Monday, June 25, 2018

Lebih Berharga dari Permata



by Mekar Andaryani Pradipta

Beberapa tahun yang lalu, saya menemukan buku lama karangan Jo Lynne Pool berjudul A Good Man is Hard to Find (Unless You Ask God to Be Head of Your Search Committee). Buku ini membahas tentang penantian mendapatkan pasangan hidup. Nah! Jujur aja, tema ini pasti menarik banget buat para single yang kadang merasa penantiannya tiada berujung.

Penantian dalam buku ini dibahas lewat Amsal 31:10. 

Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.
Who can find a virtuous woman? For her price is far above rubies.

Ayat ini memang ngga membahas tentang penantian, tapi tentang “find” atau “menemukan”. Di buku A Good Man itu, Mrs. Pool menulis sesuatu yang menarik...

"Pay attention to the word 'find' in Proverbs, chapter 18 and 31. It is there for a reason, it is up to the man to do the finding, the discovering. It is not for you to go out and hunt down your own guy. The world will tell you there are millions of hungry women out there looking for one good man and that you must join the fray. Get out there, find one, fight for him. You've heard the whole routine. But the Bible says that 'he' shall find you..."

Ilustrasinya begini, sebutir permata tidak akan meloncat keluar dari dalam tanah, mengetuk-ngetuk jari-jari kaki para penambang untuk menarik perhatian. Mereka menunggu dengan tenang sampai ditemukan.

Anyway, ternyata di Amsal 18:22 juga ada lho.

[He who] finds a wife finds a good [thing], And obtains favor from the LORD.

Dalam konteks seorang pria mendapatkan pasangan, selalu dipakai kata 'find'. Menurut kamus Oxford, kata 'find' itu berarti: 1. discover or perceive by chance or unexpectedly ; 2. reach or arrive at by a natural or normal process. Membaca definisi ini, saya menangkap kesan adanya faktor yang out of our control and power, seperti ada ketidaksengajaan, sesuatu di luar perkiraan, sesuatu yang terjadi begitu saja tanpa campur tangan kita.

Kita pasti pernah membaca kalimat ini di undangan-undangan pernikahan.

Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya. 
Indah, saat Ia mempertemukan, indah saat Ia menumbuhkan kasih, 
dan indah saat Ia mempersatukan dalam pernikahan kudus.

Tiga kalimat di atas bisa dirangkum dalam satu kalimat: an enchanting love story is one which arranged by God.

Dunia boleh bilang, hai, cewek-cewek, go out, arrange something, chase some men in that crowd and find a husband. Pergilah ke gereja dan duduk paling depan supaya pemain musik itu menyadari kehadiranmu. Gabunglah ke komsel, siapa tahu disana ada pria baik cinta Tuhan yang cukup potensial :") Mari bersikap ramah kepada pria-pria itu, buatkan mereka makanan, kirimi mereka ayat-ayat Alkitab, kasih senyum semanis lollipop, siapa tahu ada yang terjerat.

Sounds familiar?

Kalau kita termasuk wanita-wanita yang melakukan hal itu, mari cek lagi hati kita, perhatikan lagi motivasi kita. Memang, hanging out, join with the new community, atau apapun dengan label "bergaul" itu tidak salah, tapi saat kita melakukannya hanya untuk mendapatkan suami... Apakah Tuhan tidak mampu membawa seorang pria menemukan kita, sampai kita heboh menjemput pria-pria itu? Sebegitu kuatirkah kita sampai harus berjuang memanipulasi keadaan?

Berikut kutipan dari buku A Good Man tentang bagaimana seharusnya tindakan kita agar 'ditemukan':

Kehendak Allah akan digenapi dalam hidup anda, kalau anda adalah miliknya dan mau menjalani hidup anda sesuai dengan firmanNya.
... 
Majulah dan mintalah apa yang menjadi kerinduan hati anda, kemudian tenanglah dalam keyakinan bahwa Ia melakukannya, tenang dan tinggallah dalam Tuhan. Ingatlah bahwa 'tindakan' harus dilakukan oleh Tuhan. 
... 
Mintalah kepada Allah apa yang sesungguhnya anda inginkan, hanya apabila anda sudah benar-benar siap untuk menerimanya, Sediakan waktu yang sungguh-sungguh memeriksa hati anda sendiri. Bersekutulah dengan sungguh-sungguh. Bersekutulah dengan Yesus bukan dalam 'doa-doa minta jodoh', tetapi meminta tuntunan dan pengarahannya. Katakan kepadaNya bahwa keinginan hati Anda yang terdalam adalah untuk menerima suami yang disediakan-Nya bagi anda dan yakini bahwa itu adalah benar. 

Kesimpulannya seperti ini:

Yang harus kita lakukan adalah membangun hubungan dengan Allah, melakukan apa yang Dia ingin kita lakukan, menjadi maksimal dengan masa single kita dan mempersiapkan diri kita untuk suami kita di masa depan. 

Be still and know that He is God. Tenang dan ketahuilah bahwa Dia Allah. Tenang dan ketahuilah bahwa Dia sanggup. Tenang dan ketahuilah bahwa Dia setia. Tenang dan ketahuilah bahwa Dia punya rencana. Tenang dan ketahuilah bahwa waktu-Nya tepat. Tenang dan ketahuilah bahwa tindakan-Nya benar. Tenang dan biarkan Dia bekerja...

Tuhan adalah arranger utama dari percintaan kita, setiap tindakan berasal dari Dia. Kalaupun ada intervensi lain, itu bukan pada objek yang ditemukan, tapi pada subjek yang menemukan, merekalah yang melakukan usaha yang dibutuhkan untuk menemukan objek itu. Tapi tentu saja usaha itu tetap ada di bawah arahan Tuhan, sebagai sutradara dan produser utama. Ini berarti, kalau wanita adalah rubi atau mutiara, maka usaha untuk menemukan rubi atau mutiara itu adalah bagian para pria...

Let’s just remember our identity: far above rubies. Kalo untuk sebutir rubi, para penambang harus menggali dan masuk ke dalam tanah sampe beribu-ribu meter, pria yang ingin mendapatkan kita seharusnya juga tidak malas berusaha. They have to find our heart in the palms of God’s hand and ask for it from God self. 

