Monday, May 20, 2019

Izebel


by Glory Ekasari 

Kalau kamu pembaca setia Alkitab, pasti pernah dengar nama Izebel. Sepanjang tahun ini kita belajar tentang banyak wanita dalam Alkitab, orang-orang yang mencatat sejarah dengan kesalehan mereka, maupun dengan kejahatan mereka. Tapi kalau nama Izebel sudah disebut, semua lewat deh, karena wanita ini memang keterlaluan jahatnya. Suaminya, raja Ahab, adalah raja terjahat sepanjang sejarah kerajaan Israel, tapi raja inipun kalah saing dengan isterinya, yang ternyata lebih jahat. Wow! 

Seperti apa kejahatan Izebel? Pertama-tama sekali, dia membenci TUHAN, Allah Israel. Alasan Izebel membenci TUHAN dapat dipahami kalau melihat latar belakangnya. 

Izebel bukan orang Israel, dia berasal dari kota Sidon. Sidon di abad ke-8 SM adalah kota yang kaya raya di daerah Fenisia, sekaligus kota yang sarat dengan penyembahan berhala, dan Baal menjadi dewa utama di sana. Kota itu adalah kota maritim, beroleh kekayaan dari perdagangan laut, dan Baal adalah dewa badai, yang “bertanggung jawab” memberi mereka pelayaran yang aman dan langit yang cerah. Ayah Izebel, raja Etbaal, mengangkat dirinya menjadi imam Baal dan memimpin semua ritual penghormatan bagi dewa Baal. Penyembahan terhadap Baal meliputi berbagai ritual, mulai dari korban binatang sampai prostitusi di kuil. 

Ketika Izebel menikah dengan Ahab, ia ikut ke Samaria untuk menjadi ratu atas Israel. Di sana, ia mempengaruhi suaminya untuk ikut beribadah kepada dewa Baal. 

Ahab bin Omri melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, lebih dari pada semua orang yang mendahuluinya. Seakan-akan belum cukup ia hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, maka ia mengambil pula Izebel, anak Etbaal, raja orang Sidon, menjadi isterinya, sehingga ia pergi beribadah kepada Baal dan sujud menyembah kepadanya. Kemudian ia membuat mezbah untuk Baal itu di kuil Baal yang didirikannya di Samaria. Sesudah itu Ahab membuat patung Asyera, dan Ahab melanjutkan bertindak demikian, sehingga ia menimbulkan sakit hati TUHAN, Allah Israel, lebih dari semua raja-raja Israel yang mendahuluinya. 
(1 Raja-raja 16:32-33) 

Izebel tidak mau meninggalkan allahnya di Sidon; ia mau supaya bukan hanya ia tetap beribadah kepada Baal, tetapi juga seluruh orang Israel yang dipimpin oleh suaminya ikut menyembah Baal. Sebenarnya sebelum Izebel menjadi ratu, orang Israel sudah tercemar penyembahan berhala. Tapi, she is really something else; dia membuat penyembahan Baal menjadi agama negara. Pada akhir pelayanan nabi Elia, hanya tersisa 7000 orang di Israel yang tegas menolak menyembah Baal. Izebel menjadi ratu di Israel, tetapi dia tidak pernah menjadi orang Israel: hatinya tidak pernah tunduk kepada Allah Israel. 

Dalam Taurat Musa, jelas sekali dinyatakan bahwa sekalipun Israel punya raja, raja yang sesungguhnya dari Israel adalah TUHAN Allah. Izebel menentang kepemimpinan Allah atas Israel. Ia berusaha memusnahkan agama Yahwe dengan cara membunuh semua nabi Tuhan. Tuhan tidak tinggal diam dan mengutus Elia untuk berbicara keras kepada Ahab dan Izebel. Puncak perseteruan Izebel, wakil Baal, dan Elia, wakil Tuhan, adalah ketika Elia bertarung dengan 850 nabi Baal di gunung Karmel. Elia menang dan membantai nabi-nabi Baal tersebut. Tetapi Izebel bukannya tunduk kepada Allah yang telah membuktikan kemahakuasaan-Nya, malah dia mengejar Elia untuk dibunuh. Jadi, Izebel tetap berkeras hati walaupun Tuhan sudah menunjukkan bahwa Dialah Allah yang benar. 

Berikutnya, Izebel menunjukkan kejahatannya lewat tindakan yang amoral. Kasus kebun anggur Nabot adalah contoh yang jelas dari hal ini. Singkat cerita, raja Ahab mau membeli kebun anggur Nabot di daerah Yizreel, tapi Nabot tidak mau menjualnya karena itu tanah warisan. Izebel turun tangan dan menyabotase ladang Nabot dengan cara fitnah dan tipu muslihat. Nabot akhirnya mati dirajam massa, dan Ahab mendapatkan tanah yang ia inginkan. Kalau begini cara mereka mendapatkan apa yang mereka mau, saya yakin ada setumpuk kejahatan lain yang mereka lakukan juga, yang tidak dicatat dalam Alkitab. 

Tetapi Tuhan tidak tinggal diam melihat kejahatan sepasang pemimpin bangsa itu. Kematian yang mengerikan menunggu mereka, terutama Izebel: 

“Izebel akan dimakan anjing di kebun di luar Yizreel dengan tidak ada orang yang menguburkannya.” (2 Raja-raja 9:10) 

Kutuk yang ngeri ini akhirnya benar-benar menimpa Izebel. Ia mati karena jatuh didorong dari balkon oleh pegawainya sendiri. Ketika orang akan mengambil mayatnya untuk dikubur, yang mereka jumpai hanya kepala, telapak tangan, dan kakinya, karena sisanya sudah dimakan anjing. 

Nah, akhirnya Izebel mati. Tapi ternyata dalam Wahyu, kitab paling terakhir dalam Alkitab, namanya muncul lagi! 

“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga: 
Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama. Tetapi Aku mencela engkau karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.”
(Wahyu 2:18-20) 

Sebagaimana Izebel menjadi ratu Israel tetapi tidak mau tunduk kepada Allah Israel, demikian pula “wanita Izebel” dalam kitab Wahyu ini ada di tengah jemaat Tuhan—bahkan mungkin sebagai pemimpin—tetapi tidak mau tunduk kepada Tuhan. Caranya? Ia mengajar jemaat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan. 

Kota Tiatira memiliki serikat-serikat pekerja. Sama seperti kota-kota lain, pertemuan serikat kerja itu dimulai dan diakhiri dengan penyembahan berhala, yang melibatkan makan persembahan berhala, kemabukan, dan segala macam ritual seksual. Sebagaimana orang Kristen di kota-kota lain menghadapi resiko kehilangan pekerjaan apabila mereka mengucilkan diri dari upacara semacam itu, demikian pula jemaat di Tiatira menghadapi ancaman yang sama. “Wanita Izebel” ini menyatakan bahwa tidak apa-apa bila orang Kristen mau berkompromi dengan ritual-ritual berhala tersebut, karena hal itu demi penghidupan mereka. Tidak apa-apa mencampur ibadah kepada Tuhan dengan gaya hidup duniawi! Singkatnya, ia terang-terangan mendorong jemaat agar melanggar firman Tuhan. 

Apa pesan Tuhan Yesus bagi jemaat yang menghadapi penyesat ini? Ia berkata, “Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga” (Wahyu 2:18). Dari surat kepada ketujuh jemaat, hanya dalam surat kepada jemaat Tiatira ini Yesus menyebut dirinya “Anak Allah”. Ia mengingatkan jemaat bahwa Ialah Tuhan mereka yang sesungguhnya, dan mereka harus sujud kepada-Nya, bukan para berhala. Mata-Nya bagaikan nyala api: Ia melihat semua perbuatan umat-Nya. Kaki-Nya bagaikan tembaga: logam yang kuat dan keras, yang akan mendatangkan kehancuran besar dengan sekali injak. Seperti inilah Tuhan Yesus menyatakan diri kepada jemaat yang disesatkan oleh wanita Izebel! 

Bayangkan bila wanita yang begitu berpengaruh seperti Izebel, memakai pengaruhnya untuk memuliakan Tuhan, dan bukan melawan Dia. One can only wonder. Mari kita belajar dari cerita Izebel dan nasibnya, agar kita tunduk pada kepemimpinan Allah dalam hidup kita dengan penuh hormat. Dan berhati-hatilah terhadap Izebel jaman now, yang berjuang keras melawan Tuhan dengan menyeret orang lain untuk hidup dalam daging.

Monday, May 13, 2019

Wanita yang Berzinah: Bagaimana Seharusnya Menanggapi Kasih Karunia?




by Eunike Santosa

Siapa di antara kita yang: 
a. tidak pernah berbuat dosa? 
b. punya masa lalu yang kelam? 
c. kenal dengan orang yang punya masa lalu yang kelabu? 

