Showing posts with label Body of Christ. Show all posts
Showing posts with label Body of Christ. Show all posts

Thursday, November 1, 2018

Build the Right Strongholds



by Poppy Noviana


- Benteng Jerman Anti Peluru (sumber: andi.my.id) -

Hi, ladies zaman now! Menurut kalian, mana yang lebih mudah digandrungi saat ini? Menjadi netizen maha-update (yang selalu mengikuti perkembangan terkini), atau wanita kekinian yang tekun memperlengkapi dirinya menjadi a Godly woman? Untuk mengetahuinya, yuk kita tes lewat mini survei ini:

□ Lebih banyak waktu scrolling media sosial/website di gawai
□ Lebih banyak waktu membaca alkitab
□ Lebih suka lihat Instagram story-nya teman
□ Lebih suka lihat online streaming service church
□ Lebih suka mendengarkan lagu hits zaman now
□ Lebih suka mendengarkan lagu rohani
□ Lebih suka baca buku sekuler 
□ Lebih suka baca status Twitter temen
□ Lebih suka menerima
□ Lebih suka memberi
□ Lebih suka memberikan tanggung jawab 
□ Lebih suka melakukan tanggung jawab
□ Lebih menyukai kehidupan update zaman now diluar dan menjadi populer dikalangannya
□ Lebih menyukai kehidupan untuk belajar dan melatih skill, serta mendekatkan diri kepada Tuhan dan keluarga

-

Kalau sebagian besar jawaban ada di box sebelah kanan, berarti Pearlians lebih mudah memahami apa yang akan saya jelaskan berikutnya. Namun jika lebih banyak jawaban di box kiri, jangan kuatir; mari buka pikiran kita untuk belajar tentang apa yang Tuhan akan sampaikan lewat firman-Nya.

Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.
(2 Korintus 10:3-5 / TB)

Saya menyadari bahwa pembaca blog ini berasal dari latar belakang, budaya, etnis, dan pengalaman hidup yang berbeda-beda. Namun saya yakin, Tuhan adalah Pribadi yang rindu agar kita—sebagai wanita—memiliki karakter Allah yang kuat dan membentengi diri dengan firman-Nya. Kuat itu tidak dicapai dalam sehari semalam seperti dongeng Sangkuriang. Sama seperti melatih fisik kita di tempat gym, kita tidak bisa membangun kehidupan dengan firman Tuhan jika tidak membiasakan diri untuk berelasi dengan-Nya—tentunya ini bukan sebuah proses yang instan.

Firman Tuhan jelas sekali membahas tentang hal ini.

Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.
(1 Timotius 4:7b-8)

“Eh? Maksudnya gimana?”

Nah, coba kita merefleksikan aktivitas harian masing-masing. Kira-kira apa saja yang kita baca dan dengarkan sehari-hari? Apa saja yang orang katakan tentang kita, baik secara langsung maupun tidak langsung (termasuk di media sosial)? Apa yang kita lihat dan rekam dalam pikiran serta perasaan masing-masing?

Setiap hari, hal-hal di atas terbangun satu per satu hingga membentuk benteng tinggi dan kokoh dalam pikiran kita. Pertanyaannya, apakah benteng kita saat ini adalah benteng yang terbangun di atas pondasi dan material yang benar (alias firman Tuhan); atau malah benteng lain? Timotius pernah membahas jenis benteng yang tidak berasal dari Tuhan, dan kita, orang percaya, punya tugas untuk merubuhkan benteng-benteng itu dengan perlengkapan senjata Allah.

Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.
(II Korintus 10:3-5)

Firman Tuhan mengatakan bahwa benteng yang salah dibangun dari keangkuhan manusia, yaitu saat ia tidak menerima kebenaran. Keangkuhan ini bisa menimbulkan hal-hal seperti skeptis, pesimis, ketakutan, keraguan, kebohongan, rasa tidak aman, kegelisahan, maupun kemunafikan. Semuanya penjadi penghalang untuk meraih kedewasaan rohani dan juga penggenapan janji Allah buat hidup kita. Itulah kenapa, pikiran kita harus ditaklukkan kepada Kristus yang adalah Firman Allah.


- Penasaran nggak sih, dengan apa yang sebenarnya sudah Tuhan rancangkan untuk wanita yang memiliki karakter-Nya? -

Nah, dari bagian ayat yang ditulis oleh Timotius tadi, kita belajar kalau pengenalan akan Tuhan sangat penting. Tapi, mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa ada banyak hal yang dapat menggagalkan kita untuk mengenal Allah lebih dekat lagi. 

Contohnya disaat seharusnya kita datang ibadah, tapi kita malah:
1) Punya keinginan yang lebih besar untuk jalan ke mal untuk big sale. 
2) Mantengin HP yang beritanya bejibun dan update melulu.

Padahal sebenarnya, kalau dicermati, dua hal tersebut tidak memberikan pengaruh pada pengenalan akan Kristus. Tidak jarang banyak orang yang berbalik arah (alias walk out) dan hilang dari tujuan penciptaan yang sesuai desain panggilan Allah; padahal yang dirindukan dari pribadi Godly women adalah mental yang kokoh saat ada tekanan, tenang saat ada ujian kehidupan, dan stabil saat ada pukulan berat terjadi – persis seperti orang bijaksana yang membangun rumahnya di atas batu (Lukas 6:48). Itulah sebabnya, sebagai Godly women, kita perlu memperlengkapi diri dengan firman Tuhan dan bertanggung jawab dengan tindak lanjut dalam sikap keseharian masing-masing. 

Selain itu, Godly women juga harus siap untuk misi panggilan dari Allah. Siap karena terbiasa melatih tubuhnya agar tetap sehat dan pikirannya agar tetap benar sehingga capable untuk berada dalam pekerjaan spesifik yang Allah siapkan sesuai dengan kehendak-Nya. Yaps, keberhasilan bukanlah tentang mencapai IPK cumlaude dan bisa beli rumah sendiri saja, melainkan berjalan dalam rancangan-Nya dan menemukan siapa diri kita yang sebenarnya (siapa yang masih cari jati diri, silahkan dicoba).

Hasilnya, kita memiliki hati dan pikiran yang kuat; seperti benteng pertahanan anti peluru di Jerman plus Allah sebagai arsiteknya. Tidak ada lagi pikiran insecure, berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain, tidak mau bergosip lagi, dan menanggalkan kebiasaan julid di media sosial yang hanya bikin gaduh; sebab masih ada banyaaaakkk hal lain yang lebih penting dan harus dikerjakan dalam kehidupan yang singkat ini.


- Tentara wanita pengecek radar (sumber: andi.my.id) -


Jadi, bagaimana caranya untuk membangun benteng diri dengan benar?

"She equips herself with strength [spiritual, mental, and physical fitness for her God-given task] And makes her arms strong."
(Proverbs 31:17)

Melatih diri beribadah memang tidak mudah. Diperlukan komitmen untuk menyalibkan daging kita setiap hari, karena roh memang penurut tapi daging lemah. Terakhir namun bukan tidak penting, pastikan radar yang kita miliki berada pada posisi yang benar, untuk setiap saat menangkap sinyal arahan-Nya Allah. Sama seperti yang Paulus tulis di Roma 8:31, “Jika Allah di pihak kita, siapa yang akan melawan kita?” With God, we can build the right stronghold with His truth.

Wednesday, September 19, 2018

Mengapa Tuhan Mengizinkan Penderitaan



by Grace Suryani Halim

Kenapa Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya mengalami penderitaan? Katanya anak Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, tapi kok menderita? Kenapa Tuhan ga kasih garansi bahwa semua orang yang percaya pada Tuhan Yesus tidak akan menderita lagi? Kan enak... 

The last 6 months are one of the hardest time in my life. Ever. Pergumulan datang silih berganti. I've seen death face to face few times. Dihimpit kanan kiri. Belum selesai, masalah baru sudah menanti. Dari gue yang tadinya selalu yakin dan tiap berdoa gue sering ngomong, "I know You, Lord. I know You are a good God," menjadi sampai di titik, "I don't know You anymore..." Semua masalah ini membuat gue jadi orang yang berbeda. Gue menghindari ketemu orang-orang, lebih pengen sendiri, ga terlalu pengen cerita-cerita (oh my, gue sendiri bingung kok gue ga kayak gue lagi). Yang biasanya ember, sekarang jadi keran. Rapet... Netes juga kagak. 


Di sisi lain, something amazing terjadi. Gue jadi peka—sangat peka dengan orang-orang lain yang sedang berduka. Di waktu yang hampir bersamaan, ada seorang rekan yang kehilangan anak dan papanya hanya dalam waktu 2 minggu. Ketika gue hubungin ybs dan bilang, "I'm so sorry for your loss. I'm praying for you," itu bukan kata-kata basa basi. I did pray like crazy for him. I can feel his pain. His loss. His suffering. 

