Monday, February 22, 2016

Makan

by Glory Ekasari

Kalau pembaca rajin baca Alkitab, pasti tahu cerita percakapan Yesus dengan seorang perempuan Samaria (Yohanes 4:1-38). Saya sangat suka cerita ini, dan setiap kali membacanya lagi saya selalu belajar hal baru. Kali ini yang akan disorot adalah hubungan Yesus dengan Bapa-Nya.

Bayangkan latar belakang cerita ini. Yohanes memberitahu kita bahwa: “Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.”

Bagaimana keadaan Yesus? Dia kelelahan, mungkin sekali karena berjalan jauh. Murid-murid-Nya membeli makanan, tapi saking lelahnya, Yesus tidak ikut. Dan waktu itu jam 12 siangmatahari lagi semangat-semangatnya bekerja. Panas-panas, badan capek luar biasa, keringat membanjiri tubuh, enaknya ngadem di bawah pohon rindang sambil mendengarkan radio jadul, musik keroncong, dan tidur. Saya yakin itu juga yang dipikirkan Yesus (minus radio dan keroncong), karena Dia duduk di pinggir sumur, beristirahat, dan begitu ada seorang ibu-ibu datang membawa timba, Yesus langsung berkata, “Minta minum, bu.”

Tapi jawaban wanita itu mengubah arah cerita sama sekali.

Wanita itu memandangi Yesus dari atas ke bawah: jenggotnya, pakaiannya yang khas Yahudi, topinya, wajahnya, pokoknya semua serba Yahudi, dan dia berkata, “Masa’ orang Yahudi minta minum kepada orang Samaria?” (Karena dua bangsa ini bermusuhan.)
Yesus yang tadinya duduk lemas karena lelah mendadak mengernyitkan matanya, menegakkan duduknya, semangatnya seolah kembali ke tubuhnya, dan Dia berbicara dengan nada yang kita kenalbukan nada orang capek, tetapi nada Sang Juruselamat yang penuh wibawa: “Kalau kamu tahu tentang karunia Allah dan siapa yang meminta air kepadamu, pasti kamu telah meminta, dan Dia telah memberikan kepadamu air hidup.”

Whoa, that escalated quickly. Pembicaraan tentang air tiba-tiba jadi teologis.

Saya tidak akan meneruskan membahas percakapan mereka (nanti gagal bikin blog post dan malah jadi skripsi), tapi yang jelas pembicaraan terus memuncak sampai akhirnya, untuk pertama kalinya sepanjang Injil Yohanes, Yesus secara eksplisit menyatakan keilahian-Nya. Bukan kepada orang Israel, tetapi kepada seorang perempuan Samaria yang moralitasnya bermasalah. Wanita itu langsung sadar bahwa yang berbicara dengan dia bukan manusia biasa, dan dalam ketakutan dan ketakjuban yang luar biasa, langsung berlari ke kota untuk memberitahu semua orang!

Apa yang terjadi? Apa yang membuat Yesus yang kelelahan dan kehausan menjadi begitu bersemangat, bahkan bicara panjang lebar dan menyatakan bahwa diri-Nya adalah Mesias? Ketika murid-murid-Nya datang membawa makanan, Yesus berkata, “Aku sudah makan.” Lho, makan apa? “Makanan yang tidak kamu mengerti.” Menjelaskan maksud-Nya, Yesus berkata,
“Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

Mari kita perhatikan kata-kata Yesus ini. Dia memilih metafora makanan untuk menjelaskan sesuatu yang penting. Makanan adalah kebutuhan. Saya bukan pecinta wisata kuliner, tapi saya harus makan, karena saya membutuhkan makanan itu. Baik orang seperti saya, maupun yang hobi kuliner, tidak bisa hidup tanpa makanan. Jadi dengan metafora ini kita mengerti bahwa melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya adalah kebutuhan Yesus.

