Monday, July 13, 2020

Akhirnya Aku Mengerti



by Glory Ekasari

Ketika masih SMA, saya sangat tidak suka pelajaran Fisika. Aneh, karena saya mengambil jurusan IPA. Selama dua tahun, pelajaran itu menjadi “duri dalam daging” bagi saya. Nilai Fisika saya? Yah, yang penting cukuplah untuk lulus. Hahaha.

Kenapa saya tidak suka Fisika? Alasannya sederhana: karena saya tidak paham dengan apa yang diajarkan. Saya tidak mengerti buat apa saya harus menghitung volume air yang tumpah saat seseorang melemparkan benda padat ke dalam air, atau berapa kecepatan benda pada saat di udara, di posisi tertentu di kurva parabola. Satu-satunya bab yang saya kuasai adalah tentang gelombang (bunyi) karena saya bisa bermain musik. Selain itu saya tidak paham, cara mengajar oleh gurunya tidak menarik, dan saya merasa semua itu tidak berguna.

Tapi lalu sesuatu yang “ajaib” terjadi. Semakin bertambahnya usia, semakin saya sadar bahwa fisika ada di mana-mana. Dia ada di barang elektronik yang saya pakai, dia ada di jalan yang saya lewati, dia ada di rumah yang saya tinggali, dia ada di tubuh saya! Dan saya jadi bertanya-tanya, KENAPA saya tidak menyadari ini dari SMA dulu?? Semua yang diajarkan ke saya saat sekolah, baru masuk akal sekarang, setelah lama waktu berlalu.

Hal yang hampir sama pernah saya alami dalam hal rohani. Saya lahir baru ketika masih berusia belasan tahun. Sejak itulah saya mulai mengenal Tuhan secara pribadi. Momen itu tiba di suatu malam, ketika saya sedang berbaring sambil memandangi langit-langit kamar. Ketika sedang berpikir bagaimana saya mulai mengenal-Nya, tiba-tiba ayat-ayat Alkitab yang saya hafalkan selama bertahun-tahun di Sekolah Minggu muncul dalam pikiran saya—seolah-olah ditulis di langit-langit kamar saya. Saat itu saya berkata, “Ooohh, ternyata itu maksud ayat-ayat yang saya hafalkan!” dan Alkitabpun menjadi hidup dalam hati saya.

Tanpa saya sadari, saya adalah murid “berprestasi” di Sekolah Minggu selama bertahun-tahun tanpa mengerti apa yang saya hapalkan. Namun pada hari itu, Roh Kudus menjelaskan kepada saya apa arti semuanya itu. Suddenly, everything makes sense.

Pengalaman seperti itu sangat berharga bagi saya secara pribadi, tapi sebenarnya bukan hanya saya yang mengalaminya. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus memenuhi murid-murid Yesus. Petrus berkhotbah di hadapan ribuan orang, dan dia mengutip ayat demi ayat dari Perjanjian Lama. Saya yakin bahwa Petrus bukan hanya sedang mengajar orang banyak itu, tapi dia juga berbicara kepada dirinya sendiri. Akhirnya Petrus mengerti apa yang dikatakannya! Petrus, yang dulu bertanya pada Yesus, “Tuhan, apa arti perumpamaan yang baru Engkau sampaikan?” hari itu MENGERTI siapa Guru yang ia ikuti selama tiga tahun terakhir. Inilah yang Yesus maksud ketika Dia berkata:

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.”
(Lukas 8:16-17)

Firman Tuhan adalah pelita, dan pelita itu tidak dinyalakan hanya untuk disembunyikan. Yesus mengatakan perumpamaan ini setelah menjelaskan tentang perumpamaan penabur. Pada saat itu, murid-murid-Nya belum mengerti apa yang Yesus maksud. Tapi pada waktunya, kebenaran pun bercahaya sehingga merekapun mengerti.

Perkataan Yesus ini juga mengingatkan kita pada satu hal yang penting: Firman Allah memiliki kuasa supranatural untuk mengubah hidup seseorang; dan karena itu, hanya Allah yang sanggup menjelaskan firman-Nya kepada roh kita.

Kenapa saya pakai istilah “kepada roh kita”? For a reason too well understood: banyak orang mengerti tentang Yesus dalam pikirannya, tapi entah kenapa mereka tidak bisa mengenal Dia. “Allah itu Roh,” kata Tuhan, “dan barangsiapa menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam Roh dan kebenaran” (Yohanes 4:24). Kita tidak bisa menyembah Dia hanya dengan pikiran kita, atau hanya dengan perasaan kita. Kita tidak menyembah Dia pertama-tama di gereja, tapi di dalam diri kita. Pengenalan akan Tuhan adalah sesuatu yang rohani—melibatkan roh kita dan Roh Kudus. Ini adalah sebuah misteri, dan Tuhanlah yang bekerja dalam hal ini—melampaui apa yang dapat kita pikirkan dengan logika yang terbatas.

Apa yang membedakan Petrus satu menit sebelum ia dipenuhi Roh Kudus dan satu menit sesudahnya? Pengetahuannya tidak bertambah, pengalamannya tetap sama, sepertinya tidak ada yang berubah. Tapi pada detik yang sangat krusial itu, Roh Kudus menjamah Petrus dan melakukan sesuatu pada rohnya, dan seolah-olah terang menyinari matanya: Petrus dapat melihat segala kebenaran Allah yang ada dalam diri Yesus; dan firman Allah yang dibacanya dalam Kitab Suci (yang waktu itu berisi Perjanjian Lama) menjadi hidup, dan dia tiba-tiba mengerti bahwa itu semua adalah tentang Yesus. Lama sebelum peristiwa Pentakosta, Daud berdoa, “Singkapkanlah mataku, sehingga aku dapat memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu” (Mazmur 119:18). Bagi saya, ini adalah salah satu doa terindah yang pernah dipanjatkan manusia kepada Tuhan.

Betapapun indahnya memandang terang kebenaran dan memilikinya dalam hati kita, kita tidak bisa menyimpannya sendiri. Karena itu, Tuhan Yesus melanjutkan perkataan-Nya:

“Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”
(Lukas 8:18)

Yesus telah menabur kebenaran di hati para murid-Nya. Setelah Dia naik ke surga, tanggung jawab untuk menabur itu diestafetkan kepada mereka. Menutup perumpamaan ini, Yesus menyatakan satu prinsip yang penting: semakin sungguh-sungguh kita membagikan kebenaran yang diterima, semakin banyak yang akan dipercayakan kepada kita. Sebaliknya, apabila kita menyimpan apa yang kita dapat untuk diri kita sendiri dan tidak membagikannya, kita seperti hamba yang dipercayakan satu talenta itu: talentanya diambil dan dia ditinggalkan tanpa memiliki apapun.

