Monday, May 22, 2017

Book Review: Created to be His Help Meet



by Yunie Sutanto

Judul Buku: Created to be His Help Meet
Penulis: Debi Pearl
Penerbit: No Greater Joy Ministries

Pertama kali baca judul buku ini rasanya agak gugup campur gemes. What? I am created to be his help meet? His helpmeet alias pembantu? Well, memang sih, kata “pembantu” mungkin kesannya lebay kalau dibandingkan dengan kata “penolong” yang lebih sering digunakan.

Gara-gara itu, jadi muncul pertanyaan, “Memangnya ada yang salah dengan judul ini, kok pikiranku terusik? Padahal baru baca judulnya saja lho...” Segala teori tentang emansipasi wanita dan kesetaraan gender seolah bangkit dan berteriak-teriak: Ini kan bukan lagi zaman Siti Nurbaya atau Ibu Kartini? Bukankah pria dan wanita itu sejajar? Seharusnya tidak ada yang statusnya Cuma sekedar “penolong” dong!

Tapi, membaca buku ini bab demi bab, Tuhan membukakan banyak rancangan-Nya mengenai pernikahan. Yang luar biasa, buku ini ditulis oleh seorang wanita biasa, bukan penulis profesional ataupun pembicara terkenal. Ia hanyalah seorang istri yang bahagia menjalani perannya sebagai penolong bagi suaminya. Ia puas menjalani bagian sebagai seorang istri yang mendukung suaminya dalam menjalani tujuan hidup yang Tuhan sudah tetapkan di dunia ini.

Meskipun nampaknya sederhana dan tak terlihat, peran wanita dalam rumah tangga sebetulnya sangat penting! Di era ketika banyak orang menginginkan pengakuan dan ingin menonjolkan ke”bisa”annya, menjalani peran wanita dalam rumah tangga versi Firman Tuhan justru melawan arus! Be the hidden woman that does her work from sun to sun, giving her best for her family. Be the hidden woman that plays her role beautifully behind every scene, but yet nobody sees her. She knows that her job is important, and her boss is Jesus Christ, not any mortals!

Pada masa-masa awal pernikahan, keluarga adalah ladang misi dan pelayanan kita. Gaya Debi Pearl dalam menantang dan mengajak kita untuk menikmati peran ini sangat encouraging. Tidak hanya berperan dalam rumah tangga, buku ini juga mengajar kita untuk berperan dalam komunitas. Memang ada masanya kita begitu sibuk membesarkan anak dan mengurus rumah tangga, namun ada masanya juga saat anak-anak mulai meninggalkan sangkar dan kita mulai mendapat tugas baru dari Tuhan. Ketika masa itu tiba, Tuhan memberi tugas wanita lebih tua untuk mengajar wanita lebih muda mengenai peran wanita dalam rumah tangga. Pada saat itu, kita dilatih untuk menjalani masa-masa mentoring, kesempatan untuk berbagi hidup dan kesaksian dengan wanita-wanita yang lebih muda.

Saya suka dengan gaya ringan, apa adanya, serta humoris dari Debi Pearl. Untuk para wanita yang sudah menikah, termasuk mereka yang sedang menyiapkan pernikahan, this book is a must read!

Friday, May 19, 2017

Panik!



by Glory Ekasari

Mazmur adalah kitab yang familiar bagi orang Kristen. Tapi suatu kali ketika membaca Mazmur 3, saya baru ngeh bahwa ada sesuatu yang saya lewatkan. Kondisi Daud ketika menulis Mazmur itu adalah di pengungsian, karena dia terusir dari istana di Yerusalem. Absalom, anaknya sendiri, mengadakan kudeta melawan dia, yang akhirnya berakhir dalam pertempuran berdarah. Israel saat itu terpecah karena sebagian rakyat mendukung Absalom. Dalam pengungsian, Daud menulis sebuah nyanyian bagi Tuhan. Setelah meminta pertolongan pada Tuhan (secara literal dia berkata bahwa dia berteriak kepada Tuhan), Daud berkata,
“Aku membaringkan diri, lalu tidur;
aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!
Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang
yang siap mengepung aku.”
Ok, sepintas begitu saja. Tapi sekarang mari kita visualisasikan apa yang dialami Daud.

