Friday, August 18, 2017

Hepatitis Rohani: Jemu Berbuat Baik


by Yunie Sutanto

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai , jika kita tidak menjadi lemah. -- Galatia 6:9

Pernah merasa jemu berbuat baik? Ingin cuti rasanya, dari jadi-orang-baik. Jangan kita terus yang jadi orang baik lah! Seolah-olah kita ingin mengucapkan dialognya Cinta di sekuel film Ada Apa dengan Cinta: “Yang kamu lakukan pada saya itu… jahat.” Kita mulai membalas kejahatan dengan kejahatan juga. Kita mulai bosan menjadi orang baik yang bodoh karena mengalah terus dan mulai memilih menjadi orang jahat yang adil dan pintar. Kita mulai “malas” berbuat baik. Kalau artikel ini diberi judul, rasanya lebih cocok menggunakan ini: Ada Apa dengan Hatiku? Ya, ada apa dengan hati seorang pengikut Kristus yang jemu berbuat baik?

Jika gejala “jemu” berbuat baik mulai muncul di hati kita, mari kita mendiagnosis hati masing-masing dan lakukan check up dengan Dokter Yesus, Sang spesialis hati. Ia sanggup menganalisis dengan tajam sumber kejemuan hati kita! Saat kita mulai bosan, mulai tak bergairah melakukan kebaikan bagi Dia, mungkin kita sedang terjangkit hepatitis rohani. Kalau penyakit hepatitis adalah kerusakan fungsi organ hati yang membuat tubuh kehilangan fungsi menetralisir racun, hal yang sama terjadi pada hepatitis rohani. Kita jadi tidak dapat lagi menangkal racun dari lingkungan sekitar, kita tidak kebal terhadap kotoran. Akibatnya, hati kita mulai jadi rusak. Hati mulai cemar dan menganggap kejahatan yang terlintas di pikiran kita dengan biasa saja. Lama-lama kita jadi mengalami apatis rohani. Kita cuek dan tidak lagi punya gairah apapun untuk berbuat baik bagi Kristus.

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
-- Amsal 4:23

Dari ayat di atas, kita dapat mulai merenungkan masalah apa yang sedang menghampiri hati kita:

Kurang waspada menjaga hatikah? Tertusuk panah api si iblis kah?

Kalau menilik lagi, pasti posisi hati kita sedang lemah. Seperti baterai HP yang sudah low battery dan sebentar lagi off; demikian pula kita perlu me-recharge baterai hati kira dengan Sang Sumber energi, seperti ranting yang mati jika tidak melekat ke Pokok Anggur.

Kita perlu terus mengingat kebaikan Kristus bagi kita. Sering-seringlah berlutut di kaki salib-Nya, agar kita tidak terserang penyakit “lupa” kebaikan Tuhan! Mungkin kualitas dan kuantitas waktu teduh kita perlu diperbaiki? Hm, bisa jadi, sih…

Sebagai pengikut Yesus, berbuat baik itu adalah gaya hidup. Sang Sumber Kebaikan telah hadir di hati kita, dan dari Kristuslah sumber kekuatan kita untuk terus berbuat baik! Saat kita mulai tidak melekat ke Sang Sumber, tidak heran kalau rasa jemu menguasai batin kita! Sebab sumber kekuatan kita berbuat baik hanyalah Kristus sendiri, bukan dari diri kita sendiri. Coba kalau memakai kekuatan manusiawi kita? Nggak akan sanggup bertahan lama, deh. Makanya jadi jemu.. -.-“

Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. --   Korintus 9:8

So, lagi jemu berbuat baik? Lagi galau tinggi dan rasanya ingin menunda berbuat baik? Lagi kurang hikmat untuk memulai berbuat baik lagi? Mintalah pada Tuhan yang empunya hikmat! Kasih karunia-Nya cukup buat kita untuk keep doing the good fight until the end.

Aplikasi praktisnya bagaimana, ya?

Kembali lagi lakukan apa yang dahulu kita lakukan saat kasih mula-mula. Nasehat kepada jemaat Efesus cocok untuk kita yang terjangkit hepatitis rohani: 

Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. -- Wahyu 2:4-5
  • Miliki waktu yang diprioritaskan untuk bersekutu secara intin bersama-Nya. Mulai bangun kebiasaan bersaat teduh karena kehausan dan kerinduan, bukan karena keharusan dan taurat. Mulai kembali mencurahkan isi hati apa adanya pada Yesus, mengakui dosa-dosa dan lakukan pertobatan yang sungguh-sungguh. Dan teruslah melekat pada Pokok Anggur :) Karena saat relasi kita dengan Tuhan Yesus kuat dan kokoh, kita memiliki dasar yang teguh untuk mulai berbuat kebaikan kepada sesama. 
  • Banyak memberi sedekah, menyumbang ke panti asuhan, mengunjungi panti jompo, menjadi relawan bencana, dan sebagainya mungkin aplikasi nyata dari berbagai kebajikan yang bisa kita lakukan kepada masyarakat kita. Jangan jemu mengambil kesempatan untuk memberikan kebaikan jika memungkinkan. 
Lebih praktis lagi, bagaimana brebuat baik kepada orang terdekat kita?