Sulit membayangkan orang mengenal Pribadi seindah Yesus dan tidak punya keinginan untuk membicarakan tentang diri-Nya dengan orang lain. Kita mungkin tidak bisa membahas tentang Yesus secara frontal kepada setiap orang yang kita temui. Tapi ketika ada kesempatan, rasanya sangat aneh bila kita tidak mengambil kesempatan itu. Baik itu dalam percakapan sehari-hari, maupun saat kita diberi kesempatan untuk membagikan firman Tuhan.

Semakin dalam saya mengenal Tuhan Yesus, semakin saya ingin orang bertanya kepada saya tentang diri-Nya, supaya saya bisa menjelaskan betapa luar biasanya Dia. Tapi sebaliknya, ketika saya belum mengenal Tuhan Yesus, saya pasti bingung, bahkan menghindar kalau ditanya orang lain tentang iman saya. Karena itu semuanya harus dimulai dari diri kita masing-masing: kita harus mengenal Tuhan secara pribadi. Atau lebih tepatnya, Tuhan harus menyatakan diri kepada kita. Dia harus menyinari kita dengan Roh-Nya dan memimpin kita “kepada seluruh kebenaran” (Yohanes 16:13). Kita bisa meminta pernyataan ini kepada-Nya, dan permintaan itu pasti dipenuhi:

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
(Lukas11:13)

Biarlah ini menjadi kerinduan kita, karena seperti yang dikatakan sebuah lagu, tidak ada hal di dalam hidup ini yang lebih baik dibandingkan dengan mengenal Dia yang menciptakan kita:


Dan ku ingin mengenal-Mu, Tuhan
Lebih dalam dari semua yang kukenal
Tiada kasih yang melebihi-Mu
Ku ada untuk menjadi penyembah-Mu

Monday, July 6, 2020

Undangan Pesta dari Sang Raja


by Poppy Noviana

Pada suatu hari berjalanlah seorang pemuda lalu masuklah Ia ke suatu tempat untuk mengajarkan kebenaran. Banyak orang berkumpul untuk mendengarkannya. Ada orang yang ingin belajar, ada orang yang hanya ingin menguji Sang Pengajar. Ada pula orang-orang tua berpengalaman yang ikut hadir disana. Pengajaran pemuda itu menarik sekali. Ia bahkan sering menggunakan perumpamaan, dan semua orang diperbolehkan untuk bertanya langsung kepada Sang Pengajar. 

Seperti itulah biasanya situasi apabila Yesus sedang mengajar. 

Perumpamaan seringkali diberikan untuk mempermudah pendengarnya dalam memahami pengajaran Yesus. Terutama bagi mereka yang belum benar-benar mengenal Dia dan Kerajaan-Nya. Seperti yang dikatakan di Alkitab, "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (Mat 13:11-12)

Pada artikel kali ini, kita akan membahas secara sederhana mengenai perumpamaan Kerajaan Allah seperti perumpamaan perjamuan kawin. Hal ini tentu bukan hal yang sederhana. Saya berdoa, semoga Tuhan memberi hikmat agar kita bisa mengenal kehendak-Nya. 

Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.” 
(Matius 22:1-2)

Seperti perumpamaan Yesus, Kerajaan Sorga layaknya sebuah pesta raja dimana orang-orang yang mendapat undangan saja yang bisa masuk kesana. Tapi apakah hanya butuh sekedar undangan? Karena kenyataannya, “Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.”

Bayangkan, seorang raja begitu baik mau mengundang orang-orang agar datang ke pestanya. Tapi, bukan undangan itu saja yang menentukan. Syarat pertama agar seseorang bisa masuk ke Kerajaan Sorga, adalah respon. Sia-sia undangan dari kerajaan, apabila respon dari orang yang diundang justru menolaknya. Hal ini seperti perumpamaan Kristus yang berdiri di muka pintu dan mengetuk, menunggu kita membukakan pintu bagi Dia, supaya Dia bisa masuk dan makan bersama-sama dengan kita (Wahyu 3:20). Yang penting adalah respon, menerima atau menolak. Dalam konteks pesta raja ini, orang-orang yang diundang justru menolaknya. 

Bagian selanjutnya perumpamaan Yesus, menjelaskan kenapa orang-orang itu menolak undangan dari Raja. 

Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.
(Mat 22:3-8)

Dari bagian ini, kita mengerti bahwa ada orang-orang yang memang secara asli diundang oleh raja untuk memperoleh hidangan dan tempat dalam perjamuan, yaitu bangsa pilihan Allah. Mereka adalah orang-orang yang dirancang sejak awal untuk menikmati bagian dari kerajaan-Nya, namun sayangnya mereka yang tidak mengindahkannya. Alih-alih datang ke pesta raja, orang-orang itu justru sibuk mengerjakan hal lain. Ibaratnya, sudah diberi kesempatan dan kemurahan, namun tidak dihargai dan dianggap tidak penting. Prioritas mereka bukan kekekalan. Mereka menempatkan keamanan dan prioritas hidupnya pada hal-hal yang bersifat sementara, seperti pekerjaan, bisnis, dan bahkan menghakimi kebenaran yang sudah mereka dengar dan lihat melalui anak-anak Allah yang diutus serta Roh Kudus sendiri yang sebenarnya sudah berbicara dalam kehidupan mereka. Dari sini, bisa disimpulkan bahwa syarat kedua masuk ke kerajaan surga adalah hidup yang fokus pada hal-hal kekal. 

Wajar memang jika kemudian raja menjadi murka karena pesta yang sudah dipersiapkan dengan baik, malah disia-siakan begitu saja. Apalagi, sebagai raja, selama ini ia bertanggung jawab pada hidup rakyatnya, sebagaimana Tuhan sebagai pencipta, memelihara kehidupan umat ciptaan-Nya. Seberapa banyak dari kita, sebagai makhluk ciptaan, justru berhenti mengutamakan Pencipta kita, karena seluruh energi dihabiskan untuk mengasihi ciptaan-Nya yang lain. 

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
(Mat 22:9-13)

Pada akhirnya, undangan kedua diberikan kepada siapapun tanpa terkecuali, tidak peduli apapun latar belakang seseorang, tidak peduli apakah dia baik atau jahat. Mereka boleh turut masuk dalam kerajaan-Nya, diberi kesempatan dan kemurahan untuk menikmatinya sesuai perkenanan Raja, karena kerinduan Raja adalah banyak orang datang ke pestanya, bersukacita bersama dia. Seperti kerinduan Tuhan adalah semua orang diselamatkan.
(I Timotius 2:4)

Tapi, raja menghendaki semua orang yang datang ke pestanya mengenakan pakaian pesta yang layak. Ia memang raja yang penuh kasih, namun ia juga raja yang adil, sehingga hanya yang layak yang pantas yang akan bertahan memperoleh tempat dalam kerajaannya. Mengatakan ‘ya’ pada undangan Raja, bukanlah akhir cerita. Sama halnya seperti menerima Tuhan dan Juru Selamat juga bukan akhir dari perjalanan iman kita, tapi justru sebuah awal. Lalu apa yang harus kita lakukan? Coba pikirkan apa yang Yesus inginkan semasa hidup, apa yang Ia percaya, apa yang Ia larang, lalu lakukan semuanya dalam kehidupan sehari-sehari. 

