Saturday, April 22, 2017

Woman, Why Are You Weeping?


by: Poppy Noviana

Malam itu adalah malam yang sangat hangat. Sehari sebelumnya kami berdoa dan tertawa bersama. Saat itu kami hanya berada di sebuah bangsal sederhana, melewati hari demi hari disana. Keesokan harinya adalah saat akhirnya Dokter memberikan ijin operasi pemasangan pen pada bonggol kaki Papa setelah ia dirawat selama tiga minggu.

Namun ternyata hari yang ku nantikan itu adalah saat-saat terakhir kami bisa bersama. Bahkan ketika aku menuliskan artikel ini, aku belum bisa menahan air mataku sendiri meskipun kepergian Papa sudah berlalu enam tahun lamanya. Cukup berat kehilangan seseorang yang begitu dekat dan memiliki ikatan emosional. Mungkin kira-kira seperti inilah kesedihan hati Maria yang kehilangan Yesus sebagai Tuhan sekaligus anak yang pernah dikandungnya. Melihatnya begitu tertekan dalam jiwa dan pikirannya, tentu sulit sekali menahan tetesan air mata untuk tidak jatuh membasahi pipinya.

Malaikat bertanya, "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Kekalutan itu semakin memuncak ketika jasad Yesus tidak dapat disentuh dan dilihat dalam kuburan yang selama tiga hari ini digunakan untuk meletakan mayat-Nya. Namun sesudah berkata demikian, ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ—tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

Hati seorang wanita sekaligus ibu dan hamba yang begitu mengasihi Yesus ini hancur saat itu. Ia tidak berdaya, bahkan kalut karena kehilangan untuk kesekian kalinya. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Bagaimana mungkin seorang yang baru saja kehilangan nyawa seseorang yang dikasihinya dan kehilangan jasadnya ini bisa tertawa? Sebagai manusia hal ini sangat wajar dan alami.

Syukurlah Tuhan Maha Tahu. Saat itu Maria menyangka orang yang berbicara kepadanya adalah penunggu taman, dan berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”

Kata Yesus kepadanya: "Maria!"

Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni.” Refleksi dari kisah seorang wanita yang hancur hati dan berakhir sukacita ini seringkali dibawakan pada saat perayaan hari Paskah.

Paskah merupakan perayaan yang sudah ada sejak zaman bangsa Israel dipimpin oleh Musa keluar dari tanah Mesir. Namun pada zaman Perjanjian Baru, Paskah adalah perayaan kebangkitan Yesus dari kematian setelah penyaliban-Nya. Kebangkitan itu adalah tanda bahwa Ia telah mengalahkan maut dan membebaskan kita semua dari hukuman dosa. Ya, kita sudah memperoleh anugerah-Nya, keselamatan dan hidup kekal.

Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."

Maria pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan memberitahu apa yang Yesus katakan kepadanya. Wanita yang baru saja menangisi kehilangannya ini pergi kemudian bersaksi kepada murid-murid Tuhan Yesus, sebab tidak ada perkara yang perlu ditangisi lagi. Semua tangisan berganti menjadi sukacita dan pengaharapan baru saat Yesus bangkit dari kematian-Nya. Ia berhasil menundukan maut dan tidak seorangpun yang seperti Dia.

God sent His son, they called Him Jesus
He came to love, heal and forgive
He lived and died to buy my pardon
An empty grave is there to prove my savior lives
Because He lives, I can face tomorrow
Because He lives, all fear is gone
Because I know He holds the future
And life is worth the living, just because He lives

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^