Konon katanya berbuat baik pada orang yang jarang dijumpai, yang tidak kita kenal dekat, jauh lebih mudah. Tetapi jika urusan berbuat baiknya pada orang yang kita kenal betul sifatnya, sudah hafal deh prilaku baik buruknya, kadang membuat agak bergumul untuk berbuat baik. Kerabat yang suka berhutang misalnya, atau teman yang sering minjam buku tapi selalu lupa mengembalikan. Hati jadi mikir-mikir ulang gitu loh, untuk berbuat baik; tapi bagian kita sebisanya jangan menunda kebaikan yang sebetulnya sanggup kita lakukan (lihat Amsal 3:27).

Hati yang gembira adalah obat bagi setiap gejala penyakit hati! Apapun yang terjadi, biarlah sukacita kelahiran baru senantiasa mewarnai hari-hari kita, dan seperti seorang istri kita bisa berbuat baik kepada suaminya sepanjang umur hidupnya dan tidak berbuat jahat kepadanya. (Amsal 31:12). Amin :)

Wednesday, August 16, 2017

Book Review: Sexy Girls - Hayley DiMarco



by Yunie Sutanto

Judul: Sexy Girls (Cewek-cewek Seksi): Seseksi Apa Yang Terlalu Seksi?
Penulis: Hayley DiMarco
Penerbit: Pionir Jaya

“Andai buku semacam ini sudah terbit jaman saya masih remaja.” Pikiran ini terlintas pas selesai baca buku ini. Saya baca buku ini dalam tempo 2,5 jam saja, ga berasa tuh, tau-tau udah selesai. From cover to cover seru bacanya, padahal sambil nungguin anak-anak bobo siang. Gaya menulisnya membawa pembaca dengan santai, ga terlalu serius, dan yang penting isinya donk!

Semua gadis senang bersolek. Para gadis tomboy sekalipun punya gaya modisnya sendiri. Namun bagaimana tips dan trik agar tetap tampil trendy namun sopan? Bagaimana agar tidak jadi korban mode? Bagaimana menemukan gaya khas kita yang unik dan keren?

Bagaimana membangun citra tentang diri kita lewat gaya busana kita?

Pesan apa yang kita sampaikan dari gaya pakaian kita?

Ternyata banyak hal yang para gadis muda perlu belajar dan ketahui! Hayley menulis berdasarkan kisah masa remajanya, bagaimana ia pun sempat menjadi korban mode dan ikut tren yang sebetulnya tak cocok dengan citra dirinya di dalam Kristus!

Are you sure you want to dress up like that?

Are you sure this dress fits you?

Yakin gaya busana yang kita kenakan selama ini memuliakan-Nya? Yakin bahwa kita tidak menyebarkan pesan yang salah lewat pilihan baju kita?

Wanita dinilai pertama kali tentu dari penampilan dan busananya. Walaupun itu bukan segala-galanya, namun bagaimana kita menampilkan diri adalah pesan yang orang lain lihat tentang kita. Kita tentu tidak akan menghadiri wawancara kerja dengan kaos oblong dan sandal jepit, bukan? Atau menghadiri acara pesta pernikahan dengan mengenakan baju senam? Salah kostum ekstrim seperti ini mungkin kita tak akan melakukannya, namun bagaimana dengan baju yang terlihat oke karena semua gadis juga memakainya? Batasan apa yang perlu kita ambil untuk tahu busana ini pas untuk saya miliki atau tidak? Mengundang nafsu seksualkah gaya busana saya?

Tren fashion yang kekinian pun dibahas Hayley. Soal tindik dan tato yang umum dilakukan di bagian tubuh yang sensual, pantaskan jika saya juga ikut-ikutan melakukannya? Ada yang memakai kosmetik berlebihan, ada yang natural, dan ada yang sama sekali anti memakai produk kosmetik; yang mana yang benar? Yang butuh makeover pun akan sangat terbantu dengan aneka tes dalam buku ini! Membaca buku ini dalam komsel wanita pun sangat dianjurkan agar bisa saling memberi masukan.

