Monday, July 13, 2015

Midnight Worship

by Mekar A. Pradipta

Jujur aja, akhir-akhir ini aku lagi kendor banget disiplin rohaninya. Syarat mutlak pertama : Doa dan Saat Teduh, kayanya udah jadi sesuatu yang tawar T.T Harusnya sih ngga yah... Somehow aku pikir apa aku udah kehilangan kasih mula-mula apa gimana. Mungkin iya, tapi mungkin juga karena aku udah sampe di titik nyaman hubungan pribadiku sama Tuhan. Artinya, bangun pagi dan buka alkitab trus saat teduh plus doa itu udah bukan efforts lagi. I've been doing this since I'm in the high school, somehow sekarang jadi kaya sesuatu yang otomatis dan mekanis :( Mungkin itu yang bikin aku jadi kehilangan 'api' So, aku pikir dagingku ini harus disalib lagi buat ngga puas dengan apa yang sudah ada. 

Yes 2:3 --> dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem."

Kenapa ya Tuhan bersemayam di gunung? Pake bikin rumah di gunung segala? Emang Tuhan suka hiking? :p Ya ngga berarti Tuhan tinggal di gunung sih. Walopun jaman dulu, literally Musa mesti naik ke gunung Sinai buat ketemu Tuhan. Buat aku sih, itu tempat dimana Musa bener2 terpisah dari dunia, ga ke-distract sama segala keriuhan yang dibikin sama bangsa Israel. Kalo jaman sekarang, mungkin itu adalah tempat tanpa ada bb yang bunyi2, atau status fesbuk yang minta dikomentari. Jadi inget kalo aku suka iseng buka-buka BB pas saat teduh, hiks... Pantesan saat teduhnya garing T.T

Trus yang namanya naik gunung itu yah, ga ada yang jalannya asik-asik aja, semua itu mesti ada usaha dan ada harga yang harus dibayar. Itu Musa yang udah kakek-kakek  mungkin perlu bawa obat rematik buat naik gunung, wkwkwkwk. Trus kaya yang dulu sering dibilang Kwee Ceng dan para pendekar silat yang lain, di atas gunung masih ada gunung bo! Jangan puas sampe di level tertentu, soalnya ada pepatah yang lain juga, saat kita tidak berjalan naik, itu artinya kita sedang berjalan turun. Titik nyaman cepat atau lambat akan membawa kita turun level.

Then, setelah dievaluasi, aku masih lemah dalam kehidupan doa. Bukan tentang bersafaat ya, tapi doa yg pujian penyembahan gitu, yang bener-bener dateng ke Tuhan buat ketemu Tuhan, bukan buat menodongkan tangan dan minta-minta doang. Berawal dari beberapa minggu lalu waktu Sate dari II Tawarikh 20, tentang Nabi Yosafat yang lagi panik karena dikeroyok sama bani Moab dan Amon. Waktu itu yang dia andalkan cuma Tuhan. Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa (ayat. 3) Akhirnya aku belajar kalo mencari Tuhan adalah sebuah keputusan. Ketika pencarian akan Tuhan udah jadi sesuatu yang mekanis, saatnya membuat keputusan-keputusan baru. Toh pencarian akan Allah ini kaya naik gunung yang tadi aku bilang.

Sebenernya bagian itu dapet banget karena emang ada masalah yang ga selesai-selesai dari dulu. Lewat perikop ini kaya Tuhan mau jelasin hal yang sama, stay still and I will finish it!

Janganlah kamu takut dan terkejut, karena laskar yang besar ini, sebab bukan kami yang akan berperang melainkan Allah... Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah di tempatmu, dan lihatlah bagaimana Tuhan memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, Tuhan akan menyertai kamu (ayat 17)

Nah, macem mana pula Tuhan itu. Mana ada kemenangan tanpa peperangan? Cuman berdiri dan ngeliat doang mana bisa menang? Yups, itu kata manusia. Tapi kata Tuhan beda. CaraNya Tuhan beda.

Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: "Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. Lalu bani Amon dan Moab berdiri menentang penduduk pegunungan Seir hendak menumpas dan memunahkan mereka. Segera sesudah mereka membinasakan penduduk Seir, mereka saling bunuh-membunuh. Ketika orang Yehuda tiba di tempat peninjauan di padang gurun, mereka menengok ke tempat laskar itu. Tampaklah semua telah menjadi bangkai berhantaran di tanah, tidak ada yang terluput. Lalu Yosafat dan orang-orangnya turun untuk menjarah barang-barang mereka. Mereka menemukan banyak ternak, harta milik, pakaian dan barang-barang berharga. Yang mereka rampas itu lebih banyak dari pada yang dapat dibawa. Tiga hari lamanya mereka menjarah barang-barang itu, karena begitu banyaknya. Pada hari keempat mereka berkumpul di Lembah Pujian. Di sanalah mereka memuji TUHAN, dan itulah sebabnya orang menamakan tempat itu Lembah Pujian hingga sekarang. Lalu pulanglah sekalian orang Yehuda dan Yerusalem dengan Yosafat di depan. Mereka kembali ke Yerusalem dengan sukacita, karena TUHAN telah membuat mereka bersukacita karena kekalahan musuh mereka.


Aku tertohok banget sama ayat 16 dan 17 terjemahan versi lain,

Besok pada waktu mereka naik melalui jalan menanjak di Zis, seranglah mereka. Kalian akan berhadapan dengan mereka pada ujung lembah di depan padang gurun dekat Yeruel. Kalian tidak perlu bertempur dalam perang ini. Pergilah ke tempat yang telah ditentukan bagimu dan tunggu saja disitu. Kalian akan melihat Tuhan memberikan kemenangan kepada kalian. Hai penduduk Yehuda dan Yerusalem, jangan cemas atau takut. Masukilah saja pertempuran itu, Tuhan akan menolong kalian. 


