Monday, February 15, 2016

Loving the Family We Didn't Choose

by Yunie Sutanto

Our circle of Friends
Kita bisa memilih dengan siapa kita berteman. Burung sejenis biasanya berkumpul bersama. Kurang cocok dengan si Bolang, yah jaga jarak saja dengannya. Jika cocok dengan si Kemal, yah kita lebih sering merapat dengannya. Tentunya kita lebih nyaman berlama-lama gaul dengan teman yang cocok dengan kita, yang ngobrolnya nyambung, yang bisa saling mengerti satu sama lain. So, we make our friends and we make our enemies too.

Jodoh
Bicara pasangan hidup...hmm inipun pilihan pribadi kita kok...
Kita  memilih dengan siapa kita menikah. “I do” itu suatu keputusan yang kita pikirkan masak-masak. Dari sekian banyaknya lawan jenis yang kita kenal, ada satu yang menjadi teman spesial. Saat menjalin hubungan pranikah pun “sebelum janur kuning melambai” , kita masih bisa memutuskan hubungan jika merasa kurang cocok setelah saling menjajaki satu sama lain.
So, we choose our lifemate as well! Jodoh itu pilihan kita sendiri!

But...how about our family?
God makes our family. Tuhan yang memilih keluarga dimana kita dilahirkan.
Family is our first and God given circle of relations. We never choose or decide where we'll be born, nor in what kind of family we are going to be raised.
Kita tidak bisa memilih orang tua kita, yang secara biologis menurunkan kita. Struktur anatomi yang kita miliki: bentuk tubuh, warna kulit, tinggi badan, semuanya kita warisi dari orangtua kita. Kenapa kok saya dilahirkan di keluarga yang berkulit sawo matang, padahal saya pinginnya tuh kuning langsat? Kenapa kok saya diahirkan di keluarga yang bermata sipit, padahal inginnya bermata 'belok'...?
Kenapa kok saya terlahir di Indonesia, bukan di Kutub? Kenapa saya punya turunan penyakit alergi berat? Kenapa saya terlahir di keluarga yang broken home? Mengapa begini...Mengapa begitu? Aku ingin begini ..aku ingin begitu...demikian lirik lagu doraemon ya... Pantas saja banyak orang yang doyan nonton tuh doraemon...ngarep kantong ajaib nya...bisa mewujudkan keinginan kita ya? Kembali ke topik...jadi apakah kita sadari bahwa ada rencana Tuhan dalam keluarga kita ini? Bukan kebetulan Tuhan ciptakan kita terlahir di keluarga ini. Ada maksudNya yang penuh misteri.
Tapi..ayahku pecandu narkoba, ia suka menyiksaku...
Tapi..ibuku bukan wanita baik-baik, ia istri simpanan...
Tapi...aku ini anak pungut...
Begitu banyak pengalaman traumatis yang dialami sampai membekas hingga kita seringkali sulit mengasihi keluarga kita.
Tapi apa yang Firman Tuhan katakan?

Imamat 19:18
Jangan membalas dendam dan jangan menyimpan dendam terhadap sesamamu. Akan tetapi, kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Akulah TUHAN.

Ulangan 6:5
Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.

Teringat kisah Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Saat di Mesir pun ia menjadi budak, lalu difitnah dan dipenjarakan, berbagai ketidaknyamanan dialami Yusuf. Namun saat ia diijinkan berjumpa kembali dengan mereka, Yusuf bisa mengampuni mereka. Bahkan ia bisa meyakini bahwa semua hal tidak baik yang terjadi direka-rekakan Allah untuk kebaikan. Wow! Sungguh Yusuf fokusnya Tuhan banget, tidak fokus kepada keadaan, tidak fokus pada masalahnya, atau pada dirinya sendiri. Ia tetap melekat pada Tuhan dalam keadaan di proses sekalipun. Justru proses mendewasakan imannya dan pengenalannya akan Allahnya! Ucapan yang keluar dari bibir Yusuf saat membuka jati dirinya ke saudar-saudaranya di Kejadian 45: 5 “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karen akamu menjual aku kesini , sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.”

