Monday, June 29, 2020

Para Penggarap Kebun



by Yunie Sutanto

"Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain.
(Matius 21:33-35 / TB)


(Sebelum kita mulai, ada baiknya Pearlians membaca perikop Matius 21:33-46 terlebih dahulu)


Perumpamaan Penggarap Kebun Anggur sejatinya ditujukan Yesus bagi orang-orang Farisi, para ahli Taurat dan tua-tua Israel masa itu. Israel, yang notabene umat pilihan-Nya, telah dikhususkan oleh Allah untuk menggarap sebuah rencana illahi. Namun, merekalah yang justru menolak nabi-nabi utusan-Nya, dan bahkan saat Anak-Nya sendiri diutus untuk menggenapi rencana ilahi tersebut, mereka malah menyalibkan-Nya. Mereka digambarkan seperti para penggarap kebun yang menolak hamba-hamba utusan tuan tanah.

Saat tuan tanah pemilik kebun anggur itu tahu apa yang diperbuat penggarap-penggarap kebun anggur terhadap hamba-hambanya serta anaknya, apakah yang akan dilakukannya terhadap penggarap-penggarap itu? Maka Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan bertanggungjawab untuk menyerahkan hasil kebun pada waktunya. 

Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu. Sebab jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka. 
(Roma 11:11-12 / TB)

Saat rencana ilahi-Nya disambut dengan penolakan Israel, Allah mempersiapkan skenario lain. Kini, bangsa-bangsa lain pun beroleh kesempatan ikut menggarap kebun anggur rencana ilahi-Nya. Ada anugerah tersendiri bagi kita yang terpilih untuk percaya kepada Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat!

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.
(1 Petrus 2:9-10 / TB)


Marilah kita renungkan perumpamaan ini secara lebih kontekstual. 

Perumpamaan ini mengingatkan tentang tanggung jawab menggarap dan mengelola titipan ilahi. Perumpamaan ini mengajar kita sebagai umat-Nya bahwa kita adalah penggarap-penggarap kebun anggur-Nya. Ada tugas yang dipercayakan-Nya bagi kita, umat pilihan-Nya. Ada amanat Agung yang dititipkan untuk kita garap sampai musimnya tiba, saat Yesus datang kembali untuk kedua kalinya. 

Saat menyewakan kebunnya, sang tuan tanah mempercayakan pengelolaan kebun anggurnya pada para penggarap-penggarap kebun anggur. Ia pun bisa tenang berangkat ke negeri lain, sebab ia tahu kebun anggurnya sudah ada yang mengurus. Ia tinggal menunggu hasil panen anggur pada musimnya.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
(Yohanes 15:16 / TB)

Buah yang dihasilkan karena menggarap titipan ilahi, inilah yang Tuhan Yesus nantikan dari umat pilihan-Nya. Buah yang dihasilkan ini adalah untuk dipersembahkan bagi kemuliaan-Nya.


// MINDSET PENGGARAP VS MINDSET PEMILIK

Saya teringat curhat seorang ibu yang menyewa mainan rumah-rumahan untuk anaknya. Masa sewa mainan tersebut 1 bulan, boleh diperpanjang jika tidak ada peminat lain. Rupanya sebulan berlalu dengan cepat bagi si bocah. Ia sudah merasa terbiasa dengan adanya mainan rumah-rumahan tersebut. Saat tiba waktunya dikembalikan, ia meronta-ronta marah dan berujung tantrum. Mirip dengan si penggarap kebun anggur yang menolak memberikan hasil kebun anggur kepada tuan tanah, anak ini merasa memiliki mainan tersebut. 

Mindset seorang penggarap (baca: pengelola) adalah menyadari bahwa yang ia kelola hanyalah titipan yang harus dikembalikan. Masalah timbul jika si penggarap mempunyai mindset pemilik. Ia merasa memiliki dan berhak atas titipan tersebut. 

Hidup ini adalah titipan. Saat masanya tiba, bukankah kita pun akan diminta pertanggungjawaban oleh Sang Empunya Hidup, yakni Allah? 

Hidup di dunia ini ada batas waktunya. Apapun yang dipinjamkan kepada kita, ada masanya untuk dikembalikan pada Sang Pemilik, yakni Allah. 
  • Talenta yang dipercayakan pada kita, sudahkah kita kembangkan dengan maksimal?
  • Tubuh yang dianugerahkan pada kita, sudahkah kita rawat dengan baik? 
  • Harta yang dititipkan pada kita, sudahkah kita kelola dengan bijak?
  • Keluarga dimana kita dilahirkan dan ditempatkan, sudahkah kita kasihi sebagaimana mestinya? 
  • Anak yang dititipkan oleh-Nya untuk diasuh dan dibesarkan, sudahkah kita didik dalam kebenaran? 
  • Pasangan hidup yang ia percayakan untuk mendampingi kita, sudahkah kita kasihi seperti yang Tuhan kehendaki?
  • Begitu luasnya kebun anggur yang Dia percayakan dalam hidup kita, bukan?
Allah ingin kita memiliki mindset penggarap kebun anggur yang "tahu diri" dan bisa dipercaya. Penggarap yang selalu ingat bahwa kebun anggur kita hanya dipinjamkan untuk dikelola sebaik-baiknya bagi kemuliaan-Nya.

Kiranya kita dengan setia menggarap kebun anggur yang dipercayakan-Nya, hingga kebun Anggur kita berbuah lebat bagi kemuliaan Tuhan. Sebab buah-buah tak pernah berdusta. Dari buah-buah kehidupan kitalah, Allah mengenal kita. Dari buah-buah kita pula, Allah kita dikenal.

Mari terus menghasilkan buah bagi kemuliaan-Nya!

Monday, June 22, 2020

Menjadi Domba yang Dengar-dengaran pada Sang Gembala

oleh Benita Vida

Pernah dengar perumpamaan domba yang hilang? Pasti sudah sering sekali ya, bahkan sudah hafal ceritanya. Setidaknya kita mendengar atau membacanya satu kali—entah itu saat masih menjadi anak sekolah Minggu, maupun dari khotbah di kebaktian. Dari situ kita tahu bahwa “domba” itu adalah manusia yang tersesat dalam dosa, dan “gembala yang baik” adalah Tuhan sendiri. Kita juga sudah paham bahwa perumpamaan ini menegaskan bahwa Allah sangat mengasihi kita—bahkan Dia mencari sedemikian rupa hingga seekor domba yang hilang (yaitu kita) itu ditemukan-Nya. Setelah menemukan si domba, gembala itu (yaitu Allah) akan membuat pesta besar; artinya, surga bergembira karena “ada satu orang yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Lukas 15:7)

Tapi kali ini, mari kita melihat perumpamaan ini dari cara pandang lain.

