Showing posts with label Trust. Show all posts
Showing posts with label Trust. Show all posts

Monday, January 11, 2021

What Would Jesus Do?




by Alphaomega Pulcherima Rambang

“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
(1 Yohanes 2:6)

Slogan WWJD mungkin tidak terlalu sering terdengar sekarang seperti pada tahun 2000 awal. Kepanjangan dari WWJD adalah ‘What Would Jesus Do?’, sebuah pertanyaan singkat yang sebaiknya ditanyakan pada diri sendiri sebelum mengambil keputusan atau tindakan apa yang akan dilakukan. Sebuah pertanyaan yang seharusnya membuat kita berpikir antara melakukan sesuatu atau tidak, seperti apa yang akan Yesus lakukan jika dia berada di posisi kita. Jika kita tidak melakukan seperti yang akan Dia lakukan, jangan-jangan kita tidak mengenal Yesus dengan baik sehingga tidak meneladani Yesus dalam kehidupan kita. Well, pada akhirnya memang kita harus mengenal Dia secara pribadi untuk bisa melakukan seperti yang Yesus lakukan.

"Bayangkan suatu hari Yesus bangun dari tidurnya dan menjalani hidup kita yang sekarang, adakah yang berbeda dari hidup kita?"

Demikian pertanyaan seorang Kakak saat membawa kami dalam perenungan pada persekutuan doa yang aku ikuti di UKM Kristen bertahun-tahun lalu.

Aku ingat kami merenungkan pertanyaan tersebut dan sharing, kira-kira bagaimana Yesus akan menjalani hidup kami. Aku membayangkan jika Yesus akan bangun pagi-pagi sekali, saat teduh, bersih-bersih rumah (Yesus gak mungkin males saat teduh lah ya, hihihi), lalu Ia akan menyiapkan sarapan, duduk sarapan bersama eyangku-mengobrol tentang banyak hal-mendengarkan eyang menceritakan tentang apapun, lalu Ia berangkat kuliah naik motor dengan santai tanpa ngebut sambil ngobrol dengan BapaNya atau bernyanyi-nyanyi - tersenyum melihat mereka yang ngebut. Yesus tidak akan telat tiba di kampus, Ia membantu kawan yang belum mengerjakan tugas - bukan memberi contekan, sesekali Ia bercanda dengan kawan-kawannya-tentunya bukan lelucon kotor yang dikeluarkannya, tidak pula gosip, tapi tanpa begitupun Ia mampu membuat orang lain tertawa, sense of humour Nya terbaik, dst. Yesus menjadi diriku dalam versi terbaik.

Membayangkan Yesus menjalani kehidupanku sangatlah menarik, membayangkan Dia berbicara, kuliah, ikut ujian, pelayanan, dll. Aktivitasnya kurang lebih apa yang aku lakukan TAPI minus DOSA pastiiii... plus hubungan mesra dengan Bapa Surgawi. Saat kita memberikan Yesus tempat istimewa dalam hati dan hidup kita, Dia akan melakukan berbagai hal dengan caraNya, dan PASTI, hidup kita akan berbeda. Aku yang sekarang (memiliki Yesus) akan berbeda dengan aku yang sebelumnya. Tentu saja, yang memimpin adalah Yesus di dalamku, biar Yesus saja yang semakin bertambah dan aku yang semakin berkurang. Kira-kira demikianlah seharusnya hidup kita saat kita telah menerimaNya sebagai Juruselamat kita. KehadiranNya nyata nampak dalam hidup kita. ”Tapi ini sulit, aku gak bisa Tuhan, jeritku dalam hati, kenapa Tuhan tidak membiarkanku seperti ini saja?”

“Tuhan mengasihi kita apa adanya, tetapi Dia tidak akan membiarkan kita seadanya. Dia akan mengubah kita menjadi seperti Kristus.” 
- Max Lucado
Beberapa waktu kemudian aku mendapat kesempatan membaca sebuah buku yang di dalamnya bertuliskan seperti ini : Bagaimana, kalau Yesus menjadi anda untuk satu hari? Max Lucado dalam bukunya ini, Just Like Jesus, mengatakan bahwa untuk menjadi serupa dengan Kristus harus dimulai dari memiliki hati seperti hati-Nya dan hal itu dimulai dengan pembentukan hati oleh Roh Kudus. Kita perlu belajar memiliki hati seperti hatiNya. Ia menjabarkan ciri hati Kristus yang harus dimiliki oleh umat-Nya, yaitu hati yang mengampuni, penuh belas kasihan, mau mendengar, hati yang haus akan Tuhan, haus beribadah, terfokus pada Allah, jujur, murni, penuh pengharapan, bersukacita, dan tabah. Berikut ini beberapa ciri hati Yesus yang harus kita miliki:


HATI YANG MENGAMPUNI

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
(Kolose 3:13)

Mengampuni memang sulit tapi Yesus melakukannya, mari kita pandang Yesus yang telah memberikan teladan pengampunan terlebih dahulu terhadap kita. Ingat malam dimana Dia membasuh semua kaki murid-muridNya? Yesus bukannya tidak tahu kalau di antara murid-muridnya akan mengkhianati dan menyangkalNya tapi nyatanya Dia tetap membasuh kaki mereka. Dia memberikan anugerahNya kepada mereka yang tidak pantas diampuni TERLEBIH DAHULU. Dia menawarkan kasih dan pengampunanNya tanpa diminta dan memberikannya cuma-cuma. Kupikir, apa yang kita alami tidak lebih menyakitkan dari yang Dia alami, tapi Dia tetap mengampuni yang menyakitiNya. Inilah yang harus kita teladani


HATI YANG MENDENGAR

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.” 
(Yakobus 1:22-23)

Yesus dalam khotbahNya berkali-kali mengatakan : Siapa bertelinga hendaklah Ia mendengar. Seperti yang Yesus mendengar BapaNya dan taat, kita sangat perlu dengar-dengaran dengan Firman dan kehendak Allah di hidup kita. Bagaimana cara mendengarkan Tuhan? Dimulai dengan Alkitab yang terbuka dan membiarkan Dia berbicara melalui firmanNya yang berisi kehendak dan isi hatiNya, seperti yang Yesus lakukan. Lalu, lakukan! Semudah sekaligus sesulit itu. 


HATI YANG JUJUR

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” 
(Efesus 4:25)

Pernahkah mendapati Yesus berdusta? Sepanjang hidupnya selama 33 tahun kehidupan Yesus di muka bumi, tak ada cerita tentang kebohonganNya sekalipun keadaan Yesus sangat mendesak. Bagaimana dengan kita? Terkadang kita menambah atau mengurangi kebenaran, berbohong demi kebaikan, berdusta untuk melindungi diri kita, dll, apapun itu namanya, tetap saja kita tidak jujur. Bahkan kita menyampaikan hanya setengah kebenaran dan berkata kita telah jujur. Kita perlu meneladani hati Yesus yang jujur, yang tidak ada dusta 


HATI YANG MURNI

“sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” 
(Markus 7:21-22)

Hati manusia dipenuhi dengan segala kejahatan, hal-hal terburuk yang ingin dilakukan. Berbeda dengan hati Yesus yang murni. Setiap hari hatiNya dimurnikan oleh firman Tuhan dan Ia menjaga hatiNya sungguh-sungguh supaya tidak ditumbuhi benih yang jahat. Mudah bagi Yesus untuk merasa sombong karena kuasa yang dimilikiNya, tetapi nyataNya Ia mengakui dan menyadari karya Allah di dalamNya dan memuliakan Allah. Yesus memilih apa yang ingin Dia rasakan dengan selektif sehingga tindakanNya juga selektif. Perbuatan dan perkataan kita adalah cermin dari hati kita.


HATI YANG PENUH PENGHARAPAN

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”
(Roma 12:12)

Yesus berkata bahwa segala sengsara yang harus dialamiNya telah dinubuatkan. Dia melihat tujuan dalam penderitaanNya sebagai pemenuhan rencana besar Allah. Dia tidak membiarkan diriNya mengasihani diriNya atau mengutuki keadaan. Dia tetap berharap pada BapaNya dan meminta namun dengan rendah hati menginginkan kehendak BapaNya yang terjadi karena Ia tahu rancangan Allah adalah yang terbaik.

Kita perlu berlatih agar memiliki hati seperti hatiNya. Allah ingin agar kita menempatkan Kristus sebagai TELADAN atas seluruh hidup kita (Roma 8:28-29). Dia mau kita menjadi serupa dengan gambaran anakNya, lewat segala sesuatu yang kita alami. Melalui pilihan-pilihan yang kita ambil, Dia ingin membentuk hati kita menjadi serupa dengan Kristus.

Sebelum melakukan sesuatu, kita perlu menanyakan pertanyaan penting ini:

Apakah ini membuatku makin SERUPA dengan Kristus?

Friday, October 19, 2018

On Submitting & Trusting


by Sarah Eliana 

Submission... Submission... Submission. Hal yg menyebalkan, bener gak? Jujur, untukku yang emang pada dasarnya punya sifat super bossy, submit ama suami itu hal yg super duper susah. Setiap hari, setiap waktu, aku harus selalu berdoa, minta Tuhan sendiri yg tegur kalo udah mau mulai bossy ama suami, dan ini seringgg banget lho. It’s an area that I continuously struggle with. Apalagi dulu kuliahnya di bisnis dan marketing, dimana emang kami diajarin utk memimpin. *gubraks* Jadi apa yg dulu aku pelajari, sekarang harus aku redam kalo lagi ama suami. 

Aku sering berpikir kalo submission itu ya termasuk menuruti apa kata suami, membiarkan dia membuat keputusan buat keluarga kami, dll.  Kalo kita denger kata submission, kita pasti udah langsung berpikir, “Ya, ya, aku udah tau kok. Pasti poin-poinnya sama dengan apa yg selama ini sering aku dengar.” Aku juga sering berpikir begitu. 

