Wednesday, February 8, 2017

Relationship Goal

by Glory Ekasari

Salah satu istilah gaul yang ngetren di media sosial sekarang ini adalah hashtag #relationshipgoals. Dimana hashtag ini nongol? Biasanya di IG celebgram (celebrity Instagram) yang foto mesra bersama pasangannya, dengan caption puitis. Sambil menahan nelangsa karena masih jomblo, follower celebgram tersebut segera mengetik: #relationshipgoals. Maksudnya? Yah siapa tau kalau punya pasangan nanti bakal semesra sang celebgram yang terlihat bahagia di fotonya itu.
Berhubung Februari ini punya reputasi sebagai bulan kasih sayang, kita akan membahas tentang The Ultimate Relationship. Yang ini bukan cuma #relationshipgoals, tapi #goalsbanget. #yoi #kekinian #jadihashtagmelulu
Siapapun yang sedang pacaran, apalagi yang sudah menikah, tahu bahwa yang namanya relationship itu tidak melulu mesra. Kalau mesra terus mah ga ada pasangan yang putus dong. Kenyataannya, life happens, things happen, feelings change, people change, dan yang namanya mempertahankan hubungan perlu usaha keras dan banyak air mata. Orang bilang Brangelina itu #relationshipgoals, tapi akhirnya mereka pun berpisah. Pasangan celebgram di Indo juga ada yang didengung-dengungkan sebagai #goals, tapi toh putus. Jadi seperti apa yang disebut #relationshipgoals? Tunggu, jangan-jangan sebenernya #relationshipgoals itu... Tidak ada?
Kita semua ingin bahagia. Kita berharap pasangan kita akan membuat kita bahagia, memperlakukan kita dengan penuh kasih sayang, berkorban bagi kita, menjadikan kita prioritas utamanyanaahh, itu baru #goals. Kita pikir itulah yang akan membuat kita bahagia. Masalahnya, sista, ga ada orang seperti itu. Siapa yang mampu mengasihi kita tanpa batas? Pasangan kita juga punya kekurangan, keterbatasan, dan ego. Kalau dua-duanya saling menuntut, kita bukannya bahagia, malah menderita.
Bagaimana kata Alkitab tentang #relationshipgoals? Eh, emangnya ada relationship goals di Alkitab?? Ada dong, tapi bukan tentang pacaran atau bahkan pernikahan. Kebahagiaan dalam pacaran atau pernikahan itu bukan main product, itu adalah by-product. Side effect, bukan goal. Relationship goal kita, pembaca, adalah dengan Mempelai Pria yang sejati, Tuhan Yesus Kristus.
C. S. Lewis pernah membahas tentang beberapa metafora yang dipakai dalam Alkitab untuk menggambarkan hubungan kita dengan Allah. Ada penjunan dan tanah liat, yang menunjukkan posisi kita sebagai ciptaan dan Tuhan sebagai Pencipta. Ada tuan dan hamba, yang menekankan kewajiban kita untuk taat kepada Tuhan. Lebih tinggi lagi, ada bapak dan anak, yang menunjukkan kedekatan dan kasih Tuhan bagi kita. Tapi yang paling tinggi di atas semuanya, yang dipakai untuk menutup Alkitab, adalah mempelai pria dan mempelai wanita.
Paulus pernah menyebut jemaat Tuhan sebagai perawan suci yang merupakan tunangan Kristus. Kita yang tahu cerita kelahiran Yesus mungkin familiar juga dengan tradisi pertunangan di Israel pada waktu itu. Pertunangan disejajarkan dengan pernikahan, hanya minus hubungan seks; kedua pihak yang sudah bertunangan harus setia pada pasangannya, sebagaimana pasangan yang telah menikah. Hubungan ini begitu serius, sehingga untuk membatalkannya harus ada perceraian resmi. Mempelai wanita menunggu waktunya mempelai pria sudah siap dengan rumah dan mahar perkawinan, kemudian sang mempelai pria akan menjemput calon isterinya (peristiwa ini diilustrasikan dengan perumpamaan 10 anak dara dalam Matius 25).
Inilah penantian umat Tuhan yang sebenarnya. Kita bukan menunggu diberi jodoh, atau menunggu kaya, atau menunggu hal-hal duniawi lainnya. Kita menantikan Mempelai Pria kita, menantikan saatnya Dia menjemput kita. Bukan tanpa alasan dua bagian dari Alkitab kita disebut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita ini hidup berdasarkan janji. Yesus memberikan kita janji-Nya: Dia akan mengasihi kita selama-lamanya, dan surat janji itu ditandatangani dengan darah-Nya. Selama menantikan Dia, kita harus setia, jangan selingkuh dengan dunia. Dia telah memberikan nyawa-Nya bagi kita, giliran kita menguduskan hidup kita bagi Dia. Inilah, saudara-saudara, #relationshipgoals yang sejati.
Tadi saya katakan bahwa kebahagiaan dalam pacaran atau pernikahan adalah hasil sampingan, bukan hasil utama. Ya itu karena satu-satunya yang bisa memberi kita kebahagiaan adalah Yesus, Kekasih jiwa kita. Hasil sampingan jangan dikejar. Kejarlah yang utama, maka yang sampingan akan ikut kita dapatkan. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua yang lain akan ditambahkan kepadamu. Bukan tanpa alasan Tuhan meminta kita mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan kita, karena hanya Dialah yang mampu mengasihi kita tanpa batas. May our relationship with Him is a kind of #relationshipgoals.