Peristiwa itu membuat gue teringat kejadian sewaktu gue keguguran ampir 3 tahun lalu. Sebelum kejadian, ketika gue pergi check ke dokter kandungan, ada sepasang suami istri yang keluar dari ruang dokter sambil menangis. Respons pertama gue, "Waduh Tuhan, jangan sampeee gue kayak begituu..." 2-3 minggu kemudian, gue keluar flek-flek. Deg. I prayed like crazy, several sleepless nights. Ketika lagi nunggu dokter, ada seorang ibu lain yang begitu keluar lgsng didorong pake kursi roda dan dibawa ke ruang perawatan, she cried. Respons pertama gue, "Lord, please help her... Please take care of her baby. I hope she's okay. Please help her. Please..." 

3 minggu sebelumnya, gue ga peduli sama sekali dengan pasangan suami istri yg pertama. Gue cuman berdoa, jangaaann sampeee gue harus begitu. Did I care about them? Nope. I only cared about myself. Yang penting bayi gue ga kenapa-kenapa. Bayi orang laen, nasib dia lah. 3 minggu kemudian, gue bahkan ga sempet mikir semoga bayi gue ga kenapa-kenapa (waktu itu belon tau kalo keguguran, baru ada flek-flek). Gue bener-bener berharap she's okay dan bayinya juga baik-baik saja. Apa yang membuat gue yang tadinya yang punya mental, gue ga peduli bayi laen gimana yang penting bayi gue ga kenapa-kenapa, menjadi otomatis (sekali lagi OTOMATIS) mikirin bayi orang lain juga? Penderitaan. Suffering. 
Penderitaan itu mengubah engkau. Penderitaan menghancurkan ego. Meremukkan kesombongan. Menghilangkan self-righteous. Penderitaan itu membuat lubang di hatimu, sehingga ada tempat untuk orang lain di sana... Penderitaan membuat kita sadar, betapa rapuhnya hidup ini. Ya, jika boleh merumuskan apa itu penderitaan, buat gue penderitaan itu membuat lubang besar di hatimu, sehingga ada tempat untuk orang-orang lain di sana dan ada lebih banyak tempat untuk Yesus. Hatimu tak lagi penuh dengan SAYA, SAYA, dan SAYA.
Mungkin itu sebabnya Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya tetap mengalami penderitaan di dunia ini. Supaya mereka tetap in-touch with reality. Mereka bisa berempati dengan dunia yang terluka. Mereka bisa menangis dengan jiwa-jiwa yang menderita. Mereka bisa mengerti bahasa tetesan air mata. Orang-orang yang pernah mengalami luka yang sama, bisa berkomunikasi dengan kedalaman yang hanya bisa dimengerti oleh yang pernah terluka. 

Bayangkan jika semua anak Tuhan kebal terhadap penderitaan, bagaimana kita bisa mengerti raungan orang-orang yang terpinggirkan di ujung sana? Bagaimana kita bisa menjadi saksi Kristus yang efektif juga kita tidak benar-benar bisa peduli? Bagaimana kita bisa peduli jika kita tidak pernah mengalami? Bagaimana kita bisa mencerminkan Allah yang peduli kepada dunia, jika kita hidup di dalam rumah kaca yang steril terhadap penderitaan? Itu bukan cerminan Yesus. Yesus justru keluar dari 'rumah kaca' untuk masuk ke dalam penderitaan! Karena itu mensetrilkan anak-anak-Nya dari penderitaan justru mengingkari teladan Yesus Kristus, Tuhan kita. 

Beberapa teman-teman baik gue yang sangat gue kagumi karena mereka orang-orang yang sangat considerate, sangat bisa menguatkan org, pandai memilih kata-kata yang membangun, tulus, orang-orang yang sangat optimistik justru adalah orang-orang yang sudah banyak mengalami ups and downs dalam hidup mereka. Mereka orang-orang yang membuat banyak orang nyaman dengan mereka. Sekarang baru gue ngeh kenapa... Itu bukan karena they had a good upbringing, atau mereka pintar. Bukan. Mereka orang-orang yang sering digodok dalam kesukaran, tapi mereka tidak menjadi pahit. 

Buat teman-teman yang juga sedang dirundung masalah, yang merasa tertekan, izinkan gue share ayat favorit gue di masa-masa ini, 

"Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka."
(Mazmur 90:15)

Ayat barusan gue ketik di luar kepala. Karena ini ayat yang jadi pegangan gue di hari-hari ini. Ini ayat yang gue dapet sewaktu gue masih kuliah di China. Pertama kali baca ayat itu gue ngerasa lega. AKHIRNYA... Ada ayat yang mengakui bahwa terkadang Tuhan menindas umat-Nya. Instead of saying, "Everything will be okay, just trust Him," penulis Mazmur ini berani berkata dengan lantang, “Tuhan, Kau menindasku!” Oh Tuhan, tolong jangan cuman tindas gue, buatlah juga gue bersuka cita seimbang dengan hari-hari gue mengalami sengsara. Ayat ini nancep, karena ini ayat yang jujur. Ga muna. Ga sok beriman. Dan ini ayat yang ditulis oleh orang yang dirundung duka. Orang yang mengalami celaka. Tapi ia tahu, ia berani meminta Tuhan, buatlah gue bersukacita seimbang dengan hari-hari gue mengalami celaka. Ini ayat yang mengandung pengharapan. Pengharapan bahwa di depan akan ada 'payback time from God'. Akan ada hari-hari dimana Tuhan membuat kita bersukacita. Dan tidak hanya sekedar bersukacita, tapi Ia akan membuat gue bersukacita SEIMBANG bahkan lebih dari bulan-bulan gue mengalami celaka.

Dan ayat kedua,

"I will see the goodness of the Lord in the land of the living."
(Psalm 27:13)

Kalo lagi menderita emank paling enak baca Mazmur. Ini ayat sebenernya juga agak 'kurang ajar' sih. Pede banget si Daud, berani bilang dia bakal liat the goodness of the Lord selama dia masih hidup. Kok dia yakin? Siapa tahu Tuhan mau kasih berkatnya setelah dia mati? Ga ada yang tau kan? Ini yang dipelajarin dari para pemazmur. Mereka orang-orang yang jujur. Ga ada basa-basi. Jujur dengan kesedihan mereka, dengan ketakutan mereka, dengan rasa frustasi mereka, dengan kemarahan mereka. But they're also very bold. Mereka berani meminta. Bukan sekedar doa, "Terserah Tuhan... Tuhan tau yang terbaik. Keliatan beriman, tapi kadang itu lahir dari ketakutan. Iya kalo dikasih... Kalo Tuhan ga kasih gimana? Terserah Tuhan aja dah. Main aman. Pemazmur tidak seperti itu. Ia meminta apa yang ia percaya. Ia percaya hal-hal yang besar. Dan mereka percaya, Tuhan itu Tuhan yang baik. Tuhan yang tidak marah ketika anak-anak-Nya meminta. Dan gue bersyukur gue punya Tuhan yang sama dengan mereka. :) 

*** 

God, I know You’re too wise to be mistaken.

Wednesday, September 12, 2018

How to be Kind


by Leticia Seviraneta

Kita telah belajar bahwa kebaikan merupakan tindakan nyata yang baik dan dapat dirasakan oleh orang lain. Kebaikan secara mutlak membutuhkan subjek penerima. Kebaikan dirasakan melalui bagaimana cara kita memperlakukan sesama manusia: Apakah kita menghargai mereka? Apakah kita memandang mereka dengan hormat? Apakah kita mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama? Mungkin sebagian kita merasa ‘jleb’ karena banyak yang tersentil ternyata kita selama ini belum sebaik standar yang Tuhan inginkan. Hey, it’s okay! Dengan menyadarinya sekarang, kita memiliki ruang untuk bertumbuh dan berkembang lebih baik lagi. Yuk kita gali lebih dalam lagi tentang bagaimana caranya untuk menjadi baik.

1. Andalkan Tuhan sebagai sumber dan role model kebaikan

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak akan berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”
(Yoh. 15:7)

Pernahkah teman-teman melihat sebuah ranting yang berkeringat susah payah untuk menghasilkan buah? Hal ini terdengar konyol bukan? Sebuah ranting berbuah dengan sendirinya secara alami selama ia terhubung dengan baik dengan batang pohon, akar-akar, serta tanah yang subur. Selama ia terhubung dengan sumbernya tersebut, ranting tersebut secara pasti dan berkelanjutan akan menerima nutrisi yang dibutuhkan untuk berbuah. Demikian juga halnya dengan kita. Kita perlu untuk selalu terhubung dengan Yesus melalui hubungan yang intim, solid, dan teratur. Kita perlu berdiam dalam kekaguman akan kebaikan dan karya-karya-Nya di bumi ini untuk mendapat asupan nutrisi bagi roh dan jiwa kita. Selama kita terhubung, kita akan peka mendengar suara-Nya. Ia akan menunjukkan bagaimana kita harus bersikap kepada sesama. Lalu yang perlu kita lakukan adalah menaati arahan Roh Kudus tersebut. Apakah ia meminta kita untuk menolong orang yang tidak kita kenal yang sedang kesulitan di depan mata? Lakukanlah. Apakah ia meminta kita untuk tidak tersinggung dan melepas pengampunan pada orang yang berkata kasar kepada kita? Lakukanlah. Bila kita dapati diri kita sedang berlaku tidak baik kepada sesama, cobalah cek dan tanya diri kita kembali, “Bagaimana hubunganku dengan Yesus belakangan ini?” Bila kita sadari bahwa hubungan kita sudah mulai kendor, kita malas berdoa dan membaca Fiman-Nya, segeralah bangkit dan bangun kembali hubungan dengan-Nya.