Sebagai domba yang sangat dikasihi, kita sering terhilang—bukan cuma satu kali, tapi berkali-kali. Salah satu penyebabnya adalah kita tidak dengar-dengaran dengan gembala kita yaitu Tuhan. Kadang-kadang rasa ingin tahu kita lebih besar daripada ketaatan kita, sehingga hal itu membuat kita keluar dari jalan yang sudah Allah tetapkan. Hmm… Seberapa sering kita berlaku seperti ini? Walaupun merasa sudah tahu apa yang menyenangkan hati Bapa, tapi kita tidak bisa memungkiri bahwa ada keinginan untuk berjalan dengan cara yang berbeda dari rencana Allah. Akibatnya, kita tidak mendengarkan pesan maupun perintah dari Sang Gembala dengan baik. Bukannya menemukan jalan yang diinginkan, kita justru lebih sering tersesat, bukan? Perjalanan menuju “padang berumput hijau” yang kita bayangkan ternyata tidak seindah itu.

Rasa ingin tahu berubah menjadi rasa takut.

Kita terhilang dan merasa tidak bisa menemukan jalan lagi.

Kita “dipaksa” untuk menelan kenyataan bahwa kita sendirian di jalan yang suram itu.

Meski kita berulang kali mengabaikan firman-Nya, Allah tidak tinggal diam. Dia tetap mencari sampai menemukan kita, karena kesetiaan dan kasih-Nya yang sangat besar. Tanpa disadari, sebenarnya Allah sudah memanggil—bahkan memperingatkan—kita yang mulai melangkah di luar jalur-Nya. Sayangnya, kitalah yang sering tidak menangkap sinyal yang Allah berikan, karena kita merasa bahwa jalan yang kita pilih lebih baik dan lebih menjanjikan.

Yah, tidak ada seorangpun yang menyukai ketidakpastian. Sebaliknya, kita membutuhkan kepastian mengenai masa depan, jaminan bahwa penyakit yang diderita akan sembuh, dan sebagainya. Masalahnya adalah… hidup ini selalu memiliki ruang untuk ketidakpastian; segala sesuatu bisa berubah dalam hitungan detik. Inilah yang membuat kita menjadi gelisah dan selalu mencari cara untuk bisa mendapatkan kepastian atas keingintahuan kita. Kapasitas logika yang terbatas membuat kita menilai bahwa jalan maupun tempat yang sudah Allah sediakan justru tidak menjamin apa yang dibutuhkan—saking tampak tidak masuk akal bagi kita untuk memperolehnya.

Padahal di sisi lain, Allah tetap menetapkan cerita kehidupan bagi kita dengan cara-Nya yang unik, dan ini mempertegas sifat-Nya sebagai Pribadi yang kreatif. Artinya, apa yang orang lain lalui maupun cara yang mereka gunakan untuk berhasil belum tentu harus juga kita lakukan ketika menghadapi pergumulan yang sama. Tapi yah… karena kita ingin segala sesuatunya bisa terselesaikan secara instan, kalau melihat orang lain berhasil, kita langsung ingin melakukan hal yang sama tanpa melalui proses terlebih dahulu. Mungkin kita pernah berpikir bahwa pergumulan yang dihadapi saat ini adalah bentuk hukuman Allah, karena kita tidak mendengar dan menaati firman-Nya. Namun tidak demikian dengan apa yang Allah katakan:

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
(Yeremia 29:11)

Konteks Yeremia 29:1-23 adalah tentang firman Tuhan bagi orang-orang Yehuda yang dibuang ke Babel, karena mereka menyembah berhala dan menyeleweng dari hukum Taurat lainnya pada masa kerajaan-kerajaan sebelumnya. Sebagai bentuk hukuman-Nya, Allah membuang mereka ke Babel selama 70 tahun—namun nantinya akan memulangkan mereka ke Yerusalem lagi. See? Walaupun kita merasa diperlakukan dengan kejam, sebenarnya Allah tidak akan merancangkan sesuatu yang jahat bagi kita. Bahkan apa yang tampak buruk saat ini bisa saja menjadi berkat di kemudian hari... dan itu semua hanya karena anugerah-Nya.

Allah adalah Pribadi yang mencintai proses, karena tanpa proses hasil seindah apapun akan runtuh dalam sekejap. Kita bisa melihat penggambarannya dari tukang keramik. Ketika melihat ada bagian yang kurang baik, dia tidak akan segan untuk memecahkan keramik itu—bahkan kalaupun keramik itu hampir jadi! Kalau kita diumpamakan sebagai keramik, mungkin kita akan merasa si tukang adalah orang yang plin-plan, bukan? Namun dia melakukannya karena ingin keramiknya menjadi sesuatu yang berharga setelah melalui proses pembentukan, pembakaran, hingga pewarnaan. Begitu pula yang Allah lakukan bagi kita: Dia ingin agar kita menghargai proses. Bukannya tidak bisa memberikan yang kita mau dengan segera, bukan juga karena tidak mau melihat hidup kita bahagia, tapi Tuhan seolah-olah membuat kita berputar-putar dalam proses agar kita menikmati hasilnya di kemudian hari. Kapankah itu? Tidak ada yang tahu. Tapi satu hal yang harus kita pegang adalah… “Tuhan tidak meninggalkan kita dalam perjalanan iman ini.”

Ironisnya, sekali lagi, kita—sebagai manusia—sangat menyukai segala sesuatu yang instan. Kita ingin apapun bisa tersedia sesegera mungkin. Misalnya saja makanan instan maupun cepat saji, atau nilai yang baik tapi tidak mau belajar, atau ingin sukses tapi tidak mau belajar dari nol, dan sebagainya. Akibatnya, kita menjadi sangat tidak betah diam dalam proses yang Allah berikan, dan tidak bisa berjalan di dalam jalan yang Tuhan sudah tetapkan karena menurut kita ada jalan dan cara yang lebih cepat. Lagipula, kalau ada jalan yang seperti itu, kenapa kita harus melalui penderitaan dan ketidaknyamanan ini? Bukannya kita adalah domba yang dikasihi-Nya?

Pikiran-pikiran seperti itu membuat kita mempertanyakan banyak hal tentang kehendak Allah. “Apa sih, yang dipikirkan Allah waktu kasih penyakit ini?”, “Kenapa jalan-Nya nggak jelas banget? Padahal aku udah rajin baca Alkitab dan doa, lho!”, dan masih ada banyak pertanyaan yang membuat kita ragu-ragu akan kasih setia Allah ketika kita mengalami pergumulan. Well, Pearlians, keraguan memang bisa datang kapan saja. Namun saat kita tidak bisa melihat jalan yang Allah berikan, saat kita tidak mengerti isi pikiran dan rencana-Nya, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah memercayai hati-Nya—hati yang mengasihi kita lebih dari apapun. Bukankah setiap kali kamu tersesat dan terhilang, Dia selalu datang dan membawamu kembali? Bukankah Dia yang mati untuk menebusmu—dalam diri Yesus Kristus? Bukankah kita adalah milik-Nya yang berharga?

