Thursday, May 29, 2014

Trust Me!!


by Natalia Setiadi

Anak saya punya kebiasaan unik: dia suka banget mengecek kebenaran dari suatu pernyataan.

Contoh paling gampang di meja makan. Kalo dia pengen nambah makanan tertentu dan makanan itu kebetulan udah abis, dia biasanya (baca: hampir selalu) ngotot pengen liat sendiri ke dalem mangkok/panci, buat mastiin bahwa makanan itu bener-bener udah gak ada lagi.

Atau waktu makan ikan goreng. Nah dia suka banget bagian yang kriuk-kriuk garing, misalnya sirip or ekornya, atau bagian favoritnya, yang dia sebut "pipi", alias penutup insang yang emang kalo digoreng garing tuh bisa gurih en kriuk banget.

Nah kalo saya lagi nyuwirin ikan untuk buangin durinya dan bagian-bagian laen yang ga bisa dimakan, dia suka korek-korekin tuh tumpukan duri, mengais-ngais bagian kriuk yang mungkin terlewatkan atau ga sengaja kebuang ama saya. Hhhh… -.-'

Kadang-kadang saya sebel deh liatnya. Seolah2 saya ga cukup sayang ama dia apa ya, sampe saya ngebuang bagian-bagian yang dia suka? Padahal porsi makan saya pun dengan senang hati saya relakan buat dia, "Gak usah sampe ngorek2 di tumpukan buangan kali, Nak…" :'(

Ah, jadi inget perjalanan saya sendiri bersama Tuhan.

Sering kali Tuhan udah "buangin" bagian-bagian "sampah" dalam hidup saya. Misalnya, Dia buangin kesempatan-kesempatan yang Dia tau ngga cukup baik buat saya. Atau dia "belokin" saya supaya menjauh dari hal-hal yang ga sesuai ama rencana indah yang udah Dia rancang buat saya.

Misalnya waktu kami lagi nyari rumah kontrakan. Waktu itu pas banget di deket sekolah anak saya (jarak 200 meteran lah), ada rumah yang mau dikontrakin. Wuih kami langsung naksir, berdoa en berharap2 dah. Soalnya selain deket banget jadi praktis en murah untuk anter jemput anak ke sekolah, itu rumah juga bentuknya keliatan nyamaaan banget, cocok lah ama apa yang saya pengen. Letaknya juga strategis, di tengah-tengah kota, lingkungannya nyaman (di jalan kecil, tapi deket ke jalan arteri). Tapi sayang beribu sayang, harga sewanya jauh (BUANGETTT) di luar bujet kami. Akhirnya Tuhan sediain rumah lain buat kami. Saban hari tiap anter jemput anak saya ke sekolah, saya lewat di depan rumah itu. Kadang-kadang masih dengan perasaan mendamba (hoek hoek banget ga sih bahasanya, wekekekke…)

Bukannya ini mirip sama "mengorek-ngorek sampah" yang udah Tuhan buangin? Sekarang saya bisa bayangin perasaannya Bapa gimana. Mungkin ampir sama kaya perasaan saya waktu anak saya ngorekin tumpukan duri ikan.

“Ngga percayakah kamu sama penilaian-Ku, Nak?”

“Apa kamu ngga tau bahwa Aku sangat menyayangimu, dan bahwa Aku ngga bakal buang hal-hal yang baik atau yang kamu perlukan?”

“Apa kamu ngga bisa percaya aja, bahwa di situ cuma ada tumpukan sampah dan ngga ada bagian yang baik?”

Suatu ketika saya harus jemput anak saya dalam guyuran hujan lebat. Saya pun lewat di depan rumah "dambaan". Ternyata oh ternyata… Saya baru tau bahwa kalo hujan daerah sana banjir! Banjirnya lumayan tinggi, sampe setengah betis orang dewasa, selokan sekitarnya meluap, sampe lubang2 di jalan pun ga keliatan dan bisa bikin orang atau kendaraan kejeblos.

