Monday, June 7, 2021

Harga Mati Sebuah Kemenangan



by Nidya Mawar Sari

Artikel ini mengacu pada Matius 4:1-11

“Hari ini masak apa?” adalah sebuah pertanyaan yang tidak pernah selesai dalam hidup saya sebagai ibu rumah tangga—yang salah satu jabatannya adalah menteri dalam negeri urusan dapur. Rasanya indah sekali jika akhir minggu tiba, karena saya bisa libur dari urusan memikirkan menu hari itu (akhir minggu adalah jadwal kami boleh membeli makan di luar).

Urusan makan memang jadi kebutuhan paling utama, ya (khususnya bagi yang sudah berkeluarga, karena urusan ini bukan hanya melibatkan diri sendiri, tapi juga pasangan maupun anak-anak). Selain itu, kita juga sering mendengar orang berkata, “Makan dulu yuk. Kalau laper ga bisa mikir.” Suara keroncongan di perut memang sangat mengganggu. Apalagi keadaan lapar juga sangat memengaruhi emosi kita. Itulah alasan ketika perut kita sudah terisi dengan pas (baca: sudah kenyang), maka kita bisa lanjut fokus beraktivitas. Emosi yang tadinya sempat tidak bisa dikontrol akhirnya bisa mulai dikendalikan lagi karena pikiran kita juga sudah diberi asupan makanan.

Nah, keadaan lapar ini (bahkan lebih ekstrim, sebenarnya) juga pernah dirasakan oleh Tuhan Yesus. Setelah Ia dibaptis, Roh Kudus membawanya ke padang gurun. Di sana Ia berpuasa selama 40 hari, dan Ia juga dicobai oleh Iblis disana. Ada empat hal yang bisa kita pelajari tentang Iblis dan trick-nya saat mencobai kita. Yuk, kita lihat satu per satu:

1. Iblis memakai kesempatan saat kita lemah.
Hal pertama yang menjadi bahan cobaan Iblis adalah soal perut. Iblis mengambil keadaan Yesus yang lapar sebagai satu kesempatan mencobai Yesus untuk mengubah batu itu menjadi roti. Hmm.. sangat menggiurkan ya, dan mungkin terlihat benar juga usulnya. Hati-hati! Terkadang usul Iblis itu terlihat benar dan baik untuk kita, padahal sebenarnya justru menjerumuskan dan jika tidak segera disadari, kita akan semakin terjebak dan tidak ingin keluar dari sana.

2. Iblis memakai frase “kalau Kau anak Allah” untuk mengawali dua dari tiga pencobaan yang dia berikan.
Perikop sebelumnya menceritakan peristiwa pembaptisan Yesus dan ada kejadian yang sangat spektakuler di sana. Allah Bapa memberikan deklarasi, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Nah, Iblis memakai ungkapan “kalau Kau Anak Allah” untuk mempertanyakan, “Masa’ iya Anak Allah bisa lapar? Lakukan sesuatu dong, supaya ga menderita.” Bukankah hal semacam ini juga sering Iblis pertanyakan kepada kita? “Katanya kamu anak Allah yang disayang, kok kamu hidupnya masih menderita?” Hati-hati (lagi)! Ini adalah bentuk manipulasi Iblis yang rentan membuat kita meragukan iman kepada Allah dan tidak ingin lagi memercayai-Nya!

3. Iblis tahu Firman Allah, tapi dia memutarbalikkannya.
Strategi yang sama Iblis pakai pada saat dia memelintir perintah Tuhan kepada Adam dan Hawa di Taman Eden.

4. Iblis hanya bisa memberikan usul untuk melakukan apa yang seharusnya tidak kita lakukan.
Kitalah yang menentukan pilihan kita, mau taat kepada siapa: kepada Allah atau Iblis. Secara teori, mudah bagi kita untuk berkata bahwa seharusnya kita taat kepada Allah, tetapi natur manusia yang telah tercemar oleh dosa membuat kita tidak lagi merindukan Allah dan menyenangkan hati-Nya. Kalaupun bisa berbuat baik, itu semata-mata karena anugerah Allah sendiri.

-

Kita sama-sama tahu bahwa Tuhan Yesus menang telak dari Iblis dalam peristiwa ini. Mungkin kita berpikir bahwa sudah pasti Tuhan Yesus menang, kan Dia Tuhan. Namun, dalam perikop ini dituliskan Tuhan Yesus menang bukan seperti sulap. Ada beberapa hal yang menjadi poin penting yang bisa kita, manusia biasa, usahakan untuk menang juga atas pencobaan. 

1. Dalam Lukas 4:1 ditulis, “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus…” Sebelumnya kita membahas kalau saat itu Dia sedang lapar, tapi di perikop ini kita bisa tahu bahwa meskipun lapar, Dia penuh dengan Roh Kudus. Kalau kita biasanya kebalikannya ya. Penuh secara jasmasni, tapi kosong dalam roh. Inilah satu hal penting yang harus kita punya saat kita mau menang dalam pencobaan. Kita tidak bisa hanya peduli soal perut lalu berharap kita bisa menang melawan pencobaan. 

2. Tuhan Yesus selalu melawan Iblis dengan senjata yang paling ampuh, yaitu Firman Tuhan. Setiap kali menjawab Iblis, Tuhan Yesus selalu mengatakan “Ada tertulis..” Inilah hal kedua yang kita perlu untuk melawan segala macam cobaan, tipuan dan godaan Iblis. 