“Teorinya emang gitu. Tapi kenapa Allah kayak diem aja kalau tahu kita ini udah bosen sama penantian yang nggak jelas gini!”

“Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”
(Yesaya 30:15)

Ya, tinggallah tenang dan percaya dalam hadirat-Nya, tapi jangan lupa untuk membuka telinga dan hati ini. Allah bisa berbicara melalui apapun, namun ketika momen itu tiba, kita perlu menenangkan diri agar dapat berdoa. Tanpa doa, yang adalah napas kehidupan bagi orang percaya, komunikasi kita juga akan terputus dari-Nya.

Kita juga perlu mengakui bahwa ketidakinginan untuk mendengar dan taat kepada Allah justru membuat proses yang dialami juga semakin panjang. Kadang-kadang ada perasaan yang mengatakan bahwa seharusnya kita sudah melalui proses ini. Tapi karena kita terus-menerus tidak mau mendengar, Allah seakan membuat kita harus mengulang proses yang sama sampai kita menyelesaikannya. Mungkin rasanya pergumulan kita terlalu panjang dan melelahkan untuk dilalui. Mungkin kita juga harus dihancurkan berkali-kali untuk melalui pergumulan itu. Tapi kabar baiknya: kita tidak sendirian karena Allah beserta kita. Bukankah lebih baik melalui proses yang terlihat melelahkan ini bersama Allah daripada kita berjalan sendiri di dalam apa yang kita anggap baik? Ketika berjalan bersama Allah, apa yang hilang dalam proses yang kita alami akan digantikan-Nya dengan yang lebih baik; apa yang hancur dari kita akan dipulihkan-Nya; kita akan menerima untuk memberi, kita akan diberkati lebih dari yang bisa dibayangkan untuk menjadi berkat.

Semuanya itu hanya bisa terjadi ketika kita memiliki hati yang mau untuk mendengarkan dan menaati apa yang Allah katakan, dan mengasah kepekaan terhadap suara Roh Kudus ketika kita menghadapi sebuah pergumulan. Seperti domba yang pasti mengenal suara gembalanya dan tidak akan peduli dengan suara lain selain suara gembalanya, mari kita menjadi domba-domba Allah yang selalu memasang telinga kita akan apa yang mau Tuhan sampaikan. He can speak to each of us personally in many ways. Selamat menikmati prosesmu bersama-Nya, Pearlians, sampai kita sama-sama menjadi sesuai dengan apa yang di dalam pikiran Allah ketika kita lahir di dalam hati-Nya.

Monday, June 15, 2020

Serupa tapi Tak Sama


by Yunie Sutanto

"Awas uang palsu!" demikian tertera tulisan besar di etalase toko pulsa langganan saya. Persis di sebelah tulisan tersebut, dipajanglah uang kertas palsu yang mirip sekali dengan uang asli. Saya sulit membedakannya. Kasihan juga karena si penjual pulsa itu tertipu oleh uang palsu yang berhasil mengecohnya.

Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa ya kok, uang palsu itu bisa eksis? Tentu saja karena ada uang yang asli. Bukan hanya uang; barang tiruan itu bisa laku karena orang mendapat kesan bahwa barang tersebut mirip sekali dengan yang asli. Sebut sajalah tas tiruan (bahkan ada tiruan KW 1, KW 2, dan seterusnya) dan lukisan replika asli. Padahal kalau kita jeli mengamatinya, mana yang asli dan yang tiruan itu tidaklah sama—meskipun kedua tampak serupa.

Begitu pula yang ditekankan oleh Yesus mengenai orang-orang yang mengikut-Nya.

“Eh? Memangnya ada pengikut Kristus KW?”

Nah, untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita membaca Matius 13:24-30 terlebih dulu:

"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?

Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?

Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."


Dalam perumpamaan di atas, kita bisa mengetahui bahwa gandum asli dan “gandum palsu” (alias si lalang) memang serupa, tetapi tak sama! Jika gandum (Triticum aestivum) adalah sumber pangan penting (khususnya bagi orang Ibrani), maka lalang (Lolium temulentum) adalah sejenis gulma—yang justru menghalangi pertumbuhan tanaman yang tumbuh di tempat yang sama dengannya. Jika gandum—yang merupakan sumber asupan karbohidrat—bisa diolah menjadi roti dan minuman (melalui proses fermentasi), maka lalang justru dianggap sebagai tanaman liar—bahkan sering disebut “false wheat” (gandum palsu). Sayangnya, hanya waktu yang bisa menunjukkan mana yang adalah gandum dan lalang itu. Perbedaan keduanya baru kelihatan ketika bulir-bulirnya mulai muncul. Bulir gandum lebih bernas (penuh) dan ketika matang warnanya kecokelatan, sedangkan lalang tampak lebih kurus dan saat matang warnanya kehitaman.

Coba bayangkan jika kita menjadi petani gandum. Setelah menabur benih-benih gandum terbaik dan menggemburkan tanah agar cocok untuk media tanamnya, lantas apa yang kita harapkan? Tentunya sebagai petani, kita ingin menikmati hasil panen berupa gandum yang berkualitas terbaik! Plus, kita juga tidak ingin ada serangan hama maupun gulma, bukan? Tapi siapa sangka… Saat sedang tidur lelap, ternyata ada musuh yang menabur benih lalang! Karena itu, ketika benih-benih gandum mulai berbulir, tampak pula banyak lalang!

Nah, kembali ke bacaan kita di atas… Bagaimana tanggapan sang pemilik ladang saat hamba-hambanya hendak mencabuti lalang-lalang tersebut? Ternyata sang tuan yang bijak menyuruh membiarkan keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai! Sabar banget, ya? Tapi kenapa harus menunggu kalau memang sudah diketahui bahwa ada lalang di situ? Bukannya akan lebih baik kalau lalang tersebut segera dicabut sehingga tidak mengganggu pertumbuhan gandum? Nah, pemilik ladang ini menjelaskan bahwa ada kemungkinan akar gandum (yang benar-benar gandum) juga ikut tercabut bersama dengan lalangnya. Dengan demikian, dia memerintahkan agar para hambanya menunggu hingga musim menuai tiba untuk mencabut lalang terlebih dulu, lalu barulah mereka memanen gandum mereka.


Mungkin seperti itu pula yang kita alami di dalam menghadapi orang-orang tertentu.


Kita cenderung mudah untuk berprasangka buruk pada orang lain. Lagipula, geregetan rasanya kalau melihat ada “lalang” yang mengganggu kita. Saking geregetan-nya, kita ingin mengekspos orang—yang kita ketahui—sedang jatuh dalam dosa. Bahkan mungkin kita tidak segan untuk keluar dari komunitas yang sedang disorot karena ada skandal di dalamnya. Pokoknya, harus ada solusi instan untuk membereskan “si lalang”—karena kita tidak ingin terganggu olehnya!

