Monday, September 10, 2018

Kindness


by Lia Stoltzfus

“Rafa, come... I can read the book for you. Let mama rest...” 

Demikian kata si sulung yang menawarkan diri untuk membantu ketika adiknya meminta mama membacakan buku. Anak berusia 6 tahun. Hati saya tersentuh oleh kepeduliannya. Ya, gantian saya yang sakit setelah dua minggu merawat keempat anak saya yang bergantian sakit. Saya pun demam dan sakit kepala karena kurang tidur berhari-hari mengurus anak-anak yang sakit. Tapi si sulung sudah lebih baik, dan malam itu dia menulis catatan ini. 

“Thank you for being a kind mama.” 
What a gratitude, what an appreciation, what a title I love to get. “A kind mama.” 

Saya merenung. Showing kindness, loving my children, sacrificing for them… Those things did NOT come naturally for me. Waktu mereka masih bayi, sepertinya iya. Secara natural saya mau melakukan apa saja untuk mereka. Rela deh, mau bangun tengah malem berapa kali buat nenenin juga oke, mau ribet masak ini itu untuk MPASI anak juga ayo, mau bikin aktivitas ini itu untuk stimulasi anak juga diladenin. But as they grow, saya berhadapan dengan ketidaktaatan, kerewelan, bad attitude, dan juga serangkaian tingkah laku mereka yang tidak menyenangkan. Saya pun capek. Come on, that is realitanya kan… Babies are cute, so easy for us to forgive. They kick us tanpa sengaja, kepala nyundul kena bibir sampe jontor dan berdarah, gak mungkin kan kita pukul atau marahi dengan bilang, “Hati-hati dong kamu, gak bisa diem amat!” Tapi gimana kalo anak umur 4 tahun yang kayak gitu? Yang sudah beberapa kali kita peringatkan untuk gak salto atau menari-nari di ranjang deket mama yang lagi sibuk maen hp? (Ups?) 

A kind mama 
adalah seorang mama yang murah hati, penuh kasih, lembut, punya kehendak baik, memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. 

A kind mama 
adalah seorang yang generously forgive ketika si anak mengucapkan kata-kata yang bikin kesal atau sedih, tidak menghargai segala usaha yang kita lakukan untuk memberi yang terbaik.

A kind mama 
adalah seorang yang menahan lidahnya, mengigit bibirnya untuk tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan atau melukai, yang memilih diam dan tidak marah-marah, tidak mengecam, menghakimi dan melakukan manipulasi emosional. 

Kindness: 
benevolence, humanity, generosity, charity, sympathy, compassion, tenderness, goodwill.

(Kebaikan: kebajikan, rasa kemanusiaan, kemurahan hati, kasih, simpati, belas kasihan, kelembutan, niat baik.)

Sejujurnya, saya masih sangat jauh dari definisi itu semua. Tapi saya sedang terus belajar mengembangkan karakter tersebut. Kindness adalah karakter yang bisa kita latih kembangkan, serta merupakan buah Roh, hasil persekutuan kita dengan Tuhan. 

Tetapi buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
(Galatia 5:22-23)

Kebaikan juga adalah kebiasaan yang bisa kita latih tiap hari. Setiap hari kita punya kesempatan untuk memilih bersikap baik, bukannya cuek atau malah kasar. 

Yang jadi pertanyaan besar adalah bagaimana kita bisa exercising God’s kindness to others? 
1) Start with your home 
Buat yang single, be kind to your parents and siblings, lakukan hal yang baik bagi orang-orang di sekitarmu. Contohnya: 
  • Inisiatif membantu mama mengerjakan pekerjaan rumah. “Ma, aku bantu cuci piring ya. Mama istirahat deh.” 
  • Membelikan ART makanan kesukaannya. “Mbak, saya beliin somay buat kamu nih... Saya liat tukang somay lagi nongkrong pas jalan pulang, inget kamu suka ini.” 
  • Merapikan kamar adik laki-lakimu yang super berantakan dan tulis note kecil, “Kamar rapi, bersih dan nyaman bikin suasana hati senang dan konsen belajar. Semangat yah dek belajar untuk ujiannya.” 
  • Bikinin papi teh hangat jahe ketika papi pulang kantor hujan-hujanan. 
  • Ajak oma jalan-jalan di taman, dorong kursi rodanya, sepanjang jalan ajakin oma ngobrol. 

