Monday, January 27, 2020

Ajarlah Kami Berdoa


by Glory Ekasari

Saat bersekolah di sebuah SD Katolik, saya diajarkan untuk berdoa seperti yang Yesus ajarkan—Doa Bapa Kami. Semua murid wajib menghafalkan doa itu, dan setiap pagi kami berdoa sebelum mulai kelas. Selama bertahun-tahun saya tidak pernah memikirkan makna doa ini, sel1ain memandangnya sebagai doa hafalan. Namun setelah membaca buku tulisan Warren Wiersbe yang berjudul On Earth As It Is In Heaven, saya mulai merenungkan makna di balik Doa Bapa Kami.

Pada masa kehidupan Yesus di dunia, para rabi (“guru” dalam bahasa Ibrani) Yudaisme mengajar murid-murid mereka untuk berdoa. Satu rabi memimpin satu “perguruan”, dan memiliki pengikut yang tekun belajar dari dirinya. Tidak heran jika murid-murid Yesus mengajukan permintaan kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” (Lukas 11:1). Mendengar permintaan ini, Yesuspun mengajarkan Doa Bapa Kami pada mereka. Berbeda dari doa-doa yang diajarkan para rabi (yang “hanya” menekankan kekudusan Tuhan dan ketidaklayakan manusia untuk menghampiri tahta-Nya karena dosa), Doa Bapa Kami justru adalah doa yang menggambarkan kedekatan antara anak-anak Allah dengan Sang Bapa—tanpa menghilangkan unsur kekudusan-Nya.

Mungkin sebagian kita merasa mudah untuk berdoa. Iyalah, lha tinggal ngomong aja sama Tuhan. Gitu aja repot. Tapi ternyata, banyak orang justru menolak ketika diminta berdoa, “Jangan, deh. Aku ga bisa berdoa. Malu kalo diketawain.”

Well… ternyata berdoa itu gampang-gampang susah, Pearlians. Tapi pernah nggak kita berpikir alasan di balik jawaban tersebut?

Sebenarnya sederhana saja: kita tidak tahu bagaimana harus bicara dengan Tuhan, sehingga mereka menghafalkan doa tertentu, mengulang-ulang kalimat, mematenkan ritual, dan sebagainya. Lah, kalo gitu, gimana kalo Tuhan sendiri yang mengajari kita untuk berbicara kepada-Nya? Nah, ini baru bener. Dengan demikian, kita jadi tahu apa yang Tuhan inginkan dalam doa kita. Tapi bukan berarti kita bisa bicara seenaknya ya, Pearlians. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam pengajaran Tuhan Yesus kepada para murid-Nya tentang bagaimana harus berdoa:

// Berdoa Kepada Siapa?
Kesalahan pertama yang sering dilakukan orang dalam berdoa adalah berdoa untuk dilihat orang. Ini terdengar aneh, karena seharusnya kan, orang berdoa kepada Tuhan. Tapi inilah yang terjadi. Tuhan memberikan contoh dari kalangan “rohaniwan” Yahudi sendiri:

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.”
(Matius 6:5)

Orang Yahudi punya jam-jam doa yang telah ditentukan. Ketika jam doa tiba, maka para alim ulama Yahudi, di manapun mereka berada, akan langsung berhenti beraktivitas dan mulai berdoa—kadang-kadang dengan suara lantang. Oleh karenanya, semua orang akan melihat betapa “salehnya” mereka karena menaati jam doa, tidak seperti orang lain yang sibuk bekerja.

Tidak disangka, Tuhan tidak berkenan kepada doa seperti ini. Doa yang demikian justru salah alamat karena tidak ditujukan untuk Tuhan, melainkan untuk show off diri mereka sendiri. Yesus menegaskan, “Kamu cari penghormatan dari orang? Kamu sudah mendapatkannya. Tidak ada lagi yang Tuhan berikan sebagai respon dari “doa”-mu.”

Kesalahan lain adalah berdoa dengan bertele-tele. Yang biasanya berdoa seperti ini—dengan kata-kata yang diulang-ulang atau dirangkai indah tapi tanpa makna—adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. What an irony!

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata, doanya akan dikabulkan.”
(Matius 6:7)

See? Yesus menekankan bahwa doa dikabulkan bukan karena banyaknya kata yang digunakan. Lalu kenapa doa orang-orang ini tidak dikabulkan oleh Allah? Karena mereka tidak mengenal Dia. Dari sinilah Yesus mengambil titik tolak untuk menjelaskan kepada kita tentang doa yang dikehendaki Allah. Secara tersirat, Dia juga menunjukkan bahwa yang terpenting bukan pendapat orang tentang kita (bahwa kita orang yang rohani, saleh, tekun berdoa, dan sebagainya), tetapi apa pandangan Allah tentang kita.

Yesus memulai doa-Nya dengan frase yang luar biasa, “Bapa kami yang di sorga.” Secara teori, kita tahu bahwa kita tidak berdoa kepada “semesta”, bukan pada dewa yang menakutkan, bukan juga kepada mahkluk yang mahakuasa—namun bodoh dan bisa dirayu dengan kata-kata indah. Tidak. Kita berdoa kepada Bapa di sorga. Satu kata ini saja menunjukkan superioritas Allah dibanding kita, sekaligus hubungan yang manis antara Dia dengan kita. Dia bukanlah Pribadi yang jauh, Dia tidak memusuhi kita, dan kita bisa mengenal Dia. Pengenalan inilah yang menjadi kunci doa-yang-didengar-oleh-Allah.

Tidak ada anak yang berbicara kepada bapaknya dengan kalimat yang bertele-tele atau berseru keras-keras di depan orang banyak. Betapa anehnya bila ada anak berkata kepada papanya, “Pa, saya tahu Papa adalah orang tua yang bertanggung jawab sebagai penyedia dalam keluarga kita. Papa senantiasa menjadi teladan istimewa bagi saya dalam segala hal. Pada saat ini, Pa, sehubungan dengan kuliah saya yang semakin intens, biaya yang saya butuhkan pun makin banyak…” Tidak ada anak bicara seperti itu pada orang tuanya. Yang ada justru anak akan bercerita masalahnya dan kebutuhannya to the point, ketika dia bersama orang tuanya saja. Ini juga yang Tuhan tekankan:

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
(Matius 6:6)

Kehidupan doa kita tidak perlu dilihat dan diketahui orang lain, kecuali mungkin mereka yang hidup bersama dengan kita. Namun dampaknya harus dirasakan oleh semua orang di sekitar kita.

// Permintaan Yang Terpenting
Kabar baiknya, rata-rata orang Kristen (termasuk kita) bisa berdoa—walaupun “hanya” menggunakan kata-kata sederhana. Tapi tidak masalah. Yang jadi pertanyaan, ketika kita mulai berdoa, apa yang kita katakan kepada Tuhan? Apa yang kita minta dari Dia? Yang terpenting, top of our mind, pasti disebutkan pertama kali. Nah, perhatikanlah doa yang diajarkan Tuhan Yesus, dan permintaan apa yang pertama kali disebutkan-Nya.

Ada dua kategori permintaan, yaitu permintaan bagi Allah dan permintaan bagi diri kita sendiri. Tentu saja meminta sesuatu bagi Allah bukan berarti Allah membutuhkan apapun. Kita harus ingat bahwa Tuhan Yesus sedang mengajari murid-murid-Nya untuk berdoa. Artinya, Dia mengajari mereka untuk mengetahui apa yang harus jadi prioritas dalam hidup mereka.

“Bapa kami yang di sorga,
dikuduskanlah Nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
(Matius 6:9-10)

Melalui Alkitab, kita melihat bahwa Allah adalah tokoh utama dan Yesus adalah Tuhan yang ditinggikan—Nama-Nya adalah Nama di atas segala nama. Pearlians masih ingat pada perintah pertama dalam 10 Hukum, kan?

