Wednesday, June 28, 2017

Percaya Pemeliharaan Tuhan


by Felisia Devi

Selama enam tahun kamu harus menanami ladang-ladangmu, memangkas kebun-kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanahmu. Tetapi setiap tahun yang ketujuh dikhususkan untuk TUHAN. Jadi sepanjang tahun itu tanah harus dibiarkan dan tak boleh dikerjakan. Jangan menanami ladang-ladang dan jangan memangkas pohon-pohon anggurmu. (BIS)
(Imamat 25:3-4)

Seandainya Tuhan memberikan instruksi diatas buat saya, saya pasti akan langsung punya banyak pemikiran pertanyaan tentang kelangsungan hidup saya ke depan.

Hellowww!!! Mau makan apa saya nanti, berkebun yang jadi penopang buat makan sehari-hari, trus sekarang selama setahun gak boleh diapa-apain tanahnya. 

Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, Tuhan pasti tahu akan ada orang yang bingung sama perintah kaya gini, makanya Tuhan kasih tau lanjutannya... 

Tetapi barangkali ada yang bertanya apa yang akan dimakan selama tahun ketujuh pada waktu tanah tidak ditanami dan hasilnya tidak dipungut. Dalam tahun keenam TUHAN akan memberkati tanah sehingga hasilnya cukup untuk tiga tahun. (BIS)
(Imamat 25:20-21)

Cukup 3 tahun?!!! Wow, Tuhan mikirin ternyata. Tuhan yang minta untuk melakukan itu, Tuhan yang pikirin juga jalan keluarnya. 

Buat saya sih ini mujizat, lebih dari manna di padang gurun. Lewat manna Tuhan minta umat-Nya ngga melakukan apa-apa buat hari Sabat. Tuhan cukupin manna yang turun pada hari ke-6 cukup buat dua hari. Sekarang Tuhan minta bangsa Israel lakukan hal 'lebih besar'! Karena Tuhan mau lakukan mujizat yang lebih besar, hasilnya lading yang biasanya menghasilkan panen untuk setahun, kini cukup untuk tiga tahun... 

Saya bayangin kalo saya jadi orang Israel, biarpun bener, tetapi hal 'luar biasa' ini diluar logika. Pasti akan terbesit dalam pikiran saya “bener ga ya?”. Biasa hasil setiap setahun sekali cukup untuk setahun, ini 3 tahun. Yakin cukup tuh Tuhan? 

Tahun ke-6, terakhir panen.
Tahun ke-7, gak boleh ngapa-ngapain, gak ada kegiatan menanam.
tahun ke-8, gak ada hasil karena taun ke-7 gak boleh ditanam apa-apa. Baru boleh mulai tanam hasil nya taun ke 9.
Tapi, persediaan cukup sampe taun ke-9. 

Dalam tahun yang kedelapan kamu akan menabur, tetapi kamu akan makan dari hasil yang lama sampai kepada tahun yang kesembilan, sampai masuk hasilnya, kamu akan memakan yang lama. 
(Imamat 25:22)

Mungkin sangking suburnya Kanaan, tanah yang bisa menghasilkan panen buat setaun ini bisa buat tiga tahun. Tapi, tetep aja kalo bukan tangan Tuhan, hal itu ngga mungkin. 

Dari kisah ini, kita bisa belajar klo Tuhan minta lakuin apa, udahlah, tunduk dan taat aja, belajar semakin percaya, gak usah pusing hal lain. 

Tapi, kita memang sering mempertanyakan Tuhan atau malah meragukan Tuhan, karena kita memperhitungkan sendiri bahwa secara logika kita, di depan itu berasa ada yang kurang/tidak sesuai perencanaan kita 

"Yang bener aja Tuhan mau saya pilih kerjaan disini, yang klo di lihat dari kacamata saya nih, tidak ada jenjang karir, gajinya kecil, lingkupannya kecil, kapan saya banyak duitnya, dapet jodohnya, kapan saya berkembang nya?" 

"Serius Tuhan aku diutus ke sini, lakuin ini itu, ntar gimana masa depan saya. Salah kali Tuhan." 

"Tuhan yakin klo memutuskan hub dengan dia yang jelas udah mau ngawinin saya, menjamin saya akan dapat yang lebih baik dari dia dan menikah?"