Buat yang sudah menikah, lakukan itu untuk suami dan anak-anakmu, juga ART atau mertua yang tinggal di rumahmu. 
  • Ketika terjadi konflik dengan suami, jaga nada suara agar tidak jadi kurang ajar, terutama ketika mengemukakan ketidaksetujuan atau perbedaan pendapat. 
  • Tahan lidah, gigit bibir untuk gak “nyaut”, untuk berhenti ngoceh-ngoceh atau ngedumel. Kalo emang anak salah, yah cukup ditegur tapi tidak perlu panjang-panjang dan berlarut-larut (emangnya seminar). 
  • Memaafkan mertua atau ipar yang tinggal serumah apabila ada kata-kata mereka yang cukup “nyelekit”. 
  • Be kind to the children saat mereka menolak makan dan bilang, “Gak enak! Aku gak suka ini. Kenapa kita gak makan di luar aja?” Jaga kata-kata agar tetap baik, tidak jadi tajam dan menyakitkan. 
  • Memuji anak untuk apa yang mereka buat. Bilang terima kasih kepada suami ketika suami membantu mengerjakan pekerjaan rumah. 

2) Proaktif untuk melakukan hal yang baik bagi orang lain 
Cari kesempatan untuk melakukan kebaikan pada orang lain. Jangan hanya bereaksi. 2 Sam 9:1 mencatat bahwa raja Daud berusaha mencari jalan untuk show kindness to others. Luar biasa ya; sekalipun sahabatnya, Yonatan, sudah meninggal, tapi Daud tetap mau berbuat kebaikan untuk keturunan Yonatan. 

Biarlah kita juga menjadi Tabita-Tabita akhir zaman (Kisah Para Rasul 9:36) yang terkenal sebagai murid Tuhan yang murah hati dan suka menolong. Proaktif, “tanya Tuhan”, kepada siapa Dia mau menunjukkan kebaikan-Nya melalui kita. Tuhan bisa kasih kita kepekaan loh. Dan kalo kita belajar peka dan taat sama Roh Kudus, kita benar-benar bisa jadi perpanjangan tangan kasih Tuhan untuk menolong orang lain di saat yang tepat. 

Saya gak pernah bisa lupa, 11 Juli 2011 dini hari suami saya telpon dan kasih tau bahwa papa saya meninggal. Suami sedang dalam perjalanan ke Bangkok ketika mama saya telpon dan memberi kabar. Saya menangis memeluk bayi saya yang masih berusia 8 minggu di kota asing sendirian. Sekitar jam 10 pagi, seorang teman datang ke rumah membawakan cupcakes buat saya. Sambil buka pintu saya tanya, “How do you know?” dan dia terlihat keheranan, tidak mengerti apa yang saya maksud. Ternyata dia memang tidak tahu kalo papa saya baru saja meninggal, tapi dia ada dorongan untuk visit saya dan membawakan cupcakes yang baru saja dibuatnya. She cried with me, hugged me, and prayed for me. What a blessing to have a friend around while my husband was away and I was processing sadness alone. 

Ada banyak peristiwa yang saya anggap sebagai “a hug from heaven” ketika orang meneruskan kebaikan Tuhan kepada saya yang bisa saya ceritakan, tapi kesaksian tadi adalah salah satu yang paling berkesan untuk saya. Saya pun mau belajar taat dan peka terhadap pimpinan Tuhan ketika Dia menggerakkan saya untuk melakukan sesuatu untuk orang lain. 

3) Renungkan dan hafalkan ayat-ayat tentang kindness 
Kalau saya sedang mau bertumbuh dalam suatu area, biasanya saya suka kumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan hal tersebut. Misalnya saya mau belajar tentang self-control, saya akan baca dan hafalkan ayat-ayat tentang pengendalian diri; karena dengan menyimpan kebenaran/Firman Tuhan dalam hati dan pikiran kita, Roh kudus akan dengan mudah memakai itu untuk mengingatkan kita atau menjadikan ayat-ayat tersebut sebagai sumber encouragement untuk kita. 

Nah untuk kindness ada tujuh ayat yang saya pilih dari Amsal yang kita bisa baca, renungkan dan hafalkan. 
  1. Perempuan yang baik hati beroleh hormat; sedangkan seorang penindas beroleh kekayaan. (11:16) 
  2. Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri. (11:17) 
  3. Orang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam. (12:10) 
  4. Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia. (12:25) 
  5. Siapa menghina sesamanya, berbuat dosa; tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita. (14:21) 
  6. Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu. (19:17) 
  7. Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan harta itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah. (28:8) 
Yuk kita sama-sama belajar bertumbuh dalam karakter ini. Pikirkan jawaban dari pertanyaan ini: Hal praktis apa yang kita bisa lakukan untuk menunjukkan kebaikan kepada orang lain? How am I exercising God’s kindness toward my family members, and toward others, so I will have a testimony of goodness?

