Monday, August 21, 2017

Good Samaritan: Too Good to be True?


by Yunie Sutanto

Suatu kali di sebuah jalan dari Yerusalem menuju Yerikho, lewatlah seorang pedagang dengan membawa berbagai barang berharga. Namun para penyamun-penyamun menghadangnya, merampok semua hartanya dan tak cukup rupanya, merekapun memukulinya sampai babak belur. Tergeletaklah ia di tepi jalan itu dalam kondisi sekarat. 

Sayup-sayup di dengarnya ada yang melewati jalan tersebut. Sayangnya, mulutnya sudah tak kuat untuk berteriak meminta tolong. Namun, tahukah siapa sosok yang melalui jalan dari Yerusalem menuju Yerikho tersebut? Seorang imam yang berpakaian rapi jali. Rupanya sang imam sedang dalam perjalanan menuju tempat ibadat untuk memenuhi undangan berkotbah disana. Sang pedagang yang matanya memar dan berdarah karena luka pukulan berusaha dengan keras memincing-mincingkan matanya menatap sang imam. Mulutnya tak sanggup bersuara lagi, namun hatinya melonjak dan bergirang:

Imam Santer! Aku mengenalinya! Aku sering menunggu-nunggu jadwal kotbahnya! Imam yang terkenal tak pernah terlambat! Iman Santer, tolong aku! Oh betapa baiknya Tuhan Allah mengirimmu padaku yang sekarat ini!

Betapa kebetulan, Imam Santer berjumpa dengan salah seorang pemujanya. 

Betapa sejuk, saat sang pedagang mendengar gumaman doa-doa yang diucapkannya sambil berjalan.

Imam Santer menatap sejenak ke arah orang di pinggir jalan tersebut. Kotor, penuh luka memar, bau, darah dimana-mana dan terlihat sekarat.

Aku tidak punya waktu untuk menolong orang ini, nanti aku telat. Aku ga mau mengecewakan para pendengarku dan aku ini terkenal tidak pernah terlambat. Aku benci orang yang suka datang telat! Mereka tidak menghargai waktu orang lain. 

Hari ini ada dua jadwal mengajar di dua lokasi yang berbeda. Aku pasti telat beruntun jika menolong orang yang tak kukenal ini!

Betapa kagetnya sang pedagang ketika ia melihat sang imam pujaannya ternyata memutuskan meninggalkannya mati di tepi jalan! 

Mau menangis pun rasanya sudah terlambat, sudah kering stok airmatanya. 

Dehidrasi akut, kata malaikat yang berada disebelahnya.

Tak lama berselang, suara langkah kaki terdengar. Kali ini suara derap kaki yang berlarian tergesa-gesa! Siapakah sosok berikutnya yang tak kebetulan diijinkan-Nya melintas jalan tersebut?

Rupanya seorang Lewi! Ia mengenakan jubah rapi namun wajahnya nampak gelisah dan tak tenang. 

Ia bergumam sendiri, tak disadarinya bahkan ada seorang sekarat yang mendengar gumamannya:

Aku butuh lebih banyak uang. Aku harus lebih banyak bertugas, agar dapat lebih banyak persembahan kasih. Aku tak bisa diam terus, beberapa tagihan harus segera kulunasi.

Sang Lewi melirik sejenak ,melihat ke sudut jalan dimana sang pedangang yang sekarat tergeletak. 

Ia seorang imam Lewi, ya betul! Imam Lewi yang bertugas meniup sangkakala di Bait Allah. Ia bisa saja kebagian bertugas meniup sangkakala di zaman Yosua jika ia hidup di zaman itu.Sang Lewi lanjut bergumam:

Aku harus segera ke bait Allah untuk bertugas disana! Aku bahkan tak punya cukup uang untuk menolong orang ini, jika aku menolongnya, aku nanti makin susah! 

Ia melewati jalan tersebut dengan tanpa peduli, gumamannya pun berlanjut. Kegelisahan karena terbelit hutang terus menjadi fokus pikirannya.

