Monday, December 11, 2017

The Real Christmas Tradition



by Poppy Noviana

Hi Pearlians, bulan Desember ini biasanya identik dengan perayaan Natal dan tahun baru. Bulan ini penuh dengan rencana liburan, kumpul bersama keluarga dan tukar kado dengan orang-orang yang kita kasihi. Ngga salah sih, tapi sayangnya masih ada diantara kita yang salah fokus untuk menghidupi makna Natal itu sendiri, misalnya kita lupa bahwa Natal adalah Kasih yang berkorban, karena Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk memperbaiki hubungan Allah dan manusia yang terpisah karena dosa. Banyak diantara kita yang saat ini merayakan Natal dengan fokus pada hal-hal yang tidak esensial, contohnya: mengharapkan baju baru/kado/liburan/makanan spesial. Bagaimana menurut kalian? faktanya mengasihi diri sendiri saat Natal itu nyata loh.

Tahun ini adalah musim yang cukup berbeda bagiku secara pribadi. Masalah keluarga yang tidak kunjung selesai membuat kumpul bersama keluarga besar tidak dilakukan. Tidak ada pula pesta anak-anak sekolah minggu yang meriah dan menarik untuk disaksikan karena pilihanku melepaskan pelayanan sekolah minggu sejak semester dua ini. Juga tidak ada lagi tukar kado dikalangan sesama pekerja dalam pelayanan, tidak ada lagi makanan spesial yang kuharapkan muncul saat Natal karena sekarang aku memilih untuk hidup mandiri dan berpisah dengan orangtua. Sebuah keadaan yang berbeda, namun di sisi lain hal ini membuatku lebih dalam lagi merenungkan bahwa Christ is enough for me. Bagiku Tradisi Natal adalah sebuah kebiasaan yang mungkin menyenangkan tapi tidak bersifat wajib dan kekal. Tradisi hanya alat yang membantuku lebih mudah memaknai arti kehadiran Yesus di dunia. Jadi, ada atau tidak ada tradisi perayaan Natal seharusnya tidak menjadi persoalan.

Lantas Natal macam apa yang saat ini kuinginkan? Harapanku Natal tahun ini, Allah Bapa memenuhi hatiku dengan Roh Kudus yang dapat menghibur, menguatkan dan memberi kemampuan mengasihi, mengampuni, berbagi, dan berkontribusi positif dalam lingkungan dimana aku dibuang Tuhan. 

Meskipun tidak sama seperti apa yang Allah sanggup lakukan bagiku, namun aku menghargai perbuatan-Nya sampai hari ini dalam hidupku secara pribadi. Natal yang sejati adalah ketika hidupku menghidupi arti kehadiran-Nya, bukan menghidupi keinginanku sendiri. So Pearlians yang terkasih, berbahagialah sebab perayaan Natal tidak dibatasi oleh kondisi ekonomi, kondisi keluarga, kondisi keberadaanmu dan statusmu di masyarakat. Jadi ciptakan tradisi Natal dari sudut pandangmu memaknai Natal itu sendiri. Hargai kehadiran-Nya dan keputusan-Nya untuk datang ke dunia, sebagai sebuah Kasih termulia yang menginspirasimu untuk melakukan hal yang sama, kepada barangsiapa yang lupa atau bahkan belum pernah mengenal-Nya. 


Ini tradisi Natalku, mana tradisi Natalmu?

Silahkan bagikan dan lakukan tradisi Natalmu tanpa kehilangan fokus atas esensi natal itu.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
(Yohanes 3:16-17)

Friday, December 8, 2017

Referensi Buku: Understanding The Purpose And Power Of Woman


by Poppy Noviana

Judul Buku: Understanding The Purpose And Power Of Woman
Penulis: Dr. Myles Munroe
Penerbit: Immanuel
Jumlah halaman: 271 halaman


Buku ini karya seorang Doktor dari Bahamas, Myles Egbert Munroe. Ia adalah pendiri dan ketua Bahamas Faith Ministries International (BFMI). Ia memiliki seorang istri bernama Ruth dan dua orang anak bernama Charisa dan Chairo. Munroe dan istrinya tewas dalam kecelakaan pesawat pribadi pada 9 November 2014. Pejabat Bahama mengatakan pesawat mereka menabrak sebuah derek di halaman kapal dekat Bandara Internasional Grand Bahama. Munroe dan penumpang lainnya sedang dalam perjalanan ke Freeport, Grand Bahama, untuk sebuah konferensi. Meskipun ia sudah meninggal, tulisan dan sudut pandangnya tetap hidup sampai hari ini.