Seringkali diantara kita mungkin ada yang sudah mengenal Allah dari lahir, atau mungkin mengenal Dia sejak masa remaja, namun apakah kita benar-benar mengenal artinya percaya dan melakukan kehendak-Nya? Saya rasa belum tentu. Contohnya, orang Saduki dan orang Farisi, mereka tahu namun mereka tidak melakukannya. Jadi, kapan kita mengenal Tuhan bukanlah masalah, selama kita bisa setia sampai pada akhirnya.

Bagian ini menjelaskan bahwa kehidupan di dunia merupakan waktu yang cukup untuk kita mempersiapkan diri bagi Kerajaan Sorga. Percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, hidup melakukan Firman dan kebenaran, adalah bentuk mengindahkan undangan raja dan menjahit pakaian pesta agar layak mengambil bagian dalam kerajaan Allah. Percaya dan taat adalah prinsip yang perlu terus menerus dikerjakan sampai hari perjamuan itu tiba. 

Undangan masuk ke Kerajaan Sorga diberikan kepada siapa saja. Ada yang menolaknya mentah-mentah, ada pula yang datang tanpa memperhatikan apa yang harus dipersiapkan. Sama halnya seperti Kristus yang mati dan bangkit untuk semua orang, tapi tidak semuanya mau percaya pada kuasa-Nya. Beberapa yang meresponi panggilan-Nya pun, tidak semua mempersiapkan hidupnya sungguh-sungguh untuk kedatangan Kristus yang kedua. 

Inilah syarat yang ketiga, melakukan kebenaran, mengerjakan keselamatan. Hal inilah yang membedakan kita dengan iblis, iblis juga percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah namun dia tidak taat, berdosa dan hamartia (menyesatkan). Apa yang kita perbuat adalah pertanggungjawaban atas iman kepada Allah. Bukankah Firman Tuhan mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan itu mati? 

Panduannya sudah disediakan, hikmatnya sudah diberitahukan di mana-mana, namun perihal menggunakan panduan dan pengetahuan tersebut lain hal, sebab dibutuhkan kedewasaan rohani dan keseriusan untuk sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Hidup dalam iman namun tidak melakukan kehendak-Nya, sama seperti masuk dalam perjamuan kawin tanpa memakai baju pesta.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.
(Mat 22:14)

Monday, June 29, 2020

Para Penggarap Kebun



by Yunie Sutanto

"Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain.
(Matius 21:33-35 / TB)


(Sebelum kita mulai, ada baiknya Pearlians membaca perikop Matius 21:33-46 terlebih dahulu)


Perumpamaan Penggarap Kebun Anggur sejatinya ditujukan Yesus bagi orang-orang Farisi, para ahli Taurat dan tua-tua Israel masa itu. Israel, yang notabene umat pilihan-Nya, telah dikhususkan oleh Allah untuk menggarap sebuah rencana illahi. Namun, merekalah yang justru menolak nabi-nabi utusan-Nya, dan bahkan saat Anak-Nya sendiri diutus untuk menggenapi rencana ilahi tersebut, mereka malah menyalibkan-Nya. Mereka digambarkan seperti para penggarap kebun yang menolak hamba-hamba utusan tuan tanah.

Saat tuan tanah pemilik kebun anggur itu tahu apa yang diperbuat penggarap-penggarap kebun anggur terhadap hamba-hambanya serta anaknya, apakah yang akan dilakukannya terhadap penggarap-penggarap itu? Maka Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan bertanggungjawab untuk menyerahkan hasil kebun pada waktunya. 

Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu. Sebab jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka. 
(Roma 11:11-12 / TB)

Saat rencana ilahi-Nya disambut dengan penolakan Israel, Allah mempersiapkan skenario lain. Kini, bangsa-bangsa lain pun beroleh kesempatan ikut menggarap kebun anggur rencana ilahi-Nya. Ada anugerah tersendiri bagi kita yang terpilih untuk percaya kepada Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat!

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.
(1 Petrus 2:9-10 / TB)


Marilah kita renungkan perumpamaan ini secara lebih kontekstual. 

Perumpamaan ini mengingatkan tentang tanggung jawab menggarap dan mengelola titipan ilahi. Perumpamaan ini mengajar kita sebagai umat-Nya bahwa kita adalah penggarap-penggarap kebun anggur-Nya. Ada tugas yang dipercayakan-Nya bagi kita, umat pilihan-Nya. Ada amanat Agung yang dititipkan untuk kita garap sampai musimnya tiba, saat Yesus datang kembali untuk kedua kalinya. 

Saat menyewakan kebunnya, sang tuan tanah mempercayakan pengelolaan kebun anggurnya pada para penggarap-penggarap kebun anggur. Ia pun bisa tenang berangkat ke negeri lain, sebab ia tahu kebun anggurnya sudah ada yang mengurus. Ia tinggal menunggu hasil panen anggur pada musimnya.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
(Yohanes 15:16 / TB)

Buah yang dihasilkan karena menggarap titipan ilahi, inilah yang Tuhan Yesus nantikan dari umat pilihan-Nya. Buah yang dihasilkan ini adalah untuk dipersembahkan bagi kemuliaan-Nya.


// MINDSET PENGGARAP VS MINDSET PEMILIK

Saya teringat curhat seorang ibu yang menyewa mainan rumah-rumahan untuk anaknya. Masa sewa mainan tersebut 1 bulan, boleh diperpanjang jika tidak ada peminat lain. Rupanya sebulan berlalu dengan cepat bagi si bocah. Ia sudah merasa terbiasa dengan adanya mainan rumah-rumahan tersebut. Saat tiba waktunya dikembalikan, ia meronta-ronta marah dan berujung tantrum. Mirip dengan si penggarap kebun anggur yang menolak memberikan hasil kebun anggur kepada tuan tanah, anak ini merasa memiliki mainan tersebut. 

Mindset seorang penggarap (baca: pengelola) adalah menyadari bahwa yang ia kelola hanyalah titipan yang harus dikembalikan. Masalah timbul jika si penggarap mempunyai mindset pemilik. Ia merasa memiliki dan berhak atas titipan tersebut. 

Hidup ini adalah titipan. Saat masanya tiba, bukankah kita pun akan diminta pertanggungjawaban oleh Sang Empunya Hidup, yakni Allah? 