Perjuangan para pria itu tidak selalu berarti tentang menghadapi penolakan kita. Bisa saja perjuangan itu tidak kelihatan yaitu pergumulan dengan Tuhan secara pribadi, saat mereka mendoakan kita. Tuhan yang akan menguji mereka sampai mereka bisa membuktikan bahwa mereka benar-benar mengasihi kita, sampai mereka cukup berani untuk mengambil inisiatif, cukup kuat untuk berjuang, cukup lembut untuk memperhatikan, cukup rendah hati untuk berkorban, cukup sabar untuk menunggu, seperti Kristus mencintai dan mengasihi kita. Seram ya? Diuji dengan Kristus sebagai standar? Yup, because that is exactly what they are supposed to do.

Husbands, go all out in your love for your wives, exactly as Christ died for the church--a love marked by giving, not getting.
Ephesians 5:25 (The Message) 

Saat mereka jadi suami kita nanti, mereka memang dituntut bisa mengasihi kita dengan cinta yang all out seperti cinta Kristus kepada jemaat. Itulah kenapa Tuhan menetapkan kita hard to find (Amsal 31:10 – the Message), supaya dalam proses menemukan itu para pria diproses untuk memiliki kasih seperti Kristus. Di lain pihak, dengan bersikap hard to find, kita juga diproses untuk menjadi wanita dengan a gentle and quite spirit, yang ditandai dengan ketenangan, kesabaran dan pengendalian diri. 

Cuman masalahnya kadang kita merebut apa yang seharusnya menjadi bagian para pria itu, we did the effort, even sometimes too much effort to get a man we love. Misalnya, mereka belum ngajak kencan, kita udah ajak duluan. Mereka telepon cuma 10 menit, sekali dalam seminggu, kita telepon sejam, setiap hari. Mereka belum bicara dengan papa kita, kita udah ngomongin nikaaah mulu. Jangan heran kalo pria-pria itu punya pride dan ego yang segunung dan kurang menghargai kita. Pria-pria masa kini cenderung mengalami penurunan maskulinitas, salah satunya karena kita, para wanita, yang tidak membiarkan mereka berperan sebagai pria. We have to let guys be the guys, having divine masculinity, a quality of a man which is set by God itself, according to His image.

Tapi, bukan berarti lalu kita diem-diem aja kaya ulat yang kerjanya cuma ngulet-ngulet. Dideketin-diem, digoyang-goyang-diem juga, dilempar sandal deh lama-lama :D Peran kita sebagai wanita adalah, tidak menyerahkan hati kita dengan gampang, namun justru ber-partner dengan Allah dalam menguji para pria itu. Hard to find bukan berarti jual mahal, tapi meresponi dengan hikmat. God has give us our identity: far above rubies, let’s behave according to that identity. Mari melepaskan kontrol untuk mendapatkan para pria dan membiarkan diri kita ‘ditemukan’. 

Friday, June 22, 2018

Spiritual Refreshment


by Lia SoC

Much prayer, much power.
Little prayer, little power.
No prayer, no power.

Itu yang saya rasain, babak belur jatuh bangun kalo saya gak mulai hari saya sama Tuhan. 

Saya bisa gampang ‘irritated’ dan juga emosional banget, gak sabaran khususnya kalo kudu deal sama ketidaktaatan anak-anak dan kalo udah gak sabaran, emosi, marah, fyiiiuh... biasanya end up dengan perasaan guilty yang melekat erat di hati kayak ditempel lem aica aibon. Ngerasa jadi emak yang gagal dan bukan mama yang baik.

Orang pikir saya punya disiplin rohani yang baik tapi mereka gak tau betapa saya juga bergumul untuk punya kehidupan doa dan juga lively personal devotions. Saya gak bergumul soal bangun pagi, I am a morning person and early riser. Bangun di antara jam 4-5 pagi itu sudah jadi kebiasaan buat saya sejak saya masih single. Tapi saya bergumul untuk: gak buka facebook or blog or email sebelum saya buka Firman Tuhan, bergumul untuk ‘kendaliin’ pikiran saya (baca: FOKUS) selama saya baca Firman, bergumul buat gak ‘nyasar’ kemana-mana kalo lagi ambil waktu buat ngerenungin Firman dan pikir gimana caranya saya bisa apply Firman dalam hidup saya sehari-hari. Bergumul... bergumul... bergumul, kadang menang, kadang juga gagal, tapi saya gak mau nyerah. Yah, saya juga ngalamin waktu-waktu dimana saya gak merasa haus dan lapar akan Tuhan. I don’t desire God anymore dan saya tau kalo saya kaya gitu, artinya ‘alarm’ uda kelap-kelip, spirit saya tentu saja super duper weak dan saya kudu buru-buru BERTOBAT! 

Tahun 2013 saya banyak pengalaman pribadi yang indah sama Tuhan tapi ada juga hal-hal yang saya GAK PUAS dalam hubungan saya sama Dia. Saya tau banget hubungan saya sama Tuhan itu SANGAT MEMPENGARUHI hubungan-hubungan lainnya, kalo saya gak deket sama Tuhan yang paling bisa rasain efek negatifnya tuh suami dan anak-anak saya. Begitu sebaliknya, kalo saya INTIM sama Tuhan, mereka juga yang paling rasain ‘manis’-nya mama mereka *hahaha, madu kaleee* 

Semakin lama jadi mama, semakin saya sadar kalo saya bener-bener butuh kekuatan dan hikmat dari Tuhan buat jalanin fungsi saya. KEKUATAN dan HIKMAT Tuhan itu kita dapatkan lewat Firman Tuhan. Baca Alkitab doang gak cukup, kudu ngerenungin, bahkan juga kalo bisa hafalin, perkatakan dan juga tentunya praktekkan Firman Tuhan tersebut. Bagian kita adalah baca... baca... baca..., renungin dan praktekkin. YES, sebisa mungkin kita kudu ‘store’ Firman Tuhan di dalam hati kita, nanti Roh Kudus yang memberikan rhema. Rhema adalah FIRMAN yang ‘dihidupkan’ Roh Kudus sesuai dengan SITUASI yang kita hadapi untuk menjawab ‘KEBUTUHAN’ kita. 