Pada suatu malam, anda sedang di rumah bersama suami dan anak. Tiba-tiba datang segerombolan laki-laki yang berkerumun di pintu depan dan belakang rumah anda, dan mereka menggedor-gedor pintu sambil membawa obor. “Buka!” kata mereka. Ketika anda mengintip, anda melihat orang-orang itu membawa berbagai macam senjata tajam. Mereka berteriak-teriak dan makin heboh menggedor-gedor pintu sambil mengancam akan berbuat jahat terhadap anda sekeluarga, bahkan membakar rumah dengan keluarga di dalamnya, bila pintu tidak dibukakan.

Bagaimana perasaan pembaca?

Daud mengalami hal yang sama. Dia terusir dari rumahnya dan dikepung orang-orang yang siap “menerkam” dia kapan saja. Pada saat itu Daud sudah tidak muda, dan kita tahu orang tua lebih gampang takut daripada yang muda. Saya membayangkan Daud dilanda stres yang luar biasa dan tekanan psikologis karena dikudeta oleh anaknya sendiri. Dia berkata ada “puluhan ribu orang yang siap mengepung aku”. Kita tidak tahu persis jumlahnya, tapi yang jelas banyak orang siap berbuat jahat terhadap dia.

Tapi apa yang Daud lakukan? “Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!”

Tidur! Tidur adalah hal terakhir yang bisa kita lakukan ketika dalam keadaan stres berat. Bagaimana mungkin Daud bisa tidur? Dia berkata dengan penuh kepercayaan: “Sebab TUHAN menopang aku!”

Saya merenungkan ini dengan sungguh-sungguh. Raja yang sudah tua itu adalah orang yang kaya pengalaman bersama Tuhan. Ketika dia masih bukan siapa-siapa, Tuhan menolong dia melawan singa dan beruang di padang. Dengan iman kepada Tuhan yang telah menyelamatkannya dari binatang buas, dia maju berperang melawan raksasa Filistin—dan menang! Kemenangan demi kemenangan terus diraih Daud, sekalipun dalam pelarian dari raja Saul. Daud tidak sungkan mengatributkan seluruh kejayaannya kepada Tuhan:
Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan
dan membuat jalanku rata;
yang membuat kakiku seperti kaki rusa
dan membuat aku berdiri di bukit;
yang mengajar tanganku berperang,
sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga.
Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu,
tangan kanan-Mu menyokong aku,
kemurahan-Mu membuat aku besar.
—Mazmur 18:33-36
Kepada Allah itulah Daud mempercayakan hidupnya. Dan pada malam itu, ketika puluhan ribu orang siap menghancurkan dia, Daud malah tidur dengan nyenyak, karena ia sudah berseru kepada Allah dan ia percaya Allah mendengarkan doanya.

Kira-kira 1500 tahun setelah Daud, rasul Paulus menulis dari dalam penjara kepada jemaat di Filipi. Dia menghadapi hukuman mati, tapi rasul itu tidak gentar. Dia tidak takut pada kematian. Dia tidak takut pada celaka. Dia tahu bahwa di dalam Tuhan, tubuh dan jiwanya terpelihara dan hidup kekal menantinya. Inilah nasehatnya bagi kita:

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” —Filipi 4:6-7

Seperti kata seorang bijak, “Pray, and let God worry.” Berdoa, serahkan semuanya pada Tuhan, dan tidurlah dengan nyenyak.

Wednesday, May 17, 2017

It Ends With Me



by Glory Ekasari

Papa saya seorang pendeta. Suatu kali ketika dia berkhotbah di gereja, dia menceritakan pengalamannya ketika marah pada seseorang. Katanya, mama menasehati dia dan mengingatkan sebuah ayat firman Tuhan, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung kepadamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Roma 12:18). Rupanya nasehat itu berkesan buat papa, sampai diceritakan dalam khotbahnya.

Kalau kata dunia, kita baiknya memperlakukan seseorang sebagaimana dia memperlakukan kita. Kalau orang itu baik pada kita, ya be nice in return. Tapi kalau dia kurang ajar, yah mungkin orang itu perlu diajarin tata krama. Tapi yang dikatakan dalam ayat ini sangat berbeda.