“Jangan ada Allah lain di hadapanmu…”

Dengan kata lain, Allah harus menjadi satu-satunya Pribadi yang kita sembah. Tidak hanya itu, dalam Ulangan 6:5 (yang dikutip Yesus dalam “Hukum yang Terutama” (Matius 22:37-40)) dituliskan, “Kasihilah TUHAN, Allahmu.” Bila Tuhan adalah yang terutama bagi kita, maka sepantasnya hal ini tercermin dalam doa kita.

Melalui kata-kata dalam doa ini, Yesus menunjukkan bahwa Allah adalah Pribadi yang kudus; Dia adalah Raja atas segalanya, dan kehendak-Nya tidak bisa dibatalkan oleh manusia. Dengan mengucapkan kata-kata ini dalam doa kita, kita sedang mengingatkan diri sendiri untuk menghormati Tuhan dan berserah kepada kehendak-Nya.

// Menyadari Siapa Kita dan Siapa Dia
Bagian kedua dari permintaan dalam doa Bapa Kami berkaitan langsung dengan hidup kita:

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.”
(Matius 6:11-13)

Biasanya saat berdoa, kita akan langsung ke permintaan kita, dan—umumnya—kita minta diberkati. Sebenarnya doa-doa kita biasanya hanya berisi satu bagian ini, satu potongan dari doa yang jauh lebih luas yang diajarkan Tuhan Yesus. Itu pun kita bukan minta makanan “yang secukupnya”, tapi hal-hal yang (sebenarnya) bukan kebutuhan; sementara dua permintaan lainnya—pengampunan dan kelepasan dari pencobaan—bukan hal yang biasa kita minta dalam doa. Namun melalui tiga permintaan ini, Tuhan menunjukkan bahwa kita harus bergantung penuh kepada-Nya. Sekeras apapun kita bekerja, bila Tuhan tidak memberkati kita, kita tidak akan berhasil. Karena itulah kita merendahkan diri di hadapan Tuhan dan meminta berkat dari-Nya. Kita percaya bahwa Dia yang menciptakan kita, pasti juga sanggup memelihara hidup kita.

Kemudian kita meminta pengampunan, yang dalam bahasa aslinya berarti “pembebasan utang”. Mengapa? Karena kita perlu menyadari bahwa kita adalah orang-orang yang selamanya berutang kepada Allah. Dia telah mengampuni semua dosa kita dengan kemurahan hati-Nya melalui Kristus, sehingga kita juga harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Perumpamaan tentang pengampunan dalam Matius 18 adalah a blowing mind parable tentang betapa besarnya utang kita di hadapan Tuhan—bila dibandingkan utang sesama terhadap kita. Artinya, orang yang tidak merasa diampuni oleh Allah, akan sulit mengampuni orang lain.

Last but not least, kita meminta kelepasan dari pencobaan. Sepanjang hari, kita menghadapi pencobaan. Well, karena dunia ini adalah medan pertempuran rohani, Pearlians, sehingga kita tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri untuk menghadapinya. Dengan berdoa, kita mengakui kelemahan diri kita, dan meminta pertolongan kepada Tuhan agar kita mampu hidup sesuai kehendak-Nya—serta melawan pencobaan dengan kekuatan dari-Nya. Ini adalah kabar baik, bukan? Dia bukan Tuhan yang leha-leha saat melihat kita bergumul sendirian, tapi justru melepaskan kita dari apa yang jahat.

--*--

Doa yang diajarkan Tuhan Yesus menunjukkan siapa Allah dan siapa kita. Yaps, kita bukanlah mahkluk yang independen, yang tidak membutuhkan Tuhan, yang hanya datang kepada-Nya saat kita perlu sesuatu, dan bisa melupakan-Nya setelah itu. Tidak. Setiap tarikan nafas kita adalah bukti bahwa kita adalah ciptaan yang harus bergantung penuh kepada-Nya, Sang Pencipta yang mengasihi kita. Melalui Doa Bapa Kami, kita diingatkan untuk menjadi orang-orang yang rendah hati, sekaligus memberi kelegaan besar karena kita tahu bahwa hidup kita dijamin oleh Allah.

Mari kita datang kepada Yesus, dan dengan kerendahan hati meminta Dia untuk membuka pikiran kita, serta berkata bersama para murid-Nya di masa itu, “Tuhan, ajarlah kami berdoa.”

Monday, January 20, 2020

Yesus dan Hukum Taurat


by Yunie Sutanto

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”
(Matius 5:17-18)

Ayat di atas menjelaskan salah satu tujuan Yesus datang ke dunia: menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi. Apa maksud menggenapi Hukum Taurat ini? Apakah hukum Taurat itu ganjil sehingga perlu digenapi? Memangnya apa yang kurang dengan Hukum Taurat dan kitab para nabi?

Hukum Taurat atau Torah merujuk pada 5 (lima) kitab pertama Perjanjian Lama. Torah berasal dari bahasa Ibrani yarah yang berarti memberi pengajaran, mengajarkan, menunjukkan. Secara umum, Torah juga bisa diartikan sebagai instruksi. Memang, jika kita membaca Perjanjian Lama, maka kita akan banyak sekali menemukan perintah dan larangan, what we should do and what we should not do. Dari sekian banyak peraturan dalam hukum Taurat, St. Thomas Aquinas mengkategorikannya dalam tiga jenis: hukum moral, seremonial dan yudisial. Hukum moral misalnya adalah apa yang tertulis dalam 10 perintah Allah: jangan membunuh, jangan mencuri, jangan bersaksi duta. Hukum seremonial misalnya aturan-aturan memberikan persembahan di bait suci. Sedangkan hukum yudisial misalnya aturan-aturan dalam hidup bermasyarakat. 

Mari kita lihat bagaimana Yesus menggenapi hukum Taurat.
1. Yesus memprioritaskan KASIH lebih dari HUKUM
Jika kita membaca Perjanjian Baru, maka ada banyak sekali contoh Yesus mengutip hukum Taurat, tapi kemudian memberikan perintah baru. 

”Kalian pernah mendengar kata-kata, ’Mata ganti mata, dan gigi ganti gigi.’ Tapi aku berkata kepada kalian: Jangan melawan orang jahat. Sebaliknya, kalau ada yang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu.”
(Matius 5:38-39)

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
(Matius 5:43-44)

Apakah itu berarti hukum Taurat adalah sebuah kesalahan. Tentu saja tidak. Yesus hanya ingin menegaskan, bahwa kedatangannya sebagai Juru Selamat telah membawa manusia ke dalam era yang baru yaitu era KASIH KARUNIA. Paulus menjelaskan prinsip ini dalam Kitab Roma: Allah memberikan hukum Taurat supaya manusia mengenal dosa (Roma 3:20) dan mengerti bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:22). Namun, hukum Taurat tidak menyelamatkan, hanya kasih karunia Allah melalui iman kepada Kristus lah yang menyelamatkan manusia (Roma 3:24).

Yesus menggenapi hukum Taurat dengan memberikan hukum baru, yaitu hukum kasih karunia.

2. Yesus memprioritaskan HATI dibanding SEREMONI
Salah satu bagian yang menarik di Perjanjian Baru adalah ‘perseteruan’ antara Yesus dan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Menarik karena Yesus yang begitu lembut dan penuh kasih, bisa menjadi begitu tegas dan tajam saat ia bicara tentang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.
(Matius 23:25-28)

Ahli-ahli Taurat, seperti sudah dijelaskan oleh namanya, adalah pemuka agama yang sangat menguasai hukum Taurat dan bahkan menjadi pengajar. Ahli-ahli Taurat ini memiliki posisi yang sangat tinggi di masyarakat Yahudi, bahkan menjadi anggota Sanhedrin atau mahkamah agama.

Tapi kenapa Yesus jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan kepada mereka? Alasannya satu, karena mereka munafik. Di luar mereka tampak baik, namun hatinya buruk. Sayangnya, orang-orang Farisi dan Ahli-Ahli Taurat ini sudah merasa dirinya baik, karena mereka melakukan hukum Taurat dengan sempurna, sehingga merasa tidak perlu Kristus. Melakukan hukum Taurat tanpa perubahan hati bisa menjebak kita pada kesombongan rohani dan membuat kita mudah menghakimi.

