Monday, March 18, 2019

Gomer: Ironi Kasih Ilahi




by Glory Ekasari 

“Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya, dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal Tuhan.” 
(Hosea 3:18-19)

Lebih dari sekedar seorang istri yang tidak setia, Gomer adalah gambaran rohani mengenai “betapa kita tidak dapat mengasihi Tuhan dengan kekuatan kita sendiri.”

Hosea tentunya seorang hamba Tuhan yang saleh. Namun dengan seizin Tuhan, perkataan nubuatan dan pernikahannya yang disfungsional menjadi profetik. Ketika istrinya menjual diri menjadi pelacur, Hosea diperintahkan membelinya kembali dari tangan germo (!!) dengan harga seorang budak (Hosea 3:2). Tuhan memberikan perintah yang jelas pada Hosea, “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti Tuhan juga mencintai orang Israel.” (Hosea 3:1). Nama ketiga anak mereka menjadi tanda betapa pahitnya pernikahan yang diwarnai ketidaksetiaan itu; yaitu Yizreel (artinya “Tuhan menyebarkan” atau “Tuhan mencerai-beraikan”), Lo-Ruhama (artinya “tidak dikasihi”), dan Lo-Ami (artinya “bukan umat-Ku”). 

Kita tidak perlu berlama-lama bergosip tentang Gomer, karena sudah jelas kejahatan yang dia lakukan sangat besar. Tapi karena kisah ini ditulis dalam Firman Tuhan (bahkan sejak berabad-abad lalu), maka kisahnya juga ditulis untuk kita yang hidup di zaman sekarang. Kita percaya bahwa Firman Tuhan akan menyelidiki hati kita dan menampakkan rahasia-rahasia terdalam, tapi siapkah kita menerima apa yang akan Dia singkapkan? 

// SEBUAH PERJANJIAN YANG DILANGGAR
Allah memakai ikatan perjanjian nikah antara suami dengan istri sebagai gambaran perjanjian Allah dengan umat-Nya. Itulah kenapa kita tidak boleh main-main dengan perjanjian itu, Pearlians. Kata “tidak boleh main-main” di sini berarti jangan buru-buru ambil komitmen sebelum dipertimbangkan baik-baik, dan jangan berpikir sekalipun untuk membubarkan perjanjian yang sudah diikat. 

Namanya perjanjian, tentu ada unsur-unsur yang harus dipatuhi. Seorang suami berjanji mengasihi istrinya, berusaha yang terbaik untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, memimpin keluarga, dsb. Istri juga berjanji menghormati suaminya, mengasuh keluarga mereka, dsb. Tidak hanya itu, kesetiaan adalah kewajiban bagi keduanya yang telah diikat dengan janji di hadapan Allah dan manusia. 

Demikian juga perjanjian Allah dengan umat-Nya (alias bangsa Israel) melibatkan hal-hal yang harus dipenuhi kedua belah pihak. Allah berjanji memelihara kehidupan bangsa Israel, dan mereka berjanji mengikuti hukum-hukum Allah. Keduanya harus setia pada perjanjian yang mereka ikat itu, dan seperti yang kita tahu… Allah memang tidak pernah melanggar janji-Nya. 

Tapi bagaimana dengan umat Israel? 

Ternyata mereka tidak setia sejak awal. Setelah Allah memenuhi janji-Nya untuk membawa mereka masuk ke dalam tanah perjanjian, mereka serta merta melanggar hukum-hukum Allah dan mulai menyembah ilah-ilah asing. Hosea pun berkata, 

“Sejak hari Gibea engkau telah berdosa, hai Israel.” 
(Hosea 10:9)

Kisah mengerikan yang terjadi di Gibea dapat dibaca dalam Hakim-Hakim 19, yang menunjukkan betapa cepatnya mereka melupakan Hukum Allah setelah kematian Yosua. Padahal sebelumnya, Yosua telah menyaksikan bagaimana Israel berjanji di hadapan Tuhan bahwa mereka akan tetap setia kepada-Nya. Namun kemudian, sejarah Israel justru diwarnai pertumpahan darah dan kekejaman. Belum cukup di situ, mereka menambah “daftar dosa” dengan penyembahan berhala yang tidak terkendali. Salah satu sesembahan Israel adalah dewa orang Moab, Baal-Peor, yang meminta korban manusia: 