Kalo nggak ada, pernahkah Pearlians mendengar cerita tentang kehidupan seseorang yang kelabu, nggak? Hahahaha… #maksa :p

Mungkin di sini kita bakal teringat dengan satu-dua cerita tentang orang-orang tertentu. Tapi coba deh, dipikirkan lagi. Apakah kita pernah merasa diri ini lebih baik daripada … (isilah titik-titik ini sesuai dengan orang yang muncul di pikiranmu)?

Sudah? Oke, next question. Siapa yang saat ini sedang bergumul dengan dosa? *saya ikutan angkat tangan kalo begini. Hehe*. Nah, bagaimana pergumulan Pearlians sejauh ini? Apakah: 
a. jatuh dalam dosa yang sama? 
b. sudah bebas dan lanjut bergumul dengan dosa lainnya? 
c. malah keenakan berkubang di lubang dosa itu? 

Kenapa saya menanyakan semua pertanyaan tersebut sebagai pendahuluan?

Karena once upon a time, ada sebuah kisah di mana terdapat karakter-karakter yang—kurang lebih— berada dalam situasi seperti itu. So, kali ini kita akan belajar dari kisah wanita yang berzinah. Ceritanya terdapat dalam Yohanes 8:1-11. Yuk, kita liat baik-baik apa yang terjadi di sini. (Peringatan: ini bahasa parafrase, jadi Pearlians sangat dihimbau tetap membuka Alkitab masing-masing dan baca dari situ dulu, ya. Hehehe...)

Kisah ini dimulai dengan: 
  1. Tuhan Yesus jalan ke bukit Zaitun. Itu masih pagi bangettt, and Dia lagi di Bait Allah. Nah, trus orang-orang (rakyat) datang nih. Jadinya Tuhan Yesus duduk dan ngajarin mereka. (ay. 1&2). 
  2. Trus muncullah… *Jreng jreng* para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (pada dasarnya, mereka itu orang-orang yang tahu banget hukum Musa—karena mereka belajar sampai paham total—kayak ahli teologi pada zamannya gitu, deh! Kalo sekarang, kira-kira mirip sama para pendeta atau hamba Tuhan gitu laahhh). Mereka dateng bawa cewek yang kedapatan lagi berzinah (baca: lagi ML sama cowok yang bukan suaminya) (ay.3). 
  3. Nah, si cewek ini ditaruh aja di tengah-tengah kerumunan yang ada di depan Tuhan Yesus, lalu “para pendeta” itu ngomong ke Tuhan Yesus, “Ini cewek ketangkap basah baru berzinah (ay.4), dan dalam hukum Taurat (hukum Israel), Musa bilang kalo cewek ini kudu dilemparin batu. Menurut lu gimana noh? (ay.5)” 
  4. Ayat 6 langsung nunjukkin dengan jelas motivasi para manusia ini adalah untuk mencobai Tuhan Yesus. ”Haaa… pengen nyalahin Tuhan Yesus, nih.” Eh tapi, respon Tuhan Yesus adalah nulis-nulis di tanah pake jari. (perihal lagi nulis apa, ga ditulis sih sm Alkitab) 
  5. Trusss, karena didesak sama pertanyaan-pertanyaan itu, akhirnya Yesus bilang, “Kalo di antara kalian ada yang ga berdosa, silakan aja jadi yang pertama lemparin batu ke cewek itu.” (ay.7) Abis itu Dia langsung lanjut nulis-nulis di tanah lagi (ay.8). 
  6. Nah, setelah Tuhan Yesus ngomong gitu, satu-satu mulai pergi, deh. Dari yang paling tua ke paling muda, sampai cuma tinggal Dia dan cewek itu doang (ay.9). 
  7. Abis itu, Tuhan Yesus berdiri dan nanya ke si cewek, “Yang lain mana, yah? Gak ada yang mau ngehukum kamu kah?” (ay. 10) 
  8. Si cewek jawab, “Gak ada, Tuhan.” Trus Tuhan Yesus bilang, "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (ay. 11) 
Nah, dari kisah tersebut, coba kita cermati ada siapa aja di situ. Pastinya ada Tuhan Yesus, kemudian para ahli Taurat dan orang Farisi, serta si perempuan yang berzinah. Dari situ, kita akan membahas lebih dalam tentang dua hal; kemunafikan rohani dari para “petinggi” agama tersebut, serta hubungan pengampunan dan pertobatan yang disampaikan oleh Yesus pada perempuan itu. 


--**--

1. KEMUNAFIKAN ROHANI
Secara eksplisit, Alkitab mencatat motivasi para ahli Taurat dan orang Farisi, “Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya.” (ay. 6). Bagaimana kita bisa melihat kemunafikan mereka yang lebih jelas? Dari catatan kaki yang ada di Alkitab (baik Alkitab cetak maupun yang berbentuk apps. Kalo di apps, bentuknya kayak bintang yang perlu di-klik gitu). Catatan kaki ini berisi ayat Alkitab yang terkait dengan ayat yang kita baca, tujuannya untuk membantu menjelaskan bagian yang sedang dibaca. Gak percaya? Cek aja langsung hehe. Oke, kita akan baca dua ayat yang berkaitan dengan Yohanes 8:6 ini:

Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu.
(Imamat 20:10)

Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.
(Ulangan 22:22)

Kitab Pentateukh (5 kitab pertama di Alkitab) merupakan kitab Musa, salah satunya adalah Imamat yang berisi berbagai hukum Israel—yang diulang lagi nantinya di Ulangan (setelah Israel keliling-keliling gurun selama 40 tahun). Nah, dari dua ayat di atas (yang ada di dalam hukum Musa), bisa kita lihat kalo semestinya yang ditangkap itu dua-duanya, si cowok dan si cewek. Tapi kenyataannya, yang dibawa kepada Tuhan Yesus cuma yang cewek.

Lah, lakinya kemana? Kok, cuman si cewek aja yang dibawa ke Dia? Kan, katanya mau sesuai hukum, ya? Berarti harusnya yang cowok juga ikut dihukum, kan? Gimana, sih…

Nggak berhenti di situ, setelah didesak melulu, akhirnya Tuhan Yesus bilang untuk mempersilakan mereka yang tidak pernah berbuat dosa buat ngelemparin batu duluan. Pada dasarnya, hal ini sesuai dengan apa yang Musa tulis:

Saksi-saksi itulah yang pertama-tama menggerakkan tangan mereka untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.
(Ulangan 17:7)

Di situ dibilang, kalo beneran nih cewek berzinah, siapa yang ‘dapetin’ dia harus jadi yang paling pertama buat lemparin batu. Kenapa? Biar mereka tahu, dan orang-orang nggak asal aja laporin orang yang mau dilemparin batu (dibunuh). Dengan hukum ini, para saksi dituntut untuk mengambil konsekuensi dan tanggung jawab atas testimoni mereka—bukan hanya sekadar lempar batu sembunyi tangan. Artinya, adalah satu hal ketika kamu bisa berkoar-koar sebarin hoax, tapi itu jadi lain kalo mereka harus benar-benar berhadapan dengan konsekuensi atas apa yang kamu katakan. Dengan jadi orang yang pertama untuk lemparin batu, maka ada beban etis dan moral dari sekadar memberikan tuduhan. Jadi ada sebuah proses peradilan yang terjadi di sini. 

Nah dari dua hal keganjilan tersebut, alasan sebenarnya dari para ahli Taurat dan orang Farisi ini bisa kita lihat dengan lebih jelas: pengen nyalahin dan nyudutin Tuhan Yesus. Kalo Tuhan Yesus main mengampuni aja nih cewek, tandanya Yesus melanggar hukum Musa donk (big no no!). Di sisi lain, kalo Tuhan Yesus mengikuti hukum Musa, maka di mana kasih dan pengampunan itu? Nah, ngerti kan gimana dilemanya Tuhan Yesus? Hahaha... Kira-kira gitu deh, pemikiran para ahli Taurat dan orang Farisi yang mau menjebak Tuhan Yesus. Mereka pikir pasti Tuhan Yesus akan memilih di antara dua hal tersebut; either way, kena deh!