3. YESUS memprioritaskan PENGERTIAN dibandingkan KETAATAN BUTA
Kadang ketika kita menerima sebuah peraturan, kita bisa menjadi begitu saklek dalam melakukannya. Itulah yang dilakukan oleh orang Farisi. Tapi Yesus berbeda, Ia melakukan hal-hal yang dianggap melanggar hukum Taurat karena ia mengerti hati Allah. Yesus menyembuhkan seorang wanita pada hari Sabat karena Ia mengerti menyelamatkan satu jiwa lebih penting dari segala sesuatu (Markus 13:14-16). Yesus juga pernah membiarkan murid-muridnya memetik gandum di ladang, karena ia mengerti Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.“ (Markus 2:27)

Ketaatan buta, tanpa pengertian akan hati Allah, akan membawa kita pada kehidupan rohani yang kosong. Tuhan memang ingin kita taat, tapi terlebih dari itu, Ia ingin kita mengenal-Nya. Sehingga pengenalan akan dia lah yang kemudian menjadi alasan ketaatan kita.

***

Jika kita perhatikan, hukum-hukum Taurat yang diperbaharui oleh Yesus adalah hukum yang bersifat seremoni dan yudisial. Namun, Yesus tidak mengubah hukum moral. Mengapa? Karena di dalam hukum moral itu, ada hukum yang terutama, yaitu "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:38-39).

Hukum Taurat bukanlah alat untuk menghakimi dosa orang lain. Yesus menghendaki, agar semakin mengenal dan melakukan hukum Taurat, manusia justru semakin disadarkan akan ketidakberdayaannya untuk menjaga hati yang penuh keinginan berdosa. Hukum Taurat memberi petunjuk arah kepada Kristus dan menyadarkan kebutuhan kita akan Juru Selamat. Dengan hukum Taurat, kita disadarkan bahwa sekalipun kita bisa memoles penampilan luar begitu rohani, tetapi hati kita tanpa Kristus tetaplah kotor. 

Kita butuh Yesus untuk tinggal di hati kita dan menebus dosa kita. Kita butuh Roh Kudus-Nya untuk menginsafkan kita akan dosa dan senantiasa mengingatkan kita untuk hidup benar. Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri untuk hidup benar. Hidup benar dimulai dari hati, yang lalu menghasilkan buah roh sebagai hasil persekutuan indah dengan Kristus. 

Kristus tidak membatalkan hukum Taurat, Ia menggenapinya.

Monday, January 13, 2020

Garam dan Terang Dunia


by Tabita Davinia Utomo
“Be the salt and light of the world!”
Mungkin kalimat di atas sering kita temukan sebagai quote yang beredar di media sosial—entah di status maupun isi dari posting-an. Sekilas tidak ada yang salah dengan ungkapan tersebut, bukan? Padahal kalau kita baca dengan lebih cermat, sebenarnya Yesus tidak sedang berkata, “Jadilah garam dan terang,” melainkan, “Kamu adalah garam dunia. Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:13a, 14a).

Sebelum membahas isi pengajaran kedua Yesus di bukit ini, kita perlu mengingat satu hal penting yang ditekankan penulis Injil Matius, yaitu tentang siapa yang menjadi pendengar khotbah Yesus. Mungkin sebagian besar orang akan menjawab, “Semua orang yang ada di situ.” Padahal sebenarnya, fokus khotbah Yesus saat itu adalah para murid—meskipun ada banyak orang datang mengikuti-Nya. Kalau kita membaca pasal sebelumnya, dikisahkan bahwa Yesus baru saja kembali dari padang gurun setelah dicobai Iblis (4:1-11) dan memulai pelayanan-Nya di Galilea (4:12-17). Matius 4:18-22 menceritakan momen ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama: Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Selanjutnya, Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, sehingga membuat masyarakat Galilea, Dekapolis, Yerusalem, Yudea, dan seberang Yordan berbondong-bondong mengikuti-Nya. Nah, setelah melihat mereka, Yesus naik ke bukit dan mengajar para murid-Nya (Matius 5:1-2).

Dari sini kita bisa menangkap pesan dari sang penulis Injil; yaitu sebagai orang yang telah diselamatkan dan dipanggil untuk menjadi murid Kristus, kita perlu menjadi “berbeda” dari dunia ini. Jadi “berbeda” di sini bukan berarti sok hipster (kalau kata Kak Glory–baca artikel sebelumnya, tapi kita menjadi percaya dan meneladan diri-Nya. Karena itulah, Yesus juga menjelaskan tentang identitas para murid-Nya sebagai garam dan terang dunia—dua hal yang sangat penting bagi masyarakat Yahudi saat itu.
1. Garam yang Mengasinkan
Secara teori, kita tahu kalau garam itu pasti asin. Bahkan sejak SD, kita sudah belajar cara pembuatan garam—yaitu melalui proses penguapan air laut. Proses inilah yang digunakan orang-orang zaman dulu untuk membuat garam—termasuk oleh orang Yahudi. Tanpa proses penguapan yang sempurna, akan ada bahan-bahan selain yodium yang tercampur sehingga menghasilkan garam yang tawar—bukan garam murni. Bayangkan kalau garam seperti inilah yang ada dalam masakan kita. Sebanyak apapun garamnya, rasanya pasti hambar dan membuat kita tidak berselera makan (bahkan makanan manis pun setidaknya membutuhkan sedikit garam untuk menyeimbangkan rasa manis).

Begitu pula dengan identitas para murid Yesus; mereka dipanggil untuk “mengasinkan” dunia. Saat itu, masyarakat Yahudi sedang berada di bawah penjajahan Romawi dan masih mengharapkan kedatangan Mesias—yang telah dinubuatkan sejak berabad-abad sebelumnya. Namun bagian khotbah Yesus ini menegaskan bahwa para murid-Nya—yang telah memperoleh identitas baru—harus menunjukkan perbedaan di antara orang-orang yang bukan murid-Nya, yaitu dalam segala aspek kehidupannya. Nantinya, setelah kenaikan Yesus dan turunnya Roh Kudus, para muridpun benar-benar menjadi garam melalui kehadiran mereka yang mengubahkan masyarakat, bahkan dunia, dengan keselarasan antara hidup dan Injil yang diberitakan. Jika tidak berfungsi sebagaimana mestinya (baca: sebagai garam yang mengasinkan), mungkin Injil tidak akan disebarluaskan sampai detik ini. Status para murid pun sama seperti orang lain yang belum mengenal-Nya—bahkan justru “dibuang dan diinjak orang” (Matius 5:13b) karena dinilai tidak ada gunanya.

2. Terang yang Menunjukkan Dirinya
Dalam salah satu komik yang saya baca, ada seorang tokoh yang berpikir, “Terang kan, nggak bisa dikalahkan kegelapan. Makanya Dia (Tuhan), nggak bisa ditutupi siapapun karena Dia itu terang.”

Di zaman itu belum ada lampu kayak sekarang ya, Pearlians, soalnya Edison belum lahir. Hehe… Karena itu, masyarakat Yahudi masih pakai pelita sebagai penerangan. Yesus pun menjelaskan, “Orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5:15). Kegunaan pelita ini sangat besar, baik saat malam hari maupun untuk mencari barang yang sulit dijangkau (seperti perumpamaan tentang dirham yang hilang di Lukas 15:8-10). Ya, tanpa cahaya, kita tidak akan bisa melihat apapun. Apalagi di zaman dulu, di mana untuk menyalakan pelita masih perlu minyak—sedangkan kita bisa langsung menekan saklar lampu untuk mendapatkan cahaya.