Hidup di dunia ini ada batas waktunya. Apapun yang dipinjamkan kepada kita, ada masanya untuk dikembalikan pada Sang Pemilik, yakni Allah. 
  • Talenta yang dipercayakan pada kita, sudahkah kita kembangkan dengan maksimal?
  • Tubuh yang dianugerahkan pada kita, sudahkah kita rawat dengan baik? 
  • Harta yang dititipkan pada kita, sudahkah kita kelola dengan bijak?
  • Keluarga dimana kita dilahirkan dan ditempatkan, sudahkah kita kasihi sebagaimana mestinya? 
  • Anak yang dititipkan oleh-Nya untuk diasuh dan dibesarkan, sudahkah kita didik dalam kebenaran? 
  • Pasangan hidup yang ia percayakan untuk mendampingi kita, sudahkah kita kasihi seperti yang Tuhan kehendaki?
  • Begitu luasnya kebun anggur yang Dia percayakan dalam hidup kita, bukan?
Allah ingin kita memiliki mindset penggarap kebun anggur yang "tahu diri" dan bisa dipercaya. Penggarap yang selalu ingat bahwa kebun anggur kita hanya dipinjamkan untuk dikelola sebaik-baiknya bagi kemuliaan-Nya.

Kiranya kita dengan setia menggarap kebun anggur yang dipercayakan-Nya, hingga kebun Anggur kita berbuah lebat bagi kemuliaan Tuhan. Sebab buah-buah tak pernah berdusta. Dari buah-buah kehidupan kitalah, Allah mengenal kita. Dari buah-buah kita pula, Allah kita dikenal.

Mari terus menghasilkan buah bagi kemuliaan-Nya!

Monday, June 22, 2020

Menjadi Domba yang Dengar-dengaran pada Sang Gembala

oleh Benita Vida

Pernah dengar perumpamaan domba yang hilang? Pasti sudah sering sekali ya, bahkan sudah hafal ceritanya. Setidaknya kita mendengar atau membacanya satu kali—entah itu saat masih menjadi anak sekolah Minggu, maupun dari khotbah di kebaktian. Dari situ kita tahu bahwa “domba” itu adalah manusia yang tersesat dalam dosa, dan “gembala yang baik” adalah Tuhan sendiri. Kita juga sudah paham bahwa perumpamaan ini menegaskan bahwa Allah sangat mengasihi kita—bahkan Dia mencari sedemikian rupa hingga seekor domba yang hilang (yaitu kita) itu ditemukan-Nya. Setelah menemukan si domba, gembala itu (yaitu Allah) akan membuat pesta besar; artinya, surga bergembira karena “ada satu orang yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Lukas 15:7)

Tapi kali ini, mari kita melihat perumpamaan ini dari cara pandang lain.

Sebagai domba yang sangat dikasihi, kita sering terhilang—bukan cuma satu kali, tapi berkali-kali. Salah satu penyebabnya adalah kita tidak dengar-dengaran dengan gembala kita yaitu Tuhan. Kadang-kadang rasa ingin tahu kita lebih besar daripada ketaatan kita, sehingga hal itu membuat kita keluar dari jalan yang sudah Allah tetapkan. Hmm… Seberapa sering kita berlaku seperti ini? Walaupun merasa sudah tahu apa yang menyenangkan hati Bapa, tapi kita tidak bisa memungkiri bahwa ada keinginan untuk berjalan dengan cara yang berbeda dari rencana Allah. Akibatnya, kita tidak mendengarkan pesan maupun perintah dari Sang Gembala dengan baik. Bukannya menemukan jalan yang diinginkan, kita justru lebih sering tersesat, bukan? Perjalanan menuju “padang berumput hijau” yang kita bayangkan ternyata tidak seindah itu.

Rasa ingin tahu berubah menjadi rasa takut.

Kita terhilang dan merasa tidak bisa menemukan jalan lagi.

Kita “dipaksa” untuk menelan kenyataan bahwa kita sendirian di jalan yang suram itu.

Meski kita berulang kali mengabaikan firman-Nya, Allah tidak tinggal diam. Dia tetap mencari sampai menemukan kita, karena kesetiaan dan kasih-Nya yang sangat besar. Tanpa disadari, sebenarnya Allah sudah memanggil—bahkan memperingatkan—kita yang mulai melangkah di luar jalur-Nya. Sayangnya, kitalah yang sering tidak menangkap sinyal yang Allah berikan, karena kita merasa bahwa jalan yang kita pilih lebih baik dan lebih menjanjikan.

Yah, tidak ada seorangpun yang menyukai ketidakpastian. Sebaliknya, kita membutuhkan kepastian mengenai masa depan, jaminan bahwa penyakit yang diderita akan sembuh, dan sebagainya. Masalahnya adalah… hidup ini selalu memiliki ruang untuk ketidakpastian; segala sesuatu bisa berubah dalam hitungan detik. Inilah yang membuat kita menjadi gelisah dan selalu mencari cara untuk bisa mendapatkan kepastian atas keingintahuan kita. Kapasitas logika yang terbatas membuat kita menilai bahwa jalan maupun tempat yang sudah Allah sediakan justru tidak menjamin apa yang dibutuhkan—saking tampak tidak masuk akal bagi kita untuk memperolehnya.

Padahal di sisi lain, Allah tetap menetapkan cerita kehidupan bagi kita dengan cara-Nya yang unik, dan ini mempertegas sifat-Nya sebagai Pribadi yang kreatif. Artinya, apa yang orang lain lalui maupun cara yang mereka gunakan untuk berhasil belum tentu harus juga kita lakukan ketika menghadapi pergumulan yang sama. Tapi yah… karena kita ingin segala sesuatunya bisa terselesaikan secara instan, kalau melihat orang lain berhasil, kita langsung ingin melakukan hal yang sama tanpa melalui proses terlebih dahulu. Mungkin kita pernah berpikir bahwa pergumulan yang dihadapi saat ini adalah bentuk hukuman Allah, karena kita tidak mendengar dan menaati firman-Nya. Namun tidak demikian dengan apa yang Allah katakan:

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
(Yeremia 29:11)

Konteks Yeremia 29:1-23 adalah tentang firman Tuhan bagi orang-orang Yehuda yang dibuang ke Babel, karena mereka menyembah berhala dan menyeleweng dari hukum Taurat lainnya pada masa kerajaan-kerajaan sebelumnya. Sebagai bentuk hukuman-Nya, Allah membuang mereka ke Babel selama 70 tahun—namun nantinya akan memulangkan mereka ke Yerusalem lagi. See? Walaupun kita merasa diperlakukan dengan kejam, sebenarnya Allah tidak akan merancangkan sesuatu yang jahat bagi kita. Bahkan apa yang tampak buruk saat ini bisa saja menjadi berkat di kemudian hari... dan itu semua hanya karena anugerah-Nya.