Sang pedagang tahu bahwa ia sudah semakin mendekati ajal. Hatinya berharap pada Allah, tak lagi diharapkannya para manusia wakil Allah untuk menolongnya. Mereka bukan Allah! Mereka hanya wakil-Mu yang tak beda denganku, pendosa juga!

Lalu terdengarlah langkah keledai, derap kaki keledai yang berjalan melintas. Ia melihat seseorang menunggangi keledai itu dengan aneka barang dagangan. Oh, orang ini mirip denganku, kurasa ia pedagang juga. Lalu mendekatlah sang saudagar tersebut menghampirinya.

“Apakah engkau baik-baik saja?” tanyanya dengan logat Samaria kental.

“Aku dalam perjalanan menuju Yerikho, apakah engkau mempunyai kerabat disana?”

Sang pedagang tak bisa lagi menjawab dan pingsan. 

Saudagar itu membalut luka-luka sang pedagang dengan kain dan menaikkannya ke atas keledai. Orang Samaria yang menolong orang yang tak dikenalnya, bahkan ia tak bertanya dahulu: Apakah kau memeluk agama orang Samaria juga? Ia tidak perhitungan apakah orang yang ditolongnya nanti bisa membalas budinya atau tidak. Ia tidak punya pamrih dan tulus menolong orang ini, no! Tidak ada udang di balik batu! Tidak ada pula upaya jaga citra agar terlihat baik! Tidak ada yang melihatnya di jalan sunyi itu! Tak cukup sampai disitu, ia membawa sang pedagang ke tempat penginapan dan merawatnya.

Keesokan harinya, saudagar itu menitipkan dua dinar uang kepada pemilik penginapan. Satu dinar setara dengan nilai kerja seseorang dalam satu hari. Ia meminta pemilik penginapan merawat sang pedagang hingga sembuh dan jika uang tersebut kurang, ia akan menggangtinya saat kembali. Wow... si Samaria ini orang baik pake banget deh judulnya! Too good to be true? 

Dari ketiga orang ini, yang mana yang adalah sesama manusia? Siapa yang berperikemanusiaan? Yang mana yang mengamalkan belas kasihan dan menjadi pelaku Firman Tuhan? Yang ketiga tentunya! Padahal ia seorang Samaria, berbeda keyakinan dan ras. Ia tidak dianggap, dipandang sebelah mata di kalangan orang Israel!

Padahal dua orang yang pertama adalah orang “baik-baik” dan terpandang di kalangan umat Israel. Imam dan Lewi adalah contoh dua orang baik yang bertanggung jawab dengan tugas di Bait Allah. Tidak lalai dan berusaha datang tepat waktu. Bukankah itu khas orang bak-baik? 

Citra orang baik melekat kuat menghinggapi para Hamba Tuhan, aktivis dan pekerja Gereja. 

Tapi apakah jadi “orang baik-baik” saja cukup? Puas dengan predikat inikah anda?

Apakah dengan “dikenal baik-baik” saja cukup? Puas dengan stigma inikah anda?

Adakalanya rutinitas agamawi begitu mengikat hidup kerohanian kita, sampai belas kasihan Allah hilang dari hati kita. Terburu-buru mau tepat waktu ke ibadah, sampai memaki anak-anak agar lekas dan bergegas, melanggar lampu merah dan tidak punya waktu untuk menolong seorang nenek tua yang berjalan tertatih-tatih menuju pintu lift? #ironisAgamawi

Adakalanya kacamata penghakiman begitu tebal kita kenakan, sampai kita tidak punya lagi ruang untuk mengasihi sekeliling kita. Lupa mengasihi, saking sibuknya membenarkan diri dan menyalahkan orang lain? Hmmm….merasa begitu kenal Tuhan sampai sering berperan menggantikan Tuhan? #stopPlayingGOD!

Adakalanya kesibukan seorang hamba-Nya begitu padat, sampai tak ada jeda untuk hal-hal mendesak dan tak terencana. Tak ada waktu untuk kairos-Nya? Hmmmm……bukankah itu yang kita tunggu-tunggu? Detik-detik kairos yang tak terulang dua kali! #firstThingsfirst?