Beberapa hari lalu, aku baca message dari hamba Tuhan yg kukenal. Ia dan istrinya telah menikah selama lebih dari 50 tahun dan beberapa tahun lalu istrinya meninggal karena kanker. Jadi diceritakan bahwa ketika istrinya didiagnosa terkena kanker yg sangat ganas sekali, dokternya memberi pilihan: 
  1. Kemoterapi. Tapi memang ini gak akan menyembuhkan, cuma menambah waktu hidupnya beberapa minggu atau bulan aja. Dan biarpun ”memanjangkan” hidupnya untuk sementara, kemo ini akan menyebabkan sang istri sangat sangat menderita (beliau udah umur 70 tahun lebih, bayangkan kalau harus mengalami daya tahan tubuh drop, rambut rontok, muntah-muntah, pusing-pusing). 
  2. No treatment at all. Emang kalo pilih yang ini berarti kankernya akan menyebar dengan cepat sekali, tapi itu juga berarti bahwa sang istri gak akan menderita seperti kalo beliau pilih kemoterapi. 
Nah... Sang hamba Tuhan ini bercerita bahwa ketika diberi pilihan itu, sang istri berkata, “I want to do whatever my husband wants me to do (regarding the options).” 

Jleb. *suara pisau menancap di hati* Untuk kita wanita “modern”, mungkin kalo dihadapin pilihan kayak gini langsung mikir, “It’s my life. Jadi aku yg akan ambil keputusan apakah aku mau kemo atau gak.” Ya kan? Jujur sejujur-jujurnya, aku juga mungkin akan berpikir kayak gitu. Kan badanku, hidupku, pilihanku donk—iya kan? Tapi lewat kalimat sesederhana itu, aku diingetin Tuhan bahwa tunduk kepada suami itu lebih daripada hanya sekedar membiarkan dia mengambil keputusan atau menuruti dia. Firman Tuhan berkata: 

“Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.”
(Efesus 5:22)

Aku selalu berpikir bahwa tunduk kepada Tuhan artinya: biarpun aku gak suka dengan rencana Tuhan, aku harus tetep jalanin dengan hati senang. Aku diajar Tuhan, kalo tunduk ama suami seperti kepada Tuhan itu yach seperti aku believe AND trust Tuhan, aku juga harus believe AND trust my husband. Seperti isteri hamba Tuhan tadi. Walaupun aku yakin gak akan ada yg salahin beliau kalo beliau mau ambil keputusan sendiri tentang pengobatannya, she chose  to put herself under the authority of her husband and believed that he would make the best decision for her. She trusted  him, even with her life!! 

See, selama ini aku pikir aku harus tunduk kepada suami karena Tuhan perintahkan aku untuk berbuat demikian. Tapi lewat kalimat simple itu, Tuhan ajar aku bahwa tunduk kepada suami itu harus datang dari keinginanku sendiri. Aku belajar kalo tunduk pada suami bukan hanya sekedar membiarkan dia mengambil keputusan dalam keluarga, but also trusting him regarding MY life, MY body, MY choices; AND trusting that GOD will work the best for me THROUGH my husband. Oh how difficult this is! I know! Kita pasti berpikir, ”Kenapa Tuhan gak langsung ngomong ke aku aja. Kenapa harus lewat suami aku?” Well, girls, that’s because our husband is the authority that God has put above us. Sama seperti bangsa Israel punya imam, keluarga kita juga punya “imam”, dan imam keluarga kita ya suami kita. Sama seperti bangsa Israel harus menuruti perkataan imam mereka, kita juga harus menuruti suami, dan percaya bahwa keputusannya berasal dari Tuhan. Susah kan? Kita melihat suami tiap hari, kita tau dia manusia biasa, kita tau semua kelemahannya. But that’s when submission goes to a whole other level and that’s when our trust is tested. Do we love him enough to trust him? Do we respect him enough to let him be the “priest” in our family? 

Do we trust our husband enough with our life? Keputusan tentang keluarga mungkin masih gampang untuk diserahkan kepada suami. Tapi kalo keputusannya udah berhubungan langsung dengan hidup kita? Badan kita? Do we trust him enough? We should. It comes with a price, sure. Sama seperti mempercayakan diri kepada Tuhan berarti membayar harga, percaya dan tunduk pada suami juga datang dengan segala macam pengorbanan dan harga. But guess what? It’s worth it. You know why? Because marriage is based on trust (and Jesus, of course). Kalo kita gak bisa percaya pada suami, waduhhh, kacau kan. Without trust there is no relationship. 

But what is trust? Apakah sekedar percaya bahwa suami kita gak akan macam-macam di belakang kita, gak akan godain cewek-cewek lain? Tidak. Of course, we trust him not to do those things behind our back, but trust goes beyond that. Trusting our husband means we allow ourselves to be vulnerable. Artinya kita memberitahu dia pikiran dan perasaan kita yang terdalam. Dan ini juga artinya “dua menjadi satu”—gak hanya sekedar menjadi satu tubuh melalui seks, tapi juga menjadi satu pikiran, satu hati. Gimana mau jadi satu kalo kita gak cukup percaya dia untuk membagi pikiran dan perasaan kita yang terdalam? Kata Firman Tuhan: 

”Apa yg disatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia.”
(Matius 19:6)

Tau gak, setelah menikah, aku baru betul-betul sadar betapa dalamnya arti ayat ini. Gak hanya sekedar, “Eh udah nikah, jangan selingkuh ya,” tapi juga, “Kalau udah menikah, DON'T LET your pride divorce you.” Coba lihat berapa banyak pasangan yg cerai karena mereka tidak saling percaya, karena mereka gak betul-betul berusaha untuk menjadi satu kesatuan. 

Tapi selain itu, kita juga bisa lho, bercerai tanpa betul-betul bercerai. Pernah gak denger omongan, “Ih, hebat ya, udah tua masih mesra… Masih gandengan tangan.” Pasti pernah, atau bahkan kita sendiri pernah ngomong begitu. Kenapa hebat? Karena yg kita lihat di sekeliling kita adalah: pernikahan yang sudah berpuluh-puluh tahun biasanya udah gak mesra lagi, karena udah sibuk sama anak-anak, cucu-cucu, karir, dll. Udah tua, suami istri gak lagi keliatan kayak suami istri, lebih keliatan kayak roommates doank. Sedih gak sih? Kalo udah gitu, apa bedanya dengan cerai beneran? Gak ada kan? Memang masih tinggal di bawah satu atap yg sama, tapi gak ada lagi unity antara suami istri. Disinilah aku lihat betapa dalamnya arti ayat Matius 19:6 itu. Bercerai itu gak hanya sekedar karena orang ketiga, tapi juga karena diri kita sendiri: karena kita gak mau merendahkan diri dan percaya pada suami, karena kita gak berani ambil resiko to be vulnerable with our husband, karena kita gak mau membagi pikiran dan perasaan kita yang terdalam dengan dia (biarpun dengan alasan yg kedengerannya baik, seperti, ”Ah, dia sendiri lagi pusing, banyak pikiran. Kasian.”). 

Submission means trusting your husband, even with your life. Karena suami kita juga dapat perintah dari Tuhan untuk mencintai istrinya seperti Kristus mencintai jemaat. Kristus mati di atas kayu salib untuk jemaat-Nya. Our husband, too, will sacrifice his life for us, and we HAVE TO trust that he will do that for us. Submission means trusting that God will work the best for us through our husband. Submission means humbling yourself and be vulnerable. Submission means we share our deepest thoughts, desires and feelings with our husband, and TRUST him not to use it against us. It means trusting that we will be loved and accepted despite our weaknesses and shortcomings. Submission means we constantly humble ourselves, and put ourselves under the authority of our husband, who is the “priest” of the family. 

Monday, August 27, 2018

Being A Trustworthy Woman


by Leticia Seviraneta 

“When there is no trust, there is no relationship.” 

Setiap hubungan yang kita bina memiliki satu fondasi yang sama: rasa percaya satu sama lain. Baik di dalam hubungan dengan Tuhan, lingkungan keluarga, pernikahan, gereja, pekerjaan, dsb, rasa percaya yang terjalin antar individu di dalamnya akan sangat menentukan kualitas dari hubungan tersebut. Namun banyak yang tidak menyadari seberapa pentingnya rasa percaya ini sampai saat mereka kehilangan rasa percaya tersebut dari orang lain. Banyak yang menganggap rasa percaya itu sebagai sesuatu yang biasa saja dan take it for granted. Mereka tidak menjaga kepercayaan yang diberikan dan menghancurkannya. Bila rasa percaya hancur—ibarat sebuah fondasi yang rapuh, akan mengakibatkan hubungan menjadi retak, renggang, dan bahkan terputus sama sekali. 

Hubungan kita dengan Tuhan pun dimulai dengan adanya rasa percaya. Tuhan banyak memberikan perintah kepada manusia untuk percaya kepada-Nya. 

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.
(Amsal 3:5-6) 

Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN.
(Mazmur 9:11) 

Adanya rasa percaya menjadi awal dari suatu hubungan. Rasa percaya itu sendiri timbul dari pengenalan akan seseorang, yang meyakinkan kita bahwa seseorang memiliki kualitas yang telah teruji dan menjadikannya layak dipercaya (trustworthy). Trustworthy secara sederhana memiliki arti layak dipercaya (worthy of trust), dapat diandalkan, jujur atau senantiasa berkata kebenaran. Kita sangat dapat mempercayai Tuhan karena apa yang seluruh Alkitab nyatakan tentang semua karakter dan perbuatan-Nya. Tuhan telah teruji bahwa ia tidak dapat berbohong dan selalu berkata benar, ia selalu setia dalam menepati janji-Nya, ia tidak pernah terlambat dalam melakukan pekerjaan-Nya, selalu berada bersama kita dan tidak pernah meninggalkan, sangat dapat diandalkan di saat kita berada dalam kesusahan, tempat perlindungan yang teguh, dan masih banyak lagi. 

"Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?"
(Bilangan 23:19) 

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”
(Ibrani 13:5-6) 

"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti."
(Mazmur 46:2) 

Tuhan senantiasa memberikan teladan bahwa Ia adalah Pribadi yang layak dipercaya. Kita sebagai anak-anak-Nya pun memiliki tujuan untuk merefleksikan kualitas trustworthy itu di mana pun kita berada. Untuk dapat membangun hubungan yang kuat, kita perlu menjadi pribadi yang layak dipercaya. Dan untuk menjadi orang yang layak dipercaya, kita perlu membuktikan dengan keseluruhan hidup kita bahwa kita dapat diandalkan. Hal ini berarti kita perlu membuang sifat dan kebiasaan kita yang menyulitkan orang untuk percaya kepada kita. 

Lalu hal-hal apa sajakah yang dapat kita lakukan untuk dapat menjadi wanita yang layak dipercaya? 
// Konsisten antara perkataan dan perbuatan 
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu."
(1 Timotius 4:12) 

Tuhan kita layak dipercaya karena setiap perkataan dan perbuatan-Nya akan selaras dan tidak pernah bertentangan. Apa yang Tuhan perkatakan, pasti Tuhan akan lakukan. Kita dapat menyebutnya konsistensi seperti ini dengan nama integritas. Sangat disayangkan, banyak anak Tuhan yang hidupnya tidak selaras dengan perkataannya. Mereka mengakui dengan mulut bahwa mereka percaya kepada Tuhan, namun hidupnya masih memelihara kebiasaan yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Mereka berjanji kepada sesama, namun tidak menepatinya. Mereka berkata suatu hal, namun yang mereka maksudkan sesungguhnya bukan itu (ehem... Ladies! Hehe). 

Belum lama ini saya mengadakan acara bridal shower untuk salah satu teman baik saya. Saya merencanakannya jauh-jauh hari dan menghubungi teman-teman yang akan diundang dahulu untuk memastikan bahwa di tanggal tersebut mereka dapat datang. Saya pun sampai mengubah tanggal acara agar beberapa dapat datang ke acara tersebut. Namun pada akhirnya, orang-orang yang membuat saya mengubah tanggal acara tersebut (dan sebelumnya mengatakan bisa datang) malah membatalkan kehadirannya. Akibatnya, jumlah orang yang datang sedikit sementara biaya dekorasi sudah dibayarkan per jumlah orang yang seharusnya hadir. Orang yang hadir jadi menanggung biaya dekor lebih mahal dari yang seharusnya. 

Banyak yang menganggap membatalkan janji adalah sesuatu yang sepele dan dapat dimaklumi. Namun hal ini sudah menunjukkan bahwa orang tersebut tidak dapat dipercaya dalam perkataannya. Ketika ia mengiyakan untuk hadir di suatu acara namun tidak menepatinya (kecuali untuk hal yang benar-benar tidak terduga dan sangat penting), hal ini akan mengurangi level kepercayaan di dalam hubungan tersebut. Baru saya dengar dari teman saya yang lain, “Kalau janji ketemuan sama si A memang harus siap-siap dia cancel last minute. Orangnya memang begitu plin-plan.” Duh, seandainya saya tahu tentang sifatnya itu sebelum membuat rencana yang melibatkan dia! 

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
(Matius 5:37) 

Jangan anggap ringan setiap janji yang kita buat; jangan sampai kita ternyata tidak bisa menepatinya. Tuhan juga tidak pernah sembarangan membuat janji. Hal ini berarti kita perlu lebih disiplin dalam mengatur schedule dan waktu kita untuk memastikan apakah kita sungguh dapat memenuhi janji tersebut, sebelum mengiyakan suatu undangan. 

Hal ini juga berlaku dalam segi ketepatan waktu. Orang Indonesia terkenal suka ngaret. Bila berjanji untuk bertemu pukul 12.00, maka kita perlu memperkirakan dengan jelas dan memperhitungkan faktor kemacetan dsb untuk dapat memastikan kita datang tepat waktu. Seorang yang senantiasa menepati janji dan tepat waktu adalah jelas menjadi orang yang layak dipercaya. 

// Tidak berbohong dan selalu berkata jujur
"Jangan berbohong satu sama lain, sebab hidup yang lama dengan segala sifatnya sudah kalian lepaskan. Kalian sekarang sudah diberi hidup yang baru. Kalian adalah manusia baru, yang sedang diperbarui terus-menerus oleh Penciptanya, yaitu Allah, menurut rupa-Nya sendiri. Maksudnya ialah supaya kalian mengenal Allah dengan sempurna."
(Kol 3:9-10, BIS) 

Berbohong bisa jadi merupakan dosa pertama kita sejak balita. Seorang balita tidak perlu diajarkan untuk berbohong; dia dapat berbohong dengan sendirinya ketika ia melanggar perintah orang tuanya dan mau menyelamatkan diri. Berbohong bisa jadi merupakan langkah refleks kita untuk melindungi kita dari situasi yang tidak mengenakkan. Saking mudahnya untuk berbohong, kita terkadang menganggapnya sebagai “dosa ringan” dan cenderung bersikap kompromistis terhadapnya. “Ah sekali-kali gak apa-apa.” “Ini white lie, berbohong untuk kebaikan. Tuhan pasti mengerti.” Namun di mata Tuhan tidak ada dosa berat maupun dosa ringan, tidak ada dosa besar maupun kecil. Dosa adalah dosa—titik. 

"Ada tujuh perkara yang dibenci TUHAN dan tak dapat dibiarkan-Nya: Sikap yang sombong, mulut yang berbohong, tangan yang membunuh orang tak bersalah, otak yang merencanakan hal-hal jahat, kaki yang bergegas menuju kejahatan, saksi yang terus-terusan berdusta, dan orang yang menimbulkan permusuhan di antara teman."
(Amsal 6:16, BIS) 

Berbohong merupakan dosa yang dibenci Tuhan dan tidak dapat dibiarkan-Nya. Sekali seseorang berbohong, kecenderungannya adalah ia harus berbohong lagi untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Ibarat bola salju yang bergelinding makin lama menjadi makin besar, kebohongan ‘kecil’ lama-lama menjadi kebiasaan berbohong yang menjadikan kita seorang pembohong. Tidak ada yang mau memberikan kepercayaan kepada seorang pembohong bukan? 

Kita sebagai manusia sangat benci bila dibohongi. Pernah ditipu oleh orang yang berdagang? Si penjual meyakinkan bahwa yang ia jual asli, namun ternyata palsu. Si penjual meyakinkan bahwa barangnya made in Japan, tahunya made in China. Si penjual meyakinkan makanan yang ia jual tidak memakai pengawet, tahunya malah pakai pewarna atau pengawet dan kita memberikan makanan itu kepada anak kita yang masih kecil. Apakah kita masih mau membeli di pedagang tersebut? Sudah pasti tidak. Jadi untuk menjadi wanita yang layak dipercayai, buang jauh-jauh kebiasaan “sekali-kali berbohong”. Jangan berbohong dan selalu berkata benar. 

// Tidak bergosip dan menyimpan rahasia dengan baik 
“A perverse person stirs up conflict, and a gossip separates close friends.” 
(Proverbs 16:28, NIV) 

Ketika teman kita mempercayakan rahasianya kepada kita, jagalah dengan baik sebagaimana kita menjaga rahasia kita juga. Kita perlu mengendalikan mulut kita untuk tidak terlalu banyak berbicara yang tidak perlu. Gosip pada dasarnya adalah memperbincangkan orang lain dengan merujuk jelas kepada nama-nama dan kejadiannya. Hal ini biasanya hanya dari satu sudut pandang dan tidak teruji kebenarannya. Banyak kasus di pertemanan khususnya pertemanan sesama wanita yang menjadi renggang karena salah satu mendengarkan orang lain tentang temannya tersebut. Apa yang dikatakan Salomo dalam Amsal ini sungguh benar bahwa gosip memisahkan sahabat karib. Ia merusak rasa percaya dan hubungan tersebut akhirnya. Gosip juga merupakan salah satu dosa yang Tuhan benci (Amsal 6:16) karena menimbulkan pemusuhan di antara teman. 

// Tidak malas dan mengerjakan segala sesuatu dengan maksimal 
Di dalam Amsal 31, dideskripsikan karakter dan kualitas seorang wanita bijak. Salah satunya adalah ia rajin dalam mengerjakan segala sesuatu yang dipercayakan kepadanya. Hasil pekerjaannya excellent dan membuat suaminya dapat menaruh percaya penuh kepada dirinya. 

"Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan."
(Amsal 31:11) 

Baik di dalam rumah, gereja, maupun di lingkungan kerja, kita akan menjadi seorang wanita yang layak dipercaya ketika kita rajin dan tidak setengah-setengah dalam mengerjakan segala sesuatu. Kembali ke poin satu, perkataan dan perbuatan kita harus selaras. Dunia melihat Yesus di dalam diri kita melalui pekerjaan-pekerjaan kita. 

"Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."
(Kol 3:22-23) 

Saya datang dari latar belakang keluarga non-Kristen. Saya tahu bahwa papi saya sulit untuk percaya kepada Kristus karena terlalu banyak melihat orang Kristen yang rajin ke gereja namun hidupnya tidak mencerminkan Kristus sama sekali. Itulah mengapa saya yakin betul bahwa sangatlah penting hidup kita selaras dengan Firman Tuhan dan setiap perkataan yang kita katakan. Dengan menjadi seorang yang layak dipercaya, kita menjadi saksi Kristus yang efektif, bukannya menjadi batu sandungan. You can do this, ladies! 

Friday, August 24, 2018

Trustworthy



by Lia Stoltzfus 

Bulan ini kita membahas tentang karakter trustworthy yang artinya “dapat dipercaya”, honest, dan truthful. Pasal yang muncul dalam hati saya adalah Mazmur 15. Banyak sekali yang kita bisa pelajari tentang trustworthiness dalam pasal ini. 
Mazmur Daud.
TUHAN, siapa yang boleh menumpang  dalam kemah-Mu?
Siapa yang boleh diam di gunung-Mu  yang kudus?
Yaitu dia yang berlaku tidak bercela,
yang melakukan apa yang adil
dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,
yang tidak berbuat jahat terhadap temannya
dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
yang memandang hina orang yang tersingkir,
tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN;
yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba
dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.
Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya. 
Trustworthiness sangat berkaitan dengan integritas, yaitu keselarasan hati, pikiran dan perbuatan. Dengan menjaga integritas (menjaga kebersihan hati nurani) kita akan menjadi orang yang dapat dipercaya/diandalkan. Berintegritas berarti we are true to God, to ourselves and to others. 

