Wednesday, March 15, 2017

Where Joy is at?



by Glory Ekasari


Di rumah saya ada seorang tukang kebun yang juga membantu jaga malam di gereja. Tiap kali orang tua saya mendapat makanan dari acara yang mereka hadiri, kami sering memberikan sebagian untuk dia. Tapi lama-lama kami sadar bahwa kalau diberi lauk daging atau ayam, dia tidak pernah makan. Usut punya usut, ternyata dia.... sakit gigi! Anehnya, dia tidak mau ke dokter gigi, katanya karena takut. Jadilah sakit gigi itu dipelihara sekian lama.
Menurut saya sih aneh. Ke dokter gigi memang terkesan seram (maaf ya yang dokter gigi), tapi daripada terhalang makan, ya lebih baik menahan ngilu dan sakit sekejap lah. Toh setelah itu gigi jadi sehat lagi, rasa sakit hilang secara permanen, dan kita bebas makan apapun yang kita mau.
Kadang kita juga begitu dalam mencari kebahagiaan. Kita justru menghindari tempat di mana kebahagiaan dan sukacita ada, seperti orang yang tidak mau giginya diobati dan memilih tetap sakit gigi. Aneh, memang. Tapi tentu kita lalu bertanya, “Memangnya di mana ada sukacita?”
Kata dunia, sukacita itu adanya di sekitar teman-teman. Atau, kalau tidak punya teman, sukacita itu ada di berbagai macam kesenangan yang mereka tawarkan. Atau bisa juga seks, seks menawarkan kebahagiaan, katanya. Oh, uang juga bisa membawa sukacita! Being on the top of the world juga pasti dong, membawa sukacita. Apa itu betul? Raja Salomo menulis panjang lebar tentang segala kekayaan dan kenikmatan yang dia nikmati—uang, kemegahan, penundukan dari raja-raja lain, hiburan, seks, bahkan hobi berkebun—dan dia berkata, “Aku tidak menghalangi mataku dari apapun yang ingin dilihatnya”—sounds a lot like hedonism. Kesimpulannya? “Segala sesuatu adalah kesia-siaan.”
At the end of the day, it’s just you―yourself. And what will you do with that empty heart burdened with sorrow? What can other people do for you, when the problem is not with your body, but with your soul? “Find happiness inside you,” they say. Where?
Suatu kali ketika mama saya berkhotbah di gereja tempat kami beribadah, dia membagikan kesaksiannya dan menyimpulkan demikian, “Saudara, kalau Saudara ada masalah, jangan tinggalkan Tuhan, jangan libur ke gereja. Justru cari Tuhan! Datang ke rumah Tuhan, dengarkan firman Tuhan, berdoa dan cari Tuhan lebih sungguh-sungguh lagi.”
“Cari Tuhan lebih sungguh-sungguh lagi.” Banyak orang malas dalam persekutuan mereka dengan Tuhan. Berdoa sebentar dan tidak merasakan apa-apa, berhenti berdoa. Kita perlu belajar dari tokoh-tokoh Alkitab yang bersikeras bertemu dengan Tuhan secara pribadi. Daud menyukai frasa “siang dan malam”, yang menunjukkan kesungguhannya dalam mencari Tuhan. Paulus dan Silas yang dipenjara di Filipi, bukannya nelangsa dengan nasib mereka atau tidur nyenyak, malah memuji Tuhan di tengah malam—sampai terjadi mujizat bagi mereka dan keselamatan bagi kepala penjara. Menjelang pertemuan dengan Esau, Yakub bergumul secara fisik dengan Malaikat Tuhan, karena dia begitu ngotot, sehingga terucap kata-kata yang terkenal, “Aku tidak akan melepaskan Engkau sebelum Engkau memberkati aku.” Kapan terakhir kali kita berkata demikian kepada Tuhan? Sebagaimana lirik sebuah hymne yang terkenal:
Savior, Savior, hear my humble cry
While on others Thou art calling,
Do not pass me by!
Semua orang yang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh menemukan-Nya, karena itu adalah janji-Nya. Kalau ada janji yang diulang-ulang dalam Alkitab, dan yang terlalu sedikit kita manfaatkan, itu adalah janji Tuhan bahwa mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia pasti menemukan-nya:
“Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku;
Apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.”

