Monday, November 30, 2020

Belajar dari Silsilah Kristus



by Alphaomega Pulcherima Rambang

Bacaan : Matius 1 :1-17 ; Lukas 3:23-38

Saat kita membaca silsilah Yesus Kristus pada kedua bacaan tersebut, kita bisa melihat deretan nama. Beberapa di antaranya adalah nama-nama yang banyak dikenal orang, beberapa lainnya tidak banyak dikenal dan dibahas, bahkan ada nama-nama yang baru saja kita dengar. Kenapa ya, nama-nama itu disebutkan di dalam Alkitab? Seberapa pentingkah nama-nama tersebut? Awalnya sewaktu kita membaca deretan nama-nama ini, kita tidak mengerti mengapa nama-nama ini disebutkan dan tidak menyadari bahwa ada dua fakta menarik ketika kita mencermati deretan nama-nama ini :

1. Ada empat nama perempuan yang tercatat dan disebut di dalam Silsilah Kristus selain Maria

(A) TAMAR : Kisah seorang wanita bernama Tamar ini sungguh menyedihkan, setelah menjadi janda dua kali, diberikan janji palsu oleh sang mertua, tidur dengan mertuanya, dituduh dan dianggap sebagai pelacur oleh orang-orang sekitar hingga akhirnya harus menikah dengan mertuanya dan mengandung dua anak kembar bagi Yehuda.

(B) RAHAB : Rahab adalah seorang wanita Kanaan. Mantan perempuan sundal ini tinggal di atas tembok kota Yerikho dan ketika pengintai Israel dikejar untuk dibunuh, Rahab membantu menyembunyikan mereka dan menolong pengintai Israel keluar dari Yerikho dengan selamat.

(C) RUT : seorang wanita Moab yang menikah dengan seorang Israel dan ditinggal mati oleh suaminya – menjadi janda dan memilih untuk mengikuti mertuanya ke negeri mertuanya, bertemu Boas dan akhirnya menikah dengannya. 

(D) ISTRI URIA : Sekalipun Namanya tidak disebut, kita semua tahu nama dari wanita yang berselingkuh dengan Daud saat masih menjadi istri Uria, suaminya "dibunuh" oleh Daud dengan cara dikirim ke medan perang, menikah dengan Daud lalu anaknya meninggal, hingga melahirkan Salomo. 

Para wanita ini telah mengalami berbagai kepahitan dalam hidupnya, ada yang bahkan hidup dalam dosa, tapi sungguh Allah turut bekerja dalam hidup mereka dan mendatangkan kebaikan dalam hidup mereka. Bukan secara kebetulan kalau dua dari empat nama tersebut bahkan bukan orang Israel, ada suatu pesan khusus tersirat dalam silsilah tersebut yang memperlihatkan bahwa Tuhan menerima bangsa-bangsa non-Israel dalam rencana keselamatan. Siapapun dapat menjadi bagian dari rencana keselamatan dalam Kristus Yesus.

2. Daud adalah Nenek Moyang Yusuf dan Maria

Jika kita membaca dan mencermati silsilah Kristus di Matius dan Lukas secara seksama maka kita akan menemukan bahwa silsilah Yesus yang ditulis dalam Injil Lukas adalah dari garis keturunan Maria (ibu Yesus) dan silsilah Yesus yang ditulis dalam Injil Matius adalah dari garis keturunan Yusuf (ayah Yesus). Menarik ya? Mungkin tidak terlintas di pikiran Daud atau Raja-raja dahulu kalau mereka punya istri lebih dari satu untuk menjaga garis keturunan mereka tetap ada. Apapun alasan mereka, punya istri lebih dari 1 sebenarnya hal yang tidak diinginkan Tuhan. Nah, menariknya dari kisah ini, kita dapat melihat dari sisi luar biasanya Tuhan bahwa Dia Allah yang sanggup mendatangkan kebaikan, bahkan dari kelalaian manusia. Dari banyaknya keturunan Daud (karena dia punya banyak isteri) itulah muncul Yusuf dan Maria. Dan terjadilah ini :

Yusuf berasal dari garis keturunan Yekhonya (anak Yosia). Bisa dilihat di Matius 1. Secara resmi menurut hukum Yahudi, Yesus tercatat sebagai anak Yusuf seperti yang tercatat di Matius 1. Nah, yang menarik lagi, secara biologis di Lukas 3 ada silsilah Yesus yang ditarik dari garis keturunan Maria. Daud juga ternyata nenek moyang dari Maria, tapi dari anak Daud yang bernama Natan. Silsilah di Lukas 3 menyebut nama pria saja sih, tapi silsilah Maria dapat terlihat di situ.

Sungguh dahsyat rancanganNya. Dia sanggup datangkan kebaikan dari kelalaian, keputusan yang salah, bahkan dosa! Tapi ingat, jangan sampai kita menjadi asal dan menganggap remeh kemurahanNya itu, kita harus tetap taat dan turut serta dalam rencanaNya. Sekalipun di masa lalu dan bahkan sampai sekarang kita masih jatuh bangun dalam dosa dan masih berjuang untuk taat sama Tuhan, saat melihat ke belakang, dan melihat apa yang sudah Tuhan lakukan untuk kita ternyata segala luka, kepahitan, bahkan dosa dapat dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebaikan, Tuhan sungguh penuh kasih karunia. Kita perlu bersyukur buat segala yang telah terjadi di masa lalu dan mulai memakai ‘masa sekarang’ untuk hidup sungguh-sungguh mendengarkan Tuhan dan taat pada perintahNya. Siapa yang tahu dengan apa yang terjadi di masa depan, siapa tahu Tuhan berkenan memakai anak, atau cucu dari cucu kita untuk menjadi berkat buat bangsa-bangsa. 

Dari nama-nama tersebut, ada beberapa dimana Alkitab menceritakan sejarah kehidupannya, ada pula yang sama sekali tidak diceritakan. Sekalipun kita tidak tahu kehidupan mereka, apakah hidup mereka berkenan di hadapan Allah, tapi Allah sanggup memakai siapa saja. Dari sini, kita dapat belajar untuk :


// HIDUP BENAR SEKALIPUN ORANG TIDAK MEMPERHATIKAN

Ada beberapa nama di dua silsilah Kristus tersebut yang tidak kita ketahui kehidupannya. Tetapi mereka dipilih Tuhan menjadi nenek moyang Kristus. Mungkin kita tidak akan mendapatkan pujian atau perhatian dari manusia ketika kita hidup benar dan berkenan di hadapan Allah, tapi semua itu tidaklah penting ketika kita mendapatkan perhatian dari Allah. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa mendatang, kita juga tidak tahu jika apa yang kita lakukan dapat menjadi berkat untuk orang lain, jadi jangan berhenti untuk melakukan apa yang benar karena Allah melihat dan memperhatikan.