Yesus menggunakan analogi pelita ini untuk menunjukkan peran para murid-Nya sebagai pembawa Sang Terang, yaitu diri-Nya sendiri. Kalau kita baca Yohanes 1, penulis Injil itu menjelaskan bagaimana Allah, yang adalah Sang Terang, hadir ke dunia sebagai manusia dalam diri Yesus. Secara tersirat, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai terang itu sendiri, dan Dia memberikan tugas khusus pada para murid-Nya untuk memiliki citra-Nya tersebut. Yesus juga menyebutkan salah satu ciri cahaya, yaitu tidak dapat disembunyikan—bagaimanapun caranya. Di masa penjajahan oleh bangsa-yang-menyembah-banyak-dewa itu, para murid dipanggil untuk memberitakan kabar keselamatan yang hanya diberikan oleh Satu-Pribadi-yang-layak-disembah. Tentu ini sesuatu yang menantang, karena nyawa taruhannya. Namun di kemudian hari mereka, beserta orang-orang percaya lainnya, juga dimampukan untuk membuktikan identitas baru mereka (dengan pertolongan Roh Kudus) sebagai terang dunia… walaupun harus menghadapi penganiayaan.

Lalu bagaimana dengan kita? Secara teori (lagi-lagi), kita juga tahu kalau sebagai orang Kristen, kita adalah garam dan terang dunia. Tapi seberapa jauh kita menghayati makna di balik metafora tersebut? Well, ada beberapa hal yang bisa kita renungkan, Pearlians:

1. Ketika di rumah, apakah kehadiran kita membawa sukacita bagi keluarga kita… atau justru membuat keadaan tidak berubah—bahkan semakin parah? Bisa saja, tanpa disadari, kita memperparah keadaan karena kemalasan kita, karena kata-kata yang menghujam anggota keluarga, maupun karena pikiran kita yang negatif.

2. Ketika di sekolah/tempat kerja, apakah kita menjadi berkat melalui apapun yang kita lakukan? Misalnya melalui encouragement words yang diucapkan dengan tulus, hadiah sederhana yang jadi kenangan manis bagi sang penerima, maupun tindakan-tindakan yang menghangatkan hati mereka. Jangan-jangan, meskipun orang lain berkata baik tentang kita, sebenarnya mereka justru meragukan identitas kita sebagai orang percaya karena ketidaksinkronan pemahaman Alkitab terhadap seluruh aspek kehidupan kita.

3. Ketika melayani (baik di gereja, parachurch, dll.), apakah kehadiran kita menjadi batu sandungan bagi orang lain, dan bukannya garam dan terang? Apakah kita tulus dan jujur dalam melayani Tuhan? Apakah kita lemah lembut dan sabar, atau malah menyakiti orang lain dengan sikap dan perkataan kita?

Sebenarnya masih ada banyak hal praktis yang bisa kita renungkan dan lakukan; tapi yang jelas, jangan sampai Firman Tuhan hanya berhenti di otak kita saja. Kita memang harus memiliki pengetahuan Alkitab yang cukup, tapi juga harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, perlahan-lahan, kita akan semakin dibentuk untuk benar-benar menghidupi identitas kita sebagai “garam dan terang dunia”, seperti yang Yesus katakan.

Selamat berproses sepanjang dekade ketiga di abad ke-21 ini! :)

Monday, January 6, 2020

Ucapan Bahagia



by Glory Ekasari

Biasanya orang-orang akan mengadakan perayaan saat akan memasuki tahun yang baru. Kita berhenti sejenak dari pekerjaan masing-masing; pemerintah menyatakan tanggal 1 Januari sebagai hari libur nasional; berbagai tempat wisata ramai dengan banyak keluarga yang ingin menikmati liburan bersama. Mereka tersenyum dan tertawa—menunjukkan bahwa mereka merasa bahagia atas adanya satu hari libur itu.

Ya, manusia selalu mencari kebahagiaan.

Mengapa orang bekerja keras mencari uang? Supaya kaya dan bisa memiliki apapun yang dia mau, dan dia berbahagia.

Mengapa orang menikah? Supaya ada yang mendampinginya, dan dia berbahagia.

Mengapa orang mengejar prestasi? Supaya dia diakui orang lain, dan dia berbahagia.

Saat ini, banyak orang (mungkin termasuk kita) berusaha mencari kebahagiaan—bahkan dalam momen-momen sederhana yang, dulunya, sering kita abaikan. Makanya ada slogan “Bahagia itu sederhana” dan “Jangan lupa bahagia”. Ironisnya, di zaman kita ini—dimana semua serba ada dan dunia dalam keadaan relatif nyaman—manusia tetap saja tidak berbahagia. Ternyata bahagia tidak sesederhana itu.

Jika demikian, apakah “Ucapan Bahagia” yang ada di Alkitab tidak berlaku
di zaman serba instan ini?

Matius 5:3 adalah kalimat pengajaran (discourse) pertama Yesus dalam Injil Matius, dan Dia memulainya dengan kata, “Berbahagialah.” Dalam bahasa Ibrani, kata ini disebut “ashrei”, yang sering digunakan dalam doa-doa orang Yahudi dan diulang berkali-kali dalam kitab Mazmur. Dalam Perjanjian Lama—yang melatarbelakangi masyarakat pada zaman Yesus—istilah “kebahagiaan” bukan berupa momen-momen sederhana bersama orang-orang terkasih, bukan pula kesuksesan, kekayaan, atau pengakuan dari orang lain. Bagi mereka, kebahagiaan adalah pemberian Allah kepada orang-orang yang dianggap berkenan kepada-Nya.

Inilah yang dibicarakan Yesus dalam khotbah pertama-Nya di bukit saat itu. Dia menjawab kebutuhan manusia—yang mencari kebahagiaan seumur hidup mereka. Yang tidak kalah menariknya adalah bagaimana Dia berbicara kepada para pendengar-Nya. Saya ingin mengajak Pearlians memperhatikan hal-hal ini.

// OTORITAS YESUS
Sebelum memperhatikan kata-kata-Nya, kita perlu memperhatikan Siapa yang berkata-kata. Siapakah Yesus? Bagaimana pendengar-Nya saat itu akan merespon Dia? Orang Yahudi memegang teguh Tanakh (Perjanjian Lama) sebagai kitab suci mereka, dan Yesus memakai kata-kata yang sama dengan Mazmur—salah satu kitab yang paling familiar dalam Perjanjian Lama.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.
(Mazmur 1:1)

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
(Matius 5:3)

Dengan menggunakan kata-kata yang sama, Yesus menyetarakan kata-kata-Nya sendiri dengan yang Allah berikan dalam Perjanjian Lama. Kalimat Yesus bukan anjuran atau nasehat semata; Dia berbicara dengan otoritas yang sama dengan Firman Allah.

Tidak berhenti di situ, Dia juga membuat pernyataan yang tidak kalah berani dengan berkali-kali berkata, “Kamu telah mendengar firman: (isi Perjanjian Lama), tetapi Aku berkata kepadamu: (kata-kata-Nya sendiri).” Dengan demikian Dia “memaksa” para pendengar-Nya untuk tidak hanya memeriksa perbuatan mereka, tapi juga sampai kedalaman hati mereka—sesuai firman Tuhan: “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” (Amsal 16:2).

Yesus juga pertama kali memperkenalkan Allah sebagai “Bapa” dalam Matius 5:16, sekaligus mendobrak hubungan manusia dengan Allah yang selama ini diwarnai ketakutan dan keterasingan. Dia mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa (seperti yang dilakukan rabi-rabi lain bagi para murid mereka), tetapi membuka doa-Nya dengan kata “Bapa”. Akhirnya, seluruh rangkaian khotbah Yesus dalam Matius 5-7 ditutup dengan pernyataan Yesus bahwa orang yang percaya dan mendengarkan kata-kata-Nya adalah orang yang bijaksana yang mengambil keputusan yang benar dalam hidupnya.

Setelah mendengarkan semua yang Yesus katakan, tidak heran jika timbul kontroversi mengenai diri-Nya. Markus mencatat: “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Markus 1:22).