Jika ada orang “awam”, orang sekuler, orang yang duniawi, orang dengan keyakinan lain, atau orang tak masuk hitungan lainnya”versi anda”… mungkin ia hanya tukang parkir, tetangga sebelah, pembantu Anda, atau siapapun yang Anda pandang sebelah mata. Dan saat orang ini—yang Anda remehkan kehadirannya—berbuat kebaikan, maka janganlah dengan cepat anda menghakimi: “Sok rohani lu”, “Kebaikan mah ga menyelamatkan” “Sok baik padahal ga ngerti”… “Too good to be true lah, pasti ada maunya nih baik-baik”

Hikmat-Nya mengatasi semua pemikiran manusia! Mari dengan rendah hati terus belajar pada Yesus Kristus, sang Sumber Kasih! Let God be God; penghakiman adalah hak Tuhan. Bagian saya adalah mengasihi dan berbuat baik karena Kristus telah terlebih dulu mengasihi saya.

Do all the good you can. By all the means you can. In all the ways you can. In all the places you can. At all the times you can. To all the people you can. As long as ever you can. – John Wesley

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. – Galatia 6:9

Friday, August 18, 2017

Hepatitis Rohani: Jemu Berbuat Baik


by Yunie Sutanto

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai , jika kita tidak menjadi lemah. -- Galatia 6:9

Pernah merasa jemu berbuat baik? Ingin cuti rasanya, dari jadi-orang-baik. Jangan kita terus yang jadi orang baik lah! Seolah-olah kita ingin mengucapkan dialognya Cinta di sekuel film Ada Apa dengan Cinta: “Yang kamu lakukan pada saya itu… jahat.” Kita mulai membalas kejahatan dengan kejahatan juga. Kita mulai bosan menjadi orang baik yang bodoh karena mengalah terus dan mulai memilih menjadi orang jahat yang adil dan pintar. Kita mulai “malas” berbuat baik. Kalau artikel ini diberi judul, rasanya lebih cocok menggunakan ini: Ada Apa dengan Hatiku? Ya, ada apa dengan hati seorang pengikut Kristus yang jemu berbuat baik?

Jika gejala “jemu” berbuat baik mulai muncul di hati kita, mari kita mendiagnosis hati masing-masing dan lakukan check up dengan Dokter Yesus, Sang spesialis hati. Ia sanggup menganalisis dengan tajam sumber kejemuan hati kita! Saat kita mulai bosan, mulai tak bergairah melakukan kebaikan bagi Dia, mungkin kita sedang terjangkit hepatitis rohani. Kalau penyakit hepatitis adalah kerusakan fungsi organ hati yang membuat tubuh kehilangan fungsi menetralisir racun, hal yang sama terjadi pada hepatitis rohani. Kita jadi tidak dapat lagi menangkal racun dari lingkungan sekitar, kita tidak kebal terhadap kotoran. Akibatnya, hati kita mulai jadi rusak. Hati mulai cemar dan menganggap kejahatan yang terlintas di pikiran kita dengan biasa saja. Lama-lama kita jadi mengalami apatis rohani. Kita cuek dan tidak lagi punya gairah apapun untuk berbuat baik bagi Kristus.

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
-- Amsal 4:23

Dari ayat di atas, kita dapat mulai merenungkan masalah apa yang sedang menghampiri hati kita:

Kurang waspada menjaga hatikah? Tertusuk panah api si iblis kah?

Kalau menilik lagi, pasti posisi hati kita sedang lemah. Seperti baterai HP yang sudah low battery dan sebentar lagi off; demikian pula kita perlu me-recharge baterai hati kira dengan Sang Sumber energi, seperti ranting yang mati jika tidak melekat ke Pokok Anggur.

