Wednesday, June 24, 2015

Mengasihi Diri Sendiri

by Glory Ekasari

Siapa orang yang perlu diajari mengasihi diri sendiri? Kita semua tahu caranya. Semarah-marahnya kita pada diri sendiri, tetep aja dimandikan, diberi makan, dipakaikan baju yang bagus, diberi make-up, dsb. Sebesar apapun kesalahan yang kita buat, ga mungkin kita bilang pada diri sendiri, “Aku benci kamu; kamu tiduran aja sampe mati, ga usah makan, ga usah ngapa-ngapain.” Ga masuk akal.

Tapi sejujurnya, orang yang paling sering mengecewakan aku di seluruh dunia ini adalah… diriku sendiri.

Si Glory ini bener-bener menjengkelkan, kadang bodohnya ga ketulungan, terlalu banyak kekurangan, pokoknya bikin emosi. Salah ngomong lagi, bertindak ngawur lagi, ga pinter-pinter walaupun diajarin berkali-kali. Heran.

Nah, masalahnya, kekecewaanku terhadap si Glory ini ga bisa diungkapkan kepada dia. Seperti yang aku bilang di awal, ga mungkin dong, sebel sama diri sendiri, terus ga dikasih makan, ga boleh bergerak, dsb. Jadi (terpaksa) tetap harus diurus seperti biasa. Alhasil, orang lain yang kena imbas kekecewaanku pada diri sendiri. Aku memaksa mereka mencapai standar yang ga bisa dicapai Glory (perfectionist alert!); aku ga sabar waktu mereka melakukan kesalahan yang aku tahu Glory juga pasti lakukan seandainya ada di posisi mereka; aku menuntut mereka rendah hati—sesuatu yang Glory ga bisa lakukan.

Kemudian sesuatu yang penting terjadi. Semakin aku kenal Tuhan, semakin aku mengasihi Dia dan banyak bersyukur kepada Dia, semakin aku kenal diriku sendiri. Dan di satu titik, entah di mana, entah bagaimana, Tuhan seolah-olah bilang, “Glory, sabar sama dirimu sendiri.”

Sabar. Terhadap dirimu sendiri.

Semakin lama aku semakin mengerti dan merasakan anugerah Tuhan yang begitu besar buat aku yang penuh kekurangan ini. Dan suatu kali aku sadar, “Kalau Tuhan begitu mengasihi aku dan menerima aku, maklum terhadap semua kekuranganku dan sabar melatih aku lagi dan lagi sampai aku sempurna… Aku juga harus begitu terhadap diriku sendiri.”

Ya, aku punya kekurangan. Ya, aku tidak seperti yang aku harapkan. Ya, aku mengecewakan. Lagi dan lagi. Tapi setiap kali aku gagal, anugerah Tuhan mengangkat aku lagi. Dan aku juga harus seperti Dia: aku harus mengasihi diriku sendiri.

Sejak itu, perjalanan jadi lebih menyenangkan dan santai. Para pengemudi mobil di Jakarta tahu kalimat ini: “Mobil di Jakarta, kalo ga ada lecetnya, berarti ga pernah dipakai.” Kalau bahasanya R*nso: “Ga ada noda, ga belajar.” Aku sadar bahwa aku sedang belajar, bertumbuh secara rohani, dan pasti ada kesalahan yang aku lakukan. I expect the mistakes and learn from them. Waktu performaku ga seperti yang aku harapkan, aku ga membandingkannya dengan standar kesempurnaan, tapi aku bisa bilang ke diri sendiri, “Lumayan, ada peningkatan dibanding sebelumnya.” Aku mulai terima bahwa aku ga bisa menguasai semua bidang yang aku mau dalam sekejap. Aku bisa memaafkan diri sendiri waktu aku berbuat salah. Dan aku jadi bisa mengevaluasi diri dengan lebih objektif.

Apa yang terjadi waktu aku semakin sabar dengan diri sendiri? Tentu saja, aku makin sabar terhadap orang lain. Aku memaklumi kekurangan mereka. Yang dulu aku lihat sebagai kekurangan, sekarang aku lihat sebagai potensi untuk jadi lebih baik. Caraku memandang diri sendiri tercermin dari caraku memperlakukan orang lain. Pelan-pelan aku dipulihkan oleh Tuhan.

