itu, kita juga bisa berhubungan dengan si anak (melalui surat, hadiah bahkan mengunjungi mereka secara langsung) dan kita juga mendapatkan laporan perkembangan mereka setiap tahunnya. Rasanya jadi seperti memiliki anak sendiri ;)


Di tahun ini saya mulai untuk lebih aktif terlibat di Wahana Visi Indonesia. Selain menjadi sponsor, saya juga mulai ikut membantu sebagai volunteer (penggalangan dana di Mall Kelapa Gading, Jakarta) dan sempat ikut mengunjungi pelayanan Wahana Visi Indonesia yang berada di daerah Cilincing, Jakarta. Saya juga mengikuti sponsor gathering yang mereka adakan dan mulai mempromosikan Child Sponsorship Program ini kepada rekan-rekan saya. Rindu sekali rasanya bisa melihat lebih banyak anak yang ditolong dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Hanya dengan Rp 150.000,- setiap bulannya kita sudah bisa mengubah kehidupan anak bangsa, bahkan mengubah daerah tempat di mana ia tinggal.

Ayo dukung Child Sponsorship Program! Caranya, bisa dengan mengunjungi website www.wvindonesia.org atau menghubungi langsung ke kantor Wahana Visi Indonesia (021-3907818) / e-mail ke visi@wvi.org

Siapa tahu melalui program ini, kehidupan kamu akan semakin bernilai dan kamu juga bisa menambahkan nilai lebih ke dalam kehidupan orang lain…

God bless you! :)

Friday, June 10, 2016

Celengan Berbagi dan Pohon Harapan

by Tabita Davinia


Saya mempunyai seorang teman kuliah yang jiwa sosialnya sangat tinggi. Saya nggak habis pikir, kenapa dia mau berbagi dengan anak-anak yang tidak sebahagia anak lainnya. Awalnya saya sempat berpikir, “Buang-buang waktu aja”. Tapi ternyata, WOW. Dia bisa menggerakkan banyak orang untuk berbagi lewat komunitas yang dia bentuk tahun lalu. Komunitas itu bernama Celengan Berbagi, dan sudah tersebar di berbagai kota di Indonesia. Whoa!
Teman saya ini non-Kristen, namun saya sangat terinspirasi oleh dirinya maupun komunitas yang dibentuknya. Bahkan komunitas  ini didukung oleh teman-teman seangkatan saya—banyak di antara mereka yang tergabung dalam Celengan Berbagi. Mereka telah mengadakan berbagai kegiatan seperti menyumbang untuk berbagi nasi bungkus kepada kaum papa, seragam anak-anak di sekolah dasar di kota-kota lain, dan gerakan mengajar di sekolah maupun rumah ibadah mereka.

--**--

Setiap Natal, ada pohon tanpa daun yang diletakkan di halaman gereja saya. Pohon itu adalah pohon harapan, sebuah pohon yang di setiap rantingnya “memiliki” harapan dari anak-anak panti asuhan maupun dari yayasan Kristen lainnya. Dengan adanya pohon ini, diharapkan anggota jemaat mau memberikan hadiah Natal kepada anak-anak itu. Dan tanggapan jemaat pun positif, sehingga sejak beberapa tahun yang lalu selalu ada Pohon Harapan ini.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk mulai mengikuti kegiatan ini tahun lalu. Saya menyisihkan sebagain uang saku bulanan saya untuk membelikan hadiah Natal bagi anak yang saya pilih—tentunya yang sesuai dengan kemampuan saya hehe. Rasanya gembira sekali saat bisa memberikan sesuatu kepada orang lain di hari yang istimewa itu :)

--**--

Apakah memberikan sesuatu itu harus menunggu timing yang istimewa? Hm, saya rasa tidak—walaupun saat itu saya memang memberikan hadiah pada seorang anak panti asuhan saat hari Natal. Kita bisa memberikan apa yang orang lain butuhkan kapanpun dia membutuhkannya, dan saat kita memang bisa memberikannya. Kalau memang tidak bisa memberikan apapun, ya jangan memaksakan diri—apalagi kalau untuk dianggap orang yang (sok) dermawan. Kalau pun Tuhan meminta kita untuk memberikan apa yang orang lain butuhkan, Dia pasti akan mencukupkan kebutuhan kita juga :)