Kalau kita baca ayat-ayat di Mazmur 15, timbul pertanyaan, “Apa ada orang yang seperti itu? Apa saya bisa seperti itu?” 
  • Tidak bercela, melakukan apa yang adil, dan mengatakan kebenaran. 
  • Tidak menyebarkan fitnah, tidak berbuat jahat, dan tidak menimpakan cela pada orang lain. 
  • Tidak memandang hina orang lain dan berpegang pada sumpah walaupun rugi. 
  • Tidak memanfaatkan orang lain untuk mendapat keuntungan (meminjamkan uang dengan bunga atau menerima suap). 
Saya percaya bahwa kalau Tuhan memberi perintah, itu bukanlah perintah yang impossible untuk dijalani. Saya pun sebagai orang tua gak bakal kasih perintah ke anak saya untuk melakukan sesuatu yang saya tau pasti anak-anak saya are not capable to do it. Saya juga percaya yang Tuhan mau dari kita adalah hati yang bersedia taat dengan segera, bukan taat dengan sempurna. Tuhan tau kita manusia, masih daging, kita bisa jatuh, kita bisa buat salah, kita bisa ambil keputusan yang gak benar atau gak sesuai dengan firman. Tapi ketika kita diingatkan oleh hati nurani, atau ditegur oleh saudara seiman atau otoritas, apakah kita punya kerinduan untuk berubah dan membersihkan hati nurani kita? 

Yuk kita lihat bagaimana cara praktis belajar mempraktekkan hidup dalam integritas supaya kita bisa jadi orang yang trustworthy. 

1. Tidak bercela, melakukan apa yang adil, dan mengatakan kebenaran. 
Apa itu adil? 

Adil itu kira-kira seperti ini: saya bekerja pada jam kerja, memberikan kepada perusahaan apa yang jadi hak mereka, mengurus urusan kantor, mengutamakan pekerjaan saya daripada kepentingan pribadi, menunda kesenangan saya (chatting, main game, browsing resep makanan bayi, balas e-mail teman, belanja online, main medsos, dsb) dan memprioritaskan pekerjaan saya. 

Adil itu kalau saya memberikan disiplin yang sama pada anak, tidak memberikan perlakuan berbeda karena saya mungkin lebih dekat dengan si A daripada si B. 

Adil itu kalau saya memberi perlakukan dan kesempatan yang sama pada semua murid saya tanpa membeda-bedakan mereka. 

Apa itu mengatakan kebenaran? 

Menurut Matius 5:37, mengatakan kebenaran berarti jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak. Bukan hanya itu, tapi juga tidak berusaha menyembunyikan fakta atau hanya mengatakan half-truth. 

Susah gak untuk selalu bersikap adil dan mengatakan kebenaran? “Perintah-Nya itu tidak berat (1 Yohanes 5:3),” alias tidak susah. Ada amin? Tidak berat, kalau itu sudah jadi habit. Nah gimana kalo sebaliknya? Kita punya habit berbohong. Kelihatannya ini ‘bohong kecil’ yang gak berbahaya. Kita harus ingat lagi: salah satu bentuk integritas adalah not only being true to God and others, but also being true to yourself. 

Kadang kita suka ngga enakan kalau ditawari makan, lalu biasanya kita menolak dengan bilang, “Engga usah, terima kasih. Saya sudah kenyang, sudah makan tadi di rumah.” Padahal mah perut kruyuk-kruyuk kelaperan. Nah jangan pikir bohong yang model begitu ‘biasa aja’, ‘gak ngerugiin’. Ingat, integrity means wholeness, kesatuan hati, pikiran, dan perbuatan. Kita harus belajar untuk berkata yang benar. Kalau emang merasa sungkan untuk makan di rumah orang, bilang aja, “Ga apa-apa tante, nanti saya makan di rumah aja.” Jangan bilang, “Gak laper,” atau, “Sudah kenyang.” 

Gimana kalo sudah terlanjur ngomong sesuatu yang gak benar... Atau ngomong fakta yang berlebihan? Contohnya, kamu cerita ke teman kamu, “Si A bilang ke aku klo dia blablabla, bliblibli, blublublu...” padahal si A hanya bilang “blablabla dan bliblibli.” Pas kamu lagi ngomong, alarm di hati berbunyi, “Ehhh, itu tidak benar loh...” Saat itu juga, kita harus ralat, “Eh sorry, tadi aku ngomong berlebihan... Sebenernya si A gak ngomong blublublu sih.” Malu gak? Malu pastinya, tapi dengan belajar ngakuin kesalahan, dengan cepat meralat dan berkata yang benar, kita sedang belajar memelihara hati nurani kita bersih. Tanpa kita bersedia meralat, kebiasaan buruk menambah-nambahkan sesuatu/ berkata berlebihan tidak akan hilang. Kita harus belajar memperkatakan kebenaran. 

2. Tidak menyebarkan fitnah, tidak berbuat jahat, dan tidak menimpakan cela pada orang lain. 
Ini artinya kita tidak melakukan sesuatu yang jahat terhadap orang lain. Amsal berkata, “Memikirkan kebodohan (Amsal 24:9) dan merencanakan kejahatan (Amsal 24:8) mendatangkan dosa.” Ayo siapa yang sering kayak gini? “Awas yah kamu, WA ku gak dibalas, nanti giliran kamu nyari aku, aku juga diem aja no respond!” “Oh, jadi kamu begitu. Oke, saya juga bisa lebih sadis dari itu!” Hal seperti ini harus dibuang, meski baru timbul dalam pikiran. Berdoalah, berseru kepada Tuhan, “Tuhan, ampuni saya. Saya terluka dengan perkataannya dan saya jadi banyak mikir yang jelek dan mikir gimana caranya balas dendam. Tuhan, tolong saya... Pulihkan hati saya supaya saya gak berbuat jahat dengan merencanakan sesuatu yang Tuhan tidak berkenan.” Ini namanya orang benar. Bisa aja sepersekian detik dia salah; bisa aja dia ambil keputusan gak benar; tapi pas sadar atau ditegur, dia mau rendah hati dan bertobat. 

3. Tidak memandang hina orang lain dan berpegang pada sumpah walaupun rugi. 
Memandang hina artinya meremehkan dan menganggap orang lain tidak/kurang berharga. Akarnya adalah kesombongan, menganggap diri lebih baik dari orang lain, sehingga orang lain harus ikut keinginan saya, dengerin pendapat saya, dan hormati saya. Orang seperti ini tidak bisa tinggal dan diam di gunung kudus Tuhan karena sikap hatinya yang angkuh. Yuk sama-sama bertobat kalau keangkuhan ini masih ada dalam hati kita. 

Memegang janji walaupun rugi maksudnya menjadi orang yang bisa dipercaya: sekali berjanji pasti akan menepati sekalipun untuk menepatinya orang tersebut harus kehilangan banyak hal/menderita kerugian. Komitmen untuk setia pada janji sangat besar dampaknya. Orang akan kenal kamu sebagai seorang yang setia, yang dapat diandalkan, yang dapat dipercaya. Sekali kamu ngomong, “Ya, saya akan lakukan,” kamu berkomitmen untk mengerahkan segala daya melakukan apa yang telah kamu janjikan. Misalnya dalam dunia usaha. Setelah deal harga, ternyata ada salah hitung biaya produksi; sehingga ketika dihitung ulang, ternyata tidak membawa keuntungan. Kesalahan ada di pihak penjual; tapi waktu itu kita sudah deal dengan pembeli, termasuk masalah harga. Orang yang trustworthy akan berpegang pada janji, dia akan mengerjakan hal tersebut sesuai dengan kesepakatan, bukan dengan sungut-sungut dan terpaksa tapi karena menyadari bahwa ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia sepakati. 

4. Tidak memanfaatkan orang lain untuk mendapat keuntungan pribadi. 
Tidak berusaha ambil untung dari orang lain ini bukan masalah jualan/dagang ya. Tentunya kalau kita berdagang, kita mau mendapat keuntungan sewajarnya. Mengambil untung dari orang lain yang dibicarakan di sini artinya terus berpikir, “Apa nih, yang saya bisa dapat dari kamu?” Bisa juga mengambil untung dari kesusahan/penderitaan orang lain. Misalnya ada orang yang sangat butuh uang, dan kamu bersedia meminjamkan dengan bunga yang tinggi. Nah, ini tidak boleh. Demikian pula dengan menerima suap. Mulai dari hal yang kecil, misal orang minta tolong kepada kita, “Tolong dibantu [sesuatu yang tidak jujur] deh, nanti gue traktir lu makanan.” 

Ini semua dekat dengan hidup kita sehari-hari, dan kita perlu sungguh-sungguh menjaga diri supaya menjadi orang yang trustworthy. Trust takes years to earn, but only a few seconds to lose. Mari kita belajar membangun karakter ini dengan terus menjaga integritas hidup kita. Apa yang kita katakan, itu pula yang kita lakukan. Apa yang kita ajarkan, itu pula yang kita perbuat. Menghidupi apa yang kita kotbahkan, dan mengkotbahkan apa yang kita hidupi. Your faithfulness in small things matters to God; those very things are the ones that make a difference. 

