Monday, September 21, 2020

Mengampuni Karena Diampuni


by Alphaomega Pulcherima Rambang

Bacaan: MATIUS 18:21-35 (Perumpamaan tentang pengampunan)

Bertahun-tahun yang lalu, aku sangat membenci seseorang. Sulit rasanya mengampuni apa yang dia lakukan. Aku tahu aku akan lebih tenang kalau mengampuni, tapi rasanya gak sanggup. Tuhan ingatkan, “AKU sudah mengampuni kamu, Meg, perbuatlah yang sama baginya.” Tapi aku berdalih, “TUHAN, aku gak mau dia merasa menang setelah apa yang diperbuatnya padaku.” Sampai akhirnya seseorang menegurku, “Meg, ini bukan masalah menang atau kalah. Kamu mau taat ato gak sih? Katanya mau taat…”

Lalu, ayat-ayat yang berbunyi tentang pengampunan melintas di kepalaku. 1 Korintus 13:5 berkata "kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain", dan TIDAK MENGAMPUNI berarti MENYIMPAN KESALAHAN ORANG LAIN.

Tapi Tuhan, aku tidak mengasihi orang ini setelah apa yang diperbuatnya kepadaku. Buat apa mengasihi orang seperti dia? Aku tidak bisa mengampuni dia. Aku membayangkan TUHAN berkata, “Lalu buat apa aku mengasihi kamu?”

"Karena jika kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tapi jika kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."
(Matius 6:14,15)

"Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah dalam Kristus telah mengampuni kamu."
(Efesus 4:32)

Aku memikirkan bagaimana perasaan KRISTUS waktu Ia harus mengampuni dan mati buat orang sepertiku. Sedangkan aku, hanya disuruh mengampuni, belum disuruh mati buat orang itu saja terasa berat. Kok Kristus mau ya? 

Lalu, lagi-lagi, dengan sabar-Nya Dia berkata, “Meg, ini bukan tentang dia, ini tentang AKU berurusan denganmu sekarang. Segala sesuatu bukan tentang kamu atau dia, segala sesuatu adalah tentang AKU.”

Aku tertunduk dan kehilangan kata-kata. Rasanya hati masih sulit mengampuni, padahal sudah tahu kebenaran firman Tuhan. Aku masih mengeraskan hati.

Pada akhirnya, aku baru bisa mengampuni sepenuhnya saat membaca dan merenungkan bacaan Perumpamaan tentang pengampunan. Perumpamaan ini indah sekali karena dua hal:

Tuhan terlebih dahulu mengampuniku. 

Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
(Matius 18:27)

Sang Raja tahu kalau hambanya tidak sanggup membayar hutangnya, demikian juga Tuhan tahu kalau aku tidak sanggup menanggung dosa-dosaku. Dia tidak harus mengampuniku tetapi Dia berbelas kasihan lalu membebaskanku dan menghapus segala kesalahanku. Dia tidak memperhitungkan kesalahanku. Sang Raja memberikan teladan kepada hambanya bagimana mengampuni. Sama dengan Tuhan. Dia tidak memintaku mengampuni tanpa Dia memberikan teladan kepadaku.

Pengampunan yang telah kuterima dari Tuhan terlebih besar dari kesalahan yang dibuat orang lain kepadaku. 

Raja dalam perumpamaan tersebut membebaskan hambanya dari hutang sebanyak sepuluh ribu talenta, tetapi si hamba ini mempermasalahkan hutang kawannnya yang ‘hanya’ seratus dinar. Menurut kamus Alkitab, 1 talenta sama dengan 6.000 dinar, sedangkan 10.000 talenta sama dengan 60.000.000 dinar.

Bandingkan, hamba tersebut punya hutang 60 juta dinar dan dibebaskan dari segala hutangnya tapi dia tidak sanggup merelakan hutang kawannya padanya yang hanya 100 dinar. Keterlaluan sekali hamba ini. Lah, bagaimana denganku yang sulit mengampuni orang lain, padahal kesalahanku yang begitu banyak telah diampuni Tuhan. Aku juga keterlaluan. Jadi, jika Tuhan telah mengampuni dosa-dosaku yang begitu banyak, kenapa aku mempermasalahkan kesalahan kecil yang dibuat orang lain padaku. 

Mengampuni itu sulit. Gak mudah. Tapi bukan berarti gak bisa. Caranya? Dengan menerima pengampunan Kristus. Gak ada jalan lain. Saat aku sadar kalau aku sangat berdosa. Saat aku ingat betapa banyaknya kesalahanku dan gak ada yang bisa kulakukan untuk menebusnya. Aku teringat anugerah pengampunan-Nya yang besar telah diberikan kepadaku. Aku sadar, Tuhan begitu baik mau mengampuniku. Dia tidak harus mengampuniku tapi Dia mau mengampuni. Saat menyadari anugerah yang kuterima begitu besar, aku dimampukan mengampuni dia yang menyakitiku. Di kemudian hari, saat ada orang yang menyakitiku, aku bisa mengampuni dia karena aku tahu aku sudah diampuni dari dosa dan kesalahan yang jauh lebih besar daripada kesalahan yang dia lakukan padaku. 

Kita tidak dapat memberikan apa yang tidak kita miliki. Jika pengampunan terasa sangat sulit diberikan, mungkin karena kita belum menyadari betapa besar anugerah pengampunan yang telah kita terima dari Tuhan.

Monday, September 14, 2020

WHAT MATTERS MOST


by Leticia Seviraneta
Faith in action is love,and love in action is service.– Mother Teresa
Bila sudah lama menjadi orang Kristen (yang lahir baru, bukan hanya Kristen KTP), kita akan terbiasa dengan kutipan-kutipan ayat Alkitab, isi khotbah, ritual kebaktian, bahkan juga kesibukan pelayanan di gereja. Tanpa disadari, semua hal baik yang kita terima dan lakukan tersebut terkadang menjadi sekedar rutinitas (atau jadi beban tersendiri?) hingga kita melupakan alasan mengapa kita melakukannya. Ketika kita melupakan “the why” di balik apa yang kita lakukan, kita menjadi kehilangan arah serta tujuan. Akibatnya, “the why”—yang merupakan hal penting—ini sering tergusur urutan prioritasnya oleh hal yang terlihat “urgent” atau mendesak. Jika sudah begini, mungkin kita perlu mengingat pepatah di bawah ini:

Hal yang penting tersebut bukanlah untuk ditemukan seolah-olah belum kita miliki,
melainkan untuk diingat kembali.
(The important things are not to be discovered, but to be remembered.)