Kita perlu terus mengingat kebaikan Kristus bagi kita. Sering-seringlah berlutut di kaki salib-Nya, agar kita tidak terserang penyakit “lupa” kebaikan Tuhan! Mungkin kualitas dan kuantitas waktu teduh kita perlu diperbaiki? Hm, bisa jadi, sih…

Sebagai pengikut Yesus, berbuat baik itu adalah gaya hidup. Sang Sumber Kebaikan telah hadir di hati kita, dan dari Kristuslah sumber kekuatan kita untuk terus berbuat baik! Saat kita mulai tidak melekat ke Sang Sumber, tidak heran kalau rasa jemu menguasai batin kita! Sebab sumber kekuatan kita berbuat baik hanyalah Kristus sendiri, bukan dari diri kita sendiri. Coba kalau memakai kekuatan manusiawi kita? Nggak akan sanggup bertahan lama, deh. Makanya jadi jemu.. -.-“

Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. --   Korintus 9:8

So, lagi jemu berbuat baik? Lagi galau tinggi dan rasanya ingin menunda berbuat baik? Lagi kurang hikmat untuk memulai berbuat baik lagi? Mintalah pada Tuhan yang empunya hikmat! Kasih karunia-Nya cukup buat kita untuk keep doing the good fight until the end.

Aplikasi praktisnya bagaimana, ya?

Kembali lagi lakukan apa yang dahulu kita lakukan saat kasih mula-mula. Nasehat kepada jemaat Efesus cocok untuk kita yang terjangkit hepatitis rohani: 

Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. -- Wahyu 2:4-5
  • Miliki waktu yang diprioritaskan untuk bersekutu secara intin bersama-Nya. Mulai bangun kebiasaan bersaat teduh karena kehausan dan kerinduan, bukan karena keharusan dan taurat. Mulai kembali mencurahkan isi hati apa adanya pada Yesus, mengakui dosa-dosa dan lakukan pertobatan yang sungguh-sungguh. Dan teruslah melekat pada Pokok Anggur :) Karena saat relasi kita dengan Tuhan Yesus kuat dan kokoh, kita memiliki dasar yang teguh untuk mulai berbuat kebaikan kepada sesama. 
  • Banyak memberi sedekah, menyumbang ke panti asuhan, mengunjungi panti jompo, menjadi relawan bencana, dan sebagainya mungkin aplikasi nyata dari berbagai kebajikan yang bisa kita lakukan kepada masyarakat kita. Jangan jemu mengambil kesempatan untuk memberikan kebaikan jika memungkinkan. 
Lebih praktis lagi, bagaimana brebuat baik kepada orang terdekat kita?

Konon katanya berbuat baik pada orang yang jarang dijumpai, yang tidak kita kenal dekat, jauh lebih mudah. Tetapi jika urusan berbuat baiknya pada orang yang kita kenal betul sifatnya, sudah hafal deh prilaku baik buruknya, kadang membuat agak bergumul untuk berbuat baik. Kerabat yang suka berhutang misalnya, atau teman yang sering minjam buku tapi selalu lupa mengembalikan. Hati jadi mikir-mikir ulang gitu loh, untuk berbuat baik; tapi bagian kita sebisanya jangan menunda kebaikan yang sebetulnya sanggup kita lakukan (lihat Amsal 3:27).

Hati yang gembira adalah obat bagi setiap gejala penyakit hati! Apapun yang terjadi, biarlah sukacita kelahiran baru senantiasa mewarnai hari-hari kita, dan seperti seorang istri kita bisa berbuat baik kepada suaminya sepanjang umur hidupnya dan tidak berbuat jahat kepadanya. (Amsal 31:12). Amin :)

Wednesday, August 16, 2017

Book Review: Sexy Girls - Hayley DiMarco



by Yunie Sutanto

Judul: Sexy Girls (Cewek-cewek Seksi): Seseksi Apa Yang Terlalu Seksi?
Penulis: Hayley DiMarco
Penerbit: Pionir Jaya

“Andai buku semacam ini sudah terbit jaman saya masih remaja.” Pikiran ini terlintas pas selesai baca buku ini. Saya baca buku ini dalam tempo 2,5 jam saja, ga berasa tuh, tau-tau udah selesai. From cover to cover seru bacanya, padahal sambil nungguin anak-anak bobo siang. Gaya menulisnya membawa pembaca dengan santai, ga terlalu serius, dan yang penting isinya donk!