—Yeremia 29:13
 “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” —Matius 6:33
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” —Lukas 11:9
Apa yang kita temukan ketika kita akhirnya bertemu dengan Dia? Daud memberitahu kita apa yang dia temukan ketika berhadapan dengan Tuhan:
“Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah.”
“Sukacita berlimpah-limpah.” Bukan hanya “ada sukacita”, tetapi “ada sukacita berlimpah-limpah”!

Dan Tuhan terus-menerus memerintahkan kita untuk mencari Dia dengan sungguh-sungguh karena Dia tahu hanya Dia yang dapat menjawab kebutuhan hati kita yang terdalam. No, happiness is not inside you; it is in God’s presence. He doesn’t let people go from His presence empty handed, He sends joy together with them.

Monday, March 13, 2017

Joy vs. Happiness



by Poppy Noviana


Apa sih, perbedaan dua hal di atas? Secara fisik sih, terlihat sama, bahkan bisa dibilang mirip. Contoh: wajahnya sama-sama sumringah, matanya sama-sama berbinar-binar, hidungnya kembang kempis, kakinya melompat-lompat dan reaksinya menari-nari.

Lantas apa dong, bedanya?

Beberapa fakta dapat menggambarkannya. Salah satunya adalah dari seseorang yang tidak pernah bahagia di dalam hidupnya, sekalipun ia kaya dan cakap secara fisik. Dia merasa happy saat menghabiskan waktu dan uangnya untuk berfoya-foya, namun tetap saja dia akan kembali murung dan hampa.

Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana bisa lebih bahagia dan merasakan kehidupan yang utuh sepenuhnya. Bahkan dia bisa bersyukur saat ditimpa kesukaran, bisa memberi saat dia sendiri membutuhkan sesuatu, dan—yang lebih ekstrem lagi—dia bisa tersenyum kepada musuh yang menganiayanya. Kok, bisa gitu ya? Well, inilah yang disebut dengan sukacita (joy).

Matius 5:3-12 (TB) berkata begini,
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Anjuran berbahagialah di atas merupakan suatu kondisi yang diajarkan dalam Alkitab—namun tidak dapat dicerna dengan mudah dengan logika. Sangat berkebalikan dan sukar dipahami. Sukacita (joy) yang sebenarnya àdalah berasal dari dalam diri manusia yang diputuskan secara sadar oleh individu tersebut. Sukacita seharusnya bersifat kekal karena kondisi apapun tidak dapat mempengaruhi seberapa besar sukacita yang dapat kita terima dan rasakan dari Allah. Maka bersukacita dan bersyukurlah, sebab Allah menghendakinya.

Berbeda dari sukacita,  kebahagiaan (happiness) berasal dari luar diri manusia dan merupakan sebuah akibat yang dipengaruhi atas sesuatu atau seseorang. Kebahagiaan bersifat sementara karena tergantung pada suatu hal.

Kebenaran lainnya yang dapat kita renungkan adalah, “Hati yang gembira adalah obat (Amsal 17:22). Bagaimana mungkin dalam kesakitan dan kondisi tidak baik, Allah malah menyuruh kita untuk memiliki hati yang gembira?

Itu artinya Allah tahu persis bahwa kegembiraan dan sukacita itu bukan berasal dari luar tapi dari keputusanmu untuk bergembira dalam hati. Memang terlalu banyak alasan untuk merampas sukacita itu dari dalam hati dan ini merupakan kesukaan ilah-ilah zaman ini melalui roh-roh pemecah belah dan perpecahan yang mengintimidasi hati dan pikiran kita. Namun ingatlah, terlalu banyak kebenaran dan juga bukti yang dapat disadari untuk membantu kita bersukacita dalam hidup ini yang telah dianugerahkan oleh-Nya.

Filipi 4:8 (TB) pun berkata, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Dan ini doaku untukmu, dear readers, “Bersukacitalah  sekali lagi kukatakan bersukacitalah”. Amin.

