Monday, March 2, 2015

Becoming Like Noah

by Mekar A. Pradipta

Di post kali ini, kita akan sama-sama merenungkan kehidupan Nuh. Nuh sendiri adalah salah satu teladan iman yang namanya tertulis dalam perikop mengenai iman di Galatia 11. Alkitab mencatatnya sebagai seorang pria yang mendapat kasih karunia di mata Tuhan (Kejadian 6:8). Dari kehidupan Nuh, kita bisa belajar mengenai karakter/sikap hidup yang menyenangkan Allah, yaitu:


1. Kudus
 Allah ingin kita kudus, karena Dia adalah Allah yang kudus (I Petrus 1:16). Cara hidup kita menentukan apakah Allah disenangkan atau tidak. Tidak heran Efesus 5:15 memperingatkan kita untuk memperhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup. Hidup yang menyenangkan Allah, tentu saja adalah hidup yang kudus sesuai standar Firman Tuhan. Sepanjang hidupnya, Nuh telah hidup dengan standar Firman, walaupun itu berarti dia harus menjadi ‘anomali’ di tengah masyarakat.

Pada zaman Nuh, bumi telah rusak dan penuh dengan kekerasan (Kej 6:11). Saking parahnya, timbul penyesalan di hati Allah sehingga Ia berencana memusnahkan bumi dengan air bah. Kondisi masyarakat dengan hidup yang rusak (Kej 6:12) ini berbanding terbalik dengan hidup Nuh. Disebutkan dalam Firman Tuhan bahwa Nuh hidup di tengah masyarakat yang kecenderungan hatinya selalu membuahkah kejahatan semata-mata (Kej 6:5). Namun, disebutkan pula bahwa Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang- orang sezamannya (Kej 9:1). Banyak orang bilang, di tengah dunia yang kondisinya semakin jauh dari standar Firman Allah, hidup kudus adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Tapi Nuh melakukannya.

2. Taat
Saat Allah memberi perintah yang tidak masuk akal, Nuh taat. Membaca kisah hidup Nuh di Kejadian 6 sampai dengan Kejadian 9, kita tidak akan menemukan respon negatif Nuh terhadap perintah Allah. Ia tidak mengajukan serangkaian kata ‘tapi’ untuk memprotes rencana Allah. Bahkan saat Allah menyuruhnya membuat bahtera, dengan detail-detail rumit dan penuh aturan, respon Nuh cuma satu: Nuh melakukan semuanya itu, tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya (Kej 6:22)

Kadang kita beranggapan bahwa Allah sering menyuruh kita melakukan hal-hal yang sulit dan tidak masuk akal. Namun, Ia sendiri menjamin bahwa perintah yang Ia sampaikan kepada kita tidaklah terlalu sukar (Ulangan 30:11). Taat bukanlah soal sukar atau tidak, mustahil atau tidak. Taat adalah perkara apakah hati kita mau atau tidak. Dari Nuh, kita bisa belajar, bahwa kita seharusnya memberikan ketaatan yang utuh kepada Allah. Bayangkan, kalau misalnya Nuh membuat bahtera Allah secara asal, tanpa mengikuti ukuran-ukuran yang diberikan oleh Allah, bisa dipastikan bahtera yang ia buat tidak akan bertahan di tengah air bah. Kita seharusnya taat dalam segala hal dan dalam segala keadaan. Ketaatan yang tidak seratus persen sama artinya dengan ketidaktaatan.

3. Bergaul dengan Allah
Dalam kejadian 6:9, Nuh disebutkan sebagai pria yang hidupnya bergaul dengan Allah. Berbagai tuntutan kehidupan bisa saja membuat kita sibuk setiap hari. Namun, belajar dari Nuh, kunci untuk dapat bergaul dengan Allah adalah banyak melewatkan waktu di hadiratnya. W aktu-waktu teduh dala m doa, pembacaan kitab suci, serta pujian dan penyembahan seharusnya menjadi prioritas kita. Saat Nuh keluar dari bahtera, hal pertama yang ia lakukan adalah membangun mezbah dan mempersembahkan korban bakaran (Kej 8:20). Ia tahu bahwa ia perlu mengawali segala sesuatu dengan datang kepada Allah.

Bergaul dengan Allah membuat kita bisa mengenal Allah. Sekarang kita tahu kenapa Nuh bisa memiliki iman yang demikian besar, untuk taat, sesuai dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan (Ibr 11:7). Jawabannya cuma satu, karena Nuh mengenal siapa Allahnya. Ia tahu bahwa Allah tidak pernah berdusta. Ia tahu bahwa Firman Allah adalah benar. Ia tahu bahwa saat Allah memberi perintah maka Ia juga yang akan memampukan. Pengenalan akan Allah memberi Nuh pondasi yang kuat untuk dapat hidup benar dan taat di hadapan Allah.

***
Ketika Nuh hidup kudus, taat dan bergaul dengan Allah, kita tidak benar-benar tahu seperti apa respon orang-orang di sekeliling Nuh pada saat itu. Selama ini kita bisa menganggap Nuh ditertawakan, dianggap aneh atau bahkan dikucilkan. Tapi, Alkitab sebenarnya tidak menyebutkan semua hal itu. Hal ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya ini adalah tentang kita dan Allah.

Dunia bisa saja tidak memberi kita alasan untuk hidup benar, tapi Allah seharusnya jadi satu- satunya alasan kita. Dunia bisa saja menyepelekan kita karena kebenaran yang kita hidupi, tapi pada akhirnya ini adalah tentang pendapat Allah mengenai kita. Dan Allah telah memberikan pendapatnya mengenai Nuh, “sebab Engkaulah yang Kulihat benar di hadapanKu di antara orang zaman ini.” (Kej 7:1)

Saat ini kita diperhadapkan pada dua pilihan, membangkitkan penyesalan di hati Allah seperti orang-orang yang sejaman dengan Nuh, atau mengukir senyum di wajah Allah seperti yang telah dilakukan oleh Nuh. Orang-orang pada jaman Nuh lebih memilih untuk mendukakan hati Allah dan menuai penghukuman, namun Nuh telah menghabiskan hidupnya untuk menyenangkan hati Allah, dan karena itu ia mendapatkan kasih karunia. Sikap hidup kita menunjukkan yang mana pilihan kita.

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^