3. Pencobaan mengenai rasa lapar ini sebenarnya bukan hanya dialami oleh Yesus, namun juga bangsa Israel yang menuju ke Kanaan setelah keluar dari perbudakan di Mesir. Tentu Pearlians masih ingat bahwa mereka mengembara di padang gurun selama 40 tahun karena ketidakpercayaan mereka atas janji penyertaan Allah (tepatnya setelah 12 pengintai itu kembali dari Kanaan dan memberikan informasi mengenai tanah tersebut). Nah, bangsa Israel juga dikenal sebagai bangsa yang tegar-tengkuk dan lebih mementingkan roti daripada Firman Allah. Ada buktinya dari peristiwa pemberian manna: mereka menyisakan manna saat Allah telah berfirman agar mereka tidak menyisakannya untuk keesokan harinya (karena pasti akan membusuk); dan mereka mencari manna pada hari Sabat padahal Allah telah berfirman bahwa Dia tidak akan menurunkan manna pada hari tersebut (karena itu, Dia memerintahkan bangsa Israel untuk mengambil manna dua kali lipat dari kebutuhan mereka pada satu hari sebelum Sabat). Berbeda dari Israel, Yesus lebih mementingkan Firman Allah—bahkan Dia menggunakannya untuk melawan Iblis yang sedang mencoba memutarbalikkannya. Tidak heran jika Yesus disebut sebagai Israel yang sejati, kan, karena Dia bisa menggenapi ketaatan kepada Allah—sesuatu yang tidak bisa digenapi oleh bangsa Israel?


Jesus fought this battle as a Spirit-filled and Word-of-God filled Man. Kehadiran Roh Kudus dan Firman Tuhan adalah harga mati bagi kita dalam menghadapi pencobaan-pencobaan. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak kita. Sebagai seorang ibu, pasti kita mau anak-anak kita tidak kelaparan, bukan? Kita pastikan mereka mendapat asupan makanan yang cukup untuk pertumbuhan mereka dan daya tahan tubuh untuk melawan virus penyakit. Namun, pertanyaannya adalah apakah kita sudah memastikan anak-anak kita juga penuh dalam roh dan Firman Tuhan sehingga mereka bisa bertumbuh dalam iman dan kuat melawan pencoban-pencobaan yang datang pada mereka? Apakah saya sebagai ibu sudah memberikan teladan dalam hidup dalam Roh dan Firman? Kiranya Tuhan senantiasa memampukan kita untuk senantiasa hidup dalam Roh dan Firman-Nya.

Monday, April 12, 2021

Solusi Dosa




by Priskila Dewi Setyawan

Sebagai orang percaya, kita diajarkan untuk mengimani (dan memang benar demikian adanya) bahwa Allah sangat mengasihi manusia. Dia menciptakan manusia sesuai gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:27-28). Manusia diciptakan bukan seperti robot yang otomatis menuruti Sang Pencipta, tapi Allah memberikan kehendak bebas pada manusia dan manusia memilih untuk memberontak kepada Allah. Manusia berbuat dosa karena natur manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam Kejadian 3, kita mempelajari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Adam dan Hawa tergoda pada bujukan Iblis karena ingin menjadi seperti Allah yang mengetahui kebaikan dan kejahatan (ayat 5). Mereka melanggar perintah Allah dengan memakan pohon pengetahuan yang baik dan jahat. 

Nah, inilah dosa itu. Banyak orang berpendapat bahwa dosa hanya berarti sebuah perbuatan salah. Padahal sebaliknya: dosa lebih serius dari itu! Dosa adalah bentuk pemberontakan manusia pada Sang Pencipta. Pemberontakan tersebut bukan hanya mengenai masalah makan buah pengetahuan yang baik dan jahat (yang juga merupakan ujian dari Allah terhadap penggunaan kehendak bebas (freewill) mereka), melainkan adanya keinginan manusia untuk memiliki standar norma yang baru dan sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Nah, sejak saat itulah, dosa merusak hubungan Allah dengan manusia dan membuat seluruh tatanan alam semesta yang “sangat baik” menjadi rusak—terkhusus dalam diri manusia (Yesaya 59:1-2). Saat Allah memanggil mereka, manusia merasa takut dan bersembunyi di Taman Eden. Selain itu, terjadi drama melempar kesalahan: Adam menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan ular yang memperdayakannya. Relasi Allah dan manusia yang dulunya sangat dekat, kini rusak dan terpisahkan oleh jurang dosa yang dalam. Pada akhirnya, Tuhan menghukum ular, perempuan, dan laki-laki. Walaupun demikian, di balik permusuhan keturunan ular (baca: orang-orang yang memberontak dari Allah, seperti yang dilakukan Iblis dan para pengikutnya) dengan keturunan Hawa (baca: anak-anak Allah), ada janji keselamatan perdana yang Dia berikan (Kejadian 3:15).

Roma 3:10b berbunyi, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” Sebagai penegasan, Paulus menulis Roma 3:23 yang menyatakan, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Lihatlah, dosa bukan hanya telah dilakukan oleh Adam dan Hawa saja, tapi tidak ada seorang pun yang terluput dari dosa. Ya, saya dan Anda juga telah berbuat dosa! Adalah sebuah kebohongan jika kita berkata bahwa kita tidak pernah berdosa, karena itu artinya kita baru saja berbohong dan itu termasuk dosa. Seperti semua orang yang bekerja berhak mendapatkan gaji, orang yang berbuat dosa juga “berhak” mendapatkan upahnya. Apa itu? Maut (Roma 6:23). Walaupun semua orang pasti akan mati secara jasmani (kecuali dalam kasus khusus seperti Henokh (Kejadian 5:24) dan Elia (2 Raja-raja 2:3-11)), tapi ada yang lebih mengerikan yaitu kematian kekal. Semua orang yang mati pasti dihakimi. Orang yang meninggal dalam kondisi berdosa pasti dihukum mati secara rohani (Ibrani 9:27) dan terpisah dari Allah.