Yusuf memaafkan dan lebih memilih mengasihi mereka, karena kasih akan Allah menutupi segala kesalahan manusia. Tidak ada kasih yang lebih besar yang bisa mengisi hati kita selain kasih dari sang Sumber kasih itu sendiri! Teori bahasa kasih berkata jika kita terlahir dan dibesarkan di keluarga yang ayah dan ibunya berfungsi dengan baik, maka niscaya tangki kasih kita akan penuh, saat kita dewasa akan menjadi pribadi yang bisa mengasihi dengan sehat. Namun kasih Allah tak terbatas teori... saat kasih  Allah mengisi hati kita yang kosong, yang penuh luka, kasih Allah tersebut sanggup memenuhi tangki kasih kita, memulihkan total hati kita! Yusuf yang sudah kehilangan Rahel ibunya sejak kecil, lalu dibuang ke Mesir jadi budak...siapa yang mengisi tangki kasihnya? Bisa dibilang tidak ada di masa-masa itu. Mungkin hanya kenangan akan figur ibu dan ayah yang samar-samar, namun kasih akan Allah mampu membuatnya bertahan dan bahkan memiliki hati yang memaafkan saudara-saudaranya!

Mari belajar dari Yusuf dan mengaplikasikannya dalam hidup kita! Jika kita masih sulit mengasihi keluarga kita sendiri, ada ganjalan atau peristiwa traumatis yang kita alami, mari ijinkan kasih Allah yang memulihkan total kita! Jika peristiwa yang kita alami berat, mungkin bisa juga kita memulihkan diri melalui konseling dengan konselor yang terpercaya!
Tidak ada hati yang terlalu keras untuk Yesus pulihkan! Kasih Allah yang begitu besar hingga merelakan AnakNya sendiri dikorbankan di kayu salib cukup , bahkan lebih dari cukup untuk saudara dan saya!

Wednesday, February 3, 2016

KasihNya untuk Kita

by Felisia Devi

Hampir kita semua mengetahui secara bahwa Tuhan mengasihi kita umatNya, oleh karena itu Ia mengirimkan Yesus ke dunia untuk menyelamatkan kita semua (Yohanes 3:16). Semuanya Dia lakukan untuk membawa ciptaaNnya yang segambar dan serupa dengan Dia, kembali kepadaNya. Tapi pernahkah kita meragukannya walau sedikit, kalau kasihNya benar-benar nyata untuk kita yang berdosa ini?

Jika kita membaca Alkitab, kita mengerti cinta Tuhan buat manusia itu memang luar biasa, Dia sungguh-sungguh mengasihi setiap kita manusia, sekalipun manusia sudah jatuh dalam dosa, Tuhan masih tetap mau ‘dekat’ dengan manusia.

Dari mulai Adam dan Hawa setelah jatuh dalam dosa, tapi masih Tuhan buatkan pakaian dari kulit binatang. Kain, masih Tuhan peringatkan untuk tidak melakukan dosa.

Kepada bangsa Israel yang tegar tengkuk Tuhan tetapkan memenuhi perjanjianNya. Kita yang lahir sudah tercemar oleh dosa, Tuhan selamatkan. Dosa memang bisa menjadi penghalang kita dengan Tuhan, tapi dosa tidak bisa menghalangi kasihNya untuk kita. Hanya saja, tidak semua orang bisa menyadari, mengetahui, mengerti atau bahkan menerima tentang hal ini. Padahal kita semua bisa mengerti kasih Tuhan jika mau menerima, percaya dan mengetahui hal ini.

Lukas 5:32 
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat 

Roma 5:8 
Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Monday, February 1, 2016

Mengenakan Kristus

by Yunie S.

Galatia 3:27
Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.