Semuanya mulai dari Tuhan yang mengasihi aku. Kasih itu begitu besar, begitu melimpah, “. . selalu baru setiap pagi.” Dulu aku pikir anugerah itu hanya berhubungan dengan keselamatan, tapi lalu aku belajar bahwa aku butuh anugerah Tuhan setiap hari—justru karena aku lemah. Seperti kesaksian A. W. Tozer, “I am painfully conscious of my need for further grace.” Aku mau segera sempurna, tapi seperti Tuhan bersabar membentuk aku, aku juga sabar terhadap diri sendiri selagi aku disempurnakan. Proses itu membuat aku sadar sesadar-sadarnya bahwa aku bergantung penuh kepada Tuhan. Paulus menyampaikannya dengan sangat baik:
“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. . . Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”
God loves me, so I love me. God likes me, so I like me. God believes in me and is gracious toward me, so I’m learning to be gracious toward myself. :)

Sunday, June 21, 2015

There is No "Perfect Wedding"

by Marcella Flaorenzia


Post kali ini aku persembahin khusus buat temen-temen, khususnya para wanita, yang lagi pada sibuk sama persiapan pernikahan :)

Setiap wanita pasti punya impiannya masing-masing soal pernikahan.. mulai dari model gaun, pestanya mo kayak gimana, dekorasi, foto, makanan, acara, bridesmaid, souvenir, undangan, tempat, warna tema dan berbagai macem pernak-pernik lainnya, yang kalo dipikir-pikir sebenernya gak terlalu penting juga ya buat dipikirin.. LOL! And pada umumnya, para ceweq lah yang banyak maunya, haha.. Dan sibuk mikirin beginian (asal jangan ampe lupa mikirin si groom alias si mempelai pria-nya ya :p)


Now I know how it feels.. Dari awal siapin wedding, si DM juga udah nanya: "What is your dream about wedding?" And aku coba sampein ke dia.. Beberapa hal memang bisa terwujud, but tetep aja, gak semua impian kita bisa tercapai dengan sempurna.. PASTI bakal ada aja hal-hal yang kurang.. Contohnya, aku dari dulu punya impian pengen undang semua orang dateng ke pemberkatan pernikahan aku (because for me, holy matrimony is more important than the reception) pokoknya harus rame, supaya semua orang bisa diberkati lewat pemberkatan kita.. But, ternyata gak bisa, haha.. Karena ternyata kita bakal menikah di Aussie, and gak mungkin dong semua orang terbang ke sana :p But aku udah rela koq buat hal yang satu ini, hehe.. (nanti kan kita masih bisa share video-nya ya :))

Ada banyak hal lainnya yang mungkin kalian juga alamin.. Maybe model baju yang rasanya kurang sesuai, hasil foto pre-wed yang kurang bagus, budget yang terbatas, dll.. Belom lagi ditambah keinginan dari ortu, camer and keluarga.. Apalagi kalo yang keluarganya masih banyak tradisi macem-macem gitu :p Mau gak mau harus banyak ngalah sama keluarga.. (Puji Tuhan keluarga kita gak ada tradisi begituan, hehe..) Kalo kata ci Grace di buku "Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta", semua dream wedding-nya udah porak poranda, haha.. Bahkan ada juga beberapa temen yang harus batalin or pending wedding mereka gara-gara banjir, or cuaca yang gak mendukung..

Trus tiap kali kita dateng ke wedding temen, kita jadi selalu ngerasa ada yang kurang sama persiapan wedding kita.. "kayaknya musti nambah ini nih.." or "punya kita kayaknya kurang bagus nih.. kita musti bikin kayak punya mereka.." pokoknya sampe kapan pun juga, kita gak bakal pernah puas deh.. trust me.. Mo keluarin uang bermilyar-milyar pun, pasti bakal tetep aja ada yang kurang, hehe..

There is no perfect wedding!

There is no perfect wedding dress.. There is no perfect wedding decoration or wedding venue.. There is no perfect thing in this world..