Ingatkah kalian tentang janda di Sarfat, yang ditemui Elisa? Janda itu hanya mempunyai persediaan makanan terakhir bagi dirinya dan anaknya. “Setelah kami memakannya, kami akan mati”, kata janda itu saat Elisa memintanya membuat roti dari persediaan mereka itu. Tapi Elisa berkata, “Buatlah dulu roti itu untukku, lalu buatlah roti untukmu dan anakmu. Tuhan akan mencukupkan persediaan makananmu sampai hujan turun lagi” (kurang lebih begitu kata-katanya). Janda itu pun menurut, dan Tuhan pun menepati janji-Nya. The widow and her child wouldn’t be starving anymore.

Dari dua kegiatan yang telah saya ceritakan itu, saya belajar bahwa berbagi itu bukan soal materi maupun soal aku-ingin-dianggap-dermawan-dan-suka-berbagi. Tapi soal hati yang tulus dan rindu untuk berbagi dengan orang lain. Dengan hati yang seperti itu, kita pun akan dimampukan Roh Kudus untuk berbagi, walaupun keadaannya tidak memungkinkan :)

Lagipula, berbagi bukan hanya soal hadiah atau barang. Berbagi pun juga bisa dalam hal lain. Misalnya, kita mau mendengarkan orang lain yang sedang curhat ke kita tanpa mengalihkan perhatian kita dari mereka. Kita juga bisa berbagi lewat tenaga kita—contohnya dengan menjadi guru sekolah minggu.

Tuhan Yesus pun telah memberikan teladan-Nya bagi kita dalam hal berbagi. Pertanyaannya adalah... maukah kita juga melakukan hal yang sama seperti-Nya? :) haruskah berbagi dengan terpaksa? Hm, kurasa tidak :) bagaimana denganmu?

Tuesday, June 7, 2016

Latihan

by Glory Ekasari

Salah satu kegiatan yang tidak saya sukai adalah olahraga. Olahraga apa aja. Karena keringetan, capek, pegel-pegel. Intinya saya ga suka gerak. (Untungnya ga hobi kuliner juga, jadi berat badan ga terlalu tragis.)

Tapi akhir-akhir ini saya insyaf bahwa saya harus olahraga, gara-gara frustasi masuk angin terus-terusan. Saya sadar bahwa tidak ada jalan pintas untuk jadi sehat dan kuat selain… olahraga. Jadilah saya membiasakan diri (tepatnya memaksa diri) hidup sehat (makan diatur, minum air yang banyak) dan olahraga setiap hari. So far so good, tiap hari waktunya ditambah, dan sekarang saya sudah mulai menikmati olahraga tiap hari. Target saya adalah satu jam sehari untuk olahraga, dan sekarang saya cukup optimis bisa mencapai target itu.

Saya punya pengalaman yang mirip dalam hal yang lebih penting: kepedulian terhadap orang lain. Dulu, saya tidak peduli terhadap orang lain, cenderung apatis, dan pandangan saya terhadap hidup sangat sinis. “Your life, your problems”—kira-kira begitulah. Saya tidak mau direpotkan orang, saya juga tidak mau merepotkan orang. Bahkan sekedar mengucapkan selamat ulang tahun pun saya malas (dipikir-pikir, aneh, memang). Sampai suatu hari saya ditegur seorang teman ketika saya minta maaf karena saya merasa merepotkan dia, dan dia berkata, “Orang tuh seneng, tau, kalo bisa nolongin orang lain.”

Sebenarnya sebelum itu pun saya sudah sadar bahwa saya tidak melakukan firman Tuhan tentang menunjukkan kebaikan hati kepada orang lain. Saya sadar saya harus murah hati dan berkorban untuk menolong orang lain. Tapi saya selalu merasa itu bukan prioritas dan terus menunda itu, sampai mendapat teguran dari teman saya itu.

Dan saya memutuskan—okelah, sebenarnya ga dramatis banget sih, cuma saya berpikir, sudahlah jangan ditunda-tunda terus—untuk membiasakan diri peduli terhadap orang lain. Dan dimulailah latihan serius selama bertahun-tahun.