Tulisan Munroe yang menginsipirasi saya khususnya tentang nilai-nilai seorang wanita yang diciptakan Allah. Munroe banyak menulis tentang konsep kesetaraan antara wanita dan pria dan pengungkapan keunikan wanita sebagaimana desain yang diciptakan Allah sejak awal untuk mendukung tujuan penciptaan. Semua itu didasarkan pada apa yang Allah katakan dalam Alkitab. 

Buku Understanding The Purpose And Power Of Woman ini menjelaskan bahwa tujuan seorang wanita diciptakan, ternyata menentukan desain seorang wanita. Buku ini juga bicara bahwa wanita adalah objek kasih Allah yang dibangun oleh Allah sendiri dari dalam manusia pria. Buku ini menjawab pergumulan-pergumulan seputar kesadaran setiap wanita tentang siapa diri mereka dan kecakapan untuk menjawab persoalan-persoalan yang terjadi antara pria dan wanita. Yang menarik, ada pula pembahasan mengenai isu penyimpangan seksual yang hari-hari ini cukup meresahkan. 

Buku ini pas untuk wanita yang mau memahami keberadaanya secara alkitabiah dan para pria yang mencintai mereka untuk dapat memperlakukannya dengan tepat.

Buku ini benar-benar memberikan paradigma baru dalam memandang dan memperlakukan seorang perempuan, serta mengenali panggilan khusus seorang wanita dalam dirinya dan peranannya dalam hubungan kepada lawan jenisnya.

Have to read when you don’t know your specific purpose and calling as a woman!

Wednesday, December 6, 2017

Rumput dan Uap Air (Part 3)


by Tabita

Buat yang belum baca bagian 1 dan bagian 2, bisa baca dulu, yaa.

Okee. Setelah nulis tentang Who am I? dan poin 1 kemaren, sekarang aku mau share poin 2-nya :)) Selain bicara tentang kesetiaan Allah, Natal itu juga adalah...

Natal berbicara tentang kembali hidupnya harapan dan semangat yang padam.

Bangsa Israel udah nunggu lama banget buat diselamatkan Sang Juruselamat. Bahkan waktu Yesus lahir, mereka baru dijajah bangsa Romawi. Otomatis, harapan dan semangat bangsa Israel semakin nggak menentu. Mungkin mereka mikir, “Ini beneran Tuhan mau nyelametin kita nggak, sih!? Lama amat datengnya! Keburu mati semua gara-gara dijajah, nihhh!!”. Pemikiran itu pula yang jadi salah satu penyebab para murid bertanya pada Yesus, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kisah Para Rasul 1:6, TB). Mereka pengen Yesus segera mengakhiri penjajahan Romawi dan menjadi The Hero buat bangsa itu.

Nope. Yesus nggak lahir dalam keluarga kerajaan maupun jadi pahlawan bagi bangsa Israel. Sebaliknya, Yesus lahir dalam keluarga tukang kayu yang sederhana dan justru meninggalkan Amanat Agung bagi para murid-Nya (Matius 28:16—20, Kisah Para Rasul 1:8). Tapi apakah itu artinya nggak ada harapan bagi bangsa Israel buat diselamatkan dari penjajahan?

Jawabannya... ada :) Yesus nggak cuma lahir dan memberikan teladan hidup; tapi juga membebaskan dunia dari cengkraman maut! Penjajahan secara fisik nggak ada apa-apanya dibanding penjajahan rohani (baca: maut). Yesus tahu ini; karena itu Dia rela untuk mengorbankan nyawa-Nya bagi kita :) His sacrifice lit up our hope and encourage us to keep living in Him. Ini yang Dia tanamkan pada para murid-Nya, sehingga akhirnya... mereka pun mengabarkan kabar sukacita ini pada dunia—walopun nyawa yang jadi taruhannya. Tapi mereka tetep taat, dan buahnya pun ada pada kita sekarang :D

And now, how about us? Apakah kita tetap percaya bahwa Tuhan adalah Pribadi yang setia? Apakah kita benar-benar telah bergantung secara total pada-Nya?

