Monday, October 16, 2017

Rahasia Cantik tanpa Kosmetik



by Yunie Sutanto

Siapa sih wanita yang tak ingin tampil menarik?
Semua wanita ingin terlihat cantik…
Dari bulu mata yang lentik
Hingga cat kuku di jari yang lentik
Belum pula tubuh yang berbalutkan busana apik
Dengan bahan kain batik
Begitulah semangat yang terpantik
Saat kaum hawa ingin tampil yang terbaik!

Beauty hurts... they say.
Beauty bloggers merajalela, produk kosmetik dengan target sasaran kaum hawa laris manis... Bisnis kosmetik tuh pasti membawa keuntungan deh...
Meningkatnya jumlah bedah plastik membuktikan betapa upaya untuk cantik ternyata tak mengenal takut! Ga takut mahal dan ga takut sakit!
Cantik itu luka... itulah harganya agar tampil cantik!
Wanita memang sudah demikian, suka berhias agar cantik parasnya. 

Namun apa kata Alkitab tentang ini?
Berhias diri ternyata sudah ada sejak jaman Alkitab juga loh! 

Beauty is vain... the Bible says!
Well... Let’s make sure we are not misquoting:

Favour is deceitful, and beauty is vain: but a woman that feareth the LORD, she shall be praised. -- Proverbs 31:30 (KJV Bible)

Firman Tuhan tuh gak pernah ketiggalan zaman, always up to date!
Soal berias pun ada di Alkitab!
Alkitab sebagai manual hidup kita, jadi untuk urusan kecantikan pun, sudah ada tuntunanNya.

Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.
1 Petrus 3:3-4

Perhiasan lahiriah yang umum dikenakan wanita:
  • Mengepang-ngepang rambut: era kekiniannya mungkin aneka treatment saat nyalon, mulai dari digital perm, rebonding, highlight, hair extension, dan kroni kroninya yang lain. 
  • Memakai perhiasan emas: era kekiniannya bisa literal, memakai asesoris yang menonjolkan kepribadian si pemakainya…. ada yang suka perhiasan emas, emas putih, berlian. perak, giok atau bahkan tren cincin batu mungkin? 
  • Mengenakan pakaian yang indah-indah: era kekiniannya baju bermerek, baju yang lagi tren, baju yang digunakan ikon mode tertentu... pokoknya baju indah yang juga tak segan menguras kocekmu

Semua yang disebutkan diatas nampak amat berharga di mata manusia, bukan? 

Namun perhiasan macam apa yang berharga dimata Tuhan?
Perhiasan yang dinasehatkan oleh Alkitab adalah perhiasan yang tidak binasa, dari roh yang lemah lembut dan tentram, yang sangat berharga di mata Allah!

Orang yang memiliki roh lemah lembut , tentu perkataannya pun berbeda.
Inside out: yang terpancar di mulut mengalir dari hati. Dari hati terpancar ke mulut. 

Dalam penutup kitab Amsal pun, Salomo menulis tentang wanita yang bijak:

Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. 
--Amsal 31:26

Wanita yang berhias versi Alkitab adalah wanita yang memiliki kualitas roh yang lemah lembut. Perkataannya lembah lembut, membawa damai di telinga dan hati pendengarnya.

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. --Amsal 15:1

Adalagi nih ternyata bonus untuk orang yang lemah lembut:

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 
--Matius 5:5


So, mau berias ala Alkitab? Cantik yang berasal dari Tuhan dimana justru manusia batiniahnya yang cantik. Inside beauty yang tak lekang oleh waktu. Kalau cantik fisik ada expired date nya, tak demikian dengan cantik batin. Yuk makin sering berkaca pada Firman Tuhan!

Friday, October 13, 2017

Movie: Lorenzo’s Oil


by Yunie Sutanto

Sebuah film drama yang diproduksi Universal Pictures pada tahun 1992 berdasarkan kisah nyata. Ya, film yang berrdasarkan kisah nyata biasanya lebih hidup dan menggugah hati penontonnya. Film besutan sutradara George Miller ini menceritakan perjuangan Augusto dan Micahela Odone, ayah dan ibu Lorenzo Odone. Perjuangan kedua orangtuanya untuk menemukan kesembuhan bagi putra mereka. 