2. Latihlah kebiasaan untuk berkata-kata yang baik dan membangun saja 

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”
(Efesus 4:29)

Sadar atau tidak, kata-kata seseorang menunjukkan keadaan hati orang tersebut yang sesungguhnya. Tidak ada istilah, “Ah dia kata-katanya memang pedes, tetapi dia orangnya mah baik.” Karena Matius 5:18 menyatakan, “Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati, dan itulah yang menajiskan orang.” Menurut Amsal 31, wanita bijak akan bertutur kata dengan lemah lembut dan penuh hikmat. 

“She opens her mouth with wisdom, and the teaching of kindness is on her tongue.”
(Proverbs 31:26 / ESV)

“When she speaks she has something worthwhile to say, and she always says it kindly.”
(Proverbs 31:26 / MSG)

Melalui ayat ini, kita diajar untuk menyaring kata-kata yang akan kita keluarkan sebelum membuka mulut kita. Apakah perkataanku ini baik? Apakah perkataanku ini membangun? Apakah perkataanku ini dapat menyakiti lawan bicaraku? Menarik bahwa di versi terjemahan The Message, dikatakan bila ia memiliki sesuatu yang layak untuk dibicarakan, ia selalu memperkatakannya dengan lembut. Jadi saringan tambahan sebelum kita mengucapkan sesuatu adalah apakah hal ini berharga untuk diucapkan? Bagaimana sebaiknya kita menyampaikannya? Bila perkataan yang akan kita ucapkan tidak lolos semua screening sebelumnya, lebih baik kita tidak membuka mulut kita. Terutama di saat kita sedang emosi dan marah, tidak akan ada hal baik yang dapat keluar dari mulut kita. Di saat-saat seperti itulah kita harus dapat menahan diri untuk tidak berbicara. 

3. Bersikaplah ramah kepada orang yang dipandang lebih rendah 

“Dan Raja itu akan menjawab kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
(Mat. 25:40)

Ada sebuah ungkapan populer di dunia psikologi untuk menilai kepribadian seseorang: “Bila engkau ingin mengenal karakter sesungguhnya seseorang, lihatlah dari cara mereka memperlakukan pelayan restoran.” Ya, pelayan restoran merupakan orang yang mudah dijumpai di sekitar kita, yang sering mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari konsumennya. Banyak yang ketika memesan tidak memandang mata si pelayan, tidak mendengarkan ketika pelayan tersebut mengulang pesanan makanan kita, dan mengomeli pelayan ketika makanan lama disuguhkan, terlebih lagi bila pesanan yang diantarkan salah. Hal-hal kecil dalam memperlakukan orang-orang yang secara jabatan maupun status sosial dipandang rendah merefleksikan betul apakah seseorang baik atau tidak. Yesus senantiasa mengajarkan bahwa setiap tindakan yang kita lakukan bagi orang-orang yang dipandang hina atau rendah bagi kebanyakan orang, kita lakukan bagi-Nya. Kita mungkin selama ini tidak sadar bahwa hal-hal yang terlihat kecil seperti ini berarti bagi-Nya. Oleh karenanya, mulailah belajar bersikap ramah dan menghargai keberadaan siapa pun tanpa merendahkan pekerjaan dan status sosialnya. Mulailah buat eye contact dan menyimak perkataan orang lain seperti itu penting bagi kita. Mulailah memperhatikan kebutuhan orang sekitar dan sedapat mungkin bantulah yang mengalami kesulitan.

4. Mudahlah mengampuni dan tidak menyimpan kesalahan orang lain 

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
(Efesus 4:31-32)

Sebuah hubungan persahabatan, terlepas dari berapa lama pun terjalin, akan berakhir ketika ada salah satu atau pun kedua pihak yang mengingat-ingat kesalahan temannya dan memutuskan untuk tidak mengampuni. Ketika kita tidak mengampuni, kita sedang berlaku tidak baik kepada sesama kita (baik secara langsung maupun tidak). Keengganan untuk mengampuni akan menjadi tembok dalam hubungan tersebut, yang menyulitkan kita untuk bersikap ramah dan berbuat baik kepada orang tersebut. Banyak dari orang Kristen bersikap tidak ramah karena berakar dari tidak mengampuni ini. Sikap tidak ramah tersebut akan terlampiaskan ke siapa saja, termasuk kepada orang yang tidak bersalah kepadanya. Jadi, cara untuk mempraktikkan kebaikan secara konstan adalah juga dengan memperbesar kapasitas hati kita untuk tidak mudah sakit hati, tidak mudah tersinggung, dan murah untuk melepaskan pengampunan.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”
(Efesus 4:26)

5. Kembangkanlah kebiasaan suka memberi 

“A generous person will prosper; whoever refreshes others will be refreshed.”
(Proverbs 11:25 / NIV)

Kebaikan selalu berjalan berdampingan dengan tindakan memberi. Memberi waktu, perhatian, kesabaran untuk mendengarkan, uang, memberi pengetahuan, dsb merupakan manifestasi dari kebaikan. Kita secara natural tidak terbiasa untuk memberi, karena manusia secara daging merasa lebih nyaman menerima daripada memberi. Memberi terkadang membutuhkan harga yang harus dibayar dan pengorbanan dari pihak si pemberi. Untuk dapat melatih kebiasaan memberi kita harus percaya bahwa berkat Tuhan cukup bagi kita, dan mengerti bahwa tujuan kita diberkati adalah untuk memberkati orang lain. Mulailah dari memberikan sesuatu yang kecil, baru perlahan-lahan memberikan sesuatu yang semakin berharga bagi kita. Memberi bukan hanya sekedar tindakan kebaikan yang nyata, namun juga merupakan tindakan yang mengungkapan rasa syukur kita atas pemberian Tuhan, dan tanda rasa percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita kekurangan. 

“Tidak ada satu pun tindakan kebaikan yang sia-sia”
- Unknown

Wednesday, August 29, 2018

Susanna Wesley



by Glory Ekasari 

Mungkin tidak ada wanita yang lebih “biasa” dibanding Susanna Wesley, tapi dia bisa jadi adalah salah satu wanita yang paling terkenal dalam sejarah kekristenan. Dari dialah anak-anaknya belajar mengenal Tuhan, sehingga dua dari anak-anaknya, Charles dan John Wesley, dipakai Tuhan dengan luar biasa. John Wesley, putera bungsu Susanna, bersaksi, “Saya belajar tentang Tuhan dari ibu saya, lebih daripada dari semua teolog di Inggris.” Seperti apa wanita yang begitu luar biasa itu? Apakah dia seorang pengkhotbah yang luar biasa, atau seorang profesor yang berprestasi, atau orang kaya yang mampu membayar biaya studi anak-anaknya setinggi-tingginya? 

Susanna Annesley lahir pada tahun 1669 dalam keluarga hamba Tuhan. Ia sangat cerdas, dan seorang yang mencintai Tuhan sejak masa mudanya. Ia banyak membaca buku-buku teologi dan mempelajari Alkitab. Kebiasaan itu ia teruskan sampai setelah menikah dan mempunyai anak. 

Tahun 1688 Susanna menikah dengan Samuel Wesley, seorang pelayan Tuhan. Samuel adalah orang yang cerdas dan disiplin, tetapi ia tidak berhasil secara finansial. Keluarga mereka hidup pas-pasan, bahkan Samuel pernah dua kali masuk penjara karena tidak bisa membayar hutang. Mereka juga mengalami kebakaran rumah dua kali; dalam kebakaran kedua, John, anak mereka, hampir menjadi korban. Samuel dan Susanna memiliki 19 orang anak, 9 di antaranya meninggal ketika masih bayi. Sebagai sesama wanita dan ibu, kita bisa membayangkan betapa kerasnya hidup Susanna; hamil dan melahirkan 19 kali, kehilangan anak 9 kali, mengurus 10 orang anak, dan itu semua dalam keadaan finansial yang buruk, bahkan mengalami malapetaka kebakaran dua kali. 