Agak aneh ya? Untuk peduli dan berbuat baik pada orang lain saja saya harus belajar. Yah, pembaca, saya juga maunya dari sananya udah baik hati, tapi mau gimana lagi.
Ketika kita mengikut Yesus, memberikan hidup kita bagi Dia, di situlah proses unlearning dimulai. Semua yang selama ini ditorehkan dalam karakter kita harus dihapus dan diganti dengan sifat-sifat Kristus. Dan itu butuh waktu.

Saya tidak berkata demikian sebagai alasan. Saya tidak bisa berkata pada Tuhan, “Tuhan, ga bisa dong saya langsung diminta jadi sempurna. Saya kan perlu waktu dan proses…” Kalau firman Tuhan bilang, “Hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna,” maka itulah firman Tuhan, saya harus melakukannya sekarang, dan saya tidak bisa membantahnya. Yang saya maksud adalah kualitas ketaatan saya kepada Tuhan meningkat seiring berjalannya waktu. Dulu, saya batal marah-marah kepada orang yang membuat saya jengkel karena saya diharuskan sabar oleh firman Tuhan. Sekarang, keinginan untuk melampiaskan kemarahan itu pun hampir tidak ada. Firman Tuhan tidak berubah; hati saya yang berubah.

Saya mulai dengan baby steps, cara yang sudah saya ketahui dan bisa dipraktekkan: mendengarkan cerita orang lain. Lalu saya belajar untuk mengumpulkan niat ngajak orang ikut kegiatan yang saya tahu akan bermanfaat bagi mereka; saya juga belajar membantu orang lain dengan tugas atau kegiatan mereka. Ketika ada teman yang punya gawe, saya datang (walaupun saya ini 200% anak rumahan yang ga suka jalan-jalan, beneran deh). Saya melakukan semua yang saya tahu untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa saya peduli terhadap mereka sebagai pribadi. Lebih dari seratus kali saya awalnya berpikir, “Males ah,” dengan berbagai alasan, tapi lalu saya memaksa badan bergerak dan bertindak karena saya tahu itulah yang harusnya saya lakukan. Saya sangat termotivasi dengan apa yang dikatakan rasul Paulus:
“Aku melatih tubuhku dan menguasainya sepenuhnya, supaya sesudah aku memberitakan Injil, jangan aku sendiri ditolak.”
Setiap kali ingat ayat itu, saya jadi greget. Saya mengasihi Tuhan, dan saya tidak ingin Dia dirugikan gara-gara sikap saya. Jadi berkali-kali saya memaksa tubuh saya bergerak, mulut saya tersenyum, telinga saya mendengarkan, supaya ketika saya memberitakan Injil, apa yang saya beritakan itu diterima karena sudah diberi pendahuluan dengan tindakan yang baik.

Beberapa tahun kemudian…

Saya masih 200% anak rumahan. Hehehehe. Tapii.. Mempedulikan orang lain dan melakukan hal yang baik bagi mereka bukan lagi beban buat saya. Saya mengasihi mereka. Saya merasakan belas kasihan bagi orang-orang yang perlu diperhatikan. Saya membantu mereka sejauh yang saya mampu karena mereka penting di mata Tuhan—dan karenanya, penting di mata saya. Itulah hasil latihan bertahun-tahun jalan dalam rute firman Tuhan.

Tentu saja saya harus latihan terus dan disiplin dalam latihan itu. Sebagaimana yang dikatakan firman Tuhan: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor. Biarlah rohmu menyala-nyala, dan layanilah Tuhan.” Saya suka versi bahasa Inggrisnya:
“Not lagging in dilligence,
fervent in spirit,
serving the Lord!”
Saya selalu percaya bahwa bila Tuhan bisa mengubah saya, Tuhan bisa mengubah siapapun. Saya sendiri dulu tidak pernah terpikir untuk berubah; saya merasa diri saya baik-baik saja dan sifat saya ya memang begini. Tapi sejak kenal Tuhan secara pribadi, saya sadar saya tidak bisa hidup seperti itu. Setiap kali saya melihat ke belakang, kepada hidup saya yang lama, saya takjub bagaimana orang dengan karakter seperti itu bisa diubah begitu rupa oleh Tuhan. Jadi, bagi semua pembaca yang ingin berubah, ingin menjadi seperti Yesus, ingin karakternya yang buruk dikikis, ingin mengasihi orang lain seperti Tuhan mengasihi mereka…
Dengan pertolongan Roh Kudus dan dengan latihan rutin… Bisa!