Tapi tunggu… sebenarnya apa sih, makna yang ingin disampaikan Yesus dalam perumpamaan ini? Nah, Yesus menjelaskan makna ini kepada para murid-Nya—seperti yang bisa kita baca dari Matius 13:36-43:

Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu."

Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"


Di hari-hari terakhir inilah, bulir “gandum” mulai nampak dan bisa dibedakan dari bulir “lalang”.


"Awas, nabi palsu!" demikian seruan untuk waspada di antara jemaat-Nya, apalagi di masa sekarang. Well, pada akhirnya, kedok serigala berbulu domba akan terbongkar—meskipun tidak ada yang tahu kapan semuanya akan benar-benar tersingkap. Namun sebelum itupun, kita bisa melihatnya melalui buah kehidupannya. Tapi jangan lupa: bukan hanya menilai orang lain, kita juga harus berani mengevaluasi kualitas kehidupan kita (yang mengaku sebagai pengikut Kristus), “Apakah kualitas kehidupan rohaniku saat ini sudah menunjukkan karakter Kristus, sang pemilik ladang itu? Atau jangan-jangan ternyata aku nyaman dengan peranku sebagai “lalang” yang mengganggu pertumbuhan iman orang lain?”

Mengevaluasi diri sendiri bukanlah hal yang bisa dilakukan secara instan, Pearlians. Kita memerlukan waktu untuk benar-benar men-digest terhadap hal-hal yang—mungkin—selama ini kita abaikan saking terbiasanya. But at least, kita perlu bersyukur karena melalui pandemi Covid-19 (yang saat ini sedang melambatkan laju kehidupan), kita memiliki kesempatan untuk merenungkan sisi-sisi kehidupan yang selama ini kita tutupi—namun akhirnya mulai terlihat.

Apakah pandemi ini membuat kita lebih rajin membagikan (bahkan membuat) berita atau reshare feeds yang meresahkan hingga menyulut permasalahan?

Apakah pandemi ini membuat kita jadi lebih sering bertengkar dengan pasangan, padahal sebelumnya yang ada justru komunikasi yang minim di antara kita dengannya?

Apakah pandemi ini membuat kita semakin mudah marah pada anak yang sulit memahami pelajaran di sekolah?

Apakah pandemi ini membuat kita jadi malas untuk bersekutu dengan Tuhan—baik secara pribadi maupun komunal melalui ibadah (entah streaming atau media lainnya)?

Atau yang terjadi justru sebaliknya:

Kita semakin menyadari bahwa hidup ini adalah kesempatan yang harus digunakan untuk memuliakan dan menikmati Tuhan, baik melalui relasi pribadi dengan-Nya, orang lain, dan semua kegiatan yang kita lakukan—sekalipun itu adalah sesuatu yang kita anggap sederhana.


Time will show everything.


“Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”
(Wahyu 22:11)

Meski demikian, kita perlu mengingat bahwa yang bertugas memilah dan menilai siapa yang “gandum” dan “lalang” adalah para malaikat-Nya, bukan kita. Penghakiman adalah hak Tuhan semata. Bagian kita bukanlah untuk menunjuk dan menghakimi orang lain, “Oh, si ini ternyata nabi palsu, si ono rupanya serigala berbulu domba!”, tapi justru memastikan bahwa kita adalah “gandum” yang ditanam dan dikumpulkan untuk pekerjaan mulia-Nya.

Mari bersama-sama berjuang untuk memelihara kualitas “gandum” dalam diri kita, seperti yang Yesus katakan kepada para murid-Nya:

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
(Matius 5:38)

Monday, June 8, 2020

Perumpamaan Biji Sesawi


by Mekar Andaryani Pradipta

Setelah kita belajar tentang perumpamaan penabur di minggu lalu, kali ini kita akan membahas tentang perumpamaan biji sesawi.

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”
(Matius 13:31-32)

Kalau perumpamaan tentang penabur menitikberatkan pada tanah tempat benih ditanam, maka fokus perumpamaan biji sesawi adalah tentang benih yang ditanam. Apa yang bisa kita pelajari dari perumpamaan biji sesawi?
1. Benih menggambarkan tentang Kerajaan Sorga
sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
(Roma 14:17)

Dalam ayat pendek ini, Paulus sebenarnya menegaskan bahwa hidup yang dikendalikan oleh daging (dilambangkan oleh makanan dan minuman) berbeda dari hidup yang dikendalikan oleh Roh (hidup yang berdasarkan pada kebenaran, ditandai oleh damai sejahtera dan sukacita). Namun bukan berarti kebenaran itu berasal dari banyak “jalan”. Hal ini diungkapkan oleh Charles H. Spurgeon, “Alkitab tidak menulis kebenaran sebagai “truths” (kata benda jamak), melainkan “truth” (kata benda tunggal), karena memang hanya ada satu kebenaran yaitu kebenaran Allah.”

Jika demikian, dari mana kita bisa mengetahui kebenaran ini?

Pada mulanya adalah Firman; 
Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
(Yohanes 1:1)

Tidak ada tempat lain dimana kita bisa belajar mengenai kebenaran Allah—selain Firman-Nya—karena Firman Tuhan itu adalah Allah sendiri.

Menurut Spurgeon, kebenaran Allah seperti mata rantai, jika kita tidak percaya pada satu hal, maka itu berarti kita tidak percaya juga pada hal yang lain. Oleh karena itu, kita tidak bisa tebang pilih dalam mengimani Firman Tuhan, karena kebenaran di dalamnya adalah satu. Namun kita harus mengingat bahwa logika kita terbatas untuk memahami Firman-Nya. Itulah sebabnya kita tidak boleh asal menafsirkan dan memasukkannya sesuai dengan pengetahuan dan konteks diri sendiri (istilah kerennya, eisegesis). Padahal sering kali, apa yang tertulis di Alkitab justru memilki makna yang lebih dalam daripada yang hanya tampak melalui tulisannya secara harfiah. Dengan demikian, kita perlu menyadari keterbatasan untuk menyelami Firman Allah dan memohon hikmat-Nya untuk benar-benar memahami dan melakukan apa yang disampaikan-Nya.

2. Kebenaran Firman Tuhan adalah benih yang berharga
Sama seperti perumpamaan tentang penabur, perumpamaan biji sesawi juga menggambarkan tentang benih—alias kebenaran Firman Tuhan—yang ditaburkan. Pada perumpamaan ini, Yesus mengajar kita bahwa kebenaran Firman Tuhan seperti biji sesawi: kecil tapi tidak seharusnya dipandang remeh atau disia-siakan. Disadari atau tidak, sesederhana apapun itu, Firman-Nya sangat berharga untuk dilupakan begitu saja.