Hari ini, Tuhan menyatakan bahwa Dialah satu-satunya sumber kekuatan dan alasan kita hidup. Sama seperti yang pernah dikatakan seorang teman dari temanku, “Ketika hidup ini terasa berat, justru di saat itulah kita harus bergantung erat pada Tuhan." Tetap bertekun membaca, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan serta berdoa akan menolong kita untuk tetap kuat di dalam Tuhan. Di sanalah kita memperoleh kesegaran jiwa bagi hati yang kering dan rapuh.

Yuk, terus mengandalkan Tuhan; karena kerapuhan hidup bukanlah akhir harapan, namun kehadiran Tuhan di dalamnya memulihkan kita.

Selamat menyongsong Natal dan Tahun Baru dengan penuh harapan di dalam Tuhan, Pearlians! :) Percayalah, sekalipun ini terdengar klise, Tuhan sedang dan akan terus menenun kehidupan kita untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya. Cheers! ^^

Monday, December 4, 2017

Rumput dan Uap Air (Part 2)


by Tabita

Baca artikel sebelumnya di sini.

Who am I? menggambarkan bahwa manusia—termasuk kita—rapuh seperti rumput dan uap air. Iya. Bahkan Rasul Petrus juga menuliskan hal yang sama dalam 1 Petrus 1:24. Itu artinya, kita rentan terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan luka dan kepahitan. Sekuat-kuatnya kita, kerapuhan itu bisa menyerang tanpa disadari -.-“

Kenapa sih, kok bisa kaya’ gitu?

Tahukah Pearlians, bahwa kerapuhan itu disebabkan dosa? Sejak manusia (dari Kong Adam dan Mak Hawa) ingin menjadi sama seperti Allah—yang kemudian menyebabkan rentetan dosa berikutnya, saat itulah dosa muncul (Kejadian 3). Syukur pada Allah; Dia nggak tinggal diam :) Allah segera merencanakan karya keselamatan yang digenapi dalam kelahiran Yesus beribu-ribu tahun kemudian (Kejadian 3:15, dan dalam banyak nubuatan para nabi). Tapi yang nunggu karya-Nya nggak cuma Kong Adam, Mak Hawa, dan anak-anak mereka. Nggak. Tapi sampai ke Abraham, Ishak, Yakub, bangsa Israel, dan... semua orang yang pernah, sedang, dan akan hidup di dunia ini! Wah, padahal butuh berapa tahun tuh, buat nungguin janji Allah itu? Bahkan nggak ada jaminan mereka akan tetap hidup di dunia sampe Sang Juruselamat hadir. Yeah, kesetiaan Allah emang nggak ada batasnya :) He is faithful, even there is no one beside us.

Natal berbicara tentang kesetiaan Allah yang dibuktikan melalui kelahiran seorang bayi yang disebut Imanuel itu 

Kalo Allah mikir, “Ya elah. Ngapain ya, Aku repot-repot nyelametin manusia? Ha tinggal auto-delete aja! Trus bikin baru,” aku dan Pearlians nggak akan ada seperti sekarang ini :p Kalopun ada, tentu dengan format yang berbeda (baca: tanpa dosa haha). Tapi ternyata Dia nggak ngelakuin ini. Alasannya apa nggak tahu, sih... Itu juga jadi salah satu pertanyaan terbesarku hehe. Nanti kalo udah ketemu di sorga sono mau tanya ah wahahaha...

Tapiiii, seindah-indahnya sebuah rencana, tetep akan ada kendala kalo pihak yang terlibat di dalamnya nggak paham sama rencana tersebut. Ya, kan? Well, itu pula yang (mungkin) Allah alami saat akan mengeksekusi rencana karya keselamatan ini. Maria sama Yusuf awalnya nggak paham sama maksud Allah saat merekalah yang terpilih untuk menjadi orang tua Yesus selama Dia di dunia.