Sebenarnya sebelum Tuhan meminta, gak usah ditanyakan, Tuhan udah pikirin kelangsungan/kecukupan hidup kita.

Adam saja sebelum Tuhan ciptakan, Tuhan udah siapkan rencana dan fasilitas untuk Adam menjalankan rencana Nya di bumi.

Tuhan gak ciptain Adam dulu, terus baru Tuhan bilang, "Dam, Aku sudah menciptakanmu. Sekarang Adam mau jadi apa? Mau ngapain di dunia? Adam mau makan apa?"

Lalu Adam bilang, "Apa ya Tuhan, mau jadi ini aja deh... Terus nanti aku juga mau makan ini itu Tuhan."

"Ow gitu kamu mau nya...” jawab Tuhan. “Bentar-bentar ya, Adam. Aku rancangkan dulu hidupmu klo gitu, terus Aku ciptakan dulu yang kamu mau." 

Loh? Tuhan nya siapa, yang ngatur siapa... Tuhan ciptain Adam dengan tujuan yang sudah di persiapkan dan untuk kelangsungan hidup Adam Tuhan udah siapin juga. Dia sudah siapkan bijian-bijian dan tumbuhan buat jadi makanannya. Dia tahu apa yang harus kita lakukan, cocok, pas, terbaik buat kita. 

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. 
(Ef 2:10)

Tuhan suruh umat Israel keluar dari Mesir bukan tanpa tujuan. Tuhan udah siapin tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madu. Dipadang gurun aja Tuhan setia memelihara, bahkan sampe kasut mereka aja kaga rusak sedikit pun.

Jadi, hiduplah dalam rencana-Nya. Percayalah pada yang Tuhan minta untuk kita lakukan dan percayalah pada pemeliharaan-Nya selama kita taat kepada-Nya.

Monday, June 26, 2017

Beauty of Waiting


by Felisia Devi

Menunggu adalah sesuatu hal yang tidak mengenakan, betul apa betul? Makanya saya selalu berusaha tepat waktu ketika berjanji dengan siapa pun. Saat saya merenungkan lagi tentang hal menunggu ini, saya pikir saya sekarang juga sedang menunggu loh...

Menunggu waktunya Tuhan yang telah mengatur semua hal yang harus saya lewati. 

Menunggu pembelajaran dari setiap hal yang terjadi, karena setiap masa yang saya lalui pasti memiliki keindahannya sendiri. (Peng 3:11) 

Menunggu hikmat dan jawaban dari Tuhan untuk setiap pertanyaan/pergumulan saya.

Tuhan mengajar saya untuk ‘suka’ menunggu. Dia mengajar saya bahwa masa menunggu bukan berarti masa untuk tidak melakukan apapun. Kita bisa menunggu tapi tetap melakukan hal-hal yang bermanfaat. Seringkali, hal-hal lain yang kita lakukan justru membuat waktu menunggu ga berasa lama. 

Pada praktek keseharian untuk soal "menunggu", saya belajar untuk melakukan hal-hal yang berguna (bukan sekedar menghabiskan waktu): saya dialog sama Tuhan, renungin firman Tuhan, (apalagi sudah ada aplikasi Alkitab di HP), saya selalu bawa buku di tas supaya kapanpun bisa membaca. Kadang, saya melihat keadaan sekitar, untuk melihat apa yang bisa saya pelajari, lakukan, mengamati hal-hal yang suatu hari nanti bisa memperkaya tulisan saya. Pokoknya jangan sampe saya tidak melakukan apapun apalagi sampe damai sejahtera hilang/direbut.

Banyak orang fokus pada masa menunggu, tapi melupakan hal-hal yang bisa dia lakukan ketika menunggu. 


I'm a lady in waiting. Every one of us is a lady/man in waiting. 


Yang paling utama, kita menanti untuk dijemput sang pengantin Tuhan Yesus sendiri, di pesta pernikahan. Kita sedang menantikan Anak Domba Allah datang untuk yang kedua kali.

"Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteriKu dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang"
(Hos 2:18)

"Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia"
(Wahyu 19: 7)

Dalam masa penantian itu, mari melatih diri kita untuk terus mengejar keserupaan dengan Kristus.



