Monday, March 27, 2017

Joyful Eating


by Yunie Sutanto


You are what you eat,” kata para pakar nutrisi. Pilihan makanan yang baik akan menentukan kondisi kesehatan pikiran, emosi dan tubuh.

Tubuh kita adalah bait Allah, seyogyanya kita rawat dan beri nutrisi yang menyehatkan. Jangan cuek dengan pola makan, sampai-sampai jam makan tidak beraturan dan menu pun tidak sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh. Biasanya karena budaya buru-buru, makanan cepat saji menjadi pilihan, padahal makanan yang masuk kategori slow food and home cooked itu jauh lebih sehat.

Pilihan menu yang tepat menentukan juga kondisi tubuh kita lho. Makan secukupnya dan pada waktunya juga lebih menyehatkan daripada gaya makan yang sekenyang-kenyangnya ala buffet all you can eat. Pola makan yang salah juga bisa mempengaruhi mood, karena micronutrients yang tidak terpenuhi dapat mengakibatkan emosi labil.

Nah soal urusan perut, kita harus disiplin melatih diri untuk memilih yang dibutuhkan tubuh, bukan yang disukai lidah. Let food be thy medicine. Jangan menunggu sakit dahulu baru mengurangi makanan jenis tertentu. Seringkali kita melakukan diet ini itu setelah divonis dokter. Padahal, merawat tubuh seharusnya dilakukan secara proaktif sejak dini!

Inget bangsa Israel di padang gurun? Tuhan yang menyediakan pilihan menunya dan jam makannya loh:

Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. Ulangan 8:3

Tuhan tidak memberi yang enak di lidah saja. Ia tidak memberi menu makanan yang popular. Ia justru member manna yang asing bagi orang Israel. Sebagai orang Indonesia,  kalau sudah terbiasa makan nasi disuruh makan kentang tiap hari aja susah menelannya. “Serasa belum makan nih kalau bukan makan nasi”, begitu yang sering kita dengar. Bagaimana dengan umat Israel waktu itu ya? 40 tahun menu yang sama: manna! Zona nyaman bangsa Israel untuk urusan perut betul-betul dilatih Tuhan di padang gurun.

Nah bagaimana dengan kita? Ayo mulai melatih diri makan makanan yang menyehatkan dan memelihara tubuh! Sebagai wanita, saat PMS perubahan hormon pada tubuh adakalanya membuat mood sering uring-uringan, emosi jadi labil dan sensitive. Kita musti belajar mengubah pilihan menu saat merasa agak tertekan dan sensitif. Ada kalanya tubuh kekurangan “feel good factor” yang disebut serotonin. Orang yang tertekan memiliki level serotonin yang rendah di tubuhnya. Serotonin dikenal sebagai mood stabilizer, yang jika kadarnya rendah bisa ditingkatkan dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung kadar tryptophan yang tinggi. Nah kalau lagi merasa mudah emosi tanpa sebab, sedikit -sedikit marah, sensitif , dan moody, ada baiknya memilih makanan yang kaya tryptophan. Contohnya: telur yang kaya protein, juga kacang almond (ganti susu sapi dengan susu almond yang kaya kandungan tryptophan), juga konsumsi buah nanas potong atau bisa juga dijus,


Nah, saya punya menu andalan saat saya membutuhkan asupan tryptophan, yaitu Nasi Goreng Nanas.

Bahan:
300 gram nasi dari beras yang pera (lebih baik nasi kemaren)
4 siung bawang putih
1/4 bawang bombay ukuran sedang, iris kecil -kecil
150 gr nanas, iris kotak-kotak kecil
50 gr cabe keriting atau paprika merah, atau sesuai selera
Irisan daun bawang sesuai selera
1 butir telur bebek
Garam dan gula secukupnya
Minyak untuk menumis

Cara Memasak:
  1. Panaskan minyak di wajan lalu masukkan bawang putih dan bawang bombay, tumis hingga wangi
  2. Pecahkan telur bebek di wadah, untuk memastikan telurnya tidak busuk, lalu baru tuang ke wajan
  3. Tambahkan garam secukupnya
  4. Masukkan nanas dan cabe atau paprika
  5. Masukkan nasi dan aduk rata , bumbui garam dan gula, pastikan merata bumbunya
  6. Masukkan daun bawang terakhir dan aduk rata
Siap disajikan!

