Monday, August 17, 2020

Siapakah Yang Terbesar?


by Yunie Sutanto

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"
(Matius 18:1 / TB)

Hasrat untuk menjadi yang paling besar rasanya ada di hati setiap manusia. Ingin jadi yang terpandai, ingin jadi yang tercantik, ingin jadi yang paling hebat! Sangat manusiawi. Bahkan di Markus 9:33-37 pun tercatat jelas bahwa para murid sempat bertengkar saat membicarakan siapa yang terbesar di antara para murid.

Siapakah yang paling besar? Yuk kita main tebak-tebakan sejenak. 

Siapakah pesulap paling besar? Sepintas terlintas di benak beberapa nama: Harry Houdini, David Copperfield dan Shin Lim. Saat mencoba mencari di Google search ternyata nama-nama pesulap ini memang muncul dalam deretan pesulap terbesar sepanjang masa.

Tebakan berikutnya: Siapakah kira-kira yang layak dinobatkan sebagai wanita tercantik di dunia? Bingung deh kalo yang ini, sebab bukankah cantik itu relatif? Wah, ternyata ada juga sebuah situs penyelenggara polling yang meminta responden dari seluruh dunia untuk menobatkan siapa gerangan 100 wanita tercantik di bumi!

Hasrat untuk unggul memang sesuatu yang manusiawi. Keinginan itu disuburkan oleh perasaan ingin diakui, dikagumi, dan dipuja… yang ujung-ujungnya berkembang menjadi ingin dimuliakan.

Kembali ke nats bacaan kita tadi. Terbesar versi Alkitab memang berbeda dari versi dunia. Lantas, apa sih jawaban Yesus saat para murid-Nya – yang ternyata juga punya hasrat untuk jadi yang terbesar, bertanya pada-Nya: “Siapakah yang terbesar di Kerajaan Sorga? Siapakah dari antara para murid yang paling besar?”

Yuk simak baik-baik Matius 18:2-5 (TB):

Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."

Jawaban Yesus cukup to the point. Ia memanggil seorang anak kecil. Ia tidak memanggil orang bijak, sarjana terpelajar atau orang hebat untuk dipelajari pengalaman hidupnya. Tidak! Yesus malah memanggil seorang bocah ingusan. Jangankan menjadi terbesar di Kerajaan Sorga, masuk Sorga pun tidak bisa kalau kita tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil! Orang yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecillah yang terbesar di Kerajaan Sorga. 

Lantas mengapa anak kecil ya? Ada apa gerangan dengan anak kecil? Sikap hati seorang anak kecil rupanya yang menjadikan seseorang "besar" di Kerajaan Sorga.

Seperti apa sih sikap hati seorang anak kecil itu?

RENDAH HATI & TEACHABLE; Seorang anak mudah belajar apapun dari siapapun, kapanpun dan dimanapun. Ia punya sikap hati yang penuh rasa ingin tahu sehingga ia mudah diajari. Ia tidak sok tahu dan merasa sudah mengerti. Anak kecil itu punya kualitas hati yang mudah diajar. Bukankah semangat pembelajar seorang murid Kristus itu seyogyanya demikian? 

MURNI HATI; Anak kecil mempunyai sikap hati yang murni hatinya. Seseorang yang punya sikap hati seperti anak kecil bisa melihat Tuhan dalam segala sesuatu. Senantiasa menyadari bahwa Tuhan hadir dalam segala fase kehidupan, bahkan dalam hal-hal kecil pun Tuhan hadir.

DEPENDANT; Orang yang mempunyai sikap hati seperti anak kecil sadar bahwa ia lemah dan ia membutuhkan otoritasnya. Ia mempunyai sikap hati yang bergantung pada Tuhan. Ia tidak mengandalkan kekuatan dirinya dan bermegah atas kemampuannya.

MUDAH MENGAMPUNI; Orang yang punya sikap hati seperti anak kecil tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia mudah melupakan kesalahan orang dan mudah mengampuni. Lihatlah anak-anak bermain gundu yang berantem, tak lama berselang mereka sudah main bareng lagi. 

Alih-alih berlomba meninggikan diri, mari belajar untuk merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini. Sebab, bagi Allah, justru orang yang demikianlah yang Ia anggap terbesar dalam Kerajaan Sorga.

Monday, August 10, 2020

Mengasihi Walau Pedih


by Poppy Noviana

Suatu pagi, adik saya berinisiatif untuk pergi mengunjungi saudara yang sudah lama sekali tidak kami kunjungi—karena ada perselisihan di antara kami. Memang kondisinya semakin diperburuk karena saya merasa berada di posisi yang lebih benar dalam perkara tersebut. Mereka menyakiti saya dan tidak peduli pada hidup saya, bahkan saat ada di titik terendahpun, mereka tidak hadir untuk menolong saya. Mereka sangat arogan dan cenderung egois. Tidak hanya itu, sampai detik ini, saya belum pernah mendengar kata maaf dari mereka. Itulah sebabnya saya lebih suka untuk tidak berhubungan lagi dengan mereka setelah perselisihan yang terjadi. Wajar dong, ya? Kalau kata netizen, itu manusiawi banget!

Pagi itu pun saya cukup kaget, karena saya tidak menyangka bahwa adik saya dan pacarnya akan berkunjung ke sana untuk silaturahmi. Saya sadar ini bukan gerakan pembalasan namun awal suatu pemulihan, sebab saudara kami ini memang baru saja kehilangan seorang anggota keluarganya. Saya tidak melarang adik saya dan justru mendukungnya, namun untuk ikut ke sana? Hm, rasanya saya masih perlu waktu untuk memulihkan diri. Yah… saya bukan memaksudkan cerita ini sebagai sesuatu yang bisa diteladani, sih. Bahkan melalui tulisan ini, saya juga sedang berjuang dalam menyelesaikan masa lalu saya—khususnya melepaskan pengampunan kepada orang-orang yang merasa lebih benar, sementara saya merasa layak untuk marah kepada mereka.

Saya tahu kalau tidak mengampuni akan merugikan diri sendiri; dan menyadari bahwa tanpa kasih, semua yang saya lakukan untuk Tuhan adalah sia-sia. Namun di sisi lain, saya tetap berdoa untuk para saudara saya dan untuk hati ini, agar saya bisa benar-benar mengampuni mereka dengan sepenuh hati dan itu terlihat dari perbuatan saya kepada mereka. Hal ini bukan perkara mudah, namun saya mau melakukannya karena ini perintah Tuhan. Toh Dia juga sudah mengampuni saya—yang sebenarnya tidak layak untuk diampuni atas dosa-dosa saya.