Tapi, ups! Respon Tuhan Yesus beneran keren, deh. “Silakan lempar batu kalo kalian tidak pernah berbuat dosa!” Pernyataan ini membalikkan kedudukan orang-orang yang tadinya merasa diri lebih benar daripada si perempuan yang kedapetan berdosa ini. Yesus seolah-olah balik nanya, “Oke deh, kalo kamu mau hukum nih cewek karena dia buat dosa. Tapi kamu sendiri gimana? Sucikah kamu?” Standar kekristenan yang Tuhan Yesus kasih untuk kesucian itu sampai dengan, “Kalo kamu liatin orang lain dengan nafsu, kamu udah berzinah (Mat 5:28). Pernah ga kamu liatin orang kayak gitu? Sadar gak kalo kamu itu sama berdosanya, dan gak lebih baik dari cewek ini?”

Tadi di awal-awal, saya kasih pertanyaan, “Apa kamu pernah merasa lebih baik dari orang lain?” Kalo jawaban “ya” untuk pertanyaan seperti itu pernah muncul di pikiran kalian, maka pemikiran seperti ini dalam bahasa Inggris disebut “self-righteousness” atau dengan kata lain… merasa benar sendiri. Google Translate sih, bilangnya “kemunafikan”. Hehehe… :$ Ini sikap waktu kita merasa kalo kita ini lebih kudus dari orang lain, lebih superior secara moral dan perilaku, lebih hebat, bahkan lebih ‘spiritual’ dibandingkan mereka!

Jujur saja, ini pergumulan tersendiri bagi saya. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di lingkungan gereja, menghakimi orang lain dan melihat diri saya sendiri lebih baik daripada yang lain secara moril itu adalah sebuah kecenderungan yang perlu saya perangi. Gampang banget buat lihat balok di mata orang lain, tapi saya justru nggak lihat gajah se-mammoth di depan mata sendiri -.-“ Bagaimana pun, kemunafikan spiritual ini adalah dosa dan menyedihkan hati Allah. Saya harus bertobat!

2. PENGAMPUNAN & PERTOBATAN
Singkat cerita, orang-orang itu udah pada pergi. Baguslah, tandanya mereka masih sadar diri hahaha… Yang tersisa cuma Tuhan Yesus dan si perempuan. Setelah gak ada orang yang lemparin batu, Tuhan Yesus bilang gini di ayat ke-11:

“Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
(Yohanes 8:11)

Apa yang bisa kita pelajari dari kalimat Tuhan Yesus tersebut?

Yang pertama adalah pengampunan, alias dibebaskan dari penghukuman. Pernah lihat orang-orang yang diberikan abolisi atau amnesti dari presiden? Wuihhh, pasti rasanya senang dan lega bukan? Misalnya kamu kedapetan mencuri kue chiffon pandan dari Pasar Baru, eh kamu ketangkep sama orang-orang se-RT! Abis itu kamu dibawa (biar lebih dramatis, diseret) ke Pak RT—yang sekaligus adalah yang pemilik toko kue tempat kamu ambil kuenya hahaha. Bukannya ngehukum, beliau malah bilang, “Saya gak akan hukum kamu. Saya mengampunimu.” Ha, kalo gini kamu pasti senang, donk :p Lega kan, pastinya karena diberikan kesempatan untuk berubah.

Demikian juga dengan Allah yang mau mengampuni kita. Yohanes 3:17 menuliskan, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Pengampunan itu telah Dia berikan kepada kita, dan itu bukti kasih karunia dari-Nya buat kita, umat manusia yang berdosa ini.

Nah, terus sebagai orang yang sudah diampuni, apa yang harus kita lakukan? Jawabannya ada di bagian kedua dari kalimat Tuhan Yesus, yaitu, “Jangan berbuat dosa lagi” alias… Bertobat!

Maukah engkau menganggap sepi (baca: remeh, versi BIMK) kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?
(Roma 2:4)

Dosa itu emang enak, TAPI addictive, merusak serta mematikan! Dalam Roma 6 Paulus menerangkan dengan gamblang bagaimana sebagai orang yang telah dimerdekakan oleh Kristus: kita ini bukan budak dosa lagi! Kita dimampukan untuk say “NO!” terhadap dosa, dan kita membenci dosa karena tahu bahwa dosa mendukakan hati Allah. Alasan Tuhan marah dan sedih ketika kita berdosa itu karena Dia kasihan liatin kita yang lagi melukai diri sendiri. Bayangkan: Dia marah dan sedih untuk kita! :(

Lah, terus bagaimana kita bertobat? Apa itu pertobatan?

Dalam Perjanjian Baru, “pertobatan” menggunakan kata dalam bahasa Yunani, “μετάνοια” (metanoia), yang artinya “berbalik arah”—kehidupan yang benar-benar berubah 180

°

 (tentunya dengan mengarahkan diri sepenuhnya kepada Kristus, yaa). Perjanjian Lama pun memberikan beberapa contoh ungkapan mengenai bentuk pertobatan, misalnya di Yehezkiel 14:6; 18:30 (dengan kata “berpalinglah!”). Di samping itu, pertobatan juga memiliki unsur pengakuan dosa—dan yang paling terkenal tuh, kayak di Mazmur 51, di mana Daud mengaku dosa setelah berzinah dan membunuh suami orang. Sebagai contoh, kita bisa berdoa demikian, “Tuhan, aku telah . . . (isi dan deskripsikan apa yang kamu lakukan yang melukai hati Allah).” Jangan lupa: pengakuan ini harus diikuti penyesalan dan dukacita akan dosa tersebut, seperti yang dikatakan Paulus,

… karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikitpun tidak dirugikan oleh karena kami. Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan . . . 
(2 Korintus 7: 9-10)

Ketika kita bersedih karena dosa, itu bagus :) It’s a part of repentance! Ketika kita malu dan membenci dosa, itu adalah bentuk pertobatan. Walaupun harus tertatih-tatih dan bergumul keras untuk berkata TIDAK kepada dosa, itu adalah perwujudan dari pertobatan kita! Ketika kita jatuh untuk kesekian kalinya, namun bangkit kembali dan mau senantiasa untuk “balik arah’ dan mengikuti kehendak Allah, itulah pertobatan.

Jadi teman-teman, pertobatan itu adalah respon otomatis dari pengampunan. Dua-duanya sepaket.

“Anugerah murahan adalah rahmat yang kita berikan pada diri kita sendiri. Anugerah murahan adalah khotbah pengampunan tanpa membutuhkan pertobatan, baptisan tanpa disiplin gereja, Komuni tanpa pengakuan... Anugerah murahan adalah anugerah tanpa pemuridan, anugerah tanpa salib, anugerah tanpa Yesus Kristus, hidup dan berinkarnasi.”

(Terjemahan dari: “Cheap grace is the grace we bestow on ourselves. Cheap grace is the preaching of forgiveness without requiring repentance, baptism without church discipline, Communion without confession…. Cheap grace is grace without discipleship, grace without the cross, grace without Jesus Christ, living and incarnate.”)

—Dietrich Bonhoeffer

Kasih pengampunan yang Allah berikan kepada kita memang diberikan secara cuma-cuma, tapi kasih yang melatarbelakanginya itu sangat mahal, Pearlians! Menutup tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk merenungkan, “Bagaimana selama ini kita telah menghidupi kasih karunia Allah itu? Have we actually taken it for granted?

Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, 
karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia?
“Sekali-kali tidak!”
(Roma 6:15)

Beranikah kita mengatakan hal yang sama seperti Paulus di atas?

Monday, May 6, 2019

Batsyeba: Bangkit Melampaui Masa Lalu


by Yuni Sutanto 

Masa lalu kita tentunya beragam. Ada yang membanggakan, ada juga yang memalukan. Ada yang membahagiakan, ada juga yang ingin kita lupakan. Dari semua itu, memori tentang masa lalu mana yang sering muncul di benak kita – sengaja atau tidak? Apakah rasa sedih saat kehilangan ayah tercinta? Atau kenangan putus cinta saat orang yang kita doakan ternyata memilih gadis lain? Mungkin juga ingatan tentang masa lajang yang diwarnai pergaulan yang buruk. Kadang kenangan tentang peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan itu datang tanpa diundang. Lain halnya dengan kenangan yang baik, kita menjaganya agar tidak terlupakan. Misalnya, perasaan saat lulus kuliah dengan predikat summa cum laude, euforia bulan madu, atau keharuan saat melahirkan bayi mungil yang memberi kita status sebagai seorang ibu. 

Ada lorong-lorong di batin kita yang menjadi semacam “hall of pride”, dimana kita memajang momen-momen membanggakan. Ada pula lorong-lorong “hall of shame” tempat kita meletakkan ingatan tentang momen memalukan, menyedihkan dan penuh penyesalan. 

Masa lalu memang tidak bisa diubah. Tapi ia membangkitkan emosi dan pikiran tertentu saat kita mengingatnya. Emosi dan pikiran yang dapat menentukan masa kini dan masa sekarang. Nah, apapun warna masa lalu kita, jangan sampai masa lalu itu jadi batu penghalang untuk kita maju saat ini. Keputusan yang salah di masa lalu dengan segala konsekuensinya biarlah membuat kita lebih bijak dalam mengambil keputusan di masa kini dan akan datang. 