So inilah yang saya lagi berusaha untuk terus bangun secara konsisten: 
  • Saat teduh pagi secara pribadi (doa dan baca Firman) jadi hal yang diprioritaskan sebelom lakuin yang laen. 
  • Hafal minimal 1 ayat selama seminggu dan coba renungin secara khusus ayat tersebut sepanjang minggu. 
Here are some practical tips or ideas to establish consistent devotions and prayer life and develop your relationship with God: 
1. Wake up earlier before the kids wake up
Pagi hari adalah waktu yang paling baik buat saya sebelum pikiran saya penuh dengan banyak hal dan terlalu lelah untuk ‘berpikir’. When I start my day with God, it makes me more ready to face the day! Saya itu cukup ‘kejar-kejaran’ sama anak-anak karena anak-anak saya early risers juga, mereka bangun di antara jam 5.15 - 5.45 pagi! Sebelum mereka bangun saya berusaha udah selesai saat teduh, tapi yah gak selalu kayak gitu juga, kadang saya capeeek sekali, rough nights karena baby ngalamin growth spurts dan more frequent night feeding bikin saya bangun telat. Makanya kalau ada anak yang udah bangun, saya ajar mereka untuk main sendiri (quiet time). Yang pasti, don’t be too hard on yourself if you feel like you aren’t spending a lot of time in personal devotions. Fasenya emang udah beda, gak bisa kayak single dulu yang bebas tengkurepan baca Firman dan ngejurnal saat teduh sampe lama. Just make sure, start your day with GOD lewat doa ucapan syukur dan baca Firman-Nya. However, ada orang-orang yang lebih alert di waktu malam, artinya lebih demen ambil waktu saat teduh pas malem habis anak-anak tidur, silahkan saja tapi tetep start your day with God lewat doa, menyadari keterbatasan dan kebergantungan kita akan Tuhan. 

2. Singing throughout the day
Usahain kerjaan rumah kayak nyuci piring, masak, ngepel or even waktu nursing the baby dikerjain sambil nyanyi nyembah Tuhan. Singing is a form of worship. Orang yang nyanyi memuji Tuhan gak bakalan jadi org yang ‘grumpy’. Coba deh, setiap rasanya pengen marah-marah, ada hal yang bikin jengkel or ngerasain burden yang begitu kuat, start to sing out loud! It is hard to sing and continue to be grumpy.

3. Put a Bible in the bathroom
Manfaatin waktu terutama pas lagi ‘nongkrong’ di WC, hehe, buat feeding your spirit. Steal time to catch up your bible reading. Saya juga taruh selembar kertas setiap minggu yang saya tulis ayat hafalan untuk saya baca dan renungkan mendalam pas saya di kamar mandi. 

4. Taruh buku rohani deket ranjang, jadi pas ‘ngelonin’ anak bobo bisa sambilan baca buku
Baca buku rohani berguna banget buat nambahin pemahaman kita sama Firman Tuhan. Banyak orang ngga suka baca dengan alasan mereka ngga punya waktu. Nah, daripada bengong waktu ngelonin anak, mending curi-curi waktu yang ada buat baca. 

5. Download mp3 kotbah dan dengerin pas lagi nyetrika baju
Seri khotbah favorit yang saya dengerin berulang2 tiap taon adalah the Godly Home Series by Denny Kenaston. Khotbahnya bisa di-download di sini

6. Pray anytime. 
Anytime means anytime. When folding the laundry or washing the dishes, we can pray for people who come into our mind or kadang bisa juga pelan-pelan berbahasa roh membangun iman kita. Kita juga bias berdoa pas malem-malem susah tidur, kebangun tanpa alasan ato juga waktu menyusui anak. Selain itu, ambil waktu buat mendoakan orang lain waktu doa ngucap syukur buat makanan. Babe mertua saya kalo mimpin doa buat ngucap syukur pas meal time selalu ambil waktu buat doain orang lain juga (buat mereka yang sakit/ngalamin kesusahan/ada pergumulan khusus) gak heran anaknya (baca: suami saya) juga kayak gitu ;p Yah, hal ini jadi momen yang bagus buat bikin sekeluarga juga jadi doain orang lain.

7. Tulis ayat Firman Tuhan pake dry erase marker di pojok kaca
Intinya sih, tulis Firman Tuhan di tempat-tempat yang sering kita lihat. Biarkan otak kita di-expose dengan Firman. Kalau di kaca kan tiap kali ngaca (hehe...) bisa sambil baca tuh Firman. Gak hanya Firman Tuhan aja sih, bisa aja tulis: "I need You everyday, Lord." Asiknya, tulisannya bisa diganti-ganti, kan tinggal diapus doang. 

8. Subscribe email buat langganan ‘makanan rohani’
Contohnya ini: httapi://www.cfcindia.com/web/mainpages/word_for_the_week.php. Kalo subscribe, stiap minggu bakalan dikirimin ‘word of the week’. Selama 3 tahunan ini saya dibangun lewat baca ginian tiap minggu. 

9. Gunakan alarm HP untuk pengingat buat berdoa
Dulu pas masih single saya suka set alarm di HP setiap jam 12 dan jam 3 sore buat pengingat doain anak-anak komsel, anak binaan dan juga keluarga yang belum kenal Tuhan. Sekarang udah jadi mama tentunya saya kudu sering nabur doa buat anak-anak saya dong ya... Tiga unyil yang Tuhan udah percayain kepada kami. Pagi pas family devotions sih selalu doain anak-anak tapi abis itu udah enggak lagi, hehehe... Cuma sekarang saya pake ‘azan’ (panggilan sholat buat orang muslim) sebagai pengingat buat saya doain anak-anak saya, hehe... Jadi tiap kali denger azan, I whisper a prayer to heaven for my kids salvation.

Menjaga hubungan pribadi dengan Tuhan bukan hal yang susah kalo kita punya hati yang mau. Be creative aja cari cara-cara yang bikin kita enjoy tiap hari jalan sama Tuhan. Yuks, kita bertumbuh bareng-bareng tahun ini, saling mengingatkan dan mendukung untuk makin deket sama Tuhan. Amin! 

Thursday, June 21, 2018

The Beauty Inside You



by Poppy Noviana

Tahun lalu aku memperoleh kesempatan untuk berlibur di Bangkok. Memang hanya sebentar, namun berbagai hal yang aku lihat di sana membuatku memikirkan tentang apa makna menjadi seorang wanita. Ada orang-orang yang penampilannya seperti wanita, tetapi begitu bicara, suaranya suara pria. Ada pria-pria yang merasa bahwa di dalam diri mereka, mereka sesungguhnya adalah wanita, dan karena itu mereka berusaha mengubah jenis kelamin mereka. Ada juga wanita-wanita yang memiliki gambaran ideal tentang wanita yang mereka rasa cantik, lalu menjadi tidak puas dengan fisik mereka, dan berusaha mengubah wajah dan tubuh mereka agar sesuai dengan gambaran itu. Tuhan memang menciptakan manusia pria dan wanita; tetapi apakah menjadi wanita hanya masalah fisik semata?

