Friday, April 10, 2015

Praying without Ceasing

by Poppy

Berdoa tanpa henti?? Sepertinya mustahil! Sebuah pertanyaan dan pernyataan yang sederhana, namun sangat menarik untuk dipahami lebih dalam..yuk kita selidiki lebih dalam!

Ketika Sulit Untuk Berdoa

Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan
 (Mazmur 139:4)

Alkitab menyatakan kepada kita bahwa Allah mengetahui setiap pikiran dan perkataan di lidah kita (Mazmur 139:1-4). Maka, ketika kita tidak tahu apa yang perlu didoakan, Roh Kudus "berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan"
(Roma 8:26). Kebenaran alkitabiah ini meyakinkan kita bahwa kita dapat berkomunikasi dengan Allah, meskipun tanpa mengucapkan sepatah kata pun, karena Dia mengetahui kehendak dan keinginan hati kita. Sungguh hal itu menjadi suatu penghiburan di kala kita dalam kebimbangan atau mengalami tekanan berat! Kita tidak perlu khawatir jika tidak dapat menemukan kata-kata untuk menyatakan pikiran dan perasaan kita. Kita tidak perlu merasa malu jika terkadang kalimat yang kita ucapkan terputus di tengah jalan. Allah
mengetahui apa yang ingin kita sampaikan.

Selain itu, dalam hal berdoa kita juga tidak perlu harus selalu berlutut atau dalam posisi - posisi khusus. Seandainya pun kita berusia lanjut atau menderita arthritis [penyakit radang sendi] sehingga tidak bisa berlutut, tidak menjadi masalah. Sesungguhnya yang Allah perhatikan adalah posisi hati kita. Betapa luar biasanya Allah! Betapa pun kita tersendat-sendat atau gagap dalam berdoa, Dia mendengarkan kita. Kasih yang tiada batas di dalam hati-Nya menanggapi kebutuhan dan perasaan hati Anda yang tak terucapkan. Oleh karena itu, tetaplah berdoa!

~ DOA TIDAK MEMBUTUHKAN KELANCARAN BERKATA-KATA MELAINKAN
KESUNGGUHAN HATI~
(Hutabarat, E)

Pengenalan Jenis Metode Doa

Dalam segala doa dan permohonan.Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah didalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.
(Efesus 6 : 18)

Mari kita memahami lebih dalam mengenai metode berdoa. Metode yang dimaksud adalah sikap yang dilakukan saat berdoa. Terdapat dua jenis sikap doa (Rap-Rap, 2012) yaitu berdoa secara liturgi dan berdoa secara hakekat. Perbedaan dasar yang membedakan keduanya yaitu sikap dari objek yang melakukan doa.

1. Berdoa secara Liturgi
Doa secara liturgi dilakukan sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus ajarkan saat akan menghadapi kayu salib, Tuhan mengambil waktu tenang untuk berdoa saat itu. Sikap hati dan penyerahan diri secara penuh, bertekuk lutut sebagai sikap hormat dan tunduk kepada Bapa. Sikap doa seperti ini seringkali dilakukan oleh kita saat beribadah di gereja, saat makan dan saat kita berada di tempat yang tenang dan khusuk.

Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!" (Mazmur 95:6)

2. Berdoa secara Hakekat
Doa secara Hakekat dilakukan sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus ajarkan saat berada di atas kayu salib saat itu Tuhan berkata –kata kepada Bapa untuk mengampuni orang yang bersalah atas perbuatan yang mereka lakukan kepada Tuhan Yesus. Sikap hati dan penyerahan diri secara penuh, berkata-kata dengan suara terdengar atau dalam hati untuk berkomunikasi kepada Tuhan. Sikap doa seperti ini seringkali dilakukan oleh kita saat sedang melakukan aktivitas seperti mengendarai mobil, akan menghadapi rapat penting atau di tempat umum yang ramai.