Allah adalah Pribadi yang mencintai proses, karena tanpa proses hasil seindah apapun akan runtuh dalam sekejap. Kita bisa melihat penggambarannya dari tukang keramik. Ketika melihat ada bagian yang kurang baik, dia tidak akan segan untuk memecahkan keramik itu—bahkan kalaupun keramik itu hampir jadi! Kalau kita diumpamakan sebagai keramik, mungkin kita akan merasa si tukang adalah orang yang plin-plan, bukan? Namun dia melakukannya karena ingin keramiknya menjadi sesuatu yang berharga setelah melalui proses pembentukan, pembakaran, hingga pewarnaan. Begitu pula yang Allah lakukan bagi kita: Dia ingin agar kita menghargai proses. Bukannya tidak bisa memberikan yang kita mau dengan segera, bukan juga karena tidak mau melihat hidup kita bahagia, tapi Tuhan seolah-olah membuat kita berputar-putar dalam proses agar kita menikmati hasilnya di kemudian hari. Kapankah itu? Tidak ada yang tahu. Tapi satu hal yang harus kita pegang adalah… “Tuhan tidak meninggalkan kita dalam perjalanan iman ini.”

Ironisnya, sekali lagi, kita—sebagai manusia—sangat menyukai segala sesuatu yang instan. Kita ingin apapun bisa tersedia sesegera mungkin. Misalnya saja makanan instan maupun cepat saji, atau nilai yang baik tapi tidak mau belajar, atau ingin sukses tapi tidak mau belajar dari nol, dan sebagainya. Akibatnya, kita menjadi sangat tidak betah diam dalam proses yang Allah berikan, dan tidak bisa berjalan di dalam jalan yang Tuhan sudah tetapkan karena menurut kita ada jalan dan cara yang lebih cepat. Lagipula, kalau ada jalan yang seperti itu, kenapa kita harus melalui penderitaan dan ketidaknyamanan ini? Bukannya kita adalah domba yang dikasihi-Nya?

Pikiran-pikiran seperti itu membuat kita mempertanyakan banyak hal tentang kehendak Allah. “Apa sih, yang dipikirkan Allah waktu kasih penyakit ini?”, “Kenapa jalan-Nya nggak jelas banget? Padahal aku udah rajin baca Alkitab dan doa, lho!”, dan masih ada banyak pertanyaan yang membuat kita ragu-ragu akan kasih setia Allah ketika kita mengalami pergumulan. Well, Pearlians, keraguan memang bisa datang kapan saja. Namun saat kita tidak bisa melihat jalan yang Allah berikan, saat kita tidak mengerti isi pikiran dan rencana-Nya, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah memercayai hati-Nya—hati yang mengasihi kita lebih dari apapun. Bukankah setiap kali kamu tersesat dan terhilang, Dia selalu datang dan membawamu kembali? Bukankah Dia yang mati untuk menebusmu—dalam diri Yesus Kristus? Bukankah kita adalah milik-Nya yang berharga?

“Teorinya emang gitu. Tapi kenapa Allah kayak diem aja kalau tahu kita ini udah bosen sama penantian yang nggak jelas gini!”

“Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”
(Yesaya 30:15)

Ya, tinggallah tenang dan percaya dalam hadirat-Nya, tapi jangan lupa untuk membuka telinga dan hati ini. Allah bisa berbicara melalui apapun, namun ketika momen itu tiba, kita perlu menenangkan diri agar dapat berdoa. Tanpa doa, yang adalah napas kehidupan bagi orang percaya, komunikasi kita juga akan terputus dari-Nya.

Kita juga perlu mengakui bahwa ketidakinginan untuk mendengar dan taat kepada Allah justru membuat proses yang dialami juga semakin panjang. Kadang-kadang ada perasaan yang mengatakan bahwa seharusnya kita sudah melalui proses ini. Tapi karena kita terus-menerus tidak mau mendengar, Allah seakan membuat kita harus mengulang proses yang sama sampai kita menyelesaikannya. Mungkin rasanya pergumulan kita terlalu panjang dan melelahkan untuk dilalui. Mungkin kita juga harus dihancurkan berkali-kali untuk melalui pergumulan itu. Tapi kabar baiknya: kita tidak sendirian karena Allah beserta kita. Bukankah lebih baik melalui proses yang terlihat melelahkan ini bersama Allah daripada kita berjalan sendiri di dalam apa yang kita anggap baik? Ketika berjalan bersama Allah, apa yang hilang dalam proses yang kita alami akan digantikan-Nya dengan yang lebih baik; apa yang hancur dari kita akan dipulihkan-Nya; kita akan menerima untuk memberi, kita akan diberkati lebih dari yang bisa dibayangkan untuk menjadi berkat.

Semuanya itu hanya bisa terjadi ketika kita memiliki hati yang mau untuk mendengarkan dan menaati apa yang Allah katakan, dan mengasah kepekaan terhadap suara Roh Kudus ketika kita menghadapi sebuah pergumulan. Seperti domba yang pasti mengenal suara gembalanya dan tidak akan peduli dengan suara lain selain suara gembalanya, mari kita menjadi domba-domba Allah yang selalu memasang telinga kita akan apa yang mau Tuhan sampaikan. He can speak to each of us personally in many ways. Selamat menikmati prosesmu bersama-Nya, Pearlians, sampai kita sama-sama menjadi sesuai dengan apa yang di dalam pikiran Allah ketika kita lahir di dalam hati-Nya.

Monday, June 15, 2020

Serupa tapi Tak Sama


by Yunie Sutanto

"Awas uang palsu!" demikian tertera tulisan besar di etalase toko pulsa langganan saya. Persis di sebelah tulisan tersebut, dipajanglah uang kertas palsu yang mirip sekali dengan uang asli. Saya sulit membedakannya. Kasihan juga karena si penjual pulsa itu tertipu oleh uang palsu yang berhasil mengecohnya.

Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa ya kok, uang palsu itu bisa eksis? Tentu saja karena ada uang yang asli. Bukan hanya uang; barang tiruan itu bisa laku karena orang mendapat kesan bahwa barang tersebut mirip sekali dengan yang asli. Sebut sajalah tas tiruan (bahkan ada tiruan KW 1, KW 2, dan seterusnya) dan lukisan replika asli. Padahal kalau kita jeli mengamatinya, mana yang asli dan yang tiruan itu tidaklah sama—meskipun kedua tampak serupa.

Begitu pula yang ditekankan oleh Yesus mengenai orang-orang yang mengikut-Nya.

“Eh? Memangnya ada pengikut Kristus KW?”

Nah, untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita membaca Matius 13:24-30 terlebih dulu:

"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?

Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?

Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."