Lalu, sebagai orang Kristen, apa yang paling penting untuk kita lakukan?

Pertanyaan seputar “apa-yang-paling-penting” ini juga muncul di pikiran seorang ahli Taurat saat bertemu dengan Yesus. By the way, ahli Taurat adalah orang yang secara khusus mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari hukum Taurat. Nah, ketika ada kesempatan, dia bertanya kepada Yesus mengenai hukum yang terpenting dari semua hukum Taurat yang ada:

... dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
(Mat 22:35-40 / TB)

Pertanyaan di atas bukan berarti menandakan bahwa ahli Taurat itu tidak sungguh-sungguh mempelajari kitab Taurat. Bukan! Sebaliknya, dia bertanya kepada Yesus dengan maksud untuk mencari celah kesalahan di mana Sang Rabi itu akan mengabaikan hukum yang lain. Namun di luar dugaan, jawaban Yesus menunjukkan esensi dari keseluruhan hukum yang ada, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama. Perintah ini merupakan kutipan dari kitab Ulangan:


“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
(Ulangan 6:5 / TB)

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dulu mengasihi kita.”
(1 Yoh 4:19 / TB)

Kita dapat taat tanpa mengasihi, tetapi kita tidak dapat mengasihi tanpa taat. Kita bisa saja melakukan seluruh perintah Allah tanpa dilandasi kasih, namun kita tidak dapat mengasihi Allah tanpa ketaatan. Oleh karenanya, motivasi di balik hal-hal baik yang kita lakukan menjadi penting. Semuanya itu harus berlandaskan kasih kepada Allah. Kasih tersebut yang akan menjadi energi, menjadi alasan yang kuat di saat situasi kita melemahkan semangat, tidak ideal, dan sulit.

Apa artinya mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita? Nah, tahukah Pearlians bahwa kata “hati”—dalam bahasa Ibrani—disebut “lev”? “Lev” diartikan sebagai “organ yang memberikan kehidupan, tempat berpikir, merasakan emosi, dan membuat keputusan-keputusan”. Menariknya, “lev” tidak sekadar berarti “hati”, melainkan juga diterjemahkan sebagai “pikiran”. Ini menunjukkan bahwa hati dan pikiran menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, apalagi karena keduanya merupakan pusat dari kehidupan. Dari situlah pusat emosi, keinginan, pengambilan keputusan yang kemudian akan menentukan arah kehidupan kita. Itulah mengapa raja Salomo menuliskan dalam Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” 

Mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan akal budi dimulai dengan mengarahkan fokus perhatian dan pikiran kita kepada kebaikan Tuhan, Firman-Nya, dan menyembah-Nya di setiap saat. Bila kita mau jujur, banyak hal yang berusaha merebut fokus kita sehari-hari; entah itu pekerjaan, pasangan, keluarga, pelayanan, dan sebagainya. Iya, semuanya itu hal yang baik. Tapi kalau Tuhan tidak ditempatkan menjadi Sang Raja atas kehidupan kita (baca: yang hadir dalam setiap aspek kehidupan yang kita miliki), maka seringkali motivasi dan tujuan sebenarnya dari hal-hal baik tersebut akan hilang. Oleh karenanya, mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan pikiran dapat dilakukan dengan memulai hari kita untuk meluangkan waktu bersama-Nya, berdoa, memuji dan menyembah-Nya, membaca dan merenungkan Firman Tuhan, serta menerapkannya setiap saat. Disiplin rohani ini seringkali dilihat sepele, namun itu akan menuntun kita sepanjang hari ke arah sesuai yang Tuhan inginkan.

Lalu apa yang dimaksud “mengasihi Tuhan dengan segenap jiwamu”? Dalam bahasa Ibrani, jiwa menggunakan kata “nephesh” yang memiliki arti keseluruhan dari keberadaan fisik seseorang (the whole physical being of a person). Artinya, “mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa” berarti mendedikasikan keseluruhan keberadaan dan hidup kita kepada Tuhan. Hal ini bukan berarti pekerjaan atau kegiatan kita sehari-hari harus yang bersifat “rohani”—karena sebenarnya tidak ada kegiatan yang “rohani” maupun “non-rohani” (atau “sekuler”) di mata Tuhan. Apapun yang kita kerjakan sehari-hari, kalau selalu dilakukan dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan, maka itu adalah penyembahan kita yang sejati.

So here's what I want you to do, God helping you: Take your everyday, ordinary life—your sleeping, eating, going-to-work, and walking-around life—and place it before God as an offering. Embracing what God does for you is the best thing you can do for him.
(Rom 12:1 / MSG)

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
(Rom 12:1 / TB)

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
(1 Korintus 10:31)

Kemudian apa yang dimaksud dengan mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatanmu? Menarik sekali, kekuatan disini tidak merujuk kepada kekuatan fisik seseorang, melainkan berasal dari kata Ibrani “me’od” yang sebenarnya merupakan kata keterangan yang berarti “sangat” atau “very”. Misalnya pada hari ketujuh penciptaan Tuhan mengatakan semuanya “me’od” baik atau sangat baik. Dalam bahasa Yunani kata ini diterjemahkan menjadi “dunamis” atau “power”. Intinya adalah “mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan” tidak membatasi kita mengasihi Tuhan dengan cara tertentu saja. Sebaliknya, kita justru dibukakan pada anugerah bahwa dalam segala aspek kehidupan kita—dalam situasi apapun, kesempatan yang diberikan, maupun setiap kemampuan yang kita miliki—dapat digunakan untuk mengasihi-Nya. 

Keseluruhan dari perintah untuk mengasihi mendorong kita kepada suatu perbuatan (action). Stephen Covey berkata, “Kasih adalah sebuah kata kerja. Kasih adalah sesuatu yang kamu lakukan: pengorbanan yang kamu lakukan, pemberian diri kita sendiri. Bila kamu ingin belajar mengasihi, pelajari mereka yang berkorban untuk orang lain. Kasih—sebuah perasaan—adalah buah dari kasih yang merupakan kata kerja.” Mengasihi Tuhan tidak dapat terlepas dari mengasihi orang lain. Keduanya seperti dua sisi mata koin yang sama. Kita tidak dapat menanyakan, “Mana yang lebih penting: mengasihi Tuhan atau mengasihi sesama?” Karena bagi Tuhan, mengasihi-Nya ditunjukkan dengan mengasihi sesama, dan mengasihi sesama menunjukkan bahwa kita mengasihi-Nya. Oleh karena itu perintah yang terutama yang Yesus sebutkan dilanjutkan dengan “…mengasihi sesamamu manusia seperti mengasihi dirimu sendiri.” (Luk 10:27 / TB)