Wanita adalah lambang dari kelembutan dan keindahan. Bukan tanpa alasan para pelukis suka melukis dengan objek wanita (dan hasilnya adalah lukisan dengan nilai jual tinggi, seperti Monalisa karya Leonardo da Vinci). Yang sering kita lupakan, keindahan sejati bukan hanya dari luar, tetapi muncul dari dalam. Betul, wanita harus memperhatikan penampilannya; secara naluriah kita akan berusaha mempercantik diri dengan berbagai cara: make up, pakaian, aksesoris, dan sebagainya. Lebih jauh lagi, wanita harus smart, tangguh, dan mandiri. Lantas bagaimana dengan yang di dalam—jiwa kita? Karakter kita?

Keutuhan seorang wanita meliputi fisik dan jiwanya. Banyak wanita yang cantik parasnya, tetapi rusak hatinya. Karena itu, sebagai pengikut Kristus tidak semestinya kita hanya memikirkan masalah fisik semata. Yang menjadi kelebihan kita justru kehidupan ilahi yang ada di dalam kita. Rasul Petrus mengingatkan kita:

“Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.”
(1 Petrus 3:3-4)

Tidak seperti wanita-wanita lain yang hanya sibuk dengan penampilan jasmani sampai kadar yang berlebihan, wanita Kristen diingatkan bahwa ada perhiasan yang lebih berharga—bahkan sangat berharga di mata Allah, perhiasan yang tidak perlu dilepas dan tidak akan rusak; bukan pakaian mahal, tas collector’s edition, atau perlengkapan make up yang harganya selangit, melainkan roh yang lemah lembut dan tenteram.

Ini bukan berarti semua wanita Kristen harus pendiam atau berbicara pelan-pelan lho. Ini berarti hati kita dikuasai oleh damai sejahtera, bukan oleh emosi. Ini juga berarti kita dengan sabar mengampuni dan menutupi kekurangan suami ketika mereka lemah. Ini berarti kita memikirkan baik-baik kata-kata kita sebelum kita ucapkan. Ini berarti kita tidak hidup sembarangan, tetapi memiliki penguasaan diri. Ini berarti kita mengatur talenta dan waktu kita sedemikian rupa sehingga hidup kita memberi hasil yang baik bagi Tuhan. Roh yang lemah lembut dan tenteram adalah roh seorang wanita yang sudah diperbaharui oleh Roh Kudus, sehingga tabiatnya menjadi seperti Kristus. Dan ya, ini lebih berharga daripada kecantikan dan perhiasan jasmani!

Kita diciptakan sebagai penolong; menolong pria agar tidak hidup sendirian saja dan memenuhi mandat Allah untuk beranak cucu dan memenuhi bumi, mengelola rumah tangga, serta mengembangkan karunia-karunia yang Allah berikan pada kita bagi kepentingan orang banyak. Wanita yang sudah mengenal Kristus tidak akan sibuk mencari jati dirinya sendiri atau memikirkan hal-hal fisik saja. Semakin lama, ia akan semakin serupa dengan Kristus; dan semakin lekat ia dengan Kristus, semakin terpancar pula kecantikan batiniahnya, sehingga semua orang dapat melihat kemuliaan Allah dari dirinya.

True beauty comes from the heart
When you feel worried, but you hold fast to your hope in God
When you feel weak, but you strengthen your heart in Christ
When you remain patient in difficult times
When you experience loss, but offer gratitude instead to the Lord
When you need help yourself, but decide to help others
When you are hurt, but you choose to love those who hurt you
When you are stressed, but are determined to get things done
True beauty cannot be concealed, because true beauty
is Christ in you, the hope of glory.

Monday, June 18, 2018

Gentle and Quiet Spirit


by Sarah Eliana
“Gentle and quiet spirit” refers to a woman who is gracious, peaceful, serene, and quietly dignified—a woman who does not scrape and claw to be noticed and appreciated, but one who is fully content and secure in her relationship with her King. A woman with a gentle demeanor and quiet confidence in Christ will naturally guard the “hidden person” of her heart, because she understands what it means to protect the sacred. When the Bible speaks of the “hidden person of the heart” it’s talking about the secret, intimate part of who we are—the sacred core of our femininity. But if we embrace the “hold nothing back” version of womanhood we see all around us, we have no “hidden person of the heart” left to protect; everything we think, hope, dream, fear, and feel is all out there on display for the world to see. It’s impossible to possess the incorruptible beauty of a gentle and quiet spirit if we follow the worldly pattern of femininity".
-Leslie Ludy-
Di jaman serba canggih sekarang sangatlah mudah untuk "dilihat" dan "didengar" orang. Orang2 yg gak kenal kita, yg hidup jauh dari kita bisa dengan mudahnya tau apa yang terjadi dalam hidup kita, thanks to social media. Sangat mudaaaahhh sekali utk pasang status yang mengumbar perasaan kita, ketakutan kita, kekhawatiran kita, kebahagiaan kita, harapan kita, dan banyak lagi. 

Hari ini, aku baca Kidung Agung 4:12, 

"Dinda, pengantinku, kebun tertutup engkau, kebun tertutup dan mata air termeterai."

Yes, kita adalah kebun tertutup dan mata air termeterai. There is a "hidden person of the heart" yg musti kita lindungi. Ada hal - hal yg harus kita "hold back" and hanya kita share dengan Tuhan (dan suami kalau sudah menikah). Godly feminity is not about putting EVERYTHING on display. Godly feminity gak sembarangan menjerit2 marah2 ketika kecewa (baik dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, gereja, otoritas, pemerintah, dll), gak sembarangan mengumbar2 perasaan. We don't scrap and claw to get attention from other people (atau in the words of social media, to get "likes" and "comments"). Juga gak sembarangan curhat hanya supaya didengar dan dihibur. 

No, gak ada yg salah dengan curhat, kalau dilakukan dalam porsi yang benar dan tentunya, dengan motivasi yang benar. Namun, curhat untuk memperoleh ketenangan dan hiburan dari orang lain adalah tanda dari jiwa yang gelisah. Jiwa yang gelisah hanya dapat disembuhkan oleh Tuhan Yesus Kristus. 