Happy waiting

Friday, June 23, 2017

Kenapa Harus Menunggu?


by Azaria Amelia Adam

Banyak dari kita pasti sudah punya rencana hidup. Misalnya, kalau sudah selesai pendidikan sarjana, kita punya target kapan harus sudah mulai bekerja, kapan melanjutkan studi lagi, kapan menikah, kapan punya anak dan seterusnya.

Semuanya seperti sudah tertata dengan baik dalam pikiran dan kita berjuang untuk mewujudkannya. 

Saat kita masih jadi mahasiswa tingkat akhir, harapan kita adalah lulus tepat waktu dan cepat mendapat pekerjaan. Kalau bisa dapat pekerjaan yang kita suka, sesuai bidang ilmu dan keahlian, dan gaji besar. Atau buat yang sudah menikah, maunya cepat punya anak. Ah, indahnya hidup jika seperti itu.

Tetapi, kadang semua terjadi tidak seperti rencana kita. 

Bukannya lulus tepat waktu, penelitian kita untuk tugas akhir bermasalah dan akhirnya harus mengulang. Segera setelah lulus, kita langsung mengirim lamaran ke banyak tempat, tetapi masih belum dipanggil untuk bekerja. Atau, sudah menikah lebih dari 5 (lima) tahun, tetapi belum memiliki anak.

Dalam menghadapi masa penantian itu, kita seperti disuruh Tuhan untuk bersabar. Tetapi saat kita menunggu, lama-kelamaan kita menjadi bosan, kecewa dan putus asa.

Sangat penting buat kita untuk tidak menunggu hanya untuk berkat seperti wisuda atau pekerjaan yang bagus. Kita perlu berharap pada Tuhan. Akan ada sukacita bagi orang-orang yang bersabar dalam Tuhan dan tetap percaya pada Tuhan. 

Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, Nantikanlah TUHAN.
(Mazmur 27:14)

Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu. 
(Mazmur 25:3a)

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.
(Mazmur 62:5)

TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
(Ratapan 3:25)

Pernahkah kita berpikir, masa penantian justru membuat berkat Tuhan terasa lebih indah. Apa bedanya, semangat kerja seorang yang sudah pernah menganggur setahun dan fresh-graduate? Atau, apa bedanya, perasaan bahagia suami istri yang memiliki anak pertama di usia pernikahan 10 tahun dengan yang baru 10 bulan menikah?

Jika kita benar-benar bersabar dalam penantian, kita bisa lebih menikmati berkat itu, bukan menyia-nyiakannya. 

Kita perlu percaya bahwa jika kita meletakkan harapan kita pada Tuhan, jiwa kita tidak akan kecewa malah menjadi semakin kuat. Kita mampu untuk bersukacita dalam penantian kita bersama Tuhan. 

Memang tidak salah jika kita punya target waktu dalam kehidupan ini. Tetapi perlu kita sadari bahwa menunggu dan berserah adalah hal yang harus kita lakukan untuk memiliki hati yang kuat dan jiwa yang tenang. Tuhan tidak memanggil kita hanya berdiam dalam penantian. Tuhan mengijinkan kita mengunggu agar kita bisa belajar menyerahkan semua keinginan dan harapan kita pada-Nya. Ini yang harus kita lakukan dalam penantian, bukan lagi mempertahankan rencana, waktu, keinginan dan harapan kita, tetapi menggantinya dengan rencana Tuhan, waktu Tuhan, keinginan dan harapan Tuhan atas kita.

Wednesday, June 21, 2017

Book Review: Understanding The Purpose and Power of Prayer, Myles Munroe


by Azaria Amelia Adam

Pernahkah kita berpikir:

Kalau Tuhan sudah punya rencana untuk kita semua.
Kalau rencana Tuhan itu “YA dan AMIN”, maka artinya semuanya pasti akan terjadi.

Lalu, kenapa kita harus berdoa?

Kalau itu memang kehendak Tuhan, untuk apa kita berdoa meminta sesuatu? Tuhan pasti akan memberikannya. Kalau itu memang rencana Tuhan, untuk apa kita berdoa? Tuhan akan melaksanakan rencana-Nya.

Secara logika manusia, pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa masuk akal.

