Monday, October 14, 2019

One of Godly Mommy



by Tabita Davinia


Coba tebak, siapa saja para wanita di dalam Alkitab yang menjadi ibu? Hm, rasanya banyak banget ya. Ada Hawa, Sara, Rahel, Lea, Rahab, Delila, Ratu Syeba, Bernike, Klaudia, blablabla... tapi, coba kita persempit lingkarannya. Dari sekian banyak wanita yang menjadi ibu, berapa banyak wanita yang menjadi ibu yang mengajarkan tentang firman Tuhan kepada anak-anaknya? Kita bisa menyebut Maria, yang adalah ibu dari Yesus Kristus. Atau mungkin Hana, yang walaupun setelah dia melahirkan Samuel dia menyerahkannya kepada Eli—imam di Silo. Tapi pada tulisan kali ini, kita akan membahas tentang seorang wanita yang mungkin jarang dibahas keberadaannya dalam Alkitab. Dia adalah ibu dari salah satu anak rohani Paulus, di mana kita bisa membaca dua surat Paulus kepada anak muda ini. Coba tebak, siapa ibu yang dimaksud... She is Eunike!


Kamus di alkitab.sabda.org menuliskan arti “Eunike” sebagai “good victory”, dari kata eunich. Wanita ini termasuk keturunan Yahudi. Ibunya bernama Lois. Eunike menikah dengan seorang pria yang merupakan keturunan Yunani. Dialah yang melahirkan Timotius, salah satu anak rohani Paulus itu. Kisahnya hanya tercantum dua kali di dalam Alkitab, tapi di sana Paulus menyatakan bahwa kehidupannya telah menjadi teladan bagi Timotius—satu hal yang juga Paulus lihat.


“Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani.”
(Kisah Para Rasul 16:1)

”Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.”
(2 Timotius 1:6)

Tidak ada yang tahu bagaimana Eunike lahir, menjalani kehidupannya, bahkan bagaimana akhir hidupnya. Berdasarkan beberapa tafsiran, Eunike dan Lois menjadi orang Kristen setelah mendengar khotbah Paulus tentang Kristus. Mungkin sejak saat itulah, mereka berdua yang mengajarkan Timotius tentang firman Tuhan.



Kalau mengingat kisah tentang Eunike dan Timotius, aku jadi teringat dengan perintah Tuhan kepada orang Israel di Ulangan 6:6—7.


“Apa yang kuperintahkan (setelah Tuhan berfirman kepada Musa) kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”


Sekalipun suaminya bukan orang saleh—menurut orang Yahudi—namun Eunike, bersama Lois, terus menanamkan firman Tuhan dalam kehidupan Timotius, sampai akhirnya... Timotius bersedia untuk mengikuti pelayanan Paulus. Mungkin Timotius masih sangat muda saat memulai pelayanannya bersama Paulus. Bisa saja Eunike berkata, “Tunggu dulu lah, Paulus! Timotius masih muda! Dia boleh kok, melayani di daerah di sekitar sini dulu. Nanti kalau sudah tambah dewasa, dia boleh ikut pelayananmu”.

Hati ibu mana yang tidak sedih saat melihat anaknya pergi jauh dan bahkan tidak tahu kapan dia akan kembali (mencoba memahami kondisi hati seorang ibu, walaupun aku belum jadi seorang ibu huehehe)? Mungkin hati kecil Eunike merasa bingung saat mendengar Paulus mengajak Timotius untuk melayani bersamanya. Tapi ternyata... Eunike let Timotius to go with Paul! Dia mengesampingkan keinginannya agar Timotius tetap bersamanya, dan memilih untuk mengizinkan anaknya itu untuk pergi bersama Paulus.

Ladies, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kelak saat kita memiliki anak. Tapi satu hal yang perlu kita ingat, kita harus mengajarkan firman Tuhan kepada mereka setiap saat. Bukan hanya melalui perkataan kita, tapi juga lewat perbuatan kita (kalau omdo—omong doang—‘kan kita bisa dianggap pembohong sama anak-anak nanti hehe). Aku yakin Timotius telah melihat kehidupan ibunya yang luar biasa, sehingga dia pun meneladani kehidupan ibunya itu.

Entah apapun status kita saat ini (single, masih sekolah/kuliah, mulai meniti karier, baru saja menikah, sedang jadi bumil (ibu hamil), atau bahkan telah mempunyai anak), perintah Tuhan itu harus selalu kita ingat dan lakukan.
Mengajarkan anak-anak untuk melakukan firman Tuhan memang tidak mudah, apalagi kalau anak-anak telah tumbuh dewasa tanpa mengenal firman-Nya. That’s why... setiap ibu (dan calon ibu) harus mempersiapkan diri sejak awal untuk mendidik anak-anak berdasarkan firman Tuhan.


“But it’s very hard for me to teach my children to do God’s will!”

Mommies, mengajari anak tentang apapun itu memang tidak mudah. Jangankan mengajari anak untuk membaca Alkitab, untuk memberikan stimulus anak agar berjalan pun orang tua harus panjang akal (duh, bahasa perkuliahannya mulai keluar huehehe). Karena itu, setiap ibu (dan calonnya) harus selalu percaya dan bersandar kepada Tuhan. We can’t through this moment without God.

Kita perlu belajar dari Eunike, yang dengan rendah hati menyerahkan Timotius kepada Paulus untuk melayani di berbagai tempat. Aku menduga, Eunike bisa melakukannya karena dia percaya bahwa Tuhan yang akan menuntun Timotius untuk tetap hidup di dalam kehendaknya.

And how about us? Sudah siapkan kita untuk menjadi seorang wanita yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala pergumulan kita? Jika suatu saat nanti Tuhan mengaruniakan anak-anak kepada kita, apakah kita akan tetap hidup setia kepada-Nya, dan memberikan teladan hidup benar kepada mereka?

Keep the answer in your heart, and pray that God will help us to be a Godly mommy (wannabe) :)

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^