// BERSYUKUR UNTUK SETIAP KESEMPATAN DIPAKAI TUHAN

Bukan kita yang memilih, melainkan Allah yang memilih kita untuk turut serta dalam rencana besarNya. RencanaNya bukan hanya untuk kebaikan kita tetapi juga untuk menjadikan kita berkat bagi orang banyak. Karena itu, kita harus bersyukur untuk setiap kesempatan yang kita terima untuk menjadi berkat bagi orang banyak. 


// MENDIDIK ANAK HIDUP DALAM KEBENARAN DAN PENGENALAN AKAN TUHAN

Anak adalah karunia yang Tuhan berikan untuk setiap orang tua, anak adalah titipan Tuhan sehingga kita harus menjaga dan mendidiknya tumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, Bapa mereka di Sorga. Tanggung jawab ini bukanlah tanggung jawab yang mudah, orang tua harus menyadari bahwa Tuhan akan meminta pertanggung jawaban untuk anak yang telah dititipkan. Mari kita pastikan anak-anak yang Tuhan berikan untuk kita tumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan menjadi pribadi dewasa yang taat dan setia. 

Monday, November 23, 2020

God’s Love Language




by Leticia Seviraneta

Gary Chapman, penulis buku “The 5 Love Languages”, menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki bahasa kasih—cara yang menunjukkan bagaimana seseorang merasakan bahwa dia dikasihi. Bahasa kasih dari buku Gary Chapman ini digolongkan menjadi lima jenis: kata-kata yang membangun, menghabiskan waktu berkualitas bersama, memberikan hadiah, melayani, dan sentuhan fisik. Pada umumnya, setiap orang memiliki satu atau dua bahasa kasih yang menonjol dari antara lima jenis bahasa kasih ini, dimana orang tersebut akan merasa paling dikasihi. Misalnya, seorang yang memiliki bahasa kasih kata-kata yang membangun, orang tersebut akan sangat bahagia dan merasa bahwa dia disayang/dikasihi ketika dia mendengar kata-kata-kata yang membangun yang ditujukan pada dirinya atau jika bahasa kasih seseorang adalah sentuhan fisik, maka orang tersebut akan sangat bahagia dan merasa dikasihi saat orang-orang yang dikasihinya memberikan sentuhan fisik. Tetapi, apabila sentuhan fisik bukan merupakan bahasa kasih seseorang, maka sentuhan tidak akan membuatnya bahagia, mungkin akan membuat orang tersebut tidak nyaman dengan sebuah sentuhan. Manfaat memahami bahasa kasih seseorang adalah agar kita dapat mengasihi orang lain dengan lebih efektif dengan mempraktikkan bahasa kasih utama yang dimiliki orang tersebut.

Seperti dengan manusia, Tuhan kita juga memiliki bahasa kasih, loh!

Ah, masa’ sih?

Kira-kira apa yang membuat Tuhan merasa dikasihi oleh kita sebagai ciptaan-Nya?

Tapi dengan membahas bahasa kasih Tuhan, bukan berarti kita menganggap Tuhan “butuh” kasih atau seolah-olah kekurangan kasih. Tuhan tidak pernah kekurangan kasih karena Tuhan adalah kasih dan sumber kasih itu sendiri.

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
(1 Yohanes 4:7-10)

Sebagai subyek penerima kasih Tuhan yang begitu besar, maka respon kita seharusnya adalah mengucap syukur dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati karena sesungguhnya kita tidak layak untuk dikasihi tetapi dilayakkan untuk menerimanya. Bahasa kasih Tuhan bukanlah kata-kata yang membangun, menghabiskan waktu berkualitas bersama, memberikan hadiah, melayani, ataupun sentuhan fisik seperti yang dibahas oleh Gary Chapman. Lah? Terus apa ya yang membuat Tuhan merasa dikasihi?

Ada beberapa bagian Alkitab dimana Yesus memberitahukan bagaimana cara kita mengasihi Tuhan dan menyenangkan hati-Nya:

1. KETAATAN (OBEDIENCE)

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”
(Yohanes 14:15)

Yesus langsung memberitahukan bagaimana cara mengasihi Tuhan dan menyenangkan hati-Nya yaitu bila kita menaati segala perintah-Nya. Eh, tunggu dulu! Semua perintah-Nya? Bukan beberapa perintah-Nya saja? Dengan kata lain, jika kita tidak menaati semua perintah-Nya, kita tidak sedang mengasihi Tuhan! Oh no!! Tapi jangan takut! Tuhan tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna, termasuk kita. Hah? Terus bagaimana, dong? Apakah kita tidak bisa mengasihi Tuhan? Tentu bisa, jika kita mengandalkan Tuhan karena kita tidak sempurna dan tidak layak tetapi disempurnakan dan dilayakkan. Ketaatan pada semua perintahNya dapat terwujud ketika kita terhubung dengan Tuhan sebagai sumber kasih. Ketika kita fokus pada kasih-Nya yang begitu besar bagi kita, mengucap syukur atasnya, maka ketaatan bukanlah sebuah beban berat atau kewajiban yang dipaksakan melainkan kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan. Kuncinya di sini bukanlah perbuatan (doing) yang bisa kita lakukan, melainkan menjadi (being) subyek yang menerima kasih Tuhan. 


2. PERCAYA (TRUST)

“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Tuhan. Sebab barangsiapa berpaling kepada Tuhan , ia harus percaya bahwa Tuhan ada, dan bahwa Tuhan memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
(Ibrani 11:6)

Dalam terjemahan bahasa Inggris, ayat ini berbunyi, “And without faith it is impossible to please God…” Tidak mungkin menyenangkan Tuhan tanpa iman. Seperti seorang ayah akan disenangkan ketika anaknya memiliki kepercayaan penuh kepadanya, begitu juga dengan Bapa kita di Sorga. Ketika kita percaya sepenuhnya kepada Tuhan, kita tidak akan meragukan setiap rencana dan keputusan-Nya untuk kita.

Yesus melakukan banyak mujizat dan mengajarkan orang banyak dengan satu tujuan yaitu agar setiap orang yang melihat dan mendengar-Nya menjadi percaya kepada-Nya dan menerima keselamatan yang kekal. Di masa-masa akhir ini, banyak unbelieving believers. Hm, siapakah mereka? Mereka adalah orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi, beribadah di gereja secara rutin, namun dalam kesehariannya tidak percaya bahwa Tuhan berkuasa dan berdaulat di hidupnya. Mereka lebih percaya kepada uang, kekuatan sendiri, koneksi, dukungan orang tertentu, dsb. Nah, apakah kita termasuk orang-orang yang disebut unbelieving believers ini? Apakah kita termasuk pribadi yang memiliki banyak kekhawatiran akan hidup dan masa depan kita? Mari kita koreksi diri kita dan mulai belajar untuk menyerahkan segala kekhawatiran tersebut dan mempercayakan kekhawatiran kita kepada Tuhan. Jangan ragu! Memang kadang-kadang tidak mudah dan terkesan klise, tapi percayalah dan lihatlah bagaimana Tuhan akan bekerja untuk mendatangkan kebaikan untukmu.