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. 
Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."
(Lukas 6:10)

Wednesday, August 22, 2018

Search My Heart, O Lord


by Leticia Seviraneta

“Above all else, guard your heart, for it is the wellspring of life.”
(Proverbs 4:23 / NIV)

Kita mungkin sering mendengar pengajaran mengenai menjaga hati, seperti beberapa bulan ini kita sudah belajar bagaimana musuh sering menyerang hati serta pikiran kita dan betapa pentingnya kita untuk memakai perlengkapan perang rohani. Ya, hati dan pikiran kita adalah medan perang di mana kita dapat dengan mudah terlena memikirkan hal-hal yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Raja Salomo menuliskan nasihat yang sarat dengan kebenaran di Amsal 4:23 yaitu “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Di dalam terjemahan Alkitab Yang Terbuka ayat tersebut berbunyi: “Di atas segala-galanya hati-hatilah terhadap yang kaupikirkan karena pikiranmu mengendalikan hidupmu.” Wow... betapa dahsyat peranan hati dan pikiran kita bukan? Melalui hikmat Salomo, Tuhan berkata bahwa hati kita adalah sumber dari kehidupan. Apa yang ada di dalam hati kita sangat berperan penting menentukan arah hidup kita. Nah, bila hati dan pikiran kita biarkan melalang buana ke tempat yang tidak seharusnya, hidup kita pun berarti akan “nyasar” dari tujuan yang Tuhan sediakan bagi kita.

Berbeda dengan pengajaran dunia yang bahkan sering ada di lirik-lirik lagu seperti “Follow your heart”, Alkitab justru mengajarkan kita untuk tidak mempercayai hati kita atau istilahnya: “Don’t follow your heart!” Mengapa demikian? Karena di dalam kitab Yeremia, Tuhan mendeskripsikan betapa liciknya hati manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Hati kita tidak lagi dapat diandalkan untuk menjadi penentu arah kehidupan kita.

“Betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan perbuatannya.”
(Yeremia 17:9-10)

Hati kita sudah terkontaminasi dengan dosa, tidak lagi dapat diandalkan untuk menentukan mana yang sesuai kehendak Tuhan mana yang tidak. Oleh karenanya, kita harus kembali mengandalkan Tuhan untuk senantiasa menguji hati kita, menunjukkan area-area mana saja yang perlu dibersihkan, supaya kita dapat melihat kembali dengan jernih kehendak-Nya.

Hati dan pikiran yang tidak benar (asumsi) juga bisa menjadi awal penyebab hubungan kita dengan sesama dapat dengan mudah retak. Ketika teman kita memberikan hadiah ulang tahun yang ‘murah’ kita dapat dengan mudah berpikir, “Ah betapa dia ga menganggap aku. Aku aja berikan dia kado yang mahal...” atau “Hiks pelitnya... masak kasih kado barang beginian?” Atau ketika dalam pelayanan teman kita yang baru saja join malah diangkat jadi pemimpin grup kita dapat berpikir, “Mengapa dia yang dipilih? Bukankah aku sudah lebih lama melayani dan lebih berpengalaman?” Hayo... Pernahkah teman-teman berpikir hal yang serupa? Skenario pertama yang tentang hadiah itu adalah pengalaman pribadiku sendiri. Aku merasa nyesek karena aku merasa berkorban lumayan besar memberikan kado untuk temanku itu, namun ia membalas hadiahku dengan sesuatu yang ia tidak pakai ketika ulang tahunku. Cukup lama aku bergumul di dalam hati dan pikiranku, semua yang negatif pokoknya menari-nari di dalamnya. Namun di situ aku ditegur Tuhan, Ia menunjukkan bahwa motivasiku ketika memberi itu berarti tidak tulus karena aku mengharapkan imbalan yang setimpal. Saat itu aku sadar hatiku tidak dalam kondisi baik, namun kesadaran saja pun belum cukup untuk mengembalikan hatiku sehat seperti semula. Dibutuhkan perjuangan dan waktu yang cukup lama untuk terus menggantikan pikiran-pikiran semacam itu dengan kebenaran.

The heart of the problem is the problem of the heart. Bila kita mau jujur, letak kunci dari permasalahan kita dalam hal relationship baik dengan Tuhan maupun sesama biasanya adalah masalah di dalam hati kita sendiri. Bila hati yang dijaga dengan baik oleh Firman Tuhan memancarkan kehidupan, maka sebaliknya bila hati tidak kita jaga dengan baik akan memancarkan “kematian”. Bau “kematian” itu yang akhirnya kita bawa dalam setiap relationship yang kita jalin hingga membuat hubungan menjadi retak, kemudian renggang, lalu pada akhirnya terputus sama sekali (mati). Bukan berarti juga pasti kita melakukan kesalahan, untuk beberapa kasus mungkin teman kita yang hati dan pikirannya kurang benar. Tapi menghadapi teman kita yang hatinya kurang benar, hati kita juga bisa terpengaruh tidak benar jika tidak dijaga. Yang bisa kita kendalikan adalah hati dan pikiran kita sendiri karenanya kita perlu terus jujur dan terbuka lalu meminta Tuhan untuk menguji hati kita. Atau dengan kata lain, kita sendiri membutuhkan yang namanya “heart check-up” secara rutin.

Daud yang diberi julukan “a man after God’s own heart” pun meminta heart check-up kepada Tuhan. Ia mengatakan,

“Search me, O God, and know my heart; test me and know my anxious heart; test me and know my anxious thoughts. See if there is any offensive way in me, and lead me in the way everlasting.” (Psalm 139:23-24)

Kata “search” yang dipakai dalam ayat ini dalam bahasa Ibrani adalah “chaqar” yang berarti to examine thoroughly, menyelidiki dengan seksama. Jadi Daud seperti memberikan dirinya secara terbuka dan meminta Tuhan untuk dengan bebas menyelidikinya dengan seksama, membuka hatinya serta mengenal seluruh pikirannya yang terselubung. Lalu kata “offensive way” dalam bahasa Ibrani memakai kata “otseb” yang dapat berarti pain, sorrow, idol. Daud bahkan meminta Tuhan untuk mengecek apakah ada rasa sakit, kesedihan, atau berhala dalam hatinya? Wow... di sini kita bisa melihat betapa rendah hatinya Daud karena ia benar-benar se-transparan itu di hadapan Tuhan dan mengakui betapa tidak sempurnanya ia. 

Seorang dokter dapat lebih mungkin menyembuhkan pasien yang sadar dirinya sakit dan memiliki keinginan untuk sembuh dibandingkan pasien yang tidak mau mengakui dirinya sakit, demikian juga halnya dengan Tuhan kita. Tentu saja Tuhan mau bekerja dalam hidup kita, dengan senang hati Tuhan mau menyelaraskan hati dan pikiran kita sesuai rencana-Nya. Namun dibutuhkan kerendahan hati dan transparansi dari pihak kita untuk memungkinkan Tuhan mengerjakan bagian-Nya juga. Tuhan memandang yang di dalam jauh lebih penting dari pada yang terlihat di luar.

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
(1 Samuel 16:7)

Jangan sampai kita lose focus, sibuk menjaga penampilan di luar namun keadaan hati yang jauh lebih penting justru terbengkalai.

Nah, sekarang bila kita sudah menyadari betapa pentingnya menjaga serta meminta Tuhan mengecek hati dan pikiran kita senantiasa, bagaimana kah caranya untuk dapat terbebas dari pikiran dan asumsi berlebihan tersebut? Paulus menuliskan,

“Don’t copy the behavior and customs of this world, but let God transform you into a new person by changing the way you think. Then you will learn to know God’s will for you, which is good and pleasing and perfect.”
(Romans 12:2 / NLT)

Dalam terjemahan lain Paulus menggunakan istilah “renewing of your mind”. Pikiran kita harus senantiasa diperbaharui, kebiasaan berpikir yang lama harus kita gantikan dengan yang baru. Apakah pola pikir yang baru itu?

“...semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.”
(Filipi 4:8-9)

Bila pikiran kita seumpama gelas yang berisi air keruh, cara untuk membuatnya bersih kembali adalah dengan membuang seluruh air keruh tersebut dan mengisinya kembali dengan air jernih. Namun pada praktiknya, mustahil kita dapat menghapus semua pikiran negatif dalam sekejap seperti mengkosongkan air keruh tersebut. Jadi yang dapat kita lakukan adalah terus mengisi gelas tersebut dengan air bersih, sehingga air keruh itu perlahan namun pasti akan tergantikan dengan air baru. Proses renewing our mind sama halnya dengan menggantikan air keruh tersebut dengan air bersih, kita perlu ‘menimpa’ pikiran-pikiran yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dengan yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, penuh kebajikan, patut dipuji tersebut. Jadi ketika ada pikiran yang menari di pikiran kita, kita dapat langsung tanyakan kepada diri kita sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini mulia? Apakah ini adil? Apakah ini suci? Apakah ini manis? Apakah ini sedap didengar? Apakah ini sebuah kebajikan? Apakah ini patut dipuji? Bila jawabannya tidak, maka kita dapat menanyakan kembali kepada diri kita sendiri, “Apa yang Tuhan ingin aku pikirkan tentang itu? Apa kata Firman Tuhan dalam situasi ini?” Kita harus membuat sebuah tujuan untuk memakai kacamata Tuhan dalam melihat segala sesuatu. Belajar untuk melihat dari sudut pandang Tuhan dan bukan sudut pandang kita saja, apalagi membiarkan hidup kita dikendalikan oleh apa yang hati kita rasakan (hati itu menipu teman-teman, ingat don’t just follow your heart!) Tapi bukan berarti kita menjadi seorang yang naif. Yesus dapat menjaga pikiran-Nya senantiasa selaras dengan kehendak Tuhan, namun Yesus tidak naif.

“Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.”
(Yohanes 2:23-25)

Yesus mengetahui hati manusia tidak stabil, karenanya ia tidak mempercayakan hati-Nya kepada mereka. Sama halnya dengan kita, kita harus mengatur ekspektasi kita terhadap sesama. Kita perlu melihat setiap individu di bawah terang kasih Tuhan, namun di saat yang bersamaan kita juga perlu mengingat bahwa setiap manusia rentan jatuh ke dalam dosa. Dengan demikian, ketika seseorang tidak memenuhi standar yang kita harapkan, kita tidak mudah kecewa. Bila kita tidak mudah kecewa, kita tidak membuka ruang untuk mengundang rasa sakit hati, tersinggung, maupun kepahitan dalam hidup kita.