Ketika kita curhat, apa yang ingin kita dapatkan? Apakah kita lakukan itu untuk mendapat nasihat yang bijaksana dan godly? Lalu, apa yang kita lakukan ketika kita mendapat nasihat yang bijaksana dan godly? Apakah kita terima dengan senang dan rendah hati? Atau kita campakkan dan injak2? Aku tentunya pernah curhat dengan teman dan dengan mentor, dan biasanya teman dan mentor yang godly memberi reaksi yang sama ketika aku berkeluh kesah, yaitu: "bawa keluh kesahmu kepada Tuhan. Biarkan IA yang memberimu penghiburan & damai sejahtera." Saat diberi nasihat seperti ini, aku punya dua pilihan: 
  1. Terima, lakukan dengan senang, dan bersyukur karena mereka peduli dengan hubunganku dan Tuhan... atau
  2. Marah2 karena "come on! sebagai anak Tuhan, tentu aku tau donk untuk membawa keluh kesahku kepada Tuhan! Aku sudah lakukan itu! 

Yg aku mau sekarang adalah bagi mereka utk mendengarkan dan give me comfort!. Itu artinya aku mencampakkan nasihat mereka dan menginjak-injaknya. Jika itu yang aku lakukan, maka aku gak boleh heran ketika mereka "mencuci tangan" mereka atasku karena "Do not give dogs what is sacred; do not throw your pearls to pigs. If you do, they may trample them under their feet, and turn and tear you to pieces." (Matthew 7:6). Nasihat yang bijaksana dan godly adalah seperti mutiara, tapi kalau kita menolaknya dan malah marah2, itu artinya kita sama seperti (maaf) dogs and pigs yang gak ngerti nilai sebutir mutiara. Sad, right? 

Another thing to consider, apakah kita curhat hanya untuk melampiaskan perasaan untuk didengar dan dipedulikan? Apakah curhat hanya supaya orang lain bisa membantu kita "menjilat" luka kita? Bukan berarti kita tidak boleh curhat. Juga bukan berarti kita gak boleh pasang status di social media yang menyertakan kehidupan pribadi kita. Tapi... marilah pikirkan... apa yang dibaca orang lain ketika menyertakan masalah dan perasaan pribadi kita untuk dikonsumsi publik? Apakah hanya sungut-sungut dan pelampiasan perasaan yang terbaca... yang pada akhirnya menjadi batu sandungan untuk banyak orang? Atau iman kita yang bergantung kepada Tuhan terlihat dengan jelas dan menjadi berkat bagi banyak orang? 

Aku punya seorang teman yang menghadapi masalah sangat amat berat bertubi-tubi dan bertahun-tahun lamanya. Aku rasa kalo ada 1 orang saja di dunia ini yg diijinkan bersungut-sungut dan marah-marah, dialah orangnya! Tapi... sungguh luar biasa. Dari percakapan pribadi kami, dari email2nya, dari postingan2 di FB, yg aku lihat dan dengar hanyalah ucapan2 syukur yang genuine dan sincere. Dan tak pernah satu kalipun dia mengeluh atau curhat gak jelas (walaupun aku sudah bilang berkali2, kapanpun mau curhat, call me, sms me, skype me, even in the middle of the night), tapi dia gak pernah lakukan semua itu. Ketika masalah datang bertubi2 dan dia merasa dia hampir "tenggelam", dia peluk erat Tuhan Yesusnya, tidak dilepaskannya genggamannya dari Tuhan, matanya selalu tertuju kepada Tuhan dan Rajanya. Ia selalu menyatakan perasaannya dengan jujur tapi saat aku membaca atau mendengarnya, aku justru melihat dan merasa diberkati dengan imannya yang luar biasa bergantung kepada Tuhan. Dia tidak bersungut2, hanya menyatakan bahwa Tuhanlah gunung keselamatannya dan bahwa dalam kesedihannya, ia merasakan kehadiran Tuhan yang menghiburnya. Dia dengan rendah hati hanya minta untuk didoakan. Gak pernah satu kali pun berkeluh kesah. WOW! 

Dari temanku ini, aku betul2 belajar apa itu artinya memiliki "a gentle and quiet spirit." She guards the hidden person of her heart. Dia simpan itu hanya untuk Tuhannya. Perasaan2nya yang paling dalam... semua kesedihan, semua kekhawatirannya diberikannya kepada Tuhan, dan tidak diumbar2nya untuk konsumsi semua orang. You know, secara standard dunia, she is not a supermodel. Tapi, semakin aku kenal dia, semakin kulihat kecantikannya yg luar biasa. Aku tau kedengarannya klise sekali, tapi temanku ini betul2 punya kecantikan yang terpancar dari dalam. There is beauty and peace that seeps out from her heart - dan aku tau itu karena dia meletakkan hatinya where it belongs: in the hands of the King.

Do not let your adornment be merely outward; arranging the hair, wearing gold, or putting on fine apparel. Rather let it be the hidden person of the heart with the incorruptible beauty of a gentle and quiet spirit, which is very precious in the sight of God.
(1 Peter 3:3-4 NKJV)

Aku mau menjadi wanita yang melindungi "the hidden person of the heart," yang memiliki "the incorruptible beauty of a gentle and quiet spirit." Aku mau menjadi wanita bijaksana seperti Maria yang menyimpan semuanya didalam hati, menghampiri Tuhan terlebih dahulu dan mendapat penghiburan, nasihat, damai sejahtera dari-Nya. Aku tidak mau menjadi wanita yang seperti kebun yang terbuka dan mata air yang tak terkunci. Tidak mau menjadi wanita yang semua kekhawatiran, kemarahan, kesedihan, dan harapannya diketahui semua orang dari sabang sampai merauke, dari Indonesia hingga Vanuatu. Tidak mau menjadi wanita yang "jiwanya" begitu mudah dianalisa orang lain karena itu bukanly godly feminity yang diciptakan Tuhan untukku. Aku mau menjadi wanita yang memiliki jiwa yang tenang karena harapanku ada pada Tuhan. Aku tidak mau menjadi wanita yang curhat kepada begitu banyak orang ketika menghadapi masalah, tapi mau menjadi wanita bijaksana yang berperkara kepada Tuhan dan tau bagaimana "curhat" kepada orang lain dalam porsi dan motivasi yang tepat. Aku mau menjadi wanita indah yang hatinya terpaut kepada Tuhan, yang harapannya ada pada Tuhan, yang matanya tertuju hanya kepada Tuhan. Aku mau menjadi wanita lemah lembut yang memiliki hati dan jiwa yang tenang dan pengendalian diri untuk tidak meledak-ledak, baik ketika bahagia maupun sedih. Aku mau supaya nama Tuhan dimuliakan dalam hidupku... supaya orang lain melihat Yesus dalam hidupku, dan bukannya melihat kekhawatiranku, kemarahanku, dan semua emosiku. Aku mau menjadi seperti pohon yang tumbuh di tepi sungai, yang mendapat nutrisi dari Sang Air Hidup. Seperti sang pohon yang teduh, aku pun ingin memiliki jiwa yang tenang dan penuh damai sejahtera. 