Monday, February 6, 2017

There is No Fear In Love (part 3)

by Sarah Eliana

Postingan ini adalah sambungan dari part 1 (click HERE) and part 2 (click HERE).
Kalau saja kita mengerti bahwa kasih lebih kuat daripada rasa takut! Kasih adalah sumber segala yang indah, sedangkan rasa takut adalah pecahan yang rusak dan tidak lagi baik. Rasa takut tidak memiliki keindahan yang sama dan tidak memiliki kekuatan yang sama dengan kasih, seperti yang dikatakan firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4:18, Dalam kasih tidak ada ketakutan. Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. 
Namun demikian, aku tidak dapat mengasihi dengan sempurna. Bagian dari ayat tersebut tidak berlaku untukku. Bagian itu berlaku hanya untuk Kristus yang dengan kasih-Nya yang sempurna masuk kedalam duniaku dan meletakkan hidup-Nya diatas pecahan-pecahan yang tidak lagi indah. Kristus datang ke dalam dunia dan hatiku yang penuh ketakutan. Di dalam hatiku yang terbalut rasa takut, Kristus hadir.
Di tengah momen yang sangat nyata dan berbahaya, aku menemukan Kristus disana. Kristus menunjukkan kasih yang sejati dan memberikanku kebebasan untuk melepaskan rasa takut. Tidak pernah sekalipun dalam hidupku, bahkan pada saat-saat yang paling menakutkan sekalipun, aku tidak menemukan Kristus berada disana bersamaku. Rasa takut tidak memiliki kekuatan untuk mengubah jalannya sebuah peristiwa. Rasa takut hanya menjauhkanku dari memenuhi panggilanku dalam ruang dan waktu yang Tuhan telah tetapkan bagiku. Rasa takut membuatku tidak mengasihi dan menikmati suami dan anakku.
Daripada menyerah kepada rasa takut, aku harus berpegang teguh pada kebenaran ini, yaitu bahwa kasih Kristus lebih besar daripada segala hal yang kubayangkan. Ia lebih dari cukup untukku saat ini, dan Ia pun lebih dari cukup untuk apa pun yang akan datang dimasa depan. Kasihnya akan menetap dan hadir ke mana pun Ia memimpinku. Dimana Kristus hadir, aku bebas untuk mengasihi dan menikmati hubungan dengan anakku tanpa rasa takut.
Ya, di tengah dunia yang gila ini, aku harus beralih dari rasa takut kepada iman. Aku tidak akan membiarkan Iblis mengintimidasi dan berbohong kepadaku, mengatakan kepadaku bahwa aku mengasihi anakku padahal aku sedang bereaksi karena rasa takutku. Aku akan membiarkan kasih Bapa memerintah dalam hatiku dan percaya bahwa kasih-Nya jauh lebih besar daripada segala hal yang dunia lempar ke arahku. Aku akan membiarkan kasih Bapa hadir dalam hidupku dan ketika kasih-Nya hadir, rasa takut tidak memiliki tempat untuk tumbuh! 
Allah adalah perlindungan dan kekuatan kita; 
Ia selalu siap dan mampu menolong dalam kesesakan.
Maka kita tidak takut, 
biarpun bumi bergoncang, dan gunung-gunung tenggelam ke dasar lautan;
biar laut mengamuk dan bergelora, dan bukit-bukit gemetar oleh pukulannya.
Mazmur 46:1-3

