Monday, September 14, 2020

WHAT MATTERS MOST


by Leticia Seviraneta
Faith in action is love,and love in action is service.– Mother Teresa
Bila sudah lama menjadi orang Kristen (yang lahir baru, bukan hanya Kristen KTP), kita akan terbiasa dengan kutipan-kutipan ayat Alkitab, isi khotbah, ritual kebaktian, bahkan juga kesibukan pelayanan di gereja. Tanpa disadari, semua hal baik yang kita terima dan lakukan tersebut terkadang menjadi sekedar rutinitas (atau jadi beban tersendiri?) hingga kita melupakan alasan mengapa kita melakukannya. Ketika kita melupakan “the why” di balik apa yang kita lakukan, kita menjadi kehilangan arah serta tujuan. Akibatnya, “the why”—yang merupakan hal penting—ini sering tergusur urutan prioritasnya oleh hal yang terlihat “urgent” atau mendesak. Jika sudah begini, mungkin kita perlu mengingat pepatah di bawah ini:

Hal yang penting tersebut bukanlah untuk ditemukan seolah-olah belum kita miliki,
melainkan untuk diingat kembali.
(The important things are not to be discovered, but to be remembered.)

Lalu, sebagai orang Kristen, apa yang paling penting untuk kita lakukan?

Pertanyaan seputar “apa-yang-paling-penting” ini juga muncul di pikiran seorang ahli Taurat saat bertemu dengan Yesus. By the way, ahli Taurat adalah orang yang secara khusus mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari hukum Taurat. Nah, ketika ada kesempatan, dia bertanya kepada Yesus mengenai hukum yang terpenting dari semua hukum Taurat yang ada:

... dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
(Mat 22:35-40 / TB)

Pertanyaan di atas bukan berarti menandakan bahwa ahli Taurat itu tidak sungguh-sungguh mempelajari kitab Taurat. Bukan! Sebaliknya, dia bertanya kepada Yesus dengan maksud untuk mencari celah kesalahan di mana Sang Rabi itu akan mengabaikan hukum yang lain. Namun di luar dugaan, jawaban Yesus menunjukkan esensi dari keseluruhan hukum yang ada, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama. Perintah ini merupakan kutipan dari kitab Ulangan:


“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
(Ulangan 6:5 / TB)

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dulu mengasihi kita.”
(1 Yoh 4:19 / TB)

Kita dapat taat tanpa mengasihi, tetapi kita tidak dapat mengasihi tanpa taat. Kita bisa saja melakukan seluruh perintah Allah tanpa dilandasi kasih, namun kita tidak dapat mengasihi Allah tanpa ketaatan. Oleh karenanya, motivasi di balik hal-hal baik yang kita lakukan menjadi penting. Semuanya itu harus berlandaskan kasih kepada Allah. Kasih tersebut yang akan menjadi energi, menjadi alasan yang kuat di saat situasi kita melemahkan semangat, tidak ideal, dan sulit.

Apa artinya mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita? Nah, tahukah Pearlians bahwa kata “hati”—dalam bahasa Ibrani—disebut “lev”? “Lev” diartikan sebagai “organ yang memberikan kehidupan, tempat berpikir, merasakan emosi, dan membuat keputusan-keputusan”. Menariknya, “lev” tidak sekadar berarti “hati”, melainkan juga diterjemahkan sebagai “pikiran”. Ini menunjukkan bahwa hati dan pikiran menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, apalagi karena keduanya merupakan pusat dari kehidupan. Dari situlah pusat emosi, keinginan, pengambilan keputusan yang kemudian akan menentukan arah kehidupan kita. Itulah mengapa raja Salomo menuliskan dalam Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” 

Mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan akal budi dimulai dengan mengarahkan fokus perhatian dan pikiran kita kepada kebaikan Tuhan, Firman-Nya, dan menyembah-Nya di setiap saat. Bila kita mau jujur, banyak hal yang berusaha merebut fokus kita sehari-hari; entah itu pekerjaan, pasangan, keluarga, pelayanan, dan sebagainya. Iya, semuanya itu hal yang baik. Tapi kalau Tuhan tidak ditempatkan menjadi Sang Raja atas kehidupan kita (baca: yang hadir dalam setiap aspek kehidupan yang kita miliki), maka seringkali motivasi dan tujuan sebenarnya dari hal-hal baik tersebut akan hilang. Oleh karenanya, mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan pikiran dapat dilakukan dengan memulai hari kita untuk meluangkan waktu bersama-Nya, berdoa, memuji dan menyembah-Nya, membaca dan merenungkan Firman Tuhan, serta menerapkannya setiap saat. Disiplin rohani ini seringkali dilihat sepele, namun itu akan menuntun kita sepanjang hari ke arah sesuai yang Tuhan inginkan.