How about you?

Friday, June 15, 2018

Saya Tidak Cantik


by Mekar Andaryani Pradipta

Saya pernah merasa tidak cantik. Dan saya sedih karena saya tahu saya sedang tidak cantik. Bukan karena jerawat, atau rambut, kulit dan kuku saya sedang dalam kondisi tidak baik. Saya merasa saya tidak cantik karena saya sedang tidak sabar, suka ngomel dan marah-marah. 

Biasanya para wanita akan menyalahkan masa PMS. Tapi alasan itu tidak tepat, tubuh kita, termasuk hormon, seharusnya bisa kita kuasai. Kalau saya sedang tidak sabar, suka ngomel dan marah-marah, itu bukan saja perkara hormon, tapi itu berarti roh saya sedang dalam kondisi yang tidak seharusnya. 

Yes, beauty is about spirit. What kind of spirit? Saint Peter told me the secret. 

Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.
(I Petrus 3:3-4)

Firman Tuhan katakan kecantikan kita tergantung pada kondisi roh kita. Dan roh yang cantik adalah roh yang lemah lembut dan tenteram. 

Ayat inilah yang Tuhan taruh di hati saya setelah beberapa kejadian yang benar-benar bukan merupakan perilaku yang cantik. 

Sebenarnya masalahnya sederhana. Saya sedang ada di sebuah event dan pulsa saya habis sementara saya harus mengontak beberapa orang. Saya menghubungi Ibu tapi nomornya tidak aktif. Akhirnya saya telpon Bapak dan marah-marah. Saya mulai ngomel-ngomel tentang Ibu, tentang HP-nya yang tidak aktif. Saya juga mulai ngomel-ngomel tentang betapa saya tidak bisa bekerja kalau tidak punya pulsa. 

Hingga akhirnya Bapak pun tergopoh-gopoh mencari kios penjual pulsa. Tapi saat itu masih pagi. Belum ada kios pulsa yang buka. 

Bapak menelpon saya dan bertanya apakah tidak apa-apa kalau pulsanya dikirim satu jam lagi. 

And I don’t know what made me so mad, the fact was I shouted to my Dad, “Ya udahlah, ngga usah! Nanti aku beli sendiri!” Very unpolite and unproper. 

Tapi aku bersyukur saat itu Bapak balas memarahiku. Dia bilang, “Bapak sudah putar-putar sampai hampir nabrak orang, kamu malah bilang ngga usah. Jadi anak kok nggak sabaran!” 

Benar kata Bapak. Saya tidak sabar. Roh saya tidak lemah lembut. Roh saya tidak tenteram. Saya tidak cantik. 

Ada lagi contoh lain, persoalannya sama simpelnya. Salah satu teman saya tidak membalas sms saya dengan segera. Well, saya cukup sering sms dia atau menyapanya di messenger, bahkan untuk sesuatu yang saya tahu itu tidak penting. Seharusnya saya bisa mengerti kalau mungkin dia sedang sibuk di kantornya, mungkin dia sedang di jalan atau mungkin dia sedang tidur. Seharusnya saya mengerti. 

Tapi saya dan ketidaksabaran saya justru marah-marah dan mulai mengomel lagi. Saya menyalahkan dia. Saya mulai bicara dengan nada tinggi lagi. 

Saya sungguh tidak cantik.

Saya tahu teman saya itu sebenarnya sudah cukup bersabar. Pada mulanya dia masih menjelaskan kenapa dia tidak bisa segera menanggapi sms-sms saya. Tapi ketika kejadian itu terulang lagi, saya masih juga tidak belajar. Akhirnya dia bicara dengan keras, seperti Bapak saya. Tapi bedanya, saya masih berkeras dengan argumen-argumen yang menyalahkan dia. Akhirnya, teman saya itu tidak pernah lagi membalas sms saya. Mungkin diamnya itu cuma sementara, untuk memberi efek jera, tapi itu cukup membuat saya berpikir. 

Dan Allah mengingatkan saya pada I Petrus 3:3-4 tadi. 

Dalam sebuah renungan yang saya baca, disebutkan bahwa roh yang lemah lembut dan tenteram adalah roh yang tidak kasar, tidak suka marah-marah, tidak berdebat dan tidak argumentatif. 

Saya tahu saya punya masalah dengan perkataan. Saya tidak seperti wanita dalam Amsal 31 yang membuka mulutnya dengan hikmat dan pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya (Ams 31:26). Saya punya kecenderungan untuk menjadi sangat emosional yang terekspresikan dalam perkataan kasar, perdebatan dan bantahan. 

Sebenarnya Tuhan sudah sering menegur saya agar saya lebih bijak dalam perkataan. Selama bertahun-tahun ini saya bergumul dengan dosa yang satu itu. Saya bahkan punya sebuah notes kecil yang di dalamnya berisi kumpulan ayat tentang perkataan. Salah satunya ayat yang saya tulis adalah dari Amsal 21:9, “Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah dari pada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar.” 

See? 

Betapa ngerinya kalau suami saya nanti tidak betah di rumah karena kebiasaan saya mengomel dan memancing perdebatan. Apa jadinya rumah tangga saya nanti? Mengerikan sekali. 

Ok, you can say, saya sekarang toh belum punya suami, don’t be too serious. Tapi bagaimanapun, karakter tidak dibangun dalam sekejap. Karakter yang saya kembangkan sekarang, pada saat saya single, itulah yang akan dibawa saat saya berumah tangga. Pernikahan adalah masa menuai segala sesuatu yang kita tabur saat kita masih lajang. 

Sampai saat ini, saya masih belajar untuk punya roh yang lemah lembut dan tenteram. Langkah pertama yang dulu saya lakukan adalah menahan diri untuk banyak bicara. Dalam bahasa Inggris, “roh yang tenteram” dikatakan sebagai “quiet spirit”, roh yang sunyi, diam. 