// PARADOKS KEBAHAGIAAN
Setelah melihat bagaimana Yesus menegaskan bahwa kata-kata-Nya setara dengan Firman Allah sendiri, mari kita lihat isi pengajaran-Nya. Ketika kita mendengar, “Berbahagialah orang yang …”, mungkin kita akan melanjutkan kalimat tersebut dengan, “Kaya!” atau “Sukses,” atau mungkin juga, “Menemukan cinta sejatinya.” Tetapi Yesus memulai khotbahnya tentang kebahagiaan dengan berkata,

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”
(Matius 5:3)

Kata “miskin” bukan hanya berarti kekurangan uang untuk bayar cicilan, ya. Yang dimaksud adalah orang yang benar-benar tidak punya apa-apa, keadaannya memprihatinkan, bahkan mengemis meminta belas kasihan orang lain. Tentu kita bertanya-tanya, “Mana mungkin orang seperti itu disebut berbahagia!?” Tetapi kuncinya ada pada frase “miskin di hadapan Allah”. Artinya, dia merendahkan diri di hadapan Allah, menyadari ketidakberdayaannya, dan memohon belas kasihan Allah. Dia tidak datang kepada Allah dengan kepala tegak untuk membanggakan kebaikannya, tetapi dengan kepala tertunduk dan pengakuan dosa. Dia merendahkan dirinya dengan tulus di hadapan Allah. Yesus berkata, hanya orang seperti inilah yang masuk dalam Kerajaan Sorga; bahkan empunya Kerajaan Sorga.

Paradoks masih berlanjut, dan Yesus (seolah-olah) membuat kita berpikir terhadap setiap pernyataan-Nya:
Bagi dunia, yang berbahagia adalah orang yang tertawa dan banyak entertainmentYesus berkata, yang berbahagia adalah yang berdukacita (yaitu, menyesali diri dan dosanya di hadapan Allah).
Bagi dunia, yang berbahagia adalah penguasa, yang bisa semena-mena terhadap orang yang di bawahnya. Yesus berkata, yang berbahagia adalah yang lemah lembut, yang memakai kuasanya untuk melayani, bukan menindas. 
Bagi dunia, yang berbahagia adalah yang benar sendiri dan tidak pernah salah.
Yesus berkata, yang berbahagia adalah yang haus dan lapar akan kebenaran; bukan kebenaran diri, tapi kebenaran Allah. 
Bagi dunia, yang berbahagia adalah yang memperkaya diri sendiri.
Yesus berkata, yang berbahagia adalah yang murah hati. 
Bagi dunia, yang berbahagia adalah yang hidup semaunya sendiri.
Yesus berkata, yang berbahagia adalah yang suci hatinya. 
Bagi dunia, yang berbahagia adalah yang membela diri.
Yesus berkata, yang berbahagia adalah yang membawa damai. 
Bagi dunia, yang berbahagia adalah yang cari aman dan menghindari masalah.
Yesus berkata, berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran. 
Tidak ada manusia yang berpikir bahwa dihina, dianiaya, dan difitnah adalah hal yang membahagiakan. Namun Yesus berkata, bila kita menanggung itu semua untuk Dia, maka kita berbahagia.
Yesus bukan sedang sok hipster atau anti-mainstream. Dia sedang menekankan bahwa konsep dunia tentang kebahagiaan itu keliru dan menyesatkan. Semua yang dianggap bisa memberi kebahagiaan, hanya akan menimbulkan kekosongan yang lebih besar. Selain itu, lewat khotbah Yesus, kita melihat bahwa kebahagiaan sejati tidak bisa lepas dari Allah, karena Allahlah sumber kebahagiaan. Di dunia di mana manusia berpusat pada diri mereka sendiri, Yesus mengingatkan bahwa manusia diciptakan segambar dengan Allah, dan hanya akan berbahagia bila kita berpaling kembali kepada-Nya.

// MENDAPAT BAHAGIA
Ada orang-orang yang menganggap Yesus adalah guru agama dan etika yang luar biasa, karena mengajarkan berbagai hal yang sangat indah dan baik. Padahal sebenarnya, pandangan seperti ini menyesatkan. Yesus bukan guru moral dan kata-kata-Nya bukan untuk dikagumi. Yesus adalah Tuhan, dan kata-kata-Nya adalah untuk ditaati. Rasul Yakobus menyamakan orang yang mendengar firman Tuhan tapi tidak melakukannya seperti orang yang berkaca di depan cermin dan melihat penampilannya yang berantakan, lalu pergi tanpa berbuat apa-apa (Yakobus 1:23-24). Bukan itu yang Tuhan Yesus mau. Dia mau kita mengalami kebahagiaan itu, dan satu-satunya cara untuk berbahagia adalah dengan percaya dan menaati-Nya.

Setelah mendengar firman Tuhan, kita harus mengambil keputusan: menerima-Nya dan kebahagiaan yang Ia janjikan, atau bersikeras melanjutkan pencarian kita akan kebahagiaan tanpa mendekat kepada Sumbernya, yaitu Allah sendiri.

~

Happy New Year!
and we wish you true-eternal happiness.

Monday, December 30, 2019

He Gave Us Stories


by Tabita Davinia

Sebagai mahasiswi konseling, saya (dan teman-teman) wajib menyelesaikan beberapa tugas book report. Salah satu buku yang dibaca adalah karya Richard L. Pratt, Jr. yang berjudul He Gave Us Stories. Meskipun isinya tentang cara menafsirkan Perjanjian Lama, namun saya menangkap sebuah kesimpulan manis yang ditekankan buku ini berulang kali:
The Bible shows how God made them wonderfully,
and it reflects that He is the center of the story.
The story is made by Him to glorify Him alone,
and so are you.
Selama tahun 2019 ini, kita sudah belajar banyak hal dari para wanita yang ada di Alkitab. Sebagian di antaranya mencerminkan karakter-karakter yang perlu diteladani, sebagian lainnya tidaklah demikian. Terlepas dari berbagai perbedaan latar belakang maupun sifat yang ada, Tuhan memakai mereka dalam karya keselamatan-Nya sampai hari ini. Buktinya ada di kita. Tanpa kehadiran para wanita ini, keselamatan akan memiliki alur cerita yang berbeda—bahkan tidak akan ada Alkitab. Iya lah. Gimana mau melahirkan para penulis tanpa keberadaan satupun perempuan di dunia ini (wong Yesus aja lahir dari Maria)? *okay ini receh, sih*

Setiap kita berasal dari keluarga dan memiliki pergumulan masing-masing, kan? Begitu pula dengan para wanita yang telah kita bahas sepanjang tahun ini. Tapi sekali lagi, ada satu kesamaan di antara mereka: Tuhan memakai mereka untuk menyatakan karya keselamatan-Nya bagi dunia, sekaligus menegakkan keadilan-Nya di antara umat-Nya.

Abigail menjadi role model bagi kita dalam bersikap bijak terhadap pasangan—semenyebalkan apapun dia. Dalam kondisi yang menyesakkan seperti itu, kita perlu terus belajar menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kekuatan yang sejati.

Priskila menginspirasi kita untuk menjadi wanita yang tangguh di dalam Tuhan. Tangguh di sini tidak hanya berbicara tentang kuat secara fisik, tapi juga secara mental dan rohani. Yes, being a tough woman in God alone is beautiful.

Wanita ini menunjukkan bahwa iman selalu berbuah manis. Meskipun apa yang kita doakan tidak kunjung datang (atau terjawab dengan cara yang tidak kita inginkan), don’t worry! Tuhan mendengar setiap doa kita, Ladies... Yang Tuhan inginkan adalah kita dapat terus bertumbuh di dalam pengharapan kepada-Nya, dan setia dibentuk untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya.