Begitu banyak nilai-nilai alkitabiah tentang busana yang dibahas oleh Hayley dengan logis dan juga praktis. Buat para wanita-wanita Allah, yuk muliakan Tuhan lewat gaya berpakaian kita.

Your clothes show who you are. Be a blessing through the way you dress.

A must read for us, women who strive to glorify Him in the way we look!

Monday, August 14, 2017

Kindness Changes Everything


by Leticia Seviraneta

“And become useful and helpful and kind to one another, tenderhearted (compassionate, understanding, loving-hearted), forgiving one another [readily and freely], as God in Christ forgave you.” –Ephesians 4:32 [AMP]

Suatu ketika Yesus memasuki kota Yerikho dan hendak melintasi kota itu. Di kota inilah ada Zakheus, kepala para penagih pajak yang kaya. Zakheus ingin melihat Yesus, namun karena ia pendek ia tidak dapat melihat-Nya di tengah keramaian. Jadi ia memanjat pohon ara di pinggir jalan yang akan dilewati oleh Yesus. Ketika Yesus melewati jalan tersebut, ia melihat ke atas dan memanggil Zakheus. Yesus berkata, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Zakheus segera turun dan menyambut Yesus dengan sukacita. Namun kerumunan orang di sana menjadi bersungut-sungut dan berkomentar: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Namun terlepas dari gerutuan orang-orang tersebut, Zakheus berdiri di hadapan Yesus dan berkata, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Lalu kata Yesus, Pada hari ini engkau dan seluruh keluargamu diselamatkan oleh Allah dan diberikan hidup yang baru, sebab engkau juga keturunan Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk. 19:1-10, paraphrased)

Bagi orang Yahudi di zaman itu, profesi sebagai penagih pajak dianggap rendah dan berdosa, karena penagih pajak, yang notabene adalah orang Yahudi juga, bekerja untuk pemerintah Roma dan menagih pajak rekan sebangsanya. Biasanya jumlah yang ditagih jauh lebih besar dari yang harusnya dibayarkan, dan dari sanalah para penagih pajak memperoleh kekayaannya. Zakheus merupakan kepala dari para penagih pajak pada masa itu. Jadi kita dapat bayangkan ia merupakan orang yang paling dibenci rakyat karena posisinya. Ia menjadi terkucilkan. Belum lagi dengan fisiknya yang pendek dibanding kebanyakan orang, yang pasti juga menjadi bahan cemoohan warga sekitar. Namun sangat menarik bahwa Tuhan Yesus (yang Maha Tahu) menyadari keberadaan Zakheus di atas pohon. Ia juga berkata bahwa Ia HARUS menginap di rumah Zakheus. Ini menunjukkan Yesus tidak menganggapnya sebagai orang yang harus ia hindari, melainkan Yesus menerima Zakheus apa adanya. Yesus menunjukkan kebaikan di saat Zakheus tidak layak menerimanya.

Bagian yang indah berikutnya adalah respon Zakheus yang menyambut Yesus dengan gembira. Ia menunjukkan respon atas kebaikan Tuhan dengan hendak memberikan separuh hartanya dan mengembalikan empat kali lipat bila ia menagih pajak secara tidak benar selama ini. Ini merupakan sebuah pemberian yang sangat murah hati dan menunjukkan ia lebih menghargai Yesus di atas harta-hartanya. Bandingkan kisah ini dengan kisah orang kaya yang justru enggan melepas hartanya untuk mengikut Yesus (Mat. 19:21-22). Hidup Zakheus berubah 180o karena satu sentuhan kebaikan Yesus. Yesus pun menyambut respon Zakheus dengan hadiah yang paling berharga, Zakheus dan seisi keluarganya diselamatkan. 

Kebaikan mengubah segalanya. Kebaikan, terutama bila diberikan kepada yang tidak layak menerimanya, menjadi seperti tamparan kasih untuk kembali ke jalan yang benar. Tentu tidak semua orang yang menerima kebaikan kita akan meresponi sebaik Zakheus. Akan tetap ada orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan menganggap sepi kebaikan kita. Namun fokus dari kebaikan sesungguhnya bukanlah untuk mendapatkan balasan, melainkan sebagai cerminan akan kebaikan yang telah kita terima sendiri dari Tuhan. Kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk memberikan kebaikan-Nya kepada sesama kita. Tidak ada yang membuat kita semakin mirip dengan Yesus selain ketika kita mengasihi dan berbuat baik kepada sesama.