Saat membaca buku ini, saya ingat statement yang dikatakan Dr. Myles Munroe dalam suatu konferensi:

"Prayer is a petition"

Statement yang singkat, padat, sangat jelas, tetapi sangat mengubah pola pikir.

Di dalam buku ini, Dr. Myles Munroe menjelakan bahwa Doa adalah sebuah petisi. Petisi yang kita sampaikan kepada Tuhan. Doa disampaikan kepada Tuhan sebagai petisi atas hukum, firman dan Janji-Nya.

Dari penjelasan ini, saya mengerti jika kita berdoa, kita bukan menyampaikan kehendak kita pada Tuhan, tetapi membiarkan kehendak Tuhan terjadi di dalam hidup kita.

Lalu, kenapa kita harus berdoa?

Karena saat Tuhan menciptakan manusia, Dia menginginkan manusia berkuasa atas dunia. Dunia ini diberikan Tuhan untuk dikuasai manusia, artinya, manusia memiliki otoritas untuk melakukan apa saja atas dunia sesuai kehendak manusia.

Tuhan membiarkan manusia memiliki kehendak bebas dan menjadi raja bagi dunia.

karena itu, kita sering mendengar banyak orang berkata "lakukanlah sesuai kehendakmu" "pilihlah sesuka hatimu" "bermimpilah, buatlah rencana dan laksanakan".

kita punya hak untuk memilih, hak untuk melakukan apa saja sesuai kehendak kita. Dan Tuhan tidak akan mengintervensi apa yang sudah Dia berikan sebagai hak kita.

Tetapi, siapa manusia yang mampu melihat seperti Tuhan melihat? adakah manusia yang pemahamannya melebihi Tuhan? atau yang mengetahui apa yang terjadi sebagai konsekuensi suatu 'kehendak bebas'?

Tidak ada dari kita yang memiliki pemahaman melebihi Tuhan.

Karena itu, kita perlu berdoa. Kita perlu membiarkan Tuhan mengambil kembali otoritas yang diberikan kepada kita. Kita perlu membiarkan Tuhan mengintervensi dunia agar hanya rencana-Nya yang terjadi.

Karena tidak ada rencana yang lebih baik daripada rencana Tuhan untuk kita.

Dr. Myles Munroe menjelaskan dengan sangat detail sehingga kita bisa mendapatkan pengertian yang lebih dalam tentang Kuasa dan Tujuan dari DOA. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca.

Monday, June 19, 2017

Patients Need Our Patience



by Azaria Amelia Adam

Pendidikan profesi tenaga kesehatan seperti dokter atau perawat memang sangat menguras tenaga. Profesi ini menuntut kami bekerja melebihi jam kerja pada umumnya. Bukan cuma 40 jam per minggu, tapi bisa 80-96 jam per minggu. Kami juga cenderung tidak bisa tidur cukup saat harus menjalani 24 hours shift. Pendidikan profesi berbeda jauh dengan pendidikan akademik di kampus. Di kampus kami belajar teori, cuma berhadapan sama buku dan dosen. Sedangkan di Rumah Sakit, kami berhadapan dengan pasien. Di kampus kami diajari tentang komunikasi dengan pasien, bagaimana seorang dokter harus memiliki empati. Di rumah sakit, kami belajar untuk mempraktekkannya.

Pendidikan profesi diisi dengan jadwal jaga, pelayanan pasien di poliklinik, IGD dan rawat inap. Selain itu, namanya juga pendidikan, pasti ada laporan jaga dan tugas ilmiah. Kalau bisa pulang rumah, ga bisa langsung naik tempat tidur, tapi buka laptop lagi buat ngerjain tugas. Disini kesabaran kita dilatih.

Kesabaran bukan masalah hanya menunggu dengan tenang, di tempat duduk yang nyaman, ruangan ber-ac, sambil mendengarkan musik atau nonton film. Kita dituntut untuk sabar meskipun kita tidak berada di tempat yang memudahkan kita untuk bersabar. 