Dari Maria, kita belajar untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Mungkin persembahan itu berupa suara kita, handcrafting kita, kemampuan untuk mengajar, atau bahkan menjadi homemaker. Tapi kita juga perlu mengingat: Kita tidak bisa menyenangkan hati semua orang. Mereka bisa saja menilai pemberian kita dengan negatif, sehingga membuat niat kita jadi ciut. Namun kita patut bersyukur, karena Tuhan memandang hati kita yang mau menyerahkan seluruh hidup ini kepada-Nya sebagai persembahan yang sejati.

Janda miskin ini melakukan hal yang sama dengan saudari Lazarus itu: menyerahkan hidupnya secara total kepada Tuhan. Mungkin kita juga sedang bergumul dengan keperluan maupun perencanaan di masa depan. “Nanti mau makan apa, ya? Uangku udah mulai menipis...” Tapi satu hal yang perlu kita pegang teguh: “Tuhan yang menciptakan kita adalah Pribadi yang juga memelihara kehidupan kita, because He is our Jehovah Jireh.” Iya, Tuhan tahu pergumulan kita secara spesifik, tapi Dia ingin mendidik kita untuk beriman kepada-Nya melampaui apapun. Seperti kata Fanny J. Crosby dalam lagu He Leadeth My Soul, “He giveth me strength as my day.”

Nama Damaris hanya disebut satu kali saja di dalam Alkitab, namun kehadirannya di Areopagus saat itu bukanlah tanpa alasan. Mungkin kita berpikir bahwa status sebagai orang Kristen jugalah kebetulan, “Yah gw soalnya emang lahir dari keluarga Kristen, sih! Jadi ya udah, ikutan jadi Kristen aja. Toh pengajarannya juga bagus-bagus…” But we need to think it again: keselamatan BUKAN karena kita beragama Kristen, tapi karena Tuhanlah yang memilih kita sejak semula untuk diselamatkan—sebuah anugerah yang tidak bisa ditolak (irresistable grace). Damaris termasuk di antaranya, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyambut anugerah itu sebagaimana mestinya?

Mungkin kita sedang bergumul mengenai masa depan anak-anak kita seperti Eunike. Kita khawatir apakah iman mereka akan tetap bertahan di tengah-tengah badai kehidupan ini. That’s why we need to follow what she’d done to Timothy, her son. Kita tidak bisa menabur benih Firman Tuhan dengan kekuatan sendiri; kita butuh Tuhan, Sumber Hikmat itu. Tidak berhenti di situ, kita juga perlu mendidik dan membimbing anak-anak kita untuk peka terhadap kehendak Tuhan bagi mereka. Tapi bagaimana mereka bisa paham kalau kita tidak pernah berelasi dengan-nya secara pribadi? Saya teringat dengan salah satu pernyataan Ci Sarah Eliana,
“Orang tua cuma bisa menabur benih Firman Tuhan, tapi perkara sang anak mau terima Tuhan atau nggak yaaa kembali lagi pada kasih karunia Tuhan dan keputusan anak itu. Bukan berarti orang tua lalu bisa lenggang-lenggong nggak menabur benih Firman Tuhan, ya! Ngajarin tentang Tuhan Yesus pada anak adalah tanggung jawab dan kepercayaan dari Tuhan, juga bukti kasih orang tua bagi Tuhan.”[1]
Sama seperti Eunike, Yokhebed mungkin tidak pernah membayangkan bahwa anak laki-lakinya akan menjadi seorang pemimpin bagi banyak orang. Selagi sang anak masih kecil, Yokhebed mengasuh serta mendidiknya untuk mengenal identitasnya sebagai orang Israel—umat pilihan Allah. Kelak Musa, anak itu, menjadi pemimpin bangsanya untuk keluar dari tanah perbudakan menuju tanah perjanjian—tanah yang dijanjikan Tuhan pada Abraham, nenek moyangnya, lebih dari 600 tahun sebelumnya. Yaps, kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita nanti; namun satu hal yang harus kita lakukan—selama masih ada kesempatan—adalah terus menjadi teladan iman bagi mereka. Believe it or not, mereka bisa melihat dan meneladani ketaatan kita kepada Tuhan ketika pikiran, perkataan, dan perbuatan kita memancarkan citra-Nya.

But don’t forget. If there’s a “flawless” side, there’s also a “dark side” too.

Ada saat di mana kita juga bergumul dengan dosa maupun kesulitan yang kita hadapi. Para wanita ini pun mengalami hal yang sama! Namun kita perlu mengingat untuk selalu belajar dari setiap pesan di balik kehadiran mereka di dalam Alkitab.

Melalui istri Ayub, kita belajar bahwa it’s okay to not be okay—terutama saat ada pergumulan dalam pernikahan kita. Namun kita perlu mengingat, “God counts every heart that chooses to serve, to suffer together, and to sacrifice.” Janji yang kita ucapkan saat menikah itu bukan hanya untuk “ritual” semata, tapi harus kita hayati dan lakukan sampai kematian memisahkan kita dari pasangan. It’s not easy, so that’s why God will help us to commit the vow faithfully ‘till death do us part from our husband. Pertanyaannya: kita mau menaati kehendak-Nya atau tidak?

Kita juga belajar dari Hawa tentang konsekuensi yang selalu ada untuk setiap keputusan (bahkan yang berujung pada kesalahan) yang kita buat. Namun Tuhan selalu menunggu kita untuk bertobat dan menguatkan kita dalam menjalani konsekuensi itu. Wajar sih, kalau kita ingin memperbaiki peristiwa itu… but the past is in the past. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain mengakui kesalahan kita di hadapan Tuhan (dan orang yang kita lukai), dan berjanji akan berubah dengan sungguh-sungguh.

Mungkin kita juga sama seperti Batsyeba yang pernah melakukan kesalahan saat melepas hak untuk suami kita bagi laki-laki lain, bahkan menyebabkan hamil di luar nikah. Mungkin masih ada memori yang berkelebat saat kita mengingatnya, dan membuat kita menyesal sampai ragu-ragu apakah Tuhan masih berkenan mengasihi kita atau tidak. Tapi melalui kisah wanita ini, kita diteguhkan bahwa Tuhan rindu kita kembali kepada-Nya, mengakui dosa kita, serta berkomitmen untuk menghidupi kehidupan yang baru bersama-Nya.

Melalui Miryam, kita diingatkan untuk terus waspada agar tidak lengah terhadap godaan dosa. Saat kita merasa iman kita baik-baik saja, Iblis justru bisa menggoncangkan iman kita dengan mudah. Mungkin ada benih-benih pemberontakan yang tersemai dan bertumbuh subur tanpa kita sadari, sehingga saat kita merasa Tuhan tidak adil, kita jadi menyalahkan-Nya. Tapi sama seperti yang dialami Hawa, Batsyeba, dan Miryam, Tuhan tetap mengampuni dan mengasihi kita—meskipun selalu ada konsekuensi yang harus kita tanggung. With great power, comes great responsibility, Ladies!

Last but not least, jangan sampai kita jadi seperti Izebel yang justru jadi batu sandungan bagi suaminya. Kita perlu mengingat pepatah, “Di balik pria yang kuat, ada wanita yang kuat.” Kita juga perlu terus mengevaluasi diri, “Apakah aku sudah menjadi orang yang terus mendorong orang lain (khususnya pasangan dan keluarga) untuk bertumbuh di dalam Tuhan? Atau aku malah membuat mereka semakin menjauh dari-Nya?”

Anyway, kalau Pearlians perhatikan, setiap link tentang para wanita di atas adalah perwakilan dari karya para penulis Pearl selama tahun ini! Yayyy… Sama seperti para wanita di Alkitab, kami juga memiliki pergumulan masing-masing… Tapi kami rindu agar dari hari ke hari, Tuhan terus membentuk kami untuk semakin mengenal dan mencintai-Nya melalui proses yang Dia berikan dalam hidup kami. For God is too wise to be mistaken, and He is too good to be unkind. He knows better than us, because He is the center of the story, right?

