Thursday, April 21, 2016

True Humility is When We Agree with Him

by Ladhriska Ilhamudin

Menarik bagi saya saat saya diminta untuk membicarakan tentang “Pride and Humilty.” Dalam bahasa Indonesia, saya mengartikannya sebagai kesombongan dan kerendahan hati. Kita bahas yang pertama terlebih dahulu. Kesombongan sering diterjemahkan sebagai sebuah sikap yang angkuh. Secara umum, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sombong diartikan sebagai menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah. Tapi sebagai orang percaya, kita pun harus tahu apa definisi sombong dari sudut pandang kebenaran. Seperti apa sebenarnya Tuhan melihat kesombongan?

Sebuah ayat yang cukup populer di Amsal 3:3 mengatakan, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Dari sana saya berpikir, oh jadi Tuhan itu senang jika saya percaya kepadaNya dengan segenap hati saya. Bahkan Tuhan senang saat kita mempercayai Dia lebih dari kita mempercayai diri kita sendiri. Bapa senang saat kita bersandar kepada Dia, lebih dari kita bersandar kepada pengertian kita sendiri. Ternyata, Bapa di surga senang saat melihat kita, anak-anak perempuanNya percaya kepada Dia. Percaya kepada Dia sama saja dengan percaya kepada setiap apa yang Ia katakan di dalam FirmanNya.

Sekarang coba lihat diri kita masing-masing, seberapa sering kita percaya definsi cantik kata media di sekitar kita lebih daripada kita mempercayai definisi cantik kata Firman. Seberapa sering kita lebih percaya suara-suara asing yang terdengar di telinga yang mengatakan kalau kita ngga bisa ngerjain hal ini itu, kita makhluk lemah, kita ngga akan sukses, kita ngga punya masa depan, kita tidak layak, kita berdosa, kita tidak bisa berubah, dan sederet kalimat dakwaan lainnya.

Daripada setuju dengan suara-suara tersebut, seharusnya kita justru lebih memikirkan apa yang Bapa katakan melalui FirmanNya bahwa kita itu diciptakan segambar dan serupa dengan Dia (Kejadian 1:26), bahwa Bapa itu tahu rancangan-rancangan apa yang ada padaNya tentang kita yaitu rancangan yang penuh dengan damai sejahtera untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11), bahwa siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru; yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang (2 Korintus 5:17), bahwa segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia, yang memberikan kekuatan kepadaku (Filipi 4:13).

Sederhananya begini, tanyakan kepada diri kita sendiri. “Pernahkah saya bilang saya ngga layak padahal Bapa di Surga bilang lewat FirmanNya saya itu berharga dan mulia di mataNya?”,
“Pernahkah saya lebih percaya kata dokter bahwa saya tidak akan bisa sembuh padahal Firman Tuhan bilang oleh bilur-bilurNya saya telah disembuhkan?”,
“Pernahkah saya lebih percaya kenyataan dompet atau ATM yang isinya kurang daripada kebenaran Firman yang mengatakan kalau Allahku akan memenuhi segala keperluanku menurut kekayaan dan kemuliaan Kristus?”,
“Pernahkah saya lebih mempercayai bahwa saya punya pikiran yang kacau, padahal Firman mengatakan damai sejahtera yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranku dalam Kristus Yesus?”

Percaya kepada yang lain lebih daripada kita percaya kepada Bapa kita sendiri adalah sebuah kesombongan. Kesombongan adalah saat kita tidak setuju dengan apa yang Firman katakan. Kesombongan adalah pada saat kita menganggap kenyataan lebih besar daripada kebenaran. Kenyataan adalah apa yang kita lihat. Sedangkan, kebenaran adalah apa yang kita percaya. Di 2 Korintus 5:7, “sebab hidup kami ini, adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.”