Seperti yang saya baca di Amsal 10:19, "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." dan Yakobus 1:19-20, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah, sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”

Wednesday, June 13, 2018

Ibadah Tersembunyi


by Glory Ekasari

Oke, waktunya saat teduh.

Pilih meja kayu yang bagus, supaya bernuansa vintage. Ambil Alkitab, buka di kitab yang mau dibaca. Di sebelahnya, taruh secangkir kopi. Di dekat Alkitab, ada buku catatan dan bolpoin. Sip. Sekarang, difoto dari atas (harus 90 derajat, kalau perlu naik bangku), upload di Instagram, dengan hashtag sebanyaaaak-banyaknya: #instaapp #instapray #instabible #instadaily #instaini #instaitu #Christian #Godfirst #quiettime #prayer #dst #dst #dst.

Meminjam istilah teman saya, itu namanya bukan “saat teduh”, tapi “saat gaduh”.

Memang sekarang dunia ini berisik sekali, dan seringnya kita sendiri justru ingin diganggu dengan berbagai notifikasi. Media sosial sudah menjadi semacam berhala: semua harus di-upload dan dibagikan dengan orang lain. Bahkan hal yang seharusnya sifatnya sangat pribadi, seperti saat teduh, juga kita jadikan tontonan buat orang lain. Sulit untuk berdua saja dengan Tuhan, dan seringkali kesulitannya justru ada pada kita sendiri.

Hal ini bukan hal yang baru. Dua ribu tahun yang lalu, Tuhan kita pernah membahas masalah ini. Bukan tentang Instagram, tentunya, tapi tentang perilaku manusia yang ketagihan “like” dari orang lain. Tuhan menegaskan:

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.”
(Matius 6:1)

Sepanjang Matius 6, Tuhan Yesus memberi contoh tiga aktivitas keagamaan yang sering dipamerkan orang—and He is divinely on point: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa.

Memberi sedekah. Pernah lihat foto pemimpin/perwakilan organisasi (atau perorangan) yang tersenyum lebar sambil berjabat tangan dengan pihak yang diberi sedekah—misalnya korban bencana atau panti asuhan? Pasti pernah. Sama seperti dulu, ketika pemuka agama di Israel memberi sedekah, mereka memastikan agar orang lain tahu bahwa mereka sedang sibuk berbuat baik.

Berdoa. Pasti pembaca pernah melihat orang beramai-ramai berdoa di lapangan atau mengadakan acara rohani sampai menutup gang atau bahkan jalan raya. Seperti pemuka agama zaman Tuhan Yesus dulu, mereka mempertontonkan kerohanian mereka agar dilihat orang banyak.

Berpuasa. Pada masa kuliah, saya ikut pelayanan di kampus, dan kami sedang beramai-ramai doa puasa untuk suatu kegiatan pelayanan. Dalam masa puasa itu, suatu kali ketika sedang ngobrol beberapa orang mengeluh lapar dan haus ketika sedang puasa, dan seorang teman rupanya tidak senang. “Ga perlu lah disebar-sebarkan ke orang lain kalau kita lagi puasa,” katanya. “Apa puasa kita diterima Tuhan kalau sikap kita begini?” Hal yang sama dikatakan Tuhan Yesus ketika orang-orang munafik berpuasa: Mereka sengaja dilemes-lemesin supaya orang lain tahu bahwa mereka berpuasa. Tuhan bilang, “Dandan, cuci muka, berpakaian yang rapi, supaya orang tidak tahu bahwa kamu sedang berpuasa!”

Dan sekalipun kita merasa tidak bersalah dalam tiga hal itu, tidak bisa dipungkiri bahwa kita cenderung mencari pengakuan dari orang lain, termasuk ketika kita menjalankan kewajiban agama.

Tapi kenapa kita begini? Kenapa kita sibuk dengan aktualisasi diri berdasarkan pengakuan orang lain? Usut punya usut, di dalam hati kita ada kehausan untuk penerimaan dan pujian, dan kita tidak tahu di mana harus mencari itu semua, karena itu kita minta orang lain memenuhi kebutuhan itu. Masalahnya adalah, kita mencari di tempat yang salah.

Orang terus-menerus mencari pengakuan dari orang lain karena mereka tidak pernah merasakan betapa memuaskannya pengakuan dari Tuhan. Yang kita kenal adalah dunia dan klik ‘like’ dari mereka; dan kita tidak tahu betapa indahnya mendengar Tuhan berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia.” Orang mencari kebahagiaan di luar Tuhan karena mereka tidak mengerti betapa bahagianya di dalam Dia. Orang mencari labuhan hati dalam diri orang lain, tanpa menyadari bahwa orang lain mengalami kekosongan yang sama. Hati kita yang berdosa mencari kepuasan, yang tidak akan kita temukan di luar Tuhan.

Perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan tentang aktivitas keagamaan yang kita lakukan.

“Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Ini bukan sekedar perintah. Kewajiban agama, kegiatan agamawi, sebenarnya adalah wujud kasih kita kepada Tuhan. Tapi banyak orang tidak mengasihi Tuhan dan hanya sekedar beragama karena mereka merasa perlu beragama. Perhatikan bahwa kita beribadah bukan kepada “Tuhan yang jauh di sana”, tapi kepada Bapa. Setiap hari saya membuatkan kopi untuk mama saya, dan dia selalu merespon dengan senyum sambil berkata, “Terima kasih.” Saya tidak membuatkannya kopi agar dilihat orang dan dianggap anak berbakti, tapi karena saya senang bisa menyenangkan dia. Inilah yang Tuhan mau kita tahu. There is a greater reward! Tujuan ibadah adalah melihat senyum di wajah Bapa kita, bukan untuk dilihat orang lain. Kebahagiaan yang didapat dari menyenangkan hati Tuhan jauh melebihi kebanggaan karena mendapat pujian orang lain.

Kalau kita pernah melihat pasangan yang sedang jatuh cinta, kita bisa membayangkan apa yang Tuhan maksud. Setiap kali seseorang menelepon pacarnya, dia segera menyingkir ke tempat yang sepi dan berbicara dengan suara lembut kepada sang pacar. Dia tidak ingin pembicaraannya dengan sang pacar didengar orang lain, bukan karena tidak ada hal yang menarik, tapi karena dia ingin menikmati momen itu sendiri.