Kita sering percaya dengan kebohongan yang mengatakan bahwa pikiran berada di luar kendali kita. “Pikiran ini selalu muncul setiap kali dia melakukan itu. I can’t help it!” Karena menganggap pikiran berada di luar kendali kita maka kita sering membiarkannya lepas tidak terkendali begitu saja. Ketika teman-teman sekarang membaca artikel ini, aku ingin meyakinkan bahwa pikiran sangat dapat kita kendalikan. Namun butuh ketekunan dan kedisiplinan. It takes time to train our mind, but that doesn’t mean it’s impossible. Bila Tuhan memberikan suatu perintah, ia memastikan juga perintah tersebut dapat dilaksanakan. Sama halnya bila kita punya hewan peliharaan seperti anjing, perintah yang kita berikan adalah “Sit!”,“Stand!”, atau “Run!” Kita tidak akan memberikan perintah “Fly!” kepada seekor anjing karena kita tahu itu tidak mungkin untuk dilakukan. Di dalam Kolose 3:2 dalam terjemahan NIV dikatakan, “Set your mind on things above, not on earthly things.” Dalam bahasa Indonesia tertulis, “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Jadi pikiran jelas dapat kita kendalikan teman-teman ☺ No excuse.

Yuk, kita sama-sama meminta Tuhan menyelidiki hati dan pikiran kita. Biarlah kita terbuka di hadapan Tuhan supaya Tuhan dapat menolong kita untuk menggantikan setiap pikiran kita yang tidak benar menjadi selaras dengan kehendak Tuhan. With God, yes we can defeat all negative thoughts and replace it with Godly thoughts!

“To change your life, you must change the way you think.”- Rick Warren

Monday, August 20, 2018

Save His Money


by Stephanie Gunawan 

Nyiapin wedding tuh seru, heboh, dan menantang! 

Waktu awal persiapan, kami bikin budgeting. Kami punya target maksimum pengeluaran buat hari H, katakanlah sejumlah Rp X. Dari X itu, kami coba anggarkan: sekian buat makanan, sekian buat kue pengantin, sekian buat jas, gaun, baju orang tua, gedung, dll. 

Anyway, ternyata saya punya hati yang rada gak bener. Saya punya pemikiran gini. Misalnya, saya dan Mr. K udah budgetin untuk kue pengantin seharga 4 juta; saya mikirnya: “OKE! Saya akan cari model kue yang harganya 4 juta. Ngapain cari kue yang harga 1 juta kalau kita udah alokasiin dana 4 juta untuk kue? Toh perlengkapan yang lain juga masih bisa dibeli sesuai dengan jumlah yang kita anggarkan. Baiklaaahh!!” 

Sampe suatu ketika, saya punya keinginan-keinginan yang semakin “luar biasa”. Hahaha. Saya merasa sumber awalnya ada beberapa, tapi yang cukup berpengaruh adalah hasil browsing di internet. Dari melihat di website spesialis wedding, sampai liatin foto temen-temen yang udah ngadain wedding, semuanya bikin saya mupeng! Saya liatin dekorasinya, foto pre-wednya, kuenya, bajunya... Aaarrhhh, mau kaya gitu! Mau kaya gini! 

Mr. K ajak ngomong saya, “Fani, kalau keinginan kamu kaya gini, kita bisa over budget.” Ah, betul juga. Tapi saya masih berpikir, “Kan masih dalam budget... Kayanya gak apa-apa... Bisa lah...” Tapi tetep, Mr. K dengan tegas namun lembut (ciieehh, emang Mr. K paling bisa begitu! I am so lucky.) menjelaskan, lebih baik kami usaha agar tidak terlalu muluk-muluk. 

Saya cerita ke ci Diana yang pimpin Ensemble Galilea (anyway, namanya sekarang uda Galilea Orchestra lho) tentang hal ini. Tetapi dia bilang, “Fani, cici merasa,—sorry yah sebelumnya—kamu ada roh serakah.” Jederr!!! Cici melanjutkan, “Kalau kamu udah budget-in 4 juta buat kue, bukan berarti kamu mesti pake 4 juta kan. Kalau emang ada kue yang oke dan harganya 3,5 juta, itu kan lebih baik. Kamu bisa simpen 500 ribunya dan pake buat kepentingan yang lain.” 

Saya masih berontak dan berpikir, “Kan kepentingan yang lain juga udah ada budget-nya. Apa salahnya pakai semuanya?” Tapi jawaban yang muncul dari mulut saya adalah, “Hm... Mungkin aku pengen begitu karena dari kecil aku merasa gak pernah dapet apa-apa. Jadi sekarang kalau saya mau dikasih kue harga segitu, why should I not receive that?” I don’t know why I always believed that lie, padahal sebenernya ada banyak hal yang bisa saya syukuri. 

Ci Diana bilang, “Gimana kalau kamu melihat masa kecil kamu sebagai bentuk latihan untuk kamu berhemat? Daripada menyalahkan orang tua kamu yang gak kasih kamu macem-macem barang, kamu seharusnya bersyukur udah diajarin ortu kamu untuk hanya beli apa yang perlu dan penting. Dan sekarang, kamu bisa praktekkan kebiasaan baik itu.” 

Pembicaraan itu membuat saya berpikir. Entah gimana, saya teringat Amsal 31:12. 

"Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya."
(Amsal 31:12)

Ia berbuat baik kepada suaminya... 
Ia berbuat baik kepada suaminya...
Sekali lagi, ia berbuat baik kepada suaminya...
Hmmm...

Ngabisin duit suami termasuk perbuatan jahat yah? Padahal dia carinya cape-cape. Seringkali kalo ketemu, dia juga lelah dan bawa cerita kalau di toko begini-begitu. Kemudian... Uang yang dia cari dengan susah payah malah saya pakai sembarangan buat beli sesuatu yang terlalu mahal. Padahal mungkin gak usah semahal itu, juga udah dapet barangnya. 

Yeah, I think so. Saya rasa, memanfaatkan penghasilan suami untuk keperluan—atau lebih tepatnya keinginan—saya sampai berlebihan, termasuk perbuatan jahat. Oh, no!! Masa saya jadi istri yang jahat? Gak mau dooonkk... Kan mau jadi wanita seperti dalam Amsal 31. Masa’ malah ngabisin duit suami seenaknya?? 

Hmm... saya mesti pinter pakai uang dia. Pinter ngaturnya juga. Gimana caranya yah? Mungkin saya akan mulai dari stop minta barang yang mahal-mahal. Kebutuhan sekunder, seperti: upgrade ini, upgrade itu, gak usah deh. Utamakan kebutuhan primer dulu aja. Kalau memang mau ada tambahan dekorasi yang manis-manis, coba cari di Youtube ide-ide kreatif gimana bikin ini itu. Be creative, save his money, save his pride. Itu PENTING!! :) Dan yang gak kalah penting: Be grateful! Saya akan belajar mencukupkan diri dengan provision yang disediakan suami and be grateful. :) Ya iya lah bersyukur. Apa sih yang gak bisa disyukuri? Ada yang memilih saya untuk jadi istrinya lhooo! KYAA!!! KYAA!!! *euphoria jejingkrakan* Senang sekaliiiii... Hihihihihi... XD 

Well, itulah salah satu pelajaran yang saya dapat dari masa persiapan ini. Ternyata jadi seorang istri harus belajar mengelola duit suami. Sekarang Mr. K masih cami (calon suami), tapi ntar kan beneran jadi suami (Amin!). Jadi gak ada salahnya kalau dari masa persiapan ini saya mulai belajar mengelola keuangan dengan baik. Nantinya, udah gak ada “uang dia” atau “uang saya”, yang ada cuma uang kami. So, sama sekali gak ada ruginya saya belajar dari sekarang. \(^.^)/

Monday, August 13, 2018

Selingkuh, Saya?!? Ga Mungkin Lah Ya...


by Grace Suryani Halim

Dulu sebelum saya married, kalau denger kata selingkuh pikiran pertama saya adalah, "Ah gue mah ga mungkin... Ga bakal lah suka sama cowok lain kalau sudah menikah! Janji suci!" Setelah menikah, heemmm ternyata tidak segampang yang saya pikirkan. 

Menikah ternyata tidak membuat cowok-cowok ganteng di luar sana berubah menjadi buruk rupa. Menikah juga tidak otomatis membuat cowok-cowok di luar sana jadi tidak menarik lagi. Cilakanya, kadang yang terjadi justru sebaliknya. Karena setiap hari bertemu dengan suami kita di rumah yang 4L (Loe Lagi Loe Lagi), bisa membuat kita menjadi kebal terhadap kelebihan suami kita. Suami sayang istri, sudah seharusnya loh. Suami bekerja keras, yah memang sudah kodratnya! Kelebihan suami kita anggap sudah sewajarnya/seharusnya/semestinya, kekurangan suami kita highlight, bold, italic dan diperbesar! Alhasil, suami kita jadi keliatan tidak semenarik cowok-cowok di luar sana. 

Lalu bagaimana? Bagaimana kita sebagai para istri yang takut akan Tuhan menyikapi hal ini? 
1. Pencobaan-Pencobaan Biasa 
Ketika kita mendapati diri kita tertarik/kagum pada orang lain yang bukan pasangan kita, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah tetap tenang. Itu pencobaan BIASA. Maksudnya?!?!!?! Tertarik sama cowok lain kok bisa pencobaan biasa?!?!!? 

Well, ketika ada istri-istri yang curhat kepada saya soal ini, biasanya banyak yang shock, kaget dan berpikir, "Kok bisa-bisanya gue begini!??!!?" Sekalipun rasa shock itu wajar tapi terus menerus terkaget-kaget/menyalahkan diri itu sama sekali tidak bermanfaat. 

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
(1 Kor 10:13)

Rasul Paulus mengatakan, kunci pertama untuk menang dari pencobaan adalah sadar, bahwa pencobaan yang kita alami itu pencobaan yang biasa! Artinya biasa di sini adalah, tidak melebihi kekuatan manusia, kamu bukan satu-satunya orang yang pernah mengalami ini dan Tuhan akan memberikan jalan keluar kepadamu! 

