Monday, February 23, 2015

Menikah atau Tidak

by Ibu Mawar

Beberapa hari lalu Grace, keponakan saya meminta saya menulis tentang pengalaman hidup saya sampai mengambil keputusan untuk melajang/tidak menikah. Ini merupakan sesuatu yang menantang dan saya memutuskan untuk menerimanya. Pasti ini merupakan suatu pergumulan panjang yang tidak mudah. 
 
Pernah saya berdiskusi dengan seorang teman pria dengan topik: “Pernikahan”.Teman itu mengatakan bahwa rasanya dia tidak sanggup untuk hidup melajang, dia membutuhkan seorang istri. Untuk saya sendiri saya menyatakan bahwa sebenarnya saya juga ingin menikah dan hidup berkeluarga. Tetapi pengalaman-pengalaman yang saya alami kemudian mengubah pendirian saya. 

Seingat saya ada 3 pria yang secara serius mengisi hidup saya.Yang pertama katakan saja namanya D.D, dia teman sekelas saya di STT (Sekolah Tinggi Theologia) X, Kota L. Sejak tingkat pertama sebenarnya sudah ada perhatiannya terhadap saya, tetapi karena nampaknya saya kurang menanggapi, dianya mundur. 
 
Saat duduk di tingkat terakhir di STT, saya semakin dekat dengan DD Karena DD lebih cepat dalam menulis skripsi maka dalam waktu dekat dia akan menyelesaikan studi dan harus meninggalkan Kota L. Untuk saya sendiri, dikarenakan mengganti judul skripsi jadi studi saya tertunda setahun. Ketika itu D.D menunjukkan keseriusannya dengan saya dan menyatakan bila saya memang mau menerima dia, besok kakaknya akan datang melamar. Dan saya minta waktu seminggu untuk bergumul dan berdoa. Sebenarnya sebelum itu, seorang sahabat D.D datang pada saya dan memberitahu saya bahwa ada seorang gadis di Kota M yang serius dan menunggu DD.
 
Dalam pergumulan dan doa saya TUHAN sendiri menunjukkan keadaan “hati saya yang sebenarnya”. Saat itu sore hari DD mengapeli saya, tetapi malam harinya saya memimpikan seorang pria lain, bukan DD Saya terkejut, berarti selama ini hati saya belum/tidak sepenuhnya tertuju kepada D.D, sedangkan DD hatinya tulus sepenuhnya untuk saya. Mungkin yang ada dalam hati saya lebih banyak rasa “kasihan” daripada “cinta” bagi DD Bila diteruskan hubungan kami akan semakin tidak seimbang, sedangkan DD layak memperoleh orang yang memang mencintainya sepenuh hati seperti gadis yang di Kota M. Saya tidak ingin “mengorbankan” DD sekedar memenuhi “kekosongan” dan keegoisan saya. Maka saya memutuskan hubungan dengannya secara baik-baik, dan hubungan kami tetap terpelihara sampai sekarang. Juga saya berhubungan baik dengan istri DD, S, yang juga tahu hubungan yang pernah ada antara saya dan suaminya.

Melalui hubungan dengan kak DD saya menghayati bahwa menikah atau tidak menikah bukan hanya semata-mata kehendak TUHAN, tetapi saya sendiri ikut memutuskan dan memilih. Dalam setiap keputusan yang saya ambil saya sendiri ikut menentukan pilihannya, artinya: Saya ikut bertanggung-jawab dalam setiap pilihan dan keputusan yang diambil.

Pria kedua katakan namanya PP. Saya mengenalnya hanya dalam suatu forum diskusi. Waktunya tidak lama, tetapi entah rasanya hati saya “melekat” kepadanya. Tetapi justru disini terjadi yang sebaliknya dengan hubungan saya dengan DD dulu. Saya amat mencintai PP, tetapi dia justru bersikap “dingin adem-adem” saja. Pergumulan saya dengan TUHAN sebenarnya sudah menghasilkan jawaban yang jelas: TUHAN menyatakan PP bukan untuk saya, tetapi saya berkeras dan memaksakan ke hendak: ”Kalau dia memang bukan untuk saya, mengapa TUHAN mempertemukan saya dengan PP?”, akhirnya seolah TUHAN berkata: ”Terserah kalau kamu memaksakan diri”. Dan justru hubungan saya dengan PP semakin tidak jelas, saya amat sangat menderita dengan hubungan ini. Saat itu saya sudah lulus dan menjadi vicaris,calon pendeta di sebuah gereja, sedangkan PP masih menulis skripsi belum selesai di Kota L. Saya sering me - nangis dan badan menjadi kurus,sampai-sampai saya malu dan tidak berani pulang ke Kota L. Sementara itu hubungan saya dengan TUHAN juga menjadi semakin kacau . Seolah-olah doa- doa saya tidak pernah sampai pada TUHAN, cuma sampai ke plafon, dan kembali lagi. Saya merasa seperti layang-layang putus tali yang terombang-ambing , yang kehilangan “Pemiliknya”. Saya belum pernah merasa putus-asa dan sedemikian stress, “terhilang” seperti saat itu. Rupanya doa, yang merupakan hubungan pribadi dengan TUHAN tidak bisa digantikan dengan yang lain. Bahkan dengan konseling pada seorang konselor yang ahli sekalipun, saya merasa merana, meranggas”, seperti ranting anggur yang dicabut dari pokoknya, mulai melayu dan mengering menuju kematian.