Karena jatuhnya manusia pertama dalam dosa, kebutuhan berbusana itu muncul. Sandang menjadi suatu kebutuhan. Kreatifitas manusia pertama yang merasa telanjang dan malu lantas merancang daun pohon ara menjadi busana pertama mereka: cawat dari daun ara. Naluri dasar manusia saat berdosa adalah berusaha menutupinya, yang dipicu oleh rasa malu dan takut karena akibat dosa tersebut. (Kejadian 3:7-8)
Tuhan Allah melihat “cawat” itu dan sebelum mengusir mereka dari Eden, TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang lalu mengenakannya kepada mereka. (Kejadian 3:21)
Kebutuhan akan sandang ini, di era kekinian telah menjadi industri busana yang sangat berkembang! Bahkan bermunculan aneka merek adibusana karya perancang busana kondang. Manusia akhir zaman pun rela merogoh ekstra koceknya demi berbusana trendi!
Why? Apa bedanya sih pakai baju harga miring yang di sale di rak dept store, dengan baju branded? Bukankah pakaian itu sebatas penutup dan pelindung tubuh?
Oops ternyata lebih jauh dari itu...
Pakaian kita menutupi dan melindungi tubuh kita, mengubah penampilan kita, dan menjadi cara bagi orang lain untuk mengidentifikasi kita dan memandang kita.
Gaya busana gue yang cuek dan “asal gue nyaman” berbeda dengan gaya busana sohib gue yang rapi dan modis.
Teringat seseorang yang jika mengajar kuliah tanpa mengenakan busana merek tertentu,lantas imbasnya rasa percaya dirinya berkurang. Kaget juga saya dengar curahan hatinya, sembari mikir...kok bisa ya sebuah brand mendongkrak rasa percaya diri sampai sedemikian rupa?
We are what we wear...para ahli Psychology of Dress berkata demikian....

Paulus mengatakan bahwa kita harus "mengenakan Kristus seperti pakaian" (Galatia 3:27).
Sebagai manusia yang sudah lahir baru dalam Kristus, apakah kita mengenakan Kristus seperti pakaian? Ada rasa malu kah saat kita tidak mengenakan Kristus? Atau malah kita malu mengenakan Kristus dalam keseharian hidup kita? Kristus bak bros salib yang sesekali disematkan di gaun pesta. Hanya dikenakan di acara khusus dan formal semata. Kristus hanya seperti kalung salib yang dikenakan di leher yahhhh karena status Kristen. Ada rasa malu dan tak nyaman seharusnya saat kita tak mengenakan Kristus.

Pengorbanan Kristus adalah apa yang menutupi kita di hadapan Bapa. Pengorbanan itu mengubah jatidiri kita dan bagaimana kita hidup. Ia mengubah cara orang lain melihat kita dan bagaimana kita mengidentifikasi diri kita sendiri. Kita tidak lagi hidup di bawah hukum, tetapi di bawah kebebasan penebusan Kristus. Inisiatif keselamatan berasal dari Allah. Allah sendiri yang mendesain pakaian dari kulit binatang bagi manusia pertama, IA pun yang mendesain karya penebusan Kristus di kayu salib untuk menutupi, menghapus file dosa kita dihadapan Bapa. Bukan darah binatang yang kulitnya dijadikan pakaian yang IA korbankan, namun darah AnakNya yang tunggal yang IA berikan demi menebus dosa manusia macam kita ini! Masihkah malu mengenakan Kristus dalam hidup kita? Yuk mari kenakan Kristus di keseharian kita: jadi saksi Kristus yang hidupnya dinikmati buah-buah pertobatannya oleh sekeliling! Saat buang sampah itu budaya, kita yang mengenakan Kristus mau mempedulikan lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya. Saat menyontek itu biasa, kita memilih jujur dengan jawaban sendiri dan tidak memberi contekan. Saat bergosip dibelakang orang lain itu biasa....kita mau memilih ganti ucapan kita dengan ucapan berkat atas orang tersebut. Saat menerima suap itu biasa, atau memberi suap itu pelicin ...kita memilih tidak demikian. Banyak hal-hal praktis yang bisa kita lakukan sebagai wujud mengenakan Kristus dalam keseharian kita! Let's do it fervently and joyfully!

Wednesday, January 27, 2016

It’s Not About Me, But Who is Behind Me

by Viryani Kho

Galatia 6:1-2
Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. (Ay2) Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

Kita ini adalah makhluk sosial, dimana kita diciptakan untuk hidup bersama dengan orang lain dan tidak bisa hidup sendirian tanpa adanya interaksi atau bantuan dari orang lain. Baik itu datangnya dari orang tua, saudara, teman ataupun mungkin perfect stranger.