Ada dua terjemahan bahasa Yunani untuk kata “kesabaran” di Perjanjian Baru. 
  1. HupomonÄ“, yang artinya “bertahan dibawah,” bertahan menahan beban. Hupomone berarti tetap berdiri kokoh dalam kondisi lingkungan yang berat. 
  2. Makrothumia, yang disebutkan dalam Galatia 5:22, berasal dari kata makros (“lama”) dan thumos (“passion” or “temper”)
Kesabaran dalam Galatia 5:22 artinya memiliki kemampuan untuk menahan atau mengontrol emosi dalam waktu yang lama. Kesabaran seperti ini dalam terjemahan KJV disebut “long suffering.” Ini adalah tentang bagaimana kita tetap bisa bertahan dalam proses yang berat itu tanpa mengeluh, bagaimana kita bukan hanya bisa menikmati proses, tetapi tetap bertahan sekalipun proses itu tidak bisa dinikmati.

Hari-hari pendidikan profesi adalah hari-hari penuh perjuangan berat. Pelayanan pasien gawat di IGD butuh konsentrasi tinggi, pasien rawat jalan yang menunggu di poliklinik, kurang waktu istirahat, deadline tugas ilmiah. Semua itu membuat kami sering kesulitan mengontrol emosi. Hal yang menjadi fokus dalam pikiran hanyalah menangani kondisi medis pasien secara fisik. Kami sudah terlalu lelah untuk memperhatikan perasaan pasien dan mempraktekkan empati. 

Pokoknya pasien diperiksa, dikasi obat, selesai. Rasanya sulit sekali mengumpulkan niat untuk bertanya, “apa yang Ibu/Bapak rasakan?” Pernyataan yang bisa disampaikan hanya, “Iya, saya mengerti apa yang Ibu/Bapak rasakan. Obatnya diminum ya, supaya cepat sembuh.” And, it’s done...

Satu hal yang berpotensi membuat kita kehilangan kesabaran adalah saat menghadapi pasien rewel dan merepotan. Jujur, susah sekali untuk tersenyum dan dengan tenang melayani pasien seperti itu. Perlu kesabaran yang lebih dari sekedar teori empati untuk melayani. Bagaimana kami bisa tersenyum tulus jika diperhadapkan dengan kondisi seperti itu, belum lagi kalau mengingat, ada laporan kasus yang belum selesai dan harus dipresentasikan 2 jam lagi. 

Beban kerja yang tinggi dalam waktu yang lama membuat kita menganggap pelayanan pasien bukan sebagai pekerjaan yang digerakkan dengan passion, tetapi sebuah rutinitas biasa kita, bukan lagi menganggap kesempatan melayani pasien sebagai suatu privilage, tapi malah membosankan.

Suatu kali saya membaca catatan tentang keluhan seorang pasien.
This may be a normal day at work for you, but it’s a big day in my life.
The look on your face and the tone of your voice can change my entire view of the world.
Remember, I’m not usually this needy or scared.
I am here because I trust you; help me stay confident.
I may look like I’m out of it, but I can hear your conversations.
I’m not used to being naked around strangers.
Keep that in mind.
I’m impatient because I want to get the heck out of here. Nothing personal.
I don’t speak your language well.
You’re going to do what to my what?
I may only be here for four days, but I’ll remember you the rest of my life.
Dia benar. memang buat kita itu hanyalah hari-hari biasa. Tetapi buat pasien, itulah hari yang akan diingatnya seumur hidupnya.

Kalau dia seorang anak penderita leukemia, saat ini dia terbaring lemah melihat tetesan infus cairan obat kemoterapi. Dia bukan anak ceria yang bisa bermain bebas. Kalau dia seorang bapak yang menderita serangan jantung, dia tidak bisa bekerja. Menarik napas bisa sangat menyakitkan baginya. Kita merasa hidup kita sangat berat. Ketika orang butuh bantuan datang kepada kita, kita ga sadar kalau sebenarnya, pasien-pasien itu punya masalah hidup yang lebih berat dari kita.

Sebanyak apa pun pasien di bangsal, laporan jaga atau tugas ilmiah. Sekalipun waktu istirahat ga ada. Setidaknya, kita masih diberikan berkat kesehatan. Mata yang sehat, sistem imun tubuh yang berfungsi optimal, tangan dan kaki yang kuat untuk bekerja. Kadang kita lupa bersyukur, sehingga kehilangan kemampuan bersabar dan bertahan dalam kondisi sulit.