But seringkali kita pake alasan (terutama orang-orang perfeksionis kayak aku gini nih, hihi..), "Tapi Tuhan, moment ini kan cuma satu kali seumur hidup... once in a lifetime lho..."

Dan Tuhan jawab, "Siapa bilang?" :)

"Hah?! Apa maksudnya, Tuhan?! Aku bakal kawin 2 kali gitu?!" (Hahaha..)

And jawaban Tuhan berikutnya ini yang bener-bener menghibur aku:

"Remember... one day, Aku akan menjemput kamu dan menjadikanmu sebagai mempelai-Ku... Dan di saat itulah, kamu akan mengalami pesta pernikahan yang paling sempurna... Karena semua yang ada di dunia ini cuma sementara :)"

WOW! Dari situ aku sadar, Dia emang ijinin setiap ketidaksempurnaan, supaya kita gak "puas" sama apa yang ada di dunia dan bisa terus punya desire untuk menantikan pribadi-Nya, kedatangan-Nya dan pernikahan dengan-Nya yang sempurna :)

Aku mau ajak setiap kita, khususnya para ladies, supaya selama kita mempersiapkan wedding, kita bisa tetep punya sikap hati yang bener and bisa tetep nyenengin hati Tuhan.. Ini juga jadi reminder buat aku nih, hehe.. Kadang kita jadi sering konflik, beda pendapat dll sama pasangan kita or sama keluarga cuma karena urusan wedding (meskipun bagus juga sih buat memproses karakter kita :p) but aku rindu supaya aku bisa punya respon yang bener and berkenan sama Tuhan.. Ayo kita berjuang sama-sama ya.. and mulai serahin semua dream wedding kita ke tangan Tuhan.. "Not my will O God, but Your will be done.." Amen! :)


But there’s far more to life for us. We’re citizens of high heaven! We’re waiting the arrival of the Savior, the Master, Jesus Christ, who will transform our earthy bodies into glorious bodies like his own. He’ll make us beautiful and whole with the same powerful skill by which he is putting everything as it should be, under and around him.

- Philippians 3:20-21

Friday, June 19, 2015

What's the Most Important?

by Marcella

Beberapa waktu yang lalu (waktu lagi saat teduh kalo ga salah), aku dan suami sempet diskusi tentang earthquake yang terjadi di Nepal plus sambil ngebayangin gimana ya kalo misalnya kita yang ada di posisi mereka..


Dalam sekejap semua yang kita punya hilang.. rumah, uang, baju, sepatu, pokoknya semua harta benda yang selama ini kita udah susah payah beli and kumpulin tiba-tiba hilang lenyap dalam sekejap.. Pernah ga ngebayangin kayak gitu? That must be really hard.. but aku yakin dalam situasi kayak gitu kita jadi mengerti what is actually the most important things in life.. Orang-orang yang lagi dalam bencana, ga mungkin mikirin baju or sepatu yang baru mereka beli, or mikirin karir mereka, popularitas dll. Kalo menurut aku ada 2 hal paling penting yang pasti langsung muncul saat itu..

***

1. KESELAMATAN. Bukan cuma keselamatan jasmani, tapi juga keselamatan rohani kita. Sama seperti orang-orang yang ada di dalam pesawat terbang. Aku inget banget di tahun 2012, aku pernah naik pesawat (sendirian) dari Jakarta ke Bangkok. And itu penerbangan paling ngeri yang pernah aku alamin so far.. di tengah-tengah perjalanan, pesawatnya sempet goyang dan kita bisa berasa kalo itu pesawat kayak lagi going down, mau jatuh ke bawah. Orang-orang udah pada panik, ada yang sampe nangis, jantung udah pada deg-degan and semuanya langsung pada berdoa.. Aku bisa denger orang di belakang aku ada yang langsung teriak-teriak, "Jesus!!" And buat aku pribadi, aku juga jadi bisa ngerasain kalo di saat itu bener-bener ga ada hal lain yg lebih penting dari keselamatan. Semua orang juga pasti langsung jadi mikir, apa yang bakal terjadi nanti kalo mereka ga selamat. Aku waktu itu juga doa, but doanya gini.. "Lord, is it time for me to see You face to face?" But ternyata belom waktunya, hehe.. Tuhan belom selesai beurusan sama hidup aku :p But di saat itu Tuhan cuma ingetin kalo ga ada hal lain yang lebih penting dari keselamatan (hidup kekal) yang kita peroleh di dalam Kristus. Hubungan kita dengan Kristus itulah yang terpenting!