Pada perikop Galatia 6:1-10 “saling membantulah kamu.” Dimana kita sekali lagi diingatkan untuk menanggung beban sesama kita. Maka saling bertolong-tolonganlah kamu (ayat 2) dimana kita mengerahkan diri kita untuk membantu mengarahkan setiap orang yang sedang dalam pencobaan, diurung kesedihan, hilang harapan, dsb untuk kembali kuat dan melekat kembali pada Tuhan.

Doa orang benar bila sungguh didoakan akan sangat besar kuasanya. Kadangkala disaat kita sedang mengalami problematika hidup yang begitu kelam, kita seperti hilang harapan dan tidak sanggup untuk berdoa. Mungkin terlalu lelah untuk berdoa, merasa sia-sia untuk berdoa karena tak kunjung melihat hasil yang diharapkan. However, I learn the fact that when I don't feel like praying, that's actually the best time to pray. Karena disaat kita berdoa itulah, kuasa Tuhan nyata dan kita bisa kembali di kuatkan. Ketika situasi buruk happens, we tend to forget that God is always good all the time. Karena itu kita butuh komunitas! Yes, komunitas dimana we share the same values, community where they can pray for us when we just can’t pray for ourselves.

Dan ketika aku melihat ke belakang, all of my life, the good things that He ever done in my life makes me fully realize that I can stand up to now it’s only because of grace and prayer. It’s not about me, but who is behind me. I really experience the power of prayer and prayer change things!! I truly believe, kalau hari ini boleh ada semata-mata cuma karena kasih karunia Tuhan dan orang-orang yang sungguh doain saya di kemudian hari. Saya masih inget dimana dulu awal-awal jadi Kristen yang masih ikut-ikutan, lalu pemimpin komsel saya dengan setia jemputin saya untuk komsel, rajin ingetin untuk saat teduh dan gereja. Juga mendorong saya untuk mengambil langkah-langkah penting dalam hidup saya, seperti mau di babtis, ikut aktif kegiatan gereja etc.

Saya pernah mendengar kotbah dari salah satu pendeta di gereja saya, kurang lebih bunyinya begini:
“Manusia bisa berubah karena 2 hal,
satu karena kasih karunia dan kemurahan Tuhan.
Dan yang kedua, karena ada orang yang mendemonstrasikan kasih karunia Tuhan ke dalam kehidupannya.”

Kata-kata itu terus membekas di hati saya, so apakah selama ini kita sudah menjadi perpanjangan tangan Tuhan? Have we mourn with those who are mourn? And happy with those who are happy? Have you pray regularly for your friend? The Gospel has set us free. It has also given us the freedom to love one another and to carry each other's burden freely. Let us learn to weep with those who weep. Let us learn to be the kind of friend who meet our friends in their hard place and be the ones to show love remind them of the truth and hope, pray for them when they’re too weak and give them grace when they fail.

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. (Ay10) Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Galatia 6:9-10


Monday, January 25, 2016

Dipimpin oleh Roh

by Felisia Devi

Galatians 5:16-26, Romans 7:14-15, 7:18-19, 8:5-7
Kita semua tau mengenai kisah kejatuhan manusia pertama Adam dan Hawa ke dalam dosa. Disebut melakukan 'dosa' karena mereka yang melanggar apa yang Tuhan kehendaki, memakan buah terlarang. Karena kejatuhan ini, membuat kita semua keturunannya memiliki kecendereungan yang sama, suka melakukan apa yang melawan kehendakNya alias melakukan dosa.