Kita bisa belajar dari Batsyeba. 

Batsyeba bukanlah wanita biasa. Ya, ia jelas berbeda dari wanita-wanita di Perjanjian Lama, sampai-sampai namanya diabadikan di silsilah Yesus. Dalam budaya patriarki bangsa Yahudi, biasanya hanya kaum pria yang namanya dicatat dalam silsilah. Tapi, dari silsilah Yesus, ada tertulis beberapa nama wanita. Mereka ini adalah para wanita yang “tidak biasa”, sehingga penulis Alkitab merasa perlu memberikan sedikit catatan tentang mereka. Salah satu dari nama wanita yang tercatat di silsilah Yesus ialah Batsyeba! 

Namun, bagaimana kisah Batsyeba diabadikan di silsilah Mesias tersebut? Catatan apa yang ditulis tentang seorang Batsyeba? Apa sih kisah tak biasa itu? Apakah kisah yang layak dipajang di hall of fame, atau skandal yang harus diletakkan di hall of shame

Ternyata, Batsyeba tidak dituliskan sebagai “Batsyeba anak Eliam” padahal ayahnya tercatat sebagai salah seorang pahlawan gagah perkasa Israel. Ia juga tidak dituliskan sebagai “Batsyeba cucu Ahitofel”, padahal kakeknya adalah salah satu dari penasehat Raja. Ia juga tidak dicatat sebagai “Batsyeba istri Daud”, tidak demikian! Namanya dicatat sebagai “istri Uria”, orang Het. 

Demikian firman Tuhan di Matius 1:6

“Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria.” 

Jadi, silsilah Tuhan Yesus mencatat bahwa Raja Daud memperanakkan Salomo, sang pewaris tahtanya dari “isterinya Uria”. Sungguh sebuah catatan hall of shame. Sebuah skandal perzinahan yang jejaknya diabadikan dalam silsilah seorang Juru Selamat. 

*** 

Siapa gerangan suami resmi Batsyeba? Siapa Uria orang Het itu? 

Uria ternyata adalah salah satu pahlawan perang Daud. Jadi, ayah dan suami Batsyeba termasuk dalam daftar 37 pahlawan perang Daud. Pahlawan perang di zaman Raja-Raja ibarat samurai yang hidup di zaman Edo di Jepang. Mereka adalah kaum terhormat yang dipandang berjasa dan bermartabat. Batsyeba berasal dari keluarga yang termasuk kalangan ini. Rasa hormat terhadap istri dan anak dari pahlawan perang ini tentu membuatnya cukup dipandang oleh masyarakat era itu. Sebuah reputasi awal yang sangat terhormat bukan? 

Namun setelah skandal “one night stand” bersama Raja Daud, predikat Batsyeba sebagai istri dan anak pahlawan perang yang terhormat seolah sirna. Rusak susu sebelanga hanya karena nila setitik. Rusak sudah nama baik yang selama ini terjaga. 

Hal ini berbeda dengan Ester yang menjalani setahun dalam kontes ratu Persia. Ia mempersiapkan diri sekian lama demi mendapat kesempatan “one night with King Ahasyweros”. Ia melakukan berbagai ritual kecantikan demi bertemu sang Raja. Kontras sekali dengan Batsyeba yang tanpa persiapan ternyata lalu seranjang dengan Raja Daud. Ia bahkan tak sadar bahwa sang Raja menyaksikannya mandi tanpa sehelai benang di tubuhnya, tepatnya saat Batsyeba berada di atas sotoh rumahnya menjalankan ritual membersihkan diri sesuai tradisi wanita Yahudi. Ritual membersihkan diri di era itu memang dilakukan dengan air hujan yang di tampung di tempayan-tempayan di atas sotoh. Ia tak tahu bahwa aksi mandinya membangkitkan birahi seorang Raja, yang posisinya begitu strategis untuk menyaksikan pemandangan sekelilingnya! 

Saat sang Raja memanggilnya menghadap pun, ia mungkin mengira sesuatu telah terjadi pada Uria suaminya di medan perang. Terluka parahkah Uria? Tak disangkanya ternyata ia diundang ke istana untuk memuaskan birahi sang Raja yang kebetulan sedang “tak ikut berperang”. Tindakan itupun membuahkan benih di rahimnya. Bathsyeba hamil, dan kehamilan itu terjadi suaminya berperang. Semua orang akan tahu ia berzinah. 

“Wanita macam apakah yang bersedia tidur dengan Raja sementara suaminya bertarung di medan perang?” begitu mungkin cibiran dan bisik-bisik di antara para dayang dan kerabat istana. Atau mungkin bisik-bisik itu hanya muncul di kepalanya, ungkapan tajam hati nurani yang tak henti menuduh dirinya sendiri! 

Singkat cerita, Batsyeba akhirnya diperistri oleh raja Daud, setelah Uria suaminya “tewas” di medan perang. Anak yang terlahir dari hasil hubungan terlarangnya dengan sang Raja pun meninggal sebagai hukuman Tuhan. Namun Batsyeba masih melahirkan empat putra lagi bagi Daud: Simea, Sobab, Natan dan Salomo. Tuhan tetap membuka rahim Batsyeba. 

Bastsyeba memang pernah melakukan kesalahan, namun ia tidak berkubang dalam kesalahannya. Bersama Daud, ia bangkit dari masa lalunya. Pertobatan Batsyeba memang tidak diceritakan secara khusus di Alkitab. Firman Tuhan hanya mencatat pertobatan Daud. Tapi, kita bisa melihat perkenan Tuhan bagi keluarga ini, melalui kehidupan Salomo, dan bagaimana Tuhan memilihnya menjadi leluhur seorang Mesias. 

*** 

Mungkin ada di antara kita yang memulai pernikahan dengan problema seperti Batsyeba. Ada pasangan yang memulai pernikahan dengan bimbingan pranikah, penuh persiapan beberapa tahun sebelumnya, setelah sebelumnya melalui proses menjaga kekudusan. Namun, tidak menutup mata, banyak pula yang memulai pernikahan tanpa persiapan matang, bisa saja demi menutupi aib keluarga, karena terlanjur hamil di luar nikah, dikejar target usia, memakai jasa biro jodoh, atau bisa saja menikah dengan seseorang yang ternyata pasangan orang lain. Ada berbagai motif dan alasan yang salah saat seseorang memasuki gerbang pelaminan. 

Batsyeba pun demikian, ia memulai rumah tangganya dengan Daud dengan cara yang salah, namun ia bangkit mengatasi masa lalunya. Ia memang menjalani konsekuensi dari perbuatannya yang salah. Ia harus menjalani kesedihan karena anak hasil hubungan dengan Daud meninggal dunia. Ia harus hidup dengan Raja Daud yang juga mempunyai istri-istri lainnya. Ia harus diingat sebagai istri Uria yang berzinah dengan sang Raja. Cukup memalukan dan mengerikan ya konsekuensi dari kesalahannya? 

Tapi, meskipun Alkitab tidak menceritakan pertobatan Batsyeba dengan detail, kita bisa melihat bagaimana Batsyeba kemudian berperan dalam kehidupan Daud dan Salomo sebagai istri dan ibu yang takut akan Tuhan. Saat polemik pergantian raja, Batsyeba, atas nasihat Nabi Natan, mencegah Daud mengangkat Adonia dan memperjuangkan Salomo menjadi Raja sesuai kehendak Tuhan. Natan adalah seorang Nabi yang punya integritas, dialah yang menegur Daud atas perzinahan yang ia lakukan bersama Batsyeba. Apabila Natan tidak percaya pada Batsyeba, mustahil rasanya ia menyuruh Batsyeba bicara pada Daud. Dan Batsyeba, mengikuti nasihat Nabi Natan dengan taat. Atas peran Batsyeba, Daud memerintahkan Salomo diurapi menjadi raja menggantikan dia. 

Mustahil rasanya Batsyeba bisa melupakan masa lalunya, tapi ia menebus semua itu dengan pertobatan, hingga kemudian melakukan perannya sebagai istri Daud dan ibu bagi Salomo dengan benar. Ia memulai dengan salah, tapi ia berupaya mengakhiri dengan benar! Bukankah demikian juga seharusnya dengan hidup kita? Entah kita memulai dengan awal yang benar atau salah, bagian kita adalah terus mengerjakan keselamatan hingga garis akhir! Jangan puas atau takabur dengan awal yang benar, tapi pastikan kita mengakhiri hidup kita dengan benar! Lebih baik seorang mantan pelacur yang bertobat daripada seorang mantan hamba Tuhan yang murtad. Bagaimana kita menyelesaikan pertandingan imanlah yang menentukan. 

Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! 
(1 Korintus 10:12)

Hiduplah di masa kini, jangan hidup di masa lalu! Fokus mengingat kegagalan di masa lalu membuat hidup kita tidak maksimal di masa kini. Yang kita miliki hanyalah “saat ini” dan “pelajaran” dari masa lalu. Keputusan di tangan kita: apakah kita terus melanjutkan sisa hidup ini dalam kebenaran atau tidak. Batsyeba memilih untuk tidak mengijinkan masa lalunya yang salah mengikatnya dalam mengambil keputusan benar di saat ini. Kita pun bisa memilih melakukan hal yang sama. Mari terus berjuang mengerjakan keselamatan sampai akhir hidup kita! 

Never quit in your journey of faith! Finish strong!

Monday, April 29, 2019

Hulda, The Real Influencer


by Glory Ekasari 

Zaman sekarang, banyak profesi yang sepuluh tahun lalu belum ada: content creator, influencer, celebgram, youtuber, dll. Semuanya adalah orang-orang yang pekerjaannya mempengaruhi orang lain lewat media sosial untuk membeli produk tertentu. Kita cukup bayar mereka untuk post foto dengan produk kita (a.k.a. endorsement), dan followers mereka akan melihat. Semakin banyak followers, semakin banyak yang melihat iklan kita, semakin mahal pula tarifnya. Cristiano Ronaldo saat ini adalah selebritis dengan jumlah followers terbanyak di dunia. Berapa? 160 jutaan pengikut! Kebayang dong, betapa mahal tarif endorse dia. 

Lho, kok jadi ngomongin influencer? Ya, karena dalam post ini kita akan belajar tentang seorang wanita yang jadi influencer dalam Alkitab. Dia mungkin tidak seterkenal Debora, Maria, atau bahkan Delila; tapi dia memainkan peran yang penting dalam sejarah Israel, dan namanya dicatat dalam sejarah orang Yahudi sebagai satu dari tujuh nabi wanita yang dipakai Tuhan pada masa Perjanjian Lama (enam yang lain adalah Sara, Miryam, Debora, Hana, Abigail, dan Ester). Dialah Hulda. 

Hulda adalah isteri Salum bin Tikwa. Dia hidup pada masa pemerintahan raja Yosia, satu zaman dengan Yeremia dan Zefanya. Menurut tradisi sejarah Israel, Yeremia bernubuat di jalan-jalan Yerusalem, Zefanya bernubuat di rumah ibadah, dan Hulda mengajar para wanita untuk mengenal firman Tuhan—sementara suaminya bekerja sebagai pejabat istana. 

Baik Hulda maupun Salum, suaminya, memiliki pengaruh dalam hidup raja Yosia. Yosia naik takhta menggantikan ayahnya, Amon, pada usia 8 tahun. Memikul tanggung jawab yang besar pada usia semuda itu, tentu Yosia perlu orang-orang dewasa yang membimbing dia. Yosia mendapat bimbingan yang baik dari Imam Besar Hilkia (yang adalah kakek buyut dari Ezra) dan Safan, panitera negara. Ketika Yosia berusia 26 tahun, dia memerintahkan Safan untuk bekerjasama dengan Imam Hilkia untuk perbaikan Bait Suci. Saat itu, mereka menemukan kitab Taurat, dan Yosia meminta kitab itu dibacakan baginya. Begitu mendengar isinya, Yosia langsung sadar bahwa Israel dan Yehuda telah jauh melenceng dari hukum-hukum Allah! Dalam kesedihan dan rasa takutnya akan hukuman Allah, Yosia menyuruh orang-orangnya pergi mencari kehendak Tuhan dari salah satu nabi-Nya. Ke mana orang-orang itu pergi? Ya, kepada Hulda. 

Nubuat Hulda tercatat dalam 2 Raja-raja 22:15-20. Tuhan menyatakan bahwa Dia marah pada umat-Nya karena ratusan tahun mereka hidup menyimpang dari firman-Nya, tetapi Ia berkenan akan raja Yosia yang mencari wajah Tuhan dengan segenap hati. Yosia menanggapi firman itu dengan sungguh-sungguh: dia melakukan reformasi rohani besar-besaran, merobohkan dan menajiskan semua mezbah berhala, menyucikan Bait Allah, memerintahkan agar Taurat dibacakan kepada semua rakyat, bahkan merayakan Paskah secara nasional—sesuatu yang tidak pernah dilakukan raja-raja Israel dan Yehuda. Hulda, dengan nubuatnya, menjadi alat Tuhan untuk menggerakkan raja Yosia. 

Mempengaruhi orang lain untuk berbalik kepada Tuhan dan jadi agen perubahan? Itu baru influencer sejati! Yang didapat bukan uang, bukan ketenaran, tapi penghargaan dari Tuhan, dan kebanggaan sejati melihat Tuhan bekerja melalui hidup kita. Hulda adalah seorang wanita biasa, namun ia menyediakan dirinya untuk dipakai Tuhan, dan tidak ragu melakukan apa yang menjadi bagiannya sebagai seorang nabiah. Dengan kesediaannya untuk melayani Tuhan, dia menjadi orang yang mempengaruhi raja untuk membawa bangsanya kembali kepada Tuhan. 

Saat saya kuliah, saya pernah mendengar sebuah definisi dari kata power, yang melekat di pikiran kita sampai sekarang: Power is the ability to influence people. Dan tahukah kalian bahwa wanita, sekalipun tidak ditetapkan Tuhan menjadi pemimpin dalam keluarga, adalah influencer yang luar biasa? Orang dunia saja tahu pepatah, “Behind every successful man, there is a great woman.” Bahkan istri yang cakap dalam Amsal 31 jugalah isteri dan ibu yang sangat besar pengaruhnya bagi keluarganya. Saya berani bilang bahwa kite-kite yang sudah dewasa pasti melihat ibu masing-masing sebagai figur teladan dan berpengaruh. Apa yang dilakukannya? By simply being who she is and does what she does. Sehebat itulah pengaruh wanita, apalagi wanita yang takut akan Tuhan, yang hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus! 

Sadarilah bahwa kita, para wanita, sejatinya adalah influencer. Walaupun followers IG kita nol, walaupun nggak main FB, kita tetap berpengaruh bagi orang-orang di sekitar kita: orangtua, kakak/adik, suami, anak, rekan kerja, tetangga, dll. Pertanyaannya, kita mau memberi pengaruh seperti apa? Kalau kita rindu orang-orang di sekitar kita mengalami reformasi rohani dalam hidup mereka, berikan diri kita kepada Tuhan untuk dipimpin Roh-Nya. Kita akan terkejut melihat apa yang bisa Tuhan kerjakan untuk orang lain lewat hidup kita!

Sunday, April 21, 2019

Maria Magdalena: Terakhir dekat Salib, Termula dekat Kubur


by Eunike Santosa 

Halo teman-teman! Dalam rangka merayakan Jumat Agung dan Paskah, aku pengen mengajak temen-temen untuk mengenal seorang perempuan yang namanya sudah tidak asing lagi, yaitu Maria Magdalena. Siapakah dia? 

Sebuah puisi karya Eaton S. Barrett tentangnya berbunyi demikian: 
Not she with traitorous kiss her Saviour stung,
Not she denied Him with unfaithful tongue;
She, while apostles fled, could danger brave,
Last at His cross, and earliest at His grave. 
Maria Magdalena, bukan orang yang memberikan ciuman pengkhianatan seperti Yudas Iskariot. Dia juga bukan orang yang menyangkal Tuhannya seperti Simon Petrus. Ketika para murid lain kabur, dia berani tinggal dekat Kristus yang disalib, dengan resiko bahaya. Dialah orang terakhir dekat salib Kristus, dan yang paling pertama hadir di kubur-Nya. Seorang pengikut Kristus yang setia. 