Sedapat-dapatnya, ketika kita diprovokasi orang lain (dihina, dimarahi, dipermalukan, disakiti dll), rasanya pengen membuat pengecualian untuk kasus kita, supaya kita boleh membalas dendam, marah balik, atau apapun yang memuaskan ego kita. Ketika saya membaca “sedapat-dapatnya”, saya mendapat kesan, “Tahan sedikit lagi.” Ada perkataan bijak, “Ketika hendak berbicara, hitung sampai tiga sebelum perkataan keluar dari mulutmu, supaya kamu punya waktu untuk memikirkan perkataanmu. Ketika hendak marah, hitung sampai sepuluh sebelum berkata-kata.” Jangan buru-buru ngamuk. Sabar sedikit lagi, sebentar lagi, tahan sehari lagi. Stretch your heart as wide as possible.

Kalau hal itu bergantung kepadamu. Ah, ini dia. Kadang yang timbul dari kita semata-mata adalah reaksi dari apa yang orang lain lakukan terhadap kita. Tapi tidak. Firman Tuhan yang adalah kebenaran menunjukkan pada kita bahwa kita punya kuasa atas diri kita sendiri. Kuasa itu diberikan oleh Roh Kudus. Ketika orang lain melemparkan permusuhan kepada kita, kita punya pilihan: lempar balik, atau letakkan bola api itu dan tidak mempermasalahkannya lagi. Ini bergantung pada kita. Kita bukan mahkluk yang pasif memantulkan apa yang orang lemparkan pada kita. Kita bukan cermin yang mencerminkan ketidaksukaan orang lain terhadap kita. Kita adalah gambar dan rupa Allah, menampilkan Allah kepada siapapun yang memandang kita. Membalas berarti mengikuti kelemahan daging kita. Menjaga perdamaian berarti tunduk pada pimpinan Roh Kudus. Yang mana pilihan kita?
Paulus meneruskan nasehat yang indah ini dengan sebuah tantangan bagi kita: 
“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, Firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”
—Roma 12:19-21
Menyerah pada kejahatan dengan membalasnya adalah suatu kekalahan. Berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat pada kita adalah kemenangan. Bukan sebaliknya! Siapa yang memiliki Roh Kudus, hatinya dipenuhi damai sejahtera, dan ini kelihatan dari perbuatannya: dia membawa damai bagi orang lain.

Ketika kita diprovokasi, ketika orang mengusik damai yang ada dalam hati kita, ketika orang hendak mengalahkan kita dengan kejahatan, mari kita hitung sampai sepuluh dan sementara itu berpikir: “Sekarang ini tergantung saya, apakah saya akan membalas kejahatan atau membawa damai. Bola panas ada di tangan saya, saya harus mengambil keputusan untuk melempar balik, atau mengakhiri masalah ini. Since I have the power, I have decided, it ends with me.

Monday, May 15, 2017

Damai Sejahtera Bagi Kamu


by Glory Ekasari

Ketika beribadah di gereja, orang-orang di gereja saling menyapa dengan berkata, “Syalom.” Kata itu bisa diartikan “salam damai,” yang berarti kita mengharapkan damai sejahtera bagi orang lain. Dalam kondisi biasa, ucapan damai itu selayaknya salam pada umumnya. Tetapi bagaimana bila kita sedang bingung, gelisah dan ketakutan?

Itulah yang dialami murid-murid Yesus. Mereka bingung setelah mendapat laporan dari sekelompok wanita yang masih shock karena melihat kubur Yesus yang kosong dan bertemu secara pribadi dengan Guru mereka yang telah mati disalib itu! Mereka gelisah; bila Yesus benar bangkit, di mana Dia? Apa yang harus mereka lakukan tanpa Guru mereka? Mereka juga ketakutan karena sewaktu-waktu orang-orang yang telah menyalibkan Yesus bisa saja datang menangkap dan menghukum mati mereka karena mereka pengikut Yesus. Dalam kebingungan, kegelisahan, dan ketakutan, murid-murid Yesus berkumpul di satu ruangan dengan pintu terkunci. Kita bisa membayangkan betapa berat suasana dalam ruangan, tidak ada satupun yang tersenyum atau bersenda gurau.

Tiba-tiba Yesus muncul! Entah dari mana, mereka tidak melihat bagaimana Dia masuk. Pintu masih terkunci rapat, jendela tertutup. Dengan mata terbelalak murid-murid itu memandang Guru mereka. Dan Dia berkata,

“Damai sejahtera bagi kamu.”