Allah adalah Roh, dan  Ia menghembuskan rohNya kepada manusia, sehingga manusia menjadi ciptaan paling mulia, lain daripada yang lain. Ini berarti esensi dari kehidupan manusia adalah roh-nya. Lewat 'roh' inilah kita bisa berkomunikasi dan mengerti Allah yang adalah Roh. Dan seharusnya roh inilah yang berkuasa atas tubuh dan jiwa kita

Tetapi sejak kejatuhan manusia dalam dosa, roh tidak lagi berkuasa atas tubuh daj jiwa kita. Kebanyakan kita hidup dengan kecenderungan  mengikuti keinginan tubuh dan jiwa kita, seperti ego, nafsu, moody, dipengaruhi oleh sekeliling, dll

Bersyukur lewat kematian Yesus dikayu salib, kita diberi kemampuan oleh kasih karuniaNya untuk bisa kembali dipimpin oleh RohNya lewat roh kita.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana selama ini kita merawat roh yang Tuhan hembuskan sendiri? Apakah kita rajin memberi makan dan membiarkan roh menguasai? Ata uterus menerus mendukakannya sehingga ia tidak bias menguasai tubuh dan jiwa kita, dan hidup cenderung dikuasi oleh daging.

Biarlah kita mensyukuri perngorbanan Yesus untuk kita semua, dengan mengerjakan keselamatan kita, salah satunya dengan terus menerus bersedia dipimpin oleh roh. Supaya hidup kita semakin serupa dengan Dia.
Gal 5:24 -25
Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.  Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

Rom 8:5-7  Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.

Friday, January 22, 2016

Hidup dan Mengasihi dengan Bebas


by Poppy Noviana

Hei..
masih ingatkah kalian, cerita sejarah yang kita lalui waktu zaman primary school dulu, Indonesia dijajah oleh bangsa asing seperti Portugis, Belanda dan Jepang. Semuanya tentu bukan suatu kebetulan, ada maksud Tuhan bagi bangsa Indonesia agar melewati perapian tersebut hingga sebegitu tertariknya bangsa lain atas rempah-rempah milik Indonesia. Sampai tibalah masa bangsa Indonesia sampai pada fase kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 dan masih terus kita peringati sampai saat ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kemerdekaan adalah bebas dari penjajah, tuntutan suatu pihak dan perhambaan. 

Melihat sejarah bangsa, kemerdekaan itu sendiri memerlukan suatu perjuangan, ya.. perjuangan yang ngga mudah alias mahal harganya, bahkan ada yang kehilangan nyawanya dalam proses untuk memperoleh merdeka. Mereka dikenal dengan sebutan pahlawan dan namanya dikenang oleh banyak orang. Nah..kira-kira siapa pahlawan yang masih kamu kenang jasanya sampai sekarang? R.A. Kartini atau Soekarno dan masih banyak lagi, namun ada seorang pribadi yang merupakan pahlawan dalam hidup namun mungkin sering terlupakan, Yesus.. yang telah memberikan nyawa-Nya bagi kita untuk memerdekakan kita dari dosa pada waktu yang ditentukan-Nya. Kebebasan termulia ini bahkan tidak diperhitungkan jumlah biayanya, alias gratis..tis..tis.. dan memanggil kita untuk hidup merdeka di dalam DIA.
1 Petrus 2: 15-16 
Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
Hidup merdeka bukan berarti hidup seenaknya, hedon dan ga bertanggung jawab karena tidak terikat dan menjadi hamba suatu pihak, namun justru Allah memanggil kita dalam kemerdekaan tersebut untuk hidup di dalam DIA, dengan bebas melakukan segala perintah-Nya yaitu berbuat baik dan mengelola hak merdeka tersebut dengan bertanggung jawab dan benar dihadapan saudara seiman pada umumnya dan secara khusus orang-orang yang belum mengenal Allah.
Galatia 5: 13 
Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
Merdeka juga bisa diartikan lebih luas, misalnya merdeka dalam hidup artinya bebas menentukan arah hidup tanpa diatur pihak tertentu, merdeka dalam mengurus kepentingan pribadi, dan bebas berekspresi dalam menentukan pilihan. Bicara soal merdeka, kalian pernah dengar kasus korupsi di negara Indonesia? mungkin sering juga yah beberapa diantara kita sampai gerah melihat berita yang isinya koruptor ini dan itu, tapi itu bagian dari bukti bahwa merdeka dalam mengelola kekuasaan juga bisa disalahgunakan beberapa oknum tertentu buktinya dalam mengatur kekuasaan ternyata bukanlah hal yang mudah, banyak godaan untuk terjatuh dalam hasrat keserakahan dan berujung dosa. Namun Tuhan Yesus sudah mewanti-wanti dalam Firman-Nya atas hal itu.
Kata “dipanggil” dalam bahasa asli alkitab pada ayat ini disebut kaleo (Bahasa Yunani) yang artinya dipanggil dengan suara keras, mengundang, memanggil dengan nama. Hal ini menekankan bahwa kita diundang untuk menerima kemerdekaan tersebut dari Allah secara tegas, bukan sekedarnya saja tapi secara khusus dipersembahkan-Nya untukmu untuk digunakan sebagai kesempatan melayani dengan dasar kasih. Dari mana datangnya kasih itu? ya dari Allah yang lebih dulu mengasihi kamu dan saya, demikian kita juga selayaknya membagikan kasih itu, meskipun tidak sesempurna Dia kepada kita.