Friday, March 10, 2017

Adalah SUKACITA di Hatiku



by Poppy Noviana


Ada sebuah lagu sekolah minggu yang liriknya cukup mudah diingat, namun tidak mudah untuk diterapkan.
Adalah sukacita di hatiku, di hatiku, di hatiku
Adalah sukacita di hatiku, dib’rikan Tuhanku
I’ve got the joy, joy, joy, joy down in my heart
Down in my heart, down in my heart
I’ve got the joy, joy, joy, joy down in my heart
Down in my heart to stay
* And I’m so happy, so very happy
I’ve got the love of Jesus in my heart
.

Tema kita bulan ini adalah sukacita. Disadari atau tidak, rasa-rasanya sukacita sulit sekali ditemukan hari-hari ini. Mengapa demikian? Lihat saja, banyak intimidasi perihal ras dan ujaran kebencian yang saat ini terjadi. Mudah sekali ditemukan cibiran dan keluh kesah yang diucapkan dalam hati dan pikiran setiap orang. Bisa diperkirakan, iblis lah yang bersenang-senang dengan apa yang sedang terjadi di masyarakat kita.

Namun, sebagai pengikut Kristus, kita sering diajar demikian, Sukacitaku tidak datang dari apa yang di luar. Sukacita adalah keputusan hati yang aku pilih. Ketika aku meresponi sebuah penghinaan, sebuah penganiayaan, bahkan intimidasi yang merenggut sukacitaku. Allah telah memberikan sukacita itu kepadaku, melalui Kasih-Nya yang sempurna, nafas hidupku, melalui pemeliharaan jasmani dan rohani, dan melalui semua yang ada padaku saat ini. Ampuni aku, ya Tuhan, jika selama ini aku melihat rumput tetangga lebih hijau, seolah tidak ada hal yang baik dan aku lupa bersyukur. Bolehlah hari yang lalu dukacita dan merana itu memenuhiku, tapi mulai hari ini dan besok... tidak ada lagi alasan bagiku untuk merasakannya. Bukan karena kondisiku atau keterbatasanku, tapi karena aku ingin lebih dewasa dengan meresponi seluruh kejadian dalam hidupku dengan bersukacita dan bersyukur senantiasa.

Pikirkanlah bahwa kamu adalah pribadi yang dicintai, akankah kamu merasa punya alasan untuk tidak bersukacita?

Pikirkanlah bahwa kamu adalah satu-satunya yang diciptakan unik seperti saat ini. Tidak ada yang mirip denganmu selain daripada Allah sendiri yang menciptakanmu serupa dan segambar dengan-Nya. Akankah kamu bersukacita mendengar hal ini?

Pikirkanlah pula ini: seberapa banyak berkat Tuhan dan anugerah-Nya yang terjadi dalam hidupmu selama ini?

Mungkin beberapa petanyaan-pertanyaan ini dapat membantumu merenung kembali. Mungkin selama ini kamu terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri dan lelah untuk menjalani hidup. Segala sesuatu seolah berjalan seperti sebuah rutinitas yang terus begitu saja, tanpa makna dan membosankan. Sekali lagi, kembali ke pertanyaan utamanya: adakah sukacita itu hilang daripadamu?

Nah, berikut beberapa tips sederhana yang dapat membantumu merasakan sukacita itu lagi:
a. Pikirkanlah bahwa apapun yang yang akan kamu temui hari ini adalah sebuah perkara yang sanggup kita lalui. Bukan berarti kita bisa melaluinya tanpa persiapan. Justru sebaliknya, kita harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, dengan setia melakukan perkara kecil dengan baik untuk menghasilkan sesuatu.
b. Jangan andalkan kekuatanmu sendiri. Mulailah mengandalkan Tuhan dalam dirimu.
c. Latih dirimu untuk mengucap syukur dalam segala hal dan berani bersikap untuk bersukacita meskipun apa yang kita alami terasa buruk.

Lakukan tips ini dengan doa dan tuntunan hikmat dari Allah, hal ini nampak sederhana namun tidak mudah. Semoga api sukacita itu tersulut kembali dalam hatimu dan berdampak bagi lingkungan di sekitarmu.

Wednesday, March 8, 2017

Peaceful Dessert Recipe


by Poppy Noviana

Why peaceful? For ladies, especially? Karena resep ini ngga akan bikin tambah gendut atau sampai merusak program diet kamu hehe. Damai di hati dan damai di kantong pastinya; soalnya selain harganya murah meriah, bahan-bahannya juga cukup mudah untuk diperoleh.