Ada hal menarik yang ditemukan di dalam Injil Yohanes: kata “percaya” tercatat sebanyak 90 kali dimana, semua dalam bentuk kata kerja, bukan kata benda (dalam bentuk kata iman (faith)). Kata percaya (believe) berada dalam tata bahasa (tense) Yunani yang memiliki arti literal “percaya secara berkelanjutan” atau believe and keep on believing. Karena itu, dapat dimengerti bahwa percaya kepada Tuhan bukanlah bersifat eventual atau satu waktu saja, melainkan proses percaya secara terus-menerus kepada-Nya sepanjang hidup kita.

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
(Amsal 3:5-6)


3. PEDULI TERHADAP GEREJA-NYA (TAKE CARE OF HIS SHEEP)

“Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
(Yohanes 21:15-17)

Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali apakah ia mengasihi Yesus, dan Petrus menjawab tiga kali juga bahwa ia mengasihi-Nya. Lalu Yesus menjawab kembali: gembalakanlah domba-domba-Ku sebanyak tiga kali. Dalam terjemahan bahasa Inggris, Yesus menjawabnya, “Feed my lambs, take care of my sheep, feed my sheep.”

Dari perkataan ini, kita bisa mengerti bahwa hati Tuhan disenangkan ketika kita mengasihi gereja-Nya—yang merupakan tubuh Kristus. Sadarkah kita bahwa Tuhan mengasihi gereja-Nya? Gereja yang bukan dalam arti sebuah gedung melainkan sekumpulan orang-orang percaya yang telah ditebus oleh darah-Nya. Tuhan dan gereja-Nya merupakan satu tubuh yang tidak terpisahkan. Kita tidak dapat mengasihi Tuhan, tanpa mengasihi gereja-Nya (1 Kor 12:12-27). Yesus dengan tegas berkata, “Love Me, love My church.” Itulah mengapa ketika kita peduli terhadap kesusahan teman seiman kita, ketika kita melayani di gereja karena rindu untuk saling menguatkan dan membangun satu sama lain, kita telah mengasihi Tuhan dan menyenangkan hati-Nya. 

Terkadang kita salah dalam menyampaikan kasih kita kepada Tuhan. Kadang kita memperlakukan hubungan kita dengan Tuhan seperti daftar “do’s and don’ts.” Atau kita mencoba mengasihi Tuhan dengan kekuatan kita sendiri dengan menjadi orang yang sibuk melayani di gereja tanpa dilandasi sikap hati yang tepat. Mengasihi Tuhan sebenarnya tidak serumit yang kita bayangkan. Dengan senantiasa taat, percaya, dan peduli kepada gereja-Nya, kita sudah meresponi kasih Tuhan dengan bahasa kasih-Nya. Selamat mencoba!

Monday, November 16, 2020

Akankah Memilih Pergi?




by Mekar A. Pradipta

Dalam pelayanan-Nya di dunia, Yesus menarik perhatian banyak orang. Beberapa menyebut diri murid Yesus, sedangkan yang lain hanya sekedar pengikut. Namun, berjalan bersama Yesus bukanlah perkara mudah. Tidak semua orang dapat bertahan hingga akhir.

Yohanes 6:60-66 mencatat murid-murid Yesus yang beralih kecewa dan meninggalkan Dia. Kalau kita dalami, kenapa mereka berhenti mengikut Yesus? 

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?; Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.
(Yohanes 6:60, 66)

Ternyata, murid-murid yang pergi ini kecewa dengan pengajaran Yesus yang menurut mereka terlalu keras. Jika membaca perikop sebelumnya, kita akan menemukan alasan mengapa sebagian murid-murid Yesus memilih meninggalkan-Nya: pengajaran tentang siapa Yesus sesungguhnya, tentang kehendak Allah, dan tentang keselamatan.

Bukankah itu pengajaran yang indah? Lalu kenapa murid-murid itu pergi? Jawabannya bisa kita temukan pada ayat-ayat sebelumnya,

Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.
(Yohanes 6:2)

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”
(Yohanes 6:26)

Orang banyak—termasuk para murid Yesus—tertarik pada-Nya karena mujizat dan berkat jasmani yang sanggup Dia sediakan. Namun ketika Allah mengalihkan fokus mereka, memerintahkan mereka agar “bekerja, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa”, untuk percaya kepada Yesus, Sang Roti Hidup dan Juru Selamat yang diutus Allah, mereka tidak sanggup mendengarnya.

Peristiwa ini mengajak kita memeriksa diri kita: mengapa kita mengikut Yesus?

Orang-orang yang mengikut Yesus hanya karena mencari berkat akan kecewa karena Yesus justru menyuruh untuk memikul salib dan menyangkal diri. Mereka yang mengikut Yesus karena kenyamanan hidup akan kecewa karena Yesus justru menyatakan bahwa murid-murid-Nya akan dibenci semua orang karena nama-Nya.

Jika semua alasan menyenangkan untuk mengikut Yesus sudah lenyap, akankah kita bertahan? Jika tak ada lagi mujizat, atau roti melimpah-limpah, akankah kita bertahan? Jika khotbah yang kita dengar di gereja tak lagi soal berkat, berkat dan berkat, tapi justru menekankan pikul salib, sangkal diri, dan ikut Yesus, akankah kita tetap bertahan?

Menurut Ibrani 15:12-14, mereka yang tidak bisa menerima makanan keras, pengajaran tentang asas-asas pokok dari penyataan Allah, adalah bayi-bayi rohani. Bayi-bayi rohani ini masih memerlukan susu, makanan yang cita rasanya sesuai kemauan mereka dan mudah dicerna. Tetapi makanan keras adalah untuk orang dewasa, kadang lauknya bisa saja tidak sesuai selera, tapi orang dewasa akan tetap memakannya karena tahu makanan itu baik untuknya.

Yesus tidak memanggil kita untuk memberi hidup yang selalu seperti yang kita mau, tapi Dia memanggil kita untuk mengerjakan apa yang dikehendaki-Nya. Yesus memanggil murid-murid-Nya dengan perkataan, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Ya, Dia memanggil untuk sebuah tujuan yang mulia, meskipun dalam perjalanannya kita sering harus terseok-seok. Namun Yesus juga memerintahkan agar kita mengejar kesempurnaan seperti Bapa, bukan sekedar mengejar berkat-berkat-Nya. Semua itu hanya bisa tercapai ketika kita menyadari bahwa kita tidak akan bisa mengikuti-Nya dengan kekuatan sendiri; kita membutuhkan Yesus sebagai sumber kekuatan dalam menghidupi panggilan sebagai orang percaya. Dari Dialah, kita dimampukan untuk menuju kesempurnaan seperti ayat di bawah ini:


“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
(Matius 5:48)

Apakah saat ini ada di antara kita yang sedang kecewa kepada Tuhan hingga rasanya ingin meninggalkan Dia? Jika ada, mungkin ini saatnya kita belajar menjadi orang Kristen yang dewasa, yang dengan rela hati memakan makanan keras yaitu pengajaran yang, meskipun tidak nyaman di telinga, namun penting untuk pertumbuhan rohani kita.