Kita biasanya mendengar namanya dalam cerita Paskah sebagai salah satu perempuan yang datang ke kuburan Tuhan Yesus pagi-pagi benar. Ya memang bener sih, ga salah. Tapi ketika saya membaca dan meneliti lebih jauh tentang sosok wanita ini, ternyata ada banyak hal yang saya temukan tentang dia. Dan semakin jauh saya mempelajarinya, saya ikut terharu dan nangis sendiri. Hehe... Jadi, saya berharap, sebagaimana saya telah diberkati dan dikuatkan ketika saya menggali tentang sosok Maria Magdalena ini, kiranya kalian juga akan mendapatkan berkat yang sama. Yuk, mari kita belajar pelan-pelan. :) Maria Magdalena adalah... 
  1. Salah satu dari perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus (Matius 27:55, Lukas 8:1-3) 
  2. Salah satu perempuan yang menjadi saksi kematian Kristus di atas salib (Matius 27:56, Markus 15:40, Lukas 23:49, Yohanes 19:25) 
  3. Salah satu perempuan yang hadir saat Yesus dikuburkan (Matius 27:61, Markus 15:47) 
  4. Salah satu saksi awal dari Kebangkitan Kristus (Matius 28:1-10, Markus 16:1-8, Lukas 24:1-10, Yohanes 20:1-2) 
  5. Orang pertama yang Yesus menampakkan dirinya setelah bangkit (Markus 16:9, Yohanes 20:11-17) 
  6. Salah satu orang pertama yang memberitakan kabar kebangkitan Kristus (Matius 28:7, Lukas 24:9, Yohanes 20:18) 
  7. Bisa dibilang ketua dari para perempuan-perempuan pengikut Kristus atau setidaknya mempunyai posisi yang signifikan karena namanya sering dicatat duluan sebelum perempuan-perempuan lainnya (Matius 27:56, 61, 28:1; Markus 15:40, 47, 16:1; Lukas 24:10) 
Lumayan panjang kan, ‘rekam jejak’ Maria Magdalena ini? Hehehe… Saya tercengang sendiri waktu nge-list ‘penemuan-penemuan’ ini. Nah, itu adalah Maria Magdalena setelah menjadi murid Kristus. Tapi siapakah dia sebelumnya? Alkitab mencatat bahwa dia dulunya dirasuki oleh tujuh roh jahat, dan Yesus mengusir semua roh tersebut (Markus 16:9, Lukas 8:2). Namanya Maria Magdalena, yang menunjukkan bahwa dia berasal dari kota Magdala di provinsi Galilea (Matius 27:55). Kota ini katanya merupakan kota yang lumayan kaya raya karena industri tekstil di provinsi Galilea. Trus, menurut Lukas, para perempuan-perempuan ini melayani Kristus dengan kekayaan mereka (Lukas 8:3), jadi bisa diasumsikan kalau si mbak Maria Magdalena ini lumayan berduit sebelum dia melayani Kristus. 

Coba kita memahami hati Maria dengan menempatkan diri di posisinya. Ketika ketemu Yesus, Dia dibebasin dari belenggu roh-roh jahat. Beberapa komentator bilang, ketika seseorang dirasuki roh jahat, kemungkinan yang terjadi adalah dia jadi gila—alias ga bisa mengontrol pikirannya sendiri. Kebayang gak tuh, betapa menderitanya dia? Lalu datanglah Juruselamat yang melihat dia, dan membebaskan dia; seorang Pribadi yang melihat penderitaannya dan menyelamatkannya. Terus seiring berjalannya waktu, dia ikut Tuhan dan dia melihat bagaimana Pribadi ini menyembuhkan banyak orang, mengajar banyak orang, diikuti banyak orang. Sungguh waktu-waktu yang indah bagi Maria. 

And then… Tuhannya ditangkap, diadili depan Pilatus. Maria melihat Tuhannya dihina, diludahi, dicambuk, difitnah, dibenci oleh banyak orang (mungkin bahkan orang-orang yang tadinya mengelu-elukan Yesus!). Pribadi yang mengusir roh-roh jahat darinya, sekarang harus memikul salib yang hina dan berjalan ke Kalvari. Pribadi yang melihat dirinya dan segala kebutuhannya, sekarang dipaku di atas kayu salib. Tuhannya, yang dekat dengannya, yang tadinya banyak bercakap-cakap dengannya, sekarang menderita secara fisik, emosi, dan rohani, tergantung di salib. Tuhannya, yang dekat dengan hatinya, sudah mati. 

*menghela nafas sejenak…* 

Ketika saya merenungkan kisah Maria Magdalena ini, saya teringat akan sebuah lagu hymne. Lagu ini berasal dari wilayah perkebunan di Amerika Serikat pada masa perbudakan orang kulit hitam sekitar tahun 1899, judulnya "Were you there when they crucify my Lord?" Berikut saya terjemahkan liriknya. 

Apakah engkau di sana ketika mereka menyalibkan Tuhanku? 
Apakah engkau di sana ketika mereka menyalibkan Tuhanku? 
O, terkadang ini membuatku gemetar, gemetar, dan gemetar! 
Apakah engkau di sana ketika mereka menyalibkan Tuhanku? 

Apakah engkau di sana ketika mereka memaku-Nya di salib? 
Apakah engkau di sana ketika mereka memaku-Nya di salib? 
O, terkadang ini membuatku gemetar, gemetar, dan gemetar! 
Apakah engkau di sana ketika mereka memaku-Nya di salib? 

Apakah engkau di sana ketika mereka menaruh-Nya di kubur? 
Apakah engkau di sana ketika mereka menaruh-Nya di kubur? 
O, terkadang ini membuatku gemetar, gemetar, dan gemetar! 
Apakah engkau di sana ketika mereka menaruh-Nya di kubur? 

Maria tetap ada di sana, di setiap tahap penyaliban Kristus. Menyaksikan dengan hati bergetar Tuhannya disiksa. Saya mencoba menempatkan diri saya di posisi Maria, merenungkan Tuhanku, Yesusku, dipaku, disalib, mati… Buat saya. Karena saya. 

Seolah belum cukup kesedihan Maria, pada hari minggu pagi-pagi ketika ia dan perempuan-perempuan lainnya pergi ke kubur Yesus dengan membawa rempah-rempah bagi jenazah Yesus, dia menemukan pintu kubur Yesus terbuka, dan kubur itu kosong! Mereka pikir tubuh Kristus dicuri orang. Di injil Yohanes dicatat kalau si Maria Magdalena langsung lari ke murid-murid lain buat lapor bahwa tubuh Yesus hilang. Murid-murid Yesus ikut ke kubur itu dan melihatnya kosong, sehingga mereka beranggapan mayat Yesus memang hilang. Mereka semua balik dan meninggalkan kubur. Tinggalah si Maria Magdalena yang menangis sedih. Apa gak cukup Tuhannya dibunuh, trus sekarang mayat-Nya harus hilang pula dicuri? Why?

Lalu Yesus muncul dan bertanya, “Mengapa kamu menangis?” 

Ketika membaca kalimat pertanyaan yang Tuhan Yesus lantarkan ini, saya coba membayangkan wajah Yesus yang penuh kelemahlembutan dan kesabaran, bertanya kepada Maria yang sedang menangis tersedu-sedu. Maria akhirnya sadar bahwa itu Tuhan Yesus, ketika namanya disebut (Yohanes 20:16). Disini saya melihat, ada sentuhan yang sangat pribadi dan personal dari pertanyaan Yesus dan ketika Yesus menyebutkan nama Maria. Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya pertama kali setelah Dia bangkit kepada Maria, seorang perempuan. I don’t know about you, tapi buat saya, kalo saya jadi Maria, saya akan merasa sangat tersentuh, dihargai, dan dicintai! Ini salah satu bukti bahwa Allah peduli terhadap wanita, isi hati wanita, tangisan wanita. Dia dekat denganmu ketika kamu nangis, ketika kamu sedih. Dia adalah Tuhan yang mendengar, berempati, melihat dan menjawab. 

Sebagai saksi pertama akan kebangkitan Kristus, penampakan Kristus, Maria Magdalena pun menjadi pengabar berita kebangkitan Kristus. Setelah ketemu Yesus, Maria langsung pergi dan mengabarkan pada murid-murid, sesuai dengan perintah Kristus. Nah, hal ini adalah hal yang secara teologis sangat signifikan. Mengapa? Maria Magdalena hidup di zaman dimana kesaksian seorang perempuan itu tidak dianggap oleh hukum. Apa yang dikatakan oleh seorang wanita dianggap tidak penting, dibanding apa yang dikatakan seorang pria. Jadi untuk sebuah peristiwa yang begitu penting dalam sejarah kekristenan—kebangkitan Kristus sendiri, Tuhan memakai seorang wanita untuk menjadi saksi pertama-Nya. Ini artinya, once again, Yesus mendobrak nilai budaya. Bagi Allah, perempuan itu penting! Sama pentingnya dengan pria. Allah bisa memakai perempuan untuk kepentingan kerajaan-Nya. Allah mengasihi perempuan. Dan melalui kesaksian perempuan-perempuan ini, berita kebangkitan Kristus dapat tersebar. Dicatat di Alkitab, sebagai bukti bagaimana kekristenan itu berbeda dengan budaya, bukti bahwa Allah tidak memandang gender. Dia bisa memakai kaum yang tidak dianggap untuk mengukir sejarah. Kebenaran ini didokumentasikan oleh Alkitab: keempat Injil menuliskan nama Maria Magdalena sebagai saksi penting kebangkitan Kristus. 