Sekitar tiga puluh tahun sebelumnya, sekelompok gembala sedang menjaga domba mereka di padang rumput di kota Betlehem, Yudea. Tiba-tiba langit menjadi terang seperti siang, dan malaikat, ribuan jumlahnya, muncul di langit, dan bernyanyi dengan suara menggelegar,


“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi,

dan damai sejahtera di bumi, di antara orang-orang yang berkenan kepada-Nya!”


Mengapa mereka bernyanyi demikian? Mengapa ada damai sejahtera di bumi, di antara orang-orang yang berkenan kepada Allah? Karena, salah satu malaikat itu berkata, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud!” Seketika pikiran mereka melayang dan sampai pada nubuat nabi Yesaya, “Nama-Nya akan disebutkan... Raja Damai.”

Ketika Raja Damai itu datang ke dunia, orang-orang yang menanti-nantikan Dia menemukan penggenapan pengharapan mereka. Bila orang berkata pada kita, “Damai bagi kamu,” kita tidak merasakan apa-apa. Tapi ketika Dia, yang adalah Raja Damai, berkata, “Damai sejahtera bagi kamu,” damai itu diperintahkan untuk datang kepada kita. Damai itu ada di dalam kita, ketika Yesus ada bersama kita. Dan karena nama-Nya adalah Imanuel, “Allah beserta kita”, maka damai itu juga selalu beserta kita.

Yohanes melanjutkan ceritanya. Setelah memberi mereka salam damai, Yesus menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu menyadari bahwa yang ada di tengah mereka benar-benar Yesus, bukan Guru yang sudah mati, tetapi Tuhan yang telah bangkit! Dan firman Tuhan berkata, “Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.”

Inilah yang kita alami ketika kita bertemu Tuhan dan menyadari bahwa Dia selalu menyertai kita. Saya ingat sebuah cerita tentang lukisan bertema “damai.” Lukisan itu menggambarkan laut yang gelap dan bergelora diterpa badai, dengan banyak batu karang yang tajam. Tetapi di atas salah satu batu karang itu ada seekor burung yang bertengger dengan tenang memandangi badai yang menakutkan itu. Itulah damai. Daud menyatakannya dengan puitis: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.” Sebuah hymne berkata,

Tuhanlah yang memimpinku

Tanganku dipegang teguh
Hatiku berserah penuh
Tanganku dipegang teguh
“Jika Allah di pihak kita,” ujar rasul Paulus dengan yakin, “Siapa yang akan melawan kita?” Inilah damai dan pengharapan kita, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita.

Namun damai dan sukacita ini diberikan oleh Tuhan bukan untuk kita nikmati sendiri saja. Yesus berkata lagi kepada murid-murid-Nya, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”

Ke mana kita diutus? Tidak lain kepada dunia yang gelap dan kacau ini. Sebagaimana Yesus datang menjadi terang dunia, kita pun diutus menjadi terang di dunia yang gelap, membawa damai sejahtera di dunia yang gelisah. Bila damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita, kita dapat melayani Tuhan dan orang lain dengan keyakinan yang mantap, iman yang teguh, dan semangat yang tidak padam. Ini bukan berarti kita harus membawa pesan yang manis-manis saja; tetapi ini berarti kita tidak takut dengan resiko apapun yang kita hadapi sebagai orang-orang yang mewakili Kristus di dunia. Ini berarti kita tidak takut ditolak dunia ketika berbicara tentang dosa, dan tidak mundur sekalipun menghadapi kesulitan.
But it gets better: Dia tidak membiarkan kita berjuang sendiri! Yohanes melanjutkan:
Dan sesudah berkata demikian (yaitu, mengutus mereka), Yesus mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni; dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
Ketika seorang raja menyuruh ajudannya mengerjakan tugas negara, ia menyertakan kuasanya bagi ajudan tersebut; entah dalam bentuk kawalan tentara, surat tugas, atau lainnya. Demikian pula Allah, Roh Kudus menyertai kita dan memperlengkapi kita dengan kuasa. Kuasa ini begitu luar biasa, karena ini bukan hanya kuasa untuk hidup di dunia, melainkan kuasa yang mengikat orang sampai kekekalan! Yesus berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu...”―perhatikan, Dia berani mengutus kita karena Dia memperlengkapi kita dengan kuasa-Nya.