Dalam Lukas 10:29-37, dikisahkan bahwa ahli Taurat yang menanyakan hal yang sama—yang bertujuan untuk membenarkan dirinya—bertanya kembali, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Bukankah pertanyaan itu seolah-olah menyiratkan bahwa kita dapat memilih orang-orang tertentu saja untuk dikasihi dan itu sudah cukup untuk memenuhi perintah Tuhan tersebut? Tapi Yesus menjawabnya dengan menceritakan ilustrasi seorang Samaria yang menolong orang yang telah dirampok, dipukul habis-habisan, dan meninggalkannya di pinggir jalan dalam keadaan hampir meninggal. Sebelum orang Samaria tersebut datang, seorang imam dan Lewi melewati jalan tersebut, melihat kondisi orang itu, dan mengabaikannya dengan berjalan di sisi jalan lain. Sementara ketika orang Samaria melihatnya, ia menaruh belas kasihan kepadanya. Ia membalut luka-lukanya, menyiraminya dengan minyak dan anggur, menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, membawanya ke tempat penginapan, merawatnya, dan menitipkan uang di tempat penginapan untuk tempat pengobatannya. Yesus mendeskripsikan orang Samaria tersebut sebagai sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun tersebut. Lalu kenapa Dia menjadikan orang Samaria di kisah itu sebagai “orang yang menunjukkan belas kasihan pada sang korban perampokan”, bukannya imam atau orang Lewi? Well, ini karena Yesus tahu bahwa pada zaman itu, orang Samaria adalah kelompok yang dibenci oleh orang Yahudi; sedangkan imam dan orang Lewi cenderung dihormati karena mereka memiliki hak untuk melayani Allah. As simple as that.

By the way, perintah agar kita mengasihi Allah dan sesama menggunakan kata Yunani “agape”, jenis kasih tidak bersyarat yang ditunjukkan Allah kepada manusia. Ini merupakan kasih yang tanpa pamrih, yang tidak memandang buluh siapa penerima kasihnya.

“Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya [agape] kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
(Rom 5:8)

Ketika masih berdosa, manusia (termasuk) berada di posisi yang menempatkan Tuhan sebagai musuhnya. Tuhan mengasihi kita selagi kita menjadi “musuh”-Nya? Wah, ironis sekali, kan? Demikian juga dengan ilustrasi Yesus, orang Samaria pada masa itu merupakan “musuh” orang Yahudi. Orang Yahudi tidak akan mau berurusan sama sekali dengan orang Samaria, demikian juga sebaliknya. Yesus menjabarkan deskripsi sesama manusia dengan menggunakan contoh yang paling ekstrim: musuh kita pun termasuk sesama kita. Melalui ilustrasi-Nya, deskripsi sesama manusia dapat meliputi orang yang (menurut kita) tidak layak mendapatkan kasih kita, orang yang tidak berdaya, maupun orang yang tidak dapat membalas kebaikan kita. Tapi karena Tuhan sudah memberi agape kepada kita yang sebenarnya tidak layak untuk dikasihi, Dia juga menginginkan kita untuk memberikan agape tersebut kepada orang yang tidak layak mendapatkannya.

Secara manusiawi, tentu ini perintah yang sungguh sulit untuk dilakukan. Bila kasih hanya bersumber dari diri kita sendiri, maka hal ini tentu mustahil untuk dilakukan. Bagaimana bisa kita mengasihi dan berbuat baik kepada orang yang menyakiti kita atau yang tidak akan membalas kebaikan kita? Secara logika, hal ini tidak masuk akal. Oleh karena itu, kita perlu menerima terlebih dahulu agape Allah, kasih tidak bersyarat-Nya yang begitu besar. Allah perlu menjadi sumber kasih dalam keseharian kita sehingga kita dimampukan oleh-Nya untuk mengasihi sesama kita juga. Bagaimana melakukan hal ini secara nyata? Hal ini dapat dimulai dari langkah kecil seperti berdoa bagi yang pernah menyakiti kita. Mendoakannya mungkin tidak secara instan mengubah orang tersebut, namun akan secara progresif mengubahkan hati kita. Fokus kita dapat bergeser dari tindakannya yang salah terhadap kita menjadi melihatnya sebagai seorang yang membutuhkan Tuhan dalam hidupnya. Dari langkah kecil ini, kita dapat pelan-pelan berbuat sesuatu yang baik kepadanya. Demikian juga halnya dengan orang yang jelas membutuhkan pertolongan, seorang yang tidak berdaya, dan tidak dapat membalas kebaikan kita. Kita perlu membuka mata dan berbesar hati untuk lebih peka melihat kebutuhan di sekitar kita dan melakukan sesuatu untuk memenuhinya.

Bunda Teresa berkata, “Iman dalam perbuatan adalah kasih, kasih dalam perbuatan adalah pelayanan.” Pelayanan yang sesungguhnya tidak terbatas dalam lingkup gereja, melainkan dalam keseharian kita, dan kepada siapa pun yang kita temui. Dengan cara inilah, kasih Allah dapat hadir dan nyata bagi kehidupan orang lain dan pelayanan kita menjadi respon natural dari kasih yang sudah kita terima dari-Nya. Selamat mengasihi!
“Bentuk penyembahan tertinggi adalah penyembahan dari pelayanan orang Kristen yang tidak egois. Bentuk pujian tertinggi adalah suara kaki-kaki yang mencari orang yang terhilang dan tidak berdaya.” – Billy Graham

Monday, September 7, 2020

Ironi dari sebuah Pengajaran Agung


by Tabita Davinia Utomo


Artikel ini mengacu pada Matius 20:17-34 dan Markus 10:32-52.

Pernahkah Pearlians merasa kesal saat melihat ada orang lain yang tidak memahami perintah yang baru saja diberikan? Misalnya saja ada anak, murid, atau karyawan kita yang justru melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang kita suruh. Hmmmm… rasanya gemas dan tidak habis pikir, ya? Bahkan mungkin kita jadi berpikir, “Aku salah apaaaa? Kok, mereka nggak ngerti-ngertiii. Hufttt… “

Mungkin itu juga yang dirasakan Yesus saat mendengar permintaan Yakobus dan Yohanes—yang kisah selengkapnya ada di kedua bagian Injil di atas. Menariknya, ada perbedaan pada perikop yang akan menjadi fokus kita di artikel ini. Di Matius, kita mengetahui bahwa permintaan dua anak Zebedeus itu disampaikan oleh ibu mereka; sementara Markus justru mencatat mereka sendirilah yang meminta kepada Yesus.