Tidak ada kata menyerah untuk orang tua Lorenzo yang anaknya didiagnosa menderita Adrenoleukodystrophy (ALD). Peluang hidup setelah divonis ALD hanyalah dua tahun.

Lorenzo yang terlahir tahun 1978, adalah anak lelaki cerdas yang fasih berbicara dalam tiga bahasa: Inggris, Perancis dan Italia. Namun ketika ia berusia lima tahun, sesuatu yang tak biasa terjadi. Lorenzo mengamuk tak terkendali di sekolahnya dan hal ini terjadi cukup sering. Lorenzo pun mengalami gangguan pendengaran dan koordinasi tubuh. Guru sekolahnya memanggil orangtua Lorenzo. 

Pemeriksaan pindai otak oleh ahli saraf Profesor Hugo Moser dari Johns Hopkins University di Baltimore mendiagnosis bocah itu terkena ALD. Penyakit kelainan genetik ini terjadi akibat asam lemak yang menumpuk di sel-sel saraf sehingga saraf tidak bisa mengirimkan pesan ke seluruh tubuh. 

Dari seorang bocah normal yang suka bermain, transformasi Lorenzo sungguh mengecilkan hati! Efek ALD pada tubuh Lorenzo begitu drastis!

Pada Januari 1985, Lorenzo sama sekali tidak bisa berbicara dan merespon apapun, penglihatannya telah rusak, ia bahkan tidak bisa menggerakkan jari, mulai mengompol, tidak bisa menelan! Lorenzo harus selalu dilengkapi dengan tabung nasogastik.

Walau terpukul dengan keadaan anaknya, namun tekad ayah dan ibunya untuk mencari pengobatan untuk anaknya tak padam... Jiwa pembelajar mereka terpecut! Mereka mulai mempelajari ilmu kedokteran, biokimia dan semua yang berkaitan dengan penyakit Lorenzo. 

Semangat untuk self-educating demi sang anak inilah salah satu kualitas yang patut di teladani dari orang tua Lorenzo. Terus belajar demi anak. Pantang menyerah. Semua yang bisa dilakukan demi sang anak, diupayakannya! 

Bahkan terlahirlah Myelin Project yang didirikan tahun 1989, sebuah organisasi nirlaba, sebagai salah satu upaya orang tua Lorenzo untuk terus melakukan riset dan penelitian mengenai ALD dan pengobatannya. Myelin Project juga melakukan pendampingan bagi keluarga dengan kasus ALD lainnya. 

Hasilnya?

Oleh anugerah Tuhan tentunya, Lorenzo hidup jauh melampaui prediksi para dokter, hingga usia 30 tahun! 

Walau ia dalam keadaan lumpuh dan hanya bisa makan melalui selang, namun ia bisa tetap hidup berkat kegigihan kedua orangtuanya memperjuangkan pengobatannya.

Minyak yang digunakan untuk mengobati pasien ALD akhirnya diberi nama Lorenzo’s oil. Berkat minyak ini, banyak keluarga tertolong dan ayah Lorenzo mendapat penghargaan gelar doktor kehormatan dari Universitas Stirling. 

Sang ibu malah meninggal lebih dulu dari Lorenzo, karena terkena kanker. 

Sebuah film yang menguras air mata namun mengajarkan kita untuk gigih dan berjuang. Tuhan punya rencana jika Ia mengijinkan hal yang tidak enak menimpa kita. Setiap kita punya panggilan hidup yang khusus, dan mungkin itu melalui anak yang Ia titipkan pada kita.

Berikut sebuah puisi karya ibu Lorenzo yang diambil menjadi lirik lagu oleh Phil Collins:

"Lorenzo"

Once upon a time I made a lion roar -
he was sleeping in the sunbeams on the old zoo floor.
I had gone to see the park where my papa used to play,
it's called Villa Borghese and it's on the way
to East Africa.

Down on Grand Comoro Island, where I grew past four,
I could swim and fish and snorkel on the ocean floor,
and the wind laughed, and the wind laughed through the trees as if to say,
here's a child who'll want the world to go his way
in East Africa, in East Africa.

Suddenly for me the world turned upside down -
far from my friends the lions and the dolphins came this awful sound.

Dark shadows, sounds of thunder raging over me,
came this monster called 'A-dre-no-leu-ko-dys-tro-phy'
Where's my East Africa?