Inilah tujuan Tuhan memberikan damai sejahtera dalam hati kita: supaya dengan hati yang teguh, yang percaya penuh bahwa Dia menyertai kita, kita melayani Tuhan dengan segenap hati. Peace is not merely some feel-good sentiment, peace is a fortress, and it is only in Jesus Christ we have peace. Seperti yang dikatakan nabi Yesaya,

“Yang hatinya teguh, Kau jagai dengan damai sejahtera,

sebab kepada-Mulah ia percaya.”

—Yesaya 26:3

Friday, May 12, 2017

The Last Message



by Poppy Noviana

Ingatkah kita pada salah satu pesan terakhir Yesus ketika untuk terakhir kalinya Dia bersama murid-murid-Nya, sebelum meninggalkan bumi untuk kembali ke rumah Bapa?

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang dunia berikan kepadamu. Jangan gelisah dan gentar hatimu (Yohanes 14:27)

Damai sejahtera dari Yesus itu tidak dapat disamakan dengan damai dari dunia, seperti nyanyian dari Mazmur 23 ini:

Tuhan adalah Gembalaku
Takkan kekurangan aku
Dia membaringkan aku
Di padang yang berumput hijau

Dia membimbingku ke air yang tenang
Dia menyegarkan jiwaku
Dia menuntunku di jalan yang benar
Oleh kar'na namaNya

Sekalipun aku berjalan
Dalam lembah kekelaman

Aku tidak takut bahaya
Sebab Engkau besertaku
GadaMu dan tongkatMu
Itulah yang menghibur aku

Dunia menawarkan ketenangan dan kepastian semu dalam menghadapi tantangan kehidupan. Hal ini bisa kita rasakan sendiri; seperti memiliki jaminan kesehatan, jaminan hari tua, bahkah jaminan kematian dan pembiayaan atas keluarga yang ditinggalkan. Namun, damai sejahtera yang Allah berikan tidak demikian. Dia memberikan Roh Penghibur (alias Roh Kudus) yang akan mengingatkan dan mengajarkan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan pewahyuan hikmat yang kita perlukan. Ya, kita membutuhkan Roh Kudus untuk menghadapi kehidupan dan tantangan di dalamnya dengan nyaman dan tenang. Roh inilah yang akan memimpin kehidupan manusia untuk merasakan damai sejahtera yang sejati; bukan karena apa yang manusia telah lakukan, tapi karena anugerah yang Tuhan berikan dalam hidup setiap orang yang mengasihi-Nya dan bergantung kepada ketetapan-Nya dengan sepenuh hati.

Saya pernah mengalami masa sulit dimana saya tahu kekuatan saya tidak dapat menghadapinya. Ketika itu saya menghadapi kesulitan biaya untuk membayar seluruh kebutuhan peti mati, penguburan, penutupan biaya operasi di rumah sakit untuk almarhum ayahanda tercinta... Belum selesai rasa sedih karena kehilangan sosok orangtua yang kukasihi, masalah pun bertambah dengan beban biaya yang begitu banyak.

Peristiwa ini sangat traumatis bagi saya, namun Allah mencukupkan segala sesuatunya lebih daripada apa yang saya perhitungkan. Dia tidak pernah mempermalukan saya, asalkan saya menerima jawaban doa saya di dalam hati sebelum saya melihatnya dinyatakan di depan mata. Hah? Maksudnya gimana? Iman. Ya, saya sedang berbicara soal iman yang teguh dan sikap hati untuk percaya bahwa hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus akan membawa saya pada damai sejahtera yang sejati. Damai sejahtera ini tidak dapat diberikan oleh dunia. Dunia tidak dapat memberikan sesuatu yang tidak menguntungkan baginya; sementara Allah selalu memberikan apa yang menguntungkan bagi kita, pengorbanan dan kesetiaan-Nya.

Damai sejahtera Allah tidak hanya muncul dalam kondisi tenang saja, tapi juga di dalam situasi penuh badai dan terpaan masalah kehidupan. Walaupun demikian, selalu ada jawaban, harapan dan pertolongan di saat yang tepat saat kita sungguh-sungguh bergantung pada kekuatan-Nya.