Yuk kita buat bareng-bareng:

Bahan utama:
Asinan dibuat dari buah pepaya mengkal dengan tekstur buah masih keras namun sudah berwarna kemerahan. Asinan pepaya ini dapat dicampur dengan buah-buahan lain; seperti kedondong, bengkoang/besusu, mangga muda dan nanas.

Bahan tambahan:
Gula, cuka, cabe, garam.

Cara pembuatan:
  1. Sortir buah-buahan favoritmu. Pilih buah-buahan yang memiliki tekstur cukup keras untuk melewati proses-proses berikutnya. Oh ya, buah-buahan tersebut harus segar ya, bukan buah yang rusak secara mekanis maupun mikrobiologis.
  2. Pastikan buah-buahan yang kamu pilih sudah bebas dari kuman dan kotoran. Kalau perlu, tambahkan klorin dalam air pencucian.
  3. Kupas kulitnya untuk kelancaran proses makan yang penuh dengan kedamaian *ciee.
  4. Potong buah-buahan sesuai selera dan jenis buahnya. Jika ingin terlihat lebih banyak, maka potonglah buah-buahan tersebut menjadi lebih kecil.
  5. Rendam buah-buahan dalam larutan garam 30 gram/liter selama dua jam.
  6. Cuci buah-buahan untuk menghilangkan rasa asin.
  7. Rendam buah-buahan dalam larutan kapur 10gram/liter untuk membuat daging buah keras. Tujuannya untuk mempertahankan bentuk buah agar tetap bagus dan enak dilihat.
  8. Cuci lagi untuk menghilangkan larutan kapur. Pastikan dicuci dengan bersih ya.

Pembuatan larutan gula (Kuah Asinan)
  1. Timbang cabe merah seberat 100 gram.
  2. Blender dengan air secukupnya, lalu saring
  3. Timbang gula seberat 400 gram
  4. Timbang garam seberat 20 gram
  5. Tambahkan gula dan garam ke dalam cabe, lalu masak sampai mendidih
  6. Tambahkan asam sitrat 3 gram/liter atau cuka sebanyak 15 mililiter/liter
  7. Jika ingin lebih tahan lama, tambahkan pengawet potasium sorbat 0,4 gram/liter, lalu dinginkan
  8. Masukkan buah ke dalam larutan gula.

Sukacita itu sederhana kok, saat kamu memilih untuk bersukacita ditemani asinan buah yang juga bisa make your day! Good luck ladies, happy tummy!

Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Ragam Inovasi Olahan Menambah Pendapatan Petani ,2011, Jakarta dan http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/detail/4987

Monday, March 6, 2017

Sukacita Datang di Pagi Hari


by Viryani Kho

"... sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak sorai." (Mazmur 30 : 5b).

Menjelang pagi terdengar sorak sorai, begitu kata Firman Tuhan. Dikatakan dalam Mazmur, sorak sorai/sukacita datang di pagi hari. Setiap hari adalah lembaran baru untuk kita. Ketika kita membuka mata kita setiap pagi, Tuhan sudah mengkirimkan paket istimewa yaitu sukacita dan kasih setia-Nya.

For Your grace is renewed every morning (Lamentations 3:23).

Satu hari yang akan kita lalui bergantung pada respon pertama kita di pagi hari. Akankah kita memilih untuk bersukacita penuh? Atau kita akan memilih hal lain seperti takut, khawatir, sedih, kecewa, marah, dan jengkel?

Ketika kita bangun di pagi hari dan dengan iman membuat pernyataan “ today will be a good day and I will be rejoiced in it”, the good day will eventually happen. Dengan pernyataan iman inilah sesungguhnya kita telah membuka pintu bagi sukacita untuk senantiasa hadir dalam hari-hari kita. Kita baru saja menerima paket istimewa, yaitu karunia sukacita yang Tuhan sudah kirimkan untuk kita. 