Manusia berusaha untuk melepaskan diri dari hukuman ini dengan membuat jembatan sendiri. Sayangnya, menjalankan perintah-perintah agama tidak membuat orang menjadi suci, dan manusia tetap berdosa serta terpisah dari Allah. Kebaikan, ibadah, pelayanan, dan baptisan tidak dapat menyelamatkan. Semua usaha manusia ini sia-sia dan tidak bisa membawa perdamaian dengan Allah. Yesaya 64:6a menjelaskan bahwa segala kesalehan seperti kain kotor. Efesus 2:8-9 berbunyi, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Jadi, kita memerlukan Sang Pencipta dan tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Itulah sebabnya iman adalah anugerah Tuhan.

Sebagai analoginya, mari kita simak kisah berikut:

Ada seorang hakim yang memiliki saudara kembar seorang penjahat. Kembarannya ini membunuh dan harus dihukum mati, padahal hakim sangat menyayangi saudaranya. Karena kasihnya, hakim ini menggantikan saudaranya untuk dihukum mati. Hakim berpesan agar saudaranya bertobat. Keesokan harinya, saudara kembarnya bebas dan hakim ditembak mati. Hakim ini adil, tapi penuh kasih.

Demikian pula dengan Bapa kita: walaupun adil, tapi Dia juga mengasihi manusia. Itulah sebabnya Dia mengirimkan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk mati dan menyelamatkan manusia dari dosa serta membawa orang percaya berdamai dengan Allah (1 Petrus 3:18). Kemenangan Yesus atas dosa dibuktikan melalui kebangkitan-Nya dari kematian.

Tawaran Allah untuk kebebasan atas dosa ini tentu memerlukan respons. Tidak merespons artinya menolak tawaran. Iman dimulai dari mendengarkan firman Tuhan dan percaya kepada-Nya. Setelah itu, orang percaya akan beroleh hidup kekal, tidak turut dihukum sebab mereka sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup (Yohanes 5:24), dan menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Roma 10:10 menjelaskan bahwa kepercayaan ini berasal dari hati dan pengakuan mulut (digerakkan oleh Roh Kudus, tentunya). Solusi dosa hanya ada dalam diri Yesus Kristus. Kita perlu mengundang-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi, mengakui dosa-dosa kita, bertobat secara sungguh-sungguh, meninggalkan dosa, dan menyerahkan hidup kita seutuhnya ke dalam tangan Tuhan. Sudahkah Pearlians merespons tawaran ini?

Monday, April 5, 2021

Maut Dikalahkan




by Amidya Tri Agustinus

Kemarin Minggu (4 April), semua orang Kristen merayakan Paskah. Ya, Paskah menjadi tanda kemenangan Yesus Kristus—Sang Anak Allah—atas dosa, dan menjadi bukti bahwa Dia adalah Juruselamat yang hidup. Meski demikian, dalam natur-Nya sebagai manusia, Kristus juga mengalami kematian dulu sebelum pada akhirnya bangkit. Secara teori, kita tahu bahwa kematian merupakan garis akhir bagi semua manusia. Namun pernahkah terlintas di benak kita alasan di balik adanya kematian ini, dan mengapa Kristus harus bangkit dari kematian?

Dalam Roma 6:23, Rasul Paulus mengatakan, “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Ayat ini menjelaskan dua hal utama, yaitu: (1) upah dosa adalah maut, karena manusia telah jatuh dalam dosa, maka hukuman dosa tidak dapat dielakkan lagi; dan (2) hidup kekal hanya ada di dalam Yesus Kristus; oleh karena belas kasihan dan kemurahan Allah, kita menerima karunia untuk mengalami kehidupan kekal di dalam Kristus.

Seperti yang telah dituliskan di atas, Tuhan Yesus juga mengalami kematian, bahkan sebelum itu Dia menderita sengsara mulai dari sejak memperoleh penghinaan di rumah imam besar hingga akhirnya mati di atas kayu salib (Pearlians bisa membaca kisah selengkapnya dari bagian akhir keempat kitab Injil). Menariknya, kematian Kristus begitu istimewa—melebihi siapapun yang pernah mengalaminya. Jadi, di mana letak keistimewaan dari kematian Kristus ini?

· KRISTUS BERKUASA ATAS MAUT
Kristus memang mati dengan menanggung penghinaan dan penderitaan, namun Dia bangkit pada hari yang ketiga dengan bukti yang bisa dilihat dan dirasakan oleh lebih dari 500 orang (1 Korintus 15:1-11). Kubur kosong, kesaksian para murid, hingga Yesus menampakkan diri-Nya menjadi bukti nyata bahwa Dia bangkit. Dengan demikian, kehadiran Kristus ini menunjukkan bahwa Dia telah mengalahkan kuasa maut, sehingga semua orang percaya memperoleh kehidupan kekal bersama-Nya. Yesus memang telah mati; Dia sudah dikuburkan, tetapi lihatlah bahwa Dia telah menaklukkan kematian. Sekarang Dia hidup untuk selama-lamanya dan bertahta di hati setiap orang percaya jika mereka mengizinkan-Nya menjadi Raja atas hidup mereka. Pertanyaannya, apakah kita termasuk di dalamnya?