Yusuf hampir saja menceraikan Maria secara diam-diam (Matius 1:18—19); tapi malaikat Tuhan segera mendatanginya dalam mimpi dan menjelaskan bahwa Yusuf akan menjadi salah satu pihak yang berperan besar dalam karya penyelamatan manusia. Coba bayangin; kalo seandainya Yusuf cuma ngandalin kekuatan dan pemikirannya sendiri, pasti alur karya keselamatan akan berbeda dari yang udah sering kita dengar. But thanks God; Yusuf tetap taat kepada Tuhan. Karya keselamatan itu berlanjut pada kelahiran, pelayanan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke sorga.

Maria pun mengalami hal yang sama. Tentu ada tekanan fisik (aku pernah denger, usia Maria waktu mengandung Yesus adalah sekitar 12—13 tahun! Setara sama anak SMP! :O *shock) dan psikis (gimana nggak stres kalo digibahin (digosipin) sama masyarakat waktu itu? Bahkan dia juga terancam hukuman mati karena dianggap hamil dengan orang yang bukan suaminya!!). Apa Maria udah memperkirakan hal itu sebelum berkata, “...aku ini hamba Allah, jadilah padaku menurut apa yang Kau kehendaki”? Hmmm... menurut sih, udah :) Aku yakin, Maria tahu bahwa Allah pasti akan melindunginya. Like what I always say to my friends, “Ketika Tuhan memulainya melalui kita, Dia juga akan menyelesaikannya dengan cara yang sama.” Kenapa aku bisa seyakin ini? Karena Allah yang mempercayakan “tugas besar” pada Maria adalah Allah yang sama dengan Dia yang memanggil Abraham untuk keluar dari Ur Kasdim dan menuju ke tanah Kanaan—Tanah Perjanjian itu. Dialah Allah yang mengutus Musa untuk membawa bangsa Israel kembali dari Mesir ke Tanah Perjanjian yang telah Allah berikan pada nenek moyang mereka beratus-ratus tahun sebelumnya.

Oya. Masih ada satu poin lagi yang akan kita pelajari, nih. Stay tuned on Pearl’s blog, ya! :) See you!

Friday, December 1, 2017

Rumput dan Uap Air (Part 1)



by Tabita

Hi, Pearlians!

Di renungan kali ini, aku mau berbagi tentang salah satu lagu favoritku – Who Am I dari Casting Crowns. Mari sama-sama belajar betapa manusia—termasuk kita—sangat rapuh dan membutuhkan pertolongan Tuhan dalam hidup ini. Natal bukan cuma tentang kelahiran Yesus Kristus, tapi juga tentang Dia yang menjadi pemantik harapan yang padam, kan?

Artikel ini terbagi dalam dua bagian besar; pertama tentang sejarah dan lirik lagu, kedua tentang apa yang dapat kita pelajari dari lagu ini serta hubungannya dengan Natal. Well, selamat membaca! :)


--**--


Mungkin Pearlians udah tau lagu Who am I yang aku maksud yaa :D Ternyata ada behind the scene yang dalem banget lho. Ide dari lagu yang dipublikasikan pada tahun 2004 ini bermula saat Mark Hall, pemimpin band Casting Crowns, sedang berada dalam perjalanan pulang bersama keluarganya. Di malam itu, Hall berpikir, “Siapakah aku, sehingga aku hanya perlu memanggil Tuhan di manapun aku berada, dan berharap agar Dia mendengarkanku?”. Dia melanjutkan perenungannya, “Aku memang lebih dari pemenang... tapi aku juga harus mengingat bahwa aku hanya seperti rumput dan uap air yang segera menghilang; bahkan aku dapat berdoa karena apa yang Dia lakukan untukku.” Kisah ini kuadaptasi dari apa yang tertulis di Wikipedia :p

Berikut lirik dari Who am I?. Hope you’ll be blessed! =)


Who Am I?
(by Casting Crown)



1st verse
Who am I, that The Lord of all the earth
would care to know my name, would care to feel my hurt?
Who am I, that The Bright and Morning Star
would choose to light the way for my ever wandering heart?