Ayat tadi agak kontradiktif ngga sih kedengarannya? Masa Tuhan perintahkan menyerang bani Amon dan Moab, tapi di waktu yang bersamaan Dia bilang kalau mereka ngga perlu bertempur. Nah loh, macem mana pula ini? Setelah aku renung-renungin lagi, baru ngeh kalo penyembahan itu juga perang. Cuman perangnya di alam roh gitu. Pujian penyembahan itu kan besar kuasanya, mendobrak benteng-benteng di alam roh dan termanifestasi di alam jasmani. Secara fisik kita memang sedang menunggu dan melihat saja, tapi di alam roh kita sedang berperang dengan pujian penyembahan kita.

Sampai disini, aku cuman bisa bilang, ini keren banget!!! Yosafat itu, membangun pasukan penyembah yang memakai pakaian kudus. Iya sih dia juga bawa tentara (pasukan bersenjata), tapi mereka di belakang. Yang berdiri di depan adalah pasukan penyembah, para penyanyi dan pemain musik. Logikanya, kalo ada panah nyasar apa iya mau kita usir pake nyanyian? Itu baru panah sebiji, gimana dengan pasukan yang bersenjata lengkap? Riskan banget euy... Tapi kenyataannya, ketika mereka mulai menyanyi, Tuhan mulai bekerja. Dia membuat penghadangan dan mengacaukan seluruh balatentara musuh. Waktu Yosafat dan pasukannya nyampe, everything is done. Mereka ga perlu angkat senjata. Janji Tuhan ya dan amin, mereka hanya perlu berdiri di tempat mereka dan melihat bagaimana Tuhan memberikan kemenangan.

Jujur saja, sampai sekarang 2013 masih gelap banget, tapi aku mau punya attitude seperti Yosafat, "Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu." Tahun depan, aku mau naik level di disiplin rohani. Ga puas cuma dengan sate yang teratur, aku mau punya waktu khusus buat praise and worship. Seperti Yosafat, menantikan Tuhan dengan berdiri di Lembah Pujian, menyanyikan nyanyian syukur bagi Tuhan.

Selama ini aku belajar kalau kunci sukses penerapan komitmen adalah membuat sistem yang terukur. Maksudnya, kita akan cenderung gagal kalo komitmen yang dibuat adalah 'aku akan bangun pagi dan baca Alkitab.' Lain halnya kalau diubah seperti ini, 'aku mau bangun pagi pukul empat, lalu membaca alkitab minimal 1 perikop dan merenungkannya minimal 30 menit.' Dengan sistem yang terukur, kita tahu harus bagaimana melatih daging kita buat tunduk dan taat dengan kemauan roh.

Jadi di tahun 2013 nanti, aku mau menyediakan waktu khusus untuk praise and worship, (plus doa bahasa roh) dari jam 11.30 pm s/d 12.30 am, setiap hari, sepanjang tahun. Kenapa saat menjelang tengah malam dan setengah jam setelahnya? Mmm, pembimbing rohaniku sih pernah bilang kalo saat menjelang tengah malam itu saat Iblis merencanakan apa yang mau dia bikin buat merusak rencana Allah di hari selanjutnya.  That's why kita perlu berjaga-jaga dan ambil otoritas buat hari baru yang akan kita lalui.Kalo ngga salah sih Tuhan Yesus juga suka gitu ya doa tengah malam sampai menjelang pagi. Ternyata ini alkitabiah loh, aku lagi cari ayat apa yang kira2 bisa mendukung dan nemu artikel ini,

Mazmur 119:62
“Tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil. ”



Kisah Para Rasul 16:25: 
Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.

Ayub 4:20
“Di antara pagi dan petang mereka dihancurkan, dan tanpa dihiraukan mereka binasa untuk selama-lamanya.”Kubu para pahlawan dapat dihancurkan pada tengah malam.

Keluaran 11:4: 
Berkatalah Musa: "Beginilah firman TUHAN: Pada waktu tengah malam Aku akan berjalan dari tengah-tengah Mesir. ” 
 
Matius 25:6:

“Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! ”


Btw, kemarin dapet bbman dari Kak Penny, my beloved gembala COOL, soal penyembahan juga. Dia bilang gini: Menyembah Yesus adalah kunci untuk membuka kunci doa yang tidak terjawab. Wah, jadi makin semangat buat membangun disiplin rohani yang satu ini. Pujian penyembahan di tengah malam. Tapi aku juga belajar banget buat jaga kekudusan, seperti pakaian pasukan penyembah Yosafat yang memakai pakaian kekudusan. Somehow, I understand kalo penyembahan itu bukan soal berapa jam kita nyanyi sambil nangis-nangis, tapi soal life style, gaya hidup kita di hadapan Tuhan. 

Aku tahu banget kalo mungkin disiplin yang ini kedengarannya ambisius. Aku juga tahu banget kalo aku ini tipe yang ngga konsisten, kadang cuma semangat di awal trus abis itu lupa lagi. Tapi aku mau belajar bahwa semua kemauan dan kerelaanku adalah pekerjaan Roh Kudus. Aku perlu bergantung kepada Roh Kudus supaya bisa mematikan keinginan daging dan menuruti kehendak roh. Sampai nanti saatnya tiba, aku percaya aku akan melihat kemenangan yang dari Tuhan, yang dikerjakan dengan caraNya yang luar biasa.

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^