Well they said, they said, they said (the ones who know it all)
they said from now on for you there will be no more standing tall,
so I took my parents' hands, I lifted my head to say
I'll just have to be a hero, there's no other way!
Back to East Africa
Back to East Africa
Back to East Africa
Come with me I'm going back, going back to East Africa. 


Terasa sekali gejolak emosi seorang ibu dari puisi ini. Buat para orangtua, film ini recommended banget deh!

Official trailer film Lorenzo’s Oil:


Link untuk membeli film ini: https://www.amazon.com/dp/B000IEXVB8

Wednesday, October 11, 2017

Belajar Berkata Maaf


by Grace Suryani 

Waks... Aneh banget sih, minta maaf aja kok perlu belajar. Yang natural aja deh ... mengalir aja deeehh. Toh yang penting udeh bilang, "Maaf". Selesai toh? 

Well, ini lah salah satu masalah dari bangsa kita. Kita ini bangsa 'pemaaf' tapi sangking 'pemaaf'nya, jadi tidak pernah belajar dari kesalahannya. Itulah sebabnya, permintaan maaf kita sering kali cuman jadi basa-basi semata-mata. En akhirnya, tidak ada luka yang benar-benar disembuhkan dan hubungan yang dibereskan. 

Ada beberapa hal yang perlu dipelajari ketika minta maaf.

1. Posisi ketika minta maaf :p 
Adik saya yang paling kecil, tuna runggu (tapi jangan salah dd gue ganteng loh!! :p kayak artis korea hahaha) Trus karena dia juga sudah mulai gede, pernah gue tanya ama dia, "Kamu nanti pengen punya istri orang normal atau orang tuna runggu?" 

Mulanya dia angkat bahu en ngga mau jawab. Tapi trus dia bilang kira-kira begini, "Kata temen-temen yang sudah menikah, kalo sama anak tuna runggu lebih enak. Karena kalo berantem kalo minta maaf, pasti tepuk bahunya baru bilang, 'Aku minta maaf ya'. Kalo sama orang normal ngga usah begitu." 

Guys, anak-anak tuna runggu di Indo biasanya belajar membaca bibir bukan pake bahasa isyarat. Jadinya kalo ngomong mesti berhadap-hadapan. en mereka harus saling menatap baru bisa ngerti, org satunya ngomong apa. Waktu kita ngobrol itu gue belon married. So gue ngga gitu ngerti apa hubungannya berhadap2an dengan minta maaf dengan pernikahan yang lebih baik!?!?! 

But setelah gue married, gue baru ngerti. Seringkali sebagai orang 'normal', gue ngga minta maap dengan proper. Alias cuman sambil lalu doank, sambil memalingkan muka, kadang sambil nyapu bilang, "Maap ya." Selesai! Gue dah minta maaf toh?!!? Toh Tepen bisa denger. Gue kan ngga perlu berhadap-hadapan. BUT THAT'S WRONG!!! Itu sama sekali ngga menyelesaikan masalah. 

Karena gue bisa banget bilang, "Maap ya" hanya untuk : 
1. Basa-basi 
2. Biar masalah cepet 'selesai'
3. Biar gue bisa ngelanjutin kerjaan gue yg tertunda. 

Untungnya biasanya permintaan maap seperti itu selalu DITOLAK sama Tepen :p Dia selalu mau, kalo kita bertengkar, kita duduk bersebalahan, liat-liatan, en baru ngomong masalahnya apa. 

You know what, ketika begitu, duduk sebelah-sebelahan en saling ngeliat, kalo akhirnya kata "Maap ya" keluar itu jauh lebih tulus en bener-bener dari hati. waktu itulah gue inget kata-kata Yahya, dd gue. Iya ya, bener. Kalo mau minta maaf mesti menyentuh dulu, mesti liat wajahnya dulu, ketika akhirnya kata maap itu keluar, itu bener-bener minta maap dan bukan sambil lalu. Coz ketika loe berhadapan muka dengan muka en loe masih sebel ama org itu, loe bakal susah banget untuk bilang, “Maap ya” 