Kali lain saya harus jemput anak saya di tengah-tengah kekacauan demo besar-besaran di jalan arteri di dekat sekolah. Wah keadaan sangat kacau, jalanan banyak yang ditutup, sampe saya kudu memutar jauh banget and cari-cari jalan tikus untuk bisa nyampe ke sekolah. Rumah "dambaan" pun terisolir karena ga ada lagi jalan menuju ke sana. Kalo pun ada 1-2 jalan yang dibuka, jalan itu macettt penuh kendaraan yang malang melintang ga jelas. Belum lagi ancaman massa yang terkadang menyisir ke daerah perumahan itu karena di sana banyak gudang-gudang penyimpanan.

Sedangkan rumah saya yang sekarang? Lebih sederhana tetapi nyaman. Orang-orang di sekitarnya ternyata cukup ramah dan baik hati. Banyak anak-anak yang tinggal di lingkungan kami, dan setiap sore jalan-jalan kecil di kompleks ramai dipenuhi anak-anak yang bermain. Anak saya bisa berlarian dan bersepeda dengan senangnya. Air selalu mengalir dengan lancar. Tidak ada banjir. Aman karena jauh dari tempat kumpul favoritnya para demonstran anarkis.

Betapa Tuhan udah liat semuanya itu, jauuuhhhh sebelum saya sadari.

Itu baru sekelumit contoh aja.

Kemampuan berpikir dan pengetahuan manusia memang terbatas. Manusia juga tidak bisa melihat masa depan. Begitu pun anak saya, dia belum paham benar bagian ikan mana yang bisa nusuk atau nyangkut di tenggorokannya, sehingga harus dibuang.

Seperti anak yang mestinya percaya aja sama ortunya, kita manusia juga mestinya sadar akan keterbatasan kita dan bener-bener full percaya aja sama Bapa kita Yang Tidak Terbatas dan Mahamengetahui itu.

“Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.”

Yoh 14:1
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tentang penulis




Natalia Setiadi

Istri dari seorang dokter bernama Ivan. Mama dari seorang anak istimewa berumur 5
tahun. Tinggal di Rantau, kerja freelance sambil menjadi ibu rumah tangga. Nge-blog di
http://nataliasetiadi.blogspot.com, isinya postingan tentang motherhood, pernikahan, anak
berkebutuhan khusus (ADD/ADHD), dll. Silahkan mampir, terutama buat para ortu dari ABK,
ada juga link ke blog-blog ABK. Saya juga rindu untuk bisa sharing dan berkomunitas dengan para ortu ABK yang cinta Tuhan..

Tuesday, May 27, 2014

Orang - orang mengkudu dan orang - orang dikudu

by Grace Suryani

Guys, this is one of my fave story. :) Tulisan ini gue tulis 7 thn 7 hari yg lalu. Ketika gue baru pertama-tama jadi penulis di glorianet.org 

Waktu itu gue masih sekia, ngga kayak sekarang kalo ke dokter udeh dipanggil Madam >.< (sigh ... emank tampang gue kayak tante-tante ape?!?!!) En banyak dari pembaca gue waktu itu yang umurnya jauh lebih tua dari gue, bahkan punya gelar teologi segala. Sedangkan gue?! Lulus S1 aje belon. :p Waktu itu lah gue bergumul , apa dasarnya gue nulis? Apa karena gue lebih baik, lebih tau, lebih pinter dari orang laen?? Siapa gue? Dan yah dari pergumulan itu, lahirlah cerita ini. 

*** 
Orang-orang Mengkudu dan Orang-orang Dikudu (http://glorianet.org/index.php/grace/219-orang)

Guys, saya mo dongeng bentar yah...

Once upon a time ... Di sebuah pulau antah berantah yang nun jauh di sana... Hiduplah sekumpulan orang. Mereka namanya orang-orang Mengkudu. Mereka itu orang-orang yang baik. Baik bener deh. Setiap pagi, mereka berdoa kepada Tuhan. Sepanjang hari, mereka berbuat baik. Akhir minggu, mereka pergi ke gereja. Pokoknya mereka orang-orang yang baaaaiiiikkkkk sekali !! Dan mereka nyadar, mereka bangga jadi orang yang baik. Duh saya jadi minder kalau dibandingin ama mereka... Yah memang kadang mereka berbuat dosa. Tapi dikit kok. 