· BUKTI KEBANGKITAN dalam KITAB INJIL
Para penulis Injil menyertakan kisah kematian dan kebangkitan Kristus dalam empat Injil. Mereka bahkan mencantumkan banyak tokoh sejarah seperti Kayafas, Pontius Pilatus (yang juga disebutkan dalam Pengakuan Iman Rasuli), dan Herodes. Dengan demikian, kita pun mengetahui bahwa peristiwa kebangkitan Kristus benar-benar peristiwa sejarah yang besar dan para murid mendasarkan pemberitaan Injil pada kematian dan kebangkitan Kristus.

· KETERANGAN PAULUS
Paulus menjadi salah satu rasul yang senantiasa memberitakan kematian dan kebangkitan Kristus. Secara khusus dalam 1 Korintus 15, Paulus berusaha menjelaskan kepada jemaat di Korintus bahwa iman Kristen dibangun di atas kebangkitan Kristus atas maut, sebab tanpa kebangkitan-Nya sia-sialah iman percaya kita.


Sebagai orang percaya, selayaknya kita bersukacita karena kita menyembah dan melayani Juruselamat Agung yang adalah penakluk kematian. Kristus menyelamatkan kita dari belenggu dosa, membangkitkan kita, dan mengangkat kita untuk hidup bersama-Nya selamanya. Oleh karena itu, mari kita menyaksikan kepada sesama bahwa iman kita didasarkan pada Kristus yang mati dan benar-benar bangkit. Last but not least, selamat merayakan Paskah dan memperteguh iman kepada Sang Juruselamat yang kekal itu! Soli Deo Gloria!

Monday, March 29, 2021

Darah Anak Domba




by Glory Ekasari

Pada suatu hari yang bersejarah di tanah Mesir, bangsa Mesir mengamati orang Israel yang sibuk sekali menyiapkan makan malam bagi keluarga mereka. Menjelang sore, orang Israel menyembelih anak domba—seekor bagi tiap keluarga—dan menyiapkan dagingnya untuk diolah. Lebih anehnya lagi, darah anak domba itu mereka sapukan di ambang pintu rumah. Orang Mesir tahu bahwa orang Israel melakukan hal tersebut karena Tuhan mereka berkata bahwa malam itu akan datang bencana yang menakutkan, dan hanya rumah yang memiliki darah anak domba di ambang pintu rumah merekalah yang tidak akan kena bencana itu. Tetapi, mana mungkin itu terjadi, ya kan? Apa yang bisa dilakukan darah anak domba untuk menyelamatkan nyawa orang?

Tetapi apa yang “tidak mungkin” itu benar-benar terjadi: malam itu keluarga-keluarga Mesir menjerit karena kematian anak-anak sulung mereka! And let us guess: tidak ada satupun anak sulung Israel yang meninggal—karena ada darah di ambang pintu mereka.

Darah bukan sekadar substansi yang ada dalam tubuh manusia dan binatang. Darah itu mengandung makna sesuatu yang lebih tinggi:

Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.
(Imamat 17:11)

Darah berarti nyawa (karena itu orang Israel dilarang makan darah). Dalam ayat di atas dikatakan bahwa darah (binatang) dipakai sebagai pendamaian bagi nyawa manusia. Maksudnya, ada seekor binatang yang dibunuh dan darahnya dicurahkan, supaya seorang manusia tidak mati karena dosanya. Tanpa penumpahan darah itu, tidak ada pengampunan dosa (Ibrani 9:22) dan semua orang yang berdosa harus mati (Roma 6:23). Jadi, melalui tulah kesepuluh yang telah dijelaskan di atas, nyawa anak sulung Israel dibeli dengan nyawa anak domba.

Tetapi, sekalipun kisah tulah kesepuluh di Mesir adalah contoh yang jelas tentang penebusan nyawa manusia, kita tahu bahwa manusia dan binatang tidak setara. Ini jelas terlihat dalam hukum Taurat. Setiap kali seseorang akan menghadap Tuhan di Bait Suci, dia harus mempersembahkan korban. Setiap hari imam-imam harus membakar korban bakaran bagi Tuhan. Darah binatang tidak cukup untuk menghapus seluruh dosa seseorang, apalagi dosa semua orang! Sekalipun semua binatang di dunia dikorbankan untuk satu orang, itu tetap tidak cukup untuk menghapus semua dosanya. Jika demikian, apa yang harus kita lakukan?

Kita tentu pernah mendengar tentang Yohanes Pembaptis yang berseru mengenai Yesus: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yohanes 1:29). Gelar “Anak Domba Allah” yang dikenakan kepada Yesus menggambarkan apa yang terjadi dalam peristiwa tulah kesepuluh di Mesir. Anak domba itu menggambarkan Yesus. Darah anak domba yang dicurahkan untuk keselamatan anak-anak sulung Israel adalah gambaran dari darah Yesus dicurahkan untuk keselamatan kita; nyawa Yesus sebagai ganti nyawa kita. Karena Yesus adalah Anak Allah yang sempurna, maka kematian-Nya—satu kali di atas kayu salib—cukup untuk menebus semua dosa semua manusia yang percaya kepada-Nya.