Berbaik hatilah, karena setiap orang yang kita temui mungkin sedang mengalami pergumulan berat yang tak terbayangkan di benak kita. Berbaik hatilah, karena kebaikan mengubah segalanya. Kebaikan dapat mengubah musuh menjadi teman. Kebaikan dapat merajut kembali hubungan yang sempat terputus. Kebaikan dapat mengukir senyuman di wajah orang asing. Kebaikan dapat mengubah dukacita seseorang menjadi sukacita. Berbaik hatilah, karena Tuhan sudah terlebih dahulu baik kepada kita.

Friday, August 11, 2017

Lebih Dari Sekedar Baik


by Leticia Seviraneta

Bila kita ditanya, “Kriteria orang seperti apa yang kamu inginkan menjadi pasangan kamu?” Kita biasa dengan spontan menjawab, “Orang yang BAIK.” Bagi yang sudah percaya Yesus maupun yang belum, jawaban tersebut cukup sering dilontarkan. Kita sebagai manusia secara natural tertarik dengan kebaikan. Tidak akan ada yang menjawab ingin berteman atau memiliki pasangan hidup yang jahat, bukan? Nah, namun pengertian baik yang disebutkan itu seperti apa? Apakah baik itu saja cukup? Jawabannya adalah ya dan tidak, tergantung dari definisi kebaikan yang kita pahami. Banyak yang mengartikan kebaikan sebagai keinginan berbuat baik atau sudah menjadi tindakan baik kepada orang lain. Definisi ini tentu tidak salah. Namun kebaikan belum menjadi kebaikan sampai itu menjadi sebuah tindakan nyata. Demikian juga halnya dengan pihak yang menerima kebaikan itu sendiri. Bila seseorang hanya baik kepada yang baik kepadanya, maka kebaikan belumlah menjadi kebaikan yang sesungguhnya. 

Kebaikan merupakan salah satu aspek dalam Buah Roh (Galatia 5:22) yang dalam bahasa Yunani menggunakan kata ‘chrestotes’ yang bermakna ‘an act of kindness or tolerance toward others; selfless act; doing good things on behalf of others without expecting anything in return. Jadi kebaikan memiliki unsur tindakan nyata mementingkan orang lain meskipun kita tidak mendapat balasan apa-apa serta seringkali membuat kita harus berkorban. Wew… Ini merupakan level kebaikan yang benar-benar berbeda dengan konsep kebaikan yang selama ini kita bayangkan, bukan? 

Tuhan kita adalah Tuhan yang baik. Ia adalah contoh pertama dan utama dari kebaikan itu sendiri. Seluruh Alkitab menceritakan dan memberikan kesaksian betapa baiknya Tuhan. 

“Dan jikalah kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalah kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalah kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” –Luk. 6:32-36 [TB] 

Tuhan baik kepada semua orang, termasuk yang tidak layak menerima kebaikan-Nya. Disini kita dapat melihat bahwa kebaikan itu sesungguhnya tidak memandang bulu. Layak maupun tidak layak, orangnya baik kepada kita maupun tidak baik kepada kita, orangnya tahu berterima kasih maupun tidak tahu berterima kasih, semuanya tidak memberikan kita alasan untuk tidak berbuat baik kepada mereka. Tentu hal ini tidak mudah. Berhubung kebaikan adalah buah Roh, maka sumber kebaikan selevel ini tidak dapat dihasilkan dari kekuatan manusia semata, melainkan dari hubungan intim dengan Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah memandang kebaikan Tuhan sedemikian rupa sehingga pundi emosi kita begitu penuh untuk menyalurkannya kepada orang lain, disertai dengan kemauan untuk taat melakukan kebaikan itu. 

Kebaikan adalah kasih dalam bentuk tindakan nyata. Kita dapat sekedar baik tanpa mengasihi, namun kita tidak dapat mengasihi tanpa berbuat baik. Kita dapat saja memberikan uang receh kepada pengemis tanpa mengasihi pengemis tersebut. Namun kita tidak bisa mengklaim bahwa kita mengasihi pasangan kita tanpa berbuat baik kepadanya. Apakah teman-teman dapat melihat kaitan erat antara kasih dan kebaikan itu? Kasih menjadi landasan di mana seluruh karakteristik buah Roh lain berpijak. 