Di sisi lain, kadang-kadang ada keraguan untuk memenuhi hati dengan Firman (misalnya dengan membaca Firman Tuhan, menghafal ayat, atau menonton penjelasan tentang Alkitab). Bukannya langsung paham, kita justru semakin bingung dan merasa tampaknya sia-sia untuk mempelajari Firman-Nya. Apalagi jika orang-orang di sekitar kita berkata, “Untuk apa? Kamu mau jadi pendeta? Jangan sok suci, lah!” Tapi Yesus menguatkan kita, karena—seperti benih—Firman Tuhan yang kita tanam saat ini punya nilai untuk masa yang akan datang. Dia menginginkan hati kita yang teachable, hati yang mau diajar dan diasah agar menjadi semakin serupa dengan Kristus—meskipun prosesnya berbeda antara satu orang dengan yang lain. Siapa tahu, pengalaman dalam melalui masa pandemi ini (misalnya) membuat iman kita berakar lebih kuat di dalam-Nya, bahkan menjadi berkat bagi orang lain.

3. Apabila sudah tumbuh…
Kuncinya adalah pertumbuhan, dan pertumbuhan membutuhkan ketekunan.

Biji sesawi yang dimaksud dalam perumpamaan ini adalah mustard seed. Walaupun sangat kecil, namun biji ini bisa tumbuh menjadi pohon—yang kemudian menghasilkan biji-biji lain dalam jumlah yang berlipat kali ganda.

Yesus juga memakai biji sesawi untuk menggambarkan tentang iman,

“Jika kamu memiliki iman sebesar biji sesawi, kamu dapat memindahkan gunung”
(Matius 17:20)

Menarik sekali, karena dalam Roma 10:17 dikatakan bahwa “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Seperti apa yang disampaikan oleh Paulus dalam ayat tersebut, Tuhan juga menghendaki benih firman yang ditabur di hati kita tumbuh menjadi iman. Namun menariknya, Dia adalah Allah yang menghargai setiap kemajuan pertumbuhan kita. Pertumbuhan iman sekecil apapun, Ia apresiasi—bahkan Ia katakan sanggup memindahkan gunung. Well, tentu ini merupakan hiperbola, tapi yang dimaksudkan Yesus adalah apa yang kelihatannya tidak mungkin, bisa saja terjadi jika Tuhan menghendakinya.

Ketika membaca tentang raksasa-raksasa iman dalam dunia Kekristenan, mungkin kita bertanya-tanya, “Apakah kita bisa seperti mereka?” Tidak jarang, kita justru merasa iman kita tidak ada apa-apanya dibanding mereka sehingga kita berkata, “Ah, sepertinya tidak.” Setelah itu, kita merasa apa yang kita lakukan selama ini sia-sia. Padahal di mata Tuhan, tidak ada sekecil apapun upaya kita menumbuhkan benih sia-sia. Lagipula, serajin-rajinnya kita berinteraksi dengan Firman Tuhan, hanya Dialah yang memberikan pertumbuhan itu (1 Korintus 3:7-8). Bahkan, di perumpamaan tentang biji sesawi, Yesus belum membahas tentang multiplikasi; Dia baru berbicara tentang pohon yang membuat “burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” Sesederhana apapun dampak yang kita hasilkan dari pertumbuhan iman kita, Tuhan memperhitungkan itu semua.

Pearlians, di dalam Tuhan, tidak ada yang sia-sia. Di sepanjang Alkitab, Tuhan sering sekali memilih apa yang dianggap kecil dan tidak berharga bagi manusia, namun dipakai untuk kemuliaannya. Sebut saja: kota Betlehem yang kecil Ia pilih sebagai tempat kelahiran Yesus, atau bekal anak kecil Ia pakai untuk membuat mujizat. Oleh karena itu, dalam hari-hari yang sedang dan akan kita jalani (dengan berbagai adaptasi yang harus dilakukan), mari kita juga belajar untuk setia dan tekun dalam kebenaran. Meskipun pertumbuhan iman yang dialami seakan tidak ada artinya, namun Tuhan menghargainya dan ingin agar kita terus memeliharanya… hingga akhirnya iman kita berdampak sesuai dengan yang Tuhan kehendaki.

Monday, June 1, 2020

Perumpamaan Seorang Penabur


by Poppy Noviana

Menikmati waktu bersama keluarga dan #dirumahaja dulu merupakan normal baru yang hari-hari ini kita lakukan sejak pandemi Covid-19 terjadi. Pembatasan fisik dan sosial pun menjadi bentuk kedisiplinan yang dituntut dari kita sebagai pribadi yang mengasihi Allah melalui cara hidup yang patuh kepada pemerintah atau otoritas yang saat ini memimpin. Namun, jujur saja, kekhawatiran itu tetap hadir dan dirasakan, bukan hanya oleh anak Tuhan, namun hampir semua orang di seluruh dunia yang sadar dengan lingkungannya. Berangkat dari situasi tersebut, saya ingin mengajak para pembaca untuk melakukan tes kondisi hati, dan semoga artikel ini menolong kita tetap merawat tanah hati kita, menjaganya tetap subur dan tidak kehilangan tujuan untuk berbuah.

Pertama adalah menyadari kondisi tanah hatimu. Hal ini sangat membantu kita menyadari posisi kita saat ini, apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana caranya menggeser posisi menuju tanah hati yang subur. 



Nah... Warna ini menurutku mewakili kondisi hati yang terjadi pada kebanyakan orang percaya saat ini. Bukan saja karena masalah COVID-19, tapi ditambah kondisi sekeliling yang terdampak, sehingga tanah hatiku penuh kekhawatiran, kehilangan harapan, dan mengandung emosi negatif yang menguras energi. 

Siapa yang setuju dengan kondisi ini? Jika sepakat dengan saya, bersyukurlah kamu ngga sendirian, mari sama-sama kita kenali lebih jauh, how to deal with this situation?



// BLUE (benih di pinggir jalan):

Sadarilah bahwa perspektifmu saat ini belum tentu yang terbaik bagimu, namun perspektif Tuhan soal kehidupan tentu saja yang terbaik bagimu. Kenapa? Karena Ia yang menciptakanmu dan Ia selalu memulai segala sesuatu dari akhir untuk mengawali sebuah perjalanan, itu sebabnya mengapa Ia sudah memiliki rencana bagimu sejak engkau dikandung ibumu (Yeremia 1:5)

Benih yang jatuh di pinggir jalan seperti Firman Tuhan yang diberikan kepada orang-orang yang menerimanya sambil lalu. Pada kondisi ini, dibutuhkan kerendahan hati untuk mencari dia. Perspektif Tuhan tersedia di dalam Kitab-Nya, perlu ada komitmen untuk mau membaca dan merenungkan Firman-Nya, agar perkatan-Nya itu tidak hanya sekedar lewat di kehidupan kita.


// GREY (benih di tanah berbatu):

You get a heart for God by developing convictions. And you develop convictions by getting to know God’s word. 