Friday, February 3, 2017

There is No Fear In Love (part 2)

by Sarah Eliana

Hi ladies,
Postingan ini adalah sambungan dari part 1 yang bisa dibaca di sini. :)
Orang tua harus melindungi anak mereka―itu sangat betul. Tentu sebagai seorang ibu aku punya mother instict untuk melindungi anakku. Tapi aku juga harus ingat untuk gak bikin anakku hidup di dalam bubble. Ada saatnya Tuhan akan memanggil anakku ke tempat-tempat lain dimana aku gak bisa melindungi dia, dan dalam situasi seperti itu, aku harus mempercayai hati Bapa. Seperti situasi sekarang dimana anakku sudah masuk sekolah. Waktu dia di sekolah, aku gak bisa protect dia, tapi aku bisa percaya kepada hati Tuhan dan percaya bahwa Ia melindungi anakku jauuuhh lebih baik daripada aku dapat melindunginya.
Akan ada waktu dimana Tuhan memanggil anakku untuk menjalankan kehendak-Nya dan aku harus percaya kepada Bapa Surgawiku. Salah satunya adalah ketika Tuhan menyuruh kami untuk ijinin anak kami pergi summer camp khusus anak-anak, Camp itu adalah program gereja dan orang-orang dewasa yang hadir adalah guru-guru sekolah minggunya. Tentu aku bisa milih untuk gak ijinin dia ikut Christian Children Camp tersebut karena aku takut sesuatu terjadi waktu camp. Tapi, aku tidak akan dan tidak ingin menjadi seorang ibu yang overprotective, sampai-sampai  tidak membiarkan anakku hidup dalam kehendak Allah. Jika Allah memanggil dia untuk menghadiri camp, maka aku harus membiarkan dia pergi untuk melakukan kehendak Allah. Aku harus memberikan ruang bagi Tuhan untuk membentuk anakku, bahkan jika itu berarti aku harus mengirim dia selama beberapa hari untuk pergi ke camp. Aku harus percaya kebaikan Tuhan yang sempurna.
Akan ada pula waktu dimana Tuhan memanggilku pergi dari jangkauan anakku. Misalnya waktu Tuhan panggil aku untuk ikut retreat kaum ibu di gereja. Aku tahu Tuhan suruh aku pergi. Of course, Dia kasih aku free will untuk memilih mau taat atau tidak. Dan waktu aku pilih untuk taat dan pergi retreat, Tuhan juga memberiku damai sejahtera bahwa anakku akan baik-baik saja dengan suamiku. Dengan menuruti kehendak Bapa, walaupun tidaklah mudah bagiku saat itu, aku diberkati sekali melalui retreat itu. Aku tau Tuhan mau aku ikut retreat karena Tuhan mau spend special time with me... Three uninterrupted days just with me. Ia mau hal itu karena Ia mengasihiku. Justru dengan aku pergi sejenak dari anakku, Tuhan jadi punya uninterrupted quality time untuk betul-betul berbicara kepada hatiku dan mendidik aku secara rohani. Semakin aku bertumbuh dewasa dalam Tuhan, maka aku pun akan menjadi ibu yang bertumbuh.
Yes, aku harus melindungi anakku, tapi jangan sampai aku begitu dipenuhi ketakutan sehingga anakku gak punya kesempatan untuk dibangun dan dibentuk oleh Tuhan. Aku harus melindungi anakku, tapi aku tetap harus ajarin anakku untuk menjadi manusia sehat yang mandiri dan TIDAK tumbuh dewasa dibalik rok mama. Aku mesti melindungi anakku, tapi jangan sampai aku menjadi ibu yang begitu protektif sehingga aku gak memberi kesempatan dan ruang bagi anakku untuk bertumbuh. Jangan sampai aku menjadi ibu yang "melumpuhkan" anakku dengan membangun hubungan yang gak sehat dengannya sekarang. Jangan sampai ia menjadi anak yang tidak bisa apa-apa tanpaku. Jangan sampai aku menjadi ibu yang tidak bisa tidur tanpa kehadiran anakku disampingku!
I must protect my son, but I also must help him to have the spirit of joy, peace, trust, courage, and bravery. Jangan sampai aku begitu protektif sehingga anakku menjadi cacat” secara spiritual dan emosional. Tuhan tidak menginginkan hal itu, dan aku juga tidak. Aku akan melindungi anakku; tapi yang terutama aku harus fokus pada Tuhan dan percaya kebaikan-Nya, dan aku akan mengajarkan anakku untuk fokus pada Yesus dan kebaikan-Nya.
Aku akan belajar mengasihi anakku dengan cara yang Tuhan kehendaki, tidak lebih (sehingga aku menjadi overprotective) dan tidak kurang. Aku tidak akan takut, karena takut adalah katalis dari segala macam tindakan yang bukan kasih. Rasa takut membuatku tidak mengasihi dan menikmati hubunganku dan anakku karena rasa takut dapat membalut hatiku dan membuatnya tidak leluasa dalam mengasihi anakku. Rasa takut membuatku tidak dapat melepaskannya kedalam perlindungan Tuhan ketika Tuhan memanggilnya untuk melakukan kehendak Bapa. Aku tidak dapat benar-benar mencintainya ketika aku dipenuhi rasa takut.