Anugerah damai sejahtera itu biasanya benar-benar dapat dirasakan justru saat berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Misalnya kondisi sakit dan menderita yang dihadapi atau muncul begitu saja. Tapi hati dan pikiran kita tetap tenang dan yakin pada penyertaan Allah yang bertanggung jawab itu. Yaa... kurang lebih seperti itulah gambaran sederhana damai sejahtera Allah.

Jadi, janganlah gelisah dan gentar hatimu. Apa yang saya dan kamu alami hari-hari ini mungkin terkesan berat, namun percayalah dan tetap tenang berjalan dalam prosesnya sambil berseru meminta pertolongan Tuhan, agar Dia menyertai setiap langkah kita. Tidak ada jaminan paling sempurna selain dari Sang Empunya Langit dan Bumi. Maut saja dapat dikalahkan-Nya, apalagi persoalan-persoalan dunia! Dia bukan Tuhan yang tidak turut merasakan kesulitan-kesulitan kita, karena itu Dia turun ke dunia untuk merasakan sulitnya jadi manusia.

Selanjutnya: Kuatkanlah hatimu. Damai sejahtera Allah menaungi hidupmu sekarang dan sampai selama-lamanya.

Wednesday, May 10, 2017

Messy Life , Peaceful Heart (2)



by Poppy Noviana

Ini adalah Kisah Rahab.

Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal yang bernama Rahab lalu tidur di situ. 
Suruhan raja: Bawalah ke luar orang-orang yang datang kepadamu itu, yang telah masuk ke dalam rumahmu, sebab mereka datang untuk menyelidik seluruh negeri ini.
Rahab: Memang, orang-orang itu telah datang kepadaku, tetapi aku tidak tahu dari mana mereka, dan ketika pintu gerbang hendak ditutup menjelang malam, maka keluarlah orang-orang itu; aku tidak tahu, ke mana orang-orang itu pergi. Segeralah kejar mereka, tentulah kamu dapat menyusul mereka. 
Tetapi perempuan itu telah menyuruh keduanya naik ke sotoh rumah dan menyembunyikan mereka di bawah timbunan batang rami, yang ditebarkan di atas sotoh itu. Maka pergilah orang-orang itu, mengejar mereka ke arah sungai Yordan, ke tempat-tempat penyeberangan, dan ditutuplah pintu gerbang, segera sesudah pengejar-pengejar itu keluar. Tetapi sebelum kedua orang itu tidur, naiklah perempuan itu mendapatkan mereka di atas sotoh dan berkata kepada orang-orang itu: 
Rahab: Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.
Maka sekarang, bersumpahlah kiranya demi TUHAN, bahwa karena aku telah berlaku ramah terhadapmu, kamu juga akan berlaku ramah terhadap kaum keluargaku; dan berikanlah kepadaku suatu tanda yang dapat dipercaya, bahwa kamu akan membiarkan hidup ayah dan ibuku, saudara-saudaraku yang laki-laki dan yang perempuan dan semua orang-orang mereka dan bahwa kamu akan menyelamatkan nyawa kami dari maut.  
Pengintai: Nyawa kamilah jaminan bagi kamu, asal jangan kaukabarkan perkara kami ini; apabila TUHAN nanti memberikan negeri ini kepada kami, maka kami akan menunjukkan terima kasih dan setia kami kepadamu.
Cuplikan kisah Rahab diatas menggambarkan betapa kacaunya hidup seseorang yang selama ini bersundal. Apa yang ia lakukan tidak mampu memuaskannya dan membuat dirinya hidup berkecukupan. Rahab tetap memerlukan damai didalam hidupnya, Ia perlu keamanan dan jaminan kelangsungan hidup atas keberadaan dirinya dan keluarganya. Namun pada akhirnya, dia mengambil keputusan dengan untuk menerima kesempatan memperoleh keamanan yang ditawarkan Tuhan. Lihat saja isi permohonannya pada pengintai.

Rahab adalah seorang wanita berdosa dari latar belakang kafir yang mengakui Allah Israel sebagai Allah yang sejati atas langit dan bumi (Yosua 2:10-11). Ia meninggalkan dewa-dewa Kanaan dan dengan iman bergabung dengan Israel dan Allah mereka (Ibrani 11:31; Yakobus 2:25). Wanita ini akhirnya menjadi nenek moyang Mesias (Matius 1:5-6). 