Wait, permintaan apa yang dimaksud di sini?

“Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”
(Ibu Yakobus dan Yohanes, dalam Matius 20:21b)

“Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami! Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.”
(Yakobus dan Yohanes, dalam Markus 10:35, 37)

Mungkin bagi sebagian orang, permintaan tersebut menunjukkan bahwa mereka sedang “menjilat” Yesus agar bisa memperoleh kekuasaan yang tinggi di kerajaan-Nya kelak. Tidak heran kalau para murid yang lain jadi marah, tapi bisa juga itu karena mereka merasa “kalah cepat” dari kedua murid yang berada dalam inner circle Yesus ini. Tapi sebelum membahas lebih lanjut mengenai “jilat-menjilat” ini, kita perlu melihat konteks yang sedang terjadi pada saat itu.

Beberapa saat sebelumnya, Yesus berkata kepada mereka saat menuju ke Yerusalem:

’”Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”
(Matius 20:18-19)

Tampaknya setelah mendengar pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus, Yakobus dan Yohanes berpikir bahwa di Yerusalem lah Sang Guru akan berkuasa. Padahal tidak. Kekuasaan yang dimaksud Yesus bukanlah tentang pembebasan dari penjajahan Romawi, tapi tentang diri-Nya yang mengalahkan maut bagi semua orang yang percaya kepada-Nya—meskipun harus melalui salib. Karena itulah, Yesus berkata kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta.” Yesus tidak ingin para murid-Nya hanya berfokus kepada kekuasaan duniawi yang mereka dambakan, tapi melihat bahwa ada satu hal yang lebih penting dari itu: bersikap dan bertindak seperti yang dilakukan-Nya. Dia juga ingin agar mereka memberikan “warna” yang baru dalam berelasi dengan orang lain.

Yesus ingin agar para murid-Nya melayani, bukannya dilayani.

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
(Matius 20:26b-28)

Ironisnya, sepertinya para murid tidak langsung memahami maksud Yesus ini. Mungkin saat memasuki Yerusalem dan melihat Sang Guru dielu-elukan seperti raja, ada juga yang justru bertanya-tanya, “Kapan Guru akan disalib? Lha wong orang-orang nyambut Dia kek gini! Bohong, ah!” Saya menduga alasan inilah yang membuat kisah mengenai penyembuhan dua orang buta dicatat oleh Matius setelah pengajaran melayani-bukan-dilayani itu (Matius 20:29-34). Matius ingin menunjukkan Yakobus dan Yohanes—yang adalah dua murid terdekat Yesus—ternyata tidak memahami kehadiran Sang Guru. Di sisi lain, dua orang buta itu justru tahu status-Nya sebagai Tuhan, Sang Anak Daud yang dijanjikan itu—sehingga mereka tidak asal bersikap. Bahkan mereka memohon belas kasihan Yesus agar Dia menyembuhkan kebutaan mereka. Well, mungkin dua orang itu buta secara fisik, tapi setidaknya mereka menyambut Yesus untuk mengubah hidup mereka sebelum Dia menyelesaikan misi-Nya di dunia. Ingat kan, dengan apa yang Yesus katakan saat Dia dan para murid-Nya menuju ke Yerusalem?

Pengajaran mengenai “bukan memerintah, namun melayani” ini perlu kita renungkan bersama. Kita tidak bisa melayani tanpa kasih; tapi saat kita mengasihi, di situlah kita digerakkan untuk melayani. Sayangnya, pelayanan yang Yesus inginkan bukan hanya soal aktif paduan suara di gereja, atau ikut kegiatan pemuridan di sana-sini, bahkan pergi mission trip ke daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Oke, ketiganya memang bukan sesuatu yang salah, Pearlians. Tapi dalam banyak kondisi, pelayanan kepada orang-orang terdekatlah yang kita abaikan. Mungkin mereka adalah keluarga kita sendiri, atau teman sekolah/kuliah maupun rekan kerja. Bahkan bisa saja ada juga orang-orang yang menyebalkan yang masuk ke dalam kriteria ini (sampai membuat kita ingin menundukkan mereka, mungkin?). Ironis, ya :(

Tidak seorangpun yang tahu persis seberapa dekat hubungan kita dengan Tuhan selain Dia dan diri kita sendiri. Tapi setidaknya, kita bisa menyimpulkan bahwa pengenalan pribadi dengan Tuhan akan membuat kita memandang pelayanan dengan lebih luas dan mendalam. Melayani orang lain bukanlah bentuk ketidakberdayaan, tapi justru bentuk kasih kita kepada orang lain, sekaligus ketaatan kepada Tuhan yang sudah memberikan teladan pelayanan itu kepada kita. Pertanyaannya, sudahkah kita memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh? Atau jangan-jangan… selama ini “pelayanan” kita hanya sebatas di permukaan saja tapi rasanya hambar karena tidak ada kasih di dalamnya?

Monday, August 31, 2020

Karena hanya Satu yang baik


by Poppy Noviana

Seorang muda yang berstatus pengusaha sukses dan kaya tidak juga merasa cukup dengan semua pencapaiannya. Suatu hari dia bertemu dengan Sang Maha Guru dan bertanya, “Guru, perbuatan baik apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Sang Maha Guru: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Karena hanya Satu yang baik.”

Dari tanya jawab ini, apakah Sang Maha Guru bertanya karena Ia tidak tahu? Atau bertanya dengan pengetahuan-Nya? Ya… segala sesuatu yang Sang Maha Guru, yaitu Yesus, tanyakan kepada manusia adalah pertanyaan yang sudah Ia ketahui jawaban-Nya. Ia bertanya justru untuk memberitahu sang penanya hikmat yang tersembunyi di balik pertanyaan. 

Menarik sekali ketika Yesus menjawab, “Hanya Satu yang baik.” Apa yang dimaksud “Satu yang baik” dalam konteks ini? Apakah itu sejenis pola pikir, suatu hal, atau suatu perbuatan? Mengapa menggunakan huruf kapital ya? Penasaran? Jawabannya ada dari ayat Alkitab itu sendiri.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
(Yohanes 3:16)

Di ayat ini kita menemukan sesuatu yang dicari oleh si pemuda di awal pembukaan percakapan: hidup yang kekal.

Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan (yang dijelaskan pada ayat Yoh 3:16 yaitu mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal) Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2 Korintus 8:9)

Dari ayat ini, kita mengerti, karunia Allah adalah Yesus yang memiskinkan diri-Nya supaya manusia menjadi kaya oleh karena Kasih Allah itulah yang memberi hidup yang kekal kepada manusia.