Hubungan Susanna dan suaminya juga tidak senantiasa adem ayem. Pernah terjadi perselisihan yang cukup parah, yang membuat Samuel sampai meninggalkan Susanna dan anak-anak mereka selama setahun lebih. Dalam keadaan seperti itu, Susanna tidak menjadi pahit dan memutuskan hubungan dengan suaminya. Mereka tetap berkirim surat, dan sekali waktu Susanna menulis: 
Saya ini seorang wanita, yang juga adalah ibu dalam keluarga yang besar. Dan sekalipun tanggung jawab utama atas jiwa-jiwa dalam keluarga kita ada di pundakmu, sekarang ini ketika kamu lama pergi, saya terpaksa memandang setiap jiwa (yaitu anak) yang kamu tinggalkan bersama saya sebagai talenta yang dipercayakan kepada saya. Saya bukan pria, saya juga bukan hamba Tuhan, tetapi saya merasa harus melakukan lebih dari yang sudah saya lakukan selama ini. Saya putuskan untuk mulai dengan anak-anak saya sendiri, dan ini yang saya lakukan: saya menyediakan waktu semampu saya setiap malam untuk mengobrol dengan anak-anak, satu demi satu. Senin dengan Molly, Selasa dengan Hetty, Rabu dengan Nancy, Kamis dengan Jacky, Jumat dengan Patty, Sabtu dengan Charles. 

Dalam keadaan dimana wanita lain mungkin meratap dan hancur lebur, Susanna tetap teguh. Semua yang mengurus rumah tangga tahu bahwa pekerjaan rumah tangga itu tidak ada habisnya, apalagi dengan 10 anak! Tetapi anak-anak Susanna tahu bahwa ada jam tertentu dalam sehari dimana ibu mereka tidak bisa diganggu, karena ia bersekutu dengan Tuhan. Susanna juga sempat-sempatnya membuat jurnal pribadi yang berisi tafsiran firman Tuhan yang ia pelajari tiap hari. Di kemudian hari, ketika Charles Wesley mulai mengalami pengalaman pribadi dengan Tuhan, ia mencari tahu apa makna dari semua pengalamannya itu dan menulis surat kepada orang yang dia tahu pasti memiliki jawaban: ibunya. 

Semua anaknya homeschooling sejak usia 5 tahun. Susanna-lah yang mengajar mereka baca tulis, sampai bahasa Latin dan Yunani. Ia adalah sumber pengajaran bagi anak-anaknya. Tidak hanya itu. Ketika Susanna merasa anak-anaknya tidak mendapat makanan rohani yang cukup dari khotbah di gereja pada Minggu pagi, ia mengumpulkan mereka lagi pada Minggu siang untuk mendengarkan firman Tuhan. Lama-lama semakin banyak yang ikut “kebaktian” yang diadakan Susanna ini, bahkan sampai 200 orang. 

Nama Susanna Wesley menjadi identik dengan ketangguhan dan kesetiaan seorang wanita. Susan Pellowe, penulis biografi Susanna Wesley, menulis demikian: 

“... Sekalipun dia tidak pernah berkhotbah atau menerbitkan buku atau mendirikan gereja, dia dikenal sebagai Ibu Gerakan Metodis. Mengapa? Karena dua dari anak-anaknya, John Wesley dan Charles Wesley, sebagai anak - sadar atau tidak, menerapkan teladan dan pengajaran dan suasana dari rumah tempat mereka berasal.” 

Wanita punya kekuatan yang tidak nampak, yang bernama pengaruh. Seorang ibu yang baik mempengaruhi anak-anaknya untuk menjadi orang-orang yang baik. Seorang isteri yang baik membuat suaminya maju tanpa beban pikiran. Saya rasa orang paling beruntung dalam cerita di atas adalah Samuel Wesley. Dia mendapatkan isteri yang lebih berharga dibanding permata! 

Ketika saya mempelajari kisah hidup Susanna Wesley, saya jadi malu hati. Kesulitan saya tidak ada seujung kukunya, tapi seringkali saya begitu cepat menjadi lemah. Susanna Wesley, sebaliknya, mengambil kekuatan dari mata air yang tidak pernah kering; ia disiplin dalam persekutuan dengan Tuhan, sumber kekuatannya. Wanita yang tidak nelangsa saat ditinggalkan suami dengan anak yang masih kecil-kecil (saat itu John belum lahir), bahkan memandang anak-anaknya bukan sebagai beban melainkan sebagai talenta yang harus dikembangkan, pasti bukan wanita biasa. Ini adalah a woman of strength, a woman of valor. 

Kekuatan yang memampukan Susanna Wesley untuk menang dalam hidupnya, tersedia juga bagi kita. Bukan hanya dia, kitapun dapat menjadi women of valor dengan pertolongan Roh Kudus. 

-

Referensi: 

Wednesday, July 18, 2018

Spiritual Mothering


by Lia Stoltzfus

Setiap kita wanita diciptakan dengan kapasitas untuk nurturing yang bukan hanya bisa dipakai ketika kita menjadi ibu secara fisik, tapi juga secara rohani. Susan Hunt, dalam bukunya Spiritual Mothering: The Titus 2 Model For Women Mentoring Women menjelaskan bahwa spiritual mothering berarti menginvestasikan diri dalam hidup orang lain supaya kita bisa membagi Injil serta membagikan hidup kita. Apakah itu artinya kita harus menjadi sempurna dulu? Tentu tidak. Syaratnya cuma satu: as long as you keep following Christ, kamu bisa menjadi seorang mentor, pembina, ibu rohani bagi orang lain. 

“Follow me, as I follow Christ.” (Ikutlah teladanku seperti aku pun mengikuti teladan Kristus.) 
(1 Cor 11:1)

Setiap kita dipanggil untuk menjadi MURID KRISTUS dan dalam proses tersebut kita butuh yang namanya a role model: orang yang bisa memberikan keteladanan hidup (menjadi panutan hidup). Titus 2 mencatat bahwa perempuan tua dipanggil untuk mengajar perempuan-perempuan muda: bagaimana mengasihi suami dan anak-anak, hidup bijkasana dan suci, rajin mengatur rumah tangga dan bersikap baik serta taat kepada suami. Dulu sebelum menikah, pas baca ayat ini saya suka bingung. “Lho, kenapa harus mendidik perempuan muda belajar mengasihi suami dan anak-anak mereka yah? Bukankah itu sudah otomatis?” I thought it comes naturally, but I was wrong! Gak gampang loh, yang namanya belajar tunduk, belajar respek sama suami dan menjadi seorang mama, itu sungguh tidak mudah! Saya butuh seseorang yang sudah berjalan di depan saya yang bisa jadi role model, teladan, dan bersedia berbagi wisdom dan mengajarkan saya bagaimana untuk menjadi isteri dan ibu yang bijak. 

// Sebuah teladan berbicara lebih kuat daripada 1000 kata-kata 

Setiap kita adalah perempuan muda yang harus belajar “duduk diam di bawah kaki seorang mentor” dan, di saat yang sama, dalam perjalanan pertumbuhan kita juga bisa berfungsi sebagai seorang mentor. Jangan takut untuk mulai mengajar, membina, memimpin, menyemangati, dan berbagi hidup dengan orang lain! Justru dengan kamu belajar melangkah dengan iman, mengambil tanggung jawab dalam hidup orang lain, kamu akan semakin terpacu untuk bertumbuh. 

"As iron sharpens iron, so one person sharpens another."
(Proverbs 27:17)

Hidupmu akan lebih tertantang dan terasah. Kepekaan dan hikmat akan juga semakin tajam karena dipakai untuk membangun tubuh Kristus, untuk membangun hidup orang lain. Percayalah, dengan fokus terhadap amanat agung dan memuridkan jiwa-jiwa, hidupmu akan terus berapi-api. 

So, gimana sih untuk start menjadi ibu rohani/mentor untuk orang lain? 

1. PRAY 
Doa tanya Tuhan dan minta Dia tunjukkan kepada siapa Tuhan mau kamu menginvestasikan waktu dan hidupmu. 

2. LOOK AROUND 
Lihat sekelilingmu, ada gak perempuan-perempuan muda, adik kelas, tetangga, atau teman yang suka minta pendapat dan juga express herself kalau ia haus dibina, punya hati yang mau belajar, dan open for relationship. 

3. TAKE INTEREST in THEM 
Pemuridan atau mentoring baru akan berhasil kalau ada hubungan secara natural, artinya kedua belah pihak mau buka diri, mau inisiatif, mau bayar harga, mau submit, mau belajar dan diajar. Mulai perhatikan hidupnya, kasih dorongan, semangat, kata-kata encouragement dalam area-area hidupnya. Banyak tanya, banyak “gali”, belajar untuk mengenal lebih dalam dan yang paling utama... belajar MENDENGAR. 