***

Personally, I really thank God for giving me a chance to end this article (for this year) with something different from other articles hehe. Thank you so much buat Ci Lia, Ci Femmy, Kak Poppy, Ci Sarah, Kak Dhieta, Kak Glory, Ci Yunie, Ci Irene, Ci Benita, Kak Mega, Ci Eunike, dan Ci Grace! :) Thank you juga buat para pejuang medsos (poke Ci Eden, Ci Melissa, dan Ci Michelle) yang (dengan sabar haha) menunggu update artikel dari para penulis And thanks to all of Pearlians too! Mewakili Pearl, saya bersyukur untuk setiap support dan doa dari Pearlians… Kiranya pelayanan Pearl di tahun-tahun berikutnya boleh semakin efektif menjangkau para wanita (even pria juga boleh, deh. Lol) dan menjadi alat kemuliaan bagi Tuhan. Soli Deo Gloria! Y

— Kemang Utara, 26 November 2019 || 01.08




[1] Dikutip dari notes Facebook-nya Ci Sarah Eliana yang berjudul “Para Malaikat pun Berpesta..” (12 Desember 2013)

Monday, December 23, 2019

Nyanyian Pujian Maria


by Glory Ekasari

“Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.
Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku—
kuduslah Nama-Nya!—dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya
dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya
dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita,
kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”
(Lukas 1:46-55)

Setiap kali saya membaca nyanyian pujian Maria yang terkenal dengan nama The Magnificat ini, saya selalu terkesan. Seorang gadis muda yang umurnya belum lagi dua puluh tahun, yang tidak berpendidikan tinggi (pada masa itu pendidikan tinggi hanya bagi kaum pria), bisa menyanyikan sebuah nyanyian yang tidak kalah bobotnya dengan Mazmur. Lagipula dari nyanyian ini saya bisa melihat betapa Maria mengenal Allah secara pribadi. Dalam nyanyiannya kita bisa melihat cerminan dari kitab para nabi, janji Allah bagi Abraham, dan pengungkapan rencana keselamatan bagi manusia.

Saya percaya bahwa Tuhan memilih orang bukan karena orang itu lebih baik dari orang lain, tetapi karena anugerah-Nya. Ada orang yang dipilih sebelum dia lahir, seperti Simson dan Yeremia. Ada yang dipilih sekalipun latar belakangnya kurang baik, seperti Yefta dan Paulus. Juga ada orang yang pernah berbuat kesalahan besar terhadap Tuhan, namun diampuni dan dipakai-Nya, seperti Petrus. Namun saya juga percaya bahwa “mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia” (Mazmur 33:18), dan Dia menyiapkan kesempatan bagi mereka yang mengasihi-Nya untuk melayani Dia. Orang-orang yang takut akan Tuhan mungkin terlewat dari mata manusia, namun tidak terlewat dari mata Tuhan. Maria dengan yakin berkata:

“Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.”

Perhatikan bahwa Maria menyebut dirinya sebagai “hamba”. Ia memandang Tuhan begitu besar dan mulia, dan dirinya hanya sebagai pelayan. Namun Allah yang mulia itu melihat kepada hamba-Nya yang mengasihi Dia. Dan bagi seorang hamba yang mengasihi tuannya, kehormatan terbesar adalah bila ia bisa melayani tuannya itu dengan segenap hati. Namun Maria tidak hanya memandang dirinya sendiri, ia berbicara juga atas nama seluruh bangsanya, yang sedang menantikan seorang Mesias yang dijanjikan Allah.

Allah berjanji kepada bangsa Israel bahwa Ia akan memberi mereka seorang Raja dari keturunan Daud, yang akan berkuasa selama-lamanya (1 Tawarikh 17:11-14). Lama sekali bangsa Israel menunggu penggenapan janji ini; bahkan sebelum Yesus lahir, selama empat ratus tahun bangsa itu tidak memiliki nabi yang membawa firman Allah bagi mereka. Wajar sekali bila Israel berpikir bahwa mereka ditinggalkan oleh Allah.

Seribu tahun telah berlalu setelah janji Allah kepada Daud, ketika suatu hari malaikat Gabriel datang kepada Maria. Ia memberitahu Maria bahwa Maria akan mengandung Anak yang akan menjadi Sang Mesias, penggenapan janji Allah bagi Israel. Di Israel ada segelintir orang yang menanti-nantikan datangnya Mesias, yang bertekun dalam ibadah dan pengharapan mereka, dan Maria adalah salah satu diantaranya. Perhatikan bahwa empat ratus tahun telah berlalu tanpa penglihatan dan tanpa firman Tuhan, dan tiba-tiba Maria bertemu dengan malaikat Gabriel. Namun ia percaya akan berita yang dibawa malaikat Gabriel, dan ia setuju untuk menjadi perpanjangan tangan Allah untuk menjalankan rencana-Nya. Dengan kedewasaan yang luar biasa, Maria menjawab, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38).

Maria mengerti bahwa bukan perbuatan baik bangsa Israel yang menggugah Tuhan untuk mengingat perjanjian-Nya, tetapi kesetiaan Allah kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, nenek moyang Israel.

“Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”

Ketika Israel ada dalam kesusahan selama ratusan tahun, Allah tidak melupakan mereka. Ketika orang-orang benar di Israel berseru kepada Allah memohon pertolongan-Nya, Allah tidak mengabaikan mereka. Ketika para raja menindas umat Allah, Allah tidak melupakan umat-Nya. Allah bertindak untuk menyelamatkan umat-Nya, namun cara-Nya dan waktu-Nya adalah kedaulatan Allah sendiri. Dan cara Allah itu melibatkan bukan raja-raja atau penguasa, namun justru seorang gadis muda dari desa kecil—satu hal yang tidak terbayangkan oleh orang Israel. Maka Maria berseru:

“Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku—kuduslah Nama-Nya!”

Bagian ini sangat personal bagi Maria. Hatinya senantiasa siap untuk melayani Allah, dan Allah memilih dia di antara semua perempuan lain di Israel untuk melahirkan Sang Mesias. Sungguh Tuhan memilih cara-cara yang kelihatannya biasa, bahkan hina, bagi manusia untuk menggenapi rencana-Nya! Maria mengenal Allah ini, yang tidak memandang wajah, namun memandang hati. Dan tepat seperti perkataan Maria: tidak ada wanita lain sepanjang sejarah yang mendapat kehormatan begitu besar untuk membawa Sang Juruselamat datang ke dalam dunia. Sungguh, kebahagiaan sejati adalah apabila kita diberi kehormatan untuk melayani Tuhan dengan cara yang Ia inginkan.

Maria menyebut Allah “Juruselamatku”. Menarik sekali bahwa nama yang dipilih Allah untuk Anak-Nya yang tunggal adalah Yesus, yang berarti “Allah menyelamatkan”. Keselamatan hanya datang dari Tuhan, bukan dari manusia. Karena itu, Dia yang datang ke dunia juga bukan manusia biasa, melainkan Allah sendiri, sesuai firman-Nya:

Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya.
(Yesaya 63:9)

Bagaimana seorang gadis muda bisa memiliki wawasan teologis yang begitu luas? Roh Kudus telah turun ke atasnya (Lukas 1:35) dan Ia membuka pikiran Maria, sehingga firman yang selama ini Maria simpan dalam hatinya menjadi hidup. Ketika hati yang siap melayani bertemu dengan kuasa Roh Kudus, yang terjadi adalah persembahan hidup yang manis dan memuliakan Allah.

Menjelang Natal tahun ini, mari kita merenungkan apa yang dialami Maria. Maria mendapat kehormatan yang luar biasa untuk menjadi ibu Tuhan, namun segala kemuliaan tetap hanya bagi Allah, yang memilih hamba-Nya dan melakukan perbuatan yang besar lewat hidup seorang gadis biasa. Kita semua adalah orang-orang biasa, namun lewat kita Tuhan bisa melakukan pekerjaan yang luar biasa, apabila kita menyediakan diri kita untuk melayani Dia. Karena Allah yang disembah Maria adalah Allah yang sama yang kita sembah, dan Dia masih terus bekerja sampai sekarang.