Friday, September 7, 2018

Bagaimana Suamiku Dikenal?


by Alphaomega Pulcherima Rambang

“Abangmu itu baik Megi. Keliatan dari cerita2mu. Tapi lebih baik suamiku. Hahahahhaha...”

Temanku Lasma berkata demikian waktu aku komen di salah satu postingannya. Aku tertawa. Ya iya lah, serem banget lah ya kalau kita menganggap suami orang lain lebih baik daripada suami kita :p Komen Lasma itu membuatku teringat ayat ini:

Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.
(Amsal 31:23)

// Berapa banyak di antara kita yang menikah dan lebih suka menceritakan keburukan pasangan dibandingkan kebaikannya?

Setelah merenung-renungkan ayat di atas, bisa jadi suami sang istri yang cakap di Amsal 31 itu dikenal orang lain karena andil istrinya juga. Mungkin istrinya tanpa sengaja atau dengan sengaja nulis blog kaya eike dan menceritakan tentang suaminya. Atau, bisa jadi si istri bercerita tentang suaminya waktu maen ke rumah tetangga. Entah bagaimana caranya, yang jelas suaminya dikenal orang lain, in a positive way.

Bagaimana kita ingin suami kita dikenal orang lain?
Apakah kita ingin dia dikenal karena keburukannya? Ngga kan?
Lalu, kenapa banyak istri yang membicarakan keburukan suaminya di hadapan orang lain?
Kenapa tidak memulai membicarakan kebaikan suami?


// Untuk apa membicarakan kebaikan suami sendiri?

Nah, coba pertanyaannya dibalik ya. Ngapain coba ngomongin keburukan suami? Oke, anggap saja suami memang punya keburukan, tapi, apa manfaatnya menceritakannya pada orang lain? Jangan-jangan, kejelekan yang kita ceritakan pada orang lain ini, justru belum pernah kita bicarakan pada suami kita sendiri. Jangan-jangan, selama ini suami ngga tahu kalau kita ngga suka dengan kejelekannya itu, tapi kita berharap dia berubah.

Membicarakan kekurangan suami dengan orang lain, tanpa membereskannya dengan langsung dengan suami, sebenarnya tanda kita sedang berlaku tidak adil. Bukankah tidak adil ketika kita mengharapkan suami berubah, tapi dia sendiri tidak tahu sifat/karakter apa yang kita tidak suka? Kan suami kita bukan paranormal, dia tidak bisa baca pikiran. Daripada menceritakan kejelekan suami, tentu saja lebih baik menegurnya dengan kasih, dan menolongnya untuk berubah.

Lagipula, saat kita menceritakan kesalahan suami pada orang lain, sebenarnya apa motivasi kita? Hanya untuk mendapatkan kelegaan dari sesi curhat? Kelegaan seperti ini sifatnya sementara lho, padahal reputasi suami kita sedang dipertaruhkan. Yang jelek dari ‘curhat supaya lega’ adalah, kita harus menceritakan hal tersebut berulang kali, sampai puas, baru lega. Masalahnya, mau cerita ke berapa orang sampai merasa lega? Yakin orang itu tidak menceritakan kembali pada orang lain? Gak kasihan sama suami? Kalau mau cari kelegaan, berdoalah. Lalu, bicarakan pada suami, dan cari solusinya sama-sama.

Bayangkan, seandainya kita punya kesalahan tapi suami gak pernah membicarakan hal tersebut, tapi justru bercerita ke seantero RT/RW tentang kesalahan dan keburukan kita. Sakit kan rasanya? Memang, pria jarang banget melakukan ini jika ada masalah dengan pasangan. Tapi, hal ini mengajari kita untuk memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan. 


// Pamer kebaikan suami sendiri itu berarti sombong ngga sih?

Kembali ke motivasi diri kita, mau pamer atau ngga. Buat aku pribadi, saat kita mengucapkan kebaikan suami, sesungguhnya kita sedang mengingatkan diri sendiri tentang betapa bersyukurnya kita memiliki suami seperti yang kita miliki sekarang. Saat kita lebih memilih membicarakan kebaikan suami orang lain, kita jadi gak bersyukur punya suami seperti sekarang. Bayangkan, kita tiap hari ngeliat dan ngomongin kebaikan suami si A, atau si B. Kayak gini:

“Waduh, suami si A tu romantis banget yaaaa… Tiap hari sebelum ke kantor selalu cium si A (ini orang yang gini kerjaannya ngeliatin tetangga mulu kali ya, kok sampe tahu tiap hari gitu. LOL), suamiku mana pernah gitu.”