Rejoice always,pray continually, give thanks in all circumstances for this is God’s will for you in Christ Jesus. 
(1 Thessalonians 5 : 16 – 18)

Dari pemahaman kedua jenis sikap berdoa ini, maka tidak mustahil bukan untuk berdoa senantiasa, seperti yang Tuhan Yesus inginkan. Kita coba yah simulasikan, dengan ketentuan sebagai berikut (L) liturgi dan (H) Hakekat.

05.00 : Bangun Pagi (L)
05.15 : Saat teduh (L)
05.45 : Mandi pagi (H)
06.00 : Sarapan pagi (L)
06.30 : Menuju tempat aktivitas (H)
08.00 : Beraktivitas (H)
12.00 : Makan siang (L)
12.30 : Renungan Siang (L)
13.00 : Kembali beraktivitas (H)
17.30 : Pulang aktivitas (H)
19.00 : Sampai di rumah (L)
19.30 : Makan malam (L)
20.00 : Beristirahat (H)
21.00 : Tidur (L)

Nah..sahabat ku yang terkasih, dari simulasi diatas cukup jelas bukan? kapan saat kita bisa memilih untuk berdoa secara hakikat dan kapan saat kita bisa berdoa secara liturgi.

~Berdoalah senantiasa karena meskipun sepertinya mustahil tapi kenyataannya tidak mustahil untuk dilakukan~

Kapan saat untuk berdoa ?

Tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur 
(Filipi 4:6).

Saat menghadapi cobaan, banyak orang sering memutuskan untuk menjadikan doa sebagai usaha terakhir. Ada seorang pria yang sedang berjuang mati-matian melawan kanker. Ketika orang-orang
melihat kanker itu berangsur-angsur memperburuk tubuh dan gaya hidupnya, seseorangberkata, "Ya, mereka telah mencoba segalanya. Saya kira inilah saatnya untuk mulai berdoa."
Seorang pria lain sedang menghadapi masa-masa yang sangat sulit dalam pekerjaan. Itu merupakan krisis besar yang sangat berpengaruh terhadap dirinya dan masa depan perusahaannya. Ia tidak mampu menyelesaikannya. Akhirnya ia berkata, "Saya telah
mencoba segala yang saya ketahui untuk keluar dari situasi ini, tetapi tak ada yang berhasil. Ini saatnya untuk mulai berdoa."

Dalam kedua contoh di atas, doa telah dipandang sebagai jalan keluar terakhir untuk mengatasi masalah. Hanya setelah pilihan-pilihan lain tersisihkan, maka orang mengambil keputusan untuk berdoa. Doa akhirnya menjadi usaha terakhir ketika sudah tidak ada jalan lain.

Doa seharusnya merupakan tindakan pertama yang kita lakukan, bukannya tempat pelarian terakhir. Tuhan menjawab doa, dan Dia ingin agar kita senantiasa datang kepada-Nya dengan membawa seluruh kebutuhan kita (1Tesalonika 5:17). Alkitab mengatakan kepada kita 

"janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa" (Filipi 4:6).

Jadi, jangan menunggu lagi. Setiap waktu adalah saat yang tepat untuk berdoa.

~DOA HENDAKNYA MERUPAKAN LANGKAH AWAL BUKANNYA TEMPAT PELARIAN TERAKHIR KITA ~

Tuhan Yesus adalah Bapa yang sangat mengasihi kita, Dia selalu memperhatikan bahkan seluruh jumlah rambut kita pun Dia tahu ada berapa jumlahnya. So berkomunikasi setiap saat denganNYA adalah pilihan yang sangat tepat untuk kita menjalani hidup ini.

Doa adalah kebutuhan dan Life Style.
****
YA TUHAN TIAP JAM ‘KU MEMERLUKAN-MU
ENGKAULAH YANG MEMB’RI SEJAHTERA PENUH
SETIAP JAM YA TUHAN DIKAU KUPERLUKAN
‘KU DATANG JURUS’LAMAT BERKATILAH.

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^