Tiba-tiba saja saya tidak tahu ada kekuatan dari mana tetapi saya kemudian berani memutuskan hubungan dengan PP, dan kelegaan yang luar biasa mulai menyeruak, seperti air bah yang dingin dan bersih masuk ke dalam hati dan hidup saya, membersihkan dan menyegarkan kembali ranting yang mulai melayu dan mengering. Hati saya disegarkan dan dihidupkan kembali. Doa-doa saya mulai bisa naik ke hadirat-Nya, dan saya merasakan BAPA dengan Kasih-Nya merengkuh saya ke dalam pelukan-Nya. 
 
Sukacita dan damai-sejahtera dari atas mulai mengaliri dan menghidupkan saya kembali. Puji TUHAN! Saya seperti “anak hilang” yang kembali ke Rumah BAPA, tidak diusir pergi, tetapi diterima kembali dengan sukacita dan pesta-pora!
Hubungan yang tidak seimbang dengan PPmengajarkan saya beberapa hal, antara lain:
  • Saya merasakan penderitaan yang paling berat/hebat adalah rusaknya hubungan dengan TUHAN. Saya sudah merasakan “sedikit siksa neraka” saat saya memberontak kepada TUHAN dan mencari keinginan saya sendiri. Saat itu saya kehilangan damai- sejahtera dan sukacita yang selama ini saya alami. Maka saya kapok, dan mau sungguh- sungguh bertobat, dan berkomitmen tidak akan pernah melakukan kebodohan yang sama lagi. Sebab damai sejahtera dan sukacita dari TUHAN tidak pernah dapat digantikan dengan apapun. Kalau TUHAN tidak membuang saya dan masih memberikan perlindungan dan pemeliharaanNya kepada saya itu semata-mata adalah kasih-karunia- NYA bagi saya.
  • TUHAN sebenarnya punya TujuanNya dalam hidup setiap kita, anda,anda dan saya. Ini saya kutip dari The Purpose Driven Life (terjemahan: Kehidupan yang digerakkan oleh Tujuan) karangan Rick Warren. Oleh sebab itu seharusnya kita berusaha mencocokkan hidup kita dengan tujuan yang TUHAN sudah tetapkan bagi kita.
Pria ketiga saya temui di Kota C , katakan namanya W.Dia adalah murid katekisasi saya. Seorang pria sederhana, yang baru saja percaya dan menerima Tuhan Yesus secara pribadi. Hubungan dengannya dimulai sesudah saya pindah kerja ke Kota T. Dia sering mengirim surat dan saya pasti membalasnya. Satu hari, tanpa pemberitahuan lebih dulu dia datang, sore hari jam 17.30. Saya sedang pergi keluar dan dia menunggu, jam 19.40 baru saya datang, tergesa-gesa, sebab jam 20.00 ada rapat. Maka dalam waktu beberapa menit kami janjian. Besok pagi dia akan datang jam 08.30, saya ada waktu sebelum mengajar jam 10.00. Esoknya saya menunggu di pintu gerbang Sekolah sejak jam 08.30, dan dia menunggu saya di ruang tamu Asrama Putri. Kami saling menunggu kurang lebih sejam, akhirnya kami bertemu hanya beberapa menit saja, rupanya itu pertemuan kami terakhir. W kembali ke Kota C menulis surat kepada saya, dan saya sempat membalasnya, hubungan kami semakin dekat. Di surat itu saya memberinya signal “lampu hijau”. Dan sesaat, sesudah menerima surat terakhir saya, terjadilah kecelakaan itu. 
 
W berboncengan sepeda motor dengan temannya menuju ke laut. W memang memakai kaca mata tebal dan di jalan yang gelap sepeda motornya menabrak truk yang mogok dijalan.W seketika meninggal dunia dan temannya keesokan harinya. Saya menunggu-nunggu suratnya, dan yang datang sebuah kartu pos yang memberitahukan tentang kecelakaan dan kematian W dari Ketua Majelis Gereja. 
 
Saat itu saya sedang berdoa dan bertanya kepada TUHAN, ”Apa dia ini orangnya?” Sebab kelihatannya iya, yaitu seorang pria yang takut akan TUHAN dan mendukung pelayanan saya sebagai calon pendeta. Memperoleh berita itu dengan sedih saya bertanya pada TU- HAN, ”Mengapa harus berakhir seperti ini? Seandainya TUHAN mengatakan ‘tidak’ pun saya tidak akan memaksakan kehendak”. 
 