“Suami si B hebat banget ya, penghasilannya gede banget tuh kayaknya, tiap bulan sekeluarga berlibur ke luar negeri. Kalau kami? Mana pernah liburan bareng sekeluarga. Payah ah.”

Membicarakan kebaikan suami orang cenderung membuat kita membandingkan kualitas mereka dengan suami sendiri. Kalau sudah begini, kita bisa terjebak pada sikap tidak bersyukur. Sedih lho suami kita kalau tahu dirinya dibanding-bandingkan dengan orang lain. Seorang istri yang tidak bersyukur pastinya bukan istri yang bersukacita. Tanpa sukacita terhadap satu sama lain, akan jadi apa sebuah hubungan?

Berpikir sebelum berbicara memang ngga gampang. Tapi perhatikan ini:

Hidup dan mati dikuasai lidah,siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. 
(Amsal 18:21)

Perkataan kita bisa membangkitkan suami dan membuatnya semakin bersemangat, menjadikannya pribadi yang lebih baik ATAUUUU... Perkataan kita bisa mematahkan hati suami dan membuatnya terpuruk. 

Kalau ingin melakukan kebaikan pada suami, mulailah melakukannya dengan lidah kita.


// Tapi, susah banget mencari kebaikan suamiku. Gimana dong?

Susah mencari kebaikan itu biasanya karena memang kita biasanya lebih fokus pada apa yang kurang. Coba deh buat fokus pada kebaikan suami. Lalu berdoa dan bersyukurlah untuk hal-hal baik yang dia lakukan, karakter dan sifatnya yang kamu kagumi, hal-hal yang membuatmu jatuh cinta padanya. Ucapkan terima kasih pada Tuhan karena suamimu ada sebagaimana dia ada sekarang. Biarkan hatimu dipenuhi ucapan syukur karena Tuhan telah menganugerahi seseorang yang istimewa bagimu. Masih susah? 

Beberapa waktu yang lalu, aku dan beberapa teman melakukan sebuah tantangan yaitu mendoakan suami dan mengucapkan terimakasih padanya SETIAP HARI. Pokoknya KUDU WAJIB HARUS temukan satu hal yang bisa disyukuri tentang suami kita. Bentuknya bisa apa saja: hal-hal yang dia lakukan, karakter yang disukai, atau caranya melakukan sesuatu. KALAU SAMPAI GAK ADA, kami HARUS melakukan sesuatu yang menunjukkan rasa hormat dan kasih kita pada suami kita sekreatif mungkin.

INI TANTANGAN MUDAH. 

MUDAH BANGET.

Kalau si istri sedang gak kesel sama suami.

Tapi, gimana kalau lagi kesel? Bisakah kita tetap bersikap manis dan menemukan kebaikannya? Bisa. Meskipun hal itu butuh komitmen dan kerja keras untuk fokus melihat hal baik pada suami. Tapi bisa.

Pernah suatu kali, suamiku membuat keputusan yang aku anggap salah dan aku nyaris mengatakan hal yang buruk seperti : “Kamu sih, kok dulu gak dengerin saranku?’, “Kenapa juga sih kamu harus melakukan itu?” atau “Makanya jangan rakus...!”

Tapi, aku sadar kalau hari itu aku berkomitmen untuk mengucap syukur. Walaupun kesal, aku menutup mulutku. Aku berpikir, apa yang bisa aku syukuri hari ini, apa yang bisa aku syukuri dari suamiku kalau kayak gini. Dan… CLING! Aku teringat kalau kami pernah mengalami hal yang mirip, dengan posisi yang berbeda. Aku yang berbuat salah. Dan suamiku MEMAAFKAN AKU. Dengan mudahnya. Gak pakai ngomel. Gak pakai ngobral nasehat. Segera. Gak pake ngambek atau menghukum dengan nyuekin. Suamiku bermurah hati melepaskan pengampunan. Lalu kenapa aku gak bisa melakukan hal yang sama? Sekejap, aku jadi bersyukur punya suami seperti suamiku, yang mudah memaafkan dan gak pernah menyimpan kesalahan. Wow! Aku diberkati dengan suami seperti ini. Gak terbayang kalau suamiku terus mengungkit kesalahanku. 