Semua gadis senang bersolek. Para gadis tomboy sekalipun punya gaya modisnya sendiri. Namun bagaimana tips dan trik agar tetap tampil trendy namun sopan? Bagaimana agar tidak jadi korban mode? Bagaimana menemukan gaya khas kita yang unik dan keren?

Bagaimana membangun citra tentang diri kita lewat gaya busana kita?

Pesan apa yang kita sampaikan dari gaya pakaian kita?

Ternyata banyak hal yang para gadis muda perlu belajar dan ketahui! Hayley menulis berdasarkan kisah masa remajanya, bagaimana ia pun sempat menjadi korban mode dan ikut tren yang sebetulnya tak cocok dengan citra dirinya di dalam Kristus!

Are you sure you want to dress up like that?

Are you sure this dress fits you?

Yakin gaya busana yang kita kenakan selama ini memuliakan-Nya? Yakin bahwa kita tidak menyebarkan pesan yang salah lewat pilihan baju kita?

Wanita dinilai pertama kali tentu dari penampilan dan busananya. Walaupun itu bukan segala-galanya, namun bagaimana kita menampilkan diri adalah pesan yang orang lain lihat tentang kita. Kita tentu tidak akan menghadiri wawancara kerja dengan kaos oblong dan sandal jepit, bukan? Atau menghadiri acara pesta pernikahan dengan mengenakan baju senam? Salah kostum ekstrim seperti ini mungkin kita tak akan melakukannya, namun bagaimana dengan baju yang terlihat oke karena semua gadis juga memakainya? Batasan apa yang perlu kita ambil untuk tahu busana ini pas untuk saya miliki atau tidak? Mengundang nafsu seksualkah gaya busana saya?

Tren fashion yang kekinian pun dibahas Hayley. Soal tindik dan tato yang umum dilakukan di bagian tubuh yang sensual, pantaskan jika saya juga ikut-ikutan melakukannya? Ada yang memakai kosmetik berlebihan, ada yang natural, dan ada yang sama sekali anti memakai produk kosmetik; yang mana yang benar? Yang butuh makeover pun akan sangat terbantu dengan aneka tes dalam buku ini! Membaca buku ini dalam komsel wanita pun sangat dianjurkan agar bisa saling memberi masukan.

Begitu banyak nilai-nilai alkitabiah tentang busana yang dibahas oleh Hayley dengan logis dan juga praktis. Buat para wanita-wanita Allah, yuk muliakan Tuhan lewat gaya berpakaian kita.

Your clothes show who you are. Be a blessing through the way you dress.

A must read for us, women who strive to glorify Him in the way we look!

Monday, August 14, 2017

Kindness Changes Everything


by Leticia Seviraneta

“And become useful and helpful and kind to one another, tenderhearted (compassionate, understanding, loving-hearted), forgiving one another [readily and freely], as God in Christ forgave you.” –Ephesians 4:32 [AMP]

Suatu ketika Yesus memasuki kota Yerikho dan hendak melintasi kota itu. Di kota inilah ada Zakheus, kepala para penagih pajak yang kaya. Zakheus ingin melihat Yesus, namun karena ia pendek ia tidak dapat melihat-Nya di tengah keramaian. Jadi ia memanjat pohon ara di pinggir jalan yang akan dilewati oleh Yesus. Ketika Yesus melewati jalan tersebut, ia melihat ke atas dan memanggil Zakheus. Yesus berkata, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Zakheus segera turun dan menyambut Yesus dengan sukacita. Namun kerumunan orang di sana menjadi bersungut-sungut dan berkomentar: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Namun terlepas dari gerutuan orang-orang tersebut, Zakheus berdiri di hadapan Yesus dan berkata, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Lalu kata Yesus, Pada hari ini engkau dan seluruh keluargamu diselamatkan oleh Allah dan diberikan hidup yang baru, sebab engkau juga keturunan Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk. 19:1-10, paraphrased)