"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan
apa yang Aku katakan?”
(Lukas 6:46)

Masih ingat dengan peristiwa Yudas yang mengkhianati Yesus? Saat itu, Yudas menjual Yesus sebesar 30 keping perak untuk kepentingan dirinya sendiri. Yesus tahu akan hal itu: Dia tahu bahwa Yudaslah yang akan mengkhianati-Nya, tapi Dia tetap memperlakukan Yudas dengan baik.

Lah? Kok, bisa?

Berbeda dari kita, fokus Yesus adalah pada kekekalan—bukan peristiwa yang terlihat saat itu. Bahkan pada momen klimaks pengkhianatan Yudas yang berupa ciuman (Lukas 22:47-48), emosi-Nya juga stabil. Mungkin saja hal itu terjadi karena di dalam natur kemanusiaan-Nya, Yesus juga sering berhadapan dengan Iblis dan orang fasik yang “suka” menguji kesabaranNya. Bayangkan saja, ketika orang fasik merasa dirinya lebih benar dari Yesus—padahal Dia adalah Tuhan, Sang Sumber Kebenaran!—menurut saya, Dia sangat berhak untuk marah. Duh… Walaupun demikian, Yesus tetap bisa mengendalikan diri dan—nantinya—berdoa agar Allah mengampuni mereka yang menyalibkan-Nya (Lukas 23:34).

Kisah ini membuktikan bahwa dalam natur kemanusiaan-Nya, Yesus juga pernah disakiti dan dikhianati oleh orang terdekat-Nya. Yesus tidak hanya asal mengajar tentang pentingnya pengampunan melalui perkataan, namun juga memberikan teladan sempurna dalam penyaliban-Nya—sesuatu yang tidak akan dilakukan oleh manusia berdosa! Mana ada orang yang bisa dengan mudahnya benar-benar mengampuni, apalagi jika dia dilukai oleh orang yang selama ini dipercayainya!?

Semakin dekat relasinya, maka semakin besar pula kesempatan kita untuk melukai orang lain. Kesadaran akan hal ini mendorong saya untuk melatih diri agar hanya mengandalkan Allah sebagai satu-satunya sumber kepuasan dan pertolongan—bukan dari manusia. Ya, sebagai Pencipta, hanya Allah yang paling memahami dan mengasihi saya. Bahkan Dia merelakan Yesus Kristus, Putra Tunggal-Nya, untuk menebus saya di kayu salib—sebuah pengorbanan yang sangat berarti bagi saya secara pribadi.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
(Matius 5: 39-45)

Ketujuh ayat di atas memang mudah untuk hanya dibaca, namun melakukannya? Duh… rasanya harga diri ini jadi tercabik-cabik, kan? Bukannya ingin kembali menjalin relasi yang telah berubah, kita justru memilih menghindar dengan alasan “masih memulihkan hati”. Hmm… healing takes time, sih. Tapi mungkin luka yang sedang “dipelihara” ini membuat kita menyadari “the unknown me” yang selama ini tidak kita kenali. Ternyata kita adalah manusia yang rapuh dan tidak berdaya untuk memulihkan luka ini sendirian, sehingga untuk mengampuni orang lain pun tidak sanggup. Meski demikian, Yesus menguatkan kita: ketika kita mengasihi dan mengampuni seseorang melebihi dari yang bisa dilakukan oleh yang bukan-orang-percaya, sebenarnya kita sedang menghadirkan citra Bapa bagi orang lain—khususnya yang telah melukai kita.

Lalu bagaimana agar kita bisa mengampuni musuh dan berdamai dengan mereka, seperti yang diperintahkan dan dilakukan Yesus?

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
(Matius 5:46-48)

Menjadi serupa Kristus berarti memiliki prinsip hidup, cara hidup, dan pengambilan keputusan seperti Kristus. Yah, itulah panggilan hidup bagi setiap kita yang sudah mengakui Yesus sebagai Juruselamat secara pribadi. Artinya, saat kita berani memaafkan orang-orang yang selama ini membenci maupun melukai kita, sebenarnya kita juga sedang mengerjakan panggilan kita dan bertumbuh dewasa menjadi pribadi yang berkarakter seperti Kristus. Walaupun prosesnya membutuhkan waktu yang tidak sebentar (bahkan bergalon-galon air mata), Roh Kudus juga menolong kita untuk memiliki kehidupan yang lebih sehat secara jiwa dan emosi.

Sebuah pengampunan hanya bisa diberikan ketika kita benar-benar mengenal identitas kita sebenarnya di hadapan Allah. Yaps, kita adalah anak-anak Allah yang diterima-Nya dengan penuh anugerah melalui penebusan Kristus, dan dibebaskan dari penghakiman yang seharusnya kita terima. Kita juga adalah umat pilihan yang sudah dipersiapkan juga untuk suatu pekerjaan baik oleh Allah, dan kita tidak bisa dipisahkan dari kasih Allah. Sebagai orang percaya, kita juga dijadikan-Nya warga kerajaan Allah! Karena itu, kita harus menerima kebenaran ini sebagai suatu yang membebaskan dan mengingatkan kita untuk tidak menempatkan diri pada posisi yang “lebih benar”, “lebih baik”, ataupun “lebih berhak marah kepada mereka yang menyakiti” kita. Ini artinya kita juga harus mengikis ego diri sendiri; toh Bapa telah mengampuni kita—bahkan ketika kita masih berdosa!

Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya. Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.
(Lukas 6:47-49)

Salah satu buah dari pertobatan adalah pemberian pengampunan kepada orang lain. Jika demikian, pertanyaannya adalah… haruskah kita mengampuni semua orang—literally? Hmm… tentu kita memerlukan hikmat agar tidak salah dalam menyikapi hal ini. Walaupun rasanya pedih, kita harus mengimani dan mengamini bahwa kita tidak sendirian: ada Allah yang juga merasakan kepedihan itu! Dia juga memahami betapa sulitnya untuk tetap mengasihi orang-orang yang sudah melukai kita. Karena itu, kita perlu jujur kepada Allah tentang hal ini. Kerapuhan kita yang disebabkan oleh dosa membuat kita tidak berdaya untuk memberikan pengampunan dengan tulus kepada orang lain. Kiranya melalui keterbukaan dan penyerahan hati yang hancur ini, kita dimampukan-Nya untuk berkata, “Let my life reflect Your heart”[1], karena kita juga dipanggil untuk memancarkan hati Allah kepada orang-orang yang bahkan telah melukai kita sebagai sebuah bentuk ibadah yang sejati.