Melalui tantangan tersebut, hatiku limpah dengan syukur karena menyadari betapa aku diberkati dengan seorang suami yang luar biasa. Aku berlatih memperkatakan hal yang baik kepada suamiku. Dan aku percaya akan memakan buahnya.

Kalau kamu? Bagaimana sikapmu pada suami saat ini?

Berani terima tantangan ini? ^^

Wednesday, September 5, 2018

Lebih Dari Sekedar Baik


by Leticia Seviraneta

Bila kita ditanya, “Kriteria orang seperti apa yang kamu inginkan menjadi pasangan kamu?” Kita biasa dengan spontan menjawab, “Orang yang BAIK.” Bagi yang sudah percaya Yesus maupun yang belum, jawaban tersebut cukup sering dilontarkan. Kita sebagai manusia secara natural tertarik dengan kebaikan. Tidak akan ada yang menjawab ingin berteman atau memiliki pasangan hidup yang jahat, bukan? Nah, namun pengertian baik yang disebutkan itu seperti apa? Apakah baik itu saja cukup? Jawabannya adalah ya dan tidak, tergantung dari definisi kebaikan yang kita pahami. Banyak yang mengartikan kebaikan sebagai keinginan berbuat baik atau sudah menjadi tindakan baik kepada orang lain. Definisi ini tentu tidak salah. Namun kebaikan belum menjadi kebaikan sampai itu menjadi sebuah tindakan nyata. Demikian juga halnya dengan pihak yang menerima kebaikan itu sendiri. Bila seseorang hanya baik kepada yang baik kepadanya, maka kebaikan belumlah menjadi kebaikan yang sesungguhnya. 

Kebaikan merupakan salah satu aspek dalam Buah Roh (Galatia 5:22) yang dalam bahasa Yunani menggunakan kata ‘chrestotes’ yang bermakna ‘an act of kindness or tolerance toward others; selfless act; doing good things on behalf of others without expecting anything in return.’ Jadi kebaikan memiliki unsur tindakan nyata mementingkan orang lain meskipun kita tidak mendapat balasan apa-apa serta seringkali membuat kita harus berkorban. Wew… Ini merupakan level kebaikan yang benar-benar berbeda dengan konsep kebaikan yang selama ini kita bayangkan, bukan? 

Tuhan kita adalah Tuhan yang baik. Ia adalah contoh pertama dan utama dari kebaikan itu sendiri. Seluruh Alkitab menceritakan dan memberikan kesaksian betapa baiknya Tuhan. 

“Dan jikalah kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalah kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalah kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”
(Lukas 6:32-36 / TB)

Tuhan baik kepada semua orang, termasuk yang tidak layak menerima kebaikan-Nya. Disini kita dapat melihat bahwa kebaikan itu sesungguhnya tidak memandang bulu. Layak maupun tidak layak, orangnya baik kepada kita maupun tidak baik kepada kita, orangnya tahu berterima kasih maupun tidak tahu berterima kasih, semuanya tidak memberikan kita alasan untuk tidak berbuat baik kepada mereka. Tentu hal ini tidak mudah. Berhubung kebaikan adalah buah Roh, maka sumber kebaikan selevel ini tidak dapat dihasilkan dari kekuatan manusia semata, melainkan dari hubungan intim dengan Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah memandang kebaikan Tuhan sedemikian rupa sehingga pundi emosi kita begitu penuh untuk menyalurkannya kepada orang lain, disertai dengan kemauan untuk taat melakukan kebaikan itu. 

Kebaikan adalah kasih dalam bentuk tindakan nyata. Kita dapat sekedar baik tanpa mengasihi, namun kita tidak dapat mengasihi tanpa berbuat baik. Kita dapat saja memberikan uang receh kepada pengemis tanpa mengasihi pengemis tersebut. Namun kita tidak bisa mengklaim bahwa kita mengasihi pasangan kita tanpa berbuat baik kepadanya. Apakah teman-teman dapat melihat kaitan erat antara kasih dan kebaikan itu? Kasih menjadi landasan di mana seluruh karakteristik buah Roh lain berpijak. 