Jesus replied: “‘Love the Lord your God with all your heart and with all your soul and with all your mind.’ This is the first and greatest commandment. (Matthew 22:37-38)


2. PEOPLE. Hal kedua selain keselamatan, kita pasti akan langsung mikirin orang-orang yang penting dalam hidup kita. Kita akan berusaha sebisa mungkin untuk menolong mereka supaya bisa selamat dari bencana. Suami-istri yang lagi berantem, mungkin bisa langsung jadi baikan and maaf-maafan kali ya, haha.. And pasti ada orang-orang yang nyesel juga karena selama ini mereka terlalu sibuk and gak spend more time with their spouse or their family. Aku bilang ke DM, kalo sampe kita ada di posisi orang-orang yang ngalamin earthquake, di saat kita udah ga punya apa-apa lagi.. "one thing that I want is I want to be with you." :)

And the second is like it: ‘Love your neighbor as yourself.’ (Matthew 22:39)


Wednesday, June 17, 2015

Gembala yang Baik

by Felisia Devi

Suatu hal yang menarik jika kita disebut sebagai domba, bukan binatang lain. Pasti dengan alasan.
Dalam Mazmur 25 yang ditulis oleh Daud menggambarkan bagaimana pengalaman seorang Daud yang mengalami Allah sebagai Gembala dalam hidupnya. Dan oleh Yesus kemudian diperjelas lebih detail tentang gembala seperti apakah Allah.

Yohanes 10:1-18 (ISH)
  
1 "Sungguh benar kata-Ku ini: Orang yang masuk ke dalam kandang domba lewat pagar, dan tidak melalui pintu, tetapi memanjat lewat jalan lain, orang itu pencuri dan perampok.
2  Tetapi orang yang masuk melalui pintu, dialah gembala domba.
Pintu, berbicara tentang ada tata cara yang sopan, ada tata krama, bukan memaksa. Itulah cara Yesus mengajak kita dengan lembut untuk mengetahui jalan keselamatan dan kebenaran yang membawa kepada kehidupan yang sebenarnya.


Matius 11:28
Datanglah kepada-Ku kamu semua yang lelah, dan merasakan beratnya beban; Aku akan menyegarkan kamu.  Ikutlah perintah-Ku dan belajarlah daripada-Ku. Sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati, maka kamu akan merasa segar.

3  Penjaga kandang membuka pintu untuk dia, dan domba-dombamengikuti suaranya pada waktu ia memanggil mereka dengannamanya masing-masing dan menuntun mereka ke luar. 
Mengikuti suaranya. Taukah anda, bahwa domba itu mengenali suara si gembala, dan hanya merespon kepada suara si gembala? Ini dia hasil testnya...



Memanggil dengan nama masing2. Setiap kita dipanggil secara personal, memiliki panggilan masing2 yang berbeda2 yang tidak bisa disamakan, belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain

Menuntun kita step by step. 

4  Setelah domba-domba itu dibawa ke luar, gembala itu berjalan di depan, dan domba-domba itu mengikuti dia sebab mereka mengenal suaranya.
Apakah selama ini Tuhan berjalan di depan kita?
Berjalan di depan, ya artinya memimpin di depan, bukan dari belakang, atas, atau samping.
Berjalan di depan juga berarti, Dia yang buka jalan terlebih dahulu, sebelum kita melewatinya. Dia sudah tahu apa yang akan kita hadapi.

 Mal 3:1 
 Jawab TUHAN Yang Mahakuasa, "Aku akan mengirim utusan-Ku untuk menyiapkan jalan bagi-Ku. Maka dengan tiba-tiba Aku, TUHAN yang kamu cari, akan datang ke Rumah-Ku. Utusan-Ku yang kamu rindukan itu akan datang dan mengumumkan perjanjian-Ku."

mengikuti = follow = ἀκολουθέω (akoloutheō) ak-ol-oo-theh'-o = accompany him, join one as disciple. Bukan hanya sekedar ikut-ikutan.