Lalu apa yang dimaksud “mengasihi Tuhan dengan segenap jiwamu”? Dalam bahasa Ibrani, jiwa menggunakan kata “nephesh” yang memiliki arti keseluruhan dari keberadaan fisik seseorang (the whole physical being of a person). Artinya, “mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa” berarti mendedikasikan keseluruhan keberadaan dan hidup kita kepada Tuhan. Hal ini bukan berarti pekerjaan atau kegiatan kita sehari-hari harus yang bersifat “rohani”—karena sebenarnya tidak ada kegiatan yang “rohani” maupun “non-rohani” (atau “sekuler”) di mata Tuhan. Apapun yang kita kerjakan sehari-hari, kalau selalu dilakukan dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan, maka itu adalah penyembahan kita yang sejati.

So here's what I want you to do, God helping you: Take your everyday, ordinary life—your sleeping, eating, going-to-work, and walking-around life—and place it before God as an offering. Embracing what God does for you is the best thing you can do for him.
(Rom 12:1 / MSG)

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
(Rom 12:1 / TB)

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
(1 Korintus 10:31)

Kemudian apa yang dimaksud dengan mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatanmu? Menarik sekali, kekuatan disini tidak merujuk kepada kekuatan fisik seseorang, melainkan berasal dari kata Ibrani “me’od” yang sebenarnya merupakan kata keterangan yang berarti “sangat” atau “very”. Misalnya pada hari ketujuh penciptaan Tuhan mengatakan semuanya “me’od” baik atau sangat baik. Dalam bahasa Yunani kata ini diterjemahkan menjadi “dunamis” atau “power”. Intinya adalah “mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan” tidak membatasi kita mengasihi Tuhan dengan cara tertentu saja. Sebaliknya, kita justru dibukakan pada anugerah bahwa dalam segala aspek kehidupan kita—dalam situasi apapun, kesempatan yang diberikan, maupun setiap kemampuan yang kita miliki—dapat digunakan untuk mengasihi-Nya. 

Keseluruhan dari perintah untuk mengasihi mendorong kita kepada suatu perbuatan (action). Stephen Covey berkata, “Kasih adalah sebuah kata kerja. Kasih adalah sesuatu yang kamu lakukan: pengorbanan yang kamu lakukan, pemberian diri kita sendiri. Bila kamu ingin belajar mengasihi, pelajari mereka yang berkorban untuk orang lain. Kasih—sebuah perasaan—adalah buah dari kasih yang merupakan kata kerja.” Mengasihi Tuhan tidak dapat terlepas dari mengasihi orang lain. Keduanya seperti dua sisi mata koin yang sama. Kita tidak dapat menanyakan, “Mana yang lebih penting: mengasihi Tuhan atau mengasihi sesama?” Karena bagi Tuhan, mengasihi-Nya ditunjukkan dengan mengasihi sesama, dan mengasihi sesama menunjukkan bahwa kita mengasihi-Nya. Oleh karena itu perintah yang terutama yang Yesus sebutkan dilanjutkan dengan “…mengasihi sesamamu manusia seperti mengasihi dirimu sendiri.” (Luk 10:27 / TB)

Dalam Lukas 10:29-37, dikisahkan bahwa ahli Taurat yang menanyakan hal yang sama—yang bertujuan untuk membenarkan dirinya—bertanya kembali, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Bukankah pertanyaan itu seolah-olah menyiratkan bahwa kita dapat memilih orang-orang tertentu saja untuk dikasihi dan itu sudah cukup untuk memenuhi perintah Tuhan tersebut? Tapi Yesus menjawabnya dengan menceritakan ilustrasi seorang Samaria yang menolong orang yang telah dirampok, dipukul habis-habisan, dan meninggalkannya di pinggir jalan dalam keadaan hampir meninggal. Sebelum orang Samaria tersebut datang, seorang imam dan Lewi melewati jalan tersebut, melihat kondisi orang itu, dan mengabaikannya dengan berjalan di sisi jalan lain. Sementara ketika orang Samaria melihatnya, ia menaruh belas kasihan kepadanya. Ia membalut luka-lukanya, menyiraminya dengan minyak dan anggur, menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, membawanya ke tempat penginapan, merawatnya, dan menitipkan uang di tempat penginapan untuk tempat pengobatannya. Yesus mendeskripsikan orang Samaria tersebut sebagai sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun tersebut. Lalu kenapa Dia menjadikan orang Samaria di kisah itu sebagai “orang yang menunjukkan belas kasihan pada sang korban perampokan”, bukannya imam atau orang Lewi? Well, ini karena Yesus tahu bahwa pada zaman itu, orang Samaria adalah kelompok yang dibenci oleh orang Yahudi; sedangkan imam dan orang Lewi cenderung dihormati karena mereka memiliki hak untuk melayani Allah. As simple as that.