4. START with BIBLE GROUP 
Fondasi utama yang harus dibangun dalam sebuah healthy mentoring relationship adalah FOCUS ON CHRIST. Firman Tuhan harus jadi dasar dan pusat. Jangan investasi dalam hidup orang yang belum siap atau belum mau komitmen membangun hidup mereka dalam firman Tuhan. Sebagai mentor yang baik, kita gak mau anak rohani kita punya unhealthy bonding, ada masalah dikit-dikit kabur cari kita. Kita mau melatih mereka mencari Tuhan, menemukan prinsip-prinsip kebenaran firman, mendorong mereka untuk taat terhadap firman. Jadi kalau sudah ketemu beberapa orang untuk dimentor, tanya mereka, ajak mereka, “Eh, kamu mau ga, ikut bible group? Mau gak komit baca Firman Tuhan bersama?” Itu syarat utama sebagai seorang murid. Mungkin awalnya berat, tapi di situlah kamu bisa mulai berfungsi. Menyemangati, menolong mengingatkan supaya mereka komitmen baca firman Tuhan setiap hari. Kamu bisa membentuk group secara online dengan aplikasi yang kalian sepakati, entah itu FB group, IG group, LINE group atau WA group, yang penting setiap hari bisa share apa yang didapatkan lewat pembacaan Firman Tuhan. Setiap hari lewat group bible kamu bisa punya kesempatan untuk menyemangati anak-anak rohanimu, mengomentari postingan mereka, memberi pengajaran, memberi tambahan masukan. Yang pasti, ini gak akan hanya menjadi satu arah saja. Kamu pun sebagai mentor akan diberkati dengan kekayaan firman yang anak rohanimu share. Dan karena ini secara online, jadi mudah untuk “ketemu” tanpa harus meninggalkan kesibukan/pekerjaan masing-masing. Kalian hanya membalas atau berinteraksi in your own convenient time. Buat kalian yang tertarik untuk membangun Group Bible dan mau tau bagaimana lebih detail, bisa hubungi saya lewat email ini lia_soc@yahoo.com.

5. Regular Real Meeting / FELLOWSHIP or One on One. 
Lewat group online, kita bisa share knowledge, God’s wisdom and truth dan juga sharing kesaksian hidup. Tapi jangan lupa bahwa mereka juga butuh melihat hidupmu secara langsung. Mereka perlu melihat keteladananmu, bagaimana kamu mempraktekkan firman. Undang mereka untuk datang ke rumah, menginap, atau ketemu secara langsung. 

Gak ribet kan? Yang penting mau buka hati. Bagian saya adalah buka hati, dan bagian Tuhan adalah buka jalan. Yang penting rindu dulu, mau dulu. “Iya, Tuhan, aku mau jadi berkat... Aku mau hidupku berdampak... Aku mau ambil tanggung jawab untuk memberkati hidup orang lain.” Setelah kita berdoa demikian, lihat deh gimana Tuhan buka jalan.

Oke, selamat jadi berkat untuk orang lain. Hidupmu ditentukan untuk memberi dampak. Keep walking with the King!

Friday, July 13, 2018

Yang Rukun, Masbro, Mbaksis


by Glory Ekasari

Beberapa hari ini aku terus-terusan diingetin tentang kasih dalam tubuh Kristus, dan tiap kali, ada aja hal baru yang Tuhan ajarin ke aku. Kemaren bacaan Alkitabnya dari Kolose 3:8-17, tapi aku kecantol di ayat 15, jadi aku ublek-ublek ayat itu. Gimana sih, ublek-ublek ayat? Silakan baca post sebelumnya. Ini ayatnya:

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.”
(Kolose 3:8-17)

Awalnya aku sempat bingung karena merasa ga dapet logika kalimatnya. Tapi setelah direnungkan, liat ayat yang sama dalam versi lain, mikir lebih ekstensif, inilah hasil perenungan dan pembelajaran semalam.


// KITA DIPANGGIL UNTUK HIDUP RUKUN

Adalah rahasia umum bahwa dalam gereja sendiri ada masalah dengan kerukunan. Padahal, “Untuk itulah,” kata Paulus, “kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh.” Untuk apa? Untuk hidup berdamai satu dengan yang lain! Aku kemaren baca quote-nya Mark Driscoll: “Saying, 'I love Jesus, but not the church” is like saying, “I love my adoptive father, but I don’t care about the rest of the family.'” Ga bisa dong.

Kita dipanggil untuk menjadi satu tubuh. Kita harus terima kenyataan bahwa orang lain beda dengan kita, ada sifat mereka yang ‘sulit’, tapi kita dan mereka adalah satu tubuh. Kalo dipisah, bakal koyak! Paulus pake metafor yang bagus: tubuh. Anggota tubuh ga bisa saling bermusuhan; mereka harus saling mendukung. Waktu mereka ga saling mendukung, tubuh jadi disfungsional, dan kita mengeluh, “Aku sakit.” Sakit artinya ga sehat; tubuh ga berada dalam kondisi normal. Demikian juga anak-anak Tuhan yang ga saling mendukung, mereka ga berada dalam kondisi normal.

Istilah “dipanggil menjadi satu tubuh” juga perlu diperhatikan. Mungkin selama ini kita pikir panggilan = profesi. Tapi ini lebih dari sekedar kegiatan: panggilan kita adalah untuk menjadi satu, satu tubuh yaitu tubuh Kristus. Kerjasama. Saling mendukung. Rukun. Kita dipisahkan dari dunia untuk masuk dalam persatuan anak-anak Allah. Jadi, seperti ada orang yang dipanggil jadi misionaris, businessman, dll, kita semua dipanggil untuk jadi satu tubuh yang saling mendukung, harmonis dan rukun, damai satu dengan yang lain.


// DAMAI SEJAHTERA KRISTUS

Tapi kenyataannya, orang-orang kristen berselisih satu dengan yang lain. Mengapa begitu? Dan gimana biar ga begitu? Paulus bilang, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu.”

Ga ada cara lain, kita harus memiliki damai itu. Kalo orang dari dalemnya ga ada damai, gimana dia mau damai sama orang lain? Aku jadi inget analogi kapal yang dipake C. S. Lewis. Sekarang pertanyaannya, sudahkah damai ada dalam hati kita? Ada dua hal penting yang aku perhatikan di dalam bagian ini.
  • Damai sejahtera yang dari Kristus 
  • Damai itu memerintah dalam hati kita. 

1. Kita ga bisa berdamai kalo damai itu dibuat-buat atau damai dari diri kita sendiri. 
Istilah “damai” buat manusia itu maksudnya biasanya begini: “Gue ga ganggu elu, lu juga jangan ganggu gue.” Itu bukan damai, cuy, itu mah individualisme. Berdamai sama orang lain versi Alkitab itu berbuat baik pada dia, memperhatikan keadaannya, tolongin waktu dia susah, doain dia, dan semua yang baik-baik itu – lepas dari perlakuan orang itu terhadap kita. Nah, yang seperti itu datangnya bukan dari dunia atau diri kita sendiri, tapi dari Kristus. Tanpa Dia, orang ga bisa berdamai dengan Allah. Dan kalo ga bisa berdamai dengan Allah, mana ada damai sejati di hatinya? Kalo ga ada damai sejati, gimana bisa mengasihi dan hidup berdamai dengan orang lain?

2. Damai itu memerintah.
Aku sadar ini adalah hal yang ga biasa buat pemikiran orang dalam generasiku. Seperti apa itu damai yang memerintah? Ini, saudara sekalian, adalah pekerjaan Roh Kudus. Inget dong, apa yang Paulus bilang tentang buah Roh? Paulus mengkontraskan buah Roh dengan perbuatan daging – yaitu natur kita, manusia, yang berdosa. Lalu dia bilang begini, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Galatia 5:25). Roh Kudus sanggup menguasai seseorang yang telah menyerahkan hidupnya kepada Kristus, menguasai hati dan perasaannya, memberikannya kasih dan damai sejahtera yang “melebihi segala akal.” Terpujilah Tuhan!


// “HENDAKLAH!”

Kalo itu semua pekerjaan Tuhan, kenapa kita yang diperintah? Kok jadi “mengalihkan tanggung jawab”?

Sama sekali bukan. Masalahnya, seringkali kita ribut sama orang lain bukan karena kita tidak bisa menahan diri, tapi karena kita pengen ribut aja, alias egonya terganggu. Kita perlu menginginkan perdamaian. Bahasa Alkitabnya malah lebih keras lagi: Kejarlah, Usahakanlah! (2 Timotius 2:22, Roma 12:18).

Penting sekali buat kita untuk sadar bahwa kalo kita ga mengejar perdamaian, ga mengampuni orang yang salah sama kita, ga mau mengalah, apalagi cari ribut (?!), kita sedang menyebabkan disfungsi dalam tubuh Kristus! Paulus bicara dengan keras kepada orang-orang yang menyebabkan perpecahan di Korintus: “Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan (menghancurkan) Bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia; sebab Bait Allah adalah kudus, dan Bait Allah itu ialah kamu.” Ini keras! Setiap kita, yang tidak mengusahakan perdamaian dalam tubuh Kristus, bersalah untuk hati yang keras itu. Karena itu Paulus menulis pesan ini dalam bentuk imperatif; ini bukan tentatif, bukan kalo kita lagi pengen aja, bukan kalo mood kita lagi bagus; tapi HARUS, apapun yang terjadi.


// BERSYUKURLAH

Yang uda bertahun-tahun jadi Kristen, aku mau tanya, kapan terakhir bersyukur karena kalian adalah anggota keluarga Allah? Kapan terakhir bersyukur buat gerejamu, buat komunitasmu, buat saudara-saudari seimanmu?