Gembala di gereja saya pernah mengatakan seperti ini, “True humility is when you agree with God’s Words.” Kerendahan hati bukanlah pada saat kita lewat di depan orang sambil membungkukan badan. Kerendahan hati bukanlah persoalan kita tidak memakai barang-barang yang mahal. Kerendahan hati bukanlah saat kita berdoa nangis-nangis berlutut kepada Tuhan. Kerendahan hati juga kurang tepat jika digambarkan saat kita mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan kita sendiri karena sebenarnya kepentingan Tuhanlah yang perlu kita dahulukan daripada kepentingan diri kita sendiri atau pun orang lain.

Sesungguhnya, kerendahan hati adalah saat kita meng-IYA-kan apa yang Tuhan katakan. Say YES to His Words! Kerendahan hati adalah sebuah posisi hati yang condong kepada Allah, bergantung hanya kepada Dia. Kerendahan hati adalah percaya bahwa rencanaNya selalu baik. Kalau ada sesuatu yang buruk terjadi, trus gimana? Orang yang memiliki kerendahan hati akan bilang, aku percaya kebaikanMu lebih besar daripada situasi yang buruk ini. Engkau akan merubahnya menjadi sebuah kebaikan. Kerendahan hati akan meresponi kejadian yang buruk dengan memperkatakan Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Bicara mengenai kerendahan hati, dalam bahasa Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata "praios", dalam terjemahan bahasa Inggris disebut “meek”, yang mana berarti juga lemah lembut. Kata “praios” juga dipakai dalam salah satu tema khotbah Yesus di bukit. Saya mengutip dari terjemahan NKJV, Mattew 5:5, “Blessed are the meek, for they shall inherit the earth.” Para teolog yang ahli Bahasa Aram (bahasa yang Yesus gunakan) memperkirakan maksud Yesus saat Ia menggunakan kata “meek” atau lemah lembut.  Lemah lembut di sini adalah seseorang yang menyerah kepada Allah. Kerendahan hati memang erat kaitannya dengan penyerahan diri dan ketergantungan total kepada Allah. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Rasul Paulus menuliskan tentang buah Roh yang salah satunya adalah kerendahan hati/kelemahlembutan.

Yesus merupakan teladan utama kita dalam menghidupi sikap kerendahan hati. Selama hidupNya di dunia ini, Yesus selalu berjalan dalam kerendahan hati dan ketaatan kepada Bapa. Ia selalu percaya kepada Bapanya. Ia bergantung kepadaNya. Yesus selalu melakukan apa yang Bapa suruh. Yohanes 4:34, “Kata Yesus kepada mereka: “MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku, dan menyelesaikan pekerjaanNya.” Selama di bumi, Yesus selalu setuju dengan Bapa karena Ia dan Bapa adalah satu. Siapa meihat Yesus, mereka akan melihat Bapa. Dalam Yohanes 14:7, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapaku. Sekarang ini kamu mengenal Dia, dan kamu telah melihat Dia.”

Sikap kerendahan hati yang dimiliki Yesus menyebabkan pelayananNya membawa pengaruh yang begitu besar dan tidak dapat tertandingi oleh siapapun manusia yang pernah hidup di dunia. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa maka dunia ini sudah dikuasai oleh kesombongan dan keangkuhan hidup. Manusia merasa tidak memerlukan suara Tuhan karena menganggap suaranya sendiri sudah cukup. Namun, Yesus datang dengan kerendahan hati untuk menjadi teladan bahwa hidup dengan rasa percaya dan bergantung penuh kepada Bapa akan menjadikan pelayanan kita efektif dan berdampak.

Kesombongan dan kerendahan hati selalu akan berseberangan. Layaknya, kutub Utara di ujung sebelah sana, dan kutub Selatan di arah yang berlawanan. Bisa dikatakan, kesombongan dan kerendahan hati tidak akan pernah berjalan berdampingan. Mengapa? Karena di saat kita sombong (tidak mempercayai Bapa), kita sama saja sedang tidak rendah hati. Sebaliknya, di saat kita rendah hati (mempercayai Bapa) maka di saat yang bersamaan kita tidak akan masuk kategori orang yang memiliki kesombongan. So, apa yang kamu pilih? Pride or Humality? Choose wisely, ladies!

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^