Wednesday, November 1, 2017

Emotional Affair (Part 1)


by Sarah Eliana

Beberapa hari yang lalu, aku baca post dari Grace yang judulnya "Batasan Emosi dalam Pacaran". Teman-teman yang masih single atau lagi pacaran, I totally recommend to read it HERE. Waktu baca post Grace yang satu itu aku berpikir, gimana dengan yang udah married

Apakah kalo udah married perlu bikin batasan-batasan emosi juga? Menurutku perlu! =) Tapi omong-omong, apa sih itu batasan emosi? Mengutip Jeung Grace, batasan emosi itu rambu-rambu yang kita pegang selama pacaran untuk melindungi hati kita supaya gak terikat secara emosi atau jatuh cinta terlalu cepat dan terlalu dalam dalam pasangan yang BELUM jadi suami istri. Lhooo... kalo gitu, batasan emosi itu cuman perlu untuk orang yang baru pacaran, donk. Masa udah married pake batasan emosi juga!

Well, kalau menurut Firman Tuhan, setelah kita menikah, maka kita menjadi satu dengan suami. Itu artinya suami dan istri menjadi “become one in flesh” (dan emotionally juga tentunya). Di sinilah terjadi perbedaan dalam membuat batasan emosi antara orang yang baru pacaran dan yang sudah menikah. Sebelum menikah, kita perlu membuat batasan emosi dengan pacar. Setelah menikah, kita kudu membuat batasan emosi dengan orang lain! Misalnya nih, setelah aku dan suami menikah, kami berjanji bahwa kalo ada apa-apa pasti share with each other dulu sebelon share dengan orang lain. Kenapa? Yach, karena setelah menikah, kita telah menjadi satu. We are one team. Kalo ada masalah, kami harus datang ke hadirat Tuhan bersama sebagai satu kesatuan. So, in that sense, kalo aku ada masalah, aku share dengan suami, bukan karena aku menganggap dia sebagai 'Tuhanku', tapi karena sebagai kepala keluarga, dia adalah 'imam' dan spiritual leader keluarga yang bertugas membawaku (dan anak-anak kami) dalam untuk menghampiri tahta Tuhan.

Biasanya yach, kita kalo lagi ada masalah terkadang berpikir, "Ah, gak perlu share ama suami deh. Kasian, dia kan lagi banyak pikiran juga di tempat kerja. Lagi capek baru abis pelayanan tujuh hari tujuh malem, dll~". Jadi kita memilih untuk gak share masalah kita ke suami. Kita curhat deh ke teman dekat kita yang lain. Nah, kebayang gak kalo suami kita one day finds out that we had a problem but we never had the respect and trust to share it with him, malah lebih memilih curhat ke orang lain? Kalo aku sih yach, terus terang, kalo si Hans gak mau share ama aku when he has problems (walaupun alasannya karena aku lagi sakit atau aku lagi capek atau aku lagi banyak pikiran), aku pasti terluka banget. Aku pasti berpikir, "He doesn't trust me enough. He doesn't think that I love him enough to set aside my own problems and help him through his". I don't know about you, tapi kalo aku mikir gitu, sih. Nah, my point is setelah married kita harus punya batasan dengan siapa kita harus share our good or bad news first, dan apa aja yang boleh kita share waktu kita decide to share dengan orang lain.

There is a saying untuk cewek-cewek yang isinya adalah bahwa setelah menikah, janganlah sampai kita menelantarkan teman-teman kita. Aku setuju banget sama statement itu; tapi menurutku, setelah married kita pun harus punya batasan dengan teman-teman cewek kita (biarpun sohib karib sekalipun). Kalo masih pacaran, kita harus hati-hati supaya gak bergantung secara emosi dengan pacar kita. Setelah menikah, kita harus hati-hati supaya kita gak bergantung secara emosional dengan orang lain yang bukan suami kita. Kenapa? Because... kalo kita tergantung secara emosional dengan orang lain selain suami ato istri kita, that means we are heading towards emotional affairs! Yup! Apakah emotional affairs sama dengan perselingkuhan "normal"? Well... sama dan beda. 