Pre-Chorus
Not because of who I am
but because of what You’ve done
Not because of what I’ve done
but because of Who You are


Chorus
I am a flower quickly fading here today and gone tomorrow
A wave toased to the ocean, a vapor in the wind
Still You hear me when I’m calling
Lord, You catch me when I’m falling
and You told me who I am
I am Yours


2nd verse
Who am I, that the eyes that see my sin
would look on me with love, and watch me rise again?
Who am I, that the voice that calmed the sea,
would call out through the rain and calm the storm in me?


Back to pre-chorus and chorus


Wow! Menarik ya melihat sebuah pertanyaan yang seperti muncul begitu saja, ternyata kemudian menjadi lagu yang memberkati banyak orang? Coba bayangkan, bagaimana kalau saat itu Hall hanya menganggap pertanyaan yang muncul itu dengan sambil lalu, tanpa pernah merenunginya lebih dalam? Penting memang menjadi peka dengan suara Tuhan dan meresponnya dengan serius.

Nah, kali ini kita mau belajar untuk merespon sebuah lagu, tidak hanya dengan menyanyikannya, tapi juga mempelajari maknanya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Wednesday, November 29, 2017

Not as Harmless as It Seems (Part 3 - end)


by Yarra

(Baca artikel sebelumnya: part 1 dan part 2)

3. Nafsu makan
Banyak orang Kristen percaya bahwa nge-drugs, minum alkohol (dalam jumlah berlebihan), dan merokok adalah dosa. Kenapa? Salah satu alasan yang paling sering dikutip adalah karena hal tersebut “merusak bait Allah”.

Tapi yang ini mungkin terdengar konyol: makan berlebihan (glutonny—bahasa Inggris) pun termasuk dosa. 

Hah? Kok, bisa, sih!? :O

Nah, ada beberapa ayat yang dapat kita simak di bawah ini:

“Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!” 
– Amsal 23:2

“Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging. Karena si peminum dan si pelahap menjadi miskin, dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping.” 
– Amsal 23:20-21

“Orang yang memelihara hukum adalah anak yang berpengertian, tetapi orang yang bergaul dengan pelahap mempermalukan ayahnya.” 
– Amsal 28:7


Seperti uang, makanan juga adalah bagian penting dari kehidupan kita. Tetapi banyak orang tidak menyadari ini: Kadang-kadang, mereka terlalu sibuk/asyik mengerjakan sesuatu hingga lupa untuk berhenti sejenak dan makan. Asupan makan memang memegang peranan penting dalam kesehatan dan pertumbuhan kita.

Di sisi lain, ada juga orang yang hobinya makan. Mungkin kita termasuk dalam kategori ini: sekalinya udah mulai ngemil, bakalan susah deh, buat berhenti (termasuk aku!). Atau ketika ada buffet, kita makan saking banyaknya sampai rasanya ingin muntah.

Yuk, kita mau sama-sama liat apa yang Firman Tuhan katakan tentang hobi satu ini.

Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata, “’Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.” (1 Korintus 10:23) Salah satu kebaikan Tuhan yang bisa kita rasakan adalah betapa banyaknya makanan enak yang bisa kita nikmati. Akan tetapi, ketika kita makan lebih dari seharusnya, apakah itu masih “berguna” dan “membangun”?

Paulus kemudian melanjutkan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1 Korintus 10:31). Semua aktivitas yang kita lakukan, bahkan aktivitas “kecil” seperti makan, sudah seharusnya dilakukan untuk memuliakan Tuhan.

Salah satu yang bisa kita gunakan untuk memuliakan Tuhan adalah tubuh kita. Dalam 1 Korintus 6:19-20 tertulis, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Karena jumlah dan jenis makanan yang masuk ke dalam tubuh menentukan kesehatan tubuh juga, sudah selayaknya kita lebih bertanggung jawab dalam merawat bait Roh Kudus ini.

Nafsu makan pun adalah bentuk nyata dari kemampuan kita untuk mengendalikan diri. Jika kita tidak mampu mengendalikan kebiasaan kita dalam hal makanan, apakah kita yakin bahwa mengendalikan diri dalam hal-hal lain yang tidak terlihat secara kasat mata—emosi, bergosip, keuangan, dll.—akan menjadi lebih mudah? Kita tidak boleh membiarkan nafsu makan kita mengendalikan kita, sebaliknya kita harus mengendalikan nafsu makan kita. Ketika kita kesulitan untuk mengendalikan nafsu makan kita, teladanilah Tuhan Yesus. Setelah 40 hari berpuasa dan sedang dirudung kelaparan (Dia mengambil tubuh manusia, afterall), Tuhan Yesus sanggup mengendalikan dirinya untuk tidak jatuh ke dalam pencobaan si jahat (Matius 4:2-4).