Dalam perumpamaan di atas, kita bisa mengetahui bahwa gandum asli dan “gandum palsu” (alias si lalang) memang serupa, tetapi tak sama! Jika gandum (Triticum aestivum) adalah sumber pangan penting (khususnya bagi orang Ibrani), maka lalang (Lolium temulentum) adalah sejenis gulma—yang justru menghalangi pertumbuhan tanaman yang tumbuh di tempat yang sama dengannya. Jika gandum—yang merupakan sumber asupan karbohidrat—bisa diolah menjadi roti dan minuman (melalui proses fermentasi), maka lalang justru dianggap sebagai tanaman liar—bahkan sering disebut “false wheat” (gandum palsu). Sayangnya, hanya waktu yang bisa menunjukkan mana yang adalah gandum dan lalang itu. Perbedaan keduanya baru kelihatan ketika bulir-bulirnya mulai muncul. Bulir gandum lebih bernas (penuh) dan ketika matang warnanya kecokelatan, sedangkan lalang tampak lebih kurus dan saat matang warnanya kehitaman.

Coba bayangkan jika kita menjadi petani gandum. Setelah menabur benih-benih gandum terbaik dan menggemburkan tanah agar cocok untuk media tanamnya, lantas apa yang kita harapkan? Tentunya sebagai petani, kita ingin menikmati hasil panen berupa gandum yang berkualitas terbaik! Plus, kita juga tidak ingin ada serangan hama maupun gulma, bukan? Tapi siapa sangka… Saat sedang tidur lelap, ternyata ada musuh yang menabur benih lalang! Karena itu, ketika benih-benih gandum mulai berbulir, tampak pula banyak lalang!

Nah, kembali ke bacaan kita di atas… Bagaimana tanggapan sang pemilik ladang saat hamba-hambanya hendak mencabuti lalang-lalang tersebut? Ternyata sang tuan yang bijak menyuruh membiarkan keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai! Sabar banget, ya? Tapi kenapa harus menunggu kalau memang sudah diketahui bahwa ada lalang di situ? Bukannya akan lebih baik kalau lalang tersebut segera dicabut sehingga tidak mengganggu pertumbuhan gandum? Nah, pemilik ladang ini menjelaskan bahwa ada kemungkinan akar gandum (yang benar-benar gandum) juga ikut tercabut bersama dengan lalangnya. Dengan demikian, dia memerintahkan agar para hambanya menunggu hingga musim menuai tiba untuk mencabut lalang terlebih dulu, lalu barulah mereka memanen gandum mereka.


Mungkin seperti itu pula yang kita alami di dalam menghadapi orang-orang tertentu.


Kita cenderung mudah untuk berprasangka buruk pada orang lain. Lagipula, geregetan rasanya kalau melihat ada “lalang” yang mengganggu kita. Saking geregetan-nya, kita ingin mengekspos orang—yang kita ketahui—sedang jatuh dalam dosa. Bahkan mungkin kita tidak segan untuk keluar dari komunitas yang sedang disorot karena ada skandal di dalamnya. Pokoknya, harus ada solusi instan untuk membereskan “si lalang”—karena kita tidak ingin terganggu olehnya!

Tapi tunggu… sebenarnya apa sih, makna yang ingin disampaikan Yesus dalam perumpamaan ini? Nah, Yesus menjelaskan makna ini kepada para murid-Nya—seperti yang bisa kita baca dari Matius 13:36-43:

Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu."

Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"


Di hari-hari terakhir inilah, bulir “gandum” mulai nampak dan bisa dibedakan dari bulir “lalang”.


"Awas, nabi palsu!" demikian seruan untuk waspada di antara jemaat-Nya, apalagi di masa sekarang. Well, pada akhirnya, kedok serigala berbulu domba akan terbongkar—meskipun tidak ada yang tahu kapan semuanya akan benar-benar tersingkap. Namun sebelum itupun, kita bisa melihatnya melalui buah kehidupannya. Tapi jangan lupa: bukan hanya menilai orang lain, kita juga harus berani mengevaluasi kualitas kehidupan kita (yang mengaku sebagai pengikut Kristus), “Apakah kualitas kehidupan rohaniku saat ini sudah menunjukkan karakter Kristus, sang pemilik ladang itu? Atau jangan-jangan ternyata aku nyaman dengan peranku sebagai “lalang” yang mengganggu pertumbuhan iman orang lain?”

Mengevaluasi diri sendiri bukanlah hal yang bisa dilakukan secara instan, Pearlians. Kita memerlukan waktu untuk benar-benar men-digest terhadap hal-hal yang—mungkin—selama ini kita abaikan saking terbiasanya. But at least, kita perlu bersyukur karena melalui pandemi Covid-19 (yang saat ini sedang melambatkan laju kehidupan), kita memiliki kesempatan untuk merenungkan sisi-sisi kehidupan yang selama ini kita tutupi—namun akhirnya mulai terlihat.

Apakah pandemi ini membuat kita lebih rajin membagikan (bahkan membuat) berita atau reshare feeds yang meresahkan hingga menyulut permasalahan?

Apakah pandemi ini membuat kita jadi lebih sering bertengkar dengan pasangan, padahal sebelumnya yang ada justru komunikasi yang minim di antara kita dengannya?

Apakah pandemi ini membuat kita semakin mudah marah pada anak yang sulit memahami pelajaran di sekolah?

Apakah pandemi ini membuat kita jadi malas untuk bersekutu dengan Tuhan—baik secara pribadi maupun komunal melalui ibadah (entah streaming atau media lainnya)?

Atau yang terjadi justru sebaliknya:

Kita semakin menyadari bahwa hidup ini adalah kesempatan yang harus digunakan untuk memuliakan dan menikmati Tuhan, baik melalui relasi pribadi dengan-Nya, orang lain, dan semua kegiatan yang kita lakukan—sekalipun itu adalah sesuatu yang kita anggap sederhana.


Time will show everything.


“Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”
(Wahyu 22:11)

Meski demikian, kita perlu mengingat bahwa yang bertugas memilah dan menilai siapa yang “gandum” dan “lalang” adalah para malaikat-Nya, bukan kita. Penghakiman adalah hak Tuhan semata. Bagian kita bukanlah untuk menunjuk dan menghakimi orang lain, “Oh, si ini ternyata nabi palsu, si ono rupanya serigala berbulu domba!”, tapi justru memastikan bahwa kita adalah “gandum” yang ditanam dan dikumpulkan untuk pekerjaan mulia-Nya.

Mari bersama-sama berjuang untuk memelihara kualitas “gandum” dalam diri kita, seperti yang Yesus katakan kepada para murid-Nya:

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
(Matius 5:38)

Monday, June 8, 2020

Perumpamaan Biji Sesawi


by Mekar Andaryani Pradipta

Setelah kita belajar tentang perumpamaan penabur di minggu lalu, kali ini kita akan membahas tentang perumpamaan biji sesawi.