2. Jangan hanya katakan, “MAAP YA” 
Kita berdua saat teduh dengan buku saat teduh utk pasangan. Yang menarik adalah ketika 1 hari yang dibahas adalah forgiveness. Penulis buku itu, David Ferguson menulis begini,
“I’ve discovered that saying ‘I was Wrong’ is much better than ‘I am sorry’. Saying the word wrong conveys more personal responsibility, remorse and repentance. The word confess means “to agree with God that what I’ve been doing is wrong.”
(Saya baru menemukan bahwa mengatakan, “Aku salah” lebih baik daripada “Maafkan aku”. Mengatakan kata “SALAH” artinya mengakui tanggung jawab pribadi, penyesalan dan pertobatan. Kata mengakui artinya setuju dengan Tuhan bahwa apa yang saya lakukan itu salah.) 
Wow... dalem kan. Selama ini kita cuman berhenti di kata, “Maap ya,” tapi kita ngga berani maju lebih lanjut dengan memikul tanggung jawab. “Gue salah.” Gue en Tepen malah biasanya dilanjutkan... “Maap, hun, aku salah. Tadi aku ngga semestinya bicara kasar sama kamu. Aku salah karena aku banting pintu. Aku salah karena aku ngga menghargai kamu.” 

Bilang begitu... BERAT BGT... tapi itu menyembuhkan. Itu menyembuhkan Tepen krn dia tau bahwa gue tau apa yang menyebabkan dia sedih. En itu menyembuhkan gue, krn gue jadi sadar di bagian mana gue salah!!

3. Selangkah lebih lanjut. Lanjutkan dengan. “Will you forgive me?” 
Setelah kita ngaku salah dan salahnya dimana , selanjutkan kita mestinya tanya, “Will you forgive me?” 

Masih dari buku yang sama,
Next, I must ask the question. “Will you forgive me?” this brings closure to the issue. The vulnerability is takes for me to ask this question demonstrates my humility and it also challenges Teresa with her decision to forgive.  
(selanjutnya, saya harus bertanya “Maukah kamu memaafkan aku?,” ini membawa penutupan pada masalah. )
En... gue susah menerjemahkan kalimat berikutnya hahaha. Pokoknya intinya, ketika kita mengatakan itu, itu membuat kita jadi keliatan ‘mudah diserang’ en itu menunjukkan kerendah hatian kita en sekaligus juga menantang Teresa untuk memaafkan. 

Ini mungkin kalimat yang HAMPIR TIDAK PERNAH KELUAR ketika kita minta maaf. :p Karena tanpa sadar kita berpikir, “Kalo gue dah minta maaf, maka loe HARUS memaafkan gue. Kan gue dah minta maaf. Loe mau apalagi?” 

But itu salah guys. Ketika kita berpikir begitu, kita juga ngga tulus... Kita harus merendahkan diri kita, mengakui bahwa kita salah, en memohon kesediaan orang yang kita sakiti untuk memaafkan kita. Itu baru bener-bener minta maap. 

BERAT?? Banget. Tapi itu menyembuhkan. Berkali-kali dalam konflik gue dan Tepen, ketika kita minta maaf dengan posisi yang tepat, mengakui kesalahan kita en selanjutnya memohon supaya Tepen memaafkan gue or vice versa, ketika akhirnya kita keluar, we’re done. Kita udeh selesai. Ngga ada lagi rasa amarah yang dipendam. Ngga ada lagi rasa sakit yang diungkit. 

Ini berat tapi itu menyembuhkan. Wanna try? 

(sumber: The One Year Devotions for Couples. David & Teresa Ferguson)

Monday, October 9, 2017

The Power of Gentle Tongue



by Leticia Seviraneta

“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” –Amsal 15:1 

Kata kelemahlembutan terdengar kurang menarik bagi sebagian dari kita. Dalam bahasa kita, kata ini sering diasosiasikan dengan sikap yang terlihat lemah dan lembut. Namun di dalam bahasa Inggris, kata yang dipakai adalah gentleness atau meekness. Dalam bahasa Yunani, digunakan kata praotes yang artinya strength in gentleness; keseimbangan antara power dengan pengendalian diri; strength under reserve; kemampuan untuk tidak bersikap kasar yang tidak membangun namun juga dapat bersikap tegas bila diperlukan. 