Semoga kita semua, yang mengaku sebagai murid-murid Kristus, bisa menjadi seperti Petrus yang ketika Yesus bertanya,"Apakah kamu tidak mau pergi juga?" maka dia menjawab, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (Yohanes 6:67-68)

Monday, November 9, 2020

Harga sebuah Panggilan




by Eunike Santosa 

*Artikel Edisi Khusus Pearl ©2016

“Jadi orang Kristen itu enak, yah. Tuhan mereka baik banget. Selalu kasih berkat materi, pemulihan, kesembuhan, dan sebagainya... Kelihatannya ga punya masalah dan selalu bahagia.”

Benarkah begitu? Ehmm... sepertinya ada yang kurang tepat. Hayo, di bagian mananya? Jawabannya adalah adanya konsep yang salah mengenai pengikut Kristus yang hanya berfokus pada tujuan untuk mendapatkan hidup lebih baik (khususnya mengenai berkat secara fisik dan materi) dan itu dibenarkan. Tidak sedikit yang memberitahu—bahkan memromosikan—bahwa mengikut Tuhan itu enak: masalah berkurang/cepat selesai, selalu senang, diberkati, tapiiii... “Kalau kamu nggak mengalami semua hal itu, mungkin kamu melakukan suatu kesalahan besar pada Tuhan. Atau mungkin kamu nggak beriman sama Dia dengan sungguh-sungguh.”

Waduh, apakah ini hal yang benar? Kita bisa menemukan jawabannya melalui perjalanan iman kita: apakah selama ini nyaman, adem-ayem aja? Well, kalau mau jujur, nggak selamanya hidup kita baik-baik aja, kan? Lalu, apa arti menjadi pengikut Kristus yang sebenarnya? Coba perhatikan ayat berikut:

LALU YESUS BERKATA KEPADA MURID-MURIDNYA, “JIKA SESEORANG MAU MENGIKUT AKU, IA HARUS MENYANGKAL DIRINYA, MEMIKUL SALIBNYA DAN MENGIKUT AKU.”
(MATIUS 16:24)

Apa yang Yesus katakan kepada murid-muridnya adalah sebuah “syarat” bagi seseorang yang ingin mengikuti Kristus (alias menjadi orang Kristen). Ada beberapa langkah yang harus orang tersebut ambil. Apa itu? Mari kita bahas satu per satu. :)

1. MENYANGKAL DIRI 

Menurut KBBI, menyangkal artinya “membantah, mengingkari, tidak mau menuruti”. Tambahkan dengan kata ‘diri’, maka frasa tersebut berarti membantah diri sendiri. Artinya, kita tidak lagi menjadi tuan atas diri kita sendiri. Ketika kita mengikuti Kristus, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah meninggalkan “ke-AKU-an”, keinginan daging duniawi, dan ego kita. Tidak ada negosiasi, nett price, udah harga mati.

Menjadi Kristen berarti menjadikan Kristus sebagai Tuhan dan Tuan atas hidup kita. Dari situ kita seharusnya bisa menyadari bahwa hidup kita bukanlah milik kita lagi, tapi sudah menjadi kepunyaan Tuhan. Sebelum jadi orang Kristen (atau masih Kristen KTP), hidup itu seolah-olah masih bisa kita kendalikan sesuka hati. Tapi setelah menerima Kristus secara pribadi dan memiliki identitas baru sebagai orang Kristen, kita seharusnya bertanya, “Apa yang Engkau (Tuhan) inginkan?”—bukan lagi, “Apa yang ‘aku’ inginkan?” Oleh karena itu, mari kita menyerahkan semua keinginan kita kepada Tuhan, dan biarkan Dia melaksanakan rencana-rencana-Nya (yang seringkali unexpectable) dalam hidup kita.

Ketika Allah menjadi Tuhan atas hidup kita, maka arah serta pandangan kita harus selalu tertuju pada-Nya dan pada Firman-Nya. Jadi ketika Tuhan bilang, “Kamu harus jadi berbeda dari dunia. Jadilah terang dan garam dunia”, itu bukan perintah yang main-main. Ketika semua orang ingin menjadi apa yang dianggap keren oleh dunia (yang terjebak dalam dosa), punya gaya hidup yang bertentangan dari Firman Tuhan, kita—sebagai orang Kristen—harus bisa menjadi berbeda dan menentang arus duniawi. Apakah hal ini semua mudah dilakukan? Tidak, tapi inilah yang dinamakan menyangkal diri.


2. MEMIKUL SALIB 

Setelah melepaskan ego diri, sekarang Tuhan menginginkan kita memikul salib masing-masing. HEH? APA LAGI INI? Salib itu berat, melelahkan, plus identik dengan penderitaan! Ketika Yesus memikul salib-Nya ke Golgota, apakah Dia menari-nari sambil membopong balok kayu berat itu? OH, JELAS TIDAK! Yesus terjatuh beberapa kali, bahkan ada yang menafsirkan ketika jatuh terakhir kalinya (dalam kondisi masih memikul saib), tulang lutut-Nya pecah... :”( Belum lagi ditambah dengan olok-olokan, hujatan, bahkan ludah orang yang Yesus terima sepanjang Dia memikul salib-Nya.

Lah, kalau Yesus—yang kita akui sebagai Tuhan—saja bisa menderita sedemikian rupa, apa yang membuat kita bisa berpikir bahwa sebagai pengikut-Nya, kita tidak akan mengalami penderitaan (walaupun mungkin tidak sampai disalib)? Yesus sendiri berkata demikian: 

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
(Matius 5:11)

Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja- raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. 
(Matius 10:18)

Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.
(Matius 10:22)

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
(Matius 10:39)

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
(Lukas 6:22)

Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku,
(Matius 24:9)

Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.
(Kisah Para Rasul 9:16)


Mari kita kumpulkan kata-kata tebal di atas dan ditulis dalam kalimat ini:

“Ketika saya mengikut Yesus maka saya akan ... dicela, dianiaya, difitnah, digiring, dibenci, kehilangan nyawa, disiksa, dibunuh, dikucilkan, ditolak, menderita...”

Jadi, apakah mudah menjadi menjadi pengikut Kristus? Masih ingin terus mengikut Tuhan?

“Dih, males aahhhh jadi orang Kristen kalo kayak gini~ Ada cara lain nggak, sih? Saya mau yang enaknya aja boleh nggak? Berkatnya doang bisa, kan? HEHE.”

