Friday, April 15, 2016

Bagaimana Supaya Tidak Sombong?

by Glory Ekasari

Apakah pembaca merasa diri sombong? Apakah pembaca berharap bisa lebih rendah hati? Bagaimana caranya? Apakah ada tips dan triknya?

Mungkin pembaca berkata, “Engga kok, saya ga suka nyombong.” Eits. Itu barusan nyombong bahwa dirinya ga suka nyombong.

Sayang sekali, di Alkitab tidak ada petunjuk “langkah-langkah agar tidak sombong”.
Yang jelas kita disuruh rendah hati; tetapi karena secara natural kita ini mahkluk yang suka menyombongkan diri, kita jadi bingung bagaimana harus melaksanakan perintah untuk rendah hati tersebut.

Kesombongan itu sudah built-in dalam pikiran kita. Perhatikan anak-anak kecil yang sedang ngobrol satu dengan yang lain. “Aku punya mainan robot.” “Robotku lebih gede!” “Robotku lebih bagus!” Kecil-kecil, ga ada yang ngajarin, udah sombong-sombongan begitu. Waktu sudah besar, lain lagi sombongnya. “Anakku baru bagi rapor kemarin. Puji Tuhan dapet ranking satu se-angkatan.” “Oh, anakku sih ranking dua, tapi akselerasi dua tahun. Ini mau lompat kelas lagi, soalnya gurunya bilang bisa langsung kelas enam.” .....

Dengan demikian kita tahu bahwa orang sombong bukan karena dia juga memiliki apa yang dimiliki orang lain, tetapi karena dia merasa memiliki lebih dibanding orang lain. Baik dalam hal moral (“Saya lebih benar dari orang itu”), materi (lebih kaya, tasnya merk yang lebih mahal, mobilnya lebih mewah, dst), tampang (ga usah dijelasin lah ya), kemampuan atau talenta, atau apapun yang lebih dibandingkan orang lain. Kita menjejerkan diri dengan orang lain yang menurut kita levelnya di bawah kita, supaya bisa membanggakan diri. Begitulah langkah-langkah menjadi sombong, yang sebenarnya tidak perlu diajarkan.

Kalau begitu, supaya tidak sombong, kita hanya perlu melakukan sebaliknya: menempatkan diri dalam posisi serba kekurangan dan tidak pernah lebih dalam hal apapun (moral, materi, talenta, dll). Apakah ini berarti kita harus menyepi, tinggal di gua di gunung, dan berpakaian karung goni? Tentu tidak masuk akal. Tapi kalau tidak begitu, kapan kita memahami kerendahan hati? Ketika saya SD, wali kelas saya suka membawa gitar ke kelas dan mengajak murid-muridnya menyanyi. Saya jadi ingin belajar gitar. Beberapa tahun sesudahnya, kemampuan guru saya itu tidak lagi spesial buat saya karena saya merasa sudah bisa bermain lebih baik dibanding beliau. Bila kita bekerja keras, kita bisa menyamai orang yang talentanya, kekayaannya, atau karakternya di atas kita. Kalau begitu tidak ada yang bisa membuat kita rendah hati dong?

Kecuali satu.

Sampai matipun, kita tidak akan bisa bersaing dengan Tuhan. “Tuhanlah yang empunya bumi dan segala isinya.” Mustahil bersaing dengan Dia secara materi. “Sebab Tuhan itu baik; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Wow, selama-lamanya! Mustahil bersaing dengan Dia dalam hal karakter dan moralitas. Dalam hal apapun, kita tidak akan pernah sebanding dengan Tuhan. Karena itu, orang yang mendekat kepada Tuhan, yang tinggal di dekat Dia, yang bersahabat akrab dengan Dia, tidak bisa menyombongkan diri.

Berada di dekat Tuhan membuat kita sadar betapa kecil, tidak berarti, dan lemahnya kita. Membaca firman Tuhan membuat saya insyaf betapa saya ini orang berdosa. Doa membuat saya selalu sadar bahwa saya bergantung sepenuhnya kepada Dia. Setiap kali saya memikirkan betapa kecilnya saya dan betapa besarnya Tuhan, saya semakin sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada-Nya. Saya ini seperti orang miskin, kere, debu di hadapan Maharaja. Ayub, orang terkaya dari Timur (untanya 3000, dombanya 7000, dst beribu-ribu) yang disebut sebagai “orang benar”yang berarti secara moral dia unggul di antara orang lainbersaksi ketika dia berjumpa dengan Allah:

“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau,
tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku
dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

—Ayub 42:5-6

Bukan hanya Ayub yang mengalami hal ini. Nabi Yesaya, ketika melihat Tuhan di tengah para serafim yang memuji-muji Dia, seketika menyadari betapa berdosanya dia di hadapan Allah Yang Mahakudus. Petrus, ketika tahu bahwa Yesus yang naik ke perahunya bukan orang biasa, berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku orang berdosa.” Zakheus, ketika Yesus datang ke rumahnya, langsung bertobat, menyumbangkan hartanya, dan mengganti kerugian orang-orang yang ia peras. Siapapun yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan, mengalami perubahan drastis dalam caranya memandang dirinya sendiri! Seperti pemungut cukai dalam perumpamaan yang Yesus sampaikan, kita berseru kepada Allah, “Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa.” Betapa miskin dan malangnya kita di hadapan Allah Yang Mahakudus!

Lebih-lebih bila kita tinggal di dekat Tuhan setiap hari. Kita akan menjadi seperti Paulus, seorang tokoh agama Yahudi yang tadinya sangat disegani karena ketaatannya pada hukum dan dedikasinya terhadap Yudaisme, yang kemudian dengan tulus berkata, “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dibanding segalanya.” Dengan tegas ia meneruskan, “Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu”nama besar, pengakuan orang, kehormatannya sebagai pemimpin“dan menganggapnya sampah.” Dia telah menemukan harta yang paling berharga, mutiara yang terindah, yang ia bayar dengan hidupnya.


Dekat-dekatlah pada Tuhan. Biarlah firman-Nya menerangi hati kita dan cahaya keagungan-Nya menyilaukan mata kita, sehingga kita senantiasa sadar bahwa kita ini hanya cermin yang memantulkan kemuliaan-Nya.

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^