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”
(Kolose 3:12-14 / TB)

Tuhan menginginkan kita untuk mengasihi sesama; Dia menginginkan kita untuk berbuat baik kepada mereka. Ini merupakan kehendak Tuhan yang dinyatakan berulang-ulang di Alkitab. Tuhan tidak hanya sekedar berkata Ia mengasihi kita, ia juga melakukan tindakan nyata berdasarkan kasih-Nya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Sebagai bentuk nyata dari kasih-Nya, Tuhan mengorbankan sesuatu yang sangat berharga bagi kita, yakni Yesus Kristus, untuk mati di atas kayu salib. Disini kita melihat sisi lebih mendalam lagi dari kebaikan: Kebaikan mengandung unsur pengorbanan. 

Kebaikan selalu merupakan tindakan baik untuk orang lain yang mengorbankan kepentingan sendiri (selfless act). Hal ini bukan berarti kita menjadi berjiwa martir dan hidup dengan tidak pernah memikirkan kebutuhan sendiri. Keseimbangan adalah kuncinya. Tuhan memberikan perintah, “Kasihilah sesamamu manusia, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri” (Mat 22:39b). Kita tidak dapat memberi apa yang tidak kita punyai. Bila kita tidak memperhatikan kebutuhan pokok kita sebelum memberi kepada orang lain, tentulah hal ini tidak sehat. Penting untuk dicatat, kasihi diri sendiri dalam hal kebutuhan-kebutuhan yang esensial, bukan sekedar keinginan mata kita. Contoh kebaikan nyata yang membuat kita berkorban adalah dengan memberikan waktu untuk mendengarkan sesama dalam masalah ketika kita sedang sibuk, memberikan uang bagi yang sangat memiliki keperluan mendesak sementara kita hanya ingin menggunakan uang tersebut untuk keinginan sekunder atau tersier, memberikan pengampunan meski kita masih merasa sakit hati, memberikan pujian di saat teman berhasil meski kita agak merasa iri, dsb. Ada begitu banyak kesempatan di dalam kehidupan kita sehari-hari untuk berbuat baik. Janganlah membayangkan berbuat baik harus berbentuk sesuatu yang besar seperti mendonasikan uang dalam jumlah yang banyak hingga kita menunggu waktu yang tepat di mana nominal banyak tersebut terkumpul. Hal ini tentu tidak salah, namun jangan sampai kita terlewatkan banyak kesempatan berbuat baik yang nampaknya kecil hanya karena konsep berbuat baik di benak kita terbatas. 

Saya secara pribadi sangat mengagumi karakter Ribka (Kej. 24:1-67). Dalam Kejadian 24 diceritakan bagaimana hamba Abraham berdoa meminta tanda dari Tuhan agar ia dapat menemukan wanita yang tepat untuk menjadi isteri Ishak. Ia berdoa agar ketika ia meminta air untuk minum dari anak gadis yang hendak menimba air, ia diberi minum, serta unta-untanya pun akan diberi minum, dan ia akan tahu bahwa gadis itulah isteri pilihan Tuhan bagi Ishak. Patut dicatat bahwa hamba ini tidak berdoa akan hal-hal yang terlihat di permukaan seperti paras yang super cantik, tubuh yang tinggi semampai, mata yang indah, dsb. Hamba ini mendoakan sebuah kualitas yang jauh lebih berharga daripada itu semua, sebuah karakter yang dimanifestasikan dalam tindakan nyata, yaitu kebaikan. Memberikan air minum kepada seorang hamba yang haus saja sudah dapat dikatakan baik karena hal itu berarti anak gadis ini tidak memandang rendah si hamba dan tidak sombong. Tetapi memberi minum juga unta-unta? Tunggu dulu. Bila kita berhenti dan membayangkan sejenak, coba kita cari tahu, berapa banyak kah seekor unta minum air? Fakta membuktikan bahwa seekor unta yang sedang haus dapat minum 30-40 galon air sekali waktu. Lalu ada berapa ekor unta yang dibawa si hamba Abraham tersebut? Dicatat di Kej. 24:10 bahwa ia membawa sepuluh ekor unta. Hal ini berarti Ribka menimba 300-400 galon air untuk memberi minum unta-untanya. Lalu coba bayangkan apakah sekali menimba air, Ribka dapat memperoleh 1 galon? Tentu tidak. Karena pada zaman tersebut wadah menampung air untuk menimba mungkin hanya sebesar ember kita untuk mengepel saat ini. Dan perkataan Ribka ketika menawarkan bantuannya begitu murah hati: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum” (Kej. 24:19). Kebaikan yang diberikan oleh Ribka bukanlah kebaikan yang ngepas-ngepas seadanya saja, melainkan kebaikan yang maksimal. Kita memiliki Tuhan yang tidak tanggung-tanggung dalam menunjukkan kebaikan kepada kita, jadi berilah yang maksimal kepada sesama kita. Tuhan disenangkan dengan orang-orang yang baik hati sedemikian rupa karena manusia menjadi melihat diri-Nya melalui kita. 

