Monday, February 11, 2019

The Touch of Faith



by Poppy Noviana

Adakah di antara kita yang memiliki harapan tak tercapai? Adakah di antara kita yang sering menemui kegagalan, bahkan setelah melakukan banyak usaha? Adakah di antara kita yang karena semua kegagalan itu lalu mulai berhenti berusaha, bahkan berhenti berharap?
“Saya sudah pernah mencoba setia, namun tetap saja saya selalu dikhianati dalam membangun hubungan”.
“Saya sudah berusaha semaksimal yang saya bisa, namun tetap saja pekerjaan saya tidak dihargai”.
“Saya sudah berusaha, namun hasilnya masih belum memuaskan.”
“Saya sudah mencoba berbicara kepadanya, namun tetap saja tidak berhasil.”
“Saya sudah coba untuk belajar lebih giat, namun tetap saja saya tidak lulus.”
“Saya sudah beberapa kali mengampuninya, namun tetap saja dia menyakiti hati saya.”
“Saya sudah berusaha untuk berbuat baik, namun tetap saja saya tidak pernah dipuji.”
“Saya sudah berolah raga dan menjaga pola makan saya, namun berat badan saya belum turun juga.”
Kondisi seperti ini kah yang sedang kita hadapi hari-hari ini? Menjadi sinis untuk mencoba suatu hal yang sudah pernah kita coba sebelumnya? Terasa berat untuk berharap kembali apalagi melangkah lebih dulu untuk berjuang bangkit lagi dari keterpurukan hidup? Pertanyaannya, kata siapa kita akan gagal lagi? Kata siapa kita akan kalah lagi? Kata siapa kita akan jatuh lagi? Kata siapa kita akan disakiti lagi? Apakah mungkin pikiran kita sendiri yang menjadi hambatan untuk terus melangkah?

Hei, kamu yang saat ini sedang mengalami kondisi seperti itu, kamu tidak sendirian.

***

“Saya sudah berobat kemana-mana, menghabiskan semua yang saya punya, namun saya belum sembuh juga.”

Mungkin inilah keluhan seorang wanita yang kisah hidupnya tertulis dalam Matius 9:20-22, Markus 5:25-34 dan Lukas 8:43-48. Ia mengalami pendarahan selama kurang lebih dua belas tahun lamanya, tanpa sedikitpun titik terang untuk sembuh.

Inilah sepenggal pelajaran yang bisa dipetik dari kehidupan wanita pengidap sakit pendarahan itu. Kisah hidupnya ditulis di tiga kitab, dengan beberapa bagian kata yang diulang sebagai pesan penting yang ditekankan Allah. Mari kita ulas secara sederhana penggalan kisahnya.

“She had heard [reports] about Jesus.”

Pertama, wanita ini mendengar tentang Yesus. Bisa dibayangkan kalau hal-hal yang ia dengar adalah tentang perkara-perkara ajaib yang dilakukan Yesus. Pastinya ia mendengar bagaimana Yesus berkeliling dan menyembuhkan orang sakit atau mengusir setan-setan. Kabar tentang Yesus inilah yang membangkitkan harapannya: ia masih bisa sembuh. Semangatnya yang mungkin patah, mulai menyala kembali. Kisah-kisah tentang Yesus membangkitkan imannya. 

Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
(Roma 10:17 / TB)

Dari sini kita bisa belajar bahwa dalam kondisi yang paling buruk sekalipun, justru menuntut kita untuk tetap tinggal dalam Firman Tuhan dan komunitas orang percaya. Ada orang-orang yang mengalami kejatuhan, lalu justru menjadi kecewa dan berhenti membaca Firman, berhenti ke gereja, berhenti mengejar hal-hal rohani. Padahal di dalam semua itu, Tuhan menyediakan pengharapan.

“she came up behind Him in the crowd and touched His outer robe.”

Setelah mendengar tentang Yesus, wanita itu meresponi dengan melangkah menemui Yesus untuk menyentuh jubah-Nya. Wanita itu tidak berhenti dengan beriman, tapi melakukan tindakan iman. Ia bertindak dan melangkah untuk mendapatkan kembali harapannya yang pernah hilang. Ia berjuang untuk mengubah keadaan. Melangkah adalah bagian kita sedangkan untuk menyertai setiap langkah-langkah kita dan membuatnya menjadi berhasil adalah bagian Tuhan.