Sayangnya, mengikut Tuhan tidak bisa setengah-setengah atau hanya mendapatkan berkat-Nya tanpa mau membayar harganya. Tapi coba renungkan hal ini sejenak: Kristus, yang kita akui sebagai Tuhan dan Juruselamat, telah meninggalkan tahta kemuliaan-Nya untuk turun ke bumi dan menjadi seperti kita. Dia hidup sebagai manusia, kemudian disiksa dan… mati disalib untuk kita. Kenapa? Agar kita selamat dari hukuman kekal, menerima kehidupan kekal bersama-Nya, dan mengalami relasi yang dipulihkan (baik terhadap Allah, diri sendiri, maupun sesama). We are saved so we have a freedom to do His will! Saat ini, Dia memanggil kita untuk melayani-Nya—Sang Raja... Nah, dengan apa yang sudah Tuhan lakukan, pantaskah kita setengah-setengah saat menjadi pengikut-Nya?

Menjadi pengikut Kristus itu tidak main-main, tidak semudah yang dikira dan tidak seenak yang didengar sebatas “berkat”. Mulai dari perjanjian lama hingga zaman sekarang, ada banyak (yang benar-benar banyak) orang yang telah membayar harga, rela dipermalukan, hingga mati karena mengikut Kristus. Berapa banyak nabi yang dibunuh karena mengikuti Allah Yahweh? Contohnya saja Yeremia yang sampai depresi, Elia yang dikejar-kejar untuk dibunuh, dan Yesaya yang tidak dihiraukan oleh orang-orang Yehuda. Hampir semua murid-murid Kristus menjadi martir karena mengikut Kristus. See? Meski demikian, mungkin sebagian besar di antara kita akan mati bukan dalam kondisi demikian. Kita bisa saja meninggal karena sakit, atau kecelakaan, atau karena alasan-alasan lain. Jadi, apakah memikul salib ini harus selalu dipenuhi penganiayaan?

Hmmm… tidak selalu, tapi memang menuntut bayar harga.

George MacDonald (seperti yang dikutip dari Bible Gateway) menjelaskan, “Memikul salib berarti kesetiaan yang berkelanjutan kepada Kristus dan diikuti dengan kematian diri sendiri. Maksudnya, kita harus menolak, meninggalkan, dan menyangkal diri sama sekali sebagai elemen yang mengatur atau menentukan apa yang harus kita lakukan.” Berat? Pasti. Apalagi ketika kita melihat kondisi keluarga, pekerjaan, maupun studi yang terasa menjemukan. Well… mungkin itulah salib yang kita pikul sekarang. Tapi satu hal yang harus kita yakini, Yesus sendiri menegaskan bahwa Dia akan memikul salib itu bersama kita. “Salib” itu termasuk hal-hal yang—bahkan—seolah-olah dikarenakan kesalahan kita. Kalau bukan karena kemurahan Allah, lalu apa lagi yang memampukan kita untuk memikulnya?


3. MENGIKUT KRISTUS 

Salah satu tokoh yang saya kagumi adalah Florence Nightingale. Terlahir di keluarga kaya, dia bisa mengambil jalan mendapatkan suami kaya raya, menikah and live happily ever after versi dunia. Kenyataannya demikian, atau setidaknya… hampir.

Di usianya yang ke-17 tahun, Tuhan memanggil Florence untuk menjadi perawat dan pergi ke medan perang merawat para tentara yang terluka, dan dia pergi. Florence menyangkal keinginan dirinya untuk bisa bersama dengan pria yang ia cintai, serta kehidupan yang enak dan nyaman. Dia memikul salib dengan mengambil sekolah perawat yang dianggap rendah dan hina pada zaman itu, kemudian pergi ke medan perang merawat para tentara. Dia mengikuti panggilan Tuhan dalam hidupnya: Calling to care. 

Now, panggilan Tuhan akan setiap orang berbeda-beda. Kita mungkin tidak dipanggil seperti Florence untuk pergi ke tempat perang. Tapi sebagai orang yang dipanggil untuk mengikut Kristus, ada harga yang harus kita bayar. Sebagai contoh, sebagai seorang single kamu diperhadapkan dengan pilihan: mengejar pujaan hatimu yang tidak mencintai Tuhan atau menunggu waktu Tuhan untuk mengenalkanmu kepada seorang Godly man? Pilihan di tanganmu. Orang-orang mungkin mendesakmu dan berkata bahwa standarmu ketinggian, atau mungkin ada yang menyuruhmu untuk meninggalkan imanmu. Apa yang akan kamu lakukan? Kompromi? Atau memilih menunggu sambil memperdalam pengenalanmu terhadap diri sendiri dan Tuhan?

Mengikut Tuhan memang tidak mudah, dan seringkali akan melewati masa yang tidak mengenakkan. Tapi jika kita sungguh-sungguh mengikut Tuhan, sekalipun harus melewati dengan air mata karena membayar harga panggilan itu, di tengah-tengah doa isakan minta tolong kepada Bapa di surga, ketahuilah bahwa penghiburan dan sukacita surgawi itu nyata dan besar kuasanya! Paulus dalam 2 Korintus 7:4b berkata, “Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah.”

Bagi saya pribadi, sukacita inilah mengapa mengikuti Kristus itu AMAZING! Sukacita karena membayar harga, sukacita sejati karena mengalami Kristus dibalik penderitaan, sukacita karena tahu bahwa saya ini nothing, tapi dipanggil oleh Tuhan, dan bukan hanya itu... Dia memampukan saya untuk menjalani panggilan yang saat ini sedang saya tekuni.

Sebagai koordinator Majalah Pearl yang selalu memastikan artikel baru tersedia setiap hari Senin, memantau perkembangan Instagram Pearl, berkoordinasi dengan para editor dan desainer grafisnya, plus menulis beberapa artikel di blog, kadang-kadang saya merasa lelah *sigh*. Saya juga bertanya-tanya apakah yang saya kerjakan saat ini sia-sia atau tidak. Tapi setiap kali ada task yang selesai, saya selalu merasa ada Tuhan Yesus sedang duduk di samping saya dan berkata, “Thank you”, sambil tersenyum dan memeluk saya. Kalau sudah seperti itu, respons saya adalah menangis terharu dan thankful for that endless joy... dan saya rindu agar Pearlians juga mengalami hal yang sama. Being a Christian is never easy, but as long as God is with us, who can be against us right? :) Soli Deo Gloria.

Monday, November 2, 2020

Ragi Kemunafikan




by Glory Ekasari

"Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi."
(Lukas 12:1)

Kita tentu tahu apa itu ragi, apalagi bagi Pearlians yang suka membuat roti. Biasanya, ragi hanya dipakai sedikit saja untuk satu adonan yang cukup banyak. Tapi uniknya, ragi yang sedikit itu ternyata bisa berpengaruh besar: begitu adonan yang sudah diragi didiamkan beberapa saat, adonan itu akan mengembang. Makanya Tuhan Yesus beberapa kali menggunakan ragi sebagai metafora untuk sesuatu yang kelihatannya kecil tapi sebenarnya berdampak besar.