Bagaimana kemerdekaan itu sebaiknya saya kelola??

Tuhan itu sebenernya merdeka menentukan tujuan-Nya, kebayang ngga sih kalo Tuhan dengan kebebasan-Nya menginginkan gausah Dia yang mati di kayu salib, tapi semua orang yang berbuat salah ke Dia yang harus mati seperti itu. Ngeri banget ga sih? jujur aku sendiri ga sanggup, nonton film The passion of christ waktu momen Dia dipukulin pake bola besi sebelum disalibkan. Apalagi kalo aku yang ada di posisi itu? weleh-weleh..ampun Bapa. Terus sebenernya Yesus bebas juga sih mau nurutin jalan Bapa di surga atau akhirnya nerusin hidup lebih dari 33 tahun untuk menikmati pengembaraannya sampai ke ujung bumi untuk memberitakan injil. Nah loh..gawat kan kalo kemerdekaan itu tidak dikelola dengan benar, ga ada tuh keselamatan hidup yang dapat kita peroleh karena dosa. Alias semua orang masuk neraka, karena ga ada yang sempurna, kenapa begitu? Coba evaluasi selama hidup pernah ngga kamu bohong? Pernah ngga kamu sombong atau mengingini milik orang lain? Pernah ngga kamu membenci musuh dan mendendam? Waduh..jawabannya ya pernah lah namanya juga manusia. Lah iya..justru itu, gawat kalo Yesus dengan kemerdekaan-Nya menggunakan kebebasan tersebut untuk cari aman aja dalam hidup-Nya.

Tuhan punya cara sendiri untuk mengekspresikan kasih, cara yang paling ekstrem pada zaman itu dan merupakan pilihan yang sangat berat karena dengan mati di kayu salib, alias darah dan nyawa-Nya diberikan. Demi untuk menganugerahi kita suatu kehidupan yang merdeka dari dosa. Demikian juga kita semangat merdeka itu pula yang mestinya kita bawa untuk menjadi hamba Allah, untuk membagikan kasih seperti yang kita terima dari-Nya, yang ngga cari aman tapi nurut sama Bapa disurga untuk menerima anugerah-Nya dengan bebas tanpa paksaan, karena seluruh jati diri kita sebagai manusia yang lemah atas dosa telah dilbayar dengan kasih-Nya dibukti kalvari.

Yakobus 1:25
Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun didalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya
Ada hadiah dibalik pengelolaan kemerdekaan yang benar?
Yes, bukan cuman kamu yang diuntungkan atas perbuatanmu yang mengasihi orang lain dengan merdeka, namun Allah sendiri mengikat janji hadiah berbahagia sebagai imbas dari pilihan tersebut. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengusahakan kemerdekaan yang Tuhan berikan? Berbuat baik, mengasihi orang lain, melakukan segala sesuatu yang seturut dengan perintah-Nya. Darimana kita tahu perintah-Nya? Dengan membaca Firman-Nya yang disampaikan kepada tokoh-tokoh alkitab saat berada pada situasi tertentu, contohnya: bagaimana Tuhan memberi tahu Nuh secara presisi untuk membuat kapal sebesar itu dalam musim kemarau, sangat aneh tapi berujung keselamatan bukan?