Bagi orang Yahudi di zaman itu, profesi sebagai penagih pajak dianggap rendah dan berdosa, karena penagih pajak, yang notabene adalah orang Yahudi juga, bekerja untuk pemerintah Roma dan menagih pajak rekan sebangsanya. Biasanya jumlah yang ditagih jauh lebih besar dari yang harusnya dibayarkan, dan dari sanalah para penagih pajak memperoleh kekayaannya. Zakheus merupakan kepala dari para penagih pajak pada masa itu. Jadi kita dapat bayangkan ia merupakan orang yang paling dibenci rakyat karena posisinya. Ia menjadi terkucilkan. Belum lagi dengan fisiknya yang pendek dibanding kebanyakan orang, yang pasti juga menjadi bahan cemoohan warga sekitar. Namun sangat menarik bahwa Tuhan Yesus (yang Maha Tahu) menyadari keberadaan Zakheus di atas pohon. Ia juga berkata bahwa Ia HARUS menginap di rumah Zakheus. Ini menunjukkan Yesus tidak menganggapnya sebagai orang yang harus ia hindari, melainkan Yesus menerima Zakheus apa adanya. Yesus menunjukkan kebaikan di saat Zakheus tidak layak menerimanya.

Bagian yang indah berikutnya adalah respon Zakheus yang menyambut Yesus dengan gembira. Ia menunjukkan respon atas kebaikan Tuhan dengan hendak memberikan separuh hartanya dan mengembalikan empat kali lipat bila ia menagih pajak secara tidak benar selama ini. Ini merupakan sebuah pemberian yang sangat murah hati dan menunjukkan ia lebih menghargai Yesus di atas harta-hartanya. Bandingkan kisah ini dengan kisah orang kaya yang justru enggan melepas hartanya untuk mengikut Yesus (Mat. 19:21-22). Hidup Zakheus berubah 180o karena satu sentuhan kebaikan Yesus. Yesus pun menyambut respon Zakheus dengan hadiah yang paling berharga, Zakheus dan seisi keluarganya diselamatkan. 

Kebaikan mengubah segalanya. Kebaikan, terutama bila diberikan kepada yang tidak layak menerimanya, menjadi seperti tamparan kasih untuk kembali ke jalan yang benar. Tentu tidak semua orang yang menerima kebaikan kita akan meresponi sebaik Zakheus. Akan tetap ada orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan menganggap sepi kebaikan kita. Namun fokus dari kebaikan sesungguhnya bukanlah untuk mendapatkan balasan, melainkan sebagai cerminan akan kebaikan yang telah kita terima sendiri dari Tuhan. Kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk memberikan kebaikan-Nya kepada sesama kita. Tidak ada yang membuat kita semakin mirip dengan Yesus selain ketika kita mengasihi dan berbuat baik kepada sesama.

Berbaik hatilah, karena setiap orang yang kita temui mungkin sedang mengalami pergumulan berat yang tak terbayangkan di benak kita. Berbaik hatilah, karena kebaikan mengubah segalanya. Kebaikan dapat mengubah musuh menjadi teman. Kebaikan dapat merajut kembali hubungan yang sempat terputus. Kebaikan dapat mengukir senyuman di wajah orang asing. Kebaikan dapat mengubah dukacita seseorang menjadi sukacita. Berbaik hatilah, karena Tuhan sudah terlebih dahulu baik kepada kita.

Monday, August 7, 2017

Prayercast: Pray for the World


by Tabita Davinia Utomo

Hello, ladies! Nggak terasa sekarang udah masuk bulan Agustus. Which means kita bakal merayakan hari kemerdekaan Indonesia, negara tercinta kita, pada tanggal 17 Agustus! :) Yay!