Mengikuti, karena mengenali suaraNya, disini berarti kita harus punya kepekaan untuk membedakan manakah suara Tuhan apa bukan, bahwa ini kebenaran atau bukan.


5  Mereka tidak akan mau mengikuti orang lain, malah akan lari dari orang itu, sebab tidak mengenal suaranya."
Seperti video di atas, ini memang salah satu ciri domba. Suara lain disekeliling kita pasti ada banyak, tapi seorang domba hanya mau merespon apa yang Gembala katakan, alias sesuai kebenaran firman. Yang lain, dicuekin aja, gak perlu di respon.

Malahan lari : kalau tau itu bukan tempat / kandang (komunitas) yang dipimpin Tuhan, our from there!  

6  Yesus menceritakan perumpamaan itu, tetapi mereka tidak mengerti apa yang dimaksudkan-Nya.
7  Maka Yesus berkata sekali lagi, "Sungguh benar kata-Ku ini: Akulah pintu untuk domba. 
8  Semua yang datang sebelum Aku adalah pencuri dan perampok, tetapi domba-domba tidak mendengarkan suara mereka.
9  Akulah pintu. Siapa masuk melalui Aku akan selamat; ia keluar masuk dan mendapat makanan.
Only by His Gracem because of Him, kita bisa mengerti kehendakNya dan terus dilatih. Dan memang harus dengan dasar penebusan Yesus untuk bisa selamat. Klo yang tidak mengakui hal ini dalam usaha 'menarik' kita, itu berasal dari si iblis!

Domba2 ada dalam kandang, dalam posisi 'menunggu' sampai gembala datang, baru tau mau ngapain dan kemana. Begitu juga dalam hidup kita, harus menunggu dalam komunitas menantikan instruksi Tuhan selanjutnya. Klo gak, si jahat yang akan mencelakakan.
Karena cuma Tuhan yang bisa menuntun kita ke padang yang berumput hijau, ke air yang tenang, jalan yang benar, menjaga, menopang, menghibur, menyediakan kebutuhan kita, mengurapi dengan melimpah, diikuti oleh kebajikan dah kemurahan. (Maz 25) Kuncinya with/by His grace, stay in God dan tubuh Kristus  

10  Pencuri datang hanya untuk mencuri, untuk membunuh dan untuk merusak. Tetapi Aku datang supaya manusia mendapat hidup--hidup berlimpah-limpah.
 Hidup disini bahasa aslinya , ζωή = zōē = dzo-ay'. It means kehidupan yang berasal yang dari Allah, kehidupan yang sebenarnya.   11  Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya untuk domba-dombanya.
12  Orang upahan yang bukan gembala dan bukan juga pemilik domba-domba itu, akan lari meninggalkan domba-domba kalau ia melihat serigala datang. Maka domba-domba itu akan diterkam dan diceraiberaikan serigala.
13  Orang upahan itu lari, sebab ia bekerja untuk upah. Ia tidak mempedulikan domba-domba itu. 
Tuhan Yesus bukan hanya menjagai dengan setia, tapi Ia juga sebagai pemilik domba2 yang pastinya akan membela, mengorbankan mati2an supaya si domba2 selamat


 Luk 15:4 - 7
 "Andaikata seorang dari kalian mempunyai seratus ekor domba, lalu ia kehilangan seekor--apakah yang akan dibuatnya? Pasti ia akan meninggalkan domba yang sembilan puluh sembilan ekor itu di padang rumput, dan pergi mencari yang hilang itu sampai dapat.Dan kalau ia menemukan kembali domba itu, ia begitu gembira sehingga dipikulnya domba itu di bahunya, lalu membawanya pulang. Kemudian ia memanggil kawan-kawan dan tetangga-tetangganya, dan berkata, 'Mari kita bergembira. Dombaku yang hilang sudah kutemukan kembali!' .  Nah, begitulah juga di surga ada kegembiraan yang lebih besar atas satu orang berdosa yang bertobat, daripada atas sembilan puluh sembilan orang yang sudah baik dan tidak perlu bertobat."