Mengetahui dan menghidupi adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa saya mengetahui dirinya dicintai oleh orang lain, namun Ia tidak menghidupi rasa kelimpahan atas cinta itu dalam dirinya. Akibatnya, ia memiliki kebutuhan yang tidak terpenuhi dan menjadi perasaan tidak aman, seperti berpijak pada pasir yang rapuh, bukan batu karang yang teguh yaitu janji Tuhan yang pasti.

Sebentar saja Firman itu datang meneguhkannya namun kemudian ia melupakannya sehingga Firman itu berlalu dan tidak tumbuh dalam kehidupannya. Sayang sekali membuang waktu hanya untuk menyukai dan melupakan, bagaimana kalau kita mulai menyukai dan melakukan? Bukan ide yang buruk bukan? Sebab, percaya pada Tuhan dan menghidupi kepercayaan itu adalah pilihan terbaik yang pernah saya lakukan dalam hidup ini sampai hari ini. So why don’t we be doers of His words, instead of just knowing His Words?


// PINK (Benih di tengah semak duri):

You shall have no other gods before me.
(Exodus 20:3)

Apapun yang mendominasi hidupmu akhirnya akan menjadi allahmu. Semua waktu dan energimu akan berfokus padanya, apapun itu. Bisa saja kekhawatiran akan Covid-19, masa depan karena pemutusan hubungan kerja di kala pandemi ini, kehilangan harapan karena bisnismu tidak beroperasional lagi, atau apapun itu yang menjadi kendalamu hari-hari ini. Kalau memang kondisi hatimu seperti ini, at least terima dulu saja kondisinya dan mulai melihat ke atas. Layaknya sedang berada di dalam sumur yang gelap dan dalam, kamu hanya perlu melihat ke atas, meminta pertolongan kepada Allah yang memelihara kehidupanmu. No need to focus on the things you cannot control, Jesus' presence is a comfort for our soul – lirik dari lagu With You yang dinyanyikan oleh Elevation merupakan penguatan bagi saya secara pribadi dalam melalui masa pandemi ini.


Verse 1:
Beneath the surface
Of my anxious imagination
Beckons a calmness
That is found in You alone

It washes over
Every doubt, every imperfection
Jesus, Your presence
Is the comfort of my soul

Chorus:
There's nowhere I'd rather be
When You're singing over me
I just wanna be here with You

I'm lost in Your mystery
I'm found in Your love for me
I just wanna be here with You

Verse 2:
Here in the waiting
I won't worry about tomorrow
No need to focus
On the things I can't control

All my attention
On the wonder of this moment
Jesus, Your presence
Is the comfort of my soul

Bridge:
So let all that I am
Be consumed with who You are
All the glory of Your presence
What more could I ask for?


I hope we would be recharged again by this song!


// GREEN (Benih di tanah yang baik):

But solid food is for the mature, who by constant use have trained themselves to distinguish good from evil. Therefore let us move beyond the elementary teachings about Christ and be taken forward to maturity.
(Hebrews 5:14 - 6:1)

Tujuan percaya kepada Allah adalah menjadi semakin dewasa dan serupa dengan Dia. Orang yang hatinya sudah menjadi tanah yang baik adalah orang-orang yang sudah melatih dirinya. Firman yang selama ini mereka baca dan renungkan, telah menjadi panduan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Mereka telah kuat di dalam iman, sehingga si jahat, maupun kekhawatiran duniawi, tidak bisa lagi mencuri benih Firman dalam hati mereka. Pada level ini, yang diperlukan adalah konsistensi agar buah yang dihasilkan tetap. Penulis Kitab Ibrani mendorong kita agar kita tidak cepat puas dengan kondisi hati kita namun selalu punya kerinduan untuk selalu meningkatkan kapasitas diri. 

Dear Pearlians, di tahap manapun kondisi hatimu ada saat ini, Tuhan ada di sana, siap menolong kita naik tingkat. Ia mengijinkan tekanan, ujian, dan kadang air mata, supaya hati kita teruji dan kita semakin tekun dan bersungguh-sungguh mengikut Dia. Firman-Nya ada untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Firman itulah benih yang Ia tabur agar hidup kita berbuah, tugas kita adalah menyiapkan tanah untuk Firman itu tumbuh.

Saya berdoa agar dalam kondisi apapun, hati kita adalah tanah yang baik untuk menyambut benih-benih surgawi.

Monday, May 25, 2020

Nyata Tapi Tak Terlihat


by Benita Vida

Bulan ini kita merayakan kenaikan Yesus ke Sorga, suatu peristiwa dalam sejarah Kekristenan yang menyatakan bahwa Yesus berasal dari Sorga dan bahwa Dia sendiri adalah Allah. Tapi, bukan hanya peristiwa itu yang kita rayakan bulan Mei ini. Peristiwa lain yang tidak kalah luar biasa adalah turunnya Pribadi lain yang menggantikan posisi Yesus, sepuluh hari setelah kenaikan Yesus. Pribadi itu hadir dan bekerja bahkan hingga saat ini. Siapakah Dia? Ya, ROH KUDUS. Pribadi ini tak terlihat. Alkitab hanya mencatat wujud Roh Kudus terlihat sekali dalam bentuk lidah api yang turun ke atas kepala murid-murid saat sedang berkumpul dan berdoa. 

“Hanya karena sesuatu tak terlihat, tidak berarti sesuatu itu tidak nyata”, kalimat ini pernah muncul dalam salah satu film yang saya tonton. Saat mendengar kalimat ini, Tuhan menegur saya karena kadang saya sering melupakan Pribadi yang tidak terlihat itu. Kita adalah makhluk visual, kita cenderung mempercayai dan mengingat semua yang bisa kita lihat dan dengar, karena ini lah terkadang kita mudah menyerah dan putus asa dengan keadaan sekeliling kita karena kita tidak bisa melihat apa yang kita harapkan.

Kabar baiknya, setelah Yesus meninggalkan kita secara “fisik”, Dia mengerti kita tak pernah bisa sendiri. Dia mengutus Pribadi yang akan selalu ada bersama kita sesuai dengan janji-Nya di Matius 28:20 sebelum Ia naik ke Sorga. 

“… dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Siapa sih yang tidak pernah sedih? Siapa sih yang bisa melakukan segalanya tanpa ada bantuan orang lain? Siapa sih yang tidak butuh disemangati? Sekuat-kuatnya seorang manusia, pasti ada saat dimana dia butuh bersandar dan dikuatkan, butuh dihibur dan diberikan kata-kata penyemangat. Setelah kenaikan Yesus ke Sorga, mungkin murid-murid dalam keadaan galau bahkan kalut dan sedih karena seseorang yang selalu bersama mereka selama 3,5 tahun ini tidak lagi bersama mereka. Yesus sangat paham perasaan itu, perasaan kehilangan seseorang yang dekat. Karena itu, sejak awal Yesus menjanjikan Pribadi lain yang menggantikan-Nya menemani orang-orang terdekat-Nya. Pribadi yang akan menjadi seorang Penghibur. 