Jadi apakah arti “Hanya Satu yang baik?” pada jawaban Yesus di awal artikel ini? Ya, yang Baik itu adalah Satu pribadi yaitu Yesus sendiri, yang telah datang ke dunia sebagai orang miskin dan mati untuk membuat kita menjadi kaya dan bahkan memberikan hidup yang kekal.

Perhatikan pada diskusi selanjutnya dikatakan, “Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Memang pemuda ini sudah cukup patuh dan melakukan sebagian besar perintah Allah, namun ada kata “segala” dalam konteks ini, yang maksudnya tidak terkecuali, alias tidak ada perintah yang boleh dikesampingkan. Wah… memang mungkin ada manusia yang mampu memenuhinya? Tentu tidak. Jika begitu, lalu bagaimana semestinya? Yesus mengatakan apa yang tidak mungkin menurut manusia, mungkin bagi Allah. Manusia tidak mungkin dapat memenuhi segala perintah Allah itu dengan sempurna, sehingga Allah sendirilah yang membenarkan manusia dengan pengorbanan Kristus.

Melanjutkan diskusi, anak muda itu pun bertanya kepada Yesus “Perintah yang mana?” Yesus menjawab dengan menjabarkan perintah-Nya yang menekankan pada hubungan manusia, seperti jangan mencuri, kasihilah sesamamu manusia, dan hormatilah ayahmu dan ibumu. Setelah itu, Ia menjawab: “Jikalah engkau hendak sempurna, pergilah, juallah, segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang yang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku”.

Jawaban Yesus ternyata membuat anak muda ini bersedih dan kecewa. Ternyata kesedihan itu muncul karena ia merasa berat hati untuk melakukannya, rasa aman dan status sosialnya dipertaruhkan. Benar apa kata Firman Tuhan, dimana hartamu berada disitu hatimu berada. Artinya jika hartamu lebih penting dan lebih prioritas dari pada keinginan hatimu akan Satu hal yang baik, maka seperti respon pemuda tersebut, hatinya akan terseret-seret dan kalah. Ia memilih memegang erat hartanya, karena keinginan hatinya untuk memperoleh hidup kekal tidak lebih kuat daripada mempertahankan hartanya.

Padahal, jika ia mengikuti instruksi Yesus yang sangat jelas dan praktikal itu, ia telah mendapatkan rahasia besar untuk memperluas kapasitas hatinya dan memperoleh Satu yang baik. Ia bisa mulai dari menjual, membagikan hartanya yang banyak (berganti dari mengumpulkan harta di bumi menjadi mengumpulkan harta di surga), lalu kembali (memutuskan secara sadar percaya kepada Yesus) dan mengikuti Yesus (hidup berelasi dengan Yesus).

Kisah Alkitab di atas merupakan sebuah gambaran tentang sikap hati yang Yesus kehendaki dari setiap pribadi yang mau mengikut Dia: menjadikan Yesus yang pertama dan terutama. Hal mengikut Yesus tidak selalu menyenangkan. Dia bahkan memberi peringatan bahwa siapapun yang mau mengikutinya harus mau menyangkal diri dan memikul salib. Hal ini berarti bahwa kekayaan, hal-hal apapun yang kita anggap berharga, harus mau kita lepaskan, untuk Yesus, karena memiliki Yesus adalah kekayaan yang sejati.

Mendefinisikan kekayaan sebagai jabatan di pekerjaan, status sosial, atau justru pada hal-hal yang bersifat kekal adalah sebuah pilihan hidup. Menjadi orang kaya bukanlah dosa, tapi kekayaan dapat menjadi penghalang bagi hati yang tidak waspada.

“Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaanNya memberikan segala sesuatu untuk dinikmati”.
(1 Timotius 6:18)

Monday, August 24, 2020

THE LAST = THE FIRST? HOW COME!


by Benita Vida

Siapa sih, yang tidak mau jadi orang yang diutamakan, atau jadi orang nomor satu (dari depan, tentunya)? Apalagi kalau kita seorang wanita, wah… pengen banget jadi yang pertama dan diutamakan. Kan, ada istilah “ladies first”, tuh. Bahkan di beberapa tempat, ada tempat parkir dan diskon khusus bagi para wanita di hari-hari tertentu. Hayo, siapa yang pernah memanfaatkan situasi seperti itu? Hahahaa...

Semua orang ingin menjadi yang pertama dan diutamakan. Gimana nggak? Semua orang berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama; sejak kita bersekolah saja sudah dikenalkan sistem ranking, begitu juga sistem di dalam dunia ini yang membuat manusia berlomba-lomba mau jadi nomor satu. Bahkan saat mengantre pun kita tidak sabar untuk segera berada di depan kasir (apalagi kalau antrean cukup mengular). Tapi pertanyaannya, salahkah jika kita ingin jadi yang terdepan? Hmmm... sebenarnya nggak, sih. Disadari atau tidak, insting kita—secara alamiah—memiliki kecendurungan untuk menginginkan hal itu. Namun keinginan ini justru menjadi sesuatu yang salah adalah ketika kita mengusahakan segala cara yang tidak benar, bahkan menyakiti orang lain.

Merasa diutamakan itu penting karena itu membuat kita menyadari bahwa orang lain menghargai kita, tetapi menjadi yang pertama dan diutamakan bukanlah segalanya.

Salah satu hal yang diajarkan oleh dunia adalah agar kita harus menjadi yang pertama. Kita dituntut harus bisa menguasai segala sesuatu. Karena itulah, kita memiliki mindset untuk berlomba-lomba menjadi yang terdepan. Kalau kita lengah dan mengalah, posisi itu bisa direbut oleh orang lain. Nah, disadari atau tidak, kita justru menjadi orang yang egois dan mudah iri hati. Kita marah jika ada orang lain yang lebih pintar dari kita, kita iri jika orang lain malah lebih berhasil dari kita. Akibatnya, keegoisan dan rasa iri hati ini membuat banyak orang menghalalkan segala cara hanya untuk bisa mendapatkan posisi yang utama. Misalnya, kita menyontek saat ujian agar mendapatkan nilai yang baik—bahkan juara pertama; kita “menginjak” dan memanfaatkan orang lain dalam perusahaan kita agar kita bisa dipromosikan. See? Dunia menyatakan bahwa menjadi yang pertama dan yang utama berarti kita menguasai segala hal, orang-orang hormat dan tunduk sama kita, juga menjadi orang yang dilayani dalam berbagai hal.