Mengapa Allah memberikan Anak Domba Allah, yaitu Yesus, sebagai penebusan nyawa kita? Jawabannya tidak lain karena Allah mengasihi kita. Dalam kisah tulah kesepuluh, Allah menyelamatkan bangsa Israel karena mereka adalah umat-Nya. Namun, kasih Allah ternyata tidak hanya terbatas bagi bangsa Israel, karena Allah membuka pintu keselamatan itu bagi semua manusia dari semua bangsa melalui Yesus Kristus. Mungkin kita pernah mendengar ada orang yang berkata bahwa Kekristenan itu eksklusif karena jalan keselamatan hanya melalui Yesus. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa Kekristenan itu sebenarnya inklusif? Ya, karena semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus—tidak peduli latar belakangnya, segala dosanya, status sosialnya, dan sebagainya—bisa menerima keselamatan melalui-Nya? Itu semua hanya bisa terjadi “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,” demikian kata firman Tuhan (Yohanes 3:16). Kalau kembali pada tulah kesepuluh, kita akan menemukan bahwa perintah Allah untuk menyapukan darah anak domba di ambang pintu tentu tidak hanya didengar oleh bangsa Israel, tetapi diketahui pula oleh orang Mesir. Kalaupun mereka percaya pada perintah itu, mereka juga akan diselamatkan (terbukti dari bukan hanya bangsa Israel yang keluar dari Mesir, namun ada beberapa orang non-Israel yang ikut bersama mereka)! Siapapun yang mau menerima keselamatan itu disambut dengan tangan terbuka oleh Allah.

Prosesi kematian Yesus di atas kayu salib memang sangat menyentuh. Orang yang tidak percaya pun bisa menangis saat menonton filmnya, karena begitu berat penderitaan dan penghinaan yang Yesus alami. Namun, rencana Allah yang ada di balik penyaliban itu lebih luar biasa lagi! Apabila kita percaya kepada Yesus yang telah mati bagi kita, kita seakan sedang menyapukan darah anak domba di ambang pintu rumah kita. Dalam kitab Wahyu dikatakan bahwa orang-orang yang diselamatkan adalah:

... orang-orang yang ... telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. (Wahyu 7:14)

Bagaimana mungkin jubah dicuci dalam darah tetapi menjadi putih? Bukankah justru jubah itu akan menjadi kotor karena darah? Ternyata tidak! Ini karena darah Yesus menyucikan kita dari segala dosa! Orang-orang yang percaya kepada Yesus tidak akan dihukum untuk dosa mereka, karena semua dosa itu telah diampuni. Ketika kita menerima darah Yesus, kita menerima pula hidup-Nya bagi kita.

Tetapi ada orang yang tidak percaya kepada Yesus, sebagaimana bangsa Mesir tidak percaya bahwa darah anak domba akan menyelamatkan nyawa anak sulung mereka. Harga dari ketidakpercayaan itu adalah kematian. Harga dari ketidakpercayaan manusia kepada Yesus jauh lebih mahal, yaitu kebinasaan kekal. Ini karena semua orang yang tidak percaya kepada Yesus harus mempertanggungjawabkan dosa mereka sendiri di hadapan Tuhan, dan menerima hukuman atas dosa-dosa mereka. Bagaimana dengan kita? Apa yang akan menjadi respons atas anugerah keselamatan melalui Sang Anak Domba Allah ini?

Monday, March 22, 2021

Tidak Bercela




by Poppy Noviana

…dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita
(Titus 2:7-8)

Saya teringat seorang teman yang bertanya kepada saya, bagaimana mungkin saya bisa menerima kenyataan bahwa saya difitnah di pengadilan dan menyaksikan lawan yang saya gugat bersumpah di atas Alkitab bahwa mereka tidak bersalah. Padahal, sudah jelas mereka melanggar kontrak kerja dengan pemecatan sepihak atas dasar pandemi. Apakah semua orang Kristen semunafik dan sejahat itu? 

Saat itu Roh Kudus mengingatkan saya, tidak semua hidup orang Kristen serupa dengan gambaran ideal di Alkitab. Status Kristen bisa saja adalah warisan dari orang tua, namun menjadi pengikut Yesus adalah keputusan pribadi berdasarkan kesadaran tentang penebusan karena kasih-Nya. Itulah mengapa, Yesus memanggil kita untuk menjadi pengikut-Nya, bukan menjadi orang yang beragama saja. Mengikut Yesus merupakan perintah yang lebih tinggi dari sekedar menjadi seorang yang beragama Kristen. Jika ada yang menyaksikan seorang Kristen hidup tidak benar, lalu menganggap ajaran Tuhan-nya seperti itu, sesungguhnya itu tidak tepat, karena perihal menjadi orang Kristen dan mengikut Tuhan dan adalah dua hal yang berbeda. 

Walaupun begitu, Firman Tuhan sendiri memerintahkan kita agar hidup tidak bercela. Titus secara khusus menyebutkan “agar tidak ada hal-hal buruk” yang dapat disebarkan orang-orang tentang kita. Tujuannya jelas, supaya terang kita bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa kita di sorga (Matius 5:16). 

Kadang ada yang bilang, ngga usah memikirkan apa yang orang pikirkan atau bicarakan tentang kita. Namun saat semua itu berhubungan dengan identitas kekristenan kita, hal itu menjadi penting. Tuhan ingin kita memiliki image yang baik karena kita membawa image Kristus. Ia juga tidak ingin perbuatan kita menjadi batu sandungan, khususnya bagi mereka yang belum mengenal Yesus.

Ini berarti, kehidupan sebagai menjadi pengikut Yesus seharusnya tidak berseberangan dengan perintah dan prinsip hidup-Nya. Padahal, kenyataannya selama kita masih hidup di dunia, kita akan selalu menjadi orang Kristen yang tidak sempurna. Bagaimana kalau kita gagal, lalu ada orang-orang yang membicarakan kita, karena label kita sebagai orang Kristen? 

Firman Tuhan menyediakan jawabannya,

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
(Ibrani 12:2)

Dalam versi Bahasa Inggris, bagian awal ayat ini berbunyi, “Let us fix our eyes on Jesus, the author and perfecter of our faith,”. Yesus adalah penulis iman kita dan yang menyempurnakannya. Allah memahami bahwa kita tidak bisa memiliki iman yang sempurna, hidup yang sempurna, namun kita punya Yesus yang sanggup menyempurnakannya. Dengan satu syarat, mata kita selalu tertuju kepada Yesus. 