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” –Kol. 3:12-14 [TB] 

Tuhan menginginkan kita untuk mengasihi sesama; Dia menginginkan kita untuk berbuat baik kepada mereka. Ini merupakan kehendak Tuhan yang dinyatakan berulang-ulang di Alkitab. Tuhan tidak hanya sekedar berkata Ia mengasihi kita, ia juga melakukan tindakan nyata berdasarkan kasih-Nya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Sebagai bentuk nyata dari kasih-Nya, Tuhan mengorbankan sesuatu yang sangat berharga bagi kita, yakni Yesus Kristus, untuk mati di atas kayu salib. Disini kita melihat sisi lebih mendalam lagi dari kebaikan: Kebaikan mengandung unsur pengorbanan. 

Kebaikan selalu merupakan tindakan baik untuk orang lain yang mengorbankan kepentingan sendiri (selfless act). Hal ini bukan berarti kita menjadi berjiwa martir dan hidup dengan tidak pernah memikirkan kebutuhan sendiri. Keseimbangan adalah kuncinya. Tuhan memberikan perintah, “Kasihilah sesamamu manusia, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri” (Mat 22:39b). Kita tidak dapat memberi apa yang tidak kita punyai. Bila kita tidak memperhatikan kebutuhan pokok kita sebelum memberi kepada orang lain, tentulah hal ini tidak sehat. Penting untuk dicatat, kasihi diri sendiri dalam hal kebutuhan-kebutuhan yang esensial, bukan sekedar keinginan mata kita. Contoh kebaikan nyata yang membuat kita berkorban adalah dengan memberikan waktu untuk mendengarkan sesama dalam masalah ketika kita sedang sibuk, memberikan uang bagi yang sangat memiliki keperluan mendesak sementara kita hanya ingin menggunakan uang tersebut untuk keinginan sekunder atau tersier, memberikan pengampunan meski kita masih merasa sakit hati, memberikan pujian di saat teman berhasil meski kita agak merasa iri, dsb. Ada begitu banyak kesempatan di dalam kehidupan kita sehari-hari untuk berbuat baik. Janganlah membayangkan berbuat baik harus berbentuk sesuatu yang besar seperti mendonasikan uang dalam jumlah yang banyak hingga kita menunggu waktu yang tepat di mana nominal banyak tersebut terkumpul. Hal ini tentu tidak salah, namun jangan sampai kita terlewatkan banyak kesempatan berbuat baik yang nampaknya kecil hanya karena konsep berbuat baik di benak kita terbatas. 

Saya secara pribadi sangat mengagumi karakter Ribka (Kej. 24:1-67). Dalam Kejadian 24 diceritakan bagaimana hamba Abraham berdoa meminta tanda dari Tuhan agar ia dapat menemukan wanita yang tepat untuk menjadi isteri Ishak. Ia berdoa agar ketika ia meminta air untuk minum dari anak gadis yang hendak menimba air, ia diberi minum, serta unta-untanya pun akan diberi minum, dan ia akan tahu bahwa gadis itulah isteri pilihan Tuhan bagi Ishak. Patut dicatat bahwa hamba ini tidak berdoa akan hal-hal yang terlihat di permukaan seperti paras yang super cantik, tubuh yang tinggi semampai, mata yang indah, dsb. Hamba ini mendoakan sebuah kualitas yang jauh lebih berharga daripada itu semua, sebuah karakter yang dimanifestasikan dalam tindakan nyata, yaitu kebaikan. Memberikan air minum kepada seorang hamba yang haus saja sudah dapat dikatakan baik karena hal itu berarti anak gadis ini tidak memandang rendah si hamba dan tidak sombong. Tetapi memberi minum juga unta-unta? Tunggu dulu. Bila kita berhenti dan membayangkan sejenak, coba kita cari tahu, berapa banyak kah seekor unta minum air? Fakta membuktikan bahwa seekor unta yang sedang haus dapat minum 30-40 galon air sekali waktu. Lalu ada berapa ekor unta yang dibawa si hamba Abraham tersebut? Dicatat di Kej. 24:10 bahwa ia membawa sepuluh ekor unta. Hal ini berarti Ribka menimba 300-400 galon air untuk memberi minum unta-untanya. Lalu coba bayangkan apakah sekali menimba air, Ribka dapat memperoleh 1 galon? Tentu tidak. Karena pada zaman tersebut wadah menampung air untuk menimba mungkin hanya sebesar ember kita untuk mengepel saat ini. Dan perkataan Ribka ketika menawarkan bantuannya begitu murah hati: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum” (Kej. 24:19). Kebaikan yang diberikan oleh Ribka bukanlah kebaikan yang ngepas-ngepas seadanya saja, melainkan kebaikan yang maksimal. Kita memiliki Tuhan yang tidak tanggung-tanggung dalam menunjukkan kebaikan kepada kita, jadi berilah yang maksimal kepada sesama kita. Tuhan disenangkan dengan orang-orang yang baik hati sedemikian rupa karena manusia menjadi melihat diri-Nya melalui kita. 