To be continued…

Wednesday, February 1, 2017

There is No Fear In Love (Part 1)

by Sarah Eliana

Beberapa waktu lalu, aku ngobrol dengan temanku, seorang godly mother yang memiliki enam anak. Kami membahas situasi dan kondisi di negara tempat kami tinggal dimana segala sesuatu berbau seks. Iklan di majalah, tv, radio, koran, billboard, semuanya berbau seks. Ada anak-anak SMA yang hamil dan punya anak. Orang-orang muda kumpul kebo dan itu dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Aku khawatir… Gimana caranya aku bisa membesarkan anakku menjadi seorang godly man yang menjaga kekudusan di lingkungan seperti ini? Aku selalu wanti-wanti kalau kumpul kebo itu gak OK. Aku ajarin dia untuk gak sembarangan cium dan peluk orang lain. Aku ajarin dia bahwa seks diluar nikah adalah dosa. Apa lagi yang bisa kulakukan? Temanku bilang begini:
Honey, kalau kamu mau anakmu menjadi godly man, kamu harus memiliki prioritas yang benar! Puji Tuhan, anak loe sekarang udah terima Tuhan dan dia punya Roh Kudus dalam hatinya. Jadi sekarang, prioritasmu yang paling pertama adalah ajarin dia untuk FOKUS KEPADA TUHAN.  Tau kenapa? Karena hanya dengan berfokus kepada Tuhanlah anakmu bisa menghindari hal-hal duniawi. Kalau dia fokus kepada Tuhan, membangun hubungan yang dekat dan intim dengan Tuhan, maka dia akan menjauh dari hal-hal duniawi karena Roh Kudus akan bekerja dalam hatinya. Hanya dengan menujukan matanya kepada Tuhanlah dia akan semakin dekat kepada Tuhan dan menjauh dari dunia. Kamu gak bisa ajarin dia untuk menjadi godly man dengan fokus kepada hal-hal duniawi! Prioritasmu adalah untuk menjadi contoh baginya dan mengajarinya untuk FOKUS KEPADA TUHAN YESUS KRISTUS!
Sigh. Kalau mau jujur, guys, prioritasku salah selama ini. :( Saking takutnya kalau anakku akan tumbuh besar jadi pria yang gak bisa jaga kekudusan, aku malah ngajarin dia untuk “jangan begini”, “jangan begitu”. Bukan, I am NOT saying kalau ajarin anak untuk gak sembarangan cium orang itu salah, tapi fokusku salah. Fokusku lebih kepada “hukum dan peraturan”, lebih kepada dosa itu sendiri. Harusnya aku fokus kepada Tuhan. Harusnya aku ajarin dia untuk fokus kepada Tuhan dan bertanya,What does Jesus want me to do?” Harusnya aku ajarin dia untuk mencari wajah Tuhan dan berbincang-bincang dengan Tuhan; membangun hubungan yang intim dengan Bapa serta meminta pendapat dan kebjiaksanaan Tuhan. Tapi sebaliknya, aku malah kasih dia sederet peraturan yang tentu gak bisa dia lakukan kalau dia gak fokus ama Tuhan! Mana bisa dia lakukan segala macam peraturan dengan kekuatan dia sendiri. Thankfully, melalui temanku,Tuhan ingetin aku lagi: fokus kepada Yesus.
You see, kalau aku fokus kepada hal-hal jahat dan perkara-perkara yang tidak baik, aku jadi ibu yang penuh kekuatiran dan ketakutan. Aku gak mau itu! Aku gak mau membesarkan anakku dibawah bayang-bayang roh kekuatiran dan ketakutan! Sejak anakku masih bayi, aku bisa lihat Tuhan telah ciptakan dia dengan roh sukacita dan damai sejahtera. Dari baby, dia hobi senyum, hobi bercanda, dia selalu gembira dan penuh sukacita. Aku gak mau mengubah hal baik yang Tuhan ciptakan itu dengan hal-hal buruk dari dunia ini karena ketakutan dan kekuatiranku! Jangan sampai aku menjadi ibu yang menukar roh sukacita dan damai sejahternya dengan roh ketakutan dan intimidasi!
Jadi, aku minta Tuhan mengajariku untuk fokus kepada-Nya dan kepada kebaikan serta kesetiaan-Nya, terutama di tengah dunia yang udah semakin gila ini. Dan Tuhan berkata bahwa salah satu tugasku sebagai orang tua adalah melindungi anakku. Tapi, aku juga punya tugas untuk TIDAK menjadi ibu yang begitu dipenuhi ketakutan sehingga anakku tidak bisa tumbuh dewasa to be a man that God intends him to be.