Bedanya adalah... kebanyakan orang tidak melihat 'emotional affairs' sebagai sesuatu yang salah seperti perselingkuhan fisik. Kebanyakan orang malah gak sadar bahwa ada yang namanya emotional affairs. Persamaannya, emotional affairs bisa membawa pernikahan ke pintu perceraian juga. “Kok, bisa?” Sebagai wanita, kita tau bahwa letak kelemahan kita adalah di hati. Kalo ada yang baik sama kita, rasanya gimanaa gitu. Kalo ada yang bilang kita cantik, langsung terbang ke langit ke tujuh. Kalo ada yang dengerin keluh kesah kita, wahhh... rasanya dikasih perhatian, disayang, pokoknya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Betul?? Untuk banyak wanita (termasuk kita), apa yang membuat kita jatuh cinta adalah saat seorang pria menunjukkan perhatian lebih ke kita, apalagi waktu kita lagi ada masalah. 

Now imagine this: Kita ada masalah. Tapi bukannya share dengan suami, kita share dengan teman kerja. Satu dua kali mungkin gak masalah. Tapi it builds up, you know. Lama-lama kita ngerasa, “Koq si A lebih ngertiin aku yach daripada suami aku?". Ya iyalahhh... a marriage is built on trust, respect, love, and guess what? COMMUNICATION! Kalo dalam pernikahan gak ada komunikasi, itu bukan suami ato istri namanya... tapi roomates! Inget ini: dari komunikasi, lahir trust... dari trust, lahir respect and love... dari respect and love, lahir closeness... dari closeness, lahir keintiman. Emotional closeness baru bisa dicapai kalo suami istri terbuka satu sama lain dan mau berjuang bersama untuk membangun komunikasi. Bukannya malah membangun emotional closeness ama orang lain, bahkan dengan teman dekat sekalipun.

Tau film “Sex and The City”, kan? Aku gak pernah nonton serialnya di TV sih, tapi waktu itu aku penasaran trus aku nonton filmnya. One thing that's great about the movie is that mereka 4 cewek ini stick by each other through thick and thin. Tapi, yang gak bagusnya apa? Mereka berempat ini have "emotional affairs" with each other. Kalo ada apa-apa mereka larinya ke teman-teman, bukan ke suami. Mengeluhkan tentang suami ke teman-teman. They are so depended on each other emotionally sehingga bagi mereka, persahabatan mereka jauh lebih penting daripada pernikahan mereka.

Girls, akan ada orang-orang yang berkata kepadamu bahwa setelah married pun persahabatan kita harus sama pentingnya dengan pernikahan kita, atau bahkan lebih penting daripada pernikahan kita. Kan, kita udah kenal teman-teman kita lebih lama daripada kita kenal suami kita. Nobody understands us better than our girlfriends, right? It’s not true! Orang-orang yang gak kenal Tuhan mungkin akan memberitahumu bahwa hubungan suami istri itu baru sehat kalo kita GAK share semuanya dengan suami kita. Mungkin ada orang-orang yang berpikir bahwa, “Kalo aku share segala hal ke suami, aku jadi rentan terluka karena dia.”

Yes, waktu kita share semua detail kehidupan kita dengan suami, kita jadi rentan. Suami bisa pake semua informasi yang udah kita share dengannya untuk menyakiti kita, tapi inget ini juga: waktu kita menikah, kita berjanji to love, to cherish, to respect, to TRUST. Remember, dari trust nantinya akan lahir intimacy. Kalo kita lebih memilih untuk mempercayai orang lain dengan pikiran dan perasaan kita, itu artinya kita lebih memilih untuk memiliki intimasi emosi dengan orang lain daripada dengan suami sendiri. That, my friends, is an emotional affair. And guess what? Emotional affair adalah sama salah dan berdosanya dengan perselingkuhan fisik karena Tuhan BENCI perzinahan!

Jangan berzinah
Keluaran 20 : 14

Siapa melakukan zinah tidak berakal budi, 
orang yang berbuat demikian merusak diri
Amsal 6 : 32

Tuhan sangat amat menghormati pernikahan. Ingat Kejadian 2 : 24?

Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya menjadi satu daging.
Kejadian 2:24

Rancangan pernikahan dari Tuhan adalah rancangan yang super indah, Ladies. He wants us to be one with our spouse, He wants us to be one team, and He doesn't want anything or anyone to separate us! Pernikahan adalah cermin dari hubungan Tuhan Yesus Kristus dan umat-Nya... cermin dari hubungan di mana kita memberikan keseluruhan diri kita secara total kepada Tuhan kita. Begitu jugalah pernikahan orang percaya, yaitu pernikahan di mana kita memberikan diri kita secara completely, totally, and fully-emotionally and physically- kepada pasangan kita.

Okay, kita lanjutin di post berikutnya, ya :) Stay tuned!

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^