Kelemahlembutan dapat digambarkan sebagai kekuatan batin di dalam (inner strength), tidak terlihat namun memberi kestabilan dan ketenangan bagi yang memilikinya meski situasi di luar sedang tidak kondusif. Kita menunjukkan kualitas kelemahlembutan ketika kita sebenarnya mampu membalas, baik perkataan maupun perbuatan, namun kita mampu untuk menahan diri dan tidak melakukan pembalasan. Hal inilah yang memberikan gambaran bahwa kelemahlembutan sama sekali bukanlah atribut yang dimiliki oleh orang yang lemah, melainkan orang yang kuat, karena dibutuhkan kekuatan jauh lebih besar untuk tidak menggunakan power kita meski kita sangat mampu menggunakannya. 

Di artikel ini saya ingin mengupas lebih dalam lagi mengenai kelemahlembutan secara khusus di area perkataan. Kita sebagai wanita pada umumnya senang sekali berbicara. Namun kita seringkali melupakan bahwa di dalam perkataan kita baik dari pilihan kata, nada, dan waktu pengucapannya sangat penting karena memiliki dampak besar. 

“Kita semua sering membuat kesalahan. Tetapi orang yang tidak pernah membuat kesalahan dengan kata-katanya, ia orang yang sempurna, yang dapat menguasai seluruh dirinya.

Kalau kita memasang kekang pada mulut kuda supaya ia menuruti kemauan kita, maka kita dapat mengendalikan seluruh badan kuda itu. Ambillah juga kapal sebagai contoh. Meskipun kapal adalah sesuatu yang begitu besar dan dibawa oleh angin yang keras, namun ia dikendalikan oleh kemudi yang sangat kecil, menurut keinginan jurumudi. Begitu juga dengan lidah kita; meskipun lidah kita itu kecil, namun ia dapat menyombongkan diri tentang hal-hal yang besar-besar. Bayangkan betapa besarnya hutan dapat dibakar oleh api yang sangat kecil!” –Yak 3:2-5 

Yakobus memberikan gambaran betapa besarnya peranan lidah atau perkataan di dalam kehidupan kita. Terlebih lagi betapa besarnya berkat yang dapat kita berikan bagi orang lain, bila perkataan kita merupakan perkataan yang lemah lembut! Seberapa besarkah kekuatan sebuah perkataan yang lemah lembut? Dalam Amsal 15:1 Salomo menuliskan, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Dari ayat tersebut, jelas bahwa bila kita mampu berkata dengan lemah lembut, kita bagaikan air di tengah api yang membara. Kita dapat meredakan situasi yang memanas di saat orang lain mungkin sedang marah-marah. Kelemahlembutan memberikan seseorang kekuatan meski sedang diperlakukan tidak adil sekalipun. Orang yang lemah lembut tidak terpancing untuk membalas tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Apabila muncul saat yang tepat ketika ia perlu berbicara maka ia akan memikirkan kata-kata yang tepat terlebih dahulu disertai dengan nada yang baik agar tidak membuat lawan bicara menjadi semakin marah. 

“Kesabaran disertai kata-kata yang ramah dapat meyakinkan orang yang berkuasa, dan menghancurkan semua perlawanan.” – Ams 25:15 [BIS] 

Di dalam terjemahan bahasa Inggris dikatakan bahwa a gentle tongue breaks a bone. Hal ini mengandung makna bahwa perkataaan lemah lembut dapat mematahkan perlawanan sekeras apa pun. Ini merupakan sebuah kekuatan yang luar biasa! 

Apakah semua ini terdengar sulit untuk dilakukan bagi teman-teman? Lalu bagaimana cara agar tutur kata yang lemah lembut menjadi gaya hidup kita? 

1. Hidup di dalam pimpinan Roh Kudus 
Karena kelemahlembutan merupakan aspek dari buah Roh (Gal 5:23), maka kita tidak dapat menghasilkan kualitas tersebut di luar pimpinan Roh Kudus. 

“Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” – Gal 5:16 

Hidup dipimpin oleh Roh membutuhkan penundukan dan penyerahan segenap hidup kita untuk mau taat terhadap arahan Roh Kudus. Kita juga memerlukan kepekaan untuk mendengarkan suara-Nya dengan rajin berdiam diri dan bersekutu dengan Tuhan. Saya secara pribadi adalah orang yang lebih cepat berbicara dibandingkan berpikir. Jadi kemungkinan saya untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak tepat, di nada yang salah, serta di waktu yang salah sangat tinggi. Namun seiring dengan pertumbuhan saya, serta setelah mengalami beberapa konsekuensi dari kurangnya kelemahlembutan dalam bertutur kata, saya akhirnya belajar untuk berkata-kata sesuai dengan arahan Roh Kudus. Roh Kudus akan menuntun apa saja yang perlu dikatakan dan apa saja yang tidak perlu. Yang perlu kita lakukan adalah taat terhadap arahan-Nya. Bila Roh Kudus memberikan impresi untuk kita berhenti berbicara atau berkata dengan nada yang lembut, maka lakukanlah. Bila kita tidak mampu berbicara dengan lembut saat itu lebih baik kita diam dan mundur dari perbincangan tersebut. 

“Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.” – Amsal 17:14 

2. Latihan, latihan, latihan 
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah.” –Yak 1:19 

Latihlah untuk lebih berpikir sebelum bertutur kata. Apakah perkataanku ini membangun? Apakah perkataanku ini dapat kusampaikan dengan nada lembut? Apakah waktunya tepat untuk menyampaikannya? Bila salah satu dari pertanyaan tersebut jawabannya adalah tidak, maka perkataan tersebut tidak perlu diucapkan sama sekali. Tantangan berikutnya adalah ketika lawan bicara kita memancing amarah yang membuat kita sangat ingin membalas atau berbuat sesuatu untuk menunjukkan ia salah. Dalam situasi ini penting bagi kita untuk memiliki sudut pandang yang benar. Kita hendaknya berpikir bahwa kalah dalam argumentasi bukanlah berarti kita lemah ataupun payah. Kita harus berada di atas argumentasi tersebut, bukan terbawa arus olehnya. Justru hal ini menunjukkan benar-benar bahwa kita kuat. Untuk apa memenangkan perdebatan, namun pada akhirnya merusak hubungan itu sendiri? Di dalam hubungan dengan sesama tidak ada unsur kompetisi di mana ada menang maupun kalah. Di dalam Tuhan, hubungan harus bersumber dari satu hal saja: kasih. Tidak ada menang atau pun kalah di dalam kasih. Yang ada hanyalah hubungan ini penuh kasih atau tidak ada kasih di dalamnya. 

“Perintah baru Kuberikan kepadamu: Kasihilah satu sama lain. Sama seperti Aku mengasihi kalian, begitu juga kalian harus saling mengasihi. Kalau kalian saling mengasihi, semua orang akan tahu bahwa kalian pengikut-pengikut-Ku.” –Yoh 13:34-35 [BIS] 

Biarlah tutur kata yang lemah lembut menjadi gaya hidup kita agar orang-orang mengenali kasih yang ada di dalam setiap hubungan yang kita bina dan pada akhirnya membawa mereka ke dalam pengenalan akan Yesus Kristus. 

Friday, October 6, 2017

Lemah Lembut pada Suami


by Alphaomega Pulcherima Rambang


Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. (Amsal 15:1 (TB))


Pernahkah bertengkar karena perkataan?

Aku pernah. Sering.

Biasanya ini TKP-nya di rumah.

Sasarannya? Suamiku.


Semula aku mengira ini terjadi karena isi perkataanku, tapi kupikir-pikir ga ada tuh isi omonganku yang perkataan kotor (sampai perlu disensor). Penyebabnya nggak cuma itu. Lalu aku me-review, memutar ulang pertengkaran kami dan AHA!!! Aku menemukan jawabannya. Masalahnya ada di aku. Nada suaraku terkadang meninggi. Aku membantah pak suami karena menganggap diriku yang paling benar. Sewaktu aku kesal dengan suamiku, aku nggak bisa mengendalikan lidahku. Kalau nggak diam (baca: ngambek), aku berkata ketus. Bukan yang pakai teriak sampai terdengar tetangga sih, tapi nada bicaraku nggak menyenangkan. Kasar. Nah, masalahnya adalah nggak ada orang yang senang mendengarkan orang berkata-kata kasar padanya, bahkan orang yang kasar sekalipun. Ibaratnya api disiram bensin makin besar, maka jawaban yang pedas membuat masalah semakin besar. 

Bagaimana caranya bersikap lemah lembut terhadap suami? 
1. Lebih banyak mendengar dibanding berbicara
Berlambatlah berkata-kata dan banyak mendengar supaya kita bisa mengerti apa isi hati suami yang sesungguhnya. Terkadang kita nggak mengerti karena nggak mau mendengarkan lalu respon kita jadi salah. Padahal kalau kita mau mendengarkan dengan baik, kita akan mengerti isi hati suami yang sesungguhnya dan nggak mengasumsikan yang negatif. Nah, kalau suami ngomong satu kalimat dan kita menyambar balas puluhan kalimat, kira-kira apa yang terjadi? Apakah suasana mendingin atau memanas? Lebih baik diam jika kita tidak punya hal baik untuk diucapkan. 