“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”
(Yohanes 16:7)

Datangnya Roh Kudus menjadi penghiburan bagi murid-murid yang ditinggalkan. Roh Kudus memang tidak terlihat secara fisik, tapi jauh dalam hati mereka, ada sukacita dan damai sejahtera karena Roh Kudus tinggal dan diam dalam hidup mereka. 

Ada banyak sekali cara menghibur. Penghiburan bisa datang dari diri sendiri dan orang lain. Ada orang yang terhibur hanya dengan makan makanan enak, ada yang terhibur dengan belanja di mall, ada juga yang terhibur dengan tidur seharian, dan lain-lain. Tapi terkadang dalam suatu keadaan tertentu, dimana seseorang sedang mengalami tekanan yang hebat, mereka butuh orang lain sebagai tempat bercerita dan berkeluh kesah. 

Tahukah kita kalau kita punya “Penghibur pribadi”? Kita punya satu Pribadi yang selalu bersama kita. Berbeda dengan orang lain yang tidak selalu punya waktu untuk kita, Roh Kudus selalu ada untuk kita dan selalu siap memberikan penghiburan. Penghiburan-Nya selalu tepat waktu dan kadang tidak pernah terlintas di pikiran kita. Saya ingat di tahun 2014, saat saya dalam proses pencarian kerja dan sudah 1 bulan belum dapat kerja, jujur saat itu sangat amat stres dan malu jika ada orang yang bertanya tentang pekerjaan saya. Di tengah kesedihan dan perasaan tertekan yang saya alami, Roh Kudus menghibur saya dengan memberikan saya seekor anjing yang sudah lama saya inginkan. Sederhana dan nampak seperti tidak ada hubungannya, tapi hal kecil ini mengingatkan saya ada Tuhan yang peduli dengan kerinduan hati saya.

Tahukah kamu, terkadang rasa stres, sedih, dan tertekan membuat kita tidak tenang? Ketika kita tidak tenang, kita menjadi sulit berdoa. Roh Kudus sangat paham akan hal itu, terkadang bisikan lembut membuat kita menjadi lebih tenang dan bisa berdoa. Ia terkadang mengingatkan kita tentang kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan membuat kita menyadari bahwa kita tidak perlu panik menghadapi hidup ini. Karena bukankah kita punya Allah yang hebat? Penghiburan tidak selalu harus membuat kita senang dan masalah kita selesai, kadang penghiburan cukup membuat kita menjadi lebih tenang sehingga kita bisa berpikir lebih jernih dan bertindak dengan hikmat. 

Daud berkata dalam Mazmur 94:19 

“Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.”

Dalam keadaan yang tidak menyenangkan dan dibandingkan dengan segala usaha yang bisa kita lakukan untuk menghibur diri sendiri atau orang lain, sesungguhnya penghiburan-Nya lah yang paling kita butuhkan. Tapi kadang kita lupa. Kita justru mencoba mencari segala cara supaya hati kita lebih tenang dan terhibur, padahal sesungguhnya yang perlu kita lakukan adalah meminta langsung dari Sang Sumber. 

Dalam keadaan pandemik seperti sekarang ini, semua media yang menyediakan penghiburan seperti hilang. Mall tutup, restoran tutup, taman bermain tutup. Kumpul-kumpul bersama teman-teman pun sulit. Kita hanya bisa diam di rumah. Siapa yang tidak pusing? Siapa yang sudah mulai bosan? Siapa yang sudah tertekan? Rasanya pasti sudah kehabisan cara untuk menyenangkan diri sendiri, tapi yuk ingat, Daud yang dalam keadaan tidak mengenakkan mencari Sumber Penghiburan itu sendiri. Percayakah kita akan keberadaan-Nya? Pekerjaan-Nya nyata sekalipun fisik-Nya tak terlihat, Penghibur yang Tuhan sediakan untuk kita, bahkan bukan hanya sebagai penghibur, Roh Kudus juga penolong dan pemimpin hidup kita. Mari kita buka hati dan terima Roh Kudus dalam hati kita, biarkan Dia bekerja bebas dalam hidup kita dan biar penghiburan-Nya nyata dalam setiap keadaan kita. 

Monday, May 18, 2020

Kenaikan-Nya Adalah Pengharapan


by Glory Ekasari

Selama saya jadi orang Kristen, peringatan kenaikan Tuhan Yesus ke surga biasanya kalah pamor dengan kematian dan kebangkitan-Nya, apalagi dibanding kelahiran-Nya. Padahal peristiwa ini sangat penting – saya tidak melebih-lebihkan.

Rencana Allah tidak selesai dengan kebangkitan Yesus. Rencana-Nya berlanjut dengan kenaikan Yesus, lalu kedatangan-Nya kembali ke dunia, dan seterusnya sampai pemerintahan kekal oleh Tuhan Yesus di seluruh dunia. Perjanjian Baru tidak berhenti di empat kitab pertama, tetapi sampai kitab Wahyu.

Ratusan tahun sebelum Yesus lahir, Daniel mendapat penglihatan yang dahsyat. Penglihatan ini dicatat dalam Daniel 7, dan highlight dari penglihatan Daniel adalah ayat 13-14, tentang Anak Manusia.

Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.
(Daniel 7:13-14)

Dua ayat ini sangat sarat makna, orang bisa bikin skripsi dari situ (serius lho). Dari sinilah asalnya gelar Anak Manusia yang dikenakan Yesus pada diri-Nya sendiri.

Ketika Yesus menyebut diri-Nya Anak Manusia di hadapan Mahkamah Yahudi, imam besar sangat marah dan Mahkamah langsung menjatuhi-Nya hukuman mati (Markus 1:62-64). Mengapa? Karena mereka tahu bahwa dengan menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia, Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Allah. Bagi orang Yahudi, ini berarti Yesus menghujat Allah.

Kapan Yesus, sebagai Anak Manusia, menerima segala kekuasaan dan kemuliaan di surga? Petrus memberikan jawaban:

“Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah.”
(Kisah Para Rasul 2:33)

Ayatnya kelihatannya simpel banget ya, sampai kita menyadari bahwa “di mana” memegang peranan penting untuk memecahkan misteri ini.

Posisi “kanan” dalam budaya Timur Tengah (termasuk dalam Alkitab) memiliki makna penting. Ketika kita membaca kalimat seperti, “Si A duduk di sebelah kanan raja Nebukadnezar,” misalnya, ini berarti A ikut memerintah sebagai raja bersama Nebukadnezar. Biasanya posisi “duduk di sebelah kanan raja” ini adalah untuk putera mahkota yang kelak akan menggantikan raja itu.