To be continued .. :)

Wednesday, January 25, 2017

Senantiasa Berbuah

by Leticia Seviraneta


“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Lebanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.” –Mazmur 92:13-16 [TB]

Sebagai orang percaya, kita pasti cukup akrab dengan kata “bertumbuh” dan menyimpan kerinduan yang kuat untuk terus bertumbuh. Namun, banyak sekali orang Kristen yang akhirnya fokus untuk bertumbuh dan bertumbuh tapi lupa berbuah. Akibatnya, banyak dari mereka menjadi sekedar penikmat hasil pelayanan dari orang lain, menjadi pengunjung gereja yang teratur, menjadi penerima khotbah yang setia, namun lupa untuk mempraktikkan, melayani, dan menjadi pemberi berkat atas apa yang sudah mereka terima. Singkatnya, masalah yang seringkali ditemukan dalam diri orang Kristen yang sudah sekian lama lahir baru adalah mereka lupa untuk berbuah.

Di dalam Mazmur 92:13 dikatakan bahwa orang benar akan tumbuh subur seperti pohon aras di Lebanon. Pohon aras (Cedar Trees) disebut di Alkitab kita sebanyak 71 kali. Menarik bukan? Analogi kita tumbuh subur seperti pohon aras mungkin terdengar asing bagi kita yang tinggal di Indonesia saat ini. Namun bagi orang Ibrani kuno, pohon aras merupakan tumbuhan yang paling mereka kenal karena pohon ini adalah pohon yang paling kuat, berumur panjang, dan tingginya bisa mencapai 40 meter. Pohon ini tumbuh dengan lambat, namun konsisten. Seringkali berbuah lebih lama dibandingkan dengan pohon lain, namun ketika sudah berbuah pohon aras akan terus berbuah sampai ratusan tahun dikala pohon-pohon lain sudah mati. Pohon aras juga sangat kuat. Hantaman petir maupun angin kencang malah membuat pohon ini semakin menumbuhkan banyak cabang dan semakin besar. Di hutan pohon aras di Lebanon, banyak pohon berusia hingga 1000 tahun dan masih segar daun-daunnya. Wow... sebuah analogi yang sangat indah bukan? 