Friday, March 24, 2017

Joy: Deeper Than Happiness


by Yunie Sutanto


Apakah joy (sukacita) itu sama dengan happiness (kebahagiaan)? Sekilas saya pikir keduanya sama, namun setelah diamati nampaklah perbedaan keduanya.

“The joy of the Lord is my strength…” lirik lagu sekolah minggu ini populer sekali. Sukacita Tuhanlah sumber kekuatan kita, bukan? Seperti mentari yang bersinar dan membagikan cahayanya kepada sekelilingnya, demikianlah sukacita memancar dari hati dan menerangi sekelilingnya.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.
Matius 5:14-16

Wow, dashyat banget ya saat Tuhan Yesus ada di hati kita? Sukacita-Nya memenuhi hidup kita. Sukacita adalah hasil persekutuan intim dengan Bapa. Sukacita tidak tergantung pada faktor-faktor eksternal, tapi justru lahir dari dalam hati yang memiliki persekutuan erat dengan Tuhan Yesus. Ada aliran-aliran air hidup, ada kehidupan yang terpancar dari hati. Perkataan yang disampaikan membawa kehidupan, bukan mematikan semangat. Ada hikmat dan pengajaran di lidah kita sehingga bibir kita menggembalakan banyak orang. Apa yang keluar di mulut itu meluap dari hati, jadi sukacita yang ada di hati itu terpancar dari kata-kata.

Sebagai seorang wanita, sukacita adalah kosmetik yang paling wajib dimiliki. Wanita yang hatinya dipenuhi sukacita akan tampak mempesona.

There is in this world no function more important than that of being charming - to shed joy around, to cast light upon dark days, to be the golden thread of our destiny and the very spirit of grace and harmony. Is not this to render a service? - Victor Hugo [emphasis added]

To shed joy around, kemanapun wanita yang bersukacita melangkah, ia menaburkan sukacita di sekelilingnya. Orang menyukai keberadaannya, ia menjadi terang Kristus dimanapun ia berada.

Lantas , bagaimana dengan happiness (kebahagiaan)?

Definisi bahagia versi tiap orang beda-beda. Bahagia itu terjadi jika tubuh saya betisnya bisa lebih ramping, punya tabungan 1 triliun dan aneka bisnis yang menghasilkan passive income, punya suami yang romantis kayak di film korea, atau seperti di novel-novel, punya rumah sendiri, ga numpang ma mertua terus, bisa jalan-jalan ke luar negeri tiap liburan, bisa punya pasangan dalam tempo sesingkat-singkatnya, bisa punya momongan, bisa kuliah lagi, bisa dapat lowongan pekerjaan…

Wah kalau dibikin daftar bisa ga habis itu ya?

Ada juga yang bilang, “Bahagia itu sederhana”. Misalnya, bisa makan mi instant dan minum kopi tubruk pagi ini tuh udah bahagia. Nikmati aja hidup, bukankah bahagia itu sederhana? Tapi, sesederhana apapun, tetap saja yang namanya bahagia itu ada syarat dan kondisi yang harus dipenuhi. Jika saya ……..maka saya bahagia. Titik-titik diisi dengan versi bahagia masing-masing.

Setelah membahas dua kata ini, ternyata berbeda banget ya sukacita dengan bahagia? Sangat berbeda! Apa yang kita gunakan sebagai dasar hidup kita? Sukacita Tuhan yang lahir dari hati, atau bahagia yang berdasarkan keadaan? Kalau dasar hidup kita keadaan kok rasanya rapuh banget ya hidup kita? Pantesan mood swing terus, uring-uringan terus, karena hidup berdasarkan syarat dan kondisi. Kalau tanggal-tanggal tertentu, banyak wanita yang jadi bad mood dan overacting. Wah, ga enak banget hidup di bawah kendali emosi dan hormon ya?

