Friday, July 28, 2017

Tangan yang Bekerja, Hati yang Melayani


by Mekar A. Pradipta

Kalau kita membaca perikop mengenai istri yang cakap di Amsal 31, mungkin yang pertama terlintas di benak kita adalah betapa sibuknya wanita yang satu ini. Dia bangun sebelum matahari terbit, mengerjakan begitu banyak hal sepanjang hari, dan bahkan pada malam hari pelitanya tidak padam. Bagaimana kalau kita ada di posisinya? Capek? Pasti. Bosan? Mungkin. Bersungut-sungut? Biasa. Tapi, di ayat 13 justru dikatakan, “...ia senang bekerja dengan tangannya.”

Wow! Kira-kira apa ya yang bisa membuat dia mengerjakan segala sesuatu dengan senang? Tidak mudah menemukan alasannya karena Amsal 31 tidak memuat alasannya dengan eksplisit. Tapi jangan lupa, wanita ini adalah wanita yang takut akan Tuhan. Sebagai wanita yang takut akan Tuhan, ia mengerti bahwa ia ada di dalam Kristus dan wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1Yohanes 2:6). Bagaimana sesungguhnya Kristus hidup? Matius 20:28 mengatakan Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Kristus melayani, maka kita wanita-wanita Allah, juga wajib melayani.

Wanita-wanita Allah mengerti bahwa ketika ia melayani maka ia adalah hamba. Dalam Kolose 3:22-24, Allah mengajar kita demikian: 
“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya”

Wanita Amsal 31 memahami bahwa pekerjaan sehari-hari melayani orang lain sesungguhnya adalah pelayanan kepada Allah. Ketika melayani suami, anak-anak, sahabat atau rekan bisnis, ia melakukannya seperti untuk Tuhan. Ia tahu bahwa melayani Tuhan sesungguhnya adalah sebuah kehormatan. Ketika ia memasak untuk keluarganya, ia tahu ia sesungguhnya sedang memasak untuk Tuhan yang adalah Raja, ia sedang menjadi koki Kerajaan. Pantas saja ya dia bisa melakukan pekerjaannya dengan senang.

Omong-omong tentang melayani Tuhan, Firman-Nya memuat sebuah prinsip penting.

Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor,
biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan (Roma 12:11)

Melayani Tuhan, termasuk di dalamnya melayani sesama, ternyata punya kaitan erat dengan kerajinan. Ini juga merupakan salah satu karakter utama wanita Amsal 31. Di ayat 27 kita membaca kalau wanita ini tidak memakan makanan kemalasan. Kalau kita membaca beberapa terjemahan lain, kemalasan disamakan dengan idleness (tidak sedang melakukan apa-apa). Idleness (NKJV) ini berlawanan dengan busy and productive (The Message). So, hati-hati, jika kita merasa kita punya banyak waktu luang tapi kita tidak mengisinya dengan hal-hal yang produktif, mungkin kita sedang terperangkap dalam kemalasan.

Menjadi sibuk dan produktif sendiri memang adalah perintah Allah. Raja Salomo yang berhikmat menuliskan, "Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik" (Pengkhotbah 11:6). Bagian ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh beristirahat, tapi menekankan agar kita memanfaatkan waktu kita dengan bijaksana, menggunakannya untuk mengerjakan hal-hal yang produktif. Seperti ditulis pada Pengkhotbah 9:10a, segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga.

Untuk wanita, ada satu bagian khusus yang perlu dikerjakan dengan kerajinan yaitu mengatur rumah tangga (Titus 2:5). Bagian ini terutama ditujukan untuk wanita-wanita tua (berumur, sudah bersuami) namun bukan berarti tidak penting bagi wanita-wanita muda yang masih single. Karena, dalam Titus 2:3-4 dikatakan,

“Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.

Dari ayat-ayat ini, kita bisa menyimpulkan bahwa wanita-wanita muda memiliki tugas untuk belajar dan mempersiapkan dirinya menjadi wanita yang berkenan di hadapan Allah, termasuk terampil mengatur rumah tangga. Pendidikan menjadi istri yang cakap justru dilakukan ketika kita masih single.

Wanita-wanita yang sudah menikah memiliki rumah tangga dimana ada suami dan anak-anak. Tapi bagaimana dengan wanita-wanita single? Sudah jelas, rumah tangga mereka adalah keluarga mereka saat ini. Orang tua, kakak-adik, keluarga besar, dan bahkan teman-teman adalah orang-orang dengan siapa kita bisa belajar mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk melayani keluarga kita di masa depan. Rumah kita saat ini adalah sekolah dimana kita dididik menjadi pengatur rumah tangga (homekeepers) yang akan kita lakukan nanti.

Alkitab versi Firman Allah yang Hidup (FAYH) memakai istilah “senang berada di rumah” untuk menjelaskan frase “mengatur rumah tangga”. Kalau direnungkan, hal ini memang penting. Sebagai homekeepers, wanita bertugas membuat rumah menjadi tempat yang menyenangkan. Tapi, kalau kita sendiri tidak senang berada di dalamnya, tidak betah, dan justru lebih sering berada di luar, bagaimana kita bisa melakukan fungsi ini? Kalau kita tidak sering berada di rumah, bagaimana kita bisa mengaturnya? Bagian ini terutama lebih menantang untuk wanita-wanita single, karena dengan kebebasan yang mereka miliki, mereka cenderung melewatkan sebagian besar waktunya di luar rumah. Kadang akibatnya, mereka tidak menyediakan waktu untuk melayani keluarga. Salah satu alasannya adalah karena mereka ingin melewatkan waktu lebih banyak dengan teman-teman. Padahal, tidak ada salahnya loh mengundang teman-teman ke rumah, melayani mereka sebagai tamu, sekaligus belajar hospitality atau seni memberikan tumpangan.

Sebagai orang percaya, hospitality merupakan hal yang penting karena merupakan salah satu perintah Allah dalam Roma 12:13. Dari beberapa versi Alkitab kita bisa menyimpulkan hospitality sebagai kesediaan menerima orang lain di rumah kita serta memberikan makanan dan, kalau diperlukan, penginapan kepada mereka. Bayangkan, kalau rumah kita seperti kapal pecah, bagaimana bisa kita membuat tamu-tamu kita nyaman? Atau, kalau masakan kita tidak enak, jangan-jangan tamu-tamu kita justru sakit perut setelah memakannya. Padahal, Firman Tuhan sendiri mengatakan, ketika kita menjamu tamu sesungguhnya kita sedang menjamu malaikat (Ibrani 13:2).

Kesimpulannya, banyak hal yang bisa dilakukan agar kita bisa menjadi wanita yang senang bekerja seperti Amsal 31. Yang penting adalah kita memiliki hati yang bersedia melayani dan melakukan pelayanan itu dengan rajin. Pada akhirnya, yang terpenting adalah melakukan semua itu untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi kesaksian bagi orang lain, sama seperti yang ditulis dalam Titus 2:4 yaitu agar Firman Allah tidak dihujat orang.

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^