Ingatlah, setiap hari merupakan kesempatan baru untuk menunjukkan kebaikan Tuhan melalui tindakan kita. Kebaikan Tuhan adalah sumber yang memudahkan kita menghasilkan buah kebaikan di kehidupan kita. Kecaplah dan lihatlah kebaikan Tuhan, hitunglah berkat-Nya, penuhi hati kita dengan rasa syukur, maka tindakan kebaikan akan menjadi bagian dalam keseharian kita secara alami. Sebuah standard kebaikan yang tidak pandang buluh siapa penerimanya, yang membuat kita berkorban, dan yang merefleksikan kasih Tuhan kepada setiap jiwa yang kita temui. Mari kita menjadi pribadi yang lebih dari sekedar baik, yang juga menjadi saluran kebaikan Tuhan yang sesungguhnya.

Monday, September 3, 2018

Masuk = Keluar (?)


by Tabita Davinia Utomo 

Pernahkah Pearlians memikirkan dua hal ini?
1) Alasan adanya makanan atau minuman yang tidak boleh kita konsumsi 
2) Ada tidaknya pengaruh dari apapun yang kita konsumsi (baik makanan, minuman, musik, dll) 

Beberapa waktu yang lalu, saya menanyakan dua hal di atas dalam mini survey di Instagram. Berikut rangkuman hasilnya yang terbagi dalam beberapa poin (karena banyak yang berpendapat sedangkan waktu itu belum ada Question Form di Instagram-ku. Haha...): 
  • “Kalau soal makanan dan minuman yang boleh/tidak dikonsumsi, itu tergantung sama kondisi kesehatan dan kontrol makan. Dan yaa, aku merasakan betul bahwa apa yang aku konsumsi berpengaruh pada perilaku maupun sikapku selanjutnya.”
  • “Alasan untuk pertanyaan pertama karena ada yang berisiko bahaya jika dikonsumsi. Sementara itu, tidak selamanya dipengaruhi oleh apa yang dikonsumsi, tapi bergantung di mana kita tinggal dan berproses. Hehe...” 
  • “Hm, salah satu alasan adanya anggapan boleh dan tidaknya makanan yang dikonsumsi adalah sumber makanan yang dianggap “lucu” (misalnya anjing yang dibuat rica-rica (RW)). Akhirnya kalau ada “yang lucu” dijadikan makanan, jadi kasihan. Sedangkan masih ada banyak hewan yang dianggap biasa saja lalu diternakkan dan “dibunuh” untuk dimasak.” 
Well, saya tidak akan membahas tentang makanan-minuman terlarang, film yang tidak patut ditonton, ataupun musik yang merusak diri. Saya percaya bahwa kita bisa memilih dan memilah apa yang akan masuk ke otak kita, setelah rangsangan (atau bahasa kerennya “stimulus”) dari luar diri kita diterima oleh panca indera. Tapi apakah benar bahwa yang masuk ke diri kita akan sama dengan reaksi kita terhadap sesuatu? 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, yuk kita baca Matius 7:1-23 dan 1 Korintus 10. Ada beberapa ayat yang akan kita soroti secara khusus. 

Tidak ada sesuatu dari luar yang masuk ke dalam orang yang dapat membuat orang itu najis. Sebaliknya, yang keluar dari seseorang, itulah yang membuat dia najis.
(Markus 7:15 / BIMK)

Ayat di atas diungkapkan oleh Yesus ketika orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem melihat beberapa murid-Nya makan tanpa mencuci tangan terlebih dulu. Padahal menurut adat istiadat Yahudi, orang seharusnya mencuci tangan sebelum makan—karena jika tidak, orang tersebut akan dianggap najis. Itu sebabnya mereka menegur Yesus yang tidak memperingatkan murid-murid-Nya, padahal secara status, Yesus adalah Guru (Rabbi). Dan setelah itu, Yesus menegur orang Farisi dan para ahli Taurat yang lebih mementingkan ajaran nenek moyang daripada perintah Allah (Markus 7:8). Hmm, kalau dipikir-pikir, benar juga apa yang Yesus katakan. Segala adat istiadat yang disampaikan dalam Perjanjian Lama (ditambah peraturan yang “ditambahkan” untuk membuat orang Yahudi waktu itu dianggap layak untuk diampuni Tuhan) telah ditebus melalui pengurbanan Kristus :) Sekarang, dengan Kristus yang menjadi jembatan keselamatan, kita dapat bertemu dengan Allah dan berkomunikasi secara pribadi pada-Nya. Once again, it’s only by His grace—which must be responded by our faith to Him. 