Sukacita itu adalah buah roh dari setiap anak-anak Tuhan yang hidup di dalam Dia. Jadi, sangat tidak mungkin bila kita hidup di dalam Dia, kita tidak merasakan sukacita sama sekali. Yang menjadi masalah adalah, tidak setiap orang mau menerima kasih karunia yang Tuhan telah berikan itu. Tidak semua orang mau membuka pintu hatinya dan menerima kado cuma-cuma yang Tuhan berikan setiap pagi.

Sukacita telah mengetuk selama berbulan-bulan, bertahun-tahun di setiap pagi dan berkata, "Ayo, biarkan aku masuk! Terimalah aku! Kamu bisa bahagia! Kamu bisa ceria! Kamu bisa menikmati hidup!" Tapi pada kenyataannya ada beberapa orang tetap mengeraskan hatinya dan tidak mau membukakan pintu.

Setiap pagi adalah lembaran baru yang Tuhan telah percayakan pada kita. Jangan kita sia-siakan paket istimewa yang Tuhan sudah berikan. Setiap pagi, tidak lagi perlu diingat-ingat kesusahan semalam, mari kita memilih untuk bersukacita. Biar sukacita itu penuh dan memampukan kita melewati sehari lagi yang Tuhan telah sediakan. Putuskan bahwa hari ini aku akan membuka pintu untuk kegembiraan dan sukacita boleh hadir di hati dan hidupku.

Mari buat komitmen, saya akan bangun setiap paginya dan berkata. “Terima kasih Tuhan untuk hari yang baru, aku mau full of joy, and I will be! I will enjoy this day, and I will try my best to cheer up someone else’s life. Aku mau memilih untuk menerima hadiah sukacita yang telah Kau berikan hari ini! Amin.”

Friday, March 3, 2017

Belajar dari Abigail


by Viryani Kho
Yuk, belajar penuh sukacita dari tokoh Alkitab satu ini, Abigail. Siapa sih sebenarnya Abigail? Dan apa yang bisa kita pelajari dari teladan iman serta karakternya yang cakap?
Nama orang itu adalah Nabal, dan nama istrinya adalah Abigail. Istrinya itu baik akal budinya dan cantik rupanya, tetapi laki-laki itu kasar dan jahat kelakuannya. Ia seorang yang degil. 1 Samuel 25:3

Abigail dan Nabal tentunya bukanlah pasangan yang serasi. Abigail terlalu baik untuk Nabal, sedangkan Nabal terlalu buruk untuk Abigail. Memang, Nabal kaya raya, punya banyak uang. Akibatnya, ia memandang dirinya sebagai orang yang sangat penting. Tetapi bagaimana pandangan orang lain? Di dalam Alkitab, hampir tidak ada tokoh lain yang dibicarakan dengan sebutan sehina Nabal. Namanya saja berarti  “degil”, atau  “bodoh”. Nabal ”kasar dan jahat perbuatan-perbuatannya”. Ia suka menindas dan mabuk-mabukan sehingga ditakuti dan tidak disukai oleh banyak orang.

Sedangkan nama Abigail sendiri berarti “bapaku sumber kesukaan” atau “bapaku membuat dirinya bersukacita.” Pernah gak sih bertanya-tanya, kok bisa yah mereka married? Kok Abigail mau sih sama Nabal? Yah, jawaban paling mungkin adalah pada zaman dulu di Alkitab pernikahan itu gak jauh-jauh dengan perjodohan. Jadi kemungkinan pernikahan Abigail dan Nabal terjadi karena perjodohan.

Bolehkah Abigail marah? Kesal? Atau bahkan berbuat jahat terhadap suaminya? Benernya berhak aja sih dia marah dan kesel. Siapa yang nggak coba? Di alkitab pun dijelaskan kisah Nabal melawan Daud. Sungguh tindakan yang tidak bijak dan mengancam keluarga mereka. Namun, Abigail tetap berbuat baik terhadap suaminya!

Setelah married, saya merasakan banget yang namanya gak gampang tunduk kepada suami. It’s always easier said than done. Tapi Abigail benar-benar seperti perempuan di Amsal 31! Dia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat!

Selain tidak berbuat jahat, saya juga percaya bahwa Abigail menjalani hari-harinya penuh dengan sukacita. Sesedih apapun pernikahan yang dia alami, Abigail berusaha untuk tetap tegar dan bersukacita.