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”
(Matius 13:31-32)

Kalau perumpamaan tentang penabur menitikberatkan pada tanah tempat benih ditanam, maka fokus perumpamaan biji sesawi adalah tentang benih yang ditanam. Apa yang bisa kita pelajari dari perumpamaan biji sesawi?
1. Benih menggambarkan tentang Kerajaan Sorga
sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
(Roma 14:17)

Dalam ayat pendek ini, Paulus sebenarnya menegaskan bahwa hidup yang dikendalikan oleh daging (dilambangkan oleh makanan dan minuman) berbeda dari hidup yang dikendalikan oleh Roh (hidup yang berdasarkan pada kebenaran, ditandai oleh damai sejahtera dan sukacita). Namun bukan berarti kebenaran itu berasal dari banyak “jalan”. Hal ini diungkapkan oleh Charles H. Spurgeon, “Alkitab tidak menulis kebenaran sebagai “truths” (kata benda jamak), melainkan “truth” (kata benda tunggal), karena memang hanya ada satu kebenaran yaitu kebenaran Allah.”

Jika demikian, dari mana kita bisa mengetahui kebenaran ini?

Pada mulanya adalah Firman; 
Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
(Yohanes 1:1)

Tidak ada tempat lain dimana kita bisa belajar mengenai kebenaran Allah—selain Firman-Nya—karena Firman Tuhan itu adalah Allah sendiri.

Menurut Spurgeon, kebenaran Allah seperti mata rantai, jika kita tidak percaya pada satu hal, maka itu berarti kita tidak percaya juga pada hal yang lain. Oleh karena itu, kita tidak bisa tebang pilih dalam mengimani Firman Tuhan, karena kebenaran di dalamnya adalah satu. Namun kita harus mengingat bahwa logika kita terbatas untuk memahami Firman-Nya. Itulah sebabnya kita tidak boleh asal menafsirkan dan memasukkannya sesuai dengan pengetahuan dan konteks diri sendiri (istilah kerennya, eisegesis). Padahal sering kali, apa yang tertulis di Alkitab justru memilki makna yang lebih dalam daripada yang hanya tampak melalui tulisannya secara harfiah. Dengan demikian, kita perlu menyadari keterbatasan untuk menyelami Firman Allah dan memohon hikmat-Nya untuk benar-benar memahami dan melakukan apa yang disampaikan-Nya.

2. Kebenaran Firman Tuhan adalah benih yang berharga
Sama seperti perumpamaan tentang penabur, perumpamaan biji sesawi juga menggambarkan tentang benih—alias kebenaran Firman Tuhan—yang ditaburkan. Pada perumpamaan ini, Yesus mengajar kita bahwa kebenaran Firman Tuhan seperti biji sesawi: kecil tapi tidak seharusnya dipandang remeh atau disia-siakan. Disadari atau tidak, sesederhana apapun itu, Firman-Nya sangat berharga untuk dilupakan begitu saja.

Di sisi lain, kadang-kadang ada keraguan untuk memenuhi hati dengan Firman (misalnya dengan membaca Firman Tuhan, menghafal ayat, atau menonton penjelasan tentang Alkitab). Bukannya langsung paham, kita justru semakin bingung dan merasa tampaknya sia-sia untuk mempelajari Firman-Nya. Apalagi jika orang-orang di sekitar kita berkata, “Untuk apa? Kamu mau jadi pendeta? Jangan sok suci, lah!” Tapi Yesus menguatkan kita, karena—seperti benih—Firman Tuhan yang kita tanam saat ini punya nilai untuk masa yang akan datang. Dia menginginkan hati kita yang teachable, hati yang mau diajar dan diasah agar menjadi semakin serupa dengan Kristus—meskipun prosesnya berbeda antara satu orang dengan yang lain. Siapa tahu, pengalaman dalam melalui masa pandemi ini (misalnya) membuat iman kita berakar lebih kuat di dalam-Nya, bahkan menjadi berkat bagi orang lain.

3. Apabila sudah tumbuh…
Kuncinya adalah pertumbuhan, dan pertumbuhan membutuhkan ketekunan.

Biji sesawi yang dimaksud dalam perumpamaan ini adalah mustard seed. Walaupun sangat kecil, namun biji ini bisa tumbuh menjadi pohon—yang kemudian menghasilkan biji-biji lain dalam jumlah yang berlipat kali ganda.

Yesus juga memakai biji sesawi untuk menggambarkan tentang iman,

“Jika kamu memiliki iman sebesar biji sesawi, kamu dapat memindahkan gunung”
(Matius 17:20)

Menarik sekali, karena dalam Roma 10:17 dikatakan bahwa “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Seperti apa yang disampaikan oleh Paulus dalam ayat tersebut, Tuhan juga menghendaki benih firman yang ditabur di hati kita tumbuh menjadi iman. Namun menariknya, Dia adalah Allah yang menghargai setiap kemajuan pertumbuhan kita. Pertumbuhan iman sekecil apapun, Ia apresiasi—bahkan Ia katakan sanggup memindahkan gunung. Well, tentu ini merupakan hiperbola, tapi yang dimaksudkan Yesus adalah apa yang kelihatannya tidak mungkin, bisa saja terjadi jika Tuhan menghendakinya.

Ketika membaca tentang raksasa-raksasa iman dalam dunia Kekristenan, mungkin kita bertanya-tanya, “Apakah kita bisa seperti mereka?” Tidak jarang, kita justru merasa iman kita tidak ada apa-apanya dibanding mereka sehingga kita berkata, “Ah, sepertinya tidak.” Setelah itu, kita merasa apa yang kita lakukan selama ini sia-sia. Padahal di mata Tuhan, tidak ada sekecil apapun upaya kita menumbuhkan benih sia-sia. Lagipula, serajin-rajinnya kita berinteraksi dengan Firman Tuhan, hanya Dialah yang memberikan pertumbuhan itu (1 Korintus 3:7-8). Bahkan, di perumpamaan tentang biji sesawi, Yesus belum membahas tentang multiplikasi; Dia baru berbicara tentang pohon yang membuat “burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” Sesederhana apapun dampak yang kita hasilkan dari pertumbuhan iman kita, Tuhan memperhitungkan itu semua.

Pearlians, di dalam Tuhan, tidak ada yang sia-sia. Di sepanjang Alkitab, Tuhan sering sekali memilih apa yang dianggap kecil dan tidak berharga bagi manusia, namun dipakai untuk kemuliaannya. Sebut saja: kota Betlehem yang kecil Ia pilih sebagai tempat kelahiran Yesus, atau bekal anak kecil Ia pakai untuk membuat mujizat. Oleh karena itu, dalam hari-hari yang sedang dan akan kita jalani (dengan berbagai adaptasi yang harus dilakukan), mari kita juga belajar untuk setia dan tekun dalam kebenaran. Meskipun pertumbuhan iman yang dialami seakan tidak ada artinya, namun Tuhan menghargainya dan ingin agar kita terus memeliharanya… hingga akhirnya iman kita berdampak sesuai dengan yang Tuhan kehendaki.