Begitu kenal saudara-saudara se-Bapak, jadi susah ya, mengucap syukur? Liat kekurangan mereka – yang kadang-kadang kebangeten, liat kelemahan dan kebodohan yang dilakukan anak-anak Tuhan, rasanya ga bisa deh bersyukur. Rasanya terlalu banyak yang harus diperbaiki, sampe-sampe ga kliatan lagi apa yang bagus.

Tapi mari kita belajar dari Paulus. Paulus hampir selalu mengawali suratnya dengan pernyataan bahwa dia bersyukur atas keadaan jemaat yang ia kirimi surat (kecuali kalo dia lagi buru-buru mau ngomong sesuatu yang penting). Jemaat Korintus, salah satu jemaat yang paling amburadul, menerima salam ini dari Paulus:

“Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segalah hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus yang telah diteguhkan di antara kamu.”

Dalam jemaat yang kacau seperti itupun Paulus masih menemukan alasan untuk bersyukur. Gimana dengan kita? Apa kita ga bersyukur bahwa orang di kanan kiri kita di gereja sudah diselamatkan? Bersyukurkah kita karena ada saudara kita yang mau melayani Tuhan di gereja? Bersyukurkah kita bahwa kita punya komunitas yang terus mengingatkan kita tentang Tuhan (lewat kebaikan maupun keburukan mereka)?

“Bersyukur” pun ditulis dalam bentuk kalimat perintah. “Dan, bersyukurlah.” Buka mata untuk lihat apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita, lihat apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup saudara-saudari kita. Bersyukurlah.

***

Tentu melakukannya lebih susah dari menulisnya. Tapi kalo kita ga melakukan ini, kita melukai tubuh Kristus, tubuh Dia, yang katanya kita cintai. Kristus adalah kepala, kita adalah tubuhNya. Kalo kita sayang Tuhan Yesus, kita akan mau belajar mengasihi tubuhNya juga: saudara-saudara seiman kita. Akhir kata...

“Berbahagialah orang yang membawa damai,
karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
– Yesus

Thursday, January 18, 2018

Peran Suami dan Calon Ayah


by Marcella Flaorenzia

Post kali ini aku tulis buat para suami, khususnya para suami yang istrinya lagi hamil or berencana untuk hamil, hehe.. Peran kalian itu sangat penting, bukan cuma nanti pas bayinya udah lahir, tapi juga di masa-masa kehamilan :)

Selama 4 bulan terakhir ini, aku ngerasain banget pentingnya peranan DM sebagai suami dan juga calon ayah. Terutama buat aku yang jauh dari keluarga and orang tua, plus tinggal di negara yang gak ada pembantu juga, hehe.. DM harus bener-bener jalanin peranan ganda :p Gak kebayang deh kalo gak ada DM and aku harus bener-bener jalanin semua ini sendirian.. (But buat para single moms, pasti ada kekuatan and anugerah khusus dari Tuhan yang akan memampukan kalian :))

Pas masuk kehamilan minggu ke-7, aku udah mulai suka mabok and gak bisa masak (sampe sekarang). Alhasil, tiap pulang kerja, DM harus mulai masuk dapur or harus beli makanan di luar. Itupun kadang-kadang belom tentu bisa aku makan, jadi dia harus pergi lagi cari makanan yang laen.

Masuk minggu ke-9, aku bukan cuma gak bisa masak, tapi aku harus bed-rest karena lemes. Kerjaan rumah, piring kotor, laundry, semua jadi terbengkalai, haha.. Mau ga mau, DM yang turun tangan juga :p Untungnya kita belom punya anak, itu beda cerita lagi nanti, mungkin pas hamil yang berikutnya, wkwkwk.. Ya berdoa aja supaya hamil berikutnya gak separah ini sicknessnya.. (Amin!)

Aku juga dulu biasanya selalu pijet (massage) si DM hampir setiap hari, dia paling seneng dipijet soalnya. But sejak hamil, udah gak bisa lagi, tenaganya juga gak ada, haha.. Malah sebaliknya, sekarang jadi dia yang sering mijetin aku :p
Trus ada juga acara-acara or kegiatan-kegiatan yang kadang DM harus cancel, karena dia harus stay di rumah. Or harus ambil off kerja kalo kondisi aku lagi parah banget. Kayak misalnya kemaren ini waktu aku sempet di-infus di hospital (nanti ya kapan-kapan aku post cerita lengkapnya, hehe..) He is not only my husband, but he is my best friend :)

Selain itu, suami juga harus hadepin mood istri yang suka gak jelas pada saat hamil, terutama di trimester pertama. Kalo tidur juga mungkin gak mau deket-deket, karena gak tahan sama bau suami, haha.. Tengah malem kadang istri gak bisa tidur, cari posisi yang enak, bolak-balik ke toilet, atau tiba-tiba laper jam 2 pagi.. Aku inget banget si DM pernah kanget kebangun gara-gara denger aku berisik makan biskuit jam 3 pagi, maklum dia tipe orang yang kalo tidur harus tenang soalnya, gak boleh ada suara apa-apa, haha.. And sometimes dalam kondisi kayak gini, suami juga harus "berkorban" and menahan diri untuk tidak berhubungan sex, karena mungkin si istri lagi bergumul berat sama morning sicknessnya and suami harus menunggu sampe si istri bener-bener oke kondisinya. Luar biasa deh pengorbanan and peranan kalian as a husband :)

But coba liat masa-masa ini sebagai kesempatan untuk kalian show your action of love to your wife, because she really needs you and your support. Jangan biarin istri kalian berjuang sendirian. Kalo kata DM, "Berani berbuat, harus berani bertanggung-jawab.." Haha.. And selama masa kehamilan ini, aku juga bisa ngerasain hubungan suami-istri yang semakin kuat, karena kita harus lewatin semua proses ini sama-sama.. Aku juga bisa liat lebih banyak lagi sisi-sisi positif dari DM, sebagai pria yang bisa diandalkan and dipercaya untuk kelak jadi seorang ayah :)

So, I just wanna say a big THANK YOU to my wonderful husband.. You are awesome, and I love you so much!! xoxo

Monday, September 18, 2017

Traveling with Bestie




by Eunike Santosa

I. Pendahuluan

Pertama-tama, mohon maaf, dikarenakan penulis sedang melewati masa-masa banyak menulis paper, laporan, dan thesis, maka bentuk tulisan ini akan seperti tulisan-tulisan ilmiah tersebut. Hahha... Bear with me! Joke aside, saya rasa saat ini makin banyak orang yang bepergian untuk ‘traveling’ atau bahasa umumnya adalah jalan-jalan. Sepertinya kegiatan ini sudah menjadi gaya hidup masyarakat modern pada umumnya. Jadi, mau cuman jalan-jalan roadtrip dari Jakarta ke Puncak ataupun terbang ke Pyongyang, ibukota Korea Utara... itupun masih termasuk jalan-jalan kan ya? Haha...

Saya sendiri menikmati jalan-jalan bersama bestie (singkatan dari best friend). Walaupun kami sudah mengenal satu sama lain selama 9 (sembilan) tahun, traveling membuka hal-hal baru yang bisa kami pelajari. Lewat traveling, kami mengenal satu sama lain dan diri kami sendiri lebih dalam. Oleh karena itu, traveling bisa menjadi alat untuk mengajarkan (setidaknya untuk saya) kerendahan hati, pengertian, dan empati terhadap sesama.

II. Tips

Jadi, entah kalian sudah sering traveling bersama sahabat kalian ataupun baru akan mulai jalan-jalan bersama, berikut tips-tips yang bisa saya bagikan:

1. Komunikasi yang jelas

Kalian ingin traveling seperti apa? Kalau kamu suka berbolang ria di hutan kampung nan jauh di Mato (hayoo, tau lagu ini ga?) sementara sahabatmu sukanya jalan di Champs Élysées yang adalah jalanan di Paris yang ada LV, Gucci, dan kawan-kawannya bersemayam... then... yahh, gimana ceritanya kalian bisa bersahabat yah? Haha. Poinnya adalah, komunikasikan keinginan kalian, jangan langsung berasumsi karena dia sahabatmu maka seharusnya dia tahu dan mengerti. Sahabatmu itu masih manusia biasa yang tidak punya kemampuan untuk membaca pikiranmu. Jadi alangkah baiknya kalau dikomunikasikan dan dimusyawarahkan dengan baik. Maksudnya biar ga kaget. :P

2. Kompromi

Nah dalam proses musyawarah, pasti akan ada perbedaan pendapat. Ini normal sih, namanya juga manusia. Solusinya pasti akan membutuhkan kompromi dari salah satu pihak. Ga bisa donk namanya kalo misalnya kalian lagi di Bandung siang-siang, satunya mau nongkrong di kafe hipster, satunya mau ke museum. Lah, mau pisah? Bisa sih, tapi kalau ingin bersama-sama, harus akan ada yang mengalah bukan? Bisa saja hari ini kamu yang mengalah ke kafe hipster, esoknya baru deh ke museum, itulah kompromi. Atau... cari museum yang deketan sama café hipster, bisa juga kan jadi solusi.