Monday, December 16, 2019

Dorkas: Meneladan Sang “Rusa Kecil”


by Poppy Noviana

Dalam sebuah kesempatan melayani keluarga yang sedang berduka, saya bertemu dengan seorang pria dewasa yang sedang kehilangan ayah dari hidupnya. Maut telah memisahkan mereka dan yang tersisa hanyalah kenangan. Malam itu saya mendengarkan kesaksiannya, yang (ternyata) adalah seorang manajer marketing—dimana beberapa anak buahnya juga datang melayat. Beliau berkata bahwa dirinya yang ada saat ini adalah dampak dari ajaran ayahnya yang selalu mendidiknya untuk hidup disiplin. Hal yang paling membekas dalam memorinya adalah saat sang ayah mengembalikan sepatu yang selalu dilemparkannya—saat tiba di rumah—ke rak sepatu seperti semula. Bentuk kedisiplinan inilah yang menjadi warisan terindah sang ayah, karena benihnya telah berbuah dalam kehidupan pria ini di kantornya—sehingga beliau bisa menjadi seorang manajer di sana.

Mungkin Pearlians pernah mendengar peribahasa, “Gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnnya, manusia mati meninggalkan namanya.” Ya, kematian seseorang selalu membawa dampak bagi yang ditinggalkan. Dampak tersebut bisa berupa jasa-jasa maupun perbuatan baik yang akan dikenang, atau justru perasaan kesal dan kesedihan yang belum terselesaikan atas perbuatan buruk yang dilakukan orang tersebut. Tapi bagaimana jika kematiannya menimbulkan ketidakberdayaan orang yang ditinggalkan?

Well… kira-kira itulah yang dirasakan oleh beberapa wanita yang berduka atas kematian seseorang yang baru saja meninggal. Kisahnya dicatat di Alkitab (Kisah Para Rasul 9:36-43), menandakan bahwa ada peran besar dari orang ini bagi lingkungannya—khususnya di sebuah kota yang bernama Yope—waktu itu.

Namanya Dorkas (alias Tabita). Dalam bahasa Yunani, Dorkas berarti “rusa kecil”. Dia disebut sebagai murid perempuan, seorang wanita yang “selalu berbuat baik” dan pemberi/donatur kepada janda-janda di Yope. Yang menarik adalah, Alkitab menuliskan tiga karakter Dorkas justru setelah kematiannya, dan hal itu menunjukkan bagaimana ia dikenang semasa hidupnya oleh orang-orang yang ditolongnya. Mari kita simak bersama karakter-karakter yang dimaksud:

1. MENJADI MURID
Menjadi seorang murid memerlukan kerendahan hati untuk dikoreksi dan dibentuk—yang bertujuan demi kebaikannya. Artinya, murid yang baik adalah seseorang yang menerima didikan, memperbaharui pemikirannya seturut kebenaran yang diberikan, dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai murid, tentu ada hal-hal yang membuat kita harus melepaskan ego dan menaati Tuhan. Ini bukan perkara mudah—apalagi kalau kita masih ingin hidup sesuka hati sendiri! Oleh karena itu, coba kita pikirkan baik-baik; apakah selama ini kita sudah menjadi seorang murid Kristus yang rela “terbentur dan terbentuk”, atau kita cenderung mementingkan keinginan diri sendiri di atas kehendak Tuhan?

Begitu pula dengan Dorkas. Tidak diceritakan apakah dia pernah merasa lelah untuk membantu para janda di Yope. Mungkin dia merasa mereka hanya menghambat finansialnya (ingat, Dorkas juga memberi sedekah (ayat 36)). Namun satu hal yang pasti, kematiannya membuat para murid di Yope (termasuk para janda di sana) merasa sangat kehilangan. Oleh karenanya, mereka memanggil Petrus untuk membangkitkan Dorkas—sehingga Tuhan menggunakan momen itu untuk menyatakan kemuliaan-Nya di Yope dan banyak orang di sana menjadi percaya kepada Tuhan. Ya, buah dari seorang murid memang belum tentu menghasilkan sesuatu semasa hidupnya; tapi mari kita terus berjuang menjadi murid yang menunjukkan citra Kristus—termasuk dalam hal mengasihi. Karena “semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35).

2. MENJADI SALURAN BERKAT
“Now in Joppa there was a disciple named Tabitha, (which translated into Greek means Dorcas). She was rich in acts of kindness and charity which she continually did.”
(Acts 9:36)

Tentu ini adalah salah satu hal yang paling diinginkan semua orang. Ironisnya, tidak jarang kebaikan kita justru disalahpahami oleh orang lain. Ada yang menilai kita hanya ingin panjat sosial (pansos), menduga bahwa kita ingin memamerkan apa yang kita miliki, atau kita sendiri merasa terpaksa melakukannya demi “status Kekristenan” kita.

Tapi bagaimana dengan Dorkas?

Meskipun tidak diceritakan secara gamblang, namun kita bisa melihat bagaimana Dorkas terus menabur kebaikan dan berbagi hidup kepada para janda yang berkekurangan—termasuk membutuhkan kasih sayang sejak ditinggal oleh para suami mereka. Melalui harta yang dimilikinya, Dorkas menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk memberkati orang lain (misalnya melalui pakaian yang dijahitnya bagi para janda). Kedukaan mereka atas kematian Dorkas menunjukkan bagaimana dia memperhatikan kebutuhan mereka dengan penuh kasih, bukan untuk panjat sosial.

3. MENJADI ORANG YANG SUKA MEMBERI
Melanjutkan poin kedua, menjadi saluran berkat tentu memerlukan kerelaan hati untuk memberi apapun yang bisa kita berikan pada orang lain. Dalam hal ini saya belajar dari Dorkas yang berempati kepada para janda yang menginginkan kehidupan yang lebih baik. Salah satu bukti nyatanya adalah melalui pakaian yang dijahitkan Dorkas. Kalau Pearlians pernah melihat Spongebob Squarepants, ada salah satu episode dimana Spongebob menginginkan sweater dengan cinta dari sang nenek di setiap rajutannya. Mungkin itu pula yang dilakukan Dorkas: dia menjahit dengan sepenuh hati bagi para janda itu.

Proses menjahit itu tidak mudah. Biaya materialnya juga tidak murah. Belum lagi ketelitian dan kesabaran selama prosesnya. Plus, pakaian-pakaian itu ditujukan bagi para janda (bukan satu janda saja!). Well, ketika kita memberi, pemberian itu membawa pesan: extending the grace of God to others brings Him glory.

Seperti Dorkas yang memberikan hidupnya untuk melayani para janda di Yope, mari kita juga mulai belajar memberi dengan penuh kerelaan bagi orang lain yang membutuhkan. Pemberian itu tidak selalu harus berupa sumbangan dana dalam jumlah besar, tapi kita bisa memberi melalui apa yang kita miliki (baca: tanpa berutang demi pujian mereka). Lagipula, tujuan pemberian kita seharusnya bertujuan untuk memuliakan Tuhan. Yaps, bukan hal yang mudah untuk meneladan Dorkas di dalam dunia yang menggaungkan kehidupan serba instan, busy, fast, dan selfish ini. Namun apakah Tuhan menghendaki kita mengikuti ajaran duniawi tersebut? Jika ya, lalu apa gunanya Dia mengurbankan diri-Nya untuk menebus dosa-dosa kita?

Tuhan tahu bahwa kita tidak sanggup berjuang sendirian dalam menjalani peran kita sebagai saluran berkat. Karena itu, dia berkata:

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”
(Yohanes 15:3)

Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk terus memiliki kerinduan hidup di dalam Pokok Anggur yang benar, sehingga kita dapat menjadi “rusa kecil” yang menarik perhatian orang lain untuk memandang kepada Sang Pencipta yang mengasihinya.

“True humility and fear of the Lord lead to riches, honor, and long life.”
(Proverbs 22:4 NLT)