Kita yang sudah lahir dari Roh, yuk hidup juga mengandalkan buah-buah roh, salah satunya sukacita. Sukacita yang tetap ada, sekalipun kena PHK, sekalipun lagi PMS, sekalipun diputusin cowok, sekalipun berat badan naik terus, sekalipun jerawat seperti ternak mutiara, sekalipun sidang tidak lulus, sekalipun…….

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.Habakuk 3:17-18

Yes! Keputusan ada di tangan kita. Pilih yang mana yang menjadi landasan hidup? Joy vs happiness? I choose joy! What about you?

Wednesday, March 22, 2017

Book Review: Women Living Well by Courtney Joseph


by Yunie Sutanto


Judul Buku: Women Living Well
Finding Your Joy in God, Your Man, Your Kids and Your Home
Pengarang: Courtney Joseph
Penerbit: Thomas Nelson

How well do I live my life? Andaikata para wanita diminta mengisi survei untuk menjawab pertanyaan ini, kira-kira apa hasilnya ya? Not well, well, atau very well?

Bagaimana dengan anda, jika pertanyaan yang sama saat ini dilontarkan pada anda? Are you living well?

People who are living well are those who enjoy their life to the fullest. Hidup dapat menjadi sukar diprediksi, namun apapun yang terjadi, mereka bisa tetap menikmati setiap proses kehidupan. Instead of complaining, their lives are full with gratitude.

We are living in a fast-pacing world, waktu berputar cepat, rasanya kita selalu kehabisan waktu. Banyak hal yang harus dilakukan, tapi rasanya waktu selalu kurang. Kita merasa perlu lebih dari 24 jam sehari.

Budaya masa kini membiasakan kita hidup serba cepat. Kalau soal makanan ada fast food, soal kirim pesan ada instant messages, soal kurir kirim barang pun ada kurir express. Budaya yang tergesa-gesa menjadi gaya hidup generasi teknologi. Kita pun seolah disetir oleh era ini untuk serba tergesa-gesa. Panic attack jadi sesuatu yang biasa. Tak heran banyak penyakit saraf bermunculan, yang akarnya adalah rasa kuatir dan rasa tidak aman yang terus-menerus memborbardir isi pikiran.

Then, how to hold vintage values in a modern world? Is it possible? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh buku ini.

Now, back to the question: Are you living well? Living well in this fast pacing era, what’s the secret? I am living well because I have the Living Well within my heart.

Jika kamu merasa memiliki hidup yang terburu-buru dan penuh kekuatiran, cobalah baca buku ini. Buku ini membawa kita kembali kepada Air Hidup yang merupakan sumber ketenteraman batin kita. Sebagai pengikut Kristus, wanita-wanita ditantang untuk memprioritaskan Kristus dan waktu teduh dalam hari mereka. So in this journey to living well,we must go to the source of it: the Living Well !

Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup. Yohanes 7:38

Dan dasar dari segala sesuatu adalah berjalan bersama Yesus. Penulis buku ini membawa pembacanya untuk memikirkan kembali peran yang mereka jalani: sebagai istri, ibu dan pengelola rumah tangga. Tapi untuk menjalankan semua peran itu dengan baik, bagaimana berjalan bersama Sang Raja adalah prioritas yang dia garisbawahi dan menjadi prioritas utama.

Buku ini sangat saya rekomendasikan. Gaya penulisannya santai, ringan dan sangat up to date! Menurut saya, ratingnya empat dari lima bintang.