Dari kedua kisah di atas, aku hanya ingin membagikan bahwa memperoleh ketenangan dalam kekacauan bukan sesuatu yang mustahil. Hal seperti ini juga pernah kualami, meskipun aku dan Rahab memiliki kisah yang berbeda. Pada intinya, sumber ketenangan hati kami tetap sama sampai hari ini yaitu Tuhan Allah yang menolong kehidupan kami di tengah kacaunya hidup dan sulitnya keberadaan kami saat itu.

Bagai Rajawali

Hanya kepadaNya ku kan berlari
Di saat ku bimbang dalam hidupku
Yang aku percaya dalam hadiratNya
Ada kekuatan yang baru.

Walau ku melangkah dalam tekanan
Badai pencobaan datang menghadang
Yang aku percaya dalam hadiratNya
Ada kekuatan yang baru.

Ku kan terbang tinggi bagai rajawali
Di atas segala persoalan hidupku
Dan aku percaya saat ku bersama Dia
Tiada yang mustahil bagi Dia.

Monday, May 8, 2017

Messy Life, Peaceful Heart (1)



by Poppy Noviana

Ini kisahku.

Dokter  : Hasil pemeriksaan menunjukkan kamu harus dioperasi, tidak ada opsi lain untuk sembuh.
Me        : Fisioterapi, melalui pengobatan, atau apapun?
Dokter. : Tidak bisa mba.
Me        : Huffft...

Kehidupan yang tadinya baik-baik saja mulai berubah karena sebuah vonis dokter yang cukup mengagetkanku sore itu. Semuanya berantakan dan menakutkan karena aku diharuskan melakukan operasi ACL. Operasi ACL adalah sebuah operasi rekonstruksi lutut yang harus dilakukan pada seorang yang menderita kerusakan pada ligamennya (otot kaki). Biaya yang diperlukan pun tak tanggung-tanggung, mencapai ratusan juta; dan proses recovery-nya memakan waktu panjang sampai sekitar dua bulan.

Aku merasa kacau.

Kekacauan pertama terjadi di pikiranku saat mengetahui aku harus dioperasi. Tuhaaaaaan... apa yang harus aku hadapi ini?

Kekacauan kedua terjadi pada aktivitasku sehari-hari yang tadinya bisa mandiri. Sepertinya setelah operasi nanti aku belum tentu bisa lagi mengurus kebutuhanku sendiri. Yang paling aku pikirkan adalah persoalan kantorku yang letaknya cukup jauh dari rumah. Tiap hari, aku memerlukan 1-1,5 jam untuk dapat sampai ke kantor. Lalu bagaimana setelah aku operasi nanti?

Kekacauan ketiga adalah keuangan yang sudah cukup banyak dihabiskan untuk melakukan beberapa proses pemeriksaan seperti MRI dan kunjungan ke dokter.

Sungguh, energiku sangat terkuras untuk melalui persoalan ini.

Namun aku belajar untuk berserah kepada Tuhan agar aku bisa melalui semuanya. Bukan berarti aku mampu dan tidak takut, tapi ketika aku berserah, ada satu kedamaian yang Tuhan letakan di dalam hatiku untuk tetap percaya pada jalan yang harus kutempuh ini.

Bahkan ketika aku menuliskan ini, Tuhan mengajarkan suatu rhema tersendiri dalam hatiku: kekacauan hidup yang aku hadapi hari-hari ini bukanlah sebuah kekacauan yang sesungguhnya. Kekacauan yang sebenarnya adalah ketika aku mulai meninggalkan jam doaku dengan kesibukanku, ketika aku mulai mengganti aktivitas dan pikiranku hanya untuk memenuhi kepuasan dunia dan kesibukan pekerjaan yang tidak pernah berakhir. Hidupku kacau ketika dan karena aku semakin jauh dan menjauh dari-Nya.

Semua kejadian dan vonis dokter ini membuatku kembali dan bergantung lagi sepenuhnya ke dalam tangan-Nya. Aku seperti seorang anak yang perlu ditanggung, perlu digendong dan dipeluk, aku perlu diberikan rasa aman dan diperhatikan, aku perlu Tuhan.

Ia menjawabku dan menanggung segalanya. Sampai hari ini ketika aku masih belajar berjalan setelah operasi, Ia tetap menuntunku dan memberikan ketenangan di dalam hatiku yang terdalam.