Demikian pula Yesus! Ketika dikatakan, “Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah,” itu berarti Dia diangkat menjadi Raja oleh Allah, didudukkan di sebelah kanan Allah, memerintah bersama Allah. Inilah yang terjadi dalam Daniel 7:13-14 tadi: Yesus menerima kemuliaan dari Bapa, dan kuasa untuk memerintah atas bangsa-bangsa. Di mana ini terjadi? Di surga. Kapan ini terjadi? Ketika Yesus naik ke surga!

Sekarang kita mengerti, mengapa kenaikan Yesus ke surga sangat penting. Dia harus naik ke surga, untuk menerima kemuliaan dan kuasa sebagai Raja atas segala raja, dan memerintah atas dunia ini bersama Bapa-Nya.

Apa yang menjadi dasar sehingga Yesus layak menerima kemuliaan dan kuasa? Tentu saja Dia memang adalah Allah. Tapi ‘kan Dia juga manusia, seperti kita? Untuk mendapat jawaban, kita beralih ke tulisan Paulus.

“Kristus Yesus . . . telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”
(Filipi 2:6-11)

Yesus layak menerima kemuliaan dan kuasa, karena itu semua memang milik-Nya sebelum Dia datang ke dunia sebagai manusia. Tetapi lebih dari itu, Dia membuat diri-Nya layak karena “dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati.” Alkitab berkali-kali menulis bahwa Allah mengasihani orang yang rendah hati dan akan mengangkat dia. Yang Yesus lakukan ini adalah kerendahan hati yang ultimate. Dia “mengosongkan diri”. Tidak ada manusia yang mau melakukan hal seperti itu, tapi itulah yang dilakukan Yesus.

Jadi, karena Dia telah merendahkan diri-Nya sampai mati, bahkan mati secara hina di kayu salib, maka Allah sangat meninggikan Dia. Bahkan Nama-Nya menjadi Nama di atas segala nama; seperti nama kaisar Romawi yang dicetak di uang, dipatri di cap surat-surat resmi, dsb. Asal ada nama kaisar, semua orang tunduk. Kehormatan dan kuasa yang diberikan kepada Nama Yesus jauh melebihi kaisar.

Pertanyaan terakhir adalah mengapa Yesus harus mengambil rupa sebagai manusia, begitu merendahkan diri, untuk menerima kemuliaan yang memang milik-Nya? Ada satu lagu yang sangat bagus dan menyentuh, yang liriknya berbunyi demikian:

Mengapa Yesus turun dari sorga,
masuk dunia gelap penuh cela?
Berdoa dan bergumul dalam taman,
cawan pahit pun diterima-Nya.
Mengapa Yesus menderita didera,
dan mahkota duri pun dipakai-Nya?
Mengapa Yesus mati bagi saya?
Kasih-Nya, ya, karena kasih-Nya.

Yang Yesus lakukan adalah menebus manusia. Menebus ini bukan hanya membayar hutang dosa kita dengan darah-Nya. Yesus, atas nama semua manusia yang percaya kepada-Nya, menerima kemuliaan dan kuasa sebagai Anak Manusia. Dia mengangkat kita, dari budak dosa, menjadi anak-anak Allah yang menjadi ahli waris bersama Dia. Semua ini bolak-balik dijelaskan oleh rasul Paulus, karena dia mengerti betapa berharganya apa yang Yesus lakukan bagi kita.

Tahukah teman-teman bahwa ketika Yesus menjadi manusia, tubuh-Nya itu Ia bawa selama-lamanya bersama-Nya? Dia tidak akan pernah melepaskan tubuh itu lagi. Sebesar itulah kasih-Nya bagi kita, sampai Dia bersedia berbagi keadaan sebagai manusia dengan kita, sampai selama-lamanya. Karena Yesus adalah manusia, Dia bisa mengerti keadaan kita ketika di dunia. Dan karena Yesus adalah manusia, kita yang manusia akan mengalami juga semua yang Dia alami: kebangkitan, kenaikan, dan kemuliaan kekal.

Sementara itu, dalam hidup ini, kita mengalami banyak masalah. Orang-orang percaya mengalami pergumulan seperti orang lain: penyakit, masalah ekonomi, masalah keluarga, dll. Sepertinya Yesus entah di mana, dan kehadiran-Nya tidak terasa. Apa yang harus kita lakukan dalam keadaan seperti itu?

Orang Kristen, by definition, adalah orang-orang yang hidup oleh iman. Kita percaya pada kebenaran, walaupun seringkali kebenaran itu nampaknya bertentangan dengan fakta. Bukan berarti kita percaya buta, tapi kita percaya bahwa ada tangan Tuhan yang tidak terlihat, yang sedang bekerja. Kita percaya bahwa Tuhan Yesus bertakhta di surga, bahwa Dia memegang kendali, dan bahwa Dia menjamin hidup kita.

Pengharapan yang seperti itulah yang membuat Stefanus berani menghadapi kematian:

Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”
(Kisah Para Rasul 7:55-56)

Dia melihat Yesus yang telah naik ke surga, yang memegang pemerintahan atas segala sesuatu. Batu-batu besar yang dipegang orang-orang Yahudi di depan matanya tidak lagi menakutkan waktu dia melihat Yesus bertakhta dalam kemuliaan.

Begitu juga dengan Paulus. Menghadapi kematiannya yang sudah di depan mata, Paulus menulis kepada Timotius:

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.
(2 Timotius 4:8)

Mengapa Paulus begitu berani dan kuat? Karena dia mengharapkan kedatangan Tuhan Yesus, yang akan memberinya upah atas kesetiaannya. Paulus tahu bahwa Yesus berkuasa, Dia memerintah, dan hari kedatangan Sang Raja akan segera tiba.

Seandainya Yesus tidak naik ke surga, berarti Dia tidak bertakhta, dan kita tidak bisa berharap pada Tuhan yang memegang kendali atas segala situasi, sepanjang segala masa. Injil yang dipercaya Stefanus dan Paulus bukan Injil yang membuat orang merasa nyaman dengan diri sendiri, atau Injil yang melulu tentang berkat, atau sekedar penghiburan emosional. Yang mereka percayai adalah Injil Yesus Kristus, yang telah menerima pemerintahan atas seluruh ciptaan dan yang akan datang kembali untuk membela umat-Nya dan menghukum musuh-Nya, yang begitu mengasihi kita sampai Dia memperhatikan rambut kita yang jatuh ke tanah dan bersedia menjadi manusia demi kita. Itulah Injil yang mereka percaya; itulah kebenaran, yang layak diperjuangkan sekalipun dengan tetesan darah.

Bersama dengan kenaikan Yesus ke surga, kita memiliki jaminan dan pengharapan. Jaminan, karena Yesus berkuasa atas segala sesuatu; tidak peduli seburuk apapun situasinya di mata kita. Pengharapan, karena Yesus akan datang kembali untuk menyempurnakan keselamatan kita di dalam Dia. Karena Dia telah naik ke surga, Dia bisa berkata kepada kita, “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku.” (Yohanes 14:3)

Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.
(Filipi 3:20)