Monday, March 20, 2017

Sukacita dalam Ketaatan


by Glory Ekasari


Manusia pada umumnya berpikir bahwa mereka akan senang bila dibebaskan melakukan apa saja yang mereka mau. Hukum atau aturan adalah beban yang membuat kita merasa terkungkung. Bila tidak ada larangan, tidak ada aturan, bebas sebebasnya, baru kita akan bahagia! Tapi benarkah demikian? Bila kita bebas melakukan apapun yang kita mau, dan tidak ada seorangpun yang membatasi kita, bukankah itu berarti tidak ada yang peduli dengan kita?

Saya akan memberi contoh sederhana dalam hal ini. Baru kemarin saya ngobrol dengan pacar tentang bentuk kepedulian saya kepada dia. Saya bilang, kalau saya peduli pada seseorang, saya justru jadi banyak ngomel (maklum, wanita). Kalau dia makan makanan yang tidak baik untuk kesehatan, melakukan aktivitas yang membahayakan, atau sekedar naik motor tidak pakai jaket, saya akan ngomel-ngomel. Itu bukan karena saya tidak sayang diasebaliknya, justru karena saya peduli pada keadaannya, makanya saya cerewet.

Di sisi lain, pacar saya jadi sering minta izin kalau mau makan makanan yang kira-kira akan bikin saya ngomel (sudah tentu izin tidak keluar :p), atau melakukan aktivitas yang akan membuat dia dimarahi oleh saya. Saya tahu itu bukan karena dia takut, tapi karena dia tidak mau membuat saya kuatir atau marah atau sedih. Dia memperhatikan perasaan saya, dan karena itu dia merespon dengan menjaga dirinya baik-baik, sebagaimana yang saya inginkan.

Itu contoh dari manusia yang tidak sempurna. Tuhan mah lebih baik dari kita, Dia tidak ngomel seperti saya. Tapi prinsipnya sama: Tuhan memberi kita aturan karena Dia memperhatikan dan mengasihi kita; kita taat kepada Tuhan bukan karena takut, tapi kita merespon kasih-Nya itu, dan menunjukkan kepada Tuhan bahwa Dia penting bagi kita.

Dan ketika kita mengasihi Tuhan, menyenangkan Dia menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi kita. Tuhanlah yang menciptakan kita, dan Dia tahu apa yang paling memuaskan hati kita: diri-Nya sendiri. Karena itu ketika orang Israel datang dan bertanya, apa sebenarnya yang paling Tuhan inginkan dari manusia, apa yang menjadi tujuan keberadaan kita, Dia menjawab:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.” Matius 22:37

Ketika kita mengasihi Dia, sukacita meluap dalam hati kita. Ketika kita menaati firman-Nya, kita mendapat kebahagiaan. Kitab Mazmur dibuka dengan kata “berbahagialah”, dan orang yang berbahagia adalah orang yang mencintai firman Tuhan dan melakukannya dalam hidupnya. Dunia bisa berkata lain; mereka menjanjikan sukacita dari harta benda, berbagai kesenangan, dan sebagainya, tetapi sukacita yang sejati hanya ada ketika kita hidup dalam ketaatan kepada Tuhan.

Banyak anak berkata bahwa cita-cita mereka adalah membahagiakan orang tua. Bisa jadi yang dimaksud adalah mewujudkan keinginan orang tua yang belum dapat mereka penuhi sendiri. Saya ingat ketika saya kecil, saya tanya mama, apa yang dia inginkan untuk hadiah ulang tahun. Mama menjawab, “Mama cuma mau kamu nurut.” (Saya waktu itu memang bandel.)

Tuhan pun berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku.” Ini yang paling Tuhan inginkan; dan bila kita mengasihi Dia, kita tentu ingin mewujudkan keinginan-Nya. Bila kita berhasil mewujudkan keinginan-Nya,
Bila kita berkata “tidak” pada pencobaan dan bertahan dalam ketaatan,
Bila kita lebih mementingkan melayani Tuhan daripada bersenang-senang,
Bila kita memilih menderita karena iman daripada berbuat dosa,

Kita akan bersukacita, karena kita telah menyenangkan Dia yang kita kasihi.