3. Ampunilah sahabatmu

Ada yang bilang, traveling will get the real you out! Jadi, if you’re like me, pasti akan ada suatu waktu dimana kejelekanmu atau kejelekan dia akan keluar. Akan ada saat dimana kamu akan moody, apalagi kalo kecapekan sudah melanda. Ego akan naik, ketika keinginanmu bersitegang dengan keinginan dia. Nah, dikala saat-saat seperti ini terjadi, dan kamu sudah sering mengalah, tapi mengingat sahabatmu mempunyai “princess syndrome” (dimana bumi dan matahari memutari dia), tetap saja keinginan dia yang harus dituruti. Maka, yah anggaplah latihan kesabaran, latihan penguasaan diri, dan terlebih lagi, latihan mengampuni. Dia manusia berdosa, tidak sempurna tentunya, oleh karena itu, ampunilah dia. Sama seperti Kristus sudah mengampuni bukan? :)

4. Understanding

Satu hal lain yang saya pelajari adalah, sebagai orang yang berbeda, besar di keluarga yang berbeda, tentunya akan mempengaruhi gaya hidup orang. Nah, jadi ga heran akan ada kebiasaan-kebiasaan, budaya-budaya yang berbeda antara kamu dan sahabatmu. Nah, hal-hal ini pasti akan keluar tuh ketika traveling. When it does, janganlah kiranya kamu langsung main hakim sendiri. Cobalah untuk berpikir sejenak, menarik diri ataupun mencoba melihat dari perpektif sahabatmu. Jadikan ini momen dimana kalian bisa saling menghormati satu sama lain lebih lagi sebagai sahabat. :)

5. Foto secukupnya!

Daaaannnnn, kalau traveling, nikmatilah waktu kalian bersama-sama. Foto secukupnya saja! Kasihan si alam dah bagus-bagus eh.. cuman buat difoto-fotoin trus pulang, kan sayang! Breath it in! ;)

Selamat Traveling bareng bestie (besties?)!

Friday, September 15, 2017

Sahabat yang Setia


by Eunike Santosa

Siapa diantara kalian yang mempunyai sahabat? Bagaimana kondisi persahabatan kalian sejauh ini? Sudah berapa lama kalian menjalani persahabatan tersebut?

Saya rasa setiap orang menginginkan sahabat sejati, sahabat yang setia. Sahabat setia bisa didefinisikan sebagai sahabat yang tidak akan pernah meninggalkanmu di saat apapun, senang ataupun sakit. Namun apakah kriteria sebagai sahabat setia hanya itu? Bagaimana pula caranya menjadi sahabat yang setia?

1. Yo Bestie ain’ no God (Sahabatmu bukan Allahmu) 
Saya rasa, pertama-tama, kita harus mengerti bahwa sahabat tetap manusia. Jadi, jangan samakan dia dengan Allah. Artinya? Dia tidak maha hadir dan juga tidak maha tahu. Jangan posisikan dia dengan ekspektasi dia harus selalu mengerti setiap keinginan kita, selalu harus bisa membalas whatsapp atau line setiap saat. Itu hal yang mustahil. Menjadi maha hadir hanya bisa dipenuhi oleh Tuhan kita. Alkitab sendiri berkata jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku sebagai hukum pertama Taurat (Keluaran 20:3). Demikian pula dengan sahabatmu, jangan jadikan dia pengganti Allah, walaupun opsi tersebut sangat menggiurkan. 

2. Taruh TUHAN di tengah-tengah 
Saya sangat senang dengan cerita Daud dan Yonatan, dua sahabat yang setia mengasihi satu sama lain. Persahabatan ini berakhir dengan sedih karena Yonatan mati, namun kita bisa lihat bahwa Daud mengingat sahabatnya dengan membantu putra Yonatan, Mefiboset. 

Ketika saya merenungkan cerita Daud dan Yonatan, muncul pertanyaan: apakah yang membuat persahabatan mereka ini sangat kuat? Saya mendapat pengertian bahwa baik Daud dan Yonatan adalah dua orang yang sangat mencintai Tuhan. Mereka berdua mempunyai iman yang sangat besar pada Allah. Ketika menghadapi Goliat, Daud berkata di 1 Samuel 17:45 "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” Sebuah pernyataan iman yang sangat besar dari Daud. Sementara Yonatan di 1 Samuel 14:6 ketika hendak menghadapi orang Filistin berkata "Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang.” Apakah kalian bisa melihat persamaan dari kedua sahabat tersebut? Sungguh iman yang sangat besar terhadap Allah. Dan dua sahabat yang mencintai Tuhan ini menaruh TUHAN Allah di tengah-tengah sebagai pengikat. 1 Samuel 23:18a “Kemudian kedua orang itu mengikat perjanjian di hadapan TUHAN.” 

Untuk saya, menjadi seorang sahabat yang sempurna itu tidak mungkin. Tapi dengan menempatkan Allah di tengah-tengah persahabatan saya, ini membuat hubungan saya dan sahabat saya menjadi semakin kuat. Terkadang ketika salah satu dari kami tidak mengerti apa yang sedang dialami/digumulkan oleh yang lainnya, maka, hal terbaik yang bisa kami lakukan adalah berdoa untuk satu sama lain. Menaruh Allah di tengah adalah tali persahabatan yang termanjur. 

3. Tujuh Puluh kali Tujuh kali 
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. -- Matius 18:21-22

Sahabat saya pernah berkata, “Apa gunanya harga diri dalam persahabatan? Kalau mempertahankan harga diri lebih penting, maka persahabatan itu tidak sejati.” Saya setuju sekali. Tentu saja harga diri itu dalam konteks memaafkan. Kasih “tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1Kor. 13:5) dan kita harus mau mengampuni satu sama lain “sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef. 4:32). 

Mengampuni adalah landasan dari hubungan apapun. Kita selalu berasumsi bahwa orang lain melihat kehidupan dari kacamata yang sama dengan kita. Namun, dengan begitu banyaknya persepsi di dunia, keterbatasan kita dalam memahami persepsi orang lain dapat menimbulkan jembatan-jembatan kesalahpahaman, amarah, kebencian, dan keterpisahan emosi. Mengampuni dapat menjembatani jarak-jarak tersebut. Secara psikologis, orang-orang yang sering mengampuni cenderung mempunyai kebiasaan kesehatan yang baik dan penurunan dalam kecenderungan untuk depresi, kegelisahan, dan tingkat amarah. (1)

Seberapa sering harus mengampuni? 70 x 7 x ….. :)

Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib. -- Amsal 17:9

4. Strive for the Best 
Hal lain yang saya pelajari dalam persahabatan adalah bagaimana kita saling mendorong untuk menjadi yang terbaik, walaupun itu berarti akan ada konflik di dalamnya. Konflik tidak bisa dihindari, tinggal bagaimana cara menghadapi konflik tersebut. Menurut Amsal 27:17, Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Saya rasa demikian pula dengan persahabatan, setiap gesekan yang terjadi adalah kesempatan untuk saling menajamkan satu sama lain. Pada awal masa persahabatan saya, kami sempat bersitegang, kemudian sahabat saya menunjukkan sifat negatif saya (yang pada saat itu adalah sarkastis dan kritis) dan bagaimana lewat sifat ini, saya telah melukai dia. Saya bersyukur atas pertengkaran tersebut, karena itu membantu saya untuk bisa melihat hal yang tadinya tidak saya sadari dan juga menolong saya untuk berubah. Hal ini didukung oleh teks lain di Alkitab yang terdapat di Amsal 27:6, “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.” Walaupun dalam persahabatan pasti akan mengalami saat-saat ‘tidak enak’, namun seorang sahabat sejati akan mempunyai tujuan demi kebaikan yang lainnya. 

Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara. -- Amsal 18:24

5. Sacrifice 
Dalam setiap hubungan harus ada investasi, apa saja yang Alkitab katakan mengenai hal-hal yang diinvestasikan?

- Waktu
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. -- Ams 17:17

- Nyawa
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. -- Yoh 15:13

- Empati
Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, ... Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. -- Ayb 2:11

Jadi, akhir kata, sudahkah kalian menjadi seorang sahabat yang setia? 

Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?
-- Amsal 20:6


(1) https://www.psychologytoday.com/blog/the-addiction-connection/201409/the-psychology-forgiveness

Friday, July 21, 2017

Masa Depan Yang Penuh Harapan (Part 2)


by Grace Suryani

Post ini adalah sambungan dari Part 1 yang bisa dibaca di SINI. 

Terkadang persepsi kita tentang “masa depan yang penuh harapan” itu keliru. Ayat yang paling sering dikutip itu ayat ini, 

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." 
—Yeremia 29:10

Tapi mari kita liat untuk siapa dan dalam kondisi apa ayat ini ditulis.