By the way, perintah agar kita mengasihi Allah dan sesama menggunakan kata Yunani “agape”, jenis kasih tidak bersyarat yang ditunjukkan Allah kepada manusia. Ini merupakan kasih yang tanpa pamrih, yang tidak memandang buluh siapa penerima kasihnya.

“Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya [agape] kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
(Rom 5:8)

Ketika masih berdosa, manusia (termasuk) berada di posisi yang menempatkan Tuhan sebagai musuhnya. Tuhan mengasihi kita selagi kita menjadi “musuh”-Nya? Wah, ironis sekali, kan? Demikian juga dengan ilustrasi Yesus, orang Samaria pada masa itu merupakan “musuh” orang Yahudi. Orang Yahudi tidak akan mau berurusan sama sekali dengan orang Samaria, demikian juga sebaliknya. Yesus menjabarkan deskripsi sesama manusia dengan menggunakan contoh yang paling ekstrim: musuh kita pun termasuk sesama kita. Melalui ilustrasi-Nya, deskripsi sesama manusia dapat meliputi orang yang (menurut kita) tidak layak mendapatkan kasih kita, orang yang tidak berdaya, maupun orang yang tidak dapat membalas kebaikan kita. Tapi karena Tuhan sudah memberi agape kepada kita yang sebenarnya tidak layak untuk dikasihi, Dia juga menginginkan kita untuk memberikan agape tersebut kepada orang yang tidak layak mendapatkannya.

Secara manusiawi, tentu ini perintah yang sungguh sulit untuk dilakukan. Bila kasih hanya bersumber dari diri kita sendiri, maka hal ini tentu mustahil untuk dilakukan. Bagaimana bisa kita mengasihi dan berbuat baik kepada orang yang menyakiti kita atau yang tidak akan membalas kebaikan kita? Secara logika, hal ini tidak masuk akal. Oleh karena itu, kita perlu menerima terlebih dahulu agape Allah, kasih tidak bersyarat-Nya yang begitu besar. Allah perlu menjadi sumber kasih dalam keseharian kita sehingga kita dimampukan oleh-Nya untuk mengasihi sesama kita juga. Bagaimana melakukan hal ini secara nyata? Hal ini dapat dimulai dari langkah kecil seperti berdoa bagi yang pernah menyakiti kita. Mendoakannya mungkin tidak secara instan mengubah orang tersebut, namun akan secara progresif mengubahkan hati kita. Fokus kita dapat bergeser dari tindakannya yang salah terhadap kita menjadi melihatnya sebagai seorang yang membutuhkan Tuhan dalam hidupnya. Dari langkah kecil ini, kita dapat pelan-pelan berbuat sesuatu yang baik kepadanya. Demikian juga halnya dengan orang yang jelas membutuhkan pertolongan, seorang yang tidak berdaya, dan tidak dapat membalas kebaikan kita. Kita perlu membuka mata dan berbesar hati untuk lebih peka melihat kebutuhan di sekitar kita dan melakukan sesuatu untuk memenuhinya.

Bunda Teresa berkata, “Iman dalam perbuatan adalah kasih, kasih dalam perbuatan adalah pelayanan.” Pelayanan yang sesungguhnya tidak terbatas dalam lingkup gereja, melainkan dalam keseharian kita, dan kepada siapa pun yang kita temui. Dengan cara inilah, kasih Allah dapat hadir dan nyata bagi kehidupan orang lain dan pelayanan kita menjadi respon natural dari kasih yang sudah kita terima dari-Nya. Selamat mengasihi!
“Bentuk penyembahan tertinggi adalah penyembahan dari pelayanan orang Kristen yang tidak egois. Bentuk pujian tertinggi adalah suara kaki-kaki yang mencari orang yang terhilang dan tidak berdaya.” – Billy Graham

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^