Masih ada banyak pergumulan yang dihadapi negara ini, tapi kita harus tetap percaya bahwa Tuhan mengalirkan darah Indonesia dalam diri kita untuk sebuah tujuan: menjadi alat-Nya bagi kemuliaan-Nya di tempat ini. Memang nggak mudah, tapi bukan berarti nggak mungkin. :) Salah satu tanggung jawab kita sebagai warga negara adalah berdoa bagi Indonesia, agar setiap pemimpin negara dan elemen-elemen di dalamnya dapat bekerjasama untuk mewujudkan revolusi mental (kata Pak Jokowi. Hehe…) bagi bangsa dan negara. Kita juga perlu berdoa bagi rakyat Indonesia agar bersatu dalam menciptakan kerukunan dan kesatuan satu sama lain. :)

Di post ini, aku mau share sebuah link yang dapat menolong kita untuk berdoa bagi Indonesia. Well, nggak cuma Indonesia, sih. Tapi kita juga bisa berdoa bagi negara-negara lain di dunia melalui link ini juga. :D Link yang kumaksud adalah prayercast.com. Link ini berisi video-video doa dan apa yang ada di negara-negara tersebut. Klik Nations yang ada di halaman depan, dan silakan pilih negara mana yang hendak didoakan. Segala pergumulan maupun keindahan alam mereka ada di dalamnya.
Selain video dan konten dari berbagai negara, link ini juga memuat video maupun konten dari berbagai agama maupun aliran kepercayaan yang ada di dunia. Setiap kali kita mengarahkan kursor mouse ke salah satu agama atau aliran di sisi kanan laman, kata-kata ini yang muncul di bawah peta dunia, 
For God so loved... (sesuai agama atau aliran yang tersentuh kursor) that He sent His only Son... 

Yap, itu adalah kutipan dari Yohanes 3:16. :) Dan ayat ini juga mengingatkan kita bahwa Yesus Kristus datang bukan hanya bagi orang Kristen. Dia bukan hanya datang bagi orang Indonesia. Tapi Dia juga datang untuk mereka yang menganut aliran kepercayaan. Dia datang ke dunia bagi mereka yang ada di Kepulauan Pasifik.. And these show how great and deep the Father’s love for us, His masterpiece. 

So, ayo kita berdoa bagi dunia (dan Indonesia, khususnya) agar mengalami perjumpaan yang mengubahkan dengan kehadiran Kristus di tengah-tengah mereka. :) Selamat berbuat kebaikan (melalui doa) bagi bangsa dan negara kita! 

Kami mengasihimu, Indonesia. Tapi Tuhan Yesus jauh lebih mengasihimu  

NB: Oh, ya. Setiap video yang ada bisa di-download, lho! :D Jadi kita bisa ngajakin temen-temen buat nonton video yang ada dan berdoa bersama. :)

Friday, August 4, 2017

Kindness Boomerang


by Tabita Davinia Utomo

Percaya nggak, kalo kebaikan itu bisa balik ke kita?

Ini bukan mitos, lho. Ini bisa aja terjadi di dalam kehidupan kita. :)

Iya, memang butuh waktu buat proses dari kebaikan yang menular itu. Tapi bukan berarti kita jadi hopeless dan terus nggak mau berbuat kebaikan lagi. Karena siapa tahu, dari satu kebaikan (sederhana) yang kita lakukan hari ini, hal itu bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan yang lain.

Hari ini aku mau share sebuah video yang (mungkin) udah sering kita tonton (entah di gereja, di grup WA, atau bahkan di timeline media sosial kita). Iya, walaupun udah sering kita tonton (mungkin ada juga yang mengira ini video settingan), but it really inspire us to do the same thing, too: to tell the world that it needs a good deed for a better life. Jadiii, ini diaaa. :) Semoga bisa memberkati dan menolong kita untuk berbuat baik, walaupun belum tentu kita akan menerima kebaikan yang lain secara langsung.

Wednesday, August 2, 2017

Berbuat Baik itu Sederhana


by Tabita Davinia Utomo

Pernah mendengar ungkapan seperti di atas?

Sama, tos dulu yukk. :p Hehe.