Hidup mengikut Yesus adalah sebuah proses. Mengikut Yesus tidak berhenti saat kita menerima Dia sebagai Juru Selamat kita, namun terus berlanjut saat kita menjalani hidup setiap hari memikul salib-Nya. 

Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
(Lukas 9:23)

Yesus tahu memikul salib bukan hal yang mudah. Ia sendiri kepayahan dan pernah jatuh. Tapi Yesus tidak menyerah, Ia memandang Bapa-Nya, bangkit kembali, dan tetap berjalan sampai tujuan. Ibrani mengatakan Yesus “tekun memikulnya salibnya”.

Kesimpulannya, menjadi pengikut Yesus dan hidup dengan label tidak bercela membutuhkan dua langkah ini:

Langkah Pertama - Menerima dan mengakui Yesus sebagai Juru Selamat pribadimu.

Langkah Kedua - Mengikut Dia dengan melakukan perintah-Nya dengan setia.

Terdengar sederhana memang, tapi menjalaninya tentu tidak mudah. Tapi Tuhan berjanji bahwa Ia bekerja di dalam kita dan memberi kekuatan untuk melakukannya. Jadi jangan takut untuk mengikut Dia. Fokus pada Yesus. Fokus mengejar excellence bukan jadi perfection. Fokus untuk taat dan setia demi menyenangkan hati Tuhan, bukan untuk mendapatkan kekaguman dan pengakuan orang. Tuhan pun ngga selalu menyenangkan semua orang. 

Akhir kata, status tidak bercela sebenarnya sudah kita terima saat kita melakukan langkah pertama, karena Yesus sudah menebus dosa kita. Tugas kita menghidupi status tersebut, dengan melalukan langkah kedua, sampai akhirnya Dia memanggil kita kembali. 

Tetap semangat memelihara iman dan memikul salibnya di dunia ini. Mari kita saling mendoakan dan menguatkan dalam percaya dan berserah penuh kepadanya, tanpa ragu sedikitpun.

Monday, March 15, 2021

Mendengarkan Firman Tuhan



by Alphaomega Pulcherima Rambang

Bacaan : 1 Samuel 15 (Saul Ditolak Sebagai Raja)

Perintah Tuhan kepada Saul melalui Samuel sangatlah jelas, Tuhan tidak berbicara melalui perumpamaan, tafsiran, mimpi, atau bahasa isyarat (apalagi bahasa kalbu). Kurang apalagi? Tapi kenyataannya, Saul tidak taat pada perintah Tuhan. Tuhan marah lalu mengutus Samuel menegur Saul.

Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."
1 Samuel 15:22-23

Kenapa Tuhan bisa menjadi sangat marah ya? Padahal Saul sudah melaksanakan hampir semua firman Tuhan loh. Saul “hanya” tidak menaati perintah Tuhan dengan tepat – apakah itu kesalahan yang besar? Mengapa Tuhan begitu tidak suka? Sekilas, apa yang dilakukan Saul tampaknya bukanlah dosa besar, bahkan sepertinya di Alkitab banyak lagi tuh tokoh yang melakukan kesalahan lain yang lebih besar, tapi kenapa Tuhan mengganggap dosa Saul sangat besar? Saul dikatakan telah menolak firman Tuhan, karena dia lebih memilih memberikan korban sembelihan dibandingkan mendengar dan memperhatikan Firman Tuhan. Tuhan berkata Saul durhaka dan degil. Bahkan Ia menyamakan pendurhakaan Saul sama seperti dosa bertenung, dan kedegilannya sama seperti menyembah berhala. 

Kedegilan adalah ketidakmauan menuruti nasihat/teguran.

Pendurhakaan adalah perbuatan menentang/membangkang pada perintah. 

Bagi kita, sekilas apa yang dilakukan Saul bukanlah dosa besar, tapi Tuhan melihat hati Saul melebihi apa yang dilakukannya. Segala yang dilakukan Saul menunjukkan sikap hatinya. Yuk, kita lihat, apa makna ketidaktaatan Saul dalam mendengarkan firman Tuhan?

Saat Samuel datang kepadanya, Saul berkata kalau dia telah melaksanakan Firman Tuhan. Saat dikonfirmasi Samuel, ternyata, Saul beralasan kalau rakyatnya yang berinisiatif sendiri (ah, kamu raja Saul, keputusan kan di kamu kok nyalahin rakyat, gemes kan jadinya).

Jawab Saul:”Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas.”
1 Samuel 15:15

Saul berkata dia telah melaksanakan Firman Tuhan, padahal apa yang dilakukannya berbeda. Ini Saul benar dengar apa kata Tuhan tidak ya? Mendengarkan Firman Tuhan seharusnya bukan sekedar masuk kuping kiri keluar kuping kanan, atau dengar sambil lalu. Mendengarkan Firman Tuhan berarti menaati FirmanNya dan tunduk pada otoritas Firman itu.

Sesungguhnya jawaban Saul saat dikonfirmasi tentang ketidaktaannya tersebut menyatakan beberapa hal :

1. Saul tidak mengasihi Tuhan

Perintah Tuhan sudah jelas, lalu mengapa Saul berimprovisasi? Apa Saul berpikir Tuhan akan lebih senang kalau dia mempersembahkan korban bakaran dan sembelihan dibanding menaatiNya? Ketidaktaatan Saul bukan hanya menunjukkkan kalau dia tidak tunduk pada Tuhan tapi lebih dari itu, dia tidak mengasihi Tuhan. Tindakan Saul menunjukkan bagaimana sikap hatinya yang sebenarnya. Tanda kita mengasihi Tuhan adalah kita taat kepadaNya. Titik.

Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu.
Yohanes 14:15

Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.
Yohanes 14:21

Jikalau seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu.
Yohanes 14:23

Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firmanKu.
Yohanes 14:24

Tuhan ingin kita menaati Dia dalam segala hal. Seringkali manusia memakai hikmatnya sendiri, mengira saat dia melakukan ini itu Tuhan akan senang, padahal tidak perlu menggunakan hikmat sendiri, cukup dengar dan lakukan kata Tuhan. Mengasihi Tuhan dengan perbuatan, tidak hanya melalui perkataan. Tidak peduli orang bilang apa, Tidak peduli pandangan orang apa, taat kepada Tuhan sedetail-detailnya. Tidak ada yang namanya taat sebagian. Mendengarkan Tuhan dan tidak menggantikan itu dengan apapun. Misalkan, mentang-mentang pelayanan lalu melakukan dosa? No! Tidak boleh. Ketaatan sebagian sama dengan ketidaktaatan.


2. Saul menyalahkan rakyatnya atas ketidaktaannya

Saul memiliki banyak alasan. Sudah jelas dia tidak taat kepada Tuhan, bukannya mengakui kesalahan dan bertobat tapi dia malah mencari alasan untuk ketidaktaatannya. Okelah, bisa saja ide mempersembahkan korban itu berasal dari rakyatnya, tapi Saul adalah seorang raja. Dia harusnya membuat keputusan yang benar, lagipula dia mendengar langsung Firman Tuhan melalui Samuel. Apa Saul lupa kalau dia tidak bisa menyembunyikan apa-apa dari Tuhan, hati kita aja Tuhan tahu. Saat Tuhan menyatakan kesalahan, entah melalui firmanNya atau orang lain maka sikap yang benar adalah mengakui kesalahan, tidak beralasan, dan segera bertobat!

Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi. 
Amsal 15:22

Inilah yang dikatakan Tuhan degil. Saul tidak mau ditegur. Sikap hati Saul setelah ditegur tidak benar. Ia tidak mengaku, malah beralasan dan menyalahkan orang lain, serta tidak segera bertobat. Saul tidak langsung mengakui dosanya tetapi membuat berbagai alasan. Samuel terus menjawabnya sampai Saul tidak punya pilihan selain mengakui kesalahanya. Yang dikatakan oleh Saul di ayat lain saat tidak punya pilihan selain mengakui dosanya sangat mengerikan:

Berkatalah Saul kepada Samuel:”Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah Tuhan dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka.
1 Samuel 15:24

Jderrr…!!! Terungkap semua, rupanya Saul lebih takut pada rakyatnya dibandingkan pada Tuhan. Saul lebih mendengarkan rakyatnya daripada mendengarkan Tuhan. Saul lebih takut pada manusia dibandingkan Tuhan. Pantas saja dia tidak mendengarkan Tuhan dan lebih mengikuti perkataan manusia.


3. Saul tidak menganggap Tuhan sebagai AllahNya

... dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas.”
1 Samuel 15:15

WHATTT? Bagian ini bikin geleng-geleng kepala dan sedih. Terungkap kalau Saul beranggapan Tuhan adalah Allahnya Samuel saja. Kalau memang itu isi hati Saul yang paling dalam, pantas saja mudah baginya untuk tidak menaati Tuhan, karena baginya Allah adalah Allahnya Samuel, bukan Allahnya. Pantas saja Saul durhaka dengan tidak menghormati Firman Tuhan dan menaatinya. Kalau Saul menyadari dia melayani Tuhan yang adalah ALLAH dan Raja atas hidupnya, tentunya dia tidak akan menganggap remeh setiap FirmanNya. Saul akan berusaha menyenangkan hatiNya dengan ketaatan sempurna. 

Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.
1 Yohanes 2:4

Ketidaktaatan Saul mendengarkan Firman Tuhan bukan dosa remeh karena sebenarnya bermakna ia tidak mengasihi Tuhan dengan sungguh, ia tidak takut Tuhan dan tidak menganggap Tuhan sebagai AllahNya. Ini adalah peringatan bagi kita semua untuk tidak menganggap remeh setiap ketidaktaatan kita akan firman Tuhan. Jangan sampai kita menjadi seperti Saul. Biarlah ketika kita menerima Yesus sebagai Juruselamat hidup kita, kita mengerti bahwa Yesus juga Tuhan dan Raja yang memerintah setiap bagian hidup kita dan biarlah ketaatan kita sempurna untuk menyenangkan hati Sang Raja.

Monday, March 8, 2021

Nyaman




by Ika Hambali 

Bagi kita, para wanita, kita pasti tahu bagaimana rasanya menjadi wanita. Kita suka dipuji, kita suka disayang, senang kumpul-kumpul dan ngobrol dari hati ke hati. Kita suka menerima kado dan memberi kado, rasanya bahagia kalau bisa membuat orang lain juga senang. Kita suka bikin arisan, mungkin tujuan utamanya bukan uangnya, tapi kumpul-kumpul, makan bersama, tertawa dan berbagi cerita. Bahkan, sekarang pun banyak perkumpulan ibu-ibu menyusui, perkumpulan ibu-ibu sekolah tertentu, ibu-ibu homeschooling, klub masak, klub sepeda wanita, atau apa saja yang bisa menjadi alasan untuk membuat suatu perkumpulan dengan para wanita sebagai anggotanya. 