Bila kita mencintai Tuhan, kita ingin apa yang kita lakukan menyenangkan Dia; dan kita tahu bahwa Dia senang ketika kita berbagi momen hanya dengan Dia. Dunia tidak perlu tahu apa yang kita bicarakan dengan Tuhan di tempat tersembunyi. Tidak seorangpun perlu tahu seberapa banyak dana yang kita berikan untuk mendukung pekerjaan-Nya. Kita tidak perlu mengumbar iman kita dengan segudang hashtag. Sekalipun tidak ada orang lain dan tidak ada musik, kita tetap berbahagia di hadirat-Nya. Bisa berdua dengan Dia dan menikmati ibadah, itu adalah upah terbaik yang bisa kita dapatkan.

Apa yang kita cari? Pengakuan dari manusia? Tuhan berkata, “Mereka telah mendapatkan upahnya,” yang berarti hal itu gampang sekali kita dapatkan; tapi kita akan melewatkan upah yang sesungguhnya. Bila yang kita cari adalah Tuhan dan hanya Tuhan, kita tidak perlu mengumbarnya kepada orang lain, dan Dia berjanji,

“Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku;
apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,
Aku akan memberi kamu menemukan Aku,
demikianlah firman TUHAN.”
(Yeremia 29:13-14)

Monday, June 11, 2018

Beauty Inside Blessed Outside



by Poppy Noviana

Kata orang-orang sih aku kurang tinggi, betisku kurang bagus dan lingkar pinggangku terlalu besar dari belakang. Fiuh... banyak PR ya kayanya hidup ini untuk sekedar membenahi penampilan fisik. Orang bilang beauty is pain??? Pernah dengar? 

Pada dasarnya setiap orang diciptakan oleh Allah baik adanya (Kejadian 1:27-31), namun manusia cenderung mengukur apa yang baik itu dari apa yang terlihat oleh mata. Padahal, yang terpenting adalah hal-hal yang sifatnya kekal, bukan hanya penampilan luar saja (Kolose 3:1-5). Penampilan luar memang penting, karena Allah sendiri menginginkan agar kita dihormati sesama manusia, tapi jangan abaikan perkataan-Nya untuk menjadi berkenan kepadaNya (Roma 14:17-19). Dua hal itu adalah satu kesatuan yang berbicara tentang cara kerja Kerajaan Allah. Anugerah yang sudah diberikan oleh Tuhan cukup dan ada dalam kendali-Nya, namun manusia perlu berhikmat untuk melestarikan, mengusahakan dan membangun kehidupan.

Tetapi TUHAN berkata kepada Samuel, "Janganlah kau terpikat oleh rupanya yang elok dan tinggi badannya; bukan dia yang Kukehendaki. Aku tidak menilai seperti manusia menilai. Manusia melihat rupa, tetapi Aku melihat hati."
(1 Samuel 16: 7 BIS)

Manusia pada umumnya, khususnya laki-laki, mudah sekali tergoda oleh keindahan yang terlihat mata. Kutipan perkataan Allah di atas menegaskan hal tersebut dan hal ini pula yang mendorong kaum wanita untuk berpenampilan secantik mungkin dihadapan para pria. Memang ada beberapa wanita yang dianugerahi bentuk tubuh dan wajah menarik, tapi realitanya tidak semua orang demikian. Perubahan atau peningkatan penampilan memerlukan perawatan, kerja keras, dan usaha untuk mempertahankannya. 

Jadi, mari kita berkomitmen untuk merawat tubuh kita: olahraga teratur dan makan makanan sehat. Hal itu juga termasuk cara kita memelihara bait Allah yaitu tubuh kita. Tapi, jangan lupa untuk mengembangkan karakter kita semakin serupa Yesus. Bersikap taat dan setia untuk dibentuk oleh Allah menjadi serupa gambaran-Nya itu painful but worth it. Kecantikan luar hanya sementara, namun kecantikan yang timbul dari jiwa dan roh membangun kehidupan. Kenapa demikian? Kecantikan jiwa dan roh kita adalah kecantikan yang sesungguhnya berkenan dihadapan Allah karena demikianlah yang diinginkan-Nya.

Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya. 
(1 Pet 3:3-4)

Naah, kaitan dengan beauty is pain dalam konteks kecantikan batiniah adalah ketika kita harus menyangkal diri sendiri untuk dapat hidup seturut dengan kehendak Allah diatas. Tidak mudah sama sekali. Kadang perlu jatuh bangun. Contoh sederhana aja ketika kita males bangun pagi untuk pergi ke kantor. Katanya mengasihi Allah, tapi masih saja malas. Padahal, mengasihi Allah berarti menuruti segala perintah-Ku (Yoh 14:15). Jika kecantikan batiniah dilihat dari buah-buah rohani yang kita hasilkan, apakah terlambat datang ke kantor memperlihatkan buah yang baik? Apakah itu berarti menaati perintah-Nya untuk menjadi terang dan garam? Hmm... I guess not! Perlu ada komitmen untuk melewati proses yang kadang menyakitkan, agar hidup kita menghasilkan perhiasan batiniah.

Mari, kita, wanita-wanita Allah, mengejar kecantikan batiniah dimulai dengan mengevaluasi bagaimana buah kehidupan yang kita hasilkan hari-hari ini. Lalu, mintalah pertolongan roh kudus untuk mempercantik batin kita dan memancarkannya secara lahiriah dengan menjadi berkat bagi orang lain. Ingat, hidup ini bukan tentang diri sendiri tetapi tentang membangun kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain.

Nah, berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu. 
  • Berusahalah untuk tetap update dengan berbagai hal supaya kita mudah bergaul dengan berbagai jenis orang. Usahakan keseimbangan hidup dalam kehidupan kerohanian maupun bermasyarakat. Kehidupan kerohanian yang terlalu kaku bias menjadi batu sandungan dalam memberkati orang lain. Mari kita meneladani Yesus yang luwes dalam pergaulan namun tetap hidup dalam kebenaran. 
  • Jadilah dirimu sendiri, alias punya prinsip bukan apa kata orang tapi apa kata Tuhan. Jangan latah mengikuti hal-hal yang sedang tren, tapi fokuslah pada apa yang menjadi panggilanmu. 
  • Bangun kebiasaan untuk peka pada kebutuhan orang lain, rajin berbuat baik dengan tulus hati, dan suka melayani sesama, 
  • Berhikmatlah dalam mengatur kehidupan pribadi dan tetap berpengharapan akan hari depan. 

Apakah melakukan tips-tips itu sulit? Bisa jadi, tapi bukankah sulit tidak berarti mustahil? Remember, as physical beauty, inner beauty is also painful to get, but it is all worth it.