Friday, March 17, 2017

Sukacita oleh Kasih Karunia



by Glory Ekasari


Saya sedang tidur-tiduran di kasur sambil memikirkan bahan untuk blog post ini. Sukacita, pikir saya. Apa yang akan saya bahas tentang sukacita? Saya browsing folder dalam ingatan saya, mencari sesuatu untuk ditelaah. Sukacita, bahasa Yunaninya chara. Saya kok merasa ada kata lain yang terkenal yang mirip dengan kata itu. Lalu saya ingat! Kata yang bertetangga dengan chara itu adalah charis, yang artinya... Kasih karunia.

Charis bisa juga berarti syukur, namun makna mendasarnya adalah kasih karunia. Pikirkan hal-hal itu: kasih karunia, ucapan syukur, sukacita... Saya tiba-tiba melihat benang merah di antara mereka. Pemakaian awal kata chara dalam Perjanjian Baru adalah dalam kisah kelahiran Yesus. Ketika para gembala sedang menjaga domba di padang, seorang malaikat menjumpai mereka dan berkata:
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

Jauh sebelum peristiwa itu, nabi Yesaya telah bernubuat kepada bangsa Israel:
Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. —Yes. 9:2-3

Dari mana kesukaan besar itu berasal? Bukan dari banyak harta, bukan juga dari berbagai kesenangan yang ditawarkan dunia. Kesukaan itu berasal dari Sang Juruselamat yang dijanjikan Allah: Kristus Yesus, Tuhan. Mengapa kehadiran-Nya memberikan sukacita? Karena di dalam Yesus, kasih karunia Allah dinyatakan bagi kita.
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. —Yohanes 1:14

Saya ini termasuk tidak begitu ekspresif untuk ukuran cewek. Saya jarang sekali tertawa terbahak-bahak dan tidak pernah menangis histeris. Jangankan histeris, nangis aja jarang. Tapi ada satu hal yang, setelah saya perhatikan, tidak bisa saya bicarakan tanpa memunculkan haru dalam hati saya, bahkan kadang sampai harus menahan nangis. Itu adalah ketika saya menceritakan kasih Tuhan yang saya terima dalam Yesus. Saya tidak bisa berkata, Saya orang berdosa, tapi Yesus mengasihi saya dan mati buat saya, tanpa merasakan getaran dalam hati saya. Bicara saya jadi terbata-bata dan air mata siap meluncur. Sukacita terdalam yang saya rasakan mengalir keluar bersama dengan air mata, karena hati saya dipenuhi ucapan syukur, karena saya telah menerima kasih karunia yang begitu besar.

Sebagai orang Kristen sekalipun, saya tidak lantas senang terus. Hidup kita tentu ada senangnya, ada sedihnya, ada manis, dan ada pahitnya. Bersukacita bukan berarti nyengir terus. Sukacita yang sejati adalah keadaan dimana duka tidak dapat menguasai kita, dan kekecewaan tidak mengalahkan kita, karena kasih karunia Allah memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus. Dalam sukacita ini, kita dapat mengucap syukur, karena mata kita tidak tertuju pada masalah, melainkan kepada Dia, the Author and Finisher of our faith.

Di gereja tempat saya beribadah, ada satu lagu yang dikenal baik oleh jemaat. Liriknya berkata:
Bersuka! Bersuka dalam Tuhan
Mari bersuka! Bersukacitalah!

Bersukacita dalam Tuhan. Kesukaan besar datang ketika Juruselamat, yang penuh kasih karunia dan kebenaran, tinggal dalam hati kita. Di luar Yesus, kita bisa mendapatkan kesenangan dan kepuasan yang sifatnya sementara. Di dalam Yesus, sukacita yang kita miliki tidak terbatas, karena seperti Paulus, kita dapat berkata,
..aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, ...tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Wednesday, March 15, 2017

Where Joy is at?