Kemerdekaan yang Tuhan berikan ini untuk ku bukan yah?

Yesus tidak pernah membatasi pemberian-Nya, namun terbataslah pengertian orang-orang yang mau menerima-Nya, jadi jika kamu sudah mengenal-Nya, tunggu apalagi terima dan bagikan yah..jangan pernah berhenti berbuah dalam hidup dengan membagikan kasih yang memuaskan kehausan manusia dan paling dibutuhkan seantero bumi ini, agak lebay sih bahasanya tapi itu kenyataan.

2 Korintus 3:17
Sebab Tuhan adalah Roh; dan dimana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung, Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.

Jadi sahabat Pearl, kapan kemerdekaan tersebut benar-benar hadir dalam hidupmu? Yaitu saat Roh Allah mengusai hati dan pikiranmu, di saat itulah kemerdekaanmu hadir yaitu di dalam roh untuk melakukan seluruh hal yang menyenangkan hati Bapa seperti mengasihi, mengampuni, bersyukur, berdoa, berharap dan berserah atas keadaanmu dan tujuanmu, sebab untuk itulah kita semua dipanggil. Bebas dan lakukanlah sesuka hatimu didalam-Nya, tidak ada yang dapat merenggut kemerdekaan kita untuk dapat melakukan kehendak-Nya, sekalipun lingkunganmu mungkin saat ini tidak mendukung bahkan menolakmu. Allah Turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, apapun yang kamu tabur itulah yang akan kamu tuai, dan ukuran apa yang kau gunakan untuk mengukur dengan itu juga kamu akan diukur, so just do it with freedom.

Wednesday, January 6, 2016

KuasaNya yang mengubahkan

by Felisia Devi

Sebagian besar dari kita bisa all out buat Tuhan, biasanya karena pernah berada dalam titik terendah dalam hidup dan mengalami kuasa/perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi. 

Salah satunya kita bisa belajar dari hidup Paulus, seorang warga Rum berdasarkan kelahiran, diajar oleh Gamaliel, ahli taurat dan filsuf yang disegani dan diakui. Yang pernah menjadi salah satu orang yang sangat semangat menganiaya para pengikut Kristus, tiba-tiba berubah 180° menjadi pengikut Kristus yang sangat radikal dan menjadi history maker dalam sejarah kekristenan.

Paulus bisa mengalami perubahan luar biasaini, karena perjumpaannya dengan Tuhan secara pribadi.
Kita pun sama, pasti bisa mengalami perubahan (tapi bukan cara instant) sekalipun kita memiliki masa lalu yang mungkin gak bangetttt... tidak enak yang tidak bisa kita rubah, yang mungkin terjadi karena bukan kemauan atau kita, apapun itu dalam Tuhan semua mungkin bisa diubahkan. Karena segala sesuatu yang ada dalam tangan Tuhan akan diubahkan menjadi kebaikan. TUHAN bisa gunakan hal-hal yang menurut kita buruk, salah bahkan memalukan untuk mendatangkan kebaikan.

(2 Korintus 5 : 17)
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Seperti background hidup Paulus yang sangat bertolak belakang dengan apa yang ia lakukan pada akhirnya, perubahan seperti ini juga yang bisa kita alami.

'Perubahan radikal' yang menurut dunia bisa dibilang mustahil... tapi buat Tuhan tidak ada yang mustahil.

Yang pasti stay in His track, dalam pimpinan kebenaranNya. Yaitu dengan kita sendiri selain menyadari hal itu, juga mengakui dan minta Tuhan tolong. Dia pasti akan secara ajaib membuat perubahan hal luar biasa dalam hidupmu.

Dan jangan lupa tetap dalam komunitas orang percaya yang akan membangun semakin seperti Kristus.

Yang pasti kebenaran injil itu memang berkuasa memerdekakan dan mengubahkan. Saya sangat bisa menjamin hal ini. Saya sendiri pribadi yang sudah sangat banyak Tuhan ubahkan, karena kuasaNya!