14-15  Akulah gembala yang baik. Sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, begitu juga Aku mengenal domba-domba-Ku dan mereka pun mengenal Aku. Aku menyerahkan nyawa-Ku untuk mereka. 
Ada hubungan dua arah, karena penebusan Yesus Kristus, kita bisa berkomunikasi lagi dengan Allah. Gak cuma itu, kita bisa intim dan saling mengenal satu sama lain.
Hubungan keindahan Trinitas itu, bisa kita rasakan / alami.
  16  Masih ada domba-domba lain yang juga milik-Ku, tetapi tidak tergolong dalam kawanan domba ini. Mereka juga harus Kubawa dan mereka akan mendengarkan suara-Ku. Mereka semuanya akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala
Amanat agung! 





 17  Bapa mengasihi Aku sebab Aku menyerahkan nyawa-Ku, untuk menerimanya kembali.

Mengikuti Tuhan itu pertaruhan seluruh hidup. Sepertinya mati, mungkin ya menurut cara manusia, tapi buat Tuhan itu seperti menyerahkan kembali kepada yang sesungguhnya memiliki.
Let's do what Jesus do, tidak mempertahankan hidupNya 


Mat 10:39
Orang yang mempertahankan hidupnya, akan kehilangan hidupnya, tetapi orang yang kehilangan hidupnya karena setia kepada-Ku, akan mendapat hidupnya." 

I know, ini bukan sesuatu hal yang mudah melakukan barter kehidupan fana yang kita kira segalanya, dengan kehidupan sebenarnya (zoe). Apalagi ada si iblis yg ga seneng, pasti doi juga gencatan senjata. Tapi bukan hal yang mustahil, Dia percaya kita bisa melakukannya bersama Dia, Dia sudah mati buat kita, trust Him!

18  Tidak seorang pun dapat mengambilnya daripada-Ku. Aku menyerahkannya atas kemauan sendiri. Aku berkuasa untuk menyerahkannya, dan berkuasa mengambilnya kembali. Itulah tugas yang Aku terima dari Bapa-Ku."


Monday, June 15, 2015

Honeymoon

By Marcella Flaorenzia


Sebelum married: "Nanti kalian honeymoon ke mana?"
Sesudah married: "Kalian abis honeymoon dari mana?"
Setelah lama married: "Dulu kalian honeymoon di mana?"

Jadi pertama intinya, honeymoon itu identik sama tempat. Kalo punya budget gede, ada yang bisa honeymoon ke luar negeri or ke negara-negara yang terkenal romantis di Eropa. Kalo budget gak gede-gede amat, bisa ke luar kota (ke Bali or Lombok misalnya). But gimana kalo budgetnya bener-bener terbatas? Hmm..

Kedua, honeymoon itu identik sama newly wed, alias orang-orang yang baru abis married. Pasangan yang mau menikah juga biasanya excited mikirin rencana untuk honeymoon. But gimana dengan pasangan-pasangan yang udah lama menikah? Apa mereka masih bisa honeymoon? Hmm..

Jadi sebenernya, apa sih honeymoon itu?

A honeymoon is the traditional holiday taken by newlyweds to celebrate their marriage in intimacy and seclusion. This is the period when newly wed couples take a break to share some private and intimate moments that helps establish love in their relationship. This privacy in turn is believed to ease the comfort zone towards a physical relationship, which is one of the primary means of bonding during the initial days of marriage. -Wikipedia

So first, honeymoon is a getaway and it is not about the place. Jadi gak perlu sedih kalo kalian misalnya nanti gak bisa honeymoon ke Eropa or ke Korea (hehe..) apalagi kalo budget memang terbatas, we need to be wise as well :) Beberapa tahun yang lalu ada satu pasangan yang aku kenal di Indonesia, dan sebelum menikah, mereka bilang bahwa mereka berencana untuk honeymoon di Puncak. Jarang-jarang kan denger orang mau honeymoon di sana, hehe.. But I said, "Wow, that's great!" Karena mo honeymoon di mana aja sebenernya gak jadi masalah, yang penting bisa punya waktu berdua :)

Aku sama DM dulu juga budgetnya terbatas, kita gak pergi jauh-jauh, cuma nginep 2 malem di B&B di daerah mountain (DM cuma nyetir sekitar 30 menit dari rumah) but we had a great time :) Intinya, kita bisa punya quality time and intimate moment berdua without any distraction.. And ini juga bisa berlaku sewaktu kita kembali ke dunia nyata, hehe..