Lalu ayat selanjutnya memberikan petunjuk bagaimana caranya supaya kita dapat tumbuh subur dan berbuah seperti pohon aras di Lebanon. Dikatakan bahwa, “mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.” Jadi kita hanya dapat bertumbuh subur dan berbuah bila kita ditanam dan bukan hanya sekedar hadir di bait TUHAN. Tanda kita tertanam di rumah Tuhan adalah menjadikan visi dan misi rumah Tuhan sebagai visi dan misi kita juga. Kita memberikan kontribusi untuk membantu rumah Tuhan mencapai visi dan misinya. Kita juga tidak mudah untuk dicabut akarnya karena sudah tertanam sampai jauh ke dalam, bukan hanya sekedar nempel di permukaan.

Dulu di masa sekolah, saya paling tidak suka pelajaran yang namanya “Penjaskes” atau Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Di pelajaran tersebut, saya belajar teori-teori olahraga. Contohnya, aba-aba sebelum lari jarak pendek, definisi lari jarak pendek dan jarak jauh, atau peraturan bermain kasti. Saya tidak suka karena hal-hal tersebut dapat jauh lebih mudah untuk dimengerti dengan melakukannya. Saya dapat memahami semua teori tersebut secara tidak langsung bila saya melihat dan melakukannya. Sama halnya dengan pertumbuhan spiritual kita, kita belajar jauh lebih banyak dengan praktik daripada teori. Jadi, janganlah hanya menjadi pendengar Firman, namun pelaku Firman. Jangan hanya menjadi pengunjung gereja,  namun juga pelayan gereja.

“Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar…” Ini adalah sebuah janji yang indah lagi. Dengan tertanam di rumah Tuhan, kita akan sama seperti pohon aras di Lebanon yang masih secara konsisten menghasilkan buah hingga ratusan tahun mendatang di saat pohon lain sudah mati dan membusuk. Kunci pohon untuk tetap hidup adalah tertanam di tanah yang subur, lalu menerima air dan dirawat secara teratur, dan yang tidak kalah penting lingkungan disekitarnya. Jadi bila kita ingin terus berbuah sampai usia kita tua, kita harus terus mengevaluasi ketiga poin ini. Apakah kita sudah tertanam di tanah yang subur? Apakah kita menerima Firman Tuhan dan melakukannya secara teratur? Apakah kita dikelilingi oleh orang-orang yang sehat secara spiritual untuk mendukung pertumbuhan saya?

Tidak hanya sekedar berbuah, diumpamakan kita juga akan menjadi pohon yang gemuk dan segar di masa tua kita. Secara fisik, kita sebagai manusia akan mengalami proses penuaan. Dalam proses tersebut kondisi fisik kita cenderung menurun kualitasnya. Namun di balik penampilan fisik yang menurun, kondisi kerohanian kita harusnya semakin gemuk dan segar seiring dengan bertambahnya usia kita. Mengapa demikian? Karena kita memiliki pengalaman bersama Tuhan lebih lama dibandingkan orang-orang yang lebih muda. Kita juga telah mengecap kebaikan Tuhan yang tidak terhitung banyaknya sepanjang hidup kita. Melalui ayat ini, kita diingatkan bahwa janganlah kondisi spiritual kita menurun sama seperti kondisi fisik kita. Selama kita tertanam di rumah Tuhan maka kondisi spiritual kita akan gemuk dan segar. Tidak ada dari kita yang mau berteduh di bawah pohon yang kering, tidak berdaun lebat, dan tidak menyediakan perlindungan akan teriknya matahari. Mata kita akan langsung tertuju kepada pohon yang lebat daunnya, segar, dan memberi perlindungan kepada kita. Demikian juga hidup kita hanya dapat menjadi berkat bagi orang lain bila kita gemuk dan segar spiritualitasnya. Orang akan tertarik dan datang kepada kita dan kita dapat menolong pertumbuhan mereka juga.