Walaupun sering diucapkan, ternyata berbuat baik itu nggak sesederhana yang kita bayangkan. Apalagi kalo kita melihat banyaknya orang yang (secara finansial) lebih sering membantu masyarakat di sekitar kita. Hmmm... Mungkin kita bakal mikir, “Aku mah apa atuh. Cuma remah-remah roti. Cuma debu tanah yang nggak bisa ngapa-ngapain.”

Tapi, no. Tuhan nggak pernah bilang, “Buatlah kebaikan cuma dengan kekayaanmu.” Nggak. Dia (melalui Paulus) justru berkata,

Apapun juga kamu kamu perbuat, perbuatlah semuanya itu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23, TB)

Ini poin terpenting dalam pekerjaan atau apapun yang kita lakukan saat ini. Semuanya bukan untuk eksistensi diri kita masing-masing. Semua jerih payah kita bukan untuk menunjukkan, “Ini, lho! Aku bisa ngelakuin ini itu. Hayo kamu bisa, nggak?”. Bukan. Semua yang kita lakukan harus kita tujukan kepada Allah, dan hanya kepada Dialah kita mendasarkan pekerjaan kita. He is the reason why we do good deeds. :)

Tapi gimana caranya berbuat baik?

Simple. Here are the examples: 

  • Kita nggak perlu jadi orang kaya buat bisa nolongin kaum papa. Tapi kita bisa membagikan makanan kepada mereka. :) 
  • Kita nggak perlu jadi mahasiswa atau siswa ranking 1 paralel untuk menolong teman-teman kita dalam mempelajari ilmu. Kalo kita tahu apa yang nggak mereka tahu (dan mereka tanya ke kita), kita bisa jelaskan dengan sabar pada mereka (tentunya jangan lakukan ini waktu ujian, ya :p). 
  • etc. etc. etc. (Baca: dan masih ada banyaaaakkk lagi perbuatan baik yang bisa kita lakukan.) 
Tanpa kita sadari, perbuatan baik kita yang sederhana itu dapat membuat kita melakukan perbuatan baik yang lebih besar lagi. Sama seperti lagu sekolah minggu, “S’dikit demi sedikit, tiap hari tiap sifat, Yesus mengubahku,” melakukan perbuatan baik itu juga butuh proses, apalagi kalo kita terbiasa mementingkan diri sendiri, nggak peduli orang lain. But, ups! Kalo kita udah menerima Kristus dalam hidup kita, seharusnya pola pikir “hidup cuma buat aku, aku, dan aku doang” nggak bercokol lagi dalam pikiran kita dong, karena kita sadar kalo Dia nggak menghendaki kita hidup demikian. :)

Sama seperti yang Paulus katakan dalam Kolose 3:23, perbuatan apapun yang kita lakukan haruslah sepenuhnya tertuju pada Allah, bukan pada diri kita atau orang lain. FYI, kalo kita berbuat baik cuma buat nunjukkin diri ke orang lain, “Ini lhoo, gw bisa kan, berbuat baik. Ga kaya’ lo yang cuma bisa nuntut doang blablabla~” ujung-ujungnya pasti pahit. :p Jangan sampai kita mencuri kemuliaan Tuhan ketika kita berbuat baik, karena Dia telah berbuat baik terlebih dulu pada kita. Dan berbuat baik itu menyenangkan, kok. :) Seneng kan, rasanya kalo kita udah bantuin seseorang, terus dia bilang, “Terima kasih” (dan dengan senyuman hangat *melting wkwk*)? Hehe.

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! (Roma 12:17, TB)

Paulus nggak bilang, “Bagi makananmu sama orang yang udah bantuin kamu ngerjain tugas!” atau, “Bantuin temenmu kalo dia pernah bantuin kamu!” Nggak. Paulus bilang, “...lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” Nggak ada kategori “siapa yang baik sama aku” dan “siapa yang jahat sama aku”. Tuhan kita udah kasih teladan sempurna dalam berbuat baik (termasuk pada mereka yang membenci-Nya), masa’ kita nggak mau meneladani-Nya?

Tuhan lebih dulu berbuat baik kepadaku... Berbuat baik, berbuat baik lebih sungguh.