[1] Make My Life a Sacrifice, oleh Joseph Martin dan Jan McGuire

Monday, August 3, 2020

Mengapa Yesus Mau Melayani?


by Glory Ekasari

Mayoritas orang Kristen pasti pernah mendengar tentang kisah Tuhan Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Ini peristiwa yang tidak biasa, karena di mana-mana guru atau tuan itu dilayani dan dituruti—bukannya malah melakukan hal yang rendah bagi pengikutnya. Namun Yesus mendobrak norma dan menentukan standar yang baru bagi para pemimpin. Tapi mengapa Dia mau melakukannya?

Kita bisa membaca kisahnya dalam Yohanes 13:1-17, tapi secara khusus saya akan menyoroti ayat-ayat di awal kisah ini:

Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu bahwa saatnya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Yesus tahu bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya, dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
(Yohanes 13:1, 3)

Melalui kedua ayat tersebut, kita “mengintip” isi hati Yesus tentang self-awareness yang Dia miliki. Setidaknya itulah yang akan kita pelajari dari Tuhan sekaligus Guru kita dalam artikel kali ini.

1. YESUS MENGASIHI MURID-MURID-NYA
Suatu kali ketika sedang mengobrol dengan Mama, saya menceritakan tentang seorang teman yang frustasi mengurus anaknya yang masih kecil. Saya bertanya kepada Mama, “Sampai umur berapa sih, anak menyusahkan orang tua?”, yang dijawabnya dengan sangat singkat, “Sampai tua.”

Jawaban yang tongue-in-cheek ini pasti me-rhema bagi para ibu. Hahaha… Tapi mengapa orang tua bersedia direpotkan oleh anak—bahkan kadang-kadang diperlakukan dengan tidak hormat, direndahkan, anak berontak, dan sebagainya? Mengapa orang tua juga tetap mengurus mereka, memperhatikan, membiayai, bahkan melayani anak-anak itu (sekalipun tindakannya tidak selalu diapresiasi oleh mereka)? Penyebabnya hanya ada satu: kasih.

Yesus menyadari bahwa pada perjamuan malam menjelang Paskah itu adalah momen terakhir bagi-Nya untuk mengajarkan sesuatu kepada para murid-Nya secara langsung. Mereka sudah melihat semua teladan hidup-Nya, dan pada saat itu Dia akan menunjukkan kepada mereka satu prinsip sangat penting: kasih membuat orang menjadi rendah hati dan mau melayani. Yesus mengajarkan ini dengan tindakan nyata: Dia mengambil posisi seorang hamba dan membasuh kaki mereka. Bukan karena Dia memiliki posisi yang lebih rendah, tapi justru karena Dia lebih berkuasa dari mereka. Yesus menggunakan kuasa-Nya itu bukan untuk menindas, melainkan untuk melayani.

Ketika kita mengasihi, kita bersedia merendahkan diri untuk melayani, bahkan apabila kita diperlakukan dengan tidak baik. Kita perlu introspeksi diri bila selama ini kita sering mengeluh tentang fasilitas yang tidak kita dapatkan, apresiasi yang tidak kita terima, dan kesulitan yang kita alami. Mengapa kita melayani? Apakah kita mengasihi orang-orang yang kita layani? Apakah kita mau memanfaatkan waktu yang terbatas dalam hidup kita untuk mengikuti teladan Tuhan Yesus, dan melayani orang lain?

2. YESUS TAHU BAHWA BAPA TELAH MENYERAHKAN SEGALA SESUATU KEPADA-NYA
Ketika Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun, Iblis berkata, “Segala kuasa (kerajaan dunia) serta kemuliaannya... telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.” (Lukas 4:6) Ketika manusia jatuh dalam dosa, mereka memberontak terhadap Allah dan menaati Iblis, sehingga sejak saat itu Iblislah yang berkuasa di bumi dengan memakai manusia sebagai pion-pionnya untuk merusak ciptaan Allah. Tetapi Yohanes menulis bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada Yesus! Lalu kapankah perpindahan kekuasaan itu terjadi?

Di mana-mana, perebutan kekuasaan pasti dilakukan dengan cara konfrontasi. Bangsa kita merebut kekuasaan dari tangan para penjajah dengan cara berperang dan diplomasi. Kita melawan mereka yang menindas kita. Nah, banyak orang Kristen berpikir cara mengalahkan Iblis adalah dengan cara yang sama. Tetapi Yesus tidak berperang melawan Iblis dengan cara-cara seperti yang kita bayangkan. Lalu bagaimana caranya? Bagaimana Yesus mengalahkan Iblis dan mengambil alih kekuasaan dari tangannya?

Melalui penderitaan dan kematian-Nya. Melalui salib.

Logikanya demikian: Manusia pertama memberontak kepada Allah dengan ketidaktaatannya dan menyerahkan pemerintahan kepada Iblis (karena tadinya yang ditentukan untuk berkuasa di bumi adalah manusia); Yesus Kristus membalikkan keadaan dan mengambil kembali kekuasaan itu, dengan – tentu saja – ketaatan-Nya kepada Allah. Bukan ketaatan pada saat-saat tertentu saja, tapi ketaatan yang sempurna sepanjang hidup-Nya, sampai kematian-Nya. Dan sebagai upah dari ketaatan-Nya, kita melihat dalam Filipi 2:9-11:

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya di dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Bertahun-tahun yang lalu saya melihat sebuah buku rohani yang berjudul Descending Into Greatness (tulisan Bill Hybels). Saya tidak pernah membaca bukunya, tapi judulnya melekat dalam ingatan saya. Bagi manusia, greatness (kebesaran, kemahsyuran) itu adanya di atas, dan jalan ke sana adalah ascending (naik), bukan descending (turun). Makanya kita berebut menjadi yang terbaik, paling kaya, paling sukses, paling dihormati, dst. Kita berusaha membangun “menara Babel” masing-masing agar sampai ke langit—pada kemuliaan Allah. Tapi tidak seorangpun berhasil sampai ke sana. Kita semua dihentikan oleh keterbatasan dan, pada akhirnya, kematian.