Ingatlah, setiap hari merupakan kesempatan baru untuk menunjukkan kebaikan Tuhan melalui tindakan kita. Kebaikan Tuhan adalah sumber yang memudahkan kita menghasilkan buah kebaikan di kehidupan kita. Kecaplah dan lihatlah kebaikan Tuhan, hitunglah berkat-Nya, penuhi hati kita dengan rasa syukur, maka tindakan kebaikan akan menjadi bagian dalam keseharian kita secara alami. Sebuah standard kebaikan yang tidak pandang buluh siapa penerimanya, yang membuat kita berkorban, dan yang merefleksikan kasih Tuhan kepada setiap jiwa yang kita temui. Mari kita menjadi pribadi yang lebih dari sekedar baik, yang juga menjadi saluran kebaikan Tuhan yang sesungguhnya.

Wednesday, August 9, 2017

How to be Kind


by Leticia Seviraneta

Kita telah belajar bahwa kebaikan merupakan tindakan nyata yang baik dan dapat dirasakan oleh orang lain. Kebaikan secara mutlak membutuhkan subjek penerima. Kebaikan dirasakan melalui bagaimana cara kita memperlakukan sesama manusia: Apakah kita menghargai mereka? Apakah kita memandang mereka dengan hormat? Apakah kita mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama? Mungkin sebagian kita merasa ‘jleb’ karena banyak yang tersentil ternyata kita selama ini belum sebaik standar yang Tuhan inginkan. Hey, it’s okay! Dengan menyadarinya sekarang, kita memiliki ruang untuk bertumbuh dan berkembang lebih baik lagi. Yuk kita gali lebih dalam lagi tentang bagaimana caranya untuk menjadi baik.

1. Andalkan Tuhan sebagai sumber dan role model kebaikan

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak akan berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yoh. 15:7)

Pernahkah teman-teman melihat sebuah ranting yang berkeringat susah payah untuk menghasilkan buah? Hal ini terdengar konyol bukan? Sebuah ranting berbuah dengan sendirinya secara alami selama ia terhubung dengan baik dengan batang pohon, akar-akar, serta tanah yang subur. Selama ia terhubung dengan sumbernya tersebut, ranting tersebut secara pasti dan berkelanjutan akan menerima nutrisi yang dibutuhkan untuk berbuah. Demikian juga halnya dengan kita. Kita perlu untuk selalu terhubung dengan Yesus melalui hubungan yang intim, solid, dan teratur. Kita perlu berdiam dalam kekaguman akan kebaikan dan karya-karya-Nya di bumi ini untuk mendapat asupan nutrisi bagi roh dan jiwa kita. Selama kita terhubung, kita akan peka mendengar suara-Nya. Ia akan menunjukkan bagaimana kita harus bersikap kepada sesama. Lalu yang perlu kita lakukan adalah menaati arahan Roh Kudus tersebut. Apakah ia meminta kita untuk menolong orang yang tidak kita kenal yang sedang kesulitan di depan mata? Lakukanlah. Apakah ia meminta kita untuk tidak tersinggung dan melepas pengampunan pada orang yang berkata kasar kepada kita? Lakukanlah. Bila kita dapati diri kita sedang berlaku tidak baik kepada sesama, cobalah cek dan tanya diri kita kembali, “Bagaimana hubunganku dengan Yesus belakangan ini?” Bila kita sadari bahwa hubungan kita sudah mulai kendor, kita malas berdoa dan membaca Fiman-Nya, segeralah bangkit dan bangun kembali hubungan dengan-Nya.

2. Latihlah kebiasaan untuk berkata-kata yang baik dan membangun saja 

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29)

Sadar atau tidak, kata-kata seseorang menunjukkan keadaan hati orang tersebut yang sesungguhnya. Tidak ada istilah, “Ah dia kata-katanya memang pedes, tetapi dia orangnya mah baik.” Karena Matius 5:18 menyatakan, “Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati, dan itulah yang menajiskan orang.” Menurut Amsal 31, wanita bijak akan bertutur kata dengan lemah lembut dan penuh hikmat. 