Kenapa saya bisa yakin bahwa meskipun kehidupan Abigail tidak seperti cerita dongeng, dia tetap bersukacita? Tentu saja kita bisa lihat dari respon yang ditunjukkan Abigail. Ia tidak membiarkan hatinya dikuasai kebencian kepada suaminya, atau kehilangan kelemahlembutan kepada Daud, orang yang mengancam keluarga mereka.

Abigail adalah bukti bahwa sukacita adalah salah satu sumber kehidupan. Bila tidak ada sukacita di hati kita, kita tidak akan bisa hidup. Hidup ini akan serasa hampa, kosong dan kita akan terjebak dalam mental korban. Seperti di katakan dalam Amsal 17:22, Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Sukacita yang berasal dari hati bukan kegembiraan yang pura-pura, sangatlah bermanfaat bahkan mampu berfungsi sebagai obat yang manjur. Sebaliknya, kepedihan dan kepahitan bisa menjadi racun bagi hidup kita.

Kita tahu kalau pada akhirnya Nabal mati, dan Daud memperisteri Abigail. Tuhan sungguh tidak tinggal diam dalam membela umat-Nya. Jadi bila kamu merasa hidup ini tidak adil, atau sedang terpuruk, yuk, belajar dari Abigail. Kisah hidupnya ini sungguh memberi kita pelajaran untuk selalu menguatkan dan meneguhkan hati di dalam Tuhan! Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan menyertai kita. Dan, jangan lupa untuk senantiasa hidup penuh dengan sukacita!

Wednesday, March 1, 2017

Apa yang Alkitab Katakan Tentang Sukacita?

by Viryani Kho

Sukacita adalah salah satu dari sembilan buah roh.
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Galatia 5:22-23

Buah roh ini hanya bisa kita dapatkan bila kita berdiam diri di dalam Dia dan hidup di dalam Dia. Dunia gak bisa kasih, hanya Tuhan yang mampu memberikan buah roh itu. Kita bisa bahagia? Bisa donk. Makan enak, tas baru, mobil sport, dan rumah mewah bisa memberikan kita kebahagiaan kan. Siapa yang gak suka sama hal-hal kaya gitu? Apalagi cewek-cewek, kalo dapet cowo yang mandiri. Mobil pribadi, rumah pribadi juga :P pasti hepi donk, gak perlu mikirin susah-susah ke depannya. Everything seems like a fairy tale.

Tapi bahagia itu bersifat semu. Kalau semua hal tadi hilang atau diambil dari kita, akankah kita tetap bahagia? Berbeda halnya dengan sukacita. Sukacita adalah suatu karunia dari Roh Kudus. Ada jaminan dan keyakinan bahwa apapun yang terjadi, kita tetap bisa senantiasa penuh sukacita.,karena ada penyertaan Tuhan yang nyata dalam hidup kita. Penyertaan Tuhan yang kekal dan abadi, bukan hal dunia yang bersifat semu.

Dalam Galatia pun dikatakan bahwa sukacita adalah buah roh kedua setelah yang pertama dan terutama, yaitu kasih. Ini menandakan bahwa sukacita sangat penting untuk kehidupan kita, apalagi hari-hari ini, ketika akhir zaman makin dekat, dimana banyak tuntutan perkerjaan, ekonomi, dan hal-hal lainnya yang gampang membuat kita terlena dan dengan gampangnya take our joy away.

Sukacita ini begitu penting dalam kehidupan iman Kristen, sampai Firman Tuhan sendiri memberikan perintah khusus bagi kita untuk senantiasa bersukacita.

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4).


Sukacita muncul ketika kita sungguh-sungguh memelihara perintah-perintah Allah. Seperti Yohanes 5:10-11 mengatakan, “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.Tujuan Yesus dalam semua yang Ia ajarkan adalah sukacita bagi umat-Nya.
Juga dalam Yohanes 15:11, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”

What makes Christian joy special? And why is it so important?
1.     Kerajaan Allah adalah sukacita.
Roma 14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

2.     Sukacita adalah buah dari Roh Allah di dalam kita
Galatia 5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera.

3.     Sukacita dari Allah adalah kekal
Yohanes 16:22 Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.

4.     Allah sumber dari sukacita kita
Mazmur 43:4 Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku.

Mazmur 16:11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.