Makanan adalah anugerah dari Tuhan yang tidak seharusnya disalahgunakan. Mengingat dampak pola makan yang benar dan sehat dalam memuliakan Tuhan lewat tubuh kita, sudah saatnya kita memastikan bahwa suap makanan selanjutnya akan memuliakan-Nya, dan bukan merusak bait Roh Kudus. 

Mempraktekkan gaya hidup yang sehat bukan hanya agar badan kita menjadi bagus untuk kepuasan kita. Gaya hidup tersebut adalah salah satu bentuk ibadah dan appreciation terhadap bait Allah yang Tuhan berikan kepada kita!

Monday, November 27, 2017

Not as Harmless as It Seems (Part 2)


by Yarra

(Baca artikel sebelumnya di sini)

2. Keuangan
Hal selanjutnya yang sering menjadi tantangan untuk banyak wanita adalah keuangan. Kesulitan untuk mengendalikan diri dalam aspek finansial pun bermacam-macam bentuknya. Mungkin itu dalam hal belanja pakaian, sepatu, makanan, pernak-pernik, de el el. Banyak dari kita, terutama yang sudah berpenghasilan sendiri, seringkali berpikir, “Yaaa~ toh, ini kan, juga uangku yang aku dapatkan dari hasil kerja kerasku sendiri”—tetapi itu tidak sepenuhnya benar. Pada akhirnya kita harus mengingat bahwa segala apa yang kita punya berasal dari Tuhan, dan itu semua hanyalah titipan, bukan kepemilikan. Karenanya, baik itu uang diri sendiri, uang suami, uang orang tua, atau uang siapapun juga, semua itu milik-Nya.

Ketika kita melihat uang dari perspektif demikian, maka kita pun seharusnya menjadi lebih bijak dalam mengelola keuangan dan mengendalikan diri dalam aspek finansial. Ini tidak berarti bahwa saat ini juga kita harus menjual segala kepunyaan kita dan meminta-minta di jalanan. Namun kita harus bisa mengendalikan diri dalam pengeluaran finansial dan sadar terhadap panggilan Tuhan untuk mengelola titipan-Nya dengan bijak.

Mengendalikan diri dalam hal keuangan dimulai dari hal yang cukup sederhana: persembahan dan perpuluhan. Apakah masih sulit bagi kita untuk mengembalikan apa yang memang seharusnya kepunyaan Tuhan? Apakah kita sadar bahwa kita tidak memberi, melainkan hanya mengembalikan? Ya, aku sadar bahwa banyak orang yang masih berargumentasi bahwa perpuluhan adalah suatu keharusan di Perjanjian Lama, namun bukan sesuatu yang diharuskan di Perjanjian Baru. Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah… mengapa begitu sulit bagi kita untuk berpisah dengan 10% dari penghasilan kita? Aku pun tidak dapat menghakimi bahwa semua orang yang tidak memberikan perpuluhan itu salah, kurang rohani, atau lebih mencintai uangnya daripada Tuhan. Tapi justru sebagai seseorang yang juga terkadang kurang disiplin dalam mengembalikan apa yang menjadi milik Tuhan, aku menyadari bahwa terkadang mudah sekali bagi kita untuk kehilangan kendali atas keuangan. Menggunakan uang untuk hal-hal lain jauh lebih menggiurkan daripada untuk dikembalikan kepada Tuhan. Maybe it’s that pretty little bag, atau hangout bersama teman-teman, dst. Namun Firman Tuhan ini sungguh benar: ”Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21). Ketika kita memprioritaskan keinginan kita terlebih dahulu dalam hal keuangan dan hanya memberikan sisanya pada Tuhan, what does it say about our heart?

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.
(Matius 6:24)

Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
(1 Timotius 6:9-10)


Masih ada satu bagian lagi nih, Ladies. Stay tuned on Pearl’s blog, ya! :)