“She opens her mouth with wisdom, and the teaching of kindness is on her tongue.” –Proverbs 31:26 [ESV]

“When she speaks she has something worthwhile to say, and she always says it kindly.” –Proverbs 31:26 [MSG]

Melalui ayat ini, kita diajar untuk menyaring kata-kata yang akan kita keluarkan sebelum membuka mulut kita. Apakah perkataanku ini baik? Apakah perkataanku ini membangun? Apakah perkataanku ini dapat menyakiti lawan bicaraku? Menarik bahwa di versi terjemahan The Message, dikatakan bila ia memiliki sesuatu yang layak untuk dibicarakan, ia selalu memperkatakannya dengan lembut. Jadi saringan tambahan sebelum kita mengucapkan sesuatu adalah apakah hal ini berharga untuk diucapkan? Bagaimana sebaiknya kita menyampaikannya? Bila perkataan yang akan kita ucapkan tidak lolos semua screening sebelumnya, lebih baik kita tidak membuka mulut kita. Terutama di saat kita sedang emosi dan marah, tidak akan ada hal baik yang dapat keluar dari mulut kita. Di saat-saat seperti itulah kita harus dapat menahan diri untuk tidak berbicara. 

3. Bersikaplah ramah kepada orang yang dipandang lebih rendah 

“Dan Raja itu akan menjawab kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat. 25:40)

Ada sebuah ungkapan populer di dunia psikologi untuk menilai kepribadian seseorang: “Bila engkau ingin mengenal karakter sesungguhnya seseorang, lihatlah dari cara mereka memperlakukan pelayan restoran.” Ya, pelayan restoran merupakan orang yang mudah dijumpai di sekitar kita, yang sering mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari konsumennya. Banyak yang ketika memesan tidak memandang mata si pelayan, tidak mendengarkan ketika pelayan tersebut mengulang pesanan makanan kita, dan mengomeli pelayan ketika makanan lama disuguhkan, terlebih lagi bila pesanan yang diantarkan salah. Hal-hal kecil dalam memperlakukan orang-orang yang secara jabatan maupun status sosial dipandang rendah merefleksikan betul apakah seseorang baik atau tidak. Yesus senantiasa mengajarkan bahwa setiap tindakan yang kita lakukan bagi orang-orang yang dipandang hina atau rendah bagi kebanyakan orang, kita lakukan bagi-Nya. Kita mungkin selama ini tidak sadar bahwa hal-hal yang terlihat kecil seperti ini berarti bagi-Nya. Oleh karenanya, mulailah belajar bersikap ramah dan menghargai keberadaan siapa pun tanpa merendahkan pekerjaan dan status sosialnya. Mulailah buat eye contact dan menyimak perkataan orang lain seperti itu penting bagi kita. Mulailah memperhatikan kebutuhan orang sekitar dan sedapat mungkin bantulah yang mengalami kesulitan.

4. Mudahlah mengampuni dan tidak menyimpan kesalahan orang lain 

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”(Efesus 4:31-32).

Sebuah hubungan persahabatan, terlepas dari berapa lama pun terjalin, akan berakhir ketika ada salah satu atau pun kedua pihak yang mengingat-ingat kesalahan temannya dan memutuskan untuk tidak mengampuni. Ketika kita tidak mengampuni, kita sedang berlaku tidak baik kepada sesama kita (baik secara langsung maupun tidak). Keengganan untuk mengampuni akan menjadi tembok dalam hubungan tersebut, yang menyulitkan kita untuk bersikap ramah dan berbuat baik kepada orang tersebut. Banyak dari orang Kristen bersikap tidak ramah karena berakar dari tidak mengampuni ini. Sikap tidak ramah tersebut akan terlampiaskan ke siapa saja, termasuk kepada orang yang tidak bersalah kepadanya. Jadi, cara untuk mempraktikkan kebaikan secara konstan adalah juga dengan memperbesar kapasitas hati kita untuk tidak mudah sakit hati, tidak mudah tersinggung, dan murah untuk melepaskan pengampunan. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:26)

5. Kembangkanlah kebiasaan suka memberi 

“A generous person will prosper; whoever refreshes others will be refreshed.”
(Proverbs 11:25, NIV)

Kebaikan selalu berjalan berdampingan dengan tindakan memberi. Memberi waktu, perhatian, kesabaran untuk mendengarkan, uang, memberi pengetahuan, dsb merupakan manifestasi dari kebaikan. Kita secara natural tidak terbiasa untuk memberi, karena manusia secara daging merasa lebih nyaman menerima daripada memberi. Memberi terkadang membutuhkan harga yang harus dibayar dan pengorbanan dari pihak si pemberi. Untuk dapat melatih kebiasaan memberi kita harus percaya bahwa berkat Tuhan cukup bagi kita, dan mengerti bahwa tujuan kita diberkati adalah untuk memberkati orang lain. Mulailah dari memberikan sesuatu yang kecil, baru perlahan-lahan memberikan sesuatu yang semakin berharga bagi kita. Memberi bukan hanya sekedar tindakan kebaikan yang nyata, namun juga merupakan tindakan yang mengungkapan rasa syukur kita atas pemberian Tuhan, dan tanda rasa percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita kekurangan. 