Berbeda dari yang diajarkan oleh dunia, Yesus tahu bahwa jalan untuk mencapai kemuliaan itu bukan ke atas—melainkan ke bawah. Caranya bukan dengan pemberontakan, tapi dengan ketaatan. Dari surga yang mulia, Dia turun ke bumi. Dia turun lebih rendah lagi saat Dia dibaptis oleh Yohanes dan bersolidaritas dengan semua manusia yang berdosa. Dia turun lebih rendah lagi saat Dia membasuh kaki murid-murid-Nya. Dan Dia sampai pada titik terendah ketika Dia dianiaya, ditelanjangi, dinista, dan dibunuh dengan keji di kayu salib. Yesus bersedia melakukannya karena bagi-Nya semua itu tidak sia-sia. Melalui ketaatan-Nya, Dia menyelamatkan kita, memuliakan Bapa, dan mengalahkan Iblis.

3. YESUS TAHU DARI MANA DIA BERASAL
Seandainya Yesus berasal dari dunia ini—seperti kita—maka Dia akan berjuang, melawan, dan berperang dengan raja-raja lain untuk berebut kekuasaan, seperti yang kita lihat setiap hari di berita. Sebagian besar manusia merasa bahwa mereka berasal dari dunia ini dan karenanya mereka hanya hidup satu kali, sehingga mereka harus mendapat kemuliaan sebesar mungkin selagi mereka ada di dunia.

Tapi Yesus tidak berasal dari dunia. Di dunia ini Dia hanya menjalankan tugas, dan setelah itu Dia akan kembali ke tempat-Nya di surga. Karena itu Dia tidak pusing tentang berebut kekuasaan dan sebagainya. Bukankah segala kuasa telah diberikan oleh Bapa kepada-Nya? Karena itulah Yesus bisa mengerjakan tugas-Nya dengan fokus, tanpa beban kepentingan pribadi-Nya.

Kalau kita merasa at home di dunia, kita akan melakukan apa saja untuk mempertahankan posisi kita. Kita akan bermusuhan, bertengkar, berperang dengan orang lain demi membela kepentingan kita. Tapi kalau kita menyadari bahwa kita, yang percaya kepada Tuhan Yesus, tidak lagi berasal dan berakhir di dunia ini, then we have nothing to lose. Di dunia ini kita hidup hanya menjalankan tugas untuk kemuliaan Allah, dan setelah itu kita pulang ke tempat kita yang sebenarnya, yang telah Yesus sediakan bagi kita (Yohanes 14:2-3). Melayani? Tidak masalah. Merendahkan diri? Bagi Tuhan, apa sih yang enggak. Bahkan mati? “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Yesus bersedia menerima salib, karena salib itulah yang akan menghantarkan-Nya kepada kebangkitan, dan kepada kemuliaan.

Sebagai pemusik, saya belajar bahwa pemusik yang benar-benar jago biasanya justru menyembunyikan skill dan bersedia main musik sebagai pengiring, bukan sebagai pusat perhatian. Pada waktunya, misalnya ketika mendapat bagian solo, dia akan menunjukkan kebolehannya; tapi di luar itu dia bermain wajar, bahkan minimalis. Mengapa? Bukan karena dia tidak percaya diri. Tapi karena orang yang benar-benar ahli tidak merasa perlu menunjukkan kebolehannya hanya karena ingin diakui; dia sudah tahu bahwa dia hebat. Sebaliknya, mereka yang banyak gaya biasanya tidak banyak skill dan hanya ingin menonjolkan diri.

Jika seorang pemain musik saja bisa berpikir seperti itu, apalagi Yesus Kristus, Tuhan kita! Sebagai yang berkuasa atas segalanya, Dia tidak merasa perlu menonjolkan diri atau minta diakui. Dia bersedia merendahkan diri dan melayani, karena satu motivasi yang paling mendasar: kasih. Sebagai salah satu bagian dari pengajaran-Nya, Yesus juga berkata,

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu – Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu – maka kamupun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu jika kamu melakukannya.”
(Yohanes 13:13-17)

Kiranya teladan Tuhan Yesus ini menolong kita untuk tetap setia melayani di dalam seluruh konteks yang dipercayakan-Nya kepada kita. Soli Deo Gloria.

Monday, July 27, 2020

Berdoa dengan Keteguhan


by Mekar Andaryani Pradipta

Memasuki minggu terakhir di bulan Juli, kita masih akan belajar dari perumpamaan yang diajarkan Yesus. Kali ini adalah tentang hakim yang tidak benar, seperti yang tertulis di Lukas 18:1-8. Perumpamaan ini unik; kalau perumpamaan-perumpamaan lain punya makna yang tersirat, Lukas justru menegaskan maksud perumpamaan ini sejak awal. 

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
(Lukas 1:8)

Ayat tersebut senada dengan judul yang diberikan oleh Alkitab versi The Passion Translation untuk perumpamaan ini, yaitu “Jesus Gives a Parable about Prayer”.

Perumpamaan ini sebenarnya sederhana. Ada seorang hakim yang tidak mengenal Tuhan, dan ada pula seorang janda miskin yang memohon kepada hakim itu agar memberinya keadilan. Meskipun permintaannya tidak dipedulikan oleh sang hakim, si janda miskin tetap memohon siang dan malam—sampai akhirnya hakim itu berubah pikiran. Dia mengabulkan permohonan si janda miskin, agar janda itu tidak mengganggunya lagi.

Yesus menutup perumpamaan ini dengan perkataan, “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru-seru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”

Hal pertama yang bisa kita pelajari dari perumpamaan ini adalah tentang pribadi Allah. Sama seperti pada pengajaran Yesus tentang pengabulan doa (Matius 7:7-10), Yesus membandingkan pribadi Allah dengan sosok yang bertolak belakang dari manusia yang berdosa. Allah digambarkan sebagai Hakim yang Adil dibandingkan dengan hakim yang tidak benar. Allah sebagai Bapa yang Baik, dibandingkan dengan bapa yang jahat. 

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
(Matius 7:11)

Yesus ingin kita belajar bahwa Allah itu baik dan Dia hanya memberikan pemberian yang baik bagi kita. Tapi, jujur saja, berapa kali kita berprasangka kepada Allah ketika hidup kita tidak berjalan seperti yang kita inginkan? Kita lupa bahwa “baik” di sini adalah menurut hikmat dan kedaulatan Tuhan, bukan “baik” menurut keinginan kita. Kita lupa bahwa kita hanyalah manusia yang tidak akan mampu menyelami pikiran Allah, jika Dia tidak menyatakannya kepada kita.

Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir.
(Mazmur 139:17-18a)

Ketika kita berdoa, mengenal pribadi Allah akan membuat kita punya sikap hati yang benar. Kita dimampukan untuk memiliki hati yang memahami bahwa jawaban Allah—apapun itu—adalah baik untuk kita, dan percaya bahwa Allah—sebagai Bapa yang Baik—tidak pernah merancang hal yang jahat untuk kita, anak-anak-Nya.

Hal kedua yang bisa kita ambil sebagai pelajaran adalah kesabaran dan keteguhan hati janda miskin. Melihat kemiskinannya, janda miskin ini tidak punya sumber daya lain untuk mendapatkan haknya. Karena yang dihadapinya adalah hakim yang tidak benar, seandainya si janda punya uang pelicin, bisa saja kasusnya langsung selesai. Tapi, alih-alih berutang atau mencuri, dia memilih menjalani proses yang memang seharusnya dia jalani. Janda miskin itu tidak mengambil jalan pintas... hingga akhirnya kasusnya dapat teratasi.

Banyak orang ketika berdoa menginginkan hasil yang instan, namun lupa bahwa Tuhan bukan tukang sulap. Padahal Dia adalah Allah yang berkenan kepada proses. Meski demikian, di saat yang sama, Dia juga bukanlah Allah yang mengulur-ulur waktu sebelum memberikan pertolongan—bahkan di luar dari yang bisa kita bayangkan (Lukas 18:7b). Ya, Dia adalah Allah yang tepat waktu.

Jawaban doa yang seakan tertunda bisa menampakkan sikap hati kita sesungguhnya. Sebagai contoh, Alkitab mengisahkan tentang kegagalan Saul dalam menanti-nantikan waktu Tuhan (1 Samuel 13). Pada waktu terhimpit serangan orang Filistin, Saul berada di Gilgal. Seharusnya dia menunggu Samuel untuk bersama-sama mempersembahkan korban bakaran. Tapi kenyataannya, karena tuntutan orang banyak dan ketidaksabarannya sendiri, Saul justru melanggar hukum Allah. Bukannya menunggu Samuel, Saul sendirilah mempersembahkan korban bakaran. Karena itulah, saat Samuel datang, dia menegur Saul dan menyatakan hukuman Allah untuk Saul.

Memang tidak mudah untuk bersabar menunggu sampai pertolongan Allah datang. Rasanya membosankan ketika melakukan sesuatu yang seakan sama setiap hari dan berusaha tanpa henti, namun hasilnya tidak juga kelihatan. Lalu, apakah kita berhak untuk berhenti berharap? Kiranya perkataan Yesus ini menguatkan kita semua,

“He will not delay to answer you and give you what you ask for. He will give swift justice to those who don’t give up. So be ever praying, ever expecting, just like the widow was with the judge.”
(Luke 18:7b-8a)

Di masa yang sulit dan penuh ketidakpastian ini, mungkin ada di antara kita yang merasa seperti janda miskin. Berdoa menaikkan permohonan—bahkan berulang kali—setiap hari, tapi Tuhan seolah-olah tidak peduli. Namun setelah membaca tulisan ini, mari mengingat lagi pribadi Allah dan membangkitkan kembali iman kita. Dia adalah Allah yang baik, yang tahu waktu terbaik untuk setiap doa anak-anak-Nya. Dia tidak berlambat-lambat, melainkan selalu menjawab tepat pada waktu-Nya. Bagian kita adalah tetap berdoa dan berusaha dengan keteguhan iman dan ketekunan menunggu timing Tuhan. Be still, and know that He is God, The Emmanuel.

Monday, July 20, 2020

“TERHILANG? AKU? AH, YANG BENER AJA!”


by Tabita Davinia Utomo

Ketika masih kecil, setiap kali pergi ke sebuah tempat, saya suka sekali mencari tahu apa saja yang ada di sana. Ketika keluarga kami bepergian, Nenek bahkan pernah menyarankan agar Mama mengikat saya dengan semacam tali laso. Tentu saja agar saya tidak pergi sesukanya sendiri, meskipun waktu itu saya masih berusia 2,5 tahun.

Bagi saya, banyak hal yang ingin saya eksplor di tempat baru, tapi belum tentu orang tua saya mengijinkan atau mau menemani ke sana. Kalau begitu, bukankah pilihannya pergi diam-diam sendirian? 

Sebagai anak-anak Tuhan, kita juga sering melakukan hal yang sama. Kita merasa ingin melihat “dunia luar”, meskipun resikonya adalah jauh dari Allah, Bapa kita. Kita menganggap “berpetualang” itu baik untuk kita, tapi ternyata belum tentu demikian. Setelah itu, kita ragu untuk bertobat karena kita menganggap diri kita sudah terlalu kotor. Bisa dibilang, “Karena udah rusak, jadi bablasin aja sekalian.” Benar atau tidaknya pemikiran tersebut akan terjawab melalui perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Sebelum membaca artikel ini lebih lanjut, Pearlians dapat membaca artikel Ci Benita mengenai domba yang hilang untuk memperoleh gambaran tentang siapa saja yang mendengarkan pengajaran Yesus ini. 

Pada jaman Yesus, ada dua kelompok besar di masyarakat yang sangat bertolak belakang. Siapa lagi kalau bukan orang Farisi dan ahli Taurat vs. pemungut cukai dan orang berdosa. Lewat perumpamaan anak yang hilang, Yesus menunjukkan bahwa sebenarnya mereka sama-sama berdosa di hadapan Allah. Kenapa bisa begitu?

1. Anak bungsu menggambarkan mereka yang memang berniat meninggalkan ayahnya.
Apa tandanya? Pertama, anak bungsu meminta hak waris sementara ayahnya belum meninggal. Ini sesuatu yang bisa dibilang sangat kurang ajar. Bagaimana bisa ada seorang anak yang tega meminta haknya, bahkan sebelum orang tuanya meninggal? Tapi inilah yang dilakukan sang anak bungsu itu.

Setelah mendapat warisannya, Anak Bungsu menjual harta warisan itu. Mungkin harta yang dia dapat adalah investasi keluarga seperti ternak, emas, atau tanah. Supaya dia punya fresh money, harta itu harus dijual. Mungkin pula Anak Bungsu benar-benar ingin putus hubungan dengan ayahnya. Jika warisannya tidak dijual, bisa jadi Anak Bungsu masih perlu menitipkan ternak atau tanah yang dia terima pada ayahnya. Jika tidak dijual, “koneksi” dengan ayahnya masih diperlukan. 