Artikel ini saya buat bukan hanya karena latar belakang saya seorang dokter, tetapi karena saya ingin menguatkan teman-teman yang bekerja di bidang sosial, seperti pelayanan rumah singgah, panti asuhan, pekerja di panti jompo dan sebagainya.

Mau kita punya passion sekuat apapun, suatu hari kita pasti lelah dengan tantangan yang ada. Kadang kita lelah, ga sabar, dan akhirnya mengerjakan semua itu hanya sebagai rutinitas. Tetapi, kalau kita punya buah roh kesabaran, kita pasti bisa bertahan. Kesabaran merupakan buah roh, artinya, kita hanya bisa memiliki kesabaran melalui kuasa dan pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita. Orang yang sabar bisa lambat untuk marah karena punya Tuhan yang memberikan ketenangan. Tuhan yang akan memberikan hukuman pada setiap kesalahan. Pembalasan bukan tujuan kita. Pembalasan hanya menunjukkan kalau kita lemah. Tuhan mau kita tetap memiliki kasih. (Roma 12:19; Imamat 19:18). 

Lawan dari kesabaran adalah kegelisahan, kekesalan, putus asa dan keinginan untuk membalas (Mazmur 42:5). Tuhan tidak mau anak-anaknya hidup dalam kegelisahan tapi dalam damai (Yohanes 14:27). Tuhan ingin mengganti keputus-asaan dengan harapan dan pujian. Kita bisa menjadi sabar dan bertahan dalam kesukaran karena memiliki harapan yang berasal dari Tuhan.

Friday, June 16, 2017

Bersabar Terhadap Proses



by Eunike Santosa

Perkembangan teknologi sekarang ini memang seperti dua sisi mata uang. Bisa menguntungkan, bisa pula merugikan. Menguntungkan karena perkembangan tekhnologi membuat segala sesuatu jadi lebih cepat. Informasi juga bisa kita dapatkan dengan gampang. Bingung mau makan dimana? Tanya google, langsung deh dapat rekomendasi lengkap dengan rating dan review. Butuh apa-apa, tinggal swipe ponsel, everything is easy peasy. Namun, tentu saja dampak buruknya juga ada. Dengan kecepatan informasi, kita ingin segala sesuatu berlangsung instan. Masih ingat kah kalian ketika internet masih pake Dial-up? Mau online aja kudu nunggu beberapa menit hahha.. Atau, ketika kita masih pakai disket floppy disc 3½? *nostalgia zaman jadul*

Menurut New York Post, masyarakat pada hari ini mengejar banyak hal dengan kecepatan luar biasa, termasuk hal-hal seperti karir, cinta, dan bisnis. Karena kecepatan ini, mau tidak mau kita mengikuti sebuah pola. Ketika pola tersebut terganggu, alias lebih slow, kita jengkel, bingung dan jadi frustasi sendiri. Terkadang saya berpikir, ini bukan karena segala sesuatu itu lambat, tapi karena kecepatan hidup sudah terlalu cepat, banyak orang lupa untuk menikmati ‘perlambatan.’ Kita lupa apa itu proses. Kita lupa bahwa proses membutuhkan waktu.

Dalam kehidupan kekristenan kita, proses adalah hal yang tidak asing lagi. Selagi kita hidup di dunia ini, hari-hari kita adalah proses perubahan, pengudusan, penempaan untuk menjadi serupa dengan Kristus. Allah mengizinkan proses ini terjadi untuk membentuk karakter kita. Seperti pohon anggur yang ranting-ranting keringnya dipotong, supaya proses pertumbuhan pohon itu lebih baik dan efisien, demikian pula hidup kita. Bapa kita di Sorga sedang memotong ranting-ranting jelek kita supaya kita bisa bertumbuh menjadi lebih baik sesuai dengan kehendak-Nya.