Dalam pencobaan ini, percayalah gals, you're not alone. Ada banyak istri-istri yang takut akan Tuhan, aktif pelayanan, cinta Tuhan yang juga pernah mengalami tertarik dengan pria lain. Awalnya saya ga percaya. Tapi ternyata... Ga sedikit memang. Bener banget yang Tuhan Yesus katakan bahwa kita harus berdoa dan berjaga-jaga karena daging kita itu lemah. 

Ketika kita terus-menerus berkubang dalam perasaan shock, kaget, tak percaya, kok bisa-bisanya gue begini!??! Kita justru memberi peluang kepada iblis untuk terus menerus 'mengipasi' kita. 

2. Jangan sombong 
Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!
(1 Korintus 10:12)

Kesombongan adalah langkah pertama menuju kebinasaan. Pikiran yang sombong akan menuju kekalahan.
(Amsal 16:18)

Ketika kita merasa ada perasaan-perasaan yang tidak sewajarnya terhadap orang lain, maka lebih baik kita mengakuinya. Jangan sekali-sekali berpikir, "Ah gue mah ga mungkin selingkuh!!! Kita ga ada apa-apa kok!!" Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa kita harus berhati-hati dengan kesombongan. Jangan mengira bahwa kita teguh berdiri, pasti selalu setia, tidak mungkin bisa digoda, tidak bakal jatuh ke dalam perzinahan. Hati-hati... Iblis itu ga cuman duduk nongkrong tunggu bola. TIDAK! Iblis itu BERJALAN BERKELILING seperti singa yang mengaum mencari orang yang dapat ditelannya (1 Pet 5:8).

Lalu apa yang harus kita lakukan? 

Martin Luther pernah mengatakan, "Kita tidak bisa mencegah burung terbang di atas kepala kita, tapi kita bisa mencegah burung membuat sarang di atas kepala kita." 

Rasa kagum mungkin bisa datang dengan tiba-tiba, sama seperti burung yang terbang di atas kepala kita. Susah ditebak. Tapi sebenarnya tidak penting untuk tahu burung itu asalnya dari mana. Yang lebih penting adalah mencegah burung itu (rasa kagum) membuat sarang di atas kepala dan hati kita. Artinya, kita bisa dan harus mencegah perasaan kagum/tertarik itu untuk membuat 'sarang' dan berkuasa di atas hati kita. 

3. Allah Setia 
Ingatlah selalu bahwa Allah itu setia! Dia menunjukkan kasih setia-Nya dengan memberikan jalan keluar sehingga kita bisa menanggungnya. Artinya dalam setiap pencobaan, Tuhan sudah dan pasti menyediakan jalan keluar. Namun masalahnya kadang, kita ga mau ambil jalan keluar yang Tuhan sediakan. Ketika Roh Kudus memberikan hint-hint dengan perasaan ga enak, ga sreg, ga nyaman, kita berusaha membenarkan perbuatan kita dengan alasan, "Ah, cuman begini doank", "Ah ga bakal ada apa-apa", "Kita kan harus menolong orang yang lagi dalam kesusahan", "Kasian dia, ga ada yang dengerin. Kalau sehabis curhat, gue suka doain dia kok." 

Gals, jika Roh Kudus memberi hint-hint, taatlah. Itu jalan keluar yang Allah sediakan. 

Beberapa tips yang mungkin bisa dilakukan:
1. Cerita dengan Pasangan
Ketika saya mendapati diri saya merasa kagum dengan laki-laki lain selain suami saya, maka hal pertama yang saya lakukan setelah berdoa adalah cerita dengan suami saya. Cerita apa? Yah jujur terus terang mengatakan kalau saya kok merasa kagum dengan si blablabla. Kebiasaan saya memang setelah menikah jika ada laki-laki yang curhat soal pribadi, pasti saya cerita ke suami. Nah kalau saya merasa kagum dengan seseorang, maka ketika saya ketemu dengan orang itu, pulangnya saya pasti cerita dengan detail. Ketemu di mana, ngobrol apa saja. Suami saya sih ketawa-ketawa saja. Tapi bagi saya, itu menjadi semacem pagar. Jadi saya memperhatikan betul apa yang saya obrolkan dengan orang itu, karena saya tau sehabis ini saya akan cerita semua sama suami saya. Satu hal yang biasanya selalu saya katakan kepada suami saya adalah, "Saya bisa ga cerita ini sama kamu. Tapi saya memilih untuk cerita karena saya tidak ingin buka celah dalam pernikahan kita." 

Sebelum bercerita kepada suami, ada baiknya kita berdoa terlebih dahulu. Minta hikmat dari Tuhan dan tanya kepada Tuhan kapan harus cerita. Minta juga supaya Tuhan yang menyiapkan hati suami kita dan menjaga emosinya. 

2. Evaluasi dan Doakan Hubungan Pernikahan Anda 
Biasanya, perasaan kagum terhadap orang lain muncul ketika kualitas pernikahan kita sedang kurang baik. Entah karena sama-sama sibuk, atau suami sering tugas keluar kota, atau mungkin ada masalah yang belum terselesaikan. Karena itu, penting juga untuk berhenti sejenak dan berbicara dengan pasangan kita mengenai pernikahan kita. 

Selain itu haruslah kita mendoakan pernikahan kita. Doakan supaya hubungan kita dan suami semakin mesra, semakin saling mengerti, saling percaya, dapat bekerja sama dengan baik. 

3. Ingat Kelebihan-Kelebihan Suami
Tulis dan sengaja ingat-ingat kelebihan suami kita. Lalu puji suami kita atas kelebihan-kelebihannya. Ketika tiba-tiba teringat akan kebaikkan/kelebihan laki-laki lain, langsung ingat bahkan ucapkan kelebihan suami kita. 

4. Lakukan Hal yang Tuhan Perintahkan untuk Dilakukan
Dan yang terakhir, jika kita merasa Tuhan meminta kita untuk melakukan sesuatu, sekalipun itu mungkin keliatan drastis (tidak membalas sms/message, block orang tersebut dari FB/Whatsapp, bahkan ada seorang teman saya yang sampai memutuskan untuk pindah tempat kerja). Ketika kita mengambil langkah drastis, mungkin akan ada suara-suara sumbang yang berkata, "Ih ga perlu lah sampe segitunya," tapi jika memang itu yang Tuhan minta anda lakukan, TAATLAH. Karena di mata Tuhan, pernikahan adalah gambaran hubungan Yesus dengan gereja-Nya. Ketika Yesus berjuang untuk mempelai-Nya, Gereja, Ia juga mengambil langkah yang drastis, turun ke dunia sebagai bayi dan mati di kayu salib.

Hubungan suami istri, selalu layak untuk diperjuangkan. Selamat berjuang.

Wednesday, August 8, 2018

A Woman of Power


by Glory Ekasari
Seorang pria muda pusing. Sejak menikah, berat badannya makin lama makin susut karena banyak pikiran. Dia baru saja pindah dari rumah kontrakan untuk menumpang tinggal ke rumah bibinya. Dengan penghasilan yang hanya cukup untuk hidup sehari-hari, tidak mungkin dia menyewa rumah lain. Tetapi sekarang isterinya bertengkar dengan sang bibi karena masalah sepele, dan sang isteri terus merengek dan marah-marah, minta pindah rumah. Mau pindah ke mana? Uang dari mana? Jawaban sang isteri mudah saja, “Pinjam aja dulu ke bosmu, pinjam ke kakakmu, pinjam aja, gampang.” Tidak tahan menghadapi keributan terus-menerus dari isterinya, sang suami akhirnya mengalah dan mencari pinjaman uang untuk mengontrak rumah. Pembayarannya? Entahlah, dipikir karo mlaku - dipikir sambil jalan. 
Ketika saya mendengar cerita itu, saya hanya bisa diam dan menaruh iba kepada sang suami. Sudah hidup pas-pasan, setelah menikah malah makin tidak bahagia. Dan siapa yang menyebabkan itu? Wanita yang seharusnya menjadi penolongnya. 

Amsal 31:10-31 seperti sebuah permata berwarna mencolok dalam Alkitab. Ada satu pasal yang menggambarkan seorang wanita yang ideal, pendamping yang sempurna, yang didambakan setiap pria. Selain bentuk puisinya yang unik (puisi akrostik, yaitu tiap ayat dimulai dengan urutan abjad Ibrani), isinya pun tidak kalah menarik. Kita melihat ayat 10 yang memulai rangkaian puisi tersebut: 

Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? 
Ia lebih berharga dari pada permata. 

Isteri yang cakap, atau dalam bahasa aslinya ishshah khayil, secara literal adalah “wanita yang kuat”, a woman of power. Zaman sekarang, power bagi kita berarti menaklukkan orang lain di bawah kekuasaan kita, lebih kuat dibanding orang lain, lebih dipandang dibanding orang lain. Tetapi Amsal menulis bahwa wanita yang kuat ini justru adalah seorang penolong; dia tidak berada di atas suaminya, tetapi kekuatannya nyata ketika dia menolong suaminya. Ayat-ayat berikutnya menunjukkan seperti apa kekuatan wanita ini. 

Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. 
Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. 

Mungkin pembaca pernah mendengar curhatan cowok yang berkata, “Aku pusing di rumah, jadi aku jalan-jalan terus.” Dalam kalimat yang kedengarannya sepele dan biasa ini, terkandung sebuah rahasia penting: laki-laki mendambakan rumah yang nyaman bagi dia, di mana dia bisa tenang; dan ketika ada konflik yang tidak kunjung selesai, secara insting dia akan melarikan diri. Memang cowok itu tenaganya kuat, tetapi cewek staminanya jauh di atas cowok; dan sayangnya ini juga benar dalam hal cekcok. Cowok tidak kuat berlama-lama bertengkar, sementara kita seperti baterai Energizer—“I can do this all day!” Karena itulah ketika rumah mereka tidak nyaman, ketika mereka merasa tidak diterima atau dihargai oleh isteri, mereka kabur. 