Salah satu yang disebut "ragi" oleh Tuhan Yesus adalah kemunafikan orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka ini adalah pemuka agama di Israel pada waktu itu, tetapi Tuhan Yesus—tanpa basa-basi—mencela mereka karena kemunafikan mereka. Lalu Yesus memperingatkan betapa berbahayanya kemunafikan itu. Mengapa? Karena kemunafikan itu menular, dan sedikit saja kemunafikan akan merusak diri kita.

Kemunafikan timbul sejak manusia pertama. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, mereka malu dan takut terhadap Tuhan dan berusaha menutupi diri mereka dari-Nya. Mereka membuat cawat dan menyembunyikan diri saat Tuhan datang. Sejak itulahmanusia selalu menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya dari Tuhan dan orang lain.

Orang munafik, seperti seorang aktor, berpura-pura menjadi orang lain yang bukan dirinya. Mereka ini mengaminkan lagu Nike Ardilla yang berkata bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara. Karena itulah, dalam rangka bersandiwara, mereka perlu menampilkan diri mereka sebaik mungkin. Gaya hidup seperti ini sangat tidak disukai Tuhan, apalagi bila yang melakukannya adalah pemuka agama—yang seharusnya menjadi role model bagi umat-Nya.

Seperti apakah kemunafikan orang Farisi itu, sampai-sampai mereka dikecam sedemikian rupa oleh Tuhan Yesus? Kita bisa melihatnya dalam Matius 6. Mereka berdoa di jalan-jalan dengan suara keras, doanya panjang-panjang dan dihafalkan, mendandani diri agar terlihat pucat ketika berpuasa, dan memberi sedekah dengan dilihat orang banyak—semuanya agar kelihatan saleh di mata orang. Ironisnya, Tuhan membenci hal ini. Mungkin memang akting mereka mendapat pujian dari oranglain, tapi mereka tidak mendapat apa-apa dari Tuhan.

Tuhan menyuruh murid-murid-Nya agar waspada terhadap kemunafikan. Ini berarti kita harus penuh kesadaran dan berhati-hati supaya tidak bersikap munafik. Sedikit saja kita izinkan ada kemunafikan dalam diri kita, kita akan menjadi terbiasa, dan kemunafikan itu merembet ke seluruh bagian hidup kita. Mengapa? Karena kita akan merasakan nikmatnya pujian dari manusia, dan kita jadi mengejar hal itu, bukannya mengejar kehendak Allah.

Apa yang tidak dimiliki orang yang munafik? Satu karakter yang sangat penting: integritas. Manusia suka pada orang yang kelihatannya baik (karena itu banyak orang bersikap munafik), tapi yang lebih baik lagi bukan orang yang hanya kelihatannyabaik, tapi orang yang benar-benar baik. Baik seperti apa? Adanya keselarasan antara kebaikan yang ditampilkan dan yang memang ada di dalam diri, yang hidupnya seperti "surat terbuka" yang jujur dan tulus, tanpa ada yang ditutupi dari orang lain. Bagi orang munafik, hal ini menakutkan. Hidup mereka adalah pencitraan, dan mereka tidak bisa membongkar aib mereka sendiri.

Tetapi Tuhan Yesus berkata bahwa justru apa yang ditakuti orang-orang munafik inilah yang akan benar-benar terjadi.

Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah.
(Lukas 12:2-3)

Semua kemunafikan akan terbongkar. Pada saat itu, alangkah memalukannya bagi orang munafik, namun alangkah bangganya bagi orang yang hidup dalam integritas. 

Bila orang Farisi dan ahli Taurat adalah textbook example untuk kemunafikan, maka Yesus justru sebaliknya: Dialah teladan kita dalam hidup yang jujur dan tulus. Dari lahir-Nya sampai naik-Nya ke surga, Yesus tidak pernah menutupi apapun. Sebelum Dia mulai melayani, Dia hidup bersama keluarga yang bisa melihat gaya hidup-Nya sepanjang hari. Setelah Dia mulai melayani, Dia diikuti 24/7 oleh murid-murid-Nya, dan mereka bisa melihat seluruh hidup-Nya. Ketika Yesus ditangkap dan dibawa ke hadapan mahkamah agama, musuh-musuh-Nya berusaha mencari kesalahan agar Ia bisa dihukum mati, tapi tidak ada satupun kata yang terucap (!!) - sampai mereka akhirnya membuat tuduhan palsu. Di situlah tergenapi nubuat nabi mengenai Mesias, "Dia tidak bercela, dan tipu tidak ada di dalam mulut-Nya."

"Tidak bercela" adalah apa yang Allah kehendaki dari kita. Tapi yang pertama-tama harus kita pikirkan bukan penilaian orang lain tentang kita, melainkan penilaian Allah terhadap kita. Allah tahu isi hati kita yang terdalam; Allah tahu betapa berdosanya kita. Yang harus kita lakukan adalah membuka diri bagi Dia dan menerima Roh-Nya yang akan menyucikan kita dalam segala aspek hidup kita. 

Mari berhati-hati terhadap kemunafikan. Sekalipun orang lain bisa tertipu, Tuhan tidak akan tertipu. Lebih baik kita tulus dan jujur di hadapan Tuhan dan manusia, karena:

Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.
(Ibrani 4:13)

Monday, October 26, 2020

Penjala Ikan Menjadi Penjala Manusia




by Alphaomega Pulcherima Rambang

Bacaan : MATIUS 4:18-22 (Yesus memanggil murid-murid yang pertama)

Dengan mudahnya, para (calon) murid Yesus meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti Yesus. ASLI, begitu mudahnya, seperti gak berpikir. Kira-kira seperti ini kejadiannya:

Yesus : Aku akan membuatmu menjadi penjala manusia. Yuk, ikut Aku!

Para (calon) murid : Ayooo! (meninggalkan jalanya dan langsung pergi mengikut Yesus). 

Gitu doang looooh ^^ Gak ada tuh acara KKR atau penginjilan supaya mereka menjadi orang percaya. Emang sih, sebelumnya Yesus memberitakan injil di Galilea, itupun hanya dengan kalimat yang singkat, padat dan jelas: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"

Nyatanya pribadi Yesus begitu memesona keempat murid pertama itu, sehingga mereka bersedia mengikut Dia. Perjumpaan dengan Yesus dapat mengubah hidup seseorang. Tapi tidak berhenti di situ, dia harus juga memiliki kesediaan untuk mengikut Yesus. Kenapa? Karena perjumpaan dengan Yesus hanya dapat menghasilkan perubahan hidup saat seseorang mau ikut dan mengenal Yesus dari dekat, bukan dari kejauhan. Hanya dengan ikut dan mengenal Yesus dari dekat, bergaul akrab dengan-Nya, maka, kita bisa mengetahui isi hati-Nya, mengikuti teladan-Nya, dan melakukan apa yang berkenan di hati-Nya. Saat itulah hidup berubah.