Monday, June 1, 2020

Perumpamaan Seorang Penabur


by Poppy Noviana

Menikmati waktu bersama keluarga dan #dirumahaja dulu merupakan normal baru yang hari-hari ini kita lakukan sejak pandemi Covid-19 terjadi. Pembatasan fisik dan sosial pun menjadi bentuk kedisiplinan yang dituntut dari kita sebagai pribadi yang mengasihi Allah melalui cara hidup yang patuh kepada pemerintah atau otoritas yang saat ini memimpin. Namun, jujur saja, kekhawatiran itu tetap hadir dan dirasakan, bukan hanya oleh anak Tuhan, namun hampir semua orang di seluruh dunia yang sadar dengan lingkungannya. Berangkat dari situasi tersebut, saya ingin mengajak para pembaca untuk melakukan tes kondisi hati, dan semoga artikel ini menolong kita tetap merawat tanah hati kita, menjaganya tetap subur dan tidak kehilangan tujuan untuk berbuah.

Pertama adalah menyadari kondisi tanah hatimu. Hal ini sangat membantu kita menyadari posisi kita saat ini, apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana caranya menggeser posisi menuju tanah hati yang subur. 



Nah... Warna ini menurutku mewakili kondisi hati yang terjadi pada kebanyakan orang percaya saat ini. Bukan saja karena masalah COVID-19, tapi ditambah kondisi sekeliling yang terdampak, sehingga tanah hatiku penuh kekhawatiran, kehilangan harapan, dan mengandung emosi negatif yang menguras energi. 

Siapa yang setuju dengan kondisi ini? Jika sepakat dengan saya, bersyukurlah kamu ngga sendirian, mari sama-sama kita kenali lebih jauh, how to deal with this situation?



// BLUE (benih di pinggir jalan):

Sadarilah bahwa perspektifmu saat ini belum tentu yang terbaik bagimu, namun perspektif Tuhan soal kehidupan tentu saja yang terbaik bagimu. Kenapa? Karena Ia yang menciptakanmu dan Ia selalu memulai segala sesuatu dari akhir untuk mengawali sebuah perjalanan, itu sebabnya mengapa Ia sudah memiliki rencana bagimu sejak engkau dikandung ibumu (Yeremia 1:5)

Benih yang jatuh di pinggir jalan seperti Firman Tuhan yang diberikan kepada orang-orang yang menerimanya sambil lalu. Pada kondisi ini, dibutuhkan kerendahan hati untuk mencari dia. Perspektif Tuhan tersedia di dalam Kitab-Nya, perlu ada komitmen untuk mau membaca dan merenungkan Firman-Nya, agar perkatan-Nya itu tidak hanya sekedar lewat di kehidupan kita.


// GREY (benih di tanah berbatu):

You get a heart for God by developing convictions. And you develop convictions by getting to know God’s word. 

Mengetahui dan menghidupi adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa saya mengetahui dirinya dicintai oleh orang lain, namun Ia tidak menghidupi rasa kelimpahan atas cinta itu dalam dirinya. Akibatnya, ia memiliki kebutuhan yang tidak terpenuhi dan menjadi perasaan tidak aman, seperti berpijak pada pasir yang rapuh, bukan batu karang yang teguh yaitu janji Tuhan yang pasti.

Sebentar saja Firman itu datang meneguhkannya namun kemudian ia melupakannya sehingga Firman itu berlalu dan tidak tumbuh dalam kehidupannya. Sayang sekali membuang waktu hanya untuk menyukai dan melupakan, bagaimana kalau kita mulai menyukai dan melakukan? Bukan ide yang buruk bukan? Sebab, percaya pada Tuhan dan menghidupi kepercayaan itu adalah pilihan terbaik yang pernah saya lakukan dalam hidup ini sampai hari ini. So why don’t we be doers of His words, instead of just knowing His Words?


// PINK (Benih di tengah semak duri):

You shall have no other gods before me.
(Exodus 20:3)

Apapun yang mendominasi hidupmu akhirnya akan menjadi allahmu. Semua waktu dan energimu akan berfokus padanya, apapun itu. Bisa saja kekhawatiran akan Covid-19, masa depan karena pemutusan hubungan kerja di kala pandemi ini, kehilangan harapan karena bisnismu tidak beroperasional lagi, atau apapun itu yang menjadi kendalamu hari-hari ini. Kalau memang kondisi hatimu seperti ini, at least terima dulu saja kondisinya dan mulai melihat ke atas. Layaknya sedang berada di dalam sumur yang gelap dan dalam, kamu hanya perlu melihat ke atas, meminta pertolongan kepada Allah yang memelihara kehidupanmu. No need to focus on the things you cannot control, Jesus' presence is a comfort for our soul – lirik dari lagu With You yang dinyanyikan oleh Elevation merupakan penguatan bagi saya secara pribadi dalam melalui masa pandemi ini.


Verse 1:
Beneath the surface
Of my anxious imagination
Beckons a calmness
That is found in You alone

It washes over
Every doubt, every imperfection
Jesus, Your presence
Is the comfort of my soul

Chorus:
There's nowhere I'd rather be
When You're singing over me
I just wanna be here with You

I'm lost in Your mystery
I'm found in Your love for me
I just wanna be here with You

Verse 2:
Here in the waiting
I won't worry about tomorrow
No need to focus
On the things I can't control

All my attention
On the wonder of this moment
Jesus, Your presence
Is the comfort of my soul

Bridge:
So let all that I am
Be consumed with who You are
All the glory of Your presence
What more could I ask for?


I hope we would be recharged again by this song!


// GREEN (Benih di tanah yang baik):

But solid food is for the mature, who by constant use have trained themselves to distinguish good from evil. Therefore let us move beyond the elementary teachings about Christ and be taken forward to maturity.
(Hebrews 5:14 - 6:1)

Tujuan percaya kepada Allah adalah menjadi semakin dewasa dan serupa dengan Dia. Orang yang hatinya sudah menjadi tanah yang baik adalah orang-orang yang sudah melatih dirinya. Firman yang selama ini mereka baca dan renungkan, telah menjadi panduan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Mereka telah kuat di dalam iman, sehingga si jahat, maupun kekhawatiran duniawi, tidak bisa lagi mencuri benih Firman dalam hati mereka. Pada level ini, yang diperlukan adalah konsistensi agar buah yang dihasilkan tetap. Penulis Kitab Ibrani mendorong kita agar kita tidak cepat puas dengan kondisi hati kita namun selalu punya kerinduan untuk selalu meningkatkan kapasitas diri. 

Dear Pearlians, di tahap manapun kondisi hatimu ada saat ini, Tuhan ada di sana, siap menolong kita naik tingkat. Ia mengijinkan tekanan, ujian, dan kadang air mata, supaya hati kita teruji dan kita semakin tekun dan bersungguh-sungguh mengikut Dia. Firman-Nya ada untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Firman itulah benih yang Ia tabur agar hidup kita berbuah, tugas kita adalah menyiapkan tanah untuk Firman itu tumbuh.

Saya berdoa agar dalam kondisi apapun, hati kita adalah tanah yang baik untuk menyambut benih-benih surgawi.