by Glory Ekasari


Di rumah saya ada seorang tukang kebun yang juga membantu jaga malam di gereja. Tiap kali orang tua saya mendapat makanan dari acara yang mereka hadiri, kami sering memberikan sebagian untuk dia. Tapi lama-lama kami sadar bahwa kalau diberi lauk daging atau ayam, dia tidak pernah makan. Usut punya usut, ternyata dia.... sakit gigi! Anehnya, dia tidak mau ke dokter gigi, katanya karena takut. Jadilah sakit gigi itu dipelihara sekian lama.
Menurut saya sih aneh. Ke dokter gigi memang terkesan seram (maaf ya yang dokter gigi), tapi daripada terhalang makan, ya lebih baik menahan ngilu dan sakit sekejap lah. Toh setelah itu gigi jadi sehat lagi, rasa sakit hilang secara permanen, dan kita bebas makan apapun yang kita mau.
Kadang kita juga begitu dalam mencari kebahagiaan. Kita justru menghindari tempat di mana kebahagiaan dan sukacita ada, seperti orang yang tidak mau giginya diobati dan memilih tetap sakit gigi. Aneh, memang. Tapi tentu kita lalu bertanya, “Memangnya di mana ada sukacita?”
Kata dunia, sukacita itu adanya di sekitar teman-teman. Atau, kalau tidak punya teman, sukacita itu ada di berbagai macam kesenangan yang mereka tawarkan. Atau bisa juga seks, seks menawarkan kebahagiaan, katanya. Oh, uang juga bisa membawa sukacita! Being on the top of the world juga pasti dong, membawa sukacita. Apa itu betul? Raja Salomo menulis panjang lebar tentang segala kekayaan dan kenikmatan yang dia nikmati—uang, kemegahan, penundukan dari raja-raja lain, hiburan, seks, bahkan hobi berkebun—dan dia berkata, “Aku tidak menghalangi mataku dari apapun yang ingin dilihatnya”—sounds a lot like hedonism. Kesimpulannya? “Segala sesuatu adalah kesia-siaan.”
At the end of the day, it’s just you―yourself. And what will you do with that empty heart burdened with sorrow? What can other people do for you, when the problem is not with your body, but with your soul? “Find happiness inside you,” they say. Where?
Suatu kali ketika mama saya berkhotbah di gereja tempat kami beribadah, dia membagikan kesaksiannya dan menyimpulkan demikian, “Saudara, kalau Saudara ada masalah, jangan tinggalkan Tuhan, jangan libur ke gereja. Justru cari Tuhan! Datang ke rumah Tuhan, dengarkan firman Tuhan, berdoa dan cari Tuhan lebih sungguh-sungguh lagi.”
“Cari Tuhan lebih sungguh-sungguh lagi.” Banyak orang malas dalam persekutuan mereka dengan Tuhan. Berdoa sebentar dan tidak merasakan apa-apa, berhenti berdoa. Kita perlu belajar dari tokoh-tokoh Alkitab yang bersikeras bertemu dengan Tuhan secara pribadi. Daud menyukai frasa “siang dan malam”, yang menunjukkan kesungguhannya dalam mencari Tuhan. Paulus dan Silas yang dipenjara di Filipi, bukannya nelangsa dengan nasib mereka atau tidur nyenyak, malah memuji Tuhan di tengah malam—sampai terjadi mujizat bagi mereka dan keselamatan bagi kepala penjara. Menjelang pertemuan dengan Esau, Yakub bergumul secara fisik dengan Malaikat Tuhan, karena dia begitu ngotot, sehingga terucap kata-kata yang terkenal, “Aku tidak akan melepaskan Engkau sebelum Engkau memberkati aku.” Kapan terakhir kali kita berkata demikian kepada Tuhan? Sebagaimana lirik sebuah hymne yang terkenal:
Savior, Savior, hear my humble cry
While on others Thou art calling,
Do not pass me by!
Semua orang yang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh menemukan-Nya, karena itu adalah janji-Nya. Kalau ada janji yang diulang-ulang dalam Alkitab, dan yang terlalu sedikit kita manfaatkan, itu adalah janji Tuhan bahwa mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia pasti menemukan-nya:
“Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku;
Apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.”