Para (calon) murid yang awalnya hanya mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, tapi kemudian menjadi penjala manusia, mencari manusia untuk diselamatkan. Dari yang awalnya hanya memikirkan diri sendiri menjadi memikirkan sesama. Meskipun proses ke sana tidaklah sebentar, tapi kita bisa melihat bahwa panggilan Yesus dapat mengubah hidup seseorang. Ketika Yesus yang menjadi Raja atas hidup seseorang, dia akan mengubah fokus, tujuan, cara memperlakukan sesama, bahkan mengalami pembaharuan hidup—yang tidak akan bisa terjadi jika dia berjuang (di dalam keberdosaannya) sendirian. Selain itu, Yesus juga memberikan tujuan baru dan berharga untuk hidup mereka, sehingga mereka mampu melakukan yang lebih besar daripada yang mereka lakukan sebelum mengikut Yesus. Kalau dulu para murid menjala ikan, sekarang mereka memperoleh mandat untuk bersaksi tentang Injil bagi orang lain.

Saat mengikut Yesus, bukan berarti para murid tidak memikirkan hal-hal yang sebelumnya mereka perlukan—seperti makan, minum, dan tempat berteduh; well, they still think about them. Hanya saja, sekarang mereka percaya bahwa Yesus pasti menyediakannya. Mereka memercayai Yesus; sekalipun tidak ada yang tahu sebesar apa rasa percaya mereka awalnya pada-Nya, yang pasti mereka percaya Dia. Bayangkan, mengikuti seorang anak tukang kayu yang menjadi rabbi (guru) dan sanggup mengumpulkan kerumunan orang dalam waktu singkat. Bukan hal yang mudah, Esmeralda! Apalagi jika memikirkan bagaimana cara supaya kebutuhan mereka bisa terpenuhi. Yesus bukan orang kaya, pekerjaan-Nya aja gak jelas, bahkan saat dipanggil pertama kali itu mereka belum menyaksikan kehebatan Yesus. Naah, bagaimana kalo Yesus ini pendusta? Bah!! Apa gak sia-sia tuh mereka menjadi pengikut-Nya? Kalau Yesus bukan penipu, tetapi dianggap gila, apa mereka yang mengikut-Nya tidak dianggap gila juga? Walaupun pada awalnya belum benar-benar memahami makna menjadi pengikut Yesus sepenuhnya pada saat itu, namun mereka—setelah melalui berbagai peristiwa yang menegaskan Yesus adalah Mesias—berani mengambil risiko untuk tetap setia kepada-Nya. Mereka memulai perjalanan mereka sebagai murid dengan iman, meskipun ada yang tidak mengakhirinya dengan hal yang sama. Aku jadi teringat pada kutipan yang baru aku baca akhir-akhir ini (aku lupa dari siapa); intinya adalah: Tidak penting bagaimana kamu memulai, yang penting bagaimana kamu mengakhirinya.

Memang sih, pasti ada pengorbanan dan harga yang harus dibayar dalam sebuah panggilan. Terkadang seseorang harus meninggalkan pekerjaan, harta, bahkan keluarganya. Walau sulit, tapi itu sepadan. Pasti! Suami pertama Elisabeth Elliot yang bernama Jim Elliot—yang meninggal karena ditombak oleh suku Auca di Ekuador—pernah berkata, "Tidaklah bodoh orang yang memberikan apa yang tidak dapat dipertahankannya demi memperoleh apa yang tidak dapat dirampas darinya.” Begitu pula dengan para murid Yesus: mereka meninggalkan keluarga, pekerjaan, dan kehidupan mereka (yang mungkin sudah sangat nyaman untuk dijalani)—bahkan sampai mati—demi mengikut Yesus. Mungkin bagi orang lain, apa yang mereka lakukan itu gila. Tapi mereka telah memilih yang terbaik dan tak mungkin dirampas darinya.

Meski demikian, bukan berarti mengikut Yesus adalah tindakan yang bisa dilakukan dengan gegabah. Tidak. Tentu ada hal-hal tertentu yang harus menjadi pertimbangan kita. Misalnya:
  1. Apakah keluarga kita siap ketika kita menyerahkan diri untuk melayani Tuhan penuh waktu?
  2. Apakah panggilan kita sebagai ibu rumah tangga—khususnya yang tidak bekerja—didukung oleh suami dan penghasilannya yang masih bisa mencukupkan kebutuhan keluarga?
  3. Bagaimana jika kita justru terpanggil untuk bermisi ke tempat-tempat yang berbahaya dan terpencil?
Masih ada banyak contoh lainnya yang bisa kita pikirkan sesuai dengan konteks masing-masing, namun satu hal yang pasti... jika Tuhan sudah membukakan jalan, maka tidak ada seorangpun yang dapat menutupnya—kecuali Dia sendiri yang menghendakinya. Selamat menggumulkan panggilanmu bersama Tuhan, Pearlians!

Monday, October 19, 2020

Apa Untungnya?




by Benita Vida

Pada dasarnya, kita—sebagai manusia—selalu mencari “untung”, profit, atau upah dalam melakukan sesuatu karena kita tidak mau apa yang sudah kita lakukan dan kerjakan dengan susah payah itu sia-sia, apalagi merugi. Salahkah itu? Sebenarnya tidak salah dan itu manusiawi kok, selama masih dalam batas wajar dan tidak merugikan orang lain. Ketika kita ditawarkan pekerjaan atau diajak berbisnis, pasti kita akan menghitung untung-rugi dan itu sangat wajar. Jangan sampai kita sudah mencurahkan tenaga, waktu, dan biaya tapi ujung-ujungnya membuat kita rugi. Ya, kan?

Hal yang sama pernah ditanyakan oleh Petrus kepada Yesus,

“... Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau;
jadi apakah yang akan kami peroleh?”
(Matius 19:27)

Petrus sudah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus: pekerjaannya, keluarganya, teman-temannya, dan kenyamanannya sewaktu Yesus memanggilnya menjadi murid-Nya. Namun sebagai manusia, Petrus mulai mempertanyakan, “Apa ya untungnya mengikut Yesus? Atau jangan-jangan setelah mengikut Yesus sekian tahun, ujung-ujungnya malah nggak dapet apa-apa. Percuma dong.” Yesus memahami pemikiran dan perasaan ini, dan jawaban Yesus di luar perkiraan Petrus:

“Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.”
(Matius 19:18-19)

Ternyata dari jawaban Yesus, kita menangkap kesimpulan bahwa menjadi pengikut-Nya tidak berarti membuat kita menjadi kaya atau populer; sebaliknya, jawaban Yesus adalah janji-Nya. Dari jawaban tersebut, kita bisa memahami bahwa definisi “keuntungan” sebagai pengikut Yesus bukanlah untuk mendapatkan untung dalam hal materi, melainkan kita (melalui anugerah Allah) dilayakkan untuk menerima janji-Nya yang kekal. Yup... semua janji-Nya itu yang tertulis dalam surat cinta-Nya (a.k.a. Alkitab) untuk kita.