Pada umumnya orang memandang pelayanan sebagai kegiatan. Ketika dalam kondisi prima dan sedang mood, ayo pelayanan! Tapi waktu “keadaan tidak mengijinkan”, cuti dulu lah. Tapi konsep yang diperkenalkan Yesus sama sekali berbeda. Dia menyamakan “makan” dengan melakukan kehendak Bapa, dan, sebagai konsekuensinya, “lapar” dengan dorongan untuk melakukan kehendak Bapa. Kita tidak perlu mengorganisir acara tertentu untuk makan, atau sengaja membuat organisasi, atau menyusun visi-misi... Kalau lapar, ya makan: di warteg, di food court, di rumah. Demikian pula “makan”yaitu melakukan kehendak Bapa, adalah sesuatu yang natural bagi Yesus. It’s not an unnatural activity that you have to set up on purpose once in few years; it’s something that you normally do several times daily.

Lalu apa itu kehendak Bapa?

Untungnya, Yesus tidak berhenti sampai di situ. Dia melanjutkan kalimat-Nya, yang kali ini ditujukan kepada murid-murid-Nya. Yesus tidak berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” hanya untuk pamer. Dia mengatakannya untuk kita, supaya kita tahu bagaimana caranya mengasihi Tuhan.
“Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu, dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan siap untuk dituai. . . Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan.”

Konteks Yohanes 4 dan kalimat Yesus kepada murid-murid-Nya di atas menunjukkan dengan jelas bahwa kehendak Bapa adalah keselamatan bagi semua orang. Yesus tahu persis hal itu, karena itu Dia langsung segar bugar ketika ada kesempatan untuk memberitakan Injil kepada wanita Samaria tadi. Dan hal yang sama disampaikan Yesus kepada kita: Kitalah yang menggantikan Dia memberitakan Injil sekarang.

Bagi banyak orang Kristen, menyampaikan berita keselamatan kepada orang lain adalah sesuatu yang tidak natural; mereka harus memberanikan diri dan merancang kegiatan sedemikian rupa sebelum bicara tentang Yesus, atau malah sama sekali menghindari menyebut nama Yesus dan berpikir, “Yang penting berbuat baik bagi sesama.” Tapi perbuatan baik kita tidak menyelamatkan mereka; Yesuslah yang menyelamatkan mereka. Saya pun pernah mengalami hal ini, dan setiap kali mendengar, “Pandanglah sekelilingmu,” saya dipenuhi rasa bersalah karena tidak berani memberitakan Injil.

Lalu apa obatnya? Pembaca mungkin kenal orang yang sangat hobi dengan sesuatu; setiap kali dia ngobrol dengan orang lain, dia akan membicarakan apa yang menjadi hobinya itu. Hal yang sama bisa terjadi pada kita bila kita bertemu Yesus dan mendengarkan firman-Nya setiap hari. Tuhan berkata bahwa air kehidupan itu akan meluap dari dalam hati kita; sehingga secara natural dan santai kita berbicara tentang Dia dengan orang-orang yang kita jumpai. Memberitakan Injil bukan lagi beban, karena kita berbicara tentang Dia yang kita kasihi. Tanyalah seorang ibu muda bagaimana keadaan anak balitanya, dia akan bercerita panjang lebar dengan mata berbinar-binar. Tanyalah seorang pria tentang apa yang dia suka dari kekasihnya, dia akan bercerita dengan wajah bahagia banyak hal tentang gadis itu. Tanyalah tentang Yesus kepada seorang Kristen yang setiap hari bertemu Dia; orang itu akan berbicara panjang lebar, menceritakan pengalamannya, membicarakan firman Tuhan dalam hidupnya. It just comes naturally, like our need to eat.

And that’s how you love God, by telling everyone about Him. Sekali lagi, ga perlu ngoyo. Temui Yesus setiap hari, dengarkan Dia berbicara lewat firman-Nya; semakin kita mengasihi Dia, semakin kita terbiasa membicarakan Dia di manapun dan dengan siapapun. Biarlah kata-kata Yesus pada akhirnya juga jadi kata-kata kita: “Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^