—Yeremia 29:13
 “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” —Matius 6:33
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” —Lukas 11:9
Apa yang kita temukan ketika kita akhirnya bertemu dengan Dia? Daud memberitahu kita apa yang dia temukan ketika berhadapan dengan Tuhan:
“Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah.”
“Sukacita berlimpah-limpah.” Bukan hanya “ada sukacita”, tetapi “ada sukacita berlimpah-limpah”!

Dan Tuhan terus-menerus memerintahkan kita untuk mencari Dia dengan sungguh-sungguh karena Dia tahu hanya Dia yang dapat menjawab kebutuhan hati kita yang terdalam. No, happiness is not inside you; it is in God’s presence. He doesn’t let people go from His presence empty handed, He sends joy together with them.

Monday, March 13, 2017

Joy vs. Happiness



by Poppy Noviana


Apa sih, perbedaan dua hal di atas? Secara fisik sih, terlihat sama, bahkan bisa dibilang mirip. Contoh: wajahnya sama-sama sumringah, matanya sama-sama berbinar-binar, hidungnya kembang kempis, kakinya melompat-lompat dan reaksinya menari-nari.

Lantas apa dong, bedanya?

Beberapa fakta dapat menggambarkannya. Salah satunya adalah dari seseorang yang tidak pernah bahagia di dalam hidupnya, sekalipun ia kaya dan cakap secara fisik. Dia merasa happy saat menghabiskan waktu dan uangnya untuk berfoya-foya, namun tetap saja dia akan kembali murung dan hampa.

Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana bisa lebih bahagia dan merasakan kehidupan yang utuh sepenuhnya. Bahkan dia bisa bersyukur saat ditimpa kesukaran, bisa memberi saat dia sendiri membutuhkan sesuatu, dan—yang lebih ekstrem lagi—dia bisa tersenyum kepada musuh yang menganiayanya. Kok, bisa gitu ya? Well, inilah yang disebut dengan sukacita (joy).

Matius 5:3-12 (TB) berkata begini,
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Anjuran berbahagialah di atas merupakan suatu kondisi yang diajarkan dalam Alkitab—namun tidak dapat dicerna dengan mudah dengan logika. Sangat berkebalikan dan sukar dipahami. Sukacita (joy) yang sebenarnya ├ádalah berasal dari dalam diri manusia yang diputuskan secara sadar oleh individu tersebut. Sukacita seharusnya bersifat kekal karena kondisi apapun tidak dapat mempengaruhi seberapa besar sukacita yang dapat kita terima dan rasakan dari Allah. Maka bersukacita dan bersyukurlah, sebab Allah menghendakinya.

Berbeda dari sukacita,  kebahagiaan (happiness) berasal dari luar diri manusia dan merupakan sebuah akibat yang dipengaruhi atas sesuatu atau seseorang. Kebahagiaan bersifat sementara karena tergantung pada suatu hal.

Kebenaran lainnya yang dapat kita renungkan adalah, “Hati yang gembira adalah obat (Amsal 17:22). Bagaimana mungkin dalam kesakitan dan kondisi tidak baik, Allah malah menyuruh kita untuk memiliki hati yang gembira?

Itu artinya Allah tahu persis bahwa kegembiraan dan sukacita itu bukan berasal dari luar tapi dari keputusanmu untuk bergembira dalam hati. Memang terlalu banyak alasan untuk merampas sukacita itu dari dalam hati dan ini merupakan kesukaan ilah-ilah zaman ini melalui roh-roh pemecah belah dan perpecahan yang mengintimidasi hati dan pikiran kita. Namun ingatlah, terlalu banyak kebenaran dan juga bukti yang dapat disadari untuk membantu kita bersukacita dalam hidup ini yang telah dianugerahkan oleh-Nya.

Filipi 4:8 (TB) pun berkata, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Dan ini doaku untukmu, dear readers, “Bersukacitalah  sekali lagi kukatakan bersukacitalah”. Amin.