Mengapa kita perlu bertumbuh dan berbuah? Di Mazmur 92:16 dikatakan kita berbuah bukan supaya orang mengagumi kita dan untuk kemuliaan kita pribadi, melainkan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. “…untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.” Di dunia marketing, strategi yang terbukti paling berhasil untuk mendorong pembelian produk adalah strategi mouth-to-mouth. Rekomendasi memuaskan dari teman atau kerabat yang sudah menggunakan produk yang dipasarkan akan lebih meyakinkan dibandingkan iklan-iklan mahal yang berseliweran di berbagai tempat.  Hidup kita pun hendaknya menjadi seperti kitab yang terbuka bagi orang-orang yang belum pernah membaca Alkitab. Testimoni atau kesaksian kita bersama Tuhan akan menjadi alat yang paling efektif untuk memenangkan jiwa-jiwa hilang kembali kepada Yesus. Ketika hidup kita berbuah, hidup kita akan menarik, dan kita menjadi memiliki kesempatan untuk memperkenalkan Yesus ke dalam kehidupan orang lain J

“Tinggallah di dalam Yesus, pastilah kau akan berbuah.”

Wednesday, January 18, 2017

The Story of Ruth

by Leticia Seviraneta

Hai semua! Tak terasa tahun sudah berganti ke tahun 2017. Semoga ada resolusi baru di tahun ini untuk membuat hidup kita lebih bertumbuh dan berbuah lagi ya :) Ngomong-ngomong soal buah, kita sering mendengar tentang Buah Roh, bukan? Alkitab mengajar kita untuk tidak hanya sekedar bertumbuh, namun juga untuk berbuah. Mengapa demikian? Karena buah dari sebuah pohon itu lah yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Buah merupakan tindakan nyata dari Firman yang telah diajarkan.  Yakobus 2:26 berkata, “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa disertai perbuatan-perbuatan adalah mati.” Jadi berbuah bukan sekedar perintah Tuhan semata, melainkan untuk kebaikan kita karena tanpa berbuah, kita akan menjadi Kristen yang stagnan dan mati :) Nah, kali ini, aku ingin mengajak teman-teman untuk melihat sejenak pada kisah seorang wanita di Alkitab yang hidupnya berbuah di tengah kesulitan. Kisah seorang wanita bernama Rut.

Kisah ini dimulai pada zaman Hakim-Hakim ketika ada kelaparan di tanah Israel. Seorang pria Israel bernama Elimelekh membawa isrinya, Naomi, dan kedua anak laki-lakinya merantau ke daerah Moab. Di sana, kedua anak laki-lakinya menikah dengan perempuan Moab bernama Orpah dan Rut. Kemudian Elimelekh meninggal, dan sepuluh tahun kemudian kedua puteranya pun meninggal tanpa meninggalkan keturunan. Hal ini menyebabkan Naomi kehilangan suami dan kedua anaknya. Ia menjadi janda tanpa anak laki-laki, sebuah status yang pada masa itu akan membuatnya sangat lemah secara ekonomi dan sosial. Hatinya saat itu pahit sehingga ia mengubah namanya menjadi Mara yang berarti pahit (Rut 1:20).

Naomi kemudian memutuskan untuk pulang ke Yehuda bersama dengan kedua menantunya, namun, di tengah perjalanan ia meminta kedua menantunya untuk kembali saja ke Moab. Di Moab mereka yang masih muda memiliki harapan untuk menikah kembali. Orpah akhirnya memutuskan untuk kembali ke Moab, sementara Rut tetap bersikeras ikut dengan Naomi. Ia mengeluarkan pernyataan yang sangat berani yang dikenang sepanjang sejarah, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bernalam; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalah sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!”

Setia kepada orang yang manis dan memiliki perilaku yang baik tentu mudah. Namun Rut memberikan janji kesetiaannya kepada orang yang sedang pahit dan kelakuannya belum tentu baik kepadanya. Rut memberi kesetiaannya ketika ia memiliki hak dan pilihan untuk hidup nyaman serta melepas status jandanya dengan menikah kembali di Moab. Di tanah Yehuda, Rut secara kebetulan memunguti jelai yang tersisa di ladang milik Boas, kaum keluarga Elimelekh yang dapat menebus tanah Elimelekh. Pada masa itu berlaku hukum yang mengatur bahwa tanah yang pemiliknya meninggal hanya dapat diwariskan kepada anak laki-lakinya, bukan kepada istrinya. Untuk kasus Naomi yang kehilangan kedua anak lelakinya, tanah hanya dapat ditebus oleh saudara lelaki Elimelekh dengan menikahi perempuan di keluarga Elimelekh.