Terkadang kalau kita mendengar kisah-kisah tokoh Alkitab dengan langkah-langkah iman yang mereka ambil, kita lupa bahwa kisah tersebut hanya satu lembaran dari hidup mereka. Contohnya saja om Abraham yang dibilang Bapa orang beriman. Kebanyakan orang kalo mendengar kisah Abraham, betapa dia sangat mencintai Tuhan sampai ketika dites oleh Tuhan untuk mengorbankan Ishak, dia nurut aja. Namun, lupakah kalian? Rentang waktu dari Abraham (masih Abram namanya pas itu) dipanggil untuk meninggalkan Haran hingga pengorbanan Ishak sama sekali tidak sebentar. Kira-kira 30-an tahun euy... Dan itu dilewati Abraham dengan dua kali (dua kali bookkk) menyuruh istrinya untuk bilang kalo dia saudaranya karena Abraham takut mati. Iman macam apa ini? Ini namanya bapa orang beriman?

Begitu pula dengan Daud, sejak dia diurapi menjadi seorang raja oleh Samuel, hingga dia beneran jadi raja, berapa lama kah rentang waktu yang ada? Si Abang Daud sampai harus lari ke padang gurun buat sembunyi dari Saul karena ingin dibunuh, istrinya dikasih ke orang lain, sahabatnya mati, Daud sampai meragukan panggilan Allah akan dirinya sehingga ingin bunuh orang (baca kisah Nabal, thankfully ada Mba Abigail yang mengingatkan Daud akan jati dirinya hehehe).

Semuanya butuh proses, pertumbuhan iman dan pembentukan karakter bukanlah hal yang instan. Butuh waktu dan waktunya tidak singkat. Tentunya ini membuat banyak orang frustasi, bahkan tak jarang hingga meninggalkan iman kekristenannya, kecewa terhadap Tuhan. Hidup kita sekarang adalah sebuah proses. Pertanyaannya sekarang adalah: bagaimana respon kita dalam menghadapi proses ini? Apakah kita ngambek sama Tuhan? Marah kepada Tuhan? Jengkel dengan Tuhan? Saya rasa ini normal. Namun kalau kita melihat sifat dasar sebuah proses, yakni berbanding lurus dan pararel dengan waktu. Mari kita mengambil nafas sejenak, menengok akan hidup kita sejauh ini, dan mari kita lihat sudah berapa jauh Tuhan membimbing kita dan membentuk kita. Daripada kita melawan proses, mari kita bersabar dengan proses ini. Sesekali mengalami internet Dial-up dibandingkan kecepatan fiber-optic boleh laaahhh... hitung-hitung nostalgia kan? :P *silver lining*

Wednesday, June 14, 2017

Top 10 Lagu Sekolah Minggu '90an


by Eunike Santosa

Okay, walau sudah sekitar lbh dr 10 tahun lalu semenjak ikut ibadah sekolah minggu.. kadang-kadang kangen juga denger lagu-lagu 'klasik' itu.. :P Mari kita bernostalgia!

Kalau kalian tumbuh besar di gereja, kemungkinan besar kalian juga sudah mendengar lagu-lagu ini. Ini adalah top 10 lagu sekolah minggu paling terkenal zaman gue dulu hehehe…

10. 
I don't know about you, tp ingat lagu ini gak? Biasanya dinyanyiin pake gerakan jari-jari tangan trus dibuat jadi bentuk gereja. 

Aku gereja 
Kau pun gereja 
Kita sama2 gereeeja 
Dan semua bangsa 
Di seluruh dunia 
Kita sama2 gereeeeee...eeeee..ja 

Reff: 
Gereja bukanlah gedunggnya (tangan bentuk gereja) 
Dan bukan pula menaraanyaa 
Buka lah pintunya 
Lihat di dalamnya 
Gereja adalaahh oraaangggNya 

9. 
Lagu berikut ini kayaknya masih dinyanyikan hingga saat ini oleh orang dewasa. TAPI, tergantung kondisinya... hahahahha... Clue: biasanya dinyanyiin kalo abis nonton film horor, or lagi mo jurit malam! MUAHAHAHAHHA 

Dalam Nama Yesus, Dalam Nama Yesus 
Ada kemenangaaaannnn 
Dalam Nama Yesus, Dalam Nama Yesus 
Iblis dikalaaahkaaaannnn 

Dalam Nama Tuhan Yesus, 
Siapa dapat melawan? 
Dalam Nama Tuhan Yesus 
Ada kemenangan 

Ingat ga???? Ngaku deh, gw masih sering nyanyi malem-malem kalo lampu kamar kosan tiba-tiba mati! wkwkwkwk 