Beginilah bunyi surat yang dikirim oleh nabi Yeremia dari Yerusalem kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada imam-imam, kepada nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel. 
—Yeremia 29:1

Surat ini ditulis untuk orang-orang buangan di Babel. Surat ini ditujukan oleh bangsa Israel yang BARU SAJA dibuang ke Babel. Tuhan justru menyuruh mereka tinggal mengusahakan kesejahteraan bangsa asing tempat mereka tinggal, menikah dan berkembang biak, karena mereka bakal lama di sana.

Penafsiran gue maksud dari ayat 10 itu adalah demikian.

Sekalipun elu tinggal di Babel, sekalipun elu orang buangan, sekalipun loe dipandang rendah sama orang lain, sekalipun ini BUKAN MIMPI LOE (siapa sih yang pernah mimpi mo jadi orang buangan??), loe yakin dan percaya dah sama TUHAN. Ini rencana tuh rencana yang indah buat elu. Lebih indah dari rencana loe sendiri. Kalo loe setia di tempat dimana Tuhan membuang elu, elu taat sama Firman-Nya, bikin rumah, bikin kebun, bikin anak (yang banyak), berdoa dan bekerja dengan sungguh-sungguh sekalipun loe di tempat yang bukan mimpi loe, tetap ada harapan di sono.

Kalo ga yakin sama penafsiran gue, silahkan baca Yeremia 29 sendiri guys. :P Itu lebih bagus, daripada elu orang telan bulet-bulet kata-kata gue. Hehe.

So face it guys... Sometimes, God brings us not to the highest, but to the lowest place instead.

Kita maunya cuman Tuhan bawa kita dari kemuliaan ke kemuliaan lainnya. Tapi sadarkah kita kalo di lowest place, di tempat yang paling boring sedunia, Tuhan justru bisa mengasah karakter kita sebaik-baiknya; dan itu artinya Tuhan membawa kita kepada kemuliaan baru loh.

Firman Tuhan itu selalu benar, yang kadang salah itu PERSEPSI KITA. Pandangan dan definisi kita tentang masa depan yang penuh harapan dan kemuliaan, itu yang kadang salah. Kita mengartikannya terlalu sempit. Kita mengartikannya dgn kacamata dunia. Masa depan penuh harapan = sukses = banyak duit = mimpi-mimpi tercapai. Ketika kita berdoa, “Tuhan, tolong supaya aku bisa mengerti firman-Mu,” sebenarnya kita berdoa, “Tuhan, tolong supaya aku bisa punya PERSEPSI, PANDANGAN, dan DEFINISI yang sama dengan-Mu. Supaya aku melihat dengan kacamata-Mu, bukan kacamata dunia.”

Masa depan penuh harapan versi Tuhan = karakter terbentuk = makin serupa Kristus = jadi surat yang terbuka bagi dunia = jadi wangi-wangian yang harum di hadapan Tuhan. 

Tuhan tuh ga terlalu peduli kita lunch sama siapa. Entah itu sama dubes dari USA, atau sama bayi yang pinter taichi (kalo disuapin tangannya gerak kanan kiri). Yang paling penting kita NGAPAIN pas lunch sama org itu. Do we influence them, or do they influence us? 

Let’s face it guys, sometimes it’s not about us. Sebagian besar orang yang menerima surat dari Yeremia, tidak pernah kembali ke Israel. Tidak pernah kembali ke tanah nenek moyang. Tidak pernah melihat bait Allah dibangun di Yerusalem. Tidak pernah melihat Tuhan memulihkan kehormatan bangsa Israel. Sebagian besar dari mereka, mati sebagai orang buangan dan tidak pernah melihat mimpi mereka (kembali ke tanah Israel) terwujud. Mereka mati di tanah asing sebagai orang buangan. Bagi dunia, orang buangan itu hina. Tapi bagi Tuhan, mereka yang mati di tanah Babel itu memenuhi rencana-Nya. Just face it... Sometimes, supaya rencana Tuhan harus digenapi, kita harus rela tidak pernah melihat mimpi kita terwujud.

Tapi ini janji Tuhan: sekalipun hidup yang kamu hidupi sekarang itu bukan mimpimu, sekalipun ini bukan hidup yang kamu mau kalo itu dalam rencana Tuhan, maka kamu ada dalam masa depan yang penuh harapan. 

Jangan berpikir bahwa hidupmu baru akan dimulai NANTI setelah kamu masuk ke 'masa depan yang penuh harapan'. Karena masa depan yang penuh harapan itu adalah HARI INI. Ketika kita bekerja dan taat melakukan bagian kita HARI INI di tempat dimana Tuhan tempatkan kita. Bukan nanti.

Guys, punya impian itu bagus dan harus. Tapi impian semanis apapun itu selalu kalah manis dengan kenyataan yang Tuhan berikan.

Pertanyaannya mungkin, darimana gue tau ini rencana Tuhan atau bukan? There’s no easy answer for that question. :p Satu-satunya cara buat menjawab adalah, bertanya sama Tuhan, punya hubungan pribadi sama Tuhan dan baca Alkitab. I can’t answer the question about your life. You must ask the Author of your life.

:)

Wednesday, July 19, 2017

Masa Depan Yang Penuh Harapan (Part 1)


by Grace Suryani

"Percaya deh, Tuhan PASTI memberi masa depan yang penuh harapan!!" 
Itu firman Tuhan yang sering banget digembar-gemborkan, khususnya kepada generasi muda.

God wants you to do SOMETHING BIG FOR HIS KINGDOM!!!
God will use YOUR LIFE TO CHANGE THE WORLD!! 

dan semua kalimat keren lainnya. 

Well, itu ga salah. tapi kadang PERSEPSI kita ttg 'something big', 'change the world', masa depan penuh harapan yang SALAH. Ketika kita mendengar kalimat itu, kadang yang terpikir langsung, "WOW, gue mungkin akan dapet kerjaan di MNC yang bakal bikin gue bisa traveling around the world!!" Atau "WOW, mungkin Tuhan akan kasih gue beasiswa ke luar negeri!" Atau, “WOW, gue yakin gue akan bisa jadi orang paling hebat di bidang gue. Orang-orang akan datang berguru kepada gue.” Atau, “WOW, buku yang gue tulis akan jadi buku best seller mengalahkan Harry Potter!” Or all other glorious dreams... 

Mungkin BANGET. Bisakah Tuhan lakukan itu buat kita? BISA. I have no doubt. Alkitab penuh dengan orang-orang yang melakukan hal-hal besar, melakukan mujizat, membuat orang-orang terkagum-kagum. Tapi Alkitab juga penuh dengan orang-orang biasa, yang melakukan hal-hal biasa untuk Tuhan yang luar biasa. 

Ayat yang paling sering dikutip itu ayat ini, 

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." 
—Yeremia 29:10

Tapi mari kita liat untuk siapa dan dalam kondisi apa ayat ini ditulis.

Beginilah bunyi surat yang dikirim oleh nabi Yeremia dari Yerusalem kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada imam-imam, kepada nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel. 
—Yeremia 29:1

Surat ini ditulis untuk orang-orang buangan di Babel. Surat ini ditujukan oleh bangsa Israel yang BARU SAJA dibuang ke Babel.

Lalu apa perintah Tuhan buat orang-orang buangan itu? Tabahkan hatimu, Aku akan membawa kamu keluar secepatnya?? Tabahkan hatimu, kamu akan melihat tangan Tuhan membalas dendam dan menghukum orang-orang kafir itu? Tabahkan hatimu, kamu akan melihat mujizat Tuhan yang luar biasa? Kamu akan kembali segera ke tanah Israel. Kamu akan menjadi kepala dan bukan ekor!!

Ini perintah Tuhan buat mereka,

“Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan! Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN. 
—Yeremia 29:5-9

Dengan kata lainnya Tuhan tuh bilang begini, “Nak… Kamu itu bakal LUAMAAA banget di Babel. 70 tahun. Aku ga akan bawa keluar sebelum 70 tahun itu. So, daripada dengerin ocehan atau nubuat-nubuat palsu dari orang-orang yang bilang bahwa Tuhan akan menolongmu sebentar lagi, bahwa kamu ga akan lama di Babel, bahwa kamu akan kembali melihat kemuliaan Yerusalem, bahwa Israel akan berjaya lagiii, mendingan loe bangun rumah dah. Bikin kebun buat anak cucu loe, dan kawin lalu bikin anak sebanyak-banyaknya! Kerja yang bener, dan berdoalah buat entu orang-orang kapir. Oke? Jangan loe dengerin dah itu org-org yg pada ngomong yg bagus-bagus ttg loe ga bakal lama di Babel, loe akan liat mujizat, Tuhan akan membangun kembali Yerusalem. Iye, bakal Gue bangun tapi ntar ye, pokoknya loe 70 taon dulu di sini. Oke?” 

Barulah ayat 9 disambung dengan ayat yang suka dikutip karena bunyinya bagus banget.

To be continued.