“Tidak ada satu pun tindakan kebaikan yang sia-sia” -Unknown

Monday, August 7, 2017

Prayercast: Pray for the World


by Tabita Davinia Utomo

Hello, ladies! Nggak terasa sekarang udah masuk bulan Agustus. Which means kita bakal merayakan hari kemerdekaan Indonesia, negara tercinta kita, pada tanggal 17 Agustus! :) Yay!

Masih ada banyak pergumulan yang dihadapi negara ini, tapi kita harus tetap percaya bahwa Tuhan mengalirkan darah Indonesia dalam diri kita untuk sebuah tujuan: menjadi alat-Nya bagi kemuliaan-Nya di tempat ini. Memang nggak mudah, tapi bukan berarti nggak mungkin. :) Salah satu tanggung jawab kita sebagai warga negara adalah berdoa bagi Indonesia, agar setiap pemimpin negara dan elemen-elemen di dalamnya dapat bekerjasama untuk mewujudkan revolusi mental (kata Pak Jokowi. Hehe…) bagi bangsa dan negara. Kita juga perlu berdoa bagi rakyat Indonesia agar bersatu dalam menciptakan kerukunan dan kesatuan satu sama lain. :)

Di post ini, aku mau share sebuah link yang dapat menolong kita untuk berdoa bagi Indonesia. Well, nggak cuma Indonesia, sih. Tapi kita juga bisa berdoa bagi negara-negara lain di dunia melalui link ini juga. :D Link yang kumaksud adalah prayercast.com. Link ini berisi video-video doa dan apa yang ada di negara-negara tersebut. Klik Nations yang ada di halaman depan, dan silakan pilih negara mana yang hendak didoakan. Segala pergumulan maupun keindahan alam mereka ada di dalamnya.
Selain video dan konten dari berbagai negara, link ini juga memuat video maupun konten dari berbagai agama maupun aliran kepercayaan yang ada di dunia. Setiap kali kita mengarahkan kursor mouse ke salah satu agama atau aliran di sisi kanan laman, kata-kata ini yang muncul di bawah peta dunia, 
For God so loved... (sesuai agama atau aliran yang tersentuh kursor) that He sent His only Son... 

Yap, itu adalah kutipan dari Yohanes 3:16. :) Dan ayat ini juga mengingatkan kita bahwa Yesus Kristus datang bukan hanya bagi orang Kristen. Dia bukan hanya datang bagi orang Indonesia. Tapi Dia juga datang untuk mereka yang menganut aliran kepercayaan. Dia datang ke dunia bagi mereka yang ada di Kepulauan Pasifik.. And these show how great and deep the Father’s love for us, His masterpiece. 

So, ayo kita berdoa bagi dunia (dan Indonesia, khususnya) agar mengalami perjumpaan yang mengubahkan dengan kehadiran Kristus di tengah-tengah mereka. :) Selamat berbuat kebaikan (melalui doa) bagi bangsa dan negara kita! 

Kami mengasihimu, Indonesia. Tapi Tuhan Yesus jauh lebih mengasihimu  

NB: Oh, ya. Setiap video yang ada bisa di-download, lho! :D Jadi kita bisa ngajakin temen-temen buat nonton video yang ada dan berdoa bersama. :)

Friday, August 4, 2017

Kindness Boomerang


by Tabita Davinia Utomo

Percaya nggak, kalo kebaikan itu bisa balik ke kita?

Ini bukan mitos, lho. Ini bisa aja terjadi di dalam kehidupan kita. :)

Iya, memang butuh waktu buat proses dari kebaikan yang menular itu. Tapi bukan berarti kita jadi hopeless dan terus nggak mau berbuat kebaikan lagi. Karena siapa tahu, dari satu kebaikan (sederhana) yang kita lakukan hari ini, hal itu bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan yang lain.

Hari ini aku mau share sebuah video yang (mungkin) udah sering kita tonton (entah di gereja, di grup WA, atau bahkan di timeline media sosial kita). Iya, walaupun udah sering kita tonton (mungkin ada juga yang mengira ini video settingan), but it really inspire us to do the same thing, too: to tell the world that it needs a good deed for a better life. Jadiii, ini diaaa. :) Semoga bisa memberkati dan menolong kita untuk berbuat baik, walaupun belum tentu kita akan menerima kebaikan yang lain secara langsung.