Tapi pernahkah Pearlians berpikir... Kenapa kita bisa memiliki keinginan untuk selalu menjadi yang diutamakan?

Alasannya bisa bermacam-macam. Mungkin saat masih anak-anak, kita dituntut oleh orang tua untuk memperoleh peringkat terbaik di kelas maupun perlombaan tertentu (bahkan sekolahan). Bisa saja ini dikarenakan mereka melihat potensi di dalam diri kita, sehingga “harapannya” kita mengerahkan seluruh usaha untuk mencapai hasil yang terbaik. Namun tidak jarang pola seperti ini terjadi karena orang tua kita sendiri tidak sanggup memenuhi tuntutan orang lain di masa lalu (misalkan kakek-nenek kita, atasan, dan sebagainya). Selain itu, kalau berada di posisi terdepan, kita akan merasa lebih diterima oleh orang lain; harga diri pun akan meningkat. Lebih asyik, kan, kalau kita dianggap lebih hebat daripada orang lain? Padahal kalau mau jujur, sebenarnya ada perasaan bahwa kita ingin diterima sebagaimana adanya kita (literally)—bukan hanya melulu karena pencapaian kita.

Lalu, apa kata Tuhan Yesus mengenai hal ini?

Kita bisa membacanya di Lukas 14:7-11. Di suatu hari Sabat, Yesus—yang datang ke rumah salah satu pemimpin orang Farisi untuk makan bersama—baru saja menyembuhkan seorang penderita busung air. Berhubung saat itu sedang dilangsungkan perjamuan makan, ada beberapa tamu yang berusaha menduduki tempat kehormatan di sana. Nah, berbeda dari pemikiran mereka untuk berusaha dipandang para tamu yang lain, Yesus mengajarkan hal sebaliknya.

Bagi-Nya, ketika kita merendahkan hati dan diri masing-masing, justru itulah yang akan membuat kita menjadi yang terutama. Hmm, aneh ya? Bagaimana caranya bisa jadi nomor satu tapi posisinya paling rendah? Dalam perumpamaan-Nya, Yesus mengajarkan kalau diundang dalam suatu acara, jangan sampai kita langsung mengambil posisi paling depan, melainkan mengambil posisi paling belakang supaya sewaktu pemilik acara melihat kita, pemilik acara tersebut yang akan memanggil kita dan membawa kita ke posisi paling depan. 

Yesus ingin agar sebagai anak-anak Allah, kita tidak menjadi sombong dan menganggap diri sendiri lebih baik dari orang lain. Sebaliknya, Dia memberikan teladan supaya kita menjadi rendah hati dan mengutamakan orang lain—sebab yang akan meninggikan dan membawa kita ke posisi paling depan adalah si pemilik acara, yaitu Tuhan sendiri. Kalau menggunakan istilah dalam bisnis, “promosi” itu datangnya dari Tuhan dan bukan karena kehebatan atau usaha kita.

Kenapa sih, harus jadi yang terendah supaya bisa jadi yang terutama?

Kenapa yang terakhir bisa menjadi yang pertama? Ini hukum yang aneh, atuh. Bagaimana caranya?

Coba deh, kita perhatikan tokoh-tokoh dan pahlawan iman yang kisahnya diceritakan di dalam Alkitab. Sadarkah kita kalau Tuhan mengambil mereka dari posisi terendah, dan Dia sendiri yang membawa mereka ke tempat tertinggi. Contohnya adalah Daud. Dia adalah anak yang paling kecil dan hampir dilupakan sama papanya sendiri (baca 1 Samuel 16:1-13, khususnya pada bagian Samuel mengundang seluruh keluarga Isai, namun Daud malah masih menggembalakan kambing domba). Bukannya memilih kakak-kakaknya, Tuhan justru memilih Daud yang seperti itu untuk menjadi raja di Israel. Belum lagi Yusuf, salah satu anak Yakub yang termuda (sekaligus anak kesayangan).Walaupun di awal dia dibenci oleh para saudaranya, pernah menjadi budak dan mantan narapidana, tapi Yusuf malah menjadi orang kepercayaan Firaun—dimana semua orang harus tunduk dan taat dengan kata-katanya. Siapa yang sangka orang-orang dengan masa lalu yang buruk dan bisa dibilang orang “rendahan” tapi bisa sukses dan jadi orang nomor satu. Tentunya, semua ini hanya bisa terjadi karena Allah berkenan untuk memilih mereka. Well, bukankah perkenanan-Nya tidak bisa digoyahkan oleh perlawanan manusia?

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat...”
(1 Korintus 1:27)

Di sisi lain, Yesus juga ingin agar kita memahami bahwa potensi yang dimiliki tidak membuat posisi kita menjadi yang pertama di hadapan Allah. Alasannya karena Allah melihat jauh ke dalam hati kita, He sees our motivation! Itulah sebabnya kerendahan hati adalah kunci yang penting bagi kerajaan Allah. Ya, bertentangan dari apa yang dunia ajarkan, kehormatan di hadapan Allah hanya bisa didapat dengan memiliki kerendahan hati—bukan keegoisan dan iri hati. Bagi Allah, karakter dan sikap hati kitalah yang terpenting. Dia menghargai orang yang mau dibentuk dan memiliki hati yang teachable.

Mungkin ketika menerapkan prinsip kerajaan Allah ini, rasanya progress kita dalam mencapai sesuatu cenderung lebih lambat dari orang lain yang (mungkin) sampai harus saling menyikut. Bisa saja kita merasa minder karena posisi terbelakang yang kita alami. Namun bukankah berkat Tuhan tidak selalu tentang materi dan prestasi? Bukankah Dia juga menghargai proses pembentukan karakter kita? Lagipula, Tuhan tidak menjanjikan bahwa kesuksesan akan selalu bersama kita—karena bagi-Nya, penyertaan-Nya bagi kitalah yang lebih penting. Who knows, melalui kerendahan hati kita, orang lain menemukan Pribadi yang selama ini mereka cari? Who knows, mereka justru memberikan respect yang lebih kepada kita ketika melihat bagaimana kita tetap berada di track yang benar (menurut firman Tuhan) untuk memperoleh sesuatu?

Karena itu, baik saat kita sudah berada di posisi terdepan menurut manusia, “biasa saja”, bahkan di tempat yang paling dianggap remeh oleh orang lain, kiranya ayat ini menjadi pengingat kita:

Apapun juga yang kamu lakukan, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.
(Kolose 3:23-24)

Monday, August 17, 2020

Siapakah Yang Terbesar?


by Yunie Sutanto

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"
(Matius 18:1 / TB)

Hasrat untuk menjadi yang paling besar rasanya ada di hati setiap manusia. Ingin jadi yang terpandai, ingin jadi yang tercantik, ingin jadi yang paling hebat! Sangat manusiawi. Bahkan di Markus 9:33-37 pun tercatat jelas bahwa para murid sempat bertengkar saat membicarakan siapa yang terbesar di antara para murid.