Di sebelah pulau orang Mengkudu, ada pulau lagi !! Itu Pulau didiami oleh orang-orang Dikudu. Nah orang-orang Dikudu ini agak beda sama orang-orang Mengkudu. Tiap pagi mereka juga berdoa. Tapi sepanjang hari, mereka ngga selalu berbuat baik. Lebih sering mereka berbuat ngga baik. Kadang mereka menolong orang, tapi kadang mereka juga jahat sama orang. Akhir minggu, mereka juga pergi ke gereja. Orang-orang Dikudu, sering banget ngerasa mereka itu bukan orang baik. Mereka sadar, mereka itu ngga seperti orang-orang Mengkudu yang baaaiikkkk sekali... sebaliknya mereka tuh ngerasa... mereka itu jahat bener. Mereka bukan orang baik. Mereka tahu itu. 

Suatu hari, tiba2 ada tsunami yang besar bangeeeettt...... Kedua pulau itu tenggelam. Penduduknya mati semua. Coz walaupun orang-orang Mengkudu itu baik, tapi mereka bukan superman. Mereka kagak bisa terbang. So semuanya mati. 

Mereka sama-sama menghadap Tuhan. Di pintu Surga, ketemu deh ama Malaikat. 

Baik orang Mengkudu maupun orang Dikudu, semuanya mau masuk surga. Akhirnya malaikat buka pintu surga. Tapi yang dipersilahkan masuk cuman orang2 dari 1 pulau. Coba tebak..... Pulau yang manakah itu??

.... 

Jawabannya: Orang Dikudu yang masuk surga. 

Orang-orang Mengkudu protes!! Tapi tetep yang masuk cuman orang-orang Dikudu. 

Kenapa bisa begitu ? 

Guys, jawabannya terletak pada nama mereka. Mengkudu itu singkatan dari Mengkuduskan. Sedangkan Dikudu singkatan dari Dikuduskan. 

Orang-orang mengkudu, itu orang-orang yang mengkuduskan diri sendiri. Mereka pergi ke gereja untuk mengkuduskan diri mereka. Sate alias saat teduh untuk membenarkan diri mereka. Pelayanan untuk menyucikan diri mereka. Pokoknya mereka itu orang-orang yang baik. Dengan kebaikkan mereka itulah, mereka 'mengkuduskan' diri mereka sendiri. 

Mereka pikir, mereka bisa masuk surga kalau mereka cukup baik. Mereka pikir, toh gue jarang bikin dosa. Kalo ditimbang pasti beratan perbuatan baik gue. Masalahnya mereka lupa satu hal. Di surga, dosa adalah dosa! Ngga ada dosa kecil dosa gede. Surga itu tempat yang kudus. No sin at all. Karena itu sekalipun mereka buaaaikkknya amit-amit, tapi karena mereka pernah berbuat dosa, mereka tidak bisa masuk. Usaha mengkuduskan diri mereka sendiri sia-sia. 

Sebaliknya, orang-orang Dikudu, alias dikuduskan, adalah orang-orang jahat. Mereka tahu mereka jahat. Kadang mereka ngga pengen berbuat jahat, tapi mereka jatuh. Mereka tau, mereka sering berbuat dosa. Karena itulah, mereka juga tahu, mereka tidak mungkin bisa mengkuduskan diri mereka sendiri. Ketika Yesus menawarkan keselamatan, mereka mau menerima itu. Jadilah mereka orang-orang yang Dikudu alias Dikuduskan. Bukan oleh kebaikkan mereka, tapi oleh Darah Yesus. 

Guys, dalam kehidupan kita sekarang. . . kita masuk orang yang mana ? Jangan salah !! Ada banyak orang yang sekalipun ngakunya anak Tuhan tapi sesungguhnya mereka orang-orang Mengkudu. Orang-orang yang memgkuduskan diri mereka sendiri.