Seorang penyiar radio di Amerika pernah membuat laporan, bahwa di hari dia dimana membawakan topik tentang masalah makro; politik, ekonomi, keuangan, maka mayoritas penelpon adalah pria. Sedangkan, di hari dimana dia membawakan topik tentang hubungan manusia, seperti topik tentang cinta, anak, atau parenting, maka mayoritas penelpon adalah wanita.

Jelas sekali jika kita, wanita, adalah mahkluk ciptaan Tuhan yang sangat peduli dengan relasi atau hubungan antar manusia. Rasanya mudah untuk sesama wanita menemukan kesamaan dan saling membantu. Saya sejujurnya, selalu terganggu bila ada masalah kecil, apalagi besar, dengan keluarga atau teman. Rasanya itu mengambil hampir semua porsi perhatian saya di hari itu. Ingin cepat membereskan dan cepat baik-baik saja, rasanya gundah kalau ada hubungan yang bermasalah. Karena hubungan itu penting buat saya. 

Tetapi tanpa sadar, hal ini juga yang kadang saya jadikan acuan untuk kebahagiaan saya. Apa kata orang, apa kata dia, apa kata mertua, apa yang dia pikirkan, dan apa yang terjadi kalau saya lakukan ini dan itu. Tanpa sadar, saya menjadikan orang lain sebagai tolak ukur rasa puas dan kebahagiaan saya. Dan ternyata hal ini juga membuat saya jadi tidak berani membuat keputusan karena takut dengan apa kata orang, atau dengan pemikiran orang lain. Kemudian berlanjut ke kepercayaan diri saya yang dipengaruhi dengan perkataan orang, misalnya bertemu dengan kerabat yang lama tidak bertemu lalu kalimat pertamanya adalah, “Eh gemukan ya.” Secuek apapun seorang wanita, pasti ada rasa di hati saat hal itu dilontarkan. Belum lagi kalau komentarnya soal anak, dan dilontarkan oleh orang yang dekat. Sampai di satu titik saya lelah dengan semua ini, dan menutup diri dari semua relasi atau hubungan dekat. Karena tidak nyaman, tidak mau disakiti, dan tidak mau menyakiti. 
“To love at all is to be vulnerable. Love anything, and your heart will certainly be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact, you must give your heart to no one, not even to an animal. Wrap it carefully round with hobbies and little luxuries; avoid all entanglements; lock it up safe in the casket or coffin of your selfishness. But in that casket – safe, dark, motionless, airless – it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable … The only place outside Heaven where you can be perfectly safe from all the dangers … of love is Hell.” 
(C. S. Lewis – the Four Love)
Lalu, saat saya menutup semua pintu dan diri dari semuanya, keadaan tidak bertambah baik, tidak lantas tambah bahagia, tapi sepi sendiri, kaku seperti kanebo kering, dan mudah patah. Tuhan mengetuk pelan pintu hati saya, untuk membuka diri untuk diriNya, dan saya jawab ya. Berusaha bangun pagi untuk membaca Alkitab dan berdoa, perjuangan yang tidak mudah. Tapi saya menikmatinya, dan terbawa dalam perjalanan romantis dengan Tuhan, hal-hal yang diungkapkanNya melalui FirmanNya dan keseharian yang sederhana benar-benar memukau diriku. Pada saat yang sama, ternyata hati ini pun jadi lebih mudah terbuka dan menerima orang lain yang memiliki banyak salah, mudah untuk memaafkan, mudah untuk mengerti alasan orang lain melakukan hal yang menyebalkan. Tanpa sadar Tuhan membuat kapasitas hati saya menjadi besar untuk menampung banyak hal-hal yang mungkin dulu tidak bisa saya toleransi. 

Masih wanita yang sama, wanita yang menghargai hubungan, dan peduli dengan orang lain, yang juga masih sensitif, dan takut disakiti, tapi sekarang dengan hati yang berbeda. Perubahan yang terjadi adalah hati ini telah diisi oleh kasihNya terlebih dahulu, sebelum diberikan pada orang lain. Ternyata, Tuhan peduli dengan hubungan manusia, karena Dia yang menciptakan wanita sesuai gambaranNya. Artinya Tuhan juga sebenarnya rindu untuk mempunyai kedekatan dengan kita, sama seperti wanita mau disayang dan dikejar, demikian juga Tuhan. Dan saat saya berusaha meletakkan hubungan dengan Tuhan di atas segalanya, ternyata cara pandang saya dan reaksi saya dalam banyak hal bisa berubah. As if everything falls into its perfect place. 

“For a woman to enjoy relationship, she must repent of her need to control and her insistence that people fill her. Fallen Eve demands that people ‘come through’ for her. Redeemed Eve is being met in the depths of her soul by Christ and is free to offer to others, free to desire, and willing to be disappointed. Fallen Eve has been wounded by others and withdraws in order to protect herself from further harm. Redeemed Eve Knows that she has something of value to offer; that she is made for relationship. Therefore, being safe and secure in her relationship with her Lord, she can risk being vulnerable with others and offer her true self.”
(Stasi Eldredge – Captivating)
Masih wanita yang sama, tapi sekarang saya merasa nyaman menjadi diri sendiri, nyaman untuk berekspresi, nyaman untuk membuka dirinya dan memberikan apa yang bisa diberikan untuk orang lain. Karena rasa nyaman itu ditemukan dari penciptaNya. Wanita yang ber-partner dengan Tuhan akan membawa kehidupan dimana pun dia berada. 

“I’ve loved you the way my Father has loved me. Make yourselves at home in my love. If you keep my commands, you’ll remain intimately at home in my love. That’s what I’ve done—kept my Father’s commands and made myself at home in his love.” 
John 15:9-10 MSG