Baru kemudian, dengan berjalannya waktu TUHAN memperlihatkan keluarbiasaan-Nya dalam mengatur segala hal, yang besar sampai yang terkecil. Khususnya tentang pertemuan terakhir dengan W, mengapa terjadi sedemikian singkat, sehingga tidak ada waktu W untuk mengungkapkan isi hatinya kepada saya? TUHAN menyatakan seandainya ada waktu cukup, dan W menyatakan perasaannya kepada saya, seandainya saya menjawab “Ya” dan kemudian terjadilah kecelakaan dan kematian itu, pasti alangkah hancurnya hati saya saat itu ... Tetapi seandainya saya menjawab, ”Tidak” kemudian terjadilah kecelakaan itu, alangkah beratnya beban yang akan saya pikul. Perasaan berdosa sudah menolak cinta W, jangan-jangan kecelakaan itu terjadi dengan disengaja? 
 
Oh TUHAN, alangkah ajaib, dahsyat dan luar biasanya jalan-jalan MU! 
 
Roma 11: 33 “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya, dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya”.
Semakin jelas tuntunan TUHAN bagi saya: TUHAN ingin saya bergantung secara utuh dan penuh hanya kepadaNya saja, bukan pada seorang laki-laki,entah suami atau pacar.

Tidak ada yang perlu disesali lagi. Dalam setiap pergumulan dengan TUHAN saya selalu bersikap serius, sehingga apa yang TUHAN tunjukkan,nyatakan dan arahkan akan saya ikuti. Saya percaya itu yang terbaik untuk saya,dan selama itu pula Kasih karunia dan damai sejahtera-Nya nyata dalam hidup saya. Ternyata meskipun saya tidak mempunyai pendamping/ suami, bersama TUHAN saya bisa. Saya merasa hidup saya seperti lagu ini:

S`panjang jalan TUHAN pimpin, itu cukup bagiku Apakah yang kurang lagi,jika Dia Panduku? Diberi damai Surgawi asal imanku teguh Suka-duka dipakaiNya untuk kebaikanku.
Di jalanku yang berliku dihiburNya hatiku Bila tiba pencobaan dikuatkan imanku Jika aku kehausan dan langkahku tak tetap Dari cadas didepanku datang air yang sedap.
 
Beberapa pesan untuk mereka yang masih single:

1. Kita boleh meminta pada TUHAN hal-hal yang kita inginkan, juga pasangan hidup. Filipi 4:6 berkata,“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” 
 
2. Jangan menelan mentah-mentah Motto yang berbunyi: ”Setiap orang dilahirkan, menikah dan meninggal dunia”. Seolah-olah tujuan hidup manusia hanyalah menikah, sehingga orang- orang yang tidak menikah dianggap belum/tidak akan mencapai tujuan hidupnya. Sehingga saat kita masih single kita merasa minder dan kurang pede dibandingkan yang sudah menikah. Didalam Sejarah Suci ada orang-orang yang tidak menikah sebab mempersembahkan hidup untuk Allah, misal: Yohanes Pembaptis, Rasul Paulus, bahkan Tuhan Yesus sendiri. Meskipun demikian kita juga menolak pandangan bahwa orang yang tidak menikah dianggap lebih suci daripada yang menikah. Keputusan seseorang untuk menikah atau tidak adalah sebuah pilihan dengan konsekuensinya masing-masing. Yang satu derajatnya di hadapan Allah tidak lebih tinggi daripada yang lain.

3. Cocokkan keinginan dan kehendak kita dengan kehendak TUHAN,yang menjadi Norma/ patokan. Seperti penggalan sebuah lagu rohani: ”...Jadikan kehendakku sama dengan maksudMu”. Tetapi sebagai orang yang percaya kepada Kristus dalam memilih pasangan kita tidak pakai kriteria duniawi (3 Ta= Tahta, kekuasaan,kedudukan; Harta, uang dan kekayaan dan Wanita/Pria yang hebat), tetapi kriteria rohani: Yang seiman,yang sudah mengalami hidup baru dan bertumbuh dalam Kristus.

4. Bersikaplah Jujur kepada:
a. Hati nurani sendiri: ”Benarkah dia orang yang tepat untuk mendampingiku? Benarkah dia yang sungguh ku ingini menjadi ayah/ibu dari anak-anakku?” Jangan sekali-kali melakukan pernikahan sebab dorongan/perintah orang lain, entah orang tua atau keluarga.
b. Jujur kepada TUHAN: Sebelum mengambil keputusan, doakan dan pergumulkan lebih dulu dengan TUHAN. Bila TUHAN menjawab dan mengarahkan kita jangan bebal dan keras kepala, taati dan percayai TUHAN.
Amsal 3: 5-7 “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu,dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan.” 
 
Sebuah lagu yang liriknya indah dan mengena untuk kita semua,terambil dari Pengkhotbah 3:11:

INDAH PADA WAKTUNYA
Ada waktu di hidupku pencobaan berat menekan.
Aku berseru :”Mengapa ya TUHAN? Nyatakan kehendakMU” Jalan TUHAN bukan jalanku jangan bimbang ataupun ragu Nantikan TUHAN jadikan semua indah pada waktuNya Hari esok tiada ku tahu namun tetap langkahku maju Percaya TUHAN jadikan semua indah pada waktunya.
Ref: Pada TUHAN masa depanku, pada TUHAN ku s’rahkan hidupku Nantikan TUHAN berkarya indah pada waktunya.

No comments:

Post a Comment

Share Your Thoughts! ^^