Sejujurnya guys, sometimes, saya pun termasuk orang Mengkudu. Kalau habis bikin dosa, saya pikir pikir... wah kalau cuman minta ampun dan minta darah Yesus menyucikan saya, kok rasanya gampang banget ya? Kok rasanya kurang afdol ya? Rasanya ngga mungkin yah, kok rasanya kurang.... Makanya abis bikin dosa, saya nambah jam doa. Saya pelayanan ini itu. supaya apa ? Supaya saya bisa jadi bener. Saya berusaha mengkuduskan, membenarkan diri saya sendiri lewat itu semua. Singkatnya, kadang saya merasa darah Yesus, ngga cukup Berkuasa buat menyucikan saya. Darah Yesus KURANG BERKUASAi... masih harus ditambah yang laen. waduh... dosa saya gede bener dah... 

Guys, percaya ngga sih, saya itu suka takut kalau mau nulis. Abis gimana yah. saya sendiri masih ngga bener kok !! Masih suka bikin dosa. Kadang-kadang males ke gereja. Kalau sate juga suka ngantuk. Kalau doa sering ketiduran ampe pagi. Males doa syafaat (saya mah bisa langsung tidur !!) Saya ini siapa ? Kok berani-beraninya nulis. Hidup aje masih ngga bener, kok berani-beraninya kasih tau orang lain. Kok berani-beraninya menggurui orang laen (mana yang saya 'gurui' itu banyak yang mahasiswa teologi, ada yang Mdiv lagi hehehe... saya ini siapa sih ?!). Sering loh saya mikir begitu. 

Trus biasanya ada godaan yang bilang 'Ya udah, nulisnya nanti aja. Kalau idup saya udah bener. Kalau saya udah jadi orang Bener. Nanti saja..... Sekarang mah hidup masih kagak bener...' 

Untungnya, saya langsung diomelin Tuhan kalau mikir begitu. 

Lah kapan sih saya bisa 'cukup' bener, 'cukup kudus' , 'cukup layak' buat nulis ataupun buat ikut pelayanan yang laen ?! Oh saya nanti jadi bener2 BENER itu di surga. Jadi Tuhan, nanti saya pelayanan di surga ajee.... waduh... bisa langsung dijewer kalau ngomong gitu !! :p 

Guys, kalau kita mikir kayak begitu, sampe mati pun kita ngga akan pernah cukup 'layak' buat melayani Tuhan. Buat bersaksi, Buat nulis. Kita ngga akan pernah cukup 'kudus'. 

Banyak orang mikir, makin deket sama Tuhan itu makin kudus, jadi makin bener. Emank betul sih, tapi ada bagian yang kurang. Makin deket sama Tuhan, makin kita sadar kalau kita itu dosanya banyak. Makin kita ngerti kalau kita itu ngga layak. Justru makin sadar kalau kita itu orang berdosa, Bukannya makin ngerasa diri kita kudus .But, ketika kita sadar bahwa kita ini berdosa, kita juga merasakan kasih karunia Tuhan berlimpah atas kita. Setelah kita minta Tuhan mengkuduskan kita, baru kita jadi orang kudus. Orang benar. 

Guys, kenapa kita bisa mikir, diri kita belon cukup layak buat melayani Tuhan ? Karena mungkin tanpa sadar, kita termasuk orang-orang Mengkudu.... sedih yah.. Banyak kali kita keliru. 

Guys, Tuhan menginginkan orang-orang Dikudu. Orang-orang berdosa. Karena cuman orang berdosa yang ngerasa butuh Tuhan. : )) Yang butuh kasih karunia, yang mau nerima kasih karunia, itu orang-orang Dikudu. Orang-orang Mengkudu juga sebenernya butuh Tuhan, butuh kasih karunia, tapi mereka pikir mereka bisa mengandalkan diri mereka sendiri untuk membenarkan diri mereka. 