Siapakah yang paling besar? Yuk kita main tebak-tebakan sejenak. 

Siapakah pesulap paling besar? Sepintas terlintas di benak beberapa nama: Harry Houdini, David Copperfield dan Shin Lim. Saat mencoba mencari di Google search ternyata nama-nama pesulap ini memang muncul dalam deretan pesulap terbesar sepanjang masa.

Tebakan berikutnya: Siapakah kira-kira yang layak dinobatkan sebagai wanita tercantik di dunia? Bingung deh kalo yang ini, sebab bukankah cantik itu relatif? Wah, ternyata ada juga sebuah situs penyelenggara polling yang meminta responden dari seluruh dunia untuk menobatkan siapa gerangan 100 wanita tercantik di bumi!

Hasrat untuk unggul memang sesuatu yang manusiawi. Keinginan itu disuburkan oleh perasaan ingin diakui, dikagumi, dan dipuja… yang ujung-ujungnya berkembang menjadi ingin dimuliakan.

Kembali ke nats bacaan kita tadi. Terbesar versi Alkitab memang berbeda dari versi dunia. Lantas, apa sih jawaban Yesus saat para murid-Nya – yang ternyata juga punya hasrat untuk jadi yang terbesar, bertanya pada-Nya: “Siapakah yang terbesar di Kerajaan Sorga? Siapakah dari antara para murid yang paling besar?”

Yuk simak baik-baik Matius 18:2-5 (TB):

Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."

Jawaban Yesus cukup to the point. Ia memanggil seorang anak kecil. Ia tidak memanggil orang bijak, sarjana terpelajar atau orang hebat untuk dipelajari pengalaman hidupnya. Tidak! Yesus malah memanggil seorang bocah ingusan. Jangankan menjadi terbesar di Kerajaan Sorga, masuk Sorga pun tidak bisa kalau kita tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil! Orang yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecillah yang terbesar di Kerajaan Sorga. 

Lantas mengapa anak kecil ya? Ada apa gerangan dengan anak kecil? Sikap hati seorang anak kecil rupanya yang menjadikan seseorang "besar" di Kerajaan Sorga.

Seperti apa sih sikap hati seorang anak kecil itu?

RENDAH HATI & TEACHABLE; Seorang anak mudah belajar apapun dari siapapun, kapanpun dan dimanapun. Ia punya sikap hati yang penuh rasa ingin tahu sehingga ia mudah diajari. Ia tidak sok tahu dan merasa sudah mengerti. Anak kecil itu punya kualitas hati yang mudah diajar. Bukankah semangat pembelajar seorang murid Kristus itu seyogyanya demikian? 

MURNI HATI; Anak kecil mempunyai sikap hati yang murni hatinya. Seseorang yang punya sikap hati seperti anak kecil bisa melihat Tuhan dalam segala sesuatu. Senantiasa menyadari bahwa Tuhan hadir dalam segala fase kehidupan, bahkan dalam hal-hal kecil pun Tuhan hadir.

DEPENDANT; Orang yang mempunyai sikap hati seperti anak kecil sadar bahwa ia lemah dan ia membutuhkan otoritasnya. Ia mempunyai sikap hati yang bergantung pada Tuhan. Ia tidak mengandalkan kekuatan dirinya dan bermegah atas kemampuannya.

MUDAH MENGAMPUNI; Orang yang punya sikap hati seperti anak kecil tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia mudah melupakan kesalahan orang dan mudah mengampuni. Lihatlah anak-anak bermain gundu yang berantem, tak lama berselang mereka sudah main bareng lagi. 

Alih-alih berlomba meninggikan diri, mari belajar untuk merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini. Sebab, bagi Allah, justru orang yang demikianlah yang Ia anggap terbesar dalam Kerajaan Sorga.

Monday, August 10, 2020

Mengasihi Walau Pedih


by Poppy Noviana

Suatu pagi, adik saya berinisiatif untuk pergi mengunjungi saudara yang sudah lama sekali tidak kami kunjungi—karena ada perselisihan di antara kami. Memang kondisinya semakin diperburuk karena saya merasa berada di posisi yang lebih benar dalam perkara tersebut. Mereka menyakiti saya dan tidak peduli pada hidup saya, bahkan saat ada di titik terendahpun, mereka tidak hadir untuk menolong saya. Mereka sangat arogan dan cenderung egois. Tidak hanya itu, sampai detik ini, saya belum pernah mendengar kata maaf dari mereka. Itulah sebabnya saya lebih suka untuk tidak berhubungan lagi dengan mereka setelah perselisihan yang terjadi. Wajar dong, ya? Kalau kata netizen, itu manusiawi banget!

Pagi itu pun saya cukup kaget, karena saya tidak menyangka bahwa adik saya dan pacarnya akan berkunjung ke sana untuk silaturahmi. Saya sadar ini bukan gerakan pembalasan namun awal suatu pemulihan, sebab saudara kami ini memang baru saja kehilangan seorang anggota keluarganya. Saya tidak melarang adik saya dan justru mendukungnya, namun untuk ikut ke sana? Hm, rasanya saya masih perlu waktu untuk memulihkan diri. Yah… saya bukan memaksudkan cerita ini sebagai sesuatu yang bisa diteladani, sih. Bahkan melalui tulisan ini, saya juga sedang berjuang dalam menyelesaikan masa lalu saya—khususnya melepaskan pengampunan kepada orang-orang yang merasa lebih benar, sementara saya merasa layak untuk marah kepada mereka.

Saya tahu kalau tidak mengampuni akan merugikan diri sendiri; dan menyadari bahwa tanpa kasih, semua yang saya lakukan untuk Tuhan adalah sia-sia. Namun di sisi lain, saya tetap berdoa untuk para saudara saya dan untuk hati ini, agar saya bisa benar-benar mengampuni mereka dengan sepenuh hati dan itu terlihat dari perbuatan saya kepada mereka. Hal ini bukan perkara mudah, namun saya mau melakukannya karena ini perintah Tuhan. Toh Dia juga sudah mengampuni saya—yang sebenarnya tidak layak untuk diampuni atas dosa-dosa saya.