Tidak dicatat lagi kelanjutan kisah Maria Magdalena, tapi bisa kita asumsikan bahwa dia terus melayani dan mengikuti Kristus setelah Kristus naik ke surga, dan menjadi bagian dari gereja mula-mula. 

Teman-teman, saya ngga tau teman-teman sedang apa ketika membaca artikel ini. Tapi saya ingin mengajak kalian ambil waktu sejenak untuk merenung. Boleh juga sambil dengerin lagu di bawah ini. Coba pikirkan sebentar, bagaimana komitmen kalian dalam mengikut Yesus sejauh ini? Apakah kamu telah menghidupi kematian dan kebangkitan Kristus dalam keseharianmu? Dan apa yang dapat kamu pelajari dari kisah Maria Magdalena ini? Renungkan sebentar… Kemudian tutuplah dengan doa respon pribadimu dengan Tuhan. :) 



*** 

Bapa, terima kasih buat kasih-Mu. Terima kasih buat karya keselamatan. Terima kasih buat Kristus yang mau dihina, dicambuk, disalib, dan mati untukku. Terima kasih buat kebangkitan-Nya. Terima kasih karena aku mempunyai Allah yang memperhatikanku secara pribadi, Allah yang mengerti hatiku, Allah yang hadir dan menjawabku ketika aku menangis. Dan biarlah kiranya, seperti Maria Magdalena, aku bisa setia mengikuti-Mu, melayani-Mu, mengasihi-Mu dengan segenap hatiku, jiwaku dan pikiranku. Amin. 

Selamat paskah teman-teman! :) 

Monday, April 15, 2019

Hawa: Wanita yang Disalahkan


by Mekar Andaryani Pradipta

“Gara-gara Hawa, seluruh umat manusia jadi menderita.”

“Satu wanita membuat semua orang hidup dalam hukuman.”

“Andai Tuhan tidak menciptakan Hawa, bisa saja dunia ini berbeda”

Apakah kamu pernah mendengar kalimat-kalimat seperti itu tentang Hawa? Mungkin tidak persis, tapi bisa saja senada. Intinya, Hawa adalah pembuat masalah. Hawa membuka pintu terhadap dosa. Hawa adalah biang kerok dari kejatuhan umat manusia.

Bahkan sampai ribuan tahun setelahnya, kebanyakan orang masih mengingat dosa Hawa dan menyalahkan Hawa atas segala kemalangan di dunia.

Pertanyaannya, apakah Tuhan menyalahkan Hawa?


***


Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
(Roma 5:12)

Ya, ayat ini memang menjelaskan bahwa dosa masuk ke dunia karena satu orang. Tapi kalau kita membaca perikop lengkapnya, orang yang dimaksud dalam Firman ini bukanlah Hawa—melainkan Adam. 

Seluruh dunia bisa saja menyalahkan Hawa, tapi Tuhan tidak. Hawa memang berdosa, tapi Tuhan tidak memberikan label “penyebab dosa” pada Hawa.

Wow.

Kalau kita melihat lagi kejadian sesaat setelah kejatuhan manusia di Taman Eden, orang pertama yang diminta Tuhan menjelaskan apa yang terjadi memang bukan Hawa:

Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau? Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."
(Kejadian 3:8-10)

Terjemahan Indonesia memang memakai kata “manusia” yang bisa merujuk pada Adam maupun Hawa. Tapi terjemahan Bahasa Inggris menggunakan kata “man” atau “laki-laki” yang jelas-jelas mengacu kepada Adam.

Kenapa Allah meminta penjelasan atau pertanggungjawaban dari Adam? Alasan terkuatnya adalah karena Allah telah menyatakan Adam dan Hawa sebagai satu daging (Kejadian 2:24), dengan Adam sebagai kepalanya.

Lalu, apa yang Adam katakan?

“Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."
(Kejadian 3:12)

Apakah itu benar? Hmm, benar sih… tapi kurang tepat. Mari kita kembali tepat ketika dosa pertama terjadi.

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.
Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah tahu tentang yang baik dan yang jahat. Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.
(Kejadian 3:1-6)

Alkitab menuliskan Adam ada bersama Hawa ketika Hawa digoda oleh si ular, tapi Adam tidak melakukan apa-apa—sepatah kata pun tidak diucapkannya. Adam justru membiarkan istrinya memberikan respon yang salah. Ya, Adam tahu bahwa istrinya dicobai oleh ular, namun jawabannya kepada Tuhan di Kejadian 3:12 hanya menyebutkan bahwa dia jatuh dalam dosa karena istrinya. Jangankan membela dan melindungi istrinya, Adam bahkan sama sekali tidak menyebutkan fakta bahwa semua yang terjadi itu disebabkankan karena pencobaan dari si jahat. Adam adalah orang pertama yang menyalahkan Hawa, istrinya sendiri.

Bagaimana rasanya menjadi Hawa?

Hawa memang melakukan kesalahan. Mungkin saat itu dia merasa bingung, sedih, dan takut. Sangat normal jika Hawa mengharapkan Adam, yang adalah bagian yang utuh dari dirinya, menghadapi tragedi itu bersama-sama. Tapi, suaminya itu justru meletakkan semua kesalahan di pundaknya. Bukannya mengakui kesalahannya, Adam lepas tangan dari tanggung jawabnya sebagai kepala yang gagal melindungi Hawa—yang (katanya) adalah tulang rusuknya.


***


Dari kehidupan Hawa ini, Alkitab justru menegaskan tentang pribadi Allah: 
1) Dia adalah Allah yang setia dan adil 
Pada saat manusia melakukan dosa, Allah tidak fokus pada hukuman; tapi Dia lebih peduli pada hubungan. Ia adalah Tuhan yang punya hati untuk memahami keadaan dan posisi kita. Bagaimanapun Ia adalah seorang Bapa yang baik, yang mau mendengarkan dan mengerti. Allah bukan Tuhan yang menyalahkan kita lalu asal memberikan hukuman; melainkan Dia memberikannya dengan adil. Baik Adam dan Hawa sama-sama melakukan dosa, namun Adam dituntut pertanggungjawaban karena sebagai suami ia adalah kepala. Adam juga dimintai pertanggungjawaban, karena sejak awal ia ada bersama dengan Hawa—sesungguhnya dia bisa mencegah Hawa meladeni Iblis sampai melanggar perintah Allah.

Mungkin saat ini, ada di antara kita yang sedang menghadapi masalah karena kesalahan yang kita lakukan. Mungkin kita jadi satu-satunya pihak yang dituntut pertanggungjawaban, padahal sebenarnya kita bukanlah satu-satunya penyebab masalah itu terjadi. Listen, God knows what happened. Dunia bisa saja mengacungkan jari ke muka kita, semua orang pergi dan membiarkan kita berjuang sendiri, tapi Tuhan tidak. He knows, He cares, He understands.

Tidak hanya adil, Allah juga setia. Jika kita lanjut membaca Kejadian 3, bahkan setelah menghukum Adam dan Hawa lalu mengusir mereka dari Taman Eden, pemeliharaan-Nya tidak berakhir.

Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.
(Kejadian 3:21)

Rasanya bagian ini sangat mengharukan. Tuhan bukan bapa yang mengatakan, “Kalian pendosa, kalian bukan anak-anak-Ku lagi!” Dengan membuatkan pakaian dan memakaikannya langsung, Allah seperti mengatakan, “Kalian memang berdosa, tapi kalian tetap anak-anak-Ku dan Aku tetap mengasihi kalian. Sekarang kalian harus menerima konsekuensi dosa, berjuanglah dan jangan melakukan dosa lagi. Aku masih menyertai kalian.” Dari situ, kita bisa belajar bahwa Tuhan yang adil jugalah Bapa yang tetap mengasihi kita.

Ia adalah Tuhan yang setia, apapun dosa dan kesalahan yang kita lakukan.

2) Alih-alih menyalahkan, Allah memberikan jalan keluar
Ketika manusia jatuh dalam dosa, rencana Tuhan seolah-olah hancur, Iblis merasa menang karena maut telah menguasai seluruh dunia. Tapi Tuhan punya jalan keluar. 

Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
(Roma 5:12-15)

Saat kita melakukan kesalahan, kadang-kadang kita menganggap hidup kita berakhir dan masa depan kita hancur. Tapi Tuhan sanggup membalikkan keadaan. Dalam kasus Adam dan Hawa, Yesus Kristus adalah jalan keluar. Kabar gembiranya, Yesus menjadi jalan keluar yang juga Allah sediakan untuk setiap pergumulan dan dosa kita saat ini. Ia adalah kunci menuju kasih karunia dan anugerah Allah yang membenarkan hidup kita.