Setelah mendapatkan uangnya, Anak Bungsu itu bahkan pergi “ke negeri yang jauh”. Tidak dijelaskan kemana persisnya, tapi Yesus menggunakan frase ini untuk menegaskan bahwa Anak Bungsu tidak lagi ingin bertemu dengan ayahnya. Bahkan setelah bencana kelaparan melanda di sana (dan membuatnya melarat), anak itu justru memilih jadi penjaga babi—pekerjaan yang sangat najis karena orang Yahudi mengharamkan babi.

Tapi walaupun sudah pergi sejauh mungkin, Anak Bungsu tetap mengingat ayahnya. Ia ingat bagaimana ayahnya memperlakukan hamba-hambanya dengan layak, tidak seperti bagaimana dia diperlakukan saat menjadi penjaga babi. Merindukan kasih ayahnya Anak Bungsu memutuskan pulang. Ia mendapat sambutan hangat dan penerimaan dari ayahnya.

2. Anak Sulung tidak sepenuhnya mengenal ayahnya—yang ternyata sangat berhati lembut dan penuh kasih— juga tidak mengasihi adiknya sendiri.
Setelah melihat adiknya disambut dengan meriah, Anak Sulung protes kepada ayahnya. Dia merasa tidak dikasihi seperti adiknya. Padahal, ayahnya juga mengasihi Anak Sulung dengan kasih yang sama. Anak Sulung beranggapan bahwa dia harus bekerja keras untuk membuat ayahnya senang dan menghargainya, sementara adiknya—yang mempermalukan mereka—memperoleh sambutan yang seharusnya ia terima. “Ini tidak adil!” demikian kira-kira ungkapan yang menggambarkan kekesalannya.

Dari perumpamaan di atas, kita bisa melihat bahwa pada dasarnya, tidak ada seorangpun yang benar di hadapan Allah (Roma 3:10), literally. Hanya karena anugerah-Nya kita digerakkan untuk bertobat dan melakukan apa yang Allah kehendaki. Ketika kita memahami hal ini, mungkin ada beberapa pertanyaan yang bisa kita renungkan bersama:
“Apa aku merasa kehilangan arah hidupku?”

“Apakah aku memang sudah mengenal Allah dengan sungguh-sungguh?”

“Apakah aku masih sering menganggap diriku lebih layak memperoleh berkat Tuhan dibandingkan orang lain—yang (mungkin) hidupnya tidak lebih baik dariku?”

“Apakah aku merasa bahwa Tuhan mengekangku, meskipun Alkitab menunjukkan apa yang dilakukan dan diberikan-Nya adalah untuk kebaikanku?”
Kiranya masa pandemi ini menolong kita untuk berefleksi seberapa jauh kita mengenal Allah sebagai satu-satunya Pribadi yang setia menunggu kita pulang ke dalam pelukan-Nya.

NB: Pearlians dapat berefleksi juga melalui artikel ini.

Monday, July 13, 2020

Akhirnya Aku Mengerti



by Glory Ekasari

Ketika masih SMA, saya sangat tidak suka pelajaran Fisika. Aneh, karena saya mengambil jurusan IPA. Selama dua tahun, pelajaran itu menjadi “duri dalam daging” bagi saya. Nilai Fisika saya? Yah, yang penting cukuplah untuk lulus. Hahaha.

Kenapa saya tidak suka Fisika? Alasannya sederhana: karena saya tidak paham dengan apa yang diajarkan. Saya tidak mengerti buat apa saya harus menghitung volume air yang tumpah saat seseorang melemparkan benda padat ke dalam air, atau berapa kecepatan benda pada saat di udara, di posisi tertentu di kurva parabola. Satu-satunya bab yang saya kuasai adalah tentang gelombang (bunyi) karena saya bisa bermain musik. Selain itu saya tidak paham, cara mengajar oleh gurunya tidak menarik, dan saya merasa semua itu tidak berguna.

Tapi lalu sesuatu yang “ajaib” terjadi. Semakin bertambahnya usia, semakin saya sadar bahwa fisika ada di mana-mana. Dia ada di barang elektronik yang saya pakai, dia ada di jalan yang saya lewati, dia ada di rumah yang saya tinggali, dia ada di tubuh saya! Dan saya jadi bertanya-tanya, KENAPA saya tidak menyadari ini dari SMA dulu?? Semua yang diajarkan ke saya saat sekolah, baru masuk akal sekarang, setelah lama waktu berlalu.

Hal yang hampir sama pernah saya alami dalam hal rohani. Saya lahir baru ketika masih berusia belasan tahun. Sejak itulah saya mulai mengenal Tuhan secara pribadi. Momen itu tiba di suatu malam, ketika saya sedang berbaring sambil memandangi langit-langit kamar. Ketika sedang berpikir bagaimana saya mulai mengenal-Nya, tiba-tiba ayat-ayat Alkitab yang saya hafalkan selama bertahun-tahun di Sekolah Minggu muncul dalam pikiran saya—seolah-olah ditulis di langit-langit kamar saya. Saat itu saya berkata, “Ooohh, ternyata itu maksud ayat-ayat yang saya hafalkan!” dan Alkitabpun menjadi hidup dalam hati saya.

Tanpa saya sadari, saya adalah murid “berprestasi” di Sekolah Minggu selama bertahun-tahun tanpa mengerti apa yang saya hapalkan. Namun pada hari itu, Roh Kudus menjelaskan kepada saya apa arti semuanya itu. Suddenly, everything makes sense.

Pengalaman seperti itu sangat berharga bagi saya secara pribadi, tapi sebenarnya bukan hanya saya yang mengalaminya. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus memenuhi murid-murid Yesus. Petrus berkhotbah di hadapan ribuan orang, dan dia mengutip ayat demi ayat dari Perjanjian Lama. Saya yakin bahwa Petrus bukan hanya sedang mengajar orang banyak itu, tapi dia juga berbicara kepada dirinya sendiri. Akhirnya Petrus mengerti apa yang dikatakannya! Petrus, yang dulu bertanya pada Yesus, “Tuhan, apa arti perumpamaan yang baru Engkau sampaikan?” hari itu MENGERTI siapa Guru yang ia ikuti selama tiga tahun terakhir. Inilah yang Yesus maksud ketika Dia berkata:

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.”
(Lukas 8:16-17)

Firman Tuhan adalah pelita, dan pelita itu tidak dinyalakan hanya untuk disembunyikan. Yesus mengatakan perumpamaan ini setelah menjelaskan tentang perumpamaan penabur. Pada saat itu, murid-murid-Nya belum mengerti apa yang Yesus maksud. Tapi pada waktunya, kebenaran pun bercahaya sehingga merekapun mengerti.