Kedua, buat aku, honeymoon gak cuma berlaku buat newly wed, tapi setelah kita udah menikah lama atau udah punya anak pun, quality time and intimacy with our spouse harus selalu jadi prioritas. Make sure setiap hari kita bisa punya waktu yang berkualitas dengan suami (mungkin after anak-anak udah pada bobo) or set time to have a special date (nonton, jalan-jalan or dinner berdua). Take a break, and enjoy your marriage relationship again.. again.. and again :)

Also enjoy physical (sexual) relationship yang udah Tuhan kasih sebagai hadiah pernikahan. Jangan biarin Iblis merebut hal ini dari kita. Setelah menikah, it is the BEST time for you to enjoy the physical (sexual) relationship with your spouse! (Bukan sebelum menikah lho ya..) Ini ada satu artikel bagus buat para married couples yang mau honeymoon lagi, hehe.. Click here:


And you know what, pernikahan itu sebenernya sama seperti hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Di tengah-tengah semua kesibukan kita, we need honeymoon everyday with God. Take a break and spend quality time with Him. Building an intimate relationship with Him. Gak peduli tempatnya di mana, hehe.. And gak cuma berlaku buat orang-orang yang baru bertobat or lahir baru. Kita yang udah ikut Tuhan berpuluh-puluh tahun juga bisa tetep terus mengalami yang namanya "honeymoon everyday" :)


"Lord I pray for every marriage right now, so that You will strengthen their relationship as a husband and wife. Let your love flow into their hearts and let them experience 'honeymoon' again, everyday in their marriage. I also pray for everyone who is reading this post right now, so that they will have an intimate relationship with You as well. Let them experience your love everyday in their lives. In Jesus name. Amen."

Wednesday, June 3, 2015

The Power of a Singing Mother

by Grace Suryani

Bulan lalu, saya sekeluarga pulang ke Jakarta untuk menghadiri ibadah syukur pernikahan adik saya, Yahya dan Monika. Salah satu acaranya ternyata adalah koor spontan dari keluarga besar papa saya. Ketika kami semua menyanyi lagu, "I'd rather Have Jesus", tiba2 saya ingat Alm Emak. Bagaimana yah perasaan Emak di Surga melihat anak2nya yang sekarang juga sudah uzur, mantu2nya, cucu2, cucu mantu sampai buyut menyanyi memuji Tuhan bersama-sama? Bagaimana perasaan Emak melihat anak2nya sampai masa tua dan putih rambutnya, dalam masa2 sulit (kehilangan suami krn sakit penyakit, maupun sakit penyakit pribadi, dll) tetap beriman dan berpegang teguh pada Yesus?
Kalau bicara soal Emak, satu memori yang sangat saya ingat adalah setiap pagi, emak selalu baca Alkitab, saat teduh, lalu menyanyi dari kidung pujian. Kalau sudah selesai, emak akan bikin kristik sambil terus menyanyi. Dan emak hafal banyak sekali lagu-lagu pujian. Buat saya itu satu memori yang sangat indah.

Monday, June 1, 2015

Teguran

by Mega Rambang

Dalam salah satu episode Criminal Minds, seorang wanita Bos FBI, memanggil Morgan, anak buahnya dan berkata:

”Butuh keberanian besar untuk menegurku. Terima kasih karena mengubah hidupku”.

Pada beberapa episode sebelumnya diceritakan kalau si bos ini mengalami kecanduan pada minuman keras, Morgan menegurnya. Bayangkan!! Menegur si bos. Tahu kan betapa besar resiko yang diambilnya? Tapi dia tetap melakukannya. Dia tahu adalah berbahaya membiarkan si bos tetap menjalankan tugasnya sementara ia kecanduan pada miras. Dia menegurnya, dan si bos malah marah awalnya, dan mengingkarai kecanduannya. Akhirnya, Morgan melapor pada bos besar, sehingga bosnya yang kecanduan tadi dipaksa untuk mundur sementara dari jabatannya untuk menjalani rehabilitasi.