***


Sebagai bahan refleksi, bagaimana perasaanmu jika menjadi Hawa, yang suaminya menyalahkan dia, dan tidak mau menanggung beban bersama, bahkan ketika Tuhan sudah menyatakan bahwa mereka adalah satu daging? 

Alkitab tidak mencatat Hawa balas menyalahkan suaminya. Alkitab tidak mencatat Hawa sebagai wanita yang kecewa pada suaminya lalu meninggalkan dia. Alkitab mencatat Hawa yang tetap bersama Adam dan menjalankan perannya sebagai penolong bagi Adam.

Kesalahan Hawa tidak menghentikannya untuk memberikan tanggapan yang benar di kemudian hari. Hawa berusaha memahami apa artinya menjadi satu daging, meskipun suaminya pernah mengecewakannya. Bersama Adam, ia berjuang dari tragedi yang menimpa keluarga kecilnya. Pada akhirnya, Hawa tahu bahwa hidupnya dipulihkan semata-mata karena pertolongan Tuhan—sehingga ketika anak pertamanya lahir, Hawa bisa berkata, “"Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN." (Kejadian 4:1)

Dengan pengampunan dan karunia Tuhan, kesalahan Hawa justru membuatnya sungguh-sungguh mengalami dan mengenal-Nya.


***


Dosa apa yang saat ini sedang menjadi bebanmu? Apakah kamu merasa sudah tidak ada harapan untukmu? Apakah kamu merasa tidak ada seorangpun yang membelamu?

Mungkin…

kamu hamil di luar nikah. Kamu melakukannya dengan pacarmu, tapi orang-orang menyalahkanmu. Mereka tidak tahu pacarmu yang merayumu. Mereka tidak tahu kamu melakukan itu karena kamu mencari kasih. Mereka tidak tahu keluargamu tidak memberikan kasih yang kamu butuhkan, sehingga kamu mencarinya di tempat lain. Orang-orang tidak tahu, tapi mereka menyalahkanmu.

… atau mungkin,

kamu pernah mencoba bunuh diri. Orang-orang menghakimimu. Mereka mengatakan kamu berdosa karena menyia-nyiakan hidup dari Tuhan. Mereka mengatakan kamu nyaris masuk neraka. Mereka tidak tahu kamu melakukannya karena tekanan keluarga dan pergaulan. Mereka tidak tahu kamu sudah bertahun-tahun ada di bawah pengawasan ahli jiwa. Kamu sudah berjuang tapi kamu tetap saja disalahkan.

Bisa jadi saat ini,

kamu merasa dosamu di masa lalu terlalu besar, sehingga bahkan ketika bertahun-tahun sudah berlalu, orang-orang di sekelilingmu belum melupakannya. Kamu berjalan dengan kepala menunduk karena penghakiman. Kamu sudah mempertanggungjawabkan dosamu, tapi label “pendosa” masih saja ditempelkan kepadamu.

Bagaimanapun keadaanmu, kamu punya kabar baik.

Seperti Tuhan yang tidak menyalahkan Hawa, Dia juga tidak menyalahkanmu. Tentu ada konsekuensi yang diberikan-Nya atas dosamu, tapi Dia juga akan membalut lukamu dan memulihkan hidupmu. Saat tidak ada seorangpun yang membelamu, bahkan orang-orang terdekatmu, Yesus yang menjadi Pembelamu.

Seperti Allah yang tidak meninggalkan Hawa bahkan setelah ia berdosa, Allah juga tidak meninggalkanmu. Dia memberikan janji masa depan yang penuh harapan. Maukah kamu menjadi seperti Hawa yang bangkit kembali dengan pertolongan Tuhan?

Monday, April 8, 2019

Febe: Bulan yang Memancarkan Kasih


by Tabita Davinia Utomo

Semakin mempelajari Alkitab, saya menemukan semakin banyak perempuan yang berperan besar dalam penyebaran Injil mula-mula. Salah satu di antaranya adalah Febe. Dalam suratnya, Paulus menceritakan tentang perempuan ini pada jemaat di Roma:

Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea, supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri.
(Roma 16:1-2 TB)

Nama “Febe” berarti ”pure” atau “radiant as moon”. Hm, kehadiran Febe seperti bulan yang memancarkan sinarnya dengan kemurnian hati… Wah, such a beautiful name, ya!

Walaupun hanya dicatat dalam dua ayat, namun Paulus menganggap Febe sebagai rekan kerja yang luar biasa. Hm, memangnya apa yang dilakukan Febe ya, sampai-sampai Paulus mendorong jemaat untuk menerimanya? Ini dia: 
1) Sebagai DIAKEN
Zaman dulu, tidak banyak perempuan yang dapat memiliki jabatan dalam jemaat mula-mula. Namun Febe dapat melakukan tanggung jawabnya sebagai Diaken di Kengkrea dengan baik. Ini terbukti ketika dia “dikirim” dari Kengkrea untuk menyampaikan surat dari Paulus pada jemaat di Roma. Paulus memahami bahwa bisa jadi Febe merasa takut kalau ada penolakan dari jemaat, apalagi dari mereka yang masih menganggap perempuan sebagai “kaum kelas dua”, walaupun dia adalah seorang Diaken jemaat. Karena itu, Paulus mendorong jemaat agar bersedia menerima Febe dengan tangan terbuka—apalagi karena Febe telah menolong banyak orang, termasuk pada rasul terbesar itu.

2) Sebagai SAUDARI SEIMAN
Tanpa disadari, kadang-kadang kita mengabaikan pentingnya dukungan bagi para hamba Tuhan. Padahal, mereka juga sama-sama rapuh seperti kita (ya jelas. Semua orang kan, berdosa). Itu sebabnya Paulus menyatakan testimony-nya tentang Febe, saudarinya dalam Kristus. Secara tidak langsung, surat tersebut juga menunjukkan bahwa Paulus mendukung Febe dalam memberitakan Injil. 

3) Sebagai SUPPORT SYSTEM 
Salah satu ciri-ciri support system yang baik adalah memiliki tingkat prososial yang tinggi. Hal ini terbukti ada dalam diri Febe. Paulus menyatakan bahwa Febe bukanlah orang yang egois. Dia bahkan memberikan banyak bantuan bagi orang lain, termasuk dirinya. Bayangkan kalau ada pelayan Tuhan yang hanya memikirkan dirinya sendiri, dan tidak mau tahu tentang pergumulan yang dialami jemaat. Kehidupannya tidak akan memberikan kesaksian nyata atas kehadiran Tuhan dalam hidupnya.

***

Nah, setelah mengenal tentang Febe lebih dekat lagi, mari kita berefleksi tentang kehidupan kita saat ini: 
  • Sebagai anak-anak Tuhan, apakah kita sudah mengerjakan tanggung jawab yang Tuhan berikan dengan baik? Tanggung jawab disini maksudnya dalam hal apapun. Tidak hanya dibatasi oleh keanggotaan jemaat maupun latar belakang pekerjaan. 
  • Apakah kita sudah menjadi saudari seiman yang saling mendukung dalam komunitas maupun secara pribadi? 
  • Apakah kita sudah menjadi berkat melalui kehidupan dalam pertobatan? 
Saya harus mengakui bahwa saya belum dapat menjawab “ya” pada tiga pertanyaan di atas. Masih ada jatuh-bangunnya. Tapi, uhmm… bukankah itu yang namanya dinamika iman? Saya yakin bahwa Febe pun mengalami naik-turunnya perjalanan iman. Tapi tidak berhenti di situ, Febe pasti dikuatkan melalui dukungan saudara-saudari seimannya, sehingga dia dapat menjalankan tugasnya sebagai pemimpin jemaat dengan baik. Yaa, karena Roh Kudus dapat menguatkan kita melalui siapapun dengan cara-Nya, kan? Pertanyaannya, apakah kita mau dan bersedia taat untuk mendukung orang-orang yang membutuhkan dengan apa yang bisa kita lakukan? Atau jangan-jangan, kita lebih memilih bersikap “sebodo amat” dengan pergumulan yang dihadapi oleh suami, anak, teman, kolega, atau siapapun yang kita jumpai dalam kehidupan masing-masing?

Saya memilih untuk meneladani Febe, yang bersedia memberikan hidupnya untuk menyinari orang-orang di sekitarnya dengan kasih Tuhan. Apapun risiko yang harus dijalani, saya mau taat. Bagaimana dengan Anda?