Boas pun bersimpati kepada Rut yang terkenal karena kesetiaanya mengikuti Naomi, bahkan sampai harus meninggalkan kampung halamannya. Naomi menyusun rencana agar Boas menebus tanah Elimelekh dan menikahi Rut. Kalimat menarik yang dikeluarkan Boas untuk menanggapi permintaan Rut tentang penebusan itu adalah “Diberkatilah engkau oleh TUHAN, ya anakku! Sekarang engkau menunjukkan kasihmu lebih nyata lagi dari pada yang pertama kali itu, karena engkau tidak mengejar-ngejar orang-orang muda, baik yang miskin maupun yang kaya. Oleh sebab itu, anakku, janganlah takut; sebab yang kaukatakan itu akan kulakukan kepadamu; sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik.” (Rut 3:10-11) Selanjutnya akhir kisah ini sangat indah. Alkitab mencatat bahwa pernikahan Boas dan Rut menghasilkan anak bernama Obed, yang menjadi kakek raja Daud. Rut, seorang Moab, menjadi nenek moyang dari raja Israel yang paling dikenal sepanjang masa.

Rut merupakan contoh wanita yang hidupnya berbuah. Ia mengikuti iman suaminya, yakni iman kepada Allah Israel dan menghidupinya. Buahnya dikenal oleh semua orang di kota hingga Boas mendengarnya. Kembali lagi, buah adalah tidakan nyata dalam menghidupi Firman yang telah diajarkan kepada kita. Buah adalah manifestasi dari iman dan refleksi hubungan pribadi kita kepada Tuhan. Kita dapat memulai tahun baru ini dengan merefleksikan kembali, sudahkah hidup kita berbuah? Sudahkah kita membangun keintiman kita dengan Kristus? Focus on the intimacy with God, and he will make our lives fruitful. Let us be more fruitful on this new year :)

Monday, January 16, 2017

Hidup Menurut Daging atau Roh?

by Felisia


Kalau pertanyaan diatas ditanyakan kepada kita, tentu kita mau hidup menurut Roh, tapi apakah mudah? Pengennya bisa sabar, tapi yang ada marah-marah. Pengennya bisa mengasihi, tapi kenyataannya kesel banget. Kenapa? Karena setiap kita terlahir dengan benih dosa, jadi tidak heran kecenderungan kita otomatis adalah melakukan ‘dosa’ atau mengikuti keinginan daging. 

Tapi kebenaran mengatakan, ketika kita lahir baru, kita diberi kasih karunia untuk tidak hidup berkubang dalam dosa terus menerus yaitu dengan hidup menurut Roh. Tapi, seperti apa hidup menurut Roh itu?

Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging   dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.  Jikalau kita hidup oleh Roh,   baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh... (Ef 5:24-26)

Hidup tidak menuruti kehendak diri sendiri, tidak hidup semau-mau dhewe, atau bisa dibilang hidup tidak egois. Hidup menurut Roh artinya mengikuti pimpinan Roh kudus yang ada dalam diri kita. Ini nih yang bikin beda dengan anak dunia. 

Tapi bagaimana caranya?

Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh,   maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.  (Ef 5:16)

Caranya adalah bukan sekedar menjauhi keinginan daging, tapi mengejar untuk hidup menurut Roh, otomatis keinginan daging ‘terjauhi’. Jika kita hanya memerangi daging, tanpa mengejar untuk hidup menurut Roh, mustahil hidup menurut daging bisa dihindari. Mudah? Jelas tidak, tapi bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.

Hal ini serius lho, karena ayat berikutnya dengan jelas menuliskan,“Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah  (Efesus 5:21). Ini berarti jika kita mengaku anak-Nya, hidup dipimpin oleh Roh seharusnya menjadi gaya hidup kita setiap hari.