Maukah kita menindaklanjuti kebenaran yang kita peroleh dari Firman Tuhan? Maukah kita keluar dari zona nyaman, sehingga Firman Tuhan tidak hanya didengarkan tapi juga dilakukan? 

“For she thought, “If I just touch His clothing, I will get well.”

Inilah alasan kenapa wanita itu mendekati Yesus dan menyentuh jubahnya. Inilah pernyataan iman wanita itu. Inilah iman yang menggerakkan kuasa Yesus dan mengalirkan kuasa kesembuhan. Wanita itu adalah bukti bahwa Allah merespon langkah iman yang kita lakukan. Wanita itu seakan menghapuskan kemustahilan dua belas tahun dengan kabar-kabar yang baru dia dengar. Ia memberanikan diri untuk beriman, meskipun tidak punya dasar, dan melangkah dalam iman itu.

“Immediately her flow of blood was dried up; and she felt in her body [and knew without any doubt] that she was healed of her suffering.”

Pada saat ia menyentuh jubah Yesus, wanita itu masih belum punya bukti bahwa imannya akan menghasilkan sesuatu. Bisa saja ketika ia mengambil langkah ia masih punya banyak pertanyaan. Tapi saat pada akhirnya kuasa Tuhan bekerja, ia tahu mukjizatnya sudah ia terima. Ketika kita menyadari bahwa kita sudah menerima jawaban iman kita, kita akan semakin teguh di dalam Dia. Pengalaman bersama Allah akan mengubah iman kita dan melepaskan keraguan. Di kemudian hari, kita dilatih untuk punya cara pandang yang berkemenangan dan berpengharapan, sebab kita tahu Allah kita adalah Allah pembuat mukjizat.

Immediately Jesus, recognizing in Himself that power had gone out from Him, turned around in the crowd and asked, Who touched My clothes?

Pada saat itu tentu saja banyak orang yang bersentuhan dengan jubah Yesus. Namun kuasa Allah tidak dilepaskan ke semua orang itu. Allah meresponi sentuhan yang dilakukan karena iman, bukan desakan-desakan tanpa iman percaya kepada-Nya. Imanlah yang menarik keluar kuasa Allah. Jika Tuhan bertanya, apakah Tuhan menemui iman di bumi, adakah di antara kita yang percaya diri untuk menjawab, “Ya, Tuhan, Engkau akan menemui iman di dalamku.”

“Daughter, your faith [your personal trust and confidence in Me] has restored you to health; go in peace and be [permanently] healed from your suffering.”

Bagian inilah yang menjadi treasure of the story. Perkataan Yesus ini adalah peneguhan mengenai status kehidupan wanita itu dan kondisi selanjutnya di masa depan. 

Pertama, Yesus menegaskan bahwa yang menyembuhkan sakit wanita itu adalah imannya. Yesus tidak mengatakan ia sembuh karena sentuhan pada jubahnya. Kadang ketika ada yang menerima mukjizat, kita fokus pada metode yang dilakukan. Misalnya, ketika ada orang yang berdoa tengah malam lalu doanya dijawab, kita melakukan hal yang sama. Atau ketika ada orang yang puasa 40 hari sampai mukjizat terjadi, kita juga melakukan hal yang sama. Padahal bukan metode, namun iman lah yang membuat perubahan. 

Kedua, wanita itu sudah sembuh, Yesus ingin dia pergi dalam damai sejahtera. Yesus tidak ingin masa lalu menghantui perjalanan hidup wanita itu selanjutnya. Kadang kita sudah menerima mukjizat, namun tetap saja kenangan buruk, trauma, pola pikir dari masa lalu menghalangi kita untuk melanjutkan hidup dengan bebas. 

Bisa saja dulu wanita itu selalu khawatir karena penyakitnya. Setelah sembuh, Yesus mau wanita itu hidup dalam damai sejahtera, karena bisa saja Iblis menaruh kekhawatiran baru seperti “Bagaimana jika penyakitmu kambuh lagi?” Dengan setiap mukjizat fisik (hal-hal jasmani seperti kesehatan, keuangan, pekerjaan, dan lain-lain) yang Ia anugerahkan, Allah juga mau mengerjakan jiwa dan roh kita semakin sempurna di dalam Kristus. 
So, who will touch Jesus? The ordinary one who have faith within her/his heart and take the step for their faith in action to meet Jesus with confident (no doubt). God promised that He’ll arm you with strength for every battle. We may not know what the future holds, but we know Who holds the future. (Joel Osteen)

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^