Oke, kita sudah tahu kalau kita mengikut Tuhan, kita perlu meninggalkan zona nyaman dan dosa-dosa kita, lalu kita berkomitmen untuk mengubah pusat hidup (dari diri sendiri menjadi kepada Tuhan saja). Sayangnya, banyak di antara orang percaya (mungkin termasuk kita) yang sudah sungguh-sungguh mengikut Tuhan tapi malah merasa makin berat dan “rugi”. Kita juga tidak bisa memanipulasi orang lain! Padahal kalau jujur kita bisa saja tidak akan mendapatkan promosi; tidak bisa membalas orang lain yang jahat sama kita sementara hati ini sudah sangat tersakiti. Wah… wah… ini untung atau rugi nih? Kok, malah jadi makin tidak enak? Nah, dalam situasi-situasi seperti ini, mulai deh kita mempertanyakan ulang apa untungnya mengikut Tuhan.

Kita harus memahami dan mengimani bahwa saat kita menyerahkan hidup dan mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, kita telah menerima upah yaitu janji-Nya. Tapi harus dicatat ya: kita memang sudah menerima janji-Nya yang adalah ya dan amin—yang artinya pasti terjadi di hidup kita cumaaaaa tidak selalu instan yah, teman-teman. Selain perlu menunggu dalam ketaatan dan kesetiaan, kita juga membutuhkan iman supaya kita tidak menyerah di tengah jalan. Ada waktu untuk menerima janji-Nya, tapi pasti juga ada proses yang harus dilalui agar janji-Nya bisa terealisasi di hidup kita.

Bila kita melihat kehidupan Daud, Tuhan menjanjikannya menjadi seorang raja bagi bangsa Israel di waktu umurnya masih sangat muda, tetapi Daud perlu puluhan tahun untuk benar-benar jadi raja dan mengalami janji Tuhan di hidupnya. Selama perjalanannya menanti janji Tuhan dan hidup sungguh-sungguh ikut Tuhan, apakah Daud senang dan damai hidupnya? Sangat jauh dari kata senang dan damai. Bahkan Daud pernah harus bertingkah seperti orang gila untuk menyelamatkan nyawanya dari Raja Filistin. Daud juga tidak membunuh Saul yang sudah sangat jahat dan membuat hidup Daud berantakan sekalipun Daud memiliki kesempatan untuk melakukannya.

Kita semua pernah berada di posisi Daud—atau mungkin saat ini kita sedang merasa menjadi seperti dirinya. Rasanya penantian ini begitu panjang dan tiada akhir. Rasanya mengikut Tuhan tidak memberikan keuntungan untuk kita; kita sudah memberikan semuanya tetapi tidak dapat apa-apa dan kita merasa sia-sia sudah “pengorbanan” kita. Hmm… walaupun terdengar klise, tapi bersabarlah, teman-teman. Tetap pegang teguh imanmu, karena janji-Nya tidak pernah terlambat. Mungkin saat ini kamu sedang diproses untuk siap menerima janji-Nya. Terkadang memang janji dan kenyataan tidak sejalan, tapi yakinlah jika Allah sanggup menjadikan seorang gembala menjadi seorang raja, jika Allah sanggup menjadikan seorang kakek bernama Abraham menjadi bapa segala bangsa, Allah pun sanggup mengubah keadaanmu.

Walaupun begitu ada satu hal yang harus kita ingat: Jika Tuhan menghendakinya, kita bisa saja seumur hidup tidak memperoleh janji-Nya. Buktinya saja Abraham. Meskipun masih bisa menatap Ishak—anak yang dijanjikan Allah melalui Sara—sebelum meninggal, tapi dia tidak pernah melihat keturunannya yang banyak seperti bintang di langit maupun pasir di pantai. Abraham juga tidak melihat tanah perjanjian yang subur dan “berlimpah susu dan madunya” (hal ini baru digenapi lebih dari 600 tahun kemudian, yaitu saat bangsa Israel masuk ke Kanaan). Karena merasa bahwa hidupnya tidak akan bertahan sampai dua hal itu terjadi, Abraham meminta konfirmasi dari Tuhan (Pearlians bisa membaca kisah selengkapnya di Kejadian 15). Tapi manakah yang lebih penting: kehadiran Tuhan sendiri di dalam hidup kita (bahkan dalam titik terendah), atau janji-Nya yang tergenapi namun tanpa penyertaan-Nya secara nyata? Bukankah Tuhan juga memakai penderitaan dalam masa penantian dan perjuangan kita untuk mendewasakan kita, bukannya berpangku tangan dan mengasihani diri sendiri karena ngambek pada-Nya?

Ketika saya masih kecil, ada saat dimana Papa—bisa dibilang—kurang sayang dan kurang memperhatikan saya. Tapi suatu hari, Tuhan berbicara secara langsung kepada orang tua melalui seorang dokter, “Kamu bisa diberkati sekarang karena anak ini. Kalo kamu gak mau sama anak ini, sini kasih saya aja.” Mendengar cerita itu dari Mama ketika sedang berjuang mengerjakan skripsi, saya tahu jika di masa lalu (baca: saat saya kecil dan belum kenal Tuhan sungguh-sungguh) saja Tuhan perhatikan dan bela, apalagi mengenai masa depan: pasti Tuhan berikan yang terbaik. Saya imani bahwa janji Tuhan bagi masa depan yang penuh harapan itu pasti terjadi untuk saya, tapi ternyata kenyataannya tidak seindah itu: proses pengerjaan skripsi saya terasa berat. Tiba-tiba dosen pembimbing saya dipromosikan sehingga sulit diajak untuk berdiskusi, bahan yang saya cari untuk pembuatan produk skripsi saya tidak bisa didapatkan di mana-mana, dan itu belum termasuk air mata perjuangannya yang entah berapa kali tertumpah. Singkat cerita, entah bagaimana caranya, Tuhan selalu membuka jalan saya. Apa yang saya lakukan adalah percaya bahwa pembelaan-Nya sempurna seperti saat saya masih kecil. Janji-Nya di awal masa perkuliahan bahwa saya pasti lulus tepat waktu pun ditepati. Saya lulus dengan nilai yang memuaskan bahkan dengan predikat terpuji. 

Kadang-kadang ada perasaan minder karena dunia memandang kita sebagai orang bodoh. Mana ada yang mengharapkan upah “tidak nyata” dan tidak berbentuk? Bahkan tidak sedikit juga orang percaya yang menyerah dan berhenti berharap. Tapi mari kita belajar bersama untuk setia dan taat kepada Tuhan. Dia tidak pernah berutang. Dia melihat pengorbanan dan ketaatan kita untuk setia mengikuti-Nya, dan percayalah… akan ada waktu di mana kamu akan menerima upah dari ketaatan dan kesetiaanmu.