Karena itu hal pertama yang disebutkan tentang isteri yang cakap, alias wanita yang kuat, adalah suaminya berbahagia hidup bersama dia. Ini, saudari-saudariku, adalah indikator pertama keberhasilan seorang isteri. 

Kata orang, di balik seorang pria yang sukses, ada seorang wanita yang mendukungnya. Tanpa rasa tenang dan betah di rumah, sulit bagi seorang pria untuk berkonsentrasi dalam apa yang dia kerjakan. Wanita adalah mahkluk yang multitasking: dia bisa bekerja, sambil mengurus anak, sambil memikirkan rumah, sambil ini dan itu. Pria tidak demikian. Mereka butuh konsentrasi penuh, dan untuk berkonsentrasi penuh, mereka harus yakin bahwa ada orang yang back up hal-hal yang tidak bisa mereka tangani. Padahal hal-hal yang tidak bisa mereka tangani itu begitu banyak, mulai dari urusan rumah tangga sehari-hari sampai merawat anak! Disitulah peran wanita sebagai penolong sangat berharga. Ketika seorang isteri menjalankan perannya sebagaimana mestinya, sang suami bisa melesat maju dalam hidupnya, karena dia punya strong support system: seorang wanita yang kuat, yang cakap. 

Tapi kenyataannya ‘kan seringkali kita, wanita, justru merasa lemah. Kita merasa menderita dengan keadaan kita yang kurang diperhatikan suami, dengan banyaknya pekerjaan yang menumpuk di rumah maupun tempat kerja, dengan beratnya beban mengurus anak. Kita merasa tidak adil bila suami “tidak berbuat apa-apa” dan “hanya bekerja”, sedangkan kita merasa tidak bahagia. Melihat wanita-wanita lain yang melenggang santai dan bisa piknik tanpa beban rasanya membuat iri. Kita merasa tidak bahagia; kita ingin juga mengejar kebahagiaan. Disinilah pola pikir yang benar sangat dibutuhkan, dan hanya satu yang dapat meluruskan pola pikir yang keliru: firman Tuhan. 

Orang dunia sibuk mengejar kebahagiaan. Mereka bahkan sampai berontak terhadap moralitas dan kesusilaan demi bisa berbahagia. Ini adalah kesalahan besar, karena kebahagiaan kita bukan tanggung jawab kita; itu adalah tanggung jawab Tuhan. Tuhan sudah berkata, “Berbahagialah orang yang... kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam” (Mazmur 1:1-2). Bagian kita adalah menaati firman Tuhan, dan bagian Tuhan adalah membuat kita berbahagia, sesuai janji firman-Nya! 

Karena itu, menjadi penolong yang baik bagi suami kita ini bukan terutama tentang hubungan kita dengan suami, melainkan tentang hubungan kita dengan Tuhan. Dengan menghormati suami, dengan melayani dia, kita menunjukkan pada Tuhan bahwa kita sungguh mengasihi Dia karena kita menaati-Nya. Ketika kita menaati Tuhan, kita akan melihat dua hal: kuasa Tuhan dinyatakan lewat kita—lewat kesabaran kita, lewat kasih kita, lewat pertolongan kita; dan, kita akan berbahagia. Ketika sang isteri berbahagia karena dia melakukan firman Tuhan, kebahagiaannya itu menular kepada keluarganya. 

Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.
(Amsal 31:28-29)

Sumber kekuatan seorang isteri untuk menjadi wanita yang cakap, penolong yang kuat, bukanlah suaminya; sumbernya adalah Tuhan. Bila Tuhan yang tidak terbatas adalah sumber kita, firman Tuhan ini akan menjadi nyata bagi kita: “Hati suaminya percaya kepadanya; suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.”

Thursday, August 2, 2018

She Does Him No Harm


by Sarah Eliana

Kemarin, aku dan DH ngebahas tentang Amsal 31. Ayat 11 katakan "Suaminya menaruh kepercayaan kepadanya". Versi Inggrisnya "The heart of her husband trusts in her". 
So, aku tanya ama DH...
Me: ”Kamu percaya gak ama aku?” 
Dia bilang, "Always" 
Me: ”Iyalaaaahh... mana mungkin aku berpindah ke lain hati” ekekeke 
DH dengan wajah serius bilang, ”Tapi, kata 'percaya' di ayat ini kan bukan ttg percaya kamu gak akan selingkuh aja.” 
Me: ”Eh? Jadi, apa maksudnya kata 'percaya' ini?” 

Selama ini aku selalu berpikir kalau kata percaya di ayat ini ngomongin tentang percaya kalau si istri gak akan selingkuh lho. Ternyata gak cuman itu! Ternyata kata ”percaya” disini dalam sekali artinya! So, DH bilang kalo kata percaya ini adalah: 

* Percaya bahwa Kristus adalah pusat kehidupan sang istri. Sang suami tau dan percaya bahwa sang istri adalah seorang wanita godly yang selalu menempatkan Kristus sebagai yang terutama dalam hidupnya. 

* Percaya bahwa 'hasrat' si istri hanyalah untuk sang suami saja. Aku tanya ama DH, "Lah kamu tau dari mana hasratku hanya untukmu? Kan bisa aja diam-diam dibelakang kamu aku ngelirik atau ngegoda cowok lain." DH bilang, "Karena kamu selalu pake baju sopan kemanapun kamu pergi. Baju–baju seksimu kamu simpan cuman buat mataku. Itu salah satu cara suami bisa liat dimana 'hasrat' sang istri berada. Buat apa istri pake baju seksi untuk dilihat cowok lain kalau hasratnya ada pada sang suami?" 

* Percaya karakter sang istri. Ketika suami melakukan kesalahan, dia tau sang istri selalu bersedia memaafkan, selalu tidak mengingat2 kesalahan suami, selalu tidak menghakimi. Tentu ini juga diimbangi dengan bagian dari suami yang mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi gereja. Karena kasihnya, gak mungkin si suami sengaja melakukan sesuatu yang menyakiti hati suami (dan karena itu juga ketika sang suami melakukan salah, si istri siap memaafkan karena tau dan percaya si suami bukan dengan sengaja mau menyakiti dirinya dan pernikahan mereka). 

* Percaya bahwa si istri akan bersikap dengan baik dan bijaksana dimanapun dia berada, dengan atau tanpa sang suami. Suami percaya bahwa setiap perkataan dan tindakan sang istri diucapkan dan dilakukan dengan kebijaksanaan. Dia percaya sang istri tidak akan melakukan/mengucapkan sesuatu yang akan mencemarkan nama baik mereka berdua atau menjadi batu sandungan bagi orang lain. Hati sang suami percaya bahwa setiap perkataan dan setiap perbuatan yang keluar dari sang istri adalah untuk memberkati mereka berdua dan orang2 di sekeliling mereka. Dia tidak pernah merasa khawatir akan mendengar orang lain berkata "kasihan yah dia married ama cewek kayak gitu! Kasian suami dan anak2nya". Dia percaya yang akan dia dengar adalah "Wah... betapa diberkatinya dia punya istri yang seperti itu!"

* Percaya bahwa sang istri adalah 'manager' yang baik untuk urusan 'dalam negri' mereka, termasuk urusan keuangan. Sang suami percaya bahwa sang istri selalu memakai uang mereka dengan bijaksana baik ketika mereka berada dalam kekurangan maupun kelebihan. Ia tidak pernah merasa harus memeriksa apa saja yang dibeli sang istri, tidak pernah harus memberi batasan kepada istri karena ia tau istrinya bijaksana dalam mengelola keuangan mereka. 

* Percaya bahwa sang istri akan selalu datang kepadanya dalam segala hal. Percaya bahwa sang istri percaya kepadanya! 

* Percaya bahwa sang istri akan mendengarkan nasihat dan bimbingan sang suami. Percaya bahwa sang istri akan tunduk kepadanya seperti gereja tunduk kepada Kristus. 

* Percaya bahwa kebaikan dan kebahagiaan keluarganya selalu adalah prioritas dalam hidup sang istri. Sang suami percaya bahwa si istri selalu menempatkan keluarganya di atas dirinya sendiri. 

* Percaya bahwa sang istri akan mendidik, mengajar anak2 mereka di dalam Tuhan, termasuk (dan terutama) ketika sang suami tidak berada dirumah. Sang suami percaya bahwa si istri selalu akan berbuat baik kepada anak2nya. 

* Percaya bahwa sang istri selalu menggunakan waktunya dengan bijaksana. Ia tidak pernah ”mencuri” waktu dan dihabiskan dengan sia-sia. Ia tau sang istri menghabiskan waktu untuk tumbuh di dalam Tuhan, untuk mendidik anak2nya dengan baik dan didalam Tuhan, bukannya menghabiskan lebih banyak waktu utk bersosial media, bergosip ria dengan tetangga dll. 

* Last but not least, sang suami percaya bahwa si istri akan menegur, mengingatkan, dan mendoakan sang suami dengan kata2 yg membangun dan hati yang lembut. Ia begitu mengasihi suaminya sehingga ia tidak akan diam saja melihat suaminya jatuh dalam dosa, dan tidak dibiarkannya sang suami berkubang dalam dosa. 

Wuih! Luar biasa yah... kata ”percaya” saja ternyata begitu dalam artinya. Ternyata gak cuman percaya bahwa si istri akan selalu setia, tapi juga percaya hatinya, percaya perkataan dan perbuatannya, bahkan percaya pikirannya. Memiliki istri yang hidup didalam Kristus dan nilai-nilai Alkitabiah, sang suami merasa aman dan puas. Ia tidak pernah merasa kekurangan karena memiliki istri yang seperti itu betul2 seperti memiliki permata yang paling berharga (Amsal 31:10). Karena istrinya seperti itu, maka anak-anaknya bangun dan menyebutnya "blessed!". Sang suami pun bangun dan memujinya "Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua." 

Wah!!! Mari sama-sama belajar utk jadi istri yang seperti ini! Gw masih jatuh bangun tiap hari tiap menit bow!!! Aku mau jadi istri yang selalu berbuat baik kepada suamiku!! What about you?