Perkataan Yesus ini juga mengingatkan kita pada satu hal yang penting: Firman Allah memiliki kuasa supranatural untuk mengubah hidup seseorang; dan karena itu, hanya Allah yang sanggup menjelaskan firman-Nya kepada roh kita.

Kenapa saya pakai istilah “kepada roh kita”? For a reason too well understood: banyak orang mengerti tentang Yesus dalam pikirannya, tapi entah kenapa mereka tidak bisa mengenal Dia. “Allah itu Roh,” kata Tuhan, “dan barangsiapa menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam Roh dan kebenaran” (Yohanes 4:24). Kita tidak bisa menyembah Dia hanya dengan pikiran kita, atau hanya dengan perasaan kita. Kita tidak menyembah Dia pertama-tama di gereja, tapi di dalam diri kita. Pengenalan akan Tuhan adalah sesuatu yang rohani—melibatkan roh kita dan Roh Kudus. Ini adalah sebuah misteri, dan Tuhanlah yang bekerja dalam hal ini—melampaui apa yang dapat kita pikirkan dengan logika yang terbatas.

Apa yang membedakan Petrus satu menit sebelum ia dipenuhi Roh Kudus dan satu menit sesudahnya? Pengetahuannya tidak bertambah, pengalamannya tetap sama, sepertinya tidak ada yang berubah. Tapi pada detik yang sangat krusial itu, Roh Kudus menjamah Petrus dan melakukan sesuatu pada rohnya, dan seolah-olah terang menyinari matanya: Petrus dapat melihat segala kebenaran Allah yang ada dalam diri Yesus; dan firman Allah yang dibacanya dalam Kitab Suci (yang waktu itu berisi Perjanjian Lama) menjadi hidup, dan dia tiba-tiba mengerti bahwa itu semua adalah tentang Yesus. Lama sebelum peristiwa Pentakosta, Daud berdoa, “Singkapkanlah mataku, sehingga aku dapat memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu” (Mazmur 119:18). Bagi saya, ini adalah salah satu doa terindah yang pernah dipanjatkan manusia kepada Tuhan.

Betapapun indahnya memandang terang kebenaran dan memilikinya dalam hati kita, kita tidak bisa menyimpannya sendiri. Karena itu, Tuhan Yesus melanjutkan perkataan-Nya:

“Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”
(Lukas 8:18)

Yesus telah menabur kebenaran di hati para murid-Nya. Setelah Dia naik ke surga, tanggung jawab untuk menabur itu diestafetkan kepada mereka. Menutup perumpamaan ini, Yesus menyatakan satu prinsip yang penting: semakin sungguh-sungguh kita membagikan kebenaran yang diterima, semakin banyak yang akan dipercayakan kepada kita. Sebaliknya, apabila kita menyimpan apa yang kita dapat untuk diri kita sendiri dan tidak membagikannya, kita seperti hamba yang dipercayakan satu talenta itu: talentanya diambil dan dia ditinggalkan tanpa memiliki apapun.

Sulit membayangkan orang mengenal Pribadi seindah Yesus dan tidak punya keinginan untuk membicarakan tentang diri-Nya dengan orang lain. Kita mungkin tidak bisa membahas tentang Yesus secara frontal kepada setiap orang yang kita temui. Tapi ketika ada kesempatan, rasanya sangat aneh bila kita tidak mengambil kesempatan itu. Baik itu dalam percakapan sehari-hari, maupun saat kita diberi kesempatan untuk membagikan firman Tuhan.

Semakin dalam saya mengenal Tuhan Yesus, semakin saya ingin orang bertanya kepada saya tentang diri-Nya, supaya saya bisa menjelaskan betapa luar biasanya Dia. Tapi sebaliknya, ketika saya belum mengenal Tuhan Yesus, saya pasti bingung, bahkan menghindar kalau ditanya orang lain tentang iman saya. Karena itu semuanya harus dimulai dari diri kita masing-masing: kita harus mengenal Tuhan secara pribadi. Atau lebih tepatnya, Tuhan harus menyatakan diri kepada kita. Dia harus menyinari kita dengan Roh-Nya dan memimpin kita “kepada seluruh kebenaran” (Yohanes 16:13). Kita bisa meminta pernyataan ini kepada-Nya, dan permintaan itu pasti dipenuhi:

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
(Lukas11:13)

Biarlah ini menjadi kerinduan kita, karena seperti yang dikatakan sebuah lagu, tidak ada hal di dalam hidup ini yang lebih baik dibandingkan dengan mengenal Dia yang menciptakan kita:


Dan ku ingin mengenal-Mu, Tuhan
Lebih dalam dari semua yang kukenal
Tiada kasih yang melebihi-Mu
Ku ada untuk menjadi penyembah-Mu

Monday, July 6, 2020

Undangan Pesta dari Sang Raja


by Poppy Noviana

Pada suatu hari berjalanlah seorang pemuda lalu masuklah Ia ke suatu tempat untuk mengajarkan kebenaran. Banyak orang berkumpul untuk mendengarkannya. Ada orang yang ingin belajar, ada orang yang hanya ingin menguji Sang Pengajar. Ada pula orang-orang tua berpengalaman yang ikut hadir disana. Pengajaran pemuda itu menarik sekali. Ia bahkan sering menggunakan perumpamaan, dan semua orang diperbolehkan untuk bertanya langsung kepada Sang Pengajar. 

Seperti itulah biasanya situasi apabila Yesus sedang mengajar. 

Perumpamaan seringkali diberikan untuk mempermudah pendengarnya dalam memahami pengajaran Yesus. Terutama bagi mereka yang belum benar-benar mengenal Dia dan Kerajaan-Nya. Seperti yang dikatakan di Alkitab, "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (Mat 13:11-12)

Pada artikel kali ini, kita akan membahas secara sederhana mengenai perumpamaan Kerajaan Allah seperti perumpamaan perjamuan kawin. Hal ini tentu bukan hal yang sederhana. Saya berdoa, semoga Tuhan memberi hikmat agar kita bisa mengenal kehendak-Nya. 

Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.” 
(Matius 22:1-2)

Seperti perumpamaan Yesus, Kerajaan Sorga layaknya sebuah pesta raja dimana orang-orang yang mendapat undangan saja yang bisa masuk kesana. Tapi apakah hanya butuh sekedar undangan? Karena kenyataannya, “Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.”

Bayangkan, seorang raja begitu baik mau mengundang orang-orang agar datang ke pestanya. Tapi, bukan undangan itu saja yang menentukan. Syarat pertama agar seseorang bisa masuk ke Kerajaan Sorga, adalah respon. Sia-sia undangan dari kerajaan, apabila respon dari orang yang diundang justru menolaknya. Hal ini seperti perumpamaan Kristus yang berdiri di muka pintu dan mengetuk, menunggu kita membukakan pintu bagi Dia, supaya Dia bisa masuk dan makan bersama-sama dengan kita (Wahyu 3:20). Yang penting adalah respon, menerima atau menolak. Dalam konteks pesta raja ini, orang-orang yang diundang justru menolaknya. 

Bagian selanjutnya perumpamaan Yesus, menjelaskan kenapa orang-orang itu menolak undangan dari Raja. 

Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.
(Mat 22:3-8)

Dari bagian ini, kita mengerti bahwa ada orang-orang yang memang secara asli diundang oleh raja untuk memperoleh hidangan dan tempat dalam perjamuan, yaitu bangsa pilihan Allah. Mereka adalah orang-orang yang dirancang sejak awal untuk menikmati bagian dari kerajaan-Nya, namun sayangnya mereka yang tidak mengindahkannya. Alih-alih datang ke pesta raja, orang-orang itu justru sibuk mengerjakan hal lain. Ibaratnya, sudah diberi kesempatan dan kemurahan, namun tidak dihargai dan dianggap tidak penting. Prioritas mereka bukan kekekalan. Mereka menempatkan keamanan dan prioritas hidupnya pada hal-hal yang bersifat sementara, seperti pekerjaan, bisnis, dan bahkan menghakimi kebenaran yang sudah mereka dengar dan lihat melalui anak-anak Allah yang diutus serta Roh Kudus sendiri yang sebenarnya sudah berbicara dalam kehidupan mereka. Dari sini, bisa disimpulkan bahwa syarat kedua masuk ke kerajaan surga adalah hidup yang fokus pada hal-hal kekal. 

Wajar memang jika kemudian raja menjadi murka karena pesta yang sudah dipersiapkan dengan baik, malah disia-siakan begitu saja. Apalagi, sebagai raja, selama ini ia bertanggung jawab pada hidup rakyatnya, sebagaimana Tuhan sebagai pencipta, memelihara kehidupan umat ciptaan-Nya. Seberapa banyak dari kita, sebagai makhluk ciptaan, justru berhenti mengutamakan Pencipta kita, karena seluruh energi dihabiskan untuk mengasihi ciptaan-Nya yang lain. 

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
(Mat 22:9-13)

Pada akhirnya, undangan kedua diberikan kepada siapapun tanpa terkecuali, tidak peduli apapun latar belakang seseorang, tidak peduli apakah dia baik atau jahat. Mereka boleh turut masuk dalam kerajaan-Nya, diberi kesempatan dan kemurahan untuk menikmatinya sesuai perkenanan Raja, karena kerinduan Raja adalah banyak orang datang ke pestanya, bersukacita bersama dia. Seperti kerinduan Tuhan adalah semua orang diselamatkan.
(I Timotius 2:4)

Tapi, raja menghendaki semua orang yang datang ke pestanya mengenakan pakaian pesta yang layak. Ia memang raja yang penuh kasih, namun ia juga raja yang adil, sehingga hanya yang layak yang pantas yang akan bertahan memperoleh tempat dalam kerajaannya. Mengatakan ‘ya’ pada undangan Raja, bukanlah akhir cerita. Sama halnya seperti menerima Tuhan dan Juru Selamat juga bukan akhir dari perjalanan iman kita, tapi justru sebuah awal. Lalu apa yang harus kita lakukan? Coba pikirkan apa yang Yesus inginkan semasa hidup, apa yang Ia percaya, apa yang Ia larang, lalu lakukan semuanya dalam kehidupan sehari-sehari. 

Seringkali diantara kita mungkin ada yang sudah mengenal Allah dari lahir, atau mungkin mengenal Dia sejak masa remaja, namun apakah kita benar-benar mengenal artinya percaya dan melakukan kehendak-Nya? Saya rasa belum tentu. Contohnya, orang Saduki dan orang Farisi, mereka tahu namun mereka tidak melakukannya. Jadi, kapan kita mengenal Tuhan bukanlah masalah, selama kita bisa setia sampai pada akhirnya.

Bagian ini menjelaskan bahwa kehidupan di dunia merupakan waktu yang cukup untuk kita mempersiapkan diri bagi Kerajaan Sorga. Percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, hidup melakukan Firman dan kebenaran, adalah bentuk mengindahkan undangan raja dan menjahit pakaian pesta agar layak mengambil bagian dalam kerajaan Allah. Percaya dan taat adalah prinsip yang perlu terus menerus dikerjakan sampai hari perjamuan itu tiba. 

Undangan masuk ke Kerajaan Sorga diberikan kepada siapa saja. Ada yang menolaknya mentah-mentah, ada pula yang datang tanpa memperhatikan apa yang harus dipersiapkan. Sama halnya seperti Kristus yang mati dan bangkit untuk semua orang, tapi tidak semuanya mau percaya pada kuasa-Nya. Beberapa yang meresponi panggilan-Nya pun, tidak semua mempersiapkan hidupnya sungguh-sungguh untuk kedatangan Kristus yang kedua. 

Inilah syarat yang ketiga, melakukan kebenaran, mengerjakan keselamatan. Hal inilah yang membedakan kita dengan iblis, iblis juga percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah namun dia tidak taat, berdosa dan hamartia (menyesatkan). Apa yang kita perbuat adalah pertanggungjawaban atas iman kepada Allah. Bukankah Firman Tuhan mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan itu mati? 

Panduannya sudah disediakan, hikmatnya sudah diberitahukan di mana-mana, namun perihal menggunakan panduan dan pengetahuan tersebut lain hal, sebab dibutuhkan kedewasaan rohani dan keseriusan untuk sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Hidup dalam iman namun tidak melakukan kehendak-Nya, sama seperti masuk dalam perjamuan kawin tanpa memakai baju pesta.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.
(Mat 22:14)