“Tetapi mereka itu telah pergi kepada Baal-Peor dan telah membaktikan diri kepada dewa keaiban, sehingga mereka menjadi kejijikan sama seperti apa yang mereka cintai itu.” 
(Hosea 9:10) 

Akibatnya jelas: seluruh bangsa itu rusak parah, tidak ada bedanya dengan seorang istri yang berzinah berkali-kali, sampai anak bungsunya diberi nama Lo-Ami karena tidak diketahui siapa ayahnya. 

// PEMBAHARUAN PERJANJIAN
Kalau nabi Hosea bernubuat pada kerajaan Israel di Utara, maka nabi Yeremia bernubuat pada kerajaan Yehuda di Selatan. Keduanya berbuat kejahatan yang sama, dan mengalami nasib yang sama pada akhirnya. Meski demikian, melalui kedua nabi itu, Tuhan menubuatkan masa depan yang indah: akan ada pembaharuan perjanjian. 

Namun bagaimana perjanjian itu akan diperbaharui bila umat Tuhan terus-menerus tidak setia? Jawabannya terletak pada perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, bukan pada Allah yang berubah—Dia justru tetap Allah yang baik, panjang sabar, berlimpah kasih setia. Nah, Perjanjian Lama menunjukkan apa yang terjadi ketika orang berusaha taat kepada Tuhan dengan usahanya sendiri; sementara Perjanjian Baru menjabarkan tentang orang-orang yang mengalami apa yang dijanjikan Tuhan dalam Firman-Nya : 

“Kamu akan Kuberikan hati yang baru dan roh yang baru di dalam batinmu, dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu, dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” 
(Yehezkiel 36:26-27)

Ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan menebus kita dari hidup yang berdosa dan mengalami keterpisahan dari Allah. Tidak hanya itu, Dia juga mengampuni, mencintai kita, dan mengubah hati kita dari dalam oleh kuasa Roh-Nya. Dengan demikian, kita bukan lagi Gomer yang rusak dan tidak setia, melainkan kita diubah-Nya mempelai wanita yang kudus dan layak bagi Raja segala raja. 

“Lho, kok semuanya Tuhan yang mengerjakan?” 

Ya, karena dengan usaha kita sendiri maka kita, manusia yang berdosa, hanya akan berputar-putar dalam dosa kita. Melalui karya agung-Nya, kita disadarkan bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya yang layak dimuliakan dalam segala sesuatu. Sejarah Israel yang panjang membuktikan bahwa manusia tidak bisa setia kepada Allah. Kitapun tidak ada bedanya dengan Israel, kalau bukan Roh Kudus yang bekerja di dalam hidup kita. Lagipula, kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita pun bukan karena kehebatan kita, melainkan hanya karena kasih karunia. 

“Lalu mengapa Tuhan mau mengasihi saya, padahal saya orang berdosa yang terus berontak terhadap Dia?” 

Karena itu adalah kehendak-Nya. See, it is His pleasure to love you. Seperti Hosea yang mau mencintai istrinya (bukannya membuang), yang Tuhan mau bukan membuang kita yang tidak setia ini—tetapi menunjukkan kasih-Nya yang memulihkan kita. Melalui pertolongan Roh Kudus, pada akhirnya kita akan sepakat dengan Paulus yang berkata,

“Terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Kristus.”
(Efesus 1:6)

// GOMER ADALAH KITA
Last but not least, setiap orang yang mau jujur di hadapan Allah akan melihat dirinya di dalam Gomer, istri Hosea yang tidak setia. Kasih Allah sungguh ironis (for the lack of better word): Dia menciptakan kita, menebus kita dengan pengorbanan-Nya di salib, membaharui hidup kita, dan pada waktunya, memuliakan kita. Dia sendiri melakukan semuanya itu untuk kita. Kisah cinta yang ajaib ini dirangkum dengan tragis namun indah, dalam tulisan nabi Hosea, yang namanya, fittingly, berarti: keselamatan. Sudahkah kita bersyukur untuk anugerah terbesar-Nya itu?

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^