2. Perhatikan isi perkataan kita
Sebelum berbicara... THINK:

T = is it True? (apakah yang kubicarakan ini benar?)

H = is it Helpful? (apakah yang kubicarakan ini menolong?)

I = is it Inspiring? (apakah yang kubicarakan ini menginspirasi?)

N = is it Necessary? (apakah yang kubicarakan ini penting?)

K = is it Kind? (apakah yang kubicarakan ini baik?)

Kalau memang kita pikir itu bukan hal yang benar, atau nggak menolong, atau nggak menginspirasi, atau nggak penting, atau hal yang nggak baik... lebih baik nggak usah kita katakan.

Suatu kali aku kesal karena suamiku menghabiskan waktu weekend-nya bukan dengan kami tapi malah memasang parabola kami. Begitu ada masalah, aku berkomentar, ”Tuh kan, nggak bisaaaa... Coba suruh orang saja, bayar sedikit. Pasti nggak kayak gini.” Bisa diduga kan, akibatnya? Kami bertengkar karena aku nggak berhati-hati dengan ucapanku. Kalau dipikir sekarang aku merasa tolol, apa coba aku berkomentar seperti itu? Nggak ada gunanya, nggak membantu mempercepat pekerjaannya, eh membuat kesal iya. 

3. Perhatikan sikap dan nada kita saat berbicara 
Terkadang kita nggak sadar kalau bahasa tubuh, nada suara dan sikap kita saat berbicara itu kasar. Kendalikan diri. Kita harus punya kontrol atas segala tindakan kita. Terkadang tanpa sadar kita memalingkan muka saat suami berbicara, menaruh barang dengan kasar, membanting pintu karena kesal, dll. Ini memancing pertengkaran. Begitu juga dengan nada suara kita, kita harus tenang supaya nada bicara kita nggak meninggi. Suami tahu looo... kalau kita mulai menaikkan nada bicara kita. Tetaplah menghormati suami dan bersikap lembut padanya.

Kalau dengan orang lain kita bisa berlemah lembut, kenapa tidak pada suami? ^^V

Wednesday, October 4, 2017

Kelemahlembutan: Belajar dari Musa (2)


by Alphaomega Pulcherima Rambang

Musa juga pernah gagal menaati Allah. Ketidaktaatan Musa terjadi saat bangsa Israel kehausan di padang gurun dan bersungut-sungut meminta air kepada Musa dan Harun. Ketika Musa dan Harun melaporkan sungut-sungut bangsa Israel kepada Tuhan, Tuhan memerintahkan Musa untuk berbicara kepada sebuah bukit batu agar mengeluarkan air, sehingga bangsa Israel bisa minum. Namun, Musa tidak melakukan tepat seperti yang diperintahkan oleh Tuhan. Kisah lengkapnya bisa kita baca di Bilangan 20:2-13. 

Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." (Bilangan 20:13)

Di mata Tuhan, kesalahan Musa bukanlah kesalahan yang kecil atau sepele, tetapi sudah termasuk pada dosa pemberontakan. Akibatnya pun fatal: Musa tidak dapat masuk ke tanah perjanjian. Apakah saat itu Musa protes? Nggak! Musa menerima saja hukuman Tuhan. Bayangkan, selama puluhan tahun Musa bersabar memimpin umat Israel dan nggak melakukan kesalahan; namun karena satu kesalahan maka dia menerima hukuman seberat itu. Respon Musa luar biasa, dia menerima saja dan sesudahnya nggak merasakan kepahitan kepada Tuhan, dia tetap taat.

Ada kan ya, orang yang melakukan kesalahan dan ditegur Tuhan malah marah dan kepahitan sama Tuhan, lalu menolak Tuhan. Tapi berbeda dengan Musa. Dia menerima keputusan Tuhan, apapun itu, sebagai konsekuensi atas kesalahannya.