"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan
apa yang Aku katakan?”
(Lukas 6:46)

Masih ingat dengan peristiwa Yudas yang mengkhianati Yesus? Saat itu, Yudas menjual Yesus sebesar 30 keping perak untuk kepentingan dirinya sendiri. Yesus tahu akan hal itu: Dia tahu bahwa Yudaslah yang akan mengkhianati-Nya, tapi Dia tetap memperlakukan Yudas dengan baik.

Lah? Kok, bisa?

Berbeda dari kita, fokus Yesus adalah pada kekekalan—bukan peristiwa yang terlihat saat itu. Bahkan pada momen klimaks pengkhianatan Yudas yang berupa ciuman (Lukas 22:47-48), emosi-Nya juga stabil. Mungkin saja hal itu terjadi karena di dalam natur kemanusiaan-Nya, Yesus juga sering berhadapan dengan Iblis dan orang fasik yang “suka” menguji kesabaranNya. Bayangkan saja, ketika orang fasik merasa dirinya lebih benar dari Yesus—padahal Dia adalah Tuhan, Sang Sumber Kebenaran!—menurut saya, Dia sangat berhak untuk marah. Duh… Walaupun demikian, Yesus tetap bisa mengendalikan diri dan—nantinya—berdoa agar Allah mengampuni mereka yang menyalibkan-Nya (Lukas 23:34).

Kisah ini membuktikan bahwa dalam natur kemanusiaan-Nya, Yesus juga pernah disakiti dan dikhianati oleh orang terdekat-Nya. Yesus tidak hanya asal mengajar tentang pentingnya pengampunan melalui perkataan, namun juga memberikan teladan sempurna dalam penyaliban-Nya—sesuatu yang tidak akan dilakukan oleh manusia berdosa! Mana ada orang yang bisa dengan mudahnya benar-benar mengampuni, apalagi jika dia dilukai oleh orang yang selama ini dipercayainya!?

Semakin dekat relasinya, maka semakin besar pula kesempatan kita untuk melukai orang lain. Kesadaran akan hal ini mendorong saya untuk melatih diri agar hanya mengandalkan Allah sebagai satu-satunya sumber kepuasan dan pertolongan—bukan dari manusia. Ya, sebagai Pencipta, hanya Allah yang paling memahami dan mengasihi saya. Bahkan Dia merelakan Yesus Kristus, Putra Tunggal-Nya, untuk menebus saya di kayu salib—sebuah pengorbanan yang sangat berarti bagi saya secara pribadi.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
(Matius 5: 39-45)

Ketujuh ayat di atas memang mudah untuk hanya dibaca, namun melakukannya? Duh… rasanya harga diri ini jadi tercabik-cabik, kan? Bukannya ingin kembali menjalin relasi yang telah berubah, kita justru memilih menghindar dengan alasan “masih memulihkan hati”. Hmm… healing takes time, sih. Tapi mungkin luka yang sedang “dipelihara” ini membuat kita menyadari “the unknown me” yang selama ini tidak kita kenali. Ternyata kita adalah manusia yang rapuh dan tidak berdaya untuk memulihkan luka ini sendirian, sehingga untuk mengampuni orang lain pun tidak sanggup. Meski demikian, Yesus menguatkan kita: ketika kita mengasihi dan mengampuni seseorang melebihi dari yang bisa dilakukan oleh yang bukan-orang-percaya, sebenarnya kita sedang menghadirkan citra Bapa bagi orang lain—khususnya yang telah melukai kita.

Lalu bagaimana agar kita bisa mengampuni musuh dan berdamai dengan mereka, seperti yang diperintahkan dan dilakukan Yesus?

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
(Matius 5:46-48)

Menjadi serupa Kristus berarti memiliki prinsip hidup, cara hidup, dan pengambilan keputusan seperti Kristus. Yah, itulah panggilan hidup bagi setiap kita yang sudah mengakui Yesus sebagai Juruselamat secara pribadi. Artinya, saat kita berani memaafkan orang-orang yang selama ini membenci maupun melukai kita, sebenarnya kita juga sedang mengerjakan panggilan kita dan bertumbuh dewasa menjadi pribadi yang berkarakter seperti Kristus. Walaupun prosesnya membutuhkan waktu yang tidak sebentar (bahkan bergalon-galon air mata), Roh Kudus juga menolong kita untuk memiliki kehidupan yang lebih sehat secara jiwa dan emosi.

Sebuah pengampunan hanya bisa diberikan ketika kita benar-benar mengenal identitas kita sebenarnya di hadapan Allah. Yaps, kita adalah anak-anak Allah yang diterima-Nya dengan penuh anugerah melalui penebusan Kristus, dan dibebaskan dari penghakiman yang seharusnya kita terima. Kita juga adalah umat pilihan yang sudah dipersiapkan juga untuk suatu pekerjaan baik oleh Allah, dan kita tidak bisa dipisahkan dari kasih Allah. Sebagai orang percaya, kita juga dijadikan-Nya warga kerajaan Allah! Karena itu, kita harus menerima kebenaran ini sebagai suatu yang membebaskan dan mengingatkan kita untuk tidak menempatkan diri pada posisi yang “lebih benar”, “lebih baik”, ataupun “lebih berhak marah kepada mereka yang menyakiti” kita. Ini artinya kita juga harus mengikis ego diri sendiri; toh Bapa telah mengampuni kita—bahkan ketika kita masih berdosa!

Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya. Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.
(Lukas 6:47-49)

Salah satu buah dari pertobatan adalah pemberian pengampunan kepada orang lain. Jika demikian, pertanyaannya adalah… haruskah kita mengampuni semua orang—literally? Hmm… tentu kita memerlukan hikmat agar tidak salah dalam menyikapi hal ini. Walaupun rasanya pedih, kita harus mengimani dan mengamini bahwa kita tidak sendirian: ada Allah yang juga merasakan kepedihan itu! Dia juga memahami betapa sulitnya untuk tetap mengasihi orang-orang yang sudah melukai kita. Karena itu, kita perlu jujur kepada Allah tentang hal ini. Kerapuhan kita yang disebabkan oleh dosa membuat kita tidak berdaya untuk memberikan pengampunan dengan tulus kepada orang lain. Kiranya melalui keterbukaan dan penyerahan hati yang hancur ini, kita dimampukan-Nya untuk berkata, “Let my life reflect Your heart”[1], karena kita juga dipanggil untuk memancarkan hati Allah kepada orang-orang yang bahkan telah melukai kita sebagai sebuah bentuk ibadah yang sejati.


[1] Make My Life a Sacrifice, oleh Joseph Martin dan Jan McGuire