8. 
Gw teringat lagu ini gara2 si Saykoji nyanyi lagu ini tapi dibuat hard rock + rap gitu buset dah hahaha 

Saya bukan pasukan berjalan 
Pasukan berkuda 
Pasukan menembak 
Saya tidak menembaki musuh 
tapi saya laskar Kristuss 

Reff: 
Sayaaa laskar Kristuss, siap grak (*hormat bendera gitu gayanya lsg*) 
Sayaaa laskar Kristuss, siap grak (*again hormat bendera*) 

*trus ulang lagi dari awal and end with "siap grak" + diikutin dengan gerakan hormat bendera :)* 

7. 
Lagu ini kayaknya anak kecil banget diajarin dari awal, mengingat liriknya yang lumayan catchy. 

Happy ya..ya..ya.... 
Happy ye..ye..ye..... 
Saya senangg jadi anak Tuhaannnn 

Siang jadi kenangan (muter2 tangan di telinga) 
Malam jadi impian (tangan ala mo tidur) 
Cintaku semakin mendalammmmmmm.... 

6. 
ini lagu yang puanjaaaaaaanng abis.. bisa tebak? :P 

Baaaa... pak... Abraham.... mempunyaiiiiii 
Banyak sekali anak-anak 
aku anaknyaa dan kau jugaaaa 
mariii puji Tuhan.. 

*silakan peragain gayanya and ulang-ulang lagunya lagi, plus tambahin gayanya sampai puter-puter trus duduk dehh hahahaha..* 

5. 
Liipatlah tangannn tutup mataaaaaaa 
untuk berdoaaa kepada Tuhannn 

Kemudian guru sekolah minggu berdoa dan kata awalnya pasti selaluuu 

"Tuhan Yesusssss.... (diikuti oleh anak2) 
Trima kasihhhhhhhh.....(diikuti oleh anak2)" 
baru deh pokok doanya :P 

4. 
Bapaaaaaaaa trimaaaaaaaa kasiiihhhhhhhhhh (diulang lagi sekali) 
Bapaaaaaa di da..a...lam.. suuuuuurrrrrgaaa 
Pujiiii trima..a.. kasiiihhhhh 
A........min. 

3. 
Yesus kasih padaku 
Alkitab mengajarkan 
Walau ku kecil lemah 
Tapi Yesus kasihku 

Lagu ini sampai tersedia dalam buanyakkk bahasa --' mulai dari versi Inggris yang 
Jesus loves me this I know for the Bible tell me so 

hingga mandarin 
Ye Su ai wo wo zhi dao, yin wei Shen Shu gao su wo... 

bahkan Mandarin pun dibagi versi bahasa hokkian, kanton lah.. busettt... wkwkwk 

2. 
Yeeeeeeeeesus cinta semua bangsa 
Seeeeemua bangsa di duniaaa 
Putih, kuning, dan hitam, 
Semua dicinta Tuhan 
Yesus cinta semua bangsa di duniaaaaa 

ahhhhh.. I wish Christian people nowadays can sing this song... We really need to stop racism. 

bisa juga liriknya diganti liriknya jadi.. 

Yeeeeesus cinta semua denominaaaasiiii (gereja) 
seeeemuaa denominasi (gereja) di duniaaaaaa 

(nah loh???? hahaha, please stop comparing church alreadyy!!!

Andddd, my numero uno isss.... *drummrolll* 

1. 

King.......kong Badannya Besar 
Tapi anehh kakinya pendeekkk 
Lebih aneh binatang bebek 
lehernya panjang kakinya pendekk 

*semuanyaaa* 
Haleeeeeee....luuyaaaaaaaa... 
Tuhan Maha kuasaaaaa 

*ulang lagii* 
Haleeeeeee....luuyaaaaaa.... 
Tuhan Maha kuasaaaa 

sampai bosaaannn gw dengerin lagu ini dulu hahahahhaha 

_______________________________________________________________________ 

Sekarang, setelah melihat-lihat, kayakny lagu sekolah minggu gw dulu berima banget yak? wkwkwk 

So, how about you? Masih ingat kalian? or ada lagu lain yg kalian ingat? :P apa lagu sekolah minggu favorit kalian? Silakan komen teman2 ;)