Allah dapat berbicara dengan mudah pada orang yang lembut, karena orang itu mau mendengarkan. Orang yang lembut hatinya lebih mudah untuk taat. Dia mudah ditegur, karena dia mau meresponi apa yang Allah katakan dengan hati yang terbuka. Semua orang bisa berbuat salah, tapi pada orang yang lembut, dia lebih cepat untuk berbalik dari kesalahannya. Hati yang lembut dan gampang dibentuk oleh Allah, bukan hati yang keras dan susah dibentuk. Hati yang lembut saat dia ditegur Allah akan segera taat ^_^ Ada lo, orang yang berbicara lembut tetapi hatinya keras! Kelihatannya dia tenang dan berbicara dengan lemah lembut, tapi hatinya menolak dengan keras—bahkan tanpa mempertimbangkan dan memikirkan—apa yang coba disampaikan orang kepadanya. Ciri-ciri orang yang lembut hatinya yang terakhir adalah ia MAU DIAJAR DAN DIBENTUK oleh ALLAH.

Bagaimana dengan kita? :)

Monday, October 2, 2017

Kelemahlembutan: Belajar dari Musa (1)


by Alphaomega Pulcherima Rambang


Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi." (Bilangan 12:3)


Mungkin sulit ya, untuk membayangkan Musa sebagai orang yang lembut. Dia adalah orang yang memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Kita tahu betapa tegar tengkuknya bangsa ini, kan? Bagaimana mungkin Musa yang lembut bisa memimpin mereka? Sosok lemah lembut yang aku bayangkan adalah sosok yang kalau bicara pelan, ramah, isi perkataannya bukan kebun binatang, nggak tegas gitu lah pokoknya. Baru akhir-akhir ini aku menyadari kalau yang dimaksud lemah lembut di sini bukan sekadar tampilan luar, bukan tentang sekadar bagaimana dia berbicara atau kata-kata yang diucapkan. Bukan itu!! Yang dibicarakan adalah mengenai sikap hati yang lembut. 

Alkitab mengatakan kalau Musa adalah orang yang paling lembut hatinya di bumi. Ayat ini terletak di dalam perikop yang berkisah tentang pemberontakan Miryam dan Harun. Inti dari kelembutan Musa disimpulkan melalui kisah pada perikop ini. Pada saat itu, kedua kakak Musa ini ingin menjatuhkannya karena iri dengan kepemimpinannya. Apa yang dilakukan Musa? Musa hanya diam dan Allah turun tangan membelanya. Bahkan Allah menghukum Miryam dengan penyakit kusta. Mungkin kalau kita berada di posisi Musa segera saja kita akan bersorak-sorai, merasa menang karena Allah turun tangan langsung membela kita. Tapi tidak demikian dengan Musa, dia malah memohon pengampunan kepada Allah untuk Miryam. Jadi, salah satu ciri orang yang lembut hatinya adalah TIDAK MENDENDAM DAN MAU MEMAAFKAN. 

Kalau kita membaca lagi kisah Musa maka kita akan melihat contoh lain bagaimana dia memang berhati lembut. 

Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: "Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? (Keluaran 32:11)

Musa benar-benar punya hati yang lemah lembut. Dia tetap mau membela bangsanya di hadapan Tuhan, padahal kelakuan mereka parah abis. Coba pikirkan, berapa kali mereka menyalahkan Musa untuk semua hal yang mereka alami? Nggak sehari dua hari lo, puluhan tahun! Musa memimpin sebuah bangsa yang kelakuannya sangat buruk: keras kepala, nggak tahu berterima kasih, ahli bersungut-sungut, suka mengeluh, nggak pernah puas, dan selalu menentang Tuhan. Kalau kita di posisi Musa, entah berapa hari kita bisa bertahan. Tapi dia tetap taat. Dia sanggup mengendalikan emosinya dan terus mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan untuk ia perbuat. Setiap saat bangsa Israel menentangnya, Musa nggak mau bertengkar. Justru dia mempersilakan Tuhan yang menjawab bangsa Israel melalui dirinya. Ciri-ciri kedua orang yang lembut hatinya adalah TIDAK SUKA BERTENGKAR. 

Bagaimana jika kita berada dalam situasi seperti yang Musa alami? Apakah kita akan berlari pada Tuhan dan membiarkan Tuhan yang turun tangan, sibuk bertengkar dan berusaha membela diri, atau marah-marah dan mengutuki mereka yang berseberangan dengan kita?