Pertanyaannya adalah: Apakah kita sudah menaati perintah-Nya dengan sungguh-sungguh, atau semuanya hanya karena “status rohani” dan penuh kepalsuan di dalamnya? 

Bukan hanya itu, di 1 Korintus 10:23, Paulus berkata, 

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 

Nah, sebenarnya, apapun yang masuk ke diri kita itu adalah stimulus netral, yang kemudian dapat bernilai positif atau negatif sesuai nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Tanpa kita sadari, stimulus yang terus-menerus diterima akan terekam dalam otak dan memengaruhi kita dalam merespon sesuatu. Itu sebabnya ada larangan minum minuman keras, tidak boleh menonton film yang penuh dengan adegan kekerasan, dst. Larangan tersebut dibuat untuk menjadi “benteng” agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Kalau minum minuman keras sampai mabuk, siapa yang rugi? Kalau terlalu sering menonton adegan kekerasan dan jatuh korban (baik secara fisik maupun psikis) karena perilaku kita, siapa yang salah? 

“Duh, terus gimana caranya buat bisa tahu dan membatasi diri sebelum mengonsumsi sesuatu?” 

Jawabannya adalah… berpegang pada firman Tuhan! :) 

Kita tidak bisa membangun batasan (boundaries) yang sehat kalau hanya duduk sebagai anggota jemaat dalam kebaktian, namun tidak melakukan apapun untuk mendorong diri kita bertumbuh dalam iman. That’s why we need to have personal devotional time and Bible reading, sebagai sarana kita untuk belajar kebenaran yang sejati dan meneladani Kristus. Perlahan-lahan, kita akan menyadari bahwa Firman Tuhan harus menjadi penyaring (filter) yang kuat untuk memilih dan memilah apa yang berguna bagi kita. Bahkan sebelum Yesus menegur orang-orang yang merasa lebih tahu tentang hukum Taurat dibanding orang lain, Daud telah berefleksi dan menyadari bahwa firman Tuhan adalah pelita dan terang bagi kehidupannya (Mazmur 119:105). 

Oke, itu soal “apa yang masuk” ke diri kita. Lalu bagaimana dengan “apa yang keluar” dari diri kita? Semuanya terangkum dalam Hukum yang Terutama: 

Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. (Markus 12:29-31 / TB) 

“Ehm, iya… Aku tahu sih, kalau soal itu. Tapi gimana cara praktisnya buat nerapin tiga ayat di atas?” 

Berikut ada beberapa pertanyaan yang dapat kita gunakan untuk mempertimbangkan apa yang seharusnya kita lakukan. Jika Pearlians merasa ada pertanyaan yang perlu ditambahkan, silakan langsung tulis di kolom komentar di bawah ini, ya! :) 
  • Apakah dengan aku berkata-kata seperti yang biasa aku katakan, aku sedang memuliakan Tuhan dan membangun relasi yang baik dengan sesamaku? 
  • Apakah tindakanku ini menjadi berkat untuk orang lain dan sedang merefleksikan Kristus kepadanya? 
  • Apakah yang kulakukan dan sikapku sekarang hanya sebatas topeng, atau memang diriku yang sebenarnya—yang sedang belajar untuk menjadi murid Kristus? 

“Lho, berarti kita nggak boleh bercandaan sama ngomongin orang, dong?” Bercanda sih, boleh, selama kedua pihak paham bahwa yang mereka katakan hanya sebatas bercanda. Tapi akan beda ceritanya kalau ada pihak yang terluka. Nah, kalau ngomongin orang… Kita harus tahu tujuan kita membicarakan tentang seseorang. Apakah itu untuk mengetahui kondisinya (untuk didoakan atau hanya basa-basi), atau justru untuk menjatuhkan orang lain? Ironis kan, kalau orang melihat kita sebagai orang Kristen tapi justru mudah membuat orang lain membenci kita karena hal-hal buruk yang kita lakukan padanya? :( 

Yuk, kita sama-sama menggarami dan menerangi dunia dengan kasih Tuhan melalui apa yang kita lakukan. Biarlah hidup kita menjadi batu loncatan bagi orang lain untuk mengenal Kristus, bukannya batu sandungan. Soli Deo Gloria! ^^