Orang-orang Dikudu, mereka sadar mereka itu berdosa, mereka itu butuh Tuhan, itu pun nampak dalam pelayanan mereka. Dalam hidup mereka. Mereka tidak pernah merasa mereka baik. Mereka berani ambil bagian dalam pelayanan, karena mereka tahu, bukan mereka yang akan membuat itu berhasil. Kuncinya, mereka tahu, mereka sudah dikuduskan. Bukan oleh perbuatan mereka, bukan oleh kesalehan mereka, tapi oleh darah Yesus. 

Kata-kata fave orang-orang Dikudu, "It's all because of grace" 

Itu semua karena kasih karunia . . . 

jkt, 23 Juli 2003 

** 
dear Babe ... Be, Be, udeh 7 tahun ye!! Gile juga. :p Kadang aku masih ngga ngerti, gimana caranya aku kok bisa nulis kayak gini. Nulis hal-hal yang setelah 7 thn, gue baca lagi en masih merasa tertempelak (itu tanda ini tulisan bagus apa tanda aku belon bertobat yah? :p Semoga yang pertama hehehe) Anyway busway, I always love the time when I talk to You through my writing. I love the time when I speak from the bottom of my heart to You and sometimes You open my heart and take my mind to see into Your heart. Itu kayak ... aku bisa melihat-Mu. :) Tersenyum dari surga. Melayang deh gue. Arrghhh ... :p to tuit ya Be. :p Hohoho. Hope I can see You soonnn ... :D

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tentang penulis




Grace Suryani Halim

A happy wife. Mother of two. Beloved daughter of Almighty God. Loves to read, write, learn, cook, bake, and talk. 

Thursday, May 22, 2014

If I were the devil ...

 by Sarah Eliana

If I were the devil, I would tell you that small sins don't matter.
... but I am not the devil, so I will tell you this:

ALL sin separates us from God. Small little white lies ... worshipping false gods ... murder ... All are sins that forever separate us from the perfect God.

"For all have sinned, and fall short of the glory of God"
Romans 3 : 23

If I were the devil, I would tell you that your good deeds are what matter when you stand at Heaven's gate.

... but I am not the devil, so I will tell you this:

Monday, May 19, 2014

From a Blessed Heart

by Natalia Setiadi

Thank You, Lord, I am blessed.
Blessed by Your presence along my walk upon this planet.
Blessed by the things You’ve taught me through hardships and despair.

Thank You, Lord for the strength to keep going. The laughter and the tears.
I’ve stumbled and fell, but always rose again. The laughters comfort me, the tears humble me.
You have been my Sustainer.

Thank You, Lord, for my spouse.
He blesses me in every possible way, with his selflessness and a servant’s heart.
He does well in loving me the way You love the church.

Thank You, Lord, for my little prince.
He makes me laugh and cry and persevere.
Through caring for him I learn to know Your heart, Your Fatherly love, faithful and unfathomable.

Thank You, Lord for companions along the way.
They share my burdens, remind me of the great things You’ve done in their lives, and show me what I’ve been so blessed with.
They lift me up in their prayers, sending troops of angels to fight for and protect us from all evil.

Thank You, Lord, for delighting in me, believing in me.
Though I displease you far too many times.
I shall praise and glorify you with all my might, my heart and my soul.



I will be fully satisfied as with the richest of foods;
with singing lips my mouth will praise you.

On my bed I remember you;
I think of you through the watches of the night.


Because you are my help,I sing in the shadow of your wings.


I cling to you; your right hand upholds me.


Psalm 63:4-8

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tentang penulis




Natalia Setiadi

Istri dari seorang dokter bernama Ivan. Mama dari seorang anak istimewa berumur 5
tahun. Tinggal di Rantau, kerja freelance sambil menjadi ibu rumah tangga. Nge-blog di
http://nataliasetiadi.blogspot.com, isinya postingan tentang motherhood, pernikahan, anak
berkebutuhan khusus (ADD/ADHD), dll. Silahkan mampir, terutama buat para ortu dari ABK,
ada juga link ke blog-blog ABK. Saya juga rindu untuk bisa sharing dan berkomunitas dengan para ortu ABK yang cinta Tuhan..